Merantau di Heidelberg, Jerman

foto-keluargaTheresia Rajaguguk has been living in Germany for over than a decade. She works as a Finance expert and lives with her husband and two children.  She loves gardening, decorating and playing volleyball!

 Merantau di Heidelberg

Saya, suami saya, Steve, dan kedua anak kami Eleora (4,5 tahun) dan Eliott (2 tahun) tinggal di Heidelberg, Jerman. Heidelberg merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jerman. Kotanya cantik, dilintasi sungai Neckar, dan ada kastil yang sebagiannya sudah runtuh. Heidelberg juga terkenal sebagai kota universitas. Universitas Heidelberg merupakan universitas tertua di Jerman.

germany-heidelberg-university

Heidelberg University

Selain itu, ilmu kedokteran di Heidelberg cukup ternama, sampai-sampai pusat riset kanker di Eropa didirikan di Heidelberg. Ditambah juga dengan banyaknya perusahaan nasional maupun internasional yang ternama di sekitar Heidelberg membuat komposisi masyarakat di kota Heidelberg menjadi sangat beragam.

germany-heidelberg-hauptstrasse-altstadt

Hauptstrasse and the Altstadt (Old Town)

Walaupun disibukan oleh pekerjaan, saya berusaha menyediakan waktu yang cukup untuk suami dan anak-anak. Hari Sabtu kami usahakan selalu bersama, jadi kalau ada undangan dari teman, biasanya kami datang sekeluarga. Hari Minggu adalah hari gereja buat kami. Pagi dan sore hari kami ikut kebaktian di gereja, siangnya sering diisi makan siang bersama teman gereja. Gereja kami, Gereja Bible Baptist ini telah berdiri sejak 20 tahun yang lalu, dipimpin oleh misionar dari Amerika.
Semenjak tinggal di Jerman, hobi saya berubah. Saya jadi suka berkegiatan di luar seperti berkebun, jalan-jalan di hutan, dan barbeque. Seperti kebanyakan ibu-ibu yang tinggal di luar negeri, tanpa disadari saya juga jadi hobi masak, apalagi masakan Indonesia.
hasil-berkebun

Hasil kebun kami.

kebun

Sebagian dari tanaman di kebun.

Saya lebih suka musim dingin daripada musim panas “Es gibt kein schlechtes Wetter, es gibt nur falsche Kleidung!“ Pernyataan ini benar sekali menurut saya, terutama untuk Jerman yang lebih banyak dinginnya daripada panasnya. Kalau kedinginan, saya bisa pakai baju yang tebal dan berlapis-lapis. Kalau musim panas, mau pakai baju setipis apapun, tetap saja panas. Kalau sudah panas sekali, saya tidur di basement. Anak-anak juga berpindah main di basement. Karena orang Jerman sangat menghargai environment, mereka tidak suka pakai AC.

58389f0c39ad5d1cd94fe19ff573a0ab

During winter in Heidelberg

Awal Hidup di Jerman

Tahun 2003 saya datang ke Jerman, tinggal di kota Darmstadt, dengan tujuan melanjutkan kuliah master sebagai bekal saya untuk pulang ke Indonesia dan menjadi dosen, cita-cita saya saat itu. Saya lulusan teknik sipil dari Universitas Katolik Parahyangan dan ekonomi dari Universitas Padjadjaran Bandung. Jerman merupakan pilihan saya karena biaya kuliah di Jerman bisa dibilang hampir gratis. Kenapa hampir gratis? Karena saya hanya membayar biaya administrasi yang sudah termasuk tiket transportasi umum yang per semester-nya tidak sampai 100 EUR.

Tahun 2003 saya memulai kuliah master di bidang bisnis dan administrasi di Hochschule Anhalt, Jerman. Ketika saya lulus di tahun 2005, perekonomian Jerman dan negara Uni Eropa sedang tidak baik. Susah sekali saat itu mendapatkan pekerjaan. Karena saya masih ingin tinggal di Jerman, saya melanjutkan kuliah master di Universität Konstanz. Kira-kira setengah tahun sebelum lulus, saya kerja praktek di SAP dan sejak saat itu sampai sekarang, saya bekerja di perusahaan yang sama.

ngerasain-tinggal-di-4-kota-di-jerman

Merasakan hidup di 4 kota di Jerman.

 

 Ibu Bekerja di Jerman

Suami saya dan saya bekerja di perusahaan yang sama, SAP SE. SAP merupakan perusahaan internasional yang bergerak di bidang software. Karena itu, walaupun kami bisa berbahasa Jerman, kami lebih sering berbahasa Inggris di kantor. Saya kerja fulltime di bidang finance. Pekerjaan saya tidak mengharuskan saya bekerja dari jam 8 sampai 5 sore karena role-nya global, jadi saya berkomunikasi dengan orang-orang di kantor lokal SAP mulai dari Australia sampai dengan Brazil. Saat ini saya bertanggung jawab di bidang finance untuk salah satu cloud solution yang SAP tawarkan, namanya SAP ByDesign. Mulai bulan September saya akan pindah ke departemen lain. Kali ini saya akan pegang solusi Hana Enterprice Cloud (HEC) dan S/4 HANA Cloud.

SAP-Zentrale 16zu9

SAP HQ di Walldorf, ca. 15 km dari Heidelberg

Waktu kerja saya cukup fleksibel yang bisa mulai dari jam 7 pagi dan bisa juga berakhir di tengah malam. Tetapi jadwal kerja ini saya yang buat sesuai dengan kegiatan pribadi saya juga di hari itu. Saya sangat suka dengan pekerjaan saya dan orang-orang di lingkungan kerja saya. Saya banyak bekerja dengan lelaki dan mereka tidak menganggap remeh saya. Juga saat saya cuti melahirkan (10,5 bulan untuk anak pertama dan 7,5 bulan untuk anak kedua), kantor sangat mendukungnya. Saat saya kembali bekerja, bos saya memberikan tugas yang menantang walaupun dia tau saya punya dua anak kecil. Bos saya, lelaki, bilang banyak kejadian kalau ibu rumah tangga lebih efisien dalam bekerja karena mereka harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum jemput anak, jadi tidak ada istilah santai dulu deh, bisa dikerjain nanti. Ini dibuktikan dengan saat bos saya memberikan spot award dua kali kepada saya di tahun saya kembali dari parental leave.

Oh iya, di Jerman setiap ibu atau bapak yang baru saja mempunyai anak boleh mengambil cuti sampai 3 tahun. Ibu wajb cuti 6 minggu sebelum tanggal kelahiran anak dan 8 minggu sesudahnya dengan gaji dibayar penuh. Setelah 8 minggu sampai dengan anak berumur 14 bulan, ibu dan/atau bapak boleh mengambil cuti dari kantor dan gajinya sebesar 67% dari gaji bersih, maksimal 1800 EUR akan dibayarkan oleh negara. Tetapi kalau hanya ibu atau bapaknya saja yang ambil cuti, hanya sampai usia anak 12 bulan akan dibayarkan oleh negara. Sedangkan kalau ibu dan bapak mengambil cuti di waktu yang bersamaan, uang yang diberikan oleh negara tidak sampai umur anak 14 bulan, tetapi uang itu akan dibayarkan dengan total jumlah 14 kali. Selain itu, anak juga mendapatkan uang dari negara sebesar 190 EUR sampai anak mendapatkan pekerjaan atau maksimal usia anak 25 tahun.

heidelberg_germany_10082005_main_street

Heidelberg Main Street

Waktu melahirkan anak pertama, saya ambil total cuti 10,5 bulan dan suami ambil cuti 6 bulan. Untuk anak yang kedua, saya ambil total cuti 8,5 bulan dan suami ambil cuti 8 bulan. Saat anak kami berumur 14 bulan, mereka mulai kami titipkan di daycare yang juga ditunjang oleh kantor. Lumayan, setiap bulannya kami membayar lebih murah karena subsidi dari kantor. Biaya daycare di Jerman termasuk jauh lebih murah daripada di US atau UK karena negara memberikan tunjangan yang lumayan besar ke daycare yang dikelola olah institusi milik negara atau oleh gereja. Tetapi biaya bulanan TK/daycare yang dapat tunjangan dari pemerintah biasanya bergantung dari penghasilan kotor keluarga. Semakin tinggi penghasilan, semakin besar biaya yg dibayarkan ke TK/Daycare. Kalau Private TK/Daycare menetapkan biaya yang tetap, tanpa mempertimbangkan faktor keuangan. Sedangkan biaya sekolah dari SD hingga kuliah itu gratis. Kecuali kalau sekolah swasta/private yah, biayanya ditetapkan oleh insitusi nya.

Dibawah ini table biaya TK di Heidelberg. Kalau Daycare, biayanya sekitar 2 kali lipat deh untuk insitusi yang sama.

Anak pertama kami sudah masuk TK yang tidak jauh dari rumah kami. Anak kedua kami masuk di Daycare yang letaknya di sebelah gedung kantor saya. Jadi kegiatan kami di pagi hari dimulai dengan sarapan bersama, mengantar anak pertama ke TK, lalu pergi ke kantor dan menurunkan anak kedua di daycare. Sorenya kami jemput anak kedua, lalu jemput anak pertama, dan pulang sama-sama ke rumah.

Tapi saat summer holiday seperti saat ini, TK dan daycare juga ikutan tutup selama 3 minggu. Repotnya, karena TK dan daycarenya bukan di institusi yang sama, jadwal tutup mereka juga sedikit berbeda. Libur mereka cuma overlapped selama 1 minggu. Jadi selama 5 minggu kami harus memikirkan bagaimana mengatur pekerjaan kantor dan mengurus anak. Kadang-kadang anak ikut ke kantor, jadi saya tidak perlu masak makan siang karena kami sekeluarga bisa makan di kantin. Ada beberapa ruangan kantor yang dijadikan ruangan kerja untuk orang tua yang membawa anaknya. Jadi orang tua bisa bekerja dan anak-anak main bersama.

