Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 4 – Final)

7526fe7990e6591c3fa4d9bdf506e934Permai Sari Molyana Yusuf (Melly – An Indonesian, currently living in Mannheim, Germany. A Housewife with two kids, Afiqah and Aqila. Interest in Biophysics and love to cook, bake and do Food Photography. A Culinary Contributor of Indonesian Fashion Magazine.

Frankfurter Buchmesse atau lebih dikenal Frankfurt Book Fair (FBF) disinyalir sebagai the world’s largest trade fair for books ,hal ini dilihat dari jumalah pengunjung dan perusahaan pelaku bisnis terkait penerbitan buku dan lisensi serta penulis, ilustrator, seniman, perangkat lunak dan multimedia. Sehingga tidak salah jika banyak yang menganggap FBF ini merupakan pameran buku yang paling penting di dunia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Frankfurt Haupbahnhof , Stasiun Kereta Frankfurt

Setiap tahunnya, acara ini diselenggarakan  di Frankfurt Messe, Frankfurt am Main, Jerman , di pertengahan bulan Oktober, selama 5 hari. Tiga hari pertama merupakan jadwal untuk pengunjung  eksklusif (pelaku bisnis di bidang buku untuk penerbitan, menulis, lisensi, dsb) dan 2 hari terakhir sisanya, terbuka untuk khalayak umum.

Sejak  tahun 1976, pameran ini memberikan ruang bagi negara negara lain untuk menjadi tamu kehormatan dan menjadikannya sebagai Tema  Frankfurt Book Fair di tahun tersebut. Sebagai contoh, untuk tahun ini, 2015, Indonesia menjadi tamu kehormatan dengan mengusung tema „17.000 Inseln der Imagination (17.000 Islands of Imagination)”.

Adanya kesempatan sebagai tamu kehormatan tentunya memberikan dampak yang positif bagi negara berkembang Indonesia, untuk memperkenalkan diri, potensi dan karya anak bangsa. Bisa dibayangkan, hadirnya Indonesia disini menjadilkan hasil kreatifitas anak bangsa makin diakui banyak pihak dari berbagai negara dan tentunya ini menjadi pemicu makin meningkatnya kepercayaan generasi muda dalam berkarya seni, menulis, dsb.

Informasi mengenai penyelenggaraan Frankfurter Buchmesse setiap tahunnya bisa dilihat di website Buchmesse.

***

Sejak tahun lalu sebenarnya aku sudah ingin datang ke acara FBF ini, hanya saja saat itu menjelang ujian DTZ dan ujian politik negara, jadilah mengesampingkan dulu kepentingan yang lainnya. Alhamdulillah tahun ini bisa mengunjungi Frankfurt Book Fair di saat Indonesia menjadi tamu kehormatan. Hal yang bersamaan pula momen ini menjadikan temu kopi darat beberapa teman teman Mbakyurop yang juga mengunjungi FBF ini 😉

Beberapa dari kami sudah mengunjungi FBF di hari Sabtu, jadi kami janjian sarapan bersama di tempat yang sudah disepakati sehari sebelumnya, di salah satu kafe di dekat Hauptbahnhof. Alhamdulillah seneng bangeeet. Kebayang kan biasanya info-info hanya di grup dan tidak pernah bertemu, setelah bertemu rasanya seperti sudah kenal lama ^^

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari kiri ke kanan : Mindy dan Medea, Beth, Era dan Aima, Aku dan Flipper, Mia

***

FBF tahun ini dibuka untuk umum pada tanggal 17 dan 18 Oktober 2015, 2 hari terakhir menjelang penutupan. Dan aku datang di hari Minggunya. Jujur saja, 1 hari tidak akan cukup menjelajahi seluruh pameran ini, ada 5 gedung besar dengan minimal 3 lantai yang cukup luas untuk dilihat apalagi jika waktunya terpotong untuk mengikuti sesi-sesi diskusi yang diadakan.

Biaya tiket masuk yang ditawarkan pun beragam (umum, kontributor atau bisnis). Untuk umum, tiketnya sekitar 18 eur dan ada penawaran harga khusus untuk student atau sejenisnya dan juga pemegang kartu Arbeitlos (tidak bekerja), dsb. Sedangkan untuk Flüchtlinge atau pengungsi (pengungsi yang berasal dari negara negara perang, dsb) diberikan hak untuk masuk gratis.

5 - Tiket untuk kalangan privat

Tiket untuk kalangan private

***

Pengalamanku dengan tiket, sesaat sebelum masuk Messe frankfurt, aku ditawari untuk membeli koran lokal seharga 0,80 eur atau 80 cent, yang didalamnya ada voucher untuk membeli 1 tiket gratis 1 dan hanya berlaku untuk pembelian jenis tiket sehari. Kebetulan aku saat itu berdua dengan temenku Mia, jadi adanya voucher ini membuat kami berdua tampak lebih sumringah melewati dingin pagi itu di Frankfurt, hihihihihihihi 😀

Setelah melewati loket tiket, panitia juga menyediakan sarana penitipan barang dan jaket dan dikenakan biaya sekitar 2 euro untuk satu jenis barang penitipan. Jadi mempermudah pengunjung untuk mengunjungi stand-stand tanpa ribet dengan bawaan pribadi.

