Merantau di Buenos Aires, Argentina

Yulita Patricia Semet

Hola! Saya Yulita Patricia Semet, biasa dipanggil Sishi. Psikolog anak dan Ibu dari 3 anak yang saat ini sedang mendampingi suami bertugas di KBRI Buenos Aires, Argentina. Keluarga kami berangkat ke Argentina pada bulan September 2020 lalu untuk mendampingi suami yang bekerja sebagai diplomat di KBRI Buenos Aires. Rencananya kami akan tinggal disini sekitar kurang lebih 3,5 tahun. Dengan mendampingi suami saya di sini, saya berkesempatan untuk fokus mengurus anak-anak dan mengeksplor hobi saya, yaitu merangkai bunga dan fotografi.

Ini pertama kalinya saya tinggal di luar negeri. Awalnya sama sekali tidak menyangka akan bisa ke sini (Argentina). Perjalanannya aja ditempuh selama kurang lebih 2 hari, dan di masa pandemi pula. Tantangan utama adalah di bahasa, karena di sini menggunakan bahasa spanyol yang disebut Castellano, jadi agak beda juga dengan bahasa spanyol umumnya. Alhamdulillah, so far ketemu dengan teman-teman orang Argentina yang open, helpful, dan ramah jadi adaptasi pun lancar.

Di sini ada 4 musim, mirip dengan Australia, jadi suhunya medium lah ya ga sampe panas banget atau dingin banget. 

Tantangan Merantau

Ngurus 3 anak sendirian di tempat baru bener-bener stressful. Beberapa bulan pertama saya sempet ngerasa burnout dan depresi. Ngerasa banyak tekanan dan tuntutan untuk bisa ngejalanin semuanya dengan baik dan perfect, apalagi karena saya psikolog anak kan. Padahal sebenernya tekanan dan tuntutan itu dari pikiran saya sendiri aja. Alhamdulillah suami support dan saya pun belajar untuk let go. Belajar tentang prioritas: yang mana yang harus dikerjain duluan, dan belajar untuk kasih waktu untuk diri sendiri: untuk istirahat dan do what makes me happy. Belajar untuk put my self first; karena ketika saya tercukupi, saya bisa berfungsi secara lebih baik, serta mengurus anak-anak dan keluarga dengan lebih maksimal juga.

Sebisa mungkin saya ajak anak-anak untuk beraktivitas di luar rumah seminggu >3x. Jalan-jalan di taman atau playground. I think that’s a win win because the kids can play freely saya juga jadi bisa relaks. Di sini banyak playground dan taman hijau yang mudah diakses dengan jalan kaki. Orang tua-orang tua di sini juga termasuk yang hangat, santai, dan suportif, ga sedikit-sedikit ngelarang. Di sini juga orang tua-orang tuanya saling jaga & saling back up jadi ngerasa aman aja kalau anak-anak playdate atau main bareng di playground. Sejauh ini, anak-anak bisa beradaptasi dengan baik. Makan minum lancar, sekolah lancar, punya banyak teman juga.

Tempat yang menarik dikunjungi di Buenos Aires dan sekitarnya

Di kota Buenos Aires sendiri ada banyak taman, playground, museum, dan gedung-gedung tua seperti di Eropa. Jadi banyak banget yang bisa dieksplor.

Argentina sendiri negara yang sangat besar dan memiliki keindahan alam yang bervariasi. Di bagian utara ada pegunungan Andes yang gunungnya berwarna-warni, di perbatasan dengan Brazil ada Air Terjun Iguazu, yang termasuk salah satu dari 7 keajaiban dunia. Turun ke selatan ada pegunungan Patagonia. Daerah Bariloche terkenal dengan danaunya yang biru. Lalu ada perkebunan tulip di daerah Chubut dan wisata glacier di Ushuaia. Seru banget untuk dieksplor!

Tempat untuk Belanja Makanan Indonesia dan Komunitas Indonesia di Buenos Aires

Nah, untuk makanan Indonesia memang agak susah karena disini belum ada restoran Indonesia. Alhamdulillahnya, ada 2 local staff yang pintar masak jadi bisa buka PO makanan Indonesia ke mereka. Masyarakat Indonesia pun di sini relatif sedikit dan tersebar di seluruh Argentina, ada yang sebagai rohaniwan/i dan ABK (Anak Buah Kapal). Untuk kami yang tinggal di Buenos Aires, biasanya kami berkumpul seminggu sekali di KBRI untuk berlatih angklung atau pertemuan berkala dengan ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan (DWP). 

Untuk Komunitas Muslim sendiri, karena di sini muslimnya minoritas, jadi Ramadan tetap beraktivitas seperti biasa aja, ga ada kemeriahan khusus. Enaknya, Ramadan di sini jatuh pada musim gugur, jadi puasanya sekitar 11-12 jam saja (dari jam 6 pagi hingga 6 sore), sedikit lebih pendek dari Jakarta. Lebaran pun jatuh di hari kerja, jadi hanya KBRI dan negara muslim yang meliburkan diri. Hehe.. Tahun 2022 ini, umat muslim di Buenos Aires bisa shalat Ied berjamaan di Mesjid Rey Fadh, saat lebaran mesjid juga menyediakan area bermain anak2 di halaman mesjid jadi semuanya bisa berkumpul, silaturahmi, dan bersenang-senang merayakan hari lebaran bersama2.

Merantau di Stavanger, Norwegia

Ayu Damayanti (Loui)

Lima bulan setelah menikah, tepatnya di tahun 2008, saya merantau ke Stavanger, Norwegia. Suami saya, Rizal, sudah lebih dulu berada di sana untuk ambil master degree-nya dan Alhamdulillah mendapatkan pekerjaan tetap. Dan terdamparlah kami di sini selama hampir 14 tahun lamanya 😄 

Bersama Rizal (suami), Adam, dan Adia

Saya suka Stavanger karena penduduknya sedikit dan semua serba bersih serta teratur. Dengan 4 musimnya yang membuat hidup menjadi lebih berwarna. Air bersih yang berlimpah (minum dari tap water). Alamnya yang luar biasa indah dan tentunya udara yang sangat segar. Alhamdulillah 🙏

Di sini semua serba mahal, apalagi ketika kami mau makan di luar, tidak seperti di Indonesia yang sedikit-sedikit tinggal jajan. Variasi makanan halal pun terbatas. Waktu shalat pun sangat menantang, karena berubah setiap musimnya. Bahasa yang digunakan di sini adalah bahasa Norwegia (Norsk), jadi kami harus belajar dari awal lagi untuk bisa berkomunikasi dengan pribumi. Sebetulnya bahasa Inggris bisa juga digunakan, tapi lebih enak kalau pakai Norsk.

Di sini keindahan alamnya luar biasa, dari mulai pantai, hutan dan gunung semua bisa dinikmati dalam jarak yang tidak jauh dari rumah. Ada Pantai Sola, Monumen 3 Pedang, Hutan Konservasi Arboret, Bukit Dalsnuten, Preikestolen (gunung), Kjerag (gunung), Danau Mosvannet, Sandvedparken (taman) dan lain-lain. Kebetulan kami tinggal di daerah Sola yang hanya 5 menit nyetir ke bandara internasionalnya. Saya suka tinggal di Sola karena kota kecil yang aman dan cenderung sepi. Kami juga suka kemping ketika musim panas tiba, di sini banyak sekali camping site dengan pemandangan yang indah.

