Merantau di Fulda

Jolla Riza Jollanda – Hallo! Namaku Jolla, usia 31 tahun. Ibu dari 3 anak laki-laki (2 adalah kembar) yang sangat AKTIF sekali. Hehehe. Aku lulusan dokter di Universitas Andalas, Padang.

Dari sebelum menikah, aku sudah mempunyai cita-cita untuk melanjutkan spesialisku di Eropa. Entah itu yg namanya takdir Tuhan, aku bertemu suamiku saat aku menjalankan student exchange di Wina, Austria. Dia orang Indonesia yg sedang menjalankan pendidikan dokter di Wina. Ya, itulah yg namanya jodoh, cinta pada pandangan pertama dan akhirnya berjodoh dengannya 😄 .

Kami sekeluarga sekarang tinggal di Fulda, kota kecil berpenduduk hanya 68ribu. Letaknya sekitar 100km dari kota Frankfurt, Jerman. Suamiku melanjutkan pendidikan spesialisnya di sini maka dari itu akupun ikut suami dari tahun 2015.

Bagi kami yg biasa tinggal di Jakarta, Fulda hanyalah kota kecil yang jauh dari kata modern. Tapi dari awal tinggal di sini, dan sekarang sudah hampir 4 tahun, kami merasa suka dan nyaman tinggal di Fulda. Selain semua kebutuhan kami terpenuhi, di kota ini masih banyak penghuni asli orang Jerman, jadi dengan bahasanya pun kami bisa cepat belajar. Dan jika kami ingin lebih ke “kota“ kami langsung ke Frankfurt yang hanya 1 jam perjalanan. .

Oh ya, di Fulda setiap 1 tahun sekali juga diadakan yg namanya “Schützenfest“ waaahhh ini acara yang sangat ditunggu-tunggu! Lalu ketika musim dingin tiba, kami selalu menyempatkan main ski di Wasserkuppe (puncak tertinggi di Fulda)- dan jika musim panas tiba juga ada tempat wahana bermain untuk keluarga.

Being a mamarantau is not so easy, I gotta tell you hahahaha! Tapi aku belajar banyak sekali hal yang tidak aku dapatkan jika menetap di Jakarta. Dan setelah hampir 4 tahun menjadi ibu rumah tangga, akhirnya Tuhan menjawab doaku dan bulan depan aku akan melanjutkan spesialisku di Fulda 🖤 .

Ohya! Kami hobi sekali jalan-jalan. Mempunyai anak yang masih kecil tidak menyurutkan niat kami untuk explore kota dan negara lain ⛴️✈️

Merantau di Heidelberg, Jerman

foto-keluargaTheresia Rajaguguk has been living in Germany for over than a decade. She works as a Finance expert and lives with her husband and two children.  She loves gardening, decorating and playing volleyball!

 Merantau di Heidelberg

Saya, suami saya, Steve, dan kedua anak kami Eleora (4,5 tahun) dan Eliott (2 tahun) tinggal di Heidelberg, Jerman. Heidelberg merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jerman. Kotanya cantik, dilintasi sungai Neckar, dan ada kastil yang sebagiannya sudah runtuh. Heidelberg juga terkenal sebagai kota universitas. Universitas Heidelberg merupakan universitas tertua di Jerman.

germany-heidelberg-university

Heidelberg University

Selain itu, ilmu kedokteran di Heidelberg cukup ternama, sampai-sampai pusat riset kanker di Eropa didirikan di Heidelberg. Ditambah juga dengan banyaknya perusahaan nasional maupun internasional yang ternama di sekitar Heidelberg membuat komposisi masyarakat di kota Heidelberg menjadi sangat beragam.

germany-heidelberg-hauptstrasse-altstadt

Hauptstrasse and the Altstadt (Old Town)

Walaupun disibukan oleh pekerjaan, saya berusaha menyediakan waktu yang cukup untuk suami dan anak-anak. Hari Sabtu kami usahakan selalu bersama, jadi kalau ada undangan dari teman, biasanya kami datang sekeluarga. Hari Minggu adalah hari gereja buat kami. Pagi dan sore hari kami ikut kebaktian di gereja, siangnya sering diisi makan siang bersama teman gereja. Gereja kami, Gereja Bible Baptist ini telah berdiri sejak 20 tahun yang lalu, dipimpin oleh misionar dari Amerika.
Semenjak tinggal di Jerman, hobi saya berubah. Saya jadi suka berkegiatan di luar seperti berkebun, jalan-jalan di hutan, dan barbeque. Seperti kebanyakan ibu-ibu yang tinggal di luar negeri, tanpa disadari saya juga jadi hobi masak, apalagi masakan Indonesia.

hasil-berkebun

Hasil kebun kami.

kebun

Sebagian dari tanaman di kebun.

Saya lebih suka musim dingin daripada musim panas “Es gibt kein schlechtes Wetter, es gibt nur falsche Kleidung!“ Pernyataan ini benar sekali menurut saya, terutama untuk Jerman yang lebih banyak dinginnya daripada panasnya. Kalau kedinginan, saya bisa pakai baju yang tebal dan berlapis-lapis. Kalau musim panas, mau pakai baju setipis apapun, tetap saja panas. Kalau sudah panas sekali, saya tidur di basement. Anak-anak juga berpindah main di basement. Karena orang Jerman sangat menghargai environment, mereka tidak suka pakai AC.

