Merantau di Ontario

Astarina Maulida – Hai, aku Asta, mamarantau yang baru setahun menetap di Mississauga, sebuah kota di Ontario, Kanada. Kota ini cukup dekat dengan Toronto. Sebelum merantau aku dan suami berwiraswasta di Jakarta. Kami memutuskan untuk pindah ke Kanada demi pendidikan anak, karena sebelumnya suami juga bersekolah di Kanada sejak SMA. Saat ini aku dan suami bekerja dan anakku, Kioko bersekolah di TK di tingkat senior kindergarten.

Kali ini aku mau mengajak melihat sisi beratnya hidup di Kanada, yang pasti nggak hanya yang senang-senang aja. Selalu ada dua sisi dalam satu koin.

Summer
Winter

Apa aja nggak enaknya? Winter yang extreme sampai -35 derajat, summerpun sampai +40. Pencarian kerja yang sulit dan harus rela kerja kasar untuk banyak imigran, bahkan ada lho yang di negara asalnya itu dokter dan doktor phd tapi saat di sini harus ikhlas jadi uber driver. Kok gitu? Jangan lupa kualitas pekerja dari Kanada itu sangat bersaing. Harga rumah di sini juga mahal, di kota ini 500,000 CAD (5,5M) dapetnya rumah kecil. Kalau mau agak besar budget segitu di condo atau pinggiran kota lagi. Ada harga ada rupa, semakin jauh dari kota pasti commuting time nya bertambah. Harga plan internet hape juga mahalita, paksuami bilang termasuk salah satu yang termahal di dunia. 

Pajak pun, kalau belanja tax di province ini 13%, kalau makan kudu kasih tip lagi 10-15%. Belum lagi pajak penghasilan dari gaji minimal 20% maksimal 50%. Semakin tinggi gaji semakin besar potongannya. Untuk yang kerja di luar negeri tapi anak istri menetap di kanada pun si penghasilan suami dikenakan tax sebesar di Kanada karena keluarganya dianggap menikmati fasilitas di Kanada. Di luar harga yang mahal dan cuaca, jangan lupa culture yang berbeda dengan Indonesia, terutama aku suami dan Kioko itu minoritas lho, apalagi aku super visible minority (berjilbab). Oya di sini pekerjaan rumah tangga juga kudu gotong royong sama suami, bayangin masak, nyapu ngepel, cuci baju, cuci piring, anter anak sekolah, mandiin anak, didik anak, anter les anak, endesbre kalau nggak dikerjain berdua gimana bentuk rupa sang istri, haha. Belum lagi kalau istri kerja, harus urus daycare sampai anak usia 10 tahun yang biayanya lumayan menguras kocek.

Jadi hidup di Kanada nggak hanya plus, terlihat enak atau ”asik banget tinggal di luar negeri”. Saat menentukan pindah, semua konsekuensi harus kita terima. Aku dan suami tipe yang menikmati perjuangan ini, karena kita kebiasa berjuang, malah saat nyaman kita nggak tenang. Tentunya banyak juga positifnya tinggal di sini, tapi menurutku nggak fair jika hanya melihat di satu sisi yang indah. Justru hidup itu indah karena ada positif dan negatif dalam satu ruang. Embrace BOTH and enjoy…! 


astarina.maulida@gmail.com IG: @astarinamaulida

Merantau di Belfast

Ayudhia Utami – Halo! Saya Ayudhia, seorang Ibu dari dua anak yang sedang di masa aktifnya, Arsyila (3,5 tahun) dan Kenzie (1,5 tahun). Kami sudah bermukim di Belfast, Irlandia Utara selama 1 tahun 2 bulan, karena mengikuti suami yang sedang menjalani pendidikan di Queen’s University Belfast.

Belfast letaknya berada di antara Irlandia Utara (Britania Raya / UK) dan Irlandia (Eropa). Belfast sangat berbeda dengan wilayah UK lainnya yang ramai seperti London atau Manchester, suasana di sini tenang dan jauh dari hiruk pikuk.