Nanti kalau anak-anak saya sudah lebih besar, kami bisa mendaftarkan anak kami ke program summer holiday yang ditawarkan oleh pemerintah kota. Tergantung dari umur anak, ada program liburan yang menginap tetapi lebih banyak lagi yang dilakukan setiap hari dari pagi sampai sore, jadi anak-anak tidak perlu menginap. Programnya seperti belajar bagaimana bekerja di kebun binatang, program latihan olah raga seperti basket, renang, sepak bola, dll, program membaca di perpustakaan, program seni, dan masih banyak lagi. Biaya yang dikenakan juga tidak terlalu banyak, jadi tidak membebankan orang tua.

Sebagai pegawai di Jerman, kami dapat libur 30 hari kerja setahunnya. Di SAP, liburan yang tidak terpakai di tahun sebelumnya, bisa juga dibawa ke tahun-tahun berikutnya. Jadi saya dan suami sudah menabung libur yang bisa kami pakai kalau anak-anak sudah masuk sekolah dasar. Karena liburan summer di sekolah dasar bisa sampai dua bulan lamanya. Orang tua tanpa kakek dan nenek seperti kami ini diwajibkan kreatif deh kalau sudah punya anak di usia sekolah karena total liburan anak sekolah lebih sedikit daripada libur orang bekerja.

schloss-heidelberg-famous-castle-in-germany

Schloss Heidelberg, one of the famous castle in Germany

Ibu merantau IRT vs Ibu bekerja di Jerman

Terus terang saya tidak bisa membandingkan antarai IRT dan ibu yang bekerja di luar rumah karena saya selalu bekerja di luar rumah bahkan sebelum menikah. Tetapi kalau saya ingat-ingat waktu saya cuti melahirkan, saya jadi punya banyak waktu untuk ikutan komunitas ibu-ibu di Heidelberg. Waktu cuti melahirkan anak pertama, saya ikut menjadi group leader di komunitas ibu-ibu namanya MOPS (Mother of Preschoolers) Heidelberg. Waktu cuti anak kedua, saya ikutan lagi. Ada 2 groups MOPS di Heidelberg: satu yang pakai Bahasa Inggris, satunya lagi Bahasa Jerman. Setiap tahun tema yang dibahas berbeda-beda. Saya juga banyak belajar tentang kerajinan tangan di grup MOPS ini. Ada mentor mama, mama yang sudah senior, yang membimbing kita dan “memanjakan” kita. Contohnya: sewaktu saya pulang dari RS setelah melahirkan, selama 4 minggu, teman-teman dari MOPS membawakan makanan untuk keluarga saya seminggu 2 kali. Teman-teman gereja membawakan makanan juga seminggu dua kali. Jadi dalam sebulan pertama setelah melahirkan, saya tidak perlu memasak.

mops_kerajinan-tangan_2

mops_kerajinan-tangan

Hasil kerajinan tangan MOPS

Enaknya ikut MOPS, saya jadi kenal dengan ibu-ibu yang mempunya anak bayi. Kami banyak meluangkan waktu bersama, berdiskusi, dan belajar bagaimana menjadi ibu di Jerman. Sering kami bertemu di playground. Oh iya, playground bisa ditemukan di setiap sudut perumahan di Jerman. Pemerintah Jerman sangat mengutamakan ruang bermain untuk anak-anak.

asd1

Saya tidak bisa melihat perbedaan antara IRT dan ibu bekerja di luar rumah. Menurut saya effort ibu sama saja. Mungkin IRT terkadang bisa dilihat lebih santai karena tidak harus bekerja diluar rumah, sedangkan ibu yg bekejar juga masih harus bekerja di rumah jadi IRT. Tetapi saya juga lihat kalau saya mendapat banyak bantuan dengan adanya daycare dan TK sampai sore, sedangkan biasanya IRT tidak menitipkan anaknya di daycare atau TK sampai sore. Jadi ada positif dan negative di mata masing-masing orang dan lebih baik melakukan apa yg menurut kita baik, bukan apa yg menurut orang lain baik.

Komunitas Indonesia

Karena saya pindah ke Heidelberg setelah saya bekerja, saya tidak sempat kenal dengan komunitas Indonesia di Heidelberg. Saya ikut komunitas lain seperti diceritakan di atas. Waktu saya tinggal di Darmstadt dan Konstanz semasa saya kuliah, saya rajin ikut komunitas Indonesia di kota itu, seperti PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dan Perki (Persekutuan Kristen Indonesia). Sampai sekarang pun teman-teman Indonesia saya adalah teman sejak sama-sama kuliah.

Tips Sebagai Ibu Bekerja di Jerman

Sebagai ibu bekerja, saya harus pintar-pintar mengatur waktu dan tenaga supaya tidak sampai burn out dan keluarga tetap terjaga. Ini tips yang selama ini saya lakukan:

  1. Rumah berantakan; na und? (so what?)

Dengan dua anak yg sedang asik bereksperimen, saya sih sudah tutup mata aja deh kalau rumah berantakan. Saya tidak mau membatasi ruang belajar anak. Karena saya tidak kasih anak main gadget, jadi wajar saja kalau mereka main dengan segala macam mainan yang ada di dalam rumah maupun di luar rumah. Hasilnya, yah rumah seperti kapal pecah.

Saya tidak terlalu ambil pusing. Saya rapikan sebisanya saja. Saya juga belum mau hire Putzfrau (cleaning lady) untuk bantu-bantu di rumah

Tips yg bisa saya share: undang orang kerumah sesering mungkin.

Entah kenapa kalau tau akan ada tamu, kami sekeluarga jadi cepat banget bersihin rumah (termasuk anak-anak juga ikutan karena mereka excited mau kedatangan tamu). Jadi rumah lebih sering bersih dan kita jadi bisa ketemu teman-teman dengan santai di rumah daripada ketemu di café.

2. Masak secara efisien dan dalam jumlah besar

Masak dalam jumlah besar berarti juga belanja dalam jumlah besar. Saya belanja seminggu sekali, kadang dua kali kalau ada yg kelupaan. Biasanya saya belanja di supermarket yang cukup besar, hari jumat sore atau sabtu pagi dan masak yang banyak di hari Sabtu. Sebagian hasil masakan saya masukan kulkas, sebagian lagi saya bekukan di freezer. Jadi kalau pas lagi sibuk di hari kerja, tinggal keluarin makanan beku. Karena berteman dengan banyak orang Amerika, saya juga jadi terbiasa menggunakan slow cooker untuk masak (di Jerman slow cooker sama sekali tidak terdengar).

Buat saya, invest di peralatan masak sangat berguna. Saya ga ngomong tentang kitchen machine yang harganya lumayan, mulai saja dari pisau yang tajam atau panci yang bagus. Ini sudah bantu banget.

Masak efisien juga artinya masak yang terencana. Kadang saya merencanakan akan masak apa jauh-jauh hari. Salah satu contohnya, waktu anak saya ulang tahun, tradisinya adalah bawa kue ulang tahun ke Kindergarten sebelum jam makan siang. Jadi pagi-pagi saya kerja dulu dari rumah, lalu bikin adonan kue dan kue siap dipanggang. Saat kue dipanggang, saya kerja lagi. Satu hal yang saya suka adalah beli peralatan masak yang bisa bantu masak lebih efisien. Jadi untuk ultah anak, saya beli cetakan kue bentuk bunga matahari. Total waktu yang saya habiskan untuk bikin kue ini tidak lebih dari 1 jam. Ini hasilnya.

ulang-tahun-anak_kue-ultah

 

  1. Time management dan kerja sama dengan suami

Karena saya juga bekerja, suami dan saya harus bekerja sama dalam menyelesaikan tugas rumah. Tiap malam kami komunikasikan jadwal kami untuk esok hari, siapa yg antar anak, jemput anak, dll. Ada meeting-meeting yang tidak bisa saya hindari terjadi di waktu yg sama dengan waktu antar/jemput anak sekolah atau ke dokter atau ikut kegiatan anak di sekolah, karena itu kerja sama dengan suami amat sangat diperlukan. Selain itu, banyak tugas-tugas rumah yang jadi tanggung jawab suami juga. Jadi keberhasilan ibu bekerja sangat banyak dipengaruhi oleh peran suaminya di rumah kalau menurut saya.

Waktu anak saya ulang tahun, saya adakan acaranya di rumah. Karena dengan begitu, saya tidak terlalu menghabiskan banyak waktu, kebetulan acara ultahnya itu di hari kerja. Jadi sebelum dan sesudah acara, saya masih bisa kerja. Saya undang beberapa anak dari Kindergarten dan ibu mereka. Saya masak sesuatu yang gampang saja. Buat orang Jerman, makanan Indonesia sesederhana apapun, jadinya mewah untuk mereka. Karena yah beda aja jenis makanannya. Saat itu saya buat nasi kuning pakai bumbu jadi di rice cooker, mie goreng, ayam panggang tinggal masukin over, kerupuk yang sudah jadi beli dari toko asia, dan sosis direbus buat anak-anak.

ulang-tahun-anak

  1. Tetap sediakan waktu untuk menyalurkan hobi

Setiap orang pasti sibuk dong, entah ibu IRT maupun ibu bekerja. Dari pengalaman saya, to keep my sanity level, saya selalu menyediakan waktu untuk menyalurkan hobi saya. Tidak perlu waktu yang lama, 1 jam sehari untuk diri sendiri sudah lebih dari cukup. Biasanya kalau sudah suntuk, saya pergi ke kebun liat tanaman dan kasih makan ikan mas di kolam belakang. Setiap Rabu, saya ikutan kegiatan di gereja. Setiap kamis, saya ikutan main voli dengan ibu-ibu di Heidelberg. Jadi belum sampai suntuk banget, sudah disegarkan kembali oleh kegiatan-kegiatan yang saya memang suka.

Satu hobi yang saya dan suami saya juga suka adalah memperbaiki rumah atau mendekorasi ruangan-ruangan di rumah sendiri. Ini hobi yang juga bikin kantong tidak kempes karena ongkos tukang di Jerman mahal sekali. Dari hobi ini, kami sudah bikin kamar tidur anak, garden, kamar mandi, pasang lantai dan lain-lain.

 

  1. Belanja online

Sebelum punya anak, saya senang sekali pergi ke mall atau kota atau factory outlet. Kadang yg dibeli juga tidak banyak, tetapi senang lihat-lihatnya. Setelah punya anak, saya banyak mengubah strategi karena waktu untuk belanja makin berkurang sedangkan harus diakui keluarga saya juga perlu baju dan barang-barang lain. Saya banyak belanja online. Mulai dari beli baju buat saya, suami, anak-anak, mainan anak2, sampai beli peralatan rumah tangga. Saya punya daftar apa saja yang harus dibeli. Kalau tidak begini, jangan-jangan jadi laper mata. Dan juga dengan adanya daftar, jadinya cepat selesai belanjanya.

