Berbagi Resep Mudah

Hallo nama saya Vivi Nowotny, asal Bandung. Menikah seorang laki-laki dari Austria. Pernikahan kami di Bandung tepatnya 12 tahun lalu, setelah 6 bulan menikah saya pindah ikut suami pindah ke kota Steyr di Upper Austria.  

Merantau di Steyr

Steyr termasuk salah satu kota terindah di Austria, jadi banyak turis datang kesini. Selain kota bersejarah, pemandangan yang sangat indah dan objek wisata menarik lainnya.

Sekilas pemandangan di Kota Steyr

Oh ya, kembali lagi cerita tentang saya, satu tahun setelah pernikahan. Lahir anak perempuan kami yang pertama. Awal tinggal disini saya harus banyak beradaptasi. Seperti kebanyakan perantau tentunya, baik beradaptasi dengan bahasa, lingkungan, budaya, cuaca dsb. Lambat laun semuanya terbiasa. Biarpun begitu ada yang susah untuk di adaptasi dengan diri sendiri yaitu saat kangen keluarga, teman, juga wisata kuliner di Indonesia, haha. 

Biasanya kami setahun sekali pulang kampung, tapi di tahun 2012 dan 2015 kami pindah dan tinggal di Jakarta karena kebetulan suami harus tugas kerja lama di Jakarta. Saat di Jakarta saya melahirkan anak perempuan yang kedua. Tiga tahun itu terasa cepat sekali, karena di saat anak-anak sudah terbiasa dengan Jakarta, dekat dengan keluarga dan teman teman, kami harus kembali lagi ke Austria. 

Sedikit flashback tentang saya, sebetulnya tidak ada yang istimewa, jadi sebelum menikah saya pernah berkerja di salah satu Event Organizer – Promotion Services di Bandung selama kurang lebih 8 tahun. Dunia dapur sudah tidak asing bagi saya, sejak kecil terbiasa melihat dan membantu nenek yang kebetulan berjualan makanan dan catering. Jadi buat saya memasak itu pengobat kangen. Kembali lagi ke awal pindah ke Austria, karena masak adalah obat kangen. Hampir tiap hari saya memasak.

Let’s Get Baking Together

Saat di waktu senggang suka browsing internet (waktu itu belum zamannya smartphone). Dan tentu punya di salah satu media sosial yang booming waktu itu Facebook. Saya mulai berkenalan dengan teman-teman di tanah air dan mulai posting foto, saya lebih suka memosting hasil foto masakan di FB dan tidak disangka dengan begitu bisa banyak berkenalan untuk sharing resep dan pengalaman di dapur. Buat saya itu hobby yang sangat positif. Singkatnya saya berkenalan dengan teman teman satu hobby. Kami berempat sepakat membentuk group baking online LBT (Let’s Get Baking Together ) salah satu grup baking yang ada di FB.

LBT grup adalah wadah untuk para pecinta dunia baking. Kita berbagi resep, tips and trick, bahan bahan kue, juga order Kue untuk para bakulers dsb. Lebih dari itu kami seperti keluarga besar. Bermula dari 4 orang hingga sekarang anggota kami 300 orang lebih ( kami meyeleksi terlebih dahulu yang ingin bergabung ) dan sekarang LBT pun ada di Instagram. 

Dan disini saya sekarang bekerja dan sekolah di bidang Gastronomi. Tidak jauh dari dunia perdapuran. Dapur adalah tempat yang paling saya senangi, bagi saya cooking and baking is my passion. Perdapuran membuat saya relaks dan memacu saya untuk beraktivitas, berkreasi dan kreatif, terutama menghidangkan untuk keluarga tercinta. 

Saya ingin sharing juga beberapa hasil kreasi dari dapur yang mungkin bermanfaat dan step by stepnya bisa lihat di YouTube channel saya melalui tautan ini.

Scallion Flower Rolls 

Adalah satu satu jenis Dimsum dengan bentuk yang menarik. Bahan bahannya hampir sama, dalam cara membuat atau membentuk ada 2 versi, menurutku lebih mudah menggunakan bantuan sumpit untuk membentuknya. 

Bahan : 

300 g Tepung serba guna

170 g Susu hangat kuku

3 g Dried Yeast ( Ragi kering )

15 g Gula pasir ( kurleb 3 Sdm ) 

1/2 sdt Garam 

1 batang Daun Bawang

Minyak untuk olesan

Garam untuk taburan secukupnya

BENEDICT BARS 

Benedict Bars berasal dari Afrika Selatan, lapisan shortbread dengan topping selai raspberry dan irisan almonds. Teksturnya yang lumer di mulut dan dengan rasa manis raspberry jam, mmm bikin nagih :D. Pembuatannya sangat mudah dan cepat. 

Bahan shortbread : 

150 g Unslated butter  (room temperature) + extra untuk olesan loyang

225 g Tepung serba guna

25 g Maizena 

1/2 sdt baking powder 

Bahan Topping : 

80 g Unslated butter 

30 g Gula pasir

1 sdt Vanilla essence

150 g Flaked almonds ( almond iris )

3 sdm Susu cair

Raspberry Jam – secukupnya 

BAEURNKRAPFEN

BAUERNKRAPFEN adalah salah satu kue / makanan khas dari Austria. Kebetulan saya tinggal lama disini jadi mengenal makanan khas disini. 

