Merantau di Groningen, Belanda

Halo! Nama saya Monika Oktora, biasa dipanggil Monik. Ibu dua anak, yang juga sedang sekolah. Sejak kecil memiliki hobi menulis, membaca, dan akhirnya memiliki blog dan buku sendiri. 

Kami merantau ke Groningen sejak tahun 2014. Sebelumnya saya dan keluarga bermukim di Bekasi. Saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan setelah melahirkan anak pertama saya. Setelah anak saya berusia 1.5 tahun, saya baru memberanikan diri untuk melanjutkan studi S2. Suami sangat mendukung rencana tersebut, bahkan ia yang lebih semangat mendorong saya untuk lanjut kuliah. 

Alhamdulillah saya diterima di program MSc. Medical Pharmaceutical Science, University of Groningen dengan beasiswa dari Indonesia. Saya dan keluarga pun hijrah ke Negeri Kincir Angin. Saat itu, suami pun berusaha mencari peluang kerja atau sekolah juga. Walaupun tidak mudah, tapi dalam waktu yang relatif tidak lama, akhirnya suami mendapatkan pekerjaan di bidang yang sama dengan pekerjaan yang ia tinggalkan di Jakarta. Mungkin itu adalah berkah dari ridanya suami dalam mendukung pilihan saya untuk sekolah lagi, jauh dari kampung halaman. 

Di pertengahan tahun 2016, saya menyelesaikan studi S2 saya. Sementara suami masih melanjutkan pekerjaannya. Saat itu yang terpikir oleh saya adalah untuk mengambil “jeda” setelah bergulat dengan kesibukan studi plus mengurus rumah tangga. Suami kembali mengingatkan saya untuk tidak terlalu lama terbuai oleh waktu luang. Selagi ada kesempatan bagus di rantau, maka sebagai muslim yang baik, harus juga tetap berikhtiar yang terbaik. Saya pun akhirnya dimotivasi oleh suami untuk mengurus aplikasi S3. Saya mencari profesor di universitas yang sama, hanya berbeda departmen dengan bidang S2 saya dulu. Kali ini keilmuan yang saya tuju sangat terkait dengan dunia farmasi klinik, bidang yang saya geluti sejak S1 sampai bekerja (saat di Indonesia).

Saat saya mengerjakan proposal penelitian S3 dan mencari beasiswa, Allah memberikan rezeki hamil anak kedua. Alhamdulillah acceptance letter dari profesor dan beasiswa keluar berurutan sebelum saya melahirkan anak kedua saya. Empat bulan setelah melahirkan, saya harus sudah memulai studi S3 saya. Maret 2018, adalah titik balik dari perjalanan saya sebagai ibu sekaligus PhD Mama. Rasanya Masya Allah, campur aduk, tidak bisa dituliskan. Sampai sekarang saat saya kilas balik ke momen tersebut, saya hanya bisa membatin dan mengucap zikir.

“Kok bisa yah ini emak-emak anak dua mau kuliah S3? Gak kebayang apa yang di depan kayak gimana? Kebayang repot dan stresnya? Astagfirullah … Subhanallah …” 

Mengikuti PhD thesis pitch competition

Qadarullah, Allah Maha Baik, dalam segala keterbatasan dan kekurangan saya selama empat tahun studi PhD ini, banyak hikmah dan berkah yang mengiringi. Insya Allah jika diizinkan, saya akan menyelesaikan PhD saya tahun ini. 

Suasana defense PhD di University of Groningen (saat saya menjadi paranim dari calon Doktor)

Kemudahan dalam Menjalani Kehidupan di Groningen

Belanda (katanya) lebih homey untuk bermukim dibandingkan dengan negara lain di Eropa. Sebabnya mungkin bisa karena Ada hubungan sejarah dengan Indonesia sejak zaman kolonialisme dulu. Ada memori, peninggalan sejarah, kultur yang terbawa dan tercampur antara Indonesia dan Belanda.

Mencari makanan Asia dan Indonesia tidak susah. Ada toko yang menjual perlengkapan dan bahan makanan Asia, khususnya Indonesia, hampir di tiap kota besar di Belanda. Ada restoran dan rumah makan Indonesia, terutama di kota besar seperti Den Haag, Amsterdam, dan Rotterdam. Jadi kalau kangen makanan Indonesia, ya bisa jajan. Asal jangan sering-sering kalau tidak mau terkena kantong kering, hehe. Jadi selama ada bahan makanan Asia, kita bisa masak sendiri. 

Selain makanan Indonesia, mencari bahan makanan halal juga mudah. Ada gerai toko daging halal milik orang Turki atau Maroko. Untuk muslim Insya Allah aman.

Orang-orang Belanda lebih terbuka dalam berbahasa Inggris. Tidak seperti Prancis dan Jerman yang sangat ketat bagi pendatang untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa mereka, Belanda lebih terbuka. Hal ini yang membuat saya dan suami menjadi terlalu nyaman untuk tidak belajar bahasa Belanda secara intens.  

Banyak mukimin dan pelajar Indonesia. Khususnya di kota tempat tinggal saya, Groningen. Groningen ini adalah kota pelajar, dan  sangat multikultur. Komunitas orang Indonesia juga cukup banyak. 

Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke-76🇮🇩 – Gak ada pernak-pernik Indonesia, apalagi bendera 🇮🇩. Tapi gak papa. Bisa pakai bendera 🇳🇱 yang bagian bawahnya dirobek. Biar dramatis kayak pahlawan yang melakukan perobekan Bendera Londo di Surabaya 76 tahun silam😅

Tantangan hidup di Belanda

Mandiri. Apa-apa harus dikerjakan sendiri. Tidak ada orang tua dan saudara yang biasanya ada di lingkungan dekat kita, apalagi asisten rumah tangga yang biasanya meringankan beban rumah tangga. Tidak ada warteg dan warung makan padang yang tinggal beli, tidak ada g*food, g*send, atau fasilitas online lainnya yang mempermudah urusan dunia dengan hanya menggeser jari di layar ponsel.  

Transportasi. Di Groningen, paling enak ke mana-mana dengan sepeda: murah, cepat, dan nyaman. Asal: punya skill bersepeda yang lumayan, dan ingat jalan, atau bisa membaca peta. Skill bersepeda termasuk kemampuan utama kalau mau tinggal di Belanda. Ada jalur khusus untuk bersepeda, hal ini membuat kita menjadi sangat nyaman dan aman.

Ada pilihan transportasi lain seperti bus dan trem (untuk dalam kota), dan ada juga kereta (untuk antar kota). Tentunya gak ada ojek motor atau mobil online yang bisa dipesan kapan saja dengan harga terjangkau. Jadi kalau buru-buru, biasanya ya langsung ambil sepeda dan ngebut. Kalau cuaca lagi dingin (apalagi hujan), harus siap dengan jaket tebal, sarung tangan, kupluk, syal, dan kalau perlu jas hujan, biar tidak beku di jalan.

Negara empat musim. Sebagai manusia tropis yang dimanjakan kehangatan stabil matahari sepanjang tahun. Saya cukup merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan cuaca Belanda yang lebih sering berada di bawah sepuluh derajat celcius. Belum lagi hujan yang mendominasi hampir 65-70% sepanjang tahun di Belanda. Lalu saat musim dingin yang, hari terangnya pendek (mungkin sekitar 6-7 jam hari terasa terang), dan musim panas yang hari gelapnya pendek (paling pendek saat pukul 3.30 pagi sudah subuh, dan matahari baru terbenam di pukul 10 lebih).

Cherry Blossoms in Amsterdam!

Pandemi di Belanda

Selama pandemi sejak 2020 lalu, banyak sekali hal yang berubah, dan kami seperti beradaptasi lagi. Ada naik turun ketatnya dan pelonggaran aturan, tergantung pada angka kasus dan perbaikan kondisi. Ada Lock down, pembatasan di bidang horeca, jam belanja, sampai pada penyesuaian dengan work from home, serta school from home. Ada saat-saat tersulit adalah ketika lock down di puncak pandemi pertama dan kedua. Saat semuanya harus di rumah, anak-anak sekolah dari rumah, serta saya dan suami kerja dari rumah. Tidak terbayangkan hebohnya rumah saat itu. Untunglah supervisor saya juga mengerti dengan keadaan kami, well, hampir semua orang maklum dengan kondisi saat itu. 

Pemerintah juga sangat mengutamakan pendidikan anak, sehingga sektor inilah yang mendapat perhatian khusus ketika pandemi. Saat semua toko, horeca, dan tempat kerja masih ada pembatasan, sekolah anak usia 4-12 tahun adalah yang pertama kali dibuka, agar anak-anak bisa tetap sekolah dengan baik. Sekolah online saja dirasa tidak bisa mengcover pendidikan tatap muka. Tentunya dengan aturan yang ketat dan perhatian yang sangat, maka sekolah pun diusahakan tetap berjalan seperti biasa. 

