Dokumen yang Harus Dibawa Ketika Merantau

Hal ini kesannya sepele, namun tidak jarang ada banyak keluarga yang kelupaan bawa dokumen-dokumen tertentu, sehingga akan menyulitkan untuk mengurus dokumen baru di negara yang akan ditempati. Jadi sebelum berangkat merantau, pastikan dokumen-dokumen ini dibawa dan ada copy-nya juga di Indonesia – dititipkan di keluarga jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Selain paspor, dokumen apa sajakah yang harus dibawa saat merantau?

1. Akte Kelahiran: untuk setiap anggota keluarga. Atau kalau untuk ortu tidak ada, pastikan untuk anak dibawa ya, karena dibutuhkan untuk daftar sekolah. Walau biasanya paspor sudah cukup, tapi ada institusi tertentu yang membutuhkan dokumen lain yang menyatakan nama, tempat dan tanggal lahir anak, serta nama orangtua yang tercantum dalam satu dokumen.

2. SIM Indonesia dan Surat Keterangan Lama Mengemudi: SIM Indonesia dibutuhkan sebagai alternatif ID selain paspor – dan Surat Keterangan Lama Mengemudi ini dibutuhkan untuk memberi informasi sudah berapa tahun Anda mengemudi: yang nantinya akan membantu proses pembuatan SIM (bisa jadi lebih dimudahkan di negara-negara tertentu, atas dasar sudah berpengalaman lama menyetir) dan bisa menjadikan harga kuota asuransi mobil jadi lebih rendah. Menurut pengalaman saya di Amerika, bagi mereka yang baru sebentar pengalaman nyetirnya, bisa $200/per kepala/bulan…! Tapi dengan berbekal surat ini bisa jadi berkurang $100/per kepala/bulan. Cukup signifikan khan? Surat Keterangan ini bisa diperoleh di Kapolsek tempat SIM Anda dibuat. Waktu itu saya bikin di Bandung (dan suratnya menggunakan Bahasa Inggris), harusnya sih gratis ya.. Cuman saya bayar Rp.50.000 untuk “mempercepat transaksi”.  You know how it works with our police department lah ya… ;D

3. Ijazah Sekolah, Transkrip, Sertifikasi Tes Bahasa: Semisal belum ada rencana melanjutkan sekolah lagi, tidak ada salahnya berkas ini dibawa dan selalu siap jika dibutuhkan sewaktu-waktu. Untuk IELTS, TOEFL walau ada expired datenya, tidak apa.

4. Akte Nikah dan Kartu Keluarga:  Akte Nikah jarang diminta di AS, tapi di negara-negara lain seperti pengalaman Tara di Milan, Italia, dibutuhkan. Buat saya sendiri, bawa Akte Nikah sangat membantu ketika SIM Indonesia dan KTP saya hilang! (kecurian). Waktu itu hal ini menjadi kendala ketika saya mau bikin SIM Amerika, karena satu-satunya ID saya hanyalah paspor, sedangkan mereka (Pihak RMV – Registry Motor and Vehicle) inginnya 2 dokumen yang berbeda dan mencantumkan tandatangan, nama lengkap, TTL, dan foto saya. Setelah ber”negosiasi” dan pasrah, saya bilang saya hanya punya akta nikah untuk dokumen lain sebagai ID. Untungnya mereka menerima. Sementara KK untuk jaga-jaga saja, kali dibutuhkan sewaktu-waktu.

5. NPWP: Buat yang sekolah namun tetap terima gaji di Indonesia, atau pun pindah kerja di tengah tahun- Dokumen ini wajib dibawa untuk mengisi formulir SPT Tahunan yang biasanya harus diisi dan dikirim kembali ke Indonesia selambat-lambatnya pada bulan Maret setiap tahunnya. Kelalaian anda dalam melapor pajak dapat dikenakan denda. Formulir SPT Tahunan dan info lengkapnya bisa didapatkan di www.pajak.go.id.

6. Bukan dokumen tapi cukup esensial: Materai. Kalau anak kita lahir di negara lain dan ingin bikin paspor Indonesia, maka salah satu persyaratannya adalah mengisi form yang harus dilengkapi dengan materai. Kadang-kadang KBRI tertentu menyediakan, dan beberapa toko Asia bahkan menjualnya. Sayangnya saya gak nemu waktu itu, jadi mau gak-mau meminta tolong ke keluarga untuk kirim materai via post. Biaya kirimnya $15 karena kilat. Sementara materai harganya…. Rp.6000. Walau keluarga akhirnya kirim 20-an materai, tapi khan tetep sayang ya? Hehe. Bawa aja beberapa untuk jaga-jaga.

7. Buku Imunisasi Anak. Biasanya sebulan pertama di kota baru, Ibu harus membawa anak ke primary doctor-nya di Health Center atau Rumah Sakit. Dan buku catatan imunisasi anak ini termasuk yang penting dibawa, agar anak bisa diberi vaksinasi wajib tertentu yang berlaku di negara setempat.

—————

Merantau di Bremen

378437_2693868278845_78511955_nRima Rachmayani (Rime) – A PhD candidate in Universität Bremen. Has been living in Bremen, Germany for the last 7 years. A wife and a mother. Love to cook Indonesian foods, snap pictures, and gowes.

About Rime and Family

Saya menginjakkan kaki di Bremen (Jerman) 7 tahun silam untuk menempuh studi sebagai mahasiswa S3 (PhD candidate) di University of Bremen (Universität Bremen) jurusan Paleoclimate Modelling di research group Geosystem-Modelling, Fakultas Geosciences. Saya melamar posisi PhD langsung ke Universität Bremen karena mereka sedang punya project baru dan project baru tersebut membutuhkan student untuk mengerjakan projectnya. PhD candidate di sini bisa juga disebut sebagai project scientist karena kerjaannya emang ngerjain project. Sebagai imbalannya PhD candidate/Project scientist diberi upah per-bulannya, bisa juga dibilang seperti beasiswa yang turun langsung dari universitas, bukan dari institusi tertentu.

Jadi saya mendapatkan 2 status, sebagai mahasiswa dan sebagai project scientist/employee yang buat saya menguntungkan sekali dalam mendapatkan hak-hak tertentu yang tidak bisa didapatkan jika hanya berstatus sebagai student. Namun karena saya tercatat juga sebagai employee, saya harus membayar pajak kepada pemerintah. Tapi saya tidak perlu ambil pusing, karena gaji yang saya terima sudah berupa gaji bersih dipotong pajak dan lain-lain (netto) yang pada akhirnya jumlahnya mirip dengan beasiswa untuk PhD yang normalnya didapat dari institusi tertentu.

Sejak saya menginjakkan kaki di Bremen, saya sedang mengandung anak saya Khansa yang sekarang sudah berumur 6.5 tahun. In sha allah tahun ini Khansa masuk SD. Jadi usia Phd saya memang seusia dengan usia Khansa. Dua tahun sebelum saya merasakan dinginnya winter pada bulan February di Bremen, suami saya Ayi Tarya telah lebih dulu menempuh studi S3 di University of Utrecht, Belanda sejak tahun 2006. Setelah menjalani long distance marriage (LDM), alhamdulilah kami dapat kembali bersama dalam satu atap sejak tahun 2010

The Tarya, La Alhambra, Granada, Spanyol, 2012.

Kemudahan dari Pemerintah Jerman untuk Ibu Bekerja

Setelah Khansa lahir, ibu-bekerja seperti saya mendapat cuti hamil dan melahirkan dengan pilihan lamanya minimum 3 bulan (Mutterschutz) dan maximal 3 tahun (Elternzeit). Setelah berdiskusi dengan Supervisor saya, sayapun mengambil cuti paling sedikit 3 bulan. Dan karena Khansa lahir premature, saya mendapat tambahan cuti 1 satu bulan lebih lama. Pilihan cuti 3 bulan untuk cuti hamil (4 minggu sebelum due date) dan cuti melahirkan (8 minggu setelah melahirkan) sebenernya jarang diambil oleh ibu-ibu bekerja di sini, rata-rata mereka ambil cuti 6 bulan atau 1 tahun maximal dengan pertimbangan pada umur segitu si anak sudah bisa dimasukan ke daycare/krippe (mulai dari umur 6 bulan sampai 3 taun). Dan jangan salah, di sini daftarin bayi masuk daycare juga harus dari sebelom lahiran biar dapet tempat, otherwise bakal waiting list. Alasan saya mengambil cuti 3 bulan karena agar gaji/beasiswa saya tidak habis di tengah jalan, karena walopun ambil cuti, gaji nya tetap berjalan 50%. Simpelnya kalo saya ambil cuti 1 taun, maka gaji saya tinggal untuk 2,5 tahun, sedangkan kontrak kerja saya untuk 3 tahun, berarti saya harus cari sumber finansial lain untuk setengah tahun terakhir. Pilihan bekerja di tempat lain selain universitas juga tidak mungkin dikarenakan di visa saya tercatat bahwa saya hanya bisa bekerja untuk Universitas Bremen.