***

Di sini, benar benar seperti surganya buku, semua jenis buku dari berbagai negara ada. Karena memang event Internasiona ya. Dari mulai buku anak, remaja, dewasa, orang tua, roman, pokoknya semuanyaaa… dari mulai bahasa lokal (jerman), bahasa Inggris dan bahasa dari masing masing negara peserta Book Fair. Bisa dibayangkan satu lantai hall saja besarnya ga nahan untuk dilihat satu-satu, ini ada 5 hall yang semuanya besar.

Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca
Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca

Hal yang menarik, di setiap stand buku, pengunjung diberi fasilitas kursi dan meja atau kursi saja yang nyaman untuk membaca dan semua buku dipajang dalam keadaan tidak di bungkus, jadi semua pengunjung dipersilahkan dengan senang hati untuk duduk santai dan membaca. Pemandangan yang seperti ini memang sangat lumrah ditemui di berbagai toko buku di Jerman. Seharian di toko buku untuk membaca adalah hal yang sah sah saja, asyik ya? 😉

Lesezelt
Lesezelt

Seperti halnya kegiatan perpustakaan-perpustakaan di Jerman pada umumnya, di FBF juga menghadirkan kegiatan „menceritakan“ untuk bacaan anak-anak, bahkan ada disediakan tempat khusus, Lesezelt (atau disebut sebagai Tenda Membaca). Di pameran buku pun ada beberapa spot tertentu dimana anak anak bisa duduk santai sambil mendengarkan cerita. Percayalah, si pencerita akan menarik pendengar untuk duduk anteng mendengarkan isi ceritanya dengan seksama. Kenapa?? Karena di setiap adegannya dia bisa mengeluarkan berbagai jenis suara berbeda diikuti dengan mimik yang kadang penuh kejutan ! 🙂

Sehingga tidak heran, kalau pendengar pun ikut merasakan alur cerita yang lucu, sedih, gembira dan petualangan seru. Saat mengunjungi spot ini agak sedikit menyesal memang, tidak membawa anak-anak untuk ikut serta. Tapiii ya karena memang hari Minggu, kakak Afiqah punya jadwal sekolah Minggu yang sepertinya tidak boleh terlalu sering membolos.

Kinderbuch Centrum, Children's Book Centre
Kinderbuch Centrum, Children’s Book Centre

 

Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru
Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru

 

Apps Radio.de
Apps Radio.de

 

Pilihan di Apps Radio.de
Pilihan di Apps Radio.de

 

Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak
Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak

Oh iya, kegiatan seperti ini juga bisa didengar melalui apps radio dari hp, nama apps nya radio.de bisa di download di apps store , langsung saja cari „Hallo Eltern Podcast – Märchen“ (menceritakan cerita dongeng Jerman untuk anak anak).


Stand Buku Indonesia
Stand Buku Indonesia

 

Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015
Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015

 

Gramedia Printing di FBF 2015
Gramedia Printing di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan
Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku di Indonesia Pavilion
Buku-buku di Indonesia Pavilion

 

Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.
Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

 

Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion
Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

* * *

Sebagai tamu kehormatan, tentunya Indonesia banyak memberikan peran dalam event-event diskusi yang diadakan. Sebagian besar panelis merupakan utusan dari Indonesia, yang memang berprofesi sebagai penulis, tokoh kuliner, dsb.

Beberapa diantaranya, yaitu :

Penulis buku sastra dan fiksi
A. S. Laksana
Abidah El Khalieqy
Afrizal Malna
Agus R. Sarjono
Ahmad Fuadi
Ahmad Tohari
Andrea Hirata
Avianti Armand
Ayu Utami
Azhari
Budi Darma
Cok Sawitri
Dewi Lestari
Dorothea Rosa Herliany
Eka Kurniawan
Goenawan Mohamad
Gunawan Maryanto
Gus tf Sakai
Ika Natassa
Intan Paramaditha
John Waromi
Joko Pinurbo
Laksmi Pamuntjak
Leila S. Chudori
Lily Yulianti Farid
Linda Christanty
M. Iksaka Banu
Maggie Tiojakin
N. Riantiarno
Nh. Dini
Nirwan Dewanto
Nukila Amal
Okky Madasari
Oka Rusmini
Putu Oka Sukanta
Ratih Kumala
Sapardi Djoko Damono
Seno Gumira Ajidarma
Sindhunata
Taufiq Ismail
Darwis (Tere Liye)
Toeti Heraty
Triyanto Triwikromo
Yusi Avianto Pareanom
Zen Hae