Semua pengalaman berharga selama merantau di Belanda ini menjadi sayang jika saya tidak mengabadikannya menjadi sebuah buku. Akhirnya saya tuliskan pengalaman dan petualangan kami sekeluarga dalam buku. Alhamdulillah buku solo pertama saja berjudul Groningen Mom’s Journal, diterbitkan oleh Elexmedia Komputindo di awal tahun 2018.

Menyusul buku solo kedua saya berjudul The Power of PhD Mama, diterbitkan oleh NeaPublishing di awal tahun 2021. Semoga buku ketiga mengenai kisah perantauan kami akan bisa sampai ke tangan pembaca di akhir tahun nanti, aamiin.

Pendidikan dan Sekolah Anak di Belanda

Dari segi pendidikan secara umum, Alhamdulillah semuanya terpenuhi dan mudah. Pendidikan wajib mulai dari umur 4 tahun, dengan total 8-years of primary education. Pendidikan di Belanda itu gatis, accessible, dan tidak ada perbedaan mencolok antara tiap sekolah, dalam segi kualitas. Mungkin ada perbedaan kualitas atau variasi pengajaran, tapi menurut hemat saya, tidak sangat jomplang, jika dibandingkan dengan sekolah negeri vs sekolah swasta di Indonesia. 

Tipe pendidikan anak di sekolah dasar sangat menstimulasi anak untuk berpikir kritis. Tidak seperti pengalaman saya dulu ketika sekolah, yang lebih konvensional, di mana guru mengajar di depan, tapi tidak banyak praktek dari materi yang didapat. Ada banyak diskusi antara guru dan murid. Murid diajak untuk bertanya, dan memberikan pendapat. Guru juga menyesuaikan dengan pace setiap anak. Tidak pukul rata ‘one fits for all’. Rapot atau laporan akhir semester juga sangat komprehensif. Tidak berupa angka, tetapi ada penjelasan mengenai perkembangan dan kemampuan si anak di tiap-tiap bidang mata pelajaran utama. Ada juga catatan mengenai sikap dan soft skill si anak, seperti bagaimana cara dia bergaul, bagaimana ia bisa memahami situasi dan petunjuk saat belajar, bagaimana cara ia bekerja sama, dan cara dia bekerja. Mungkin karena jumlah anak dalam satu kelas tidak terlalu banyak (maksimal yang pernah saya tahu 27 anak dalam satu kelas) membuat lebih mudah bagi guru dan sekolah untuk mengatur dan memberi perhatian khusus pada tiap murid. 

Playing with friends is just as important as learning

Kadang saya bertanya-tanya, apa sih yang paling penting dalam tangga edukasi anak di usia TK-SD seperti Runa dan Senja? Pikiran saya melayang saat saya masih berseragam sekolah dulu. Paradigma yang ada adalah: 1. Pilih sekolah terbaik, 2. Jadi yang terbaik di sekolah. Katanya the better you do at school, the further you’ll go in life and be success. Jadi gak heran kalau di Indonesia orang tua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik dan mendorong anaknya untuk berprestasi. Yang tentunya gak salah juga.

Tetapi, saya baru ngeh saat Runa dan Senja mulai sekolah di Belanda, bahwa it isn’t all about getting A grades or scoring > 80, and getting into the UGD (Universitas Gadjah Duduk). Pendidikan seharusnya memiliki tujuan jauh di atas itu. It’s also about the way of children’s well being and their development as an individual.

Yes, being smart is always good, but being survive yet happy is important. Untuk bisa survive, pintar aja gak cukup. Soft skills dan social skills penting utk ditanamkan di awal usia sekolah anak: How to make friends, be nice to them, menyelesaikan masalah bersama, bergantian saat bermain, berbagi, menjadi mandiri, be patient, be confident, dll.

Tapi tentu saya gak bisa membandingkan begitu saja edukasi di Indo dan di Londo. Sebab di Londo pendidikan bersifat merata, kaya atau miskin, anak seleb atau petani, Londo tulen atau imigran seperti kami, semua bisa dapat fasilitas sama. Sementara di Indo, orang kalangan ekonomi menengah ke bawah harus berusaha lbh keras untuk mengakses pendidikan yg baik. Belum sampai ke arah development berkelanjutan tadi. Namun semoga akan menuju ke arah yang lebih baik, aamin.

Di kelas Runa, setiap minggunya ada giliran menjadi ‘kind van de week’, atau kid of the week. Jadi si anak mendapatkan “perlakuan istimewa” dari guru dan teman-temannya. Apa saja itu? Misalnya si anak boleh duduk di sebelah sang guru saat sesi kringetje (duduk dalam lingkaran), bantu guru mencuci apel untuk dimakan saat istirahat. Kalau di esde saya dulu mungkin bantu hapus papan tulis kali yah, wkwk.. (Semacam piket dong😅).

Tapi yang istimewanya di pekan tsb, anak yang bersangkutan boleh mendapatkan testimoni dari teman-temannya. Guru meminta anak-anak untuk memikirkan dan menuliskan hal baik apa tentang si anak yg menjadi kid of the week. Runa juga pernah mendapatkan kesempatan itu. Suatu kali ia membawa pulang tumpukan kertas berisi tulisan tangan teman-temannya. Runa bilang dia senang banget baca tulisan-tulisan itu, terutama dari Sara, yang bilang “Ik vind jouw hoofddoek mooi” (Kupikir jilbabmu bagus).

Runa memang sering pakai jilbab ke sekolah, kami gak memaksakan, hanya membiasakan. Kalau Runa mau ya bagus.. apalagi pas winter kemarin malah enak pakai jilbab, anget. Kadang Runa juga suka minta pakai jepit rambut atau dikepang dua, ya gakpapa. Setelah, membaca komentar Sara, Runa jadi semangat pakai jilbab ke sekolah, Masya Allah.

Kalau dari segi fasilitas di luar sekolah atau pendidikan formal, yang paling membuat kami merasa sangat terbantu adalah 1. Keberadaan taman bermain/playground  (dalam bahasa Belanda kami menyebutnya speeltuin) yang terjangkau, ada di mana-mana, dan 2. Fasilitas perpustakaan anak/umum yang lengkap (kami menyebutnya bibliotheek).

Speeltuin

Pemerintah Belanda sepertinya mengalokasikan cukup dana untuk investasi pembuatan taman bermain. Taman bermain menjadi tempat yang mudah ditemukan di lingkungan pemukiman warga, setidaknya di Groningen ya. Sebagai contoh, di lingkungan tempat saya tinggal, dalam lingkup (katakanlah satu RW) bisa ditemukan satu taman bermain. Jika anak-anak ingin mencari alternatif taman bermain lainnya, tinggal cari dalam lingkup 500 meter sampai 1 kilometer, pasti ketemu taman bermain lain.

Gimana anak-anak tidak puas bermain di luar? Fasilitas taman bermainnya pun didesain dengan baik, kuat, dan aman untuk anak-anak kecil bermain di sana. Belum lagi di pusat perbelanjaan, juga dengan mudah ditemukan arena yang kids friendly. Saya dengar dari teman saya yang tinggal di kota besar seperti Amsterdam, menurutnya juga tidak sulit mencari arena bermain di sekitar tempat tinggal.

Bibliotheek

Saya masih ingat ketika anak kedua kami, Senja, yang lahir di Belanda, menginjak usia tiga bulan, kami medapatkan surat khusus yang menyatakan sang bayi sudah dapat mendaftarkan diri ke perpustakaan sebagai anggota. Rasanya spesial sekali mendapatkan surat yang dikirimkan oleh pemerintah kota bekerja sama dengan posyandu. Ada voucher di dalam surat tersebut untuk dibawa ke bibliotheek dan ditukarkan dengan kartu anggota beserta Boek Start, yaitu berupa seperangkat koper kecil berisi buku untuk bayi. Keanggotaan perpustakaan pun gratis sampai anak berusia 18 tahun. Tidak lupa beserta paket tersebut juga ada petunjuk bagi orang tua untuk menikmati aktivitas membaca bersama anak.

BoekStart

Memang anak-anak di Belanda dimanjakan dengan keberadaan perpustakaan yang berada di setiap wijk (distrik, katakanlah setara dengan kelurahan di Indonesia). Setiap anak bisa meminjam buku dengan gratis! Maksimal buku yang bisa dipinjam bisa sampai 15 buku dengan batas peminjaman sekitar tiga minggu. Untuk mengembalikan buku tersebut bisa ke bibilotheek manapun di seluruh penjuru kota.

