Hiburan Musim Dingin di Ottawa

Screen shot 2014-11-26 at 2.11.06 PM

Josephine Desiana accompanying her husband working in Embassy of Indonesia in Ottawa, Canada since 2011. During her leisure time, she enjoys taking photographs and playing with her daughter Summerlila.

Meski dinginnya dapat mencapai 5.4 derajat Fahrenheit (sekitar -14.8 derajat Celsius), kota Ottawa memiliki berbagai tempat pariwisata dan festival kebudayaan menarik yang patut dikunjungi saat winter. Dimulai dengan Ottawa Zombie Walk

ottawazom

Acara yang diadakan pada awal bulan Oktober ini bukan sekedar pameran kostum, karena masing-masing partisipan harus berjalan dalam sebuah parade yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Garden of the Provinces, ke Territories at Confederation Park, sampai akhirnya berhenti di City Hall.

Selanjutnya Christmas Lights Across Canada di Parliament Hill.

ottawaxmas

Tradisi yang dimulai pada tahun 1985 ini merupakan salah satu objek wisata musim dingin yang sangat dinantikan oleh warga Canada. Puluhan ribu lampu dinyalakan secara resmi oleh pemerintah setempat dalam sebuah upacara yang disebut “Illumination Ceremony”, yang tahun ini akan di adakan pada tanggal 3 Desember.

Setelah memasukin tahun baru, Anda dapat mengunjungi acara Winterlude, dimana terdapat pameran berbagai pahatan es (ice sculpture), serta berbagai makanan dan wine yang disajikan oleh restaurant dan chef ternama.

ottwinterlude

Selain itu, Anda juga dapat menikmati serunya ice skating pada arena ice skating terbesar di dunia yaitu, Rideau Canal Skateway.

otticeskating

Jangan khawatir akan ketebalan esnya, karena cuaca dingin yang lumayan ‘awet’, arena ini dapat bertahan hingga 58 hari! Anda dan keluarga dapat menikmati serunya meluncur diatas perairan yang beku.

 

Merantau di Milan

taraTara Qatrunnada – Previously worked as a lecturer in ASRIDE ISWI, Jakarta. Now she’s enjoying being a mother of Alika while accompanying her husband working in Milan, Italy.

Mengurus Dokumen Awal. Kebetulan untuk surat-surat sudah diurus oleh kantor suami (jadi tinggal duduk manis deh! hehe), tapi untuk yang mau urus visa sendiri bisa langsung ke kantor VFS yang merupakan perwakilan dari kedubes Italia untuk mengurus visa. Saya hanya perlu satu kali ke embassy di Jakarta untuk mengurus nulla osta (akte nikah – untuk membawa pasangan dan anak dibutuhkan dokumen ini). Sesampainya di Milan, kami urus lagi Parmesso di Soggiorno (residence permit), cap jari dan foto. Residence permit ini digunakan untuk siswa/mahasiswa Non-EU yang tergabung dalam degree programmes atau single course units yang akan tinggal di Italy lebih dari 90 hari. Aplikasi untuk parmesso di soggiorno ini harus dilakukan dalam waktu delapan hari dari kedatangan di Italia.

Visa yang saya gunakan adalah tipe D – Accompanying Spouse (Al Seguito), dengan visa ini, saya bisa bekerja part time, dengan syarat harus ada sertifikat standard bahasa Italia. Yang perlu diingat, birokrasi di Italia sama kacaunya dengan di Indonesia..! Dan patut diketahui, mereka kerjanya lamaaa banget, walau kadang tergantung hoki juga 🙂

Musim gugur di sebuah taman kota Milan

Tips Mencari Apartemen di Milan. Kebanyakan di sini apartemennya sudah furnished atau bisa juga diisi sendiri dari awal. Kebetulan urusan apartemen juga sudah diurus oleh kantor. Cuman dari pengalaman sepupu yang mengurus sendiri, tipsnya adalah cari landlord yang bisa Bahasa Inggris, agar terhindar dari miskomunikasi saat serah terima apartemen. Sebelum masuk dan deal, selalu cek detail kondisi apartemen, dan ketika mau pindahan kalau ada yang cacat atau rusak, dibenerin sendiri dulu aja (kalau bisa). Opsi lain, banyak pekerja gelap yang lebih murah daripada harus dicharge oleh landlord.

