Menjalani Ramadan di Negeri Utara

Image-1436800793489Rika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finland with two bilingual sons- Kai and Sami, a Finns husband – Mikko. Still trying (hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Continue reading

Advertisements

Merantau di Washington DC

IMG_2610Vina Mubtadi – is an International-Broadcaster who has been living in the Washington DC metropolitan area since 2010. During her spare time, she enjoys having educational playdates with her toddler daughter, Lana.

Continue reading

Merantau di Helsingborg

bebeBebe –   An Indonesian stranded in Sweden. Found her home away from home in a small city called Helsingborg.  A wife and a mom of a cute baby girl who has a passion for photography and design. A gadget-freak, manga lover and k-pop listener.

Tentang keluarga. Nama saya Bebe, yang tentunya bukan nama saya yang sebenarnya. Nama ini adalah panggilan kesayangan dari suami, yang juga saya panggil ”Bubu”. Alasan kemisteriusan nama ini berawal dari suami yang keberatan nama aslinya saya tulis di blog (ga mau namanya muncul di Google, katanya saat itu). Akhirnya supaya nyaman dan ’karir’ menulis blog saya bisa lebih panjang, permintaannya saya turuti. Saya menikah dengan Bubu, yang merupakan pria berkewarganegaraan Swedia pada tahun 2010 yang lalu dan membawa saya hijrah ke negeri asal IKEA ini.

Bersama Bubu di Göteborg (kota terbesar kedua di Swedia, setelah Stockholm)

Resident Permit Swedia. Ketika merencanakan pernikahan dulu, sudah menjadi tekad kami berdua bahwa setelah menikah, saya akan langsung pindah ke Swedia bersama Bubu. Tentunya untuk bisa tinggal di negara ini saya membutuhkan ijin tinggal atau resident permit (RP). Memang sih kalau dilihat-lihat pengajuan RP jauh lebih susah dan lama dibandingkan visa. Tapi dibandingkan dengan keharusan memperpanjang visa setiap beberapa bulan sekali sepertinya mengurus RP menjadi pilihan yang lebih tepat. Apalagi dengan memegang RP itu saya juga otomatis mendapatkan work permit di Swedia. Jadi kalau memang berencana untuk langsung mencari kerja, tidak kesulitan dalam masalah ijinnya.  Untuk info lebih lanjut tentang dokumen bisa dibaca di sini ya.

Perjalanan proses pengajuan aplikasi RP saya sendiri dimulai dari bulan Oktober 2009 dengan perkiraan proses aplikasi akan memakan waktu setidaknya 6 bulan. Tapi ternyata bulan Februari 2010 saya mendapatkan jawaban dari pihak imigrasi Swedia (melalui Bubu yang statusnya masih calon suami dan tinggal di Swedia) kalau aplikasi saya ditolak dengan alasan saya tidak ada rencana menetap di Swedia dalam waktu dekat. Nggg.. Maksutnyaaa???

Langsung keesokan harinya, Bubu mengirimkan banding (appeal) ke kantor imigrasi di Swedia untuk menolak hasil yang kami terima dan meminta keputusannya agar dipertimbangkan ulang, hanya untuk mendapatkan jawaban yang sama satu setengah minggu setelahnya. Karena masih tidak puas dengan jawaban yang didapatkan, kami menggunakan kesempatan appeal ke-2, dimana kali ini prosesnya tidak lagi dilakukan oleh kantor imigrasi, melainkan pengadilan imigrasi. Setelah berbulan-bulan tanpa kabar, barulah pada bulan Juni 2010 Bubu mendapat sebuah surat dari pengadilan yang menyatakan bahwa saya berhak mendapat resident permit Swedia yang berlaku untuk 2 tahun. Fiuuuh.. Finally!! Alhamdulillah..

Setelah proses penuh drama dan air mata, pada bulan Okt 2010 saya pergi meninggalkan Indonesia dan menginjakkan kaki di kota Malmö, Swedia yang merupakan kota tempat tinggal kami yang pertama.

malmo-1

Landmark kota Malmö, The turning torso (gedung tinggi di sebelah kiri)

malmo13A

Pusat kota Malmo ; Malmo adalah kota terbesar ketiga di Swedia dan merupakan ibukota propinsi Skåne

Jembatan Öresund (bahasa Swedia: Öresundsbron) adalah sebuah jembatan-terowongan kereta api dan jalan raya yang melintasi Selat Øresund. Jembatan ini menghubungkan Swedia (kota Malmo) dan Denmark (Copenhagen) dan merupakan jembatan jalan dan rel terpanjang di Eropa. Hanya memakan waktu tempuh sekitar 35-45 menit dengan menggunakan kereta atau mobil.

Hanya setahun kami tinggal di Malmö sampai akhirnya memutuskan untuk pindah ke Helsingborg karena memang kantor suami (yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir) berada di kota ini.

 Skåne County, sometimes referred to as

Malmo dan Helsingborg terletak di Skåne Lan atau “Scania County” dalam bahasa Inggris, adalah daerah paling selatan di Swedia.

Setelah beberapa tahun tinggal merantau dan menikmati fase honeymoon berdua (*uhuk*), kami dikaruniai  anak perempuan kami yang pertama, Jo, yang lahir pada awal tahun 2014 silam.

Keluarga kami, Maret 2015.

Tentang Helsingborg. Helsingborg adalah sebuah kota kecil di pinggir pantai di propinsi Skåne yang terletak di daerah selatan Swedia. Kota ini merupakan titik terdekat antara Swedia dan Denmark, yang saking dekatnya, di hari yang cerah kita bisa melihat ke Denmark dengan mata telanjang.
helsingborg city

Historic Helsingborg dengan banyak bangunan tua, adalah sebuah kota pantai yang indah.

helsingborg city (2)

At its heart, Helsingborg is a sparkly showcase of rejuvenated waterfront, metro-glam restaurants, lively cobbled streets and lofty castle ruins.