Perpustakaan yang menurut anggapan banyak orang erat dengan suasana yang membosankan pun dijadikan tempat yang menarik untuk anak. Ada spot khusus membaca yang nyaman baik bagi anak maupun bagi orang tua yang ingin membacakan buku untuk anak. Koleksi bukunya pun lengkap dan menarik mulai untuk anak bayi sampai usia remaja. Perpustakaan dan buku didaulat untuk menjadi sahabat bagi anak dari sejak kecil. Jadilah, sampai saat ini, mengunjungi perpustakaan adalah salah satu bentuk rekreasi untuk Runa dan Senja.

Tempat yang menarik dikunjungi di Groningen dan sekitarnya

Groningen bukanlah kota besar, atau kota utama untuk dikunjungi para turis, seperti Amsterdam, Den Haag, atau Rotterdam. Meskipun begitu, ada beberapa tempat spesial untuk kami kalau ada kerabat atau teman yang berkunjung. Walaupun tidak semewah dan seterkenal tempat-tempat lain, untuk kami tempat ini favorit.

Martini Toren, Ikon kota Groningen

Natuurgebied Kardinge

Kardinge adalah salah satu cagar alam lokal di Groningen. Di sekitarnya ada padang rumput, pohon-pohon tinggi berjejer, sungai, dan hewan-hewan ternak yang bebas merumput. Ada track khusus untuk pejalan kaki dan penyepeda. Biasanya orang-orang berjalan santai atau jogging di sana. Semakin menarik, di sekitar sana ada kincir angin tua khas Belanda. Kincir angin ini termasuk monumen yang dilestarikan. Kita bisa mengunjungi ke dalam bangunan kincir angin ini juga lho (ada jam berkunjung, biasanya penjaganya yang membukanya).

Forum Groningen

Salah satu ikon kebanggan Groningen, dan juga tempat favorit kami adalah Forum Groningen. Bangunan 10 lantai ini adalah cultural center terbesar di Utara Belanda.

Forum Groningen

Bangunan ini baru diresmikan tahun 2019. Fasilitasnya sangat lengkap, mulai dari perpustakaan, kafe, tourist information and shop, cinema, arena belajar, tempat meeting, tempat eksibisi, sampai ada fancy restaurant di teras lantai paling atas. Dari lantai paling atas, kita bisa melihat pemandangan kota Groningen. 

Anak-anak paling betah kalau diajak ke Forum Groningen, soalnya mereka bisa memilih banyak buku untuk dibaca dan dipinjam, sambil menempati spot favorit mereka di sana. Ada juga fasilitas edukasi interaktif seperti machine learning screen, medialab, dan game interaktif. 

Reitdiephaven rumah warna-warni

Reitdiephaven adalah pelabuhan kecil di tepi barat laut kota Groningen (haven = pelabuhan). Letaknya dekat dengan rumah kami. Sebenarnya pelabuhan ini bukan destinasi turis, tapi karena di sekitar pelabuhan ini ada rumah-rumah bergaya Skandinavia dengan warna-warni cerah, jadilah tempat ini menjadi sangat menarik untuk menjadi lokasi foto, sangat instagrammable, katanya. Dari sana kita juga bisa menyewa perahu untuk mengelilingi sungai dan kanal di Groningen. 

Komunitas Indonesia di Groningen

Yang paling dirindukan ketika merantau tentunya adalah kehangatan dan guyubnya orang Indonesia. Alhamdulillah di Groningen dan Belanda ada komunitas-komunitas Indonesia sebagai penyambung tali silaturahmi sesama para perantau. Kami saling membantu, berkumpul, sampai membuat  event-event spesial untuk komunitas dan untuk umum juga. 

De Indonesian Groningen Moslem Society (DeGromiest) 

DeGromiest adalah organisasi komunitas muslim yang tinggal di Groningen. Dulu komunitas ini dibentuk oleh beberapa pelajar dan mukimin yang belajar dan bekerja di Groningen. Awalnya mereka mengadakan pengajian rutin, lama-kelamaan dirasa perlu untuk membuat organisasi untuk memayungi kegiatan-kegiatan Islam di Groningen, maka dibentuklah DeGromiest. Anggotanya juga bervariasi, kebanyakan memang pelajar, tapi juga ada masyarakat keturunan Indonesia-Belanda, Suriname, atau yang menikah campur dengan warga negara Belanda. Semakin lama komunitas orang Indonesia ini semakin besar, kegiatan-kegiatan pun semakin terstruktur. Ada kegiatan pengajian rutin, Tadarus Keliling (DarLing), Pengajian Anak (DeGromiest Kinderen), Silaturahmi akbar, penampungan infaq dan sedekah (Gerakan Lima Euro/GALIRO), sampai kegiatan mewadahi Jumatan per beberapa pekan khusus untuk orang Indonesia (kami menyewa aula sendiri). Tidak lupa ada kegiatan berbuka bersama dan tarawih ketika Ramadan, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Berikut web dan instagramnya: https://degromiest.nl/; https://www.instagram.com/degromiest/.

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Groningen (PPIG)

Pergerakan pelajar memang sudah banyak diusung sejak zaman Moh. Hatta dan rekan-rekan sekolah di Belanda. Ternyata semangat berhimpun ini juga awet sampai sekarang. Di Belanda ada Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda yang terpusat di Den Haag. Di tiap-tiap kota yang ada universitasnya, juga terbentuk PPI yang solid dibangun oleh para pelajarnya. PPI Groningen merupakan salah satu PPI dengan anggota terbanyak di Belanda. Mulai dari mahasiswa S1 sampai S3, semuanya terhimpun dalam PPI. Kegiatan PPI Groningen yang biasanya rutin diselenggarakan setiap tahun, dan tentunya paling ditunggu-tunggu adalah event olahraga satu Eropa, GroensCup. Dalam event ini, PPI kota lain di Belanda, di Jerman, Prancis, bahkan UK juga turut ikut serta berlomba. Ditambah peserta dari komunitas Indonesia di berbagai kota di Belanda juga mengirimkan kontingennya. Perhelatan olahraga terbesar Indonesia di Belanda ini memperebutkan piala juara umum dan juara-juara tiap cabang olah raga, seperti futsal, basket, badminton, voli, tenis meja, panco, sampai game FIFA. Berikut web dan instagramnya https://ppigroningen.nl/; https://www.instagram.com/ppigroningen/ 

Forum Komunikasi (FORKOM) Muslim di kota-kota Belanda

Komunitas pengajian kota orang Indonesia semakin banyak dan bertumbuh di Belanda. Di tiap kota, bisa ditemukan komunitas pengajian kota, seperti halnya DeGromiest di Groningen, ada pengajian kota di Eindhoven, Utrecht, Maastricht, Amsterdam, Den Haag, Delft, Wageningen, Enschede, Rotterdam, dan lainnya. Komunitas ini menyebar dari ujung utara sampai selatan Belanda. Untuk menghimpun komunitas-komunitas ini, maka pada tahun 2021, didirikanlah Forum Komunikasi Muslim Indonesia di Belanda. Berikut Instagramnya https://www.instagram.com/forkom.nl/

Berkenalan lebih lanjut dengan Monik melalui: Instagram @monikaoktora monikaoktora.com

Merantau di Eindhoven

dscf5339.jpg
Hafizatul Ismi – ibu dari 2 anak (Yaqdzan 5,5 tahun dan Faiha 1 tahun) yang sementara tinggal di negeri tulip menemani suami yang menyelesaikan studinya. Suami saya sedang menyelesaikan masternya di bidang mechanical engineering di TU Eindhoven. Kami tinggal di Eindhoven sejak akhir tahun 2016 lalu. Keseharian saya sekarang, saya senang membuat mainan sendiri (DIY an toys) bagi anak-anak, membuat mainan kardus dan tertarik dengan pembelajaran montessori.

Hidup di Eindhoven 

Eindhoven adalah kota terbesar kelima di Belanda dengan jumlah penduduk 223.220 pada bulan Januari 2015. Tumbuh sebagai kota industri, karena didirikannya pabrik lampu Philips. Yang kini dikenal oleh dunia. Eindhoven juga salah satu pusat riset dari European Institute of Innovation and Technology (EIT) yang berada di bawah manajemen Uni Eropa.

eindhoven-netherlands

Meskipun Eindhoven adalah kota kecil dan tidak seterkenal Amsterdam dan Denhaag namun Eindhoven adalah salah satu kota selain Amsterdam dan Rotterdam yang mempunyai airport di Belanda. Tentu memudahkan kami jika akan bepergian keluar Eindhoven. Kami sekeluarga juga betah di Eindhoven, dipertemukan dengan teman-teman dari Indonesia meskipun tidak seramai kota lain namun kehadiran mereka menggantikan keluarga yang jauh di tanah air.

