Berbagi Resep Mudah

Hallo nama saya Vivi Nowotny, asal Bandung. Menikah seorang laki-laki dari Austria. Pernikahan kami di Bandung tepatnya 12 tahun lalu, setelah 6 bulan menikah saya pindah ikut suami pindah ke kota Steyr di Upper Austria.  

Merantau di Steyr

Steyr termasuk salah satu kota terindah di Austria, jadi banyak turis datang kesini. Selain kota bersejarah, pemandangan yang sangat indah dan objek wisata menarik lainnya.

Sekilas pemandangan di Kota Steyr

Oh ya, kembali lagi cerita tentang saya, satu tahun setelah pernikahan. Lahir anak perempuan kami yang pertama. Awal tinggal disini saya harus banyak beradaptasi. Seperti kebanyakan perantau tentunya, baik beradaptasi dengan bahasa, lingkungan, budaya, cuaca dsb. Lambat laun semuanya terbiasa. Biarpun begitu ada yang susah untuk di adaptasi dengan diri sendiri yaitu saat kangen keluarga, teman, juga wisata kuliner di Indonesia, haha. 

Biasanya kami setahun sekali pulang kampung, tapi di tahun 2012 dan 2015 kami pindah dan tinggal di Jakarta karena kebetulan suami harus tugas kerja lama di Jakarta. Saat di Jakarta saya melahirkan anak perempuan yang kedua. Tiga tahun itu terasa cepat sekali, karena di saat anak-anak sudah terbiasa dengan Jakarta, dekat dengan keluarga dan teman teman, kami harus kembali lagi ke Austria. 

Sedikit flashback tentang saya, sebetulnya tidak ada yang istimewa, jadi sebelum menikah saya pernah berkerja di salah satu Event Organizer – Promotion Services di Bandung selama kurang lebih 8 tahun. Dunia dapur sudah tidak asing bagi saya, sejak kecil terbiasa melihat dan membantu nenek yang kebetulan berjualan makanan dan catering. Jadi buat saya memasak itu pengobat kangen. Kembali lagi ke awal pindah ke Austria, karena masak adalah obat kangen. Hampir tiap hari saya memasak.

Let’s Get Baking Together

Saat di waktu senggang suka browsing internet (waktu itu belum zamannya smartphone). Dan tentu punya di salah satu media sosial yang booming waktu itu Facebook. Saya mulai berkenalan dengan teman-teman di tanah air dan mulai posting foto, saya lebih suka memosting hasil foto masakan di FB dan tidak disangka dengan begitu bisa banyak berkenalan untuk sharing resep dan pengalaman di dapur. Buat saya itu hobby yang sangat positif. Singkatnya saya berkenalan dengan teman teman satu hobby. Kami berempat sepakat membentuk group baking online LBT (Let’s Get Baking Together ) salah satu grup baking yang ada di FB.

LBT grup adalah wadah untuk para pecinta dunia baking. Kita berbagi resep, tips and trick, bahan bahan kue, juga order Kue untuk para bakulers dsb. Lebih dari itu kami seperti keluarga besar. Bermula dari 4 orang hingga sekarang anggota kami 300 orang lebih ( kami meyeleksi terlebih dahulu yang ingin bergabung ) dan sekarang LBT pun ada di Instagram. 

Dan disini saya sekarang bekerja dan sekolah di bidang Gastronomi. Tidak jauh dari dunia perdapuran. Dapur adalah tempat yang paling saya senangi, bagi saya cooking and baking is my passion. Perdapuran membuat saya relaks dan memacu saya untuk beraktivitas, berkreasi dan kreatif, terutama menghidangkan untuk keluarga tercinta. 

Saya ingin sharing juga beberapa hasil kreasi dari dapur yang mungkin bermanfaat dan step by stepnya bisa lihat di YouTube channel saya melalui tautan ini.

Scallion Flower Rolls 

Adalah satu satu jenis Dimsum dengan bentuk yang menarik. Bahan bahannya hampir sama, dalam cara membuat atau membentuk ada 2 versi, menurutku lebih mudah menggunakan bantuan sumpit untuk membentuknya. 

Bahan : 

300 g Tepung serba guna

170 g Susu hangat kuku

3 g Dried Yeast ( Ragi kering )

15 g Gula pasir ( kurleb 3 Sdm ) 

1/2 sdt Garam 

1 batang Daun Bawang

Minyak untuk olesan

Garam untuk taburan secukupnya

BENEDICT BARS 

Benedict Bars berasal dari Afrika Selatan, lapisan shortbread dengan topping selai raspberry dan irisan almonds. Teksturnya yang lumer di mulut dan dengan rasa manis raspberry jam, mmm bikin nagih :D. Pembuatannya sangat mudah dan cepat. 

Bahan shortbread : 

150 g Unslated butter  (room temperature) + extra untuk olesan loyang

225 g Tepung serba guna

25 g Maizena 

1/2 sdt baking powder 

Bahan Topping : 

80 g Unslated butter 

30 g Gula pasir

1 sdt Vanilla essence

150 g Flaked almonds ( almond iris )

3 sdm Susu cair

Raspberry Jam – secukupnya 

BAEURNKRAPFEN

BAUERNKRAPFEN adalah salah satu kue / makanan khas dari Austria. Kebetulan saya tinggal lama disini jadi mengenal makanan khas disini. 

Untuk Bauernkrapfen sendiri mungkin sudah tidak asing karena bahan dasarnya hampir sama dengan bahan pembuatan roti goreng lainnya. Karena bentuk yang berbeda dan asal daerah, Nama makanan itu pasti berbeda pula. Bauern yang berati Farmer / petani. Krapfen yang berarti kue Donat. Jadi.. BAUERNKRAPFEN artinya Donatnya para Petani dari Austria 😀 

Bahan kering : 

255 g  : 120 g Tepung serba guna + 135 g tepung protein tinggi 

40 g Gula pasir

1/2 sdt Garam

1/2 sdt Cinnamon bubuk

1/4 sdt Pala bubuk / parut

Bahan Basah : 

120 g Susu hangat suam-suam kuku

40 g Butter cair

1 butir Telur kocok lepas

5 g Ragi Instant 

Mie dari Tepung Hun Kwe 

Bahan : 

1 bungkus Hun kwe ( 120 gram )

250 gram Air suhu ruang

1 Liter Air 

1 batang Mentimun, iris korek api

1 batang Worten, iris korek api 

Bahan Saus : 

1 sdm Kecap kikkoman

1 sdm Air jeruk nipis ( atau Balsamico vinegar )

1 sdt Minyak wijen

1 sdm Madu

1/4 sdt garam

1/4 sdt penyedap ( optional )

Bahan taburan : 

Irisan bawang daun

Wijen secukupnya 

Flaky Biscuits 

Bahan:

255 gram tepung serbaguna

1 1/2 sdt baking powder

1/4 sdt soda kue

1 sdt garam 

90 gram unsalted butter beku, parut dan kembali di bekukan sebelum digunakan. 

150 ml buttermilk (* lihat catatan. 

2 sdm butter cair dingin, untuk olesan. 

Stik Kipas 

Takaran bahan sudah pas untuk membuat Stik ini ringan, renyah, dan tahan lama. Cocok untuk isi toples hari raya nanti !

Resep Stik Kipas 

Bahan : 

255 gram Tepung terigu serba guna

6 gram Tepung tapioka / sagu tani

18 gram Olive oil ( bisa memakai Sunflower oil / Minyak Sayur ) 

75 gram Air suhu ruang

28 gram Telur yang sudah di kocok lepas

1 sdt wijen 

1 sdt Mushroom / Veggie powder ( chicken powder )

1/2 sdt Bawang putih bubuk

1/2 sdt Garam 

Selamat mencoba! Semua resep dapat disimak tutorialnya di YouTube Vivi Nowotny dan IG @vivi_nowotny ya!


Merantau di Zurich

Nurul Asyifa Munawar – 𝗦𝘆𝗶𝗳𝗮 – 𝗧𝗿𝗮𝘃𝗲𝗹 𝗩𝗹𝗼𝗴𝗴𝗲𝗿. Indonesian Living in Switzerland, accompanying her husband pursuing a Ph.D. in ETH Zurich. Syifa loves photography, explores her current country and also makes youtube about travel inspiration in Switzerland

Saya dan suami sudah 4 tahun merantau dari Indonesia, sejak tahun 2016. Sebelumnya kami adalah sahabat sejak berkuliah S1 di ITB. Kemudian kami melanjutkan studi S2 di Inggris, saya di University of Birmingham dan suami di University of Edinburgh. Setelah lulus S2 kami menikah. Saya pindah dari Inggris ke kota Zürich, Swiss karena setelah lulus S2, suami langsung meneruskan ke jenjang PhD, dia mendapatkan posisi S3 di ETH Zürich. Saya pun ikut mendampingi.

Tentang Zurich

Zürich adalah kota terbesar di Swiss dan memiliki airport & stasiun kereta terbesar dan tersibuk di negara ini. Zürich merupakan salah satu pusat keuangan terbesar di dunia dan ibukota keuangan Swiss. Karena itu, tidak mengherankan bahwa kota ini sering dicap sebagai kota termahal dunia.

Foto di atas saya ambil dari lantai teratas St. Peter Kirche saat musim panas di hari yang cerah, sayangnya ini bukan tempat yg bebas untuk dimasuki, saya ke sana saat tour bersama women integration course.

Suasana Winter di Kota Zürich. Tahun ini salju lebih sedikit turun dibandingkan tahun kemarin. Salju yang turun di perkotaan Swiss seperti di Zurich, biasanya hanya turun sebentar dan tidak tahan lama, maksimal 1-3 hari. Berbeda dari salju2 yang turun di desa dan pegunungan Swiss, mereka awet dan tahan selama berbulan-bulan.

Kota lokasi film Crash Landing On You ini terkenal dengan gaya hidup dan belanja mewah. Akibatnya harga apapun di sini mahal-mahal, kecuali air minum, terdapat 1200 water fountain tersebar di kota ini siap minum.

