Merantau di Maryland & Washington DC

11329869_10153425700501064_5766898211181739643_nIka Inggas – Ibu dari seorang anak usia 6 tahun, tinggal di Maryland, USA. Independent consultant, yang selalu menikmati travelling, membaca dan berpetualang dengan keluarga kecilnya (walaupun berpetualang disini mungkin hanyalah naik mobil tanpa tujuan di akhir minggu).

Profesi saya sebelumnya saat di Indonesia adalah International Development Specialist bekerja untuk beberapa lembaga internasional di Indonesia seperti di USAID, European Commission, the Solidarity Center dan beberapa organisasi lainnya untuk program yang berhubungan dengan masalah HAM dan Demokrasi.

Saya pindah ke Amerika pada akhir tahun 2011  mengikuti suami yang berkewarganegaraan Amerika yang kebetulan karena pekerjaannya membawanya kembali ke Amerika. Saya bertemu dengan suami saya di Indonesia ketika ia bekerja di Indonesia. Sejak saya tiba di Amerika, saya sempat bekerja di Voice of Amerika selama 3 tahun dan sekarang saya bekerja sebagai independent consultant.

Merantau sepertinya sudah merupakan bagian dari hidup saya. Sebelum saya pindah ke Maryland, AS, kami sempat empat tahun tinggal di Bangkok, di mana putri saya Saraswati (Sara) lahir. Sebelum menikah saya juga  sempat tinggal di Inggris selama setahun saat mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Inggris untuk studi Masters (2001 – 2002) dan tinggal setahun di Jepang dalam program pertukaran mahasiswa di kota Chiba (1996 – 1997).

10390071_10153425701601064_7596901658890560692_n

Our family: saat Sara “wisuda” preschool

Merantau di Amerika Serikat

Kami tinggal di Kota Gaithersburg, di Negara Bagian Maryland, sekitar 45 menit dari Washington DC dengan menggunakan metro atau mobil. Namun wilayah Maryland, Virginia dan Washington DC yang terjangkau oleh metro biasa disebut sebagai Washington DC secara general. Kami tadinya tinggal di sebuah kondo, tapi kami tidak terlalu merasa “homey” akhirnya kami membeli sebuah rumah di daerah Washington DC coret ini  Kami bersyukur tetangga kami juga sangat baik

11698447_10153425683656064_551805088222163793_n

Welcome Gifts dari tetangga kami

11695838_10153425697611064_3118006897233945438_n

Suasana musim gugur di teras rumah kami

Tinggal di ibukota Amerika, di Washington DC memang memiliki kesan dan keunikan tersendiri. Sebagai ibukota negara, kota ini menjadi pusat pemerintahan, juga menjadi markas berbagai lembaga internasional.  Kota ini penuh dengan bangunan ikonik yang bersejarah, dan museum-museum yang semuanya bisa dikunjungi sebagian besar dengan gratis.

hotels-outside-of-washington-dc-near-the-metro-300x227

Hanya memerlukan waktu 45 menit dengan Metro untuk mencapai Washington DC dari tempat tinggal kami di Maryland.

Salah satu kriteria saya untuk sebuah kota yang asyik adalah bisa menikmati kota tersebut secara nyaman dengan berjalan kaki, dan Washington DC termasuk dalam kategori ini. Hampir semua  landmark di Washigton DC seperti Gedung Putih, Washington Monument, Thomas Jefferson Memorial, Abraham Lincoln Memorial, The Mall, the Capitol, dan museum-museum di Smithsonian semuanya bisa dicapai dengan jalan kaki, karena berada tidak terlalu jauh, dari satu dengan lainnya. Beberapa landmark ibu kota Amerika ini bisa dinikmati sambil berjalan santai tanpa harus takut tertabrak atau terekspos polusi.

Saya dan suami bekerja di Washington DC.  Setiap pagi setelah mengantar putri kami ke TK nya yang tidak jauh dari rumah, kami menuju stasiun metro terdekat dan commute ke Washington DC.

11219398_10153425697886064_8482955593470275450_n

Metro train

11694758_10153425697526064_4229877701243206299_n

Sara mendengarkan cerita guru di atas tumpukan jerami

Pada saat-saat awal saya tiba di Amerika, saya sering berangkat kerja lebih awal ke Washington DC , sehingga  bisa berjalan-jalan sambil mengambil gambar beberapa landmark kota tersebut yang sangat cantik ketika musim semi.

11659498_10153425702436064_3796324391680168918_n

Tulip di depan Capitol Hill

Bunga sakura di  Washington Monument, Tidal Basin dan Jefferson Memorial:

11698623_10153425880981064_427224785146785701_n11666179_10153425880991064_2254460094993595668_n11667402_10153425697146064_8514448603707580546_n

 

 Hal-hal yang menyenangkan dari Merantau di Amerika Serikat

Berada di Ibukota Amerika yang tidak hanya menjadi kota pusat pemerintahan, tapi juga sering menjadi pusat seni dan budaya termasuk tuan rumah berbagai pameran dan eksebisi, siap-siap saja bagi kita untuk mendapatkan kejutan ketika kita melangkah di kota ini. Seperti yang saya alami saat sehabis menjemput anak yang saya titip di kantor suami ketika saya harus menghadiri meeting di Washington DC. Dalam perjalanan menuju Metro, kami melewati National Geographic Museum dan ternyata di sana sedang ada pameran Petualangan Indiana Jones. Jadilah saya dan si kecil melipir menuju museum tersebut dan menikmati berbagai kisah seru di balik pembuatan film yang dibintangi Harisson Ford yang juga adalah film favorit saya sepanjang masa.

11214258_10153425698271064_2010447836178466432_n.jpg

Atau kejutan lain bertemu dengan pemenang Nobel Perdamaian dalam sebuah acara untuk meningkatkan kesadaran untuk pemberantasan atau pencegahan Human Trafficking.

