Merantau di Groningen, Belanda

Halo! Nama saya Monika Oktora, biasa dipanggil Monik. Ibu dua anak, yang juga sedang sekolah. Sejak kecil memiliki hobi menulis, membaca, dan akhirnya memiliki blog dan buku sendiri. 

Kami merantau ke Groningen sejak tahun 2014. Sebelumnya saya dan keluarga bermukim di Bekasi. Saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan setelah melahirkan anak pertama saya. Setelah anak saya berusia 1.5 tahun, saya baru memberanikan diri untuk melanjutkan studi S2. Suami sangat mendukung rencana tersebut, bahkan ia yang lebih semangat mendorong saya untuk lanjut kuliah. 

Alhamdulillah saya diterima di program MSc. Medical Pharmaceutical Science, University of Groningen dengan beasiswa dari Indonesia. Saya dan keluarga pun hijrah ke Negeri Kincir Angin. Saat itu, suami pun berusaha mencari peluang kerja atau sekolah juga. Walaupun tidak mudah, tapi dalam waktu yang relatif tidak lama, akhirnya suami mendapatkan pekerjaan di bidang yang sama dengan pekerjaan yang ia tinggalkan di Jakarta. Mungkin itu adalah berkah dari ridanya suami dalam mendukung pilihan saya untuk sekolah lagi, jauh dari kampung halaman. 

Di pertengahan tahun 2016, saya menyelesaikan studi S2 saya. Sementara suami masih melanjutkan pekerjaannya. Saat itu yang terpikir oleh saya adalah untuk mengambil “jeda” setelah bergulat dengan kesibukan studi plus mengurus rumah tangga. Suami kembali mengingatkan saya untuk tidak terlalu lama terbuai oleh waktu luang. Selagi ada kesempatan bagus di rantau, maka sebagai muslim yang baik, harus juga tetap berikhtiar yang terbaik. Saya pun akhirnya dimotivasi oleh suami untuk mengurus aplikasi S3. Saya mencari profesor di universitas yang sama, hanya berbeda departmen dengan bidang S2 saya dulu. Kali ini keilmuan yang saya tuju sangat terkait dengan dunia farmasi klinik, bidang yang saya geluti sejak S1 sampai bekerja (saat di Indonesia).

Saat saya mengerjakan proposal penelitian S3 dan mencari beasiswa, Allah memberikan rezeki hamil anak kedua. Alhamdulillah acceptance letter dari profesor dan beasiswa keluar berurutan sebelum saya melahirkan anak kedua saya. Empat bulan setelah melahirkan, saya harus sudah memulai studi S3 saya. Maret 2018, adalah titik balik dari perjalanan saya sebagai ibu sekaligus PhD Mama. Rasanya Masya Allah, campur aduk, tidak bisa dituliskan. Sampai sekarang saat saya kilas balik ke momen tersebut, saya hanya bisa membatin dan mengucap zikir.

“Kok bisa yah ini emak-emak anak dua mau kuliah S3? Gak kebayang apa yang di depan kayak gimana? Kebayang repot dan stresnya? Astagfirullah … Subhanallah …” 

Mengikuti PhD thesis pitch competition

Qadarullah, Allah Maha Baik, dalam segala keterbatasan dan kekurangan saya selama empat tahun studi PhD ini, banyak hikmah dan berkah yang mengiringi. Insya Allah jika diizinkan, saya akan menyelesaikan PhD saya tahun ini. 

Suasana defense PhD di University of Groningen (saat saya menjadi paranim dari calon Doktor)

Kemudahan dalam Menjalani Kehidupan di Groningen

Belanda (katanya) lebih homey untuk bermukim dibandingkan dengan negara lain di Eropa. Sebabnya mungkin bisa karena Ada hubungan sejarah dengan Indonesia sejak zaman kolonialisme dulu. Ada memori, peninggalan sejarah, kultur yang terbawa dan tercampur antara Indonesia dan Belanda.

Mencari makanan Asia dan Indonesia tidak susah. Ada toko yang menjual perlengkapan dan bahan makanan Asia, khususnya Indonesia, hampir di tiap kota besar di Belanda. Ada restoran dan rumah makan Indonesia, terutama di kota besar seperti Den Haag, Amsterdam, dan Rotterdam. Jadi kalau kangen makanan Indonesia, ya bisa jajan. Asal jangan sering-sering kalau tidak mau terkena kantong kering, hehe. Jadi selama ada bahan makanan Asia, kita bisa masak sendiri. 

Selain makanan Indonesia, mencari bahan makanan halal juga mudah. Ada gerai toko daging halal milik orang Turki atau Maroko. Untuk muslim Insya Allah aman.

Orang-orang Belanda lebih terbuka dalam berbahasa Inggris. Tidak seperti Prancis dan Jerman yang sangat ketat bagi pendatang untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa mereka, Belanda lebih terbuka. Hal ini yang membuat saya dan suami menjadi terlalu nyaman untuk tidak belajar bahasa Belanda secara intens.  

Banyak mukimin dan pelajar Indonesia. Khususnya di kota tempat tinggal saya, Groningen. Groningen ini adalah kota pelajar, dan  sangat multikultur. Komunitas orang Indonesia juga cukup banyak. 

Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke-76🇮🇩 – Gak ada pernak-pernik Indonesia, apalagi bendera 🇮🇩. Tapi gak papa. Bisa pakai bendera 🇳🇱 yang bagian bawahnya dirobek. Biar dramatis kayak pahlawan yang melakukan perobekan Bendera Londo di Surabaya 76 tahun silam😅

Tantangan hidup di Belanda

Mandiri. Apa-apa harus dikerjakan sendiri. Tidak ada orang tua dan saudara yang biasanya ada di lingkungan dekat kita, apalagi asisten rumah tangga yang biasanya meringankan beban rumah tangga. Tidak ada warteg dan warung makan padang yang tinggal beli, tidak ada g*food, g*send, atau fasilitas online lainnya yang mempermudah urusan dunia dengan hanya menggeser jari di layar ponsel.  

Transportasi. Di Groningen, paling enak ke mana-mana dengan sepeda: murah, cepat, dan nyaman. Asal: punya skill bersepeda yang lumayan, dan ingat jalan, atau bisa membaca peta. Skill bersepeda termasuk kemampuan utama kalau mau tinggal di Belanda. Ada jalur khusus untuk bersepeda, hal ini membuat kita menjadi sangat nyaman dan aman.

Ada pilihan transportasi lain seperti bus dan trem (untuk dalam kota), dan ada juga kereta (untuk antar kota). Tentunya gak ada ojek motor atau mobil online yang bisa dipesan kapan saja dengan harga terjangkau. Jadi kalau buru-buru, biasanya ya langsung ambil sepeda dan ngebut. Kalau cuaca lagi dingin (apalagi hujan), harus siap dengan jaket tebal, sarung tangan, kupluk, syal, dan kalau perlu jas hujan, biar tidak beku di jalan.

Negara empat musim. Sebagai manusia tropis yang dimanjakan kehangatan stabil matahari sepanjang tahun. Saya cukup merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan cuaca Belanda yang lebih sering berada di bawah sepuluh derajat celcius. Belum lagi hujan yang mendominasi hampir 65-70% sepanjang tahun di Belanda. Lalu saat musim dingin yang, hari terangnya pendek (mungkin sekitar 6-7 jam hari terasa terang), dan musim panas yang hari gelapnya pendek (paling pendek saat pukul 3.30 pagi sudah subuh, dan matahari baru terbenam di pukul 10 lebih).

Cherry Blossoms in Amsterdam!

Pandemi di Belanda

Selama pandemi sejak 2020 lalu, banyak sekali hal yang berubah, dan kami seperti beradaptasi lagi. Ada naik turun ketatnya dan pelonggaran aturan, tergantung pada angka kasus dan perbaikan kondisi. Ada Lock down, pembatasan di bidang horeca, jam belanja, sampai pada penyesuaian dengan work from home, serta school from home. Ada saat-saat tersulit adalah ketika lock down di puncak pandemi pertama dan kedua. Saat semuanya harus di rumah, anak-anak sekolah dari rumah, serta saya dan suami kerja dari rumah. Tidak terbayangkan hebohnya rumah saat itu. Untunglah supervisor saya juga mengerti dengan keadaan kami, well, hampir semua orang maklum dengan kondisi saat itu. 

Pemerintah juga sangat mengutamakan pendidikan anak, sehingga sektor inilah yang mendapat perhatian khusus ketika pandemi. Saat semua toko, horeca, dan tempat kerja masih ada pembatasan, sekolah anak usia 4-12 tahun adalah yang pertama kali dibuka, agar anak-anak bisa tetap sekolah dengan baik. Sekolah online saja dirasa tidak bisa mengcover pendidikan tatap muka. Tentunya dengan aturan yang ketat dan perhatian yang sangat, maka sekolah pun diusahakan tetap berjalan seperti biasa. 

Semua pengalaman berharga selama merantau di Belanda ini menjadi sayang jika saya tidak mengabadikannya menjadi sebuah buku. Akhirnya saya tuliskan pengalaman dan petualangan kami sekeluarga dalam buku. Alhamdulillah buku solo pertama saja berjudul Groningen Mom’s Journal, diterbitkan oleh Elexmedia Komputindo di awal tahun 2018.

Menyusul buku solo kedua saya berjudul The Power of PhD Mama, diterbitkan oleh NeaPublishing di awal tahun 2021. Semoga buku ketiga mengenai kisah perantauan kami akan bisa sampai ke tangan pembaca di akhir tahun nanti, aamiin.

Pendidikan dan Sekolah Anak di Belanda

Dari segi pendidikan secara umum, Alhamdulillah semuanya terpenuhi dan mudah. Pendidikan wajib mulai dari umur 4 tahun, dengan total 8-years of primary education. Pendidikan di Belanda itu gatis, accessible, dan tidak ada perbedaan mencolok antara tiap sekolah, dalam segi kualitas. Mungkin ada perbedaan kualitas atau variasi pengajaran, tapi menurut hemat saya, tidak sangat jomplang, jika dibandingkan dengan sekolah negeri vs sekolah swasta di Indonesia. 

Tipe pendidikan anak di sekolah dasar sangat menstimulasi anak untuk berpikir kritis. Tidak seperti pengalaman saya dulu ketika sekolah, yang lebih konvensional, di mana guru mengajar di depan, tapi tidak banyak praktek dari materi yang didapat. Ada banyak diskusi antara guru dan murid. Murid diajak untuk bertanya, dan memberikan pendapat. Guru juga menyesuaikan dengan pace setiap anak. Tidak pukul rata ‘one fits for all’. Rapot atau laporan akhir semester juga sangat komprehensif. Tidak berupa angka, tetapi ada penjelasan mengenai perkembangan dan kemampuan si anak di tiap-tiap bidang mata pelajaran utama. Ada juga catatan mengenai sikap dan soft skill si anak, seperti bagaimana cara dia bergaul, bagaimana ia bisa memahami situasi dan petunjuk saat belajar, bagaimana cara ia bekerja sama, dan cara dia bekerja. Mungkin karena jumlah anak dalam satu kelas tidak terlalu banyak (maksimal yang pernah saya tahu 27 anak dalam satu kelas) membuat lebih mudah bagi guru dan sekolah untuk mengatur dan memberi perhatian khusus pada tiap murid. 