Objek wisata di Zurich diantaranya ; Zurich Bahnhof, Bahnhofstrasse, Old town, Lindenhof Hill, Munsterbrucke, Lake Zurich. Rata-rata terkonsentrasi di pusat kota (zona 110) bisa jalan kaki atau naik tram dgn harga tiket transport 24jam, 8.8chf 133ribu rupiah/orang.

Hal yang Paling Disukai Selama Tinggal di Zurich

1. Transportasi Umum

Kendaraan umum di sini bersih, nyaman dan sangat tepat waktu, jarang sekali telat. Jarak antar kota pun tidak begitu jauh; dari Zurich ke Luzern, Bern, dan Basel dapat ditempuh 1 jam dengan kereta. Penduduk disini biasanya hanya membayar setengah dari harga tiket transport, karena berlangganan half-fare card seharga 185 chf yang bisa diperpanjang setiap tahun.

2. Suasana kota dan alamnya indah, bersih, dan kualitas airnya terjamin.

Kota-kota di Swiss, terutama di Zurich sangat bersih, bisa dibilang hampir tidak ada sampah di jalan, danau-danaunya pun airnya sangat bersih dan jernih. Selain itu Swiss juga terkenal dengan keindahan alammya yang dramatis, pedesaan dan gunung alpennya pun mudah dijangkau dengan bus, kereta ataupun kereta gantung. Kualitas airnya pun terjamin aman, tidak perlu khawatir minum air keran disini. Di kota Zurich tempat saya tinggal terdapat 1200 air mancur siap minum.

3. Lokasi negara sangat strategis, diapit oleh berbagai negara.

Jika kita lihat di Google Maps atau peta, lokasi Swiss diapit oleh berbagai negara, diantaranya Prancis, Jerman, Italia, Leichesten, dan Austria. Dalam beberapa jam perjalanan kita dapat sampai di Negara lain.

Contoh; dari Kota Geneva, Swiss ke Annecy, Prancis hanya 2 jam dengan bus. Saya dan suami pun suka berlanja kebutuhan sehari hari di kota perbatasan di Jerman yg hanya 1 jam dari Zurich, karena harga barang dan makanan di Jerman jauh lebih terjangkau dari Swiss. Untuk lebih lengkap/detailnya mengenai enaknya tinggal di Swiss bisa ditonton di youtube saya di sini ya.

Tantangan Selama Tinggal di Kota Zurich

1. Serba mahal

Hal yang paling sulit diterima ketika pindah ke sini adalah mahalnya semua harga dibandingkan dengan negara tempat saya tinggal sebelumnya. Apalagi saya tinggal di Kota Zurich, kota termahal di Swiss.

Saya kaget mengetahui harga nonton di bioskop untuk film berbahasa inggris di sini mencapai 20 Swiss Franc /orang (chf = swiss franc), 1 chf sekitar 17000 IDR. Harga makanan yang paling mahal di Supermarket Swiss adalah daging sapi harga sekilonya disini 25-75 chf per kg (384-1,1 juta/ kg) sedangkan di negara tetangga, Jerman hanya 6,5-12 euro per kg. Harga makan di restaurant biasanya diatas 60 chf untuk berdua, harga kebab termurah pun di swiss diatas 15 chf. Belum lagi harga apartemen studio di kota diatas 1000 chf/ bulan, kita wajib bayar iuran TV walaupun kita tidak pakai 400 chf/ tahun dan tiap bulan harus bayar asuransi diatas 350 chf/orang.

2. Kendala Bahasa

Di Swiss terdapat 4 bahasa official, yaitu Jerman, Prancis, Italia, dan Romansh. Kota Zurich terletak di wilayah Swiss yang berbahasa Jerman, walaupun demikian untuk sehari2 orang lokal berbicara dengan dialect Swiss-Jerman. Awal mula ke sini saya tidak mengerti dengan bahasanya (sampai sekarang saya masih belajar) beberapa orang disini sangat tersinggung jika kita berbicara dengan mereka langsung menggunakan bahasa Inggris.

3. Orang lokal cenderung tertutup, toko-toko tutup di hari libur dan Minggu, sedikit pilihan.

Hal menantang ketiga yang saya alami selama tinggal di Swiss adalah orang local cenderung tertutup; rata-rata tidak suka dengan kebisingan/ keributan, butuh proses untuk bergaul dengan mereka, yang pasti kita harus berbicara dengan bahasa Jerman.

Berbeda dengan di UK, salah satu negara surganya belanja, banyak sekali pilihan toko dan barang, toko-toko di Swiss pilihannya sangat terbatas di Swiss hanya ada 3 jenis Supermarket utama yang paling sering ditemui, yaitu Coop, Migros, dan Denner. Supermarket tambahan yang biasanya ada di kota besar, yaitu Aldi dan Lidl. Semua toko pukul 20.00 malam sudah tutup dan setiap hari libur dan hari Minggu supermarket tutup. Untuk lebih lengkap/detailnya mengenai kendala tinggal di Swiss bisa ditonton di YouTube saya berikut.

Keindahan Pemandangan Alam di Swiss

Zermatt – Desa bebas kendaraan bermotor terletak di Swiss Kanton Valais yang dapat ditempuh 3,5 jam naik kereta dari kota Zurich. Dari sini kita bisa melihat puncak Gunung Matterhorn.

Gunung Matterhorn
Suasana desa Zermatt saat musim gugur

Bangunan di atas adalah Chalet yang merupakan rumah tradisional Swiss. Bangunan-bangunan tua yang mendominasi desa Zermatt terbuat dari larch, pohon konifer, banyak ditemukan di daerah dingin belahan bumi utara. Kaya akan getahnya dan kayunya sangat tahan terhadap hama. Paparan sinar matahari dan cuaca bertahun-tahun menggelapkan kayu membuat warnanya menjadi hitam. Akibatnya, bangunan menjadi jauh lebih efektif dalam menyerap dan menyimpan panas.

Lauterbrunnen

Desa bak negeri dongeng, yang terdiri dari 72 air terjun, destinasi wisata wajib bagi para turis di Swiss, saya suka dengan desa ini karena jika menggunakan Swiss Day Pass atau travel pass kita gratis naik funicular (kereta gantung) dan cable car (biasanya naik cable car/funicular ada tambahan biaya) ke Gimmewald dan Murren yang merupakan desa di atas tebing Lauterbrunnen.

Jangan lupa untuk mencoba makanan khas Swiss yaitu cheese fondue.

Makanan khas Swiss Cheese Fondue di Lauter Brunnen

Gunung Bettmeralp dan Gunung Rigi

Gunung Bettmeralp terletak di Kanton Valais. Gunung Rigi terletak di dekat kota Luzern, kota tercantik di Swiss. Gunung Rigi terkenal sebagai the Queen of Switzerland Mountain. Dua gunung ini favorit saya di Swiss karena selain pemandangannya yang indah, kita tidak perlu tambahan biaya untuk naik ke puncak gunungnya, gratis dengan swiss day atau travel pass, biasanya untuk ke puncak gunung di Swiss kita perlu tambahan biaya.

Suasana winter di Bettmeralp

Desa Grindelwald

Grindelwald, salah satu desa gunung terbesar di Jungfrau Region. Lokasinya hanya 38 menit naik kereta dari Lauterbrunnen, di sini suasana lebih ramai turis dan banyak pertokoannya. Pemandangannya sangat indah dan dramatis karena desa ini dikelilingi berbagai gunung. Di luar pusat desa, terdiri dari chalet-chalet di padang rumput berbukit, tersebar di area yang cukup besar. Di Grindelwald kita dpt berkunjung puncak Grindelwald First, banyak aktivitas outdoor yang bisa dilakukan disana. Sayangnya kesana tidak dicover day/travelpass. Harga return ticketnya 72chf, 634 ribu/orang (disc 50% u/travelpass).

Foto ini diambil pada akhir April, saat musim semi dimana rerumputan berwarna hijau, cuaca sejuk dan salju di gunung masih ada dan tampak jelas.

Mürren

Salah satu desa yang menggambarkan desa sempurna di Pegunungan Alpen Swiss: tidak ada mobil, gunung di sekelilingnya, dan lereng serta hutan hijau. Pemandangan inilah yang kita lihat sesampainya di Desa Mürren setelah perjalanan 40 menit di udara dengan gondola lift.

Desa kecil & tertinggi di Jungfrau Region ini sangat cocok untuk pendaki, keluarga atau siapapun yang mencari ketenangan & kedamaian di Alpen. Saat winter di sini terdapat banyak salju.

Museum Einstein

Museum favorit saya di Swiss, di museum ini kita bisa melihat sejarah Albert Einstein, ilmuwan terkemuka dunia, penemu teori relativitas, peraih nobel fisika yang tinggal dan bersekolah di Swiss, riwayat hidupnya dari lahir hingga akhir hayatnya diceritakan dengan jelas di Museum ini.

A must-visit museum in Switzerland, Museum of Einstein, the world’s most prominent scientist. Einstein’s Inventions best known for his theory of relativity and the equation E=MC2, which foreshadowed the development of atomic power and the atomic bomb. He won the Nobel Prize for Physics in 1921 for his explanation of the photoelectric effect. Einstein is generally considered the most influential physicist of the 20th century.

Museum ini terletak di Kota Bern, 1 jam dari Kota Zurich dengan kereta. Tempat wisata terindah di swiss lainnya dapat dilihat di Youtube saya berikut.

Aktivitas di Zurich

Aktivitas saya selama tinggal di sini adalah mengikuti sekolah bahasa Jerman program dari pemerintah kota Zurich terdiri dari level A1 hingga B1, kelas yang saya ikuti adalah khusus untuk wanita dan menyediakan tempat penitipan anak.

Bersama teman-teman di kelas bahasa Jerman

Kemudian, saya juga mengikuti sekolah integrasi yang dikhususkan untuk seluruh wanita yang berada di kota Zurich. Rata2 yang ikut kelas ini adalah para istri dari suami yang bekerja di Kota Zurich. Salah satu aktivitasnya berkunjung ke Balai Kota Zurich menonton rapat parlemen pemerintah kota Zurich. Dari kedua sekolah tersebut saya mendapatkan teman dari berbagai negara.

