Serba-serbi Finlandia (2)

WhatsApp Image 2016-10-18 at 20.34.02.jpegRika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finland with two bilingual sons- Kai and Sami, a Finns husband – Mikko. Still trying (hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Akibat musim dingin yang terlalu panjang, musim panas di Finlandia jadi terasa sangat berharga. Dan begitu langit musim panas mulai menyapa, banyak orang yang berusaha untuk menjadikan musim panas menjadi lebih spesial dengan cara menciptakan permainan-permainan seru. Permainan ini awalnya dibuat untuk iseng-iseng saja, pesertanya cuma warga sekitar saja tapi kemudian mulai terkenal sampai akhirnya diakui sebagai cabang olah raga resmi di Finlandia. Malah beberapa diantaranya dibikin kejuaran dunianya karena banyak orang asing yang juga tertarik untuk ikut serta. Berhubung olah raganya gak umum, aneh, dan memang agak gila, cabang-cabang olah raga tersebut kemudian dijuluki sebagai hullut suomalaiset urheilulajit atau olah raga gila orang Finlandia.

i_hullutsuomalaiset_valmis

Beberapa cabang olah raga tersebut adalah:

Eukonkanto (Wife Carrying Competition)

Ini salah satu olah raga gila yang paling penting dan paling terkenal. Kejuaraannya diadakan setiap musim panas di Sonkajärvi. Di cabang olah raga ini laki-laki harus berlari melewati beberapa rintangan sambil menggendong wanita (istri). Konon olah raga ini terinspirasi dari sebuah legenda di bagian timur negara Finlandia, dimana jaman dahulu kala, penjahat laki-laki suka datang ke desa kecil menculik perempuan untuk dijadikan istri. Biasanya penjahat tersebut membawa perempuan culikan mereka dengan cara menggendong/menunggingkannya di pundak.

ccf55b40-781f-49e8-9041-c567b73dce59

Untuk lombanya sendiri yang ikut tidak harus suami-istri tapi harus sepasang pria dan wanita. Kita dapat menjadi peserta dalam kompetisi Eukonkanto dengan cara mendaftarkan diri di website resminya dan jika menang, hadiahnya adalah berliter-liter bir sebanyak berat “istri” yang diangkut.

Ilmakitara (Air Guitar Competition)

Ini juga gak kalah gila, ya. Lomba pura-pura memainkan gitar. Maksud ‘ngana’?

Mengintip sedikit di Wikipedia: Air guitar is a form of dance and movement in which the performer pretends to play rock or heavy metal-style electric guitar, including riffs, solos, etc. Playing an air guitar usually consists of exaggerated strumming and picking motions and is often coupled with loud singing or lip-synching.

Masih menurut wikipedia, ada beberapa kriteria penilaian dalam kompetisi pura-pura main gitar ini:
Technical merit— biarpun cuma pura-pura tapi main gitarnya harus meyakinkan, harus terlihat real, dinilai dari bagaimana teknik bermainnya, termasuk posisi jari-jari saat memegang kord.
Mimesmanship— mimik dan ekspresi yang harus meyakinkan, bahwa mereka memang sedang sungguh-sungguh main gitar, bukan cuma pura-pura.
Stage presence—kharisma di atas panggung. Be a rock star and rock the audience. Salam tiga jari, pemirsa!
Airness—nilai artistik dari performance yang ditampilkan.

130813170912-air-guitar-world-championships-oulu-finland-horizontal-large-gallerynanami

Dan saya cuma bisa geleng-geleng kepala, apaan sih ini? Tapi Air Guitar Champioship justru yang sudah mendunia, kejuaraannya sudah diadakan dimana-mana dan ada computer game-nya juga.

Suojalkapallo (Swamp Soccer)

Alias main bola di dalam lumpur. Awalnya kegiatan ini dijadikan sebagai ajang latihan untuk militer atau atlet profesional dalam rangka meningkatkan kondisi fisik mereka. Secara permainan bola biasa saja sudah jelas menuntut ketahanan fisik, apalagi jika bermainnya di dalam lumpur. Seiring waktu, permainan ini mulai populer di kalangan masyarakat umum dan sekarang malah ada kejuaraannya.

suofutis2760762

Permainan ini tidak benar-benar dilakukan di rawa berlumpur melainkan di lapangan yang direndam lumpur. Waktu tandingnya juga lebih singkat dari permainan bola biasa, “cuma” 2×13 menit saja. Swamp soccer dibuka untuk grup lelaki dan perempuan dan kejuaraannya sudah diadakan di negara-negara lain seperti Swedia dan Brazil.

Muurahaispesässä istuminen (Ant-Nest Sitting Competition)

Ini pasti kejuaraan paling edan. Lomba duduk di sarang semut! Dengan bokong telanjang!

Katanya, sih, perlombaan duduk di sarang semut ini diadakan di banyak daerah di Finlandia sepanjang musim panas. Rekor dunia saat ini dipegang oleh Lyde Lyytikainen dengan waktu 2 jam 10 menit.

Dari yang saya baca-baca di internet, tips paling penting dalam mengikuti kegiatan ini adalah untuk membuat bokong kita kebas dan mati rasa sebelum berlomba. Bisa dengan cara mencubit-cubit bokong dulu seharian, atau ditampar-tampar hingga mati rasa, atau bisa juga dengan cara merendam bokong di air es selama beberapa jam sebelum perlombaan dimulai.

Saappaanheitto (Boots Throwing Competition)

Ini lomba jauh-jauhan melempar sepatu bot karet. Laki-laki akan diberikan sepatu bot no.43 untuk dilempar sementara perempuan no. 38. Gaya melemparnya dibebaskan kepada peserta yang penting harus coba untuk melempar sejauh mungkin. Kejuaraan dunia melempar sepatu ini sudah diadakan di beberapa negara di luar Finlandia, diantaranya di Italia, Jerman, Estonia, Swedia dan Polandia.

saappaanheitto

Asal muasal permainan ini masih menjadi tanda tanya. Diduga pada jaman dahulu kala ada seorang pria yang sedang bersantai di teras mökki-nya sambil minum bir, tiba-tiba dia melihat ada sepatu bot tergolek di halaman dan terus… dilempar deh (kriik… kriik). Ada yang bilang, semua cabang olah raga aneh di sini Finlandia tercipta akibat kebanyakan minum bir setelah bersauna.

Lomba lempar melempar ini agaknya cukup diminati di Finlandia. Selain melempar sepatu bot masih banyak lainnya yang bisa dilempar. Ada lomba melempar telepon genggam, melempar kursi atau melempar rumput.

Menarik yaa? Mau dicoba di Indonesia? 🙂


Written by Rika Melissa. Content editor: Mita Rangkuti.

Images on this page are linked to its original source (if not, it is all taken from the Internet).

Advertisements

Berlibur ke Santorini

liaCatharina Aulia – A mother of 4 years old daughter, Mikha, an owner of small online business and a co-founder of pop up market event planner in Jakarta. Currently live in Haarlem to accompany her husband who is pursuing his MBA degree in Netherlands.

Merantau di Harleem

Cerita rantau kami berawal diawal tahun 2015, ketika suami saya Dony mendapatkan beasiswa MBA nya di Belanda. Berhubung perusahaan tempat suami bekerja tidak memiliki policy mengenai unpaid leave selama 1 tahun, sehingga akhirnya suami memutuskan untuk mengajukan resignation. Sementara di saat yang bersamaan sayapun baru 1 tahun merintis sebuah usaha event planner bersama beberapa rekan yang penggarapannya lebih spesifik pada penyelenggaraan thematic pop up market. Tujuan mendirikan usaha ini adalah untuk memberikan sebuah platform bagi pengusaha-pengusaha berbakat Indonesia to sell their products yang biasanya kami selenggarakan di beberapa mall di Jakarta.

Tahun 2015 menjadi saat-saat yang cukup challenging bagi kami berdua, selain  karena keputusan yang diambil cukup beresiko, di sisi lain saya harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk kepindahan kami ke Belanda dan saya juga harus berkomitmen untuk tetap fokus menjalankan tanggung jawab saya dalam mempersiapkan event-event yang dalam waktu dekat akan digelar.  Jadi hingga saat ini hati di Belanda pikiran di Jakarta 😀

Three Months of Juggling

Di Belanda kami sempat berpindah dua kali tempat tinggal, awalnya kami tinggal di kota Tilburg yang berada di North Brabant province di mana daerah tersebut lebih dekat dengan perbatasan Belgia dibandingkan dengan kota-kota besar yang lebih kita kenal seperti Amsterdam, Den Haag, atau Rotterdam. Lalu, Setelah 9 bulan kami tinggal di Tilburg, perusahaan dimana suami melakukan research-nya berada di Amsterdam. Karena waktu tempuh Tilburg – Amsterdam cukup panjang sekitar dua jam, maka untuk menghemat waktu, energi dan biaya akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang lebih mendekati kantor dan pilihannya jatuh di Haarlem, kota kecil yang cantik di North Holland hanya sekitar 10 menit dari Amsterdam.

lia4

Suasana dekat kediaman kami di Harleem

Semua tidak menjadi lebih mudah dari yang saya bayangkan, karena hanya satu minggu sejak kami tiba di Tilburg, Dony harus langsung menjalankan studinya full time setiap hari dari pagi hingga pukul 6-7 malam dan hampir tidak bisa digangggu karena tugas-tugas yang cukup banyak juga. Sehingga diawal kedatangan kami, saya harus beradaptasi sendiri dengan kultur, cuaca, jadwal public transport yang punctual  dan mencari tahu sendiri segala sesuatunya tanpa suami, termasuk juga mengurus segala hal adminstratif seperti pengurusan verblijf atau ID Card, pendaftaran ke municipality, sekolah anak dan lain sebagainya. Selain berjibaku dengan urusan rumah tangga dan mengurus Mikha di usia toddler yang selalu ingin mendapat perhatian, sayapun harus bekerja dan berkomunikasi lintas benua secara intens dengan rekan-rekan di Jakarta setiap hari dengan perbedaan waktu yang cukup jauh sehingga tidak jarang kami berdiskusi dari subuh hingga larut malam.

Tiga bulan pertama tinggal di Tilburg, saya merasa cukup sulit dan kami cukup banyak melakukan penyesuaian. Pada bulan-bulan ini saya sempat berada di titik depresi, lelah, kesepian dan selalu ingin pulang kembali ke Jakarta. Saya merasa buruk dalam menjalankan seluruh peran saya sebagai ibu, istri yang sekaligus harus bekerja menjalankan usaha saya dengan kondisi long distance seperti ini. Sering saya berada pada kondisi 24 jam mungkin hanya tidur 3 jam saja untuk bisa menjalankan seluruh peran ini terutama jika sudah mendekati event.

kota

Haarlem dan Tilburg

Mungkin suami merasa jika hal ini terus menerus didiamkan akan berdampak buruk bagi kami bertiga dan saat ini kami tidak mempunyai banyak pilihan, maka kami sepakat jika Dony mendapat libur agak panjang, maka saya pun harus mengambil day off atas pekerjaan saya dan waktu tersebut kami gunakan untuk explore tempat baru atau berlibur ke negara lain untuk me-recharge our mood and energy or simply just to reward ourselves after a series of hardworks.  

Dalam artikel ini saya berbagi mengenai destinasi wisata keluarga kami ke Yunani beberapa waktu lalu.

