[Mamarantau Tips] Pengalaman Naik Pesawat dengan Bayi 1 Bulan

Fathiannisa Gelasia (Icha) – Seorang litigator yang sekarang beralih profesi mendedikasikan waktu serta tenaga untuk merantau bersama suami ke Bangkok dan menjadi stay at home mom.

Tips Pertama:  Naik Pesawat dan Traveling Bersama Bayi 1 Bulan

Saya dan suami pertama kali membawa Dhaulagiri pulang ke Indonesia dengan pesawat ketika Dhaulagiri berusia 1 bulan 7 hari. Waktu itu kami, terutama saya, lumayan panik dan kebingungan, karena ini pertama kalinya membawa anak bayi yang bahkan belum berusia 40 hari untuk naik pesawat terbang. Sesuai dengan rekomendasi dokter di Bangkok, tidak ada halangan untuk Dhaula bisa naik pesawat, dan tidak ada keharusan untuk saya menutup lubang telinganya, sesuai dengan apa yang direkomendasikan banyak orang selama ini.

Seandainya memungkinkan, memang lebih baik apabila ketika lepas landas maupun mendarat Dhaulagiri aktif menggunakan otot-otot di rahang dan rongga kerongkongannya, agar tidak ada udara yang tersumbat ketika tekanan kabin naik. Akan tetapi, dokter kami tidak mewajibkan hal tersebut. Untuk berjaga-jaga, saya tetap membawa kapas yang sudah digulung kecil-kecil untuk telinga Dhaula. Kami sengaja membeli tiket pulang ke Indonesia pada malam harinya, ketika jam tidur Dhaula. Alhamdulillahnya, Dhaula sejak usia 1 bulan selalu tidur di waktu yang sama setiap malamnya, dan Alhamdulillah masih beranjut hingga sekarang sudah berumur 4 bulan 11 hari. Walaupun masih terbangun 2-3 kali setiap malamnya, tapi antara pukul 20.00 – 21.00 pasti sudah tertidur di kamar.

Pengalaman pertama naik pesawat bersama Dhaula berjalan lancar. Dhaula sempat menangis 20 menit pertama di pesawat, karena tidurnya terganggu dengan suara-suara di pesawat, dan arena saya juga panik, maka mungkin Dhaula ikut menjadi panik juga. Akhirnya sepanjang perjalanan pulang tersebut, karena saya tidak bisa menenangkan Dhaula saking paniknya, akhirnya Dhaula digendong oleh bapaknya hingga kami mendarat di Soekarno Hatta. Tidak ada kapas yang tersumpal di telinga Dhaula maupun susu yang diminum sesuai rencana, tapi untungnya Dhaula tidak mengalami gangguan pada telinganya.

Hingga hari ini, Dhaula sudah 8 kali naik pesawat terbang, dan semuanya tanpa menggunakan kapas pada telinganya. Apabila memungkinkan dan Dhaula sedang terbangun, pasti saya beri susu. Namun apabila tidak, saya dan suami tidak memaksa Dhaula untuk bangun dari tidurnya untuk minum susu. Yang paling saya ingat adalah perjalanan pulang kami dari Korea Selatan kembali ke Bangkok, ketika Dhaula masih berusia 2,5 bulan. Kami mengambil pesawat  sore karena tidak ada jadwal untuk pesawat malam. 2 jam pertama Dhaula tertidur pulas, tapi lalu terbangun karena tiba-tiba Dhaula harus buang air, dan lalu pampersnya bocor, haha. Jadilah saya harus memandikan Dhaula di wastafel kamar mandi pesawat terbang yang sangat sempit tersebut.

Tips dari saya, intinya sebagai orang tua tidak boleh panik, karena pastinya anaknya ikutan panik juga.  Tidak usah terlalu strict dan yang penting dibawa happy. Anak bayi menangis ketika lepas landas ataupun mendarat saat naik pesawat itu hal biasa, kadang-kadang Dhaula juga menangis, tapi saya dan suami cuek aja. Dibawa happy sambil ajak ngobrol si bayi. Untungnya suami saya selalu siaga membantu saya menjaga Dhaula, ditambah suami saya tipe orang yang anti panik, jadilah kalo saya panik sedikit pasti langsung dibantu untuk bisa santai lagi.

Tips Kedua: SLING WRAP, BABY CARRIER ATAU STROLLER?

Kondisi pedestrian street di Bangkok tidak semaju di Negara-negara Barat sana; jalanannya tidak rata, banyak lubang dan tidak semua stasiun ataupun terminal untuk kendaraan publik memungkinkan kami menggunakan stroller. Saya mulai menggunankan sling wrap ketika Dhaula berumur 2 minggu, merk saya gunakan adalah Boba, bentuknya kain panjang dengan bahan elastis yang cara penggunaannya harus dililit di badan saya.

Saya juga punya baby carrier dengan merk ergo baby, dan mulai digunakan sejak Dhaula berumur 2 minggu juga. Dengan penggunaan sling wrap ataupun baby carrier itu, saya bisa dengan bebas menggunakan kedua tangan saya untuk beraktifitas, dan entah kenapa Dhaula selalu dapat tidur lebih lelap dengan kedua benda tersebut. Bahkan diawal-awal, suami saya setiap malam membantu saya menidurkan Dhaula dengan menggunakan ergo baby sebelum dipindahkan ke kasur. Untuk berjalan-jalan pun kami lebih prefer untuk menggunakan sling wrap atau baby carrier.

Selama di Korea dan Koh Samui, keduanya adalah benda yang wajib ada di dalam tas saya. Mungkin karena posisi Dhaula ketika digendong seperti dipeluk dan di dekat dengan dada saya atau suami, sehingga tidurnya pun lebih tenang. Akan tetapi untuk sekarang, saya dan suami membatasi penggunaannya hanya apabila kami berjalan-jalan keluar rumah atau apabila saya harus beraktifitas di rumah, seperti memasak, menyapu, dll.

Sementara untuk stroller, Dhaula belum bisa terlalu lama dan betah duduk berlama-lama di stroller, sehingga walaupun kami keluar membawa stroller, kami tetap berjaga-jaga membawa salah satu dari sling wrap atau baby carrier. Merk stroller yang kami gunakan adalah Babyzen Yoyo karena tingginya frekuensi kami untuk travelling, maka suami saya memilih untuk invest di stroller yang kokoh, ringan dan kecil ketika dilipat. Sewaktu kami travelling ke Koh Samui saat liburan songkran kemarin, hanya dua kali kami menggunakan stroller, sisanya dengan boba atau ergo. Keadaan jalanan di Koh Samui hampir tidak memungkinkan kami untuk menggunakan stroller. Ditambah karena destinasi kami adalah pulau, maka stroller lebih sering digunakan apabila kami berjalan-jalan disekitar hotel saja.

Tips saya untuk yang mau berwisata ke Bangkok, selalu sedia kain untuk menggendong anak, baik itu slingwrap, geos ataupun kain jarik dan atau baby carrier, karena kondisi jalanan dan udara di Bangkok tidak selalu memungkinkan untuk penggunaan stroller, apalagi jika bentuk strollernya adalah heavy weight stroller.

===

Advertisements

Merantau di Berlin

Afifah Shihab – Ibu dari 2 anak perempuan dan sekarang menetap di Berlin, Jerman. Bukan tipe ibu penyabar dan kreatif, tapi belajar setiap hari untuk lebih baik.

Pertama kali saya datang ke Berlin, Jerman 6,5 tahun (2010) yang lalu karena ikut suami yang bekerja sebagai Engineer di bidang konstruksi automotif.  Awal datang, penyesuaian yang sulit selain cuaca yang dingin adalah bahasa. Bahasa Jerman termasuk bahasa yang sulit mulai dari Pronunciation apalagi Gramatik. Di Jerman, mengikuti kursus bahasa Jerman menjadi program Integrasi Republik Jerman bagi pendatang yang akan bermukim di sini.

WhatsApp Image 2017-07-05 at 14.56.50

Untuk mendapatkan visa tinggal bersama keluarga, saya harus mengikuti sertifikasi ujian A1 di Goethe Institute Jakarta. Sesampainya di Berlin, melanjutkan sampai B1 sebagai program integrasi. Sekarang ini saya baru saja menyelesaikan ujian B2 setelah sebelumnya vakum melahirkan dan mengurus dua anak selama 3,5 tahun. Biaya yang dibayarkan untuk mengikuti kursus bahasa sampai tingkat B1 waktu itu dibiayai setengahnya oleh Badan Imigrasi.  Masih ingat waktu itu masih takut untuk ke supermarket atau ke dokter sendiri, karena takut tidak mengerti bahasa mereka dan tidak bisa berkomunikasi.  Karena beberapa pengalaman pertama saya, beberapa orang Jerman entah karena enggan atau apa, tidak mau menggunakan bahasa Inggris. Dan first impression saya waktu itu orang Jerman agak dingin dan kurang begitu ramah dengan pendatang.

Pengalaman melahirkan

Ibu hamil memeriksa kandungannya di klinik dokter kandungan, untuk melahirkan mendaftar di RS lain sesuai pilihan. Selain itu, ibu yang akan melahirkan mendapatkan bidan khusus yang akan datang kerumah untuk memeriksa kesehatan ibu dan bayi mulai dari sebelum melahirkan sampai pasca melahirkan.

Waktu itu pengalaman yang bikin agak kaget karena waktu itu bayangan saya, yang ganti popok di hari hari pertama di RS adalah suster, tapi ternyata semua dikerjakan ibu atau ayahnya sendiri, jadi biasanya di sebelah kamar inap tersedia kamar khusus yang menyediakan perlengkapan bayi lengkap mulai dari popok ganti, baju, jumper, popok kain, tisu basah, dll. Awalnya ngerasa repot dan masih sakit. tapi justru itu yang membuat kita sebagai orangtua baru jadi percaya diri dan kuat untuk mengurus bayi sendiri mulai dari mengganti popok sampai mengukur temperatur bayi.  Bukan hanya itu, makan pagi pun kita harus ambil sendiri di kafetaria RS, jadi waktu itu ke kafetaria yang letaknya di lantai yang sama sambil dorong bayi, makan pagi pun ditemani bayi karena memang para suami tidak boleh menginap di RS.

By the way, di sini, selimut dan bantal diwanti-wanti agar tidak dipakai untuk bayi. mereka sangat memperhatikan keselamatan bayi ketika tidur, karena bisa tertutup selimut/bantal. Sebagai gantinya, mereka memakai schlafsack (kantung tidur). Di RS umum seperti tempat saya melahirkan kantung tidur ini diberikan secara percuma dari awal bayi dilahirkan.