  1. Maintain personal finance

Mungkin karena pekerjaan saya di bidang finance, saya sangat sadar tentang keuangan keluarga saya. Buat saya, uang bukan segalanya dan saya tidak mau diperbudak oleh uang. Karena itu saya harus bisa manage apa yang ada supaya keluarga saya tetap bisa menikmati kehidupan dengan level yg sama. Saya tau keadaan keuangan keluarga saya dan saya tau apa yang keluarga saya mau capai. Dengan itu, saya membuat rencana dan bagaimana mencapai keinginan dan cita-cita keluarga saya, seperti mengatur pengeluaran, memantau pemasukan, analisis investasi dan hanya investasi kalau saya sudah tau seluk beluk bidang itu dan investasi hanya kalau suami setuju, mengoptimalkan tax, dan melihat tunjangan atau program dari negara yg bisa ambil. Saya pikir ini adalah pekerjaan dasar semua ibu untuk mengatur keuangan keluarga.


blog: http://tinggal-di-jerman.com

Edited by Mamarantau’s Content Editor Ajeng @misskepik

Advertisements

Kesempatan Kedua Tinggal di Jepang..!

IMG_9867Enrica Rinintya (Chacha) – Seorang perempuan (27) asli Yogyakarta yang Alhamdulillah diberi kesempatan untuk singgah di beberapa belahan Bumi. Ibu dari seorang anak lelaki berumur 2 tahun, seorang stay at home mom yang sedang menemani sang suami berpetualang di Negeri Sakura. My family is my life, we learn and grow together. 

Merantau di Jepang

Pertama kalinya menjejakkan kaki di Negeri Sakura ini pada tahun 2008. Dengan status mahasiswa pertukaran pelajar di Osaka, sebuah kota yang menurutku tidak terlalu besar dibandingkan dengan kota di mana saya tinggal sekarang. Saat ini saya adalah seorang Full Time Mother yang berstatus menemani suami yang sedang melanjutkan studi S3 di Tokyo Metropolitan University (TMU/Shuutodai), Tokyo. Saya diberi kesempatan kedua untuk menjejakkan kaki di Negeri ini, kali ini bersama keluarga kecilku: Joned (suami) dan Izza. Di sebuah kota di pinggiran Tokyo; Tama City.

1Sumber: Google.com

Terkenal dengan maskot Hello Kitty, “Sanrio Puroland” dan “Hello Kitty Town” dengan lokasi yang berjarak agak jauh, kira-kira 1 jam dari pusat kota (dengan kendaraan umum), ternyata memiliki cerita dan kejutan-kejutan tersendiri.

sanrio1Sanrio Puroland, Tama City, Tokyo – where Hello Kitty dreams came true

3

Dan di kesempatan kedua kali ini, saya banyak menemukan hal-hal baru, terutama terkait dengan dunia parenting di Jepang. Dimana anak-anak di Negeri ini amat sangat dijaga dengan baik oleh Negara, diberikan fasilitas yang memadai dan pelayanan yang memuaskan.

FASILITAS KESEHATAN

Kami biasa mengantarkan anak kami, Izza (26 bulan) untuk kontrol kesehatan di sebuat klinik di dekat tempat tinggal kami. Setelah selesai kontrol, barulah kami tahu kalau semua fasilitas dan pelayanan adalah gratis! Bahkan biaya imunisasi dan obat pun hampir semua bebas biaya.

Kami awalnya kesusahan dalam berbahasa (untuk istilah-istilah medis) pun dibantu dengan semaksimal mungkin oleh pihak staff klinik yang bertugas. Bahkan pihak dokter pun mau menerjemahkan ke dalam bahasa inggris walaupun terbata-bata. Yah, walaupun mereka lebih sering mengulangi dalam bahasa Jepang, dengan harapan kami mengerti bahasa mereka.

5

6Sumber: Website Tama Garden Clinic

Selain fasilitas berobat di klinik, ternyata dari pihak kantor kecamatan setempat pun mewajibkan Izza untuk melakukan general check-up untuk anak setiap 1,5 tahun sekali. Plus, diberikan jadwal rutin kontrol ke dokter gigi.

Pada saat kontrol ke dokter gigi, semuanya lengkap, selain mengecek kesehatan gigi anak, orangtua pun diajarkan cara menyikat gigi anak dengan tepat. Orangtua diminta untuk praktek langsung di tempat konsultasi yang telah disediakan. Mereka bahkan menanyakan lho sikat gigi dan odol apa yang kita gunakan (karena wajib dibawa saat kontrol) 🙂

FASILITAS TUMBUH KEMBANG ANAK

Tadinya sempet deg-deg an juga, apa jadinya ya hidup di Jepang bersama seorang anak yang masih usia dini. Bisa survive ngga ya kita? Jengjeng..ternyata bisa lho! Karena perhatian pemerintah Jepang terhadap anak-anak ternyata luas biasa besarnya, banyak fasilitas-fasilitas tersedia untuk anak-anak di sekitar kami. Diantaranya yang terjangkau dari lokasi tempat kami tinggal ada:

A. Jidoukan (children center)
Hampir di setiap daerah memiliki Jidoukan. Fasilitas yang ditawarkan pun berbeda-beda. Pada umumnya, jidoukan berlokasi dekat dengan perpustakaan daerah.

221x165xnakameguro-jidoukan-png-pagespeed-ic-iruzpcdn7f

Jidoukan is a great place to meet-up with a fellow Mom and Dad with kids for a playdate, or go alone with baby and make some new friends. (Sumber: bestlivingjapang.com)

Di Toyogaoka Jidoukan, yang berlokasi kira-kira 5 menit dengan berjalan kaki dari tempat kami tinggal, secara rutin mengagendakan aktivitas untuk ibu & anak seminggu sekali. Aktivitasnya seru-seru, biasanya ada tetzukuri (crafting dengan berbagai tema yang berbeda-beda), outing ke kebun binatang, dan  kamishibai (story telling).

kamishibai5

What is Kamishibai? (kah-mee-she-bye) or “paper-theater,” is said to have started in Japan in the late 1920s, but it is part of a long tradition of picture storytelling. Kamishibai stories for educational purposes are still being published and can be found in schools and libraries throughout Japan and more recently, through the efforts of Kamishibai for Kids, in the United States and Canada.

Selain itu, kalo lagi mati gaya, bisa ajak anak ke tempat ini untuk main sepuasnya juga, dari pukul 9.00-15.00 setiap hari (selain ahad). Karena di tempat ini disediakan ruangan bermain dengan permainan lengkap yang sudah ditata sesuai umur dan jenis permainan. Ibu bisa menemani anak sepuasnya, anak senang, ibunya pun bisa menikmati quality time dengan sang anak dan juga bercengkerama dengan ibu-ibu lainnya.

B. Seitoku Youchien (Seitoku Kindergarten)

Belum lama ini, sebuah taman kanak-kanak yang juga berdekatan jaraknya, membuka diri untuk umum, setiap hari Rabu. Anak boleh masuk ke dalam taman kanak-kanak dan bermain dengan fasilitas bermain yang disediakan sepuasnya juga. Bahkan terkadang dibiarkan bermain dengan anak-anak yang bersekolah.

Sumber: (Atas) Website Sekolah Seitoku (Bawah) Dok. Pribadi

Di sini anak dapat belajar untuk bersosialisasi serta mengenal dunia selain rumah. Jadi, walaupun usianya belum menginjak 3 tahun pun sudah bisa kenalan dengan suasana di taman kanak-kanak, yang kurang-lebih dihabiskan dengan belajar sambil bermain.

C. Outdoor Playground

Hampir disetiap blok di antara bangunan di cluster tempat tinggal kami pasti ada taman bermain. Dimana anak bisa bebas bermain dan berlarian. Pastinya, kalau cuaca sedang mendukung fasilitas ini lah yang kita manfaatkan. Begitu pedulinya pemerintah terhadap keselamatan, kenyamanan dan kebahagiaan anak, apapun selalu dengan slogan “kodomo no tame” (demi kepentingan anak-anak/ for the sake of children).

17584404099_70a25d333d_cSuasana salah satu outdoor playground di Tokyo (Sumber: Google)

D. Perpustakaan Daerah dan Toko Buku
Kami dimanjakan dengan fasilitas bernama buku. Kalaupun ternyata buku-buku bertuliskan tulisan jepang, tetapi gambar-gambar di buku anak-anak bagus-bagus semua. Jadi, asik-asik aja buat pinjem buku-buku di perpustakaan Jepang, karena gambarpun bisa kami pakai untuk saling bercerita. Toko buku pun tersebar di sekeliling kami, dimana di toko-toko tersebut biasanya diperbolehkan untuk membaca buku ditempat (disediakan tempat-tempat untuk duduk dan membaca).

mainSalah satu perpustakaan untuk anak di Kyoto Univeristy of Art and Design. Sumber: piccoli.jp

Selain itu, membudayakan membaca untuk anak menurut kami adalah penting. Bukan esensi belajar membacanya tapi menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku dan kegiatan membaca adalah salah satu hal yang menurut kami penting.

FASILITAS UNTUK BELAJAR BERBAHASA

Didanai/diprakarsai oleh Pemerintah Kota, berdirilah sebuat lembaga belajar bahasa Jepang. Dengan staff pengajar orang Jepang asli yang bisa berbahasa inggris. Lembaga ini bernama TIC (Tama International Centre). Lembaga ini tersebar di beberapa lokasi di dalam satu kota, jadi kita bisa memilih lokasi yang paling nyaman untuk kita datangi. Selain program bahasa, lembaga ini juga terkadang menawarkan aktivitas-aktivitas kebudayaan berupa kelas yang bisa kami ikuti juga; seperti Ikebana, kelas memasak, dsb. Lembaga ini juga menyediakan fasilitas penitipan anak gratis selama 2 jam, jadi sang ibu bisa belajar dengan tenang sementara sang anak bisa main sepuasnya..(biasanya sih terus ngga mau pulang ^_^v). So, buat yang di rumah dan ingin tetap bisa belajar bahasa dan budaya Jepang, ngga perlu bingung lagi. Kalau penasaran bisa klik link ini yah! http://www1a.biglobe.ne.jp/tic/

FASILITAS KELUARGA

Salah satu bonus, ketika tinggal di Jepang adalah tempat-tempat berlibur bagi keluarga. Kami terkadang menyempatkan sebagian waktu dari keseharian kami untuk berlibur. Semisal ke theme park ataupun ke lokasi-lokasi yang asyik untuk di datangi.