Penulis komik
Aji Prasetyo
Apriyadi Kusbiantoro
Arief Yaniadi
Beng Rahadian
Benny Rachmadi
Hikmat Darmawan
Is Yuniarto
Iwan Gunawan
Kharisma Jati
Muhammad Misrad (Mice)
Sheila Rooswitha Putri
Tita Larasati
Wendy Jaka Sundana

Penulis buku anak
Arleen Amidjaja
Christiawan Lie
Djokolelono
Murti Bunanta
Nadia Shafiana Rahma
Renny Yaniar
Tety Elida

Penulis buku non-fiksi
Agustinus Wibowo
Dian Pelangi
Imelda Akmal
Julia Suryakusuma
Noor Huda Ismail
Trinity
Suwati Kartiwa
Wahyu Aditya
Yoris Sebastian

Penulis digital
Daryl Wilson
Taufik Assegaf

Juru Masak
Aries Adhi Baskoro
Astrid Enricka Dhita
Bara Pattiradjawane
Budi Lee
Ignatius Emmanuel Julio
Ivan Leonard Mangudap​
Mukhamad Solihin
Petty Elliot
Putri Mumpuni
Ragil Imam Wibowo
Sandra Djohan
Sisca Soewitomo
Sudarius Tjahja
Vindex Tengker

Tokoh Kuliner
Helianti Hilman
Lisa Virgiano
Mary Jane Edleson
Mei Batubara
Santhi Serad
Sri Owen
William Wongso

Aktivis Literasi
Anton Solihin
Asma Nadia
Evelyn Ghozalli
Heri Hendrayana (Gola Gong)
Janet DeNeefe
Muhidin M. Dahlan

Narasumber seminar
Frans Magnis Suseno (Pluralisme and Islamophobia)
Haidar Bagir (Pluralism and Islamophobia)
Ulil Abshar Abdalla (Pluralisme and Islamophobia)
Philips Vermonte (Pluralisme and Islamophobia)
Setiadi Sopandi (Tropical Architecture in Indonesia)
Gede Kresna (Tropical Architecture in Indonesia)
Oman Fathurahman (Script in Indonesian Manuscript)
Sugi Lanus(Script in Indonesian Manuscript))
Dewi Candraningrum (Translating Faust and Goethe)
Mery Kolimon (Writing of Political Violence and Trauma)
Endo Suanda (Recording of Indonesian Music)
Eko Prawoto (Climate and Architecture)
Francis Kere (Climate and Architecture)
I Made Bandem (Indonesian Superhero, Cerita Panji)

Pembaca Karya
Butet Kartaredjasa
Elizabeth Inandiak
Endah Laras
Jennifer Lindsey
Landung Simatupang

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Dan masih ada lagi yang lain. Buku hasil karya penulis pun beberapa sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman dan sudah tersedia di toko buku online seperti Amazon.de , Thalia.de dan bookdepository.com.

Selain itu nama nama yang dituliskan di atas juga berperan sebagai panelis dan narasumber dalam berbagai event diskusi selama berlangsungnya FBF dan di beberapa Bibliothek/ perpustakaan di berbagai kota di Jerman,  seperti Dresden, Heidelberg, Berlin, dsb.

Semaraknya Indonesia mewarnai FBF tahun ini tidak mungkin terlepas dari cita rasa masakan khas tanah air. Sehingga ada beberapa spot di pameran ini yang menyediakan masakan khas Nusantara seperti Nasi Kapau, Gado-gado, Ayam rica-rica, dessert Klappertaart, dsb

Selain itu, di luar area pameran, juga digelar masakan Kaki Lima, yang menyediakan Nasi Goreng dan Sate khas Indonesia. Kaki Lima ini bisa dikunjungi langsung di Römer, salah satu sudut kota Frankfurt, Jerman. Tantangan banget kan ya, menjajakan makanan di luar ruangan di saat suhu sudah mulai turun di musim gugur.

Rasanya tidak cukup hanya satu hari untuk bisa mengunjungi seluruh area FBF. Hari Minggu, aku berkesempatan untuk mengikuti dua event setelah berkeliling melihat-lihat buku 😉 , yang pertama,  “The Art of Banana Leaves Food Wrapping” yang disampaikan oleh Ibu Sisca Soewitomo dalam Bahasa Indonesia dengan penterjemah Bahasa Jerman dan yang kedua,  “Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Dr. Jusuf Habibie dan Frans Magnis-Suseno dalam Bahasa Jerman.

Keduanya dilakukan sama sama di Indonesia Pavilion dan waktunya yang berdekatan, sehingga aku pun bisa mengikuti tanpa harus berpindah gedung lainnya.