11009148_10153425701181064_7386899068767473888_n

Tidak disangka bisa bertemu dengan penerima Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi di Washington DC, Juni 2015.

Berada di Washington DC, juga cukup mendukung profesi dan minat saya pribadi. Saya bisa mengikuti berbagai acara seminar yang diadakan oleh lembaga-lembaga Think Tank yang mendatangkan orang-orang penting di bidangnya yang sebagian besar diselenggarakan secara gratis oleh berbagai lembaga Think Tank seperti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Carnegie  Endowment for Intl  Peace, Wilson Center dsb.

11665562_10153425700426064_7228327267584614656_n

Prof. William Liddle, a renowed expert on Indonesian politics at Carnegie Endowment for International Peace, 2014.

Tinggal di pusat Ibukota Amerika yang juga merupakan kota lokasi KBRI lokasi Wisma Indonesia, ini berarti ikut merayakan acara 17 Agustusan dengan teman-teman Indonesia

1441456_10153425698976064_6425860841076249620_n

17 Agustusan di Wisma Indonesia

Sebagai warga Washington DC kita  juga memungkinkan untuk datang ke Gedung Putih untuk ikut menyemarakan acara Easter Egg Roll, bersama keluarga orang nomor satu di Amerika. Acara ini adalah acara tahunan yang dilakukan oleh Gedung Putih untuk merayakan Easter dengan mengundang masyarakat umum dengan anak –anak mereka. Untuk bisa ikut acara ini kita harus mendaftar dan kemudian nama kita diundi. Kami merupakan salah satu yang beruntung bisa bermain di halaman Gedung Putih pada saat Easter Egg Rolls tahun 2013.

Kami diantara 30,000 tamu eksklusif  (LOL) yang diundang ke  White House untuk acara  2013 White House Easter Egg Roll 2013.

Hal lain yang paling menyenangkan dari tinggal di Washington DC area selain karena kotanya yang asyik buat dijelajahi dengan berjalan kaki, adalah tersedianya layanan untuk masyarakat yang cukup baik. Seperti adanya taman kota di mana-mana lengkap dengan taman bermain untuk anak-anak, fasilitas untuk kepentingan umum termasuk bagi kaum difabel juga diutamakan. Tidak hanya tempat parkir atau kamar mandi yang khusus disediakan untuk difabel, tapi juga bisa dilihat di restauran cepat saji misalnya yang menyediakan  meja-meja khusus untuk mereka dan juga di kolam renang ada alat yang khusus untuk membantu mereka bisa turun ke kolam renang, jadi kaum difabel pun bisa melakukan kegiatannya. Buat saya, kota atau negara yang bisa memperhatikan kepentingan kaum minoritas seperti kaum difabel, membuat saya tenang dan merasa nyaman.

Sistem Perpustakaan

Sebagai ibu dengan anak kecil yang suka buku, saya suka dengan sistem perpustakaan di Montgomery County Maryland, di mana saya tinggal. Tidak hanya koleksinya yang beragam, juga dalam sistem pelayanan yang sangat memanjakan konsumen. Administrasi keanggotaan yang gratis dan kita bisa meminjam buku di berbagai perpusatakaan yang tergabung dalam Montgomery County Public Libraries (MCPL) yang terdiri dari sekitar 21 perpustakaan di wilayah itu.. Dalam  sekali peminjaman, maksimal buku yang bisa dipinjam atau kita pegang adalah 100 buku atau CD, dan sekali meminjam kita bisa meminjamnya selama 3 minggu untuk kemudian jika buku tersebut tidak ada yang memesan, kita bisa perpanjang lagi secara online sebanyak maksimum 2 kali. Dan pada saat mengembalikan, kita tidak harus mengembalikan buku tersebut ke perpustakaan yang kita pinjam tapi bisa dikembalikan di perpustakaan manapun yang masih berada di bawah MCPL.

1511418_10153425698021064_7948630394927867829_n

Sara sedang antri untuk self checkout

10402940_10153425700531064_2109330299232432137_n

Salah satu perpustakaan yang tergabung dalam MCPL di Kota Rockville. Seperti hotel ya..!

Selain itu yang menyenangkan di AS ini adalah sistem yang diterapkan dipatuhi dan berjalan dengan baik. Ini juga yang menjelaskan bagaimana lalu lintas di jalan raya bisa berjalan dengan tertib dan lain-lainya.  Jadi peraturan memang dibuat untuk dipatuhi bukan untuk dicari-cari kelemahannya sehingga bisa dilanggar.

Kesan tentang Orang Amerika

Orang-orang Amerika walaupun mereka mungkin terlihat individual mereka sebenarnya cukup penolong dan perhatian kepada orang lain dan lingkungan mereka.

Mereka juga cukup ramah. Walaupun mungkin cuma basa-basi namun siapa yang tidak senang ketika setiap saat kita ingin membayar di kasir di supermarket sang penjaga akan selalu menanyakan “How are you today?” dan pada saat akhir sang penjaga akan berkata “Have a good day”. Senang sekali ada  yang mengharapkan bahwa hari kita happy dan indah. Saking seringnya mendapat salam seperti ini di supermarket di sini  dan suatu saat pergi ke supermarket yang dikelola oleh warga Asia masih di AS juga dan saat di kasir sang penjaga kasir boro-boro mengatakan how are you, menoleh pun tidak, cuman sibuk mendata harga barang belanjaan kita, rasanya bagaimana gitu… 😉

Namun yang paling menyenangkan buat saya berada di AS ini adalah bagaimana kami bisa menikmati alam Amerika dengan mengendarai mobil sendiri tanpa harus kejebak macet dan polusi di jalan. Setelah tinggal selama  6 tahun di Jakarta dan 4 tahun di Bangkok di mana kami biasanya menghabiskan weekend di rumah atau di mall karena tidak mungkin bisa menikmati perjalanan dengan naik kendaraan dalam suasana kemacetan, baru di AS inilah kami bisa  merasakan nikmatnya naik mobil, walaupun awalnya tanpa tujuan, namun akan selalu berakhir dengan melihat panorama alam yang indah. Alam Indonesia pasti tidak kalah indahnya, hanya saja kadang begitu sulit untuk menemukannya ketika kemacetan menghadang di mana-mana dan para pengendara lainnya tidak peduli akan tata tertib berlalu lintas.