Selama cuti hamil 3-4 bulan, saya juga mendapatkan ‘rewards’ sebagai ibu-baru dari pihak asuransi yang disebut sebagai Mutterschaftsgeld, jika dijabarkan, kita mendapatkan 13€ per hari dari pihak asuransi selama kita cuti. Setelah merasakan menjadi ibu-baru, pemerintah memanjakan orang tua dengan mendapatkan Elterngeld/Parents Money selama 2 tahun setelah anak kita lahir. Dan satu lagih, bukan hanya orang tua, tapi si anak pun dapat gaji/tunjangan sebagai anak sampai umur 23 tahun yang disebut Kindergeld/Child Money.

1520750_10202298367093490_240059438_n

Jadi tepatlah sudah peribahasa “banyak anak banyak rejeki” di negara Panzer ini. Tapi kebanyakan, hanya orang-orang pendatang lah yang memanfaatkan (in a very positive way) arti dari peribahasa ini dengan memiliki banyak anak. Kalo diperhatikan, orang Jerman maximal punya anak 4, ituh juga udah pusing kayanya, kebanyakan orang jerman punya anak 1 atau 2. Untuk mendapatkan Elterngeld dan Kindergeld, kita tinggal mendaftarkan diri dengan mengisi formulir di di Elterngeldstelle, Amt für Soziale Dienste dan di Familien Kasse der Bundesagentur für Arbeit.

Sistem Daycare di Jerman

Ketika Khansa kecil, Khansa dititipkan kepada Tagesrumutter/Daily mother/ibu-pengganti dari jam 8-14. Saya pilih Taggesmutter karena menurut saya Taggesmutter hanya memegang beberapa anak tidak sebanyak yang dipegang di daycare, sehingga bisa mendapatkan perhatian yang optimal dari Tagesmutter. Untuk mendapatkan Tagesmutter, kita bisa mendaftar ke kantor/lembaga tertentu seperti PiB (Pflegekinder in Bremen) yang memiliki list Certificated Tagesmutter. Teknisnya, kita tinggal dateng dan jemput tiap hari ke rumah Tagesmutternya buat titipin anaknya. Berapa lamanya anak dititipkan disesuai berdasar kesepakatan ibu dan Tagesmutter, tapi biasanya Tagesmutter menetapkan sampai jam 13, 14, 15, 16. Selain itu sudah ada juga Tagesmutter yang meng-iklankan dirinya sendiri tanpa bantuan lembaga tertentu. Dan pilihan terakhir kita bisa menitipkan kepada orang yang terpercaya diluar garis keluarga untuk dititipkan seperti tetangga yang tentu saja dia berkompeten untuk mengurus anak kita dan membayar upahnya sesuai tarif upah Tagesmutter yang tercatat di lembaga. Kebetulan saya ambil pilihan ke 3, saya pilih orang Indonesia untuk jadi Tagesmutter Khansa dari umur 4 bulan sampai umur 2 tahun.

Roter Sand Kindergarten, Woltmershausen-Bremen, 2015

Beruntungnya saya sebagai ‘modeller’, saya bisa bekerja dari mana saja, dan pada momenitu, saya diperbolehkan bekerja setengah hari di Universitas dan sisanya saya bisa kerja-online dari rumah. Kenangan saya dulu, biasanya baju saya sudah separuh basah oleh ASI yang ‘tumpah’ di kantor, lalu saya pun harus pulang ke rumah agar bisa memberikan ASI kepada Khansa.

Untuk pembayarannya, alhamdulilah saya mendapatkan family support dari project saya, jadi pembayarannya sudah ditanggung oleh univeritas. Tagesmutter, Daycare dan kindergarten di sini memang cukup mahal, namun kalo sudah lihat fasilitas yang diberikan saya kira sesuai saja. Price doesn’t lie 😛 Berapakah jumlah yang dibayarkan? Pembayaran per bulannya disesuaikan dengan gaji per bulan orang tuanya, semakin banyak gajinya semakin mahal bayarnya, semakin sedikit gajinya semakin murah juga bayaranya. Alhamdulilah kami bisa merasakan bahwa si ‘kaya’ dan si ‘cukup’ bisa mendapatkan hak dan fasilitas yang sama.

Setelah usia 2 tahun, Khansa sudah membutuhkan ruang gerak dan sosialisasi yang lebih luas, jadi saya putuskan untuk memasukkan Khansa di Daycare/Krippe di Universitas (UniKiTa) dari jam 8-16. Alhamdulilah, saya masih diberikan family support dari project sehingga saya juga tidak perlu bayar. Setelah Khansa berumur 3 tahun, Khansa udah bisa masuk Kindergarten/TK dari jam 8-14. Pada saat di TK, kontrak kerja saya sudah mau habis, saya tidak mendapatkan family support lagi tapi alhamdulilah karena system subsidi si ‘kaya’ dan si ‘cukup’, jadi bayarnya murah dan terjangkau oleh employee seperti saya yang kontrak kerjanya udah mau abis. Oya, posisi Daycare/Kindergarten ada di mana-mana, letaknya memang ada di setiap region/kompleks. Jadi tak perlu repot untuk mencari sampai ke kompleks lain, karena fasilitas yang diberikan juga sama di setiap kompleks/region.

Hak Anak Sebagai Citizen (atau Non-citizen) di Jerman. Selain benefits yang sudah disebutkan di atas, anak yang lahir dan tidak lahir di sini, pendatang dan pribumi di sini mendapatkan keuntungan dan fasilitas yang sama. Semua anak berhak mendapatkan Kindergeld, sekolah yang baik (daycare-kindergarten bayar, SD-kuliah gratiiis), rumah yang layak, check-up kesehatan yang terjadwal untuk umur 0-5 tahun (Untersuchung U1-U9).

Tentang Bremen dan Pengurusan Dokumen

Sesampainya di Bremen/Jerman, kita harus melaporkan diri dan keluarga kita dimana kita tinggal. Tempat untuk mendaftarkannya disebut Stadtamt. Stadtamt bisa disebut juga sebagai kecamatan kali yaa. Setelah tercatat di Stadtamt, kita akan mendapatkan ID personal number, social-number (yang dapat digunakan untuk mendapatkan hak-hak kita seperti untuk daftar Kindergeld, Elterngeld, Tax Refund dll). Selanjutnya, dengan berbekal selembar kertas (Meldebestätigung) yang tertera nama kita beserta keluarga dan alamat rumah kita, kita harus mengganti visa yang berlaku 3 bulan yang tertempel di passport menjadi visa yang berlaku sesuai kontrak kerja kita dalam bentuk seperti KTP, namanya Aufenthaltserlaubnis (AUE). Dan yang wajib dimiliki oleh setiap jiwa di sini adalah asuransi kesehatan ( Krankenversicherung) .

Kiri (atas) Buku check-up anak. 0-5 tahun, bawah: Meldebestätigung (semacam Kartu Keluarga). Kanan AUE (atas), Asuransi Kesehatan (bawah)

Setelah secara legal terdaftar, pihak kecamatan akan meneruskan informasi kita kepada pihak/dinas yang berwenang. Misalnya pihak kecamatan akan mendaftarkan anak kita ke Jugendamt/dinas sosial yang mengurus anak-anak. Mereka tidak akan membiarkan anak-anak tidak mendapatkan haknya, contohnya mereka akan secara otomatis mendaftarkan anak kita ke SD ketika waktunya sudah masuk SD, mengirimkan surat agar anak kita diperiksa secara terjadwal ke dokter anak pada usia-usia tertentu. Data orang tuanya akan dikirimkan ke Finanzamt misalnya, mereka akan mengirimkan surat untuk meminta kita untuk melaporkan pajak dll. Kita tinggal siapkan dokumen-dokumen dan menindaklanjuti apa yang sudah diinisiasi oleh pemerintah.

Posisi kota Bremen

 

What Makes Bremen Special.