Kantung tidur (schlafsack) pengganti selimut

Mencari berbagai informasi tentang mengasuh bayi di Berlin, bagaimana merawat kesehatan bayi dll saya dapatkan secara gratis dari berbagai tempat; mulai dari flyer, situs online, majalah-majalah gratis yang ada di klinik, apotek, hingga  ke sentra keluarga tempat bertemunya komunitas keluarga. Sayangnya memang semua dalam bahasa Jerman. Selain itu, kita juga bisa bertanya dengan bidan yang datang ke rumah. Tugas utama bidan yang datang ke rumah adalah memeriksa kondisi ibu dan bayi, dan beberapa kali mengajarkan ibu cara memandikan bayi, membersihkan bekas tali pusar, mengajarkan cara menyusui, memberi obat jika ada luka menyusui, dan sebagainya. Bidan biasanya datang selama 2 minggu sampai 1 bulan, tergantung kebutuhan, tapi biasanya setelah 1 bulan ibu-ibu sudah ahli mengurus anaknya 😉

WhatsApp Image 2017-07-05 at 14.526.50.jpg

Selain bidan, yang membuat saya juga terkesan adalah badan sosial keluarga di Jerman yang sangat memperhatikan kesejahteraan keluarga. Waktu itu ada pekerja sosial yang datang, memberikan informasi, misalnya, daftar dokter anak yang ada di daerah sekitar, jadwal imunisasi, daftar daycare, memberikan informasi terkait administrasi kelahiran anak dst. Selain itu juga menanyakan kondisi psikologis ibu dan anak dan bersedia menjawab segala pertanyaan tentang anak di Berlin (misalnya tempat bermain indoor atau grup bermain PEKIP )

54005021012514744029

PEKiP-kurs is a Parent-Child Program for parents and their children in their first year.

Senam Pasca Melahirkan

Setelah kelahiran, saya mengikuti senam pasca kelahiran yang dianjurkan oleh dokter. Biayanya ditanggung oleh asuransi jika diambil selama bayi nya masih dibawah 9 bulan. Senamnya membawa bayi tentunya di suatu ruangan sentra keluarga, tenang dan lebih banyak diatas matras. Senam yang berfungsi untuk  menguatkan rahim kembali. Di sentra keluarga ini juga terdapat program lain seperti Pekip, yaitu grup bermain ibu dan anak yang dipandu oleh guru. Sambil bernyanyi, bermain dan berkenalan sesama ibu atau ayah.

Senam pasca melahirkan (Ruckbildung Gymnastik)

Komunitas Indonesia di Berlin

Sebagai ibu kota Jerman di mana KBRI bertempat, Berlin memiliki penduduk Indonesia yang sangat banyak diantara kota kota lain. Di Berlin ada mesjid komunitas Indonesia yang disebut juga IWKZ.eV. Masjidnya masih berbentuk rumah belum seperti bangunan masjid. Di sini adalah salah satu tempat paling mudah dan cepat mencari komunitas bagi para muslim ☺. Bagi para mahasiswa Ada juga PPI dan KMKI (komunitas katolik). Di bulan Ramadhan, masjid Indonesia dan KBRI mengadakan acara buka puasa bersama setiap minggunya.

Selain itu, KBRI juga sering mengadakan acara festival budaya , baik itu di aula KBRI atau di tempat umum seperti Mall atau di taman kota misalnya di salah satu Taman Garten der Welt yaitu taman yang memuat area dengan arsitektur berbagai negara, salah satunya ada taman bali. Di area ini semua arsitekturnya bertemakan Bali. Di taman ini, sering diadakan festival kultur seperti pertunjukan tari dan kuliner dari Bali.

Area taman Bali di Garten der Welt , Berlin  disamping menawarkan keaslian suasana Bali, juga menawarkan pemandangan yang eksotis tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga tropis yang banyak di jumpai di negara beriklim trofis.

Tempat Ramah Anak di Berlin

Berlin merupakan kota yang sangat hijau, dengan 2.500 tempat terbuka hijau diseluruh Berlin (https://www.berlin.de/berlin-im-ueberblick/hauptstadtleben/erholung/ ). Setiap 200 m di daerah perumahan, harus ada tempat bermain anak. Sayangnya , banyaknya pemilik anjing di Berlin membuat kota ini jadi kotor dengan kotoran anjing di jalanan dan beberapa taman walau sudah ada larangan membawa masuk anjing ke rumput taman. Ditambah masih banyak juga penduduk  yang tidak menjaga kebersihan kota.

Tempat bermain di Berlin dan mungkin di sebagian besar di kota kota di Jerman lebih banyak berbahan kayu dan lebih banyak menawarkan main panjat-panjatan dan rintangan.

Di tengah kota juga terdapat beberapa peternakan mini. Tidak harus  pergi jauh ke luarkota , anak -anak bisa lihat langsung binatang-binatang seperti : domba, sapi, kuda poni, ayam, dan kelinci.

Waktu Keluarga

Akhir pekan biasanya kita pakai jalan jalan main ke spielplatz ( playpark) diluar. Kalau cuaca tidak mendukung, kita pindah ke tempat main indoor seperti Legoland yang menawarkan yearly ticket.  Memasuki musim semi, taman0taman besar seperti Britzer Garten dan Garten der Welt menawarkan pameran bunga seperti tulip dan sakura (Cherry Blossom).

tulipan-03

Britzer Garten

Street Art di Berlin juga menarik untuk diamati

Pengalaman lainnya di Berlin

Selain sebagai ibu rumah tangga, saya masih mengikuti kursus lain namanya Elternredaktion. Sebuah program kursus dari VHS ( sentra pendidikan komunal) untuk menulis sebuah majalah bagi para imigran. Disini saya belajar berdiskusi tentang tema apa yang menarik ditulis, belajar mengenal berbagai orang dari berbagai latar belakang budaya dan belajar menulis berita atau sebuah laporan interview dan belajar fotografi jurnalistik.

Di majalah edisi kemarin yang saya tulis adalah tentang pengalaman seorang relawan asal Indonesia yang mendedikasikan waktunya untuk mengajar Bahasa Jerman bagi keluarga pengungsi asal Syria. Karena saya suka menulis, kursus ini sangat menarik buat saya.  Kursus ini diadakan secara gratis bagi siapa saja dengan tingkat bahasa standard, kebanyakan yang ikutpun beragam mulai dari anak muda sampai orangtua. Tidak perlu punya keahlian menulis apalagi jago bahasa Jerman. Di sini siapapun diterima. Selain menulis tentang interview, saya juga ikut menyumbangkan resep indonesia yaitu resep tumis kacang panjang tempe (karena waktu itu tema majalah nya kacang panjang) .

Dari kursus bahasa Jerman saya mendapat sekali banyak pengalaman, diantaranya bisa pergi ke kamp Konsentrasi Yahudi di Berlin utara, karena di setiap kursus biasanya ada yang namanya kunjungan ke museum atau tempat tempat bersejarah.

Memorial and Museum sachsenhausen

Sampai ke pengalaman bertemu dengan Perdana Mentri Jerman ‚Angela Merkel di tahun 2017. Perdana Mentri Jerman ini datang dalam rangka kunjungan demografis dan tempat kami belajar kebetulan juga bertempat di gedung sosial yang menunjang dan membantu berbagai program sosial untuk berbagai lapisan masyarakat. Suatu pengalaman yang tidak akan terlupakan bisa bertatap muka langsung dengan orang nomor satu di Jerman.

Di gedung tempat saya belajar ini pula terdapat berbagai program ‘Engagement‘ , yaitu suatu inisiasi bagi masyarakat yang ingin membantu komunitas Berlin secara volunteer. Bisa membantu membacakan buku di perpustakaan bagi kelompok anak-anak, bisa juga membantu menemani pengungsi yang masih minim berbahasa Jerman, membantu para lansia, membantu membersihkan kota, dst.

Program Engagement ini sangat terstruktur di mana para relawan ditraining dan didampingi oleh supervisor. Saya tertarik dengan program engagement ‚Lesepaten, dimana volunteer 1x dalam seminggu menyediakan sekitar 2-3 jam untuk membacakan buku bagi anak anak di Perpustakaan. Menurut saya, program sosial di Berlin yang terintegrasi dan lengkap ini lah yang ingin sekali suatu saat saya bawa ke Indonesia untuk mensupport masyarakat di berbagai aspek. Mulai dari anak anak, keluarga dan juga lansia.

=====

Kisah Afifah dan keluarga bisa dibaca juga di http://www.jemarikecil.wordpress.com tentang kehidupan di Berlin dan kisah + tips parenting lainnya.

 

Merantau di Bangkok

Processed with VSCO with hb1 presetFathiannisa Gelasia (Icha) – Seorang litigator yang sekarang beralih profesi mendedikasikan waktu serta tenaga untuk merantau bersama suami ke Bangkok dan menjadi stay at home mom.

PENGALAMAN MERANTAU

Pertama kali saya mulai merantau itu pada tahun 2013, dimana saya menempuh pendidikan master hukum di Leiden, Belanda. Tapi saat itu saya belum menikah dan belum jadi seorang mamarantau. Setelah menikah dengan suami pada tahun 2015, kami sempat merantau dan tinggal di Bali selama 7 bulan, sebelum akhirnya suami mendapatkan panggilan kerja di Bangkok pada awal tahun 2016.

IMG_8476

With husband: Agantara Juanda

Awalnya hanya suami yang berangkat ke Bangkok karena saya sedang hamil kedua dan ketika kehamilan pertama saya mengalami kegagalan, dokter menyarankan saya untuk berangkat ke Bangkok ketika kehamilan kedua saya ini sudah berumur 5 bulan.

MERANTAU DI BANGKOK

Pada tanggal 15 Agustus 2016 saya tiba di Bangkok dan memulai perantauan saya kembali, kali ini bersama suami saya. Walaupun sudah terbiasa tidak tinggal serumah dengan orangtua (saya sejak kuliah sampai akhirnya menikah dengan suami tidak tinggal bersama orang tua), mungkin karena saya sedang hamil dan hormon yang berantakan, bulan-bulan pertama saya di Bangkok lumayan membuat saya depresi, tertekan dan sedih. Sejak lulus kuliah Sarjana Hukum pada Januari 2012, saya sudah terbiasa bekerja, menghasilkan pendapatan sendiri dan memiliki hari-hari yang aktif.

Processed with VSCO with hb1 preset

Namun, karena kondisi saya yang sedang hamil 5 bulan ketika tiba di Bangkok, maka sangat tidak mungkin ada kantor hukum atau perusahaan yang mau menerima saya bekerja karena toh dalam waktu 3 bulan saya sudah akan mengambil cuti melahirkan. Maka dimulailah hari-hari saya dimana saya benar-benar belajar menjadi ibu rumah tangga dan belajar menikmati kesendirian saya di Bangkok.

TENTANG BANGKOK

Tinggal di Bangkok hampir mirip dengan Jakarta. Cuacanya, kondisi jalanannya, bahkan tekstur makanan pun sedikit tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Yang cukup mengejutkan adalah kemacetan di Bangkok; sama persis dengan Jakarta. Untungnya apartemen saya dan suami berada persis di depan stasiun BTS (Bangkok Mass Transit System) yang berupa kereta cepat, hampir sama dengan MRT. Karena kemacetan yang berlebihan itu, terkadang saya dan suami sangat menghindari berkunjung ke tempat-tempat yang hanya bisa didatangi dengan menggunakan kendaraan pribadi.