Di waktu senggang saya juga membuat youtube channel – Syifa in Switzerland Vlog – seputar kehidupan dan informasi destinasi wisata di Swiss.


Semua foto adalah karya Syifa – pengalaman Syifa di Swiss dapat diikuti di Instagram: @syifa_in_switzerland dan Youtube: Syifa in Switzerland Vlog.

Merantau di Auckland

Kia Ora…! – yang artinya ‘hai’ atau ‘hello’ dan berasal dari bahasa asli Māori. Salam kenal dari keluarga rantau di Auckland, Selandia Baru atau New Zealand (NZ). Namaku Nurhayati (Yanti), tapi sapaan akrabku sejak menjadi ibu adalah ‘Amih’ so hampir semua orang memanggilku dengan sebutan Amih Yanti.

Kepindahan ke Auckland

Hijrahku ke ujung dunia ini sesuatu yang sepertinya tidak pernah terpikirkan oleh aku yang anak mama papa banget (boro-boro kepikiran merantau ke luar negeri, ke luar pulau waktu masih tinggal di Indonesia aja ngga deh). Kami merantau kurang lebih sudah 3 tahun sejak 2017 (suami sudah 5 tahun karena duluan pindah ke sini). Lalu kenapa harus ke New Zealand? Kenapa gak negara lain? dan apa latar belakang kami harus kesini? apakah sekolah S2, S3, atau??? Yess jawabannya yang atau itu hehe…

Suami awal ke sini hanya untuk belajar Bahasa Inggris (otomatis mendapat visa student). Nah, awal kisah hidup merantau bermula di sini (cerita lengkap ada di KALA Podcast, berikut jika mau menyimak:

Kenapa NZ? Tepatnya Auckland? Awalnya karena sudah ada sepupu yang tinggal di Auckland, pikirku setidaknya suami tidak akan merasa sendirian banget di sini, dan setelah banyak cari tahu tentang NZ, negara ini memang menarik hati. Singkat cerita, akhirnya suamiku bisa mendapatkan working visa (Alhamdulillah ada tempat kerja yang mau kasih sponsor).

Long Distance Marriage

Lalu bagaimana nasibku? Aku dan anakku tinggal di Bogor, artinya kami menjalani Long Distance Married selama 2 tahun (jangan ditanya susah ga jauh ama suami? jawabannya susah bangeet hihi) dan aku masih bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan telekomunikasi di Jakarta.

Setelah 2 tahun LDM, akhirnya aku memutuskan menyusul suami ( saat itu statusku Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan selama 2 tahun), masih galau melepaskan status ibu yang berkarir, hehe.

Tapi sejak kedatanganku di Auckland pada saat usia anakku 5,5 tahun, baru kuketahui bahwa anakku kesulitan belajar spesifik (dyslexia minor) akhirnya karena alasan untuk dapat fokus kepada tumbuh kembang anak, maka aku putuskan untuk pensiun dini menjelang masa cutiku berakhir.

Kehidupan di Perantauan

Syukurnya aku dapat menikmati peran menjadi IBU seutuhnya untuk mengurus anak, di mana hal ini tidak aku alami selama di Indonesia. Karena di Indonesia ada support system (keluarga besarku) dan ada yang selalu siap membantu, tapi kini selama tinggal di luar negeri mengajarkanku bahwa value hidup yang berharga adalah menjadi mandiri (yang merantau pasti tau rasanya mandiri di luar negeri hehe) dan aku sangat bersyukur karenanya.

Lalu apa aktivitasku selama di Auckland? Sejak dulu selalu beraktivitas dan berkarir sepertinya membuatku menjadi seseorang yang aktif, dan aku tetep pada prinsipku bahwa aku akan mengurus anakku, tapi tidak dipungkiri jiwa aktifku ini membuatku ingin berperan lebih di ranah publik, dan Qadarulloh Allah mudahkan aku menemukan pekerjaan yang jam nya mengikuti jadwalku (jadi aku bekerja saat anakku sekolah, sehingga nyaris anakku tidak menyadari bahwa ibunya bekerja, karena di pagi hari aku mengantarkannya, lalu pulang sekolah aku sudah siap menunggunya di depan kelas, dan aku juga aktif menjadi volunteer di sekolah).

Jenis pekerjaannya adalah menjadi asisten supervisor di salah satu hotel yang lokasinya 3 menit jalan kaki dari apartmentku (ini tips mau cari kerja, gak usah apply yang jauh, selain irit ongkos juga tidak menghabiskan waktu kita)

Lalu bagaimana jika school holiday ( setiap 1 term akan selalu ada libur 2 minggu lalu di akhir tahun liburnya 6 minggu), apakah aku bekerja? Yes, aku tetep mendollar (istilahnya), yakni dengan cara menjadi salah satu orang yang bersedia menjaga anak-anak (baby-sitting) di area apartementku saat orang tua mereka sibuk bekerja atau berkuliah.

New Zealand

Negeri di ujung dunia dengan keindahan alam yang selalu membuatku tak berhenti berdzikir atas ciptaanNya, kadang hasil foto tidak bisa mewakili karya nyata sesungguhnya yang sangat indah. Menghirup udara sejuk setiap hari membuatku bersyukur tiada henti. Kami tinggal di New Zealand bagian North tepatnya di kota Auckland dan ini saja tiap hari selalu dibuat takjub dengan birunya langit dan indahnya alam, apalagi kalo berkunjung ke southnya New Zealand seperti Queenstown aduhaaaai mata seakan dimanjakan dengan lukisan alam yang dijamin bikin speechless.

Auckland

  • Auckland ini dikenal dengan city of sails (kota pelayaran)
  • Auckland adalah kota yang bisa dibilang penduduknya lebih banyak dari kota lainnya di NZ karena disini adalah kota bisnis 
  • Auckland terkenal dengan Sky Tower yang menjulang tinggi di tengah kota
  • Auckland itu multi etnis ( beragam sekali pokoknya, jadi ga aneh kenapa toleransi disini menurutku bisa dibilang cukup tinggi, karena mereka menerima dengan baik keberagaman dan perbedaan)
  • Auckland juga terkenal dengan pantai pantai yang indah dan gunung gunung

Alasan Memilih untuk Tinggal di Auckland

Setiap bertanya kepada siapapun yang kutemui kenapa memilih Auckland? jawabannya hampir seragam, karena pendidikan sekolah dan tempat untuk tinggal bagus untuk tumbuh kembang anak.

Yap betul, itu jadi alasan utama akhirnya memutuskan tinggal di Auckland, karena :

  • Lingkungan nya bagus untuk sekolah anak
  • Playground dan regional park banyak sekali
  • Park luas sangat mudah ditemui
  • Banyak FREE FAMILY EVENT yang diselenggarakan disini
  • Pantai tersebar dimana mana
  • Ada tempat berenang yang dibawah auckland council untuk usia anak dibawah 17 th FREE, untuk spectator (cuma mengawasi) cukup 1 dollar
  • Water fountain yang banyak ditemui di public place, jadi ga hanya perlu bawa botol kosong untuk selalu refill air minum
  • Library yang selalu punya daya tarik untuk semua pengunjungnya karena design dan atmosphere yang bikin betah berdiam lama lama
  • Sekolah untuk anak bisa dibilang FREE, karena sistem bayar sekolahnya adalah donasi
  • Lokasi sekolah dan rumah dekat ( karena pemilihan sekolah disini berdasarkan area tempat tinggal)
  • Ruangan di kelas sekolah selalu di design dengan FUN (kelas primary tapi suasana kelasnya kaya anak TK fikirku di awal awal), anak belajar bukan di kursi mereka bisa berbaur duduk di bawah dan melakukan aktifitas yang kreatif.
  • Tidak ada ranking di sekolah, anak tidak dibandingankan dengan anak lain, tapi kualitas anak dibandingkan dengan diri nya sendiri ( jadi no pressure kan ya)

Alasan lain :

  • Family time yang banyak ( sang ayah kerja nya 8 jam dimulai 5 subuh jam 1 or 2 siang sudah dirumah )
  • Sistem kesehatan yang sudah terintegrasi dengan baik
  • Kesehatan untuk anak gratis
  • Sistem transportasi yang terintegrasi baik di bawah AT 
  • Toleransi yang tinggi
  • Hangatnya warga lokal
  • Alam yang bersih ( pelestarian alamnya yang bagus, contoh dilarang membuang sampah sembarangan), awan yang indah dan langit biru hampir setiap harinya
  • Mudah ditemukan makanan halal
  • Penduduk yang ramah
  • Komunitas muslim yang cukup banyak tersebar ( contoh ada kegiatan TPQ untuk anak anak dan ada pengajian untuk family)

Kendala Hidup di auckland : Biaya hidup yang mahal dibandingkan dengan kota lainnya.

Contoh : Sewa apartment di city area sepertiku 450 dollar per minggu (beruntung kami tinggal di apartment yang terkenal paling murah di City area karena sudah termasuk air dan listrik) tapi di sekitar sini banyak sekali yang d iatas 500 dollar per minggu. Pilihan lain adalah tinggal di sub urban (agak jauh dari city) sewa per minggu itu dengan harga 600 dollar bisa dapetnya sewa rumah

Contoh lain harga cabai untuk musim tertentu bisa 1 biji cabai itu 1 dollar alias Rp9.000-an. Untuk biaya makan diusahakan masak sendiri, karena kalo sering makan diluar dompet bisa tongpes hehe.

