Merantau di Astana

Agita Rachmasari – Indonesian. Dentist. Haidi’s wife ~ Jenna’s mom. Amateur Photographe. Live in Astana, Kazakhstan. 

Hallo…! Nama saya Dian Agita Rachmasari, biasa dipanggil Agita. Saya lahir di Medan 30 tahun yang lalu. Sejak kecil menempuh pendidikan berpindah-pindah kota Indonesia karena mengikuti orang tua, dari Samarinda, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, terakhir berkuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta jurusan Kedokteran Gigi dan akhirnya menyandang gelar Dokter Gigi pada tahun 2013. Pada tahun yang sama saya juga dinikahi oleh sahabat saya, Haidi Nur Hashfi yang saat ini sedang bertugas sebagai Diplomat di KBRI  Astana, Kazakhstan. Saya dan suami dikaruniai seorang putri bernama Jennaira Khansa noura (3,5 tahun), yang lahir di Melbourne ketika suami melanjutkan study S2 di sana.”

Kehidupan di Kazakhstan
Kehidupan keluarga merantau

Pindah ke Astana, Kazakhstan

Pada mulanya kami menerima kabar mengenai kepindahan ke Astana sekitar 4 bulan sebelum keberangkatan. Ketika mendengar kabar dari suami bahwa dia akan ditugaskan di Astana selama kurang lebih 3 tahun dan meminta saya dan putri semata wayang kami yang saat itu baru saja berusia 1 tahun, dalam pikiran saya “Lah pergi lagi? Belum juga setahun pulang ke Indonesia.

 Duh Astana itu dimana ya? Negara apa ya?”

An aerial view of Astana, the capital of Kazakhstan

Antara dag dig dug, exited, sedih, penasaran rasanya saat itu karena ini pertama kalinya bagi saya mendampingi suami bertugas sebagai diplomat di luar negeri.

Saya langsung cari informasi mengenai Astana, persiapan-persiapan untuk keberangkatan dan keperluan selama di sana, serta menyusun rencana keuangan keluarga kami. Untunglah waktu itu ada grup ibu-ibu baik hati, istri-istri teman seangkatan suami yang banyak memberi informasi mengenai persiapan untuk penempatan luar negeri ini.

Selama 4 bulan, kami menyiapkan segala rupa kebutuhan yang harus dibawa dari Indonesia seperti beberapa setelan jas dan teluk belanga untuk suami, kebaya dan pakaian-pakaian nusantara untuk saya dan si kecil, souvenir-souvenir khas Indonesia, serta kebutuhan bahan-bahan makanan yang tidak tersedia di Astana atau barang-barang yang menurut kami lebih terjangkau jika dibeli di Indonesia. Tidak begitu banyak yang kami urus selain itu karena Jenna masih belum sekolah dan saya juga sedang tidak bekerja.

Kami dijadwalkan berangkat pada tanggal 19 Agustus 2016 tengah malam dengan pengalaman yang kurang menyenangkan bagi si kecil Jenna. Saat bangun pagi hari di tanggal tersebut, Jenna dalam keadaan demam dan batuk, mungkin karena lelah karena sebelum berangkat sering pergi bolak balik Jakarta-Serpong untuk suatu urusan dan ikut berpergian untuk persiapan keberangkatan lainnya. Siang hari kami sempatkan membawa Jenna ke dokter untuk dapat meminta perawatan untuk meredakan sakitnya. Dan malam hari kami bertiga berangkat menuju Astana.

Perjalanan kami kurang lebih selama 24 jam dengan penerbangan Jakarta-Seoul selama 7 jam, transit di Seoul 9 jam, dan penerbangan Seoul-Astana selama 8 jam. Selama perjalanan alhamdulillah Jenna tidak rewel sama sekali, tetap ceria walau sedang batuk. Hanya masalah makan saja yang agak susah, karena kondisi tenggorokan yang kurang nyaman sepertinya. Dan pada tanggal 20 tengah malam kami tiba di Astana yang sudah mulai sejuk.

Proses Adaptasi Anak dan Keluarga di Astana

Usia Jenna ketika pindah ke Astana masih terbilang cukup kecil, yaitu 1 tahun 5 bulan. Jenna cukup cepat untuk beradaptasi dengan lingkungan di Astana. Bahkan ketika baru tiba Jenna sudah sangat senang di tempat tinggal barunya. Dan yang paling membuat ibunya gembira, Jenna justru jadi gampang sekali makan setelah pindah ke Astana (setelah sebelumnya drama GTM yang nggak berkesudahan 

Lalu, meskipun udara di Astana sudah mulai sejuk menuju dingin, tetapi Jenna terlihat menikmati karena memang anaknya kurang suka cuaca yang panas. Mungkin juga Jenna tipe anak yang suka dengan hal-hal baru dan sudah saya ajak berpindah-pindah tempat sejak bayi, jadi dia tidak merasa canggung dan cepat beradaptasi ketika baru pindah. Selain itu ada situasi penting yang tidak berubah bagi Jenna, yaitu tetap bersama Ibu dan bapaknya seperti situasi sebelum-sebelumnya.

Perbedaan dengan Kehidupan di Indonesia

Banyak sekali perbedaan yang dirasakan dengan di Indonesia ya. Pertama dari segi cuaca, karena Astana termasuk negara 4 musim yang ketika musim dingin sangat-sangat ekstrim. Suhunya bisa mencapai -40°C dan biasanya musim dingin berlangsung sekitar 7 bulan. Karena itulah Astana mendapat sebutan “The Second Coldest Capital City in The World”.

The Second Coldest Capital City in The World

Kemudian cita rasa makanan di Astana juga berbeda dengan di Indonesia. Kebanyakan makanan disini bercita rasa asin atau sedikit hambar dan tidak begitu variatif seperti di Indonesia dan roti adalah makanan pokok warga setempat.

Contoh makanan tradisional “Beshmarak” yang merupakan makanan nasional Kazakhstan dan terdiri dari daging kuda atau domba rebus yang disajikan dengan potongan bawang bombay dan mie.  

Bumbu-bumi khas Indonesia pun tidak dapat ditemukan di Astana, seperti kecap manis, lengkuas, kemiri, pala, daun jeruk, tempe, daun pandan, dan lain sebagainya. Untungnya bahan makanan seperti tahu, kecambah, kacang kedelai masih bisa didapatkan di Toko Korea.

Kemudian bahasa, jelas beda ya. Tapi lebih menantangnya di Astana jarang orang yang bisa berbahasa Inggris. Bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Russia, tetapi bahasa resminya adalah bahasa Kazakh. Pusing juga awalnya karena saya belum bisa bahasa Russia dan membaca huruf Cyrillic. Akhirnya dengan berbekal bahasa tubuh dan google translate lah komunikasi saya. 

Kegiatan Sehari-hari Sebagai Seorang “Mamarantau”

Kegiatan sehari2 saya disini sebagian besar masih bergulat dengan pekerjaan ibu rumah tangga dengan 1 anak batita pada umumnya.

Saya mulai menyukai masak memasak ketika mulai tinggal di luar negeri, mencoba resep-resep makanan khas Indonesia ataupun resep lainnya. Karena ketika ingin makan makanan Indonesia mau tidak mau saya harus membuat sendiri dam ternyata itu menyenangkan buat saya.

Kegiatan di luar rumah, sesekali pertemuan dengan ibu-ibu Dharma Wanita di kantor suami, mendukung kegiatan di kantor suami misalnya menyediakan makanan khas Indonesia untuk acara-acara bazaar, serta acara spesial seperti menyambut tamu-tamu penting dari Indonesia yg berkunjung ke Astana atau menghadiri acara di kedutaan lain.

Beberapa bulan yang lalu kantor suami juga membuka kelas seni dan bahasa Indonesia-Russia untuk warga lokal serta WNI yang berada di Astana. Saya pun mengikuti kedua kelas tersebut karena saya memang pada dasarnya suka dengan seni, dan belajar bahasa Russia untuk lebih memudahkan dalam interaksi sehari-hari.

Pertama kali saya belajar tari di sini adalah Tari Piring yang berasal dari Sumatera Barat dan Tari Enggang yang berasal dari Kalimantan. Selain itu saya berlatih bermain angklung. Lagu pertama saya adalah Es Lilin dari Jawa Barat. Selama latihan ataupun berkegiatan, Jenna selalu saya bawa karena saya tidak membawa ART di Astana. Alhamdulillah Jenna bisa mengikuti dengan baik, dengan dukungan dan pengertian dari teman2 juga tentunya. Bahkan Jenna sangat senang jika ikut latihan menari, dia bisa ikut berjingkrak jingkrak olah tubuh. Atau ketika ikut kelas bahasa Indonesia-Russia, Jenna secara tidak langsung ikut mendengarkan dan belajar juga.

Kegiatan yang berkesan sejauh ini adalah latihan menari dan bermain angklung. Karena entah mengapa rasanya membuat saya semakin bangga dan cinta dengan budaya Indonesia, bisa belajar sejarah dan maksud dari tarian maupun lagu-lagu daerah Indonesia, serta memang merupakan hobby saya menari dan hal-hal berbau musik yang sudah lama sekali tidak dilakukan.

