Merantau di Eagle Bay, Western Australia

Christina @christinaodorus

Haiii! Aku Christina asal Jakarta. 2 tahun yang lalu kami booked a trip to Australia buat liburan 4 hari, packing koper benar-benar cuman untuk pergi sebentar, eh tiba-tiba COVID merajalela dan border Australia ditutup. Akhirnya kami tidak bisa pulang dan menetap deh di sini. Myself, my husband, and our 5 y.o daughter sekarang tinggal di Eagle Bay, Western Australia (3 jam dari Perth). Eagle Bay is beautiful, kota kecil berpenduduk kurang dari 60 orang. Pantai nya indah sekali dan hanya 5 menit jalan dari rumah. Hidup di sini we are surrounded by nature… kalau bahasa kerennya “country living” hehe.  

Australia is our second home. Bryce (suami) warga negara Australia, aku memegang visa Permanent Resident dan Bella (anak kami) is a dual citizen jadi kami bisa tinggal di Australia secara permanen. Saat border ditutup, yg menjadi beban pikiran kami adalah bagaimana dengan kerjaan, kehidupan & keluarga yg kami tinggalkan di Jakarta. Aku selalu berpikir kalau one day pindah ke Australia akan ada banyak sekali barang-barang dan perintilan yg harus kami bawa. Nyatanya, kami hanya datang membawa beberapa potong baju dan basic items lainnya tapi sama sekali tidak merasa kekurangan. Ini sebagai reminder untukku bahwa kalau kepepet/tidak ada pilihan, kita ternyata bisa hidup dengan minimal amount of belongings.

Menjalani New Normal di Australia

Kami beruntung di situasi kami yg “stuck” away from home, masih bisa melanjutkan kerjaan kami dari rumah walau sudah lagi tidak di Indonesia. Awal-awal tiba di Australia kami masih berpikir akan soon pulang ke Indonesia. Ketidakpastian membuat kami sulit untuk bikin rencana jangka panjang, hanya bisa take it a day at a time dan bikin rencana2 jangka pendek. Setelah 6 bulan berlalu kami memutuskan it’s best to start settling in Australia agar lebih punya stability (dan ketenangan batin haha). Kami pun mulai bisa perlahan2 menata kehidupan baru di Australia seperti memasukkan Bella ke sekolah, membeli mobil, ambil asuransi kesehatan dst.

Wilayah kami Western Australia selama ini merupakan covid-free bubble, hidup normal tetap bisa keluar, tanpa masker dan restrictions. Namun di beberapa minggu belakangan ini terkait denganvarian Omicron, jumlah kasus mulai banyak, jadi new normal untuk kami baru saja dimulai sekarang. Mengenai prokes, pemerintah Australia dan setempat sangat gercep dan warga pun rata-rata patuh. Saat indoor semua diwajibkan memakai masker, harus menunjukkan bukti vaksinasi jika ingin makan di restaurant, wajib scan in aplikasi Safe WA (seperti Peduli Lindungi) di setiap tempat umum agar mudah contact tracing jika ada Covid breakout. Kami sebagai warga merasa aman dengan penanganan Covid pemerintah setempat.

Sekolah anak sampai saat ini masih normal, dan blm pernah sampai harus online. Dengan naiknya kasus covid di beberapa minggu belakangan ini, sudah mulai diberlakukan aturan prokes seperti: harus pakai masker saat antar jemput anak dan pengantar tidak boleh masuk ke dalam kelas. 

Country Living

Country living for me is a memory we will forever treasure 🙂 simple, quiet & surrounded by nature. Kami tinggal di Eagle Bay, 3 jam nyetir dari Perth, populasi sekitar 60 orang dan area ini mayoritasnya holiday houses. Yang artinya sepi sekaliii haha, karena kebanyakan penduduk nya tinggal di kota lain dan hanya datang saat liburan saja. On the down side it can feel very isolating, apalagi karena aku lahir dan besar di kota Jakarta yg ramai. Tapi on the other side, banyak sekali keindahan yang tidak bisa didapatkan di kota.

Jalan 5 menit sudah sampai ke Eagle Bay Beach, yg terasa seperti private beach krn tidak banyak didatangi public. Our days are filled with beach swim after school, memancing, nature walks atau kalau musim dingin, api unggun di teras rumah. Rumah kami lebih besar area kebun nya dari pada bangunan rumahnya sendiri. Kami tanam banyak sayuran dan herbs yang tiap hari dipakai utk memasak. Pagi dan sore nyaring suara burung berkicau. Terkadang ada kangguru main ke rumah, priceless sekali. Di sekitar rumah kami tidak ada lampu jalanan jadi saat malam sangat gelap gulita di luar dan bintang di langit terlihat terang sekali dan dekat sekali dengan kita.