Untuk yang tinggal di city area kendala adalah di parkiran mobil, sulit mendapatkan tempat parkir jadi rata rata memilih untuk menggunakan bus atau kereta dan jika masih dekat berjalan kaki

Tapi untuk kami sekeluarga, sangat favorite menggunakan scooter listrik (anter jemput anak aja menggunakan scooter)

  • Semisal pengen les in anak, nah ini harus jeli hitung-hitungan karena semua les itungannya itu per jam atau kadang per 30 menit (contohnya les renang hitungannya 14 dollar per 30 menit)
  • Barber shop alias cukur rambut yang bisa dibilang mahal sekitar 20 s.d 25 dollar NZ (selama 3 th disini pak suami jadi tukang cukur untuk dirinya dan anak hehehe, pinter-pinter kita ngirit aja sih, hehe, dan jadi menemukan bakat terpendam kan yaaa)

Keunikan Kota Auckland

  • Penduduk asli aktif melestarikan budaya asli suku Maori
  • Pejalan kaki yang jarang menggunakan alas kaki (jadi ga aneh liat orang jalan gak pake sepatu or sandal, cuek aja gitu)
  • Masih adanya pasar tradisional yang bukanya seminggu sekali
  • Toko-toko akan tutup sekitar jam 4 or 5 sore 
  • Cuaca yang mudah berubah dalam satu hari ( hujan ibaratnya bisa kita tunggu, setelahnya sering muncul pelangi, lalu panas sepanas-panasnya. Dan ini cuaca dalam 1 hari loh!)
  • Kontur jalanan yang unik, jadi naik turun naik turun gitu deh 

Tempat Unik di Auckland

  • 10 Golden Frame yang tersebar di Auckland
  • Stasiun yang dijadikan apartment dan namanya adalah Apartment Railway (heritage building), jadi apartment ini memang dahulunya adalah stasiun dan sepertinya bangunanya tidak banyak dirubah jadi tetap berasa aura stasiunnya, unik bukan? Dan di tempat ini banyak sekali mahasiswa Indonesia bersama keluarganya tinggal di sini jadi kadang suka dibilang kampungnya orang Indonesia hehe..
  • Harbour bridge (swtiap ada kapal yang lewat jembatan akan berubah naik ke atas seakan-akan patah, ini jadi kesukaan anak-anak hehe)

Tips merantau ala kami :

1 . Jangan semua hal di convert dari dollar ke Rupiah bisa pusing kepala Barbie, bayangin aja 1 biji cabai kalo lagi musim summer begini harganya 1 dollar sebiji (kurang lebih kalo di kurs kan ke rupiah 9000, puarah kan :D)

2. Jangan lupa kemana-mana di tas selain banyak perlengkapan wajib yang aku yakini setiap ibu punya senjata wajib versi masing masing, nah sempilin juga botol kosong, kalo kalo mau kebelet ke toilet dibawa deh si botol itu, karena di sini kan toiletnya tidak ada spray airnya (kurang afdol aja gitu rasanya kalo ga dibasuh air, LOL)

3. Sebagai Muslim jika pada saat waktu shalat tiba, jika tidak menemukan tempat shalat biasanya kita mampir ke mall lalu cari parents room (disini kan parents room nya dibuat kaya kamar kamar gitu, nah bisa ikut shalat di situ deh karena kan kamarnya ditutup hehe), atau bisa juga shalat di taman.

Sekian kisah singkat dari keluarga rantau di Auckland, NZ. Adakah yang tertarik ingin mencicipi tinggal di Auckland, NZ?


Instagram: @nurhayatiachyarudinroi

Merantau di Leeds

Vinka Maharani – Hallo! Saya Vinka, ibu dari satu anak perempuan. Sejak Juni 2019 tinggal di Leeds, UK karena mengikuti suami yang sedang studi di sini. Saya bekerja paruh waktu sebagai Resident Assistant di salah satu student housing bernama Unipol. Bersama kawan, saat ini saya membuat & menjalankan VIP Talks podcast yang berbicara tentang perempuan, pernikahan & keluarga. Saat di Indonesia saya mengajar rajut knitting & crocheting. Di saat senggang saya belajar lagi & melatih skill merajut saya.

Pindah ke Leeds

Saya dan keluarga berpindah ke Leeds karena suami menempuh pendidikan S3 di University of Leeds. Selama hampir setahun tinggal di sini, Alhamdulillah pengalamannya baik-baik semua.

Di Leeds, atau mungkin lebih tepatnya Yorkshire, orangnya ramah-ramah sekali. Panggilan yang lazim digunakan untuk menyapa orang lain (asing maupun yg sudah kenal) adalah Love, Darling, Sweetheart, Mate & Lad. Hal ini sangat umum, dipakai oleh siapa pun kepada umur berapa saja. Kalau ke pasar, tempat-tempat umum yang dikelola oleh native, maka kalian akan mendapat sapaan hangat ini. Malah tidak jarang ditambah dengan kedipan mata. Dan mayoritas semua orang ya gini, nggak orang jual di pasar, pak-ibu tukang pos, tukang ledeng, security, siapa saja. 

Bekerja di Unipol

Unipol adalah sebuah student housing, menyediakan akomodasi untuk pelajar di Leeds, Bradford & Nottingham. Saya bekerja di salah satu development complex yang kira-kira mengakomodir 250an orang, sebagai Resident Assistant. Tugas saya kira-kira seperti ibu kos lah, menyiapkan kedatangan mahasiswa, menerima komplain, cek untuk perbaikan, dan menjalankan event untuk gathering. Pekerjaan yang menyenangkan bagi saya, karena bertemu dengan berbagai macam pelajar dari berbagai bangsa & negara. 

Podcast

Karena sering ditanya & dicurhatin tentang pernikahan, saya berpikir sepertinya lebih baik jika problem & solusi dari pembicaraan tersebut bisa di-share ke lebih banyak orang agar bermanfaat. Kemudian saya berpikir, jika hanya berdasarkan pengalaman pribadi saya rasanya akan terlalu subjektif, maka saya mengajak kawan saya Cahya Haniva yang sedang menempuh master di jurusan Family Studies University of Minnesota untuk bergabung. Dari situlah kami memulai VIP Talks (Vinka Iphip Pillow Talks). Topik yang kami bahas adalah perempuan, pernikahan, keluarga dan hal-hal yang ada di sekitarnya. Episode yang paling banyak didengar saat ini berjudul “Is he the one? Panduan Tak Wajib untuk Mempertimbangkan Calon Pasangan Seumur Hidup”.

Untuk mengaksesnya bisa langsung ke anchor.fm/viptalks atau search di Spotify, Google Podcast, Apple Podcast “VIP Talks”. 

https://www.instagram.com/vinkamaharani/

Merantau di Ontario

Astarina Maulida – Hai, aku Asta, mamarantau yang baru setahun menetap di Mississauga, sebuah kota di Ontario, Kanada. Kota ini cukup dekat dengan Toronto. Sebelum merantau aku dan suami berwiraswasta di Jakarta. Kami memutuskan untuk pindah ke Kanada demi pendidikan anak, karena sebelumnya suami juga bersekolah di Kanada sejak SMA. Saat ini aku dan suami bekerja dan anakku, Kioko bersekolah di TK di tingkat senior kindergarten.

Kali ini aku mau mengajak melihat sisi beratnya hidup di Kanada, yang pasti nggak hanya yang senang-senang aja. Selalu ada dua sisi dalam satu koin.

Summer
Winter

Apa aja nggak enaknya? Winter yang extreme sampai -35 derajat, summerpun sampai +40. Pencarian kerja yang sulit dan harus rela kerja kasar untuk banyak imigran, bahkan ada lho yang di negara asalnya itu dokter dan doktor phd tapi saat di sini harus ikhlas jadi uber driver. Kok gitu? Jangan lupa kualitas pekerja dari Kanada itu sangat bersaing. Harga rumah di sini juga mahal, di kota ini 500,000 CAD (5,5M) dapetnya rumah kecil. Kalau mau agak besar budget segitu di condo atau pinggiran kota lagi. Ada harga ada rupa, semakin jauh dari kota pasti commuting time nya bertambah. Harga plan internet hape juga mahalita, paksuami bilang termasuk salah satu yang termahal di dunia. 

Pajak pun, kalau belanja tax di province ini 13%, kalau makan kudu kasih tip lagi 10-15%. Belum lagi pajak penghasilan dari gaji minimal 20% maksimal 50%. Semakin tinggi gaji semakin besar potongannya. Untuk yang kerja di luar negeri tapi anak istri menetap di kanada pun si penghasilan suami dikenakan tax sebesar di Kanada karena keluarganya dianggap menikmati fasilitas di Kanada. Di luar harga yang mahal dan cuaca, jangan lupa culture yang berbeda dengan Indonesia, terutama aku suami dan Kioko itu minoritas lho, apalagi aku super visible minority (berjilbab). Oya di sini pekerjaan rumah tangga juga kudu gotong royong sama suami, bayangin masak, nyapu ngepel, cuci baju, cuci piring, anter anak sekolah, mandiin anak, didik anak, anter les anak, endesbre kalau nggak dikerjain berdua gimana bentuk rupa sang istri, haha. Belum lagi kalau istri kerja, harus urus daycare sampai anak usia 10 tahun yang biayanya lumayan menguras kocek.

Jadi hidup di Kanada nggak hanya plus, terlihat enak atau ”asik banget tinggal di luar negeri”. Saat menentukan pindah, semua konsekuensi harus kita terima. Aku dan suami tipe yang menikmati perjuangan ini, karena kita kebiasa berjuang, malah saat nyaman kita nggak tenang. Tentunya banyak juga positifnya tinggal di sini, tapi menurutku nggak fair jika hanya melihat di satu sisi yang indah. Justru hidup itu indah karena ada positif dan negatif dalam satu ruang. Embrace BOTH and enjoy…! 


astarina.maulida@gmail.com IG: @astarinamaulida

Merantau di Belfast

Ayudhia Utami – Halo! Saya Ayudhia, seorang Ibu dari dua anak yang sedang di masa aktifnya, Arsyila (3,5 tahun) dan Kenzie (1,5 tahun). Kami sudah bermukim di Belfast, Irlandia Utara selama 1 tahun 2 bulan, karena mengikuti suami yang sedang menjalani pendidikan di Queen’s University Belfast.

Belfast letaknya berada di antara Irlandia Utara (Britania Raya / UK) dan Irlandia (Eropa). Belfast sangat berbeda dengan wilayah UK lainnya yang ramai seperti London atau Manchester, suasana di sini tenang dan jauh dari hiruk pikuk.