Berlibur ke Oia, Santorini

Thira atau sering dikenal dengan nama Santorini merupakan sebuah  pulau vulkanik di Laut Aegea yang berada di antara Pulau Ios dan Anafi, 20 km dari daratan Yunani. Pulau ini merupakan kelompok Kepulauan Cyclades. Pulau ini memiliki luas wilayah 73 km² dan populasi 13.600 jiwa (2001).

santorini-map

Santorini Map

Thira atau Santorini pada awalnya bernama Strongyle yang berarti bundar, dinamakan Strongyle karena bentuk dari pulau ini berbentuk bundar. Menurut pakar sejarah, pulau Santorini ini terbentuk kurang lebih 3500 tahun yang lalu akibat dari letusan gunung berapi Gunung Thera. Ledakan yang terjadi menurut para ahli sangat besar dan dahsyat, hal ini terbukti dari adanya sebuah Kaldera yang luas di tengah pulau sehingga membentuk sebuah lembah yang dalam dan pada akhirnya terisi oleh air laut yang bernama Laut Aegean.

Sebetulnya rencana kami untuk berlibur ke Santorini sudah direncakan sejak akhir tahun lalu untuk summer holiday, namun berhubung suami baru akan menyelesaikan kuliahnya di bulan Oktober, maka judulnya late summer holiday :D.  Walaupun telat dan suhu pada awal Oktober di Belanda sudah mencapai 5  celcius degree, surprisingly ternyata Santorini masih panas bangettt. Walaupun kalau dilihat secara temperatur  hanya sekitar 24-27 derajat celcius, which is sudah tidak terlalu tinggi temperaturnya, tetapi real feelnya masih cukup terik dan panas.

lia1

Family

Perjalanan menuju Santorini kami lakukan melalui jalan udara. Berangkat dari Schipol Airport, directly menuju Santorini Airport (JTR) memakan waktu sekitar 3jam 20 menit. Ada beberapa pilihan maskapai dari Schipol antara lain KLM, Aegean Air atau Transavia untuk budget flight.  Sesampainya di airport, kami dijemput oleh bus service yang sudah di arrange dari hotel tempat kami menginap di Oia.

Mengapa disarankan untuk menggunakan fasilitas jemputan dari hotel? Karena ternyata rumah, toko, maupun  hotel-hotel di Oia tidak memiliki alamat! Sehingga untuk Mama yang berencana berlibur kesana bersama keluarga, untuk kenyamanan dan mengurang keribetan disarankan agar menggunakan jasa penjemputan dari hotel. Waktu yang ditempuh dari airport menuju Oia sekitar 30 menit, dengan biaya sekitar €30 untuk 1 keluarga (max. 4 orang). Dan jangan lupa siapkan tips untuk driver seharga segelas kopi, berkisar antara €3 – €5. Alternatif lainnya adalah menggunakan bus lokal dan turun di Oia bus stop. Untuk tarifnya saya kurang paham tapi mungkin sekitar €2-5 per orang. Berhubung Oia merupakan desa cantik dengan gang-gang sempit, maka kendaraan tidak bisa masuk sampai ke depan hotel, sehingga semua kendaraan bermotor hanya bisa berhenti di bus stop dan koper harus kita bawa sendiri menuju hotel atau dengan bantuan porter yang disediakan pihak hotel.

lia3

Oia (baca : ii-a) adalah the most famous villages in Santorini. Oia terletak diatas tebing yang terdiri dari jajaran rumah, whitecaves resorts dengan balkon view Kaldera dan Aegean sea yang spektaaaaaa, blue domes church, windmill dan anak tangga yang cukup curam.  Oia dikenal diseluruh dunia for its quiet life, most beautiful, picturesque and fantastic sunset in Santorini.

view-from-sunset-spot-in-oia

View from Sunset Spot in Oia

Hari pertama, sesampainya di hotel, rasanya gak pengen kemana-mana lagi. Karena view dari balkon kami  is beyoooond our imagination. Sambil nyeruput kopi atau segelas juice, kaldera, laut Aegea dan blue domes beautifully captured in front of our eyes! Sementara menunggu sunset pada pukul 19.00, kami mulai berkeliling sekitar Oia dari pukul 4.30 sore. Yang perlu diketahui jika kita berencana membawa anak adalah lupakan stroller. It won’t work untuk strolling around dan menikmati pulau ini sambil mendorong stroller, jalanan cukup sempit mungkin kurang dari 2 meter lebarnya dan very busy and crowded di jam-jam tertentu, ditambah lagi kontur jalan yang mengharuskan kita naik turun berpuluh dan beratus anak tangga untuk mendapatkan spot yang bagus untuk menikmati sunset. Karena kontur jalan beberapa area di Oia cukup curam, naik turun dan a bit slippery, saya dan Mikha sempat beberapa kali terpeleset hingga terjatuh padahal kami sudah berpegangan pada railing tangga, sehingga disarankan menggunakan sepatu atau alas kaki yang cukup nyaman dan bahan alas yang tidak licin.

menjelang-malam-di-oia

Menjelang malam di Oia

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, Oia dikenal dengan sunset yang begitu cantik and we are the witness of that beauty! That’s the most beautiful sunset I’ve ever seen in my entire life! Merindiing liat sunsetnya. Oia is veryyyy beautiful in every corners. Dan bagi yang hobi fotografi seperti suami saya, ada satu sunset spot, (agak sulit mendeskripsikan lokasinya) gambaran strukturnya seperti benteng dan kita bisa naik ke atasnya. Di situ kita benar-benar bisa melihat dan mengcapture suasana sunset, windmill, blue domes church dan seluruh desa ini dengan jelas. Untuk bisa mendapatkan posisi atau spot yang bagus kita harus berada di lokasi ini minimal 1 jam sebelum sunset karena spot ini akan dipenuhi oleh turis bahkan mereka sudah berada di lokasi ini 2 jam sebelumnya.

lia2

Greek Restaurant

Ada beberapa Greek restoran yang kami kunjungi selama di Oia, salah satunya kami mencoba 1 resto kecil bernama Pitogyros letaknya berada di sebrang Lolita’s gelato. Kami pesan chicken gyro dan lamb kebab gyro dengan harga €3/each, we simply say both Gyros were a BOMB. It was the best Gyros in town! Sayang gak ada fotonya karena udah keburu masuk perut.

photo0jpg

PitoGyros

Restoran kedua yang kami kunjungi adalah  Kasteli, letaknya tepat didepan Canava suites. Not a fancy restaurant, semacam restoran keluarga, mereka menjual beberapa traditional Greek food tapi yang the bessssstt dan wajib dicoba adalah grilled lamb ribs-nya. It’s finger lickin’ good.  Saking susah move on, dua kali kami makan malam di sini ini dengan menu yang sama. Untuk harga per platenya hanya sekitar €9.

Restoran ketiga yang kami coba adalah Ammoudi Fish tavern, letaknya berada di Ammoudi bay dibawah Oia village, bisa turun dari Oia melalui tangga tapi sepertinya tidak direkomendasikan kalau membawa anak usia toddler karena tangganya cukup curam dan pasti sangat melelahkan untuk mereka. Alternatif lain dengan taxi biayanya €10.

Kalau saya baca reviewnya sih the best seafood restaurant in Oia. Saya akui the view was stunning, laut Aegean, sunset dan Oia village. Tapi untuk seafood plater yang kami pesan dengan harga €65 adalah overrated, mahal dan rasanya biasa banget. Jadi mungkin restoran ini lebih menjual view atau mungkin kami salah pilih menu. Kalau saya kurang merekomendasikan makan disini kalau niatnya bukan untuk makan cantik atau lagi laper.

img_9358

View of Amoudi Bay (via Camchowda.com)

Santorini Sailing Tour

Sebetulnya ada banyak tempat-tempat yang dapat di-explore dari Santorini, kita bisa naik donkey untuk explore seluruh desa, atau Santorini wine tasting tour karena Santorini juga dikenal dengan pabrik anggurnya dan bisa juga pergi ke desa lain untuk mendapatkan ambience yang berbeda seperti mengunjungi Fira, Imerovigli, Firostefani dan lainnya dengan berjalan kaki maupun naik lokal bis. Berhubung liburan kami cukup singkat dan harus dipilah-pilah mana yang sekiranya fun juga untuk Mikha, maka hari ke-3 kami memilih untuk melakukan sailing tour. Seluruh sailing tour disana dikelola oleh Santorini Yachting Club, harganya cukup variatif mulai dari €85 per orang untuk group besar sebanyak 48 orang per boat, €130 untuk semi private berisi 10-15 orang per boat, hingga €170 per person untuk tour yang lebih private. Anak kecil dengan batasan umur 4 atau 5 tahun tidak dikenakan biaya. Sailing tour yang kami ikuti memakan waktu sekitar 5 jam. Kami dijemput sekitar pukul 1 siang lalu menikmati tour hingga sunset. Harga tersebut sudah termasuk antar jemput hotel, sailing tour dan buffet. Kapal akan berhenti 3x yaitu di hot spring, red beach dan white beach dan kita bisa berenang ataupun snorkeling di ketiga spot ini.  Kedalaman laut sekitar 10-18m, dan kapal berhenti 25 menit hingga 1 jam di tiap spot untuk memberikan kesempatan bagi yang ingin berenang di spot tersebut.

santorini_sailing_lagoon_520_06

The Boat (via santoriniyachtingclub)

Mikha superrr happy karena dia pun saya ajak untuk ikut merasakan berenang di laut, ini menjadi pengalaman pertamanya, sambil sesekali ketelen air laut. Selama kami berenang papa-nya tegang banget dari atas kapal, jadilah hasil fotonya backlight dan goyang  semua. Jangan  lupa membawa baju dan handuk lebih juga sunblock untuk menjaga kulit dari sengatan matahari. Dan bagi yang membawa anak kecil walaupun terik, saya sarankan juga untuk membawa baju tebal atau jaket karena angin laut yang cukup kencang dan dingin.

Ibukota Santorini: Fira

Hari terakhir di Santorini, kami memutuskan untuk meng-explore daerah Fira. Fira sendiri adalah ibukota dari Santorini.  Walaupun dari segi arsitektur secara garis besar mirip dengan Oia yang didominasi oleh bangunan berwarna putih diatas tebing kaldera, feel dan ambience di Fira berbeda dengan Oia. Oia moodnya lebih relax, sementara Fira lebih ramai dengan shopping street-nya, cafes dan night clubs.  Sepanjang jalan sempit kanan kirinya dipenuhi oleh butik-butik yang menjual branded watch, jewellery, maupun kios-kios souvenirs. Untuk yang mau shopping, Fira menawarkan lebih banyak pilihan.

view-nea-kameni-dan-thirassia-from-fira

View Nea Kameni dan Thirassia from Fira 

fira1

Shopping area, Fira

Ada berbagai cara untuk menuju Fira dari Oia. Bisa dengan berjalan kaki sekitar 2-3 jam, rental kendaraan dan bisa juga menggunakan bus lokal dengan tarif €1,8 per orang sekali jalan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.  Dari Fira kita bisa mendapatkan panoramic view kaldera sekitar 18km dari Akrotiri hingga Nikolaus dan pulau vulkanik Nea Kameni. Disini kami mengunjungi gereja Katolik St.  John The Baptist dimana uskup Santorini menetap dan juga ada 2 museum yang dapat dikunjungi Archeological Museum of Thera dan Museum of Prehistoric Thera.

sunset-view-from-fira-ibukota-santorini

Sunset view from Fira

donkey_trail_-_fira_-_thira_-_to_mesa_gialos_port_-_santorini_-_greece_-_05

Donkey Trail Fira – Thira – to Mesa Gialos port

Last Day in Santorini

Keesokan harinya kami check-out untuk  kembali pulang ke Belanda. Yang perlu diperhatikan dari Santorini airport adalah ukurannya yang cukup kecil dan beberapa hal masih dilakukan secara manual, sehingga paling tidak 2 jam sebelumnya  harus sudah sampai di Airport karena mereka hanya memiliki 3 loket check in.