10491091_10152626608886064_2005946690749315423_n

Scenery from our car while roadtrippin’

Yang tidak mengenakkan dari tinggal di AS ini untuk saya adalah pada saat  musim dingin yang berat. Salju memang cantik dan menyenangkan untuk beberapa saat. Namun jika sudah terlalu lama dan suhu terlalu dingin tidak  akan asyik lagi. Pas musim dingin di Maryland suhu bisa drop hingga -4 F (-15 C) ditambah cahaya matahari yang sangat pendek, jam 4:30 PM sore sudah gelap. Cuaca yang dingin ditambah hari gelap begitu cepat kadang sukses bikin saya sedih, kangen balik ke Indonesia dan semakin kangen dengan keluarga.

11221472_10153425702996064_3569048443391417623_n

Beberes tumpukan salju

Oh ya, hal lain yang tidak menyenangkan saat  berada di luar negeri adalah jauh dari keluarga besar kita di Indonesia. Sedih ketika pada acara-acara khusus kita tidak bisa datang apalagi jika ada keluarga yang sakit. Sedih dan sering merasa bersalah, karena tidak bisa menemani, hanya bisa lewat skype dan whatsapp.

11112799_10153425702956064_5224064785856196733_n

Halaman belakang rumah saat musim salju

Kebiasaan Orang Amerika

  1. Kecuali mungkin dia adalah Presiden atau orang super kaya, orang Amerika biasanya ngurus rumah tangganya sendiri, alias ngga ada pembantu, karena biaya untuk pembantu atau tukang-tukang ini  juga cukup besar. Jadi dari masak, ngasuh anak, kerja, jemput anak, berkebun, bertukang biasanya semuanya dikerjakan sendiri. Buat yang terbiasa ada pembantu di Indonesia, melihat kenyataan ini awalnya mungkin susah tapi lama-lama malah bikin kita jadi mandiri kok.
11183445_10153425698876064_8574970583853290867_n

Bayar tukang mahal: jadi gotong royong sekeluarga buat ngecet pagar 🙂

2. Di sini ada kewajiban tidak tertulis untuk ngasih tips di restaurant jika kita  puas dengan pelayanan yang diberikan.

3.Anak-anak remaja walaupun dia berasal dari keluarga kaya, mengambil kerja sambilan di toko-toko, restaurant, atau di tempat lain untuk mendapatkan tambahan uang saku, dan ini bukan hal yang memalukan.

4.Return policy. Jadi kalau beli barang ternyata tidak sesuai, dalam jangka waktu tertentu (biasanya 1 – 3 bulan untuk barang-barang yang bukan dikonsumsi ) barang tersebut bisa dikembalikan lagi dan uang akan dikembalikan asal melampairkan bukti pembelian. Dan pada saat mengembalikan barang pun kita sama sekali tidak dipersulit, tidak ditanya bertele-tele.

5. Free refill, di berbagai chain restaurant, minuman bisa diisi sendiri dan nambah sendiri, dengan gratis.

6. Restaurant biasanya memberikan krayon dan kertas mewarnai/ menggambar untuk anak2 supaya anak-anak tidak rewel di rumah makan

7. Keamanan dan keselamatan anak sangat diperhatikan, secara detail misalnya ada peraturan sampai usia atau berat tertentu seorang anak harus menggunakan car seat saat duduk di mobil untuk keselamatan sang anak dan mereka yang tidak mematuhi akan beurusan dengan hukum. Namun sayangnya, undang-undang untuk keselamatan anak ini pun tidak maksimum karena berbenturan dengan undang-undang lainnya seperti begitu mudahnya orang mempunyai senjata api, yang berujung pada banyaknya anak ataupun orang dewasa yang meninggal karena korban senjata api yang digunakan dengan tidak bertanggung jawab.

8. Menjadi anjing di Amerika tampaknya lebih beruntung dibanding di negara lainnya, karena anjing di sini sangat disayang dan dianggap sebagai anggota keluarga sendiri. Di Supermarket ada khusus aisle untuk keperluan anjing, dari makanan hingga mainan untuk anjing.

11701105_10153425932841064_3874379685407829186_n

Anjing juga di sekolahkan sehingga dia bisa  berperikeanjingan yang baik  Ada semacam bed and breakfast untuk anjing, jasa penitipan anjing ketika tuan rumah harus bepergian. Tapi pada saat yang sama juga, si tuan yang punya anjing harus bertanggung jawab terhadap anjingnya termasuk mengambil kotoran anjing tersebut sehingga tidak akan terinjak orang lain.

Komunitas Indonesia di DC

Agar Sara dekat dengan akar budaya Indonesia, selain berusaha mengajak Sara berbicara bahasa Indonesia (hal yang cukup menantang karena walaupun dia kadang mengerti apa yang saya sampaikan kepadanya dalam Bahasa Indonesia, dia jarang menjawab dalam Bahasa Indonesia dan maunya hanya Bahasa Inggris) saya juga sering  mengajak dia ke berbagai acara yang melibatkan masyarakat Indonesia seperti acara 17 Agustusan dan acara-acara lainnya yang biasa diadakan di KBRI. Kebetulan di Washington DC juga ada organisasi yang dibangun untuk memperkenalkan anak-anak Indonesia di AS dengan budaya Indonesia yaitu Rumah Indonesia yang kebetulan beberapa pendirinya adalah teman-teman saya juga. Organisasi ini cukup banyak mengadakan kegiatan untuk mendekatkan anak-anak Indonesia di DC terhadap budaya Indonesia.

