Merantau di Ottawa

Screen shot 2014-11-26 at 2.11.06 PM

Josephine Desiana – Untuk mendampingi suaminya bertugas di KBRI, Josephine Desiana merantau ke Ottawa, Canada  pada tahun 2011 silam. Lulusan STIKOM Interstudi yang menyukai fotografi ini kini menikmati kesehariannya mengurus putri sematawayang-nya, Summerlila.

Menurut pengalaman saya, cara terbaik untuk mencari apartemen atau kamar sewaan di Canada adalah melalui website kijiji.ca. Seperti layaknya website jual beli pada umumnya, anda bisa mencari mobil, perabotan rumah tangga, apartemen, dan bahkan rumah pada website tersebut. Dari Alberta, British Colombia, Toronto hingga daerah lainnya di Canada seperti Prince Edward Island – semuanya terdaftar di Kijiji. Anda bahkan bisa mendownload app-nya di apple store dan google play. 

Beberapa hal yang perlu anda pertimbangkan dalam mencari apartemen/ rumah di Ottawa adalah :

  1. Daerah yang paling dekat dengan pusat kota (downtown) selalu lebih mahal dari suburb. Apartemen 1 kamar di downtown bisa mencapai $900-an, sedangkan di suburb hanya $800-an.
  2. Ottawa berseberangan dengan kota Gatineau (yang termasuk provinsi Quebec), disana terdapat banyak tempat tinggal yang jauh lebih murah dengan kisaran $850 untuk apartemen 2 kamar. Dari Gatineau ke Ottawa, anda cuma perlu menyebrangi jembatan! Nama jembatannya adalah Alexandra Bridge.  

ot6

Untuk transportasi saya sarankan untuk naik bus, atau kalau punya sepeda lebih baik bersepeda (kecuali kalau lagi winter ya…disini dingin sekali! bisa mencapai -40 derajat Celsius!).

Menemukan Komunitas

Berhubung saya tinggal di kota yang tidak banyak orang Indonesianya, maka setibanya di New Bedford, teman-teman sesama international students lah yang menjadi teman-teman pertama dan membantu segala proses: dari mulai cari dan pindahan apartemen, cari perkakas rumah, dll. Tapi, kebanyakan teman kami di sini adalah single dan terkadang aktifitas mereka “tidak cocok” untuk kami ikuti – karena pertimbangan tempat dan waktu: nongkrong di bar, party hingga sangat larut, dll. Lambat laun, kami memilih untuk tidak mengikuti lagi acara-acara tersebut, kecuali yang sifatnya kekeluargaan dan kids friendly, seperti: perayaan Thanksgiving, Christmas, atau BBQ di taman dan pantai.

Namun, terkadang sebagai Ibu, saya butuh teman untuk “menggila” bareng atau sekedar bertukar cerita – tentang apa saja. Selain tentunya butuh aktualisasi diri. Kalau ditanya, “kenapa gak bekerja di US?”, jawabnya: karena visa F2  (sebagai dependent dari visa F1 – student) tidak diperbolehkan bekerja dan tidak bisa memiliki SSN (Social Security Number) yang merupakan syarat wajib untuk bekerja di US (secara legal). Balik lagi ke topik awal, kalau mau tambah teman sama siapa dong? Bagaimana cara ketemu teman baru? Bagaimana bisa cari teman buat anak-anak? Jawabannya cuman satu: terjun langsung ke komunitas…! Caranya?

1. Menjadi volunteer: Sebagai langkah awal, yang di US coba cek: United Way untuk info organisasi atau event yang butuh volunteer. Kalau lokasi tempat tinggal dekat dengan National Park, bisa banget menjadi volunteer di sana – ini sebuah network yang bagus, dan langkah awal yang sangat baik untuk mengenal lebih dekat dengan kota tempat Ibu tinggal. Selain itu, coba liat annual events yang sering diadakan di kota/ kota tetangga – biasanya mereka selalu butuh volunteer. Ini kesempatan yang bagus juga untuk ngobrol dengan orang lokal, nonton musik gratis (saya beberapa kali volunteer di New Bedford Folk Festival), bertemu dengan organisasi/ komunitas lain dan belajar tentang kegiatan mereka. Sering kali saya volunteer sendiri, dan ended up berteman dengan orang dari City Council, ketemu Mayor dan ngobrol dengan beliau, ditraktir senator, dll. I always encourage my family and friends to volunteer..! Even it is as simple as picking up trashes in your neighborhood with bunch of local people.