Dibandingkan dengan kota-kota lain di Jerman; setelah 7 tahun di sini saya merasakan bahwa Allah memang sudah memikirkan sebaik-baik untuk umatNya. Allah memilihkan Bremen untuk saya merantau, dengan semua kemudahan dan kesusahan yang saya dapat di sini, alhamdulilah. Menurut saya, Bremen itu kota yang cukup dari berbagai aspek, ya CUKUP adalah kata yang tepat untuk Bremen. Jika dibandingkan dengan kota tetangga, Bremen tidak terlalu mewah seperi Hamburg dan tidak terlalu sederhana seperti Bremerhaven. Harga sewa rumah dan living cost di Bremen cukup jika dibandingkan kedua kota tetangga di atas. Populasi penduduk di Bremen juga cukup, tidak terlalu crowded dan tidak terlalu sepi. Di Bremen, saya masih bisa melakukan aktivitas saya sebagai muslim yang mungkin agak susah dilakukan ketika saya ada di sebelah timur Jerman. Di Bremen saya bisa shopping ke Factory Outlet yang tidak dapat saya lakukan kalo saya ada di Hamburg atau Bremerhaven (emak-emak banget :D).

Figure 6

Factory Outlet, Ochtum Park, Brinkum, 2013

Transportasi di Bremen: Salah satu kenapa saya suka Bremen, karena transportasinya cukup friendly untuk keluarga terutama para ibu dengan anak-anak. Bremen punya Buses, tram/Strassebahn, Regional Bahn, Regional bus. Di setiap armada, tersedia space yang cukup untuk penyimpanan stroller/Kinderwagen tanpa harus dilipat (they do ‘lipat’ in England karena space nya terbatas) dan juga untuk sepeda. Tidak ada U-Bahn/Subway/Metro membuat saya lebih bahagia, karena saya tidak perlu turun dan naik tangga seperti di kota besar seperti Hamburg atau Berlin atau bahkan seperti di Paris 😛

Strassebahn produk lama (kiri), Bus dengan interior terbaru (tengah), Strassebahn produk terbaru (kanan)

Bremer Straßenbahn AG (translates from German as Bremen Tramways Corporation), often abbreviated BSAG, is the public transport provider for Bremen, Germany, offering tramway and bus services. As of 2012, BSAG operated 8 tram lines in Bremen.

Bremer Straßenbahn AG (BSAG) punya motto tepat waktu, bersih, tempat yg luas untuk stoller/sepeda dan koneksi yang baik antara satu bus/tram ke bus/tram yang lain. Belom perfect banget sih tapi so far, saya sudah merasakan kenyamanan tersebut. Fasilitas transportasi yang baik dan nyaman ini tentu saja untuk mengurangi kemacetan dan membantu bumi ini untuk bernafas dengan mengurangi CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan pribadi walau sekarang udah ada bahan bakar go green.  Kadang terbersit juga pengen punya mobil sendiri kalo udah ketemu kondisi terlambat, hujan, dingin, dan mau pergi ke tempat yang kurang baik dilalui oleh transportasi umum. Namun keinginan itu hilang ketika inget harga bikin SIM nya yang mahal itu  Peraturan ini dibuat oleh pemerintah untuk mengurangi pengunaan kendaraan pribadi, toh pemerintah sudah memanjakan kita dengan fasilitas transportasinya yang nyaman dan friendly staff  Biasanya yang banyak pake transportasi publik ituh ibu/keluarga dengan anak 1, dan yang pada punya mobil biasanya keluarga dengan anak 2 dan lebih karena mobilitas yang padat.

Tempat Favorite untuk Jalan-jalan dengan Keluarga. Seperti di negara lain, Jerman juga punya ruang publik yang cukup baik, taman-taman bermain dimana-mana, taman bunga, tempat olah raga dan lapangan terbuka untuk duduk-duduk dan leyeh-leyeh menikmati matahari (kalo summer). Jadi kalo lagih ga liburan ya maen di taman bermain, maen air di pantai buatan, indoor playground juga ada kalo cuaca lagi ga okeh. Perpustakaan kota (Stadt Bibliothek) lantai atas (children’s section) juga bagus untuk dikunjungi.

Bremen City Library

Setiap liburan spring, autumn, dan winter selalu ada yang namanya pasar hiburan yang menyajikan banyak permainan untuk anak-anak, banyak makanan khas tradisonal orang Jerman, Icha Freimarkt di bulan Oktober, Osterwiese di bulan April, Weichnachtmarkt di bulan Desember.

Osterwiese

Bremer Weihnachtsmarkt

Selebihnya kalo udah bosen di Bremen, bisa maen ke kota tetangga dan sekitarnya yang menyuguhkan temapt-tempat bermain, museum, zoo, dan akuarium. Untuk student seperti saya, saya bisa pake semerster ticket for free ke Niedersachsen area, dan untuk non-student bisa pake groupticket yang harganya lebih terjangkau untuk maximal 5 orang. Kita suka sepedaan juga bersama GoWest (baca: gowes) Group when spring and summer is coming setiap 2 minggu sekali ke kota-kota tetangga.

392080_2509245183383_1540735461_n

GoWest Group in Autumn

Beberapa Tempat Wajib Kunjung di Bremen:

Letaknya berdekatan: Town Hall – Town hall (Built between 1405 and 1410 with a Weser Renaissance facade added in the 17th century). St. Peter’s Cathedral Protestant/Lutheran church with a history spanning more than 1,200 years. Early-Gothic style from the first half of the 13th century. Bremen Town Musicians – To the west of the town hall stands the most famous representation of the Bremen Town Musicians, the bronze sculpture created in 1951 by the artist Gerhard Marcks.  Roland statue: Bremen’s “statue of liberty” – a symbol of trading rights and freedom since 1404. Germany’s largest Roland statue.

Bremen Town Hall dan St. Peter Cathedral

Bremen Town Musicians – Bronze Statue

Roland Statue

Schnoor quarter Bremen’s oldest district – the Schnoor quarter, is a maze of lanes lined with little 15th and 16th century houses. Böttcherstrasse – Built in the 1920s, this fascinating 110 metre-long lane houses shops and restaurants, museums, workshops and a carillon.  The Viertel (‘quarter’) – The Viertel is just a short walk from the city centre and is the most colourful and bohemian area of Bremen.

Schnoor Quarter

The Viertel Bremen

Hole of Bremen – Underground collection box. When a coin is added, you hear one of the Bremen Town Musicians thanking you. Bremen Ratskeller – 600 years of tradition, 650 German wines, grand hall with ornate wine barrels & columns, vaulted cellar, speciality Bremen fare. Drop Tower Experiments with weightlessness are conducted here; the top of the tower serves as a function room. Mühle am Wall – Mill dating back over a century in Wallanlagen Park.  Market square – The market square is the focal point of Bremen. Seven Lazy Brothers fountain – The fountain by Bernhard Hoettger at the Handwerkerhof craft centre in Böttcherstrasse.

Bremen Ratskeller dan Mühle am Wall

Seven Lazy Brothers

Schlachte Embankment – Enjoy the wide range of restaurants and cafés beside the river or discover Bremen from the water on a boat. Überseestadt – Bremen’s former docklands are being transformed into a vibrant quarter for the 21st century with a great selection of cafés, bars and restaurants. Maritime Mile – Set between the Schulschiff Deutschland and exhibition shipyard are the historical Spicarium warehouse, museum harbour and much more besides. City centre – Shopping in the historical city centre of Bremen is an experience in its own right. Weser Stadium – ‘Green and white forever’ – the home of Werder Bremen! The floodlit Weser Stadium can be seen for miles around. Tabak Börse – tempat pelelangan tembakau dunia..ada di buku pintar looh 😛

Schlachte Embankment

 Weser Stadium

Weser Stadium

Figure 20 Bremen mini-bus buat turis

Biar ga cape keliling-keliling sendiri, Bremen punya Mini-bus untuk para turis

Perkumpulan Orang Indonesia di Bremen.

Dari sejak 2008 sampai sekarang alhamdulilah orang Indonesia nya nambah terus, family maupun studentnya, muslim dan non-muslim nya juga. Untuk keagamaan, yang non-muslim dan yang muslim sama-sama punya pertemuan rutin. Kalo yang muslim, kita punya pengajian keluarga di minggu ke tiga setiap bulannya, terus ada pengajian remaja setiap minggu ke 2 dan ke 4 setiap bulannya, ada pengajian ibu-ibu di minggu pertama setiap bulannya, sama pengajian anak-anak (TPA) setiap sabtu. Alhamdulilah kami punya mushola, namanya musola Al- Azhar, jadi kegiatan dan pertemuan rutinnya kebanyakan dilakukan di mushola, tapi untuk pengajian ibu-ibu biasanya ngider dari rumah ke rumah biar rumahnya dapet berkah juga. Oya nama komunitas muslimnya Keluarga Muslim Bremen Indonesia (KMIB), untuk yang umat Kristiani ada PERKI (Persekutuan Kristen Indonesia). Selain untuk kegiatan keagamaan, mushola juga kadang jadi ruang serba guna bisa dipake buat latihan music, angklung, dan nari buat anak-anak, remaja dan ibu-ibu muslim.

