Merantau di Auckland

Kia Ora…! – yang artinya ‘hai’ atau ‘hello’ dan berasal dari bahasa asli Māori. Salam kenal dari keluarga rantau di Auckland, Selandia Baru atau New Zealand (NZ). Namaku Nurhayati (Yanti), tapi sapaan akrabku sejak menjadi ibu adalah ‘Amih’ so hampir semua orang memanggilku dengan sebutan Amih Yanti.

Kepindahan ke Auckland

Hijrahku ke ujung dunia ini sesuatu yang sepertinya tidak pernah terpikirkan oleh aku yang anak mama papa banget (boro-boro kepikiran merantau ke luar negeri, ke luar pulau waktu masih tinggal di Indonesia aja ngga deh). Kami merantau kurang lebih sudah 3 tahun sejak 2017 (suami sudah 5 tahun karena duluan pindah ke sini). Lalu kenapa harus ke New Zealand? Kenapa gak negara lain? dan apa latar belakang kami harus kesini? apakah sekolah S2, S3, atau??? Yess jawabannya yang atau itu hehe…

Suami awal ke sini hanya untuk belajar Bahasa Inggris (otomatis mendapat visa student). Nah, awal kisah hidup merantau bermula di sini (cerita lengkap ada di KALA Podcast, berikut jika mau menyimak:

Kenapa NZ? Tepatnya Auckland? Awalnya karena sudah ada sepupu yang tinggal di Auckland, pikirku setidaknya suami tidak akan merasa sendirian banget di sini, dan setelah banyak cari tahu tentang NZ, negara ini memang menarik hati. Singkat cerita, akhirnya suamiku bisa mendapatkan working visa (Alhamdulillah ada tempat kerja yang mau kasih sponsor).

Long Distance Marriage

Lalu bagaimana nasibku? Aku dan anakku tinggal di Bogor, artinya kami menjalani Long Distance Married selama 2 tahun (jangan ditanya susah ga jauh ama suami? jawabannya susah bangeet hihi) dan aku masih bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan telekomunikasi di Jakarta.

Setelah 2 tahun LDM, akhirnya aku memutuskan menyusul suami ( saat itu statusku Cuti di Luar Tanggungan Perusahaan selama 2 tahun), masih galau melepaskan status ibu yang berkarir, hehe.

Tapi sejak kedatanganku di Auckland pada saat usia anakku 5,5 tahun, baru kuketahui bahwa anakku kesulitan belajar spesifik (dyslexia minor) akhirnya karena alasan untuk dapat fokus kepada tumbuh kembang anak, maka aku putuskan untuk pensiun dini menjelang masa cutiku berakhir.

Kehidupan di Perantauan

Syukurnya aku dapat menikmati peran menjadi IBU seutuhnya untuk mengurus anak, di mana hal ini tidak aku alami selama di Indonesia. Karena di Indonesia ada support system (keluarga besarku) dan ada yang selalu siap membantu, tapi kini selama tinggal di luar negeri mengajarkanku bahwa value hidup yang berharga adalah menjadi mandiri (yang merantau pasti tau rasanya mandiri di luar negeri hehe) dan aku sangat bersyukur karenanya.

Lalu apa aktivitasku selama di Auckland? Sejak dulu selalu beraktivitas dan berkarir sepertinya membuatku menjadi seseorang yang aktif, dan aku tetep pada prinsipku bahwa aku akan mengurus anakku, tapi tidak dipungkiri jiwa aktifku ini membuatku ingin berperan lebih di ranah publik, dan Qadarulloh Allah mudahkan aku menemukan pekerjaan yang jam nya mengikuti jadwalku (jadi aku bekerja saat anakku sekolah, sehingga nyaris anakku tidak menyadari bahwa ibunya bekerja, karena di pagi hari aku mengantarkannya, lalu pulang sekolah aku sudah siap menunggunya di depan kelas, dan aku juga aktif menjadi volunteer di sekolah).

Jenis pekerjaannya adalah menjadi asisten supervisor di salah satu hotel yang lokasinya 3 menit jalan kaki dari apartmentku (ini tips mau cari kerja, gak usah apply yang jauh, selain irit ongkos juga tidak menghabiskan waktu kita)

Lalu bagaimana jika school holiday ( setiap 1 term akan selalu ada libur 2 minggu lalu di akhir tahun liburnya 6 minggu), apakah aku bekerja? Yes, aku tetep mendollar (istilahnya), yakni dengan cara menjadi salah satu orang yang bersedia menjaga anak-anak (baby-sitting) di area apartementku saat orang tua mereka sibuk bekerja atau berkuliah.

New Zealand

Negeri di ujung dunia dengan keindahan alam yang selalu membuatku tak berhenti berdzikir atas ciptaanNya, kadang hasil foto tidak bisa mewakili karya nyata sesungguhnya yang sangat indah. Menghirup udara sejuk setiap hari membuatku bersyukur tiada henti. Kami tinggal di New Zealand bagian North tepatnya di kota Auckland dan ini saja tiap hari selalu dibuat takjub dengan birunya langit dan indahnya alam, apalagi kalo berkunjung ke southnya New Zealand seperti Queenstown aduhaaaai mata seakan dimanjakan dengan lukisan alam yang dijamin bikin speechless.

Auckland

  • Auckland ini dikenal dengan city of sails (kota pelayaran)
  • Auckland adalah kota yang bisa dibilang penduduknya lebih banyak dari kota lainnya di NZ karena disini adalah kota bisnis 
  • Auckland terkenal dengan Sky Tower yang menjulang tinggi di tengah kota
  • Auckland itu multi etnis ( beragam sekali pokoknya, jadi ga aneh kenapa toleransi disini menurutku bisa dibilang cukup tinggi, karena mereka menerima dengan baik keberagaman dan perbedaan)
  • Auckland juga terkenal dengan pantai pantai yang indah dan gunung gunung

Alasan Memilih untuk Tinggal di Auckland

Setiap bertanya kepada siapapun yang kutemui kenapa memilih Auckland? jawabannya hampir seragam, karena pendidikan sekolah dan tempat untuk tinggal bagus untuk tumbuh kembang anak.