Untuk Bauernkrapfen sendiri mungkin sudah tidak asing karena bahan dasarnya hampir sama dengan bahan pembuatan roti goreng lainnya. Karena bentuk yang berbeda dan asal daerah, Nama makanan itu pasti berbeda pula. Bauern yang berati Farmer / petani. Krapfen yang berarti kue Donat. Jadi.. BAUERNKRAPFEN artinya Donatnya para Petani dari Austria 😀 

Bahan kering : 

255 g  : 120 g Tepung serba guna + 135 g tepung protein tinggi 

40 g Gula pasir

1/2 sdt Garam

1/2 sdt Cinnamon bubuk

1/4 sdt Pala bubuk / parut

Bahan Basah : 

120 g Susu hangat suam-suam kuku

40 g Butter cair

1 butir Telur kocok lepas

5 g Ragi Instant 

Mie dari Tepung Hun Kwe 

Bahan : 

1 bungkus Hun kwe ( 120 gram )

250 gram Air suhu ruang

1 Liter Air 

1 batang Mentimun, iris korek api

1 batang Worten, iris korek api 

Bahan Saus : 

1 sdm Kecap kikkoman

1 sdm Air jeruk nipis ( atau Balsamico vinegar )

1 sdt Minyak wijen

1 sdm Madu

1/4 sdt garam

1/4 sdt penyedap ( optional )

Bahan taburan : 

Irisan bawang daun

Wijen secukupnya 

Flaky Biscuits 

Bahan:

255 gram tepung serbaguna

1 1/2 sdt baking powder

1/4 sdt soda kue

1 sdt garam 

90 gram unsalted butter beku, parut dan kembali di bekukan sebelum digunakan. 

150 ml buttermilk (* lihat catatan. 

2 sdm butter cair dingin, untuk olesan. 

Stik Kipas 

Takaran bahan sudah pas untuk membuat Stik ini ringan, renyah, dan tahan lama. Cocok untuk isi toples hari raya nanti !

Resep Stik Kipas 

Bahan : 

255 gram Tepung terigu serba guna

6 gram Tepung tapioka / sagu tani

18 gram Olive oil ( bisa memakai Sunflower oil / Minyak Sayur ) 

75 gram Air suhu ruang

28 gram Telur yang sudah di kocok lepas

1 sdt wijen 

1 sdt Mushroom / Veggie powder ( chicken powder )

1/2 sdt Bawang putih bubuk

1/2 sdt Garam 

Selamat mencoba! Semua resep dapat disimak tutorialnya di YouTube Vivi Nowotny dan IG @vivi_nowotny ya!


Merantau di Zurich

Nurul Asyifa Munawar – 𝗦𝘆𝗶𝗳𝗮 – 𝗧𝗿𝗮𝘃𝗲𝗹 𝗩𝗹𝗼𝗴𝗴𝗲𝗿. Indonesian Living in Switzerland, accompanying her husband pursuing a Ph.D. in ETH Zurich. Syifa loves photography, explores her current country and also makes youtube about travel inspiration in Switzerland

Saya dan suami sudah 4 tahun merantau dari Indonesia, sejak tahun 2016. Sebelumnya kami adalah sahabat sejak berkuliah S1 di ITB. Kemudian kami melanjutkan studi S2 di Inggris, saya di University of Birmingham dan suami di University of Edinburgh. Setelah lulus S2 kami menikah. Saya pindah dari Inggris ke kota Zürich, Swiss karena setelah lulus S2, suami langsung meneruskan ke jenjang PhD, dia mendapatkan posisi S3 di ETH Zürich. Saya pun ikut mendampingi.

Tentang Zurich

Zürich adalah kota terbesar di Swiss dan memiliki airport & stasiun kereta terbesar dan tersibuk di negara ini. Zürich merupakan salah satu pusat keuangan terbesar di dunia dan ibukota keuangan Swiss. Karena itu, tidak mengherankan bahwa kota ini sering dicap sebagai kota termahal dunia.

Foto di atas saya ambil dari lantai teratas St. Peter Kirche saat musim panas di hari yang cerah, sayangnya ini bukan tempat yg bebas untuk dimasuki, saya ke sana saat tour bersama women integration course.

Suasana Winter di Kota Zürich. Tahun ini salju lebih sedikit turun dibandingkan tahun kemarin. Salju yang turun di perkotaan Swiss seperti di Zurich, biasanya hanya turun sebentar dan tidak tahan lama, maksimal 1-3 hari. Berbeda dari salju2 yang turun di desa dan pegunungan Swiss, mereka awet dan tahan selama berbulan-bulan.

Kota lokasi film Crash Landing On You ini terkenal dengan gaya hidup dan belanja mewah. Akibatnya harga apapun di sini mahal-mahal, kecuali air minum, terdapat 1200 water fountain tersebar di kota ini siap minum.

Objek wisata di Zurich diantaranya ; Zurich Bahnhof, Bahnhofstrasse, Old town, Lindenhof Hill, Munsterbrucke, Lake Zurich. Rata-rata terkonsentrasi di pusat kota (zona 110) bisa jalan kaki atau naik tram dgn harga tiket transport 24jam, 8.8chf 133ribu rupiah/orang.

Hal yang Paling Disukai Selama Tinggal di Zurich

1. Transportasi Umum

Kendaraan umum di sini bersih, nyaman dan sangat tepat waktu, jarang sekali telat. Jarak antar kota pun tidak begitu jauh; dari Zurich ke Luzern, Bern, dan Basel dapat ditempuh 1 jam dengan kereta. Penduduk disini biasanya hanya membayar setengah dari harga tiket transport, karena berlangganan half-fare card seharga 185 chf yang bisa diperpanjang setiap tahun.