Masjid dan Acara Pengajian

Masjid yang sering dikunjungi buat bapak-bapak solat jumat namanya Fadhilah Moschee/Mesjid Fadhilah, Daawa Mocshee/Masjid Daawa, dan Fatih Moschee/Masjid Fatih (paling besar di Bremen), tapi ada juga masjid yang lain seperti Abu Bakar Mosque/Abu Bakar Moschee dan ada juga Masjid kecil (sejak ada Turkish Airlines) di Bremen Airport untuk para bapak muslim yang bekerja di Airbus. Kalo lagi libur kejepit di hari Jumat ato tanggal merah di hari jumat, biasanya bapak-bapak muslim Indonesia pada solat jumat di musola Al-Azhar. Untuk solat Ied, untuk orang Indonesia biasanya di musola Al-Azhar, di lantai bawah buat bapak-bapak, remaja dan anak-anak putra dan lantai dasar buat ibu-ibu, remaja dan anak-anak putri. Sebelumnya (beberapa tahun yang lalu) kita suka solat Ied di Tabak Börse (tempat pelelangan tembakau dunia) punya Indonesia karena tempatnya yang luas dan bisa menampung Jemaah lebih banyak. Sayangnya Tabak Börse harus ditutup dan tidak dapat digunakan lagi untuk kegiatan untuk orang Indonesia, salah satunya sholat Ied. Tahun lalu, kami juga memanfaatkan kebun luas milik orang Indonesia untuk sholat Idul Adha dengan catatan kita harus minta izin dulu ke tetangga di sekitar agar tidak kaget dan tidak terganggu dengan aktivitas yang ada.

224055_4469926638585_1807835033_n

Belanja Bumbu dan Restoran Indonesia di Bremen dan Sekitarnya.

Belanja daging halal biasanya di toko turki atau toko arab, kalo bumbu-bumbu Indonesia ada di toko Asia sama ada 2 toko kecil/kiosk Indonesia. Restoran Indonesia ada 2 di Bremen, namanya Restoran Bali sama Restoran Surabaya. Tapi ya ga bisa tiap hari ke situ ya..hehe..harganya harga restoran :P. Pilihan lainnya ada juga restoran China sama Vietnam, ada beberapa menu yang mirip sama cita rasa Indonesia. Paling deket sih ada di Hamburg juga, Cita Rasa Restoran sama Jawa Restaurant. Di Bremen juga ada café dengan menyajikan kopi dengan kopi Indonesia dan kue/cemilan khas Indonesia, namanya Café Lager. Kita malah lebih suka makan di Kebab-Haus..hehe…harganya murah dan mengenyangkan dan halal, salah satu favorit kami ada namanya Özlem.

Java Restaurant, Bremen

—————————————-

Instagram: @rrachmayani. All images provided taken by Rime and her friends and some are from www.bremen-tourism.de or directly linked to the images URL.

Merantau di Abu Dhabi

FiniGita Trifini  – Previous geophysicist in Schlumberger (Jakarta and Doha), now enjoying life in Abu Dhabi as a full time mom for Rafi (3.5 yo) and Fathir (9 months).

Pengalaman merantau: Aku tinggal di Abu Dhabi sudah 2 tahun, sebelumnya tinggal di Doha (Qatar) selama 2 tahun. Aku ikut suami yang kerja di sini. Kalau di Abu Dhabi gak bisa jadi resident, jadi harus selalu perpanjang family visa setiap 2 tahun. Untuk mengurus visa ke sini bisa langsung ke Embassy di Jakarta.

Established in December 1971, the country UAE (United Arab Emirates) is a federation of seven emirates; Abu Dhabi (which serves as the capital), Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, and Umm al-Quwain.

Anak aku yang pertama lahir di Qatar, dan yang ke-2 baru lahir di Abu Dhabi. Anak yang lahir di sini tidak mendapat benefits apa-apa dari pemerintah. Tapi selama setahun pertama bisa mendapatkan vaksin gratis di rumah sakit tertentu. Dan di sini tidak bisa dual citizenship, terhitungnya tetap sebagai Warga Negara Indonesia, meskipun lahir di Abu Dhabi atau yang sudah puluhan tahun tinggal di sini pun tidak bisa jadi warga negara sini. Di sini mungkin sekitar 70% penduduknya adalah pendatang, penduduk lokalnya sedikit.
At Sheikh Zayed Mosque

At Sheikh Zayed Mosque

Yang paling disukai dari tinggal di Abu Dhabi itu, salah satunya gak ada macet, hihi. Terus orang Indonesia di sini lumayan banyak, jadi enggak terlalu merasa kesepian. Kotanya juga enak, di Abu Dhabi ini termasuk (Alhamdulilah) aman, jadi aku kalo bawa anak-anak jalan ke mana-mana itu nyaman.
Piknik menunggu kembang api di peringatan 43rd Anniversary UAE..!
Waktu tinggal di Doha, aku ikut perkumpulan ibu-ibu yang suka nari (kebetulan memang baru dirintis), lumayan banyak peminatnya, bahkan yang belum bisa nari pun bisa ikut nari. Ada juga grup angklung. Karena aku dulu pas kecil suka nari Bali, jadinya aku ikut nari deh, lumayan bisa merasakan manggung di Qatar Foundation. Kalau di Qatar, kita biasanya latihan di KBRI, atau di rumah teman. Sekarang di Abu Dhabi, ternyata tidak ada sanggar tari, tapi waktu itu aku diminta untuk ngajar tari pendet untuk anak-anak yang mau pentas acara indonesia festival di KBRI, lumayan mengobati rasa kangen menari..hehe.
Grup tari dan angklung di Qatar (Image: Pajar R. Achmad)
Yang tidak disukai di sini…mm apa ya, mungkin kalau bawa mobil di sini harus ekstra hati-hati karena orang-orang di sini kalau nyetir pada ngebut banget…! Dan kemana-mana harus pake mobil (di sini harga mobil relatif lebih murah dibanding di Indonesia), kendaraan umumnya gak kids friendly. Mungkin karena aku tinggal agak jauh dari kota, sekitar 20 menit dari pusat kota jadi susah. Paling pakai taksi, tapi kalau yang tinggal di pusat kota, bisa pake bus (tidak ada MRT di sini).

Yas Marina Circuit (Image: Abduzeedo.com)

Mengurus SIM Nah, kalau mau nyetir di sini, kita harus punya SIM UAE, gak bisa pake SIM Indonesia. Karena aku dulu pas tinggal di Qatar gak nyetir dan cuma punya SIM Indonesia, jadinya harus ikut teori course,teori test dan road test, kalau udah punya SIM Qatar bisa langsung road test aja. SIM Indonesia pun dilihat sama mereka, kalo baru buat SIM Indonesia (maksudnya baru nyetir setahun di Indo misalnya), harus ikut proses yang lebih panjaaang lagi…bener-bener panjang…!
Sistem pembuatan SIM di sini: aku harus ikut teori course selama 8 jam, terus test teori…Alhamdulilah langsung lulus. Setelah itu daftar untuk road test (biasanya sebulan setelah teori test). Deg-degan banget pas road test, karena kata orang-orang di sini susah banget untuk bisa langsung lulus road test…..nasib-nasiban juga sih sebenernya. Sebelum road test, aku belajar nyetir sekitar 2 kali untuk membiasakan stir kiri (kebalik sama di Indo). Pas Hari H road test, aku udah berdoa aja pasrah dan dikasih tips and trik sama temen-temen di sini. Alhamdulilah banget langsung lulus..! Soalnya banyak juga yang udah jago nyetirnya tapi malah gak lulus, gak jelas juga kenapa gak lulus. Karena kalo gak lulus, kita harus melakukan course lagi, prosesnya panjang dan lumayan mahal. Untuk proses dasar aja seperti yang aku ambil bisa menghabisakan 1200 Dirham (sekitar 3.6 jt IDR) ,mahal yah 😦 Begitulah proses di sini, gak bisa bayar-bayar seenaknya, ada peraturannya.
Tips kalo mau road test : berdoa, tetep tenang, pas start mobil, langsung di gas aja sampe kecepatan 80 km/jam..! Karena di sini mobil tuh cepet semua, kalo terlalu lambat malah gagal di testnya (tapi tetep harus hati-hati ya), liat spion jangan lupa. Ketika road test, akan ada ada 2 polisi yg ngetest: duduk di depan dan di samping belakang, dan test nya cepet banget, kadang cuma 5 menit udah disuruh stop.