Tempat favorit yang biasa dikunjungi di sini ada banyak sekali, seperti Giant Causeway, Stormont, Botanic Garden, Titanic Museum, Belfast Castle, dan lain sebagainya. Belfast juga menjadi salah satu tempat di mana Game of Thrones berasal lho, juga tempat pembuatan Kapal Titanic, sehingga menjadi pariwisata yang menarik dan paling terkenal di sini…! Penduduk di Belfast juga sangat ramah, baby & kids friendly, saling menyapa ketika bertemu, sopan santun ketika bertutur, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kami nyaman sekali tinggal di Belfast 💛

Credit: Manchester’s Finest
Credit: The Times

Merantau di Innsbruck

Meidesta Pitria – Hallo! Saya Meidesta, asli dari Jogja, dan dulu sempat menghabiskan waktu sekitar 5 tahun diantara Depok-Jakarta untuk S1 di UI dan bekerja. Saya lulusan S2 Arsitektur dan Urban Planning dari Jepang yang tiba-tiba merantau ke Innsbruck, Austria.

Saya kenal sama suami sekitar 6 bulan sebelum lulus S2. Tadinya saya mau lanjut langsung S3 di Jepang, tapi suami melamar saya dan takdir membawa kami ke Innsbruck. Suami dan saya sepakat untuk memulai keluarga kecil bersama di Innsbruck. Dan alhamdulillah di tahun kedua saya disini, kini kami sudah bertiga dengan anak perempuan pertama kami yang berusia 10bulan. Ohya, suami saya sedang studi S3 di Centrum für Chemie und Biomedizine. Baru saja sidang dan insya Allah akan wisuda bulan depan.

Innsbruck itu kotanya kecil dan dikelilingi oleh Pegunungan Alpen yang indah banget. Kemana-mana dekat. Luasnya sebesar kota Semarang tapi jumlah penduduknya hanya sekitar 100.000. Innsbruck posisi kotanya ada di 600 meter di atas daratan dan dikenal sebagai City of Alps. Air kerannya enak banget 😄💙…! Mungkin karena di Pegunungan Alpen ya. Selain itu, saya merasa Innsbruck memiliki banyak taman bermain dan berbagai fasilitas untuk ibu-anak yang sangat membantu kehidupan saya sebagai mamarantau. Saya hamil dan melahirkan di Innsbruck yang jauh sekali dari Indonesia, dan belum ada satupun saudara yang berkunjung (bahkan mama dan mertua kebetulan belum pernah kesini). Kondisi ini membuat saya harus belajar mandiri dan kuat. Masa-masa hamil tua dan melahirkan disini menjadi masa-masa yang tidak akan pernah terlupakan. Beruntungnya ada fasilitas dari negara, new mom mendapatkan pendampingan dari bidan yang rutin datang ke rumah untuk menemani saya si new mom selama sebulan pertama setelah melahirkan.

Hal yang paling saya sukai di Innsbruck adalah naik gunung! Ke Puncak Hafelekar atau sekedar ngopi-ngopi di Seegrube yang posisinya 2300m di atas daratan, bisa pakai cable car, bisa hiking melewati rute menanjak yang dipenuhi pepohonan indah luar biasa. Saya juga sering menghabiskan waktu di taman-taman bermain dan di komunitas orangtua-anak di Innsbruck.


Merantau di Fulda

Jolla Riza Jollanda – Hallo! Namaku Jolla, usia 31 tahun. Ibu dari 3 anak laki-laki (2 adalah kembar) yang sangat AKTIF sekali. Hehehe. Aku lulusan dokter di Universitas Andalas, Padang.

Dari sebelum menikah, aku sudah mempunyai cita-cita untuk melanjutkan spesialisku di Eropa. Entah itu yg namanya takdir Tuhan, aku bertemu suamiku saat aku menjalankan student exchange di Wina, Austria. Dia orang Indonesia yg sedang menjalankan pendidikan dokter di Wina. Ya, itulah yg namanya jodoh, cinta pada pandangan pertama dan akhirnya berjodoh dengannya 😄 .

Kami sekeluarga sekarang tinggal di Fulda, kota kecil berpenduduk hanya 68ribu. Letaknya sekitar 100km dari kota Frankfurt, Jerman. Suamiku melanjutkan pendidikan spesialisnya di sini maka dari itu akupun ikut suami dari tahun 2015.

Bagi kami yg biasa tinggal di Jakarta, Fulda hanyalah kota kecil yang jauh dari kata modern. Tapi dari awal tinggal di sini, dan sekarang sudah hampir 4 tahun, kami merasa suka dan nyaman tinggal di Fulda. Selain semua kebutuhan kami terpenuhi, di kota ini masih banyak penghuni asli orang Jerman, jadi dengan bahasanya pun kami bisa cepat belajar. Dan jika kami ingin lebih ke “kota“ kami langsung ke Frankfurt yang hanya 1 jam perjalanan. .