Komunitas Indonesia di Stavenger

Komunitas Indonesia yang ada di sini adalah “Indonesian Community Stavanger (ICS)“. Ada juga komunitas muslimnya yg bernama “Keluarga Muslim Indonesia Stavanger(KAMIS)”

Bipolar Disorder

Di tahun 2009 setelah melahirkan anak pertama kami, Adam, saya didiagnosa Bipolar Disorder. Hari-hari yang sangat berat bagi kami saat itu, karena saya harus dirawat selama 6 bulan lamanya dan Rizal di rumah bersama bayi Adam. Kejadian ini berulang di tahun 2015, ketika anak kedua kami lahir. Saya kembali dirawat selama 6 bulan juga, dan Rizal harus menjaga anak-anak di rumah. Saat itu saya masih denial bahwa saya memiliki Bipolar Disorder. Tapi di tahun 2017 ketika saya kembali dirawat, saya mulai memahami penyakit saya ini dan mulai menerima bahwa saya memang sakit.

Ruang Inap DPS Sola ( DPS = Distriktspsykiatriske Senter/ Regional Psychiatric Center)

Alhamdulillah saya bisa lebih stabil dan lebih bisa mendeteksi gejala-gejala yang muncul ketika relaps. Untungnya di sini segala perawatan rumah sakit gratis, ketika dirawat dan harus cek rutin ke poliklinik tidak perlu bayar sepeser pun. Saat ini saya juga mengikuti terapi musik dan paduan suara yang diadakan oleh poliklinik psikiatri.

Road Trip Norge Summer 2020

Musim panas Juli 2020 lalu kami sekeluarga berkeliling Norge (tepatnya setengah bagiannya) dengan mobil dan bermalam di berbagai macam tempat (camping, hytta/kabin, atau hotel/penginapan) selama sebulan penuh.

Rizal sudah dari jauh hari membuat itinerary perjalanan dengan sangat rapi yang disponsori oleh APR Tour & Travel (ini adalah nama yang selalu dipakai Rizal ketika membuat rencana perjalanan, diambil dari inisial nama Adam dan Adia, hehehe…).

Kami baru benar-benar mulai packing 2 hari sebelum berangkat karena sebelumnya banyak kesibukan, termasuk mencari perlengkapan yang kurang. Alhamdulillah semua beres di hari H dan barang-barangnya hampir seperti pindahan rumah 😅. Kali ini kami menyewa mobil Skoda Octavia dari www.avis.no  dengan harga yang cukup murah, dan menambahkan roof top yang kami punya di atasnya untuk bagasi tambahan. Setelah berjuang memasukkan semua barang yang ada, akhirnya kami bisa berangkat.

Berikut saya share beberapa list perlengkapan untuk camping yang mempermudah kehidupan kami mengelilingi Norge…!

Peralatan dan Perlengkapan Kemping
Peralatan dan Perlengkapan Kemping

Menjadi Vlogger 😀

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa sih aku sampe repot-repot bikin video dan akhirnya mau jadi vlogger di YouTube?

Jadi… beberapa waktu yang lalu, aku dan para sahabat di grup WhatsApp yang kami namakan “Pesohor Astro” (yang isinya adalah almamaterku di Astronomi ITB dengan berbagai tahun angkatan sebagai anggotanya), awalnya kami melakukan diskusi tidak penting seperti biasaa 🙂 membahas tentang postingan salah satu anggota tentang info kelas online yang akan mengupas “tips bagaimana cara dapat uang di youtube”.

Sampai akhirnya obrolan kami tiba ke satu bahasan yang sudah mengarah ke serius, dan aku, juga beberapa teman lain yang terutama tinggal di luar negeri, kena todong untuk membuat video di youtube mengenai kehidupan sehari-hari kami.

Awalnya aku skeptis, dengan alasan aku itu ga videogenic dan cenderung pemalu. Tapi setelah dikompori oleh beberapa orang dengan segala cara, akhirnya aku jadi termotivasi untuk mengikuti saran mereka, dengan syarat mereka membantu dalam hal penentuan konten dan sebagainya. Dan mereka setuju.

Dan catat ya, video ini tidak kubuat khusus hanya untuk karena mau mendapatkan uang via youtube, walaupun kalau itu terjadi ya Alhamdulillah hehe, tapi lebih memenuhi request para sahabat dan akhirnya terpikirkan konten edukasi yang ingin aku sampaikan di dalamnya, yaitu sekalian belajar bahasa Norway bareng sambil jalan-jalan seru.

Yang juga penting bahwa video ini spesial kupersembahkan untuk keluarga tercinta dan para sahabat tersayang di Indonesia yang belum bisa menginjakkan kakinya ke Norwegia. Dan tentu saja untuk mereka mengobati kangen sama aku, hehehe..

Doanya, semoga suatu saat bisa mengunjungi kami di sini..Aamiiin! Teman-teman mamarantau juga bisa melihat beberapa video lainnya tentang pengalaman kemping dan suasana selama road trip kami di YouTube LouiandLove atau klik linktr.ee/Louiandlove ya!

Merantau di Linköping, Swedia

Hestu Rahmayani – I received Swedish Institute scholarship and firstly arrived in Sweden in 2014 for studying Master in Child Studies at Linköping University. Now I am working as a preschool teacher. Other than working as a teacher, I am also a movement enthusiast who enjoy yoga and learn about functional and embodied movements. My interest in movements grow when I started learning about yoga. The more I learn about movement, the more I understand how moving my body in everyday life give me a lot of benefits. I get a clear mind and less stress when I move regularly, either in a form of training or just walking with my son. I wrote in hestu.rahmayani.com a media to share my movement practice, with the hope that you can also start to move every day.

Pengalaman Merantau

Di tahun 2014 saya mendapat beasiswa dari Swedish Institute untuk kuliah di Master program in Child Studies di Linköping University. Saya tiba di Linköping di bulan Agustus 2014.

Saya suka dengan kota ini karena kotanya tidak terlalu besar. Selain itu kota ini cukup tenang dan kontur alamnya datar sehingga kemana-mana bisa naik sepeda.

Untuk fasilitas umum hampir semua kota di Swedia sangat bagus, jadi tidak hanya di Linköping saja. Linköping adalah salah satu kota dari wilayah Östergötland. Östergötland sendiri terdiri dari tujuh kota yaitu Linköping, Norrköping, Mjölby, Motala, Söderköping, Vadstena dan Skänninge. Hanya ada satu universitas di wilayah ini, yaitu Linköping University. Jadi Linköping bisa disebut juga kota mahasiswa.