Di samping itu, pada acara Resepsi Diplomatik RI ke-72 di Asrana ini, saya bisa berkesempatan tampil pertama kali membawakan Tari Piring dan bermain angklung membawakan lagu Yamko Rambe Yamko, Closer, dan Kamazay (lagu populer Kazakhstan) bersama teman2 baik dari Indonesia maupun warga Astana.

Suka Duka Kehidupan di Astana

Sejauh ini fasilitas kesehatan yang saya rasakan kurang sreg di sini. Pengalaman pertama saya di sini ketika Jenna demam tinggi hingga 39°C ketika beberapa bulan kami baru tiba. Dokter di sini jarang sekali yang bisa berbahasa Inggris, sehingga kami harus dibantu oleh staf orang lokal untuk menerjemahkan ke bahasa Russia. Bagaimanapun rasanya kurang puas jika berkonsultasi tidak secara langsung (harus lewat perantara), kadang saya mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan saya karena salah tangkap oleh penerjemah.

Lalu ketika Jenna harus tes darah, mereka menggunakan jarum untuk dewasa untuk tangan semungil anak usia 1,5 tahun ☹. Padahal waktu itu saya periksa di rumah sakit ibu dan anak, tetapi mereka tidak punya jarum untuk anak. Lalu obat-obatan yang diberikan untuk Jenna yaitu berupa tablet semua, dan saya harus menggerus sendiri di rumah karena Jenna yang ketika itu masih berusia 1,5 tahun masih belum bisa minum obat dalan bentuk tablet. Lalu Jenna diminta untuk kontrol lagi setelah 1 bulan dan masih mendapatkan obat-obatanan yang saya juga kurang paham obat apa karena tidak mendapatkan penjelasan dengan baik, padahal kondisinya waktu itu sudah sehat.

Kalau dari cerita teman yang sudah hampir 3 tahun tinggal di Astana, hal itu sudah lebih baik dari pengalaman dia sebelumnya. Karena sebelum-sebelumnya, pasien biasanya akan diberi resep obat injeksi beserta alat suntiknya. Kemudian, anggota keluarga pasien akan diajarkan cara menyuntik obat oleh dokter agar bisa memberikan obat suntik kepada pasien di rumah. Tak heran masyarakat biasa di sini mahir dalam menyuntik. Aneh sih menurut saya sebagai praktisi kesehatan juga, tapi ya mau bagaimana lagi. Sejak pengalaman itu saya sangat memperhatikan kesehatan keluarga di sini.

Selain itu karena Astana termasuk kota yang kecil dan tidak begitu banyak tempat wisata, kota terdekat berjarak lumayan jauh, serta musim dingin yang berlangsung lama membuat saya sering dilanda rasa bosan. Hiburan paling sering yaitu jalan2 ke mall, tetapi kalau mengingat ada negara yang lebih kecil lagi saya harus sudah lebih bersyukur ya.

Harapan Sebagai Keluarga Diplomat

Sepertinya masalah utama yang sering dihadapi adalah mengenai pendidikan anak terutama untuk jenjang sekolah dasar dan selanjutnya, karena tidak semua negara memiliki sekolah indonesia. Meskipun Jenna belum memasuki usia sekolah, tapi ada rasa khawatir bagi saya bagaimana pemilihan pendidikan Jenna nantinya. Mengingat perbedaan kurikulum di Indonesia dengan di luar negeri, dan jika masuk ke sekolah internasional di Indonesia sangat mahal biayanya. Harapan saya ada perhatian dari instansi yang terkait mengenai masalah ini, seperti misalnya ada sekolah untuk anak2 dari para diplomat ketika berada di Indonesia atau mungkin dengan solusi lainnya.

Ketika keadaan tidak mendukung atau tidak sesuai dengan harapan kita, beranilah berbuat sesuatu atau mencoba hal yang baru meskipun kita tidak pernah tau hasilnya seperti apa. Karena bisa jadi kita temukan kesenangan dan manfaat di dalamnya. Dan yang paling penting adalah selalu bersyukur dan percaya bahwa Allah selalu bersama kita dimanapun dan bagaimanapun kita berada.

—- 

Interview oleh tim phdmamaindonesia.com kepada Gita.

Advertisements

Kegiatan Murah Meriah untuk Anak dan Keluarga di London

YokeYoke Wulansari – An Indonesian currently living a life in London. A native speaker of Indonesian with English and Dutch as the second language. I speak Spanish quite well to have a sobremesa-style conversation. My Italian is sufficient to make me survive when I need to buy food or ask for directions. My Mandarin, not bad to order rice with Peking duck. An extrovert that has turned out to be an introvert. I love Indonesia, and constantly miss Bandung.

Merantau di London

Semenjak kurang lebih dua tahun terakhir, saya dan anak laki-laki saya berusia 7 tahun tinggal di London untuk mendampingi suami yang berstatus sebagai karyasiswa di sebuah universitas di bagian barat kota. Sudah jadi rahasia umum khan, bahwa biaya hidup di London, seperti di kebanyakan kota besar lain di Eropa, tidak bisa dibilang rendah dan sering bikin sakit kepala. Tapi, untungnya saya bisa mengatakan kalau kota ini adalah kota yang pengertian dan ramah untuk keluarga dan anak-anak. Mengapa saya berpikir begitu? Karena ternyata pemerintah kota dan berbagai institusi banyak menyediakan kegiatan berkualitas untuk anak yang bisa diikuti tanpa dipungut bayaran dan itu jadi pengalaman yang menyenangkan tidak hanya bagi anak tapi juga bagi orang tuanya. Saya ingin berbagi sedikit tentang pengalaman saya mengikuti kegiatan gratis dan low-budget bersama keluarga.

Berkunjung ke museum yang masuk kategori “The Best Museum in the World”

London punya beberapa museum terbaik dunia dan bayangkan, kita tidak perlu bayar untuk bisa masuk dan menikmati semua koleksinya. Memang sih, mereka menyediakan kotak donasi, tapi kita tidak wajib memberikan donasi. Museum-museum terkenal seperti British Museum, Natural History Museum, Science Museum, Victoria and Albert Museum dan banyak museum lainnya punya koleksi keren yang sayang untuk dilewatkan. Di situs Web museum selalu ada info untuk kegiatan anak dan keluarga. Selalu klik di situ untuk tahu informasi tentang kegiatan yang dirancang khusus untuk anak.

london-natural-history-museum

Di Natural History Museum

Di Natural History Museum

Satu lagi, museum-museum ini ukurannya besar sekali jadi idealnya memang sekali berkunjung dengan anak, kita fokus di area tertentu saja karena apalagi jika kita membawa anak masih kecil biasanya jadi kelelahan. Tapi kalau memang waktunya sempit, selalu cari tahu tentang highlights setiap museum. Jadi dalam waktu singkat kita bisa melihat dan menikmati koleksi paling populer di museum tersebut.

irwinopolis-victoria-and-albert-museum-10

Museum Victoria dan Albert, London, adalah museum seni dekoratif dan desain terbesar di dunia, menampung koleksi permanen lebih dari 4,5 juta objek. Didirikan pada tahun 1852 dan dinamai menurut Queen Victoria dan Prince Albert

Ikut workshop seni dipandu seniman berpengalaman di National Gallery

National Gallery di London memiliki lebih dari 2000 koleksi lukisan dan banyak di antaranya bahkan lukisan maha karya pelukis kenamaan. Untuk anak-anak, mungkin masih sulit memahami lukisan tapi National Gallery punya program yang namanya Studio Sunday. Program ini adalah art workshop untuk anak yang dilakukan setiap hari Minggu. Kegiatannya berbeda-beda seperti menggambar sketsa, melukis, membuat 3-D object, membuat buku ilustrasi, dll. Anak-anak akan dibimbing oleh seniman yang memang bekerja di National Gallery. 

Hasil Menggambar Anak-anak di National Gallery

Hasil Menggambar Anak-anak di National Gallery

Studio Sunday Drawing Session
Studio Sunday Drawing Session

Saya pernah sesekali browsing mencari tahu tentang beberapa seniman pembimbing program ini dan wow, mereka punya jam terbang dan pengalaman yang juga tinggi. Selain Studio Sunday, National Gallery juga punya program seperti storytelling dan pertunjukan musik.

Bebas main di taman-taman London yang super luas.

London dikenal juga sebagai the green capital atau ibu kota yang hijau karena punya 43% lahan hijau. Jumlah taman kotanya juga banyak, ada 3.000 taman. Beberapa yang paling luas dan cantik adalah Hyde Park, Kensington Garden, Green Park, Greenwich Park, Hampstead Heath dan Richmond Park.