Kontur kota Helsingborg terbilang unik karena walaupun letaknya di pinggir pantai, tapi langsung berbukit-bukit. Di bagian pusat kota di dekat pelabuhan terletak stasiun kereta, pertokoan, city hall (rådhuset), tempat pameran Seni (Dunkers Kulturhus) dan lain sebagainya.

helsingborg6

Kota Helsingborg dari atas

Jika kita berdiri di tepi pantai dan melihat ke sebrang di hari yang cerah, akan terlihat dengan jelas kota Helsingör, Denmark yang bisa didatangi menggunakan ferry selama 15 menit perjalanan.

Pusat kotanya Helsingör, Denmark.

Tinggal nyebrang: pusat kota Helsingör, Denmark.

Pemandangan kota Helsingborg ke arah Helsingör dari atas saat winter

Tempat yang paling terkenal di Helsingborg mungkin adalah benteng Kärnan yang lokasinya persis di tengah kota. Benteng ini merupakan peninggalan jalan perang antara Denmark dan Swedia dulu.

A 600 year old medieval fortress (Kärnan) in the city centre

Pindah ke tempat baru untuk pertama kalinya, dalam hal ini ke negeri orang, bukanlah hal yang mudah dan terkadang menakutkan untuk beberapa orang. Belum lagi kalau pindahnya sendiri (baik karena menikah, kerja, sekolah, dsb). Ga cuma harus rela keluar dari zona nyaman, tapi juga harus bisa survive tanpa bantuan keluarga dan kerabat. Selain itu masih harus beradaptasi juga dengan bahasa baru (yang seringnya terdengar sangat ajaib seperti bahasa planet), tradisi dan kebiasaan yang pasti jauh berbeda dengan di tanah air. Pendeknya, ga semua orang akan bisa cepat merasa betah.

Untuk saya sendiri, pindah ke Swedia merupakan pengalaman pertama saya hidup jauh dari orang tua. Karena itulah menjelang keberangkatan saya ke Swedia, sempat juga merasa cold feet dan ragu mau berangkat atau ga. Yah gimana juga yang sebelumnya bisa ketemu orang tua kapan aja, kali ini akan terpisahkan jarak ribuan kilometer jauhnya. Kalau nanti aku kangen gimanaaa? Hiks. Namun setelah akhirnya berangkat dan tinggal di Swedia beberapa tahun terakhir ini, alhamdulillah bisa dikatakan saya betah (saking betahnya sampai sekarang belum pernah pulang kampung loh. Hih!) hahaha…

Atas dasar itulah di post ini saya ingin berbagi tips (ala saya tentunya) tentang cara supaya cepat betah tinggal di negeri orang. Tentunya tips ini sifatnya personal dan berdasarkan kondisi saya di Swedia. Tapi saya berharap berguna juga untuk teman-teman yang ingin pindah ke negara lainnya, terutama yang baru pertama kali tinggal di negeri orang seperti saya.

Tips bagi para first-timer mamarantau:

1. Siapkan mental & lower your expectation – tips pertama ini memang sekilas terlihat template dan superficial ya? Kayaknya semua orang pasti ngomong gitu. Tapi berdasarkan pengalaman pribadi, menyiapkan mental sebelum berangkat ternyata cukup membantu. Cara mempersiapkannya seperti apa? Kalau saya sih dengan banyak browsing tentang Swedia. Selain itu minta Bubu juga untuk cerita tentang kota tempat saya akan tinggal nanti seperti apa (mall-nya apa aja?, penting itu, haha).

Salah satu foto kiriman Bubu dulu sebelum saya pindah, yang disertai pesan: “so you’ll feel at home”

Persiapan lain saya juga sempat belajar masak (yang mana sampai berangkat cuma bisa bikin spaghetti bolognese doang), and last but not least banyak berdoa supaya cepat ikhlas dengan berbagai kondisi yang akan saya lalui di tempat baru.

Sekarang sudah bisa masak berbagai macam masakan yang saya tuangkan juga di blog yang khusus saya dedikasikan untuk berbagi resep masakan.

Kenapa cepat ikhlas? Karena walaupun tinggal di LN itu terlihat indah, tapi saya yakin ga semua secantik hasil foto atau gambar yang ada di TV, maupun berdasarkan cerita orang. Pasti ada sesuatu yang bikin kita berkomentar ”meh gini doang? Di Jakarta lebih keren mallnya!” atau malah shock ketika tau begitu tau yang namanya nyewa/bayar ART atau suster itu mahal sehingga semua harus dikerjakan sendiri. Dengan banyak browsing, tanya-tanya, berdoa memantapkan hati dan terpenting, lower my expectation, saya berharap sih apapun kondisinya nanti saya udah ga kaget lagi dan bisa menerima dengan lapang dada.

snow-2

Tantangan cuaca yang kadang terlalu dingin – kadang berpengaruh juga untuk membuat proses betah-tidak betah ini.

2. Don’t look back (too much) with anger. Alias.. Jangan semua dikit-dikit dibandingin sama keadaan di Indonesia atau di tempat kita dulu. Yang paling susah saya lalui ketika pindah ke sini adalah ga ngebandingin harga barang dan jasa yang diketok di Swedia. Setiap mau beli apa pasti dikurs balik ke Indo. Mau ngapain, kurs lagi balik ke Indo. Kebanyakan kayak gitu ujung-ujungnya cuma sakit ati doang, trus pundung pingin balik.