IMG_9338

Anak-anak bisa ikut volunteer – seperti ini di acara Clean Sweep New Bedford (alias kerja bakti)

Tempat lain yang pasti butuh volunteer: sekolah anak (sebagai anggota Parent Teacher Organization – semacam POMG gitu, hehe), Salvation Army, Food Pantries (bantu siapin dan distribusi makanan untuk homeless. dll), perpustakaan (this is kind of fun, sorting books in library? Sounds great for me..!), kebun binatang, museum, local farm, local theater (bukan bioskop ya, tapi buat stage performances gitu).

2. Datang ke acara playgroup: untuk bertemu dengan anak-anak dan caregivers lain. Acara dengan banyak balita lain, biasanya sering diadakan di perpustakaan daerah setempat, atau pun Family Center (jika ada). Coba cek: Macaroni Kid; di sana, Ibu bisa menerima newsletter berisi acara-acara rutin dalam sebulan. Selain itu, bisa juga melalui Park and Recreation dan YMCA kota setempat – daftarkan anak untuk kegiatan olahraga: berenang, sepakbola, dll. Pasti akan tambah teman..! Dan jangan ragu, buat students family, selalu cek ada atau tidak: financial assistance. Ini sangat membantu dalam membayar fee bulanan kegiatan ekstra tersebut.

IMG_9952

Kegiatan playgroup banyak yang mengadakan acara field trip – bisa ke museum, ecotarium, park, atau farm seperti ini.

3. Ikutan kelas kuliah: Tahun kedua saya di New Bedford, saya ikutan sebuah kelas gratis yang dibiayai oleh Mass Humanities, namanya Clemente Course in Humanities. Dari sana, saya mendapat kesempatan merasakan sedikit aktifitas kelas kuliah di Amerika – kelas seperti ini (gratis dan dengan topik yang berbeda) mungkin bisa ditemui di kota Ibu. Bagusnya program ini: mereka menyediakan transportasi (taksi) dan daycare selama Ibu (atau Bapak) ikutan kelasnya. Jadi tidak perlu khawatir “Anak dititip ke siapa?”. Selain ilmu, tentu saya mendapat teman-teman baru yang menyenangkan. Yang umumnya ada gratisan juga, adalah kelas belajar Bahasa Inggris -kalau ini, saya yakin Ibu-ibu udah ga butuh lagi, karena sangat basic banget yang diajarin (seperti kurikulum belajar Bahasa Inggris ketika SD, hehe). Selain yang gratisan, Ibu bisa ikutan juga kelas kuliah atau kelas hobby, dan kursus lainnya. Kebanyakan kelas ini berbayar, jika ada biaya dan waktunya, ikutan saja..!

Dari tempat-tempat tersebut, biasanya kita akan mendapatkan info-info lain untuk bisa aktif berkegiatan dengan komunitas – yang jelas, kita harus proaktif dalam mencari info ini: karena tidak semua info ada di Internet, pengalaman saya info-info kegiatan lebih banyak dalam bentuk brosur yang ditaruh di perpustakaan dan tempat umum lainnya (termasuk di local resto dan bakery). Selamat mencari teman baru…! 🙂

Mencari Apartemen di Dallas

Pencarian tempat tinggal sebaiknya disesuaikan dengan tempat anda/suami bekerja/ belajar. Karena luasnya yang melebihi state lainnya di Amerika Serikat, kota-kota di Texas pada umumnya mengalami ‘urban sprawl’, yaitu penyebaran penduduk ke daerah-daerah yang jauh dari pusat kota, sehingga penggunaan transportasi umum sangat sulit, dan akhirnya pengunaan kendaraan pribadi merupakan sebuah ‘kebutuhan’ bahkan ‘keharusan’.