Antrian begitu panjang, begitu pula saat security check in. Bahkan untuk memasukkan koper ke bagasi pun kita harus drop sendiri di tempat terpisah (bukan di loket check in), walaupun lokasinya masih berdekatan dengan loket check-in. Jadi proses kami selesai pada saat sudah last call boarding pesawat. Jadi prosesnya memang kurang efisien dan staff yang ada juga tidak terlalu banyak.

Sekian perjalanan kami ke Santorini semoga cerita kami cukup berguna bagi mamarantau yang berencana berlibur kesana. Kami memang tidak bisa explore terlalu banyak karena berkaitan dengan waktu kami yang singkat dan karena membawa anak kecil juga membutuhkan waktu lebih banyak untuk mempersiapkan dan mempertimbangkan hal-hal yang penting yang bisa menjaga keamanan dan kenyamanan anak.


Pics are courtesy of Lia and Family, otherwise stated or linked to the original images.

Serba-Serbi Finlandia (1)

wpid-img_20150731_213558_hdr.jpgRika Melissa (Rika) – lives in Kerava, Finland, with two bilingual sons and a Finn husband and trying to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Banyak yang bilang Finlandia ini negara yang low profile, alias kurang dikenal. Memang tidak banyak orang ataupun produk-produk terkenal yang berasal dari negara ini, kalaupun ada, biasanya orang tidak mengira kalau asalnya dari Finlandia. Misalnya saja permainan Angry Birds yang di-release oleh Rovio, sebuah perusahaan dari Finlandia, cuma sedikit orang yang tahu bahwa permainan tersebut diciptakan di Finlandia.

article-2148493-133ba590000005dc-491_634x419

Angry Birds in Sarkanniemi Amusement Park in Tampere, Finland

Kalau dulu sih ada Nokia yang bisa dibanggakan sebagai produk Finlandia. Itu pun banyak yang mengira kalau Nokia adalah perusahaan Jepang. Sekarang Nokia sudah bangkrut, asetnya sudah dibeli oleh Microsoft, semakin sulit saja rasanya memperkenalkan negara ini ke orang lain. Duh, Finlandia nasibmu.

Setiap kali mudik ke Indonesia dan bercerita ke orang lain kalau saya tinggal di Finlandia, masih sering saya menerima respon “Dimana tuh?”

Cukup banyak yang tau bahwa negara ini letaknya di benua Eropa, tapi tepatnya dimana, bertetangga dengan negara apa, rata-rata masih jarang yang tau. Dibandingkan dengan negara tetangga seperti Swedia, Norwegia dan Rusia, rasanya Finlandia jelas kurang populer. Pengetahuan orang-orang luar Eropa tentang negara ini bisa dibilang masih kecil sekali. Makanya, setelah 7 tahun tinggal di Finlandia, saya memutuskan untuk menulis artikel tentang serba-serbi negara utara yang selalu dingin seperti kulkas ini. Biar kita semua jadi tambah kenal sama Finlandia, ‘kan seperti kata pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’.

238819030_ff0d62fbc4

Artikel ini tidak serius, fakta yang ditulis di sini pun yang ringan-ringan saja, tapi semoga bisa menambah pengetahuan sekaligus juga menghibur.

NEGARA NORDIK, BUKAN SKANDINAVIA

Masih banyak orang yang mengira Finlandia adalah bagian dari Skandinavia. Hal ini salah besar karena definisi Skandinavia mengacu pada kelompok negara yang memiliki latar belakang sejarah dan akar bahasa yang sama, negara-negara tersebut adalah Denmark, Swedia dan Norwegia – tiga negara yang dulunya merupakan teritorial bangsa Viking dan karena bahasanya yang mirip-mirip, umumnya mereka bisa saling mengerti satu sama lain.

Finlandia sendiri termasuk dalam kumpulan negara Nordik yang terdiri dari Skandinavia (Norwegia, Swedia dan Denmark), Finlandia dan Islandia. Walaupun bertetangga dekat dengan Skandinavia, Finlandia memiliki bahasanya sendiri yang jauh berbeda dengan bahasa yang ada di Skandinavia.

Untitled-1

Walaupun begitu, Finlandia sebenarnya memiliki dua bahasa nasional: Finlandia dan Swedia. Ada sekitar lima persen penduduk Finlandia yang menggunakan bahasa Swedia sebagai bahasa sehari-harinya. Hampir semua teks, petunjuk arah, nama kota, halaman internet dan lain-lainnya di negara ini disajikan dalam dua bahasa, Finlandia dan Swedia. Hal ini tidak mengherankan karena Finlandia pernah menjadi bagian dari negara Swedia selama 700 tahun sejak 1105 hingga 1809.

NEGARA SERIBU DANAU

Land of a Thousand Lakes, begitulah julukan untuk negara Finlandia karena memang ada lebih dari 180 ribu danau di negara ini, dari yang berukuran kecil hingga danau besar Saimaa di timur Finlandia. Danau-danau ini mengambil sekitar 10 persen dari area negara Finlandia dan hampir dua pertiga dari negara ini masih dipenuhi oleh hutan. Biru dan hijau adalah dua warna yang mendominasi lanskap Finlandia. Birunya air di danau dan hijau pepohonan di hutan.

forest-lake-sky

Danau dan hutan merupakan sumber kehidupan dan rekreasi warga sekitarnya. Di musim panas banyak orang memancing ikan di danau dan memetik arbei di hutan. Di musim dingin danau-danau yang beku dijadikan arena ice skating oleh warga. Kegiatan ice fishing juga lumayan populer di Finlandia terutama mendekati musim semi ketika danau-danau masih membeka namun langit kembali terang setelah menggelap di musim dingin.

seasons_march_730_ice_fishing_zanderland_finland

Ice Fishing

Di sekitar danau biasanya ditemui kabin-kabin musim panas atau yang lazim disebut mökki dalam bahasa Finlandia.

NEGARA ASAL JOULUPUKKI (SANTA KLAUS)

Menurut kepercayaan masyarakat Finlandia, Santa Klaus, atau di sini disebut sebagai Joulupukki, berasal dari Korvatunturi, Lapland. Tidak ada tahu dimana tepatnya letak rumah Santa di Korvatunturi karena memang lokasinya dirahasiakan. Tapi Santa Klaus yang baik hati akhirnya memutuskan untuk mendirikan tempat kerjanya di Rovaniemi, ibu kota Lapland dan siapa saja boleh datang dan berkujung ke tempat tersebut setiap hari sepanjang tahun. Tempat inilah yang dikenal sebagai Santa Claus Village.

wild_free_santa_claus

Di sini kita bisa berjumpa dengan Santa dan para kurcaci ciliknya.

Salah satu tempat yang selalu dibanjiri turis di Santa Claus Village adalah kantor posnya. Setiap surat yang dikirimkan dari Santa Claus Village Post Office akan mendapat cap Arctic Circle yang tidak dapat ditemui di tempat lain. Gak heran di sana banyak pengunjung yang ingin mengirimkan kartu pos untuk kerabat ataupun untuk diri sendiri. Selain itu, setiap tahunnya Santa Claus Village Post Office menerima lebih dari setengah juta surat dari berbagai negara. Membaca surat dari anak-anak juga merupakan salah satu pekerjaan penting Santa Klaus dan surat-surat tersebut akan dibalas olehnya selama ada alamat balasan yang jelas.

87fe1351704f6626ffff19eae7dac0a3

santa-elves-santa-claus-main-post-office-rovaniemi-1c2a9visitrovaniemi-fi

Atraksi lain yang juga banyak digemari pengunjung di Santa Claus Village adalah meluncur di kereta salju sambil ditarik oleh rusa kutub, seperti Santa Klaus! Walaupun untuk turis rusa kutubnya cuma bisa jalan di darat, tidak bisa terbang. Rusa kutub terbang khusus dipakai oleh Santa Klaus saja.

DIAM ITU EMAS

Di Eropa ada peribahasa “As talkative as a Finn” yang sesungguhnya adalah sebuah sindiran untuk orang yang terlalu pendiam. Finlandia memang tidak terkenal sebagai bangsa yang ramah dan suka berbicara. Malah sebaliknya, orang-orangnya cenderung pendiam, private dan reserved. Duduk bersama tanpa ada pembicaraan dianggap normal di sini, tidak ada keharusan untuk mengisi kekosongan. Situasi yang sering membuat orang asing grogi, termasuk saya.

Ada yang bilang, mimpi buruknya orang finlandia itu jika diajak berbasa-basi dengan orang asing. Bukan karena mereka sombong, tapi lebih karena pada umumnya mereka pemalu.

Sebuah video dari show Jimmy Kimmel, yang sempat viral di sini, menggambarkan dengan jelas bagaimana “pintarnya” orang finlandia berbasa-basi. Adapula sebuah interview dengan Mikä Hakkinen, juara Formula 1 dari Finlandia, yang juga menunjukkan hal tersebut.

Selain tidak banyak bicara, warga Finlandia juga sangat menghargai personal space. Mungkin karena itu saya merasakan segala-galanya dibuat dengan ukuran yang lebih besar di sini. Lorong di supermarket, jarak kursi di bis, kamar ganti di toko pakaian, dsb. Pokonya semua terasa lebih lega dan minim berdesakan dengan orang lain.

Karena alasan personal space ini juga makanya kursi-kursi di bus umum sering dibiarkan kosong sementara banyak penumpang memilih berdiri. Tau kan bahwa kursi di bus umum biasanya dibuat dua bergandengan? Jika satu kursi sudah terisi maka orang akan malas untuk mengisi kursi disebalahnya. Apa alasannya? Karena banyak orang yang risih duduk berdempetan dengan orang asing, apalagi di bis umum kursinya memang cenderung lebih kecil dibandingkan dengan kursi kereta.

Untuk bus yang rutenya jauh atau melewati tempat-tempat ramai di Helsinki, kebiasaan ini mulai ditinggalkan. Mungkin karena di Helsinki juga ada banyak orang asing sehingga budaya ‘duduk sendiri’ ini mulai tergeser. Tapi, untuk bus jarak dekat, bus pinggir kota dan bus yang beroperasi mengelilingi daerah perumahan, masih sering terlihat kursi-kursinya hanya setengah terisi.

bussi-taynna

Apa yang terjadi jika kita tetap nekad duduk di sebelah orang asing? Seringnya sih tidak terjadi apa-apa. Tapi kadang saya alami juga orang-orang yang mukanya panik ketika saya terlihat berjalan mendekati kursi kosong di sebelahnya, ada yang langsung meletakkan tas di kursi sebelah biar tidak diduduki orang lain dan ada juga yang mendesah kesal ketika saya memutuskan untuk duduk di sampingnya.

Nah, selain kursi bus yang terlalu ‘cepat penuh’ di negara ini, perkara menunggu di halte bus juga lumayan unik. Masih dengan alasan menghormati personal space, orang-orang Finlandia jarang bergerombol di halte bus. Jikalau di halte disediakan bangku panjang, biasanya cuma ada satu orang saja yang duduk di situ, sisanya berdiri berjauh-jauhan.

people-in-finland-are-very-serious-about-their-personal-space-5

Kalau saya bilang, sih, ‘haltenya di mana, nunggunya di mana’ saking berdirinya saling berjauh-jauhan, ada aja orang-orang yang yang menunggu busnya bermeter-meter dari halte.

TELUR BEBAS SALMONELLA

Bersama dengan negara-negara Nordik lainnya, Finlandia menerapkan kontrol keamanan bahan pangan tingkat tinggi. Lebih tinggi dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Makanya harga makanan di sini juga lebih mahal. Jangan heran jika melihat harga bahan pangan import di sini lebih murah dibandingkan dengan yang lokal. Sayur dan buah-buahan dari Spanyol terkenal mengandung banyak pestisida, daging sapi dari Jerman lebih tinggi kadar dioksin-nya dan arbei-arbei import dari luar negara Nordik tidak disarankan untuk dimakan mentah karena dikhawatirkan tercemar polusi.

