Menemukan Komunitas

Berhubung saya tinggal di kota yang tidak banyak orang Indonesianya, maka setibanya di New Bedford, teman-teman sesama international students lah yang menjadi teman-teman pertama dan membantu segala proses: dari mulai cari dan pindahan apartemen, cari perkakas rumah, dll. Tapi, kebanyakan teman kami di sini adalah single dan terkadang aktifitas mereka “tidak cocok” untuk kami ikuti – karena pertimbangan tempat dan waktu: nongkrong di bar, party hingga sangat larut, dll. Lambat laun, kami memilih untuk tidak mengikuti lagi acara-acara tersebut, kecuali yang sifatnya kekeluargaan dan kids friendly, seperti: perayaan Thanksgiving, Christmas, atau BBQ di taman dan pantai.

Namun, terkadang sebagai Ibu, saya butuh teman untuk “menggila” bareng atau sekedar bertukar cerita – tentang apa saja. Selain tentunya butuh aktualisasi diri. Kalau ditanya, “kenapa gak bekerja di US?”, jawabnya: karena visa F2  (sebagai dependent dari visa F1 – student) tidak diperbolehkan bekerja dan tidak bisa memiliki SSN (Social Security Number) yang merupakan syarat wajib untuk bekerja di US (secara legal). Balik lagi ke topik awal, kalau mau tambah teman sama siapa dong? Bagaimana cara ketemu teman baru? Bagaimana bisa cari teman buat anak-anak? Jawabannya cuman satu: terjun langsung ke komunitas…! Caranya?

1. Menjadi volunteer: Sebagai langkah awal, yang di US coba cek: United Way untuk info organisasi atau event yang butuh volunteer. Kalau lokasi tempat tinggal dekat dengan National Park, bisa banget menjadi volunteer di sana – ini sebuah network yang bagus, dan langkah awal yang sangat baik untuk mengenal lebih dekat dengan kota tempat Ibu tinggal. Selain itu, coba liat annual events yang sering diadakan di kota/ kota tetangga – biasanya mereka selalu butuh volunteer. Ini kesempatan yang bagus juga untuk ngobrol dengan orang lokal, nonton musik gratis (saya beberapa kali volunteer di New Bedford Folk Festival), bertemu dengan organisasi/ komunitas lain dan belajar tentang kegiatan mereka. Sering kali saya volunteer sendiri, dan ended up berteman dengan orang dari City Council, ketemu Mayor dan ngobrol dengan beliau, ditraktir senator, dll. I always encourage my family and friends to volunteer..! Even it is as simple as picking up trashes in your neighborhood with bunch of local people.

IMG_9338

Anak-anak bisa ikut volunteer – seperti ini di acara Clean Sweep New Bedford (alias kerja bakti)

Tempat lain yang pasti butuh volunteer: sekolah anak (sebagai anggota Parent Teacher Organization – semacam POMG gitu, hehe), Salvation Army, Food Pantries (bantu siapin dan distribusi makanan untuk homeless. dll), perpustakaan (this is kind of fun, sorting books in library? Sounds great for me..!), kebun binatang, museum, local farm, local theater (bukan bioskop ya, tapi buat stage performances gitu).

2. Datang ke acara playgroup: untuk bertemu dengan anak-anak dan caregivers lain. Acara dengan banyak balita lain, biasanya sering diadakan di perpustakaan daerah setempat, atau pun Family Center (jika ada). Coba cek: Macaroni Kid; di sana, Ibu bisa menerima newsletter berisi acara-acara rutin dalam sebulan. Selain itu, bisa juga melalui Park and Recreation dan YMCA kota setempat – daftarkan anak untuk kegiatan olahraga: berenang, sepakbola, dll. Pasti akan tambah teman..! Dan jangan ragu, buat students family, selalu cek ada atau tidak: financial assistance. Ini sangat membantu dalam membayar fee bulanan kegiatan ekstra tersebut.

IMG_9952

Kegiatan playgroup banyak yang mengadakan acara field trip – bisa ke museum, ecotarium, park, atau farm seperti ini.

3. Ikutan kelas kuliah: Tahun kedua saya di New Bedford, saya ikutan sebuah kelas gratis yang dibiayai oleh Mass Humanities, namanya Clemente Course in Humanities. Dari sana, saya mendapat kesempatan merasakan sedikit aktifitas kelas kuliah di Amerika – kelas seperti ini (gratis dan dengan topik yang berbeda) mungkin bisa ditemui di kota Ibu. Bagusnya program ini: mereka menyediakan transportasi (taksi) dan daycare selama Ibu (atau Bapak) ikutan kelasnya. Jadi tidak perlu khawatir “Anak dititip ke siapa?”. Selain ilmu, tentu saya mendapat teman-teman baru yang menyenangkan. Yang umumnya ada gratisan juga, adalah kelas belajar Bahasa Inggris -kalau ini, saya yakin Ibu-ibu udah ga butuh lagi, karena sangat basic banget yang diajarin (seperti kurikulum belajar Bahasa Inggris ketika SD, hehe). Selain yang gratisan, Ibu bisa ikutan juga kelas kuliah atau kelas hobby, dan kursus lainnya. Kebanyakan kelas ini berbayar, jika ada biaya dan waktunya, ikutan saja..!

Dari tempat-tempat tersebut, biasanya kita akan mendapatkan info-info lain untuk bisa aktif berkegiatan dengan komunitas – yang jelas, kita harus proaktif dalam mencari info ini: karena tidak semua info ada di Internet, pengalaman saya info-info kegiatan lebih banyak dalam bentuk brosur yang ditaruh di perpustakaan dan tempat umum lainnya (termasuk di local resto dan bakery). Selamat mencari teman baru…! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s