Playing with friends is just as important as learning

Kadang saya bertanya-tanya, apa sih yang paling penting dalam tangga edukasi anak di usia TK-SD seperti Runa dan Senja? Pikiran saya melayang saat saya masih berseragam sekolah dulu. Paradigma yang ada adalah: 1. Pilih sekolah terbaik, 2. Jadi yang terbaik di sekolah. Katanya the better you do at school, the further you’ll go in life and be success. Jadi gak heran kalau di Indonesia orang tua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik dan mendorong anaknya untuk berprestasi. Yang tentunya gak salah juga.

Tetapi, saya baru ngeh saat Runa dan Senja mulai sekolah di Belanda, bahwa it isn’t all about getting A grades or scoring > 80, and getting into the UGD (Universitas Gadjah Duduk). Pendidikan seharusnya memiliki tujuan jauh di atas itu. It’s also about the way of children’s well being and their development as an individual.

Yes, being smart is always good, but being survive yet happy is important. Untuk bisa survive, pintar aja gak cukup. Soft skills dan social skills penting utk ditanamkan di awal usia sekolah anak: How to make friends, be nice to them, menyelesaikan masalah bersama, bergantian saat bermain, berbagi, menjadi mandiri, be patient, be confident, dll.

Tapi tentu saya gak bisa membandingkan begitu saja edukasi di Indo dan di Londo. Sebab di Londo pendidikan bersifat merata, kaya atau miskin, anak seleb atau petani, Londo tulen atau imigran seperti kami, semua bisa dapat fasilitas sama. Sementara di Indo, orang kalangan ekonomi menengah ke bawah harus berusaha lbh keras untuk mengakses pendidikan yg baik. Belum sampai ke arah development berkelanjutan tadi. Namun semoga akan menuju ke arah yang lebih baik, aamin.

Di kelas Runa, setiap minggunya ada giliran menjadi ‘kind van de week’, atau kid of the week. Jadi si anak mendapatkan “perlakuan istimewa” dari guru dan teman-temannya. Apa saja itu? Misalnya si anak boleh duduk di sebelah sang guru saat sesi kringetje (duduk dalam lingkaran), bantu guru mencuci apel untuk dimakan saat istirahat. Kalau di esde saya dulu mungkin bantu hapus papan tulis kali yah, wkwk.. (Semacam piket dong😅).

Tapi yang istimewanya di pekan tsb, anak yang bersangkutan boleh mendapatkan testimoni dari teman-temannya. Guru meminta anak-anak untuk memikirkan dan menuliskan hal baik apa tentang si anak yg menjadi kid of the week. Runa juga pernah mendapatkan kesempatan itu. Suatu kali ia membawa pulang tumpukan kertas berisi tulisan tangan teman-temannya. Runa bilang dia senang banget baca tulisan-tulisan itu, terutama dari Sara, yang bilang “Ik vind jouw hoofddoek mooi” (Kupikir jilbabmu bagus).

Runa memang sering pakai jilbab ke sekolah, kami gak memaksakan, hanya membiasakan. Kalau Runa mau ya bagus.. apalagi pas winter kemarin malah enak pakai jilbab, anget. Kadang Runa juga suka minta pakai jepit rambut atau dikepang dua, ya gakpapa. Setelah, membaca komentar Sara, Runa jadi semangat pakai jilbab ke sekolah, Masya Allah.

Kalau dari segi fasilitas di luar sekolah atau pendidikan formal, yang paling membuat kami merasa sangat terbantu adalah 1. Keberadaan taman bermain/playground  (dalam bahasa Belanda kami menyebutnya speeltuin) yang terjangkau, ada di mana-mana, dan 2. Fasilitas perpustakaan anak/umum yang lengkap (kami menyebutnya bibliotheek).

Speeltuin

Pemerintah Belanda sepertinya mengalokasikan cukup dana untuk investasi pembuatan taman bermain. Taman bermain menjadi tempat yang mudah ditemukan di lingkungan pemukiman warga, setidaknya di Groningen ya. Sebagai contoh, di lingkungan tempat saya tinggal, dalam lingkup (katakanlah satu RW) bisa ditemukan satu taman bermain. Jika anak-anak ingin mencari alternatif taman bermain lainnya, tinggal cari dalam lingkup 500 meter sampai 1 kilometer, pasti ketemu taman bermain lain.

Gimana anak-anak tidak puas bermain di luar? Fasilitas taman bermainnya pun didesain dengan baik, kuat, dan aman untuk anak-anak kecil bermain di sana. Belum lagi di pusat perbelanjaan, juga dengan mudah ditemukan arena yang kids friendly. Saya dengar dari teman saya yang tinggal di kota besar seperti Amsterdam, menurutnya juga tidak sulit mencari arena bermain di sekitar tempat tinggal.

Bibliotheek

Saya masih ingat ketika anak kedua kami, Senja, yang lahir di Belanda, menginjak usia tiga bulan, kami medapatkan surat khusus yang menyatakan sang bayi sudah dapat mendaftarkan diri ke perpustakaan sebagai anggota. Rasanya spesial sekali mendapatkan surat yang dikirimkan oleh pemerintah kota bekerja sama dengan posyandu. Ada voucher di dalam surat tersebut untuk dibawa ke bibliotheek dan ditukarkan dengan kartu anggota beserta Boek Start, yaitu berupa seperangkat koper kecil berisi buku untuk bayi. Keanggotaan perpustakaan pun gratis sampai anak berusia 18 tahun. Tidak lupa beserta paket tersebut juga ada petunjuk bagi orang tua untuk menikmati aktivitas membaca bersama anak.

BoekStart

Memang anak-anak di Belanda dimanjakan dengan keberadaan perpustakaan yang berada di setiap wijk (distrik, katakanlah setara dengan kelurahan di Indonesia). Setiap anak bisa meminjam buku dengan gratis! Maksimal buku yang bisa dipinjam bisa sampai 15 buku dengan batas peminjaman sekitar tiga minggu. Untuk mengembalikan buku tersebut bisa ke bibilotheek manapun di seluruh penjuru kota.

Perpustakaan yang menurut anggapan banyak orang erat dengan suasana yang membosankan pun dijadikan tempat yang menarik untuk anak. Ada spot khusus membaca yang nyaman baik bagi anak maupun bagi orang tua yang ingin membacakan buku untuk anak. Koleksi bukunya pun lengkap dan menarik mulai untuk anak bayi sampai usia remaja. Perpustakaan dan buku didaulat untuk menjadi sahabat bagi anak dari sejak kecil. Jadilah, sampai saat ini, mengunjungi perpustakaan adalah salah satu bentuk rekreasi untuk Runa dan Senja.

Tempat yang menarik dikunjungi di Groningen dan sekitarnya

Groningen bukanlah kota besar, atau kota utama untuk dikunjungi para turis, seperti Amsterdam, Den Haag, atau Rotterdam. Meskipun begitu, ada beberapa tempat spesial untuk kami kalau ada kerabat atau teman yang berkunjung. Walaupun tidak semewah dan seterkenal tempat-tempat lain, untuk kami tempat ini favorit.

Martini Toren, Ikon kota Groningen

Natuurgebied Kardinge

Kardinge adalah salah satu cagar alam lokal di Groningen. Di sekitarnya ada padang rumput, pohon-pohon tinggi berjejer, sungai, dan hewan-hewan ternak yang bebas merumput. Ada track khusus untuk pejalan kaki dan penyepeda. Biasanya orang-orang berjalan santai atau jogging di sana. Semakin menarik, di sekitar sana ada kincir angin tua khas Belanda. Kincir angin ini termasuk monumen yang dilestarikan. Kita bisa mengunjungi ke dalam bangunan kincir angin ini juga lho (ada jam berkunjung, biasanya penjaganya yang membukanya).

Forum Groningen

Salah satu ikon kebanggan Groningen, dan juga tempat favorit kami adalah Forum Groningen. Bangunan 10 lantai ini adalah cultural center terbesar di Utara Belanda.

Forum Groningen

Bangunan ini baru diresmikan tahun 2019. Fasilitasnya sangat lengkap, mulai dari perpustakaan, kafe, tourist information and shop, cinema, arena belajar, tempat meeting, tempat eksibisi, sampai ada fancy restaurant di teras lantai paling atas. Dari lantai paling atas, kita bisa melihat pemandangan kota Groningen. 

Anak-anak paling betah kalau diajak ke Forum Groningen, soalnya mereka bisa memilih banyak buku untuk dibaca dan dipinjam, sambil menempati spot favorit mereka di sana. Ada juga fasilitas edukasi interaktif seperti machine learning screen, medialab, dan game interaktif. 

Reitdiephaven rumah warna-warni

Reitdiephaven adalah pelabuhan kecil di tepi barat laut kota Groningen (haven = pelabuhan). Letaknya dekat dengan rumah kami. Sebenarnya pelabuhan ini bukan destinasi turis, tapi karena di sekitar pelabuhan ini ada rumah-rumah bergaya Skandinavia dengan warna-warni cerah, jadilah tempat ini menjadi sangat menarik untuk menjadi lokasi foto, sangat instagrammable, katanya. Dari sana kita juga bisa menyewa perahu untuk mengelilingi sungai dan kanal di Groningen. 

Komunitas Indonesia di Groningen

Yang paling dirindukan ketika merantau tentunya adalah kehangatan dan guyubnya orang Indonesia. Alhamdulillah di Groningen dan Belanda ada komunitas-komunitas Indonesia sebagai penyambung tali silaturahmi sesama para perantau. Kami saling membantu, berkumpul, sampai membuat  event-event spesial untuk komunitas dan untuk umum juga. 