Berkat prosedur food safety yang sangat teliti dan menyeluruh inilah Finlandia berani membuat pernyataan bahwa telur-telur ayam di negara ini bebas salmonella. Setiap telur yang dijual di pasaran bisa ditelusuri jejaknya hingga ke peternakan asalnya. Setiap peternakan harus mengikuti lisensi khusus dan melakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan produknya terhindar dari infeksi salmonella. Setiap orang yang pekerjaannya berurusan dengan bahan pangan, entah itu di peternakan, di pabrik makanan, di restoran sebagai koki, kasir atau pelayan, harus menyertakan dokumen bebas salmonella dari puskesmas setempat. Dan jika karyawan bepergian ke luar negara nordik, mereka wajib untuk melaporkan dirinya ke puskesmas untuk pemeriksaan salmonella sebelum nantinya kembali bekerja.

kananmuna

Berhubung sekarang ini saya lagi ikut sekolah masak di Helsinki, dari sekolah saya jadi tahu kalau Finlandia membuat pernyataan bahwa semua telur ayam di negara ini bebas salmonella dan karenanya aman dimakan mentah. Wow, cucok banget buat yang suka STMJ, ya?

SAUNA

Ada yang tau kalau orang Finlandia suka banget ke sauna? Sukaaa sekali, sampai hampir setiap bangunan di sini pasti ada saunanya. Diperkirakan ada lebih dari 2 juta sauna di Finlandia untuk populasi negaranya yang ‘hanya’ 5 juta saja. Artinya, kurang lebih ada satu sauna untuk setiap rumah.

Di negara ini memang sangat umum untuk memiliki sauna pribadi di rumah sendiri, termasuk juga di apartemen. Jikalau di apartemen tidak terdapat sauna, di gedung apartemennya (biasanya di basement) pasti ada sauna bersama yang dipakai bergiliran oleh penghuni. Pokoknya, punya sauna itu wajib hukumnya di sini. Bahkan di kantor-kantor dan di gedung parlemen juga juga dilengkapi dengan sauna.

sauna-8

Menurut buku sekolah bahasa finlandia saya, sauna adalah ruangan pertama yang dibangun ketika mendirikan rumah agar penghuni rumahnya bisa tinggal di sauna sambil menunggu ruangan lainnya diselesaikan. Kenapa di sauna? Ya, karena di sauna ‘kan hangat sementara negara Finlandia hampir selalu dicekam udara dingin.

Di perkotaan praktek di atas memang sudah ditinggalkan karena umumnya orang-orang tinggal di apartemen dan pembangunan rumah pun ditangani oleh kontraktor. Tapi di desa-desa kecil, dimana masih banyak orang yang membangun rumahnya sendiri, kegiatan tinggal di sauna ini masih bisa ditemui.

steam-of-life-2010-five-men-in-sauna

Segitu pentingnya kegiatan bersauna di sini sampai-sampai meeting kantor pun kadang sambil bersauna. Bila di tempat lain bos-bos besar rapat membuat kesepakaran sambil main golf, di Finlandia meetingnya sambil keringetan di sauna. Semoga gak pake bau ketek yaaa.

Menurut orang Finlandia, bersauna itu membuat relax, pikiran jadi tenang, otot-otot tubuh melemas, omongan jadi lancar, makanya pria-pria Finlandia yang terkenal dingin dan pendiam bisa jadi lebih banyak ngomong kalau sedang bersauna.

Memang peraturan di sini cukup ketat untuk masalah pembagian sauna pria dan wanita. Kecuali di rumah sendiri, kegiatan bersauna tidak boleh campur jenis kelamin. Apalagi di sini juga diwajibkan untuk menanggalkan seluruh pakaian ketika masuk sauna. Satu-satunya yang boleh dibawa cuma selembar handuk, itu pun dipakai sebagai alas duduk, bukan untuk menutupi daerah pribadi.

Kebersihan sauna harus dijaga dan benda-benda seperti pakaian dalam atau pakaian renang diduga bisa membawa kotoran dan kuman ke dalam sauna, makanya di sini wajib berpolos ria jika mau ke sauna.

Ibu guru di sekolah bahasa saya juga pernah bercerita bahwa jaman dahulu kala banyak wanita yang melahirkan bayinya di sauna karena sauna dianggap tempat yang paling higienis. Pemandian jenazah juga dilakukan di sauna dengan alasan yang sama. Buat yang flu, pilek, dan sakit tenggorokan, sauna juga jawabannya. Sauna is the cheapest medicine, begitu kata orang Finlandia.

MÖKKI

Jika orang Jakarta senang ke puncak untuk menginap di pila (alias villa), orang Finlandia sukanya pergi ke mökki, atau kabin musim panas, yang biasanya dibangun di daerah terpencil jika perlu di tengah hutan. Diperkirakan ada lebih dari satu juta mökki yang terselip di hutan-hutan Finlandia, gak heran kalau negara ini kadang juga disebut sebagai Negara Seribu Kabin, Land of Thousand Cottages.

Apa saja yang bisa dilakukan di mökki? Apalagi kalau bukan…bersauna! Berbeda dengan sauna di perkotaan yang umumnya bertenaga listrik, di mökki inilah yang namanya sauna sebana-bananya sauna. Sauna dengan bahan bakar kayu yang dipercaya membuat panas di sauna terasa jauh lebih nyaman daripada panas yang dihasilkan oleh listrik.

Selain bersauna, kegiatan lainnya selama di mökki adalah berenang di danau, memancing, bersampan, jalan-jalan di hutan memetik arbei atau jejamuran. Musim panas adalah saatnya untuk panen bluberry, raspberry, longanberry, dan berbagai macam arbei lainnya. Mendekati musim gugur jamur-jamur yang bermunculan di hutan. Ada kantareli, suppilo, herkkutati dan masih banyak lainnya yang sedap dimakan tapi hati-hati, jangan sampai memetik jamur beracun! Sebelum memetik jamur ada baiknya belajar dulu tentang jenis-jenis jamur yang umum ditemui di hutan Finlandia.

Namun hal yang paling esensial ketika tinggal di mökki adalah mencari ketenangan – menjauhi bisingnya perkotaan, meninggalkan rutinitas pekerjaan, menjalani hidup yang lebih sederhana dan menikmati the art of doing nothing.

rinteelta

Saya sempat tidak mengerti mengapa warga Finlandia merasa butuh menenangkan diri ke mökki di tengah hutan padahal kota besarnya pun bisa dibilang jauh dari ramai dan berisik, apalagi jika dibandingkan dengan Jakarta, sampai akhirnya, tahun lalu saya dan keluarga merasakan juga hidup di mökki sewaan selama seminggu.

mo%cc%88kki

Seminggu di mökki tepi danau di Kerimäki.

Karena lokasinya yang terpencil, sinyal telepon genggam jadi melemah selama di mökki dan sinyal internet malah lenyap. Hiburan kami waktu itu cuma TV dengan beberapa channel dan setumpuk buku yang saya pinjam dari perpustakaan. Biarpun sering ‘sakaw’ internetan tapi saya tidak merasa kalau waktu seminggu di mökki itu membosankan. Ada banyak sekali yang bisa dan harus dilakukan di sana.

Selain kegiatan seperti bersampan, jalan-jalan di hutan dan memetik arbei, tugas-tugas rumahan kami juga banyak. Misalnya saja, tidak ada air keran di mökki, yang ada malah sumur, jadi kalau butuh air kami harus menimba dulu. Mau cuci piring, nimba, mau mengepel lantai, nimba lagi. Lumayan bikin lengan berotot. Pagi-pagi bangun tidur, suami biasanya memasak bubur oatmeal sementara saya memetik bluberry untuk dimakan bersama bubur tadi. Siang-siang kami memetik jamur dan sorenya saya olah jamur menjadi omelette.

Untuk yang memiliki mökki sendiri (bukan sewaan) daftar kegiatannya akan bertambah karena di mökki ada saja yang harus dikerjakan. Membenarkan sampan, membersihkan halaman, membersihkan sauna, mengisi stok kayu bakar, dll. Mökki bukan tempat untuk bermalas-malasan.

cottage_22

Namun di mökki kami juga punya banyak waktu tenang untuk membaca di ruang tamu sambil menyalakan perapian, melamun di dermaga melihat matahari terbenam, memancing di tengah danau dengan menggunakan sampan atau menikmati sauna sekeluarga. Awalnya terasa aneh terisolasi seperti itu tanpa sedikit-sedikit mengecek WhatsApp, tapi lama-lama saya jadi terbiasa juga. Saya juga jadi lebih menikmati pekerjaan rumah seperti mencuci piring atau menimba air selama di sana karena… yah… apalagi yang mau dikerjakan di mökki? Dan saya juga jadi punya waktu lebih banyak untuk anak-anak karena perhatian saya tidak lagi terpecah-pecah untuk berbagai hal. Makanya orang Finlandia selalu bilang bahwa retret ke mökki adalah saatnya untuk bertenang, mendekatkan diri dengan alam dan meningkatkan hubungan dengan keluarga.

mancing-di-mo%cc%88kkiOh saya juga belum bilang ya kalau di mökki tidak ada kamar mandi dan WC-nya di luar rumah dengan sistem ‘plung’ alias tidak bisa diflush dengan air? Ingat ‘kan di mökki tidak ada running water?

Selama di mökki kami mandi di danau, dan karena airnya dingin, jika sudah menggigil kedinginan kami akan langsung masuk sauna sampai kulit kami memerah karena panas. Jika sudah tidak tahan dengan panas di sauna, kami lari ke luar dan melompat ke danau. Begitu terus berkali-kali. Jangan ditanya betapa bahagianya anak-anak saya saat itu, tawa mereka selalu pecah tiap kali kami melompat ke danau atau berlomba lari menuju sauna. Sekarang saya jadi kangen sekali akan kebersamaan kami sekeluarga selama di mökki. Dekat dengan alam, dekat dengan keluarga.

sumur-di-mo%cc%88kki

Biarpun pada intinya mökki adalah kabin musim panas tapi ada juga orang-orang yang suka berkunjung ke mökki di musim dingin. Kegiatan selama musim dingin masih berputar di sekitar sauna yang ditambah dengan kegiatan berguling-guling di salju ketika sauna sudah terasa terlalu panas. Ada juga orang-orang yang suka berendam di avanto, semacam lubang besar yang dibuat di sungai atau danau yang membeku. Kebiasaanya berendam di avanto dan kemudian masuk sauna ini dipercaya bisa meningkatkan daya tahan tubuh.

avanto

Kebiasaanya berendam di avanto dan kemudian masuk sauna ini dipercaya bisa meningkatkan daya tahan tubuh.

Di Finlandia ada juga berbagai olah raga “gila”, baca di Serba-serbi Finlandia (2) yaa..!


Insiden Charlie Hebdo dan #prayforParis

csOntel – I am a housewife and mother who love outdoor activities. I am actually a serious one but people said that I smile and laugh a lot. I love  british accent, watching football and I am a biggest fan of Manchester United FC.

Bagi sebagian warga di dunia, tahun baru merupakan sebuah perayaan di mana seluruh warga akan bersuka cita menyambutnya. Namun, kali ini tidak bagi warga Prancis. Mengawali tahun 2015, tepatnya tanggal 7 Januari 2015 pukul 11.30 waktu setempat, warga Prancis dikejutkan melalui serangan bom yang ditujukan kepada kantor majalah Charlie Hebdo. Kejadian pemboman disulut dari konten majalah satir ini yang kerap membuat gerah para politisi. Selain para politikus yang menjadi ‘bahan’ satiran, majalah ini juga kerap menampilkan gambar ‘nyeleneh’ dari berbagai agama. Serangan terhadap Charlie Hebdo ini dianggap sebagai simbol dari belenggu kebebasan berekspresi oleh warga Prancis.