DSCF6512

Kegiatan anak

Satu hal yang paling menarik disini kami tinggal di negara yang dinobatkan UNICEF “Dutch children the happiest in the world”. Luar biasa sekali, anak-anak dihargai dan difasilitasi tumbuh kembangnya. Mulai dari taman bermain, bagaimana negara menggiatkan minat baca warganya, perpustakaan ramah anak, kids festival, workshop Lego & robot, museum anak yang mendapat perhatian khusus. 

DSCF5325DSCF4141DSCF4586DSCF6903DSCF4949

DSCF6778

Di Eindhoven sendiri terdapat Speelpark de splinter, taman bermain yang luas sekali. Biasanya setiap hari rabu terdapat workshop lego dan setiap sabtu workshop komputer bagi anak. 

290620132503f770917cf14361f9bce6ff00007ced6e.jpg

Speelpark de splinter

Eindhoven juga punya museum yang masuk kedalam 10 museum terbaik di Belanda yaitu PreHistorisch Dorp. Genneperhoeve Eindhoven, anak-anak bisa ikut serta memerah susu sapi, belajar proses pembuatan keju. Juga de Bibliothek (library) setiap hari rabu punya event story telling bagi anak-anak. 

Prehistorisch-dorp-eindhoven-museum

Hobi dan travelling

Berkunjung ke museum mungkin boleh dikatakan hobi kami sekeluarga. Banyaknya museum edukatif di Belanda kami memutuskan untuk memiliki museum card, museum “tanda batas”. Diantaranya  ada nemo museum, spoorweg museum, kinderboeken museum, ninjtje museum yang tersebar di berbagai kota se Belanda. 

DSCF5124

o4f58fkzolpknsr8dljp.jpg

Nintje Museum

Kalau Eindhoven sendiri menurut saya tidak punya tempat wisata yang special. Mungkin objek wisata seperti ladang tulip kekenhof, giethoorn, wisata kincir angin zaanse schaan, volendam, madurodam orang banyak mengenalnya. 

DSCF4746

Karena Eindhoven memiliki international airport juga, memudahkan kami untuk menyinggahi belahan Eropa lainnya. Sebut saja Prague, Budapest, Spanyol, Austria. 

DSCF5181

Makanan favorit dan Halal

Kami termasuk yang jarang kuliner, namun paling sering menikmati waktu bersama keluarga dengan kuliner kebab. Pernah juga mencicipi iga bakar, pizza di toko sini. Dan tak lupa berkunjung ke Salero minang, restoran minang di Denhaag. 

====

hafizatulismisite.wordpress.com. Instagram: @hafizatulismi. Facebook: hafizatul ismi

 

Berlibur ke Santorini

liaCatharina Aulia – A mother of 4 years old daughter, Mikha, an owner of small online business and a co-founder of pop up market event planner in Jakarta. Currently live in Haarlem to accompany her husband who is pursuing his MBA degree in Netherlands.

Merantau di Harleem

Cerita rantau kami berawal diawal tahun 2015, ketika suami saya Dony mendapatkan beasiswa MBA nya di Belanda. Berhubung perusahaan tempat suami bekerja tidak memiliki policy mengenai unpaid leave selama 1 tahun, sehingga akhirnya suami memutuskan untuk mengajukan resignation. Sementara di saat yang bersamaan sayapun baru 1 tahun merintis sebuah usaha event planner bersama beberapa rekan yang penggarapannya lebih spesifik pada penyelenggaraan thematic pop up market. Tujuan mendirikan usaha ini adalah untuk memberikan sebuah platform bagi pengusaha-pengusaha berbakat Indonesia to sell their products yang biasanya kami selenggarakan di beberapa mall di Jakarta.

Tahun 2015 menjadi saat-saat yang cukup challenging bagi kami berdua, selain  karena keputusan yang diambil cukup beresiko, di sisi lain saya harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk kepindahan kami ke Belanda dan saya juga harus berkomitmen untuk tetap fokus menjalankan tanggung jawab saya dalam mempersiapkan event-event yang dalam waktu dekat akan digelar.  Jadi hingga saat ini hati di Belanda pikiran di Jakarta 😀

Three Months of Juggling

Di Belanda kami sempat berpindah dua kali tempat tinggal, awalnya kami tinggal di kota Tilburg yang berada di North Brabant province di mana daerah tersebut lebih dekat dengan perbatasan Belgia dibandingkan dengan kota-kota besar yang lebih kita kenal seperti Amsterdam, Den Haag, atau Rotterdam. Lalu, Setelah 9 bulan kami tinggal di Tilburg, perusahaan dimana suami melakukan research-nya berada di Amsterdam. Karena waktu tempuh Tilburg – Amsterdam cukup panjang sekitar dua jam, maka untuk menghemat waktu, energi dan biaya akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang lebih mendekati kantor dan pilihannya jatuh di Haarlem, kota kecil yang cantik di North Holland hanya sekitar 10 menit dari Amsterdam.

lia4

Suasana dekat kediaman kami di Harleem

Semua tidak menjadi lebih mudah dari yang saya bayangkan, karena hanya satu minggu sejak kami tiba di Tilburg, Dony harus langsung menjalankan studinya full time setiap hari dari pagi hingga pukul 6-7 malam dan hampir tidak bisa digangggu karena tugas-tugas yang cukup banyak juga. Sehingga diawal kedatangan kami, saya harus beradaptasi sendiri dengan kultur, cuaca, jadwal public transport yang punctual  dan mencari tahu sendiri segala sesuatunya tanpa suami, termasuk juga mengurus segala hal adminstratif seperti pengurusan verblijf atau ID Card, pendaftaran ke municipality, sekolah anak dan lain sebagainya. Selain berjibaku dengan urusan rumah tangga dan mengurus Mikha di usia toddler yang selalu ingin mendapat perhatian, sayapun harus bekerja dan berkomunikasi lintas benua secara intens dengan rekan-rekan di Jakarta setiap hari dengan perbedaan waktu yang cukup jauh sehingga tidak jarang kami berdiskusi dari subuh hingga larut malam.

Tiga bulan pertama tinggal di Tilburg, saya merasa cukup sulit dan kami cukup banyak melakukan penyesuaian. Pada bulan-bulan ini saya sempat berada di titik depresi, lelah, kesepian dan selalu ingin pulang kembali ke Jakarta. Saya merasa buruk dalam menjalankan seluruh peran saya sebagai ibu, istri yang sekaligus harus bekerja menjalankan usaha saya dengan kondisi long distance seperti ini. Sering saya berada pada kondisi 24 jam mungkin hanya tidur 3 jam saja untuk bisa menjalankan seluruh peran ini terutama jika sudah mendekati event.

kota

Haarlem dan Tilburg

Mungkin suami merasa jika hal ini terus menerus didiamkan akan berdampak buruk bagi kami bertiga dan saat ini kami tidak mempunyai banyak pilihan, maka kami sepakat jika Dony mendapat libur agak panjang, maka saya pun harus mengambil day off atas pekerjaan saya dan waktu tersebut kami gunakan untuk explore tempat baru atau berlibur ke negara lain untuk me-recharge our mood and energy or simply just to reward ourselves after a series of hardworks.  

Dalam artikel ini saya berbagi mengenai destinasi wisata keluarga kami ke Yunani beberapa waktu lalu.

Berlibur ke Oia, Santorini

Thira atau sering dikenal dengan nama Santorini merupakan sebuah  pulau vulkanik di Laut Aegea yang berada di antara Pulau Ios dan Anafi, 20 km dari daratan Yunani. Pulau ini merupakan kelompok Kepulauan Cyclades. Pulau ini memiliki luas wilayah 73 km² dan populasi 13.600 jiwa (2001).

santorini-map

Santorini Map

Thira atau Santorini pada awalnya bernama Strongyle yang berarti bundar, dinamakan Strongyle karena bentuk dari pulau ini berbentuk bundar. Menurut pakar sejarah, pulau Santorini ini terbentuk kurang lebih 3500 tahun yang lalu akibat dari letusan gunung berapi Gunung Thera. Ledakan yang terjadi menurut para ahli sangat besar dan dahsyat, hal ini terbukti dari adanya sebuah Kaldera yang luas di tengah pulau sehingga membentuk sebuah lembah yang dalam dan pada akhirnya terisi oleh air laut yang bernama Laut Aegean.