Abu Dhabi at night (Image: Pictures Depot)

 Tempat belanja groceries: biasanya kami ke supermarket seperti LULU atau Carefour ada juga Abu Dhabi COOP, di situ lengkap, semua ada, tapi kalo mau cari kemiri, terasi ato teh botol..hehe..bisa ke minimarket indonesia tapi jarang juga sih ke situ, paling biasanya borong bumbu-bumbu banyak pas pulang ke Indonesia, lumayan buat stok di Abu Dhabi, hehe. Lalu ada minimarket disini namanya South East Asia Trading, cuma 1 di sini, tapi sekarang lagi tutup sementara,huhu. Di sini kalau mau buka toko harus ada standard dari pemerintah UAE, kalo enggak…langsung ditutup tokonya. Bagus sih, menurut aku, karena berarti semua toko di sini harus memenuhi standard seperti kesehatan, kebersihan, kualitas makanan,dll.
Kalau kangen makanan Indonesia kita bisa ke resto Bandung dan Sari Rasa. Kayaknya aku sekeluarga hampir tiap minggu ke sana..hehe. Apa aja ada di situ; dari bakso, batagor, makanan padang, martabak manis, ketoprak (itu yg biasa kita pesen), dll.

Bandung Resto (image: mealadvisors.com)

Untuk tempat jalan-jalan: Di sini lebih banyak mall dibandingkan museum atau science center, di mana-mana mall, bahaya juga buat ‘kantong’,hehe. Biasanya kalo weekend kita sekeluarga ke park atau ke Corniche, berenang di pinggir pantai gitu atau barbeque di park bareng temen-temen, tapi itu bisanya kalau musim dingin aja. Kalau pas summer, terlalu panas buat main di luar. Di sini ada museum tapi sepiii banget dan gak ada yg dateng, science center juga gak ada, paling kalo winter baru banyak acara kaya science for kids,dll. Ohya, kalau mau kumpul dengan Ibu-ibu lain dan anak-anak bisa bersosialisasi, bisa lihat di Abu Dhabi Mums untuk kegiatan (bisa indoor dan outdoor) dan bisa jadi volunteer juga. Untuk mall bisa ke Yas Mall atau Marina Mall Abu Dhabi – itu paling lengkap, tapi kalau mau lebih lengkap lagi tinggal ke Dubai 2 jam saja, lengkap banget deh disana..hehehe.

Abu Dhabi Corniche (image: crictours.com)

Ferrari Theme Park Abu Dhabi – The Largest Indoor Theme Park in the World – http://www.ferrariworldabudhabi.com

Tentang musim: di sini ada 2 musim: musim panaasss banget (kadang sampai 47 derajat Celsius May-Okt ), dan dingin (paling rendah sampai 13 derajat Celsius pas malem November – April). Kalau pas musim panas, kita bener-bener gak bisa ke mana-mana selain ke mall, dan biasanya kalo pergantian musim gitu, anak-anak pasti sakit; demam, batuk atau pilek, jadi kita harus sedia obat-obatan dan vitamin. Karena di sini panas kering (gak lembab kaya di Indonesia), kulit harus sering-sering pake lotion (yang biasa juga gak masalah, gak ada perawatan khusus), dan yang pasti banyaaaak minum air putih, itu harus banget. Kalau pas musim dingin, lumayan enak karena anak2 bisa main ke park atau ke pantai, tapi kalau udah sore anginnya dingin banget sampe harus pake jaket tebal. Aku lebih suka musim dingin karena banyak sekali kegiatan outdoor disini, seperti food festival, science festival, cruise festival, konser musik, mancing,dl. Tapi kalau musim panas bener-bener gak ada kegiatan, jadi semua orang ke mall.

Tentang penduduk lokal: Orang Abu Dhabi (biasa kita panggil orang ‘Emirati’) ramah-ramah, walau ada juga sih yg enggak. Tapi kebanyakan dari mereka ramah terhadap pendatang kok, mereka bisa mengenali orang Indonesia karena hampir 80 persen ART mereka orang indonesia..hihi. Di sini banyak sekali TKW dari Indonesia dan rata-rata yang menggunakan jasa tersebut orang Emirati 😀
Asisten Rumah Tangga: setahun pertama tinggal di sini, aku gak pake asisten, segala sesuatu diurus sendiri, tapi karena mau lahiran anak ke-2 (waktu itu), aku cari pembantu untuk ngurusin rumah tangga (anak full aku yg pegang). Tapi karena cari ART orang Indonesia mahal dan susah (ambil dari agen aja bisa sampai 11 ribu Dirham = IDR 33 juta), akhirnya aku pake pembantu dari Srilanka, lumayan cuma harus bayar visa kerja aja selama 1 tahun 7 ribu Dirham (mahal jga sih, huhu). Di sini cari pembantu itu bener-bener mahal dan ada peraturan tenaga kerja, jadi gak bisa kita gaji seenaknya, ada standarnya sendiri.
Untuk sekolah anak di sini ada 2: British school atau American school. Bahasa yang digunakan di sini adalah Bahasa Inggris, jadi gak usah khawatir kalau gak bisa bahasa Arab. Karena semua di sini komunikasi memakai Bahasa Inggris. Rafi anakku yg pertama sekolah di Stepping Stone Nursery, British nursery gitu karena rencananya pas umur 4 tahun mau disekolahin ke British School di Abu Dhabi (mudah2an masuk..amin 🙂 ).
Tips untuk yang mau hijrah ke UAE: Mungkin cara berpakaian, di sini diharuskan berpakaian sopan, meskipun tidak berhijab, kalau bisa jangan pakai pakaian yg seksi atau rok mini gitu, bahkan kalau kita masuk mall, ada tulisannya harus berpakaian sopan. Pertama kali pindah kesini, Alhamdulilah gak ada culture shock (mungkin karena hampir sama dengan di Doha, Qatar), cuma yaa kalo mau belanja jangan diconvert ke Rupiah, di sini semua serba mahal..lumayan shock juga sih awalnya, hehe. Biaya hidup agak mahal. Tapi segala urusan dari buat visa atau cari apartemen di sini mudah kok, semua peraturan jelas dan ada agennya, jadi lebih mudah.

Mengisi Apartemen

Mengisi dan mendekor apartemen baru bisa jadi hal yang menyenangkan (kalau punya budget yang mencukupi) dan menantang (kalau budgetnya pas-pasan, aha).

Pengalaman saya dan Ibu lain mungkin berbeda, utamanya sebagai keluarga mahasiswa, kebanyakan barang furniture di apartemen kami adalah hasil thrifting dan cari di barang seken di Craigslist. Sebagian kecil adalah hibahan dari teman sesama international students yang pulang kampung dan juga barang hasil “mungut” di pinggir jalan 😀 Yup, di sebagian besar kota di Amerika, Eropa, dan Amerika adalah hal yang wajar menemukan “harta” di pinggir jalan dan kondisinya kalau beruntung masih sangat layak digunakan. Harta yang dimaksud kebanyakan berupa: sofa (tapi harus hati-hati! karena mungkin ada bedbugsnya?), lemari, kursi, meja, TV dan barang elektronik lainnya, hingga sepeda. Tapi tentunya kita ga mungkin mengandalkan barang bekas dan hibahan semua khan? Berikut adalah list perabot yang kami sarankan untuk dibeli secara bertahap ketika pindah ke apartemen baru – dengan asumsi: kulkas, kompor dan oven, AC dan heater sudah termasuk di dalamnya -dan bukan apartemen furnished.