Yap betul, itu jadi alasan utama akhirnya memutuskan tinggal di Auckland, karena :

  • Lingkungan nya bagus untuk sekolah anak
  • Playground dan regional park banyak sekali
  • Park luas sangat mudah ditemui
  • Banyak FREE FAMILY EVENT yang diselenggarakan disini
  • Pantai tersebar dimana mana
  • Ada tempat berenang yang dibawah auckland council untuk usia anak dibawah 17 th FREE, untuk spectator (cuma mengawasi) cukup 1 dollar
  • Water fountain yang banyak ditemui di public place, jadi ga hanya perlu bawa botol kosong untuk selalu refill air minum
  • Library yang selalu punya daya tarik untuk semua pengunjungnya karena design dan atmosphere yang bikin betah berdiam lama lama
  • Sekolah untuk anak bisa dibilang FREE, karena sistem bayar sekolahnya adalah donasi
  • Lokasi sekolah dan rumah dekat ( karena pemilihan sekolah disini berdasarkan area tempat tinggal)
  • Ruangan di kelas sekolah selalu di design dengan FUN (kelas primary tapi suasana kelasnya kaya anak TK fikirku di awal awal), anak belajar bukan di kursi mereka bisa berbaur duduk di bawah dan melakukan aktifitas yang kreatif.
  • Tidak ada ranking di sekolah, anak tidak dibandingankan dengan anak lain, tapi kualitas anak dibandingkan dengan diri nya sendiri ( jadi no pressure kan ya)

Alasan lain :

  • Family time yang banyak ( sang ayah kerja nya 8 jam dimulai 5 subuh jam 1 or 2 siang sudah dirumah )
  • Sistem kesehatan yang sudah terintegrasi dengan baik
  • Kesehatan untuk anak gratis
  • Sistem transportasi yang terintegrasi baik di bawah AT 
  • Toleransi yang tinggi
  • Hangatnya warga lokal
  • Alam yang bersih ( pelestarian alamnya yang bagus, contoh dilarang membuang sampah sembarangan), awan yang indah dan langit biru hampir setiap harinya
  • Mudah ditemukan makanan halal
  • Penduduk yang ramah
  • Komunitas muslim yang cukup banyak tersebar ( contoh ada kegiatan TPQ untuk anak anak dan ada pengajian untuk family)

Kendala Hidup di auckland : Biaya hidup yang mahal dibandingkan dengan kota lainnya.

Contoh : Sewa apartment di city area sepertiku 450 dollar per minggu (beruntung kami tinggal di apartment yang terkenal paling murah di City area karena sudah termasuk air dan listrik) tapi di sekitar sini banyak sekali yang d iatas 500 dollar per minggu. Pilihan lain adalah tinggal di sub urban (agak jauh dari city) sewa per minggu itu dengan harga 600 dollar bisa dapetnya sewa rumah

Contoh lain harga cabai untuk musim tertentu bisa 1 biji cabai itu 1 dollar alias Rp9.000-an. Untuk biaya makan diusahakan masak sendiri, karena kalo sering makan diluar dompet bisa tongpes hehe.

Untuk yang tinggal di city area kendala adalah di parkiran mobil, sulit mendapatkan tempat parkir jadi rata rata memilih untuk menggunakan bus atau kereta dan jika masih dekat berjalan kaki

Tapi untuk kami sekeluarga, sangat favorite menggunakan scooter listrik (anter jemput anak aja menggunakan scooter)

  • Semisal pengen les in anak, nah ini harus jeli hitung-hitungan karena semua les itungannya itu per jam atau kadang per 30 menit (contohnya les renang hitungannya 14 dollar per 30 menit)
  • Barber shop alias cukur rambut yang bisa dibilang mahal sekitar 20 s.d 25 dollar NZ (selama 3 th disini pak suami jadi tukang cukur untuk dirinya dan anak hehehe, pinter-pinter kita ngirit aja sih, hehe, dan jadi menemukan bakat terpendam kan yaaa)

Keunikan Kota Auckland

  • Penduduk asli aktif melestarikan budaya asli suku Maori
  • Pejalan kaki yang jarang menggunakan alas kaki (jadi ga aneh liat orang jalan gak pake sepatu or sandal, cuek aja gitu)
  • Masih adanya pasar tradisional yang bukanya seminggu sekali
  • Toko-toko akan tutup sekitar jam 4 or 5 sore 
  • Cuaca yang mudah berubah dalam satu hari ( hujan ibaratnya bisa kita tunggu, setelahnya sering muncul pelangi, lalu panas sepanas-panasnya. Dan ini cuaca dalam 1 hari loh!)
  • Kontur jalanan yang unik, jadi naik turun naik turun gitu deh 

Tempat Unik di Auckland

  • 10 Golden Frame yang tersebar di Auckland
  • Stasiun yang dijadikan apartment dan namanya adalah Apartment Railway (heritage building), jadi apartment ini memang dahulunya adalah stasiun dan sepertinya bangunanya tidak banyak dirubah jadi tetap berasa aura stasiunnya, unik bukan? Dan di tempat ini banyak sekali mahasiswa Indonesia bersama keluarganya tinggal di sini jadi kadang suka dibilang kampungnya orang Indonesia hehe..
  • Harbour bridge (swtiap ada kapal yang lewat jembatan akan berubah naik ke atas seakan-akan patah, ini jadi kesukaan anak-anak hehe)

Tips merantau ala kami :

1 . Jangan semua hal di convert dari dollar ke Rupiah bisa pusing kepala Barbie, bayangin aja 1 biji cabai kalo lagi musim summer begini harganya 1 dollar sebiji (kurang lebih kalo di kurs kan ke rupiah 9000, puarah kan :D)

2. Jangan lupa kemana-mana di tas selain banyak perlengkapan wajib yang aku yakini setiap ibu punya senjata wajib versi masing masing, nah sempilin juga botol kosong, kalo kalo mau kebelet ke toilet dibawa deh si botol itu, karena di sini kan toiletnya tidak ada spray airnya (kurang afdol aja gitu rasanya kalo ga dibasuh air, LOL)

3. Sebagai Muslim jika pada saat waktu shalat tiba, jika tidak menemukan tempat shalat biasanya kita mampir ke mall lalu cari parents room (disini kan parents room nya dibuat kaya kamar kamar gitu, nah bisa ikut shalat di situ deh karena kan kamarnya ditutup hehe), atau bisa juga shalat di taman.