Sebetulnya rencana kami untuk berlibur ke Santorini sudah direncakan sejak akhir tahun lalu untuk summer holiday, namun berhubung suami baru akan menyelesaikan kuliahnya di bulan Oktober, maka judulnya late summer holiday :D.  Walaupun telat dan suhu pada awal Oktober di Belanda sudah mencapai 5  celcius degree, surprisingly ternyata Santorini masih panas bangettt. Walaupun kalau dilihat secara temperatur  hanya sekitar 24-27 derajat celcius, which is sudah tidak terlalu tinggi temperaturnya, tetapi real feelnya masih cukup terik dan panas.

lia1

Family

Perjalanan menuju Santorini kami lakukan melalui jalan udara. Berangkat dari Schipol Airport, directly menuju Santorini Airport (JTR) memakan waktu sekitar 3jam 20 menit. Ada beberapa pilihan maskapai dari Schipol antara lain KLM, Aegean Air atau Transavia untuk budget flight.  Sesampainya di airport, kami dijemput oleh bus service yang sudah di arrange dari hotel tempat kami menginap di Oia.

Mengapa disarankan untuk menggunakan fasilitas jemputan dari hotel? Karena ternyata rumah, toko, maupun  hotel-hotel di Oia tidak memiliki alamat! Sehingga untuk Mama yang berencana berlibur kesana bersama keluarga, untuk kenyamanan dan mengurang keribetan disarankan agar menggunakan jasa penjemputan dari hotel. Waktu yang ditempuh dari airport menuju Oia sekitar 30 menit, dengan biaya sekitar €30 untuk 1 keluarga (max. 4 orang). Dan jangan lupa siapkan tips untuk driver seharga segelas kopi, berkisar antara €3 – €5. Alternatif lainnya adalah menggunakan bus lokal dan turun di Oia bus stop. Untuk tarifnya saya kurang paham tapi mungkin sekitar €2-5 per orang. Berhubung Oia merupakan desa cantik dengan gang-gang sempit, maka kendaraan tidak bisa masuk sampai ke depan hotel, sehingga semua kendaraan bermotor hanya bisa berhenti di bus stop dan koper harus kita bawa sendiri menuju hotel atau dengan bantuan porter yang disediakan pihak hotel.

lia3

Oia (baca : ii-a) adalah the most famous villages in Santorini. Oia terletak diatas tebing yang terdiri dari jajaran rumah, whitecaves resorts dengan balkon view Kaldera dan Aegean sea yang spektaaaaaa, blue domes church, windmill dan anak tangga yang cukup curam.  Oia dikenal diseluruh dunia for its quiet life, most beautiful, picturesque and fantastic sunset in Santorini.

view-from-sunset-spot-in-oia

View from Sunset Spot in Oia

Hari pertama, sesampainya di hotel, rasanya gak pengen kemana-mana lagi. Karena view dari balkon kami  is beyoooond our imagination. Sambil nyeruput kopi atau segelas juice, kaldera, laut Aegea dan blue domes beautifully captured in front of our eyes! Sementara menunggu sunset pada pukul 19.00, kami mulai berkeliling sekitar Oia dari pukul 4.30 sore. Yang perlu diketahui jika kita berencana membawa anak adalah lupakan stroller. It won’t work untuk strolling around dan menikmati pulau ini sambil mendorong stroller, jalanan cukup sempit mungkin kurang dari 2 meter lebarnya dan very busy and crowded di jam-jam tertentu, ditambah lagi kontur jalan yang mengharuskan kita naik turun berpuluh dan beratus anak tangga untuk mendapatkan spot yang bagus untuk menikmati sunset. Karena kontur jalan beberapa area di Oia cukup curam, naik turun dan a bit slippery, saya dan Mikha sempat beberapa kali terpeleset hingga terjatuh padahal kami sudah berpegangan pada railing tangga, sehingga disarankan menggunakan sepatu atau alas kaki yang cukup nyaman dan bahan alas yang tidak licin.

menjelang-malam-di-oia

Menjelang malam di Oia

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, Oia dikenal dengan sunset yang begitu cantik and we are the witness of that beauty! That’s the most beautiful sunset I’ve ever seen in my entire life! Merindiing liat sunsetnya. Oia is veryyyy beautiful in every corners. Dan bagi yang hobi fotografi seperti suami saya, ada satu sunset spot, (agak sulit mendeskripsikan lokasinya) gambaran strukturnya seperti benteng dan kita bisa naik ke atasnya. Di situ kita benar-benar bisa melihat dan mengcapture suasana sunset, windmill, blue domes church dan seluruh desa ini dengan jelas. Untuk bisa mendapatkan posisi atau spot yang bagus kita harus berada di lokasi ini minimal 1 jam sebelum sunset karena spot ini akan dipenuhi oleh turis bahkan mereka sudah berada di lokasi ini 2 jam sebelumnya.

lia2

Greek Restaurant

Ada beberapa Greek restoran yang kami kunjungi selama di Oia, salah satunya kami mencoba 1 resto kecil bernama Pitogyros letaknya berada di sebrang Lolita’s gelato. Kami pesan chicken gyro dan lamb kebab gyro dengan harga €3/each, we simply say both Gyros were a BOMB. It was the best Gyros in town! Sayang gak ada fotonya karena udah keburu masuk perut.

photo0jpg

PitoGyros

Restoran kedua yang kami kunjungi adalah  Kasteli, letaknya tepat didepan Canava suites. Not a fancy restaurant, semacam restoran keluarga, mereka menjual beberapa traditional Greek food tapi yang the bessssstt dan wajib dicoba adalah grilled lamb ribs-nya. It’s finger lickin’ good.  Saking susah move on, dua kali kami makan malam di sini ini dengan menu yang sama. Untuk harga per platenya hanya sekitar €9.

Restoran ketiga yang kami coba adalah Ammoudi Fish tavern, letaknya berada di Ammoudi bay dibawah Oia village, bisa turun dari Oia melalui tangga tapi sepertinya tidak direkomendasikan kalau membawa anak usia toddler karena tangganya cukup curam dan pasti sangat melelahkan untuk mereka. Alternatif lain dengan taxi biayanya €10.

Kalau saya baca reviewnya sih the best seafood restaurant in Oia. Saya akui the view was stunning, laut Aegean, sunset dan Oia village. Tapi untuk seafood plater yang kami pesan dengan harga €65 adalah overrated, mahal dan rasanya biasa banget. Jadi mungkin restoran ini lebih menjual view atau mungkin kami salah pilih menu. Kalau saya kurang merekomendasikan makan disini kalau niatnya bukan untuk makan cantik atau lagi laper.

img_9358

View of Amoudi Bay (via Camchowda.com)

Santorini Sailing Tour

Sebetulnya ada banyak tempat-tempat yang dapat di-explore dari Santorini, kita bisa naik donkey untuk explore seluruh desa, atau Santorini wine tasting tour karena Santorini juga dikenal dengan pabrik anggurnya dan bisa juga pergi ke desa lain untuk mendapatkan ambience yang berbeda seperti mengunjungi Fira, Imerovigli, Firostefani dan lainnya dengan berjalan kaki maupun naik lokal bis. Berhubung liburan kami cukup singkat dan harus dipilah-pilah mana yang sekiranya fun juga untuk Mikha, maka hari ke-3 kami memilih untuk melakukan sailing tour. Seluruh sailing tour disana dikelola oleh Santorini Yachting Club, harganya cukup variatif mulai dari €85 per orang untuk group besar sebanyak 48 orang per boat, €130 untuk semi private berisi 10-15 orang per boat, hingga €170 per person untuk tour yang lebih private. Anak kecil dengan batasan umur 4 atau 5 tahun tidak dikenakan biaya. Sailing tour yang kami ikuti memakan waktu sekitar 5 jam. Kami dijemput sekitar pukul 1 siang lalu menikmati tour hingga sunset. Harga tersebut sudah termasuk antar jemput hotel, sailing tour dan buffet. Kapal akan berhenti 3x yaitu di hot spring, red beach dan white beach dan kita bisa berenang ataupun snorkeling di ketiga spot ini.  Kedalaman laut sekitar 10-18m, dan kapal berhenti 25 menit hingga 1 jam di tiap spot untuk memberikan kesempatan bagi yang ingin berenang di spot tersebut.

santorini_sailing_lagoon_520_06

The Boat (via santoriniyachtingclub)

Mikha superrr happy karena dia pun saya ajak untuk ikut merasakan berenang di laut, ini menjadi pengalaman pertamanya, sambil sesekali ketelen air laut. Selama kami berenang papa-nya tegang banget dari atas kapal, jadilah hasil fotonya backlight dan goyang  semua. Jangan  lupa membawa baju dan handuk lebih juga sunblock untuk menjaga kulit dari sengatan matahari. Dan bagi yang membawa anak kecil walaupun terik, saya sarankan juga untuk membawa baju tebal atau jaket karena angin laut yang cukup kencang dan dingin.