Di Kensington Garden, anak-anak bisa bermain di area pasir tempat berlabuh kapal bajak laut dengan ukuran besar. Mereka bisa masuk kapal, memanjat, dll.

playground-1

The Princess Diana Memorial Playground in Kensington Garden

Di Hampstead Heath saat musim panas kita bisa berenang di danau dan hiking sedikit ke Parliament Hill kita akan disuguhi pemandangan kota London yang indah dari atas bukit.

parl-hill-415x275

Parliament Hill Viewpoint – Grassy, romantic hilltop park with benches & iconic views of the London skyline

Kalau mau melihat rusa, kita bisa mengunjungi Richmond Park. Main di taman untuk keluarga kami selalu jadi kegiatan yang menyenangkan. 

image

Kadang dalam sehari kita bisa park hopping karena jarak tamannya berdekatan.

Menyaksikan Changing of the Guards

Siapa yang tidak mengenali penjaga istana dengan seragam merah dan topi bearskin-nya? Hampir setiap hari, bertempat di Istana Buckingham kita bisa menyaksikan prosesi pergantian petugas jaga istana. Mereka berbaris berjalan menuju istana diiringi drumben. Prosesi biasanya dimulai jam 11.00 pagi tapi kalau bawa anak kecil, sebaiknya hindari area Buckingham Palace karena pasti ramai kerumunan orang. Lebih nyaman kalau kita ke arah Wellington Barracks pada sekitar jam 10.15. Di sana para penjaga istana sedang bersiap untuk berjalan menuju Buckingham Palace dan selama menunggu kita malah akan terhibur karena drumben akan memainkan beberapa lagu. Dengan cara ini, kita juga melihat penjaga lebih dekat. 

changing-of-the-guard-buckingham-palace-1

di depan gerbang Buckingham, harus digendong yaa supaya bisa lihat penjaga istana

Di depan gerbang Buckingham, harus digendong yaa supaya bisa lihat penjaga istana

Oh iya, jangan lupa cek dulu jadwal pergantian penjaga di situs webnya British Army karena ada hari-hari tertentu prosesi ini tidak dilaksanakan.

Family Sunday di Royal Opera House

Royal Opera House adalah gedung pertunjukan opera dan balet yang masuk dalam daftar Top 10 Opera Houses versi National Geographic. Untuk orang Inggris sendiri, menikmati pertunjukan di sini adalah hal yang istimewa banget karena harga tiket pertunjukan yang mahal. Tapi khusus untuk keluarga, setiap hari Minggu terakhir dari setiap bulan mereka mengadakan Family Sunday.

11311707403_6db9919197_b

Di acara ini kita bisa masuk gedung opera yang megah dan mengikuti berbagai aktivitas menyenangkan yang berhubungan dengan seni pertunjukan seperti menyanyi, menari, pakai kostum, dll. Setiap bulan susunan kegiatannya berbeda tapi biasanya ada pertunjukan balet, demonstrasi kostum, serta backstage tour. Biayanya tidak terlalu mahal kok, hanya £5 untuk orang dewasa dan £3 untuk anak-anak dan acara berlangsung selama 4 jam.

Jadi anggota Public Library

Jangan lupa untuk daftar jadi anggota perpustakaan. Pendaftarannya gratis dan perpustakaan selalu punya banyak program untuk anak berbagai usia dengan tujuan untuk mengisi hari libur sekolah. Aktivitasnya banyak sekali dan bervariasi mulai dari storytelling, origami, manga drawing, kerajinan tangan dll. Tak jarang aktivitas itu juga disesuaikan dengan tema sesuai musim atau hari raya seperti Paskah, Natal, Diwali, Remembrance Day, dll.

berkegiatan di perpustakaan lokal

Berkegiatan di perpustakaan lokal

Di perpustakaan ini juga kita biasanya bisa dapat info tentang acara anak-anak di sekitar daerah tempat tinggal kita, misalnya pertunjukan teater, open house kantor polisi, stasiun pemadam kebakaran, dll.

di acara open house metropolitan police dan london fire brigade

Di acara open house metropolitan police dan london fire brigade

Main Air Mancur Spektakuler di Musim Panas.

Biasanya saat musim panas, kita bisa menemukan beberapa air mancur di London yang bisa dipakai bermain anak. Awalnya saya juga hanya lihat-lihat saja karena kalau di Indonesia biasanya kan dilarang yaaaaa bermain di air mancur. Tapi saya perhatikan, anak-anak lain kok bebas main air mancur basah-basahan malah ada yang ganti baju pakai baju renang. Saya lihat orang tua mereka juga membawakan baju ganti.

Main Air Mancur di Southbank

Main Air Mancur di Southbank

Jadi ternyata air mancur itu memang boleh banget jadi arena bermain anak. Beberapa tempat air mancur yang keren buat splish splash splosh ada di Southbank, Granary Square, Diana Memorial Fountain dan Queen Elizabeth Olympic Park Fountain. Water jets-nya bikin anak-anak betah banget.

image1

Queen Elizabeth Olympic Park Fountains

Winter Wonderland

Menjelang musim dingin, biasanya di awal bulan bulan November kita bisa berkunjung ke Winter Wonderland di Hyde Park. Seluruh area taman disulap jadi taman hiburan yang dipenuhi dengan berbagai atraksi dan rupa-rupa jajanan yang enak. Untuk masuk Winter Wonderland kita tidak perlu bayar. Kita hanya bayar jika ingin naik atraksi tertentu seperti komedi putar, ferris wheel, dll. 

winterwonderland

Kalau tidak ingin naik atraksi kita tetap bisa merasakan meriahnya suasana menjelang musim dingin. Anak-anak pasti suka mencoba jajanan khas marshmallow panggang dan cotton candy.

 

Nonton Film Anak dengan Harga Khusus

Tiket masuk untuk menonton film di bioskop di London tergolong mahal. Untuk dewasa sekitar £12 dan anak £8. Tapi di setiap hari Sabtu dan Minggu, dan juga saat libur sekolah, anak-anak bisa nonton film dengan harga khusus. Di UK ada beberapa perusahaan bioskop. Dua yang paling terkenal yaitu Odeon dan Vue punya program Kids Screening dan Mini Mornings yang menayangkan film anak-anak. 

image001

Memang film yang ditawarkan bukan film yang baru saja dirilis, tapi saya sering memilih program ini sebagai alternatif hiburan karena murah meriah. Berbeda jauh dengan harga normal, kita hanya harus membayar £3.5 per orang (harga dewasa dan anak sama).

London Open House

London punya banyak bangunan menarik yang sebetulnya tidak terbuka untuk umum. Namun satu tahun sekali, di acara yang dinamakan London Open House, masyarakat boleh masuk gratis dan melihat bagian dalam bangunan. Untuk tahu bangunan apa saja yang masuk dalam daftar, kita tinggal berkunjung ke situs web acara ini. Khusus untuk anak-anak, ada Open House Junior. Bangunan yang masuk dalam daftar Open House Junior, cocok untuk dikunjungi anak disertai dengan berbagai aktivitas untuk anak berbagai usia. Beberapa yang menarik adalah program City of a Thousand Architects yang diadakan di City Hall. Di sini anak-anak bisa ambil bagian membuat rancangan gedungnya untuk ditempatkan di maket kota London masa depan.  

cityofthousandarchitects_cityhall

Selain hal-hal yang telah saya sebutkan di atas, tentunya masih banyak kegiatan lain yang diadakan sepanjang tahun. Disamping kegiatan gratis, TFL atau Transport for London, penyedia jasa transportasi umum untuk kota London punya kebijakan kids go free. Jadi kalau kita menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta bawah tanah dan tram, anak sampai usia 11 tahun tidak perlu bayar. Bahkan satu orang dewasa diperbolehkan membawa maksimal 4 orang anak di bawah usia 11 tahun. Tidak bisa dipungkiri, biaya transportasi di London mahal – bahkan salah satu yang tertinggi di dunia karena masih lebih mahal dibanding kota New York – tapi karena anak tidak perlu bayar, kami agak terhibur dan jadi nggak pernah mati gaya selama tinggal di London ☺

Semoga bermanfaat, yaaa..! Untuk beragam kegiatan FREE dan murah meriah lainnya, beberapa Website seperti: http://www.london-baby.com dan www.familybreakfinder.co.uk juga dapat membantu..!

=====

More about London stories from Yoke can be read at her blog: https://ladybugonthego.wordpress.com

[Mamarantau Tips] Pengalaman Naik Pesawat dengan Bayi 1 Bulan

Fathiannisa Gelasia (Icha) – Seorang litigator yang sekarang beralih profesi mendedikasikan waktu serta tenaga untuk merantau bersama suami ke Bangkok dan menjadi stay at home mom.

Tips Pertama:  Naik Pesawat dan Traveling Bersama Bayi 1 Bulan

Saya dan suami pertama kali membawa Dhaulagiri pulang ke Indonesia dengan pesawat ketika Dhaulagiri berusia 1 bulan 7 hari. Waktu itu kami, terutama saya, lumayan panik dan kebingungan, karena ini pertama kalinya membawa anak bayi yang bahkan belum berusia 40 hari untuk naik pesawat terbang. Sesuai dengan rekomendasi dokter di Bangkok, tidak ada halangan untuk Dhaula bisa naik pesawat, dan tidak ada keharusan untuk saya menutup lubang telinganya, sesuai dengan apa yang direkomendasikan banyak orang selama ini.