Sekian kisah singkat dari keluarga rantau di Auckland, NZ. Adakah yang tertarik ingin mencicipi tinggal di Auckland, NZ?


Instagram: @nurhayatiachyarudinroi

Merantau di Leeds

Vinka Maharani – Hallo! Saya Vinka, ibu dari satu anak perempuan. Sejak Juni 2019 tinggal di Leeds, UK karena mengikuti suami yang sedang studi di sini. Saya bekerja paruh waktu sebagai Resident Assistant di salah satu student housing bernama Unipol. Bersama kawan, saat ini saya membuat & menjalankan VIP Talks podcast yang berbicara tentang perempuan, pernikahan & keluarga. Saat di Indonesia saya mengajar rajut knitting & crocheting. Di saat senggang saya belajar lagi & melatih skill merajut saya.

Pindah ke Leeds

Saya dan keluarga berpindah ke Leeds karena suami menempuh pendidikan S3 di University of Leeds. Selama hampir setahun tinggal di sini, Alhamdulillah pengalamannya baik-baik semua.

Di Leeds, atau mungkin lebih tepatnya Yorkshire, orangnya ramah-ramah sekali. Panggilan yang lazim digunakan untuk menyapa orang lain (asing maupun yg sudah kenal) adalah Love, Darling, Sweetheart, Mate & Lad. Hal ini sangat umum, dipakai oleh siapa pun kepada umur berapa saja. Kalau ke pasar, tempat-tempat umum yang dikelola oleh native, maka kalian akan mendapat sapaan hangat ini. Malah tidak jarang ditambah dengan kedipan mata. Dan mayoritas semua orang ya gini, nggak orang jual di pasar, pak-ibu tukang pos, tukang ledeng, security, siapa saja. 

Bekerja di Unipol

Unipol adalah sebuah student housing, menyediakan akomodasi untuk pelajar di Leeds, Bradford & Nottingham. Saya bekerja di salah satu development complex yang kira-kira mengakomodir 250an orang, sebagai Resident Assistant. Tugas saya kira-kira seperti ibu kos lah, menyiapkan kedatangan mahasiswa, menerima komplain, cek untuk perbaikan, dan menjalankan event untuk gathering. Pekerjaan yang menyenangkan bagi saya, karena bertemu dengan berbagai macam pelajar dari berbagai bangsa & negara. 

Podcast

Karena sering ditanya & dicurhatin tentang pernikahan, saya berpikir sepertinya lebih baik jika problem & solusi dari pembicaraan tersebut bisa di-share ke lebih banyak orang agar bermanfaat. Kemudian saya berpikir, jika hanya berdasarkan pengalaman pribadi saya rasanya akan terlalu subjektif, maka saya mengajak kawan saya Cahya Haniva yang sedang menempuh master di jurusan Family Studies University of Minnesota untuk bergabung. Dari situlah kami memulai VIP Talks (Vinka Iphip Pillow Talks). Topik yang kami bahas adalah perempuan, pernikahan, keluarga dan hal-hal yang ada di sekitarnya. Episode yang paling banyak didengar saat ini berjudul “Is he the one? Panduan Tak Wajib untuk Mempertimbangkan Calon Pasangan Seumur Hidup”.

Untuk mengaksesnya bisa langsung ke anchor.fm/viptalks atau search di Spotify, Google Podcast, Apple Podcast “VIP Talks”. 

https://www.instagram.com/vinkamaharani/

Merantau di Ontario

Astarina Maulida – Hai, aku Asta, mamarantau yang baru setahun menetap di Mississauga, sebuah kota di Ontario, Kanada. Kota ini cukup dekat dengan Toronto. Sebelum merantau aku dan suami berwiraswasta di Jakarta. Kami memutuskan untuk pindah ke Kanada demi pendidikan anak, karena sebelumnya suami juga bersekolah di Kanada sejak SMA. Saat ini aku dan suami bekerja dan anakku, Kioko bersekolah di TK di tingkat senior kindergarten.

Kali ini aku mau mengajak melihat sisi beratnya hidup di Kanada, yang pasti nggak hanya yang senang-senang aja. Selalu ada dua sisi dalam satu koin.

Summer
Winter

Apa aja nggak enaknya? Winter yang extreme sampai -35 derajat, summerpun sampai +40. Pencarian kerja yang sulit dan harus rela kerja kasar untuk banyak imigran, bahkan ada lho yang di negara asalnya itu dokter dan doktor phd tapi saat di sini harus ikhlas jadi uber driver. Kok gitu? Jangan lupa kualitas pekerja dari Kanada itu sangat bersaing. Harga rumah di sini juga mahal, di kota ini 500,000 CAD (5,5M) dapetnya rumah kecil. Kalau mau agak besar budget segitu di condo atau pinggiran kota lagi. Ada harga ada rupa, semakin jauh dari kota pasti commuting time nya bertambah. Harga plan internet hape juga mahalita, paksuami bilang termasuk salah satu yang termahal di dunia. 