De Indonesian Groningen Moslem Society (DeGromiest) 

DeGromiest adalah organisasi komunitas muslim yang tinggal di Groningen. Dulu komunitas ini dibentuk oleh beberapa pelajar dan mukimin yang belajar dan bekerja di Groningen. Awalnya mereka mengadakan pengajian rutin, lama-kelamaan dirasa perlu untuk membuat organisasi untuk memayungi kegiatan-kegiatan Islam di Groningen, maka dibentuklah DeGromiest. Anggotanya juga bervariasi, kebanyakan memang pelajar, tapi juga ada masyarakat keturunan Indonesia-Belanda, Suriname, atau yang menikah campur dengan warga negara Belanda. Semakin lama komunitas orang Indonesia ini semakin besar, kegiatan-kegiatan pun semakin terstruktur. Ada kegiatan pengajian rutin, Tadarus Keliling (DarLing), Pengajian Anak (DeGromiest Kinderen), Silaturahmi akbar, penampungan infaq dan sedekah (Gerakan Lima Euro/GALIRO), sampai kegiatan mewadahi Jumatan per beberapa pekan khusus untuk orang Indonesia (kami menyewa aula sendiri). Tidak lupa ada kegiatan berbuka bersama dan tarawih ketika Ramadan, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Berikut web dan instagramnya: https://degromiest.nl/; https://www.instagram.com/degromiest/.

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Groningen (PPIG)

Pergerakan pelajar memang sudah banyak diusung sejak zaman Moh. Hatta dan rekan-rekan sekolah di Belanda. Ternyata semangat berhimpun ini juga awet sampai sekarang. Di Belanda ada Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda yang terpusat di Den Haag. Di tiap-tiap kota yang ada universitasnya, juga terbentuk PPI yang solid dibangun oleh para pelajarnya. PPI Groningen merupakan salah satu PPI dengan anggota terbanyak di Belanda. Mulai dari mahasiswa S1 sampai S3, semuanya terhimpun dalam PPI. Kegiatan PPI Groningen yang biasanya rutin diselenggarakan setiap tahun, dan tentunya paling ditunggu-tunggu adalah event olahraga satu Eropa, GroensCup. Dalam event ini, PPI kota lain di Belanda, di Jerman, Prancis, bahkan UK juga turut ikut serta berlomba. Ditambah peserta dari komunitas Indonesia di berbagai kota di Belanda juga mengirimkan kontingennya. Perhelatan olahraga terbesar Indonesia di Belanda ini memperebutkan piala juara umum dan juara-juara tiap cabang olah raga, seperti futsal, basket, badminton, voli, tenis meja, panco, sampai game FIFA. Berikut web dan instagramnya https://ppigroningen.nl/; https://www.instagram.com/ppigroningen/ 

Forum Komunikasi (FORKOM) Muslim di kota-kota Belanda

Komunitas pengajian kota orang Indonesia semakin banyak dan bertumbuh di Belanda. Di tiap kota, bisa ditemukan komunitas pengajian kota, seperti halnya DeGromiest di Groningen, ada pengajian kota di Eindhoven, Utrecht, Maastricht, Amsterdam, Den Haag, Delft, Wageningen, Enschede, Rotterdam, dan lainnya. Komunitas ini menyebar dari ujung utara sampai selatan Belanda. Untuk menghimpun komunitas-komunitas ini, maka pada tahun 2021, didirikanlah Forum Komunikasi Muslim Indonesia di Belanda. Berikut Instagramnya https://www.instagram.com/forkom.nl/

Berkenalan lebih lanjut dengan Monik melalui: Instagram @monikaoktora monikaoktora.com

Merantau di Mainz,Jerman

Olga Florentyna-Schneider

Halo mamarantau di seluruh penjuru dunia! Perkenalkan, namaku Olga. Ibu dan ayahku asli Minang, Sumatra Barat. Aku sendiri lahir dan besar di Jakarta tapi lai pandai mangecek baso awak hehe. Pada tahun 2014, aku memutuskan untuk merantau ke Bonn, Jerman – aslinya demi mengejar cinta. Aku dan mantan pacar (yang sekarang jadi suami), menjalani LDR sejak 2009. Dikarenakan kami masih muda dan merasa belum mengenal satu sama lain dengan baik, kami pada saat itu belum mau menikah. Jadi aku pun pergi ke Jerman berbekal visa studi untuk menjalani program master di Bonn. 

Kami menikah tahun 2016 di Jerman, saat aku telah menyelesaikan tesis master. Setelah studi, aku tinggal dan bekerja di Bonn sebagai management consultant di salah satu perusahaan konsultan kecil di sana. Di tengah carut marut pandemi, April 2020- putra kami Kayo lahir dan di bulan Agustus di tahun yang sama, kami harus pindah ke kota Mainz dikarenakan suami memutuskan untuk membuka kantor konsultan pajak bersama partnernya di kota ini. Jadi kalau ada mamarantau dari Jerman yang butuh Steuerberater atau konsultan pajak, jangan segan-segan hubungi aku yah 😀 #teteppromo.

Oh iya, saat ini aku sibuk jadi 80% stay at home mom, dan 20% nya aku mengerjakan proyek kecil di bidang foreign direct investment sebagai freelancer (yang benernya aku kerjakan hanya saat Kayo tidur siang). Sebelum aku aktif jadi freelancer seperti sekarang, aku sempat jadi vlogger di YouTube karena I love being a storyteller! Bisa dicek juga di https://www.youtube.com/oflorentyna.

Christmas 2021

Pengalaman Mencari Daycare

Selanjutnya, aku akan berbagi pengalaman dan dramaku dalam mencari daycare di Mainz, Rhineland Palatinate (Jerman: Rheinland-Pfalz) – dikarenakan setiap sistem dan peraturan bisa berbeda di setiap Bundesland/ provinsi di Jerman, jadi jangan dipukul rata yah, anak-anak dapat masuk daycare (Krippe) mulai umur 1 tahun. Mulai 2 tahun itu sudah memenuhi syarat untuk masuk TK (Kindergarten). Rata-rata memang sangat sulit sekali untuk mendapatkan daycare di kota besar di Jerman. Belum lagi pengalaman dramaku ketika berhadapan dengan petugas administrasi dari kota Mainz.

Posisi Rhineland – Palatine dalam peta

Pihak Krippe telah menghubungiku kalau tempat telah tersedia untuk Kayo – aku senang sekali! Akhirnya aku bisa lebih fokus kerja dan mungkin mengelola YouTube ku lagi. Pihak Krippe meminta surat konfirmasi dari pihak admin kota. Akupun menghubungi pihak kota TAPI kemudian pihak kota tidak tahu menahu soal itu. Aku dipingpong sampai akhirnya aku kehilangan slot di Krippe tersebut. Aku hanya bisa menangis pada saat itu 😥

Di kotaku, daycare jumlahnya sedikit sekali dibandingkan peminatnya. Yang aku tahu memang Jerman kekurangan tenaga pengasuh profesional. Aku iri sekali dengan kondisi teman-teman di Jakarta karena masalah ini bisa lebih mudah diselesaikan dengan uang. Atau mudah sekali punya babysitter menginap karena affordable (sebagaimana punya asisten rumah tangga). Atau ada anggota keluarga yang bisa dititipkan kalau mama lagi capeee banget sehingga butuh isi tangki kekuatan untuk menghadapi kerasnya dunia (ceilah). Bukan lagi rahasia kalau menjadi mamarantau itu diharuskan untuk dobel kuatnya karena apa-apa harus dihadapi sendiri. Solusinya adalah private daycare, tapi pada saat itu aku tidak menemukannya di radius 30km di rumahku. Kupikir, udah harus bayar mahal dan jalan jauh ke sana, sangat tidak worth it. Jadilah aku memutuskan untuk tetap mengurus anak sendiri di rumah sampai Kayo mendapatkan tempat di Kindergarten pada saat dia berusia 2 tahun. Rencanaku yang lain harus kukesampingkan.

Sudut Kota Mainz

Dukungan Finansial dari Pemerintah Jerman

Positifnya dalam membesarkan anak di Jerman adalah biaya sekolah negeri ‘gratis’ dan dukungan finansial yang bernama Kindergeld dari pemerintah Jerman sampai anak tersebut berusia 25 tahun. Di provinsiku besarannya €200 per bulan per anak. Makin banyak anak, makin besar juga Kindergeld yang didapat. Semua pernyataanku ada disclaimer nya yah. Gratis yang dimaksud adalah tanpa uang sekolah yang besar di sekolah negeri, misal harus bayar uang buku atau dalam perkuliahan hanya harus bayar 250-500 euro per semester. Semesteran ini juga benernya bukan uang kuliah melainkan hanya untuk mengcover biaya tiket kendaraan umum mahasiswa, jadi mereka bisa ke mana-mana gratis di satu kota/propinsi. Ada juga sekolah/universitas privat dan internasional yang bayarnya bisa 30.000€ per tahun. Semuanya dibalikin ke masing-masing orang tua hehe.

Infografis Kindergeld (sumber dari sini)

Aku pernah dapet komentar dari Instagramku, “Kok kayanya seneng-seneng mulu sih Ga, ga pusing apa biaya sekolah anak?” oh ya jangan sampai kamu ngga bisa senang-senang lagi dong kalau punya anak hehe. Atas saran suamiku yang memang hobi mengatur finansial, kami selalu menyisihkan €100 per bulan untuk biaya pendidikan tinggi Kayo. Usia sekolah kan Kayo masih tinggal bersama orang tua. Akan berat saat dia mulai kuliah misalnya. Tergantung dia kuliah di kota apa, Kayo harus membayar uang sewa dan biaya hidupnya saat dia berkuliah. Ini tidaklah murah, tergantung kota. Kami sebagai orang tua beritikad untuk memudahkan hidupnya, supaya pada saat Kayo kuliah, dia bisa fokus belajar tanpa cape mikirin besok bayar sewa pakai apa kayak mama papa nya dulu hehe. Biaya hidup pas-pasan jaman aku studi dulu sih berkisar €700-1000 per bulan yah. Kalo Kayo mau lebih-lebih, di sini selalu ada kesempatan buat kerja saat student. Jadi tolong ya nak, kalo mau yang mewah-mewah– kerja! Jangan minta-minta aja bisanya (mama galak haha). Kalau ada asumsi lain “kalo Kayo mau kuliah di Harvard gimana Ga?” ya, usaha dong cari beasiswa. Kalau ngga bisa, ya artinya emang ngga mampu kuliah di sana, udah bagus dimodalin (mama galak lagi xD).

Gimana caranya? Yuk kita mulai itungan matematikanya.