Tapi setelah saya sadar kecuali saya punya kemampuan lebih untuk bisa bolak balik Jakarta – Swedia beberapa kali tiap tahunnya, ngebandingin terus gitu ga ada gunanya. Ya masaaa ga mau makan atau beli baju karena harga beras atau kaos mungkin 2-3 kali lipat dari di Jakarta. Rambut juga ga mungkin dibiarin awut-awutan ga dirapihin cuma karena harga salonnya luar biasa. Lagipula sekilas memang harga barang & jasa di Indonesia terlihat murah, tapi hitunglah juga tiket pesawat PP-nya. Misalnya potong rambut disana cuma 25rb, kalo plus pesawat jadi 17jutaan+25 rb. Seketika ongkos potong deket rumah yang tinggal jalan kaki jadi terlihat lebih murah deh.. Hihihi

3. If you miss it, make it (or buy it) – salah satu faktor yang bikin seseorang kadang ga betah tinggal di negeri orang adalah makanan. Like we all know, makanan Indonesia cenderung lebih berbumbu dan ‘nendang’ dibandingkan makanan barat. Tentu aja rasanya berbanding lurus dengan kesulitan pembuatan dan bahan-bahannya yang buanyaaak. Kalau misalnya tetiba kangen makanan Indonesia, my advice: belajarlah untuk bikin sendiri. Ga perlu harus ambisius harus bikin semua dari awal. Pakai bumbu instant juga menurut saya cukup kok untuk mengurangi rasa rindu. Seperti yang saya sudah tulis di tips nomor 1, yakni lower your expectation.

Kalau kadung males bikin terus gimana? Ada beberapa pilihan sih. Pilihan pertama gigit jari sambil nangis sesegukan di pojok kamar atau opsi kedua yaitu cari teman setanah air yang jago masak/jualan makanan Indonesia. Contohnya di Skåne sini ada orang Indonesia yang melayani menu-menu nusantara dari gudeg, siomay, pempek, dsb. Harganya tentu lumayan kalo dibandingin sama aslinya di Indo, tapi seperti tips no.2.. kalo dibanding nambah tiket belasan juta, yang deket ini jadi berasa lebih murah koook.. Serius! Sebaliknya.. kalau kita belajar masak trus akhirnya bisa jualin lagi ke teman-teman setanah air.. lah lumayan juga bukaaaan?

ketoprak-02-small

Ketoprak ala-ala – yang penting ga kangen lagi

4. Make yourself at home. Perasaan ga betah dan pingin pulang kadang diakibatkan kita masih merasa seperti orang asing di negeri asing ini. Yah technically emang bener sih.. ahaha, tapi ga berarti harus terus-terusan merasa seperti itu kan? Cara yang paling mudah menurut saya adalah dengan belajar bahasanya. Untuk beberapa negara kita sudah bisa belajar bahasannya sewaktu masih di Indonesia (contohnya bahasa Belanda, Jerman, Perancis, mandarin) jadi ketika pindah bisa lebih mudah berkomunikasi dengan orang lokal. Tapi bagi orang-orang yang pindah ke negara yang bahasanya ga familiar di Indonesia (seperti contohnya Swedia ini lah), berkenalan dengan bahasa Swedia biasanya dimulai ketika sudah pindah. Dengan belajar bahasanya, peluang untuk lebih berkembang tentunya makin besar. Makin banyak kesibukan artinya ga ada waktu lagi untuk bermuram durja berangan-angan “seadainya masih di Indonesia”. Untuk masalah budaya, menurut saya sih seiring waktu pasti kita bisa beradaptasi juga. Dipilih-pilih sendiri yang bagus diambil, yang jelek dihindari.

Belajar bahasa Swedia: “Svenska”

5. Time to start over. Untuk yang pindah ke luar negeri (terutama yang negaranya beda bahasa) atas dasar menikah dengan orang lokalnya kemungkinan besar harus memulai semuanya lagi dari nol. Harus pelan-pelan belajar bahasanya dulu, abis itu baru mulai cari-cari kerja/intership, dsb. Ijazah dan pengalaman kerja di Indonesia bisa dibilang ga ada harganya. Sedih? Pasti!

Cuma kalo mau diambil positifnya, kepindahan ini bisa dianggap sebagai kesempatan kedua loh. Misalnya dulu di Indonesia kita kerja atau kuliah ga sesuai dengan minat yang dimau, kali aja setelah pindah ini bisa benar-benar menekuni bidang yang kita sukai. Toh semuanya juga harus ulang lagi dari awal kan (harus sekolah lagi, dll). Jadi kenapa ga. Jenis pekerjaan yang kita mau coba juga ga sebatas pekerjaan kantoran di belakang meja. Karena semua pekerjaan (at least di Swedia yah) nilainya sama. Ga ada pekerjaan yang lebih elit dan yang rendahan. Mau jadi pelayan restoran, tukang potong rambut, pegawai supermarket, guru, dokter dkk bagi orang sini ya umum dan sama aja. Tentu dari gaji ya tetep ada tingkatannya masing-masing, cuma kalo dari segi gengsi mah (sejauh yang saya perhatikan selama ini) ga ngaruh yaaa.

Ga pede cari kerja seperti saya? Bisa juga membuat peluang kerja sendiri alias wiraswasta. Contohnya teman dekat saya memutuskan untuk membuka layanan travel wedding dan honeymoon ke Bali untuk market Swedia. Dan melihat contoh teman saya tersebut saya pun mencoba mendapatkan penghasilan dengan menjadi designer/fotografer freelance.