Pajak pun, kalau belanja tax di province ini 13%, kalau makan kudu kasih tip lagi 10-15%. Belum lagi pajak penghasilan dari gaji minimal 20% maksimal 50%. Semakin tinggi gaji semakin besar potongannya. Untuk yang kerja di luar negeri tapi anak istri menetap di kanada pun si penghasilan suami dikenakan tax sebesar di Kanada karena keluarganya dianggap menikmati fasilitas di Kanada. Di luar harga yang mahal dan cuaca, jangan lupa culture yang berbeda dengan Indonesia, terutama aku suami dan Kioko itu minoritas lho, apalagi aku super visible minority (berjilbab). Oya di sini pekerjaan rumah tangga juga kudu gotong royong sama suami, bayangin masak, nyapu ngepel, cuci baju, cuci piring, anter anak sekolah, mandiin anak, didik anak, anter les anak, endesbre kalau nggak dikerjain berdua gimana bentuk rupa sang istri, haha. Belum lagi kalau istri kerja, harus urus daycare sampai anak usia 10 tahun yang biayanya lumayan menguras kocek.

Jadi hidup di Kanada nggak hanya plus, terlihat enak atau ”asik banget tinggal di luar negeri”. Saat menentukan pindah, semua konsekuensi harus kita terima. Aku dan suami tipe yang menikmati perjuangan ini, karena kita kebiasa berjuang, malah saat nyaman kita nggak tenang. Tentunya banyak juga positifnya tinggal di sini, tapi menurutku nggak fair jika hanya melihat di satu sisi yang indah. Justru hidup itu indah karena ada positif dan negatif dalam satu ruang. Embrace BOTH and enjoy…! 


astarina.maulida@gmail.com IG: @astarinamaulida

Merantau di Belfast

Ayudhia Utami – Halo! Saya Ayudhia, seorang Ibu dari dua anak yang sedang di masa aktifnya, Arsyila (3,5 tahun) dan Kenzie (1,5 tahun). Kami sudah bermukim di Belfast, Irlandia Utara selama 1 tahun 2 bulan, karena mengikuti suami yang sedang menjalani pendidikan di Queen’s University Belfast.

Belfast letaknya berada di antara Irlandia Utara (Britania Raya / UK) dan Irlandia (Eropa). Belfast sangat berbeda dengan wilayah UK lainnya yang ramai seperti London atau Manchester, suasana di sini tenang dan jauh dari hiruk pikuk.

Tempat favorit yang biasa dikunjungi di sini ada banyak sekali, seperti Giant Causeway, Stormont, Botanic Garden, Titanic Museum, Belfast Castle, dan lain sebagainya. Belfast juga menjadi salah satu tempat di mana Game of Thrones berasal lho, juga tempat pembuatan Kapal Titanic, sehingga menjadi pariwisata yang menarik dan paling terkenal di sini…! Penduduk di Belfast juga sangat ramah, baby & kids friendly, saling menyapa ketika bertemu, sopan santun ketika bertutur, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kami nyaman sekali tinggal di Belfast 💛

Credit: Manchester’s Finest
Credit: The Times

Merantau di Innsbruck

Meidesta Pitria – Hallo! Saya Meidesta, asli dari Jogja, dan dulu sempat menghabiskan waktu sekitar 5 tahun diantara Depok-Jakarta untuk S1 di UI dan bekerja. Saya lulusan S2 Arsitektur dan Urban Planning dari Jepang yang tiba-tiba merantau ke Innsbruck, Austria.

Saya kenal sama suami sekitar 6 bulan sebelum lulus S2. Tadinya saya mau lanjut langsung S3 di Jepang, tapi suami melamar saya dan takdir membawa kami ke Innsbruck. Suami dan saya sepakat untuk memulai keluarga kecil bersama di Innsbruck. Dan alhamdulillah di tahun kedua saya disini, kini kami sudah bertiga dengan anak perempuan pertama kami yang berusia 10bulan. Ohya, suami saya sedang studi S3 di Centrum für Chemie und Biomedizine. Baru saja sidang dan insya Allah akan wisuda bulan depan.

Innsbruck itu kotanya kecil dan dikelilingi oleh Pegunungan Alpen yang indah banget. Kemana-mana dekat. Luasnya sebesar kota Semarang tapi jumlah penduduknya hanya sekitar 100.000. Innsbruck posisi kotanya ada di 600 meter di atas daratan dan dikenal sebagai City of Alps. Air kerannya enak banget 😄💙…! Mungkin karena di Pegunungan Alpen ya. Selain itu, saya merasa Innsbruck memiliki banyak taman bermain dan berbagai fasilitas untuk ibu-anak yang sangat membantu kehidupan saya sebagai mamarantau. Saya hamil dan melahirkan di Innsbruck yang jauh sekali dari Indonesia, dan belum ada satupun saudara yang berkunjung (bahkan mama dan mertua kebetulan belum pernah kesini). Kondisi ini membuat saya harus belajar mandiri dan kuat. Masa-masa hamil tua dan melahirkan disini menjadi masa-masa yang tidak akan pernah terlupakan. Beruntungnya ada fasilitas dari negara, new mom mendapatkan pendampingan dari bidan yang rutin datang ke rumah untuk menemani saya si new mom selama sebulan pertama setelah melahirkan.

Hal yang paling saya sukai di Innsbruck adalah naik gunung! Ke Puncak Hafelekar atau sekedar ngopi-ngopi di Seegrube yang posisinya 2300m di atas daratan, bisa pakai cable car, bisa hiking melewati rute menanjak yang dipenuhi pepohonan indah luar biasa. Saya juga sering menghabiskan waktu di taman-taman bermain dan di komunitas orangtua-anak di Innsbruck.


Merantau di Fulda

Jolla Riza Jollanda – Hallo! Namaku Jolla, usia 31 tahun. Ibu dari 3 anak laki-laki (2 adalah kembar) yang sangat AKTIF sekali. Hehehe. Aku lulusan dokter di Universitas Andalas, Padang.