18Yomiuri Land saat Jewel Light-up

21

Ski Park di daerah Nagano

Selain aktivitas-aktivitas di atas, eratnya hubungan antara sesama orang Indonesia pun membuat kami tidak merasa sendirian. Terkadang kami saling bersilaturahmi untuk menimba ilmu dan saling bertukar pengalaman.

(Kiri) Bersama rekan-rekan PPI-TMU (Kanan) Bersama teman-teman Pengajian Muslimah Fuchu

Dan juga, Kebudayaan Jepang yang sangat kental, menghargai hadirnya empat musim bisa kami nikmati seiring dengan kehidupan kami sehari-hari.

24

Undangan ke Pernikahan ala Jepang

26

Hanami – Cherry Blossom Viewing – Menikmati Bunga Sakura di Musim Semi

27

Hina Matsuri (Girls/Dolls Festival)

Kurang lebih itu yang selama ini kami lakukan untuk menghabiskan waktu kami sehari-hari disini. Walaupun seorang Full Time Mother, saya tetap diberi fasilitas untuk menyalurkan minat dan hobi. Izza pun dapat mendapatkan fasilitas-fasilitas yang mendukung tumbuh kembangnya.

——-

Kalau ada teman-teman yang ingin berkenalan dengan kami, kami bisa ditemui di:
Instagram: @rinintya
blog: http://belajarjadiortu.wordpress.com

*Semua foto dalam artikel ini, otherwise stated, adalah dokumentasi pribadi Chacha dan keluarga.

Membesarkan Anak Bilingual

seerika_16Rika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finland with two bilingual sons, a Finns husband, and trying (hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Tentang Rika dan keluarga. Nama saya Rika Melissa, perempuan asli Indonesia yang saat ini sedang tinggal di Finlandia, tepatnya di kota Kerava. Hingga saat ini saya sudah merantau selama 12 tahun, dimulai dengan status pelajar program master di Jerman, kemudian kerja di Singapura, lalu setelah menikah, lanjut ikut suami yang jadi pelajar di Belanda dan saat ini menetap di Finlandia. Tapi kalau hati sih jangan ditanya, menclok di Jakarta terus.

Kami tinggal di Kerava yang dapat ditempuh dalam waktu 25 menit dengan kereta dari Helsinki

Jika ditanya soal hobi biasanya saya bilang hobi saya menari dan nonton film, tapi yang sebenarnya sering saya lakukan adalah makan dan tidur (hehe).

Suka jalan-jalan juga, ini saat di Old Town, Tallinn, Ibu kotanya Estonia yang bisa ditempuh dengan kapal ferry dari Helsinki.

Saat di Old Town, Tallinn, Ibu kota Estonia yang sangat cantik dan salah satu tempat wisata favorite orang Finlandia -bisa ditempuh dalam waktu 2 jam dengan kapal dari Helsinki.

Suami saya, Mikko, adalah warga negara Finlandia yang selalu punya mimpi untuk bisa hidup dan menetap di Indonesia. Kami bertemu di Istanbul waktu  sama-sama sedang liburan di kota cantik tersebut. Lima tahun setelah pertemuan tersebut, kami menikah dan saya diboyong ke Leiden, Belanda untuk menemani Mikko  yang saat itu sedang melanjutkan pendidikan di Leiden University. Sebenarnya tinggal dan menetap di Finlandia bukan bagian dari rencana kami waktu menikah dulu. Kami jatuh cinta pada Leiden, pada Belanda yang cantik, ramah dan penuh kehidupan. Rencananya kami ingin mencari kerja di Belanda jika Mikko telah merampungkan kuliahnya. Atau, kembali ke Indonesia, mencari kerja atau memulai bisnis kecil-kecilan di sana sambil berpetualang keliling pulau-pulau cantik di Indonesia.

Bersama Mikko

Bersama Mikko

Tanpa direncanakan saya hamil tiga bulan setelah menikah. Panik! Keuangan kami pas-pasan sekali waktu itu. Hidup dari uang beasiswa Erasmus-nya suami yang gak akan cukup untuk menanggung satu nyawa lagi. Rencana untuk tinggal di Belanda pun dibatalkan. Bagaimana bisa cari kerja kalau saya hamil begini? Pulang ke Indonesia juga tidak mungkin karena berarti butuh dana yang besar untuk biaya lahiran di RS. Akhirnya kami mengepak koper dan pindah ke Finlandia dengan pertimbangan Mikko akan lebih mudah cari kerja di negaranya sendiri, ditambah dengan berbagai benefit yang bisa kami dapat jika menjadi penduduk Finlandia.

Suomenlinna, pulau kecil nan cantik yang masih merupakan bagian dari kota Helsinki

Suomenlinna, pulau kecil nan cantik yang masih merupakan bagian dari kota Helsinki

Untuk sementara saja, pikir saya waktu itu. Tapi kenyataannya sudah 5 tahun lebih kami di Finlandia dan sudah dikaruniai dua anak laki-laki, Kai (5 tahun) dan Sami (3tahun).

Menurut Mikko, yang lahir dan besar di Finlandia, negaranya itu, sepi, dingin, gelap dan membosankan. Apa yang dibilang Mikko memang benar adanya, tapi kok, biarpun begitu, tinggal di Finlandia ini bikin betah? Dibalik negatif-negatifnya (yaa dinginnya yang seperti di kulkas), Finlandia juga merupakan negara yang aman dan nyaman, yang social security sistemnya sungguh jawara hiji seng ada lawan, pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak gratis dan terjamin kualitasnya, udaranya masih sangat segar bebas polusi, banyak ruang terbuka tempat anak bebas berlari, dan Finlandia yang tertutup salju ternyata cantik sekali. Seperti di negeri dongeng. Harapan untuk kembali ke Indonesia masih disimpan dalam hati. Tapi saat ini kami sekeluarga berbahagia di kota kecil bernama Kerava.

Kerava winter wonderland

Kerava winter wonderland

Kerava di musim gugur

Kerava saat autumn

Pusat kota Kerava

Pusat kota Kerava

Berkomunikasi dengan Anak Bilingual. Sebagai pelaku kawin campur, saya dan Mikko pastinya berdiskusi bagaimana kami akan membesarkan anak-anak, salah satu yang penting untuk dibahas tentunya: bagaimana kami berkomunikasi dengan anak? Ternyata kami berdua sama-sama langsung sepakat bahwa kami akan menggunakan bahasa kami masing-masing ketika berbicara dengan anak kami. Alasannya gampang saja: it feels more natural, kami ingin berbicara dengan anak dalam bahasa yang paling kami kuasai. Karena itulah kami menerapkan OPOL (One Parent One Language) dalam berkomunikasi dengan anak

Sami Kai

Kai dan Sami di Kampung Sampireun, Garut

Di luar itu juga ada alasan penting lainnya kenapa kami memutuskan untuk ber-OPOL, kami ingin anak kami punya hubungan yang erat dengan kakek-nenek dari kedua belah pihak. Saya ingin Kai dan Sami bisa bicara bebas lepas dengan ayah dan ibu saya di Indonesia. Mikko tentunya juga ingin anak-anak bisa lancar berkomunikasi dengan ibu mertua saya di Finlandia.

Kai dan Ompungnya, tidak pernah ada kesulitan komunikasi di antara mereka. Bersyukur sekali anak-anak bisa bahasa Indonesia

Kai dan Ompungnya, tidak pernah ada kesulitan komunikasi di antara mereka. Bersyukur sekali anak-anak bisa lancar berbahasa Indonesia.

Sejak anak-anak baru lahir kami konsisten ber-OPOL. Saya berbicara hanya dalam bahasa Indonesia ke anak-anak dan Mikko hanya berbahasa Finlandia. Antara saya dan Mikko sendiri sebenarnya lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi.

Banyak yang bertanya kenapa anak-anak tidak diajarkan bahasa Inggris saja? Kan akan lebih berguna? Kalau menurut saya sih, bahasa ibu jauh lebih berguna dari bahasa apapun juga. Bayangkan kalau anak-anak saya tidak bisa berbahasa Indonesia (atau Finlandia). Artinya sejak usia dini mereka sudah terputus komunikasinya dari keluarga dan saudara-saudaranya sendiri di tanah air karena tidak menguasai bahasanya. Tidak semua orang berbahasa Inggris, kan, di Indonesia (dan juga Finlandia!).

Bersama Oma saat dikunjungi

Bersama Oma saat dikunjungi

Lagipula, baik bahasa Indonesia dan Finlandia bukan termasuk bahasa populer di dunia ini dan sulit ditemui di luar lingkup daerahnya. Jadi, kalau bukan dari saya dan suami, dari mana lagi anak kami bisa belajar bahasa Indonesia dan Finlandia? Bahasa Inggris sudah sangat mendunia, bisa dipelajari di mana saja, anak-anak pun nantinya akan belajar di sekolah.

Apakah ber-OPOL itu sulit? Iya dan tidak. Pada hakikatnya metode OPOL cuma meminta kita untuk berbicara dengan bahasa ibu kita sendiri, bahasa yang paling kita kuasai. Apa susahnya sih? Yang agak sulit itu adalah untuk terus konsisten menggunakan satu bahasa tanpa tercampur-campur, termasuk juga membenarkan kesalahan anak ketika mereka mencampurkan dua bahasa atau lebih. Kai dan Sami biasanya suka mencampur bahasa Indonesia dan Finlandia ketika mereka baru mulai belajar bicara. Seperti misalnya “Ei bobo” yang maksudnya “Gak mau bobo” atau “Mau maito” yang berarti “Mau susu” dan lain-lain. Di saat seperti ini saya harus berkali-kali membenarkan omongan mereka. “Gak mau bobo, Kai”  atau “Mau susu, Sami”. Saya ulang-ulang terus sampai akhirnya anak-anak bisa mengucapkannya dengan benar.