5104226627001_5230017886001_5219431537001-vs

Bangkok via Lonely Planet

7138231-bangkok-july-12-bts-sky-train-at-the-platform-in-rush-hour-on-july-12-2013-in-bangkok

The Bangkok Mass Transit System, commonly known as the BTS or the Skytrain

Lebih menarik lagi, ojek disini juga merupakan sebuah transportasi yang cukup umum dan sangat murah. Jadi, terkadang saya dan suami menyiasati jalanan macet dengan menggunakan ojek. Misalnya, sewaktu shalat Ied pada Idul Adha kemarin. Jarak antara rumah kami dengan KBRI cukup jauh, dan di daerah sekitar KBRI tidak terdapat BTS. Ditambah KBRI berada di tengah-tengah kawasan perbelanjaan, jadi biasanya sangat jarang taksi yang mau mengantarkan penumpang dengan tujuan ke daerah-daerah sekitar KBRI tersebut. Shalat Ied di Bangkok dilaksanakn pukul 07.00 pagi, bersamaan dengan jam sibuk para pegawai Bangkok yang harus berebutan untuk bisa masuk ke dalam BTS. Setelah mengantri di BTS lebih dari 30 menit, saya dan suami akhirnya memutuskan untuk naik ojek ke KBRI. Dengan waktu tempuh sekitar 30-35 menit ke KBRI, kami harus membayar ojek sekitar 80.000 per orang. Tapi ya hampir sama dengan di Jakarta, kalau pake ojek, sudah pasti akan bisa menghindari macet di Bangkok.

motorcycle-taxi-in-bangkok_1

Motorcycle Taxi (a.k.a Ojek)  dan ada UberMOTO juga

Hal menarik lainnya yang kami alami disini adalah ketika Raja Thailand, King Rama IX Bhumibol Adulyajed, meninggal dunia pada bulan Oktober 2016 yang lalu. Kami menyaksikan sendiri bagaimana seluruh warga Thailand secara bersama-sama berkabung atas kematian Raja mereka tersebut. Stasiun TV lokal hanya menggunakan warna hitam putih, hampir seluruh website Thailand pun hanya berwarna hitam putih, tidak ada lagi iklan dan musik-musik yang terdengan di TV umum di dalam BTS, dan hampir 90% warga Bangkok menggunakan baju berwarna hitam, abu-abu atau putih. Sangat jarang kami melihat ada warga Bangkok yang tidak menggunakan ketiga warna tersebut. Minggu-minggu pertama setelah kematian Raja Thailand tersebut, suasana berkabung benar-benar terasa di seluruh jalanan-jalanan Thailand.

ru-co-tang-3ngay-tang-thong3.jpg

Saya dan suami pun berusaha mengikuti peraturan berkabung tersebut. Sampai-sampai kami kehabisan pilihan baju berwarna hitam, abu-abu atau putih untuk digunakan sehari-hari.

KEHIDUPAN DI BANGKOK

Untuk mengurus rumah di Bangkok saya dan suami seringkali mengalami kesulitan, khususnya dalam hal bahasa. Rata-rata pegawai yang bekerja di apartemen kami tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, termasuk pula asisten rumah tangga harian yang membantu saya membersihkan rumah, ataupun pekerja yang biasa memperbaiki AC atau masalah listrik kami. Jadi benar-benar semuanya menggunakan bahasa Inggris yang sangat singkat dan kebanyakan menggunakan bahasa isyarat. Saya dan suami tidak mempekerjakan asisten rumah tangga bulanan, tetapi hanya mingguan. Seminggu sekali, ada 2 orang asisten rumah tangga yang membantu saya membersihkan rumah. Sisanya saya sendiri yang membersihkan. Sampai detik ini saya masih belajar dan berusaha beradaptasi dengan peran baru saya sebagai ibu rumah tangga. Mengurus rumah dan mulai Desember, mulai mengurus anak pertama kami. Akan tetapi, kemauan saya untuk bekerja sepertinya sangat sulit untuk dihilangkan sehingga sudah sebulan belakangan ini saya akhirnya memulai profesi baru saya sebagai konsultan hukum freelancer, yang mana sejauh ini pekerjaan tersebut sangat pas dengan saya di Bangkok ini.

Karena kondisi sedang hamil sewaktu pindah ke Bangkok, jujur saya tidak terlalu banyak mengeksplorasi kota Bangkok, kecuali berkunjung ke tempat2 perbelanjaan yang memang harganya sangat jauh lebih murah dibanding Jakarta. Menariknya, di Bangkok ini sangat banyak dan terkenal dengan Night Market, yaitu tempat-tempat perbelanjaan dan hiburan yang buka dari sore hingga dini hari. Dari mulai yang khusus untuk belanja seperti Chatucak Weekend Market, sampai kawasan hiburan malam seperti yang ada di Patpong.

IMG_3163

chatuchak-weekend-market

The Chatuchak Weekend Market is the largest market in Thailand. Also known as JJ Market, it has more than 8,000 stalls, divided into 27 sections.

or-tor-kor-market-bangkok

Food galore via migrationology

Sisanya hampir sama seperti Jakarta, Bangkok dikelilingi oleh mall-mall besar yang menjadi tempat hiburan utama.

PENGALAMAN HAMIL DAN MELAHIRKAN

Pada 22 Desember 2016 yang lalu, saya melahirkan anak pertama saya di Bangkok. Perjalanan kami untuk bisa menemukan dokter yang sesuai tidak terlalu susah sepertinya. Hal tersebut dikarenakan kriteria saya dan suami dipersempit dengan keharusan memilih rumah sakit yang jaraknya dekat apartemen kami dan mudah aksesnya (akses BTS terutama, karena seperti yang sudah tulis, kemacetan di Bangkok tidak jauh berbeda dengan Jakarta). Pilihan kami akhirnya jatuh pada rumah sakit St. Louis, yang jaraknya hanya 3 stasiun BTS dari apartemen kami. Untuk akses dengan uber maupun taksi pun cukup mudah dan dekat, sehingga tidak perlu khawatir mengenai waktu tempuh. Dokter kandungan yang kami temui pun ternyata sangat pro persalinan normal dan kemampuan berbahasa Inggris-nya mempermudah kami untuk berkomunikasi.

IMG_8083

St. Louis Hospital – Women’s Health Center

Due date persalinan saya Desember kemarin adalah tgl 26 Desember 2016. Namun, sejak awal Desember rupanya saya sudah mengalami pembukaan 1, dan pembukaan 1 mentok hampir 10 hari. Dua minggu sejak dokter saya memeriksa bukaan 1 saya tersebut, akhirnya keputusan untuk diinduksi kami ambil karena rupanya saya sudah ada di bukaan 4, akan tetapi kontraksi yang saya rasakan tidak cukup kuat. Pada 22 Desember 2016 pukul 3 sore, saya masuk ruang persalinan.

Pengalaman melahirkan saya yang pertama ini cukup traumatis untuk saya pribadi, walaupun terhitung cukup cepat. Saya mulai diinduksi pukul 15.00 sore, dan putri kami lahir pukul 23.36 malamnya. Akan tetapi, proses persalinan yang saya alami cukup jauh berbeda dengan persalinan di Indonesia. Pukul 20.00 dokter menyatakan bahwa saya sudah memasuki bukaan 8, dan sepertinya pukul 21.00 saya sudah akan mempunyai bukaan penuh dan bisa mengejan untuk melahirkan anak saya. Akan tetapi, sejak bukaan 8 tersebut, rupanya saya sudah disuruh untuk mengejan. Dokter bilang untuk mempercepat naiknya bukaan. Saya pun mengejan ditemani suami dan ibu saya, dibantu oleh beberapa bidan, dokter saya ada di ruangan sebelah membantu pasien lain yang juga sedang bersalin.

Pukul 21.00 tiba, tetapi dokter saya tidak juga datang. Beberapa bidan juga sudah sibuk keluar masuk sehingga terkadang saya mengejan hanya didampingi suami dan ibu saya. Rasa sakit dan mulas karena kontraksi serta obat induksi bercampur jadi satu, ditambah juga rasa panik karena dokter yang kami andalkan tidak datang-datang ke ruang bersalin. Pukul 22.30 akhirnya dokter masuk ruang bersalin sambil meminta maaf karena sebelumnya tertahan di ruang bersalin lainnya dengan pasien yang juga sedang melahirkan. Suami dan ibu saya sudah habis tenaga untuk protes dan saya pun sudah tidak bisa fokus lagi. Proses persalinan pun dimulai, saya mulai mengejan dan kepala putri kami mulai perlahan-lahan terlihat. Namun, mungkin badan saya sudah terlalu lemas dan tidak bertenaga karena tiba-tiba saya kejang-kejang dan akhirnya dokter pun memutuskan untuk emergency c-section karena kondisi saya cukup berbahaya untuk persalinan normal. Pukul 23.05 kami masuk ruang operasi dengan keadaan saya yang masih gemetar tidak bisa diberhentikan, dan baru bisa tenang setelah disuntikkan obat penenang. Setelah itu proses operasi pun dimulai dan tak lama kemudian putri saya lahir. Alhamdulillah dengan keadaan sehat, selamat dan sempurna.

IMG_2134

Putri pertama kami “Kakak Dhaula”

Secara keseluruhan, kebiasaan-kebiasaan di rumah sakit ini hampir sama dengan di Indonesia. Saya diajari cara menyusui yang baik dan benar, bahkan suster-suster pun tidak keberatan membantu saya melakukan breast massage di hari-hari awal untuk memperlancara produksi ASI. Saya diberikan minuman jahe dan gingseng 3 kali sehari untuk memperbanyak ASI dan memulihkan tenaga. Setelah 4 hari observasi di rumah sakit, akhirnya kami sekeluarga bisa pulang ke rumah. Yang unik adalah rumah sakit di Bangkok tidak mengenal tindik menindik pada bayi perempuan, jadinya putri kami baru bisa ditindik ketika kami pulang ke Indonesia sebulan kemudian.

HAL SEPUTAR ANAK

Sejauh ini mengurus bayi hanya berdua dengan suami di negara orang merupakan tantangan tersendiri. Selain dari asisten rumah tangga yang datang untuk membersihkan rumah seminggu sekali, kami melakukan yang lain-lainnya sendiri. Untungnya Bangkok sangatlah baby friendly. Rata-rata stasiun BTS memiliki eskalator dan elevator sehingga mempermudah kami menggunakan stroller. Di mall-mall pun sudah disediakan nursery room, walaupun terkadang masih menjadi satu dengan disable bathroom, tapi setidaknya privasi ketika menyusui atau harus ganti popok bisa terjaga dengan baik.