Dari sebelum menikah, aku sudah mempunyai cita-cita untuk melanjutkan spesialisku di Eropa. Entah itu yg namanya takdir Tuhan, aku bertemu suamiku saat aku menjalankan student exchange di Wina, Austria. Dia orang Indonesia yg sedang menjalankan pendidikan dokter di Wina. Ya, itulah yg namanya jodoh, cinta pada pandangan pertama dan akhirnya berjodoh dengannya 😄 .

Kami sekeluarga sekarang tinggal di Fulda, kota kecil berpenduduk hanya 68ribu. Letaknya sekitar 100km dari kota Frankfurt, Jerman. Suamiku melanjutkan pendidikan spesialisnya di sini maka dari itu akupun ikut suami dari tahun 2015.

Bagi kami yg biasa tinggal di Jakarta, Fulda hanyalah kota kecil yang jauh dari kata modern. Tapi dari awal tinggal di sini, dan sekarang sudah hampir 4 tahun, kami merasa suka dan nyaman tinggal di Fulda. Selain semua kebutuhan kami terpenuhi, di kota ini masih banyak penghuni asli orang Jerman, jadi dengan bahasanya pun kami bisa cepat belajar. Dan jika kami ingin lebih ke “kota“ kami langsung ke Frankfurt yang hanya 1 jam perjalanan. .

Oh ya, di Fulda setiap 1 tahun sekali juga diadakan yg namanya “Schützenfest“ waaahhh ini acara yang sangat ditunggu-tunggu! Lalu ketika musim dingin tiba, kami selalu menyempatkan main ski di Wasserkuppe (puncak tertinggi di Fulda)- dan jika musim panas tiba juga ada tempat wahana bermain untuk keluarga.

Being a mamarantau is not so easy, I gotta tell you hahahaha! Tapi aku belajar banyak sekali hal yang tidak aku dapatkan jika menetap di Jakarta. Dan setelah hampir 4 tahun menjadi ibu rumah tangga, akhirnya Tuhan menjawab doaku dan bulan depan aku akan melanjutkan spesialisku di Fulda 🖤 .

Ohya! Kami hobi sekali jalan-jalan. Mempunyai anak yang masih kecil tidak menyurutkan niat kami untuk explore kota dan negara lain ⛴️✈️

Merantau di Turku

Screen Shot 2019-02-02 at 23.23.00Senny Sanjung A Seorang mantan cake decorator asal Bandung yang untuk sementara pindah ke Turku, Finlandia menemani suami bekerja. Sedang berusaha untuk melanjutkan hobby menggambar disela-sela kesibukan mengurus seorang bayi lucu bernama Nevan (1 tahun) dan Atreya (7 tahun)

Suami saya mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan IT di Finlandia sejak Desember 2017, namun karena saat itu saya sedang hamil tua, jadi perusahaan dengan baik hati menawarkan untuk menunda proses relokasinya sampai bulan Juli 2018 (rencananya) setelah anak ke-2 saya agak besar. Tetapi karena proses administratif yang panjang dan tidak selesai sesuai jadwal, akhirnya kami baru pindah di Bulan September 2018 ini.

Administratif Pindah ke Finlandia

Awalnya saat suami mengabarkan dia diterima di perusahaan yang berlokasi di Finlandia, yang terbesit di kepala saya tentang negara Finlandia ialah Finlandia mempunyai sistem pendidikan terbaik di dunia, sehingga dengan senang hati saya mau untuk pindah ke negara tersebut, apalagi saat itu kebetulan anak saya baru lulus TK dan sedang bingung untuk melanjutkan ke sekolah mana. Walau sebenarnya saya dan suami sudah mendaftarkan anak kami di salah satu sekolah swasta di Bandung, tetapi jika dibandingkan dengan kesempatan sekolah di negara yang punya sistem pendidikan terbaik di dunia, siapa yang menolak?

Processed with VSCO with fr4 preset

Sejak mendapat kabar akan pindah ke Finlandia, kami mulai mempersiapkan segalanya. Bukan hal yang mudah untuk pindah ke negara di Eropa dengan 4 orang anggota keluarga, banyak sekali formulir yang harus diisi dan proses yang panjang, dari mulai membuat residence permit yang proses nya mulai dari tingkat paling kecil yaitu RT sampai ke kedutaan, kemudian setelah residence permit selesai pun, masih harus mendatangi berbagai kementrian untuk legalisasi dokumen.

Setelah sampai di Turku pun kami masih disibukan dengan berbagai urusan administratif dan proses pencarian apartemen yang ternyata tidak semudah di Indonesia. Di sini untuk mendapatkan apartemen yang ingin kita tempati, prosesnya harus mendaftar dulu apartemen yang kita inginkan melalui agen apartemen, kemudian pemilik apartemen akan memilih kandidat mana yang cocok untuk menyewa apartemen milik mereka, mirip dengan melamar kerja yah..! 

Screen Shot 2019-02-02 at 23.25.13

Suasana jalanan di Turku menjelang sunset

Tetapi untungnya kami diberi fasilitas apartemen pertama selama 1 bulan dari kantor suami. Kami juga diberikan biaya pengiriman barang-barang dari Indonesia ke Finlandia. Sehingga kami bisa membawa baju-baju, bumbu, sampai peralatan bayi ke Finlandia. Untuk pengiriman tersebut kami menggunakan jasa pos Indonesia.

Adaptasi Merantau di Negara Sedingin Kulkas

Cuaca

Dulu sebelum kami pindah, kami diberi kesempatan dulu untuk mengunjungi Finlandia beberapa bulan sebelumnya, untuk tahu apa kami benar-benar akan merasa nyaman tinggal disana atau tidak. Waktu itu bulan April, kami mengunjungi Finlandia selama 9 hari. Ketika kami datang sedang musim semi dan suhu sekitar kurang lebih 6 derajat  Celsius setiap harinya. Berpindah dari negara tropis yang biasanya suhu diatas 20 derajat Celsius setiap harinya, kemudian tiba-tiba datang ke negara kulkas yang suhu nya dibawah 10 derajat cukup membuat kami “shock” karena kedinginan. Waktu itu terkadang saya sampai sakit kepala saking dinginnya ke kepala. Hampir setiap hari saya memakai masker karena rasanya hidung membeku.