Untuk mendukung Charlie Hebdo, seorang Art Director asli Prancis yang bernama Joachim Roncin, membuat slogan “Je suis Charlie” yang kemudian digunakan dalam berbagai manifestasi untuk mendukung Charlie Hebdo dan kebebasan berekspresi.

je_suis_charlie_paris_11_january_2015_3

Kejadian kelam di tahun 2015 bagi Warga Prancis bukan hanya itu, pada Pertengahan bulan November 2015, serangan bom kembali pecah di daerah sekitar tempat konser Le Bataclan, Paris (10-11 Arrodisement). Tahun 2015 bagi Prancis mungkin menjadi tahun yang cukup kelam akibat adanya serangan teroris.

4553831_7_19a9_ill-4553831-03a0-456712_d8a9e4ac8d4b3807c8b36dc5bf1cacdf1

Je (ne) suis (pas) Charlie

Setelah serangan terhadap Charlie Hebdo, siaran televisi Prancis lalu banyak menghadirkan Imam besar agama Islam yang ada di negara ini. Mereka bertugas untuk menjawab pertanyaan mengenai aksi teroris yang kemudian dikaitkan dengan Islam. Akan tetapi, jalan yang ditempuh ini belum sepenuhnya tercapai. Islam masih dipandang negatif bagi beberapa kalangan. Padahal, Islam sebagai agama memiliki pandangan tersendiri tentang bagaimana menyikapi kebebasan berekspresi.

Masih di acara berita televisi. Sang Imam bercerita bahwa salah satu murid di sebuah sekolah mendapat hukuman dari gurunya. Ia dikeluarkan dari kelas karena berkata kepada sang guru “Je ne suis pas Charlie” (baca: aku tidak mendukung Charlie). Cerita sang Imam kemudian memancing sebuah pertanyaan. Apakah sikap guru tadi sudah sesuai dengan tujuan dari slogan “Je suis Charlie” dalam hal kebebeasan berekspresi?. Menurut saya pribadi, sepertinya momentum terjadinya aksi teroris terhadap Charlie Hebdo, hanya dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan popularitas pemerintah yang sebelum kejadian ini tingkat popularitasnya cukup menurun.

dans-le-flot-des-manifestants-un-message-divergeant-balaye_1260335_1200x800

Je Ne Suis Pas Charlie

#PrayforParis

Kejadian pemboman di Paris cukup mengejutkan banyak warga Perancis. Mereka dibuat shock dan takut untuk keluar rumah. Saya membaca komentar – komentar para pembaca di Lefigaro.fr dan Yahoo.fr. Kebanyakan dari mereka mengaitkan kejadian pemboman ini sebagai akibat dibukanya perbatasan Eropa untuk membebaskan warga suriah masuk ke negara-negara Uni Eropa.

Pro dan kontra dari warga Prancis bermunculan akibat adanya kebijakan tersebut. Lagi – lagi agama sebagai salah sau alasannya. Mayoritas warga Suriah menganut agama Islam. Agama tersebut tidak cocok dengan nilai – nilai agama Katholik yang merupakan agama dasar di Prancis. Jika semakin banyak umat muslim yang berada di Prancis, nilai – nilai agama Katholik akan memudar lalu menghilang. Kekhawatiran – kehawatiran itulah yang mendasari sehingga warga Prancis kurang mendukung masuknya para pengungsi Suriah.

Pernah suatu hari ketika saya sedang di sudut pusat perbelanjaan, secara tidak sengaja saya mendengar sebuah percakapan beberapa warga Prancis yang isinya seperti ini. “Kejadian ini adalah kesalahan pemerintah sendiri”. Pemerintah dinilai kurang berusaha secara maksimal dalam menghentikan teroris di tanah Prancis pasca aksi teror terhadap kantor majalah Charlie Hebdo.

4553814_7_7c35_ill-4553814-26ad-456617_1ba361337a35fa19c49a7837dd503522

Edisi Khusus Charlie Hebdo: “Di mana Sekulerisme?”

Akibat dari aksi teroris ini berdampak pada ditutupnya perbatasan Prancis dengan negara-negara lain sebagai bentuk antisipasi masuknya teroris secara bebas. Pengamanan Prancis diperketat. Jika ingin bertandang ke Prancis, para pengunjung harus melalui perbatasan dengan proses pemeriksaan yang sangat keteat dan memakan waktu berjam-jam lamanya. Peraturan juga diberlakukan di pusat perbelanjaan. Sebelum masuk, para pegunjung harus memeriksakan tasnya kepada petugas. Dampak yang paling terasa adalah dari segi turistik. Jumlah wisatawan di pusat-pusat turistik di paris mengalami penyusutan hingga 30%.

Tentunya kami semua berharap agar tidak ada lagi kejadian-kejadian terorisme seperti ini baik di Prancis maupun di negara-negara lain.


Written by Ontel. Images in this page linked to its URL’s sources.

Edited by Ummul Masir, Mamarantau’s Content Editor.

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 4 – Final)

7526fe7990e6591c3fa4d9bdf506e934Permai Sari Molyana Yusuf (Melly – An Indonesian, currently living in Mannheim, Germany. A Housewife with two kids, Afiqah and Aqila. Interest in Biophysics and love to cook, bake and do Food Photography. A Culinary Contributor of Indonesian Fashion Magazine.

Frankfurter Buchmesse atau lebih dikenal Frankfurt Book Fair (FBF) disinyalir sebagai the world’s largest trade fair for books ,hal ini dilihat dari jumalah pengunjung dan perusahaan pelaku bisnis terkait penerbitan buku dan lisensi serta penulis, ilustrator, seniman, perangkat lunak dan multimedia. Sehingga tidak salah jika banyak yang menganggap FBF ini merupakan pameran buku yang paling penting di dunia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Frankfurt Haupbahnhof , Stasiun Kereta Frankfurt

Setiap tahunnya, acara ini diselenggarakan  di Frankfurt Messe, Frankfurt am Main, Jerman , di pertengahan bulan Oktober, selama 5 hari. Tiga hari pertama merupakan jadwal untuk pengunjung  eksklusif (pelaku bisnis di bidang buku untuk penerbitan, menulis, lisensi, dsb) dan 2 hari terakhir sisanya, terbuka untuk khalayak umum.

Sejak  tahun 1976, pameran ini memberikan ruang bagi negara negara lain untuk menjadi tamu kehormatan dan menjadikannya sebagai Tema  Frankfurt Book Fair di tahun tersebut. Sebagai contoh, untuk tahun ini, 2015, Indonesia menjadi tamu kehormatan dengan mengusung tema „17.000 Inseln der Imagination (17.000 Islands of Imagination)”.

Adanya kesempatan sebagai tamu kehormatan tentunya memberikan dampak yang positif bagi negara berkembang Indonesia, untuk memperkenalkan diri, potensi dan karya anak bangsa. Bisa dibayangkan, hadirnya Indonesia disini menjadilkan hasil kreatifitas anak bangsa makin diakui banyak pihak dari berbagai negara dan tentunya ini menjadi pemicu makin meningkatnya kepercayaan generasi muda dalam berkarya seni, menulis, dsb.

Informasi mengenai penyelenggaraan Frankfurter Buchmesse setiap tahunnya bisa dilihat di website Buchmesse.

***

Sejak tahun lalu sebenarnya aku sudah ingin datang ke acara FBF ini, hanya saja saat itu menjelang ujian DTZ dan ujian politik negara, jadilah mengesampingkan dulu kepentingan yang lainnya. Alhamdulillah tahun ini bisa mengunjungi Frankfurt Book Fair di saat Indonesia menjadi tamu kehormatan. Hal yang bersamaan pula momen ini menjadikan temu kopi darat beberapa teman teman Mbakyurop yang juga mengunjungi FBF ini 😉

Beberapa dari kami sudah mengunjungi FBF di hari Sabtu, jadi kami janjian sarapan bersama di tempat yang sudah disepakati sehari sebelumnya, di salah satu kafe di dekat Hauptbahnhof. Alhamdulillah seneng bangeeet. Kebayang kan biasanya info-info hanya di grup dan tidak pernah bertemu, setelah bertemu rasanya seperti sudah kenal lama ^^

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari kiri ke kanan : Mindy dan Medea, Beth, Era dan Aima, Aku dan Flipper, Mia

***

FBF tahun ini dibuka untuk umum pada tanggal 17 dan 18 Oktober 2015, 2 hari terakhir menjelang penutupan. Dan aku datang di hari Minggunya. Jujur saja, 1 hari tidak akan cukup menjelajahi seluruh pameran ini, ada 5 gedung besar dengan minimal 3 lantai yang cukup luas untuk dilihat apalagi jika waktunya terpotong untuk mengikuti sesi-sesi diskusi yang diadakan.

Biaya tiket masuk yang ditawarkan pun beragam (umum, kontributor atau bisnis). Untuk umum, tiketnya sekitar 18 eur dan ada penawaran harga khusus untuk student atau sejenisnya dan juga pemegang kartu Arbeitlos (tidak bekerja), dsb. Sedangkan untuk Flüchtlinge atau pengungsi (pengungsi yang berasal dari negara negara perang, dsb) diberikan hak untuk masuk gratis.

5 - Tiket untuk kalangan privat

Tiket untuk kalangan private

***

Pengalamanku dengan tiket, sesaat sebelum masuk Messe frankfurt, aku ditawari untuk membeli koran lokal seharga 0,80 eur atau 80 cent, yang didalamnya ada voucher untuk membeli 1 tiket gratis 1 dan hanya berlaku untuk pembelian jenis tiket sehari. Kebetulan aku saat itu berdua dengan temenku Mia, jadi adanya voucher ini membuat kami berdua tampak lebih sumringah melewati dingin pagi itu di Frankfurt, hihihihihihihi 😀

Setelah melewati loket tiket, panitia juga menyediakan sarana penitipan barang dan jaket dan dikenakan biaya sekitar 2 euro untuk satu jenis barang penitipan. Jadi mempermudah pengunjung untuk mengunjungi stand-stand tanpa ribet dengan bawaan pribadi.

***

Di sini, benar benar seperti surganya buku, semua jenis buku dari berbagai negara ada. Karena memang event Internasiona ya. Dari mulai buku anak, remaja, dewasa, orang tua, roman, pokoknya semuanyaaa… dari mulai bahasa lokal (jerman), bahasa Inggris dan bahasa dari masing masing negara peserta Book Fair. Bisa dibayangkan satu lantai hall saja besarnya ga nahan untuk dilihat satu-satu, ini ada 5 hall yang semuanya besar.

Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca
Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca

Hal yang menarik, di setiap stand buku, pengunjung diberi fasilitas kursi dan meja atau kursi saja yang nyaman untuk membaca dan semua buku dipajang dalam keadaan tidak di bungkus, jadi semua pengunjung dipersilahkan dengan senang hati untuk duduk santai dan membaca. Pemandangan yang seperti ini memang sangat lumrah ditemui di berbagai toko buku di Jerman. Seharian di toko buku untuk membaca adalah hal yang sah sah saja, asyik ya? 😉

Lesezelt
Lesezelt

Seperti halnya kegiatan perpustakaan-perpustakaan di Jerman pada umumnya, di FBF juga menghadirkan kegiatan „menceritakan“ untuk bacaan anak-anak, bahkan ada disediakan tempat khusus, Lesezelt (atau disebut sebagai Tenda Membaca). Di pameran buku pun ada beberapa spot tertentu dimana anak anak bisa duduk santai sambil mendengarkan cerita. Percayalah, si pencerita akan menarik pendengar untuk duduk anteng mendengarkan isi ceritanya dengan seksama. Kenapa?? Karena di setiap adegannya dia bisa mengeluarkan berbagai jenis suara berbeda diikuti dengan mimik yang kadang penuh kejutan ! 🙂

Sehingga tidak heran, kalau pendengar pun ikut merasakan alur cerita yang lucu, sedih, gembira dan petualangan seru. Saat mengunjungi spot ini agak sedikit menyesal memang, tidak membawa anak-anak untuk ikut serta. Tapiii ya karena memang hari Minggu, kakak Afiqah punya jadwal sekolah Minggu yang sepertinya tidak boleh terlalu sering membolos.