Ibukota Santorini: Fira

Hari terakhir di Santorini, kami memutuskan untuk meng-explore daerah Fira. Fira sendiri adalah ibukota dari Santorini.  Walaupun dari segi arsitektur secara garis besar mirip dengan Oia yang didominasi oleh bangunan berwarna putih diatas tebing kaldera, feel dan ambience di Fira berbeda dengan Oia. Oia moodnya lebih relax, sementara Fira lebih ramai dengan shopping street-nya, cafes dan night clubs.  Sepanjang jalan sempit kanan kirinya dipenuhi oleh butik-butik yang menjual branded watch, jewellery, maupun kios-kios souvenirs. Untuk yang mau shopping, Fira menawarkan lebih banyak pilihan.

view-nea-kameni-dan-thirassia-from-fira

View Nea Kameni dan Thirassia from Fira 

fira1

Shopping area, Fira

Ada berbagai cara untuk menuju Fira dari Oia. Bisa dengan berjalan kaki sekitar 2-3 jam, rental kendaraan dan bisa juga menggunakan bus lokal dengan tarif €1,8 per orang sekali jalan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.  Dari Fira kita bisa mendapatkan panoramic view kaldera sekitar 18km dari Akrotiri hingga Nikolaus dan pulau vulkanik Nea Kameni. Disini kami mengunjungi gereja Katolik St.  John The Baptist dimana uskup Santorini menetap dan juga ada 2 museum yang dapat dikunjungi Archeological Museum of Thera dan Museum of Prehistoric Thera.

sunset-view-from-fira-ibukota-santorini

Sunset view from Fira

donkey_trail_-_fira_-_thira_-_to_mesa_gialos_port_-_santorini_-_greece_-_05

Donkey Trail Fira – Thira – to Mesa Gialos port

Last Day in Santorini

Keesokan harinya kami check-out untuk  kembali pulang ke Belanda. Yang perlu diperhatikan dari Santorini airport adalah ukurannya yang cukup kecil dan beberapa hal masih dilakukan secara manual, sehingga paling tidak 2 jam sebelumnya  harus sudah sampai di Airport karena mereka hanya memiliki 3 loket check in.

Antrian begitu panjang, begitu pula saat security check in. Bahkan untuk memasukkan koper ke bagasi pun kita harus drop sendiri di tempat terpisah (bukan di loket check in), walaupun lokasinya masih berdekatan dengan loket check-in. Jadi proses kami selesai pada saat sudah last call boarding pesawat. Jadi prosesnya memang kurang efisien dan staff yang ada juga tidak terlalu banyak.

Sekian perjalanan kami ke Santorini semoga cerita kami cukup berguna bagi mamarantau yang berencana berlibur kesana. Kami memang tidak bisa explore terlalu banyak karena berkaitan dengan waktu kami yang singkat dan karena membawa anak kecil juga membutuhkan waktu lebih banyak untuk mempersiapkan dan mempertimbangkan hal-hal yang penting yang bisa menjaga keamanan dan kenyamanan anak.


Pics are courtesy of Lia and Family, otherwise stated or linked to the original images.

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 3)

11195840_700362946752341_86095811_nLulusan Statistika dan Teknik Industri yang baru 10 bulan tinggal di Den Haag mengikuti suami, seorang warga negara Belanda. Saat ini sedang sekolah bahasa Belanda sembari mengikuti beberapa kegiatan volunteer disekitar Den Haag untuk memperlancar bahasa Belanda. Senang mengamati apapun dan menuangkan dalam tulisan diblog, senang bepergian, membaca, dan memasak.

Frankfurt Book Fair (FBF) adalah pameran buku terbesar dan tertua didunia, lebih dari 500 tahun usianya. Frankfurt Book Fair adalah tempat bertemunya pelaku industri buku, media, pemegang hak cipta yang datang dari seluruh penjuru dunia. Acara ini digelar setiap tahun pada pertengahan bulan oktober. Jadi pada saat tersebut akan ada banyak sekali penulis buku, penerbit, penjual buku, agen bahkan produser film yang bertemu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Partisipannya sebanyak 132 negara dengan jumlah pengunjung mencapai ratusan ribu orang. Hal lain yang tidak kalah menariknya adalah setiap tahun selalu ada tamu kehormatan. Pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan. FBF tahun ini dilaksanakan pada tanggal 14-18 Oktober 2015.

FBF dibuka untuk umum hanya pada 2 hari terakhir yaitu 17 dan 18 Oktober 2015. Area FBF sendiri dibagi menjadi 5 gedung utama. Untuk detailnya bisa dilihat pada foto dibawah ini :

Foto 1 (Denah FBF)

Sekitar 7 atau 8 tahun lalu saya selalu memimpikan untuk bisa pergi ke acara ini. Saya rajin memupuk mimpi tersebut. Setiap tahun saya selalu membaca liputannya. Saya selalu mempunyai harapan besar bahwa suatu saat mimpi tersebut akan terwujud. Alasannya sederhana, karena saya cinta buku. Saya suka aroma kertasnya, saya suka sensasi ketika membalik halamannya dan yang terpenting adalah saya cinta membaca buku. Bersyukur tahun 2015 ini salah satu harapan saya (diantara banyak sekali mimpi) bisa menjadi nyata bertepatan dengan Indonesia menjadi tamu kehormatan. Dan yang membuat saya semakin semangat adalah saya ingin bertemu beberapa penulis yang saya idolakan sejak buku pertama mereka terbit, bahkan satu penulis sudah saya idolakan sejak dia menjadi penyanyi. Jadi bisa dibayangkan betapa girangnya saya.

Saya dan suami berangkat dari Den Haag jam 3 dini hari berkendara selama 6 jam dengan berhenti 2 kali karena suami tidur sebentar dan setelahnya mencari tempat sarapan. Keluar dari parkiran mobil, sudah ada bis yang disediakan untuk antar jemput dari dan ke gedung FBF. Tepat jam 10 pagi pada 17 Oktober 2015 saya menginjakkan kaki pertama kali dalam area FBF. Suami selalu memegangi tangan saya ketika kami sedang berjalan, bukan karena supaya tampak mesra, tetapi saya selalu berjalan cepat kesana kemari karena terlalu antusias dan suasana saat itu memang sedang ramai sekali 😀

17.000 Islands of Imagination, Tema Paviliun Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015

Akhirnya pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair. Menjadi tamu kehormatan pada acara yang yang berusia lebih dari 500 tahun tersebut merupakan kesempatan berharga. Menurut Pak Anies Baswedan dalam pidatonya bahwa kesempatan berharga ini bukan hanya untuk memperkenalkan Indonesia tetapi juga mengajak Eropa melakukan percakapan lintas budaya yang lebih luas. Mengusung tema Islands of Imagination, Muhamad Thamrin sebagai Arsitek yang dipercaya untuk menggarap area paviliun tersebut menjadi area yang penuh desain cantik. Dalam paviliun tersebut terdapat tujuh pulau yang masing-masing memiliki unsur budaya di Indonesia. Pulau-pulau tersebut adalah : Island of Scenes, Island of Spices, Islands of Illumination, Island of Inquiry, Island of Tales, Island of Images, dan Island of Images.

Masing-masing pulau menyajikan Indonesia dalam cara yang berbeda. Island of Spices yang mengajak pengunjung untuk berpetualang dan mengenal keragaman Indonesia melalui rempah dan kekayaan kulinernya.

Island of Scenes menampilkan Indonesia dari sisi pentas dan pertunjukan budaya. Island of Illumination menampilkan naskah dan manuskrip kuno yang menjadikan awal sastra yang ada saat ini. Island of Inquiry menampilkan sains dan kebudayaan Indonesia dalam bentuk digital.

Islands of Tales memberikan nuansa berbeda yaitu memperlihatkan negeri dongeng Nusantara dengan suara dan proyeksi gambar bergerak.

Pada bagian Island of Words diperuntukkan bagi para peminat kartun, cerita bergambar, novel grafis dan animasi. Sedangkan bagian yang terakhir adalah Island of Words menampilkan beragam buku karya penulis Indonesia dengan visual dan konten yang menarik.