Namun, ketika kami datang di bulan September, untuk benar-benar pindah ke negara ini, udara masih sejuk, karena baru memasuki musim gugur, belum terlalu dingin, masih bisa pakai celana pendek dan belum perlu pakai jaket berlapis-lapis. Sehingga kami mengalami perubahan udara yang cukup bertahap, dari masih sejuk ke mulai dingin, dan semakin dingin, jadi kami mulai terbiasa dengan suhu dingin ini.

44606543_10218251091488976_1938690534528778240_o

Sekarang saat sedang winter, suhu minus pun tidak membuat saya sakit kepala, dan sampai sekarang suhu tertinggi minus 14 derajat Celsius, saya belum merasa perlu memakai masker. Selama memakai pakaian yang tebal, dan lengkap dari sarung tangan sampai kaos kaki, kami masih bisa bertahan di negara kulkas ini.

Menurut saya bulan November ialah bulan yang paling kurang menyenangkan, karena cukup membuat suasana gloomy, bagaimana tidak, selain suhu yang semakin dingin, 1 atau 2 derajat, bahkan suhu minus. Matahari pun jarang menunjukan sinarnya. Hampir setiap hari langitnya kelabu, selain itu waktu siang yang semakin sedikit daripada waktu malamnya. Sekitar pukul 8 matahari baru akan terbit, dan pukul 16 matahari sudah tenggelam. Kalau ada matahari pun, malah suhu menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Setiap akan pergi keluar kami harus memakai pakaian musim dingin yang lengkap mulai dari sarung tangan, jaket,dan topi. Cukup merepotkan bagi kami yang terbiasa tinggal di negara tropis. Apalagi untuk saya yang masih punya bayi, untuk sekedar mau jemput anak sekolah yang jaraknya dekat atau untuk sekedar mau membeli shampoo di supermarket pun, perjalanannya cukup panjang, dari harus memakai pakaian lengkap untuk saya sendiri kemudian memakaikan pakaian lengkap untuk bayi saya.

_sekitar apartemen

Di sekitar apartemen

Namun ketika bulan Desember tiba dan salju turun, cukup membuat suasama menjadi lebih terang karena semua berubah jadi putih, setidaknya walaupun langit tidak ada matahari, tapi pemandangan salju serba putih dan hiasan lampu natal dimana-mana cukup membuat suasana menjadi lebih hidup.

Makanan

Kemudian tentu saja makanan. Di Bandung, saya bisa dengan mudahnya membeli semangkuk baso dengan harga murah, atau sekedar sarapan kupat tahu di depan komplek. Disini saya tidak bisa merasakan lagi semua itu, untuk bisa menyantap makanan Indonesia yang saya inginkan saya harus membuatnya sendiri, bahan-bahan nya pun harus dibeli di toko asia, bukan di supermarket biasa, yang letaknya ada di pusat kota, 30 menit naik bis dari apartemen tempat saya tinggal. Jika makan makanan finland di restoran, selain harganya cukup mahal, rasanya juga kurang cocok dengan lidah kami. Sehingga jika makan di restoran, seringnya kami makan Asian food atau fast food saja. Di sini semua nya harus serba mandiri, tapi ada sisi positif nya juga yang bisa diambil, kita jadi tidak terlalu manja dengan hal-hal yang mudah didapatkan di Indonesia, seperti asisten rumah tangga yang murah, atau mudahnya pesan makanan dari aplikasi online (dengan harga murah juga tentunya).

Dulu biasanya saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan karena macet nya Bandung yang semakin menjadi, sekarang itu semua tidak pernah kami rasakan lagi disini, tidak ada macet, bis datang tepat waktu, jalanan yang lengang dan bersih jadi pemandangan sehari-hari.

Sampah

Penanggulangan sampah disini juga sangat baik, sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, seperti kertas, plastik, kaca, metal, dan sampah yang bisa dibakar. Untuk kemasan soft drink sendiri bisa dikumpulkan untuk nantinya di masukan ke dalam mesin yang biasanya ada di supermarket kemudian diganti dengan voucher diskon belanja.

Waktu Sholat

Selain itu, waktu shalat yang berbeda-beda setiap hari nya agak membingungkan saya. Misalnya saat winter ini shalat subuh kurang lebih sekitar jam 7 pagi, matahari terbit jam 9.30 pagi kemudian Zuhur sekitar jam 12.30, dan jam 13.30 sudah Ashar lagi, jam 15.00 sudah Maghrib lagi, dan jam 18 sudah isya. Dan setiap harinya jam tersebut bisa berubah-rubah, tidak seperti di Indonesia yang waktu nya konstan. Seiring perubahan musim, waktu sholat juga semakin berubah, misalnya nanti ketika spring (musim semi) shalat magrib semakin mundur yaitu baru sekitar pukul 8 malam. Sehingga membuat saya agak kebingungan. Untungnya sekarang kita hidup di zaman serba canggih, untuk waktu shalat disini saya menggunakan aplikasi (seperti Muslim Pro) yang biasanya memberi notifikasi waktu shalat sesuai daerah dimana kita tinggal.

Di sini ada masjid, tapi tidak seperti di Indonesia yang bisa dengan bebas nya mengumandangkan azan disana-sini. Masjidnya pun kecil, lebih seperti mushola, karena disini kami merupakan minoritas. Tapi cukup untuk suami saya bisa melakukan ibadah shalat Jumát bersama umat muslim lainnya.