Freelance Photographer – Jo dan Bubu mendampingi saya ketika sedang menerima pekerjaan untuk foto suatu acara

6. Create your own small circle of friends. Kangen dengan keluarga biasanya yang menjadi alasan saya suka berpikiran untuk pulang ke Indonesia. Apalagi ketika pindah ke Swedia saya bergantung sepenuhnya ke suami sebagai teman dan keluarga saya satu-satunya. Oleh karena itu ketika pada akhirnya saya bertemu beberapa orang  Indonesia dan menjadi akrab, rasanya seperti mendapat durian runtuh. Karena walau jauh dari keluarga, saya mendapat keluarga baru di sini. Tapi tentu aja mencari yang cocok itu gampang-gampang susah dan ga melulu harus teman setanah air loh. Bertemu orang-orang dari negara lain tapi ternyata klik dan cocok, ya kenapa ga. Yang penting keep it small and simple. Nothing’s worse than having a drama when you are far-far away from home. Quality over quantity still the best policy for me.

7. Just enjoy it. Bagi saya kesempatan untuk ngerasain tinggal di negeri orang itu adalah kesempatan emas yang mungkin ga datang dua kali dan belum tentu semua orang bisa dapat. Kalau untuk liburan ya masih bisa lah setelah rajin menabung pergi kemana-mana, tapi kalau untuk beneran menetap permanent, yah prosesnya ga semudah kalau liburan kan (malah dalam kasus saya penuh drama penolakan dan airmata). Tinggal sementara (untuk beberapa tahun trus balik) ataupun yang permanen (tanpa ada rencana untuk balik) bagi saya sama aja. Malah yang tinggal sementara menurut saya lebih mudah karena toh tiap hari itu layaknya menunggu hari pulang. Jadi seeneq-eneqnya tinggal di negara baru, in the end you’ll be back home soon. Daripada nanti pas udah balik ke Indonesia malah nyesel kebanyakan ngeluh, mendingan dinikmati aja kan.

Daripada mengeluh: “Dingin banget..! Ga bisa kemana-mana..!”. Adanya salju dan pemandangan yang indah adalah salah satu alasan kenapa saya bisa menikmati winter.

8. If all else fails.. buy a plane ticket and go home! Hahahaha.. ya ini judulnya kayak ngusir yaa? Maksud saya kalau emang udah senep, sebel, kesel ga betah-betah juga tinggal di negara baru ya lebih baik rajin menabung trus pulang ke Indonesia deh tiap 3-4 bulan sekali (buat potong rambut atau pijet-pijet) atau mungkin balik for good? Toh dipaksain tinggal di suatu tempat tanpa kita merasa nyaman juga artinya menyiksa diri sendiri bukan?

Segitu saja tips dari saya untuk betah merantau di negeri orang. Semoga bermanfaat…!

——-

Bebe menulis tentang kehidupan di Swedia di http://www.bebenyabubu.com, tentang masakan di bebeskitchen.wordpress.com, dan foto keseharian di Instagram: @hejjossan. Foto-foto terlampir adalah karya Bebe, foto jembatan dan map didapat dari situs yang terhubung langsung. Beberapa keterangan pada gambar didapatkan dari situs Wikipedia.

Memasak Makanan Indonesia di Perantauan

Baik sudah bertahun-tahun, maupun baru beberapa bulan -yang namanya merantau pasti mendatangkan suatu perasaan yang hampir tidak bisa dihindari para perantau; yaitu homesick. Biasanya homesick mengingatkan kita akan dua hal : orang-orang yang kita sayangi dan makanan kesukaan kita (yang biasanya kita nikmati bersama mereka). Kalimat-kalimat seperti “Aduh, kangen sup brenebon nya Mama deh” atau “Jam segini makan nasi goreng tek-tek enak ya” – mungkin pernah Anda lontarkan selama masa perantauan Anda.

Di beberapa kota tujuan rantauan yang tinggi populasi orang Indonesia-nya, mencari makanan Indonesia mungkin tidak sulit, contohnya di Sydney (Australia), Philadelphia (Amerika Serikat), dan Amsterdam (Belanda). Tetapi bagaimana dengan para perantau di kota-kota dimana restoran Indonesia jarang/bahkan tidak dapat ditemui? Pilihan yang murah dan sebenarnya mudah adalah dengan memasak makanan Indonesia sendiri di rumah! Tidak bisa masak? Tenang, di era teknologi seperti sekarang ini, ada berbagai macam cara untuk belajar memasak. Salah satunya adalah dengan menonton podcast khusus masak-memasak yang di produksi dengan sangat simple, jelas, kreatif, dan modern oleh anak-anak muda Indonesia yang tergabung dalam Youtube channel  Masak. TV.

Screen shot 2015-02-11 at 3.46.59 PM

Sebelum subscribe dan mulai mempelajari resep-resep mereka, simak beberapa tips singkat berikut ini berdasarkan obrolan kami dengan Chef Alvin Maulana dari Masak.TV yang kerap disapa “Kapau”. Alvin mengaku sebagai seorang pecinta makanan indonesia yang selalu bercita-cita untuk mempunyai restaurant Indonesia di luar negri karena ingin memperkenalkan budaya Indonesia lewat makanan. Penggemar lalapan + sambal + tahu goreng setengah matang + bawang goreng dan sedikit kecap manis ini (lengkap yaa!) sudah suka memasak sejak kelas 2 SD,  karena senang melihat orang lain tersenyum akibat makanan yang enak. Menurut Alvin, masakan itu adalah suatu bentuk seni yg sangat luas sekali , selain bisa dinikmati dari segi visual, masakan bisa dinikmati dari segi rasa. Nah, sudah siap belajar? Siapkan catatan Anda!