Seandainya memungkinkan, memang lebih baik apabila ketika lepas landas maupun mendarat Dhaulagiri aktif menggunakan otot-otot di rahang dan rongga kerongkongannya, agar tidak ada udara yang tersumbat ketika tekanan kabin naik. Akan tetapi, dokter kami tidak mewajibkan hal tersebut. Untuk berjaga-jaga, saya tetap membawa kapas yang sudah digulung kecil-kecil untuk telinga Dhaula. Kami sengaja membeli tiket pulang ke Indonesia pada malam harinya, ketika jam tidur Dhaula. Alhamdulillahnya, Dhaula sejak usia 1 bulan selalu tidur di waktu yang sama setiap malamnya, dan Alhamdulillah masih beranjut hingga sekarang sudah berumur 4 bulan 11 hari. Walaupun masih terbangun 2-3 kali setiap malamnya, tapi antara pukul 20.00 – 21.00 pasti sudah tertidur di kamar.

Pengalaman pertama naik pesawat bersama Dhaula berjalan lancar. Dhaula sempat menangis 20 menit pertama di pesawat, karena tidurnya terganggu dengan suara-suara di pesawat, dan arena saya juga panik, maka mungkin Dhaula ikut menjadi panik juga. Akhirnya sepanjang perjalanan pulang tersebut, karena saya tidak bisa menenangkan Dhaula saking paniknya, akhirnya Dhaula digendong oleh bapaknya hingga kami mendarat di Soekarno Hatta. Tidak ada kapas yang tersumpal di telinga Dhaula maupun susu yang diminum sesuai rencana, tapi untungnya Dhaula tidak mengalami gangguan pada telinganya.

Hingga hari ini, Dhaula sudah 8 kali naik pesawat terbang, dan semuanya tanpa menggunakan kapas pada telinganya. Apabila memungkinkan dan Dhaula sedang terbangun, pasti saya beri susu. Namun apabila tidak, saya dan suami tidak memaksa Dhaula untuk bangun dari tidurnya untuk minum susu. Yang paling saya ingat adalah perjalanan pulang kami dari Korea Selatan kembali ke Bangkok, ketika Dhaula masih berusia 2,5 bulan. Kami mengambil pesawat  sore karena tidak ada jadwal untuk pesawat malam. 2 jam pertama Dhaula tertidur pulas, tapi lalu terbangun karena tiba-tiba Dhaula harus buang air, dan lalu pampersnya bocor, haha. Jadilah saya harus memandikan Dhaula di wastafel kamar mandi pesawat terbang yang sangat sempit tersebut.

Tips dari saya, intinya sebagai orang tua tidak boleh panik, karena pastinya anaknya ikutan panik juga.  Tidak usah terlalu strict dan yang penting dibawa happy. Anak bayi menangis ketika lepas landas ataupun mendarat saat naik pesawat itu hal biasa, kadang-kadang Dhaula juga menangis, tapi saya dan suami cuek aja. Dibawa happy sambil ajak ngobrol si bayi. Untungnya suami saya selalu siaga membantu saya menjaga Dhaula, ditambah suami saya tipe orang yang anti panik, jadilah kalo saya panik sedikit pasti langsung dibantu untuk bisa santai lagi.

Tips Kedua: SLING WRAP, BABY CARRIER ATAU STROLLER?

Kondisi pedestrian street di Bangkok tidak semaju di Negara-negara Barat sana; jalanannya tidak rata, banyak lubang dan tidak semua stasiun ataupun terminal untuk kendaraan publik memungkinkan kami menggunakan stroller. Saya mulai menggunankan sling wrap ketika Dhaula berumur 2 minggu, merk saya gunakan adalah Boba, bentuknya kain panjang dengan bahan elastis yang cara penggunaannya harus dililit di badan saya.

Saya juga punya baby carrier dengan merk ergo baby, dan mulai digunakan sejak Dhaula berumur 2 minggu juga. Dengan penggunaan sling wrap ataupun baby carrier itu, saya bisa dengan bebas menggunakan kedua tangan saya untuk beraktifitas, dan entah kenapa Dhaula selalu dapat tidur lebih lelap dengan kedua benda tersebut. Bahkan diawal-awal, suami saya setiap malam membantu saya menidurkan Dhaula dengan menggunakan ergo baby sebelum dipindahkan ke kasur. Untuk berjalan-jalan pun kami lebih prefer untuk menggunakan sling wrap atau baby carrier.

Selama di Korea dan Koh Samui, keduanya adalah benda yang wajib ada di dalam tas saya. Mungkin karena posisi Dhaula ketika digendong seperti dipeluk dan di dekat dengan dada saya atau suami, sehingga tidurnya pun lebih tenang. Akan tetapi untuk sekarang, saya dan suami membatasi penggunaannya hanya apabila kami berjalan-jalan keluar rumah atau apabila saya harus beraktifitas di rumah, seperti memasak, menyapu, dll.

Sementara untuk stroller, Dhaula belum bisa terlalu lama dan betah duduk berlama-lama di stroller, sehingga walaupun kami keluar membawa stroller, kami tetap berjaga-jaga membawa salah satu dari sling wrap atau baby carrier. Merk stroller yang kami gunakan adalah Babyzen Yoyo karena tingginya frekuensi kami untuk travelling, maka suami saya memilih untuk invest di stroller yang kokoh, ringan dan kecil ketika dilipat. Sewaktu kami travelling ke Koh Samui saat liburan songkran kemarin, hanya dua kali kami menggunakan stroller, sisanya dengan boba atau ergo. Keadaan jalanan di Koh Samui hampir tidak memungkinkan kami untuk menggunakan stroller. Ditambah karena destinasi kami adalah pulau, maka stroller lebih sering digunakan apabila kami berjalan-jalan disekitar hotel saja.

Tips saya untuk yang mau berwisata ke Bangkok, selalu sedia kain untuk menggendong anak, baik itu slingwrap, geos ataupun kain jarik dan atau baby carrier, karena kondisi jalanan dan udara di Bangkok tidak selalu memungkinkan untuk penggunaan stroller, apalagi jika bentuk strollernya adalah heavy weight stroller.

===

Merantau di Heidelberg, Jerman

foto-keluargaTheresia Rajaguguk has been living in Germany for over than a decade. She works as a Finance expert and lives with her husband and two children.  She loves gardening, decorating and playing volleyball!

 Merantau di Heidelberg

Saya, suami saya, Steve, dan kedua anak kami Eleora (4,5 tahun) dan Eliott (2 tahun) tinggal di Heidelberg, Jerman. Heidelberg merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jerman. Kotanya cantik, dilintasi sungai Neckar, dan ada kastil yang sebagiannya sudah runtuh. Heidelberg juga terkenal sebagai kota universitas. Universitas Heidelberg merupakan universitas tertua di Jerman.

germany-heidelberg-university

Heidelberg University

Selain itu, ilmu kedokteran di Heidelberg cukup ternama, sampai-sampai pusat riset kanker di Eropa didirikan di Heidelberg. Ditambah juga dengan banyaknya perusahaan nasional maupun internasional yang ternama di sekitar Heidelberg membuat komposisi masyarakat di kota Heidelberg menjadi sangat beragam.

germany-heidelberg-hauptstrasse-altstadt

Hauptstrasse and the Altstadt (Old Town)

Walaupun disibukan oleh pekerjaan, saya berusaha menyediakan waktu yang cukup untuk suami dan anak-anak. Hari Sabtu kami usahakan selalu bersama, jadi kalau ada undangan dari teman, biasanya kami datang sekeluarga. Hari Minggu adalah hari gereja buat kami. Pagi dan sore hari kami ikut kebaktian di gereja, siangnya sering diisi makan siang bersama teman gereja. Gereja kami, Gereja Bible Baptist ini telah berdiri sejak 20 tahun yang lalu, dipimpin oleh misionar dari Amerika.
Semenjak tinggal di Jerman, hobi saya berubah. Saya jadi suka berkegiatan di luar seperti berkebun, jalan-jalan di hutan, dan barbeque. Seperti kebanyakan ibu-ibu yang tinggal di luar negeri, tanpa disadari saya juga jadi hobi masak, apalagi masakan Indonesia.

hasil-berkebun

Hasil kebun kami.

kebun

Sebagian dari tanaman di kebun.

Saya lebih suka musim dingin daripada musim panas “Es gibt kein schlechtes Wetter, es gibt nur falsche Kleidung!“ Pernyataan ini benar sekali menurut saya, terutama untuk Jerman yang lebih banyak dinginnya daripada panasnya. Kalau kedinginan, saya bisa pakai baju yang tebal dan berlapis-lapis. Kalau musim panas, mau pakai baju setipis apapun, tetap saja panas. Kalau sudah panas sekali, saya tidur di basement. Anak-anak juga berpindah main di basement. Karena orang Jerman sangat menghargai environment, mereka tidak suka pakai AC.