TUJUAN WISATA DI BANGKOK

Tempat favorit saya dan keluarga, terutama apabila ada keluarga atau teman yang berkunjung ke Bangkok, adalah Asiatique Riverfront. Night Market yang satu ini letaknya ada persis di sebelah Sungai Chao Phraya. Menariknya, toko-toko di sini buka sampai malam dan dikelilingi dengan jajanan yang menarik di sekitarnya. Untuk kami yang mempunyai bayi kecil, night market yang satu ini sangat ideal. Udaranya enak karena letaknya di pinggir sungai, banyak restoran-restoran yang bisa jadi pilihan untuk makan, dan tersedia nursery room di beberapa bagian.

Asiatique-6Edit

Asiatique The Riverfront is an expansive open-air mall with river views and a cutting-edge ‘festival market and living museum’ concept.

Merantau bertiga bersama suami dan anak saya adalah pengalaman hidup yang mengajarkan saya banyak hal. Bagaimana harus bekerja sama dengan suami, membagi tugas dan berkomunikasi dengan baik, dimana hingga saat ini saya dan suami masih harus terus belajar dan belajar. Apalagi ditambah, kami jauh dari keluarga dan kerabat dekat kami, sehingga sangat minim yang namanya bala bantuan. Hampir semua pekerjaan rumah tangga saya lakukan sendiri, 2 minggu sekali ada yang datang kerumah untuk membantu membersihkan rumah dari tungau-tungau, dan di weekend, saya dan suami kerja bakti berdua mengurus rumah sambil menjaga Dhaula. Begitu pula dalam hal mengurus Dhaula, setiap mandi pagi dan malam, bapaknya selalu meluangkan waktu untuk memandikan Dhaula sebelum berangkat kerja dan ketika pulang kerja. Baru ketika malam hari, saya dan suami bisa bersantai, makan malam dan beraktifitas lainnya. Siang harinya kadang saya harus putar otak untuk meng-entertain Dhaula, kadang saya ajak Dhaula jalan-jalan untuk groceries shopping atau sekedar bermain sore hari di taman atau apabila suami sedang tidak sibuk dan bisa pulang on time, saya ajak Dhaula jalan kaki menjemput suami ke kantornya yang memang jaraknya tidak jauh dari rumah.

Sekian sekilas cerita-cerita tentang kehidupan di Bangkok. Nanti akan saya sambung lagi mengenai liburan keluarga kami ke Koh Mui dan Seoul beberapa waktu lalu dengan si bayi kecil Dhaulagiri. Saya akan berbagi tips berpergian dengan bayi 40 hari  🙂

WhatsApp Image 2017-05-01 1at 22.37.25

———-

Foto-foto terlampir adalah foto pribadi Icha dan keluarga. Beberapa foto lainnya terhubung dengan tautan asli foto atau dicantumkan dalam picture credit.

Article written by Icha and edited by Mamarantau’s content editor: Mita Rangkuti.

Instagram Icha: ichagelasia. More info about living in Bangkok or contact Icha personally please contact to mamarantau@gmail.com.

 

Serba-serbi Finlandia (2)

WhatsApp Image 2016-10-18 at 20.34.02.jpegRika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finland with two bilingual sons- Kai and Sami, a Finns husband – Mikko. Still trying (hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Akibat musim dingin yang terlalu panjang, musim panas di Finlandia jadi terasa sangat berharga. Dan begitu langit musim panas mulai menyapa, banyak orang yang berusaha untuk menjadikan musim panas menjadi lebih spesial dengan cara menciptakan permainan-permainan seru. Permainan ini awalnya dibuat untuk iseng-iseng saja, pesertanya cuma warga sekitar saja tapi kemudian mulai terkenal sampai akhirnya diakui sebagai cabang olah raga resmi di Finlandia. Malah beberapa diantaranya dibikin kejuaran dunianya karena banyak orang asing yang juga tertarik untuk ikut serta. Berhubung olah raganya gak umum, aneh, dan memang agak gila, cabang-cabang olah raga tersebut kemudian dijuluki sebagai hullut suomalaiset urheilulajit atau olah raga gila orang Finlandia.

i_hullutsuomalaiset_valmis

Beberapa cabang olah raga tersebut adalah:

Eukonkanto (Wife Carrying Competition)

Ini salah satu olah raga gila yang paling penting dan paling terkenal. Kejuaraannya diadakan setiap musim panas di Sonkajärvi. Di cabang olah raga ini laki-laki harus berlari melewati beberapa rintangan sambil menggendong wanita (istri). Konon olah raga ini terinspirasi dari sebuah legenda di bagian timur negara Finlandia, dimana jaman dahulu kala, penjahat laki-laki suka datang ke desa kecil menculik perempuan untuk dijadikan istri. Biasanya penjahat tersebut membawa perempuan culikan mereka dengan cara menggendong/menunggingkannya di pundak.

ccf55b40-781f-49e8-9041-c567b73dce59

Untuk lombanya sendiri yang ikut tidak harus suami-istri tapi harus sepasang pria dan wanita. Kita dapat menjadi peserta dalam kompetisi Eukonkanto dengan cara mendaftarkan diri di website resminya dan jika menang, hadiahnya adalah berliter-liter bir sebanyak berat “istri” yang diangkut.

Ilmakitara (Air Guitar Competition)

Ini juga gak kalah gila, ya. Lomba pura-pura memainkan gitar. Maksud ‘ngana’?

Mengintip sedikit di Wikipedia: Air guitar is a form of dance and movement in which the performer pretends to play rock or heavy metal-style electric guitar, including riffs, solos, etc. Playing an air guitar usually consists of exaggerated strumming and picking motions and is often coupled with loud singing or lip-synching.

Masih menurut wikipedia, ada beberapa kriteria penilaian dalam kompetisi pura-pura main gitar ini:
Technical merit— biarpun cuma pura-pura tapi main gitarnya harus meyakinkan, harus terlihat real, dinilai dari bagaimana teknik bermainnya, termasuk posisi jari-jari saat memegang kord.
Mimesmanship— mimik dan ekspresi yang harus meyakinkan, bahwa mereka memang sedang sungguh-sungguh main gitar, bukan cuma pura-pura.
Stage presence—kharisma di atas panggung. Be a rock star and rock the audience. Salam tiga jari, pemirsa!
Airness—nilai artistik dari performance yang ditampilkan.

130813170912-air-guitar-world-championships-oulu-finland-horizontal-large-gallerynanami

Dan saya cuma bisa geleng-geleng kepala, apaan sih ini? Tapi Air Guitar Champioship justru yang sudah mendunia, kejuaraannya sudah diadakan dimana-mana dan ada computer game-nya juga.

Suojalkapallo (Swamp Soccer)

Alias main bola di dalam lumpur. Awalnya kegiatan ini dijadikan sebagai ajang latihan untuk militer atau atlet profesional dalam rangka meningkatkan kondisi fisik mereka. Secara permainan bola biasa saja sudah jelas menuntut ketahanan fisik, apalagi jika bermainnya di dalam lumpur. Seiring waktu, permainan ini mulai populer di kalangan masyarakat umum dan sekarang malah ada kejuaraannya.

suofutis2760762

Permainan ini tidak benar-benar dilakukan di rawa berlumpur melainkan di lapangan yang direndam lumpur. Waktu tandingnya juga lebih singkat dari permainan bola biasa, “cuma” 2×13 menit saja. Swamp soccer dibuka untuk grup lelaki dan perempuan dan kejuaraannya sudah diadakan di negara-negara lain seperti Swedia dan Brazil.

Muurahaispesässä istuminen (Ant-Nest Sitting Competition)

Ini pasti kejuaraan paling edan. Lomba duduk di sarang semut! Dengan bokong telanjang!

Katanya, sih, perlombaan duduk di sarang semut ini diadakan di banyak daerah di Finlandia sepanjang musim panas. Rekor dunia saat ini dipegang oleh Lyde Lyytikainen dengan waktu 2 jam 10 menit.

Dari yang saya baca-baca di internet, tips paling penting dalam mengikuti kegiatan ini adalah untuk membuat bokong kita kebas dan mati rasa sebelum berlomba. Bisa dengan cara mencubit-cubit bokong dulu seharian, atau ditampar-tampar hingga mati rasa, atau bisa juga dengan cara merendam bokong di air es selama beberapa jam sebelum perlombaan dimulai.

Saappaanheitto (Boots Throwing Competition)

Ini lomba jauh-jauhan melempar sepatu bot karet. Laki-laki akan diberikan sepatu bot no.43 untuk dilempar sementara perempuan no. 38. Gaya melemparnya dibebaskan kepada peserta yang penting harus coba untuk melempar sejauh mungkin. Kejuaraan dunia melempar sepatu ini sudah diadakan di beberapa negara di luar Finlandia, diantaranya di Italia, Jerman, Estonia, Swedia dan Polandia.

saappaanheitto

Asal muasal permainan ini masih menjadi tanda tanya. Diduga pada jaman dahulu kala ada seorang pria yang sedang bersantai di teras mökki-nya sambil minum bir, tiba-tiba dia melihat ada sepatu bot tergolek di halaman dan terus… dilempar deh (kriik… kriik). Ada yang bilang, semua cabang olah raga aneh di sini Finlandia tercipta akibat kebanyakan minum bir setelah bersauna.

Lomba lempar melempar ini agaknya cukup diminati di Finlandia. Selain melempar sepatu bot masih banyak lainnya yang bisa dilempar. Ada lomba melempar telepon genggam, melempar kursi atau melempar rumput.

Menarik yaa? Mau dicoba di Indonesia? 🙂


Written by Rika Melissa. Content editor: Mita Rangkuti.

Images on this page are linked to its original source (if not, it is all taken from the Internet).

Merantau di Britania Raya

dsc04794Resci Anggrita (Eci) – A wife and a mom of one daughter. Easily excited person. Lived in Egham,UK 2012 – 2016 to accompanying my husband doing PhD in Royal Holloway University of London.

Adaptasi tinggal di Egham, Britania Raya

Egham merupakan salah satu kota bagian dari Runnymede Council, yakni kota kecil yang ada di bagian South East-nya London. Kota kecil yang sepi ini juga dilalui oleh arus sungai the famous River Thames. Egham itu kota yang sepi, jauh dari keramaian layaknya London. Untuk yang ingin mecari ketenangan, banyak yang memilih Egham untuk dijadikan tempat tinggal. Yang bekerja di London pun rela menempuh jarak yang cukup jauh (kurang lebih 40 menit ke Central London dengan kereta). Dan bahkan, banyak juga yang memilih untuk menghabiskan masa tua di Egham; karena selain mahasiswa Royal Holloway, mayoritas penduduk di Egham adalah yang sudah sepuh.

10615505_10204407864775407_1543472584104387018_n

Eci bersama Ega dan Qaireen

Royal Holloway ini bagian dari university of London, terletak di kota Egham 31 km dari pusat kota London. Terdiri atas tiga Fakultas dan 20 Departement. Salah satu departemen nya itu adalah Department Earth of Sciences. Geology ada di bawah departemen tersebut dan menjadi salah satu jurusan favorit di Royal Holloway. Setiap tahunnya akan ada satu mahasiswa program master yang dikirim dari Teknik Geologi ITB. Mayoritas di Royal Holloway memang ada di jurusan GeologI dengan Program Master. Suami Eci kebetulan tinggal satu-satunya yang menjalani Phd di sini, dua seniornya sudah kembali mengabdi di almamater mereka.