1. Area Dapur:

Image: Google

  • Perlengkapan makan: sendok, garpu, piring, mangkok.
  • Pisau dapur (biasanya ada 3 set, pastikan pisahkan untuk potong daging, sayur/buah, dan roti)
  • Pots and pans (biasanya juga langsung sepaket. Beli yang rada bagusan, walau agak mahal tapi tahan lama dan akan sangat berguna. Nah, jenis panci dan penggorengan ini ada berbagai macam, di antaranya: cast iron skillet, non-stick, ceramics, stainless-steel, dan copper. Buat saya yang peduli akan isu kesehatan dan go-green namun budget ketat, saya memilih merek ini. Ketika membeli, pertimbangkan juga: apakah bisa dicuci di dishwasher (jika di apartemen ada dishwasher), oven-proof (akan berguna untuk memanaskan dalam oven), gampang dibersihkan, dan zat-zat yang terkandung dalan material panci tersebut.
  • Perlengkapan memasak: cutting board (pisahkan untuk memotong: ikan, daging sapi, daging ayam, dan buah/sayuran. Biasanya dijual dengan ukuran berbeda dan bisa berupa cutting board plastic), spatula, slotted spoons, tongs, colander, pembuka kaleng, saringan buat deep fried.
  • Perlengkapan baking: measuring cups and spoons, muffins pan, muffins liners (beli yang berbahan silikon dan bisa dipakai ulang), baking mat, pot holder, cookie sheet, mixing bowls, pyrex set (bermanfaat sekali), dan kontainer segala ukuran untuk menyimpan makanan di dalam kulkas.
  • Perlengkapan elektronik dapur: water filter (perlu untuk yang minim dari tap water. Beli yang ukurannya besar sekalian, jadi tidak perlu sering isi ulang), microwave. Lain-lain: blender, food processor, pemanas air, mixer, coffee maker.
  • Bumbu-bumbu dapur: salt, pepper (white and black), coriander, onion powder, garlic powder, turmeric, chili flakes, dll yang non-MSG. Dan bagi yang Muslim, bisa cel label Kosher dan Vegan pada setiap bumbu yang dibeli.
  • Baking needs: tepung terigu (all purpose flour), vegetable oil/ canola oil/ olive oil/ coconut oil, white vinegar, corn starch, baking powder, baking soda, gula, powder sugar, brown sugar.

2. Area Kamar Mandi

Image: cdn.home-designing.com

Sebagai orang yang tumbuh besar di Indonesia, hal yang paling menyulitkan ketika di luar negeri adalah urusan kamar mandi. Ya, setidaknya kalau di Indonesia atau di beberapa negara Asia masih menyediakan bidet spray di kamar mandi. Tidak demikian halnya kalau di negara2 lain yakni WC kering dengan tissue. Urusannya dengan anak toddler lebih ribet lagi, apalagi kalau sedang potty-training. Nah, beli bidet ini atau ini sangat membantu – dan pastinya lebih bersih dan hemat tissue!

Bidet: mudah untuk dipasang sendiri

Selain bidet, perlengkapan kamar mandi: rug, handuk untuk keringkan tangan, shower curtain (dan ring curtain), sikat kamar mandi dan cairan pembersih toilet bowl dan spray. Pastikan juga keduanya yang ramah lingkungan yaa.

3. Area Kamar Tidur

Image: flatideas.com

Kalau di Amerika, kebanyakan apartemennya hanya menyediakan lampu di: kamar mandi ruang makan, dan dapur. Kamar tidur dan ruang bersama (living room) gak ada lampunya. Jadi pertimbangkan beli floor lamps untuk kedua ruangan, lampu tidur, kasur atau sofa bed (matras futon IKEA adalah favorite kami), bedsheet, selimut, duvet cover, dan bantal.

4. Area Ruang Bersama

Image: Google (cdn.homedit.com)

Area ini bisa paling terakhir dicicilnya, tapi paling seru juga untuk didekor – karena area ini dan area ruang makan yang paling sering ditempati. Furniture: sofa, karpet/rug, coffee table, TV, meja TV, rak buku. Yang sifatnya dekorasi, bisa ditambahkan: seperti pajangan dinding, tanaman indoor, dan jam dinding.

5. Area Ruang Makan

Yang pasti: meja makan dengan kursi (minimal 4).

6. Perlengkapan Bebersih dan Mencuci

Mencakup sapu dan pengki (dust pan), sikat kecil, spons buat di dapur (sikat panci, sikat botol, spons aluminium, dan spons biasa anti-scratch), lap dapur, handuk tangan, vacuum cleaner. Untuk vacum cleaner, pertimbangkan yang bisa meraih sudut2 dan kolong sofa – dan filternya bisa mudah dicuci, saya menggunakan yang seperti ini. Lalu, cairan pembersih: all purpose cleaner (yang bisa dibikin sendiri dengan mudah: campuran air + vinegar + lemon), pembersih lantai, pengharum ruangan jika perlu atau aroma therapy, sabun dishwasher berupa pods, sabun cuci berupa pacs biar simple, dan pengharum pakaian jika dibutuhkan.

7. Perlengkapan Lainnya

Tools pertukangan (dijual di IKEA), berbagai jenis paku dan skrup satu set, senter, pemantik (jika sewaktu-waktu gas mandek), lilin, tali, hanger, jemuran baju (buat handuk atau kalau gak pakai dryer), gantungan jemuran buat pakaian dalam dan cloth diapers anak, keranjang baju (minimal dua: satu baju kotor, satu buat angkut jemuran), tempat sampah untuk di dapur (sampah kering dan basah), di kamar mandi, dan setiap kamar tidur.

Nah, untuk lebih lengkapnya list untuk apartemen bisa download di sini. Selamat mengisi apartemen…!

Semua foto terhubung dengan link gambar asli.

Apartment Hunting dan Komunitas Indonesia di NYC

Tia

 Tia Wulansari – a first time mom, a graduate student, and an ESL teacher (plus a Patriots and Red Sox fan) who lives in Medford, MA with her beloved husband and beautiful baby girl.

Apartment Hunting. Saya dan suami sudah pernah tinggal di beberapa kota di Amerika, dan bisa dibilang apartment hunting di New York itu yang paling ribet. Belum lagi sewa apartment di New York terkenal amat sangat mahal. Kami selama dua tahun (Jan 2012- Mei 2014) tinggal di Manhattan, tepatnya di 187th st dan Fort Washington. Nama daerahnya Washington Heights. Kami tinggal di one-bedroom apartment. Luasnya sekitar 800 sqft dan harga sewa ketika itu $1900/bulan (sudah termasuk heat dan gas). Sekarang apartment itu sudah disewakan dengan harga $2300 (Mahal? Amat sangat! Sigh…).

Bersama Keluarga

Mencari apartment yang lokasi dan harganya cocok di New York tidak lah mudah. Pertama kami coba cari sendiri melalui website Craigslist. Tetapi terlalu banyak apartment listing dan tidak jelas mana yang asli, mana yang scam. Akan lebih membingungkan lagi kalau belum tahu daerahnya. Ada 5 boroughs di New York: Manhattan, Brooklyn, Queens, Bronx, dan Staten Island. Within the boroughs, there are many neighborhoods, and each neighborhood has its own unique characteristics (dari yang bagus sampe yang sebaiknya dihindari). Walau saya sudah pernah tinggal di New York waktu kuliah S1, akhirnya, kami memutuskan untuk memakai jasa agen real estate supaya tidak kena tipu. Setelah membaca reviews di Yelp.com, saya menghubungi beberapa agen yang punya listing di Brooklyn dan Manhattan. Fokus kami hanya di Manhattan dan Brooklyn karena mempertimbangkan jarak ke kantor suami dan tempat kuliah saya (plus kami suka dengan daerahnya). Setelah bolak-balik kontak lewat email dengan spesifikasi harga dan amenities yang diinginkan dengan beberapa agen, akhirnya kami buat janji untuk melihat tempatnya.

Karena kami pindah ketika musim dingin, jumlah apartment listing tidak sebanyak kalau cari ketika musim panas. Dalam 2 hari, kami lihat 5 apartment di Brooklyn (daerah Park Slope, Prospet Heights, dan Gowanus) dan 1 apartment di Manhattan. Kami pikir di Brooklyn akan lebih murah, ternyata tidak. Semua apartment yang kami lihat hamper sama harga sewanya ($1800-$2000 untuk one-bedroom apartment). Kami akhirnya memutuskan untuk sewa apartment yang di Washington Heights karena jatuh cinta dengan pemandangan dan layout apartment.