Canals in the Navigli area of the city are an unexpected find. One of the two canals was even designed by Leonardo da Vinci. You can take a boat ride down these canals to see all sorts of cute shops, galleries and restaurants. (image: truenomads.com)

Kendala Bahasa. Buat saya, masalah bahasa ini menjadi kendala banget. Karena di sini jarang sekali ada yang bisa berbahasa Inggris kecuali toko-toko di tengah kota (yang pastinya banyak turis di sana). Tapi ini saya aja ya, untuk mama-mama Indo lain yang di sini tidak terlalu menjadi masalah kalau gak bisa berbahasa Itali. Cuma karena orang Itali itu chatty bgt, kita suka tiba-tiba diajak ngomong…! Haha, nah ini yang bikin saya suka jadi gak enak kalau ga bisa jawab, kesannya jadi sombong 😀 Jadi minimal bisa sedikit bahasa sehari-hari, atau biar mereka tahu juga bahwa kita memang tidak bisa bahasa mereka “Mi dispiace, non posso parlare italiano”. Andaikan saya bisa bahasa Italia, rasanya gak pengen balik pulang ke Indonesia saking betahnya..! Di sini disediakan kursus Bahasa Italia sebetulnya, gratis! Dan bisa sambil titip anak. Tapi sayangnya sampai sekarang saya belum ada kesempatan buat ikutan, maybe next year. Ohya, orang Italia gak searogant orang Perancis kok, kalau buat tanya jalan sama belanja, mereka bakal dengan hati membantu.

 Love and Hate about Milan. I love Italian people…! Meskipun kata orang mereka kurang ramah sama pendatang, tapi so far Alhamdulilah saya selalu ketemu dengan orang-orang baik. Lucunya kalau kata temen-temenku yang single, orang Italia itu super nyebelin dan jutek: karena mereka ga suka pendatang dan mereka (wanita) takut para pria Italia pada kepincut sama wanita-wanita Indonesia, haha. Tapi kalau bawa anak beda cerita, orang Italia itu super ramah sama anak-anak. Alika kalau jalan selalu aja ada para nenek atau kakek ngajak ngomong atau becandain, lucu deh liatnya. Lalu, sayur mayur di Italia itu kualitasnya bagus banget! Di Milan aja (yang notabene kota besar) saya ngerasanya sudah bagus, apalagi di kota-kota lain di Italia? Trus selain itu, apalagi kalau bukan shopping…!! Haha. Harga di sini masih jauh lebih murah dari di Perancis dan Jerman dan modelnya cepet banget berubah, apalagi diskonnya suka menggila…! Untung saya ga terlalu suka shopping *uhuk*.

The Milanese Galleria: Mall housed in a glass-covered 19th-century arcade with luxury clothing brands & upscale dining. (Image: interestingspace.com)

Yang paling ga disukai: COPET (!!). Di Milan bahaya banget copetnya! Trus, orang-orang Gypsy itu sangat menganggu…! Bener-bener harus waspada: utamanya untuk para mama yang bawa stroller, jalan sendiri, selalu hati-hati karena jadi sasaran empuk banget. Yang pasti jaga tas dan harus pasang muka yakin! Kalo ragu atau takut mereka bisa mencium ketakutan kita (emang hiu? Hehehe).

Mencari Kegiatan dengan Anak. Alika selama ini masih main di taman deket rumah saja. Tapi kalau lagi cerah dan mood Alika bagus, saya bawa ke Parco yang lebih besar: Parco Sempione atau Parco Venicia. Untuk berkegiatan sama anak-anak seumur Alika (2 y.o) ada Ludoteche, semacam tempat main rame-rame gitu, dan para mama ikut nemenin. Selain itu ada juga kelas buat anak-anak di bawah usia sekolah yang cukup murah, tapi lagi-lagi kendalanya bahasa.

Parco Sempione is a lush green park with lovely winding paths Surrounded by a castle (Castello Sforzesco), a museum (Triennale di Milano) and other beautiful buildings, restaurants and bars. A great place to unwind. (Image: blogmilano.com)

Ludoteche (image: tusciamedia.com)