Sama halnya dengan para perantau dari luar UK, hal yang sangat saya senangi adalah fasilitas umum yang rapih, bersih, dan gratis. Playground for kids jadi hiburan bagi saya dan anak saya, karena anak saya umurnya masih dibawah tiga tahun, jadi belum sekolah. Sehingga hari-hari weekdays sering sekali dihabiskan di playground, library atau yaa di rumah saja. Di library biasanya ikut kids activity seperti rhyme time bernyanyi bersama atau sekedar storytelling oleh pustakawan.

egham-main-street

Main Street Egham yang selalu sepi dan tenang di hari biasa

Tentang Egham dan Apartemen Hunting

Biaya sewa rumah dan transportasi di Egham yang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa. Tapi Alhamdulillah tercover tiap bulannya. dengan menyiasati kami selalu makan masakan rumah alias mengurangi jajan di weekdays. Jalan-jalan dan jajannya dirapel di akhir pekan.

Di Egham tidak ada supermarket atau butcher yang khusus menyediakan produk halal. Kita bisa mendapatkan daging, ayam dan produk halal lainnya di kota sebelah, Slough, yang banyak komunitas muslim disana, ataupun belanja online dari supermarket tertentu. Kalau untuk bumbu dapur, rempah, produk Asia yang  jarang dijual di supermarket pada umumnya bisa di beli di Oriental Store di Egham atau di Tuesday Market di kampus RHUL. Tempe, kecap manis, mie instan, saus sambal, ikan teri, dan sereh semua ada di sini, jadi tidak perlu jauh jauh ke London.

Dari 2012 di UK, Eci dan suami gak pusing cari rumah, karena sudah ada temen temen Indonesia yang bantu mencarikan. Dikarenakan budget sewa rumah yang kurang bersahabat untuk para mahasiswa yang membawa serta keluarga, jadi kami tinggal di sharing house sesama orang Indonesia. Egham ini salah satu kota mahal dalam hal property, padahal tidak ada apa-apanya tapi mungkin karena deket Windsor (rumahnya bu Ratu ), atau demand-nya banyak untuk mahasiswa pendatang. Lebih dari setengah uang beasiswa kami tersedot untuk sewa rumah. Belum lagi karena kita bukan permanent residence disini, ada beberapa House Agent yang mengharuskan kita membayar full 6 bulan sewa didepan. Mahal banget dong klo dibandingin sama kota lain di UK kayak Birmingham atau Cardiff. Uang sewa satu kamar sharing house di Egham bisa buat sewa flat atau rumah dengan dua kamar di Birmingham.

magna-carta-800th-anniversary-main-street

Annual Magna Charta event di Egham High Street

Dari 2012-pertengahan 2015 kita tinggalnya di Egham, deket banget dengan Train Station. Pertengahan 2015- sekarang kita pindah ke Englefield Green, lebih deket ke kampus, dan agak lebih murah karena jauh dari pusat kota Egham.

Pengalaman nyari rumah yang sekarang ditempatin punya cerita tersendiri. Karena banyak house agent yang menolak. Karena tau suamiku tidak hanya sendiri, tapi akan bawa istri dan anak. Intinya mereka mau menyewakan satu kamar untuk satu orang . Tapi untungnya di akhir akhir ada satu House Agent yang bersedia menerima satu kamar diisi dengen tiga orang, pegawainya udah kasian liat kita ditolak tolakin agent house karena punya toddler.

181401

Thames River yang melewati Egham

Tiap tahun ganti personil yang Master. Seru !!! kayak rumah kost deh,mau ke WC cepet cepetan. Keseruan lainnya ya homesick agak terobati lah ya, banyak temen ngobrol. Semua teman Indonesia sudah dianggap seperti saudara.

Pengalaman Melahirkan

Eci dari pertama hamil udah di UK, periksanya di puskesmas (Health Centre) di deket rumah. Misalnya bulan ini ke GP,bulan depan cek hamilnya ke bidan di Health centre yang sama. Dan dua kali USG ke Rumah Sakit waktu hamil 4bulan dan 7 bulan. Dari semasa hamil dan melahirkan tidak ada uang sepeserpun dikeluarkan, dari kontrol rutin bulanan, vitamin, injeksi, biaya melahirkan semuanya ditanggung pemerintah . Seinget saya, hanya membayar uang cetak USG dua kali, masing masing 3 pounds untuk sekali cetak foto usg. Sebenernya biaya cetak juga tidak diwajibkan, hanya karena ini pengalaman pertama hamil buat kenang-kenangan.

Di luar rencana kita, yang awalnya direncanakan melahirkan dirumah sakit . Gak disangka proses pembukaannya relatif  cepat. Waktu itu usia kandungan 37 weeks 6 days (besoknya emang sudah due date lahiran dan first wedding anniversary kami) si Qaireen sudah gak sabar mau keluar. Karena sudah masuk ke tahap emergency, maka saya dan suami memutuskan untuk menelpon 911 dan bidan. Satu unit Ambulance pun datang ke apartemen dengan 1 senior paramedic serta satu trainee paramedic. Pas datang, mereka memeriksa posisi bayi sudah crowning, sehingga diputuskan lebih aman menunggu di rumah daripada melahirkan di jalan. Dengan sabar, si bapak Paramedic ngebimbing kapan harus push. Selama proses persalinan, saya ditemani oleh si mbak trainee sambil menghirup Entonox dengan tujuan agar lebih rileks. Dan Alhamdulillah it works, dua kali ngeden saja. Si anak lahir jam tiga sore waktu setempat. Setengah jam kemudian, midwife tiba untuk cek kondisi aku dan bayi.

Walaupun tidak melahirkan di rumah sakit, ternyata hari kedua setelah melahirkan, saya dan Qai nginep juga dirumah sakit. Karena Qaireen agak kuning (jaundice), dan ASI saya masih belum banyak. Empat hari tiga malam kami menginap di rumah sakit, dan suami saya hanya boleh menemani dari pagi hingga jam 21 malem. Selebihnya saya survive berdua Qai. Tapi Alhamdulillah gak perlu sampai masuk incubator, dan hanya rawat jalan sampai Qai berumur dua bulanan harus cek darah ke rumah sakit setiap minggunya. Dan selama kami stay di rumah sakit pun, kita tidak perli bayar sama sekali baik biaya rawat inap maupun obat, injeksi dsb.

Komunitas Indonesia di Egham

Orang Indonesia di Egham sering banget kumpul-kumpul (selain karena di rumah sharing house dengan orang Indonesia ) tahun 2015 memang mahasiswa Indonesia-nya lagi banyak dan kompak banget. Mereka aktif di group LINE. Kalo ngumpul biasanya pada maen Play station (haha), nonton bareng, maen kartu, dan terakhir juga sempet badminton rutin setiap Jumat.

badminton

Kalau cuaca sedang hangat dan anak anak pada rajin, pada belanja bareng terus BBQ-an deh di rumah. Tahun 2016, mahasiswanya lebih sedikit, selain itu halaman belakang rumah kami kurang mumpuni untuk BBQ party, jadi sudah tidak pernah lagi kumpul-kumpul BBQan. Selain sama mahasiswa, kami juga jalan bareng keluarga Indonesia lain, ada yang tinggal di kota sebelah tepatnya Virginia Water.

14669018467111

Dan kenalan pun jadi bertambah serta membuka lapangan pekerjaan baru buat Eci. Eci sempet beberapa kali terima orderan jualan gorengan dan bumbu masak jadi. Alhamdulillah, banyak teman banyak rezeki 😀

dsc05690

Kumpul-kumpul dengan teman Indonesia sebelum Ramadan

festival-jajanan-indonesia-london

Festival jajanan indonesia event yang diselenggarakan PPI London

piknik-di-saville-garden

Piknik besama mbak pinkan dan keluarga (mamarantau London)

Dan Juni 2016 adalah summer terakhir kami di UK, ini. Dari pengalaman merantau disini, banyak hal yang didapat, salah satunya keluarga tak hanya sebatas hubungan darah, ketika jauh dari tanah air teman baik juga merupakan rezeki yang tak terhingga nilai.

 —-

Pengalaman Hamil dan Melahirkan di Swedia (Dan TIPS menyiapkan MPASI)

10919239_486791268155126_1629298947_nDeni Yulia Mardvall – A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden with lovely husband and a daughter. A dream catcher who takes one step at the times for every challenge in life.

PENGALAMAN HAMIL DAN MELAHIRKAN DI SWEDIA

Saya beruntung bisa mendapatkan pelayanan yang serba gratis tanpa biaya selama kehamilan. Proses kehamilan saya berjalan lancar di mana pengawasan diberikan oleh bidan. Di Swedia, Stockholm pada khususnya, begitu tahu kita hamil, kita diharapkan untuk mendaftarkan diri ke klinik bersalin yang ada di daerah kita, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mendaftarkan diri ke daerah selain tempat tinggal kita. Kita bisa memilih mana yang menurut kita terbaik dan nyaman untuk melakukan pemeriksaan.

3

D-day minus 1

Seperti halnya saya, ketika saya tahu pertama kali saya hamil, saya tidak bisa mendaftarkan diri di klinik yang berada paling dekat dengan tempat tinggal karena klinik dan rumah sakit terdekat sudah penuh dan tidak menerima pendaftaran lagi. Maka dari itu, saya mendaftarkan diri di kecamatan Stockholm, dimana saya memilih klinik ibu dan anak yang dikelola secara private namun bekerjasama dengan pemerintah, jadi siapapun yang mendaftarkan diri di sana akan mendapatkan fasilitas yang sama seperti ibu-ibu lain yang mendaftarkan diri di klinik atau rumah sakit milik pemerintah. Nama klinik dimana saya melakukan pemeriksaan adalah Mama Mia (Mama Mia – Midwives – Karlavägen 58-60, Östermalm, Stockholm)

PERBEDAANNYA DENGAN INDONESIA

Banyak hal yang berbeda selama proses kehamilan dan melahirkan antara Indonesia dan Swedia. Saya akan mencoba memberikan sedikit contoh menurut pengalaman saya pribadi dan semoga saja saya bisa menyebutkan semua tanpa ada yang tertinggal.

Seluruh Biaya Selama Proses Kehamilan dan Melahirkan Ditanggung oleh Pemerintah. Baik itu proses kehamilan normal ataupun jika ada masalah dan memerlukan perlakuan atau pemeriksaa khusus. Kita hanya membayar biaya administrasi dan biaya kamar saat suami menemani kita di rumah sakit setelah melahirkan yang jumlahnya sangat kecil. Hal ini tentunya berbeda dengan di Indonesia.