Kesibukan Mamarantau di Turku

Sekarang masih disibukkan mengurus keluarga di rumah, karena saya masih mempunyai bayi yang baru saja berusia 1 tahun. Kegiatan rutin saya selain mengurus bayi di rumah (apartemen), setiap hari saya menjemput anak saya dari sekolah yang jarak nya sebenarnya tidak jauh dari tempat tinggal kami, dan dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Jika bosan di apartemen saya akan jalan-jalan ke pusat kota melihat keramaian, gedung-gedung di Finland, dan berbelanja keperluan sehari-hari.

screen-shot-2019-02-02-at-23.23.24.png

Selain itu saya juga sedang senang membuat ilustrasi, jika sedang ada waktu luang saya berusaha untuk bisa melanjutkan hobi saya menggambar. Sekarang juga saya sedang mendaftar untuk mengikuti integration plan, jadi semacam program untuk pendatang yang pindah ke Finlandia tetapi belum mempunyai pekerjaan. Programnya itu salah satunya yang paling umum ialah mengikuti sekolah bahasa Finlandia selama 10 bulan, kemudian setelah itu kita bisa mengikuti sekolah/kursus/training untuk disiapkan ke lapangan pekerjaan nantinya. Selama mengikuti program ini kita juga bisa mendapatkan tunjangan sebesar mulai dari 32 euro per hari kerja. Disini juga sudah umum ketika orang tua nya bekerja atau sekolah, bayi atau anak-anak mereka akan dimasukkan ke daycare, sehingga disana anak-anak usia pra-sekolah bisa belajar bersosialisasi bersama teman sebaya nya.

Berkeliling di Turku

Kota Turku ini ialah kota yang tidak terlalu besar, tidak sebesar Bandung atau Jakarta. Jadi tidak banyak tempat rekreasi untuk keluarga yang bisa dikunjungi. Namun dengan berjalan-jalan di sekitar aura river di pusat kota saja sudah jadi pengalaman menarik bagi kami, Gedung-gedung vintage di sekitar Aura river dan Turku Cathedral di dekatnya menambah keindahan alam Turku.

Screen Shot 2019-02-02 at 23.30.00

Turku Cathedral

Sesekali kami main ke hutan yang letaknya tidak jauh dari apartemen kami. Atau ketika winter seperti sekarang ini, anak saya senang main sledging (kereta luncur) diatas salju. Tidak perlu jauh-jauh ke tempat lain, main kereta luncurnya bisa di dekat apartemen saja, karena disini banyak lahan yang bisa digunakan anak-anak untuk bermain. Di setiap komplek apartemen pasti ada tempat bermainnya, setidaknya ada ayunan, perosotan, dan tempat untuk bermain pasir.

 

 

Di sini juga banyak tempat untuk bermain ice skating, salah satunya di dekat apartemen kami. Ada hari-hari tertentu dibuka untuk umum dan gratis. Dan hari-hari lainnya digunakan untuk latihan para atlet atau jadwal latihan untuk murid sekolah.

Di sini juga ada Turku Castle, yaitu salah satu bangunan bersejarah di Finlandia yang sudah berumur lebih dari 700 tahun. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota. Di dalam nya masih seperti kastil jaman dulu, kita serasa masuk ke film Eropa jaman dulu ketika masuk ke kastil ini. Harga tiket masuk ke Turku Castle ini 11€ untuk dewasa, 5€ untuk anak usia 7-15 tahun, dan gratis untuk usia dibawah 7 tahun. Selain museum yang menampilkan ruang-ruang dan perabotan jaman dulu di dalam kastil, disini juga ada toko souvenir dan restoran yang menyediakan makanan Finlandia.

Screen Shot 2019-02-02 at 23.28.59.png
Turku Castle

Selain Turku Castle, tempat yang cocok dikunjungi untuk keluarga ialah Kupitta park. Ini adalah taman besar di Turku, dan salah satu bagian nya dikhususkan untuk tempat bermain anak-anak, ada ayunan, perosotan, dan lain-lain. Kemudian juga kadang diadakan acara anak anak seperti workshop untuk anak atau penampilan theater untuk anak-anak.

Kupitta Park

Selain itu dari kota Turku ini kita bisa menghabiskan akhir pekan dengan naik cruise, kita bisa menginap di cruise dan menikmati fasilitas di cruise seperti kids playground, shopping tax free, ada juga café, pub dan spa. Atau kita juga bisa naik cruise untuk mengunjungi daerah lain seperti Aland island, atau ke Stockholm Sweden dan Tallin, Estonia.

1433-a71e0af762c

_badut di dalam cruise

Badut di cruise

Suka Duka Merantau

Kangen dengan keluarga dan teman itu pasti, kadang kebayang ingin bertemu keluarga sampai terbawa mimpi. Apalagi seperti saya yang belum bekerja dan setiap hari hanya berada di rumah. Merasa sepi itu pasti. Ketika ada teman/saudara yang meninggal atau ada yang menikah kita tidak bisa hadir disana. Disini tidak ada keluarga satupun, beruntung sudah ada kenalan orang-orang Indonesia yang kadang bisa dijadikan tempat bertanya segala macam atau sekedar ngopi-ngopi cantik. Orang-orang Finlandia bisa dibilang kebanyakan tertutup dan pendiam, mereka punya ruang privasi sendiri yang tidak mau diganggu oleh orang lain, apalagi orang asing seperti kami.

Kemudian di sini juga kami belum bisa membeli mobil karena belum mempunyai SIM Finlandia. Sehingga kemana-mana harus naik bis. Sebenarnya bis di sini sangat nyaman, bis datang sesuai jadwal, jadwal dan rute bisa dengan mudah dilihat melalui aplikasi, halte bis juga ada di dekat apartemen kami, dan untuk orang yang berpergian membawa anak dengan stroller naik bis tidak dikenakan biaya alias gratis. 

 

Kendalanya ialah ketika harus menunggu bis disaat udara sedang dingin-dinginnya, dan tidak ada ruangan indoor untuk menunggu. Atau ketika anak saya yang masih bayi menangis di dalam bis yang sedang penuh. Belum lagi jika harus berjalan jauh ke tempat tujuan saat sedang winter seperti ini, mendorong stroller diatas jalan dengan salju yang cukup tebal cukup sulit, selain itu kadang jalanan licin karena salju sudah menjadi es, sehingga harus sangat berhati-hati. Tapi sejauh ini tidak ada kendala yang sangat fatal untuk kami selama tinggal disini.