Sebenarnya tidak ada tantangan berat tinggal di kota ini, karena kebetulan saya tidak suka tinggal di kota besar. Hidup di Linköping ini cukup tenang dan nyaman. Karena kotanya tidak begitu besar, maka tempat perbelanjaan tidak begitu banyak. Walau tidak begitu banyak, toko-tokonya cukup lengkap dan mudah dijangkau. Pada umumnya tantangan terbesar tinggal di Swedia itu adalah mendapat teman asli Swedia yg ingin sosialisasi dengan pendatang. Karena kebanyakan orang Swedia mungkin tidak seterbuka penduduk eropa selatan. Orang Swedia cenderung lebih sungkan untuk membuka diri dengan orang asing. Selama tinggal di Swedia, sebagian besar teman dekat saya adalah penduduk pendatang.

Tempat Favorit

Tempat favorit saya di Linköping yaitu di Stångån, sebuah area dekat kanal. Di sana saya suka sekali jalan kaki sambil mengasuh anak saya, karena lingkungan sekitarnya dekat kanal jadi walau sudah berkali-kali jalan kaki, saya tidakk bosan. Dengan berjalan kaki menyusuri area tersebut, saya bisa menikmati indahnya suasana alam sekitar kanal yg menghubungkan Göta Kanal di seluruh area Östergötland.

Festival di Linköping

Festival atau perayaan yg paling asik itu biasanya saat musim panas tiba, khususnya pertengahan Juni. Di pertengahan Juni ini ada perayaan “midsommar” atau mid-summer. Dalam perayaan ini, dipasanglah tiang “midsommarstången” atau “maypole”, kemudian orang-orang berdansa mengelilingi maypole tersebut sambil bernyanyi “Små Grödorna” atau dalam bahasa Indonesia Katak Kecil. Yg lebih seru lagi, lagu ini nadanya persis sama seperti lagu Kodok Ngorek. Apakah ini kebetulan? 🙂

Pengalaman Menarik

Saat masih kuliah, saya bekerja part time mengajar yoga dan sebagai “vikarie” atau staf pengajar pengganti guru yg sedang sakit. Sebelum lulus saya dikontrak untuk bekerja temporary di sebuah PAUD selama satu tahun. Walaupun bahasa Swedia masih belepotan, saya berusaha meyakinkan para staf dan kepala sekolahnya agar menerima saya bekerja disana. Jadi ini modal nekat sih 🙂

Kemudian di tahun 2016, setelah lulus, saya pun diangkat sebagai pegawai tetap di tempat tersebut. Walaupun lulusan master, saya bekerja (hanya) sebagai asisten guru. Karena saya tidak ada sertifikat mengajar dari Departemen Pendidikan Swedia. Untuk bekerja di sektor pendidikan di Swedia tidaklah mudah. Di samping harus bisa bahasa, saya juga harus punya sertifikat mengajar agar bisa diangkat sebagai guru. Akhirnya setelah menyelesaikan kursus bahasa level SMA, saya dapat mendaftarkan diri untuk sertifikasi. Sayangnya pengalaman mengajar SD dan TK di Indonesia tidak dipertimbangkan. Departemen Pendidikan Swedia hanya melihat pendidikan Sarjana Pendidikan saja sebagai syarat sertifikasi. Di tahun 2020, akhirnya saya mendapat sertifikat tersebut, namun bukan sertifikat guru TK yg didapat. Tapi sertifikat guru SD khusus untuk mengajar matematika dan kesenian. Jika ingin mengajar di SD, saya harus ikut kuliah penyetaraan selama 1 – 2 tahun. Tidak mudah memang untuk bekerja di sektor ini, namun semuanya harus tetap dijalani dengan penuh perjuangan dan kesabaran.

Di waktu senggang aku adalah host di podcast Perantau Bercerita. Perantau Bercerita adalah sebuah media untuk berbagi cerita tentang kehidupan perantauan. Selain itu ada juga segmen “ngobrolin apa” sebagai sarana beropini tentang berbagai topik yang muncul dalam perantauan. Keep in contact: Instagram: @perantau_bercerita, podcasthestu@gmail.com, hestu.rahmayani.com.

Merantau di Astana

Agita Rachmasari – Indonesian. Dentist. Haidi’s wife ~ Jenna’s mom. Amateur Photographe. Live in Astana, Kazakhstan. 

Hallo…! Nama saya Dian Agita Rachmasari, biasa dipanggil Agita. Saya lahir di Medan 30 tahun yang lalu. Sejak kecil menempuh pendidikan berpindah-pindah kota Indonesia karena mengikuti orang tua, dari Samarinda, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, terakhir berkuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta jurusan Kedokteran Gigi dan akhirnya menyandang gelar Dokter Gigi pada tahun 2013. Pada tahun yang sama saya juga dinikahi oleh sahabat saya, Haidi Nur Hashfi yang saat ini sedang bertugas sebagai Diplomat di KBRI  Astana, Kazakhstan. Saya dan suami dikaruniai seorang putri bernama Jennaira Khansa noura (3,5 tahun), yang lahir di Melbourne ketika suami melanjutkan study S2 di sana.”

Kehidupan di Kazakhstan
Kehidupan keluarga merantau

Pindah ke Astana, Kazakhstan

Pada mulanya kami menerima kabar mengenai kepindahan ke Astana sekitar 4 bulan sebelum keberangkatan. Ketika mendengar kabar dari suami bahwa dia akan ditugaskan di Astana selama kurang lebih 3 tahun dan meminta saya dan putri semata wayang kami yang saat itu baru saja berusia 1 tahun, dalam pikiran saya “Lah pergi lagi? Belum juga setahun pulang ke Indonesia.

 Duh Astana itu dimana ya? Negara apa ya?”

An aerial view of Astana, the capital of Kazakhstan

Antara dag dig dug, exited, sedih, penasaran rasanya saat itu karena ini pertama kalinya bagi saya mendampingi suami bertugas sebagai diplomat di luar negeri. Saya langsung cari informasi mengenai Astana, persiapan-persiapan untuk keberangkatan dan keperluan selama di sana, serta menyusun rencana keuangan keluarga kami. Untunglah waktu itu ada grup ibu-ibu baik hati, istri-istri teman seangkatan suami yang banyak memberi informasi mengenai persiapan untuk penempatan luar negeri ini.

Selama 4 bulan, kami menyiapkan segala rupa kebutuhan yang harus dibawa dari Indonesia seperti beberapa setelan jas dan teluk belanga untuk suami, kebaya dan pakaian-pakaian nusantara untuk saya dan si kecil, souvenir-souvenir khas Indonesia, serta kebutuhan bahan-bahan makanan yang tidak tersedia di Astana atau barang-barang yang menurut kami lebih terjangkau jika dibeli di Indonesia. Tidak begitu banyak yang kami urus selain itu karena Jenna masih belum sekolah dan saya juga sedang tidak bekerja.

Kami dijadwalkan berangkat pada tanggal 19 Agustus 2016 tengah malam dengan pengalaman yang kurang menyenangkan bagi si kecil Jenna. Saat bangun pagi hari di tanggal tersebut, Jenna dalam keadaan demam dan batuk, mungkin karena lelah karena sebelum berangkat sering pergi bolak balik Jakarta-Serpong untuk suatu urusan dan ikut berpergian untuk persiapan keberangkatan lainnya. Siang hari kami sempatkan membawa Jenna ke dokter untuk dapat meminta perawatan untuk meredakan sakitnya. Dan malam hari kami bertiga berangkat menuju Astana.