Kelahiran Normal Ditangani oleh Bidan. Di Swedia, selama proses kehamilan dan melahirkan, saya ditangani oleh bidan karena kehamilan saya normal. Dokter hanya diperlukan jika ada masalah dengan kehamilan atau dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut saat proses kehamilan. Proses melahirkan pun sama, dokter hanya dibutuhkan saat dibutuhkan atau ada masalah yang memerlukan tenaga medis yang lebih ahli. Contohnya saat pemberian epidural, maka dokter anastesi yang akan memasang alat epidural tersebut. Berbeda dengan Indonesia dimana sangat jarang proses kehamilan ditangani oleh bidan dan lebih banyak dokter yang memegang peranan selama proses kehamilan dan melahirkan.

Selama Proses Kehamilan hanya Diberikan Folic Acid dan Pil Omega 3. Dalam hal ini, saya meminum omega 3 karena selama proses kehamilan saya tidak bisa makan ikan sama sekali, setiap mencium ikan dalam bentuk apapun baik itu mentah dan sudah dimasak, saya akan mual yang sering diakhiri dengan muntah yang berkepanjangan sampai bau ikan tersebut hilang. Maka dari itu saya dianjurkan untuk meminum omega 3 untuk memberikan asupan gizi cukup buat janin di dalam kandungan. Namun jika bisa memakan ikan, cukup memakan folic acid saja. Ini juga berbeda jika dibandingkan dengan di Indonesia. Saat saya hamil 4 bulan, saya pulang liburan ke Bali dan setelah terbang jarak jauh saya melakukan kontrol ke salah satu dokter di Denpasar untuk USG. Sempat bertukar informasi dengan dokter tersebut dimana dokter tersebut sangat kaget setelah tahu bahwa saya hanya mengkonsumsi Folic Acid dan Omega 3 saja karena menurut dokter tersebut, ibu hamil yang melakukan pemeriksaan di Bali, akan diberikan setidaknya minimal 5 pil yang harus diminum, antara lain folic acid, kalsium dll. Hal ini juga yang saya lihat berbeda dengan yang ada di Swedia. Karena di Swedia, bidan akan melakukan pemeriksaan yang teliti sebelum menganjurkan ibu hamil untuk meminum asupan selain folic acid. Jadi pemberian pil walaupun itu hanya sekedar vitamin atau zat besi sekalipun itu tidak bisa sembarangan dan harus sesuai dengan kebutuhan.

Jatah untuk melakukan USG hanya 3 kali untuk Kehamilan Normal. USG juga adalah salah satu yang amat sangat berbeda antara Swedia dan Indonesia. Di Swedia, jatah untuk melakukan USG hanya diberikan 3 kali untuk kehamilan normal. Pertama saat kita melakukan CUB test ketika usia kehamilan 16 minggu, di mana tes ini pun tidak diharuskan. Kita bisa memilih untuk melakukannya atau tidak. CUB test ini gunanya untuk melihat apakah ada kelainan di janin seperti menderita down syndrome, dan lain-lain. USG kedua, saat kehamilan sudah berjalan 22 minggu di mana bidan akan menanyakan apakah kita ingin tahu jenis kelamin janin atau tidak (dengan catatan bidan bisa melihat jelas dan sang janin dalam posisi yang pas untuk melihat jenis kelamin tersebut). Ketiga adalah saat bayi sudah melewati due date yang biasanya akan diberikan pada minggu ke 41. Selebihnya jika kita ingin melakukan USG, kita harus membayar sendiri untuk kehamilan normal karena dianggap tidak perlu. Sedangkan di Indonesia, kehamilan normal pun yang namanya USG tersebut dilakukan sering dan seperti yang diceritakan salah satu kakak saya yang melakukan USG setiap kali melakukan pemeriksaan. USG akut bisa dilakukan jika diperlukan, seperti saat sudah melewati perkiraan tanggal melahirkan maksimum 2 minggu, maka diperlukan USG untuk melihat apakah janin di dalam perut dalam keadaan baik, begitu juga plasenta dan air ketuban.

afp-midwife

Midwife Sofie Laaftman checks Christina Singelman’s pregnancy progress at Mama Mia, a pregnancy care clinic in Stockholm, Sweden. According to the organization Save the Children, Sweden is the second-best  country in the world to become a mother, behind Finland.  Picture via nydailynews.com.

Kursus Melahirkan secara Cuma-Cuma. Di Swedia, kami mendapatkan fasilitas cuma-cuma untuk ikut kursus melahirkan di mana dibagikan informasi bagaimana menghadapi kontraksi, apa saja yang perlu disiapkan, pertolongan apa saja yang bisa didapatkan di rumah sakit yang nantinya bisa digunakan jika diperlukan dan masih banyak informasi lain seputar proses melahirkan. Kursus ini tidak hanya ditujukan untuk ibu hamil, tetapi juga ditujukan kepada para pasangan mereka karena dalam kursus tersebut diberikan juga informasi kepada para pasangan bagaimana menghadapi atau memberikan pertolongan ketika kontraksi sudah terjadi. Jadi baik ibu hamil dan pasangannya tidak panik ketika kontraksi sudah dirasakan. Sepengetahuan saya, belum ada kursus seperti ini diberikan di Indonesia. Ada kemungkinan saya kurang informasi mengenai hal ini karena selama saya berkomunikasi dengan teman atau keluarga yang sedang hamil atau baru saja melahirkan, mereka tidak pernah mendengar tentang fasilitas ini di Indonesia.

PEMERIKSAAN RUTIN

Saat melakukan pemeriksaan rutin dengan bidan, selalu dilakukan pengecekan detak jantung. Beberapa kali dilakukan pengetesan darah untuk melihat kadar zat besi yang ada di dalam tubuh dan juga kadar gula. Puji Tuhan selama kehamilan kadar zat besi saya bisa dibilang sangat mencukupi sehingga tidak usah meminum zat besi tambahan. Begitu juga kadar gula yang normal sehingga tidak pernah menjadi masalah selama kehamilan berlangsung. Saat bertemu bidan, kami biasanya berdiskusi tentang apa saja kegiatan yang dilakukan, seperti dianjurkan tetap melakukan kegiatan olahraga ringan seperti jalan kaki. Selain itu, ada juga diskusi tentang asupan makanan yang bagus untuk pertumbuhan janin di dalam perut. Pengalaman saya dengan bidan yang saya temui bisa dikatakan sangat memuaskan karena beliau bisa menjawab semua pertanyaan saya tentang segala macam topik terkait kehamilan.

Selanjutnya ketika sudah mendekati perkiraan tanggal melahirkan, kita diberikan informasi tentang surat-surat apa saja yang diperlukan. Dianjurkan untuk mengikuti kursus mengenai informasi tentang proses melahirkan dan menurut pengalaman saya, bidan saya sendiri yang mendaftarkan saya dan suami, jadi kami hanya tinggal datang saja ke kursus yang sudah dipilih waktu dan tanggalnya. Namun dalam kasus beberapa teman yang pergi ke bidan yang lain, mereka harus mendaftar sendiri ke rumah sakit pemerintah yang menyediakan kursus gratis proses melahirkan ini.

the-girl-who-always-brings-rainbow_5

Baby A – the girl who always brings rainbow

MEMPERSIAPKAN MPASI SI BUAH HATI

Sejak hamil Agnes tahun 2013, saya sudah sering mencari-cari informasi tentang cara mengurus anak terutama saat mereka bayi. Informasi ini biasanya saya dapatkan dengan cara bertanya pada teman di Stockholm yang sudah memiliki anak, lewat website-website, mengikuti event-event ibu dan anak yang diadakan oleh beberapa organisasi, browsing di Instagram atau dengan bertanya pada bidan yang saya temui selama masa kehamilan berlangsung.

Untuk makanan Agnes, jujur saya berusaha sebaik mungkin memberikan yang menurut saya sehat seperti membuat makanan sendiri saat Agnes mulai makan makanan pendamping ASI. Kebetulan anak saya juga tidak begitu suka sama makanan siap saji yang bisa dibeli di beberapa supermarket.

beberapa-buah-dari-banyak-buah-buahan-yang-diuji-satu-persatu-selama-3-hari-berturut-turut-untuk-melihat-apakah-ada-reaksi-alergi-atau-tidak_1

Beberapa buah dari banyak buah-buahan yang diuji satu persatu selama 3 hari berturut-turut untuk melihat apakah ada reaksi alergi atau tidak

beberapa-sayur-dari-banyak-sayuran-yang-diuji-satu-persatu-selama-3-hari-berturut-turut-untuk-melihat-apakah-ada-reaksi-alergi-atau-tidak_1

Beberapa sayur dari banyak sayuran yang diuji satu persatu selama 3 hari berturut-turut untuk melihat apakah ada reaksi alergi atau tidak

 Menyiapkan MPASI sebenarnya sangat mudah menurut saya, hanya bermodalkan hand mixer atau blender atau food processor atau saringan biasa, kita sudah bisa menyiapkan MPASI buat anak untuk pertama kali. Saya mengenalkan MPASI pada Agnes pada saat dia berumur 5 bulan dan di Swedia dianjurkan untuk MPASI pertama adalah sayuran dasar yang berupa puree kentang, kacang polong, parsnips, wortel dan makanan ini biasanya diberikan hanya 1 sendok the per hari selama 3 hari berturut-turut untuk melihat reaksi apakah si anak memiliki alergi atau tidak. Setelah itu baru ditingkatkan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan si anak.

cara-memanaskan-makanan-a-alat-lylypot-ini-ditaruh-di-atas-panci-berisi-air-hangat-untuk-mencairkan-jadi-tidak-memakai-microwave

Cara memanaskan makanan A, alat lylypot ini ditaruh di atas panci berisi air hangat, untuk mencairkan, jadi tidak memakai microwave

puree-buah-dan-sayur-yang-sudah-dibekukan-dengan-menggunakan-cetakan-ice-cube-dibuat-seperti-ini-untuk-memudahkan-porsi-dan-tidak-membuat-baru-setiap-harinya-stock-makanan-dibuat-seminggu-sekali

Puree buah dan sayur yang sudah dibekukan dengan menggunakan cetakan ice cube, dibuat seperti ini untuk memudahkan porsi dan tidak membuat baru setiap harinya. Stock makanan dibuat seminggu sekali

porsi-makan-a-setelah-lolos-uji-coba-alergi-untuk-semua-sayuran

Porsi makan A setelah lolos uji coba alergi untuk semua sayuran

Agnes saya berikan MPASI yang berupa sayur mayur terlebih dahulu karena untuk menghindari dia ketagihan dengan rasa manis yang terdapat pada buah-buahan walaupun bisa dibilang wortel pun memiliki rasa yang lumayan manis. Saya memperkenalkan berbagai macam sayur mayur sedini mungkin pada Agnes agar nantinya kalau dia sudah besar dia sudah mengenal rasa sayur mayur tersebut dan tidak susah untuk makan. Cara saya sangat sederhana untuk menyiapkan MPASI buat anak kami.

Semoga membantu ya tips dan pengalaman-pengalaman saya..!