Menggunakan Hijab. Sejauh ini tidak ada kendala, malah menggunakan hijab itu jadi meningkatkan martabat *halah*. Di sini orang Asia kurang dihargai, karena kebanyakan pekerja kasar adalah orang Filipina. Jadi mereka gak ramah, kecuali mereka tau kita orang Indonesia dan Erick Thohir (note: Presiden Inter Milan yang asli orang Indonesia)..! 😀 Baru deh lebih ramah. Nah, karena saya pake jilbab jadi mereka pikir saya orang Arab, dan kebanyakan orang Arab kaya, hehehe. Intinya sih di sini orang-orangnya itu reaktif, kalau kitanya ramah, senyum mereka ramah. Kalau kita jutek, mereka bakal lebih jutek lagi. Kebanyakan pendatang di sini kurang ramah, jadi mereka makin gak suka. Contoh: porter di apartemen saya, sebel banget sama saya karena gak bisa Bahasa Italia. Tapi saya senyum dan tetep ramah menyapa, dan kalau ada pesta saya kirimi makanan, dan coba usaha ngobrol Bahasa Italia dikit-dikit, lama kelamaan dia jadi ramah.

Transportasi Umum. Di sini ada metro (subway), bus, dan tram. Untuk bus, ada yang model terbaru jadi lebih mudah kalau kita bawa stroller, karena yang model kuno rada sulit untuk bawa stroller, especially kalau kita sendirian dengan anak. Untuk metro, di sini ada 4 line (merah, hijau, kuning, dan ungu), tempat saya dekat dengan line kuning, nah line kuning ini banyak yang pakai lift. Cuma sekarang karena akan ada Expo Milano 2015, kotanya lagi banyak berbenah dan jadi diperbaharui semua; termasuk menambah lift di metro.

One of Metro Station (Image: http://structurae.net/)

Merantau di Vancouver

Screen shot 2014-11-26 at 2.27.07 PM

Hera Yunitria is a first-time mom who just giving birth on August 2014. Now she’s balancing her time for being a mother and a working mom.

 Bisa dibilang saya cukup beruntung, karena sesampainya di Vancouver pada tahun 2011 lalu, saya memiliki keluarga dan sanak saudara yang sudah hidup lebih lama di sini. Jadi tidak terlalu kerepotan ketika harus mencari tempat tinggal. Seiring bertambahnya pengalaman setelah hidup disini selama beberapa tahun serta kesibukan saya menjadi ibu sekarang, semakin bertambah juga referensi saya dalam beberapa info mendasar yang saya rasa bisa membantu mama dan keluarga jika ingin merantau ke Vancouver.

Vancouver Skyline

Mencari Tempat Tinggal

Craiglist.com. Seperti layaknya di Amerika Serikat, mencari tempat tinggal melalui craiglist.com sangatlah populer di Canada, tetapi harus lebih teliti. Anda harus menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat yang anda pilih satu per satu, supaya lebih terjamin keamanan dan kualitasnya. Atau lebih mudahnya, mama juga bisa tanya-tanya di komunitas orang Indonesia yaitu : Permai BC https://www.facebook.com/groups/permaibc/

vancou

Belakangan ini banyak orang yang lebih memilih tinggal dipinggir kota seperti di Coquitlam (where I live, 30-45 mins from Downtown). Sekolah disekitar sini ada SFU, Douglass College, dan Coquitlam College. Buat new family I would suggest Coquitlam, karena tinggal di gunung, pemandangannya indah! Masih asri, bisa ketemu coyote, bear, dan squirrel! Daerah ‘terjangkau’ lainnya adalah Surrey, letaknya sekitar sejam dari downtown.

Transportasi

Translink adalah satu-satunya transportasi umum di sini, yang menurut saya cukup nyaman. Sebelum melakukan perjalanan, Anda bisa melihat jadwal bus atau skytrain di Website dan membeli tiket bulanan (monthly fare) mulai dari $91 – $170 tergantung zone-nya (yang ditentukan oleh jarak perjalanan). Vancouver sendiri dibagi dalam 3 zone:

Fare Zone Map

Supermarket Asia

  • T&T ada dimana-mana, dan anda bisa membeli berbagai macam groceries mulai dari sayuran segar, bumbu-bumbu masakan asia (korea, jepang, bumbu hotpot cina :p), snack snack import asia (filipin, singapore, malay, indo), pokoknya lengkap! Lihat lokasinya disini. 
  • Hen Long di daerah Surrey. Ada sayur segar, kerupuk ikan, dan bumbu-bumbu masak khas indonesia disini!

Rekomendasi Restoran Cita Rasa Indonesia

  • Khusus restoran Indonesia sayangnya belum ada, tapi ada restoran Singapore-Malay yang citarasanya lumayan mirip dengan masakan Indonesia, yaitu Banana Leaf.
  • Kedah House, salah satu pilihan yang enak karena format restoran Malaysia ini adalah ‘all you can eat’. Anda hanya perlu bayar $10.00!