Perjalanan kami kurang lebih selama 24 jam dengan penerbangan Jakarta-Seoul selama 7 jam, transit di Seoul 9 jam, dan penerbangan Seoul-Astana selama 8 jam. Selama perjalanan alhamdulillah Jenna tidak rewel sama sekali, tetap ceria walau sedang batuk. Hanya masalah makan saja yang agak susah, karena kondisi tenggorokan yang kurang nyaman sepertinya. Dan pada tanggal 20 tengah malam kami tiba di Astana yang sudah mulai sejuk.

Proses Adaptasi Anak dan Keluarga di Astana

Usia Jenna ketika pindah ke Astana masih terbilang cukup kecil, yaitu 1 tahun 5 bulan. Jenna cukup cepat untuk beradaptasi dengan lingkungan di Astana. Bahkan ketika baru tiba Jenna sudah sangat senang di tempat tinggal barunya. Dan yang paling membuat ibunya gembira, Jenna justru jadi gampang sekali makan setelah pindah ke Astana (setelah sebelumnya drama GTM yang nggak berkesudahan 

Lalu, meskipun udara di Astana sudah mulai sejuk menuju dingin, tetapi Jenna terlihat menikmati karena memang anaknya kurang suka cuaca yang panas. Mungkin juga Jenna tipe anak yang suka dengan hal-hal baru dan sudah saya ajak berpindah-pindah tempat sejak bayi, jadi dia tidak merasa canggung dan cepat beradaptasi ketika baru pindah. Selain itu ada situasi penting yang tidak berubah bagi Jenna, yaitu tetap bersama Ibu dan bapaknya seperti situasi sebelum-sebelumnya.

Perbedaan dengan Kehidupan di Indonesia

Banyak sekali perbedaan yang dirasakan dengan di Indonesia ya. Pertama dari segi cuaca, karena Astana termasuk negara 4 musim yang ketika musim dingin sangat-sangat ekstrim. Suhunya bisa mencapai -40°C dan biasanya musim dingin berlangsung sekitar 7 bulan. Karena itulah Astana mendapat sebutan “The Second Coldest Capital City in The World”.

The Second Coldest Capital City in The World

Kemudian cita rasa makanan di Astana juga berbeda dengan di Indonesia. Kebanyakan makanan disini bercita rasa asin atau sedikit hambar dan tidak begitu variatif seperti di Indonesia dan roti adalah makanan pokok warga setempat.

Contoh makanan tradisional “Beshmarak” yang merupakan makanan nasional Kazakhstan dan terdiri dari daging kuda atau domba rebus yang disajikan dengan potongan bawang bombay dan mie.  

Bumbu-bumi khas Indonesia pun tidak dapat ditemukan di Astana, seperti kecap manis, lengkuas, kemiri, pala, daun jeruk, tempe, daun pandan, dan lain sebagainya. Untungnya bahan makanan seperti tahu, kecambah, kacang kedelai masih bisa didapatkan di Toko Korea.

Kemudian bahasa, jelas beda ya. Tapi lebih menantangnya di Astana jarang orang yang bisa berbahasa Inggris. Bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Russia, tetapi bahasa resminya adalah bahasa Kazakh. Pusing juga awalnya karena saya belum bisa bahasa Russia dan membaca huruf Cyrillic. Akhirnya dengan berbekal bahasa tubuh dan google translate lah komunikasi saya. 

Kegiatan Sehari-hari Sebagai Seorang “Mamarantau”

Kegiatan sehari2 saya disini sebagian besar masih bergulat dengan pekerjaan ibu rumah tangga dengan 1 anak batita pada umumnya.

Saya mulai menyukai masak memasak ketika mulai tinggal di luar negeri, mencoba resep-resep makanan khas Indonesia ataupun resep lainnya. Karena ketika ingin makan makanan Indonesia mau tidak mau saya harus membuat sendiri dam ternyata itu menyenangkan buat saya.

Kegiatan di luar rumah, sesekali pertemuan dengan ibu-ibu Dharma Wanita di kantor suami, mendukung kegiatan di kantor suami misalnya menyediakan makanan khas Indonesia untuk acara-acara bazaar, serta acara spesial seperti menyambut tamu-tamu penting dari Indonesia yg berkunjung ke Astana atau menghadiri acara di kedutaan lain.

Beberapa bulan yang lalu kantor suami juga membuka kelas seni dan bahasa Indonesia-Russia untuk warga lokal serta WNI yang berada di Astana. Saya pun mengikuti kedua kelas tersebut karena saya memang pada dasarnya suka dengan seni, dan belajar bahasa Russia untuk lebih memudahkan dalam interaksi sehari-hari.

Pertama kali saya belajar tari di sini adalah Tari Piring yang berasal dari Sumatera Barat dan Tari Enggang yang berasal dari Kalimantan. Selain itu saya berlatih bermain angklung. Lagu pertama saya adalah Es Lilin dari Jawa Barat. Selama latihan ataupun berkegiatan, Jenna selalu saya bawa karena saya tidak membawa ART di Astana. Alhamdulillah Jenna bisa mengikuti dengan baik, dengan dukungan dan pengertian dari teman2 juga tentunya. Bahkan Jenna sangat senang jika ikut latihan menari, dia bisa ikut berjingkrak jingkrak olah tubuh. Atau ketika ikut kelas bahasa Indonesia-Russia, Jenna secara tidak langsung ikut mendengarkan dan belajar juga.

Kegiatan yang berkesan sejauh ini adalah latihan menari dan bermain angklung. Karena entah mengapa rasanya membuat saya semakin bangga dan cinta dengan budaya Indonesia, bisa belajar sejarah dan maksud dari tarian maupun lagu-lagu daerah Indonesia, serta memang merupakan hobby saya menari dan hal-hal berbau musik yang sudah lama sekali tidak dilakukan.

Di samping itu, pada acara Resepsi Diplomatik RI ke-72 di Asrana ini, saya bisa berkesempatan tampil pertama kali membawakan Tari Piring dan bermain angklung membawakan lagu Yamko Rambe Yamko, Closer, dan Kamazay (lagu populer Kazakhstan) bersama teman2 baik dari Indonesia maupun warga Astana.

Suka Duka Kehidupan di Astana

Sejauh ini fasilitas kesehatan yang saya rasakan kurang sreg di sini. Pengalaman pertama saya di sini ketika Jenna demam tinggi hingga 39°C ketika beberapa bulan kami baru tiba. Dokter di sini jarang sekali yang bisa berbahasa Inggris, sehingga kami harus dibantu oleh staf orang lokal untuk menerjemahkan ke bahasa Russia. Bagaimanapun rasanya kurang puas jika berkonsultasi tidak secara langsung (harus lewat perantara), kadang saya mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan saya karena salah tangkap oleh penerjemah.