Jadi Kayo kan menerima 200€ / bulan sejak dia lahir. €100 untuk ditabung biaya kuliahnya. Dia akan menerimanya selama 25 tahun. Jadi bertotal: 100×12 = 1200, 1200×25 = €30.000

Keliatannya banyak yah hehe, tapi jangan lupa inflasi. Jika inflasi 5% per tahun (kita ambil paling jeleknya aja ya), selama 25 tahun, itu uang 30.000 nilainya bakal cuma jadi €9.000. Ini bisa dicek pake kalkulator online. Yah, ini mah ngga nyampe biaya hidup setahun bundpap :(( 

Kontrak Investasi Kolektif

Nah mas suamiku yang cerdas itu (ngefans sama suami sendiri haha) menginvestasikan uang ini ke ETF. ETF adalah Reksa Dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek. Meskipun ETF pada dasarnya adalah reksa dana, produk ini diperdagangkan seperti saham-saham yang ada di bursa efek. ETF merupakan penggabungan antara unsur reksa dana dalam hal pengelolaan dana dengan mekanisme saham dalam hal transaksi jual maupun beli (Source: https://www.idx.co.id/produk/exchange-traded-fund-etf/). Aku ngga mau jelasin panjang lebar, nanti space nya ngga cukup. Siapa pun yang telah berinvestasi dalam indeks ekuitas Dunia MSCI global dengan ETF selama 20 tahun dapat mencapai pengembalian rata-rata sekitar 8% antara tahun 2000 dan 2020. Tergantung pada waktu pembelian dan penjualan, pengembalian tahunan berfluktuasi antara 14% dalam kasus terbaik dan 5% dalam kasus terburuk (Source: https://www.weltsparen.de/geldanlage/etf/etf-rendite/).

Jadi, bisa dihitung sendiri. ETF ini gunanya menjaga uang dari inflasi dan untung tipis-tipis-kalo beruntung. Supaya Kayo cukup bekalnya untuk dia kuliah nanti. Jika dia mau kuliah. Di Jerman banyak jalan menuju Roma – individual ngga harus kuliah setinggi-tingginya untuk mencapai kesuksesan. Misal di Jerman ada program Ausbildung, Dual Studium, daln lain-lain. Kalo Kayo ngga mau kuliah, mungkin uangnya bisa die kelola sendiri biar makin banyak hehe.

Sekian cerita, polemik dan trik aku dalam hal sekolah anak! Jika dirasa berguna, tolong dishare yah! Buat mamarantau yang mau silaturahmi, aku sekarang lebih aktif di Instagram @oflorentyna, karena aku belum ada waktu buat edit video di YouTube.

Yuk mari saling menyapa di @oflorentyna, siapa tau aku ketemu temen baru yang like-minded. Syukur-syukur tinggalnya deket Mainz juga. Sampai ketemu lagi yah di cerita selanjutnya! 😀

Merantau di Stavanger, Norwegia

Ayu Damayanti (Loui)

Lima bulan setelah menikah, tepatnya di tahun 2008, saya merantau ke Stavanger, Norwegia. Suami saya, Rizal, sudah lebih dulu berada di sana untuk ambil master degree-nya dan Alhamdulillah mendapatkan pekerjaan tetap. Dan terdamparlah kami di sini selama hampir 14 tahun lamanya 😄 

Bersama Rizal (suami), Adam, dan Adia

Saya suka Stavanger karena penduduknya sedikit dan semua serba bersih serta teratur. Dengan 4 musimnya yang membuat hidup menjadi lebih berwarna. Air bersih yang berlimpah (minum dari tap water). Alamnya yang luar biasa indah dan tentunya udara yang sangat segar. Alhamdulillah 🙏

Di sini semua serba mahal, apalagi ketika kami mau makan di luar, tidak seperti di Indonesia yang sedikit-sedikit tinggal jajan. Variasi makanan halal pun terbatas. Waktu shalat pun sangat menantang, karena berubah setiap musimnya. Bahasa yang digunakan di sini adalah bahasa Norwegia (Norsk), jadi kami harus belajar dari awal lagi untuk bisa berkomunikasi dengan pribumi. Sebetulnya bahasa Inggris bisa juga digunakan, tapi lebih enak kalau pakai Norsk.

Di sini keindahan alamnya luar biasa, dari mulai pantai, hutan dan gunung semua bisa dinikmati dalam jarak yang tidak jauh dari rumah. Ada Pantai Sola, Monumen 3 Pedang, Hutan Konservasi Arboret, Bukit Dalsnuten, Preikestolen (gunung), Kjerag (gunung), Danau Mosvannet, Sandvedparken (taman) dan lain-lain. Kebetulan kami tinggal di daerah Sola yang hanya 5 menit nyetir ke bandara internasionalnya. Saya suka tinggal di Sola karena kota kecil yang aman dan cenderung sepi. Kami juga suka kemping ketika musim panas tiba, di sini banyak sekali camping site dengan pemandangan yang indah.

Komunitas Indonesia di Stavenger

Komunitas Indonesia yang ada di sini adalah “Indonesian Community Stavanger (ICS)“. Ada juga komunitas muslimnya yg bernama “Keluarga Muslim Indonesia Stavanger(KAMIS)”

Bipolar Disorder

Di tahun 2009 setelah melahirkan anak pertama kami, Adam, saya didiagnosa Bipolar Disorder. Hari-hari yang sangat berat bagi kami saat itu, karena saya harus dirawat selama 6 bulan lamanya dan Rizal di rumah bersama bayi Adam. Kejadian ini berulang di tahun 2015, ketika anak kedua kami lahir. Saya kembali dirawat selama 6 bulan juga, dan Rizal harus menjaga anak-anak di rumah. Saat itu saya masih denial bahwa saya memiliki Bipolar Disorder. Tapi di tahun 2017 ketika saya kembali dirawat, saya mulai memahami penyakit saya ini dan mulai menerima bahwa saya memang sakit.

Ruang Inap DPS Sola ( DPS = Distriktspsykiatriske Senter/ Regional Psychiatric Center)

Alhamdulillah saya bisa lebih stabil dan lebih bisa mendeteksi gejala-gejala yang muncul ketika relaps. Untungnya di sini segala perawatan rumah sakit gratis, ketika dirawat dan harus cek rutin ke poliklinik tidak perlu bayar sepeser pun. Saat ini saya juga mengikuti terapi musik dan paduan suara yang diadakan oleh poliklinik psikiatri.

Road Trip Norge Summer 2020

Musim panas Juli 2020 lalu kami sekeluarga berkeliling Norge (tepatnya setengah bagiannya) dengan mobil dan bermalam di berbagai macam tempat (camping, hytta/kabin, atau hotel/penginapan) selama sebulan penuh.

Rizal sudah dari jauh hari membuat itinerary perjalanan dengan sangat rapi yang disponsori oleh APR Tour & Travel (ini adalah nama yang selalu dipakai Rizal ketika membuat rencana perjalanan, diambil dari inisial nama Adam dan Adia, hehehe…).

Kami baru benar-benar mulai packing 2 hari sebelum berangkat karena sebelumnya banyak kesibukan, termasuk mencari perlengkapan yang kurang. Alhamdulillah semua beres di hari H dan barang-barangnya hampir seperti pindahan rumah 😅. Kali ini kami menyewa mobil Skoda Octavia dari www.avis.no  dengan harga yang cukup murah, dan menambahkan roof top yang kami punya di atasnya untuk bagasi tambahan. Setelah berjuang memasukkan semua barang yang ada, akhirnya kami bisa berangkat.

Berikut saya share beberapa list perlengkapan untuk camping yang mempermudah kehidupan kami mengelilingi Norge…!

Peralatan dan Perlengkapan Kemping
Peralatan dan Perlengkapan Kemping

Menjadi Vlogger 😀

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa sih aku sampe repot-repot bikin video dan akhirnya mau jadi vlogger di YouTube?

Jadi… beberapa waktu yang lalu, aku dan para sahabat di grup WhatsApp yang kami namakan “Pesohor Astro” (yang isinya adalah almamaterku di Astronomi ITB dengan berbagai tahun angkatan sebagai anggotanya), awalnya kami melakukan diskusi tidak penting seperti biasaa 🙂 membahas tentang postingan salah satu anggota tentang info kelas online yang akan mengupas “tips bagaimana cara dapat uang di youtube”.

Sampai akhirnya obrolan kami tiba ke satu bahasan yang sudah mengarah ke serius, dan aku, juga beberapa teman lain yang terutama tinggal di luar negeri, kena todong untuk membuat video di youtube mengenai kehidupan sehari-hari kami.

Awalnya aku skeptis, dengan alasan aku itu ga videogenic dan cenderung pemalu. Tapi setelah dikompori oleh beberapa orang dengan segala cara, akhirnya aku jadi termotivasi untuk mengikuti saran mereka, dengan syarat mereka membantu dalam hal penentuan konten dan sebagainya. Dan mereka setuju.

Dan catat ya, video ini tidak kubuat khusus hanya untuk karena mau mendapatkan uang via youtube, walaupun kalau itu terjadi ya Alhamdulillah hehe, tapi lebih memenuhi request para sahabat dan akhirnya terpikirkan konten edukasi yang ingin aku sampaikan di dalamnya, yaitu sekalian belajar bahasa Norway bareng sambil jalan-jalan seru.

Yang juga penting bahwa video ini spesial kupersembahkan untuk keluarga tercinta dan para sahabat tersayang di Indonesia yang belum bisa menginjakkan kakinya ke Norwegia. Dan tentu saja untuk mereka mengobati kangen sama aku, hehehe..

Doanya, semoga suatu saat bisa mengunjungi kami di sini..Aamiiin! Teman-teman mamarantau juga bisa melihat beberapa video lainnya tentang pengalaman kemping dan suasana selama road trip kami di YouTube LouiandLove atau klik linktr.ee/Louiandlove ya!

Merantau di Linköping, Swedia

Hestu Rahmayani – I received Swedish Institute scholarship and firstly arrived in Sweden in 2014 for studying Master in Child Studies at Linköping University. Now I am working as a preschool teacher. Other than working as a teacher, I am also a movement enthusiast who enjoy yoga and learn about functional and embodied movements. My interest in movements grow when I started learning about yoga. The more I learn about movement, the more I understand how moving my body in everyday life give me a lot of benefits. I get a clear mind and less stress when I move regularly, either in a form of training or just walking with my son. I wrote in hestu.rahmayani.com a media to share my movement practice, with the hope that you can also start to move every day.

Pengalaman Merantau

Di tahun 2014 saya mendapat beasiswa dari Swedish Institute untuk kuliah di Master program in Child Studies di Linköping University. Saya tiba di Linköping di bulan Agustus 2014.

Saya suka dengan kota ini karena kotanya tidak terlalu besar. Selain itu kota ini cukup tenang dan kontur alamnya datar sehingga kemana-mana bisa naik sepeda.

Untuk fasilitas umum hampir semua kota di Swedia sangat bagus, jadi tidak hanya di Linköping saja. Linköping adalah salah satu kota dari wilayah Östergötland. Östergötland sendiri terdiri dari tujuh kota yaitu Linköping, Norrköping, Mjölby, Motala, Söderköping, Vadstena dan Skänninge. Hanya ada satu universitas di wilayah ini, yaitu Linköping University. Jadi Linköping bisa disebut juga kota mahasiswa.