2. Suasana kota dan alamnya indah, bersih, dan kualitas airnya terjamin.

Kota-kota di Swiss, terutama di Zurich sangat bersih, bisa dibilang hampir tidak ada sampah di jalan, danau-danaunya pun airnya sangat bersih dan jernih. Selain itu Swiss juga terkenal dengan keindahan alammya yang dramatis, pedesaan dan gunung alpennya pun mudah dijangkau dengan bus, kereta ataupun kereta gantung. Kualitas airnya pun terjamin aman, tidak perlu khawatir minum air keran disini. Di kota Zurich tempat saya tinggal terdapat 1200 air mancur siap minum.

3. Lokasi negara sangat strategis, diapit oleh berbagai negara.

Jika kita lihat di Google Maps atau peta, lokasi Swiss diapit oleh berbagai negara, diantaranya Prancis, Jerman, Italia, Leichesten, dan Austria. Dalam beberapa jam perjalanan kita dapat sampai di Negara lain.

Contoh; dari Kota Geneva, Swiss ke Annecy, Prancis hanya 2 jam dengan bus. Saya dan suami pun suka berlanja kebutuhan sehari hari di kota perbatasan di Jerman yg hanya 1 jam dari Zurich, karena harga barang dan makanan di Jerman jauh lebih terjangkau dari Swiss. Untuk lebih lengkap/detailnya mengenai enaknya tinggal di Swiss bisa ditonton di youtube saya di sini ya.

Tantangan Selama Tinggal di Kota Zurich

1. Serba mahal

Hal yang paling sulit diterima ketika pindah ke sini adalah mahalnya semua harga dibandingkan dengan negara tempat saya tinggal sebelumnya. Apalagi saya tinggal di Kota Zurich, kota termahal di Swiss.

Saya kaget mengetahui harga nonton di bioskop untuk film berbahasa inggris di sini mencapai 20 Swiss Franc /orang (chf = swiss franc), 1 chf sekitar 17000 IDR. Harga makanan yang paling mahal di Supermarket Swiss adalah daging sapi harga sekilonya disini 25-75 chf per kg (384-1,1 juta/ kg) sedangkan di negara tetangga, Jerman hanya 6,5-12 euro per kg. Harga makan di restaurant biasanya diatas 60 chf untuk berdua, harga kebab termurah pun di swiss diatas 15 chf. Belum lagi harga apartemen studio di kota diatas 1000 chf/ bulan, kita wajib bayar iuran TV walaupun kita tidak pakai 400 chf/ tahun dan tiap bulan harus bayar asuransi diatas 350 chf/orang.

2. Kendala Bahasa

Di Swiss terdapat 4 bahasa official, yaitu Jerman, Prancis, Italia, dan Romansh. Kota Zurich terletak di wilayah Swiss yang berbahasa Jerman, walaupun demikian untuk sehari2 orang lokal berbicara dengan dialect Swiss-Jerman. Awal mula ke sini saya tidak mengerti dengan bahasanya (sampai sekarang saya masih belajar) beberapa orang disini sangat tersinggung jika kita berbicara dengan mereka langsung menggunakan bahasa Inggris.

3. Orang lokal cenderung tertutup, toko-toko tutup di hari libur dan Minggu, sedikit pilihan.

Hal menantang ketiga yang saya alami selama tinggal di Swiss adalah orang local cenderung tertutup; rata-rata tidak suka dengan kebisingan/ keributan, butuh proses untuk bergaul dengan mereka, yang pasti kita harus berbicara dengan bahasa Jerman.

Berbeda dengan di UK, salah satu negara surganya belanja, banyak sekali pilihan toko dan barang, toko-toko di Swiss pilihannya sangat terbatas di Swiss hanya ada 3 jenis Supermarket utama yang paling sering ditemui, yaitu Coop, Migros, dan Denner. Supermarket tambahan yang biasanya ada di kota besar, yaitu Aldi dan Lidl. Semua toko pukul 20.00 malam sudah tutup dan setiap hari libur dan hari Minggu supermarket tutup. Untuk lebih lengkap/detailnya mengenai kendala tinggal di Swiss bisa ditonton di YouTube saya berikut.

Keindahan Pemandangan Alam di Swiss

Zermatt – Desa bebas kendaraan bermotor terletak di Swiss Kanton Valais yang dapat ditempuh 3,5 jam naik kereta dari kota Zurich. Dari sini kita bisa melihat puncak Gunung Matterhorn.

Gunung Matterhorn
Suasana desa Zermatt saat musim gugur

Bangunan di atas adalah Chalet yang merupakan rumah tradisional Swiss. Bangunan-bangunan tua yang mendominasi desa Zermatt terbuat dari larch, pohon konifer, banyak ditemukan di daerah dingin belahan bumi utara. Kaya akan getahnya dan kayunya sangat tahan terhadap hama. Paparan sinar matahari dan cuaca bertahun-tahun menggelapkan kayu membuat warnanya menjadi hitam. Akibatnya, bangunan menjadi jauh lebih efektif dalam menyerap dan menyimpan panas.

Lauterbrunnen

Desa bak negeri dongeng, yang terdiri dari 72 air terjun, destinasi wisata wajib bagi para turis di Swiss, saya suka dengan desa ini karena jika menggunakan Swiss Day Pass atau travel pass kita gratis naik funicular (kereta gantung) dan cable car (biasanya naik cable car/funicular ada tambahan biaya) ke Gimmewald dan Murren yang merupakan desa di atas tebing Lauterbrunnen.