12140180_10153674117561064_3304055975903738988_o

Little Indonesia at Montgomery Festival – we’re ready for the parade!

11707681_10153425698781064_2007285740633717085_n.jpg

Bersama Maya Sutoro dalam acara Membentuk Identitas Anak Indonesia yang berasal dari dua budaya yang berbeda yang diadakan oleh Rumah Indonesia, Juni 2015 di KBRI Washington DC.

Salah satu upaya supaya Sara bisa mengenal kebudayaan Indonesia adalah dengan mengajaknya ke acara budaya Indonesia, seperti saat pagelaran Wayang Sutasoma di KBRI di mana saya dengan teman-teman Banjar Bali USA diminta untuk ikut menari, Januari 2015:

988563_10153425697046064_566377557002640087_n.jpg

Saya juga senang di Washington DC ada sejumlah keluarga yang juga berasal dari kampung halaman saya, Bali. Walaupun jumlahnya tidak banyak namun komunita BanjarBaliUSA ini (www.banjarbaliusa.org) cukup lumayan untuk obat rindu kampung halaman dengan kegiatan-kegiatan yang kita lakukan seperti kumpul-kumpul saat hari raya. Senang juga bisa mendengar canda gurau dalam Bahasa Bali yang pernah begitu akrab ketika saya besar di Bali, dan ini bagus buat putri saya untuk mengenal lebih dekat bahasa dan budaya dimana ibunya berasal (Walaupun buat sang Ibu sendiri bisa  melepas  kangen dengan makanan khas Bali yang jarang bisa dinikmati selama di Amerika, adalah juga sesuatu banget dalam cara kumpul-kumpul ini).

10984150_10153425699586064_8994433774614615_n

Om Swastyastu dari Washington DC

11709681_10153425699721064_3412303173781551770_n

Upacara Galungan

11666074_10153425697301064_8325887843964257317_n

Sara dan Banjar Bali

Selain menjadi ajang kumpul-kumpul warga Bali, Banjar Bali juga aktif membantu KBRI dalam acara pengenalan seni budaya Indonesia di AS, seperti misalnya melalui penampilan tarian Bali dalam berbagai acara di Amerika.

11694028_10153425696951064_776132558217165435_n.jpgBanjar Bali ikut  berpartisipasi dalam peresmian Patung Saraswati di Washington DC oleh Mantan Presiden SBY (26 September 2014)

Walaupun jauh dari kampung halaman, tidak berarti kami melupakan tradisi kami, dan kami berusaha untuk selalu dekat dengan akar budaya kami untuk memastikan anak-anak  kami yang tidak besar di Bali/ Indonesia untuk selalu ingat akan akar yang juga membentuk identitas mereka. Itulah juga yang menjadi latar belakang kami melakukan acara Dharma Shanti warga Banjar Bali dalam memperingati Nyepi (liputannya bisa dilihat di sini).

Selain Banjar Bali, banyak komunitas dari berbagai suku/ adat Indonesia di Washington DC, seperti Rumah Gadang USA, Parsadaon Bangso Batak, Kawanua USA, House of Angklung, dan berbagai komunitas lainnya yang ikut melestarikan budaya tanah air di Amerika.

886012_10153425698186064_5811602004870725189_o.jpg

Sebelum tampil berfoto dengan teman-teman dari Rumah Gadang USA

12032932_10153621680836064_9201008665595096307_n.jpg

House of Angklung Washington DC concert (Courtesy:  House of Angklung).

—-

All pictures are courtesy of Ika Inggas and family, otherwise stated.

Advertisements

Merantau di Washington DC

IMG_2610Vina Mubtadi – is an International-Broadcaster who has been living in the Washington DC metropolitan area since 2010. During her spare time, she enjoys having educational playdates with her toddler daughter, Lana.

Continue reading

Apartment Hunting dan Komunitas Indonesia di NYC

Tia

 Tia Wulansari – a first time mom, a graduate student, and an ESL teacher (plus a Patriots and Red Sox fan) who lives in Medford, MA with her beloved husband and beautiful baby girl.

Apartment Hunting. Saya dan suami sudah pernah tinggal di beberapa kota di Amerika, dan bisa dibilang apartment hunting di New York itu yang paling ribet. Belum lagi sewa apartment di New York terkenal amat sangat mahal. Kami selama dua tahun (Jan 2012- Mei 2014) tinggal di Manhattan, tepatnya di 187th st dan Fort Washington. Nama daerahnya Washington Heights. Kami tinggal di one-bedroom apartment. Luasnya sekitar 800 sqft dan harga sewa ketika itu $1900/bulan (sudah termasuk heat dan gas). Sekarang apartment itu sudah disewakan dengan harga $2300 (Mahal? Amat sangat! Sigh…).

Bersama Keluarga

Mencari apartment yang lokasi dan harganya cocok di New York tidak lah mudah. Pertama kami coba cari sendiri melalui website Craigslist. Tetapi terlalu banyak apartment listing dan tidak jelas mana yang asli, mana yang scam. Akan lebih membingungkan lagi kalau belum tahu daerahnya. Ada 5 boroughs di New York: Manhattan, Brooklyn, Queens, Bronx, dan Staten Island. Within the boroughs, there are many neighborhoods, and each neighborhood has its own unique characteristics (dari yang bagus sampe yang sebaiknya dihindari). Walau saya sudah pernah tinggal di New York waktu kuliah S1, akhirnya, kami memutuskan untuk memakai jasa agen real estate supaya tidak kena tipu. Setelah membaca reviews di Yelp.com, saya menghubungi beberapa agen yang punya listing di Brooklyn dan Manhattan. Fokus kami hanya di Manhattan dan Brooklyn karena mempertimbangkan jarak ke kantor suami dan tempat kuliah saya (plus kami suka dengan daerahnya). Setelah bolak-balik kontak lewat email dengan spesifikasi harga dan amenities yang diinginkan dengan beberapa agen, akhirnya kami buat janji untuk melihat tempatnya.