58389f0c39ad5d1cd94fe19ff573a0ab

During winter in Heidelberg

Awal Hidup di Jerman

Tahun 2003 saya datang ke Jerman, tinggal di kota Darmstadt, dengan tujuan melanjutkan kuliah master sebagai bekal saya untuk pulang ke Indonesia dan menjadi dosen, cita-cita saya saat itu. Saya lulusan teknik sipil dari Universitas Katolik Parahyangan dan ekonomi dari Universitas Padjadjaran Bandung. Jerman merupakan pilihan saya karena biaya kuliah di Jerman bisa dibilang hampir gratis. Kenapa hampir gratis? Karena saya hanya membayar biaya administrasi yang sudah termasuk tiket transportasi umum yang per semester-nya tidak sampai 100 EUR.

Tahun 2003 saya memulai kuliah master di bidang bisnis dan administrasi di Hochschule Anhalt, Jerman. Ketika saya lulus di tahun 2005, perekonomian Jerman dan negara Uni Eropa sedang tidak baik. Susah sekali saat itu mendapatkan pekerjaan. Karena saya masih ingin tinggal di Jerman, saya melanjutkan kuliah master di Universität Konstanz. Kira-kira setengah tahun sebelum lulus, saya kerja praktek di SAP dan sejak saat itu sampai sekarang, saya bekerja di perusahaan yang sama.

ngerasain-tinggal-di-4-kota-di-jerman

Merasakan hidup di 4 kota di Jerman.

 

 Ibu Bekerja di Jerman

Suami saya dan saya bekerja di perusahaan yang sama, SAP SE. SAP merupakan perusahaan internasional yang bergerak di bidang software. Karena itu, walaupun kami bisa berbahasa Jerman, kami lebih sering berbahasa Inggris di kantor. Saya kerja fulltime di bidang finance. Pekerjaan saya tidak mengharuskan saya bekerja dari jam 8 sampai 5 sore karena role-nya global, jadi saya berkomunikasi dengan orang-orang di kantor lokal SAP mulai dari Australia sampai dengan Brazil. Saat ini saya bertanggung jawab di bidang finance untuk salah satu cloud solution yang SAP tawarkan, namanya SAP ByDesign. Mulai bulan September saya akan pindah ke departemen lain. Kali ini saya akan pegang solusi Hana Enterprice Cloud (HEC) dan S/4 HANA Cloud.

SAP-Zentrale 16zu9

SAP HQ di Walldorf, ca. 15 km dari Heidelberg

Waktu kerja saya cukup fleksibel yang bisa mulai dari jam 7 pagi dan bisa juga berakhir di tengah malam. Tetapi jadwal kerja ini saya yang buat sesuai dengan kegiatan pribadi saya juga di hari itu. Saya sangat suka dengan pekerjaan saya dan orang-orang di lingkungan kerja saya. Saya banyak bekerja dengan lelaki dan mereka tidak menganggap remeh saya. Juga saat saya cuti melahirkan (10,5 bulan untuk anak pertama dan 7,5 bulan untuk anak kedua), kantor sangat mendukungnya. Saat saya kembali bekerja, bos saya memberikan tugas yang menantang walaupun dia tau saya punya dua anak kecil. Bos saya, lelaki, bilang banyak kejadian kalau ibu rumah tangga lebih efisien dalam bekerja karena mereka harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum jemput anak, jadi tidak ada istilah santai dulu deh, bisa dikerjain nanti. Ini dibuktikan dengan saat bos saya memberikan spot award dua kali kepada saya di tahun saya kembali dari parental leave.

Oh iya, di Jerman setiap ibu atau bapak yang baru saja mempunyai anak boleh mengambil cuti sampai 3 tahun. Ibu wajb cuti 6 minggu sebelum tanggal kelahiran anak dan 8 minggu sesudahnya dengan gaji dibayar penuh. Setelah 8 minggu sampai dengan anak berumur 14 bulan, ibu dan/atau bapak boleh mengambil cuti dari kantor dan gajinya sebesar 67% dari gaji bersih, maksimal 1800 EUR akan dibayarkan oleh negara. Tetapi kalau hanya ibu atau bapaknya saja yang ambil cuti, hanya sampai usia anak 12 bulan akan dibayarkan oleh negara. Sedangkan kalau ibu dan bapak mengambil cuti di waktu yang bersamaan, uang yang diberikan oleh negara tidak sampai umur anak 14 bulan, tetapi uang itu akan dibayarkan dengan total jumlah 14 kali. Selain itu, anak juga mendapatkan uang dari negara sebesar 190 EUR sampai anak mendapatkan pekerjaan atau maksimal usia anak 25 tahun.

heidelberg_germany_10082005_main_street

Heidelberg Main Street

Waktu melahirkan anak pertama, saya ambil total cuti 10,5 bulan dan suami ambil cuti 6 bulan. Untuk anak yang kedua, saya ambil total cuti 8,5 bulan dan suami ambil cuti 8 bulan. Saat anak kami berumur 14 bulan, mereka mulai kami titipkan di daycare yang juga ditunjang oleh kantor. Lumayan, setiap bulannya kami membayar lebih murah karena subsidi dari kantor. Biaya daycare di Jerman termasuk jauh lebih murah daripada di US atau UK karena negara memberikan tunjangan yang lumayan besar ke daycare yang dikelola olah institusi milik negara atau oleh gereja. Tetapi biaya bulanan TK/daycare yang dapat tunjangan dari pemerintah biasanya bergantung dari penghasilan kotor keluarga. Semakin tinggi penghasilan, semakin besar biaya yg dibayarkan ke TK/Daycare. Kalau Private TK/Daycare menetapkan biaya yang tetap, tanpa mempertimbangkan faktor keuangan. Sedangkan biaya sekolah dari SD hingga kuliah itu gratis. Kecuali kalau sekolah swasta/private yah, biayanya ditetapkan oleh insitusi nya.