Bumbu-bumbu Wajib Dapur.
Untuk memudahkan proses memasak dan menghemat waktu dalam memasak masakan Indonesia, Alvin menyarankan kita untuk menyetok “bahan-bahan untuk membuat 3 bumbu dasar (bumbu inti) masakan Indonesia, yaitu Bumbu Putih, Bumbu Kuning, dan Bumbu Merah”. Mengapa? Karena dengan penambahan kecap, daun pengharum, dan santan, ketiga bumbu dasar ini dapat dipakai untuk membuat berbagai menu masakan Indonesia. Untuk mengolahnya, Anda bisa menggunakan cara manual dengan ulekan (atau cari mortar and pestle di banyak tempat belanja online maupun di toko-toko Asia) atau food processor.
Berikut bahan-bahannya:

1. Bumbu Putih ini biasanya dipakai untuk membuat menumasakan seperti opor, lodeh, dan empal. Bahan-bahannya : Bawang merah, bawang putih,  lengkuas,  jahe, dan kemiri.

Screen shot 2015-02-11 at 4.05.37 PM
2. Bumbu Kuning dapat digunakan untuk membuat ayam goreng, pepes, dan bahkan soto. Bahan: Bumbu putih dan kunyit.
Screen shot 2015-02-11 at 4.04.43 PM
3. Bumbu Merah tentunya dapat digunakan untuk membuat sambal balado dan masakan-masakan ‘turunan’nya seperti ayam balado, telur balado, dan lain-lain. Bahan-bahannya: Bumbu Putih, cabai (paling mudah ditemui Thai bird’s eye chilli), sereh,  daun jeruk, dan daun salam.
Screen shot 2015-02-11 at 4.06.42 PM
Cara lengkap pembuatan masing-masing bumbu versi Masak.TV bisa nonton episode yang ini:
Mengakali Keterbatasan Bahan Dasar
Tinggal di perantauan bisa berarti memiliki keterbatasan mendapatkan bumbu-bumbu wajib Indonesia. Seperti yang kita ketahui, tidak mudah mencari rempah-rempah dan bumbu-bumbu khas nusantara di negeri orang. Maka itu, Anda dapat mengakalinya dengan menggunakan bahan atau bumbu substitusi..! Contohnya, menurut Alvin “Kemiri dapat Anda ganti dengan kacang tanah atau kacang mete (cashew)”. Sementara asam jawa dapat Anda ganti dengan cuka atau bahan lain yang memiliki rasa serupa (asam-manis). Perlu diingat bahwa menggantikan bahan yang seharusnya dipakai pada suatu masakan tentunya akan menghasilkan sedikit perbedaan pada rasa. “Misalnya, si asam jawa apabila diganti cuka pasti yang tergantikan hanya rasa asamnya saja, karna akan hilang aroma tengir (susah mencari padanan kata untuk mendeskripsikan rasa ini!) dari asam jawa tersebut. Jadi, bila Anda memakai bahan pengganti, pasti tidak akan sempurna 100%,” jelas Alvin.
Menakar Bumbu
Di banyak negara kita bisa mencari bumbu-bumbu dalam bentuk bubuk (powder atau ground) atau daun kering (dried herbs) dengan mudah di rak pada supermarket. Tapi bagaimana menakarnya? Pasti berbeda jika menggunakan bahan-bahan segar.

“Menurut saya pribadi tidak ada takaran pasti untuk setiap masakan , karena semuanya tergantung dari indra pengecap kita masing-masing,” jawab Alvin saat ditanya mengenai takaran bumbu yang pas saat menggunakan bahan-bahan dalam bentuk bubuk/kering. “Dan bagi saya, masakan yang paling menyenangkan adalah ketika kita mengikuti rasa yang kita inginkan. Tips dari saya, kalau sedang membumbui masakan, tambahkanlah sedikit demi sedikit saja, sambil menyicipinya sesekali. Jika yang tersedia di kota Anda hanyalah bumbu kering (contoh : kemiri bubuk botolan), campurkan bumbu kering langsung dengan bawang-bawangan ketika sedang menghaluskannya,” jelasnya.
***
Tidak terlalu sulit kan? Memasak masakan Indonesia memang membutuhkan lebih banyak rempah-rempah, tidak seperti masakan ‘bule’, tetapi kalau niat menyempatkan waktu, pasti bisa dilakukan! Sebelum Anda melakukan grocery shopping, berikut ada beberapa terjemahan bahasa inggris dari bumbu-bumbu Indonesia yang mungkin belum Anda ketahui sebelumnya :
  • Daun Salam – Bay Leaves
  • Lengkuas – Galangal
  • Jahe – Ginger
  • Kemiri – Candlenut
  • Sereh – Lemongrass
  • Dauh Jeruk – Lime Leaf
  • Kunyit – Turmeric
  • Jinten – Cumin
  • Asam – Tamarind
  • Kapulaga – Cardamom
  • Cengkeh – Clove
  • Pala – Nutmeg
Quick links ke resep-resep di Masak.TV favorit kami yang patut anda coba :

Nasi Gila – bahan-bahannya mudah didapat, cara masaknya pun gampang!

Ayam Goreng Kremes – cocok dengan selera kita dan juga selera orang asing, pas untuk entertaining tamu yang datang makan dirumah!

Screen shot 2015-02-11 at 6.55.11 PM

Kering Tempe – pas untuk di stok di dapur, kalau tidak ada makanan di rumah, bisa dimakan pakai telur goreng dan nasi putih!

Kue Cubit – bahannya tersedia dimana-mana (karena mirip pancake), pembuatannya juga mudah!Screen shot 2015-02-11 at 6.40.53 PM

 Tunggu apa lagi? Mari memasak!

*all photos courtesy of Masak.TV

Mengisi Apartemen

Mengisi dan mendekor apartemen baru bisa jadi hal yang menyenangkan (kalau punya budget yang mencukupi) dan menantang (kalau budgetnya pas-pasan, aha).