58389f0c39ad5d1cd94fe19ff573a0ab

During winter in Heidelberg

Awal Hidup di Jerman

Tahun 2003 saya datang ke Jerman, tinggal di kota Darmstadt, dengan tujuan melanjutkan kuliah master sebagai bekal saya untuk pulang ke Indonesia dan menjadi dosen, cita-cita saya saat itu. Saya lulusan teknik sipil dari Universitas Katolik Parahyangan dan ekonomi dari Universitas Padjadjaran Bandung. Jerman merupakan pilihan saya karena biaya kuliah di Jerman bisa dibilang hampir gratis. Kenapa hampir gratis? Karena saya hanya membayar biaya administrasi yang sudah termasuk tiket transportasi umum yang per semester-nya tidak sampai 100 EUR.

Tahun 2003 saya memulai kuliah master di bidang bisnis dan administrasi di Hochschule Anhalt, Jerman. Ketika saya lulus di tahun 2005, perekonomian Jerman dan negara Uni Eropa sedang tidak baik. Susah sekali saat itu mendapatkan pekerjaan. Karena saya masih ingin tinggal di Jerman, saya melanjutkan kuliah master di Universität Konstanz. Kira-kira setengah tahun sebelum lulus, saya kerja praktek di SAP dan sejak saat itu sampai sekarang, saya bekerja di perusahaan yang sama.

ngerasain-tinggal-di-4-kota-di-jerman

Merasakan hidup di 4 kota di Jerman.

 

 Ibu Bekerja di Jerman

Suami saya dan saya bekerja di perusahaan yang sama, SAP SE. SAP merupakan perusahaan internasional yang bergerak di bidang software. Karena itu, walaupun kami bisa berbahasa Jerman, kami lebih sering berbahasa Inggris di kantor. Saya kerja fulltime di bidang finance. Pekerjaan saya tidak mengharuskan saya bekerja dari jam 8 sampai 5 sore karena role-nya global, jadi saya berkomunikasi dengan orang-orang di kantor lokal SAP mulai dari Australia sampai dengan Brazil. Saat ini saya bertanggung jawab di bidang finance untuk salah satu cloud solution yang SAP tawarkan, namanya SAP ByDesign. Mulai bulan September saya akan pindah ke departemen lain. Kali ini saya akan pegang solusi Hana Enterprice Cloud (HEC) dan S/4 HANA Cloud.

SAP-Zentrale 16zu9

SAP HQ di Walldorf, ca. 15 km dari Heidelberg

Waktu kerja saya cukup fleksibel yang bisa mulai dari jam 7 pagi dan bisa juga berakhir di tengah malam. Tetapi jadwal kerja ini saya yang buat sesuai dengan kegiatan pribadi saya juga di hari itu. Saya sangat suka dengan pekerjaan saya dan orang-orang di lingkungan kerja saya. Saya banyak bekerja dengan lelaki dan mereka tidak menganggap remeh saya. Juga saat saya cuti melahirkan (10,5 bulan untuk anak pertama dan 7,5 bulan untuk anak kedua), kantor sangat mendukungnya. Saat saya kembali bekerja, bos saya memberikan tugas yang menantang walaupun dia tau saya punya dua anak kecil. Bos saya, lelaki, bilang banyak kejadian kalau ibu rumah tangga lebih efisien dalam bekerja karena mereka harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum jemput anak, jadi tidak ada istilah santai dulu deh, bisa dikerjain nanti. Ini dibuktikan dengan saat bos saya memberikan spot award dua kali kepada saya di tahun saya kembali dari parental leave.

Oh iya, di Jerman setiap ibu atau bapak yang baru saja mempunyai anak boleh mengambil cuti sampai 3 tahun. Ibu wajb cuti 6 minggu sebelum tanggal kelahiran anak dan 8 minggu sesudahnya dengan gaji dibayar penuh. Setelah 8 minggu sampai dengan anak berumur 14 bulan, ibu dan/atau bapak boleh mengambil cuti dari kantor dan gajinya sebesar 67% dari gaji bersih, maksimal 1800 EUR akan dibayarkan oleh negara. Tetapi kalau hanya ibu atau bapaknya saja yang ambil cuti, hanya sampai usia anak 12 bulan akan dibayarkan oleh negara. Sedangkan kalau ibu dan bapak mengambil cuti di waktu yang bersamaan, uang yang diberikan oleh negara tidak sampai umur anak 14 bulan, tetapi uang itu akan dibayarkan dengan total jumlah 14 kali. Selain itu, anak juga mendapatkan uang dari negara sebesar 190 EUR sampai anak mendapatkan pekerjaan atau maksimal usia anak 25 tahun.

heidelberg_germany_10082005_main_street

Heidelberg Main Street

Waktu melahirkan anak pertama, saya ambil total cuti 10,5 bulan dan suami ambil cuti 6 bulan. Untuk anak yang kedua, saya ambil total cuti 8,5 bulan dan suami ambil cuti 8 bulan. Saat anak kami berumur 14 bulan, mereka mulai kami titipkan di daycare yang juga ditunjang oleh kantor. Lumayan, setiap bulannya kami membayar lebih murah karena subsidi dari kantor. Biaya daycare di Jerman termasuk jauh lebih murah daripada di US atau UK karena negara memberikan tunjangan yang lumayan besar ke daycare yang dikelola olah institusi milik negara atau oleh gereja. Tetapi biaya bulanan TK/daycare yang dapat tunjangan dari pemerintah biasanya bergantung dari penghasilan kotor keluarga. Semakin tinggi penghasilan, semakin besar biaya yg dibayarkan ke TK/Daycare. Kalau Private TK/Daycare menetapkan biaya yang tetap, tanpa mempertimbangkan faktor keuangan. Sedangkan biaya sekolah dari SD hingga kuliah itu gratis. Kecuali kalau sekolah swasta/private yah, biayanya ditetapkan oleh insitusi nya.

Dibawah ini table biaya TK di Heidelberg. Kalau Daycare, biayanya sekitar 2 kali lipat deh untuk insitusi yang sama.

Anak pertama kami sudah masuk TK yang tidak jauh dari rumah kami. Anak kedua kami masuk di Daycare yang letaknya di sebelah gedung kantor saya. Jadi kegiatan kami di pagi hari dimulai dengan sarapan bersama, mengantar anak pertama ke TK, lalu pergi ke kantor dan menurunkan anak kedua di daycare. Sorenya kami jemput anak kedua, lalu jemput anak pertama, dan pulang sama-sama ke rumah.

Tapi saat summer holiday seperti saat ini, TK dan daycare juga ikutan tutup selama 3 minggu. Repotnya, karena TK dan daycarenya bukan di institusi yang sama, jadwal tutup mereka juga sedikit berbeda. Libur mereka cuma overlapped selama 1 minggu. Jadi selama 5 minggu kami harus memikirkan bagaimana mengatur pekerjaan kantor dan mengurus anak. Kadang-kadang anak ikut ke kantor, jadi saya tidak perlu masak makan siang karena kami sekeluarga bisa makan di kantin. Ada beberapa ruangan kantor yang dijadikan ruangan kerja untuk orang tua yang membawa anaknya. Jadi orang tua bisa bekerja dan anak-anak main bersama.

Nanti kalau anak-anak saya sudah lebih besar, kami bisa mendaftarkan anak kami ke program summer holiday yang ditawarkan oleh pemerintah kota. Tergantung dari umur anak, ada program liburan yang menginap tetapi lebih banyak lagi yang dilakukan setiap hari dari pagi sampai sore, jadi anak-anak tidak perlu menginap. Programnya seperti belajar bagaimana bekerja di kebun binatang, program latihan olah raga seperti basket, renang, sepak bola, dll, program membaca di perpustakaan, program seni, dan masih banyak lagi. Biaya yang dikenakan juga tidak terlalu banyak, jadi tidak membebankan orang tua.

Sebagai pegawai di Jerman, kami dapat libur 30 hari kerja setahunnya. Di SAP, liburan yang tidak terpakai di tahun sebelumnya, bisa juga dibawa ke tahun-tahun berikutnya. Jadi saya dan suami sudah menabung libur yang bisa kami pakai kalau anak-anak sudah masuk sekolah dasar. Karena liburan summer di sekolah dasar bisa sampai dua bulan lamanya. Orang tua tanpa kakek dan nenek seperti kami ini diwajibkan kreatif deh kalau sudah punya anak di usia sekolah karena total liburan anak sekolah lebih sedikit daripada libur orang bekerja.

schloss-heidelberg-famous-castle-in-germany

Schloss Heidelberg, one of the famous castle in Germany

Ibu merantau IRT vs Ibu bekerja di Jerman

Terus terang saya tidak bisa membandingkan antarai IRT dan ibu yang bekerja di luar rumah karena saya selalu bekerja di luar rumah bahkan sebelum menikah. Tetapi kalau saya ingat-ingat waktu saya cuti melahirkan, saya jadi punya banyak waktu untuk ikutan komunitas ibu-ibu di Heidelberg. Waktu cuti melahirkan anak pertama, saya ikut menjadi group leader di komunitas ibu-ibu namanya MOPS (Mother of Preschoolers) Heidelberg. Waktu cuti anak kedua, saya ikutan lagi. Ada 2 groups MOPS di Heidelberg: satu yang pakai Bahasa Inggris, satunya lagi Bahasa Jerman. Setiap tahun tema yang dibahas berbeda-beda. Saya juga banyak belajar tentang kerajinan tangan di grup MOPS ini. Ada mentor mama, mama yang sudah senior, yang membimbing kita dan “memanjakan” kita. Contohnya: sewaktu saya pulang dari RS setelah melahirkan, selama 4 minggu, teman-teman dari MOPS membawakan makanan untuk keluarga saya seminggu 2 kali. Teman-teman gereja membawakan makanan juga seminggu dua kali. Jadi dalam sebulan pertama setelah melahirkan, saya tidak perlu memasak.