Lalu ketika Jenna harus tes darah, mereka menggunakan jarum untuk dewasa untuk tangan semungil anak usia 1,5 tahun ☹. Padahal waktu itu saya periksa di rumah sakit ibu dan anak, tetapi mereka tidak punya jarum untuk anak. Lalu obat-obatan yang diberikan untuk Jenna yaitu berupa tablet semua, dan saya harus menggerus sendiri di rumah karena Jenna yang ketika itu masih berusia 1,5 tahun masih belum bisa minum obat dalan bentuk tablet. Lalu Jenna diminta untuk kontrol lagi setelah 1 bulan dan masih mendapatkan obat-obatanan yang saya juga kurang paham obat apa karena tidak mendapatkan penjelasan dengan baik, padahal kondisinya waktu itu sudah sehat.

Kalau dari cerita teman yang sudah hampir 3 tahun tinggal di Astana, hal itu sudah lebih baik dari pengalaman dia sebelumnya. Karena sebelum-sebelumnya, pasien biasanya akan diberi resep obat injeksi beserta alat suntiknya. Kemudian, anggota keluarga pasien akan diajarkan cara menyuntik obat oleh dokter agar bisa memberikan obat suntik kepada pasien di rumah. Tak heran masyarakat biasa di sini mahir dalam menyuntik. Aneh sih menurut saya sebagai praktisi kesehatan juga, tapi ya mau bagaimana lagi. Sejak pengalaman itu saya sangat memperhatikan kesehatan keluarga di sini.

Selain itu karena Astana termasuk kota yang kecil dan tidak begitu banyak tempat wisata, kota terdekat berjarak lumayan jauh, serta musim dingin yang berlangsung lama membuat saya sering dilanda rasa bosan. Hiburan paling sering yaitu jalan2 ke mall, tetapi kalau mengingat ada negara yang lebih kecil lagi saya harus sudah lebih bersyukur ya.

Harapan Sebagai Keluarga Diplomat

Sepertinya masalah utama yang sering dihadapi adalah mengenai pendidikan anak terutama untuk jenjang sekolah dasar dan selanjutnya, karena tidak semua negara memiliki sekolah indonesia. Meskipun Jenna belum memasuki usia sekolah, tapi ada rasa khawatir bagi saya bagaimana pemilihan pendidikan Jenna nantinya. Mengingat perbedaan kurikulum di Indonesia dengan di luar negeri, dan jika masuk ke sekolah internasional di Indonesia sangat mahal biayanya. Harapan saya ada perhatian dari instansi yang terkait mengenai masalah ini, seperti misalnya ada sekolah untuk anak2 dari para diplomat ketika berada di Indonesia atau mungkin dengan solusi lainnya.

Ketika keadaan tidak mendukung atau tidak sesuai dengan harapan kita, beranilah berbuat sesuatu atau mencoba hal yang baru meskipun kita tidak pernah tau hasilnya seperti apa. Karena bisa jadi kita temukan kesenangan dan manfaat di dalamnya. Dan yang paling penting adalah selalu bersyukur dan percaya bahwa Allah selalu bersama kita dimanapun dan bagaimanapun kita berada.

—- 

Interview oleh tim phdmamaindonesia.com kepada Gita.

Berlibur ke Santorini

liaCatharina Aulia – A mother of 4 years old daughter, Mikha, an owner of small online business and a co-founder of pop up market event planner in Jakarta. Currently live in Haarlem to accompany her husband who is pursuing his MBA degree in Netherlands.

Merantau di Harleem

Cerita rantau kami berawal diawal tahun 2015, ketika suami saya Dony mendapatkan beasiswa MBA nya di Belanda. Berhubung perusahaan tempat suami bekerja tidak memiliki policy mengenai unpaid leave selama 1 tahun, sehingga akhirnya suami memutuskan untuk mengajukan resignation. Sementara di saat yang bersamaan sayapun baru 1 tahun merintis sebuah usaha event planner bersama beberapa rekan yang penggarapannya lebih spesifik pada penyelenggaraan thematic pop up market. Tujuan mendirikan usaha ini adalah untuk memberikan sebuah platform bagi pengusaha-pengusaha berbakat Indonesia to sell their products yang biasanya kami selenggarakan di beberapa mall di Jakarta.

Tahun 2015 menjadi saat-saat yang cukup challenging bagi kami berdua, selain  karena keputusan yang diambil cukup beresiko, di sisi lain saya harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk kepindahan kami ke Belanda dan saya juga harus berkomitmen untuk tetap fokus menjalankan tanggung jawab saya dalam mempersiapkan event-event yang dalam waktu dekat akan digelar.  Jadi hingga saat ini hati di Belanda pikiran di Jakarta 😀

Three Months of Juggling

Di Belanda kami sempat berpindah dua kali tempat tinggal, awalnya kami tinggal di kota Tilburg yang berada di North Brabant province di mana daerah tersebut lebih dekat dengan perbatasan Belgia dibandingkan dengan kota-kota besar yang lebih kita kenal seperti Amsterdam, Den Haag, atau Rotterdam. Lalu, Setelah 9 bulan kami tinggal di Tilburg, perusahaan dimana suami melakukan research-nya berada di Amsterdam. Karena waktu tempuh Tilburg – Amsterdam cukup panjang sekitar dua jam, maka untuk menghemat waktu, energi dan biaya akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang lebih mendekati kantor dan pilihannya jatuh di Haarlem, kota kecil yang cantik di North Holland hanya sekitar 10 menit dari Amsterdam.

lia4

Suasana dekat kediaman kami di Harleem

Semua tidak menjadi lebih mudah dari yang saya bayangkan, karena hanya satu minggu sejak kami tiba di Tilburg, Dony harus langsung menjalankan studinya full time setiap hari dari pagi hingga pukul 6-7 malam dan hampir tidak bisa digangggu karena tugas-tugas yang cukup banyak juga. Sehingga diawal kedatangan kami, saya harus beradaptasi sendiri dengan kultur, cuaca, jadwal public transport yang punctual  dan mencari tahu sendiri segala sesuatunya tanpa suami, termasuk juga mengurus segala hal adminstratif seperti pengurusan verblijf atau ID Card, pendaftaran ke municipality, sekolah anak dan lain sebagainya. Selain berjibaku dengan urusan rumah tangga dan mengurus Mikha di usia toddler yang selalu ingin mendapat perhatian, sayapun harus bekerja dan berkomunikasi lintas benua secara intens dengan rekan-rekan di Jakarta setiap hari dengan perbedaan waktu yang cukup jauh sehingga tidak jarang kami berdiskusi dari subuh hingga larut malam.

Tiga bulan pertama tinggal di Tilburg, saya merasa cukup sulit dan kami cukup banyak melakukan penyesuaian. Pada bulan-bulan ini saya sempat berada di titik depresi, lelah, kesepian dan selalu ingin pulang kembali ke Jakarta. Saya merasa buruk dalam menjalankan seluruh peran saya sebagai ibu, istri yang sekaligus harus bekerja menjalankan usaha saya dengan kondisi long distance seperti ini. Sering saya berada pada kondisi 24 jam mungkin hanya tidur 3 jam saja untuk bisa menjalankan seluruh peran ini terutama jika sudah mendekati event.

kota

Haarlem dan Tilburg

Mungkin suami merasa jika hal ini terus menerus didiamkan akan berdampak buruk bagi kami bertiga dan saat ini kami tidak mempunyai banyak pilihan, maka kami sepakat jika Dony mendapat libur agak panjang, maka saya pun harus mengambil day off atas pekerjaan saya dan waktu tersebut kami gunakan untuk explore tempat baru atau berlibur ke negara lain untuk me-recharge our mood and energy or simply just to reward ourselves after a series of hardworks.  

