Pengalaman Hamil dan Melahirkan di Belanda

Oleh Karina Miatantri-Kienast

Disclaimer: Info tentang kehamilan dan melahirkan yang saya bagikan adalah murni pengalaman saya di Nieuw-Vennep dan Haarlem. Sistem dan pengalaman mungkin saja berbeda di kota lain atau periode yang berbeda.

Awal perjalanan hidup saya menjadi Mamarantau juga adalah awal saya menjadi seorang Mama, karena Freya adalah anak pertama saya dan suami. Praktis ketika saya hamil, saya harus mencari tahu tentang kehamilan dan melahirkan di Belanda. Untungnya sistem kesehatan di Belanda sangat meringankan dan sederhana bagi ibu hamil. Semuanya terstandardisasi sehingga saya tidak perlu bingung mencari di mana dokter kandungan atau rumah sakit yang terbaik. 

Secara umum, asuransi di Belanda sudah mencakup biaya kehamilan dan persalinan yang mendasar. Tapi rekomendasi saya, jika berencana hamil di Belanda, bisa mengambil asuransi yang cakupannya lebih prokehamilan, karena asuransi dasar tidak mencakup biaya seperti persalinan di rumah sakit tanpa kebutuhan medis, kursus kehamilan, kraampakket, konsultan laktasi. Ketika hamil, saya baru mengetahui ternyata asuransi saya tidak mencakup beberapa hal di atas. Memang bukan hal yang signifikan, tapi alangkah baiknya kalau sudah dicakup. Sayangnya saya baru tahu informasi tentang asuransi prokehamilan ini setelah melahirkan, karena awalnya saya kira semua asuransi sama saja. Untuk membandingkan cakupan antarasuransi, bisa menggunakan situs seperti ZorgKiezer atau Independer. 

First Thing First

Langkah pertama yang dilakukan setelah mengetahui kehamilan adalah menghubungi dokter keluarga yang kemudian merujuk saya ke bidan terdekat, yang jaraknya hanya 4 menit naik mobil dari rumah. Bidan lalu menjadwalkan saya untuk pertemuan pertama dan echo/USG minggu ke-11. Pada pertemuan pertama, saya agak kaget karena hampir semua bidan sangat muda dan tampil santai. Tim di klinik tersebut terdiri dari sekitar 10 orang yang mencakup bidan, echoscopist/sonografer, dan bidan magang. Mereka cukup dipanggil dengan nama depan saja dan berpakaian santai memakai jeans dan boots, tidak ada yang memakai atribut seperti jubah dokter. Saya dan suami diwawancara menyeluruh tentang latar belakang keluarga, kesehatan, gaya hidup dan riwayat penyakit. Setelah melakukan pemeriksaan fisik dan echo, hari perkiraan lahir bayi dikalkulasi. 

Setahun sebelum kehamilan, saya menjalani operasi endometriosis untuk 2 kista saya dengan proses pemulihan yang lumayan traumatis. Setengah takut saya bertanya apakah masih bisa melahirkan per vaginam? Bidan menjawab, karena operasi hanya di ovarium dan tidak membuka rahim, masih bisa per vaginam. Lega sekali rasanya karena teman saya yang melakukan operasi yang sama di tahun 2020 lalu hamil disarankan untuk operasi caesar dengan alasan luka operasi yang masih tergolong baru.

Pemeriksaan kehamilan di Belanda dilakukan sebulan sekali, dan echo hanya di minggu 11, 20, 30 dan 36. Sangat sedikit jika dibandingkan dengan di Jakarta. Setelah memasuki 36 minggu, pemeriksaan menjadi sekali seminggu, tetap tanpa echo. Kalau observasi lebih lanjut diperlukan, akan dirujuk ke dokter kandungan di rumah sakit. Karena saya sering sekali mendengar pengalaman teman di Jakarta yang melakukan operasi caesar terkait tali pusar yang melilit leher/badan bayi, saya bingung ketika bidan tidak pernah membahas hal ini di setiap echo. Akhirnya saya bertanya, apakah tali pusarnya melilit? Mereka menjawab kemungkinan besar iya, karena bayi bergerak aktif setiap hari. Tapi ini adalah sesuatu yang normal atau tidak menjadi pertimbangan mereka untuk melakukan operasi caesar. Lagi-lagi saya bersyukur dengan pendekatan Belanda yang memandang kehamilan sebagai proses kehidupan yang alami dan tidak memerlukan intervensi medis, kecuali diperlukan.