Dibawah ini table biaya TK di Heidelberg. Kalau Daycare, biayanya sekitar 2 kali lipat deh untuk insitusi yang sama.

Anak pertama kami sudah masuk TK yang tidak jauh dari rumah kami. Anak kedua kami masuk di Daycare yang letaknya di sebelah gedung kantor saya. Jadi kegiatan kami di pagi hari dimulai dengan sarapan bersama, mengantar anak pertama ke TK, lalu pergi ke kantor dan menurunkan anak kedua di daycare. Sorenya kami jemput anak kedua, lalu jemput anak pertama, dan pulang sama-sama ke rumah.

Tapi saat summer holiday seperti saat ini, TK dan daycare juga ikutan tutup selama 3 minggu. Repotnya, karena TK dan daycarenya bukan di institusi yang sama, jadwal tutup mereka juga sedikit berbeda. Libur mereka cuma overlapped selama 1 minggu. Jadi selama 5 minggu kami harus memikirkan bagaimana mengatur pekerjaan kantor dan mengurus anak. Kadang-kadang anak ikut ke kantor, jadi saya tidak perlu masak makan siang karena kami sekeluarga bisa makan di kantin. Ada beberapa ruangan kantor yang dijadikan ruangan kerja untuk orang tua yang membawa anaknya. Jadi orang tua bisa bekerja dan anak-anak main bersama.

Nanti kalau anak-anak saya sudah lebih besar, kami bisa mendaftarkan anak kami ke program summer holiday yang ditawarkan oleh pemerintah kota. Tergantung dari umur anak, ada program liburan yang menginap tetapi lebih banyak lagi yang dilakukan setiap hari dari pagi sampai sore, jadi anak-anak tidak perlu menginap. Programnya seperti belajar bagaimana bekerja di kebun binatang, program latihan olah raga seperti basket, renang, sepak bola, dll, program membaca di perpustakaan, program seni, dan masih banyak lagi. Biaya yang dikenakan juga tidak terlalu banyak, jadi tidak membebankan orang tua.

Sebagai pegawai di Jerman, kami dapat libur 30 hari kerja setahunnya. Di SAP, liburan yang tidak terpakai di tahun sebelumnya, bisa juga dibawa ke tahun-tahun berikutnya. Jadi saya dan suami sudah menabung libur yang bisa kami pakai kalau anak-anak sudah masuk sekolah dasar. Karena liburan summer di sekolah dasar bisa sampai dua bulan lamanya. Orang tua tanpa kakek dan nenek seperti kami ini diwajibkan kreatif deh kalau sudah punya anak di usia sekolah karena total liburan anak sekolah lebih sedikit daripada libur orang bekerja.

schloss-heidelberg-famous-castle-in-germany

Schloss Heidelberg, one of the famous castle in Germany

Ibu merantau IRT vs Ibu bekerja di Jerman

Terus terang saya tidak bisa membandingkan antarai IRT dan ibu yang bekerja di luar rumah karena saya selalu bekerja di luar rumah bahkan sebelum menikah. Tetapi kalau saya ingat-ingat waktu saya cuti melahirkan, saya jadi punya banyak waktu untuk ikutan komunitas ibu-ibu di Heidelberg. Waktu cuti melahirkan anak pertama, saya ikut menjadi group leader di komunitas ibu-ibu namanya MOPS (Mother of Preschoolers) Heidelberg. Waktu cuti anak kedua, saya ikutan lagi. Ada 2 groups MOPS di Heidelberg: satu yang pakai Bahasa Inggris, satunya lagi Bahasa Jerman. Setiap tahun tema yang dibahas berbeda-beda. Saya juga banyak belajar tentang kerajinan tangan di grup MOPS ini. Ada mentor mama, mama yang sudah senior, yang membimbing kita dan “memanjakan” kita. Contohnya: sewaktu saya pulang dari RS setelah melahirkan, selama 4 minggu, teman-teman dari MOPS membawakan makanan untuk keluarga saya seminggu 2 kali. Teman-teman gereja membawakan makanan juga seminggu dua kali. Jadi dalam sebulan pertama setelah melahirkan, saya tidak perlu memasak.

mops_kerajinan-tangan_2

mops_kerajinan-tangan

Hasil kerajinan tangan MOPS

Enaknya ikut MOPS, saya jadi kenal dengan ibu-ibu yang mempunya anak bayi. Kami banyak meluangkan waktu bersama, berdiskusi, dan belajar bagaimana menjadi ibu di Jerman. Sering kami bertemu di playground. Oh iya, playground bisa ditemukan di setiap sudut perumahan di Jerman. Pemerintah Jerman sangat mengutamakan ruang bermain untuk anak-anak.

asd1

Saya tidak bisa melihat perbedaan antara IRT dan ibu bekerja di luar rumah. Menurut saya effort ibu sama saja. Mungkin IRT terkadang bisa dilihat lebih santai karena tidak harus bekerja diluar rumah, sedangkan ibu yg bekejar juga masih harus bekerja di rumah jadi IRT. Tetapi saya juga lihat kalau saya mendapat banyak bantuan dengan adanya daycare dan TK sampai sore, sedangkan biasanya IRT tidak menitipkan anaknya di daycare atau TK sampai sore. Jadi ada positif dan negative di mata masing-masing orang dan lebih baik melakukan apa yg menurut kita baik, bukan apa yg menurut orang lain baik.