Karena kami pindah ketika musim dingin, jumlah apartment listing tidak sebanyak kalau cari ketika musim panas. Dalam 2 hari, kami lihat 5 apartment di Brooklyn (daerah Park Slope, Prospet Heights, dan Gowanus) dan 1 apartment di Manhattan. Kami pikir di Brooklyn akan lebih murah, ternyata tidak. Semua apartment yang kami lihat hamper sama harga sewanya ($1800-$2000 untuk one-bedroom apartment). Kami akhirnya memutuskan untuk sewa apartment yang di Washington Heights karena jatuh cinta dengan pemandangan dan layout apartment.

Manhattan-GWB

Pemandangan George Washington Bridge ketika senja dari kamar kami

Alhamdullillah, saya berhasil kontak agen-agen yang baik. Ketika tanda tangan lease agreement, selain membayar first month dan deposit, kita juga harus membayar agent fee. Di New York, rata-rata 10%-15% dari harga sewa setahun (Mahal? Banget! sigh…). Oleh karena itu, penting sekali untuk dapat agen yang baik dan sangat membantu. Kalau tinggal di New York, mayoritas uang kita habis untuk bayar sewa. Di setiap borough, rata-rata harga sewa apartment tergantung daerahnya. Harga sewa di daerah kami termasuk bagus untuk apartment sebesar itu. Selain apartmentnya sendiri, lokasi apartmentnya enak, jauh dari kehebohan Manhattan, banyak taman dan sarana olah raga gratis. “Kekurangannya” adalah jauh dari hingar-bingar kota Manhattan, tidak cocok buat orang yang suka yang keramaian. Ke Times Square, sekitar 30 menit naik A express train; Ke Chinatown, sekitar 45 menit. Sebagai pembanding, teman saya sewa apartment 10 menit jalan dari Times Square. Luasnya sekitar 650 sqft, harganya $3400. Ada teman lain sewa apartment 10 menit naik subway ke Union Square. Luasnya 800 sqft, harganya $2400. Di Queens dan Brooklyn pun sama. Akan lebih mahal sewa di Astoria dan Long Island City (bukan Long Island ya…), dibanding di Jackson Heights atau Elmhurst. Lokasi (jarak ke subway, how convenient the area is,dll) dan amenities apartment mempengaruhi harga sewa. Untuk referensi, bisa dilihat di website ini: untuk boroughs yang lain juga ada di websitenya. Untuk informasi soal neighborhoods di Amerika, bisa dibaca di city data.

Restaurant Indonesia di NY
Enaknya tinggal di New York, kalau kangen masakan Indonesia dan malas masak (atau tidak jago masak seperti saya), bisa ke beberapa restoran.
Upi Jaya 
Teman saya yang asli Padang bilang masakan Padang di tempat ini TOP! Sate Padangnya mantap katanya. Sudah beberapa kali kesini, semuanya enak! Mereka juga ada masakan non-Padangnya seperti ayam panggang, tahu isi, gado-gado. Sekedar info bagi yang muslim, restoran ini menggunakan daging halal.IMG_6559

Java Village
Mereka menyediakan menu nusantara. Harganya cukup murah untuk porsi sajiannya. Mereka ada dua macam menu: bisa kita pesen dari daftar menunya langsung seperti lontong sayur atau ayam kremes; bisa juga kita pesen menu combonya (misal 2 jenis daging, 1 sayur, dan nasi). Seperti kalau di Indonesia, tinggal tunjuk ini itu dari counternya. Mereka juga menjual makanan ringan di restorannya seperti risoles dan tahu isi. Lihat juga review di sini.

Bali Nusa Indah
Bagi yang jauh tinggalnya dari daerah Elmhurst, Queens, di Manhattan ada restoran Indonesia juga namanya Bali Nusa Indah. Mereka menyediakan menu nusantara. Kami sering mengajak teman non-Indonesia kesini untuk memperkenalkan masakan Indonesia. Dibanding Upi Jaya dan Java Village, rasa masakan Bali Nusa Indah sudah ter-Americanized alias gak pedes dan kurang nendang. Untuk obat kangen, lumayan lha… Masakan yang OK menurut saya dan suami: mie goreng, siomay, lontong sayur, sate ayam. Ada beberapa restoran lainnya seperti Asian Taste 86 dan Sky Café (yang ini cabang dari yang di Philadelphia), tapi karena saya sudah lama tidak kesana atau belum pernah kesana, jadi tidak bisa komen banyak. Yang jelas kalau jalan-jalan ke New York, mampir lah ke Elmhurst, Queens untuk obat kangen rumah!

Kemudian ada beberapa toko yang menjual bumbu dan makanan ringan dari Indonesia. Banyak produk Indonesia yang bisa dibeli di New York. Yang penting jangan dipikir harganya dalam rupiah, bisa-bisa tidak jadi beli nanti! Hehehe…

Asia Market Corp di Chinatown, Manhattan
Berbagai macam bumbu Indofood dan Bamboe ($1.00/sachet), krupuk udang, kecap manis, tempe (frozen), Kusuka kripik singkong, kacang Garuda, bumbu pecel, kopi Nescafe, sambal ABC. “Indonesian corner”nya ada di pojok kanan belakang. Tempenya ada di frozen section. Kalau krupuk dan keripik, ada di bagian snack dan di bagian kasir.