Pengalaman saya dan Ibu lain mungkin berbeda, utamanya sebagai keluarga mahasiswa, kebanyakan barang furniture di apartemen kami adalah hasil thrifting dan cari di barang seken di Craigslist. Sebagian kecil adalah hibahan dari teman sesama international students yang pulang kampung dan juga barang hasil “mungut” di pinggir jalan 😀 Yup, di sebagian besar kota di Amerika, Eropa, dan Amerika adalah hal yang wajar menemukan “harta” di pinggir jalan dan kondisinya kalau beruntung masih sangat layak digunakan. Harta yang dimaksud kebanyakan berupa: sofa (tapi harus hati-hati! karena mungkin ada bedbugsnya?), lemari, kursi, meja, TV dan barang elektronik lainnya, hingga sepeda. Tapi tentunya kita ga mungkin mengandalkan barang bekas dan hibahan semua khan? Berikut adalah list perabot yang kami sarankan untuk dibeli secara bertahap ketika pindah ke apartemen baru – dengan asumsi: kulkas, kompor dan oven, AC dan heater sudah termasuk di dalamnya -dan bukan apartemen furnished.

1. Area Dapur:

Image: Google

  • Perlengkapan makan: sendok, garpu, piring, mangkok.
  • Pisau dapur (biasanya ada 3 set, pastikan pisahkan untuk potong daging, sayur/buah, dan roti)
  • Pots and pans (biasanya juga langsung sepaket. Beli yang rada bagusan, walau agak mahal tapi tahan lama dan akan sangat berguna. Nah, jenis panci dan penggorengan ini ada berbagai macam, di antaranya: cast iron skillet, non-stick, ceramics, stainless-steel, dan copper. Buat saya yang peduli akan isu kesehatan dan go-green namun budget ketat, saya memilih merek ini. Ketika membeli, pertimbangkan juga: apakah bisa dicuci di dishwasher (jika di apartemen ada dishwasher), oven-proof (akan berguna untuk memanaskan dalam oven), gampang dibersihkan, dan zat-zat yang terkandung dalan material panci tersebut.
  • Perlengkapan memasak: cutting board (pisahkan untuk memotong: ikan, daging sapi, daging ayam, dan buah/sayuran. Biasanya dijual dengan ukuran berbeda dan bisa berupa cutting board plastic), spatula, slotted spoons, tongs, colander, pembuka kaleng, saringan buat deep fried.
  • Perlengkapan baking: measuring cups and spoons, muffins pan, muffins liners (beli yang berbahan silikon dan bisa dipakai ulang), baking mat, pot holder, cookie sheet, mixing bowls, pyrex set (bermanfaat sekali), dan kontainer segala ukuran untuk menyimpan makanan di dalam kulkas.
  • Perlengkapan elektronik dapur: water filter (perlu untuk yang minim dari tap water. Beli yang ukurannya besar sekalian, jadi tidak perlu sering isi ulang), microwave. Lain-lain: blender, food processor, pemanas air, mixer, coffee maker.
  • Bumbu-bumbu dapur: salt, pepper (white and black), coriander, onion powder, garlic powder, turmeric, chili flakes, dll yang non-MSG. Dan bagi yang Muslim, bisa cel label Kosher dan Vegan pada setiap bumbu yang dibeli.
  • Baking needs: tepung terigu (all purpose flour), vegetable oil/ canola oil/ olive oil/ coconut oil, white vinegar, corn starch, baking powder, baking soda, gula, powder sugar, brown sugar.

2. Area Kamar Mandi

Image: cdn.home-designing.com

Sebagai orang yang tumbuh besar di Indonesia, hal yang paling menyulitkan ketika di luar negeri adalah urusan kamar mandi. Ya, setidaknya kalau di Indonesia atau di beberapa negara Asia masih menyediakan bidet spray di kamar mandi. Tidak demikian halnya kalau di negara2 lain yakni WC kering dengan tissue. Urusannya dengan anak toddler lebih ribet lagi, apalagi kalau sedang potty-training. Nah, beli bidet ini atau ini sangat membantu – dan pastinya lebih bersih dan hemat tissue!

Bidet: mudah untuk dipasang sendiri

Selain bidet, perlengkapan kamar mandi: rug, handuk untuk keringkan tangan, shower curtain (dan ring curtain), sikat kamar mandi dan cairan pembersih toilet bowl dan spray. Pastikan juga keduanya yang ramah lingkungan yaa.

3. Area Kamar Tidur

Image: flatideas.com

Kalau di Amerika, kebanyakan apartemennya hanya menyediakan lampu di: kamar mandi ruang makan, dan dapur. Kamar tidur dan ruang bersama (living room) gak ada lampunya. Jadi pertimbangkan beli floor lamps untuk kedua ruangan, lampu tidur, kasur atau sofa bed (matras futon IKEA adalah favorite kami), bedsheet, selimut, duvet cover, dan bantal.

4. Area Ruang Bersama

Image: Google (cdn.homedit.com)

Area ini bisa paling terakhir dicicilnya, tapi paling seru juga untuk didekor – karena area ini dan area ruang makan yang paling sering ditempati. Furniture: sofa, karpet/rug, coffee table, TV, meja TV, rak buku. Yang sifatnya dekorasi, bisa ditambahkan: seperti pajangan dinding, tanaman indoor, dan jam dinding.

5. Area Ruang Makan

Yang pasti: meja makan dengan kursi (minimal 4).