mops_kerajinan-tangan_2

mops_kerajinan-tangan

Hasil kerajinan tangan MOPS

Enaknya ikut MOPS, saya jadi kenal dengan ibu-ibu yang mempunya anak bayi. Kami banyak meluangkan waktu bersama, berdiskusi, dan belajar bagaimana menjadi ibu di Jerman. Sering kami bertemu di playground. Oh iya, playground bisa ditemukan di setiap sudut perumahan di Jerman. Pemerintah Jerman sangat mengutamakan ruang bermain untuk anak-anak.

asd1

Saya tidak bisa melihat perbedaan antara IRT dan ibu bekerja di luar rumah. Menurut saya effort ibu sama saja. Mungkin IRT terkadang bisa dilihat lebih santai karena tidak harus bekerja diluar rumah, sedangkan ibu yg bekejar juga masih harus bekerja di rumah jadi IRT. Tetapi saya juga lihat kalau saya mendapat banyak bantuan dengan adanya daycare dan TK sampai sore, sedangkan biasanya IRT tidak menitipkan anaknya di daycare atau TK sampai sore. Jadi ada positif dan negative di mata masing-masing orang dan lebih baik melakukan apa yg menurut kita baik, bukan apa yg menurut orang lain baik.

Komunitas Indonesia

Karena saya pindah ke Heidelberg setelah saya bekerja, saya tidak sempat kenal dengan komunitas Indonesia di Heidelberg. Saya ikut komunitas lain seperti diceritakan di atas. Waktu saya tinggal di Darmstadt dan Konstanz semasa saya kuliah, saya rajin ikut komunitas Indonesia di kota itu, seperti PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dan Perki (Persekutuan Kristen Indonesia). Sampai sekarang pun teman-teman Indonesia saya adalah teman sejak sama-sama kuliah.

Tips Sebagai Ibu Bekerja di Jerman

Sebagai ibu bekerja, saya harus pintar-pintar mengatur waktu dan tenaga supaya tidak sampai burn out dan keluarga tetap terjaga. Ini tips yang selama ini saya lakukan:

  1. Rumah berantakan; na und? (so what?)

Dengan dua anak yg sedang asik bereksperimen, saya sih sudah tutup mata aja deh kalau rumah berantakan. Saya tidak mau membatasi ruang belajar anak. Karena saya tidak kasih anak main gadget, jadi wajar saja kalau mereka main dengan segala macam mainan yang ada di dalam rumah maupun di luar rumah. Hasilnya, yah rumah seperti kapal pecah.

Saya tidak terlalu ambil pusing. Saya rapikan sebisanya saja. Saya juga belum mau hire Putzfrau (cleaning lady) untuk bantu-bantu di rumah

Tips yg bisa saya share: undang orang kerumah sesering mungkin.

Entah kenapa kalau tau akan ada tamu, kami sekeluarga jadi cepat banget bersihin rumah (termasuk anak-anak juga ikutan karena mereka excited mau kedatangan tamu). Jadi rumah lebih sering bersih dan kita jadi bisa ketemu teman-teman dengan santai di rumah daripada ketemu di café.

2. Masak secara efisien dan dalam jumlah besar

Masak dalam jumlah besar berarti juga belanja dalam jumlah besar. Saya belanja seminggu sekali, kadang dua kali kalau ada yg kelupaan. Biasanya saya belanja di supermarket yang cukup besar, hari jumat sore atau sabtu pagi dan masak yang banyak di hari Sabtu. Sebagian hasil masakan saya masukan kulkas, sebagian lagi saya bekukan di freezer. Jadi kalau pas lagi sibuk di hari kerja, tinggal keluarin makanan beku. Karena berteman dengan banyak orang Amerika, saya juga jadi terbiasa menggunakan slow cooker untuk masak (di Jerman slow cooker sama sekali tidak terdengar).

Buat saya, invest di peralatan masak sangat berguna. Saya ga ngomong tentang kitchen machine yang harganya lumayan, mulai saja dari pisau yang tajam atau panci yang bagus. Ini sudah bantu banget.

Masak efisien juga artinya masak yang terencana. Kadang saya merencanakan akan masak apa jauh-jauh hari. Salah satu contohnya, waktu anak saya ulang tahun, tradisinya adalah bawa kue ulang tahun ke Kindergarten sebelum jam makan siang. Jadi pagi-pagi saya kerja dulu dari rumah, lalu bikin adonan kue dan kue siap dipanggang. Saat kue dipanggang, saya kerja lagi. Satu hal yang saya suka adalah beli peralatan masak yang bisa bantu masak lebih efisien. Jadi untuk ultah anak, saya beli cetakan kue bentuk bunga matahari. Total waktu yang saya habiskan untuk bikin kue ini tidak lebih dari 1 jam. Ini hasilnya.

ulang-tahun-anak_kue-ultah

 

  1. Time management dan kerja sama dengan suami

Karena saya juga bekerja, suami dan saya harus bekerja sama dalam menyelesaikan tugas rumah. Tiap malam kami komunikasikan jadwal kami untuk esok hari, siapa yg antar anak, jemput anak, dll. Ada meeting-meeting yang tidak bisa saya hindari terjadi di waktu yg sama dengan waktu antar/jemput anak sekolah atau ke dokter atau ikut kegiatan anak di sekolah, karena itu kerja sama dengan suami amat sangat diperlukan. Selain itu, banyak tugas-tugas rumah yang jadi tanggung jawab suami juga. Jadi keberhasilan ibu bekerja sangat banyak dipengaruhi oleh peran suaminya di rumah kalau menurut saya.

Waktu anak saya ulang tahun, saya adakan acaranya di rumah. Karena dengan begitu, saya tidak terlalu menghabiskan banyak waktu, kebetulan acara ultahnya itu di hari kerja. Jadi sebelum dan sesudah acara, saya masih bisa kerja. Saya undang beberapa anak dari Kindergarten dan ibu mereka. Saya masak sesuatu yang gampang saja. Buat orang Jerman, makanan Indonesia sesederhana apapun, jadinya mewah untuk mereka. Karena yah beda aja jenis makanannya. Saat itu saya buat nasi kuning pakai bumbu jadi di rice cooker, mie goreng, ayam panggang tinggal masukin over, kerupuk yang sudah jadi beli dari toko asia, dan sosis direbus buat anak-anak.

ulang-tahun-anak

  1. Tetap sediakan waktu untuk menyalurkan hobi

Setiap orang pasti sibuk dong, entah ibu IRT maupun ibu bekerja. Dari pengalaman saya, to keep my sanity level, saya selalu menyediakan waktu untuk menyalurkan hobi saya. Tidak perlu waktu yang lama, 1 jam sehari untuk diri sendiri sudah lebih dari cukup. Biasanya kalau sudah suntuk, saya pergi ke kebun liat tanaman dan kasih makan ikan mas di kolam belakang. Setiap Rabu, saya ikutan kegiatan di gereja. Setiap kamis, saya ikutan main voli dengan ibu-ibu di Heidelberg. Jadi belum sampai suntuk banget, sudah disegarkan kembali oleh kegiatan-kegiatan yang saya memang suka.

Satu hobi yang saya dan suami saya juga suka adalah memperbaiki rumah atau mendekorasi ruangan-ruangan di rumah sendiri. Ini hobi yang juga bikin kantong tidak kempes karena ongkos tukang di Jerman mahal sekali. Dari hobi ini, kami sudah bikin kamar tidur anak, garden, kamar mandi, pasang lantai dan lain-lain.

 

  1. Belanja online

Sebelum punya anak, saya senang sekali pergi ke mall atau kota atau factory outlet. Kadang yg dibeli juga tidak banyak, tetapi senang lihat-lihatnya. Setelah punya anak, saya banyak mengubah strategi karena waktu untuk belanja makin berkurang sedangkan harus diakui keluarga saya juga perlu baju dan barang-barang lain. Saya banyak belanja online. Mulai dari beli baju buat saya, suami, anak-anak, mainan anak2, sampai beli peralatan rumah tangga. Saya punya daftar apa saja yang harus dibeli. Kalau tidak begini, jangan-jangan jadi laper mata. Dan juga dengan adanya daftar, jadinya cepat selesai belanjanya.