Top Line, di Elmhurst, Queens
Lebih lengkap barang-barang yang dijual. Ada krupuk ikan, udang, dan krupuk putih abang-abang, segala macam bumbu jadi (Kokita, Munik, Indofood, Bamboe, Racik, dan beberapa merk yang saya pun baru lihat disini), meses, sirup Marjan, Beng-beng dan beberapa kukis khas Indonesia, Blue Band, tempe, kopi dan the Indonesia, dan masih banyak lagi… Kadang mereka juga jual meterai bagi yang membutuhkan. Kalau disini, “Indonesian corner”nya ada di bagian belakang toko, di bagian kanan.

Jajanan-lidi

Jajanan jaman SD “lidi berMSG” ada diual disini!

OK Indo, di Elmhurst, Queens
Tokonya kecil dan belum lama bukanya. Mereka spesialisi jualan produk Indonesia, tidak seperti Top Line dan Asia Market Corp. Barang yang dijual tidak selengkap toko-toko diatas, tapi kalau hari Sabtu, mereka jual makanan siap saji (dijual di container plastik). Terakhir kesana ada pempek, nasi kuning, nasi rames, martabak manis, dan beberapa jenis gorengan.

Komunitas Indonesia di New York
Bagi yang muslim, bisa mendatangi masjid Al-Hikmah untuk beribadah dan mengikuti kegiatan pengajian (untuk orang dewasa dan anak-anak). Masjid ini juga terkenal akan bazaar makanannya ketika bulan Ramadhan. Lumayan besar dan ramai bazaarnya; makanan yang dijual pun enak-enak. Selama bulan Ramadhan, biasanya bazaarnya buka setiap weekend. Informasi mengenai pengajian dan bazaar bisa dilihat di website masjidnya. Selain itu, terkadang komunitas Indonesia juga jualan di lokasi lain di Elmhurst, seperti ketika masa Pemilu kemarin.

Buat yang tertarik dengan musik gamelan, di New York ada grup Gamelan Kusuma Laras. Salah satu pelatihnya adalah Bapak Harjito. Beliau pengajar gamelan di kampus saya dulu, Wesleyan University. Yang menjadi anggota grup ini ada orang Indonesia dan Amerika. Mereka kadang pentas di KJRI, Lincoln Center, dan beberapa tempat ternama lainnya. Terakhir, kami menghadiri outdoor concert sebagai bagian dari Make Music NY event di bulan Juni. Pengalaman yang unik, mendengarkan gamelan di luar sambil menikmati angin sepoy-sepoy.

Gamelan Kusuma Laras

Gamelan Kusuma Laras pentas di depan KJRI NY sebagai rangkaian acara Make Music NY

Membuat SIM Amerika

ChicaPuti Ceniza Akbar (Chica) – has been living in New Bedford, Massachusetts, USA since 2010 with two sons and lifetime partner. She loves to volunteer at several local communities as well as running this site in her spare time.

“May I see your ID?” – adalah pertanyaan yang lumrah ditanyakan oleh pihak berkepentingan di sini. Tentu saja yang dimaksud sebagai “ID” atau identity document adalah sebuah dokumen yang mencantumkan nama lengkap, foto, tanggal lahir, alamat, dan tanda tangan. Kalau di Amerika, yang lumrah sebagai ID adalah SIM atau drivers license. Selain SIM, untuk yang non-driver bisa membuat State ID (hanya boleh pilih salah satu – state ID akan otomatis expired jika sudah punya SIM state setempat).

Kesalahan yang sering dilakukan sebagai international student atau expat dari Indonesia, adalah anggapan bahwa SIM Indonesia dan atau SIM internasional Indonesia bisa dipakai untuk nyetir di semua negara. Nyatanya tidak demikian…! Memang sih, kebanyakan SIM dari negara lain diakui oleh Amerika dan boleh dipergunakan selama setahun dari tanggal kedatangan ke Amerika (dan setiap kali re-enter ke Amerika). Tapi, tidak untuk Indonesia. Department of Motor Vehicle (DMV) mempunyai list resmi daftar negara-negara yang SIMnya diakui, dan di sana Indonesia gak termasuk. Hal ini perlu dicek juga di setiap Website resmi DMV/RMV (Registry of Motor Vehicle) untuk masing-masing state. Link yang saya sertakan di sini adalah untuk wilayah state Massachusetts.

Nah, karena SIM dari Indonesia (baik SIM biasa mau pun internasional) tidak diakui di Amerika. Sehingga, bisa dianggap kalau kita mengandalkan SIM Indonesia saja, artinya kita menyetir secara illegal. Dan menyetir illegal di Amerika agak berbahaya, karena dianggap sebagai pelanggaran berat! Gak mau khan dideportasi atau kena denda sekian ribu dollar hanya karena tidak tahu bahwa nyetir di sini illegal? Walaupun, dari pengalaman saya sendiri dan juga beberapa kenalan lain, mereka bisa dengan tenang melanglang buana hanya dengan berbekal SIM Indonesia dan tidak mengalami kendala apa-apa. Tapi ada baiknya, untuk ketenangan jiwa, marilah membuat SIM! Hehe.

Untuk dokumen yang perlu disiapkan sudah ada di sini. Tips: pastikan Anda punya surat penolakan Social Security Number jika memang tidak bisa mendapatkannya karena alasan visa (untuk visa non-kerja dan spouse dari student, atau visa F2 – tidak bisa mendapatkan SSN). Cara mendapatkan surat penolakan ini bisa langsung ke kantor SSN di masing-masing kota. Ingat ya, surat ini hanya berlaku selama 30 hari saja. Jadi setelah dapat surat, langsunglah urus Written Test.

Written test digunakan untuk mendapatkan Learner Permit. Nah, test ini sering dianggap gampang banget oleh sebagian besar orang, tapi buat saya sendiri, test ini SANGAT tricky karena sebagian besar berupa hafalan. Agak memalukan sih, karena saya gagal dua kali dalam written test x( Padahal biayanya lumayan! Sekali tes $30. Dan soal yang ditanyakan kalau Anda sudah baca di Driver’s Manual (bisa diunduh secara online atau pinjem ke library setempat), seharusnya bisa langsung pass. Soal testnya ada 25, dan harus benar 18 pertanyaan. Waktu test 30 menit. Tips: kalau ada pertanyaan yang tidak yakin, langsung di-skip saja. Karena kalau jawabannya salah, maka pertanyaan berikutnya tetap akan berkaitan dengan pertanyaan yang sebelumnya (resiko salah kembali lebih besar). Untuk belajar, coba isi tes latihan secara online.