Jangan lupa untuk mencoba makanan khas Swiss yaitu cheese fondue.

Makanan khas Swiss Cheese Fondue di Lauter Brunnen

Gunung Bettmeralp dan Gunung Rigi

Gunung Bettmeralp terletak di Kanton Valais. Gunung Rigi terletak di dekat kota Luzern, kota tercantik di Swiss. Gunung Rigi terkenal sebagai the Queen of Switzerland Mountain. Dua gunung ini favorit saya di Swiss karena selain pemandangannya yang indah, kita tidak perlu tambahan biaya untuk naik ke puncak gunungnya, gratis dengan swiss day atau travel pass, biasanya untuk ke puncak gunung di Swiss kita perlu tambahan biaya.

Suasana winter di Bettmeralp

Desa Grindelwald

Grindelwald, salah satu desa gunung terbesar di Jungfrau Region. Lokasinya hanya 38 menit naik kereta dari Lauterbrunnen, di sini suasana lebih ramai turis dan banyak pertokoannya. Pemandangannya sangat indah dan dramatis karena desa ini dikelilingi berbagai gunung. Di luar pusat desa, terdiri dari chalet-chalet di padang rumput berbukit, tersebar di area yang cukup besar. Di Grindelwald kita dpt berkunjung puncak Grindelwald First, banyak aktivitas outdoor yang bisa dilakukan disana. Sayangnya kesana tidak dicover day/travelpass. Harga return ticketnya 72chf, 634 ribu/orang (disc 50% u/travelpass).

Foto ini diambil pada akhir April, saat musim semi dimana rerumputan berwarna hijau, cuaca sejuk dan salju di gunung masih ada dan tampak jelas.

Mürren

Salah satu desa yang menggambarkan desa sempurna di Pegunungan Alpen Swiss: tidak ada mobil, gunung di sekelilingnya, dan lereng serta hutan hijau. Pemandangan inilah yang kita lihat sesampainya di Desa Mürren setelah perjalanan 40 menit di udara dengan gondola lift.

Desa kecil & tertinggi di Jungfrau Region ini sangat cocok untuk pendaki, keluarga atau siapapun yang mencari ketenangan & kedamaian di Alpen. Saat winter di sini terdapat banyak salju.

Museum Einstein

Museum favorit saya di Swiss, di museum ini kita bisa melihat sejarah Albert Einstein, ilmuwan terkemuka dunia, penemu teori relativitas, peraih nobel fisika yang tinggal dan bersekolah di Swiss, riwayat hidupnya dari lahir hingga akhir hayatnya diceritakan dengan jelas di Museum ini.

A must-visit museum in Switzerland, Museum of Einstein, the world’s most prominent scientist. Einstein’s Inventions best known for his theory of relativity and the equation E=MC2, which foreshadowed the development of atomic power and the atomic bomb. He won the Nobel Prize for Physics in 1921 for his explanation of the photoelectric effect. Einstein is generally considered the most influential physicist of the 20th century.

Museum ini terletak di Kota Bern, 1 jam dari Kota Zurich dengan kereta. Tempat wisata terindah di swiss lainnya dapat dilihat di Youtube saya berikut.

Aktivitas di Zurich

Aktivitas saya selama tinggal di sini adalah mengikuti sekolah bahasa Jerman program dari pemerintah kota Zurich terdiri dari level A1 hingga B1, kelas yang saya ikuti adalah khusus untuk wanita dan menyediakan tempat penitipan anak.

Bersama teman-teman di kelas bahasa Jerman

Kemudian, saya juga mengikuti sekolah integrasi yang dikhususkan untuk seluruh wanita yang berada di kota Zurich. Rata2 yang ikut kelas ini adalah para istri dari suami yang bekerja di Kota Zurich. Salah satu aktivitasnya berkunjung ke Balai Kota Zurich menonton rapat parlemen pemerintah kota Zurich. Dari kedua sekolah tersebut saya mendapatkan teman dari berbagai negara.

Di waktu senggang saya juga membuat youtube channel – Syifa in Switzerland Vlog – seputar kehidupan dan informasi destinasi wisata di Swiss.


Semua foto adalah karya Syifa – pengalaman Syifa di Swiss dapat diikuti di Instagram: @syifa_in_switzerland dan Youtube: Syifa in Switzerland Vlog.

Merantau di Auckland

Kia Ora…! – yang artinya ‘hai’ atau ‘hello’ dan berasal dari bahasa asli Māori. Salam kenal dari keluarga rantau di Auckland, Selandia Baru atau New Zealand (NZ). Namaku Nurhayati (Yanti), tapi sapaan akrabku sejak menjadi ibu adalah ‘Amih’ so hampir semua orang memanggilku dengan sebutan Amih Yanti.

Kepindahan ke Auckland

Hijrahku ke ujung dunia ini sesuatu yang sepertinya tidak pernah terpikirkan oleh aku yang anak mama papa banget (boro-boro kepikiran merantau ke luar negeri, ke luar pulau waktu masih tinggal di Indonesia aja ngga deh). Kami merantau kurang lebih sudah 3 tahun sejak 2017 (suami sudah 5 tahun karena duluan pindah ke sini). Lalu kenapa harus ke New Zealand? Kenapa gak negara lain? dan apa latar belakang kami harus kesini? apakah sekolah S2, S3, atau??? Yess jawabannya yang atau itu hehe…

Suami awal ke sini hanya untuk belajar Bahasa Inggris (otomatis mendapat visa student). Nah, awal kisah hidup merantau bermula di sini (cerita lengkap ada di KALA Podcast, berikut jika mau menyimak:

Kenapa NZ? Tepatnya Auckland? Awalnya karena sudah ada sepupu yang tinggal di Auckland, pikirku setidaknya suami tidak akan merasa sendirian banget di sini, dan setelah banyak cari tahu tentang NZ, negara ini memang menarik hati. Singkat cerita, akhirnya suamiku bisa mendapatkan working visa (Alhamdulillah ada tempat kerja yang mau kasih sponsor).