One Parent, One Language

Kalau baca ini sih kesannya gampang, tapi anak-anak kan berbicara setiap menit yang berarti setiap menit pula kita harus membenarkan kesalahan mereka, berulang-ulang sampai mereka ingat. Lumayan bikin capek ya ini. Di usia 5 dan 3 tahun, saat ini Kai dan Sami termasuk lancar di kedua bahasa, Indonesia dan Finlandia. Tetap ada sekali-sekali pencampuran bahasa, terutama untuk kata-kata baru, jadi saya pun masih rajin membenarkan omongan mereka.

Dalam ber-OPOL ada beberapa prinsip yang selalu saya ingat:

  1. Tidak mencampur-campur bahasa. Misalnya: “Kai mau makan pisang?” dan bukannya “Kai mau makan banani?” Menyelipkan kata-kata asing akan menyulitkan anak untuk mendiferensiasikan bahasa. Mana yang Indonesia mana yang Finlandia.
  2. Berbicara dengan baik, benar, jelas dan lengkap. Biasakanlah berbicara dengan kalimat yang lengkap. Mengajarkan bahasa Indonesia bukan sekedar menerima anak bisa ngomong “pisang”, “kereta”, “rumah”. Tapi juga memberi contoh penggunaan kata dalam kalimat. “Saya mau pisang”, “Lihat, ada kereta lewat”. Sama prinsipnya untuk bahasa lain. Anak bisa menyebut kata “orange”, “yellow”, “car” bukan lantas berarti si anak bisa berbahasa Inggris. Dia cuma tau beberapa kata dalam bahasa Inggris. Anak yang berucap “Saya mau orange” tidak bisa dikatakan bisa berbahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris dengan benar.
  3. Mendorong penggunaan bahasa yang benar, dan tidak mendorong penggunaan yang salah. Misalnya, saat Kai bilang “Kai mau pisang”, saya beri dia pujian, saya ambilkan pisangnya. Tapi ketika Kai bilang “Kai mau banani” atau “Haluan banania”, saya tidak akan memberi pisangnya sampai Kai mengucapkannya dengan bahasa Indoensia yang benar.
  4. Rajin mengulang-ngulang. Terutama ketika anak membuat kesalahan, harus sabar untuk memberi penjelasan berulang-ulang sampe anaknya mengerti. Termasuk juga meminta anak untuk mengulangi kalimatnya supaya benar.
  5. Kembali lagi ke kon-sis-ten-si. Harus selalu-kudu-musti  konsisten. Saya terus menggunakan bahasa Indonesia, Mikko bahasa Finlandia. Jangan hari ini  ngomong  Indonesia tapi besok pakai Inggris atau Finlandia. Yang seperti ini  bisa bikin anak bingung dan memperlambat proses belajarnya.
  6. Nyaman dan PD dengan bahasa yang digunakan. Alasan utama kenapa saya berbicara bahasa Indonesia ke Kai. Karena cuma dalam bahasa inilah saya paling bebas berekspresi. Dalam proses pengajaran bahasa, komunikasi yang lancar itu penting untuk mendapatkan hasil yang optimal.
  7. Penggunaan berbagai macam media pendukung bahasa seperti buku, musik, video. Ini bisa jadi tantangan besar buat bahasa minoritas, bahasa-bahasa yang kurang populer di dunia. Misalnya saja, sulit sekali menemukan materi dalam bahasa Indonesia di sini, apalagi yang cocok untuk anak-anak. Setiap mudik ke Indonesia kami selalu memborong buku-buku dan DVD anak di Gramedia.
  8. Atur ekspektasi supaya jangan berlebihan. Terutama untuk bahasa Indonesia dan Finlandia yang memiliki perbedaan bahasa formal dan informal, poin ini penting untuk diingat. Saat ini saya berbicara dengan bahasa sehari-hari yang tidak formal dan tidak sesuai aturan EYD ke anak-anak. Kalau kami nantinya akan tinggal permanen di Finlandia, mungkin anak-anak tidak akan bisa menguasai bahasa Indonesia sampai, misalnya, tahap menulis thesis.

Perjuangan OPOL kami belum selesai. Kai dan Sami masih harus banyak belajar bahasa Indonesia dari sumber lain kalau mau mengerti bahasa yang lebih formal. Belum lagi masalah penolakan bahasa yang biasanya terjadi terhadap bahasa minoritas (dalam hal ini bahasa Indonesia karena di sini yang menjadi mayoritas tentu bahasa Finlandia). Sekarang saja Kai kadang-kadang mengeluh bahwa dia malas cerita-cerita sama äiti (ibu, dalam bahasa Finlandia) karena sama äiti harus berbahasa Indonesia. Lebih enak ngobrol sama Isi (ayah) saja pakai bahasa Finlandia.

seerika_84

Bahagia ketika berlibur di Indonesia

Keluhan Kai tidak pernah saya tanggapi, saya anggap saja angin lalu. Pokonya kalau sama äiti harus pakai bahasa Indonesia, gak ada cerita lain! Kalau tidak berbahasa Indonesia äiti akan pura-pura tuli.

Berbahasa Indonesia. Sebenarnya saat ini saya lumayan mengelus dada melihat fenomena anak-anak yang lupa akan bahasa Indonesia (atau tidak diajarkan bahasa Indonesia) begitu pindah tinggal ke luar negri. Lebih prihatin lagi melihat anak Indonesia, tinggal di Indonesia, tapi tidak bisa berbahasa Indonesia dengan alasan sekolah di international school. Kenapa orang tuanya tidak mengajarkan di rumah? Tidak ada salahnya mengajarkan bahasa lain, tapi bahasa ibu jangan dilupakan. Akan ada saatnya anak-anak akan bertanya tentang akar budayanya ketika mereka besar nanti. Penguasaan bahasa ibu akan membantu mereka dalam pencarian jati dirinya.

Menghapus penggunaan bahasa ibu juga memperkecil kesempatan anak untuk berkarya di negaranya sendiri di kemudian hari. Belum tentu kan dia akan selamanya ingin sekolah di luar negri, berkarir dan menetap di sana? Bisa jadi mereka juga ingin hidup di Indonesia, ingin punya pasangan hidup Indonesia, atau sekedar jalan-jalan ke pedalaman Indonesia? Penguasaan bahasa Indonesia akan membantu anak untuk mencapai hal-hal tersebut. Lagipula, anak-anak punya kemampuan ajaib untuk menyerap beberapa bahasa sekaligus. Mereka tidak perlu belajar, cuma perlu diajak berbicara. Kalau bisa dua bahasa kan lebih baik daripada satu? Anak-anak bilingual (atau bahkan multilingual) katanya punya intelenjesi yang lebih tinggi, lebih kritis dalam berpikir dan lebih cepat dalam mempelajari bahasa baru di kemudian hari.

——–

Untuk kisah lainnya tentang kehidupan di Finlandia, Rika menulis di http://seerika.wordpress.com/ atau untuk keseharian, bisa follow IG @seerika.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Rika dan keluarga – dan beberapa diambil dari URL yang terhubung langsung dengan image gambar. Diedit oleh: @chiceniza.

Pengasuhan Anak di Finlandia

RikaRika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finlandia with two bilingual sons, a Finns husband, and trying (really hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Lain padang lain belalang, begitu kata peribahasa Melayu. Artinya budaya dan tingkah laku manusia selalu bervariasi tergantung tempat tinggalnya, termasuk juga dalam hal pengasuhan anak. Nah, berikut ini praktek-praktek pengasuhan yang menurut saya “Finlandia banget” yang bisa jadi sangat berbeda dengan pola pengasuhan anak di Indonesia (khususnya di Jakarta).

Equality. Prinsip kesetaraan adalah prinsip yang dianut sepenuh hati oleh bangsa Finlandia. Prinsip inilah yang mendasari pemberian Kela maternity box, daycare bersubsidi dan pendidikan gratis bagi seluruh penduduk Finlandia, untuk memastikan bahwa semua anak bisa memulai hidupnya dengan cara yang sama.

Wait, apa itu Kela Maternity Box? Saat usia kandungan Ibu memasuki minggu ke 34-36, Ibu hamil akan mendapatkan sebuah paket dari pemerintah bagian urusan sosial atau dikenal dengan Kela; Kela adalah penyedia jaminan sosial (social security benefits) bagi seluruh penduduk Finlandia. Paket apakah itu?  Kela maternity box adalah paket yang berisi segala kebutuhan bayi yang baru lahir dan diberikan kepada semua ibu hamil di Finlandia (tidak ada pandang bulu, si kaya atau si miskin). Menerima Kela Box ini serasa mendapatkan hadiah Natal (sebuah ungkapan, karena bener-bener bikin bahagia..!). Isi di dalamnya mencakup aneka perlengkapan bayi: mulai dari baju-baju segala rupa (onesies, romper, overall, legging), snowsuit, handuk, sleeping bag/quilt, mainan, sikat gigi, buku cerita, popok kain, dll. Ukuran bajunya pun bervariasi mulai dari ukuran 60-86, jadi bisa dipakai untuk bayi baru lahir sampai kira-kira umur setahunan. Beginilah penampakannya kira-kira jika dijajarkan:

For 75 years, Finland’s expectant mothers have been given a box by the state. Some say it helped Finland achieve one of the world’s lowest infant mortality rates.

Kai yang senang sekali melihat kela box untuk adiknya

Isi Kela box sama untuk semua orang, tidak ada perbedaan untuk bayi perempuan ataupun laki-laki, makanya variasi warna yang ada di dalam kotak umumnya netral semua; putih, kuning, hijau, abu-abu atau coklat. Isi barang-barangnya juga selalu sama setiap tahun, hanya saja Kela mengubah desain dan warna untuk setiap tahunnya. Jadi jangan heran kalo ngeliat bayi sini kok snowsuit-nya sering seragaman karena snowsuit pertama anak sini umumnya memang dari Kela. Ada kejadian ketika Kai masih bayi, saya pernah pergi ke acara bayi-bayian (semacam expo) di Helsinki. Di sana kami bertemu bayi-bayi lain dengan snowsuit yang sama dengan Kai, bukan cuma satu atau dua, tapi lusinan..! Lucu banget kalo mereka dijejerkan bersama. Seragaman, seperti rombongan sekolah bayi.