Tempat favorit yang biasa dikunjungi di sini ada banyak sekali, seperti Giant Causeway, Stormont, Botanic Garden, Titanic Museum, Belfast Castle, dan lain sebagainya. Belfast juga menjadi salah satu tempat di mana Game of Thrones berasal lho, juga tempat pembuatan Kapal Titanic, sehingga menjadi pariwisata yang menarik dan paling terkenal di sini…! Penduduk di Belfast juga sangat ramah, baby & kids friendly, saling menyapa ketika bertemu, sopan santun ketika bertutur, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kami nyaman sekali tinggal di Belfast 💛

Credit: Manchester’s Finest
Credit: The Times

Merantau di Innsbruck

Meidesta Pitria – Hallo! Saya Meidesta, asli dari Jogja, dan dulu sempat menghabiskan waktu sekitar 5 tahun diantara Depok-Jakarta untuk S1 di UI dan bekerja. Saya lulusan S2 Arsitektur dan Urban Planning dari Jepang yang tiba-tiba merantau ke Innsbruck, Austria.

Saya kenal sama suami sekitar 6 bulan sebelum lulus S2. Tadinya saya mau lanjut langsung S3 di Jepang, tapi suami melamar saya dan takdir membawa kami ke Innsbruck. Suami dan saya sepakat untuk memulai keluarga kecil bersama di Innsbruck. Dan alhamdulillah di tahun kedua saya disini, kini kami sudah bertiga dengan anak perempuan pertama kami yang berusia 10bulan. Ohya, suami saya sedang studi S3 di Centrum für Chemie und Biomedizine. Baru saja sidang dan insya Allah akan wisuda bulan depan.

Innsbruck itu kotanya kecil dan dikelilingi oleh Pegunungan Alpen yang indah banget. Kemana-mana dekat. Luasnya sebesar kota Semarang tapi jumlah penduduknya hanya sekitar 100.000. Innsbruck posisi kotanya ada di 600 meter di atas daratan dan dikenal sebagai City of Alps. Air kerannya enak banget 😄💙…! Mungkin karena di Pegunungan Alpen ya. Selain itu, saya merasa Innsbruck memiliki banyak taman bermain dan berbagai fasilitas untuk ibu-anak yang sangat membantu kehidupan saya sebagai mamarantau. Saya hamil dan melahirkan di Innsbruck yang jauh sekali dari Indonesia, dan belum ada satupun saudara yang berkunjung (bahkan mama dan mertua kebetulan belum pernah kesini). Kondisi ini membuat saya harus belajar mandiri dan kuat. Masa-masa hamil tua dan melahirkan disini menjadi masa-masa yang tidak akan pernah terlupakan. Beruntungnya ada fasilitas dari negara, new mom mendapatkan pendampingan dari bidan yang rutin datang ke rumah untuk menemani saya si new mom selama sebulan pertama setelah melahirkan.

Hal yang paling saya sukai di Innsbruck adalah naik gunung! Ke Puncak Hafelekar atau sekedar ngopi-ngopi di Seegrube yang posisinya 2300m di atas daratan, bisa pakai cable car, bisa hiking melewati rute menanjak yang dipenuhi pepohonan indah luar biasa. Saya juga sering menghabiskan waktu di taman-taman bermain dan di komunitas orangtua-anak di Innsbruck.


Merantau di Fulda

Jolla Riza Jollanda – Hallo! Namaku Jolla, usia 31 tahun. Ibu dari 3 anak laki-laki (2 adalah kembar) yang sangat AKTIF sekali. Hehehe. Aku lulusan dokter di Universitas Andalas, Padang.

Dari sebelum menikah, aku sudah mempunyai cita-cita untuk melanjutkan spesialisku di Eropa. Entah itu yg namanya takdir Tuhan, aku bertemu suamiku saat aku menjalankan student exchange di Wina, Austria. Dia orang Indonesia yg sedang menjalankan pendidikan dokter di Wina. Ya, itulah yg namanya jodoh, cinta pada pandangan pertama dan akhirnya berjodoh dengannya 😄 .

Kami sekeluarga sekarang tinggal di Fulda, kota kecil berpenduduk hanya 68ribu. Letaknya sekitar 100km dari kota Frankfurt, Jerman. Suamiku melanjutkan pendidikan spesialisnya di sini maka dari itu akupun ikut suami dari tahun 2015.

Bagi kami yg biasa tinggal di Jakarta, Fulda hanyalah kota kecil yang jauh dari kata modern. Tapi dari awal tinggal di sini, dan sekarang sudah hampir 4 tahun, kami merasa suka dan nyaman tinggal di Fulda. Selain semua kebutuhan kami terpenuhi, di kota ini masih banyak penghuni asli orang Jerman, jadi dengan bahasanya pun kami bisa cepat belajar. Dan jika kami ingin lebih ke “kota“ kami langsung ke Frankfurt yang hanya 1 jam perjalanan. .

Oh ya, di Fulda setiap 1 tahun sekali juga diadakan yg namanya “Schützenfest“ waaahhh ini acara yang sangat ditunggu-tunggu! Lalu ketika musim dingin tiba, kami selalu menyempatkan main ski di Wasserkuppe (puncak tertinggi di Fulda)- dan jika musim panas tiba juga ada tempat wahana bermain untuk keluarga.

Being a mamarantau is not so easy, I gotta tell you hahahaha! Tapi aku belajar banyak sekali hal yang tidak aku dapatkan jika menetap di Jakarta. Dan setelah hampir 4 tahun menjadi ibu rumah tangga, akhirnya Tuhan menjawab doaku dan bulan depan aku akan melanjutkan spesialisku di Fulda 🖤 .

Ohya! Kami hobi sekali jalan-jalan. Mempunyai anak yang masih kecil tidak menyurutkan niat kami untuk explore kota dan negara lain ⛴️✈️

Merantau di Turku

Screen Shot 2019-02-02 at 23.23.00Senny Sanjung A Seorang mantan cake decorator asal Bandung yang untuk sementara pindah ke Turku, Finlandia menemani suami bekerja. Sedang berusaha untuk melanjutkan hobby menggambar disela-sela kesibukan mengurus seorang bayi lucu bernama Nevan (1 tahun) dan Atreya (7 tahun)

Suami saya mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan IT di Finlandia sejak Desember 2017, namun karena saat itu saya sedang hamil tua, jadi perusahaan dengan baik hati menawarkan untuk menunda proses relokasinya sampai bulan Juli 2018 (rencananya) setelah anak ke-2 saya agak besar. Tetapi karena proses administratif yang panjang dan tidak selesai sesuai jadwal, akhirnya kami baru pindah di Bulan September 2018 ini.

Administratif Pindah ke Finlandia

Awalnya saat suami mengabarkan dia diterima di perusahaan yang berlokasi di Finlandia, yang terbesit di kepala saya tentang negara Finlandia ialah Finlandia mempunyai sistem pendidikan terbaik di dunia, sehingga dengan senang hati saya mau untuk pindah ke negara tersebut, apalagi saat itu kebetulan anak saya baru lulus TK dan sedang bingung untuk melanjutkan ke sekolah mana. Walau sebenarnya saya dan suami sudah mendaftarkan anak kami di salah satu sekolah swasta di Bandung, tetapi jika dibandingkan dengan kesempatan sekolah di negara yang punya sistem pendidikan terbaik di dunia, siapa yang menolak?

Processed with VSCO with fr4 preset

Sejak mendapat kabar akan pindah ke Finlandia, kami mulai mempersiapkan segalanya. Bukan hal yang mudah untuk pindah ke negara di Eropa dengan 4 orang anggota keluarga, banyak sekali formulir yang harus diisi dan proses yang panjang, dari mulai membuat residence permit yang proses nya mulai dari tingkat paling kecil yaitu RT sampai ke kedutaan, kemudian setelah residence permit selesai pun, masih harus mendatangi berbagai kementrian untuk legalisasi dokumen.

Setelah sampai di Turku pun kami masih disibukan dengan berbagai urusan administratif dan proses pencarian apartemen yang ternyata tidak semudah di Indonesia. Di sini untuk mendapatkan apartemen yang ingin kita tempati, prosesnya harus mendaftar dulu apartemen yang kita inginkan melalui agen apartemen, kemudian pemilik apartemen akan memilih kandidat mana yang cocok untuk menyewa apartemen milik mereka, mirip dengan melamar kerja yah..! 

Screen Shot 2019-02-02 at 23.25.13

Suasana jalanan di Turku menjelang sunset

Tetapi untungnya kami diberi fasilitas apartemen pertama selama 1 bulan dari kantor suami. Kami juga diberikan biaya pengiriman barang-barang dari Indonesia ke Finlandia. Sehingga kami bisa membawa baju-baju, bumbu, sampai peralatan bayi ke Finlandia. Untuk pengiriman tersebut kami menggunakan jasa pos Indonesia.

Adaptasi Merantau di Negara Sedingin Kulkas

Cuaca

Dulu sebelum kami pindah, kami diberi kesempatan dulu untuk mengunjungi Finlandia beberapa bulan sebelumnya, untuk tahu apa kami benar-benar akan merasa nyaman tinggal disana atau tidak. Waktu itu bulan April, kami mengunjungi Finlandia selama 9 hari. Ketika kami datang sedang musim semi dan suhu sekitar kurang lebih 6 derajat  Celsius setiap harinya. Berpindah dari negara tropis yang biasanya suhu diatas 20 derajat Celsius setiap harinya, kemudian tiba-tiba datang ke negara kulkas yang suhu nya dibawah 10 derajat cukup membuat kami “shock” karena kedinginan. Waktu itu terkadang saya sampai sakit kepala saking dinginnya ke kepala. Hampir setiap hari saya memakai masker karena rasanya hidung membeku.

Namun, ketika kami datang di bulan September, untuk benar-benar pindah ke negara ini, udara masih sejuk, karena baru memasuki musim gugur, belum terlalu dingin, masih bisa pakai celana pendek dan belum perlu pakai jaket berlapis-lapis. Sehingga kami mengalami perubahan udara yang cukup bertahap, dari masih sejuk ke mulai dingin, dan semakin dingin, jadi kami mulai terbiasa dengan suhu dingin ini.