Tidak seperti di New York, yang gedung perkantoran dan apartemennya dapat dijangkau dengan mudah melalui subway dan bus, perumahan dan perkantoran di Texas khususnya di Dallas sangat menyebar. Dengan demikian, naik bus bahkan naik train (yang disebut dengan DART – Dallas Rapid Transit) bukanlah pilihan yang paling nyaman. Karena jarak dari train stop atau bus stop (halte) ke daerah perkantoran/ perumahan seringkali tidak dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Jadi mau tidak mau, anda harus memilihi kendaraan pribadi.

Sisi positif dari kondisi urban sprawl ini adalah : anda dapat memilih tinggal di daerah suburb yang lebih murah.

Sedikit sekali orang yang memilih tinggal di downtown. Kebanyakan keluarga, khususnya keluarga Asia memilih tinggal di daerah Plano & Carrollton. Disana terdapat banyak restaurant dan supermarket Asia bahkan Indonesia. Harga rumahnya pun masih terjangkau dan school district nya juga tergolong cukup baik.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Saya pribadi memilih tinggal di daerah Irving tepatnya di Las Colinas. Selain berjarak hanya 10 menit dari kantor suami dan 15 menit dari pusat kota, Las Colinas memiliki banyak pilihan apartemen yang masih terjangkau ($930 untuk apartemen 1 kamar + 1 kamar kerja yang bisa dijadikan kamar tidur). Sedangkan di downtown, apartemen 1 kamar kini berkisar antara $1200 per bulannya.

Website seperti apartments.com dan zillow.com sangat membantu!

Sementara itu, Indomie, kerupuk, bumbu rendang — banyak sekali bahan makanan dan kebutuhan groceries a la Indonesia lainnya yang kita perlukan dari waktu ke waktu, tetapi tidak bisa ditemukan di supermarket biasa di Amerika. Maka itu berikut beberapa list supermarket & restoran yang menjual produk dan makanan Indonesia di Dallas, Texas.

Supermarket

Restoran

 

Pengurusan ID, Driver’s License, dan Social Security

Sesampainya di Amerika, mama dan keluarga harus segera melengkapi formulir ‘Lapor Diri’ dan mengirimnya ke Konjen/KBRI setempat. Setelah itu, mulailah mengurus kartu ID (identification, seperti KTP), Driver’s License (SIM), & Social Security. Untuk lebih jelasnya, berikut kami jabarkan detail-nya :

1. Identification (ID) Card

ID

Pada umumnya, ID card dikeluarkan oleh kantor DPS (Department of Public Safety) atau DMV (Department of Motor Vehicle) di kota tempat anda merantau. Meski tiap State memiliki ketentuan dan peraturannya masing-masing,  ada beberapa kriteria dan syarat yang mutlak harus anda penuhi untuk mendapatkan kartu ID & Driver’s License, yaitu :

  • Memiliki paspor/ SIM dari negara asal
  • Memiliki bukti U.S. Lawful Presence : bukti bahwa anda memegang status permanent resident (Form I-551 / green card) / I-94 stamped “Approved I-551” pada paspor/ I-94 stamped “Processed for I-551” pada paspor/ Form I-327 / form I-94 dengan anotasi “Section 207” atau “refugee” pada paspor/ memiliki Refugee Travel Document (Form I-571)
  • Memiliki bukti residency di state setempat, seperti : surat leasing (sewa) apartment/rumah yang ditempati, tagihan listrik/ air/ tv cable/ telpon non-seluler yang tertanggal dalam kurun waktu 90 hari dari tanggal pendaftaran kartu ID, kartu asuransi mobil (bila ada), transkrip nilai dari universitas/sekolah tempat belajar saat ini, tagihan kartu kredit/debit yang tertanggal dalam kurun waktu 90 hari dari tanggal pendaftaran kartu ID, dll.