***

Event yang pertama, Bu Sisca memperkenalkan penggunaan daun pisang yang kerap kali digunakan di berbagai macam masakan Indonesia. Baik itu sebagai pelengkap, alas/ wadah ataupun pembungkus. Sambil mendemokan membuat gado-gado, beliau menjelaskan aroma yang dikeluarkan dari daun pisang tersebut yang memberikan rasa dan aroma yang khas, apalagi jika daun pisang yang digunakan untuk membungkus makanan, selanjutnya dibakar sebentar di perapian, akan menambah cita rasa sedap dalam masakan. Dan ternyata, Ibu Sisca menggunakan daun pisang yang di dapatkan di Toko Asia di Jerman.

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta warganegara Jerman, menanyakan mengenai rasa masakan khas Indonesia, yang sebagian besar menggunakan cabai dan rasanya pedas. Hal ini tentunya berkaitan dengan selera masyarakat Jerman yang cenderung plain saja tanpa pedas.

„Banyaknya macam jenis masakan Indonesia, tentunya ada pula yang tidak harus menggunakan cabe atau jika pun menggunakan, kadar penggunaan cabe itu sendiri juga dapat disesuaikan dengan selera. Jadi tidak selalu harus pedas“ jelas bu Sisca.

Event selanjutnya, antusias peserta tidak kalah banyaknya dibanding dengan event sebelumnya. Bahkan podium peserta diskusi tidak cukup menampung dan banyak yang rela untuk melantai agar dapat mengikuti diskusi bersama Presiden Indonesia yang ketiga ini, Dr. BJ. Habibie.

“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie
“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie

Intinya, Bapak Habibie sangat yakin bahwa nantinya Indonesia akan menjadi negara yang mandiri dan bisa mensejahterakan rakyatnya. Kekayaan alam Indonesia yang sangat banyak dan semakin potensialnya sumber daya manusia tentunya menjadi kombinasi yang positif untuk kemajuan bangsa.

Ada beberapa event lainnya yang aku lihat namun tidak full, karena aku masih ingin melihat-lihat pameran buku, yakni

Morning Coffee with Literacy Activist bersama Muhidin Dahlan, Anton Solihin, Heri Hendrayana, Asma Nadia dan Evelyn Gozali.

dan terakhir sebelum penutupan, ada diskusi 2 penulis, satu dari Indonesia yang yang diwakili oleh Ayu Utami dan satunya dari Belanda yang diwakili oleh Adriaan van Dis. Podium penonton untuk diskusi ini sepertinya hanya untuk orang-orang tertentu karena akan sekalian dengan penutupan dan serah terima ke Belanda sebagai Guest Honour tahun depan.

Die nächste Buchmesse findet vom 19. bis 23. Oktober 2016 statt !!
Nantikan Frankfurt Book Fair berikutnya, yang akan diselenggarakan pada tanggal 19-23 Oktober 2016 !!

——–

Tulisan ini disadur dari tulisan di blog Melly . Foto  yang dilampirkan menggunakan watermark Mellyloveskitchen adalah dokumentasi pribadi dan yang mengambil dari website lain dicantumkan sumbernya pada nama foto tersebut.

IG: @mellyloveskitchen

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 2)

925351_547216565411067_743477697_aBeth Agustina. Has been living in Germany for 8 years. Full time happy SAHM and part time passionate portrait photographer.

Hajat tahunan Frankfurt Book Fair yang digelar selama lima hari akhirnya selesai juga hari Minggu kemarin. Konon banyak buku-buku yang diobral bahkan gratis di hari terakhir (Minggu 18 Oktober 2015). Sayangnya saya datang hanya di hari Sabtunya saja, jadi tidak kebagian obralan. Tapi lumayan juga sih, mendapat buku-buku kortingan setelah tawar menawar tingkat tinggi dengan di beberapa stand penerbit. Untung suami saya tidak ikut masuk ke pameran buku ini, dia suka malu mendapati istrinya nggak tahu malu tawar-menawar harga 😀

Indonesia menjadi tamu kehormatan di acara Franfurt Book Fair tahun ini dengan fokus utama penulis-penulis wanita Indonesia yang menyinggung topik tabu seperti seks dan agama dalam karya-karya mereka. Jauh hari sebelum hajatan literatur terbesar di dunia ini dibuka, berita tentang kultur, budaya dan literatur Indonesia sudah banyak menghiasi beberapa media di Jerman. Di samping berita tentang kehadiran Salman Rushdie di acara pembukaan pameran dan boikot dari negara Iran karenanya, tentunya.

APw4_ONdQ_3AGFtxd4QI3F31vk5XLn4eTh3kWFEbkXk,SYedbeWWJYURa9Z1cc7gonwY8oO7s0eEAtBwD08qfcU

Frankfurt Book fair dibuka untuk umum pada dua hari terakhir, 17 dan 18 Oktober 2015. Tiket masuknya berharga 18,00 Euro sehari, yang termasuk normal untuk tiket pameran berkelas internasional seperti ini. Khusus untuk refugees, yang saat ini sedang ramai-ramainya membuat pemerintah dan warga negara Jerman pusing tujuh keliling, mereka mendapat fasilitas masuk gratis.