Kela Box yang saya terima untuk Sami

Nah, terus, yang juga sangat penting, adalah kotak paketnya sendiri. Kotak ini bukan sekedar jadi wadah barang tapi juga dipakai sebagai tempat tidur pertama bayi-bayi Finlandia. Bikin kita jadi bingung kan? Ini bayi atau anak kucing kok tidurnya di kardus? Menurut bidan sini, bayi yang baru lahir menyukai tempat yang kecil dan sempit, seperti di kandungan ibu. Baby crib sebenarnya terlalu besar untuk bayi dan sering bikin bayi kecil gelisah. Karena itu kotak kecil dari Kela ini memang ideal sebagai tempat tidur bayi. Sebelum dipakai kotaknya dialasi dulu pakai matras tipis dan selimut yang juga didapat dari Kela box.

Bayi di dalam Kela Box (ini bukan Sami ya)

Kotak Kela ini sudah beredar selama 75 tahun di Finlandia! Bener-bener sudah jadi bagian penting dari kehidupan rakyat sini. Mulai dari kakek-nenek, ayah-ibu dan anak-anak pernah merasakan tidur di dalam kotak Kela. Setiap modifikasi yang ada di kotak Kela pasti jadi bahan pembicaraan hangat karena memang isi kotaknya nostalgic sekali bagi masyarakat sini. Mulai tahun 2010 kemarin mainan kerincingan berwarna merah tidak disertakan lagi di dalam kotak Kela, pembahasannya sampai ada di koran dan TV segala. Sekarang mainan tersebut dianggap sebagai barang koleksi.

Kerincingan Merah

Kerincingan Merah

A 1947 maternity pack

Menidurkan Bayi dan Anak di Luar. Nah, bayinya kan tidur di kardus Kela. Trus kardusnya itu taro dimana? Umumnya sih di dekat tempat tidur orang tuanya. Tapi, sering juga kotak bersama bayinya itu diletakkan di balkon! Di luar! Orang Finlandia percaya udara segar membuat bayi tidur lebih nyenyak. Jadinya, jika udara lagi bersahabat, tidak hujan dan tidak terlalu dingin, bayi-bayi dibiarkan tidur di balkon atau di teras rumah. Dulu, mertua saya juga membiarkan Mikko (suami) tidur di balkon sementara beliau  menggeret kasur ke ruang tamu dan tidur dengan pintu terbuka.  Dibantu dengan hembusan angin musim panas yang sepoi-sepoi, Mikko slept like a baby di udara terbuka begitu  (ya, emang masih bayi, sih, yaaaaa).

Sudah jadi kebiasaan juga buat orang sini untuk mengajak bayi keluar setiap hari. Kadang sambil belanja, tapi tak jarang melihat mereka menggeret stroller sekedar untuk bawa bayi jalan-jalan sambil menghirup udara segar. Biasanya bayi-bayi lantas tertidur di strollernya. Nah, kalau bayinya udah ketiduran orang tuanya bisa mampir ke cafe, ke restoran, atau balik ke rumah sementara strollernya di tinggal di halaman. Lagi-lagi orang sini percaya kalau udara segar sangat baik untuk tidurnya bayi-bayi, jadi biarkan mereka tidur di luar lebih lama.

Praktek ini dilakukan di segala musim, termasuk juga di musim dingin. Tidur di suhu subzero (di bawah O derajat Celsius) bukan masalah..! Selama stroller dan pakaian bayinya tahan dingin. Dulu, ibu bidan pernah bilang ke saya bahwasanya selama suhunya tidak di bawah minus 15 derajat Celsius, masih baik untuk membawa bayi ke luar. Malahan bayi-bayi tambah nyenyak tertidur di udara dingin begitu. Jadi, jangan heran kalau di pinggir jalan atau di halaman rumah ada stroller bertengger sendirian berikut bayinya. Pemandangan yang cukup umum di Finlandia, terutama di Kerava, di tempat kami tinggal sekarang. Di Helsinki pun sering lihat stroller dengan bayi tertidur di dalamnya diparkir di pinggir sebuah cafe sementara orang tuanya mengawasi dari jendela.

Would you put your baby or toddler outside in the freezing cold for their lunchtime nap? Most Nordic parents wouldn’t give it a second thought. For them it’s part of their daily routine. (Nordic: Denmark, Finland, Iceland, Norway and Sweden)

Gak terbayang rasanya bisa meninggalkan bayi tertidur sendirian di jalanan Jakarta. Pasti orang tuanya sudah gila! Tapi hal tersebut mungkin dilakukan di Finlandia berkat situasi negaranya yang terbilang aman. Tingkat kriminalitas di sini relatif kecil terutama untuk kasus-kasus penculikan anak. Saya pun sering membiarkan Kai dan Sami tidur di halaman sementara saya menunggu dari apartemen kami yang ada di lantai dua. Tiap beberapa menit saya melongok dari jendela untuk memastikan apakah mereka sudah bangun. Jendela juga dibiarkan terbuka supaya saya bisa mendegar kalau mereka nangis.

Tidur di luar, tapi tetap diawasi lewat jendela

Tapi pernah ada kejadian menggemparkan di tahun 2009. Seorang bayi yang sedang tidur di luar hilang dari strollernya yang di parkir di halaman rumah. Satu Finlandia geger seketika. Panik! Gimana kalau mereka gak bisa menidurkan bayi di luar lagi? Ini kan udah jadi tradisi nenek moyang! Untungnya, bayi tersebut kemudian ditemukan beberapa jam kemudian, di gundukan salju. Ternyata ‘penculik’ nya adalah seorang anak perempuan usia 9 tahun yang lagi terobsesi main bayi-bayian. Niatnya cuma mau main-main tapi si anak panik ketika bayinya mulai menangis dan akhirnya melarikan diri setelah ‘mencampakkkan’ bayinya ke gundukan salju. Untung saja ada polisi yang kemudian mendengar tangisan si bayi dari gundukan salju dan si bayi pun selamat sebelum kedinginan. Berita penemuan bayi ini bikin warga Finlandia kembali lega karena kasusnya tidak dianggap sebagai kasus kriminal, tidak tergolong kejadian penculikan anak ataupun human trafficking. Tapi gak ada salahnya juga untuk lebih berhati-hati saat membiarkan bayi tidur di luar.

Haalari (Snowsuit). Saya pernah baca buku berjudul “How to Marry a Finnish Girl” dan di buku itu penulisnya berkomentar bahwa “Finnish kids are always, ALWAYS, in their overalls”. Selain di negara-negara Nordic, memakai haalari (aka snowsuit, aka winter overall) sepertinya memang tidak umum, kecuali untuk kegiatan tertentu seperti ski atau bermain air. Anak Finlandia memakai haalari setiap hari sejak musim gugur sampai musim semi yang berarti dari bulan September hingga April. Sekitar 8 bulan. Haalari dianggap lebih praktis ketimbang jaket biasa karena haalari lebih tahan air, tahan angin dan tahan banting. Haalari juga lebih melindungi anak dari udara dingin plus menjaga anak tetap bersih di acara main-main air atau salju.

Biasanya ada dua macam haalari yang harus dimiliki seorang anak: välikausihaalari (mid season haalari) dan talvihaalari (winter haalari). Välikausihaalari bahannya lebih tipis dan lebih ringan, cocok untuk cuaca yang tidak terlalu dingin di musim gugur atau semi. Di musim dingin barulah dipakai talvihaalari yang lebih tebal karena didalamnya ada lapisan thermal. Selain itu ada juga kurahaalari (rubber overall) yang lebih tahan air dan sangat cocok dipakai di musim hujan. Beberapa merk melengkapi haalari mereka dengan lapisan fleece biar kehangatannya lebih terjamin. Merk yang terkenal di sini adaah Reima yang merupakan merk asli Finlandia, dan merk-merk lain dari Swedia dan Denmark seperti Polarn O Pyret, Didriksons, Molo dan Ticket to Heaven. Selain haalari, anak-anak sini juga dilengkapi dengan pipo (beanie, topi kupluk), sarung tangan, long john berbahan wol, kaos kaki wol dan sepatu bot untuk menghadapi musim dingin. Banyak, yaaaaa, perlengkapannya.

Kai dan Sami dalam Haalari mereka

Kai dan Sami dalam Haalari mereka

Membeli Pakaian di Lastenkirppis. Waktu saya baru sampai di Finlandia dalam keadaan hamil besar, banyak sekali orang-orang sini yang memberi tahu dimana saya bisa beli pakaian bayi bekas. BANYAK! Saya sampe sedih. Segitu kentaranya, ya, muka melarat saya sampai beli barangnya cuma bisa yang bekas-bekas? Ternyata memang begitulah adatnya di sini. Untuk bayi-bayi, banyak orang tua yang lebih suka beli barang bekas ketimbang yang masih baru. Alasannya karena harga perlengkapan bayi tuh mahal-mahal banget padahal dipakainya cuma sebentar. Makanya pasar barang bekas laku sekali di sini.

Kirpputori Valtteri, Helsinki

Dalam bahasa Suomi, pasar barang bekas disebut sebagai kirpputori atau disingkat kirppis. Ada dua macam kirpputori di sini, kirpputori swalayan yang memang seperti swalayan/toserba di mana penjual menyewa sebuah meja dan meninggalkan dagangannya di meja tersebut. Sementara pembeli tinggal masuk ke kirppis, cuci mata dari meja-ke meja dan membayar barang yang disuka di kasir. Yang kedua adalah kirpputori dengan kontak langsung antara pembeli dan penjual, biasanya outdoor (di musim panas) atau di hall besar. Kirppis seperti ini biasanya cuma ada di waktu-waktu tertentu atau cuma di akhir minggu saja. Sistemnya penjual menyewa sebuah meja untuk kemudian membawa barang-barangnya dan berjualan langsung di situ. Di kirppis seperti ini bisa terjadi tawar-menawar, malah, di penghujung hari harga barangnya makin diobral.