Mudah-mudahan cukup membantu. Sampai jumpa di Vancouver! 🙂

Merantau di Manchester

widyaWidyastuti Harda currently live in Manchester, UK with two little kids and husband. Love to try new Indonesian recipes (especially) and baking treats for her family. In her spare time, she likes to travel and being a tourist in the city.

Tenancy Agreement adalah syarat pertama dan utama buat ngurus dokumen-dokumen yang lain; artinya harus sudah punya rumah atau tempat tinggal tetap di sini. Kami sudah cari beberapa apartemen inceran dari sebelum datang ke UK, dan minta bantuan teman untuk bantu viewing. Ketika ketemu dengan landlordnya dan cocok, maka langsung tanda tangan agreement dan bayar uang sewa plus deposit. Ohya, rata-rata apartemen di sini sudah furnished, palingan hanya butuh perabot dan perkakas dapur saja – yang mana bisa dapat dari lungsuran teman/ keluarga mahasiswa sebelumnya.

Dengan keluarga

Bersama keluarga

Setelah mendapat tenancy agreement, kami daftar ke dokter umum (General Practitioner – GP) yang selanjutnya akan dimasukan ke sistem NHS (National Health Service) UK dan daftar sekolah buat anak-anak. Keduanya (GP dan sekolah anak) harus memilih lokasi yang terdekat dengan lokasi rumah, mungkin kalau di Indonesia harus yang se-rayon.

PicsArt_1412802158497

Salah satu atraksi kota: The Manchester Museum

PicsPlay_1412860937901

Suasana jalanan yang lenggang di Manchester

Proses pendaftaran sekolah untuk anakPendaftaran untuk sekolah Dipta (usia 7 tahun) dilakukan secara terpusat di City Council. Di sana kita akan mendapatkan form buat mengisi biodata kita, anak kita, dan sekolah yang dituju. Ada 3 pilihan sekolah yang bisa diisi, disarankan buat daftar yang terdekat dari rumah. Di City Councilnya tersedia komputer untuk browsing sekolah mana saja yang bisa dipilih sesuai rayon rumah kita. Probabilitas diterimanya tergantung dari berapa banyak space yang tersisa buat menerima anak baru di setiap sekolah & jarak dari rumah anak ke sekolah. Setelah itu, form yang sudah diisi dimasukan ke kotak surat yang tersedia di  sana & kita tinggal menunggu kabar dari sekolah yang bersangkutan.

Nah, atas saran orang-orang yang kami temui, katanya jangan menunggu saja, you have to knock the door. Jadi, kami datengin juga sekolah yang jadi pilihan pertama di list. Kebetulan sekolahnya sangat dekat dari rumah, tiga menit sampai 🙂 Alhamdulillah beberapa space kosong buat 1st year student di sekolah ini. Pihak sekolah harus menunggu surat resmi dari City Council dulu, tapi di sana mereka mencatat data kami dan si anak – sehingga jika mereka sudah terima surat dari City Council, pihak sekolah bisa langsung mengubungi kami. Dokumen yang dibutuhkan: tenancy agreement, paspor anak, dan akte kelahiran anak, isi beberapa formulir dan tanda tangan beberapa paper works/ agrement. Pendaftarannya sangat mudah…! Ohya, seragam di sini menggunakan baju putih polos berkerah, celana panjang hitam atau abu-abu, dan sepatu hitam. Jumpernya saja yang diharuskan seragam dan beli di sekolah, tiap sekolah jumpernya berbeda,  seperti di Harry Potter gitu 😀

PicsArt_1412802942240

Mengurus GP. Pertama pilih GP yang diinginkan yang masuk wilayah rumah kita. Lagi-lagi2 tinggal browsing, mudah sekali cari infonya. Kemudian datang ke GP yang sudah dipilih, isi formulir yang disediakan, serahkan paspor & dokumen yang berisi alamat rumah kita – bisa tenancy agreement atau bank statement, kemudian tinggal tunggu surat untuk mendapatkan nomor kesehatan kita sekitar semingguan. Fasilitas kesehatan dan dentist gratis untuk anak-anak dan ibu hamil termasuk obat dan prescription dari dokter. Sementara orang dewasa bayar £7 untuk dokter umum, dan prescription, obat dan dentist bayar.