Saat ini kami memutuskan akan menetap di sini untuk saat ini. Karena sudah settled dan lebih bisa menikmati hidup secara “normal” (terutama untuk anak) di sini. Kangen dengan keluarga tentunya, sudah 2 taun tidak bertemu. Semoga tahun 2022 ini bisa berkumpul kembali 🙂

Merantau di Logan, Utah, Amerika Serikat

Ludia 

Hallo! Saya Ludia, ibu dari 3 anak laki-laki (Evan-5 tahun, Erik-2 tahun, & Edgar-1 bulan). Saat ini saya dan keluarga tinggal di Logan, Utah, karena mengikuti suami yang melanjutkan studi di sini. Sebelum pindah ke Logan, saya dan suami sempat merantau di Korea Selatan selama 11 tahun.

Pengalaman Merantau di Seoul, Korea Selatan

Tahun 2009 merupakan kali pertama saya pergi merantau jauh dari keluarga. Pada tahun itu saya berangkat  untuk melanjutkan studi S2 di Seoul, Korea Selatan. Setahun sebelumnya, suami – Nanang Mahardika – (yang pada waktu itu masih berstatus pacar) sudah lebih dulu memulai studi S2-nya di Seoul. Jadi, itu adalah salah satu alasan kenapa saya memilih Korea sebagai negara tujuan melanjutkan studi lanjutan yaitu supaya bisa bertemu kembali dengan pacar. Hehe.

Pada awalnya saya dan suami hanya berencana untuk kuliah S2 di Korea, lalu setelah lulus kami ingin kembali ke tanah air untuk bekerja dan berkumpul lagi dengan keluarga. Namun, rencana tersebut berubah total karena setelah lulus S2, kami  berdua mendapat kesempatan untuk bekerja di Korea. Tidak terasa kami pun tinggal di Korea hingga lebih dari 10 tahun lamanya. Setelah 11 tahun tinggal di Korea, akhirnya pada tahun 2020 kami memutuskan untuk pindah merantau ke Amerika Serikat karena suami saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi doktoral di Utah State University. 

Utah State University

Suami melanjutkan pendidikan S3 di jurusan Mechanical & Aerospace Engineering, Utah State University.

Kepindahan ke Amerika Saat saat Pandemi COVID-19

Kami pindah dari Korea ke AS pada masa  pandemi, jadi ada beberapa hal khusus yang perlu dipersiapkan sebelum keberangkatan. Pertama, melakukan check up kesehatan dan melengkapi vaksin untuk anak-anak. Tidak lupa mempersiapkan obat-obatan umum yang diperlukan untuk antisipasi apabila terkena sakit pada saat perjalanan. Kedua, memilih rute perjalanan yang minim kontak dengan banyak orang. Dalam hal ini kami memilih maskapai yang ketat dalam menjalankan prosedur kesehatannya, bandara dan tempat transit yang tidak terlalu ramai, juga kota yang tingkat kasusnya tidak terlalu tinggi.

Suasana di Airport Incheon – Dari Busan kami menggunakan flight pagi ke Seoul (Incheon), lalu dari Seoul transit di Seattle(Tacoma) baru lanjut ke SLC Utah. Saat itu transitnya ada pilihan LAX (Los Angeles, CA), tapi waktu itu di LA kasus COVID-nya sedang tinggi dan bandaranya lebih ramai, sehingga aku pilih transit di SEA (Seattle-Tacoma International Airport) yang lebih sepi.

Terakhir, mempersiapkan akomodasi untuk karantina setelah tiba di AS. Kami membawa dua anak balita, jadi tempat yang kami pilih harus sesuai dengan kebutuhan kami tersebut serta aman dengan standar prosedur kesehatan yang baik. Kondisi pandemi ini sempat membuat kami berpikir untuk membatalkan kepindahan kami, tapi pada akhirnya kami jadi berangkat juga.

Ketika transit di Tacoma, Seattle

Proses perpindahan kami dari Korea ke AS tergolong cukup cepat dan lancar. Anak-anak untungnya tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya. Mereka senang sekali karena banyak aktivitas outdoor yang bisa dilakukan di tempat tinggal barunya (Logan).