Manhattan-GWB

Pemandangan George Washington Bridge ketika senja dari kamar kami

Alhamdullillah, saya berhasil kontak agen-agen yang baik. Ketika tanda tangan lease agreement, selain membayar first month dan deposit, kita juga harus membayar agent fee. Di New York, rata-rata 10%-15% dari harga sewa setahun (Mahal? Banget! sigh…). Oleh karena itu, penting sekali untuk dapat agen yang baik dan sangat membantu. Kalau tinggal di New York, mayoritas uang kita habis untuk bayar sewa. Di setiap borough, rata-rata harga sewa apartment tergantung daerahnya. Harga sewa di daerah kami termasuk bagus untuk apartment sebesar itu. Selain apartmentnya sendiri, lokasi apartmentnya enak, jauh dari kehebohan Manhattan, banyak taman dan sarana olah raga gratis. “Kekurangannya” adalah jauh dari hingar-bingar kota Manhattan, tidak cocok buat orang yang suka yang keramaian. Ke Times Square, sekitar 30 menit naik A express train; Ke Chinatown, sekitar 45 menit. Sebagai pembanding, teman saya sewa apartment 10 menit jalan dari Times Square. Luasnya sekitar 650 sqft, harganya $3400. Ada teman lain sewa apartment 10 menit naik subway ke Union Square. Luasnya 800 sqft, harganya $2400. Di Queens dan Brooklyn pun sama. Akan lebih mahal sewa di Astoria dan Long Island City (bukan Long Island ya…), dibanding di Jackson Heights atau Elmhurst. Lokasi (jarak ke subway, how convenient the area is,dll) dan amenities apartment mempengaruhi harga sewa. Untuk referensi, bisa dilihat di website ini: untuk boroughs yang lain juga ada di websitenya. Untuk informasi soal neighborhoods di Amerika, bisa dibaca di city data.

Restaurant Indonesia di NY
Enaknya tinggal di New York, kalau kangen masakan Indonesia dan malas masak (atau tidak jago masak seperti saya), bisa ke beberapa restoran.
Upi Jaya 
Teman saya yang asli Padang bilang masakan Padang di tempat ini TOP! Sate Padangnya mantap katanya. Sudah beberapa kali kesini, semuanya enak! Mereka juga ada masakan non-Padangnya seperti ayam panggang, tahu isi, gado-gado. Sekedar info bagi yang muslim, restoran ini menggunakan daging halal.IMG_6559

Java Village
Mereka menyediakan menu nusantara. Harganya cukup murah untuk porsi sajiannya. Mereka ada dua macam menu: bisa kita pesen dari daftar menunya langsung seperti lontong sayur atau ayam kremes; bisa juga kita pesen menu combonya (misal 2 jenis daging, 1 sayur, dan nasi). Seperti kalau di Indonesia, tinggal tunjuk ini itu dari counternya. Mereka juga menjual makanan ringan di restorannya seperti risoles dan tahu isi. Lihat juga review di sini.

Bali Nusa Indah
Bagi yang jauh tinggalnya dari daerah Elmhurst, Queens, di Manhattan ada restoran Indonesia juga namanya Bali Nusa Indah. Mereka menyediakan menu nusantara. Kami sering mengajak teman non-Indonesia kesini untuk memperkenalkan masakan Indonesia. Dibanding Upi Jaya dan Java Village, rasa masakan Bali Nusa Indah sudah ter-Americanized alias gak pedes dan kurang nendang. Untuk obat kangen, lumayan lha… Masakan yang OK menurut saya dan suami: mie goreng, siomay, lontong sayur, sate ayam. Ada beberapa restoran lainnya seperti Asian Taste 86 dan Sky Café (yang ini cabang dari yang di Philadelphia), tapi karena saya sudah lama tidak kesana atau belum pernah kesana, jadi tidak bisa komen banyak. Yang jelas kalau jalan-jalan ke New York, mampir lah ke Elmhurst, Queens untuk obat kangen rumah!

Kemudian ada beberapa toko yang menjual bumbu dan makanan ringan dari Indonesia. Banyak produk Indonesia yang bisa dibeli di New York. Yang penting jangan dipikir harganya dalam rupiah, bisa-bisa tidak jadi beli nanti! Hehehe…

Asia Market Corp di Chinatown, Manhattan
Berbagai macam bumbu Indofood dan Bamboe ($1.00/sachet), krupuk udang, kecap manis, tempe (frozen), Kusuka kripik singkong, kacang Garuda, bumbu pecel, kopi Nescafe, sambal ABC. “Indonesian corner”nya ada di pojok kanan belakang. Tempenya ada di frozen section. Kalau krupuk dan keripik, ada di bagian snack dan di bagian kasir.

Top Line, di Elmhurst, Queens
Lebih lengkap barang-barang yang dijual. Ada krupuk ikan, udang, dan krupuk putih abang-abang, segala macam bumbu jadi (Kokita, Munik, Indofood, Bamboe, Racik, dan beberapa merk yang saya pun baru lihat disini), meses, sirup Marjan, Beng-beng dan beberapa kukis khas Indonesia, Blue Band, tempe, kopi dan the Indonesia, dan masih banyak lagi… Kadang mereka juga jual meterai bagi yang membutuhkan. Kalau disini, “Indonesian corner”nya ada di bagian belakang toko, di bagian kanan.

Jajanan-lidi

Jajanan jaman SD “lidi berMSG” ada diual disini!

OK Indo, di Elmhurst, Queens
Tokonya kecil dan belum lama bukanya. Mereka spesialisi jualan produk Indonesia, tidak seperti Top Line dan Asia Market Corp. Barang yang dijual tidak selengkap toko-toko diatas, tapi kalau hari Sabtu, mereka jual makanan siap saji (dijual di container plastik). Terakhir kesana ada pempek, nasi kuning, nasi rames, martabak manis, dan beberapa jenis gorengan.

Komunitas Indonesia di New York
Bagi yang muslim, bisa mendatangi masjid Al-Hikmah untuk beribadah dan mengikuti kegiatan pengajian (untuk orang dewasa dan anak-anak). Masjid ini juga terkenal akan bazaar makanannya ketika bulan Ramadhan. Lumayan besar dan ramai bazaarnya; makanan yang dijual pun enak-enak. Selama bulan Ramadhan, biasanya bazaarnya buka setiap weekend. Informasi mengenai pengajian dan bazaar bisa dilihat di website masjidnya. Selain itu, terkadang komunitas Indonesia juga jualan di lokasi lain di Elmhurst, seperti ketika masa Pemilu kemarin.

Buat yang tertarik dengan musik gamelan, di New York ada grup Gamelan Kusuma Laras. Salah satu pelatihnya adalah Bapak Harjito. Beliau pengajar gamelan di kampus saya dulu, Wesleyan University. Yang menjadi anggota grup ini ada orang Indonesia dan Amerika. Mereka kadang pentas di KJRI, Lincoln Center, dan beberapa tempat ternama lainnya. Terakhir, kami menghadiri outdoor concert sebagai bagian dari Make Music NY event di bulan Juni. Pengalaman yang unik, mendengarkan gamelan di luar sambil menikmati angin sepoy-sepoy.

Gamelan Kusuma Laras

Gamelan Kusuma Laras pentas di depan KJRI NY sebagai rangkaian acara Make Music NY

Dana Yang Perlu Disiapkan Sebelum Merantau

Disamping mengurus visa, izin kerja, tempat tinggal, dan keberangkatan, penting bagi anda untuk menghitung dana yang perlu dipersiapkan sebelum berangkat. Sebab diluar uang tiket, banyak sekali pengeluaran lainnya yang jika tidak dipersiapkan dengan baik dapat menyulitkan anda dan keluarga diperantauan nanti. Setelah berkonsultasi dan mengalaminya sendiri, berikut adalah beberapa tips yang kiranya bermanfaat bagi anda yang berencana untuk merantau.

sumber foto : kidspot.com.au

sumber foto : kidspot.com.au

1. Sewa Tempat Tinggal Bulan Pertama

Kuncinya adalah research. Di era internet seperti sekarang ini, berbagai macam informasi dari berbagai negara dapat dengan mudah anda temukan, termasuk harga sewa apartemen di kota yang anda tuju. Anda juga bisa membaca berbagai review apartemen dan neighborhood yang dapat menjadi bahan pertimbangan. Selain itu anda juga bisa meng-email pihak manajemen tempat tinggal tersebut untuk mendiskusikan iuran sewa per-bulannya. Kalau cocok, bisa langsung booking online, kalau belum cocok, setidaknya anda tahu kisaran sewa tempat tinggal di kota yang anda tuju itu berapa. Ingat, biasanya apartemen ada ‘security deposit’ atau iuran lainnya yang harus dibayarkan diawal. Tanya sejelas-jelasnya dan siapkan dananya.