Long Distance Marriage

Lalu bagaimana nasibku? Aku dan anakku tinggal di Bogor, artinya kami menjalani Long Distance Married selama 2 tahun (jangan ditanya susah ga jauh ama suami? jawabannya susah bangeet hihi) dan aku masih bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan telekomunikasi di Jakarta.

Setelah 2 tahun LDM, akhirnya aku memutuskan menyusul suami ( saat itu statusku Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan selama 2 tahun), masih galau melepaskan status ibu yang berkarir, hehe.

Tapi sejak kedatanganku di Auckland pada saat usia anakku 5,5 tahun, baru kuketahui bahwa anakku kesulitan belajar spesifik (dyslexia minor) akhirnya karena alasan untuk dapat fokus kepada tumbuh kembang anak, maka aku putuskan untuk pensiun dini menjelang masa cutiku berakhir.

Kehidupan di Perantauan

Syukurnya aku dapat menikmati peran menjadi IBU seutuhnya untuk mengurus anak, di mana hal ini tidak aku alami selama di Indonesia. Karena di Indonesia ada support system (keluarga besarku) dan ada yang selalu siap membantu, tapi kini selama tinggal di luar negeri mengajarkanku bahwa value hidup yang berharga adalah menjadi mandiri (yang merantau pasti tau rasanya mandiri di luar negeri hehe) dan aku sangat bersyukur karenanya.

Lalu apa aktivitasku selama di Auckland? Sejak dulu selalu beraktivitas dan berkarir sepertinya membuatku menjadi seseorang yang aktif, dan aku tetep pada prinsipku bahwa aku akan mengurus anakku, tapi tidak dipungkiri jiwa aktifku ini membuatku ingin berperan lebih di ranah publik, dan Qadarulloh Allah mudahkan aku menemukan pekerjaan yang jam nya mengikuti jadwalku (jadi aku bekerja saat anakku sekolah, sehingga nyaris anakku tidak menyadari bahwa ibunya bekerja, karena di pagi hari aku mengantarkannya, lalu pulang sekolah aku sudah siap menunggunya di depan kelas, dan aku juga aktif menjadi volunteer di sekolah).

Jenis pekerjaannya adalah menjadi asisten supervisor di salah satu hotel yang lokasinya 3 menit jalan kaki dari apartmentku (ini tips mau cari kerja, gak usah apply yang jauh, selain irit ongkos juga tidak menghabiskan waktu kita)

Lalu bagaimana jika school holiday ( setiap 1 term akan selalu ada libur 2 minggu lalu di akhir tahun liburnya 6 minggu), apakah aku bekerja? Yes, aku tetep mendollar (istilahnya), yakni dengan cara menjadi salah satu orang yang bersedia menjaga anak-anak (baby-sitting) di area apartementku saat orang tua mereka sibuk bekerja atau berkuliah.

New Zealand

Negeri di ujung dunia dengan keindahan alam yang selalu membuatku tak berhenti berdzikir atas ciptaanNya, kadang hasil foto tidak bisa mewakili karya nyata sesungguhnya yang sangat indah. Menghirup udara sejuk setiap hari membuatku bersyukur tiada henti. Kami tinggal di New Zealand bagian North tepatnya di kota Auckland dan ini saja tiap hari selalu dibuat takjub dengan birunya langit dan indahnya alam, apalagi kalo berkunjung ke southnya New Zealand seperti Queenstown aduhaaaai mata seakan dimanjakan dengan lukisan alam yang dijamin bikin speechless.

Auckland

  • Auckland ini dikenal dengan city of sails (kota pelayaran)
  • Auckland adalah kota yang bisa dibilang penduduknya lebih banyak dari kota lainnya di NZ karena disini adalah kota bisnis 
  • Auckland terkenal dengan Sky Tower yang menjulang tinggi di tengah kota
  • Auckland itu multi etnis ( beragam sekali pokoknya, jadi ga aneh kenapa toleransi disini menurutku bisa dibilang cukup tinggi, karena mereka menerima dengan baik keberagaman dan perbedaan)
  • Auckland juga terkenal dengan pantai pantai yang indah dan gunung gunung

Alasan Memilih untuk Tinggal di Auckland

Setiap bertanya kepada siapapun yang kutemui kenapa memilih Auckland? jawabannya hampir seragam, karena pendidikan sekolah dan tempat untuk tinggal bagus untuk tumbuh kembang anak.