Kinderbuch Centrum, Children's Book Centre
Kinderbuch Centrum, Children’s Book Centre

 

Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru
Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru

 

Apps Radio.de
Apps Radio.de

 

Pilihan di Apps Radio.de
Pilihan di Apps Radio.de

 

Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak
Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak

Oh iya, kegiatan seperti ini juga bisa didengar melalui apps radio dari hp, nama apps nya radio.de bisa di download di apps store , langsung saja cari „Hallo Eltern Podcast – Märchen“ (menceritakan cerita dongeng Jerman untuk anak anak).


Stand Buku Indonesia
Stand Buku Indonesia

 

Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015
Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015

 

Gramedia Printing di FBF 2015
Gramedia Printing di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan
Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku di Indonesia Pavilion
Buku-buku di Indonesia Pavilion

 

Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.
Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

 

Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion
Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

* * *

Sebagai tamu kehormatan, tentunya Indonesia banyak memberikan peran dalam event-event diskusi yang diadakan. Sebagian besar panelis merupakan utusan dari Indonesia, yang memang berprofesi sebagai penulis, tokoh kuliner, dsb.

Beberapa diantaranya, yaitu :

Penulis buku sastra dan fiksi
A. S. Laksana
Abidah El Khalieqy
Afrizal Malna
Agus R. Sarjono
Ahmad Fuadi
Ahmad Tohari
Andrea Hirata
Avianti Armand
Ayu Utami
Azhari
Budi Darma
Cok Sawitri
Dewi Lestari
Dorothea Rosa Herliany
Eka Kurniawan
Goenawan Mohamad
Gunawan Maryanto
Gus tf Sakai
Ika Natassa
Intan Paramaditha
John Waromi
Joko Pinurbo
Laksmi Pamuntjak
Leila S. Chudori
Lily Yulianti Farid
Linda Christanty
M. Iksaka Banu
Maggie Tiojakin
N. Riantiarno
Nh. Dini
Nirwan Dewanto
Nukila Amal
Okky Madasari
Oka Rusmini
Putu Oka Sukanta
Ratih Kumala
Sapardi Djoko Damono
Seno Gumira Ajidarma
Sindhunata
Taufiq Ismail
Darwis (Tere Liye)
Toeti Heraty
Triyanto Triwikromo
Yusi Avianto Pareanom
Zen Hae

Penulis komik
Aji Prasetyo
Apriyadi Kusbiantoro
Arief Yaniadi
Beng Rahadian
Benny Rachmadi
Hikmat Darmawan
Is Yuniarto
Iwan Gunawan
Kharisma Jati
Muhammad Misrad (Mice)
Sheila Rooswitha Putri
Tita Larasati
Wendy Jaka Sundana

Penulis buku anak
Arleen Amidjaja
Christiawan Lie
Djokolelono
Murti Bunanta
Nadia Shafiana Rahma
Renny Yaniar
Tety Elida

Penulis buku non-fiksi
Agustinus Wibowo
Dian Pelangi
Imelda Akmal
Julia Suryakusuma
Noor Huda Ismail
Trinity
Suwati Kartiwa
Wahyu Aditya
Yoris Sebastian

Penulis digital
Daryl Wilson
Taufik Assegaf

Juru Masak
Aries Adhi Baskoro
Astrid Enricka Dhita
Bara Pattiradjawane
Budi Lee
Ignatius Emmanuel Julio
Ivan Leonard Mangudap​
Mukhamad Solihin
Petty Elliot
Putri Mumpuni
Ragil Imam Wibowo
Sandra Djohan
Sisca Soewitomo
Sudarius Tjahja
Vindex Tengker

Tokoh Kuliner
Helianti Hilman
Lisa Virgiano
Mary Jane Edleson
Mei Batubara
Santhi Serad
Sri Owen
William Wongso

Aktivis Literasi
Anton Solihin
Asma Nadia
Evelyn Ghozalli
Heri Hendrayana (Gola Gong)
Janet DeNeefe
Muhidin M. Dahlan

Narasumber seminar
Frans Magnis Suseno (Pluralisme and Islamophobia)
Haidar Bagir (Pluralism and Islamophobia)
Ulil Abshar Abdalla (Pluralisme and Islamophobia)
Philips Vermonte (Pluralisme and Islamophobia)
Setiadi Sopandi (Tropical Architecture in Indonesia)
Gede Kresna (Tropical Architecture in Indonesia)
Oman Fathurahman (Script in Indonesian Manuscript)
Sugi Lanus(Script in Indonesian Manuscript))
Dewi Candraningrum (Translating Faust and Goethe)
Mery Kolimon (Writing of Political Violence and Trauma)
Endo Suanda (Recording of Indonesian Music)
Eko Prawoto (Climate and Architecture)
Francis Kere (Climate and Architecture)
I Made Bandem (Indonesian Superhero, Cerita Panji)

Pembaca Karya
Butet Kartaredjasa
Elizabeth Inandiak
Endah Laras
Jennifer Lindsey
Landung Simatupang

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Dan masih ada lagi yang lain. Buku hasil karya penulis pun beberapa sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman dan sudah tersedia di toko buku online seperti Amazon.de , Thalia.de dan bookdepository.com.

Selain itu nama nama yang dituliskan di atas juga berperan sebagai panelis dan narasumber dalam berbagai event diskusi selama berlangsungnya FBF dan di beberapa Bibliothek/ perpustakaan di berbagai kota di Jerman,  seperti Dresden, Heidelberg, Berlin, dsb.

Semaraknya Indonesia mewarnai FBF tahun ini tidak mungkin terlepas dari cita rasa masakan khas tanah air. Sehingga ada beberapa spot di pameran ini yang menyediakan masakan khas Nusantara seperti Nasi Kapau, Gado-gado, Ayam rica-rica, dessert Klappertaart, dsb

Selain itu, di luar area pameran, juga digelar masakan Kaki Lima, yang menyediakan Nasi Goreng dan Sate khas Indonesia. Kaki Lima ini bisa dikunjungi langsung di Römer, salah satu sudut kota Frankfurt, Jerman. Tantangan banget kan ya, menjajakan makanan di luar ruangan di saat suhu sudah mulai turun di musim gugur.

Rasanya tidak cukup hanya satu hari untuk bisa mengunjungi seluruh area FBF. Hari Minggu, aku berkesempatan untuk mengikuti dua event setelah berkeliling melihat-lihat buku 😉 , yang pertama,  “The Art of Banana Leaves Food Wrapping” yang disampaikan oleh Ibu Sisca Soewitomo dalam Bahasa Indonesia dengan penterjemah Bahasa Jerman dan yang kedua,  “Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Dr. Jusuf Habibie dan Frans Magnis-Suseno dalam Bahasa Jerman.

Keduanya dilakukan sama sama di Indonesia Pavilion dan waktunya yang berdekatan, sehingga aku pun bisa mengikuti tanpa harus berpindah gedung lainnya.

***

Event yang pertama, Bu Sisca memperkenalkan penggunaan daun pisang yang kerap kali digunakan di berbagai macam masakan Indonesia. Baik itu sebagai pelengkap, alas/ wadah ataupun pembungkus. Sambil mendemokan membuat gado-gado, beliau menjelaskan aroma yang dikeluarkan dari daun pisang tersebut yang memberikan rasa dan aroma yang khas, apalagi jika daun pisang yang digunakan untuk membungkus makanan, selanjutnya dibakar sebentar di perapian, akan menambah cita rasa sedap dalam masakan. Dan ternyata, Ibu Sisca menggunakan daun pisang yang di dapatkan di Toko Asia di Jerman.

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta warganegara Jerman, menanyakan mengenai rasa masakan khas Indonesia, yang sebagian besar menggunakan cabai dan rasanya pedas. Hal ini tentunya berkaitan dengan selera masyarakat Jerman yang cenderung plain saja tanpa pedas.

„Banyaknya macam jenis masakan Indonesia, tentunya ada pula yang tidak harus menggunakan cabe atau jika pun menggunakan, kadar penggunaan cabe itu sendiri juga dapat disesuaikan dengan selera. Jadi tidak selalu harus pedas“ jelas bu Sisca.

Event selanjutnya, antusias peserta tidak kalah banyaknya dibanding dengan event sebelumnya. Bahkan podium peserta diskusi tidak cukup menampung dan banyak yang rela untuk melantai agar dapat mengikuti diskusi bersama Presiden Indonesia yang ketiga ini, Dr. BJ. Habibie.

“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie
“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie

Intinya, Bapak Habibie sangat yakin bahwa nantinya Indonesia akan menjadi negara yang mandiri dan bisa mensejahterakan rakyatnya. Kekayaan alam Indonesia yang sangat banyak dan semakin potensialnya sumber daya manusia tentunya menjadi kombinasi yang positif untuk kemajuan bangsa.

Ada beberapa event lainnya yang aku lihat namun tidak full, karena aku masih ingin melihat-lihat pameran buku, yakni

Morning Coffee with Literacy Activist bersama Muhidin Dahlan, Anton Solihin, Heri Hendrayana, Asma Nadia dan Evelyn Gozali.

dan terakhir sebelum penutupan, ada diskusi 2 penulis, satu dari Indonesia yang yang diwakili oleh Ayu Utami dan satunya dari Belanda yang diwakili oleh Adriaan van Dis. Podium penonton untuk diskusi ini sepertinya hanya untuk orang-orang tertentu karena akan sekalian dengan penutupan dan serah terima ke Belanda sebagai Guest Honour tahun depan.

Die nächste Buchmesse findet vom 19. bis 23. Oktober 2016 statt !!
Nantikan Frankfurt Book Fair berikutnya, yang akan diselenggarakan pada tanggal 19-23 Oktober 2016 !!

——–

Tulisan ini disadur dari tulisan di blog Melly . Foto  yang dilampirkan menggunakan watermark Mellyloveskitchen adalah dokumentasi pribadi dan yang mengambil dari website lain dicantumkan sumbernya pada nama foto tersebut.

IG: @mellyloveskitchen

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 3)

11195840_700362946752341_86095811_nLulusan Statistika dan Teknik Industri yang baru 10 bulan tinggal di Den Haag mengikuti suami, seorang warga negara Belanda. Saat ini sedang sekolah bahasa Belanda sembari mengikuti beberapa kegiatan volunteer disekitar Den Haag untuk memperlancar bahasa Belanda. Senang mengamati apapun dan menuangkan dalam tulisan diblog, senang bepergian, membaca, dan memasak.

Frankfurt Book Fair (FBF) adalah pameran buku terbesar dan tertua didunia, lebih dari 500 tahun usianya. Frankfurt Book Fair adalah tempat bertemunya pelaku industri buku, media, pemegang hak cipta yang datang dari seluruh penjuru dunia. Acara ini digelar setiap tahun pada pertengahan bulan oktober. Jadi pada saat tersebut akan ada banyak sekali penulis buku, penerbit, penjual buku, agen bahkan produser film yang bertemu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Partisipannya sebanyak 132 negara dengan jumlah pengunjung mencapai ratusan ribu orang. Hal lain yang tidak kalah menariknya adalah setiap tahun selalu ada tamu kehormatan. Pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan. FBF tahun ini dilaksanakan pada tanggal 14-18 Oktober 2015.