Memasuki trimester kedua, saya diminta memilih mau melahirkan di mana, di rumah sakit atau di rumah. Ibu saya sempat protes ketika saya ingin melahirkan di rumah. Masak mau di rumah? Kan tidak steril, tidak ada alatnya dan pasti berantakan? Sejalan dengan pendekatan alami Belanda terhadap kehamilan, sekitar 30% wanita di Belanda melahirkan bayinya di rumah. Ibu yang sebelumnya tinggal di rumah kami pun melahirkan bayinya di dalam rumah yang sekarang kami tinggali. Dengan usia rumah yang sudah lebih dari 120 tahun, entah berapa bayi yang sudah lahir di rumah kami. 

Meskipun lumayan populer, melahirkan di rumah bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan semua ibu hamil, karena kondisi ibu dan bayi harus sehat dan tidak ada kondisi medis yang menghalangi. Karena saya mendapatkan lampu hijau dari bidan dan kondisi janin sehat, akhirnya kami mantap memilih melahirkan di rumah. Pertimbangan kami adalah melahirkan di rumah adalah hal yang wajar di Belanda dan bidan berpengalaman dalam hal ini, nyaman karena tidak perlu pulang cepat-cepat dari rumah sakit (kalau tidak ada komplikasi, 3-4 jam setelah melahirkan di rumah sakit, kita sudah disuruh pulang), dan kalau saya perlu ke rumah sakit pun, jaraknya dekat. 

Untuk pantangan selama hamil, Belanda juga berbeda dengan Indonesia. Saya masih sering bersepeda selama hamil dan berkebun di Groenste Tuin. Makanan yang dilarang untuk ibu hamil di Indonesia seperti sayuran mentah justru diperbolehkan, tapi udang, tuna dan kerang tidak diperbolehkan. Saat trimester kedua, saya ngidam usus dan paru sapi, yang agak susah didapatkan di toko daging biasa. Untungnya banyak orang Indonesia yang menjual makanan jadi via internet, termasuk bacem usus dan paru. Jadilah jabang bayi kesampaian makan jeroan.

Trimester ketiga

Menyusun Birth Plan

Memasuki trimester ketiga, saya mulai menyusun birth plan yang isinya di mana saya ingin melahirkan, posisi melahirkan, suasana ruangan (misalnya ada musik atau lilin), dukungan bidan seperti apa, siapa yang hadir selama proses melahirkan, siapa yang memotong tali pusar, dll. Bidan memberikan banyak kebebasan bagi ibu hamil untuk menentukan proses kelahiran.

Contoh Birth plan

Pada hari kelahiran, saya diminta untuk menelpon mereka kalau kontraksi sudah berjarak 1 menit atau air ketuban pecah. Lalu, 1 bidan piket akan datang dengan 1 orang suster. Jadi, saya tidak tahu bidan mana dari klinik tersebut yang akan menemani proses kelahiran. Saya memilih 2 opsi persalinan, water birth di bath tub rumah atau menggunakan birth stool, kursi khusus melahirkan dengan lubang di tengah tempat duduknya. Kami juga meminta teman baik Holger yang kebetulan punya latar belakang pendidikan kebidanan untuk ikut hadir menemani. Untuk posisi mendorong bayi, ibu hamil bisa memilih mau jongkok, rebahan, berdiri dengan satu kaki naik ke kursi, posisi merangkak, bersender ke suami… Ganti-ganti posisi pun boleh, sesuai kenyamanan ibu.

Birth stool
Contoh penggunaan birth stool

Memilih Perlengkapan Bayi: Barang Seken, Mengapa Tidak?

Dalam memenuhi perlengkapan bayi, orang Belanda tetap memegang prinsip memakai ulang barang yang masih layak pakai. Teman-teman saya yang memiliki bayi menanyakan apakah saya mau memakai barang atau baju bayinya yang sudah tidak diperlukan, karena banyak barang yang hanya dipakai beberapa bulan. Begitu juga baju yang kadang hanya dipakai 1-2 kali sudah kesempitan. Tips lainnya adalah mencari perlengkapan bayi di Marktplaats, Facebook Marketplace atau pasar King’s day dengan harga yang sangat miring atau gratis. Selain itu, banyak supermarket, drugstore dan toko bayi yang menawarkan baby box gratis bagi ibu hamil, isinya popok, dot, botol susu, makanan bayi, sabun, sampo, dll. Alhasil, kami tidak membeli satu mainan pun, co-sleeper, baby nest dan kursi dipinjamkan teman, tempat tidur, lemari dan berbagai perlengkapan lainnya gratis dan dalam kondisi sangat baik. Beberapa barang ada yang beli baru, supaya tidak perlu memikirkan transpornya. Bukannya tidak sayang anak, tapi saya ingin menghindari konsumsi berlebihan karena barang bayi itu bagus dan menggemaskan semua. Kalau tidak ingat harga atau ukuran rumah yang kecil, rasanya semua barang mau dibeli.