Yap betul, itu jadi alasan utama akhirnya memutuskan tinggal di Auckland, karena :

  • Lingkungan nya bagus untuk sekolah anak
  • Playground dan regional park banyak sekali
  • Park luas sangat mudah ditemui
  • Banyak FREE FAMILY EVENT yang diselenggarakan disini
  • Pantai tersebar dimana mana
  • Ada tempat berenang yang dibawah auckland council untuk usia anak dibawah 17 th FREE, untuk spectator (cuma mengawasi) cukup 1 dollar
  • Water fountain yang banyak ditemui di public place, jadi ga hanya perlu bawa botol kosong untuk selalu refill air minum
  • Library yang selalu punya daya tarik untuk semua pengunjungnya karena design dan atmosphere yang bikin betah berdiam lama lama
  • Sekolah untuk anak bisa dibilang FREE, karena sistem bayar sekolahnya adalah donasi
  • Lokasi sekolah dan rumah dekat ( karena pemilihan sekolah disini berdasarkan area tempat tinggal)
  • Ruangan di kelas sekolah selalu di design dengan FUN (kelas primary tapi suasana kelasnya kaya anak TK fikirku di awal awal), anak belajar bukan di kursi mereka bisa berbaur duduk di bawah dan melakukan aktifitas yang kreatif.
  • Tidak ada ranking di sekolah, anak tidak dibandingankan dengan anak lain, tapi kualitas anak dibandingkan dengan diri nya sendiri ( jadi no pressure kan ya)

Alasan lain :

  • Family time yang banyak ( sang ayah kerja nya 8 jam dimulai 5 subuh jam 1 or 2 siang sudah dirumah )
  • Sistem kesehatan yang sudah terintegrasi dengan baik
  • Kesehatan untuk anak gratis
  • Sistem transportasi yang terintegrasi baik di bawah AT 
  • Toleransi yang tinggi
  • Hangatnya warga lokal
  • Alam yang bersih ( pelestarian alamnya yang bagus, contoh dilarang membuang sampah sembarangan), awan yang indah dan langit biru hampir setiap harinya
  • Mudah ditemukan makanan halal
  • Penduduk yang ramah
  • Komunitas muslim yang cukup banyak tersebar ( contoh ada kegiatan TPQ untuk anak anak dan ada pengajian untuk family)

Kendala Hidup di auckland : Biaya hidup yang mahal dibandingkan dengan kota lainnya.

Contoh : Sewa apartment di city area sepertiku 450 dollar per minggu (beruntung kami tinggal di apartment yang terkenal paling murah di City area karena sudah termasuk air dan listrik) tapi di sekitar sini banyak sekali yang d iatas 500 dollar per minggu. Pilihan lain adalah tinggal di sub urban (agak jauh dari city) sewa per minggu itu dengan harga 600 dollar bisa dapetnya sewa rumah

Contoh lain harga cabai untuk musim tertentu bisa 1 biji cabai itu 1 dollar alias Rp9.000-an. Untuk biaya makan diusahakan masak sendiri, karena kalo sering makan diluar dompet bisa tongpes hehe.

Untuk yang tinggal di city area kendala adalah di parkiran mobil, sulit mendapatkan tempat parkir jadi rata rata memilih untuk menggunakan bus atau kereta dan jika masih dekat berjalan kaki

Tapi untuk kami sekeluarga, sangat favorite menggunakan scooter listrik (anter jemput anak aja menggunakan scooter)

  • Semisal pengen les in anak, nah ini harus jeli hitung-hitungan karena semua les itungannya itu per jam atau kadang per 30 menit (contohnya les renang hitungannya 14 dollar per 30 menit)
  • Barber shop alias cukur rambut yang bisa dibilang mahal sekitar 20 s.d 25 dollar NZ (selama 3 th disini pak suami jadi tukang cukur untuk dirinya dan anak hehehe, pinter-pinter kita ngirit aja sih, hehe, dan jadi menemukan bakat terpendam kan yaaa)

Keunikan Kota Auckland

  • Penduduk asli aktif melestarikan budaya asli suku Maori
  • Pejalan kaki yang jarang menggunakan alas kaki (jadi ga aneh liat orang jalan gak pake sepatu or sandal, cuek aja gitu)
  • Masih adanya pasar tradisional yang bukanya seminggu sekali
  • Toko-toko akan tutup sekitar jam 4 or 5 sore 
  • Cuaca yang mudah berubah dalam satu hari ( hujan ibaratnya bisa kita tunggu, setelahnya sering muncul pelangi, lalu panas sepanas-panasnya. Dan ini cuaca dalam 1 hari loh!)
  • Kontur jalanan yang unik, jadi naik turun naik turun gitu deh 

Tempat Unik di Auckland

  • 10 Golden Frame yang tersebar di Auckland
  • Stasiun yang dijadikan apartment dan namanya adalah Apartment Railway (heritage building), jadi apartment ini memang dahulunya adalah stasiun dan sepertinya bangunanya tidak banyak dirubah jadi tetap berasa aura stasiunnya, unik bukan? Dan di tempat ini banyak sekali mahasiswa Indonesia bersama keluarganya tinggal di sini jadi kadang suka dibilang kampungnya orang Indonesia hehe..
  • Harbour bridge (swtiap ada kapal yang lewat jembatan akan berubah naik ke atas seakan-akan patah, ini jadi kesukaan anak-anak hehe)

Tips merantau ala kami :

1 . Jangan semua hal di convert dari dollar ke Rupiah bisa pusing kepala Barbie, bayangin aja 1 biji cabai kalo lagi musim summer begini harganya 1 dollar sebiji (kurang lebih kalo di kurs kan ke rupiah 9000, puarah kan :D)

2. Jangan lupa kemana-mana di tas selain banyak perlengkapan wajib yang aku yakini setiap ibu punya senjata wajib versi masing masing, nah sempilin juga botol kosong, kalo kalo mau kebelet ke toilet dibawa deh si botol itu, karena di sini kan toiletnya tidak ada spray airnya (kurang afdol aja gitu rasanya kalo ga dibasuh air, LOL)

3. Sebagai Muslim jika pada saat waktu shalat tiba, jika tidak menemukan tempat shalat biasanya kita mampir ke mall lalu cari parents room (disini kan parents room nya dibuat kaya kamar kamar gitu, nah bisa ikut shalat di situ deh karena kan kamarnya ditutup hehe), atau bisa juga shalat di taman.