  1. Maintain personal finance

Mungkin karena pekerjaan saya di bidang finance, saya sangat sadar tentang keuangan keluarga saya. Buat saya, uang bukan segalanya dan saya tidak mau diperbudak oleh uang. Karena itu saya harus bisa manage apa yang ada supaya keluarga saya tetap bisa menikmati kehidupan dengan level yg sama. Saya tau keadaan keuangan keluarga saya dan saya tau apa yang keluarga saya mau capai. Dengan itu, saya membuat rencana dan bagaimana mencapai keinginan dan cita-cita keluarga saya, seperti mengatur pengeluaran, memantau pemasukan, analisis investasi dan hanya investasi kalau saya sudah tau seluk beluk bidang itu dan investasi hanya kalau suami setuju, mengoptimalkan tax, dan melihat tunjangan atau program dari negara yg bisa ambil. Saya pikir ini adalah pekerjaan dasar semua ibu untuk mengatur keuangan keluarga.


blog: http://tinggal-di-jerman.com

Edited by Mamarantau’s Content Editor Ajeng @misskepik

Merantau di Le Barcares

csOntel – I am a housewife and mother who love outdoor activities. I am actually a serious one but people said that I smile and laugh a lot. I love  british accent, watching football and I am a biggest fan of Manchester United FC.

 

Saya tinggal di Perancis setelah menikah dengan Monsieur yang berkebangsaan Perancis pada tahun 2011. Satu tahun setelah menikah, saya melahirkan petit monsieur, dan sekarang kami tinggal di sebuah kota di tepi pantai Mediterania bernama Le Barcares.

Merantau di Le Barcares

Saat ini saya tinggal di kota tepi pantai Mediterania bernama Le Barcares. Karena letaknya yang di selatan Perancis, kota saya ini selalu memiliki suhu yang lumayan hangat sepanjang tahun. Jadi jangan berharap ada salju tebal yang turun di kota ini di musim dingin, hujan saja jarang sekali, yang ada itu ya angin kencang.

1802178_barcares

Le Barcarès is a commune in the Pyrénées-Orientales department in southern France bordering the Mediterranean Sea

Hal-hal yang menarik untuk dikunjungi di kota Barcares

Pantai

Kalau musim panas, jangan ditanya ramainya. Pantai dan jalanan penuh sama para turis yang datang dari berbagai negara. Nah, biasanya kalau musim panas untuk para turisnya, pantai Barcares menyewakan fasilitas olah raga air seperti yacht, jet ski, dsb. Dan untuk yang suka party, hampir setiap weekend akan ada DJs yang siap untuk menemani para turis menghabiskan malam. Di daerah sekitaran pantai Grande Plage, terdapat salah satu perahu besar bernama Le Lydia yang menjadi salah satu kantor turisme di kota Barcares ini. Di sekitaran Lydia ini terdapat pedestrian yang cukup nyaman dan bersih, yang menarik kita juga dapat melihat instalasi artistik yang berada di sepanjang jalan.

beach4 (1)

Pelabuhan

Kalau untuk saya pribadi, tempat yang jadi favoritnya saya di kota Barcares ini itu adalah pelabuhannya. Enggak tahu kenapa, tapi saya suka banget bersepeda ke tempat ini, melihat para nelayan yang sedang mempersiapkan jala,  mencium aroma laut, mengagumi rumah singgah nelayan yang berwarna-warni, dan menikmati senja di antara perahu nelayan. Buat saya pribadi hal-hal seperti itu yang menjadi data tarik pelabuhan Barcares ini.

IMG_0725 (1)

fishermen house (1)

Le village magique de Noel

Walaupun Barcares ini ramainya di musim panas, bukan berarti tidak ada hal menarik yang layak dikunjungi di musim dingin. Objek turisme musim dingin yang harus dikunjungi di Barcares adalah Le Village Magique de Noel. Desa yang penut dennen ‘keajaiban’ ini judah ada sejak tahun 1999. Ini adalah desa buatan yang didekorasi sedemikian rupa sehingga menciptakan kesan bahwa kita sedang berada di sebuah negeri dongeng yang penuh dengan keajaiban. Inti dekorasi kota ‘ajaib’ yang selalu sama setiap tahunnya adalah pepohonan yang dipenuhi dengan butiran salju (buatan tentunya). Kemudian dekorasi tambahan lainnya adalah lampu-lampu hias dalam berbagai bentuk, yang selalu berganti setiap tahunnya.

IMG_0270 (1).jpg

skatingatvillagemagique

Pines Forest

Hutan pinus di Barcares ini menjadi tempat refreshing yang sangat alami dan sepi. Hutannya sendiri memang tidak terlalu luas, tetapi setiap kali kami berkunjung tidak terlihat banyak orang di sana. Selain itu, tempat ini juga memiliki peralatan olahraga ala-ala militer yang terbuat dari gelondongan kayu.

pines tree

Tahapan Awal masuk ke Perancis

Visa Long Sejour

Pada saat saya sedang menunggu proses izin dari Kedutaan Perancis di Jakarta untuk menikah dengan Monsieur,  kami pikir dapat sekaligus melakukan permohonan agar saya dapat segera mendapatkan visa ke Perancis, maksudnya sih supaya setelah proses pernikahan tidak usah repot-repot lagi mengurus visa. Tetapi ternyata untuk warga negara Indonesia yang menikah dengan warga negara Perancis di Indonesia, permohonan visa tersebut baru bisa diajukan setelah menerima livret de familie. Visa yang saya dapatkan adalah visa long sejour dengan status sebagai conjoint français, yang memperbolehkan saya untuk bekerja di Perancis. Bersamaan dengan visa tersebut dari pihak kedutaan memberikan formulir yang harus saya isi dan kirim ke l’Office français de l’immigration et de l’intégration (OFII):

  1. Setelah itu saya menghadiri pertemuan di kantor OFII, pertemuan ini sangat penting karena di sini saya diwajibkan untuk menandatangani kontrak integritas, sebelum mendapatkan stiker yang nantinya akan berguna untuk memperoleh titre de sejour.
  2. Mereka juga mewajibkan saya untuk menghadiri empat pertemuan yang diperuntukan bagi para imigran. Di mana di setiap pertemuan tersebut akan diberikan sertifikat yang berguna untuk mendapatkan titre de sejour di tahun-tahun berikutnya.
  3. Pihak dari OFII juga akan menanyakan kemampuan berbahasa Perancis kita. Kalau dianggap belum cukup maka mereka akan menawarkan kursus bahasa Perancis gratis. Karena waktu itu saya sudah mempunyai sertifikat DELF A1, maka saya tidak mengambil kursus tersebut.
  4. Lalu setelah itu mereka akan mempertanyakan latar belakang pendidikan kita, nanti mereka akan memberikan kesempatan untuk kita diwawancara di agen pencari kerja untuk diwawancara, agar kita bisa mendapatkan pekerjaan.

Visa long sejour ini hanya berlaku selama satu tahun saja. Karena bentuknya merupakan stiker yang ditempel di paspor, maka selama tahun pertama tinggal di Perancis, supaya lebih aman kalau keluar rumah agak jauh saya selalu membawa paspor.

Titre de séjour

Setelah mengantongi ijin tinggal di Perancis dengan visa de sejour, di tahun kedua saya harus memperbaharui ijin tinggal saya dengan titre de sejour. Tidak seperti visa long sejour yang hanya berupa stiker di paspor, titre de sejour ini saya anggap sebagai sebuah kartu identitas, jadilah setelah mendapatkan kartu ini saya tidak perlu membawa paspor lagi kecuali kalau mau keluar Perancis. Untuk mendapatkan kartu ini, syarat yang paling utama untuk pasangan yang menikah dengan orang Perancis adalah tidak bercerai. Setelah itu tentu saya harus melengkapi beberapa berkas yang dibutuhkan dan dikirimkan ke le prefecture. Sama seperti visa de sejour, kartu ini masa berlakunya adalah satu tahun, dan setiap kali melakukan pembaharuan, kartu yang lama harus dikembalikan.

Carte de resident

Saat ini saya telah mendapatkan kartu tanda penduduknya Perancis yang berlaku selama sepuluh tahun. Kartu ini saya dapatkan setelah tiga tahun tinggal di Perancis. Berdasarkan pengalaman saya, untuk mendapatkan kartu ini memang persyaratannya minimal tiga tahun tinggal di Perancis, tetapi teman saya yang lain baru mengajukan kartu penduduk ini setelah tahun ke-empat tinggal di Perancis. Pada saat saya mengajukan pembaharuan titre de sejour, pegawai dari pihak prefektur menawarkan saya untuk membuat kartu penduduk 10 tahun ini. Karena saya sudah tiga tahun tinggal di Perancis, dan bahasa Perancis saya dianggap sudah cukup bagus, beliau mengatakan (jika saya setuju), bisa langsung buat janji untuk diwawancara. Pada waktu itu, dengan ragu-ragu, saya langsung mengiyakan, karena saya pikir tidak ada salahnya dicoba, kalau berhasil lumayan tidak usah bolak-balik setiap tahun ke prefektur untuk memperbaharui kartu. Lagi pula masih bisa buat janji dulu, jadi masih bisa mempersiapkan diri untuk diwawancara di hari lain. Akhirnya saya iya-kan penawaran dari pegawai prefektur tersebut. Setelah saya mengiyakan, pegawai tersebut langsung menelepon pegawai prefektur lainnya untuk menanyakan jadwal wawancara. Tetapi.. ternyata lima menit kemudian saya diwawancara! Tanpa ada persiapan sama sekali, saya pun menjalankan wawancara.