FBF dibuka untuk umum hanya pada 2 hari terakhir yaitu 17 dan 18 Oktober 2015. Area FBF sendiri dibagi menjadi 5 gedung utama. Untuk detailnya bisa dilihat pada foto dibawah ini :

Foto 1 (Denah FBF)

Sekitar 7 atau 8 tahun lalu saya selalu memimpikan untuk bisa pergi ke acara ini. Saya rajin memupuk mimpi tersebut. Setiap tahun saya selalu membaca liputannya. Saya selalu mempunyai harapan besar bahwa suatu saat mimpi tersebut akan terwujud. Alasannya sederhana, karena saya cinta buku. Saya suka aroma kertasnya, saya suka sensasi ketika membalik halamannya dan yang terpenting adalah saya cinta membaca buku. Bersyukur tahun 2015 ini salah satu harapan saya (diantara banyak sekali mimpi) bisa menjadi nyata bertepatan dengan Indonesia menjadi tamu kehormatan. Dan yang membuat saya semakin semangat adalah saya ingin bertemu beberapa penulis yang saya idolakan sejak buku pertama mereka terbit, bahkan satu penulis sudah saya idolakan sejak dia menjadi penyanyi. Jadi bisa dibayangkan betapa girangnya saya.

Saya dan suami berangkat dari Den Haag jam 3 dini hari berkendara selama 6 jam dengan berhenti 2 kali karena suami tidur sebentar dan setelahnya mencari tempat sarapan. Keluar dari parkiran mobil, sudah ada bis yang disediakan untuk antar jemput dari dan ke gedung FBF. Tepat jam 10 pagi pada 17 Oktober 2015 saya menginjakkan kaki pertama kali dalam area FBF. Suami selalu memegangi tangan saya ketika kami sedang berjalan, bukan karena supaya tampak mesra, tetapi saya selalu berjalan cepat kesana kemari karena terlalu antusias dan suasana saat itu memang sedang ramai sekali 😀

17.000 Islands of Imagination, Tema Paviliun Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015

Akhirnya pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair. Menjadi tamu kehormatan pada acara yang yang berusia lebih dari 500 tahun tersebut merupakan kesempatan berharga. Menurut Pak Anies Baswedan dalam pidatonya bahwa kesempatan berharga ini bukan hanya untuk memperkenalkan Indonesia tetapi juga mengajak Eropa melakukan percakapan lintas budaya yang lebih luas. Mengusung tema Islands of Imagination, Muhamad Thamrin sebagai Arsitek yang dipercaya untuk menggarap area paviliun tersebut menjadi area yang penuh desain cantik. Dalam paviliun tersebut terdapat tujuh pulau yang masing-masing memiliki unsur budaya di Indonesia. Pulau-pulau tersebut adalah : Island of Scenes, Island of Spices, Islands of Illumination, Island of Inquiry, Island of Tales, Island of Images, dan Island of Images.

Masing-masing pulau menyajikan Indonesia dalam cara yang berbeda. Island of Spices yang mengajak pengunjung untuk berpetualang dan mengenal keragaman Indonesia melalui rempah dan kekayaan kulinernya.

Island of Scenes menampilkan Indonesia dari sisi pentas dan pertunjukan budaya. Island of Illumination menampilkan naskah dan manuskrip kuno yang menjadikan awal sastra yang ada saat ini. Island of Inquiry menampilkan sains dan kebudayaan Indonesia dalam bentuk digital.

Islands of Tales memberikan nuansa berbeda yaitu memperlihatkan negeri dongeng Nusantara dengan suara dan proyeksi gambar bergerak.

Pada bagian Island of Words diperuntukkan bagi para peminat kartun, cerita bergambar, novel grafis dan animasi. Sedangkan bagian yang terakhir adalah Island of Words menampilkan beragam buku karya penulis Indonesia dengan visual dan konten yang menarik.

 Foto 4 (Stand Indonesia)

Sejak saat persiapan sampai hari terakhir acara, perkembangan dan beritanya bisa diikuti langsung melalui website resmi Islands of Imagination, akun Facebook Pulau Imaji dan akun twitter @pulauimaji. Kuliner Indonesia juga berjaya disini. Tidak hanya masakan saja yang disajikan, tetapi rempah Indonesia juga diperkenalkan pada pengunjung. Saya melihat ada beberapa pengunjung tidak hanya mencium rempah-rempah tersebut, tetapi juga mencicipinya. 25 chef sampai didatangkan langsung dari Indonesia seperti William Wongso sebagai ketua kulinernya, Bondan Winarno, Sisca Soewitomo, Barra Pattiradjawane, dan masih banyak yang lainnya. Menu yang disajikan dikantin Indonesia adalah gado-gado (6.5 euro), sayur kapau (9.5 euro), asinan Jakarta (5.9 euro), ayam rica-rica (9.5 euro), dan dessert klappertart (lupa harganya berapa). Sejak sebelum jam makan siang, antrian sudah mengular. Selain demo memasak, juga dibuka kelas memasak yang diikuti oleh pelajar dan anak muda. Kelas memasak ini salah satu contohnya adalah mengajarkan cara membuat kolak pisang dan pepes ikan. Dari situs CNN Indonesia, disebutkan bahwa peserta sangat antusias.

Foto 5 (Beberapa spicies yang didisplay) Foto 6
Awal datang, saya langsung menuju hall terdekat yaitu hall 4. Bersyukurnya langsung menemukan stand Gramedia yang sedang mengetengahkan talkshow tentang buku anak-anak. Setelah puas berkeliling di hall 4.0 dan 4.1 kami langsung menuju Paviliun yang ternyata sedang berlangsung sesi Leila S.Chudori dan Laksmi Pamuntjak tentang buku mereka masing-masing yaitu Amba dan Pulang. Saya datangnya telat, jadi mendapat tempat dibelakang para pembicara, karena penuh dengan penonton. Diantara penonton saya melihat Taufik Ismail dan Bapak BJ Habibie. Setelah sesi mereka selesai, kami langsung menuju kantin untuk makan siang. Kami memesan sayur kapau dan gado-gado.
Foto 7 (Source @pulauimaji)

Sekitar jam 1 kami bergegas menuju hall 4.3, berputar sebentar dan sebelum jam 2 saya sudah duduk manis menunggu sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa jam 2 siang di stand nasional. Sesi yang paling saya tunggu karena ada Dewi Lestari, penulis idola. Sejak Dewi Lestari menjadi penyanyi digrup RSD, saya sudah mengidolakan dia. Lagu ciptaannya yang berjudul Satu Bintang di Langit Kelam menjadi salah satu lagu favorit sampai saat ini. Dan ketika dia mengeluarkan buku pertamanya yang berjudul Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001) bisa ditebak setelahnya saya selalu membeli karya-karyanya, lengkap sampai Gelombang. Saya mengagumi setiap karakter yang dia ciptakan, cara dia membawa pembaca untuk hanyut dalam setiap cerita yang dia tulisakan. Pada buku Perahu Kertas, saya sampai tersedu sedan ketika membacanya. Jadi, salah satu mimpi saya sejak lama juga adalah bisa bertemu langsung dengan Dewi Lestari, berbincang sebentar, meminta tanda tangan dibukunya, dan foto bersama. Jadi ketika tahu Dewi Lestari akan ada sesi dihari sabtu bersama Ika Natassa yang bertema “Woman and The City” saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selama 30 menit saya mendengarkan dengan anteng talkshow dalam bahasa inggris tersebut. Sampai sesi tanya jawab, saya langsung mengacungkan tangan, padahal pada saat itu saya belum tahu apa yang akan ditanyakan (kebiasaan!!). Pikir saya, mumpung ada kesempatan. Dan saat itu saya satu-satunya orang yang mengacungkan tangan pada saat sesi awal tanya jawab.

Foto 8 (Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa Penuh)

Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa Penuh

Dewi Lestari, penulis beberapa buku bestseller, termasuk “Supernova” dan “Perahu Kertas” pada tahun 2014 merupakan perwakilan Indonesia yang secara simbolis menerima tampuk bergilir sebagai tamu kehormatan 2015, dari Finlandia sebagai Tamu kehormatan pada FBF 2014. Pada saat itu Dee, panggilan Dewi Lestari mengatakan bahwa sebagai tamu kehormatan, Indonesia akan mendapatkan sorotan yang lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, yang artinya ada pekerjaan dan tanggunjawab yang harus diselesaikan sebelum Oktober 2015. Tanggungjawab yang dimaksud berhubungan dengan penerjemahan. Dari setiap naskah Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa asing, jendela pengetahuan dunia tentang Indonesia terbuka semakin lebar.

”Saat ini, karena terbatasnya jumlah buku Indonesia yang diterjemahkan, boleh dibilang kondisi perbukuan kita gelap gulita di luar sana. Jika kita melihat begitu banyaknya judul buku menghiasi rak-rak benderang di Gramedia, gulita itu tidak terasa. Tapi, setiap saya diundang ke berbagai festival buku internasional, di sanalah saya mendapatkan kondisi perbukuan kita yang gelap dan terkucil. Setelah bicara berbusa-busa dengan penuh percaya diri di panggung bersama para penulis mancanegara, pertanyaan sederhana seorang penonton, “Where can I get your book?” menjadi pukulan telak yang cuma bisa saya tangkis dengan senyum semanis mungkin sambil berkata, “Unfortunately, it’s not yet available in English.” Skakmat” begitu yang dijelaskan Dee dalam websitenya deelestari.com. Karenanya, tugas Indonesia sebagai tamu kehormatan pada tahun 2015 bukanlah pekerjaan yang ringan. Mengajak mata dunia untuk memandang literasi Indonesia.

Foto 9 (Dewi Lestari Ika Natassa)
Dee dan Ika Natassa membicarakan topik yang relevan dengan kondisi saat ini yaitu tentang perempuan, kota dan problematikanya. Dua topik ini lekat dengan cerita-cerita yang ditulis oleh kedua penulis tersebut. Ika Natassa merupakan penulis best seller yang salah satu karyanya adalah “Twivortiare” dan karya terbarunya adalah “Critical Eleven”. Dee dan Ika Natassa dianggap mampu mewakili pemikiran wanita & problematika yang banyak ditemui generasi saat ini. Dee yang menggabungkan science dan fiction ke dalam nuansa karyanya mengaku selalu memberikan bumbu – bumbu problematika saat ini ke dalam tulisannya, berbagi cerita tentang proses pembuatan karakter setiap tokoh dalam novelnya, serta membacakan bagian scene dalam bukunya, “Supernova”. “Proses menulis yang saya alami adalah pembelajaran seumur hidup. Writing is like building your muscles.”, ujarnya.

Sementara Ika Natassa bercerita tentang proses produksi dan pembentukan karakter novel yang tidak hanya bermodalkan fiksi, tetap juga merupakan hasil riset dari karakter – karakter masa kini yang ‘nyata’ ada di kehidupan sehari – hari. Karenanya karya Ika Natassa tidak pernah jauh dari cerita dan jejak kehidupan sosial kaum urban Jakarta dengan segala lika likunya. Sesi diskusi ini mendapatkan perhatian pengunjung dari berbagai kalangan, terutama para penggemar Dee dan Ika yang datang dari sekitar wilayah Eropa. “Untuk penulis – penulis Indonesia yang karyanya ingin dikenal di dunia internasional, pastikan konten dan isi cerita yang kita tulis sudah cukup berkualitas. Menangkan dulu pasar nasional, baru kemudian kita sama –sama berkonsentrasi untuk memperkenalkan karya ke pasar internasional. Tahun ini sebagai tamu kehormatan, beruntung sekali kita penulis – penulis Indonesia mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan kelompok publishers yang datang dari seluruh penjuru dunia. Tidak hanya itu, event ini juga menjadi panggung bagi kita untuk memperkenalkan budaya bangsa,” pesan Dee dan Ika Natassa diakhir sesi.