Oh ya, di Fulda setiap 1 tahun sekali juga diadakan yg namanya “Schützenfest“ waaahhh ini acara yang sangat ditunggu-tunggu! Lalu ketika musim dingin tiba, kami selalu menyempatkan main ski di Wasserkuppe (puncak tertinggi di Fulda)- dan jika musim panas tiba juga ada tempat wahana bermain untuk keluarga.

Being a mamarantau is not so easy, I gotta tell you hahahaha! Tapi aku belajar banyak sekali hal yang tidak aku dapatkan jika menetap di Jakarta. Dan setelah hampir 4 tahun menjadi ibu rumah tangga, akhirnya Tuhan menjawab doaku dan bulan depan aku akan melanjutkan spesialisku di Fulda 🖤 .

Ohya! Kami hobi sekali jalan-jalan. Mempunyai anak yang masih kecil tidak menyurutkan niat kami untuk explore kota dan negara lain ⛴️✈️

Merantau di Paris

Karina Ratnamurti – Hi, aku Karina, mama dari 2 anak (6y dan 3y) dan sedang hamil anak ke-3. Live in Paris since 2016, dan menjalani most of my life here dengan Long Distance Marriage. Most of my friend bertanya-tanya, apakah masih kurang sibuk juga, pakai hamil lagi segala. Well, manusia berencana, Tuhan pula yang menentukan 😀 Setelah sembuh dari Hyperemesis ketika hamil, doakan kuat untuk kembali ke Indonesia. 


Apa yg membawa keluarga kalian merantau ke Paris? Aku ditugaskan sebagai perwakilan RI di Paris, selama 3 tahun (2016-2019)

What’s to like and not to like about being a mamarantau in Paris?
To love – kota nya cantik (terutama malam hari), dan karena kota wisata, sering dikunjungi saudara dan teman2 dari Indonesia. 

Not to like – birokrasi, the snob, the odor, abd the scam. Saya pernah tinggal di kota besar lainnya, dan belum pernah dalam satu waktu pendek mengalami hal ini : hampir dicopet, kaca mobil dipecahin – kunci rumah dirusak – velg mobil dicuri. 

The snob — beberapa orang Paris memang ramah, tapi kebanyakan terlalu snob untuk sekedar membantu kita hal-hal sepele dan menjawab pertanyaan2 newbie. Tapi hal ini tidak berlaku di luar Paris ya, semakin ke selatan, semakin ramah mereka. This make me sad and homesick, and realize that don’t take Indonesia (and Indonesian) for granted! 


Most favorite place to go in/around Paris? St. Germain de Pres dan Le Marais. Pada dasarnya aku memang suka ngafé, dan nongkrong dengan suami. Sekaligus lihat pemandangan dan jalan-jalan non touristic saat malam hari, ketika lampu-lampu di Paris mulai menyala. 
Actually my most favourite part di Prancis itu bukan Paris, tapi Prancis Selatan, mungkin karena orang-orangnya lebih ramah. 🙂


Merantau di Astana

Agita Rachmasari – Indonesian. Dentist. Haidi’s wife ~ Jenna’s mom. Amateur Photographe. Live in Astana, Kazakhstan. 

Hallo…! Nama saya Dian Agita Rachmasari, biasa dipanggil Agita. Saya lahir di Medan 30 tahun yang lalu. Sejak kecil menempuh pendidikan berpindah-pindah kota Indonesia karena mengikuti orang tua, dari Samarinda, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, terakhir berkuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta jurusan Kedokteran Gigi dan akhirnya menyandang gelar Dokter Gigi pada tahun 2013. Pada tahun yang sama saya juga dinikahi oleh sahabat saya, Haidi Nur Hashfi yang saat ini sedang bertugas sebagai Diplomat di KBRI  Astana, Kazakhstan. Saya dan suami dikaruniai seorang putri bernama Jennaira Khansa noura (3,5 tahun), yang lahir di Melbourne ketika suami melanjutkan study S2 di sana.”

Kehidupan di Kazakhstan
Kehidupan keluarga merantau

Pindah ke Astana, Kazakhstan

Pada mulanya kami menerima kabar mengenai kepindahan ke Astana sekitar 4 bulan sebelum keberangkatan. Ketika mendengar kabar dari suami bahwa dia akan ditugaskan di Astana selama kurang lebih 3 tahun dan meminta saya dan putri semata wayang kami yang saat itu baru saja berusia 1 tahun, dalam pikiran saya “Lah pergi lagi? Belum juga setahun pulang ke Indonesia.

 Duh Astana itu dimana ya? Negara apa ya?”