Dalam artikel ini saya berbagi mengenai destinasi wisata keluarga kami ke Yunani beberapa waktu lalu.

Berlibur ke Oia, Santorini

Thira atau sering dikenal dengan nama Santorini merupakan sebuah  pulau vulkanik di Laut Aegea yang berada di antara Pulau Ios dan Anafi, 20 km dari daratan Yunani. Pulau ini merupakan kelompok Kepulauan Cyclades. Pulau ini memiliki luas wilayah 73 km² dan populasi 13.600 jiwa (2001).

santorini-map

Santorini Map

Thira atau Santorini pada awalnya bernama Strongyle yang berarti bundar, dinamakan Strongyle karena bentuk dari pulau ini berbentuk bundar. Menurut pakar sejarah, pulau Santorini ini terbentuk kurang lebih 3500 tahun yang lalu akibat dari letusan gunung berapi Gunung Thera. Ledakan yang terjadi menurut para ahli sangat besar dan dahsyat, hal ini terbukti dari adanya sebuah Kaldera yang luas di tengah pulau sehingga membentuk sebuah lembah yang dalam dan pada akhirnya terisi oleh air laut yang bernama Laut Aegean.

Sebetulnya rencana kami untuk berlibur ke Santorini sudah direncakan sejak akhir tahun lalu untuk summer holiday, namun berhubung suami baru akan menyelesaikan kuliahnya di bulan Oktober, maka judulnya late summer holiday :D.  Walaupun telat dan suhu pada awal Oktober di Belanda sudah mencapai 5  celcius degree, surprisingly ternyata Santorini masih panas bangettt. Walaupun kalau dilihat secara temperatur  hanya sekitar 24-27 derajat celcius, which is sudah tidak terlalu tinggi temperaturnya, tetapi real feelnya masih cukup terik dan panas.

lia1

Family

Perjalanan menuju Santorini kami lakukan melalui jalan udara. Berangkat dari Schipol Airport, directly menuju Santorini Airport (JTR) memakan waktu sekitar 3jam 20 menit. Ada beberapa pilihan maskapai dari Schipol antara lain KLM, Aegean Air atau Transavia untuk budget flight.  Sesampainya di airport, kami dijemput oleh bus service yang sudah di arrange dari hotel tempat kami menginap di Oia.

Mengapa disarankan untuk menggunakan fasilitas jemputan dari hotel? Karena ternyata rumah, toko, maupun  hotel-hotel di Oia tidak memiliki alamat! Sehingga untuk Mama yang berencana berlibur kesana bersama keluarga, untuk kenyamanan dan mengurang keribetan disarankan agar menggunakan jasa penjemputan dari hotel. Waktu yang ditempuh dari airport menuju Oia sekitar 30 menit, dengan biaya sekitar €30 untuk 1 keluarga (max. 4 orang). Dan jangan lupa siapkan tips untuk driver seharga segelas kopi, berkisar antara €3 – €5. Alternatif lainnya adalah menggunakan bus lokal dan turun di Oia bus stop. Untuk tarifnya saya kurang paham tapi mungkin sekitar €2-5 per orang. Berhubung Oia merupakan desa cantik dengan gang-gang sempit, maka kendaraan tidak bisa masuk sampai ke depan hotel, sehingga semua kendaraan bermotor hanya bisa berhenti di bus stop dan koper harus kita bawa sendiri menuju hotel atau dengan bantuan porter yang disediakan pihak hotel.

lia3

Oia (baca : ii-a) adalah the most famous villages in Santorini. Oia terletak diatas tebing yang terdiri dari jajaran rumah, whitecaves resorts dengan balkon view Kaldera dan Aegean sea yang spektaaaaaa, blue domes church, windmill dan anak tangga yang cukup curam.  Oia dikenal diseluruh dunia for its quiet life, most beautiful, picturesque and fantastic sunset in Santorini.

view-from-sunset-spot-in-oia

View from Sunset Spot in Oia

Hari pertama, sesampainya di hotel, rasanya gak pengen kemana-mana lagi. Karena view dari balkon kami  is beyoooond our imagination. Sambil nyeruput kopi atau segelas juice, kaldera, laut Aegea dan blue domes beautifully captured in front of our eyes! Sementara menunggu sunset pada pukul 19.00, kami mulai berkeliling sekitar Oia dari pukul 4.30 sore. Yang perlu diketahui jika kita berencana membawa anak adalah lupakan stroller. It won’t work untuk strolling around dan menikmati pulau ini sambil mendorong stroller, jalanan cukup sempit mungkin kurang dari 2 meter lebarnya dan very busy and crowded di jam-jam tertentu, ditambah lagi kontur jalan yang mengharuskan kita naik turun berpuluh dan beratus anak tangga untuk mendapatkan spot yang bagus untuk menikmati sunset. Karena kontur jalan beberapa area di Oia cukup curam, naik turun dan a bit slippery, saya dan Mikha sempat beberapa kali terpeleset hingga terjatuh padahal kami sudah berpegangan pada railing tangga, sehingga disarankan menggunakan sepatu atau alas kaki yang cukup nyaman dan bahan alas yang tidak licin.

menjelang-malam-di-oia

Menjelang malam di Oia

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, Oia dikenal dengan sunset yang begitu cantik and we are the witness of that beauty! That’s the most beautiful sunset I’ve ever seen in my entire life! Merindiing liat sunsetnya. Oia is veryyyy beautiful in every corners. Dan bagi yang hobi fotografi seperti suami saya, ada satu sunset spot, (agak sulit mendeskripsikan lokasinya) gambaran strukturnya seperti benteng dan kita bisa naik ke atasnya. Di situ kita benar-benar bisa melihat dan mengcapture suasana sunset, windmill, blue domes church dan seluruh desa ini dengan jelas. Untuk bisa mendapatkan posisi atau spot yang bagus kita harus berada di lokasi ini minimal 1 jam sebelum sunset karena spot ini akan dipenuhi oleh turis bahkan mereka sudah berada di lokasi ini 2 jam sebelumnya.

lia2

Greek Restaurant

Ada beberapa Greek restoran yang kami kunjungi selama di Oia, salah satunya kami mencoba 1 resto kecil bernama Pitogyros letaknya berada di sebrang Lolita’s gelato. Kami pesan chicken gyro dan lamb kebab gyro dengan harga €3/each, we simply say both Gyros were a BOMB. It was the best Gyros in town! Sayang gak ada fotonya karena udah keburu masuk perut.

photo0jpg

PitoGyros

Restoran kedua yang kami kunjungi adalah  Kasteli, letaknya tepat didepan Canava suites. Not a fancy restaurant, semacam restoran keluarga, mereka menjual beberapa traditional Greek food tapi yang the bessssstt dan wajib dicoba adalah grilled lamb ribs-nya. It’s finger lickin’ good.  Saking susah move on, dua kali kami makan malam di sini ini dengan menu yang sama. Untuk harga per platenya hanya sekitar €9.