Komunitas Indonesia

Karena saya pindah ke Heidelberg setelah saya bekerja, saya tidak sempat kenal dengan komunitas Indonesia di Heidelberg. Saya ikut komunitas lain seperti diceritakan di atas. Waktu saya tinggal di Darmstadt dan Konstanz semasa saya kuliah, saya rajin ikut komunitas Indonesia di kota itu, seperti PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dan Perki (Persekutuan Kristen Indonesia). Sampai sekarang pun teman-teman Indonesia saya adalah teman sejak sama-sama kuliah.

Tips Sebagai Ibu Bekerja di Jerman

Sebagai ibu bekerja, saya harus pintar-pintar mengatur waktu dan tenaga supaya tidak sampai burn out dan keluarga tetap terjaga. Ini tips yang selama ini saya lakukan:

  1. Rumah berantakan; na und? (so what?)

Dengan dua anak yg sedang asik bereksperimen, saya sih sudah tutup mata aja deh kalau rumah berantakan. Saya tidak mau membatasi ruang belajar anak. Karena saya tidak kasih anak main gadget, jadi wajar saja kalau mereka main dengan segala macam mainan yang ada di dalam rumah maupun di luar rumah. Hasilnya, yah rumah seperti kapal pecah.

Saya tidak terlalu ambil pusing. Saya rapikan sebisanya saja. Saya juga belum mau hire Putzfrau (cleaning lady) untuk bantu-bantu di rumah

Tips yg bisa saya share: undang orang kerumah sesering mungkin.

Entah kenapa kalau tau akan ada tamu, kami sekeluarga jadi cepat banget bersihin rumah (termasuk anak-anak juga ikutan karena mereka excited mau kedatangan tamu). Jadi rumah lebih sering bersih dan kita jadi bisa ketemu teman-teman dengan santai di rumah daripada ketemu di café.

2. Masak secara efisien dan dalam jumlah besar

Masak dalam jumlah besar berarti juga belanja dalam jumlah besar. Saya belanja seminggu sekali, kadang dua kali kalau ada yg kelupaan. Biasanya saya belanja di supermarket yang cukup besar, hari jumat sore atau sabtu pagi dan masak yang banyak di hari Sabtu. Sebagian hasil masakan saya masukan kulkas, sebagian lagi saya bekukan di freezer. Jadi kalau pas lagi sibuk di hari kerja, tinggal keluarin makanan beku. Karena berteman dengan banyak orang Amerika, saya juga jadi terbiasa menggunakan slow cooker untuk masak (di Jerman slow cooker sama sekali tidak terdengar).

Buat saya, invest di peralatan masak sangat berguna. Saya ga ngomong tentang kitchen machine yang harganya lumayan, mulai saja dari pisau yang tajam atau panci yang bagus. Ini sudah bantu banget.

Masak efisien juga artinya masak yang terencana. Kadang saya merencanakan akan masak apa jauh-jauh hari. Salah satu contohnya, waktu anak saya ulang tahun, tradisinya adalah bawa kue ulang tahun ke Kindergarten sebelum jam makan siang. Jadi pagi-pagi saya kerja dulu dari rumah, lalu bikin adonan kue dan kue siap dipanggang. Saat kue dipanggang, saya kerja lagi. Satu hal yang saya suka adalah beli peralatan masak yang bisa bantu masak lebih efisien. Jadi untuk ultah anak, saya beli cetakan kue bentuk bunga matahari. Total waktu yang saya habiskan untuk bikin kue ini tidak lebih dari 1 jam. Ini hasilnya.

ulang-tahun-anak_kue-ultah

 

  1. Time management dan kerja sama dengan suami

Karena saya juga bekerja, suami dan saya harus bekerja sama dalam menyelesaikan tugas rumah. Tiap malam kami komunikasikan jadwal kami untuk esok hari, siapa yg antar anak, jemput anak, dll. Ada meeting-meeting yang tidak bisa saya hindari terjadi di waktu yg sama dengan waktu antar/jemput anak sekolah atau ke dokter atau ikut kegiatan anak di sekolah, karena itu kerja sama dengan suami amat sangat diperlukan. Selain itu, banyak tugas-tugas rumah yang jadi tanggung jawab suami juga. Jadi keberhasilan ibu bekerja sangat banyak dipengaruhi oleh peran suaminya di rumah kalau menurut saya.

Waktu anak saya ulang tahun, saya adakan acaranya di rumah. Karena dengan begitu, saya tidak terlalu menghabiskan banyak waktu, kebetulan acara ultahnya itu di hari kerja. Jadi sebelum dan sesudah acara, saya masih bisa kerja. Saya undang beberapa anak dari Kindergarten dan ibu mereka. Saya masak sesuatu yang gampang saja. Buat orang Jerman, makanan Indonesia sesederhana apapun, jadinya mewah untuk mereka. Karena yah beda aja jenis makanannya. Saat itu saya buat nasi kuning pakai bumbu jadi di rice cooker, mie goreng, ayam panggang tinggal masukin over, kerupuk yang sudah jadi beli dari toko asia, dan sosis direbus buat anak-anak.

ulang-tahun-anak

  1. Tetap sediakan waktu untuk menyalurkan hobi

Setiap orang pasti sibuk dong, entah ibu IRT maupun ibu bekerja. Dari pengalaman saya, to keep my sanity level, saya selalu menyediakan waktu untuk menyalurkan hobi saya. Tidak perlu waktu yang lama, 1 jam sehari untuk diri sendiri sudah lebih dari cukup. Biasanya kalau sudah suntuk, saya pergi ke kebun liat tanaman dan kasih makan ikan mas di kolam belakang. Setiap Rabu, saya ikutan kegiatan di gereja. Setiap kamis, saya ikutan main voli dengan ibu-ibu di Heidelberg. Jadi belum sampai suntuk banget, sudah disegarkan kembali oleh kegiatan-kegiatan yang saya memang suka.