2. Driver’s License

SIM Indonesia anda hanya berlaku hingga 90 hari sejak kedatangan anda di kota rantauan. Maka itu, ada baiknya mengurus sim sebelum jatuh tempo, agak anda tidak terkena hukuman “driving with expired license” bila diperiksa petugas lalu lintas. Berikut urutan mekanisme pendaftaran DL pada umumnya di U.S :

  • Menyiapkan dokumen2 diatas (seperti untuk mendaftar ID card)
  • Mengisi formulir online lalu membawanya kantor DMV/DPS terderkat (form juga tersedia di tiap kantor DPS/DMV)
  • Membayar biaya pembuatan DL
  • Booking jadwal written knowledge test (di beberapa state, booking jadwal bisa dilakukan online & latihan soal2 untuk written test gratis bisa anda dapatkan via google)
  • Lulus written knowledge test
  • Booking jadwal driving test (bisa online) atau langsung test dengan melakukan ‘walk-in’ (usahakan datang paling pagi, biar kebagian giliran). Pastikan kendaraan yang anda gunakan untuk test berfungsi dengan baik & anda membawa kartu asuransi mobil anda.
  • DL akan dikirim melalui post dalam 10 hari kerja setelah anda lulus driving test

3. Social Security

Screen shot 2014-09-22 at 3.36.20 PM

Social Security adalah salah satu dokumen terpenting untuk anda yang merantau ke Amerika Serikat. Nomor yang tertera pada kartu Social Security (a.k.a Social Security Number) biasanya diminta saat membuka rekening di bank, membeli mobil, dan bahkan saat melamar pekerjaan. Social Security adalah program pajak pemerintah dengan sistim pay-as-you-go, untuk mensejahterakan warga pensiunan, warga yang cacat fisik, dan atau keluarga mereka.

Social security wajib dimiliki oleh worker, employer, dan mereka yang self-employed (wirausaha). Kartu social security wajib dimiliki baik orang dewasa maupun anak-anak. Untuk lebih jelasnya, baca disini.

Bagaimana dengan international students? Silahkan download pdf-nya disini atau baca di website resmi SSA.

17-an di Bulan September

Oleh Debora Manusama-Sinaga

Hari Minggu tanggal 21 Septermber lalu,KMI Dallas-Fort Worth menyelenggarakan acara Indonesian Festival untuk merayakan HUT RI yang ke 69. Mengapa diadakan pada bulan September? Diantara banyak alasan lainnya, KMI sepertinya menyadari bahwa musim panas di Texas merupakan salah satu yang terburuk di Amerika, dengan ketinggian suhu yang dapat mencapai 104 derajat Fahrenheit, khususnya di bulan Agustus. Sayangnya, meski sudah memasuki bulan-bulan musim gugur, Texas masih saja didera panasnya matahari, dan Indonesian Festival minggu lalu juga tidak luput dari sengatannya.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Puluhan (bahkan mungkin ratusan) warga Indonesia dan keluarganya memenuhi pavillion kecil di Mary Heads Carter Park, Carrollton mulai dari pukul 11.30 siang hingga 3.30 sore. Meski cuaca sangat panas, kami berbondong-bondong mengantri untuk membeli sate, lontong sayur, pastel, risol dan bakso sambil menikmati hiburan karaoke lagu-lagu Indonesia.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Dengan $8 kami bisa mengobati rasa kangen  makanan Indonesia dengan menyantap  5 tusuk sate, lontong, acar, dan kerupuk. Pengunjung yang membawa anak juga bisa mendaftar untuk lomba makan kerupuk dan lompat karung ala 17-an.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Saya dan keluarga sangat excited bisa mengajak sepasang orang tua murid dari sekolah renang anak kami yang ternyata berketurunan Jawa-Jerman. Dibesarkan oleh keluarga ‘setengah bule‘, teman kami ini sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia dan sudah lama sekali tidak pulang ke Indonesia. Setelah melahap 4 porsi makanan kesukaan kami, panasnya Texas pun akhirnya mendorong kami untuk pulang lebih awal. “Jangan lupa untuk mengajar anak anda berbahasa Indonesia. Jangan sampai mereka melupakannya,” tutur salah satu anggota KMI  sebelum kami pulang. Sebuah pesan yang tentunya akan kami ingat selama perantauan kami 🙂