Sekian kisah singkat dari keluarga rantau di Auckland, NZ. Adakah yang tertarik ingin mencicipi tinggal di Auckland, NZ?


Instagram: @nurhayatiachyarudinroi

Merantau di Leeds

Vinka Maharani – Hallo! Saya Vinka, ibu dari satu anak perempuan. Sejak Juni 2019 tinggal di Leeds, UK karena mengikuti suami yang sedang studi di sini. Saya bekerja paruh waktu sebagai Resident Assistant di salah satu student housing bernama Unipol. Bersama kawan, saat ini saya membuat & menjalankan VIP Talks podcast yang berbicara tentang perempuan, pernikahan & keluarga. Saat di Indonesia saya mengajar rajut knitting & crocheting. Di saat senggang saya belajar lagi & melatih skill merajut saya.

Pindah ke Leeds

Saya dan keluarga berpindah ke Leeds karena suami menempuh pendidikan S3 di University of Leeds. Selama hampir setahun tinggal di sini, Alhamdulillah pengalamannya baik-baik semua.

Di Leeds, atau mungkin lebih tepatnya Yorkshire, orangnya ramah-ramah sekali. Panggilan yang lazim digunakan untuk menyapa orang lain (asing maupun yg sudah kenal) adalah Love, Darling, Sweetheart, Mate & Lad. Hal ini sangat umum, dipakai oleh siapa pun kepada umur berapa saja. Kalau ke pasar, tempat-tempat umum yang dikelola oleh native, maka kalian akan mendapat sapaan hangat ini. Malah tidak jarang ditambah dengan kedipan mata. Dan mayoritas semua orang ya gini, nggak orang jual di pasar, pak-ibu tukang pos, tukang ledeng, security, siapa saja. 

Bekerja di Unipol

Unipol adalah sebuah student housing, menyediakan akomodasi untuk pelajar di Leeds, Bradford & Nottingham. Saya bekerja di salah satu development complex yang kira-kira mengakomodir 250an orang, sebagai Resident Assistant. Tugas saya kira-kira seperti ibu kos lah, menyiapkan kedatangan mahasiswa, menerima komplain, cek untuk perbaikan, dan menjalankan event untuk gathering. Pekerjaan yang menyenangkan bagi saya, karena bertemu dengan berbagai macam pelajar dari berbagai bangsa & negara. 

Podcast

Karena sering ditanya & dicurhatin tentang pernikahan, saya berpikir sepertinya lebih baik jika problem & solusi dari pembicaraan tersebut bisa di-share ke lebih banyak orang agar bermanfaat. Kemudian saya berpikir, jika hanya berdasarkan pengalaman pribadi saya rasanya akan terlalu subjektif, maka saya mengajak kawan saya Cahya Haniva yang sedang menempuh master di jurusan Family Studies University of Minnesota untuk bergabung. Dari situlah kami memulai VIP Talks (Vinka Iphip Pillow Talks). Topik yang kami bahas adalah perempuan, pernikahan, keluarga dan hal-hal yang ada di sekitarnya. Episode yang paling banyak didengar saat ini berjudul “Is he the one? Panduan Tak Wajib untuk Mempertimbangkan Calon Pasangan Seumur Hidup”.

Untuk mengaksesnya bisa langsung ke anchor.fm/viptalks atau search di Spotify, Google Podcast, Apple Podcast “VIP Talks”. 

https://www.instagram.com/vinkamaharani/

Merantau di Ontario

Astarina Maulida – Hai, aku Asta, mamarantau yang baru setahun menetap di Mississauga, sebuah kota di Ontario, Kanada. Kota ini cukup dekat dengan Toronto. Sebelum merantau aku dan suami berwiraswasta di Jakarta. Kami memutuskan untuk pindah ke Kanada demi pendidikan anak, karena sebelumnya suami juga bersekolah di Kanada sejak SMA. Saat ini aku dan suami bekerja dan anakku, Kioko bersekolah di TK di tingkat senior kindergarten.

Kali ini aku mau mengajak melihat sisi beratnya hidup di Kanada, yang pasti nggak hanya yang senang-senang aja. Selalu ada dua sisi dalam satu koin.

Summer
Winter

Apa aja nggak enaknya? Winter yang extreme sampai -35 derajat, summerpun sampai +40. Pencarian kerja yang sulit dan harus rela kerja kasar untuk banyak imigran, bahkan ada lho yang di negara asalnya itu dokter dan doktor phd tapi saat di sini harus ikhlas jadi uber driver. Kok gitu? Jangan lupa kualitas pekerja dari Kanada itu sangat bersaing. Harga rumah di sini juga mahal, di kota ini 500,000 CAD (5,5M) dapetnya rumah kecil. Kalau mau agak besar budget segitu di condo atau pinggiran kota lagi. Ada harga ada rupa, semakin jauh dari kota pasti commuting time nya bertambah. Harga plan internet hape juga mahalita, paksuami bilang termasuk salah satu yang termahal di dunia. 