Sebenarnya tidak ada tantangan berat tinggal di kota ini, karena kebetulan saya tidak suka tinggal di kota besar. Hidup di Linköping ini cukup tenang dan nyaman. Karena kotanya tidak begitu besar, maka tempat perbelanjaan tidak begitu banyak. Walau tidak begitu banyak, toko-tokonya cukup lengkap dan mudah dijangkau. Pada umumnya tantangan terbesar tinggal di Swedia itu adalah mendapat teman asli Swedia yg ingin sosialisasi dengan pendatang. Karena kebanyakan orang Swedia mungkin tidak seterbuka penduduk eropa selatan. Orang Swedia cenderung lebih sungkan untuk membuka diri dengan orang asing. Selama tinggal di Swedia, sebagian besar teman dekat saya adalah penduduk pendatang.

Tempat Favorit

Tempat favorit saya di Linköping yaitu di Stångån, sebuah area dekat kanal. Di sana saya suka sekali jalan kaki sambil mengasuh anak saya, karena lingkungan sekitarnya dekat kanal jadi walau sudah berkali-kali jalan kaki, saya tidakk bosan. Dengan berjalan kaki menyusuri area tersebut, saya bisa menikmati indahnya suasana alam sekitar kanal yg menghubungkan Göta Kanal di seluruh area Östergötland.

Festival di Linköping

Festival atau perayaan yg paling asik itu biasanya saat musim panas tiba, khususnya pertengahan Juni. Di pertengahan Juni ini ada perayaan “midsommar” atau mid-summer. Dalam perayaan ini, dipasanglah tiang “midsommarstången” atau “maypole”, kemudian orang-orang berdansa mengelilingi maypole tersebut sambil bernyanyi “Små Grödorna” atau dalam bahasa Indonesia Katak Kecil. Yg lebih seru lagi, lagu ini nadanya persis sama seperti lagu Kodok Ngorek. Apakah ini kebetulan? 🙂

Pengalaman Menarik

Saat masih kuliah, saya bekerja part time mengajar yoga dan sebagai “vikarie” atau staf pengajar pengganti guru yg sedang sakit. Sebelum lulus saya dikontrak untuk bekerja temporary di sebuah PAUD selama satu tahun. Walaupun bahasa Swedia masih belepotan, saya berusaha meyakinkan para staf dan kepala sekolahnya agar menerima saya bekerja disana. Jadi ini modal nekat sih 🙂

Kemudian di tahun 2016, setelah lulus, saya pun diangkat sebagai pegawai tetap di tempat tersebut. Walaupun lulusan master, saya bekerja (hanya) sebagai asisten guru. Karena saya tidak ada sertifikat mengajar dari Departemen Pendidikan Swedia. Untuk bekerja di sektor pendidikan di Swedia tidaklah mudah. Di samping harus bisa bahasa, saya juga harus punya sertifikat mengajar agar bisa diangkat sebagai guru. Akhirnya setelah menyelesaikan kursus bahasa level SMA, saya dapat mendaftarkan diri untuk sertifikasi. Sayangnya pengalaman mengajar SD dan TK di Indonesia tidak dipertimbangkan. Departemen Pendidikan Swedia hanya melihat pendidikan Sarjana Pendidikan saja sebagai syarat sertifikasi. Di tahun 2020, akhirnya saya mendapat sertifikat tersebut, namun bukan sertifikat guru TK yg didapat. Tapi sertifikat guru SD khusus untuk mengajar matematika dan kesenian. Jika ingin mengajar di SD, saya harus ikut kuliah penyetaraan selama 1 – 2 tahun. Tidak mudah memang untuk bekerja di sektor ini, namun semuanya harus tetap dijalani dengan penuh perjuangan dan kesabaran.

Di waktu senggang aku adalah host di podcast Perantau Bercerita. Perantau Bercerita adalah sebuah media untuk berbagi cerita tentang kehidupan perantauan. Selain itu ada juga segmen “ngobrolin apa” sebagai sarana beropini tentang berbagai topik yang muncul dalam perantauan. Keep in contact: Instagram: @perantau_bercerita, podcasthestu@gmail.com, hestu.rahmayani.com.

Merantau di Oxford

Mega Aisyah Nirmala.

A mother. Currently living in Oxford, UK, with her son and husband who is pursuing his Doctoral degree at the University of Oxford. She is a full-time mother who also runs a small business back in Indonesia. She loves houseplant, enjoys travelling, reading, and baking.


Halo! Nama saya Mega Aisyah Nirmala. Saat ini, saya dan keluarga merantau di Oxford, salah satu kota di Inggris yang lokasinya sekitar satu jam perjalanan dengan kereta dari London. Dulu waktu pertama kali mendengar kata Oxford, yang terlintas dalam pikiran saya adalah kamus Oxford, hahaha. Tapi ternyata memang ada hubungannya. Kamus Oxford ini diterbitkan oleh Oxford University Press.

Kami sudah tinggal di Oxford selama kurang lebih 3.5 tahun. Kepindahan kami kesini dalam rangka menemani suami yang sedang menyelesaikan Doctoral Programme in Computer Science di University of Oxford. Di saat yang bersamaan, ia juga bekerja sebagai Research Associate di kampusnya.

Sebelum merantau ke Oxford, kami sama-sama menempuh pendidikan S2 di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Bidang suami saya adalah Teknologi Informasi sedangkan saya sendiri mengambil Master of Business Administration. Setelah pindah ke Oxford, saya menjadi ibu rumah tangga. Sembari mengurus suami dan anak, saya juga masih mengurus bisnis Airbnb yang ada di Yogyakarta, meskipun saat ini sedang berhenti sementara karena pandemi. Selain itu, saya juga punya hobi baru; houseplants dan baking. Di sela-sela kesibukan itu, kami senang jalan-jalan, mengeksplorasi tempat-tempat menarik di sekitar kami.

OXFORD: AND ANCIENT AND MAGICAL CITY

Semenarik apa sih kota Oxford? Bagi kami, sangat menarik. Kota Oxford dijuluki sebagai the Learning and Cultural City karena memang kota Oxford itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari University of Oxford. Kota Oxford adalah kota yang sangat tua. Kota ini memiliki arsitektur bangunan yang menurut saya ancient dan magical. Tidak sedikit bangunan-bangunan di kota ini maupun kampus-kampus di University of Oxford yang berusia lebih dari 500 tahun. Untuk penggemar Harry Potter, tentu saja kota ini tidak bisa dilewatkan. Universitas inilah (dan juga Cambridge) yang banyak menginspirasi JK Rowling dalam menulis novel masterpiece-nya. Jadi tidak heran kalau banyak tempat di University of Oxford yang dijadikan lokasi pengambilan gambar film Harry Potter.

Ancient and Magical Oxford.

Selain suasana kotanya yang magical, penduduknya pun sangat menyenangkan. Orang Inggris memang terkenal dengan keramah-tamahannya. Mereka mudah sekali menyapa atau sekedar melempar senyum ketika berpapasan dengan siapa saja di jalan. Saya masih ingat waktu awal-awal pindah ke Oxford, seorang kakek-kakek menawarkan diri untuk membawakan belanjaan saya yang waktu itu memang cukup banyak. Terharu sekali rasanya. Juga seorang teman yang baru saya kenal, tiba-tiba mengucapkan ‘Happy Ramadan’ karena memang saat itu sedang bulan Ramadan. Contoh lain lagi, saat berbelanja di toko/pasar, para penjualnya selalu menyapa dengan ramah misalnya dengan bertanya ‘Can I help you, love?’ manis sekali. Waktu anak kami masih bayi, banyak orang-orang di jalan yang menghampiri untuk sekedar menyapa atau memberi pujian. Hal-hal kecil ini ternyata sangat membekas di hati saya. Meskipun begitu, perlakuan yang tidak menyenangkan juga pernah kami alami. Apalagi kami termasuk kaum minoritas di sini. Tapi secara keseluruhan, kami tidak menemukan masalah yang cukup berarti dengan penduduk di sini.

Kami tinggal di apartemen yang dimiliki oleh University of Oxford. Tetangga-tetangga kami berasal dari berbagai belahan dunia. Ada juga tetangga yang sama-sama berasal dari Indonesia. Bisa dibilang kami tinggal di kawasan yang sangat multicultural. Kami mempunyai tetangga-tetangga yang menjadi teman baik sampai saat ini. Biasanya para tetangga yang sama-sama mempunyai anak, secara rutin bertemu untuk sekedar menemani anak-anak bermain bersama, pergi ke playground, masak-masak, merajut dan lain sebagainya.

Satu hal yang sangat saya sukai dari komunitas yang terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai belahan dunia adalah betapa mereka sangat suportif dan positif terhadap sesama.

Kami menyukai kota Oxford karena Oxford bukanlah kota besar, tidak terlalu sibuk, padat atau pun ramai. Kami biasa berjalan kaki atau bersepeda untuk bepergian. Setiap hari, suami saya berangkat ke kampus dengan bersepeda. Sejak anak kami sudah agak besar, kami lebih banyak bersepeda kemana-mana (tadinya lebih banyak dengan stroller). Dari rumah, pusat perbelanjaan, terminal bus, stasiun kereta, dan lain sebagainya, semua bisa dijangkau dengan jalan kaki maupun bersepeda. Momen bersepeda dengan anak menjadi momen yang sangat berharga bagi saya.

Sepeda yang kami beli dari tetangga seberang blok. Senang sekali!

TEMPAT-TEMPAT MENARIK DI OXFORD

Meskipun kota kecil, namun ada banyak hal yang bisa dijelajahi dari kota ini. Tidak sedikit teman-teman yang pernah ke sini, jatuh hati pada kota Oxford.

Setiap sudut Oxford menarik bagi kami. Ada beberapa hal yang berkesan dan tidak boleh dilewatkan saat tinggal atau mengunjungi kota Oxford. Diantaranya adalah:

  • Port Meadow. Ini adalah padang rumput yang menjadi salah satu destinasi favorit kami untuk sekedar jalan-jalan atau melihat sapi dan kuda. Banyak orang yang berolahraga atau sekedar berjalan-jalan bersama anjing peliharaan di sini. Tepat di sebelah padang rumput, terdapat sungai Thames dan dermaga kecil di mana banyak kapal-kapal bersandar. Jika musim dingin, padang rumput ini dijadikan tempat penampungan air, sehingga terlihat seperti danau yang menambah keindahan Port Meadow.
Port Meadow di musim dingin, padang rumput yang berubah menjadi danau sementara.
  • Giant Market. Pasar terbuka ini lokasinya di dekat terminal bus kota Oxford, dibuka beberapa kali dalam seminggu. Namun, khusus pasar sayur dan buah hanya ada setiap hari Rabu. Selain pedagang sayur dan buah, ada juga pedagang keju, ikan, dan kebutuhan rumah lainnya. Ada juga berbagai kios makanan dari berbagai negara. Ada setidaknya 3 kios yang menyediakan makanan halal. Biasanya setelah selesai berbelanja, meski tidak selalu, kami mampir untuk menikmati makanan di salah satu kiosnya.
  • Covered Market, Pasar ini sudah ada sejak 1 November 1774. Di dalamnya ada berbagai macam toko (baju, aksesoris, tanaman, sayuran), café dan restoran, toko barang-barang antik dan juga barbershop. Salah satu tempat favorit kami di Covered Market ini adalah kios Ben’s Cookies. Kios kecil di dalam Covered Market ini adalah cikal bakal Ben’s Cookies yang sekarang mempunyai banyak cabang baik nasional maupun internasional.
Kios Ben’s Cookies di Covered Market.
  • Kampus-kampus di University of Oxford.