Written and taken by Deni Mardval

http://www.demaodyssey.com

Content editor: Mita Rangkuti

Merantau di Heidelberg, Jerman

foto-keluargaTheresia Rajaguguk has been living in Germany for over than a decade. She works as a Finance expert and lives with her husband and two children.  She loves gardening, decorating and playing volleyball!

 Merantau di Heidelberg

Saya, suami saya, Steve, dan kedua anak kami Eleora (4,5 tahun) dan Eliott (2 tahun) tinggal di Heidelberg, Jerman. Heidelberg merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jerman. Kotanya cantik, dilintasi sungai Neckar, dan ada kastil yang sebagiannya sudah runtuh. Heidelberg juga terkenal sebagai kota universitas. Universitas Heidelberg merupakan universitas tertua di Jerman.

germany-heidelberg-university

Heidelberg University

Selain itu, ilmu kedokteran di Heidelberg cukup ternama, sampai-sampai pusat riset kanker di Eropa didirikan di Heidelberg. Ditambah juga dengan banyaknya perusahaan nasional maupun internasional yang ternama di sekitar Heidelberg membuat komposisi masyarakat di kota Heidelberg menjadi sangat beragam.

germany-heidelberg-hauptstrasse-altstadt

Hauptstrasse and the Altstadt (Old Town)

Walaupun disibukan oleh pekerjaan, saya berusaha menyediakan waktu yang cukup untuk suami dan anak-anak. Hari Sabtu kami usahakan selalu bersama, jadi kalau ada undangan dari teman, biasanya kami datang sekeluarga. Hari Minggu adalah hari gereja buat kami. Pagi dan sore hari kami ikut kebaktian di gereja, siangnya sering diisi makan siang bersama teman gereja. Gereja kami, Gereja Bible Baptist ini telah berdiri sejak 20 tahun yang lalu, dipimpin oleh misionar dari Amerika.
Semenjak tinggal di Jerman, hobi saya berubah. Saya jadi suka berkegiatan di luar seperti berkebun, jalan-jalan di hutan, dan barbeque. Seperti kebanyakan ibu-ibu yang tinggal di luar negeri, tanpa disadari saya juga jadi hobi masak, apalagi masakan Indonesia.
hasil-berkebun

Hasil kebun kami.

kebun

Sebagian dari tanaman di kebun.

Saya lebih suka musim dingin daripada musim panas “Es gibt kein schlechtes Wetter, es gibt nur falsche Kleidung!“ Pernyataan ini benar sekali menurut saya, terutama untuk Jerman yang lebih banyak dinginnya daripada panasnya. Kalau kedinginan, saya bisa pakai baju yang tebal dan berlapis-lapis. Kalau musim panas, mau pakai baju setipis apapun, tetap saja panas. Kalau sudah panas sekali, saya tidur di basement. Anak-anak juga berpindah main di basement. Karena orang Jerman sangat menghargai environment, mereka tidak suka pakai AC.

58389f0c39ad5d1cd94fe19ff573a0ab

During winter in Heidelberg

Awal Hidup di Jerman

Tahun 2003 saya datang ke Jerman, tinggal di kota Darmstadt, dengan tujuan melanjutkan kuliah master sebagai bekal saya untuk pulang ke Indonesia dan menjadi dosen, cita-cita saya saat itu. Saya lulusan teknik sipil dari Universitas Katolik Parahyangan dan ekonomi dari Universitas Padjadjaran Bandung. Jerman merupakan pilihan saya karena biaya kuliah di Jerman bisa dibilang hampir gratis. Kenapa hampir gratis? Karena saya hanya membayar biaya administrasi yang sudah termasuk tiket transportasi umum yang per semester-nya tidak sampai 100 EUR.

Tahun 2003 saya memulai kuliah master di bidang bisnis dan administrasi di Hochschule Anhalt, Jerman. Ketika saya lulus di tahun 2005, perekonomian Jerman dan negara Uni Eropa sedang tidak baik. Susah sekali saat itu mendapatkan pekerjaan. Karena saya masih ingin tinggal di Jerman, saya melanjutkan kuliah master di Universität Konstanz. Kira-kira setengah tahun sebelum lulus, saya kerja praktek di SAP dan sejak saat itu sampai sekarang, saya bekerja di perusahaan yang sama.

ngerasain-tinggal-di-4-kota-di-jerman

Merasakan hidup di 4 kota di Jerman.

 

 Ibu Bekerja di Jerman

Suami saya dan saya bekerja di perusahaan yang sama, SAP SE. SAP merupakan perusahaan internasional yang bergerak di bidang software. Karena itu, walaupun kami bisa berbahasa Jerman, kami lebih sering berbahasa Inggris di kantor. Saya kerja fulltime di bidang finance. Pekerjaan saya tidak mengharuskan saya bekerja dari jam 8 sampai 5 sore karena role-nya global, jadi saya berkomunikasi dengan orang-orang di kantor lokal SAP mulai dari Australia sampai dengan Brazil. Saat ini saya bertanggung jawab di bidang finance untuk salah satu cloud solution yang SAP tawarkan, namanya SAP ByDesign. Mulai bulan September saya akan pindah ke departemen lain. Kali ini saya akan pegang solusi Hana Enterprice Cloud (HEC) dan S/4 HANA Cloud.

SAP-Zentrale 16zu9

SAP HQ di Walldorf, ca. 15 km dari Heidelberg

Waktu kerja saya cukup fleksibel yang bisa mulai dari jam 7 pagi dan bisa juga berakhir di tengah malam. Tetapi jadwal kerja ini saya yang buat sesuai dengan kegiatan pribadi saya juga di hari itu. Saya sangat suka dengan pekerjaan saya dan orang-orang di lingkungan kerja saya. Saya banyak bekerja dengan lelaki dan mereka tidak menganggap remeh saya. Juga saat saya cuti melahirkan (10,5 bulan untuk anak pertama dan 7,5 bulan untuk anak kedua), kantor sangat mendukungnya. Saat saya kembali bekerja, bos saya memberikan tugas yang menantang walaupun dia tau saya punya dua anak kecil. Bos saya, lelaki, bilang banyak kejadian kalau ibu rumah tangga lebih efisien dalam bekerja karena mereka harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum jemput anak, jadi tidak ada istilah santai dulu deh, bisa dikerjain nanti. Ini dibuktikan dengan saat bos saya memberikan spot award dua kali kepada saya di tahun saya kembali dari parental leave.

Oh iya, di Jerman setiap ibu atau bapak yang baru saja mempunyai anak boleh mengambil cuti sampai 3 tahun. Ibu wajb cuti 6 minggu sebelum tanggal kelahiran anak dan 8 minggu sesudahnya dengan gaji dibayar penuh. Setelah 8 minggu sampai dengan anak berumur 14 bulan, ibu dan/atau bapak boleh mengambil cuti dari kantor dan gajinya sebesar 67% dari gaji bersih, maksimal 1800 EUR akan dibayarkan oleh negara. Tetapi kalau hanya ibu atau bapaknya saja yang ambil cuti, hanya sampai usia anak 12 bulan akan dibayarkan oleh negara. Sedangkan kalau ibu dan bapak mengambil cuti di waktu yang bersamaan, uang yang diberikan oleh negara tidak sampai umur anak 14 bulan, tetapi uang itu akan dibayarkan dengan total jumlah 14 kali. Selain itu, anak juga mendapatkan uang dari negara sebesar 190 EUR sampai anak mendapatkan pekerjaan atau maksimal usia anak 25 tahun.

heidelberg_germany_10082005_main_street

Heidelberg Main Street

Waktu melahirkan anak pertama, saya ambil total cuti 10,5 bulan dan suami ambil cuti 6 bulan. Untuk anak yang kedua, saya ambil total cuti 8,5 bulan dan suami ambil cuti 8 bulan. Saat anak kami berumur 14 bulan, mereka mulai kami titipkan di daycare yang juga ditunjang oleh kantor. Lumayan, setiap bulannya kami membayar lebih murah karena subsidi dari kantor. Biaya daycare di Jerman termasuk jauh lebih murah daripada di US atau UK karena negara memberikan tunjangan yang lumayan besar ke daycare yang dikelola olah institusi milik negara atau oleh gereja. Tetapi biaya bulanan TK/daycare yang dapat tunjangan dari pemerintah biasanya bergantung dari penghasilan kotor keluarga. Semakin tinggi penghasilan, semakin besar biaya yg dibayarkan ke TK/Daycare. Kalau Private TK/Daycare menetapkan biaya yang tetap, tanpa mempertimbangkan faktor keuangan. Sedangkan biaya sekolah dari SD hingga kuliah itu gratis. Kecuali kalau sekolah swasta/private yah, biayanya ditetapkan oleh insitusi nya.

Dibawah ini table biaya TK di Heidelberg. Kalau Daycare, biayanya sekitar 2 kali lipat deh untuk insitusi yang sama.

Anak pertama kami sudah masuk TK yang tidak jauh dari rumah kami. Anak kedua kami masuk di Daycare yang letaknya di sebelah gedung kantor saya. Jadi kegiatan kami di pagi hari dimulai dengan sarapan bersama, mengantar anak pertama ke TK, lalu pergi ke kantor dan menurunkan anak kedua di daycare. Sorenya kami jemput anak kedua, lalu jemput anak pertama, dan pulang sama-sama ke rumah.

Tapi saat summer holiday seperti saat ini, TK dan daycare juga ikutan tutup selama 3 minggu. Repotnya, karena TK dan daycarenya bukan di institusi yang sama, jadwal tutup mereka juga sedikit berbeda. Libur mereka cuma overlapped selama 1 minggu. Jadi selama 5 minggu kami harus memikirkan bagaimana mengatur pekerjaan kantor dan mengurus anak. Kadang-kadang anak ikut ke kantor, jadi saya tidak perlu masak makan siang karena kami sekeluarga bisa makan di kantin. Ada beberapa ruangan kantor yang dijadikan ruangan kerja untuk orang tua yang membawa anaknya. Jadi orang tua bisa bekerja dan anak-anak main bersama.

Nanti kalau anak-anak saya sudah lebih besar, kami bisa mendaftarkan anak kami ke program summer holiday yang ditawarkan oleh pemerintah kota. Tergantung dari umur anak, ada program liburan yang menginap tetapi lebih banyak lagi yang dilakukan setiap hari dari pagi sampai sore, jadi anak-anak tidak perlu menginap. Programnya seperti belajar bagaimana bekerja di kebun binatang, program latihan olah raga seperti basket, renang, sepak bola, dll, program membaca di perpustakaan, program seni, dan masih banyak lagi. Biaya yang dikenakan juga tidak terlalu banyak, jadi tidak membebankan orang tua.