Menjadi Muslim di Manchester. Di sini banyak banget orang Muslim, mungkin karena Revolusi Industri Inggris, jadi banyak imigran Muslim dari Pakistan, Bangladesh, Somalia, dan sekitarnya di sini. Lingkungan rumah kami banyak imigrannya, jadi mudah ketemu restoran halal, toko yang jual produk-produk halal, halal meat, dan dekat Masjid 🙂

PicsPlay_1412860355821

Shahji Super Store: Salah satu toko halal di Manchester

Trus, kagum sekali sama toleransi yang tinggi antar penduduk. Entah karena lingkungan di sini banyak imigran atau memang secara adat sudah begitu: jadi, setiap papasan sama saudara seagama, even gak kenal mereka pasti ber”assalamualaikum”. Di sekolah Dipta dan public schools lain di sini juga menyediain option halal buat makan siangnya. Dan ini gak asal halal, mereka menunjukan serifikat halalnya di Web sekolah mereka, kemaren juga sama-sama merayakan Eid Fitri dan Adha di sekolah, pulangnya dikasih celebration card, dan di jadwal sekolahnya dibilang anak-anak dikenalkan agar tahu hari-hari keagamaan agama lain dan bertoleransi dengan itu.

Transportasi. Kami di sini berkendaraan umum. Sebetulnya mobil termasuk murah di sini, tapi gasolinenya mahal, dan berhubung kita hanya setahun di sini, jadi sayang beli mobil. Kemana-mana jalan kaki, trotoar luas, udara segar, banyak taman, palingan dinginnya saja yang gak nahan. Kami sengaja cari rumah yang dekat dengan pertokoan, sekolah Dipta & kampus Dika.

PicsPlay_1412861506719

Kegiatan jalan-jalan di taman, salah satu kegiatan favorite keluarga kami

PicsPlay_1411967653015

Kalau mau ke mall atau jalan keliling kota, baru kita naik bis. Ada annual pass (buat yang rutin), go show (bayar langsung di bis), dan daily rider (yang bisa dipakai seharian kalau mau ke banyak tempat dan cukup bayar sekali di awal). Tiketnya buat anak-anak sampai usia 5 tahun gratis, > 6 tahun bayar setengah, ada juga tiket buat family, bayar sepaket untuk 2 adults, 3 children yg jatuhnya lebih murah daripada bayar sendiri-sendiri. Bus di sini double decker, dan ada akses strollernya jadi mudah kalau bawa baby.

Komunitas Orang Indonesia. Di sini ada PPI dan PPI Greater Manchester, kemudian ada pengajian manchester rutin, cukup ramai kalau kumpul-kumpul (sekitar 50 orangan). Mahasiswa Indonesia di sini cukup rame, ditambah yang lagi nge-trend beasiswa LPDP ada sekitar 100 students baru.

————–

Foto-foto dokumentasi pribadi Widya dan keluarga.

Pasar Raya di Addison, Texas

Pada hari Sabtu tanggal 8 November 2014 lalu, IFGF Dallas mengadakan event Pasar Raya. Tidak seperti di acara 17-an di bulan September lalu, di Pasar Raya anda tidak akan menemukan lomba makan kerupuk atau karaoke lagu Indonesia. Acara ini khusus untuk jual-beli makanan dan minuman khas Indonesia. Yang menarik dari acara ini adalah lokasi yang dipilih oleh panitia yaitu hotel La Quinta Inn di Addison, Texas.

pasaraya3

Tidakada asap bakar sate, ruanganrapih dan bersih, kami pengunjung pun tidak kepanasan atau kedinginan, dan kalau mau menghangatkan makanan, kami boleh memakai microwave yang tersedia dari hotel. Selain itu, pembayaran pada masing-masing stall makanan menggunakan kupon dengan harga yang ‘pas’, jadi kami tidak perlu bawa-bawa koin.

pasaraya5

Makanan yang disajikan juga lebih variatif, dan menu lengkapnya sudah disebarluaskan melalui email dan social media sejak beberapa minggu yang lalu, agar pengunjung dapat melakukan pre-order.

pasaraya8

“Emang kenapa sih perlu pre-order?”, pikir saya waktu membaca menu yang dikirim teman saya melalui Facebook. Ternyata pas hari H, banyak makanan yang sudah habis terjual pada pukul 11.30 sedangkan acara baru dimulai pukul 11 siang! Kebanyakan pengunjung sudah pre-order untuk bungkus bawa pulang, yahh…lumayan kan bisa stock ayam penyet/ ikan pesmol / kering tempe untuk makan dirumah? 🙂

  pasaraya2

pasaraya3pasaraya4

Menu fvorit kami adalah Mpek-mpek oleh Kedai Gisi, Nasi Kapau oleh ibu Wati Thompson, dan Risoles oleh Ibu Ita Amalia.