Kampus-kampus di Oxford jumlahnya lebih dari 30. Salah satu kampus favorit kami adalah Christ Church College. Kampus ini bukan kampus yang tertua meskipun juga sudah berusia 500 tahun. Bangunannya megah dengan artitektur yang menawan. Kampus ini juga digunakan sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar film Harry Potter. Dining hall di beberapa kampus ini yang menginspirasi JK Rowling dalam mendeskripsikan dining hall di Hogwarts. Beruntung, sebagai mahasiswa University of Oxford, suami bisa membawa tamu-tamu untuk mengunjungi kampus-kampus ini tanpa dipungut biaya.

Dining hall di Christ Church College yang menjadi inspirasi JK Rowling dalam menggambarkan dining hall di Hogwarts.

Selain bisa membawa tamu-tamu pribadi ke kampus-kampus ini dengan gratis, student card juga berfungsi sebagai kartu diskon yang bisa digunakan di beberapa toko.

Tempat-tempat shooting Harry Potter seperti Christ Church College, New College, Divinity School di Bodleian Library menjadi tempat favorit kami, karena saya dan suami sama-sama penggemar Harry Potter. Selain Harry Potter, ada beberapa film lain yang mengambil gambar di kampus-kampus ini. Di antaranya adalah; Exeter College, lokasi shooting film Dr Strange dan Natural History Museum lokasi shooting beberapa film Marvel.

Exeter College di musim dingin.
  • City Center Oxford.

Pusat perbelanjaan ini selalu ramai pengunjung, terlebih saat libur musim panas. Ada banyak toko, restoran, café, dan lain-lain. Kita juga bisa menikmati street performer yang bergantian menghibur para pengunjung yang lewat. Biasanya toko-toko di sini buka dari pukul 9.00 – 20.00 pada hari Senin-Sabtu. Di hari  Minggu, mereka buka lebih siang dan tutup lebih awal, sekitar pukul 17.00.

  • Bodleian Library, Radcliffe Camera dan Bridge of Sight.

Kata orang, belum ke Oxford kalau belum ke ikon-ikon kota Oxford yang ini. Bodleian library, perpustakaan utama University of Oxford ini merupakan salah satu perpustakaan yang tertua di Eropa. Perpustakaan yang memiliki lebih dari 12 juta koleksi ini merupakan perpustakaan terbesar kedua setelah The British Library.

Radcliffe Camera atau yang juga dikenal sebagai The Camera (dalam Bahasa latin, camera berarti room, ruangan), adalah sebuah gedung yang di dalamnya terdapat Radcliffe Science Library. Perpustakaan ini juga merupakan perpustakaan tua ikonis yang dimiliki University of Oxford.

Oxford Centre of Islamic Studies (OCIS). Pusat Studi ini meneliti tentang Islam, dari perspektif multi-disiplin dan semua aspek budaya dan peradaban Islam. Di sini banyak diselenggarakan kuliah, seminar, dan workshop yang berkaitan dengan Islam. OCIS memiliki masjid yang dibuka setiap waktu salat dan juga digunakan untuk menyelenggarakan salat Idulfitri. Tahun lalu kami berkesempatan untuk salat Idulfitri di sini setelah sebelumnya mencicipi pengalaman salat di lapangan sekolah dan masjid-masjid lain di Oxford.

Setelah sholat Ied di Oxford Center for Islamic Studies (OCIS).
  • Museum.

Ada beberapa museum di Oxford. Menariknya adalah, semuanya gratis! Natural History Museum dan Pitt River Museum menyimpan koleksi di bidang arkeologi dan antropologi. Ashmoleon Museum of Art and Archaeology di Beaumont street, adalah salah satu museum yang menyimpan Egyptian Mummy. Sedangkan History of Science Museum adalah museum yang koleksinya berupa artefak-artefak bersejarah di bidang pengetahuan. Semua museum ini dikelola oleh University of Oxford.

Suasana di dalam Pitt River Museum.

YANG TIDAK BOLEH DILEWATKAN DI OXFORD

  • Punting.

Punting adalah kegiatan mengitari sungai dengan sebuah perahu yang disebut punt dan didayung dengan pole. Untuk membuat perahu bergerak, pole harus didorong ke arah dasar sungai. Ada beberapa kampus di University of Oxford yang memberikan fasilitas free punting untuk mahasiswanya, salah satunya kampus suami saya. Biasanya kami harus memesan punt 1-2 minggu sebelumnya.

Ada banyak penyewaan punt di Oxford. Harga sewanya berkisar antara £18-20/jam untuk satu punt yang bisa diisi sekitar 6 orang.

Punting di Sungai Cherwell, Oxford. Punter-nya lagi istirahat.
  • Afternoon Tea.

Orang Inggris terkenal sekali dengan budaya minum tehnya. Tidak ada salahnya mencoba minum teh di café-café di Oxford. Lebih asik lagi, bisa mencoba di café-café tua yang gedungnya sudah berusia ratusan tahun.

  • Pick Your Own Farm.

Kegiatan ini biasanya disediakan oleh berbagai farm di musim panas. Pengunjung bebas memetik buah sendiri. Buah-buahan seperti apel, pear, blackberry, strawberry, dan raspberry bisa dipetik sendiri kemudian ditimbang dan dibayar.

  • Oxford Open Door.

Ini adalah event tahunan di kota Oxford. Ada banyak tempat wisata, institusi, dan kampus yang buka dan membebaskan biaya masuk alias, gratis! Event ini biasanya diselenggarakan beberapa hari di bulan September. Oxford Open Door adalah salah satu waktu terbaik untuk mengunjungi kota Oxford.

  • St Giles Fair.

Ini juga merupakan event tahunan di Oxford. Event ini bisa dibilang pasar rakyatnya kota Oxford. Ada banyak wahana bermain dan makanan tradisional khas pasar rakyat dijual di fair ini. Fair ini diselenggarakan 2 hari di bulan September.

St Giles Fair, nemenin anak main komedi putar karena belum bisa sendirian.

OXFORD, KOTA KECIL YANG MAHAL

Hidup di kota Oxford termasuk mahal dibandingkan dengan kota-kota lain di Inggris. Tidak heran jika jumlah beasiswa studi di Oxford disamakan dengan beasiswa studi kota London. Kebetulan, kami tinggal di salah satu akomodasi yang dimiliki University of Oxford. Meskipun harga akomodasi kampus lebih murah dibanding di luar kampus, tapi tetap saja mahal dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Inggris. Harga sewa flat 2 kamar yang kami tempati saat ini adalah £1158/bulan atau sekitar 23 juta rupiah dan sebentar lagi akan naik menjadi sekitar £1.200 karena setiap tahun harga sewanya naik 5%.

Oxford tidak selalu turun salju tiap tahun. Bahkan sebelum kami ke Oxford, tidak ada salju selama 4 tahun. Kami beruntung, di tahun pertama di Oxford, salju turun. Ini di taman di depan apartemen kami.

Sebagai keluarga muslim, kami membutuhkan bahan makanan halal (daging, ayam, dan semacamnya) yang tidak selalu tersedia di setiap toko atau supermarket. Tapi kami beruntung masih bisa belanja bahan makanan halal online atau pergi ke kawasan muslim Cowley Road yang jaraknya pun tidak terlalu jauh. Di sepanjang jalan itu, berderet toko-toko dan restoran halal. Ini merupakan salah satu tempat favorit kami untuk berbelanja bahan makanan halal atau sekedar makan-makan di akhir pekan. Untuk makan di restoran biasanya kami berdua menghabiskan £25-30 atau sekitar lima sampai enam ratus ribu rupiah sekali makan. Kadang-kadang kalau sedang tidak bisa memasak, kami membeli kebab untuk lauk berdua. Lumayan, harganya cukup terjangkau, sekitar  pada jenis-jenis kebab £7-10.

Salah satu kegiatan di akhir pekan, ngeteh atau jajan di cafe di pusat kota.

Selain itu, ada katering yang menjual masakan Indonesia. Biasanya dijual sekitar £6-7 per porsi sudah termasuk nasi dan lauknya. Walaupun demikian, harga makanan-makanan tersebut memang jauh dibandingkan dengan harga mentahnya. Harga daging mentah sekitar £9/kg, ayam £3/kg, beras £6-8/kg, dan telur £1-2/lusin. Itulah mengapa kita memilih untuk memasak setiap hari.

Untuk biaya potong rambut juga terhitung mahal. Suami saya biasanya menghabiskan £12 (240 ribu rupiah) di barbershop termurah. Nonton di bioskop dihargai £5 untuk mahasiswa dan sekitar £12 untuk dewasa, itupun harga khusus di hari kerja. Berenang untuk 2 dewasa dan 1 balita sekitar £9-10.

Hanya ada bus dan taxi sebagai moda transportasi umum di dalam kota Oxford dengan tarif yang cukup mahal. Tiket bus misalnya, jarak terdekat dimulai dari £2 sekali jalan. Sedangkan taxi, tarif minimalnya sekitar £5.5.

KOMUNITAS WARGA INDONESIA

Biasanya, warga Indonesia yang tinggal di Oxford berkumpul saat PPI (Perkumpulan Pelajar Indonesia) mengadakan acara. Selain PPI, ada juga pengajian At-Taqwa, yang biasanya dilaksanakan satu bulan sekali. Selebihnya, lebih banyak pertemuan informal sesama ibu-ibu saja. Kadang berkumpul karena hobi yang sama, atau hanya sekedar menemani anak-anak kami bermain.

Main salju bareng teman-teman Indonesia yang tinggal satu komplek.

MELAHIRKAN DAN MEMBESARKAN ANAK

Anak pertama kami lahir di tahun pertama kami tinggal di Oxford. Bisa dibilang, tahun pertama itu adalah masa terberat sepanjang sejarah hidup kami. Kenyataan bahwa ini bukan pertama kalinya bagi saya hidup di luar negeri tidak juga membuat keadaan awal tinggal di sini menjadi lebih mudah. Mungkin, karena dulu saya masih sebagai mahasiswa single. Sekarang sebagai Ibu degan suami dan anak yang harus diurus, ternyata pengalamannya sangat jauh berbeda.