Salah satu baby box gratis, isinya mulai dari popok, kaus kaki, botol susu sampai bir 0% Alkohol

My Birth Story: Beda 180o dari Birth Plan

Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan. Rumah sudah kami bersihkan menyeluruh, lebih tepatnya suami yang sibuk gosok bath tub dan lantai ruang keluarga sampai bersih karena saya sudah susah (baca: malas) bergerak. Kraampakket yang berisi perlengkapan persalinan di rumah sudah siap di depan pintu. Pada pagi hari tanggal 9 Mei 2022, setelah tidak tidur sama sekali pada malam harinya, di usia kehamilan 39 minggu 5 hari, ketuban saya pecah di rumah dan warnanya hijau. Bidan piket langsung datang ke rumah untuk mengecek kondisi saya. Saya dan suami kemudian diberi penjelasan bahwa karena air ketuban hijau atau meconium, artinya ada peningkatan risiko persalinan, dan saya tidak boleh melahirkan di rumah, harus di rumah sakit. Sempat kecewa tidak jadi melahirkan di rumah, tapi saya dan suami berusaha tenang. Kami juga masih bisa ketawa senang dalam perjalanan ke rumah sakit karena sebentar lagi putri kami lahir.

Di rumah sakit yang jaraknya sekitar 30 menit dari rumah, saya dan suami diantar ke ruang persalinan yang bentuknya seperti kamar rawat inap biasa. Tim dokter dan bidan jaga memperkenalkan diri dan memberitahu bahwa kondisi vital bayi dimonitor dan saya akan mulai diinduksi untuk mempercepat kelahiran. Teman Holger datang dan kami semua masih bisa mengobrol santai, saya belum merasakan kontraksi yang signifikan. Awalnya saya mencoba menghafal nama bidan dan suster yang datang mengecek setiap 30 menit sekali, tapi ternyata mereka berganti shift setiap 3-4 jam. Jadi dari awal kedatangan sampai Freya lahir, mungkin saya bertemu dengan 5-6 bidan dan suster berbeda. Samar-samar dari kamar sebelah kanan dan kiri ibu-ibu yang teriak kesakitan sudah bukan seperti suara manusia lagi, ya ampun sesakit itu kah… Saya pasang lagu kencang dan birth affirmation audio untuk menjaga mood tetap santai dan siap menyambut bayi. 

A person lying in a hospital bed

Description automatically generated

Awal proses induksi, masih bisa senyum

Sekitar jam 8 malam, saya memasuki fase active labour dengan kontraksi yang wow, tidak bisa digambarkan dengan kata-kata haha… Kadang 10 menit tanpa jeda. Tentunya sudah tidak bisa ketawa lagi, tapi menangis juga tidak. Saya berusaha sekuat mungkin untuk melakukan teknik pernapasan Lamaze yang saya pelajari di kursus pranatal. Suami memegang tangan kiri, dan Eva teman kami memegang tangan kanan saya. Ajaibnya sampai Freya lahir saya tidak pernah sekalipun teriak seperti adegan melahirkan di film, karena dalam hati saya terus berpikir, “Mungkin setelah ini ada yang lebih sakit dari ini. Tahan ya, napas saja terus. Napas terus. Simpan tenaganya, nanti habis kalau teriak.” Sedang melahirkan pun saya sempat overthinking, pemirsa. Suami saya bingung, istrinya yang mudah mengaduh kalau tergores atau terbentur sesuatu kok ya sanggup melalui 9 jam kontraksi tanpa berteriak atau menangis. Kalau diingat kembali, sungguh salut dan terharu dengan diri sendiri.

Waktu menunjukkan jam 3 pagi. Sampai saat ini, sudah lebih dari 40 jam saya belum tidur. Kontraksi meningkat dan mereda terus menerus seperti ombak. Akhirnya saya mencapai bukaan 10, tapi urgensi untuk mendorong bayi masih lemah. Setelah mencoba mendorong dengan posisi rebahan selama 15 menit, bidan menanyakan apakah saya ingin mencoba mendorong di birth stool. Ternyata posisi duduk ini sangat memudahkan karena terbantu gravitasi ketika mendorong bayi secara vertikal ke bawah. Recommended banget posisi melahirkan ini.  Tiga puluh menit kemudian, pada pukul 4.55 pagi, lahirlah Freya dengan tali pusar yang melilit lehernya sampai 4 lilitan! Bidan sigap melepas lilitan tali pusar dan meletakkan Freya di lengan saya. Waktu serasa berhenti… Saya dan suami bergeming takjub memandang bayi mungil di gendongan saya, tangisnya memenuhi ruangan kamar yang temaram, dingin dan hening.