Hietalahti kirpputori, salah satu kirpputori outdoor di Helsinki

Lastenkirppis adalah kirpputori yang khusus menjual perlengkapan anak-anak saja. Di Rekola, tiga stasiun dari Kerava, ada lastenkirppis yang terkenal dan cukup besar. Di sana ada puluhan meja dengan bermacam-macam barang, mulai dari baju-bajuan, sepatu, kaos kaki, buku cerita, mainan bayi, sampe pispot juga ada. Di sudutnya ada juga bagian khusus menjual peralatan besar seperti stroller dan tempat tidur bayi. Kondisi barangnya juga bermacam-macam mulai dari yang keliatan ‘bekas banget’ sampe yang masih baru lengkap dengan label harganya pun ada, tentunya dengan harga yang sudah dimiringkan.

Lastenkirrpis: toko barang seken khusus untuk anak-anak

Pertama kali berkunjung ke kirpputori saya masih males-malesan melihat barang-barang bekas begitu, akhirnya keluar tanpa beli apa-apa. Tapi makin hari saya malah semakin hobi dan semakin ahli pula untuk menemukan harta karun yang biasa terpendam di tumpukan barang-barang dekil, baik untuk diri sendiri ataupun anak-anak. Puas banget rasanya kalau bisa menemukan barang bagus tapi murah dari kirpputori…! Saking meriahnya pasaran barang bekas di sini, harganya juga gak murah-murah amat akibat demand yang terlalu tinggi. Sebagai bandingan, harga barang yang sama di ebay.co.uk suka lebih murah bahkan setelah ongkos kirim. Kalo begitu buat apa beli yang bekas? Beli yang baru aja dong sekalian? Tapi orang-orang sini kemudian akan mejawab: beli bekas tetap lebih bagus karena artinya kita berpartisipasi dalam proses daur ulang, mengurangi sampah, dan menjaga kelestarian bumi kita. Dan hatiku pun meleleh….Aaaaaaaaw. Hidup kirpputori!

Kecintaan Akan Ruang Terbuka. Ada yang bisa menemukan benang merah dari poin-poin yang ada di atas? Bayi yang tidur di balkon, stroller di parkir di halaman, haalari, dan baju-baju bekas? Jawabannya adalah: OUTDOOR. Ruang terbuka…! Sudah ketebak yaa kalo orang Finlandia suka banget sama udara segar dan ruang terbuka? Bayinya aja disuruh tidur di balkon begitu, gak takut digondol kucing apa ya?

“There’s No Such Thing As Bad Weather, Just Bad Clothing” –  semacam prinsip yang dipegang oleh orang Finland.

Bahagia itu sederhana :)

Nah, menurut anjuran ahli kesehatan di sini, bayi dan anak-anak harus dibiarkan di udara terbuka minimal 2 jam sehari. Makanya sudah jadi rutinitas orang tua sini untuk membawa bayi dan anaknya jalan-jalan keluar. Bisa sekedar muter-muter sambil dorong stroller atau sekalian bawa anak ke taman bermain. Di Finlandia memang banyak tersebar taman bermain untuk anak. Seinget saya nih, untuk daerah Kerava, pengaturan kotanya melingkupi: minimal ada 1 taman bermain dalam radius 400 m dari tiap tempat tinggal, 1 daycare dalam radius 500 m dan 1 sekolah dasar dalam radius 1 km. Dalam radius 1 km dari rumah kami sepertinya ada 6 taman bermain untuk anak-anak. Gak besar dan nothing fancy, tapi kalo dibandingkan dengan yang ada di Indonesia sudah mencukupi sekali.

marizkarima_14

Di päiväkoti (daycare) anak-anak juga dibiarkan main di luar, dua kali dalam sehari. Pagi-pagi setelah sarapan dan sore setelah tidur siang. Mau panas, dingin, atau hujan, tetap saja halaman päiväkoti ramai dengan anak-anak. Kalau hujannya deras, baru deh mereka ‘disimpen’ di dalam kelas. Dan kalau sudah di luar,….ampun dijeeeee…Anak-anak sini mainnya ganas! Guling-gulingan di salju, loncat-loncat di kubangan air, tidur-tiduran di bak pasir, bergumul di tanah berlumpur, pokoknya pulang ke rumah dijamin kotor, tor, tor, tor. Kalau sepatu Kai dibuka isinya pasir semua.

Kotor-kotoran itu biasa…!

Nah, ngerti kan sekarang kenapa lebih praktis pakai haalari ketimbang jaket-jaket trendy seperti Parisian kids? Jantung saya pasti copot kalo melihat jaket wol dipakai buat main lumpur. Haalari yang terbuat dari bahan poliester lebih tahan banting buat main basah-basahan dan kotor-kotoran.

Kegiatan bermain di alam terbuka yang sangat dicintai oleh orang Finlandia

Orang tua di Finlandia memang lebih permisif dalam hal kotor-kotoran begini. Bayi-bayi dibiarkan berguling di rumput di musim panas, kalau sekali-sekali rumputnya kemakan atau tanahnya dijilet sedikit ya gak masalah. Anak-anak juga diharapkan sudah makan sendiri sejak umur 1 tahun, jika bajunya kotor dan rumah juga ikutan kotor ya gak masalah, yang penting anaknya belajar untuk lebih mandiri. Makanya ada temen bule saya yang bilang “Anak-anak cukup dikasih pakaian bekas aja, orang cuma buat dikotor-kotorin kok”.

seerika_31

Di hutan kecil di dekat rumah

Di hutan kecil di dekat rumah

Kembali ke udara terbuka, ada banyak kegiatan outdoor yang bisa dilakukan di sini. Dari mulai usia päiväkoti anak-anak dibiasakan untuk retki (outing) alias jalan-jalan ke hutan, ke taman atau empang kecil buat kasih makan bebek setiap minggu. Ada juga päiväkoti yang punya program bersepeda, ski, dan ice skating. Yang jelas pergi keluar dan bermain dengan alam jadi kegiatan rutin orang Finlandia yang sudah diterapkan sejak anak-anak. Dan hutan adalah bagian yang sangat penting dari alam Finlandia. Orang sini bangga sekali akan hutan mereka.

“Retkellä rannalla” jika diterjemahkan: perjalanan ke pantai, salah satu bentuk kegiatan retki

Di hutan anak-anak diajarkan tentang jenis-jenis arbei dan jejamuran yang merupakan kekayaan hutan Finlandia. Pulang dari retki, Kai dan Sami sering bawa oleh-oleh untuk Isi (ayah) dan äiti (ibu) berupa ranting pohon atau daun-daun kering yang mereka ambil di hutan.

Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak di Finlandia. Negara Nordik sangat terkenal dengan prinsip keseteraan gendernya dan Finlandia hampir selalu berada di posisi teratas dalam daftar negara-negara dengan kesetaraan gender terbaik. Karena itu, gak heran kalau tugas-tugas membesarkan anak diemban dengan hampir sama rata antara ayah dan ibu. Saya bilang hampir, karena tetap ibu yang harus bertugas hamil, melahirkan dan menyusui. Tapi di luar tiga hal tersebut, segala hal tentang pengurusan anak  dilakukan bersama oleh  ayah dan ibu.

Mikko dan Kai berumur 2 hari

Mikko dan Kai berumur 2 hari

Kisah-kisah SAHD (stay at home dad) banyak terjadi di Finlandia. Hal ini memungkinkan karena setiap ayah di Finlandia berhak atas 18 hari kerja paid paternity leave sementara paid parental leave selama 158 hari kerja bisa diambil baik oleh ayah atau ibu atau di-share di antara keduanya. Dan banyak juga orang tua yang kemudian memperpanjang parental leave hingga anaknya berusia 3 tahun, usia yang dianggap ideal untuk masuk päiväkoti.

Di Finlandia tidak ada stigma negatif untuk ayah yang terlibat langsung dari pengasuhan anaknya. Wanita Finlandia juga tak segan-segan menunjukkan protesnya kepada ayah yang pemalas. Ditambah dengan  paternity leave dan parental leave yang memadai, ayah Finlandia punya cukup waktu untuk mendampingi anaknya sehingga mereka terlihat sangat terlatih dalam mengurus anak. Gak heran kalau Finlandia kadang disebut sebagai negara dengan ayah-ayah terbaik.

seerika_61 seerika_38

Ada berapa banyak SAHD di Finlandia? Sayangnya saya tidak menemukan statistiknya, tapi, hingga sampai saat ini parental leave lebih banyak diambil oleh wanita, apalagi untuk parental leave yang panjang hingga tiga tahun. Biarpun digadang-gadang sebagai negeri dengan kesetaraan gender terbaik, tetap saja di Finlandia masih ada ketimpangan antara pendapatan wanita dan pria. Pada umumnya gaji pria masih lebih tinggi dari wanita dan karenanya wanita lebih sering mengambil parental leave. Biar dapur tetap ngebul ya, bok.

Tapi, sebenarnya, di Finlandia sendiri istilah SAHD dan SAHM tidak banyak digunakan karena semua orang di sini, baik wanita maupun pria, umumnya bekerja atau sekolah. Orang-orang yang tinggal di rumah untuk mengurus anak di bawah usia tiga tahun disebut ‘sedang cuti’ atau ‘sedang mangambil parental leave’. Mereka yang masih di rumah ketika anaknya di atas tiga tahun biasanya disebut pengangguran. Haiish, kejam, ya?

Tapi memang begitulah kenyataan hidup di sini. Biaya hidup yang tinggi, dan wanita Finlandia yang menginginkan status independen, membuat semua orang harus bekerja, baik dari rumah atau pun di luar rumah. Tidak seperti di negara lain, dimana banyak label seperti full time mom/dad, working mom/dad, stay at home mom/dad atau work from home mom/dad, pelabelan seperti ini tidak ditemui di Finlandia. Kerja ya kerja aja, terserah mau dari mana, kek, ngurus anak ya jalan terus. Begitu mungkin menurut mereka.

Pikku Kakkonen. Pikku Kakkonen berarti Little Two dalam bahasa Inggris karena memang ditayangkan di channel 2. Ini dia serial TV anak-anak paling populer se-Finlandia. Program sepanjang satu jam di channel YLE 2 yang ditayangkan dua kali di hari kerja (jam 7 pagi dan jam 5 sore) dan sekali di akhir pekan (jam 8 pagi).

Logo Pikku Kakkonen yang pasti dikenali oleh setiap penduduk Finlandia.