Saya lumayan menyesal hanya datang di hari Sabtunya saja. Bukan masalah obralan buku di hari terakhir, namun karena saya belum khatam mengelilingi semua halls dan stand. Hari itu saya hanya berkonsentrasi pada jadwal acara dari Indonesia dan mencari buku anak-anak sedangkan sebenarnya ada lebih dari 7000 peserta pameran 100 negara yang rutin mengikuti Frankfurt Book Fair. Tapi not bad juga sih, semua target saya terpenuhi; melihat acara tanya jawab Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori, menemui senior jaman kuliah Beng Rahardian dan Eko Nugroho-para komikus kondang tanah air, mengikuti acara interview Andrea Hirata dan tentunya membeli beberapa buku anak berbahasa Indonesia yang tidak bisa saya dapatkan di sini -itupun pilihannya terbatas karena sebenarnya hari Sabtu itu belum diadakan transaksi jual beli. Oh ada satu acara yang tak bisa saya ikuti karena saya datangnya telat, acara show cooking-nya Chef Vindex!

ANDREA HIRATA

Andrea Hirata untuk ketiga kalinya kembali diundang untuk menghadiri Frankfurt Book Fair, sebuah pameran buku terbesar di dunia. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sempat mengikuti interview Andrea Hirata di booth milik stasiun TV Jerman 3Sat. Sempat bangga juga saya melihat bangku penonton langsung penuh begitu session Andrea Hirata tiba. Dan serunya lagi, 95% penontonnya bukan orang Indonesia padahal buku-buku Andrea Hirata baru ada versi bahasa Jermannya sejak bulan September kemarin. Di Amazon.de buku Laskar Pelangi yang dalam bahasa Jermannya Die Regenbogentruppe mendapat review 4,5 dari total 5 dari para pembacanya. Yay!


Dulu waktu saya masih baru-barunya di Jerman (tahun 2007), buku Andrea Hirata belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pendidikan di Indonesia, saya selalu menyelipkan cerita dari bukunya Andrea, tentang perjuangan Ikal dkk. dalam menempuh ilmunya. Teman-teman saya yang kebanyakan lahir dan besar di Jerman sangat tertarik dengan Laskar Pelangi dan banyak bertanya tentang kebenarannya, bagaimana dengan sistem pendidikan pada umumnya di Indonesia dan bagaimana dengan sekolah saya sendiri. Apalagi saat itu di Jerman sedang ramai-ramainya demonstrasi mahasiswa yang tidak puas dengan  fasilitas di Universitas Negeri yang kurang dan buku-buku diktatnya yang mahal. Teman-teman yang sudah kena setrum cerita Laskar Pelangi inipun kemudian berkata betapa kurang bersyukurnya mahasiswa di Jerman yang berdemo itu karena biaya kuliah di Jerman sebenarnya termasuk yang paling murah di dunia, bahkan biaya sekolah sampai SMA pun gratis. Dan buntutnya mereka ingin sekali membaca buku Laskar Pelangi. Tahun ini harapan mereka akan saya kabulkan!

Dalam interview di stasiun 3Sat kemarin, Andrea Hirata sempat diminta untuk mendeskripsikan bangsa Indonesia yang complex ini hanya dalam 3 kalimat pendek. Menurut Andrea, bangsa Indonesia itu toleran, bangsa Indonesia itu suka belajar dan yang terakhir, bangsa Indonesia itu suka tersenyum yang disambut dengan senyum lebar para pengunjung. Pembawa acara cantik yang mewawancarai Andrea Hirata juga sempat menanyakan seberapa penting pengaruh  magic di Indonesia karena dalam buku Sang Pemimpin (Jerman: Der Träumer) ada bagian di mana Ikal menuliskan harapannya di secarik kertas yang digantung di sebuah layang-layang. Menurut Andrea Hirata magic merupakan bagian dari kultur Indonesia dan  sebagai seorang penulis cultural fiction, memasukkan unsur-unsur magic itu baginya merupakan hal yang penting. Yang paling lucu adalah ketika Andrea Hirata membacakan bagian dari Sang Pemimpi, tentang asal-usul namanya (Andrea Hirata sempat ganti nama 9 kali!) yang sayangnya tidak diterjemahkan secara lengkap oleh si penerjemah sehingga pemirsa non-Indonesia tidak bisa ikut cekikikan seperti saya. Video tentang interview Andrea Hirata ini bisa dilihat di websitenya 3Sat.

Setelah interview usai, saya dan dua orang teman saya langsung bergegas ke backstage, mau minta tanda tangan dan foto bareng. Rupanya di sana sudah banyak orang yang antri, kebanyakan mahasiswa dari Indonesia. Andrea Hirata sempat bertanya apakah ada dari kami yang memiliki bukunya dalam versi bahasa Jerman. Sayangnya kami belum punya tapi saya janji mas, saya akan segera beli buku itu secara dari dulu saya memang sudah tidak sabar, ingin teman-teman Jerman saya membaca buku itu.