Sebagai pegawai di Jerman, kami dapat libur 30 hari kerja setahunnya. Di SAP, liburan yang tidak terpakai di tahun sebelumnya, bisa juga dibawa ke tahun-tahun berikutnya. Jadi saya dan suami sudah menabung libur yang bisa kami pakai kalau anak-anak sudah masuk sekolah dasar. Karena liburan summer di sekolah dasar bisa sampai dua bulan lamanya. Orang tua tanpa kakek dan nenek seperti kami ini diwajibkan kreatif deh kalau sudah punya anak di usia sekolah karena total liburan anak sekolah lebih sedikit daripada libur orang bekerja.

schloss-heidelberg-famous-castle-in-germany

Schloss Heidelberg, one of the famous castle in Germany

Ibu merantau IRT vs Ibu bekerja di Jerman

Terus terang saya tidak bisa membandingkan antarai IRT dan ibu yang bekerja di luar rumah karena saya selalu bekerja di luar rumah bahkan sebelum menikah. Tetapi kalau saya ingat-ingat waktu saya cuti melahirkan, saya jadi punya banyak waktu untuk ikutan komunitas ibu-ibu di Heidelberg. Waktu cuti melahirkan anak pertama, saya ikut menjadi group leader di komunitas ibu-ibu namanya MOPS (Mother of Preschoolers) Heidelberg. Waktu cuti anak kedua, saya ikutan lagi. Ada 2 groups MOPS di Heidelberg: satu yang pakai Bahasa Inggris, satunya lagi Bahasa Jerman. Setiap tahun tema yang dibahas berbeda-beda. Saya juga banyak belajar tentang kerajinan tangan di grup MOPS ini. Ada mentor mama, mama yang sudah senior, yang membimbing kita dan “memanjakan” kita. Contohnya: sewaktu saya pulang dari RS setelah melahirkan, selama 4 minggu, teman-teman dari MOPS membawakan makanan untuk keluarga saya seminggu 2 kali. Teman-teman gereja membawakan makanan juga seminggu dua kali. Jadi dalam sebulan pertama setelah melahirkan, saya tidak perlu memasak.

mops_kerajinan-tangan_2

mops_kerajinan-tangan

Hasil kerajinan tangan MOPS

Enaknya ikut MOPS, saya jadi kenal dengan ibu-ibu yang mempunya anak bayi. Kami banyak meluangkan waktu bersama, berdiskusi, dan belajar bagaimana menjadi ibu di Jerman. Sering kami bertemu di playground. Oh iya, playground bisa ditemukan di setiap sudut perumahan di Jerman. Pemerintah Jerman sangat mengutamakan ruang bermain untuk anak-anak.

asd1

Saya tidak bisa melihat perbedaan antara IRT dan ibu bekerja di luar rumah. Menurut saya effort ibu sama saja. Mungkin IRT terkadang bisa dilihat lebih santai karena tidak harus bekerja diluar rumah, sedangkan ibu yg bekejar juga masih harus bekerja di rumah jadi IRT. Tetapi saya juga lihat kalau saya mendapat banyak bantuan dengan adanya daycare dan TK sampai sore, sedangkan biasanya IRT tidak menitipkan anaknya di daycare atau TK sampai sore. Jadi ada positif dan negative di mata masing-masing orang dan lebih baik melakukan apa yg menurut kita baik, bukan apa yg menurut orang lain baik.

Komunitas Indonesia

Karena saya pindah ke Heidelberg setelah saya bekerja, saya tidak sempat kenal dengan komunitas Indonesia di Heidelberg. Saya ikut komunitas lain seperti diceritakan di atas. Waktu saya tinggal di Darmstadt dan Konstanz semasa saya kuliah, saya rajin ikut komunitas Indonesia di kota itu, seperti PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dan Perki (Persekutuan Kristen Indonesia). Sampai sekarang pun teman-teman Indonesia saya adalah teman sejak sama-sama kuliah.

Tips Sebagai Ibu Bekerja di Jerman

Sebagai ibu bekerja, saya harus pintar-pintar mengatur waktu dan tenaga supaya tidak sampai burn out dan keluarga tetap terjaga. Ini tips yang selama ini saya lakukan:

  1. Rumah berantakan; na und? (so what?)

Dengan dua anak yg sedang asik bereksperimen, saya sih sudah tutup mata aja deh kalau rumah berantakan. Saya tidak mau membatasi ruang belajar anak. Karena saya tidak kasih anak main gadget, jadi wajar saja kalau mereka main dengan segala macam mainan yang ada di dalam rumah maupun di luar rumah. Hasilnya, yah rumah seperti kapal pecah.

Saya tidak terlalu ambil pusing. Saya rapikan sebisanya saja. Saya juga belum mau hire Putzfrau (cleaning lady) untuk bantu-bantu di rumah

Tips yg bisa saya share: undang orang kerumah sesering mungkin.

Entah kenapa kalau tau akan ada tamu, kami sekeluarga jadi cepat banget bersihin rumah (termasuk anak-anak juga ikutan karena mereka excited mau kedatangan tamu). Jadi rumah lebih sering bersih dan kita jadi bisa ketemu teman-teman dengan santai di rumah daripada ketemu di café.

2. Masak secara efisien dan dalam jumlah besar

Masak dalam jumlah besar berarti juga belanja dalam jumlah besar. Saya belanja seminggu sekali, kadang dua kali kalau ada yg kelupaan. Biasanya saya belanja di supermarket yang cukup besar, hari jumat sore atau sabtu pagi dan masak yang banyak di hari Sabtu. Sebagian hasil masakan saya masukan kulkas, sebagian lagi saya bekukan di freezer. Jadi kalau pas lagi sibuk di hari kerja, tinggal keluarin makanan beku. Karena berteman dengan banyak orang Amerika, saya juga jadi terbiasa menggunakan slow cooker untuk masak (di Jerman slow cooker sama sekali tidak terdengar).

Buat saya, invest di peralatan masak sangat berguna. Saya ga ngomong tentang kitchen machine yang harganya lumayan, mulai saja dari pisau yang tajam atau panci yang bagus. Ini sudah bantu banget.

Masak efisien juga artinya masak yang terencana. Kadang saya merencanakan akan masak apa jauh-jauh hari. Salah satu contohnya, waktu anak saya ulang tahun, tradisinya adalah bawa kue ulang tahun ke Kindergarten sebelum jam makan siang. Jadi pagi-pagi saya kerja dulu dari rumah, lalu bikin adonan kue dan kue siap dipanggang. Saat kue dipanggang, saya kerja lagi. Satu hal yang saya suka adalah beli peralatan masak yang bisa bantu masak lebih efisien. Jadi untuk ultah anak, saya beli cetakan kue bentuk bunga matahari. Total waktu yang saya habiskan untuk bikin kue ini tidak lebih dari 1 jam. Ini hasilnya.

ulang-tahun-anak_kue-ultah

 

  1. Time management dan kerja sama dengan suami

Karena saya juga bekerja, suami dan saya harus bekerja sama dalam menyelesaikan tugas rumah. Tiap malam kami komunikasikan jadwal kami untuk esok hari, siapa yg antar anak, jemput anak, dll. Ada meeting-meeting yang tidak bisa saya hindari terjadi di waktu yg sama dengan waktu antar/jemput anak sekolah atau ke dokter atau ikut kegiatan anak di sekolah, karena itu kerja sama dengan suami amat sangat diperlukan. Selain itu, banyak tugas-tugas rumah yang jadi tanggung jawab suami juga. Jadi keberhasilan ibu bekerja sangat banyak dipengaruhi oleh peran suaminya di rumah kalau menurut saya.

Waktu anak saya ulang tahun, saya adakan acaranya di rumah. Karena dengan begitu, saya tidak terlalu menghabiskan banyak waktu, kebetulan acara ultahnya itu di hari kerja. Jadi sebelum dan sesudah acara, saya masih bisa kerja. Saya undang beberapa anak dari Kindergarten dan ibu mereka. Saya masak sesuatu yang gampang saja. Buat orang Jerman, makanan Indonesia sesederhana apapun, jadinya mewah untuk mereka. Karena yah beda aja jenis makanannya. Saat itu saya buat nasi kuning pakai bumbu jadi di rice cooker, mie goreng, ayam panggang tinggal masukin over, kerupuk yang sudah jadi beli dari toko asia, dan sosis direbus buat anak-anak.

ulang-tahun-anak

  1. Tetap sediakan waktu untuk menyalurkan hobi

Setiap orang pasti sibuk dong, entah ibu IRT maupun ibu bekerja. Dari pengalaman saya, to keep my sanity level, saya selalu menyediakan waktu untuk menyalurkan hobi saya. Tidak perlu waktu yang lama, 1 jam sehari untuk diri sendiri sudah lebih dari cukup. Biasanya kalau sudah suntuk, saya pergi ke kebun liat tanaman dan kasih makan ikan mas di kolam belakang. Setiap Rabu, saya ikutan kegiatan di gereja. Setiap kamis, saya ikutan main voli dengan ibu-ibu di Heidelberg. Jadi belum sampai suntuk banget, sudah disegarkan kembali oleh kegiatan-kegiatan yang saya memang suka.

Satu hobi yang saya dan suami saya juga suka adalah memperbaiki rumah atau mendekorasi ruangan-ruangan di rumah sendiri. Ini hobi yang juga bikin kantong tidak kempes karena ongkos tukang di Jerman mahal sekali. Dari hobi ini, kami sudah bikin kamar tidur anak, garden, kamar mandi, pasang lantai dan lain-lain.

 

  1. Belanja online

Sebelum punya anak, saya senang sekali pergi ke mall atau kota atau factory outlet. Kadang yg dibeli juga tidak banyak, tetapi senang lihat-lihatnya. Setelah punya anak, saya banyak mengubah strategi karena waktu untuk belanja makin berkurang sedangkan harus diakui keluarga saya juga perlu baju dan barang-barang lain. Saya banyak belanja online. Mulai dari beli baju buat saya, suami, anak-anak, mainan anak2, sampai beli peralatan rumah tangga. Saya punya daftar apa saja yang harus dibeli. Kalau tidak begini, jangan-jangan jadi laper mata. Dan juga dengan adanya daftar, jadinya cepat selesai belanjanya.

  1. Maintain personal finance

Mungkin karena pekerjaan saya di bidang finance, saya sangat sadar tentang keuangan keluarga saya. Buat saya, uang bukan segalanya dan saya tidak mau diperbudak oleh uang. Karena itu saya harus bisa manage apa yang ada supaya keluarga saya tetap bisa menikmati kehidupan dengan level yg sama. Saya tau keadaan keuangan keluarga saya dan saya tau apa yang keluarga saya mau capai. Dengan itu, saya membuat rencana dan bagaimana mencapai keinginan dan cita-cita keluarga saya, seperti mengatur pengeluaran, memantau pemasukan, analisis investasi dan hanya investasi kalau saya sudah tau seluk beluk bidang itu dan investasi hanya kalau suami setuju, mengoptimalkan tax, dan melihat tunjangan atau program dari negara yg bisa ambil. Saya pikir ini adalah pekerjaan dasar semua ibu untuk mengatur keuangan keluarga.


blog: http://tinggal-di-jerman.com

Edited by Mamarantau’s Content Editor Ajeng @misskepik