Pikku kakkonen ini bagian dari masa anak-anaknya Mikko dan mertua saya, dan sekarang jadi bagian dari hari-harinya Kai dan Sami. Programnya berisi gabungan serial anak-anak yang sudah di dub dan judulnya pun sudah diganti ke bahasa Finlandia seperti Postimies Pate (Postman Pat), Arvaa Kuinka Monta Minä Rakastan Sua (Guess How Much I Love You), Kaapo (Caillou), Saara ja Sorsa (Sara and The Duck).

Arvaa Kuinka Monta Minä Rakastan Sua a.k.a “Guess How Much I Love You”

Kalo menurut saya, serial yang ditampilkan dipilih dengan hati-hati dan sangat sesuai untuk anak-anak. Gak ada konten kekerasan, humornya gak slapstik, dan ceritanya sarat tentang kekeluargaan atau tentang kehidupan anak sehari-hari. Selain itu ada juga konten lokal  yang temanya berganti-ganti, misalnya, tentang polisi lalu lintas, tentang kehidupan anak-anak di pedesaan, tentang hutan, tentang cuaca, dll.

Pembawa acara di Pikku Kakkonen bervariasi dari anak-anak, remaja, orang dewasa dan nenek-nenek. Biasanya mereka memakai baju warna-warni tapi dengan motif sederhana. Sambil membawakan acara mereka biasa bernyanyi dengan iringan gitar atau berprakarya kecil-kecilan.

Baru-baru ini ketika kami mudik ke Indonesia, Kai dan Sami rajin nonton Disney Junior di TV, salah satunya adalah acara High Five. Kalau dibandingkan Pikku Kakkonen yang nuansanya tenang dan ceria secukupnya, begitu ngeliat high five langsung puyeng. “Apa pula ini kok heboh banget?” begitu komentar Mikko. Dibanding Pikku Kakkonen acara anak-anak lain terasa terlalu gegap gempita. Warna-warninya bombastis dan cerianya berlebihan sampai terasa dipaksakan. Orang Finlandia memang menjunjung tinggi kesederhanaan dan ketenangan. Saya sendiri sepertinya  sudah terlalu lama tinggal di Finlandia karena setelah rajin nonton Pikku Kakkonen, nonton High Five langsung bikin ilfil.

Jyrki dan Neponen, dua tokoh yang sering muncul sebagai pembawa acara di Pikku Kakkonen

Vauvauinti. Alias kelas berenang untuk bayi. Bayi-bayi usia 3 bulan hingga 1 tahun di Finlandia biasanya diikutkan ke kelas vauvaunti yang walaupun artinya berenang bayi tapi pada kenyataannya bayi-bayi tidak lantas jadi jago berenang di sana. Saya sempet kecele, saya pikir setelah vauvauinti, Kai, yang waktu itu usianya 4 bulan, bakal jadi perenang handal, bisa ngebut berenang dari ujung ke ujung. Ternyata gak, tuh. Tujuan vauvauinti rupanya bukan untuk mengajarkan bayi berenang. Yang ingin dicapai di sini adalah perkenalan bayi dengan air dan kegiatan air. Jadi isinya ya cuma main-main di air saja.

4 month old Kai in vauvauinti

4 month old Kai in vauvauinti

Orang sini percaya kalau air adalah habitat kedua buat bayi. Selama 9 bulan, kan, bayi-bayi sudah berenang di air ketuban ibunya. Bayi yang baru lahir biasanya sangat mencintai air karena mengingatkan mereka akan perasaan nyaman di dalam perut ibu. Semakin kecil bayinya, semakin sedikit ketakutan mereka akan air, semakin gampang untuk diajak menyelam ke dalam air. Kalau bayi diajarkan menyelam sejak dari kecil, nantinya mereka akan lebih mudah diajarkan berenang.

Vauvauinti biasanya diadakan di kolam renang yang dalamnya kurang dari 1m dan suhunya sudah dipanaskan ke 32 derajat Celcius. Bayi-bayi berenang sambil digendong ibunya, ayahnya, atau keduanya. Di kolam kegiatan dimulai dengan bernyanyi dan bermain air di dalam lingkaran, setelahnya bayi-bayi diajarkan untuk mengepak-ngepakkan tangan dan kakinya, memutari kolam sambil bergelayut di tangan orang tuanya, dan menyelam di dalam air selama beberapa detik, bahkan kadang dilepas untuk melayang sesaat di dalam air.

Circle time vauvauinti

Circle time sebagai pembukaan dan penutupan di tiap sesi vauvauinti

Sikap yang Cenderung Santai Terhadap Pendidikan. Pendidikan sudah pasti jadi bagian yang sangat penting dalam pengasuhan anak. Satu dekade belakangan ini sistem pendidikan Finlandia menggemparkan dunia karena dianggap berhasil menghasilkan anak-anak yang berprestasi dengan kurikulum yang sangat santai dan tidak membebani anak. Anak-anak Finlandia mulai sekolah di usia 7 tahun, usia yang mungkin dianggap terlambat di negara lain,  dan di usia itulah mereka baru akan belajar membaca dan berhitung secara formal.

Mulai tahun 2015 ini ada peraturan baru yang mewajibkan setiap anak umur 6 tahun untuk ikut esikoulu atau preschool. Esikoulu biasanya berupa sebuah kelas khusus di päivökoti, di sana anak-anak diajarkan tentang angka dan huruf dan tentang kegiatan bersekolah. Bahwa di sekolah anak-anak harus duduk dan tidak boleh lari-larian di kelas, bahwa di sekolah akan ada guru yang berbicara dan harus didengarkan, dsb. Kegiatan membaca dan berhitung tetap dimulai ketika anak-anak masuk sekolah dasar. Sebelum usia sekolah (maupun esikoulu) anak-anak ditempatkan di päiväkoti atau perhepäivähoito yang kalau diterjemahkan artinya kira-kira ‘daycare’. Di päiväkoti kegiatannya ya cuma main, main dan main tanpa ada kurikulum khusus. Sungguh berbeda dengan tuntutan di Jakarta dimana anak-anak TK sudah harus bisa membaca, menulis dan bahkan berhitung.

Sudut kelas Esikoulu

Sekolah anak Finlandia terkenal santai, banyak liburnya, jam istirahatnya panjang, dan PRnya sedikit. Pendidikan di Finlandia ditujukan untuk menghasilkan generasi yang mandiri dan bisa bepikir sendiri, karena itu keterlibatan orang tua dalam proses belajar mengajar tidak banyak dituntut, bahkan bisa dibilang sangat minim. Pelajaran di sekolah  disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak di usianya sehingga anak-anak diharapakan bisa mengerjakan PR-nya  tanpa bantuan orang tua. Kegiatan yang melibatkan kehadiran orang tua di sekolah juga sangat jarang, palingan untuk ambil rapor atau menonton pertunjukkan akhir tahun. Gak banyak acara bazar-bazaran, prakarya bersama, atau seminar ini itu. Tanya deh sama orang tua Finlandia yang pernah tinggal di Amerika, katanya di Amerika mereka kewalahan menghadiri kegiatan sekolah anaknya.

Perbandingan di Finlandia dan Amerika: PR dan waktu istirahat anak

Orang Finlandia sangat mengagungkan kemandirian, karena itu sejak kecil anak-anak sudah diajarkan untuk mandiri. Mulai dari belajar makan sendiri di umur satu tahun, belajar pakai haalari sendiri di päiväkoti, dll. Anak-anak harus mengerti bahwa keberhasilan dan kegagalan yang mereka capai adalah hasil perbuatan mereka sendiri. Keberhasilan di sekolah adalah tanggung jawab si anak pribadi, bukan orang tuanya.

Tidak ada ujian – hanya sekali-dua kali sepanjang masa sekolah

Sekolah di Finlandia juga minim ujian. Ujian-ujian kecil tetap ada tapi ujian besar seperti UN cuma berlangsung sekali-dua kali sepanjang masa sekolah mereka. Penilaian dari guru juga umumnya bukan berbentuk nilai. Rapor sekolah biasanya berisi keterangan apakah si anak lulus atau tidak lulus di tiap mata pelajaran. Tapi tiap guru tau benar akan kemampuan masing-masing muridnya. Gak jarang guru membuat soal ujian yang berbeda tingkat kesulitannya untuk siswa tertentu. Murid-murid diharapkan bersaing dengan dirinya sendiri di sekolah, bukan dengan orang lain. Sistem pendidikan di Finlandia memang jauh dari kompetitif. Tiger mothers dan tiger fathers adalah mahluk langka di negara ini.

Peran guru juga sangat dihargai

Balik lagi kepada prinsip pertama: Kesetaraan. Perlu diingat bahwa tidak ada sekolah swasta di Finlandia (dan tidak ada universitas swasta) sehingga tidak ada sekolah elit atau universitas Ivy League yang lulusannya membentuk kelompok eksklusif di masyarakat. Semua sekolah di Finlandia dianggap sejajar secara kualitas.

Revolusi pendidikan di Finlandia dimulai di tahun 1970-an, dimana waktu itu cuma kalangan berada yang bisa mengakses pendidikan dengan kualitas baik di sekolah-sekolah elit. Setelah revolusi berlangsung, nama Finlandia mulai naik daun sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik. Bukan status itu sebenarnya yang ingin mereka capai melalui revolusi pendidikan. Mereka tidak ingin menjadi yang terbaik. Mereka cuma ingin menjamin bahwa semua rakyatnya bisa menikmati pendidikan tanpa pandang bulu. Bukan kompetisi yang mereka cari, melainkan kesetaraan. Equality and not competition.

Anak-anak di Finlandia memulai hidupnya dengan baju dari kotak Kela,  pergi ke sekolah negri dan menerima layanan kesehatan dari puskesmas. Ini adalah usaha pemerintah Finlandia untuk meminimalisir kesenjangan di masyarakat.  Kesenjangan tentunya tetap ada di antara individu tapi bisa dibilang sangat kecil dibanding negara lain seperti Amerika Serikat, UK dan banyak negara maju lainnya.

——

Untuk kisah lainnya tentang kehidupan di Finlandia, Rika menulis di http://seerika.wordpress.com/ atau untuk keseharian, bisa follow IG @seerika.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Rika dan keluarga – dan beberapa diambil dari URL yang terhubung langsung dengan image gambar. Diedit oleh: @chiceniza.