Setelah itu pihak prefektur mengirimkan beberapa pertanyaan ke la maire (balai kota) di tempat saya tinggal, yang gunanya untuk mengetahui keaktifan saya di sini. Setelah itu saya melakukan wawancara dengan pihak balaik kota. Dari sini dapat diketahui apakah kita sebagai imigran dapat berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat sekitar. Terutama juga (ini yang paling penting menurut saya) untuk mengetahui tingkat kemampuan berbahasa Perancis kita. Setelah wawancara dengan pihak balai kota selesai, mereka akan memberikan pendapat mereka mengenai pantas atau tidak pantasnya saya untuk mendapatkan kartu residen. Setelah itu saya harus menunggu dua minggu, sebelum akhirnya mendapatkan surat untuk mengambil kartu residen saya di prefektur.

Ohya! Perlu diingat, untuk memperbaharui visa tersebut harus dilakukan 3 bulan sebelum masa berlakunya habis. Periksa kelengkapan berkas sebelum ke prefektur, karena ada beberapa prefektur yang menolak menerima berkas kalau tidak lengkap. Jadi daripada bolak-balik, lebih baik dilengkapinya terlebih dulu berkas-berkas yang dibutuhkan.

Berkendara di Perancis

Untuk di kota-kota besar seperti Paris, Bordeaux, Marseille, dan sebagainya, pada umumnya sudah memiliki sarana transportasi umum yang cukup memadai, seperti misalnya kereta cepat TGV, bis, ataupun tramway. Sehingga tidak menjadi masalah bagi warganya untuk berpindah tempat tanpa harus memiliki kendaraan pribadi. Hal ini berbeda dengan mereka yang tinggal di kota kecil seperti saya. Karena jadwal bus yang tidak selalu ada setiap waktu, para warga di kota kecil selalu mengandalkan kendaraan pribadi untuk berpindah tempat. Nah, untuk itu saya tertarik untuk memberikan informasi (sedikit) tentang apa-apa yang harus diketahui kalau mau berkendaraan di Perancis.

Sistem Izin Mengemudi dengan poin

Setiap pengemudi di Perancis punya jumlah maksimum dua belas poin. Berkendara di Perancis itu bantak jebakan mautnya, kalau misalnya kena tilang karena tidak pakai sabuk pengaman atau sedang menelepon, poinnya berkurang tiga poin. Misalnya kena radar, berkurang satu poin. Jadinya kalau tidak hati-hati sekali, poin SIM ini cepat sekali habisnya. Nah, kalau yang jumlah poinnya sudah menipis (untuk mengemudi diharuskan memiliki minimum poin yaitu empat poin), para pengemudi diwajibkan mengikuti stage recuperation (semacam kursus rekuperasi poin), supaya bisa mendapatkan poin mereka kembali. Kalau misalnya mereka tidak mengikuti kursus ini mereka terancam didenda dan pembekuan SIM telama tiga tahun.

Kursus rekuperasi poin ini berbayar, sistemnya hampir sama seperti kalau mau mendapatkan SIM baru – musti tes tentang kode jalan, dan latihan menyetir lagi. Kadang-kadang para pengendaranya malas, jadi banyak juga yang membiarkan SIM mereka hilang, dan mengganti mobil mereka dengan mobil yang bisa dikendarai tanpa SIM.

Setiap kendaraan wajib memiliki asuransi

Di Perancis ini asuransi mobil itu wajib hukumnya. Bisa saja sih berkendaraan tanpa asuransi, tapi kalau nanti ada pemeriksaan dan ternyata kendaraan kita gak punya asuransi bisa terkena denda. Selain itu, dari pengalaman saya hari ini, punya asuransi itu bisa bikin kita tenang kalau misalnya (sambil ketok meja) terjadi kecelakaan. Tidak perlu marah-marah sama yang nabrak, yang perlu cuma tinggal minta dan isi (oleh kedua pihak) kertas Constat Europeen d’Accident untuk ditujukan ke asuransi, dan selanjutnya biarkan mereka yang bekerja untuk mengganti kerusakan kendaraan kita. Asuransi ini tidak hanya berlaku untuk kendaraan yang rusak saja, tetapi juga untuk korban yang terluka akan dibayarkan pengobatannya. Kalau misalnya kalian mau menyewa mobil, pihak penyewa biasanya akan menawarkan asuransi. Kalau menurut saya lebih baik diambil saja, tidak apa-apa bayar sedikit lebih mahal yang penting jadi lebih aman.

Jika terjadi kecelakaan polisi akan datang ke tempat kejadian hanya jika ada korban

Kalau misalnya sudah terjadi kecelakaan, tidak udah buru-buru panik dan telepon polisi. Di sini polisi akan datang kalau sampai ada korban. Beda banget sama di Indonesia yang kalau ada kecelakaan Pak polisi pasti langsung nyamperin kita dong buat nanya-nanya kejadian, atau jadi mediator kalau misalnya pihak yang nabrak dan ditabrak saling ngotot. Kalau di Perancis mah boro-boro. Pernah ya waktu pas kami kecelakaan karena ada mobil yang menabrak mobil kami. Di tengah jalan ada pak polisi melihat kami dan mobil kami yang ringsek, tetapi dia gak ngapa-ngapain cuma jalan aja terus gitu, tidak tertarik sama sekali untuk mengetahui kronologis kejadian. Mertua saya juga waktu itu sempat menelepon ke kantor polisi, terus beliau ditanya apakah ada korban yang terluka atau tidak?. Pas mertua saya jawab tidak ada, mereka malah menyuruh kami untuk menyelesaikan sendiri. Katanya mereka bisa datang ke tempat kejadian kecelakaan cuma kalau ada korban saja. Makanya, kalau misalnya (sambil ngetok kayu) sampai ada kecelakaan tetapi tidak ada koran lebih baik diselesaikan sendiri saja.

Awas radar

Iya radar ini digunakan untuk mengatur batas maksimum kecepatan. Biasanya sih radar ini ditempatkan di jalan-jalan besar yang padat lalu lintasnya. Tidak jarang juga dari pihak gendarmerie turun tangan langsung untuk meneropong kecepatan kendaraan di tempat yang tidak terduga. Ada juga radar mobile. Radar ini ada di dalam mobil yang dikendarai polisi atau gendarmerie yang tidak berseragam. Tapi mobil yang dikendarai ini mobil biasa, bukan mobil polisi atau gendarmerie. Jadi mereka menyamar gitu. Sebenarnya ini kadang-kadang dianggap menjebak para pengendara. Karena saking banyaknya radar, ada sekelompok pengendara yang membuat grup antiradar, karena mereka menganggap radar sepertinya disalahfungsikan oleh pemerintah. Tidak jarang banyak juga yang menutup kamera radar dengan cat atau plastik, supaya mereka tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Setuju atau tidak setuju sama radar ya namanya juga berkendara, jadi harus taat dengan batas kecepatan maksimum yang dianjurkan.

wheels-france-camera-blog480

Kalau kita sampai melewati batas kecepatan, radar akan memfoto nomor kendaraan kita dan surat dendanya akan dikirimkan beberapa hari kemudian ke alamat rumah kita. Tapi bisa juga kalau lagi apes ya langsung dijegat sama polisi atau gendarmerie. Jadi kalau gak mau didenda ya musti hati-hati.

Tidak usah umbar klakson

Kalau berkendaraan di Jakarta (apalagi kalau sedang macet) orang senang banget mengklakson mobil. Kalau di Perancis klakson dipakai untuk mengingatkan pengemudi yang nyetirnya tidak benar dan bisa bikin bahaya pengendara lainnya. Jadi kalau misalnya kalian sedang berkendara di jalanan Perancis dan dapat klakson, itu artinya kalian nyaris membahayakan pengendara lain. Klaksonnya cuma sekali aja kok, enggak berkali-kali. Jadi tidak udah panik atau kesal yaa.

Untuk sementara saya baru bisa berbagi segitu saja tentang info berkendaraan di Perancis. Nanti kalau saya sudah tahu lebih banyak lagi akan saya tambahkan, hehe. Tapi sebenarnya sih mau di mana pun juga kalau mau berkendara ya musti hati-hati. Tidak usah pakai emosi kalau misalnya ada kendaraan yang bikin kesal ya diklakson aja.

Sampai cerita selanjutnya dari saya..!


xxxx

Ontel bisa dihubungi via http://www.halobonjour.com

halobonjour@outlook.fr

Instagram: @halobonjour

Merantau di Sevilla

Riana Garniati Rahayu – A retProfile Picired urban planner, an active weekly-food-planner, a blogger, and a traveler. A happy wife of Ibrahim Rohman and a blessed mom of Raya and Bita. Been living in Europe with her family since 2008. Currently based in Seville, Spain.

Continue reading