Rasa berat itu kami rasakan berdua. Suami mempunyai peran baru sebagai kepala keluarga, seorang ayah, dan masih harus beradaptasi dengan budaya di Inggris, ditambah pressure yang tinggi di awal masa pendidikannya di kampus. Sedangkan saya sebagai first-time-mom tanpa didampingi siapapun kecuali suami, cukup membuat saya stress dan kewalahan.

Kami beruntung, ada keluarga yang menemani hingga sekitar 2 minggu paska persalinan. Selain itu, semua tenaga medis, dokter, bidan, suster, health visitor, memberikan dukungan baik sebelum, saat, dan paska persalinan. Beruntungnya lagi, kami tidak lagi harus membayar biaya persalinan maupun segala tindakan operasi. Tidak ada biaya konsultasi dengan dokter, biaya rumah sakit, biaya obat, dan lain sebagainya. Bahkan sejak lahir sampai anak kami berusia satu tahun, semua keperluan obat, program keluarga berencana, juga termasuk konsultasi ke dokter gigi bisa didapatkan secara gratis. Semuanya itu sudah ditanggung oleh asuransi yang kami bayarkan saat membuat visa.

Dukungan pemerintah sangat kami rasakan. Terlebih ketika paska persalinan, petugas kesehatan dan bidan secara rutin datang ke rumah kami untuk memeriksa kesehatan (baik fisik maupun mental) Ibu dan bayi.

Seiring berjalannya waktu, keadaan mulai membaik. Suami sudah bisa beradaptasi dengan pendidikannya, juga bisa bekerja dengan jam yang mulai teratur dan pembagian pekerjaan rumah tangga yang jelas.  Kami mendiskusikan pembagian tugas ini dengan jelas, sehingga jadwal menjaga anak, memasak, cuci piring, cuci baju, buang sampah, membersihkan rumah sampai jadwal me-time bisa terpolakan dengan baik dan kehidupan baik di kampus dan di rumah bisa berjalan dengan seimbang.

Tidak lupa juga kami menyisipkan waktu bersantai di setiap akhir pekan. Kadang kami pergi ke luar kota saat liburan atau long weekend.

Berlibur ke Branksome Beach.

Sejak anak kami lahir, ada banyak kegiatan yang saya ikuti, dari kelas memijat bayi, sekolah musik untuk balita, dan lain sebagainya. Ada banyak klub bayi dan anak (biasanya disebut Stay and Play di sini) di berbagai tempat di Oxford. Ada yang di sekolah, di gedung serbaguna, di tempat peribadatan, dan lain-lain. Rata-rata Stay and Play tersebut tidak dipungut biaya. Kalaupun dipungut biaya, biayanya angat murah hanya sekitar £1-2 untuk pengganti snakcs dan minum kita selama di sana. Taman dan playground pun banyak dan mudah sekali dijumpai.

Tahun ini, anak kami sudah berusia tiga tahun. Di Inggris, anak yang sudah menginjak usia tiga tahun sudah bisa mendaftar Nursery, dengan waktu bermain dan belajar 15 jam dalam satu minggu, Senin sampai Jumat, 3 jam per hari. Biayanya gratis, ditanggung oleh pemerintah. Sayang sekali, anak kami belum bisa memulai kelasnya di masa pandemi ini karena semua sekolah masih diliburkan.

Selama kurang lebih 3.5 tahun di Oxford, ada banyak pengalaman yang kami lewati bersama. Merantau di luar negeri tentu tidak mudah, tapi kami percaya bahwa semua kesulitan akan bisa dihadapi bersama. Kami hanya butuh waktu untuk beradaptasi. Kami pun percaya, perjuangan kami selama bertahun-tahun di tanah rantau ini banyak membawa perubahan dalam hidup dan diri kami.

“Once the storm is over you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, in fact, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm you won’t be the same person who walked in. That’s what this storm’s all about.”

Haruki Murakami-

Last but not least, selamat merantau!

Mega bisa dijumpai secara virtual di Instagram (@mega_ai) dan Youtube channel (Mega Aisyah).

Foto-foto pada laman ini adalah karya Mega dan beberapa di antaranya terhubung langsung dengan link asli dari image yang digunakan.

Berbagi Resep Mudah

Hallo nama saya Vivi Nowotny, asal Bandung. Menikah seorang laki-laki dari Austria. Pernikahan kami di Bandung tepatnya 12 tahun lalu, setelah 6 bulan menikah saya pindah ikut suami pindah ke kota Steyr di Upper Austria.  

Merantau di Steyr

Steyr termasuk salah satu kota terindah di Austria, jadi banyak turis datang kesini. Selain kota bersejarah, pemandangan yang sangat indah dan objek wisata menarik lainnya.

Sekilas pemandangan di Kota Steyr

Oh ya, kembali lagi cerita tentang saya, satu tahun setelah pernikahan. Lahir anak perempuan kami yang pertama. Awal tinggal disini saya harus banyak beradaptasi. Seperti kebanyakan perantau tentunya, baik beradaptasi dengan bahasa, lingkungan, budaya, cuaca dsb. Lambat laun semuanya terbiasa. Biarpun begitu ada yang susah untuk di adaptasi dengan diri sendiri yaitu saat kangen keluarga, teman, juga wisata kuliner di Indonesia, haha. 

Biasanya kami setahun sekali pulang kampung, tapi di tahun 2012 dan 2015 kami pindah dan tinggal di Jakarta karena kebetulan suami harus tugas kerja lama di Jakarta. Saat di Jakarta saya melahirkan anak perempuan yang kedua. Tiga tahun itu terasa cepat sekali, karena di saat anak-anak sudah terbiasa dengan Jakarta, dekat dengan keluarga dan teman teman, kami harus kembali lagi ke Austria. 

Sedikit flashback tentang saya, sebetulnya tidak ada yang istimewa, jadi sebelum menikah saya pernah berkerja di salah satu Event Organizer – Promotion Services di Bandung selama kurang lebih 8 tahun. Dunia dapur sudah tidak asing bagi saya, sejak kecil terbiasa melihat dan membantu nenek yang kebetulan berjualan makanan dan catering. Jadi buat saya memasak itu pengobat kangen. Kembali lagi ke awal pindah ke Austria, karena masak adalah obat kangen. Hampir tiap hari saya memasak.

Let’s Get Baking Together

Saat di waktu senggang suka browsing internet (waktu itu belum zamannya smartphone). Dan tentu punya di salah satu media sosial yang booming waktu itu Facebook. Saya mulai berkenalan dengan teman-teman di tanah air dan mulai posting foto, saya lebih suka memosting hasil foto masakan di FB dan tidak disangka dengan begitu bisa banyak berkenalan untuk sharing resep dan pengalaman di dapur. Buat saya itu hobby yang sangat positif. Singkatnya saya berkenalan dengan teman teman satu hobby. Kami berempat sepakat membentuk group baking online LBT (Let’s Get Baking Together ) salah satu grup baking yang ada di FB.

LBT grup adalah wadah untuk para pecinta dunia baking. Kita berbagi resep, tips and trick, bahan bahan kue, juga order Kue untuk para bakulers dsb. Lebih dari itu kami seperti keluarga besar. Bermula dari 4 orang hingga sekarang anggota kami 300 orang lebih ( kami meyeleksi terlebih dahulu yang ingin bergabung ) dan sekarang LBT pun ada di Instagram. 

Dan disini saya sekarang bekerja dan sekolah di bidang Gastronomi. Tidak jauh dari dunia perdapuran. Dapur adalah tempat yang paling saya senangi, bagi saya cooking and baking is my passion. Perdapuran membuat saya relaks dan memacu saya untuk beraktivitas, berkreasi dan kreatif, terutama menghidangkan untuk keluarga tercinta. 

Saya ingin sharing juga beberapa hasil kreasi dari dapur yang mungkin bermanfaat dan step by stepnya bisa lihat di YouTube channel saya melalui tautan ini.

Scallion Flower Rolls 

Adalah satu satu jenis Dimsum dengan bentuk yang menarik. Bahan bahannya hampir sama, dalam cara membuat atau membentuk ada 2 versi, menurutku lebih mudah menggunakan bantuan sumpit untuk membentuknya. 

Bahan : 

300 g Tepung serba guna

170 g Susu hangat kuku

3 g Dried Yeast ( Ragi kering )

15 g Gula pasir ( kurleb 3 Sdm ) 

1/2 sdt Garam 

1 batang Daun Bawang

Minyak untuk olesan

Garam untuk taburan secukupnya

BENEDICT BARS 

Benedict Bars berasal dari Afrika Selatan, lapisan shortbread dengan topping selai raspberry dan irisan almonds. Teksturnya yang lumer di mulut dan dengan rasa manis raspberry jam, mmm bikin nagih :D. Pembuatannya sangat mudah dan cepat. 

Bahan shortbread : 

150 g Unslated butter  (room temperature) + extra untuk olesan loyang

225 g Tepung serba guna

25 g Maizena 

1/2 sdt baking powder 

Bahan Topping : 

80 g Unslated butter 

30 g Gula pasir

1 sdt Vanilla essence

150 g Flaked almonds ( almond iris )

3 sdm Susu cair

Raspberry Jam – secukupnya 

BAEURNKRAPFEN

BAUERNKRAPFEN adalah salah satu kue / makanan khas dari Austria. Kebetulan saya tinggal lama disini jadi mengenal makanan khas disini. 

Untuk Bauernkrapfen sendiri mungkin sudah tidak asing karena bahan dasarnya hampir sama dengan bahan pembuatan roti goreng lainnya. Karena bentuk yang berbeda dan asal daerah, Nama makanan itu pasti berbeda pula. Bauern yang berati Farmer / petani. Krapfen yang berarti kue Donat. Jadi.. BAUERNKRAPFEN artinya Donatnya para Petani dari Austria 😀 

Bahan kering : 

255 g  : 120 g Tepung serba guna + 135 g tepung protein tinggi 

40 g Gula pasir

1/2 sdt Garam

1/2 sdt Cinnamon bubuk

1/4 sdt Pala bubuk / parut

Bahan Basah : 

120 g Susu hangat suam-suam kuku

40 g Butter cair

1 butir Telur kocok lepas

5 g Ragi Instant 

Mie dari Tepung Hun Kwe 

Bahan : 

1 bungkus Hun kwe ( 120 gram )

250 gram Air suhu ruang

1 Liter Air 

1 batang Mentimun, iris korek api

1 batang Worten, iris korek api 

Bahan Saus : 

1 sdm Kecap kikkoman

1 sdm Air jeruk nipis ( atau Balsamico vinegar )

1 sdt Minyak wijen

1 sdm Madu

1/4 sdt garam

1/4 sdt penyedap ( optional )

Bahan taburan : 

Irisan bawang daun

Wijen secukupnya 

Flaky Biscuits 

Bahan:

255 gram tepung serbaguna

1 1/2 sdt baking powder

1/4 sdt soda kue

1 sdt garam 

90 gram unsalted butter beku, parut dan kembali di bekukan sebelum digunakan. 