Andrea Hirata orangnya sangat ramah, sedang sibuk-sibuknya sesi tanda tangan, dia sempat-sempatnya bercerita kalau editornya masih lajang. Maksudnya bagaimana nih mas?

Buku Anak

Ohya, saya sempat  membeli beberapa buku anak-anak berbahasa Indonesia buat si Flipper (anak perempuan saya), salah satunya adalah buku ‘Indahnya Negeriku’ – Berpetualangan bersama Ella dan Eza dari penulis Fitri Kurniawan dan Watik Ideo (Penerbit: Bhuana Ilmu Populer). Buku yang rupanya bilingual ini (Indonesia dan Inggris), mengisahkan tentang dua kakak beradik Ella dan Eza yang berwisata berkeliling Indonesia ke 13 kota dari Sumbawa sampai ke Sulawesi Utara.

Menurut saya ceritanya standar saja. Di setiap kota yang disinggahi, mereka bertemu dengan kenalan baru yang mengenalkan mereka dengan budaya setempat seperti tari-tarian, kerajinan tangan dan makanan dengan latar belakang ilustrasi rumah adat mereka. Saya sebut standar karena informasi-informasi pendek seperti ini seingat saya sudah ada di buku pelajaran jaman SD atau SMP dulu yang saya yakin saat inipun masih ada. Tapi dengan illustrasi penuh warna dan teks non-formal membuat buku ini tentu saja lebih menarik dari buku pelajaran sekolah.

Yang lebih menarik lagi  -dan tidak ada di buku pelajaran- adalah pengenalan makanan setempat di setiap kota yang mereka singgahi.  238 halaman, 13 kota, 19 ilustrasi makanan (38 halaman), nom! Waktu suami saya baca buku ini komentar pertamanya adalah, “pantas saja orang Indonesia suka makan.” Yup, pengenalan makanan sejak dini! Bisa jadi dia iri hati juga karena kulinari Jerman tidak sekaya kulinari di Indonesia.

Ikan gabus kuah kuning, makanan khas Papua

Makan wadi, makanan khas suku Dayak sambil membahas senjata Sipet dan Mandau

Cukup menarik khan? 🙂

——–

Foto-foto pada laman ini adalah karya Beth, dengan beberapa foto pendukung yang terhubung dengan link pada foto.

https://autumnisokay.wordpress.com & Instagram @frausie

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 1)

8970440293_db01e5a142Mindy Jordan – A stubborn Taurean yang lahir 40 tahun silam di Jakarta. Istri dari suami yang jangkung (Sven) dan ibu dari seorang putri kecil (Medea Kedasih ). Saat ini sedang bersekolah kembali untuk nantinya bisa berkerja dengan anak-anak. Co-Author buku 3 Wanita Menjejak Dunia dan Menghirup Dunia. Suka membaca, membuat DIY dan belajar masak, juga fotografi secara autodidak.

Frankfurter Buchmesse

Waktu saya tahu kalau Tamu Kehormatan di Frankfurter Buchmesse (Frankfurt Book Fair) adalah Indonesia, saya sudah bertekat untuk datang. Biarpun jarak 470 km memisahkan antara kota tempat tinggalku dan kota Frankfurt, tetap tidak menggoyahkan niat saya. Apalagi akhirnya teman-teman yang saya kenal melalui ajang Upload Kompakan juga mau datang dan menjadikan ajang istimewa ini untuk acara kopi darat pertama kali. Pokoknya I was so uber excited deh!

Gimana ga excited coba, karena ajang pameran buku terbesar ini ada di bucket list saya, lalu tahun ini Indonesia yang menjadi tamu kehormatan, ditambah lagi saya akan bertemu dengan salah satu teman dan partner penulis buku Menghirup Dunia dan juga teman-teman seantero Jerman (plus Deny yang datang dari Den Haag). Anak saya juga minta ikut, sewaktu saya wanti-wanti kalau nanti saya akan pergi. Dilalah sang suami yang tadinya tidak mau ikut akhirnya jadi tertarik untuk ikut. Jadilah kita sekeluarga liburan weekend getaway 14-18 Oktober 2015 ke ajang Pameran Buku yang tertua dan terbesar di dunia, Frankfurter Buchmesse.

Beberapa minggu sebelum pergi saya sudah mempelajari kalender acara. Kebanyakan acara yang diselenggarkan oleh Tamu Kehormatan. Karena perginya dengan anak batita, jadi saya juga mencatat acara anak-anak, seperti misalnya pembacaan dongeng, peluncuran buku anak-anak yang berjudul Putri Kemang yang juga sudah ada versi terjemahan Indonesianya dan ada dalam format Kamishibai.