44606543_10218251091488976_1938690534528778240_o

Sekarang saat sedang winter, suhu minus pun tidak membuat saya sakit kepala, dan sampai sekarang suhu tertinggi minus 14 derajat Celsius, saya belum merasa perlu memakai masker. Selama memakai pakaian yang tebal, dan lengkap dari sarung tangan sampai kaos kaki, kami masih bisa bertahan di negara kulkas ini.

Menurut saya bulan November ialah bulan yang paling kurang menyenangkan, karena cukup membuat suasana gloomy, bagaimana tidak, selain suhu yang semakin dingin, 1 atau 2 derajat, bahkan suhu minus. Matahari pun jarang menunjukan sinarnya. Hampir setiap hari langitnya kelabu, selain itu waktu siang yang semakin sedikit daripada waktu malamnya. Sekitar pukul 8 matahari baru akan terbit, dan pukul 16 matahari sudah tenggelam. Kalau ada matahari pun, malah suhu menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Setiap akan pergi keluar kami harus memakai pakaian musim dingin yang lengkap mulai dari sarung tangan, jaket,dan topi. Cukup merepotkan bagi kami yang terbiasa tinggal di negara tropis. Apalagi untuk saya yang masih punya bayi, untuk sekedar mau jemput anak sekolah yang jaraknya dekat atau untuk sekedar mau membeli shampoo di supermarket pun, perjalanannya cukup panjang, dari harus memakai pakaian lengkap untuk saya sendiri kemudian memakaikan pakaian lengkap untuk bayi saya.

_sekitar apartemen

Di sekitar apartemen

Namun ketika bulan Desember tiba dan salju turun, cukup membuat suasama menjadi lebih terang karena semua berubah jadi putih, setidaknya walaupun langit tidak ada matahari, tapi pemandangan salju serba putih dan hiasan lampu natal dimana-mana cukup membuat suasana menjadi lebih hidup.

Makanan

Kemudian tentu saja makanan. Di Bandung, saya bisa dengan mudahnya membeli semangkuk baso dengan harga murah, atau sekedar sarapan kupat tahu di depan komplek. Disini saya tidak bisa merasakan lagi semua itu, untuk bisa menyantap makanan Indonesia yang saya inginkan saya harus membuatnya sendiri, bahan-bahan nya pun harus dibeli di toko asia, bukan di supermarket biasa, yang letaknya ada di pusat kota, 30 menit naik bis dari apartemen tempat saya tinggal. Jika makan makanan finland di restoran, selain harganya cukup mahal, rasanya juga kurang cocok dengan lidah kami. Sehingga jika makan di restoran, seringnya kami makan Asian food atau fast food saja. Di sini semua nya harus serba mandiri, tapi ada sisi positif nya juga yang bisa diambil, kita jadi tidak terlalu manja dengan hal-hal yang mudah didapatkan di Indonesia, seperti asisten rumah tangga yang murah, atau mudahnya pesan makanan dari aplikasi online (dengan harga murah juga tentunya).

Dulu biasanya saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan karena macet nya Bandung yang semakin menjadi, sekarang itu semua tidak pernah kami rasakan lagi disini, tidak ada macet, bis datang tepat waktu, jalanan yang lengang dan bersih jadi pemandangan sehari-hari.

Sampah

Penanggulangan sampah disini juga sangat baik, sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, seperti kertas, plastik, kaca, metal, dan sampah yang bisa dibakar. Untuk kemasan soft drink sendiri bisa dikumpulkan untuk nantinya di masukan ke dalam mesin yang biasanya ada di supermarket kemudian diganti dengan voucher diskon belanja.

Waktu Sholat

Selain itu, waktu shalat yang berbeda-beda setiap hari nya agak membingungkan saya. Misalnya saat winter ini shalat subuh kurang lebih sekitar jam 7 pagi, matahari terbit jam 9.30 pagi kemudian Zuhur sekitar jam 12.30, dan jam 13.30 sudah Ashar lagi, jam 15.00 sudah Maghrib lagi, dan jam 18 sudah isya. Dan setiap harinya jam tersebut bisa berubah-rubah, tidak seperti di Indonesia yang waktu nya konstan. Seiring perubahan musim, waktu sholat juga semakin berubah, misalnya nanti ketika spring (musim semi) shalat magrib semakin mundur yaitu baru sekitar pukul 8 malam. Sehingga membuat saya agak kebingungan. Untungnya sekarang kita hidup di zaman serba canggih, untuk waktu shalat disini saya menggunakan aplikasi (seperti Muslim Pro) yang biasanya memberi notifikasi waktu shalat sesuai daerah dimana kita tinggal.

Di sini ada masjid, tapi tidak seperti di Indonesia yang bisa dengan bebas nya mengumandangkan azan disana-sini. Masjidnya pun kecil, lebih seperti mushola, karena disini kami merupakan minoritas. Tapi cukup untuk suami saya bisa melakukan ibadah shalat Jumát bersama umat muslim lainnya.

Kesibukan Mamarantau di Turku

Sekarang masih disibukkan mengurus keluarga di rumah, karena saya masih mempunyai bayi yang baru saja berusia 1 tahun. Kegiatan rutin saya selain mengurus bayi di rumah (apartemen), setiap hari saya menjemput anak saya dari sekolah yang jarak nya sebenarnya tidak jauh dari tempat tinggal kami, dan dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Jika bosan di apartemen saya akan jalan-jalan ke pusat kota melihat keramaian, gedung-gedung di Finland, dan berbelanja keperluan sehari-hari.

screen-shot-2019-02-02-at-23.23.24.png

Selain itu saya juga sedang senang membuat ilustrasi, jika sedang ada waktu luang saya berusaha untuk bisa melanjutkan hobi saya menggambar. Sekarang juga saya sedang mendaftar untuk mengikuti integration plan, jadi semacam program untuk pendatang yang pindah ke Finlandia tetapi belum mempunyai pekerjaan. Programnya itu salah satunya yang paling umum ialah mengikuti sekolah bahasa Finlandia selama 10 bulan, kemudian setelah itu kita bisa mengikuti sekolah/kursus/training untuk disiapkan ke lapangan pekerjaan nantinya. Selama mengikuti program ini kita juga bisa mendapatkan tunjangan sebesar mulai dari 32 euro per hari kerja. Disini juga sudah umum ketika orang tua nya bekerja atau sekolah, bayi atau anak-anak mereka akan dimasukkan ke daycare, sehingga disana anak-anak usia pra-sekolah bisa belajar bersosialisasi bersama teman sebaya nya.

Berkeliling di Turku

Kota Turku ini ialah kota yang tidak terlalu besar, tidak sebesar Bandung atau Jakarta. Jadi tidak banyak tempat rekreasi untuk keluarga yang bisa dikunjungi. Namun dengan berjalan-jalan di sekitar aura river di pusat kota saja sudah jadi pengalaman menarik bagi kami, Gedung-gedung vintage di sekitar Aura river dan Turku Cathedral di dekatnya menambah keindahan alam Turku.

Screen Shot 2019-02-02 at 23.30.00

Turku Cathedral

Sesekali kami main ke hutan yang letaknya tidak jauh dari apartemen kami. Atau ketika winter seperti sekarang ini, anak saya senang main sledging (kereta luncur) diatas salju. Tidak perlu jauh-jauh ke tempat lain, main kereta luncurnya bisa di dekat apartemen saja, karena disini banyak lahan yang bisa digunakan anak-anak untuk bermain. Di setiap komplek apartemen pasti ada tempat bermainnya, setidaknya ada ayunan, perosotan, dan tempat untuk bermain pasir.

 

 

Di sini juga banyak tempat untuk bermain ice skating, salah satunya di dekat apartemen kami. Ada hari-hari tertentu dibuka untuk umum dan gratis. Dan hari-hari lainnya digunakan untuk latihan para atlet atau jadwal latihan untuk murid sekolah.

Di sini juga ada Turku Castle, yaitu salah satu bangunan bersejarah di Finlandia yang sudah berumur lebih dari 700 tahun. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota. Di dalam nya masih seperti kastil jaman dulu, kita serasa masuk ke film Eropa jaman dulu ketika masuk ke kastil ini. Harga tiket masuk ke Turku Castle ini 11€ untuk dewasa, 5€ untuk anak usia 7-15 tahun, dan gratis untuk usia dibawah 7 tahun. Selain museum yang menampilkan ruang-ruang dan perabotan jaman dulu di dalam kastil, disini juga ada toko souvenir dan restoran yang menyediakan makanan Finlandia.

Screen Shot 2019-02-02 at 23.28.59.png
Turku Castle

Selain Turku Castle, tempat yang cocok dikunjungi untuk keluarga ialah Kupitta park. Ini adalah taman besar di Turku, dan salah satu bagian nya dikhususkan untuk tempat bermain anak-anak, ada ayunan, perosotan, dan lain-lain. Kemudian juga kadang diadakan acara anak anak seperti workshop untuk anak atau penampilan theater untuk anak-anak.

Kupitta Park

Selain itu dari kota Turku ini kita bisa menghabiskan akhir pekan dengan naik cruise, kita bisa menginap di cruise dan menikmati fasilitas di cruise seperti kids playground, shopping tax free, ada juga café, pub dan spa. Atau kita juga bisa naik cruise untuk mengunjungi daerah lain seperti Aland island, atau ke Stockholm Sweden dan Tallin, Estonia.

1433-a71e0af762c

_badut di dalam cruise

Badut di cruise

Suka Duka Merantau

Kangen dengan keluarga dan teman itu pasti, kadang kebayang ingin bertemu keluarga sampai terbawa mimpi. Apalagi seperti saya yang belum bekerja dan setiap hari hanya berada di rumah. Merasa sepi itu pasti. Ketika ada teman/saudara yang meninggal atau ada yang menikah kita tidak bisa hadir disana. Disini tidak ada keluarga satupun, beruntung sudah ada kenalan orang-orang Indonesia yang kadang bisa dijadikan tempat bertanya segala macam atau sekedar ngopi-ngopi cantik. Orang-orang Finlandia bisa dibilang kebanyakan tertutup dan pendiam, mereka punya ruang privasi sendiri yang tidak mau diganggu oleh orang lain, apalagi orang asing seperti kami.