Di Korea, kami tinggal di apartment yang terletak di tengah kota, jadi kami tidak memiliki halaman sendiri untuk bermain anak. Playground yang ada di daerah apartment kami ukurannya tidak terlalu besar, jadi saat akhir pekan akan penuh dengan anak-anak dan para orang tua yang menemani anak mereka. Sementara itu di Logan kami dapat menikmati taman di belakang dan depan rumah, juga taman kota yang ukurannya jauh lebih luas dari taman kota yang ada di kota tempat kami tinggal sebelumnya.

Bagi saya sendiri, proses adaptasi sedikit lebih sulit daripada suami dan anak-anak. Saya terbiasa dan lebih suka tinggal di kota besar daripada kota kecil yang jauh dari keramaian. Di Logan, toko-toko dan perkantoran pada umumnya sudah tutup jam 5 sore, jadi setelah itu kota terasa sangat sepi. Restoran atau rumah makan juga kebanyakan tidak buka sampai larut malam dan layanan delivery makanan pun terbatas waktu pelayanannya. Berbagai fasilitas umum pun memiliki jam operasi yang terbatas sehingga sebagian besar waktu saya dan keluarga habiskan di rumah daripada di luar rumah. Hal tersebut membuat munculnya rasa suntuk dan bosan, tapi lama kelamaan saya dapat mengatasinya dengan melakukan kegiatan hobi, mengikuti online course, dan juga dengan berolahraga. 

Tempat Favorit di Logan

Saya dan keluarga banyak menghabiskan waktu di akhir pekan dengan bermain di taman atau outdoor playground. Taman yang ada di kota Logan jumlahnya cukup banyak, jadi kami tidak pernah bosan untuk mengunjunginya karena tiap minggu kami coba mendatangi taman yang berbeda. Beberapa taman favorit keluarga kami adalah: Adams Park, Willow Park, Meril Olsen Park, Lundstorm Park, dan Elk Ridge Park.  

Suka-Duka saat Merantau

Setiap hal pasti memiliki nilai plus dan minusnya, begitu juga dengan merantau. Saya dan keluarga pernah mengalami masa-masa suka dan duka selama di perantauan. Sebagai orangtua dengan tiga anak yang masih kecil, tentunya saya dan suami sering merasa lelah karena harus melakukan berbagai hal terutama urusan domestik tanpa bantuan siapapun. Namun dengan kerjasama dan pengaturan waktu yang baik,lama kelamaan kami mulai bisa menemukan ritme yang pas agar kami tidak merasa terlalu lelah dalam mengurus rumah atau mengerjakan urusan domestik rumah. Mungkin hal tersulit yang pernah saya alami yaitu saat melahirkan anak ketiga di masa pandemi. Dulu saat melahirkan anak pertama dan kedua di Korea, orangtua saya dan suami bisa datang berkunjung untuk membantu dan menemani saya di rumah. Sedangkan pada saat melahirkan anak ketiga saya di AS, orangtua/keluarga dari Indonesia tidak dapat berkunjung atau menemani. Pada saat hari H melahirkan saya hanya ditemani oleh suami, anak-anak kami dititipkan di rumah penitipan anak yang buka 24 jam karena kami tidak memiliki kerabat dekat di Logan dan rumah sakit pun tidak memperbolehkan membawa anak kecil untuk berkunjung/menginap. Hal tersebut terlihat tidak mudah, namun setelah dijalani ternyata saya dan suami mampu melewatinya dan kami menjadi pribadi yang lebih mandiri juga kompak sebagai pasangan. 

Selain duka, tentu ada sukanya dalam merantau. Saya dan keluarga bisa belajar bahasa juga budaya di negara tempat kami tinggal, bisa kenal banyak orang dan punya banyak teman dari latar belakang yang berbeda, dan bisa jalan-jalan ke tempat-tempat menarik tentunya..hehe.. Salah satu tempat menarik yang pernah kami kunjungi di Utah adalah taman nasional Bryce dan Zion yang terkenal dengan pemandangan canyon-nya. Saya ingin sekali nantinya bisa mengajak anak-anak untuk mengunjungi berbagai tempat menarik di AS ini supaya mereka mendapat pengalaman berbeda dan belajar hal-hal baru di tempat tersebut. 

Tulisan pendek saya ini mungkin belum memberi gambaran atau info yang cukup mengenai pengalaman merantau di kota Logan. Apabila ada yang tertarik atau ingin memperoleh info lebih lagi, bisa kontak saya langsung melalui akun sosial media (IG: @iniludi & @themahardikas, Twitter: @ludiaekaferi, FB: Ludia Eka Feri).

***