 Foto 4 (Stand Indonesia)

Sejak saat persiapan sampai hari terakhir acara, perkembangan dan beritanya bisa diikuti langsung melalui website resmi Islands of Imagination, akun Facebook Pulau Imaji dan akun twitter @pulauimaji. Kuliner Indonesia juga berjaya disini. Tidak hanya masakan saja yang disajikan, tetapi rempah Indonesia juga diperkenalkan pada pengunjung. Saya melihat ada beberapa pengunjung tidak hanya mencium rempah-rempah tersebut, tetapi juga mencicipinya. 25 chef sampai didatangkan langsung dari Indonesia seperti William Wongso sebagai ketua kulinernya, Bondan Winarno, Sisca Soewitomo, Barra Pattiradjawane, dan masih banyak yang lainnya. Menu yang disajikan dikantin Indonesia adalah gado-gado (6.5 euro), sayur kapau (9.5 euro), asinan Jakarta (5.9 euro), ayam rica-rica (9.5 euro), dan dessert klappertart (lupa harganya berapa). Sejak sebelum jam makan siang, antrian sudah mengular. Selain demo memasak, juga dibuka kelas memasak yang diikuti oleh pelajar dan anak muda. Kelas memasak ini salah satu contohnya adalah mengajarkan cara membuat kolak pisang dan pepes ikan. Dari situs CNN Indonesia, disebutkan bahwa peserta sangat antusias.

Foto 5 (Beberapa spicies yang didisplay) Foto 6
Awal datang, saya langsung menuju hall terdekat yaitu hall 4. Bersyukurnya langsung menemukan stand Gramedia yang sedang mengetengahkan talkshow tentang buku anak-anak. Setelah puas berkeliling di hall 4.0 dan 4.1 kami langsung menuju Paviliun yang ternyata sedang berlangsung sesi Leila S.Chudori dan Laksmi Pamuntjak tentang buku mereka masing-masing yaitu Amba dan Pulang. Saya datangnya telat, jadi mendapat tempat dibelakang para pembicara, karena penuh dengan penonton. Diantara penonton saya melihat Taufik Ismail dan Bapak BJ Habibie. Setelah sesi mereka selesai, kami langsung menuju kantin untuk makan siang. Kami memesan sayur kapau dan gado-gado.
Foto 7 (Source @pulauimaji)

Sekitar jam 1 kami bergegas menuju hall 4.3, berputar sebentar dan sebelum jam 2 saya sudah duduk manis menunggu sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa jam 2 siang di stand nasional. Sesi yang paling saya tunggu karena ada Dewi Lestari, penulis idola. Sejak Dewi Lestari menjadi penyanyi digrup RSD, saya sudah mengidolakan dia. Lagu ciptaannya yang berjudul Satu Bintang di Langit Kelam menjadi salah satu lagu favorit sampai saat ini. Dan ketika dia mengeluarkan buku pertamanya yang berjudul Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001) bisa ditebak setelahnya saya selalu membeli karya-karyanya, lengkap sampai Gelombang. Saya mengagumi setiap karakter yang dia ciptakan, cara dia membawa pembaca untuk hanyut dalam setiap cerita yang dia tulisakan. Pada buku Perahu Kertas, saya sampai tersedu sedan ketika membacanya. Jadi, salah satu mimpi saya sejak lama juga adalah bisa bertemu langsung dengan Dewi Lestari, berbincang sebentar, meminta tanda tangan dibukunya, dan foto bersama. Jadi ketika tahu Dewi Lestari akan ada sesi dihari sabtu bersama Ika Natassa yang bertema “Woman and The City” saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selama 30 menit saya mendengarkan dengan anteng talkshow dalam bahasa inggris tersebut. Sampai sesi tanya jawab, saya langsung mengacungkan tangan, padahal pada saat itu saya belum tahu apa yang akan ditanyakan (kebiasaan!!). Pikir saya, mumpung ada kesempatan. Dan saat itu saya satu-satunya orang yang mengacungkan tangan pada saat sesi awal tanya jawab.

Foto 8 (Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa Penuh)

Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa Penuh

Dewi Lestari, penulis beberapa buku bestseller, termasuk “Supernova” dan “Perahu Kertas” pada tahun 2014 merupakan perwakilan Indonesia yang secara simbolis menerima tampuk bergilir sebagai tamu kehormatan 2015, dari Finlandia sebagai Tamu kehormatan pada FBF 2014. Pada saat itu Dee, panggilan Dewi Lestari mengatakan bahwa sebagai tamu kehormatan, Indonesia akan mendapatkan sorotan yang lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, yang artinya ada pekerjaan dan tanggunjawab yang harus diselesaikan sebelum Oktober 2015. Tanggungjawab yang dimaksud berhubungan dengan penerjemahan. Dari setiap naskah Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa asing, jendela pengetahuan dunia tentang Indonesia terbuka semakin lebar.

”Saat ini, karena terbatasnya jumlah buku Indonesia yang diterjemahkan, boleh dibilang kondisi perbukuan kita gelap gulita di luar sana. Jika kita melihat begitu banyaknya judul buku menghiasi rak-rak benderang di Gramedia, gulita itu tidak terasa. Tapi, setiap saya diundang ke berbagai festival buku internasional, di sanalah saya mendapatkan kondisi perbukuan kita yang gelap dan terkucil. Setelah bicara berbusa-busa dengan penuh percaya diri di panggung bersama para penulis mancanegara, pertanyaan sederhana seorang penonton, “Where can I get your book?” menjadi pukulan telak yang cuma bisa saya tangkis dengan senyum semanis mungkin sambil berkata, “Unfortunately, it’s not yet available in English.” Skakmat” begitu yang dijelaskan Dee dalam websitenya deelestari.com. Karenanya, tugas Indonesia sebagai tamu kehormatan pada tahun 2015 bukanlah pekerjaan yang ringan. Mengajak mata dunia untuk memandang literasi Indonesia.

Foto 9 (Dewi Lestari Ika Natassa)
Dee dan Ika Natassa membicarakan topik yang relevan dengan kondisi saat ini yaitu tentang perempuan, kota dan problematikanya. Dua topik ini lekat dengan cerita-cerita yang ditulis oleh kedua penulis tersebut. Ika Natassa merupakan penulis best seller yang salah satu karyanya adalah “Twivortiare” dan karya terbarunya adalah “Critical Eleven”. Dee dan Ika Natassa dianggap mampu mewakili pemikiran wanita & problematika yang banyak ditemui generasi saat ini. Dee yang menggabungkan science dan fiction ke dalam nuansa karyanya mengaku selalu memberikan bumbu – bumbu problematika saat ini ke dalam tulisannya, berbagi cerita tentang proses pembuatan karakter setiap tokoh dalam novelnya, serta membacakan bagian scene dalam bukunya, “Supernova”. “Proses menulis yang saya alami adalah pembelajaran seumur hidup. Writing is like building your muscles.”, ujarnya.

Sementara Ika Natassa bercerita tentang proses produksi dan pembentukan karakter novel yang tidak hanya bermodalkan fiksi, tetap juga merupakan hasil riset dari karakter – karakter masa kini yang ‘nyata’ ada di kehidupan sehari – hari. Karenanya karya Ika Natassa tidak pernah jauh dari cerita dan jejak kehidupan sosial kaum urban Jakarta dengan segala lika likunya. Sesi diskusi ini mendapatkan perhatian pengunjung dari berbagai kalangan, terutama para penggemar Dee dan Ika yang datang dari sekitar wilayah Eropa. “Untuk penulis – penulis Indonesia yang karyanya ingin dikenal di dunia internasional, pastikan konten dan isi cerita yang kita tulis sudah cukup berkualitas. Menangkan dulu pasar nasional, baru kemudian kita sama –sama berkonsentrasi untuk memperkenalkan karya ke pasar internasional. Tahun ini sebagai tamu kehormatan, beruntung sekali kita penulis – penulis Indonesia mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan kelompok publishers yang datang dari seluruh penjuru dunia. Tidak hanya itu, event ini juga menjadi panggung bagi kita untuk memperkenalkan budaya bangsa,” pesan Dee dan Ika Natassa diakhir sesi.

Dan pada akhirnya saya bisa mewujudkan impian. Meminta tanda tangan, berbincang sebentar dan berfoto bersama Dewi Lestari. Bahagia luar biasa dan tidak terkira rasanya.

Foto 10 (Foto dengan Dee dan meminta tanda tangan didua bukunya, Gelomband dan Partikel)

Misi selanjutnya adalah menemui penulis idola yang kedua, yaitu Andrea Hirata. Saya menyukai bukunya sejak Laskar Pelangi. Buku dan film Laskar Pelangi sukses membuat saya menangis sekaligus semakin yakin akan kekuatan mimpi, doa dan kegigihan dalam mewujudkan mimpi kita. Sejak saat itu saya semakin berani untuk bermimpi dan berusaha keras serta cerdas untuk mewujudkan setiap mimpi tersebut. Rasanya masih tidak percaya juga bisa meminta tandatangan pada buku terbaru Andrea Hirata yang berjudul Ayah. Terus terang saya belum membaca Ayah sama sekali karena baru mendapatkan buku tersebut dari seorang teman yang ke Den Haag 2 hari sebelum saya berangkat ke Frankfurt. Beruntung, pikir saya.