Kemudian di sini juga kami belum bisa membeli mobil karena belum mempunyai SIM Finlandia. Sehingga kemana-mana harus naik bis. Sebenarnya bis di sini sangat nyaman, bis datang sesuai jadwal, jadwal dan rute bisa dengan mudah dilihat melalui aplikasi, halte bis juga ada di dekat apartemen kami, dan untuk orang yang berpergian membawa anak dengan stroller naik bis tidak dikenakan biaya alias gratis. 

 

Kendalanya ialah ketika harus menunggu bis disaat udara sedang dingin-dinginnya, dan tidak ada ruangan indoor untuk menunggu. Atau ketika anak saya yang masih bayi menangis di dalam bis yang sedang penuh. Belum lagi jika harus berjalan jauh ke tempat tujuan saat sedang winter seperti ini, mendorong stroller diatas jalan dengan salju yang cukup tebal cukup sulit, selain itu kadang jalanan licin karena salju sudah menjadi es, sehingga harus sangat berhati-hati. Tapi sejauh ini tidak ada kendala yang sangat fatal untuk kami selama tinggal disini.

Sekolah Anak di Finlandia

Saya ingin membagikan pengalaman menyekolahkan anak saya di negara yang katanya mempunyai sistem pendidikan terbaik di dunia. Beruntungnya ketika kami pindah ke Finland, anak saya yang pertama baru lulus TK dan memang sedang mencari sekolah dasar yang paling cocok untuk saya. Sehingga walaupun anak saya masuk sekolah terlambat 1 bulan, tidak diperlukan proses adaptasi yang sulit ketika di sekolah. Sebelum kepindahan kami ke Turku kami memang sudah berencana untuk menyekolahkan anak kami di sekolah international saja yang Bahasa pengantar sehari-hari nya Bahasa inggris. Karena kami tidak akan selamanya tinggal di Finland, mungkin saja beberapa tahun ke depan kami akan pindah ke negara lain atau pulang ke Indonesia, karena walaupun pekerjaan suami saya bersifat permanen, bukan kontrak, kami belum berencana untuk tinggal disini selamanya.

cel-lisboa-73969-unsplash

Sekolah di sini pada umumnya berbahasa pengantar Bahasa Finnish atau Swedish, jika pendatang seperti anak saya ingin bersekolah di sekolah umum seperti itu, nanti tahun pertama akan masuk kelas untuk belajar bahasanya dulu. Tetapi karena anak saya masuk sekolah international jadi anak saya tidak perlu mengikuti kelas seperti itu. Sebelum anak saya bisa masuk ke sekolah international, dia harus mengikuti tes terlebih dahulu, tesnya bahasa Inggris, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan anak saya berbahasa inggris, karena syarat utama untuk masuk sekolah ini, selain umur nya harus 7 tahun, dia harus bisa berbahasa Inggris.

Kurikulumnya sendiri sekolah international ini sama saja dengan sekolah berbahasa Finnish, yang membedakan hanya Bahasa pengantarnya saja. Sekolahnya juga masih dibawah kota Turku sendiri, bukan sekolah swasta, Semua sekolah di sini gratis, semua alat dan buku sekolah gratis, bahkan diberikan makan siang juga. Kecuali jika ingin mengikuti les diluar jam sekolah, ada biaya yang harus dikeluarkan. Yang saya suka dari Finland ialah tidak adanya kesenjangan sosial yang tinggi untuk setiap orang, jadi maupun orang itu anak dari bos suatu perusahaan atau anak dari kelas pekerja, semua akan sekolah di sekolah yang sama, les di tempat yang sama, dan mendapat perlakuan yang sama. Semua sekolah sama kualitasnya, tidak ada sekolah favorit atau sekolah yang buruk, semua tinggal memilih sekolah yang paling dekat dengan tempat tinggal mereka, sehingga ke sekolah hanya perlu dicapai dengan jalan kaki.

_suasanadikelas

Suasana di kelas

Pendidikan di sini sangat cocok untuk saya yang tidak ingin memberikan tekanan berlebihan untuk anak, dan ingin lebih memberikan waktu untuk mereka untuk menikmati masa anak-anak mereka. Setiap 1 jam pelajaran (45 menit) anak-anak diberikan waktu istirahat selama 15 menit, kemudian baru melanjutkan pelajaran selanjutnya. Tetapi jika waktu nya makan siang, waktu istirahat menjadi 45 menit.

Di sekolah sering diadakan acara seperti outing ke hutan atau museum, dan sering ada acara seru untuk special occasion seperti Halloween party, Christmas party, Father’s day, atau ulang tahun sekolah.

Screen Shot 2019-02-02 at 23.29.19

Saat Halloween party

Di sekolah ini juga ada pelajaran agama Islam, tidak di semua sekolah ada pelajaran Islam, karena melihat jumlah muridnya sendiri yang ingin mengikuti pelajaran agama Islam. Karena ini sekolah internasional jadi banyak pendatang dari negara beragama Islam sehingga diadakan pelajaran agama islam disini. Selain pelajaran agama islam, ada beberapa agama lain yang diadakan di sekolah, salah satu nya tentu saja kristen, dan untuk yang tidak mau mengikuti kelas agama akan mengikuti kelas pelajaran ethic.

Untuk hubungan antara guru dan murid juga disini menggunakan aplikasi yang bernama Wilma, jadi tidak ada lagi buku penghubung seperti di Indonesia. Di dalam aplikasi tersebut kita bisa melihat PR apa saja yang diberikan guru setiap harinya, progress anak mengenai suatu pelajaran,  pesan / pengumuman yang diberikan sekolah untuk orang tua murid, sampai jika anak kita sakit pun kita tinggal memberitahukan melalui aplikasi tersebut.

outing ke hutan

Outing ke hutan

Satu kelas terdiri dari sekitar 20 orang, tetapi dibagi lagi untuk beberapa mata pelajaran, seperti misalnya pelajaran matematika, dibagi 2 kelompok yaitu matematika A dan matematika B, jadi 10 orang dengan 1 guru, sehingga anak-anak lebih terperhatikan. Kecuali untuk pelajaran olahraga, semua belajar bersama.

Di sini tidak ada ujian akhir semester, hanya ada beberapa tes ketika di dalam pertengahan semester, itupun tidak semua pelajaran. PR pun tidak banyak dan sehari hanya ada PR untuk satu mata pelajaran saja. Di penghujung semester ada pertemuan setiap orang tua dengan guru kelas untuk membahas perkembangan anak nya di sekolah, di pelajaran mana saja ia kurang dan dibahas bagaimana cara untuk memperbaikinya.

Blog: http://mynameissenny.blogspot.com. Instagram: @senisanjung (personal) dan @seenysanjung (untuk ilustrasi)

 

 

Merantau di Astana

Agita Rachmasari – Indonesian. Dentist. Haidi’s wife ~ Jenna’s mom. Amateur Photographe. Live in Astana, Kazakhstan. 

Hallo…! Nama saya Dian Agita Rachmasari, biasa dipanggil Agita. Saya lahir di Medan 30 tahun yang lalu. Sejak kecil menempuh pendidikan berpindah-pindah kota Indonesia karena mengikuti orang tua, dari Samarinda, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, terakhir berkuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta jurusan Kedokteran Gigi dan akhirnya menyandang gelar Dokter Gigi pada tahun 2013. Pada tahun yang sama saya juga dinikahi oleh sahabat saya, Haidi Nur Hashfi yang saat ini sedang bertugas sebagai Diplomat di KBRI  Astana, Kazakhstan. Saya dan suami dikaruniai seorang putri bernama Jennaira Khansa noura (3,5 tahun), yang lahir di Melbourne ketika suami melanjutkan study S2 di sana.”

Kehidupan di Kazakhstan
Kehidupan keluarga merantau

Pindah ke Astana, Kazakhstan

Pada mulanya kami menerima kabar mengenai kepindahan ke Astana sekitar 4 bulan sebelum keberangkatan. Ketika mendengar kabar dari suami bahwa dia akan ditugaskan di Astana selama kurang lebih 3 tahun dan meminta saya dan putri semata wayang kami yang saat itu baru saja berusia 1 tahun, dalam pikiran saya “Lah pergi lagi? Belum juga setahun pulang ke Indonesia.

 Duh Astana itu dimana ya? Negara apa ya?”

An aerial view of Astana, the capital of Kazakhstan

Antara dag dig dug, exited, sedih, penasaran rasanya saat itu karena ini pertama kalinya bagi saya mendampingi suami bertugas sebagai diplomat di luar negeri. Saya langsung cari informasi mengenai Astana, persiapan-persiapan untuk keberangkatan dan keperluan selama di sana, serta menyusun rencana keuangan keluarga kami. Untunglah waktu itu ada grup ibu-ibu baik hati, istri-istri teman seangkatan suami yang banyak memberi informasi mengenai persiapan untuk penempatan luar negeri ini.

Selama 4 bulan, kami menyiapkan segala rupa kebutuhan yang harus dibawa dari Indonesia seperti beberapa setelan jas dan teluk belanga untuk suami, kebaya dan pakaian-pakaian nusantara untuk saya dan si kecil, souvenir-souvenir khas Indonesia, serta kebutuhan bahan-bahan makanan yang tidak tersedia di Astana atau barang-barang yang menurut kami lebih terjangkau jika dibeli di Indonesia. Tidak begitu banyak yang kami urus selain itu karena Jenna masih belum sekolah dan saya juga sedang tidak bekerja.

Kami dijadwalkan berangkat pada tanggal 19 Agustus 2016 tengah malam dengan pengalaman yang kurang menyenangkan bagi si kecil Jenna. Saat bangun pagi hari di tanggal tersebut, Jenna dalam keadaan demam dan batuk, mungkin karena lelah karena sebelum berangkat sering pergi bolak balik Jakarta-Serpong untuk suatu urusan dan ikut berpergian untuk persiapan keberangkatan lainnya. Siang hari kami sempatkan membawa Jenna ke dokter untuk dapat meminta perawatan untuk meredakan sakitnya. Dan malam hari kami bertiga berangkat menuju Astana.