Restoran ketiga yang kami coba adalah Ammoudi Fish tavern, letaknya berada di Ammoudi bay dibawah Oia village, bisa turun dari Oia melalui tangga tapi sepertinya tidak direkomendasikan kalau membawa anak usia toddler karena tangganya cukup curam dan pasti sangat melelahkan untuk mereka. Alternatif lain dengan taxi biayanya €10.

Kalau saya baca reviewnya sih the best seafood restaurant in Oia. Saya akui the view was stunning, laut Aegean, sunset dan Oia village. Tapi untuk seafood plater yang kami pesan dengan harga €65 adalah overrated, mahal dan rasanya biasa banget. Jadi mungkin restoran ini lebih menjual view atau mungkin kami salah pilih menu. Kalau saya kurang merekomendasikan makan disini kalau niatnya bukan untuk makan cantik atau lagi laper.

img_9358

View of Amoudi Bay (via Camchowda.com)

Santorini Sailing Tour

Sebetulnya ada banyak tempat-tempat yang dapat di-explore dari Santorini, kita bisa naik donkey untuk explore seluruh desa, atau Santorini wine tasting tour karena Santorini juga dikenal dengan pabrik anggurnya dan bisa juga pergi ke desa lain untuk mendapatkan ambience yang berbeda seperti mengunjungi Fira, Imerovigli, Firostefani dan lainnya dengan berjalan kaki maupun naik lokal bis. Berhubung liburan kami cukup singkat dan harus dipilah-pilah mana yang sekiranya fun juga untuk Mikha, maka hari ke-3 kami memilih untuk melakukan sailing tour. Seluruh sailing tour disana dikelola oleh Santorini Yachting Club, harganya cukup variatif mulai dari €85 per orang untuk group besar sebanyak 48 orang per boat, €130 untuk semi private berisi 10-15 orang per boat, hingga €170 per person untuk tour yang lebih private. Anak kecil dengan batasan umur 4 atau 5 tahun tidak dikenakan biaya. Sailing tour yang kami ikuti memakan waktu sekitar 5 jam. Kami dijemput sekitar pukul 1 siang lalu menikmati tour hingga sunset. Harga tersebut sudah termasuk antar jemput hotel, sailing tour dan buffet. Kapal akan berhenti 3x yaitu di hot spring, red beach dan white beach dan kita bisa berenang ataupun snorkeling di ketiga spot ini.  Kedalaman laut sekitar 10-18m, dan kapal berhenti 25 menit hingga 1 jam di tiap spot untuk memberikan kesempatan bagi yang ingin berenang di spot tersebut.

santorini_sailing_lagoon_520_06

The Boat (via santoriniyachtingclub)

Mikha superrr happy karena dia pun saya ajak untuk ikut merasakan berenang di laut, ini menjadi pengalaman pertamanya, sambil sesekali ketelen air laut. Selama kami berenang papa-nya tegang banget dari atas kapal, jadilah hasil fotonya backlight dan goyang  semua. Jangan  lupa membawa baju dan handuk lebih juga sunblock untuk menjaga kulit dari sengatan matahari. Dan bagi yang membawa anak kecil walaupun terik, saya sarankan juga untuk membawa baju tebal atau jaket karena angin laut yang cukup kencang dan dingin.

Ibukota Santorini: Fira

Hari terakhir di Santorini, kami memutuskan untuk meng-explore daerah Fira. Fira sendiri adalah ibukota dari Santorini.  Walaupun dari segi arsitektur secara garis besar mirip dengan Oia yang didominasi oleh bangunan berwarna putih diatas tebing kaldera, feel dan ambience di Fira berbeda dengan Oia. Oia moodnya lebih relax, sementara Fira lebih ramai dengan shopping street-nya, cafes dan night clubs.  Sepanjang jalan sempit kanan kirinya dipenuhi oleh butik-butik yang menjual branded watch, jewellery, maupun kios-kios souvenirs. Untuk yang mau shopping, Fira menawarkan lebih banyak pilihan.

view-nea-kameni-dan-thirassia-from-fira

View Nea Kameni dan Thirassia from Fira 

fira1

Shopping area, Fira

Ada berbagai cara untuk menuju Fira dari Oia. Bisa dengan berjalan kaki sekitar 2-3 jam, rental kendaraan dan bisa juga menggunakan bus lokal dengan tarif €1,8 per orang sekali jalan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.  Dari Fira kita bisa mendapatkan panoramic view kaldera sekitar 18km dari Akrotiri hingga Nikolaus dan pulau vulkanik Nea Kameni. Disini kami mengunjungi gereja Katolik St.  John The Baptist dimana uskup Santorini menetap dan juga ada 2 museum yang dapat dikunjungi Archeological Museum of Thera dan Museum of Prehistoric Thera.

sunset-view-from-fira-ibukota-santorini

Sunset view from Fira

donkey_trail_-_fira_-_thira_-_to_mesa_gialos_port_-_santorini_-_greece_-_05

Donkey Trail Fira – Thira – to Mesa Gialos port

Last Day in Santorini

Keesokan harinya kami check-out untuk  kembali pulang ke Belanda. Yang perlu diperhatikan dari Santorini airport adalah ukurannya yang cukup kecil dan beberapa hal masih dilakukan secara manual, sehingga paling tidak 2 jam sebelumnya  harus sudah sampai di Airport karena mereka hanya memiliki 3 loket check in.

Antrian begitu panjang, begitu pula saat security check in. Bahkan untuk memasukkan koper ke bagasi pun kita harus drop sendiri di tempat terpisah (bukan di loket check in), walaupun lokasinya masih berdekatan dengan loket check-in. Jadi proses kami selesai pada saat sudah last call boarding pesawat. Jadi prosesnya memang kurang efisien dan staff yang ada juga tidak terlalu banyak.

Sekian perjalanan kami ke Santorini semoga cerita kami cukup berguna bagi mamarantau yang berencana berlibur kesana. Kami memang tidak bisa explore terlalu banyak karena berkaitan dengan waktu kami yang singkat dan karena membawa anak kecil juga membutuhkan waktu lebih banyak untuk mempersiapkan dan mempertimbangkan hal-hal yang penting yang bisa menjaga keamanan dan kenyamanan anak.


Pics are courtesy of Lia and Family, otherwise stated or linked to the original images.

Berkeliling di Sydney

 Annisa Sarahayu (Nisa) – The Beatles lover, daydreamer, batch_5IMG_4578_Fotorlove to cook and write. I can sometimes get a bit too friendly, touchy-feely, and silly! My personality is kind of complex I guess. I take a lot of time to get used to new people – before I feel comfortable with them.