Bersama suster, asisten bidan, Freya, suami dan teman

Setelah Holger memotong tali pusar Freya dan kondisi bayi dipastikan sehat, Freya dikembalikan ke pangkuan saya dan tim bidan meninggalkan kami bertiga saja di dalam kamar untuk inisiasi skin to skin. Dipikir-pikir, jika hamil di Indonesia, bisa jadi saya harus operasi Caesar, karena ada 4 faktor risiko sebagai berikut pada kehamilan saya:

  1. Operasi endometriosis 1 tahun sebelum kehamilan;
  2. Tali pusar melilit leher 4 kali;
  3. Usia kehamilan (hampir) 40 minggu; dan
  4. Meconium atau air ketuban hijau.

Pascanatal dan Kraamzorg

Bidan menjelaskan, setelah sarapan selesai saya bisa mandi dan dipersilakan pulang. Sekitar jam 10 pagi, 5 jam setelah kelahiran Freya, kami sudah kembali di rumah. Rasanya luar biasa lelah dan mengantuk, sampai saat ini saya belum tidur 48 jam. Di rumah, hanya ada saya dan suami karena kedua orang tua belum datang ke Belanda dan tidak tahu selanjutnya harus bagaimana. Hanya bisa setengah tertawa, “Now what do we do with this baby?”

Muka-muka kurang tidur

Breastfeeding anytime anywhere

Untungnya perawat kraamzorg datang tidak lama kemudian. Bersyukur sekali Belanda punya fasilitas unik pascanatal yang disubsidi pemerintah, apa lagi bagi kami yang first time parents dan jauh dari keluarga. Kraamzorg adalah perawatan yang khusus membantu ibu dan bayi pada 7-8 hari pertama setelah melahirkan. Fungsi utamanya adalah memastikan pemulihan ibu secara efektif dan efisien serta bayi tumbuh dengan baik. Bantuan yang diberikan mulai dari, tapi tidak terbatas kepada:

  • mengecek kondisi fisik ibu dan bayi dan menghubungi bidan/dokter jika diperlukan;
  • mengajarkan cara merawat bayi seperti mengganti popok dan memandikan;
  • memasak sarapan dan makan siang untuk ibu;
  • membantu proses menyusui supaya lancar;
  • menjaga bayi ketika bapak dan ibu perlu istirahat;
  • menjaga area rumah tetap bersih dan higienis.

Perawat kraamzorg yang membantu masa postpartum

Berkat perawat kraamzorg, masa postpartum yang seperti roller coaster rasanya lebih ringan dan banyak terbantu. Di bulan pertama setelah kelahiran, kami tidak perlu banyak keluar rumah karena tim bidan dan posyandu pun melakukan check up ibu dan bayi ke rumah. Cuma kurang tukang pijat seperti di Indonesia yang bisa ke rumah, hanya bisa mengandalkan suami untuk pijat badan yang rasanya remuk setelah melahirkan.

Tradisi Jerman dan Belanda, memasang burung bangau di depan rumah kami saat Freya baru lahir

Berkaca ke pengalaman hamil dan melahirkan di Belanda, sebagai orang awam saya memandang Belanda menganggap kehamilan sebagai proses alami, dengan intervensi medis seminimal mungkin. Walaupun kadang terkesan sederhana dalam mengecek kehamilan, bidan sigap melakukan eskalasi ke dokter spesialis jika ada kekhawatiran tentang kondisi janin. Masa postpartum cukup menenangkan karena adanya kraamzorg dan kunjungan bidan ke rumah yang tidak hanya mengutamakan kondisi fisik, tapi juga dukungan mental bagi ibu. 

Satu hal yang saya dan suami sangat apresiasi di Belanda adalah betapa tingginya kebebasan bagi ibu hamil dan orang tua dalam merencanakan kelahiran dan merawat anak. Bidan atau dokter siap membantu tapi akan mundur teratur kalau kami tidak setuju dengan suatu hal. Untuk isu ini, pembahasannya mungkin perlu artikel Mamarantau lanjutan. Sementara sampai sini dulu. Terima kasih sudah membaca. Semoga sehat dan semangat selalu semua Mamarantau!

Groetjes uit Nieuw-Vennep,

Tantri

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s