Perjalanan kami kurang lebih selama 24 jam dengan penerbangan Jakarta-Seoul selama 7 jam, transit di Seoul 9 jam, dan penerbangan Seoul-Astana selama 8 jam. Selama perjalanan alhamdulillah Jenna tidak rewel sama sekali, tetap ceria walau sedang batuk. Hanya masalah makan saja yang agak susah, karena kondisi tenggorokan yang kurang nyaman sepertinya. Dan pada tanggal 20 tengah malam kami tiba di Astana yang sudah mulai sejuk.

Proses Adaptasi Anak dan Keluarga di Astana

Usia Jenna ketika pindah ke Astana masih terbilang cukup kecil, yaitu 1 tahun 5 bulan. Jenna cukup cepat untuk beradaptasi dengan lingkungan di Astana. Bahkan ketika baru tiba Jenna sudah sangat senang di tempat tinggal barunya. Dan yang paling membuat ibunya gembira, Jenna justru jadi gampang sekali makan setelah pindah ke Astana (setelah sebelumnya drama GTM yang nggak berkesudahan 

Lalu, meskipun udara di Astana sudah mulai sejuk menuju dingin, tetapi Jenna terlihat menikmati karena memang anaknya kurang suka cuaca yang panas. Mungkin juga Jenna tipe anak yang suka dengan hal-hal baru dan sudah saya ajak berpindah-pindah tempat sejak bayi, jadi dia tidak merasa canggung dan cepat beradaptasi ketika baru pindah. Selain itu ada situasi penting yang tidak berubah bagi Jenna, yaitu tetap bersama Ibu dan bapaknya seperti situasi sebelum-sebelumnya.

Perbedaan dengan Kehidupan di Indonesia

Banyak sekali perbedaan yang dirasakan dengan di Indonesia ya. Pertama dari segi cuaca, karena Astana termasuk negara 4 musim yang ketika musim dingin sangat-sangat ekstrim. Suhunya bisa mencapai -40°C dan biasanya musim dingin berlangsung sekitar 7 bulan. Karena itulah Astana mendapat sebutan “The Second Coldest Capital City in The World”.

The Second Coldest Capital City in The World

Kemudian cita rasa makanan di Astana juga berbeda dengan di Indonesia. Kebanyakan makanan disini bercita rasa asin atau sedikit hambar dan tidak begitu variatif seperti di Indonesia dan roti adalah makanan pokok warga setempat.

Contoh makanan tradisional “Beshmarak” yang merupakan makanan nasional Kazakhstan dan terdiri dari daging kuda atau domba rebus yang disajikan dengan potongan bawang bombay dan mie.  

Bumbu-bumi khas Indonesia pun tidak dapat ditemukan di Astana, seperti kecap manis, lengkuas, kemiri, pala, daun jeruk, tempe, daun pandan, dan lain sebagainya. Untungnya bahan makanan seperti tahu, kecambah, kacang kedelai masih bisa didapatkan di Toko Korea.

Kemudian bahasa, jelas beda ya. Tapi lebih menantangnya di Astana jarang orang yang bisa berbahasa Inggris. Bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Russia, tetapi bahasa resminya adalah bahasa Kazakh. Pusing juga awalnya karena saya belum bisa bahasa Russia dan membaca huruf Cyrillic. Akhirnya dengan berbekal bahasa tubuh dan google translate lah komunikasi saya. 

Kegiatan Sehari-hari Sebagai Seorang “Mamarantau”

Kegiatan sehari2 saya disini sebagian besar masih bergulat dengan pekerjaan ibu rumah tangga dengan 1 anak batita pada umumnya.

Saya mulai menyukai masak memasak ketika mulai tinggal di luar negeri, mencoba resep-resep makanan khas Indonesia ataupun resep lainnya. Karena ketika ingin makan makanan Indonesia mau tidak mau saya harus membuat sendiri dam ternyata itu menyenangkan buat saya.

Kegiatan di luar rumah, sesekali pertemuan dengan ibu-ibu Dharma Wanita di kantor suami, mendukung kegiatan di kantor suami misalnya menyediakan makanan khas Indonesia untuk acara-acara bazaar, serta acara spesial seperti menyambut tamu-tamu penting dari Indonesia yg berkunjung ke Astana atau menghadiri acara di kedutaan lain.

Beberapa bulan yang lalu kantor suami juga membuka kelas seni dan bahasa Indonesia-Russia untuk warga lokal serta WNI yang berada di Astana. Saya pun mengikuti kedua kelas tersebut karena saya memang pada dasarnya suka dengan seni, dan belajar bahasa Russia untuk lebih memudahkan dalam interaksi sehari-hari.

Pertama kali saya belajar tari di sini adalah Tari Piring yang berasal dari Sumatera Barat dan Tari Enggang yang berasal dari Kalimantan. Selain itu saya berlatih bermain angklung. Lagu pertama saya adalah Es Lilin dari Jawa Barat. Selama latihan ataupun berkegiatan, Jenna selalu saya bawa karena saya tidak membawa ART di Astana. Alhamdulillah Jenna bisa mengikuti dengan baik, dengan dukungan dan pengertian dari teman2 juga tentunya. Bahkan Jenna sangat senang jika ikut latihan menari, dia bisa ikut berjingkrak jingkrak olah tubuh. Atau ketika ikut kelas bahasa Indonesia-Russia, Jenna secara tidak langsung ikut mendengarkan dan belajar juga.

Kegiatan yang berkesan sejauh ini adalah latihan menari dan bermain angklung. Karena entah mengapa rasanya membuat saya semakin bangga dan cinta dengan budaya Indonesia, bisa belajar sejarah dan maksud dari tarian maupun lagu-lagu daerah Indonesia, serta memang merupakan hobby saya menari dan hal-hal berbau musik yang sudah lama sekali tidak dilakukan.

Di samping itu, pada acara Resepsi Diplomatik RI ke-72 di Asrana ini, saya bisa berkesempatan tampil pertama kali membawakan Tari Piring dan bermain angklung membawakan lagu Yamko Rambe Yamko, Closer, dan Kamazay (lagu populer Kazakhstan) bersama teman2 baik dari Indonesia maupun warga Astana.

Suka Duka Kehidupan di Astana

Sejauh ini fasilitas kesehatan yang saya rasakan kurang sreg di sini. Pengalaman pertama saya di sini ketika Jenna demam tinggi hingga 39°C ketika beberapa bulan kami baru tiba. Dokter di sini jarang sekali yang bisa berbahasa Inggris, sehingga kami harus dibantu oleh staf orang lokal untuk menerjemahkan ke bahasa Russia. Bagaimanapun rasanya kurang puas jika berkonsultasi tidak secara langsung (harus lewat perantara), kadang saya mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan saya karena salah tangkap oleh penerjemah.

Lalu ketika Jenna harus tes darah, mereka menggunakan jarum untuk dewasa untuk tangan semungil anak usia 1,5 tahun ☹. Padahal waktu itu saya periksa di rumah sakit ibu dan anak, tetapi mereka tidak punya jarum untuk anak. Lalu obat-obatan yang diberikan untuk Jenna yaitu berupa tablet semua, dan saya harus menggerus sendiri di rumah karena Jenna yang ketika itu masih berusia 1,5 tahun masih belum bisa minum obat dalan bentuk tablet. Lalu Jenna diminta untuk kontrol lagi setelah 1 bulan dan masih mendapatkan obat-obatanan yang saya juga kurang paham obat apa karena tidak mendapatkan penjelasan dengan baik, padahal kondisinya waktu itu sudah sehat.

Kalau dari cerita teman yang sudah hampir 3 tahun tinggal di Astana, hal itu sudah lebih baik dari pengalaman dia sebelumnya. Karena sebelum-sebelumnya, pasien biasanya akan diberi resep obat injeksi beserta alat suntiknya. Kemudian, anggota keluarga pasien akan diajarkan cara menyuntik obat oleh dokter agar bisa memberikan obat suntik kepada pasien di rumah. Tak heran masyarakat biasa di sini mahir dalam menyuntik. Aneh sih menurut saya sebagai praktisi kesehatan juga, tapi ya mau bagaimana lagi. Sejak pengalaman itu saya sangat memperhatikan kesehatan keluarga di sini.

Selain itu karena Astana termasuk kota yang kecil dan tidak begitu banyak tempat wisata, kota terdekat berjarak lumayan jauh, serta musim dingin yang berlangsung lama membuat saya sering dilanda rasa bosan. Hiburan paling sering yaitu jalan2 ke mall, tetapi kalau mengingat ada negara yang lebih kecil lagi saya harus sudah lebih bersyukur ya.

Harapan Sebagai Keluarga Diplomat

Sepertinya masalah utama yang sering dihadapi adalah mengenai pendidikan anak terutama untuk jenjang sekolah dasar dan selanjutnya, karena tidak semua negara memiliki sekolah indonesia. Meskipun Jenna belum memasuki usia sekolah, tapi ada rasa khawatir bagi saya bagaimana pemilihan pendidikan Jenna nantinya. Mengingat perbedaan kurikulum di Indonesia dengan di luar negeri, dan jika masuk ke sekolah internasional di Indonesia sangat mahal biayanya. Harapan saya ada perhatian dari instansi yang terkait mengenai masalah ini, seperti misalnya ada sekolah untuk anak2 dari para diplomat ketika berada di Indonesia atau mungkin dengan solusi lainnya.

Ketika keadaan tidak mendukung atau tidak sesuai dengan harapan kita, beranilah berbuat sesuatu atau mencoba hal yang baru meskipun kita tidak pernah tau hasilnya seperti apa. Karena bisa jadi kita temukan kesenangan dan manfaat di dalamnya. Dan yang paling penting adalah selalu bersyukur dan percaya bahwa Allah selalu bersama kita dimanapun dan bagaimanapun kita berada.

—- 

Interview oleh tim phdmamaindonesia.com kepada Gita.