Satu hobi yang saya dan suami saya juga suka adalah memperbaiki rumah atau mendekorasi ruangan-ruangan di rumah sendiri. Ini hobi yang juga bikin kantong tidak kempes karena ongkos tukang di Jerman mahal sekali. Dari hobi ini, kami sudah bikin kamar tidur anak, garden, kamar mandi, pasang lantai dan lain-lain.

 

  1. Belanja online

Sebelum punya anak, saya senang sekali pergi ke mall atau kota atau factory outlet. Kadang yg dibeli juga tidak banyak, tetapi senang lihat-lihatnya. Setelah punya anak, saya banyak mengubah strategi karena waktu untuk belanja makin berkurang sedangkan harus diakui keluarga saya juga perlu baju dan barang-barang lain. Saya banyak belanja online. Mulai dari beli baju buat saya, suami, anak-anak, mainan anak2, sampai beli peralatan rumah tangga. Saya punya daftar apa saja yang harus dibeli. Kalau tidak begini, jangan-jangan jadi laper mata. Dan juga dengan adanya daftar, jadinya cepat selesai belanjanya.

  1. Maintain personal finance

Mungkin karena pekerjaan saya di bidang finance, saya sangat sadar tentang keuangan keluarga saya. Buat saya, uang bukan segalanya dan saya tidak mau diperbudak oleh uang. Karena itu saya harus bisa manage apa yang ada supaya keluarga saya tetap bisa menikmati kehidupan dengan level yg sama. Saya tau keadaan keuangan keluarga saya dan saya tau apa yang keluarga saya mau capai. Dengan itu, saya membuat rencana dan bagaimana mencapai keinginan dan cita-cita keluarga saya, seperti mengatur pengeluaran, memantau pemasukan, analisis investasi dan hanya investasi kalau saya sudah tau seluk beluk bidang itu dan investasi hanya kalau suami setuju, mengoptimalkan tax, dan melihat tunjangan atau program dari negara yg bisa ambil. Saya pikir ini adalah pekerjaan dasar semua ibu untuk mengatur keuangan keluarga.


blog: http://tinggal-di-jerman.com

Edited by Mamarantau’s Content Editor Ajeng @misskepik

Merantau di Bad Aibiling

HikingA stubborn Taurean yang lahir 40 tahun silam di Jakarta. Seorang istri dari suami yang jangkung bernama Sven dan seorang ibu dari seorang putri kecil bernama Medea Kedasih (4 tahun). Saat ini sedang bersekolah kembali untuk nantinya bisa berkerja dengan anak-anak. Co-Author buku 3 Wanita Menjejak Dunia dan Menghirup Dunia. Salah satu kontributor resep di buku 99+ Resep Rumahan Cihuy, sebuah buku komunitas Mama Koki Handal. Suka membaca, membuat DIY dan belajar masak, juga fotography secara autodidak.

Pengalaman Merantau

Saya meninggalkan kampung halaman pertama kali itu di tahun 1994, sewaktu masih kuliah Bahasa Cina di Program D3 FSUI. Ga jauh sih, hanya ke Bali dan bekerja di Club Med, Nusa Dua. Bekerja menjadi GO (Gentil Organisateur) di Kids Club. Enjoy banget masa-masa bekerja dengan anak-anak. Kembali lagi ke Jakarta dan bekerja di bidang perhotelan. Lalu kepikiran untuk sekolah kembali di bulan Maret tahun 2000 dan tinggal di Berlin untuk mendampingi suami yang waktu itu bekerja menjadi guru high school. Di ibukota Jerman itu saya memulai semuanya dari nol. Mulai dari belajar Bahasa Jerman sampai akhirnya mencari pekerjaan. Kursus Bahasa Jerman di Berlitz School yang intensif – setiap hari dari jam 8 sampai jam 15 –  membuat saya mendapat teman baru dengan beragam kebudayaan dan asal negara. Ada yang dari Mongolia, Taiwan, Spanyol, dan juga Rusia. Dalam kurun waktu dua bulan, saya mulai bisa berkomunikasi dengan bahasa Jerman cukup lancar. Bahasa Inggris dengan suami juga akhirnya tergantikan dengan bahasa Jerman. Hasil ujian bahasa Jerman juga tidak memalukan :d Setelah itu saya disibukkan dengan mencari kerja. Sebagai batu loncatan, saya bekerja sebagai Barista di sebuah coffee shop terkenal di Berlin. Di mana akhirnya saya diangkat menjadi manager salah satu cabang.

Di tahun 2002 saya memutuskan untuk kembali ke sekolah. Awalnya saya mau kuliah, namun karena ijazah SMA dari Indonesia diakui hanya sebagai lulusan Mittlere Reife (secondary level certificate), jadi saya harus mengikuti Studienkolleg, sebuah program yang fungsinya sebagai “jembatan“ untuk mendapatkan level yang sama dengan sistem pendidikan di Jerman. Akhirnya saya memutuskan untuk sekolah jurusan Correspondent of Foreign Language karena ijazah SMA saya bisa langsung dipakai.