Berikut adalah beberapa tempat di Sydney yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi:

Dining Out with Kids.
Lumayan banyak tempat makan kid-friendly yang sering kami coba, seperti food court yang terletak pada lantai 5 di Pitt Street Mall, Chinatown, Bondi Junction (shopping center dekat Bondi Beach yang terkenal), menu pizza di kawasan The Rocks, Darling Harbor , Darling Quarter, dan Paddington. Karena daerah-daerah yang saya sebutkan disini memang daerah turis, kebanyakan restorannya kid-friendly dan menawarkan great value menu untuk anak-anak, bahkan early-bird deal untuk menu makan malam. Selain itu, yang wajib dicoba adalah hidangan seafood yang fresh di Sydney Fish Market!

IMG_4756_Fotor

Dining Out with Adults
Kalau sama ibu-ibu Indonesia yang kebetulan lagi “ngangon” anak, kami prefer makan di rumah (seperti cerita di artikel Sydney 101) karena anak bisa bebas main sana sini, atau paling nggak cari resto yang dekat rumah. Kalau lagi playdate di park, kami biasanya bawa bekal masing-masing lalu saling tukar-menukar. Nah kalau kebetulan dapat me-time, ya terkadang lunch bareng teman di food court Pitt Street Mall tadi, ngopi di The Coffee Club, ngemil sore di Guylian cafe atau di Adriana Zumbo di QVB (Queen Victoria Building). Kalau sama keluarga, selain di tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas, kami juga suka mencoba resto-resto di daerah The Rocks seperti Pancakes On The Rocks, Umi Sushi, Time for Thai, Nok Nok Thai Food, Duyum Thai food.

batch_5IMG_8186

Gelato Messina | Voted best gelato in Australia

Shopping for Kids
Untuk pakaian untuk Bazyl, saya suka berbelanja di Zara Kids, Cotton On Kids, Gap, Target atau Pumpkin patch dan Seed. Untuk mainan bisa di Toys R Us, Hobbyco ( wajib nih kesini kalau lagi ke sydney karena merka punya display toko yang keren banget banyak anak-anak suka betah nongkrong dan emang sengaja didesain buat hiburan mereka ) Target ataupun Kmart. Selain itu saya juga suka hunting online di Gumtree ( semacam forum jual beli barang secondhand ) kalau lagi beruntung suka ada yang free dengan kondisi yang masih bagus, cuma kita harus pick up sendiri  🙂

Untuk buku anak : saya lebih suka hunting di toko2 second hand store gitu kaya Salvation Army, kondisi masih bagus dan harga juga murah range harga $2 – $5 nah kalau gak saya juga suka sekali datang ke baby&kids market yang diadakanya setiap beberapa bulan sekali. ini barang-barangnya memang second tapi juga terkadang ada yang baru lengkap dengan tag pricenya. terakhir saya kesana dapat chalk board masih baru hanya $5 , buku2 cerita hanya $0.50 – $2 . baju2 cotton on yang masih ada label harga 5 celana hanya $10 !!! dan banyak lagi. bisa dicek di website mereka surga deh buat emak-emak macam saya ahahahaha. Jangan khawatir kalau nggak puas maksimal 7 hari barang bisa dikembalikan dengan mengkontak salah satu PIC si Baby Market dan melaporkan nomor resi yang ada.

Shopping for Myself
Untuk pakaian saya suka di Zara,Tree of Life ( Australian boho product ) , Target, Cotton on, atau butik-butik vintage di daerah Surry Hills dan Newtown. Tetapi nggak jarang  saya juga berburu di secondhand store seperti Salvation Army. Untuk peralatan dapur dan rumah tadinya suka ke IKEA,  tapi sekarang saya prefer ke Peter’s Kensington karena harganya jauh lebih murah dari pada dept. store lokal seperti Myer, David Jones bahkan Target. Lengkap banget kadang juga suka ada harga diskon yang tak terduga. Review lengkapanya bisa dicaba di blog saya.

Salvation Army

Flea Markets
Saya suka berkunjung ke Surry Hills Market yang diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu pertama setiap bulannya. Selain itu Paddington Market juga patut dikunjungi,  buka lebih sering yaitu setiap Sabtu dan Minggu dari jam 9 – 3 sore.

Hanging Out with Bazyl.
Royal Botany Garden adalah pilihan tempat hang out favorit dengan Bazyl, karena bisa melihat pemandangan ke harbour dan Sydney Opera House. Selain itu ada Hyde Park, yang lokasinya tepat di city central dimana terdapat Stunning Archibald Fountain dan  Anzac Memorial. Karena letak rumah kami dekat dengan pantai, hampir setiap minggu bahkan beberapa hari sekali, kami suka “ngabsen” ke Maroubra beach dan playgroundnya. Enaknya disini pantainya lengkap dengan fasilitas seperti playground, bike rides dan walking tours. Darling Quarter Kids Playground ( salah playground terfavorit di Sydney lengkap  dengan waterpark-nya ). Grant Reserve (Coogee Beach Playground ), Heffron park, yah…pokoknya dimana ada playground biasanya pasti kami datangi! Hehehe…

Hanging Out with Adults
Selain makan dan ngopi, kegiatan hangout saya dengan adult salah satunya adalah mengikuti kelas Zumba bersama Maroubra Dance Studio di St John Hall Maroubra. Sisanya ya hangout  di Bondi Junction , QVB, Westfield , Strand Arcade , Cafe de Luca, II Cafetino, atau Laduree.

Getting Out in the Nature
Selain park dan beach yang sudah disebutkan diatas, kami juga suka ke Little Bay dan La Perouse.

The Famous manly beach

The Famous manly beach

batch_5batch_5IMG_4044

Favorite Public Spaces?
Australian National Maritime Museum, Sydney Living Museum, Art Sydney (ini gratis! ). Selain itu bisa juga ke City of Sydney Library atau yang dekat rumah seperti Bowen Library dan Eastgarden Library di daerah Randwick City Council. Untuk bisa dapat free entry ke museum.

Must-visit Touristy Spots
Get beached in Bondi and other beaches in Sydney, like Coogee, Bronte, Clovely and Manly. Lalu hangout di kafe-kafe-nya Surry Hills seperti Bills, Reuben Hills dan Bourket Street Bakery. Naik kapal ferry ke Manly dari Circulay Quay, makan gelato-nya Messina di Surry Hills (siap-siap antri panjang. karena emang enak banget!). Jangan lupa explore Chinatown & Newtown, lalu kalau berani jalan, lari, atau bahkan naik ke atas Sydney Harbor Bridge ( AU$150/orang ).

Luna park one of the iconic place in sydney

Luna park one of the iconic place in sydney@sachpfaff

Selain itu, play tourist dan main berbagai permainan di Luna Park, nonton firework show gratis di Darling Harbor setiap malam minggu, ke King’s Cross,  piknik di Royal Botany Garden, dan kalau sempat ke Blue Mountain (2 jam naik train, kalau mau murah bisa pergi pas hari Minggu, karena  ada promo Family Sunday Fun Day). Yang pasti, kalau mau free entry untuk ke museum dan touristy spots lainnya bisa kunjungi visitor/information center di Darling Harbor.

———       
Nisa juga mendokumentasikan kehidupannya bersama keluarga pada blog http://nisadanchicco.com/, serta account Instagram: @qyusha dan @denchicco.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Nisa dan Chicco – beberapa image diambil dari berbagai sumber yang URL-nya terhubung langsung dengan gambar.