Pajak pun, kalau belanja tax di province ini 13%, kalau makan kudu kasih tip lagi 10-15%. Belum lagi pajak penghasilan dari gaji minimal 20% maksimal 50%. Semakin tinggi gaji semakin besar potongannya. Untuk yang kerja di luar negeri tapi anak istri menetap di kanada pun si penghasilan suami dikenakan tax sebesar di Kanada karena keluarganya dianggap menikmati fasilitas di Kanada. Di luar harga yang mahal dan cuaca, jangan lupa culture yang berbeda dengan Indonesia, terutama aku suami dan Kioko itu minoritas lho, apalagi aku super visible minority (berjilbab). Oya di sini pekerjaan rumah tangga juga kudu gotong royong sama suami, bayangin masak, nyapu ngepel, cuci baju, cuci piring, anter anak sekolah, mandiin anak, didik anak, anter les anak, endesbre kalau nggak dikerjain berdua gimana bentuk rupa sang istri, haha. Belum lagi kalau istri kerja, harus urus daycare sampai anak usia 10 tahun yang biayanya lumayan menguras kocek.

Jadi hidup di Kanada nggak hanya plus, terlihat enak atau ”asik banget tinggal di luar negeri”. Saat menentukan pindah, semua konsekuensi harus kita terima. Aku dan suami tipe yang menikmati perjuangan ini, karena kita kebiasa berjuang, malah saat nyaman kita nggak tenang. Tentunya banyak juga positifnya tinggal di sini, tapi menurutku nggak fair jika hanya melihat di satu sisi yang indah. Justru hidup itu indah karena ada positif dan negatif dalam satu ruang. Embrace BOTH and enjoy…! 


astarina.maulida@gmail.com IG: @astarinamaulida

Merantau di Belfast

Ayudhia Utami – Halo! Saya Ayudhia, seorang Ibu dari dua anak yang sedang di masa aktifnya, Arsyila (3,5 tahun) dan Kenzie (1,5 tahun). Kami sudah bermukim di Belfast, Irlandia Utara selama 1 tahun 2 bulan, karena mengikuti suami yang sedang menjalani pendidikan di Queen’s University Belfast.

Belfast letaknya berada di antara Irlandia Utara (Britania Raya / UK) dan Irlandia (Eropa). Belfast sangat berbeda dengan wilayah UK lainnya yang ramai seperti London atau Manchester, suasana di sini tenang dan jauh dari hiruk pikuk.

Tempat favorit yang biasa dikunjungi di sini ada banyak sekali, seperti Giant Causeway, Stormont, Botanic Garden, Titanic Museum, Belfast Castle, dan lain sebagainya. Belfast juga menjadi salah satu tempat di mana Game of Thrones berasal lho, juga tempat pembuatan Kapal Titanic, sehingga menjadi pariwisata yang menarik dan paling terkenal di sini…! Penduduk di Belfast juga sangat ramah, baby & kids friendly, saling menyapa ketika bertemu, sopan santun ketika bertutur, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kami nyaman sekali tinggal di Belfast 💛

Credit: Manchester’s Finest
Credit: The Times

Merantau di Innsbruck

Meidesta Pitria – Hallo! Saya Meidesta, asli dari Jogja, dan dulu sempat menghabiskan waktu sekitar 5 tahun diantara Depok-Jakarta untuk S1 di UI dan bekerja. Saya lulusan S2 Arsitektur dan Urban Planning dari Jepang yang tiba-tiba merantau ke Innsbruck, Austria.

Saya kenal sama suami sekitar 6 bulan sebelum lulus S2. Tadinya saya mau lanjut langsung S3 di Jepang, tapi suami melamar saya dan takdir membawa kami ke Innsbruck. Suami dan saya sepakat untuk memulai keluarga kecil bersama di Innsbruck. Dan alhamdulillah di tahun kedua saya disini, kini kami sudah bertiga dengan anak perempuan pertama kami yang berusia 10bulan. Ohya, suami saya sedang studi S3 di Centrum für Chemie und Biomedizine. Baru saja sidang dan insya Allah akan wisuda bulan depan.

Innsbruck itu kotanya kecil dan dikelilingi oleh Pegunungan Alpen yang indah banget. Kemana-mana dekat. Luasnya sebesar kota Semarang tapi jumlah penduduknya hanya sekitar 100.000. Innsbruck posisi kotanya ada di 600 meter di atas daratan dan dikenal sebagai City of Alps. Air kerannya enak banget 😄💙…! Mungkin karena di Pegunungan Alpen ya. Selain itu, saya merasa Innsbruck memiliki banyak taman bermain dan berbagai fasilitas untuk ibu-anak yang sangat membantu kehidupan saya sebagai mamarantau. Saya hamil dan melahirkan di Innsbruck yang jauh sekali dari Indonesia, dan belum ada satupun saudara yang berkunjung (bahkan mama dan mertua kebetulan belum pernah kesini). Kondisi ini membuat saya harus belajar mandiri dan kuat. Masa-masa hamil tua dan melahirkan disini menjadi masa-masa yang tidak akan pernah terlupakan. Beruntungnya ada fasilitas dari negara, new mom mendapatkan pendampingan dari bidan yang rutin datang ke rumah untuk menemani saya si new mom selama sebulan pertama setelah melahirkan.

Hal yang paling saya sukai di Innsbruck adalah naik gunung! Ke Puncak Hafelekar atau sekedar ngopi-ngopi di Seegrube yang posisinya 2300m di atas daratan, bisa pakai cable car, bisa hiking melewati rute menanjak yang dipenuhi pepohonan indah luar biasa. Saya juga sering menghabiskan waktu di taman-taman bermain dan di komunitas orangtua-anak di Innsbruck.