Pengalaman yang tidak akan terlupakan untuk saya karena bisa mewujudkan impian lama. Secara keseluruhan saya merasa terharu dan bangga dengan tampilnya Indonesia sebagai tamu kehormatan di FBF 2015. Melihat dan merasa dekat dengan Indonesia ketika saya sedang jauh dari Indonesia. Angkat topi kepada Goenawan Mohammad selaku Ketua Komite Nasional Pelaksana serta sekitar 80 penulis dan total 300 orang budayawan maupun seniman yang berkumpul dan mensukseskan peran Indonesia sebagai guest of honor pada acara bergengsi tersebut. Meskipun banyak kritik disana sini tentang tidak sempurnanya Indonesia sejak tahap persiapan yang super mepet sampai pada acara berakhir, tetapi langkah awal ini membawa optimisme tersendiri akan Indonesia dan Industri buku Indonesia dimata Internasional. Bukankah perjalanan panjang dan besar selalu diawali dengan langkah yang kecil. Jika tidak dimulai saat ini, maka tidak akan pernah tampak juga perubahaan besarnya dikemudian hari.

Video Dee menjawab pertanyaan saya serta pembacaan penggalan Supernova 1 dalam bahasa Inggris dapat dilihat disini : https://www.youtube.com/watch?v=UooYF_pw-So

————————

Koleksi foto pada laman ini adalah karya Deny – dengan  gambar-gambar  penunjang terhubung dengan image URL gambar aslli.

Deny Lestiyorini- Indonesian living in Den Haag |IG : @deny_l
Blog : http://denald.com/ Twitter : @denald

Merantau di Venlo

Narulita Primaya Hapsari (Maya)  has been living in Venlo, Netherlands since 2010.  Happily settled in Venlo with husband and pretty girl. A huge fan of Indonesian food. 

Tentang Maya dan keluarga. Saya pertama kali merantau pada tahun 2010 mengikuti suami yang berkebangsaan Belanda dan bekerja di sebuah pabrik kaca di Venlo. Kami memiliki seorang anak perempuan bernama Thierra Ellena Octafarrah Deschaux yang saat ini berusia 3 tahun.

maya & fam

Keluarga kecil kami

Tentang Visa Belanda: Untuk mengurus visa tinggal di Belanda tergantung jenis visanya, apakah visa pelajar, bekerja atau tinggal dengan pasangan yang salah satunya adalah warga negara Belanda. Visa pelajar dan bekerja mengurusnya lebih mudah, asalkan ada surat rekomendasi dari universitas atau tempat bekerja biasanya visa akan disetujui.

Untuk visa tinggal dengan suami/istri berkebangsaan Belanda ada persyaratan yang harus dipenuhi seperti; pendapatan suami/istri harus mencukupi minimal 1.430 euro per bulan. Selain itu kita yang akan tinggal di sini harus melakukan Civic Integration Examination atau yang dikenal dengan sebutan MVV . Anda memerlukan MVV untuk mengajukan permohonan izin tinggal yang diperlukan untuk tinggal lebih dari tiga bulan di Belanda. Tes ini berlangsung dalam bahasa Belanda, jadi semacam tes TOEFL untuk Bahasa Belanda plus tentang hal-hal dasar kehidupan kemasyarakatan Belanda. Untuk melakukan tes ini, pemohon harus ke kedutaan Belanda atau konsulat di negara asalnya sebelum mengajukan permohonan visa MVV. Orang yang mengajukan permohonan visa MVV harus terlebih dahulu membuktikan bahwa mereka telah lulus ujian ini

venlo

Venlo adalah sebuah kota di bagian tenggara Belanda, dekat perbatasan Jerman dan terletak di provinsi Limburg.

Floriade World Horticultural Expo di Venlo Region; Pameran yang diadakan 10 tahun sekali ini wajib dikunjungi jika Anda sedang berada di Venlo dan pecinta taman dan bunga.

Tempat tinggal: Di sini ada 2 jenis tipe tempat tinggal, ada rumah yang biasa kita sebut rijtjeshuis dan ada juga apartment. Masing-masing tipe bisa full furnished atau unfurnished.  Untuk di Venlo, yang kotanya jauh dari mana-mana, bisa dapat dengan harga sewa 300 euro all in/bulan dengan spesifikasi 3 kamar tidur, ruang tamu dan dapur kecil. Untuk di kota-kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam dan Utrecht harga sewa per-bulannya akan jauh lebih mahal.

Rijtjeshuis

Transportasi: Alat transportasi yang biasa kami gunakan yaitu bus, tram dan kereta. Semua transportasi tersebut baby friendly. Untuk orang yang sudah berumur biasa mereka menggunakan scootmobiel. Rata-rata hampir setiap penduduk di sini punya mobil dan sepeda. Ketika cuaca ekstrim seperti musim dingin biasanya kami menggunakan mobil untuk berpegian.

scootmobiel

Scootmobiel salah satu alat transportasi yang umum digunakan oleh para manula di Venlo

Asuransi : Semua orang yang tinggal atau bekerja di Belanda wajib untuk mengambil standar asuransi kesehatan untuk menutupi biaya, misalnya, konsultasi dokter umum, perawatan rumah sakit, dan untuk resep pengobatan. Di sini banyak sekali macam-macam asuransi. Kita harus pintar pintar memilih dan membayar hanya apa yang kita butuhkan.

Penduduk tetap dan karyawan lokal (dari dan luar Belanda) wajib memiliki “Basisverzekering” (Basic Health Insurance)

Di setiap Website asuransi ada contoh penghitungannya. Misalkan saya, saya akan mengisi data-data untuk mendapatkan kuota asuransi per bulannya: wanita, 28 tahun, ingin asuransi yang mencakup dokter kandungan, melahirkan, dan asuransi sakit di luar negeri. Lalu saya isi lagi data suami, laki-laki, 33 tahun, ingin asuransi yang mengcover  gigi 100% dan asuransi sakit dalam dan luar negeri. Terakhir saya masukan data anak- walau sebetulnya tidak berpengaruh kalo untuk anak, karena untuk anak berusia 0-18 tahun asuransinya free dari pemerintah Belanda dan semua dicover: baik gigi, kecelakaan, sampe operasi sekalipun. Setelah semua data dan jenis coverage yang saya inginkan telang dilengkapi, saya akan dapat total harganya. Sejauh ini yang saya bayar untuk saya sendiri (full asuransi melahirkan, dokter kandungan, kecelakaan, sakit di dalam dan luar negri) dan suami (full asuransi gigi, kecelakaan, sakit di dalam dan luar negeri), kami harus membayar 191,75 euro per bulannya. Untuk lebih lengkapnya bisa baca di sini.

Venlo Stadhuis – yang ramai pengunjung saat musim panas

Pengalaman Hamil dan Melahirkan. Di Belanda, setiap ibu yang sedang hamil wajib memiliki asuransi dimana semua biaya akan ditanggung oleh pihak asuransi. Jika kita sudah tes kehamilan dan positif, kita biasanya pergi ke dokter keluarga. Masing-masing orang di sini sudah mempunyai primary doctor, jadi kita akan selalu pergi ke dokter tersebut jika kita sakit apapun jenisnya. Jika kita dirasa harus mengunjungi dokter spesialis tertentu, maka dokter keluarga kita itulah yang akan merujuk ke dokter spesialis yang dituju. Nah, untuk kasus kehamilan, biasanya kita akan dirujuk ke verloskundige atau bidan. Seorang verloskundige yaitu orang yang mengambil pendidikan S2 yang mengambil pendidikan kebidanan, jika sudah lulus, mereka dapat membuka praktek di rumahnya. Ditempat prakteknya sudah lengkap dengan peralatan USG mulai dari 2D, 3D hingga 4D. Untuk jadwal kunjungan, biasanya dilakukan 2 minggu sekali selama hamil hingga melahirkan. Verloskundige inilah yang akan membantu kita saat melahirkan nanti baik di rumah maupun di rumah sakit. Di Belanda banyak orang yang melahikan di rumah sendiri, saya sendiri merasa lebih nyaman untuk melahirkan di rumah sakit pada saat itu.

thierra

A week old Thierra

Seminggu setelah melahirkan, veroskundige akan datang ke rumah kita untuk menimbang bayi kita dan mengecek kondisinya. Verloskundige ini akan datang seminggu sekali hingga satu bulan setelah proses kelahiran. Bagi saya pribadi, saya merasa memiliki hubungan yang dekat sekali dengan Verloskundige saya, karena semenjak hamil, melahirkan dan pasca melahirkan beliau selalu mendampingi saya. Sedih rasanya ketikan harus berpisah.

Continue reading