Kalau Anda lulus dan mendapatkan learner permit, maka Anda akan diperbolehkan mengendarai mobil HANYA jika ada sponsor yang mendampingi. Yang dimaksud dengan sponsor adalah orang dewasa (> 21 tahun) yang sudah memiliki valid driver’s license dan berpengalaman menyetir minimal 1 tahun. Learner permit akan berlaku hingga 2 tahun. Dan dalam kurun waktu tersebut, Anda harus menjadwalkan road test (by online atau telepon). Tips: Butuh waktu agak lama untuk bisa daftar road test, bisa jadi 2-3 bulan dari kita menelpon. Jadi segera bikin jadwal untuk road test. Dan ingat, kalau mau cancel, minimal 3 hari sebelum test harus dicancel atau kita harus bayar $20 (dianggap ikut test dan gagal).

Road Test hanya akan memakan waktu 8- 15 menit. Walau pun Anda sudah biasa nyetir di Indonesia, jangan gegabah juga saat test ya dan jangan terlalu nervous juga. Saya dan suami yang sudah 6-8 tahun menyetir, ternyata masih harus mengulang road test karena gagal pada test yang pertama. Bahkan ada teman yang gagal hingga 3x, padahal dia sangat bagus sekali nyetirnya. Entah faktor si examinernya yang kelewat “jahat” atau faktor luck, atau tergantung kotanya… Pokoknya kalau di daerah New Bedford dan sekitarnya, rata-rata road test pertama gagal. Huhu. Yang akan diperhatikan saat test: hand signal (belok kiri, kanan, dan stop), kemampuan untuk: parallel parking, three point turn, memundurkan mobil secara lurus sejauh beberapa meter, menaati road sign, dll – untuk lengkapnya bisa baca di sini. Nah, kalau Anda memang tidak pernah punya SIM dan baru belajar nyetir, ada baiknya ambil kelas di Driving School kota setempat – kemungkinan besar Anda akan langsung guaranteed lulus test..!

Good luck! 🙂

Making The Most of Upper West Side with Your Baby

Screen shot 2014-11-26 at 2.15.08 PM

Yania Andarini has been living in New York City since 2013 to accompanying her husband pursuing Master degree in Columbia University. She’s embracing the days of Manhattan’s hustle and bustle with little Harsya.

Two days after my husband was admitted to a graduate school in New York, our doctor told us that I was also carrying a baby inside my belly. It was beyond words. We could not express our gratitude to the Lord Almighty as we felt that we were among the luckiest couple. Not only we were trusted to become a parent, but also we were going to New York City, the land of opportunity.

Fast forward several weeks, after the bubble of euphoria had popped, we got worried because it would cost a shipload of money to raise a baby at one of the most expensive city in the world—all alone with no relatives and with a very limited student budget. However, with the help of the Lord Almighty and so many loving families in Jakarta, we decided to rise to the challenge and depart to New York.

Needless to say, we are running a very tight ship, here. But luckily, there are places that cost us a very little amount of money—even for free—to take our baby out and play. Here are some places and facilities that we usually hang out with our baby in my neighborhood in the Upper West Side at Manhattan:

  1. Hit up your local libraries for no cost. New York Public Library (NYPL) are great places for parents and babies to spend time together. In addition to a vast array of fabulous children books collections, some of the libraries–in my case, they are the NYPL Morningside Heights and the NYPL St. Agnes–have a play room with a lot of toys where babies or toddlers can play. By bringing your baby to a library and exposing them to tons of interesting books, it will develop a good reading habit for babies since their early years. On another note, sometimes the libraries also conduct a storytelling session where the librarians enthusiastically read books for dozen of cute little babies.

photo 2

  1. Your local bookstores do not only sell books, they have tons of interesting activities, too. You can enjoy free storytelling every day at your local bookstore. Storytelling is wonderful and full of educational activity. The best part of it, it is free! Storytelling introduces your baby to language and helps them to develop their verbal skills. It is also a great place to interact with other baby of similar ages. Here are some local bookstores which provide free storytelling within my neighborhood:

photo 1

  • Bank Street bookstore on Broadway and West 112 St. has a free daily story hour at 10.30 a.m. The storytellers do not only read out loud, but they also invite the babies/toddlers to sing together. Occasionally, they invite famous authors to read together. Have I mentioned that we can also interact with other cool mommies?
  • Book Culture bookstore on Broadway and West 114 St. offers a free storytelling time in various language– French, Spanish and English. The storytelling was located on its lower level. The schedule for the activity is every Saturday at 15.30

photo 4

Bank street bookstore also provides puppet show every Saturday and Sunday at 13.00 p.m. for one hour. This program is primarily intended for toddler but babies are also welcomed to attend.

  1. Stroll over New York parks with your babies and loved ones. New York City is a jungle of concretes but it is also a home for a lot of beautiful parks. During the summer, you can always bring your baby to parks and meet a lot of friends there. On top of that, you can play with your baby on a slushy green grass, do a swing or even play water splash!

photo 1

Luckily, there are three parks within 20 minutes of walk from my apartment—the Riverside Park, the Morningside Heights Park and the Central Park. My favorite is the Riverside Park, since it is so close from my apartment and it provides many children playground. Every afternoon at 5 pm I take my baby to the Riverside Park to play with other babies or to just enjoy the scenery of the majestic Hudson River adjacent to the park.
photo 3

There are many more places of interest in the Upper West Side—places like the Museum of Natural History and the Metropolitan Museum. However, I am yet to visit those places with my baby. Once I do, I will let you know. In the meantime, enjoy your parks, libraries and bookstores!