Sayangnya kami tidak kesampaian untuk menyicip Klepon, Martabak, dan Mie Kocok Bandung karena sudah kehabisan dalam waktu kurang dari setengah jam. Sepertinya mengunjungi acara seperti Pasar Raya ini membutuhkan strategi khusus : cek menu pre-order, pesan yang mau dibawa pulang, rencanakan stall mana saja yang mau dikunjungi di hari H, bagi tugas (papa coba makanan A, mama coba makanan B), dan yang pasti datang lebih awal supaya tidak kehabisan!

***

 

Making The Most of Upper West Side with Your Baby

Screen shot 2014-11-26 at 2.15.08 PM

Yania Andarini has been living in New York City since 2013 to accompanying her husband pursuing Master degree in Columbia University. She’s embracing the days of Manhattan’s hustle and bustle with little Harsya.

Two days after my husband was admitted to a graduate school in New York, our doctor told us that I was also carrying a baby inside my belly. It was beyond words. We could not express our gratitude to the Lord Almighty as we felt that we were among the luckiest couple. Not only we were trusted to become a parent, but also we were going to New York City, the land of opportunity.

Fast forward several weeks, after the bubble of euphoria had popped, we got worried because it would cost a shipload of money to raise a baby at one of the most expensive city in the world—all alone with no relatives and with a very limited student budget. However, with the help of the Lord Almighty and so many loving families in Jakarta, we decided to rise to the challenge and depart to New York.

Needless to say, we are running a very tight ship, here. But luckily, there are places that cost us a very little amount of money—even for free—to take our baby out and play. Here are some places and facilities that we usually hang out with our baby in my neighborhood in the Upper West Side at Manhattan:

  1. Hit up your local libraries for no cost. New York Public Library (NYPL) are great places for parents and babies to spend time together. In addition to a vast array of fabulous children books collections, some of the libraries–in my case, they are the NYPL Morningside Heights and the NYPL St. Agnes–have a play room with a lot of toys where babies or toddlers can play. By bringing your baby to a library and exposing them to tons of interesting books, it will develop a good reading habit for babies since their early years. On another note, sometimes the libraries also conduct a storytelling session where the librarians enthusiastically read books for dozen of cute little babies.

photo 2

  1. Your local bookstores do not only sell books, they have tons of interesting activities, too. You can enjoy free storytelling every day at your local bookstore. Storytelling is wonderful and full of educational activity. The best part of it, it is free! Storytelling introduces your baby to language and helps them to develop their verbal skills. It is also a great place to interact with other baby of similar ages. Here are some local bookstores which provide free storytelling within my neighborhood:

photo 1

  • Bank Street bookstore on Broadway and West 112 St. has a free daily story hour at 10.30 a.m. The storytellers do not only read out loud, but they also invite the babies/toddlers to sing together. Occasionally, they invite famous authors to read together. Have I mentioned that we can also interact with other cool mommies?
  • Book Culture bookstore on Broadway and West 114 St. offers a free storytelling time in various language– French, Spanish and English. The storytelling was located on its lower level. The schedule for the activity is every Saturday at 15.30

photo 4

Bank street bookstore also provides puppet show every Saturday and Sunday at 13.00 p.m. for one hour. This program is primarily intended for toddler but babies are also welcomed to attend.

  1. Stroll over New York parks with your babies and loved ones. New York City is a jungle of concretes but it is also a home for a lot of beautiful parks. During the summer, you can always bring your baby to parks and meet a lot of friends there. On top of that, you can play with your baby on a slushy green grass, do a swing or even play water splash!

photo 1

Luckily, there are three parks within 20 minutes of walk from my apartment—the Riverside Park, the Morningside Heights Park and the Central Park. My favorite is the Riverside Park, since it is so close from my apartment and it provides many children playground. Every afternoon at 5 pm I take my baby to the Riverside Park to play with other babies or to just enjoy the scenery of the majestic Hudson River adjacent to the park.
photo 3

There are many more places of interest in the Upper West Side—places like the Museum of Natural History and the Metropolitan Museum. However, I am yet to visit those places with my baby. Once I do, I will let you know. In the meantime, enjoy your parks, libraries and bookstores!