Pada tahun 2004 – 2010 pindah ke Caracas, Venezuela karena suami ditugaskan menjadi guru di Colegio Humboldt. Sebuah sekolah untuk warga Jerman di Caracas, tapi juga untuk warga setempat. Di sana saya belajar bahasa Spanyol dan juga memutuskan untuk mengikuti ujian Bahasa Jerman untuk mendapatkan diploma bahasa Jerman. Program dari Goethe Institut di Munich itu berhasil saya ikuti, sehingga bisa mengajar bahasa Jerman di Goethe Institut, Caracas. Selain itu saya juga memberikan les tambahan bahasa Jerman untuk murid-murid Venezuela di Colegio Humboldt.

20150606173551-1200x674

Favelas of Petare neighborhood. Caracas, Venezuela

Di sini saya juga berkenalan dengan dua orang Indonesia yang akhirnya menjadi sahabat dekat. Kita seringnya berkumpul, masak dan baking bersama sambil curhat dan ketawa-ketiwi. Saling membantu di saat down dan saling menyemangati. Mereka jugalah yang menyemangati saya sewaktu program IVF (In Vitro Fertilization/ Bayi tabung) yang belum berhasil. Beruntung ada mereka, jadi saya punya shoulders to cry on. Kita bertiga layaknya udah seperti keluarga deh. Baru kenal dan langsung terasa sehati dan dekat.

2010 masa tugas suami selesai dan keadaan keamanan di Caracas yang tidak pasti, kita memutuskan untuk kembali ke Jerman. Tepatnya ke Bavaria, asalnya suami. Pucuk dicinta, ulam tiba. Suami mendapatkan tawaran kerja di sebuah sekolah. Oleh karena itu kita memutuskan untuk tinggal di Bad Aibling karena kotanya tidak terlalu besar, namun mempunyai infrastruktur yang OK. Setelah kembali ke Jerman, saya mencari kerja dan memulai kembali sebagai Barista.

Namun kamipun mendapatkan rejeki yang tak dikira. Setelah divonis tidak bisa hamil secara normal, dan sudah berkali-kali mengikuti program bayi tabung di Caracas, akhirnya saya hamil, normal mal mal.

6350186986_74d5b522ce_z

Medea Kedasih lahir dengan sehat 12 Januari 2012. Saya berhenti bekerja dan menikmati banget jadi SAHM selama 3 tahun. Kenikmatan yang luxury banget!

6942058398_71001ef004_h

Pengalaman Merantau di Dunia Benua

Jika ditanya perbedaanya, yang jelas bedanya sangat terasa. Kalau di Jerman, rasanya susah untuk mendapatkan teman baik. Tapi kalau sudah kenal, mereka jadi teman baik yang asik. Nah kalau di Venezuela, rasanya gampang banget dapet teman tapi kenyataannya mereka membangun barrier. Walaupun tak terucap, kita berasa.

Kenyamanan tinggal di Caracas adalah cuaca tropisnya. Letak Caracas adalah 1000m d.p.l bikin cuaca selalu sekitar 25 derajat Celsius. Asik banget! Kalau di Jerman seringnya jalan kaki dan naik kendaraan umum, di Venezuela selalu naik mobil atau taksi. Tapi naik taksi pun masih harus berhati-hati. Tidak disarankan untuk menyetop taksi di pinggir jalan, karena banyak kejadian penculikan dan perampokan. Jadi pesan taksi lewat telfon, atau naik taksi tercatat dari mall. Makanya ngerasa bebas merdeka banget waktu kembali ke Jerman karena ga ada rasa takut.

Metrocable di kota Medellin - Kolombia

Metrocable di kota Medellin – Kolombia

Soal tepat waktu di Venezuela itu ngingetin aku sama Indonesia :d Jam karet berlaku deh di sana. Kata “besok“ di Indonesia mirip banget fungsinya dengan “mañana“ di sana. Kebetulan artinya bahasa Spanyol ini adalah “besok“.

Dari pengalaman merantau di Venezuela, suka dan dukanya, malah tetap membuat kami berpikir untuk merantau lagi sambil mengajak Medea mengenal negara baru dengan tradisi, bahasa dan culture-nya. Tapi sementara itu, kita nikmatin dulu tinggal di Jerman.

Bad aibling dan State Bavaria

Bad Aibling letaknya di lembah sungai Mangfall dan luasnya sekitar 42km². Terkenal dengan swamp health spa. Enaknya semua ada, dari perpustakaan umum, beberapa TK, daycare, beberapa supermarket, drug store, thermal, beberapa toko buku, apotik, dokter, Rumah Sakit, taman, sampai bioskop, cafe/restoran, gelateria dan pub.

47932028

Ke mana-mana bisa naik sepeda dan jalan kaki. Ada kereta api juga untuk ke kota-kota berikutnya. Sejak tahun ini, malah ada kereta langsung ke Munich. Ke sekolah, saya memilih naik kereta karena hanya 3 stasiun dan dalam 10 menit sudah sampe di kota Rosenheim, lokasi sekolah saya. Dari Rosenheim ada kereta langsung ke Salzburg, Austria.

rosenheim_bild19_600px

Rosenheim

Dari Bad Aibling, kita bisa pergi ke banyak tujuan. Pokoknya kami tuh tinggal di tempat di mana orang-orang ingin berlibur. Jadi kebayang kan banyaknya tempat tujuan yang asik untuk dikunjungi? Entah itu untuk hiking, bike tour, untuk ke outdoor Alpine Zoo, untuk menikmati Chiemsee, danau terbesar kedua di Bavaria ataupun plesir ke kota Innsbruck di Austria.