Menemukan Komunitas

Berhubung saya tinggal di kota yang tidak banyak orang Indonesianya, maka setibanya di New Bedford, teman-teman sesama international students lah yang menjadi teman-teman pertama dan membantu segala proses: dari mulai cari dan pindahan apartemen, cari perkakas rumah, dll. Tapi, kebanyakan teman kami di sini adalah single dan terkadang aktifitas mereka “tidak cocok” untuk kami ikuti – karena pertimbangan tempat dan waktu: nongkrong di bar, party hingga sangat larut, dll. Lambat laun, kami memilih untuk tidak mengikuti lagi acara-acara tersebut, kecuali yang sifatnya kekeluargaan dan kids friendly, seperti: perayaan Thanksgiving, Christmas, atau BBQ di taman dan pantai.

Namun, terkadang sebagai Ibu, saya butuh teman untuk “menggila” bareng atau sekedar bertukar cerita – tentang apa saja. Selain tentunya butuh aktualisasi diri. Kalau ditanya, “kenapa gak bekerja di US?”, jawabnya: karena visa F2  (sebagai dependent dari visa F1 – student) tidak diperbolehkan bekerja dan tidak bisa memiliki SSN (Social Security Number) yang merupakan syarat wajib untuk bekerja di US (secara legal). Balik lagi ke topik awal, kalau mau tambah teman sama siapa dong? Bagaimana cara ketemu teman baru? Bagaimana bisa cari teman buat anak-anak? Jawabannya cuman satu: terjun langsung ke komunitas…! Caranya?

1. Menjadi volunteer: Sebagai langkah awal, yang di US coba cek: United Way untuk info organisasi atau event yang butuh volunteer. Kalau lokasi tempat tinggal dekat dengan National Park, bisa banget menjadi volunteer di sana – ini sebuah network yang bagus, dan langkah awal yang sangat baik untuk mengenal lebih dekat dengan kota tempat Ibu tinggal. Selain itu, coba liat annual events yang sering diadakan di kota/ kota tetangga – biasanya mereka selalu butuh volunteer. Ini kesempatan yang bagus juga untuk ngobrol dengan orang lokal, nonton musik gratis (saya beberapa kali volunteer di New Bedford Folk Festival), bertemu dengan organisasi/ komunitas lain dan belajar tentang kegiatan mereka. Sering kali saya volunteer sendiri, dan ended up berteman dengan orang dari City Council, ketemu Mayor dan ngobrol dengan beliau, ditraktir senator, dll. I always encourage my family and friends to volunteer..! Even it is as simple as picking up trashes in your neighborhood with bunch of local people.

IMG_9338

Anak-anak bisa ikut volunteer – seperti ini di acara Clean Sweep New Bedford (alias kerja bakti)

Tempat lain yang pasti butuh volunteer: sekolah anak (sebagai anggota Parent Teacher Organization – semacam POMG gitu, hehe), Salvation Army, Food Pantries (bantu siapin dan distribusi makanan untuk homeless. dll), perpustakaan (this is kind of fun, sorting books in library? Sounds great for me..!), kebun binatang, museum, local farm, local theater (bukan bioskop ya, tapi buat stage performances gitu).

2. Datang ke acara playgroup: untuk bertemu dengan anak-anak dan caregivers lain. Acara dengan banyak balita lain, biasanya sering diadakan di perpustakaan daerah setempat, atau pun Family Center (jika ada). Coba cek: Macaroni Kid; di sana, Ibu bisa menerima newsletter berisi acara-acara rutin dalam sebulan. Selain itu, bisa juga melalui Park and Recreation dan YMCA kota setempat – daftarkan anak untuk kegiatan olahraga: berenang, sepakbola, dll. Pasti akan tambah teman..! Dan jangan ragu, buat students family, selalu cek ada atau tidak: financial assistance. Ini sangat membantu dalam membayar fee bulanan kegiatan ekstra tersebut.

IMG_9952

Kegiatan playgroup banyak yang mengadakan acara field trip – bisa ke museum, ecotarium, park, atau farm seperti ini.

3. Ikutan kelas kuliah: Tahun kedua saya di New Bedford, saya ikutan sebuah kelas gratis yang dibiayai oleh Mass Humanities, namanya Clemente Course in Humanities. Dari sana, saya mendapat kesempatan merasakan sedikit aktifitas kelas kuliah di Amerika – kelas seperti ini (gratis dan dengan topik yang berbeda) mungkin bisa ditemui di kota Ibu. Bagusnya program ini: mereka menyediakan transportasi (taksi) dan daycare selama Ibu (atau Bapak) ikutan kelasnya. Jadi tidak perlu khawatir “Anak dititip ke siapa?”. Selain ilmu, tentu saya mendapat teman-teman baru yang menyenangkan. Yang umumnya ada gratisan juga, adalah kelas belajar Bahasa Inggris -kalau ini, saya yakin Ibu-ibu udah ga butuh lagi, karena sangat basic banget yang diajarin (seperti kurikulum belajar Bahasa Inggris ketika SD, hehe). Selain yang gratisan, Ibu bisa ikutan juga kelas kuliah atau kelas hobby, dan kursus lainnya. Kebanyakan kelas ini berbayar, jika ada biaya dan waktunya, ikutan saja..!

Dari tempat-tempat tersebut, biasanya kita akan mendapatkan info-info lain untuk bisa aktif berkegiatan dengan komunitas – yang jelas, kita harus proaktif dalam mencari info ini: karena tidak semua info ada di Internet, pengalaman saya info-info kegiatan lebih banyak dalam bentuk brosur yang ditaruh di perpustakaan dan tempat umum lainnya (termasuk di local resto dan bakery). Selamat mencari teman baru…! 🙂