Dan pada akhirnya saya bisa mewujudkan impian. Meminta tanda tangan, berbincang sebentar dan berfoto bersama Dewi Lestari. Bahagia luar biasa dan tidak terkira rasanya.

Foto 10 (Foto dengan Dee dan meminta tanda tangan didua bukunya, Gelomband dan Partikel)

Misi selanjutnya adalah menemui penulis idola yang kedua, yaitu Andrea Hirata. Saya menyukai bukunya sejak Laskar Pelangi. Buku dan film Laskar Pelangi sukses membuat saya menangis sekaligus semakin yakin akan kekuatan mimpi, doa dan kegigihan dalam mewujudkan mimpi kita. Sejak saat itu saya semakin berani untuk bermimpi dan berusaha keras serta cerdas untuk mewujudkan setiap mimpi tersebut. Rasanya masih tidak percaya juga bisa meminta tandatangan pada buku terbaru Andrea Hirata yang berjudul Ayah. Terus terang saya belum membaca Ayah sama sekali karena baru mendapatkan buku tersebut dari seorang teman yang ke Den Haag 2 hari sebelum saya berangkat ke Frankfurt. Beruntung, pikir saya.

Pengalaman yang tidak akan terlupakan untuk saya karena bisa mewujudkan impian lama. Secara keseluruhan saya merasa terharu dan bangga dengan tampilnya Indonesia sebagai tamu kehormatan di FBF 2015. Melihat dan merasa dekat dengan Indonesia ketika saya sedang jauh dari Indonesia. Angkat topi kepada Goenawan Mohammad selaku Ketua Komite Nasional Pelaksana serta sekitar 80 penulis dan total 300 orang budayawan maupun seniman yang berkumpul dan mensukseskan peran Indonesia sebagai guest of honor pada acara bergengsi tersebut. Meskipun banyak kritik disana sini tentang tidak sempurnanya Indonesia sejak tahap persiapan yang super mepet sampai pada acara berakhir, tetapi langkah awal ini membawa optimisme tersendiri akan Indonesia dan Industri buku Indonesia dimata Internasional. Bukankah perjalanan panjang dan besar selalu diawali dengan langkah yang kecil. Jika tidak dimulai saat ini, maka tidak akan pernah tampak juga perubahaan besarnya dikemudian hari.

Video Dee menjawab pertanyaan saya serta pembacaan penggalan Supernova 1 dalam bahasa Inggris dapat dilihat disini : https://www.youtube.com/watch?v=UooYF_pw-So

————————

Koleksi foto pada laman ini adalah karya Deny – dengan  gambar-gambar  penunjang terhubung dengan image URL gambar aslli.

Deny Lestiyorini- Indonesian living in Den Haag |IG : @deny_l
Blog : http://denald.com/ Twitter : @denald

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 2)

925351_547216565411067_743477697_aBeth Agustina. Has been living in Germany for 8 years. Full time happy SAHM and part time passionate portrait photographer.

Hajat tahunan Frankfurt Book Fair yang digelar selama lima hari akhirnya selesai juga hari Minggu kemarin. Konon banyak buku-buku yang diobral bahkan gratis di hari terakhir (Minggu 18 Oktober 2015). Sayangnya saya datang hanya di hari Sabtunya saja, jadi tidak kebagian obralan. Tapi lumayan juga sih, mendapat buku-buku kortingan setelah tawar menawar tingkat tinggi dengan di beberapa stand penerbit. Untung suami saya tidak ikut masuk ke pameran buku ini, dia suka malu mendapati istrinya nggak tahu malu tawar-menawar harga 😀

Indonesia menjadi tamu kehormatan di acara Franfurt Book Fair tahun ini dengan fokus utama penulis-penulis wanita Indonesia yang menyinggung topik tabu seperti seks dan agama dalam karya-karya mereka. Jauh hari sebelum hajatan literatur terbesar di dunia ini dibuka, berita tentang kultur, budaya dan literatur Indonesia sudah banyak menghiasi beberapa media di Jerman. Di samping berita tentang kehadiran Salman Rushdie di acara pembukaan pameran dan boikot dari negara Iran karenanya, tentunya.

APw4_ONdQ_3AGFtxd4QI3F31vk5XLn4eTh3kWFEbkXk,SYedbeWWJYURa9Z1cc7gonwY8oO7s0eEAtBwD08qfcU

Frankfurt Book fair dibuka untuk umum pada dua hari terakhir, 17 dan 18 Oktober 2015. Tiket masuknya berharga 18,00 Euro sehari, yang termasuk normal untuk tiket pameran berkelas internasional seperti ini. Khusus untuk refugees, yang saat ini sedang ramai-ramainya membuat pemerintah dan warga negara Jerman pusing tujuh keliling, mereka mendapat fasilitas masuk gratis.

Saya lumayan menyesal hanya datang di hari Sabtunya saja. Bukan masalah obralan buku di hari terakhir, namun karena saya belum khatam mengelilingi semua halls dan stand. Hari itu saya hanya berkonsentrasi pada jadwal acara dari Indonesia dan mencari buku anak-anak sedangkan sebenarnya ada lebih dari 7000 peserta pameran 100 negara yang rutin mengikuti Frankfurt Book Fair. Tapi not bad juga sih, semua target saya terpenuhi; melihat acara tanya jawab Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori, menemui senior jaman kuliah Beng Rahardian dan Eko Nugroho-para komikus kondang tanah air, mengikuti acara interview Andrea Hirata dan tentunya membeli beberapa buku anak berbahasa Indonesia yang tidak bisa saya dapatkan di sini -itupun pilihannya terbatas karena sebenarnya hari Sabtu itu belum diadakan transaksi jual beli. Oh ada satu acara yang tak bisa saya ikuti karena saya datangnya telat, acara show cooking-nya Chef Vindex!

ANDREA HIRATA

Andrea Hirata untuk ketiga kalinya kembali diundang untuk menghadiri Frankfurt Book Fair, sebuah pameran buku terbesar di dunia. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sempat mengikuti interview Andrea Hirata di booth milik stasiun TV Jerman 3Sat. Sempat bangga juga saya melihat bangku penonton langsung penuh begitu session Andrea Hirata tiba. Dan serunya lagi, 95% penontonnya bukan orang Indonesia padahal buku-buku Andrea Hirata baru ada versi bahasa Jermannya sejak bulan September kemarin. Di Amazon.de buku Laskar Pelangi yang dalam bahasa Jermannya Die Regenbogentruppe mendapat review 4,5 dari total 5 dari para pembacanya. Yay!


Dulu waktu saya masih baru-barunya di Jerman (tahun 2007), buku Andrea Hirata belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pendidikan di Indonesia, saya selalu menyelipkan cerita dari bukunya Andrea, tentang perjuangan Ikal dkk. dalam menempuh ilmunya. Teman-teman saya yang kebanyakan lahir dan besar di Jerman sangat tertarik dengan Laskar Pelangi dan banyak bertanya tentang kebenarannya, bagaimana dengan sistem pendidikan pada umumnya di Indonesia dan bagaimana dengan sekolah saya sendiri. Apalagi saat itu di Jerman sedang ramai-ramainya demonstrasi mahasiswa yang tidak puas dengan  fasilitas di Universitas Negeri yang kurang dan buku-buku diktatnya yang mahal. Teman-teman yang sudah kena setrum cerita Laskar Pelangi inipun kemudian berkata betapa kurang bersyukurnya mahasiswa di Jerman yang berdemo itu karena biaya kuliah di Jerman sebenarnya termasuk yang paling murah di dunia, bahkan biaya sekolah sampai SMA pun gratis. Dan buntutnya mereka ingin sekali membaca buku Laskar Pelangi. Tahun ini harapan mereka akan saya kabulkan!

Dalam interview di stasiun 3Sat kemarin, Andrea Hirata sempat diminta untuk mendeskripsikan bangsa Indonesia yang complex ini hanya dalam 3 kalimat pendek. Menurut Andrea, bangsa Indonesia itu toleran, bangsa Indonesia itu suka belajar dan yang terakhir, bangsa Indonesia itu suka tersenyum yang disambut dengan senyum lebar para pengunjung. Pembawa acara cantik yang mewawancarai Andrea Hirata juga sempat menanyakan seberapa penting pengaruh  magic di Indonesia karena dalam buku Sang Pemimpin (Jerman: Der Träumer) ada bagian di mana Ikal menuliskan harapannya di secarik kertas yang digantung di sebuah layang-layang. Menurut Andrea Hirata magic merupakan bagian dari kultur Indonesia dan  sebagai seorang penulis cultural fiction, memasukkan unsur-unsur magic itu baginya merupakan hal yang penting. Yang paling lucu adalah ketika Andrea Hirata membacakan bagian dari Sang Pemimpi, tentang asal-usul namanya (Andrea Hirata sempat ganti nama 9 kali!) yang sayangnya tidak diterjemahkan secara lengkap oleh si penerjemah sehingga pemirsa non-Indonesia tidak bisa ikut cekikikan seperti saya. Video tentang interview Andrea Hirata ini bisa dilihat di websitenya 3Sat.

Setelah interview usai, saya dan dua orang teman saya langsung bergegas ke backstage, mau minta tanda tangan dan foto bareng. Rupanya di sana sudah banyak orang yang antri, kebanyakan mahasiswa dari Indonesia. Andrea Hirata sempat bertanya apakah ada dari kami yang memiliki bukunya dalam versi bahasa Jerman. Sayangnya kami belum punya tapi saya janji mas, saya akan segera beli buku itu secara dari dulu saya memang sudah tidak sabar, ingin teman-teman Jerman saya membaca buku itu.

Andrea Hirata orangnya sangat ramah, sedang sibuk-sibuknya sesi tanda tangan, dia sempat-sempatnya bercerita kalau editornya masih lajang. Maksudnya bagaimana nih mas?

Buku Anak

Ohya, saya sempat  membeli beberapa buku anak-anak berbahasa Indonesia buat si Flipper (anak perempuan saya), salah satunya adalah buku ‘Indahnya Negeriku’ – Berpetualangan bersama Ella dan Eza dari penulis Fitri Kurniawan dan Watik Ideo (Penerbit: Bhuana Ilmu Populer). Buku yang rupanya bilingual ini (Indonesia dan Inggris), mengisahkan tentang dua kakak beradik Ella dan Eza yang berwisata berkeliling Indonesia ke 13 kota dari Sumbawa sampai ke Sulawesi Utara.

Menurut saya ceritanya standar saja. Di setiap kota yang disinggahi, mereka bertemu dengan kenalan baru yang mengenalkan mereka dengan budaya setempat seperti tari-tarian, kerajinan tangan dan makanan dengan latar belakang ilustrasi rumah adat mereka. Saya sebut standar karena informasi-informasi pendek seperti ini seingat saya sudah ada di buku pelajaran jaman SD atau SMP dulu yang saya yakin saat inipun masih ada. Tapi dengan illustrasi penuh warna dan teks non-formal membuat buku ini tentu saja lebih menarik dari buku pelajaran sekolah.

Yang lebih menarik lagi  -dan tidak ada di buku pelajaran- adalah pengenalan makanan setempat di setiap kota yang mereka singgahi.  238 halaman, 13 kota, 19 ilustrasi makanan (38 halaman), nom! Waktu suami saya baca buku ini komentar pertamanya adalah, “pantas saja orang Indonesia suka makan.” Yup, pengenalan makanan sejak dini! Bisa jadi dia iri hati juga karena kulinari Jerman tidak sekaya kulinari di Indonesia.

Ikan gabus kuah kuning, makanan khas Papua

Makan wadi, makanan khas suku Dayak sambil membahas senjata Sipet dan Mandau

Cukup menarik khan? 🙂

——–

Foto-foto pada laman ini adalah karya Beth, dengan beberapa foto pendukung yang terhubung dengan link pada foto.

https://autumnisokay.wordpress.com & Instagram @frausie