2. Perabotan & Kebutuhan Dasar Rumah Tangga

Ini mencakup kasur, bantal dan selimut untuk tidur, 1 set piring dan gelas, tempat sampah, wajan (kenapa wajan? lihat poin 4) dan berbagai kebutuhan mendasar rumah tangga lainnya yang pasti akan anda butuhkan di bulan pertama. Ingat, list yang penting-penting saja. Alat-alat pelengkap seperti TV bisa menyusul di bulan berikutnya setelah anda mendapat gaji/ penghasilan pertama di perantauan. Sebulan sebelum berangkat, saya dan suami bahkan sudah mengecek harga-harga perabotan mendasar di website IKEA dan department store setempat untuk dijadikan patokan anggaran kami di kategori ini.

3. Transportasi

Mulai dari uang taksi/bus/kereta yang dibutuhkan setibanya di perantauan sampai uang transportasi  ke kampus atau ke kantor selama bulan pertama (atau minimal sampai dapat gaji pertama) sebaiknya sudah disiapkan sebelum berangkat. Lalu setelah gajian, anda bisa mulai menyisihkan uang untuk men-DP mobil pre-owned atau seken yang harganya jauh lebih terjangkau.

4. Makan/ Groceries Bulan Pertama

Aturlah anggaran untuk kategori ini dengan secukupnya saja. Kalau dihitung satu bulan pertama makan restoran setiap hari pasti anggarannya akan sangat mahal. Maka itu, mulailah ancang-ancang untuk memasak dirumah, jadi anggaran ini bisa difokuskan untuk membeli bahan-bahan dasar memasak dan bukan melulu untuk membeli ‘makanan jadi’ di restoran. Mulai research supermarket terdekat di daerah tempat tinggal/ kampus/ kantor suami dimana, kalau ada website-nya, anda bisa browsing harga-harganya untuk dijadikan patokan.

5. Emergency Fund

Dana ini dibutuhkan untuk kebutuhan-kebutuhan tidak terduga, seperti obat kalau tiba-tiba anda atau anak anda demam misalnya, dan lain sebagainya. Tidak perlu banyak-banyak, yang penting ada supaya tidak mengganggu dana yang sudah dianggarkan untuk 4 kategori penting diatas.

 

Mungkin kesannya ‘ribet’, tetapi lebih baik sedia payung sebelum hujan, bukan? Saya dan suami tiba di Dallas 7 bulan yang lalu dengan berbagai macam list yang sudah kami buat sebelumnya di Jakarta berdasarkan research di internet. Dan terbukti, meski tidak membawa uang yang banyak, semua pengeluaran bulan pertama kami efisien dan syukurnya, kami bahkan tidak perlu berhutang sama sekali (dengan kartu kredit sekalipun). Kalau kami bisa, anda juga bisa.

 

Membuat SIM Amerika

ChicaPuti Ceniza Akbar (Chica) – has been living in New Bedford, Massachusetts, USA since 2010 with two sons and lifetime partner. She loves to volunteer at several local communities as well as running this site in her spare time.

“May I see your ID?” – adalah pertanyaan yang lumrah ditanyakan oleh pihak berkepentingan di sini. Tentu saja yang dimaksud sebagai “ID” atau identity document adalah sebuah dokumen yang mencantumkan nama lengkap, foto, tanggal lahir, alamat, dan tanda tangan. Kalau di Amerika, yang lumrah sebagai ID adalah SIM atau drivers license. Selain SIM, untuk yang non-driver bisa membuat State ID (hanya boleh pilih salah satu – state ID akan otomatis expired jika sudah punya SIM state setempat).

Kesalahan yang sering dilakukan sebagai international student atau expat dari Indonesia, adalah anggapan bahwa SIM Indonesia dan atau SIM internasional Indonesia bisa dipakai untuk nyetir di semua negara. Nyatanya tidak demikian…! Memang sih, kebanyakan SIM dari negara lain diakui oleh Amerika dan boleh dipergunakan selama setahun dari tanggal kedatangan ke Amerika (dan setiap kali re-enter ke Amerika). Tapi, tidak untuk Indonesia. Department of Motor Vehicle (DMV) mempunyai list resmi daftar negara-negara yang SIMnya diakui, dan di sana Indonesia gak termasuk. Hal ini perlu dicek juga di setiap Website resmi DMV/RMV (Registry of Motor Vehicle) untuk masing-masing state. Link yang saya sertakan di sini adalah untuk wilayah state Massachusetts.

Nah, karena SIM dari Indonesia (baik SIM biasa mau pun internasional) tidak diakui di Amerika. Sehingga, bisa dianggap kalau kita mengandalkan SIM Indonesia saja, artinya kita menyetir secara illegal. Dan menyetir illegal di Amerika agak berbahaya, karena dianggap sebagai pelanggaran berat! Gak mau khan dideportasi atau kena denda sekian ribu dollar hanya karena tidak tahu bahwa nyetir di sini illegal? Walaupun, dari pengalaman saya sendiri dan juga beberapa kenalan lain, mereka bisa dengan tenang melanglang buana hanya dengan berbekal SIM Indonesia dan tidak mengalami kendala apa-apa. Tapi ada baiknya, untuk ketenangan jiwa, marilah membuat SIM! Hehe.

Untuk dokumen yang perlu disiapkan sudah ada di sini. Tips: pastikan Anda punya surat penolakan Social Security Number jika memang tidak bisa mendapatkannya karena alasan visa (untuk visa non-kerja dan spouse dari student, atau visa F2 – tidak bisa mendapatkan SSN). Cara mendapatkan surat penolakan ini bisa langsung ke kantor SSN di masing-masing kota. Ingat ya, surat ini hanya berlaku selama 30 hari saja. Jadi setelah dapat surat, langsunglah urus Written Test.

Written test digunakan untuk mendapatkan Learner Permit. Nah, test ini sering dianggap gampang banget oleh sebagian besar orang, tapi buat saya sendiri, test ini SANGAT tricky karena sebagian besar berupa hafalan. Agak memalukan sih, karena saya gagal dua kali dalam written test x( Padahal biayanya lumayan! Sekali tes $30. Dan soal yang ditanyakan kalau Anda sudah baca di Driver’s Manual (bisa diunduh secara online atau pinjem ke library setempat), seharusnya bisa langsung pass. Soal testnya ada 25, dan harus benar 18 pertanyaan. Waktu test 30 menit. Tips: kalau ada pertanyaan yang tidak yakin, langsung di-skip saja. Karena kalau jawabannya salah, maka pertanyaan berikutnya tetap akan berkaitan dengan pertanyaan yang sebelumnya (resiko salah kembali lebih besar). Untuk belajar, coba isi tes latihan secara online.

Kalau Anda lulus dan mendapatkan learner permit, maka Anda akan diperbolehkan mengendarai mobil HANYA jika ada sponsor yang mendampingi. Yang dimaksud dengan sponsor adalah orang dewasa (> 21 tahun) yang sudah memiliki valid driver’s license dan berpengalaman menyetir minimal 1 tahun. Learner permit akan berlaku hingga 2 tahun. Dan dalam kurun waktu tersebut, Anda harus menjadwalkan road test (by online atau telepon). Tips: Butuh waktu agak lama untuk bisa daftar road test, bisa jadi 2-3 bulan dari kita menelpon. Jadi segera bikin jadwal untuk road test. Dan ingat, kalau mau cancel, minimal 3 hari sebelum test harus dicancel atau kita harus bayar $20 (dianggap ikut test dan gagal).

Road Test hanya akan memakan waktu 8- 15 menit. Walau pun Anda sudah biasa nyetir di Indonesia, jangan gegabah juga saat test ya dan jangan terlalu nervous juga. Saya dan suami yang sudah 6-8 tahun menyetir, ternyata masih harus mengulang road test karena gagal pada test yang pertama. Bahkan ada teman yang gagal hingga 3x, padahal dia sangat bagus sekali nyetirnya. Entah faktor si examinernya yang kelewat “jahat” atau faktor luck, atau tergantung kotanya… Pokoknya kalau di daerah New Bedford dan sekitarnya, rata-rata road test pertama gagal. Huhu. Yang akan diperhatikan saat test: hand signal (belok kiri, kanan, dan stop), kemampuan untuk: parallel parking, three point turn, memundurkan mobil secara lurus sejauh beberapa meter, menaati road sign, dll – untuk lengkapnya bisa baca di sini. Nah, kalau Anda memang tidak pernah punya SIM dan baru belajar nyetir, ada baiknya ambil kelas di Driving School kota setempat – kemungkinan besar Anda akan langsung guaranteed lulus test..!

Good luck! 🙂