Sekolah Anak di Finlandia

Saya ingin membagikan pengalaman menyekolahkan anak saya di negara yang katanya mempunyai sistem pendidikan terbaik di dunia. Beruntungnya ketika kami pindah ke Finland, anak saya yang pertama baru lulus TK dan memang sedang mencari sekolah dasar yang paling cocok untuk saya. Sehingga walaupun anak saya masuk sekolah terlambat 1 bulan, tidak diperlukan proses adaptasi yang sulit ketika di sekolah. Sebelum kepindahan kami ke Turku kami memang sudah berencana untuk menyekolahkan anak kami di sekolah international saja yang Bahasa pengantar sehari-hari nya Bahasa inggris. Karena kami tidak akan selamanya tinggal di Finland, mungkin saja beberapa tahun ke depan kami akan pindah ke negara lain atau pulang ke Indonesia, karena walaupun pekerjaan suami saya bersifat permanen, bukan kontrak, kami belum berencana untuk tinggal disini selamanya.

cel-lisboa-73969-unsplash

Sekolah di sini pada umumnya berbahasa pengantar Bahasa Finnish atau Swedish, jika pendatang seperti anak saya ingin bersekolah di sekolah umum seperti itu, nanti tahun pertama akan masuk kelas untuk belajar bahasanya dulu. Tetapi karena anak saya masuk sekolah international jadi anak saya tidak perlu mengikuti kelas seperti itu. Sebelum anak saya bisa masuk ke sekolah international, dia harus mengikuti tes terlebih dahulu, tesnya bahasa Inggris, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan anak saya berbahasa inggris, karena syarat utama untuk masuk sekolah ini, selain umur nya harus 7 tahun, dia harus bisa berbahasa Inggris.

Kurikulumnya sendiri sekolah international ini sama saja dengan sekolah berbahasa Finnish, yang membedakan hanya Bahasa pengantarnya saja. Sekolahnya juga masih dibawah kota Turku sendiri, bukan sekolah swasta, Semua sekolah di sini gratis, semua alat dan buku sekolah gratis, bahkan diberikan makan siang juga. Kecuali jika ingin mengikuti les diluar jam sekolah, ada biaya yang harus dikeluarkan. Yang saya suka dari Finland ialah tidak adanya kesenjangan sosial yang tinggi untuk setiap orang, jadi maupun orang itu anak dari bos suatu perusahaan atau anak dari kelas pekerja, semua akan sekolah di sekolah yang sama, les di tempat yang sama, dan mendapat perlakuan yang sama. Semua sekolah sama kualitasnya, tidak ada sekolah favorit atau sekolah yang buruk, semua tinggal memilih sekolah yang paling dekat dengan tempat tinggal mereka, sehingga ke sekolah hanya perlu dicapai dengan jalan kaki.

_suasanadikelas

Suasana di kelas

Pendidikan di sini sangat cocok untuk saya yang tidak ingin memberikan tekanan berlebihan untuk anak, dan ingin lebih memberikan waktu untuk mereka untuk menikmati masa anak-anak mereka. Setiap 1 jam pelajaran (45 menit) anak-anak diberikan waktu istirahat selama 15 menit, kemudian baru melanjutkan pelajaran selanjutnya. Tetapi jika waktu nya makan siang, waktu istirahat menjadi 45 menit.

Di sekolah sering diadakan acara seperti outing ke hutan atau museum, dan sering ada acara seru untuk special occasion seperti Halloween party, Christmas party, Father’s day, atau ulang tahun sekolah.

Screen Shot 2019-02-02 at 23.29.19

Saat Halloween party

Di sekolah ini juga ada pelajaran agama Islam, tidak di semua sekolah ada pelajaran Islam, karena melihat jumlah muridnya sendiri yang ingin mengikuti pelajaran agama Islam. Karena ini sekolah internasional jadi banyak pendatang dari negara beragama Islam sehingga diadakan pelajaran agama islam disini. Selain pelajaran agama islam, ada beberapa agama lain yang diadakan di sekolah, salah satu nya tentu saja kristen, dan untuk yang tidak mau mengikuti kelas agama akan mengikuti kelas pelajaran ethic.

Untuk hubungan antara guru dan murid juga disini menggunakan aplikasi yang bernama Wilma, jadi tidak ada lagi buku penghubung seperti di Indonesia. Di dalam aplikasi tersebut kita bisa melihat PR apa saja yang diberikan guru setiap harinya, progress anak mengenai suatu pelajaran,  pesan / pengumuman yang diberikan sekolah untuk orang tua murid, sampai jika anak kita sakit pun kita tinggal memberitahukan melalui aplikasi tersebut.

outing ke hutan

Outing ke hutan

Satu kelas terdiri dari sekitar 20 orang, tetapi dibagi lagi untuk beberapa mata pelajaran, seperti misalnya pelajaran matematika, dibagi 2 kelompok yaitu matematika A dan matematika B, jadi 10 orang dengan 1 guru, sehingga anak-anak lebih terperhatikan. Kecuali untuk pelajaran olahraga, semua belajar bersama.

Di sini tidak ada ujian akhir semester, hanya ada beberapa tes ketika di dalam pertengahan semester, itupun tidak semua pelajaran. PR pun tidak banyak dan sehari hanya ada PR untuk satu mata pelajaran saja. Di penghujung semester ada pertemuan setiap orang tua dengan guru kelas untuk membahas perkembangan anak nya di sekolah, di pelajaran mana saja ia kurang dan dibahas bagaimana cara untuk memperbaikinya.

Blog: http://mynameissenny.blogspot.com. Instagram: @senisanjung (personal) dan @seenysanjung (untuk ilustrasi)