6. Perlengkapan Bebersih dan Mencuci

Mencakup sapu dan pengki (dust pan), sikat kecil, spons buat di dapur (sikat panci, sikat botol, spons aluminium, dan spons biasa anti-scratch), lap dapur, handuk tangan, vacuum cleaner. Untuk vacum cleaner, pertimbangkan yang bisa meraih sudut2 dan kolong sofa – dan filternya bisa mudah dicuci, saya menggunakan yang seperti ini. Lalu, cairan pembersih: all purpose cleaner (yang bisa dibikin sendiri dengan mudah: campuran air + vinegar + lemon), pembersih lantai, pengharum ruangan jika perlu atau aroma therapy, sabun dishwasher berupa pods, sabun cuci berupa pacs biar simple, dan pengharum pakaian jika dibutuhkan.

7. Perlengkapan Lainnya

Tools pertukangan (dijual di IKEA), berbagai jenis paku dan skrup satu set, senter, pemantik (jika sewaktu-waktu gas mandek), lilin, tali, hanger, jemuran baju (buat handuk atau kalau gak pakai dryer), gantungan jemuran buat pakaian dalam dan cloth diapers anak, keranjang baju (minimal dua: satu baju kotor, satu buat angkut jemuran), tempat sampah untuk di dapur (sampah kering dan basah), di kamar mandi, dan setiap kamar tidur.

Nah, untuk lebih lengkapnya list untuk apartemen bisa download di sini. Selamat mengisi apartemen…!

Semua foto terhubung dengan link gambar asli.

Dana Yang Perlu Disiapkan Sebelum Merantau

Disamping mengurus visa, izin kerja, tempat tinggal, dan keberangkatan, penting bagi anda untuk menghitung dana yang perlu dipersiapkan sebelum berangkat. Sebab diluar uang tiket, banyak sekali pengeluaran lainnya yang jika tidak dipersiapkan dengan baik dapat menyulitkan anda dan keluarga diperantauan nanti. Setelah berkonsultasi dan mengalaminya sendiri, berikut adalah beberapa tips yang kiranya bermanfaat bagi anda yang berencana untuk merantau.

sumber foto : kidspot.com.au

sumber foto : kidspot.com.au

1. Sewa Tempat Tinggal Bulan Pertama

Kuncinya adalah research. Di era internet seperti sekarang ini, berbagai macam informasi dari berbagai negara dapat dengan mudah anda temukan, termasuk harga sewa apartemen di kota yang anda tuju. Anda juga bisa membaca berbagai review apartemen dan neighborhood yang dapat menjadi bahan pertimbangan. Selain itu anda juga bisa meng-email pihak manajemen tempat tinggal tersebut untuk mendiskusikan iuran sewa per-bulannya. Kalau cocok, bisa langsung booking online, kalau belum cocok, setidaknya anda tahu kisaran sewa tempat tinggal di kota yang anda tuju itu berapa. Ingat, biasanya apartemen ada ‘security deposit’ atau iuran lainnya yang harus dibayarkan diawal. Tanya sejelas-jelasnya dan siapkan dananya.

2. Perabotan & Kebutuhan Dasar Rumah Tangga

Ini mencakup kasur, bantal dan selimut untuk tidur, 1 set piring dan gelas, tempat sampah, wajan (kenapa wajan? lihat poin 4) dan berbagai kebutuhan mendasar rumah tangga lainnya yang pasti akan anda butuhkan di bulan pertama. Ingat, list yang penting-penting saja. Alat-alat pelengkap seperti TV bisa menyusul di bulan berikutnya setelah anda mendapat gaji/ penghasilan pertama di perantauan. Sebulan sebelum berangkat, saya dan suami bahkan sudah mengecek harga-harga perabotan mendasar di website IKEA dan department store setempat untuk dijadikan patokan anggaran kami di kategori ini.

3. Transportasi

Mulai dari uang taksi/bus/kereta yang dibutuhkan setibanya di perantauan sampai uang transportasi  ke kampus atau ke kantor selama bulan pertama (atau minimal sampai dapat gaji pertama) sebaiknya sudah disiapkan sebelum berangkat. Lalu setelah gajian, anda bisa mulai menyisihkan uang untuk men-DP mobil pre-owned atau seken yang harganya jauh lebih terjangkau.

4. Makan/ Groceries Bulan Pertama

Aturlah anggaran untuk kategori ini dengan secukupnya saja. Kalau dihitung satu bulan pertama makan restoran setiap hari pasti anggarannya akan sangat mahal. Maka itu, mulailah ancang-ancang untuk memasak dirumah, jadi anggaran ini bisa difokuskan untuk membeli bahan-bahan dasar memasak dan bukan melulu untuk membeli ‘makanan jadi’ di restoran. Mulai research supermarket terdekat di daerah tempat tinggal/ kampus/ kantor suami dimana, kalau ada website-nya, anda bisa browsing harga-harganya untuk dijadikan patokan.

5. Emergency Fund

Dana ini dibutuhkan untuk kebutuhan-kebutuhan tidak terduga, seperti obat kalau tiba-tiba anda atau anak anda demam misalnya, dan lain sebagainya. Tidak perlu banyak-banyak, yang penting ada supaya tidak mengganggu dana yang sudah dianggarkan untuk 4 kategori penting diatas.

 

Mungkin kesannya ‘ribet’, tetapi lebih baik sedia payung sebelum hujan, bukan? Saya dan suami tiba di Dallas 7 bulan yang lalu dengan berbagai macam list yang sudah kami buat sebelumnya di Jakarta berdasarkan research di internet. Dan terbukti, meski tidak membawa uang yang banyak, semua pengeluaran bulan pertama kami efisien dan syukurnya, kami bahkan tidak perlu berhutang sama sekali (dengan kartu kredit sekalipun). Kalau kami bisa, anda juga bisa.

 

Membuat SIM Amerika

ChicaPuti Ceniza Akbar (Chica) – has been living in New Bedford, Massachusetts, USA since 2010 with two sons and lifetime partner. She loves to volunteer at several local communities as well as running this site in her spare time.