150 ml buttermilk (* lihat catatan. 

2 sdm butter cair dingin, untuk olesan. 

Stik Kipas 

Takaran bahan sudah pas untuk membuat Stik ini ringan, renyah, dan tahan lama. Cocok untuk isi toples hari raya nanti !

Resep Stik Kipas 

Bahan : 

255 gram Tepung terigu serba guna

6 gram Tepung tapioka / sagu tani

18 gram Olive oil ( bisa memakai Sunflower oil / Minyak Sayur ) 

75 gram Air suhu ruang

28 gram Telur yang sudah di kocok lepas

1 sdt wijen 

1 sdt Mushroom / Veggie powder ( chicken powder )

1/2 sdt Bawang putih bubuk

1/2 sdt Garam 

Selamat mencoba! Semua resep dapat disimak tutorialnya di YouTube Vivi Nowotny dan IG @vivi_nowotny ya!


Merantau di Leeds

Vinka Maharani – Hallo! Saya Vinka, ibu dari satu anak perempuan. Sejak Juni 2019 tinggal di Leeds, UK karena mengikuti suami yang sedang studi di sini. Saya bekerja paruh waktu sebagai Resident Assistant di salah satu student housing bernama Unipol. Bersama kawan, saat ini saya membuat & menjalankan VIP Talks podcast yang berbicara tentang perempuan, pernikahan & keluarga. Saat di Indonesia saya mengajar rajut knitting & crocheting. Di saat senggang saya belajar lagi & melatih skill merajut saya.

Pindah ke Leeds

Saya dan keluarga berpindah ke Leeds karena suami menempuh pendidikan S3 di University of Leeds. Selama hampir setahun tinggal di sini, Alhamdulillah pengalamannya baik-baik semua.

Di Leeds, atau mungkin lebih tepatnya Yorkshire, orangnya ramah-ramah sekali. Panggilan yang lazim digunakan untuk menyapa orang lain (asing maupun yg sudah kenal) adalah Love, Darling, Sweetheart, Mate & Lad. Hal ini sangat umum, dipakai oleh siapa pun kepada umur berapa saja. Kalau ke pasar, tempat-tempat umum yang dikelola oleh native, maka kalian akan mendapat sapaan hangat ini. Malah tidak jarang ditambah dengan kedipan mata. Dan mayoritas semua orang ya gini, nggak orang jual di pasar, pak-ibu tukang pos, tukang ledeng, security, siapa saja. 

Bekerja di Unipol

Unipol adalah sebuah student housing, menyediakan akomodasi untuk pelajar di Leeds, Bradford & Nottingham. Saya bekerja di salah satu development complex yang kira-kira mengakomodir 250an orang, sebagai Resident Assistant. Tugas saya kira-kira seperti ibu kos lah, menyiapkan kedatangan mahasiswa, menerima komplain, cek untuk perbaikan, dan menjalankan event untuk gathering. Pekerjaan yang menyenangkan bagi saya, karena bertemu dengan berbagai macam pelajar dari berbagai bangsa & negara. 

Podcast

Karena sering ditanya & dicurhatin tentang pernikahan, saya berpikir sepertinya lebih baik jika problem & solusi dari pembicaraan tersebut bisa di-share ke lebih banyak orang agar bermanfaat. Kemudian saya berpikir, jika hanya berdasarkan pengalaman pribadi saya rasanya akan terlalu subjektif, maka saya mengajak kawan saya Cahya Haniva yang sedang menempuh master di jurusan Family Studies University of Minnesota untuk bergabung. Dari situlah kami memulai VIP Talks (Vinka Iphip Pillow Talks). Topik yang kami bahas adalah perempuan, pernikahan, keluarga dan hal-hal yang ada di sekitarnya. Episode yang paling banyak didengar saat ini berjudul “Is he the one? Panduan Tak Wajib untuk Mempertimbangkan Calon Pasangan Seumur Hidup”.

Untuk mengaksesnya bisa langsung ke anchor.fm/viptalks atau search di Spotify, Google Podcast, Apple Podcast “VIP Talks”. 

https://www.instagram.com/vinkamaharani/

Merantau di Belfast

Ayudhia Utami – Halo! Saya Ayudhia, seorang Ibu dari dua anak yang sedang di masa aktifnya, Arsyila (3,5 tahun) dan Kenzie (1,5 tahun). Kami sudah bermukim di Belfast, Irlandia Utara selama 1 tahun 2 bulan, karena mengikuti suami yang sedang menjalani pendidikan di Queen’s University Belfast.

Belfast letaknya berada di antara Irlandia Utara (Britania Raya / UK) dan Irlandia (Eropa). Belfast sangat berbeda dengan wilayah UK lainnya yang ramai seperti London atau Manchester, suasana di sini tenang dan jauh dari hiruk pikuk.

Tempat favorit yang biasa dikunjungi di sini ada banyak sekali, seperti Giant Causeway, Stormont, Botanic Garden, Titanic Museum, Belfast Castle, dan lain sebagainya. Belfast juga menjadi salah satu tempat di mana Game of Thrones berasal lho, juga tempat pembuatan Kapal Titanic, sehingga menjadi pariwisata yang menarik dan paling terkenal di sini…! Penduduk di Belfast juga sangat ramah, baby & kids friendly, saling menyapa ketika bertemu, sopan santun ketika bertutur, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kami nyaman sekali tinggal di Belfast 💛

Credit: Manchester’s Finest
Credit: The Times

Merantau di Innsbruck

Meidesta Pitria – Hallo! Saya Meidesta, asli dari Jogja, dan dulu sempat menghabiskan waktu sekitar 5 tahun diantara Depok-Jakarta untuk S1 di UI dan bekerja. Saya lulusan S2 Arsitektur dan Urban Planning dari Jepang yang tiba-tiba merantau ke Innsbruck, Austria.

Saya kenal sama suami sekitar 6 bulan sebelum lulus S2. Tadinya saya mau lanjut langsung S3 di Jepang, tapi suami melamar saya dan takdir membawa kami ke Innsbruck. Suami dan saya sepakat untuk memulai keluarga kecil bersama di Innsbruck. Dan alhamdulillah di tahun kedua saya disini, kini kami sudah bertiga dengan anak perempuan pertama kami yang berusia 10bulan. Ohya, suami saya sedang studi S3 di Centrum für Chemie und Biomedizine. Baru saja sidang dan insya Allah akan wisuda bulan depan.

Innsbruck itu kotanya kecil dan dikelilingi oleh Pegunungan Alpen yang indah banget. Kemana-mana dekat. Luasnya sebesar kota Semarang tapi jumlah penduduknya hanya sekitar 100.000. Innsbruck posisi kotanya ada di 600 meter di atas daratan dan dikenal sebagai City of Alps. Air kerannya enak banget 😄💙…! Mungkin karena di Pegunungan Alpen ya. Selain itu, saya merasa Innsbruck memiliki banyak taman bermain dan berbagai fasilitas untuk ibu-anak yang sangat membantu kehidupan saya sebagai mamarantau. Saya hamil dan melahirkan di Innsbruck yang jauh sekali dari Indonesia, dan belum ada satupun saudara yang berkunjung (bahkan mama dan mertua kebetulan belum pernah kesini). Kondisi ini membuat saya harus belajar mandiri dan kuat. Masa-masa hamil tua dan melahirkan disini menjadi masa-masa yang tidak akan pernah terlupakan. Beruntungnya ada fasilitas dari negara, new mom mendapatkan pendampingan dari bidan yang rutin datang ke rumah untuk menemani saya si new mom selama sebulan pertama setelah melahirkan.

Hal yang paling saya sukai di Innsbruck adalah naik gunung! Ke Puncak Hafelekar atau sekedar ngopi-ngopi di Seegrube yang posisinya 2300m di atas daratan, bisa pakai cable car, bisa hiking melewati rute menanjak yang dipenuhi pepohonan indah luar biasa. Saya juga sering menghabiskan waktu di taman-taman bermain dan di komunitas orangtua-anak di Innsbruck.


Merantau di Fulda

Jolla Riza Jollanda – Hallo! Namaku Jolla, usia 31 tahun. Ibu dari 3 anak laki-laki (2 adalah kembar) yang sangat AKTIF sekali. Hehehe. Aku lulusan dokter di Universitas Andalas, Padang.

Dari sebelum menikah, aku sudah mempunyai cita-cita untuk melanjutkan spesialisku di Eropa. Entah itu yg namanya takdir Tuhan, aku bertemu suamiku saat aku menjalankan student exchange di Wina, Austria. Dia orang Indonesia yg sedang menjalankan pendidikan dokter di Wina. Ya, itulah yg namanya jodoh, cinta pada pandangan pertama dan akhirnya berjodoh dengannya 😄 .

Kami sekeluarga sekarang tinggal di Fulda, kota kecil berpenduduk hanya 68ribu. Letaknya sekitar 100km dari kota Frankfurt, Jerman. Suamiku melanjutkan pendidikan spesialisnya di sini maka dari itu akupun ikut suami dari tahun 2015.

Bagi kami yg biasa tinggal di Jakarta, Fulda hanyalah kota kecil yang jauh dari kata modern. Tapi dari awal tinggal di sini, dan sekarang sudah hampir 4 tahun, kami merasa suka dan nyaman tinggal di Fulda. Selain semua kebutuhan kami terpenuhi, di kota ini masih banyak penghuni asli orang Jerman, jadi dengan bahasanya pun kami bisa cepat belajar. Dan jika kami ingin lebih ke “kota“ kami langsung ke Frankfurt yang hanya 1 jam perjalanan. .

Oh ya, di Fulda setiap 1 tahun sekali juga diadakan yg namanya “Schützenfest“ waaahhh ini acara yang sangat ditunggu-tunggu! Lalu ketika musim dingin tiba, kami selalu menyempatkan main ski di Wasserkuppe (puncak tertinggi di Fulda)- dan jika musim panas tiba juga ada tempat wahana bermain untuk keluarga.

Being a mamarantau is not so easy, I gotta tell you hahahaha! Tapi aku belajar banyak sekali hal yang tidak aku dapatkan jika menetap di Jakarta. Dan setelah hampir 4 tahun menjadi ibu rumah tangga, akhirnya Tuhan menjawab doaku dan bulan depan aku akan melanjutkan spesialisku di Fulda 🖤 .

Ohya! Kami hobi sekali jalan-jalan. Mempunyai anak yang masih kecil tidak menyurutkan niat kami untuk explore kota dan negara lain ⛴️✈️