Karena Bad Aibling adalah spa town, jadi banyak sekali klinik-klinik. Banyak pasien klinik yang berasal dari negara Saudi Arabia, oleh karena itu banyak juga hotel. Karena letaknya sekitar 40km dari ibukota Bavaria, jadinya harga tanah dan rumah cukup tinggi. Banyak penduduk yang bekerja di Munich, namun karena harga sewa rumah di sana amat sangat tinggi, jadi mereka memilih untuk tinggal di pinggiran. Salah satunya adalah Bad Aibling.

Nah tapi namanya juga manusia, pasti ada yang kurang nih dari kota tempat tinggal kami. Yang kurang adalah… playground! Ada empat sih, tapi sudah tidak up-to-date. Ada yang baru dan tidak directly in the town. Enaknya masih bisa cycling distance sih, jadi anggap aja sekalian olah raga.

bike tour di kota Eigen am Inn%2C perbatasan Jerman Selatan dan Austria

Sementara mengenai Bavaria: adalah salah satu state di Jerman yang paling kaya. Nyaris tidak ada tingkat pengangguran. Karena itu banyak sekali pendatang dari daerah mantan Jerman Timur untuk menetap di Bavaria karena masih ada lahan pekerjaan. Banyak penduduk state lain di Jerman yang bilang kalau penduduk Bavaria itu sombong, tapi sebetulnya tidak. Mereka terlihat kaku tapi sebetulnya sangat ramah dan easy going. Sistem sekolah di Bavaria juga paling tinggi dibanding dengan state lain di Jerman.

Koenigssee dan St. Bartholomae di Bavaria

Koenigssee dan St. Bartholomae di Bavaria

Oiya, kalau kita bicara soal a picture about Germany, pasti yang dibayangkan itu adalah  Dirndl (pakaian tradisional wanita di Bavaria), Lederhose (pakaian tradisional pria di Bavaria), Breze (Pretzel) dan Sauerkraut, ini sebetulnya bukan Jerman tapi Bavaria.

Maibaum tradisi 1 mai

Enter a caption

Bahasa Pengantar

Bahasa sehari-hari antara penduduk setempat adalah bahasa Jerman dialek. Di Bavaria sendiri ada beragam dialek, tergantung dari daerahnya di Bavaria. Bahasa Inggris kadang terdengar di Munich, mungkin karena Munich adalah ibukota Bavaria dan di sana juga banyak expatriats. Namun hal ini tidak umum di kota-kota kecil lain, seperti juga di Bad Aibling, jadi bahasa pengantar sehari-hari adalah bahasa Jerman. Awalnya saya sempat ragu apakah bisa mengerti dialek Jerman di daerah kami tinggal. Namun ternyata itupun bukan kendala untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal, dengan orang tua murid di TK saya bekerja, maupun di sekolah saya menimba ilmu. Mereka tidak meminta kita berbicara perfect, namun akan menghargai usaha kita sebagai pendatang.

Medea as a knight on Medieval Knight Festival di Bavaria

Medea as a knight in Medieval Knight Festival di Bavaria

Penduduk di Bad Aibling atau Upper Bavaria

Seperti yang saya sudah tulis di atas, penduduk Upper Bavaria dicap sebagai orang yang sombong. Namun hal ini tidak bisa saya setujui karena pengalaman pribadi saya berbicara lain. Mereka, seperti layaknya penduduk Jerman, terlihat kaku awalnya. Namun sebetulnya mereka itu friendly, easy-going, dan mempunyai humor yang tinggi. Tradisi juga sangat dijunjung tinggi dan belum punar dari modernisasi kehidupan. Karena sistim perekonomian yang sangat baik, jadi terlihat sekali kalau penduduknya mapan. Sisi kemanusiaan juga terlihat di masa ini, dengan banyaknya refugees yang datang ke Jerman. Kebanyakkan dari mereka datang melalui Bavaria. Sudah banyak camp untuk refugee dibangun oleh pemerintah Bavaria, juga di Bad Aibling.

2016-02-17-064033_1600x900_scrot

Linderhof Palace or Schloss Linderhof in German is a palace built by King Ludwig II and located in Ettal valley, Upper Bavaria.

Kegiatan Outdoor

Karena tidak terlalu jauh dari Pegunungan Alpina, jadi kita seneng hiking. Pastinya toddler-friendly-hiking. Selain itu juga bersepeda. Kita pernah beberapa kali bike tour. Yang terjauh itu dengan jarak 60km. It was a round trip dari Bad Aibling ke kota-kota tetangga dan return. Abis itu sempet ngomelin Pak Jangkung (suami) karena kaki jadi pegel kaya mau patah. Medea cukup menikmati setiap kali bike tour. Kalau hiking, dia masih suka malas jalan. Maka dari itu, kami buat se-fun mungkin dan selalu motivasi dia untuk terus jalan. Entah dengan main petak umpet, ngumpulin ranting, pokoknya segala usaha deh supaya sama-sama asik menikmati kegiatan.

playground momen

Tradisi Bavaria

Ada banyak tradisi di Bavaria dan seringnya berkaitan dengan agama Katolik sebagai agama mayoritas di Bavaria. Fasching yang dirayakan tujuh minggu sebelum masa puasa dimulai. Masa pra-Paskah ditandai dengan puasa untuk menyambut Paskah dan dimulai saat Rabu Abu. Acara Fasching yang berlangsung beberapa hari ini selain di Bavaria, juga di negara bagian Jerman yang beragama Katolik, dan disebut dengan Karnaval. Masa di mana orang-orang berpesta, ada arak-arakan atau parade dan mayoritas berkostum. Kata karnaval sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu Carne vale yang artinya meat farewell. Selama masa puasa, umat Katolik diajak untuk mengurangi konsumsi daging.