“May I see your ID?” – adalah pertanyaan yang lumrah ditanyakan oleh pihak berkepentingan di sini. Tentu saja yang dimaksud sebagai “ID” atau identity document adalah sebuah dokumen yang mencantumkan nama lengkap, foto, tanggal lahir, alamat, dan tanda tangan. Kalau di Amerika, yang lumrah sebagai ID adalah SIM atau drivers license. Selain SIM, untuk yang non-driver bisa membuat State ID (hanya boleh pilih salah satu – state ID akan otomatis expired jika sudah punya SIM state setempat).

Kesalahan yang sering dilakukan sebagai international student atau expat dari Indonesia, adalah anggapan bahwa SIM Indonesia dan atau SIM internasional Indonesia bisa dipakai untuk nyetir di semua negara. Nyatanya tidak demikian…! Memang sih, kebanyakan SIM dari negara lain diakui oleh Amerika dan boleh dipergunakan selama setahun dari tanggal kedatangan ke Amerika (dan setiap kali re-enter ke Amerika). Tapi, tidak untuk Indonesia. Department of Motor Vehicle (DMV) mempunyai list resmi daftar negara-negara yang SIMnya diakui, dan di sana Indonesia gak termasuk. Hal ini perlu dicek juga di setiap Website resmi DMV/RMV (Registry of Motor Vehicle) untuk masing-masing state. Link yang saya sertakan di sini adalah untuk wilayah state Massachusetts.

Nah, karena SIM dari Indonesia (baik SIM biasa mau pun internasional) tidak diakui di Amerika. Sehingga, bisa dianggap kalau kita mengandalkan SIM Indonesia saja, artinya kita menyetir secara illegal. Dan menyetir illegal di Amerika agak berbahaya, karena dianggap sebagai pelanggaran berat! Gak mau khan dideportasi atau kena denda sekian ribu dollar hanya karena tidak tahu bahwa nyetir di sini illegal? Walaupun, dari pengalaman saya sendiri dan juga beberapa kenalan lain, mereka bisa dengan tenang melanglang buana hanya dengan berbekal SIM Indonesia dan tidak mengalami kendala apa-apa. Tapi ada baiknya, untuk ketenangan jiwa, marilah membuat SIM! Hehe.

Untuk dokumen yang perlu disiapkan sudah ada di sini. Tips: pastikan Anda punya surat penolakan Social Security Number jika memang tidak bisa mendapatkannya karena alasan visa (untuk visa non-kerja dan spouse dari student, atau visa F2 – tidak bisa mendapatkan SSN). Cara mendapatkan surat penolakan ini bisa langsung ke kantor SSN di masing-masing kota. Ingat ya, surat ini hanya berlaku selama 30 hari saja. Jadi setelah dapat surat, langsunglah urus Written Test.

Written test digunakan untuk mendapatkan Learner Permit. Nah, test ini sering dianggap gampang banget oleh sebagian besar orang, tapi buat saya sendiri, test ini SANGAT tricky karena sebagian besar berupa hafalan. Agak memalukan sih, karena saya gagal dua kali dalam written test x( Padahal biayanya lumayan! Sekali tes $30. Dan soal yang ditanyakan kalau Anda sudah baca di Driver’s Manual (bisa diunduh secara online atau pinjem ke library setempat), seharusnya bisa langsung pass. Soal testnya ada 25, dan harus benar 18 pertanyaan. Waktu test 30 menit. Tips: kalau ada pertanyaan yang tidak yakin, langsung di-skip saja. Karena kalau jawabannya salah, maka pertanyaan berikutnya tetap akan berkaitan dengan pertanyaan yang sebelumnya (resiko salah kembali lebih besar). Untuk belajar, coba isi tes latihan secara online.

Kalau Anda lulus dan mendapatkan learner permit, maka Anda akan diperbolehkan mengendarai mobil HANYA jika ada sponsor yang mendampingi. Yang dimaksud dengan sponsor adalah orang dewasa (> 21 tahun) yang sudah memiliki valid driver’s license dan berpengalaman menyetir minimal 1 tahun. Learner permit akan berlaku hingga 2 tahun. Dan dalam kurun waktu tersebut, Anda harus menjadwalkan road test (by online atau telepon). Tips: Butuh waktu agak lama untuk bisa daftar road test, bisa jadi 2-3 bulan dari kita menelpon. Jadi segera bikin jadwal untuk road test. Dan ingat, kalau mau cancel, minimal 3 hari sebelum test harus dicancel atau kita harus bayar $20 (dianggap ikut test dan gagal).

Road Test hanya akan memakan waktu 8- 15 menit. Walau pun Anda sudah biasa nyetir di Indonesia, jangan gegabah juga saat test ya dan jangan terlalu nervous juga. Saya dan suami yang sudah 6-8 tahun menyetir, ternyata masih harus mengulang road test karena gagal pada test yang pertama. Bahkan ada teman yang gagal hingga 3x, padahal dia sangat bagus sekali nyetirnya. Entah faktor si examinernya yang kelewat “jahat” atau faktor luck, atau tergantung kotanya… Pokoknya kalau di daerah New Bedford dan sekitarnya, rata-rata road test pertama gagal. Huhu. Yang akan diperhatikan saat test: hand signal (belok kiri, kanan, dan stop), kemampuan untuk: parallel parking, three point turn, memundurkan mobil secara lurus sejauh beberapa meter, menaati road sign, dll – untuk lengkapnya bisa baca di sini. Nah, kalau Anda memang tidak pernah punya SIM dan baru belajar nyetir, ada baiknya ambil kelas di Driving School kota setempat – kemungkinan besar Anda akan langsung guaranteed lulus test..!

Good luck! 🙂