Selain itu saya memasukan beberapa acara talk show atau diskusi ke agenda saya. Sebut saja, talk show Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak, lalu Dewi Lestari dengan Ika Natassa, dan Tita Larasati karena sudah lama ingin bertemu dari jaman Multiply. Beberapa penulis Jerman juga saya masukkan ke agenda saya, misalnya Ilija Trojanow dan Axel Scheffler, ilustrator buku anak. Beliau sering kolaborasi dengan Julia Donaldson dan buku mereka yang populer adalah der Grueffelo atau Gruffalo.

Euphoria Frankfurt Book Fair 2015 untuk saya juga diisi dengan membaca beberapa tulisan dan berita tentang tanah air di beberapa surat kabar ternama Jerman, misalnya tentang budaya baca masyarakat Indonesia atau juga tentang slogan yang dipakai di Frankfurt Book Fair 2015, yaitu 17.000 Islands of Imagination. Lengkapnya bisa dibaca di http://islandsofimagination.id/about/. Potongan berita, tulisan dan liputan di surat kabar tersebut saya simpan.

Indonesia’s slogan for the Fair— “17,000 Islands of Imagination”—symbolizes the intellectual and artistic richness of this incredibly diverse and multi-religious nation.

Perjalanan ke kota Frankfurt am Main memakan waktu lebih lama karena macet di jalan tol. Tidak heran sih karena hari keberangkatan kita adalah Jumat dan terkena rush hour ditambah hujan rintik. Puji Tuhan kita tiba dengan selamat di Innside Hotel tempat menginap selama dua malam. Sang resepsionis yang ramah memberikan Medea sebuah welcome gift yaitu berisi sekotak pensil warna dan beberapa coloring postcards bergambar binatang. Bahagia sekali dia melihat isi welcome giftnya dan langsung mau mewarnai begitu kita masuk ke kamar yang nyaman. Sebelum tidur Medea bertanya kapan kita berangkat ke Frankfurter Book Fair-nya. Ternyata ada yang sudah excited seperti ibunya.

Instalasi 1500 Batang Bambu Joko Avianto Pukau Pengunjung Frankfurter Kunstverein

Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Hari H pun tiba. Kita sekeluarga pergi ke lokasi dengan mobil dan beruntung mendapat parkir yang tidak jauh dari Frankfurt Messe (Frankfurt Exhibition). Mungkin karena pagi-pagi banget yaa… Di sebelum pintu masuk, kita ditawari untuk membeli sebuah surat kabar yang harganya 0,80€. Awalnya tidak mau beli karena surat kabar tersebut image-nya seperti Pos Kota, tapi hadiah kupon dapat tiket lebih murah mengalahkan pikiran kita.

Setelah mengisi perut dengan gado-gado dan teh panas di Canteen Indonesia, saya dan keluarga menuju ke Paviliun Indonesia untuk mengikuti acara diskusi dengan dua penulis wanita Indonesia, yaitu Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Oiya, buku Laksmi Pamuntjak yang berjudul “Amba“, diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul “Alle Farben Rot“ dan sudah saya liat di beberapa toko buku. Ada rasa bangga terbesit setiap melihat buku Indonesia di antara buku-buku karya penulis dalam negeri, maupun penulis luar negeri. Sebelum acara diskusi dimulai, saya sempat melihat Pak B.J. Habibie. Sayangnya tidak bisa minta foto bareng karena security yang ketat.

RBu8KSnmfaf75GjR8q644jwuZQrmpdfR4FI6n8b4ryQ,NcYmJ0myx-4iIibjCBki3N8MrpA3nXEWVod6VurTHNw

Menonton acara tarian ini bikin kangen kampung halaman

Deretan buku tentang Indonesia saat dipamerkan dalam Frankfurt Book Fair 2015 di Frankfurt am Main, Jerman (13/10).

Akhirnya acara diskusi yang bertemakan tentang kaum Exil dari masa 1965 dimulai. Dengan moderator seorang penulis Jerman bernama Anett Keller, seorang wartawati yang fasih berbahasa Indonesia dan penulis “Indonesien 1965ff. Die Gegenwart eines Massenmordes. Ein politisches Lesebuch.“ Buku setebal 213 halaman ini mengambil latar belakang kejadian di tahun 1965. Karena acara diskusi ini dalam bahasa Jerman, Indonesia dan Inggris jadi disediakan head set bagi para pengunjung supaya bisa mendengar terjemahan stimulasi secara langsung.

Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak menceritakan tentang buku mereka, yaitu “Pulang“ dan “Amba“, yang keduanya memiliki latar belakang yang sama, yaitu kejadian di tahun 1965. Seperti halnya “Amba“, novel “Pulang“ juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul “Heimkehr nach Jakarta“. Sebuah novel yang berhasil membuat saya nangis tersedu-sedu dan ingin pulang ke kampung halaman, ke Jakarta dan tentunya dalam keadaan utuh jiwa serta raga.

wdrVrdGGOiKSp-S3Oz37CUeWTV_Wdwi_kv1-GLbFtqo,FVzLi1nK0RasSu4nMPLqvLt4yL1qLZYQfO46wo4Dx4A

Leila S. Chudori, Laksmi Pamuntjak dan Anett Keller

FBF - Medea di acara Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Medea di acara Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Sesi tanya jawab dengan kedua penulis wanita ini menjadi bagian penutup acara diskusi selama 45 menit ini. Di ajang ini saya juga bertemu dengan Beth, Deny dan beberapa teman. Senangnya tak terkira karena kita akhirnya bertemu dan bisa ngobrol secara langsung karena selama ini hanya melalui sarana WhatsApp saja.

5142BsRTz1YDygV6Qo0WnKXS8DDJ105_TzA2jYlgeCk

Bersama Beth dan Deny

Oiya, saya bodohnya kurang eager untuk meminta foto bareng dengan Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Sekarang masih suka menyesal karena sudah lama juga bertukar tweet dengan Mba Leila dan ingin bertemu. Semoga kita bertemu di Jakarta ya, Mba…

German’s Publishers and Indonesian’s Publishers

Setelah acara diskusi selesai, saya bertukar kata dengan teman-teman. Kita akhirnya berpencar dan akan ketemu lagi di Canteen Indonesia untuk makan siang bersama. Saya juga senang banget karena akhirnya saya dan Febbie, seorang partner penulis saya, bisa bertemu kembali dan memegang “bayi“ kami berdua, buku Menghirup Dunia untuk pertama kalinya. Kita berdua sempat diminta untuk menanda tangani buku tersebut. Walaupun tidak dapat stage, tapi tetap boleh ada rasa bangga dong ya…

Menghirup Dunia (foto courtesy: Noni Khairani)

Saya juga sempat melihat-lihat hall penerbit Jerman. Waaahh kalap banget deh! Banyak buku yang menarik dan ingin dibeli. Untung saja harga buku di Jerman itu harganya sama, baik offline maupun online. Jadi bisa saya cari di toko buku kota saya tinggal. Sayangnya acara diskusi dengan Ilija Trojanow tidak saya ikuti dengan tuntas karena berbagi waktu dengan acara anak-anak. Beruntung sekali anak saya tidak rewel, bahkan dia terlihat menikmati harinya. Apalagi waktu kita ke stand Gramedia, Mizan dan beberapa stand lainnya. Berasa di surga dia melihat banyak buku anak-anak.

f6S2gnWLPjfXCnL7XoIQPuifX9GKKSfsK9FoB7IT7lA

Di stand Gramedia saya sempet ngobrol dengan Ika Natassa, sedikit bertukar kata dengan Dewi Lestari, juga dengan Mas Fuadi yang ketemu lagi di tengah kota keesokan harinya. Tentunya juga browsing buku-buku dan ikutan heboh sewaktu stand Gramedia membuka sesi penjualan buku. Saya membeli beberapa buku cerita anak berbahasa Indonesia yang ternyata tidak banyak karena yang diikutkan ke Frankfurt Book Fair 2015 sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman ataupun bahasa Inggris.

Di sini saya juga berbincang dengan Werner Schulze, seorang penulis serta Profesor berkebangsaan Jerman yang sering melakukan perjalanan ke Indonesia. Beliau hari itu membacakan cerita dari bukunya dengan judul “Paradiesvoegel und andere wundersame Erzaelungen“. Bahasa asli buku ini adalah bahasa Jerman dan pada tahun 2010 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu “Burung Cendrawasih dan Cerita Cerita Memikat Lainnya“.

Agak menyesal kenapa saya tidak datang ke pameran hari Minggunya. Karena saya kurang lama beredar di hall buku-buku bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Penyesalan berikutnya itu datang sewaktu tahu kalau ternyata ada acara diskusi dengan Dewi Lestari yang moderatornya adalah Ilija Trojanow. Grrr…

HC-D6Nsav5KzdtGvUbjfHuHqGyAfisEWETDLN9Jpqxo,2Vydzi_FzSPOuctyv0LxyH57tEK-LC834c4jQUVWeGw

Suasana Sabtu itu..

The Act of Killing

Di ajang pameran buku terbesar di dunia ini juga diputar sebuah film dokumenter karya Joshua Oppenheimer, seorang sutradara kewarganegaraan Amerika. “The Act of Killing“ yang diproduksi pada tahun 2012 dan bercerita tentang pembunuhan massal di tahun 1965 akan mulai diputar di bioskop Jerman pada tanggal 14 November 2015.

—–

Foto-foto pada laman ini adalah karya Mindy, dengan beberapa foto pendukung yang terhubung dengan link pada foto.

http://www.mindoel.blogspot.com. Instagram @mindoel.