Left: Leberkase is a specialty food found in the south of Germany, in Austria and parts of Switzerland, similar to bologna sausage. It consists of corned beef, pork, bacon and onions and is made by grinding the ingredients very finely and then baking it as a loaf in a bread pan until it has a crunchy brown crust.) and right: Wurstsalat (German sausage salad)

Di Bavaria ada tradisi Maibaum, May tree, Maypole. Sebuah tiang dari satu batang pohon yang tingginya bisa mencapai 56meter. Pohon ini dicet biru dan putih, warna bendera Bavaria. Lalu dihias dengan berbagai figure sesuai tradisi tiap kota/daerah; misalnya baker, tukang kayu, petani, etc. Tradisi ini jatuh tepat pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya. Dan seringnya dipakai juga sebagai pesta rakyat. Ada tarian tradisional, ada musik khas Bavaria dan tentu saja makanan, seperti Wurst (sausages), Semmel (bun) dan Breze (pretzel). Oiya tradisi ini setiap tahunnya mengambil tempat di kota yang berbeda. Misalnya tahun 2013 ada di Bad Aibling, dan  tahun mendatang baru akan diganti dengan Maibaum yang baru.

Maibaum

In Germany and Austria the maypole (or Maibaum) is a tradition going back to the 16th century

Sebuah tradisi yang sangat ditunggu oleh anak-anak kecil adalah perayaan Sankt Martin atau disebut juga Martinstag (Martin Day) yaitu setiap 11 November. Anak-anak di daycare, playgroup dan TK bersama dengan staf pengajar, bahkan ada yang melibatkan orang tua juga, akan membuat lantern kertas dan nantinya akan dibawa saat Martinsumzug, St. Martin’s parade. Ada yang berkumpul di kebun TK masing-masing. Namun Tknya Medea merayakan parade ini di taman. Saya dan Medea berkumpul dengan teman TK dan keluargnya, berjalan mengelilingi taman sambil bernyanyi beberapa lagu khas St. Martin. Udara yang dingin terasa hangat dengan  ada juga yang berkumpul di taman kota. hasil prakarnya dan berkumpul di taman.

2016-02-17-063522_1600x900_scrot

Biasanya disediakan cookies berbentuk goose, kita menyebutnya Martingans (Martin’s goose)

Tradisi yang paling terkenal seantero dunia, Oktoberfest. Sebuah pesta rakyat menjelang musim gugur selama dua minggu, biasanya akhir September hingga awal Oktober. Pesta rakyat tekenal ini awalnya adalah pasar tradisional, di mana para petani, para pengrajin, menjual dagangan mereka. Oiya, cerita tentang Oktoberfest ini ada di buku 3 Wanita Menjejak Dunia. Buku yang saya tulis dengan dua orang teman. *ujung-ujungnya promosi :d*

1200x630_314236_oktoberfest-bavarian-costumes-bands-an.jpg

Bavarian costumes, bands, and beers..!

Traveling with little ones

Saya sudah berkunjung ke sekitar 15 negara dan 6 di antaranya dengan Medea. Karena dibiasain sejak umur 3 bulan, jadi cukup travel-able nih anak wedokku. Di IG saya, #travelwithlittlebirdie boleh dilihat-lihat kalau ada waktu.

Melk Abbey

Medea in Melk Abbey.

Melk Abbey is a Benedictine abbey above the town of Melk, Lower Austria, Austria, on a rocky outcrop overlooking the Danube river, adjoining the Wachau valley.

Kita sekeluarga memang seringnya pergi ke tempat yang non-mainstream. Sebisa mungkin ke tempat yang jarang wisatawannya. Misalnya ke daerah Burgundy di Perancis. Waktu itu kita menyewa penginapan di Morvan. Sebuah kota kecil yang penduduknya banyak meninggalkan kota untuk pergi ke kota yang lebih besar. Jadi banyak sekali rumah-rumah, bahkan juga chateau yang kosong dan dijual murah.

Liburan musim panas yang lalu kita memilih Waldviertel, Forest Region, di Austria. Sebuah daerah cantik namun tidak terkenal di kalangan wisatawan. Penduduk lokalnyapun banyak yang memilih untuk migrasi ke kota lain. Di sana kita menginap di sebuah organic farm house.

Kalau kita seringnya kalau road trip, bawa makanan cemilan, audio books yang buanyak (Medea seneng dengerin audio books), dan selalu nyempetin istirahat untuk bergerak.

South Tyrol - Italia

South Tyrol, Italia

mamarantau - snowy Schlern di South Tyrol - Italia

Snowy Schlern, South Tyrol, Italia

Tipsnya: persiapkan diri kita lebih dahulu. Kalau kita sebagai orang tua siap lahir batin, anak jadi berasa. Karena kita adalah contoh buat mereka.

LL-mamarantau-

 *This post is written in collaboration with LivingLoving. Do check out the other side of Mindy on LivingLoving’s blog

IG dan Twitter: @mindoel – mindycjordan@yahoo.de –

Blog: mindoel.blogspot.de

Foto-foto terlampir adalah karya Mindy dan keluarga – Dan beberapa foto penunjang terhubung langsung dengan image pada gambar.