An aerial view of Astana, the capital of Kazakhstan

Antara dag dig dug, exited, sedih, penasaran rasanya saat itu karena ini pertama kalinya bagi saya mendampingi suami bertugas sebagai diplomat di luar negeri. Saya langsung cari informasi mengenai Astana, persiapan-persiapan untuk keberangkatan dan keperluan selama di sana, serta menyusun rencana keuangan keluarga kami. Untunglah waktu itu ada grup ibu-ibu baik hati, istri-istri teman seangkatan suami yang banyak memberi informasi mengenai persiapan untuk penempatan luar negeri ini.

Selama 4 bulan, kami menyiapkan segala rupa kebutuhan yang harus dibawa dari Indonesia seperti beberapa setelan jas dan teluk belanga untuk suami, kebaya dan pakaian-pakaian nusantara untuk saya dan si kecil, souvenir-souvenir khas Indonesia, serta kebutuhan bahan-bahan makanan yang tidak tersedia di Astana atau barang-barang yang menurut kami lebih terjangkau jika dibeli di Indonesia. Tidak begitu banyak yang kami urus selain itu karena Jenna masih belum sekolah dan saya juga sedang tidak bekerja.

Kami dijadwalkan berangkat pada tanggal 19 Agustus 2016 tengah malam dengan pengalaman yang kurang menyenangkan bagi si kecil Jenna. Saat bangun pagi hari di tanggal tersebut, Jenna dalam keadaan demam dan batuk, mungkin karena lelah karena sebelum berangkat sering pergi bolak balik Jakarta-Serpong untuk suatu urusan dan ikut berpergian untuk persiapan keberangkatan lainnya. Siang hari kami sempatkan membawa Jenna ke dokter untuk dapat meminta perawatan untuk meredakan sakitnya. Dan malam hari kami bertiga berangkat menuju Astana.

Perjalanan kami kurang lebih selama 24 jam dengan penerbangan Jakarta-Seoul selama 7 jam, transit di Seoul 9 jam, dan penerbangan Seoul-Astana selama 8 jam. Selama perjalanan alhamdulillah Jenna tidak rewel sama sekali, tetap ceria walau sedang batuk. Hanya masalah makan saja yang agak susah, karena kondisi tenggorokan yang kurang nyaman sepertinya. Dan pada tanggal 20 tengah malam kami tiba di Astana yang sudah mulai sejuk.

Proses Adaptasi Anak dan Keluarga di Astana

Usia Jenna ketika pindah ke Astana masih terbilang cukup kecil, yaitu 1 tahun 5 bulan. Jenna cukup cepat untuk beradaptasi dengan lingkungan di Astana. Bahkan ketika baru tiba Jenna sudah sangat senang di tempat tinggal barunya. Dan yang paling membuat ibunya gembira, Jenna justru jadi gampang sekali makan setelah pindah ke Astana (setelah sebelumnya drama GTM yang nggak berkesudahan 

Lalu, meskipun udara di Astana sudah mulai sejuk menuju dingin, tetapi Jenna terlihat menikmati karena memang anaknya kurang suka cuaca yang panas. Mungkin juga Jenna tipe anak yang suka dengan hal-hal baru dan sudah saya ajak berpindah-pindah tempat sejak bayi, jadi dia tidak merasa canggung dan cepat beradaptasi ketika baru pindah. Selain itu ada situasi penting yang tidak berubah bagi Jenna, yaitu tetap bersama Ibu dan bapaknya seperti situasi sebelum-sebelumnya.

Perbedaan dengan Kehidupan di Indonesia

Banyak sekali perbedaan yang dirasakan dengan di Indonesia ya. Pertama dari segi cuaca, karena Astana termasuk negara 4 musim yang ketika musim dingin sangat-sangat ekstrim. Suhunya bisa mencapai -40°C dan biasanya musim dingin berlangsung sekitar 7 bulan. Karena itulah Astana mendapat sebutan “The Second Coldest Capital City in The World”.

The Second Coldest Capital City in The World

Kemudian cita rasa makanan di Astana juga berbeda dengan di Indonesia. Kebanyakan makanan disini bercita rasa asin atau sedikit hambar dan tidak begitu variatif seperti di Indonesia dan roti adalah makanan pokok warga setempat.

Contoh makanan tradisional “Beshmarak” yang merupakan makanan nasional Kazakhstan dan terdiri dari daging kuda atau domba rebus yang disajikan dengan potongan bawang bombay dan mie.  

Bumbu-bumi khas Indonesia pun tidak dapat ditemukan di Astana, seperti kecap manis, lengkuas, kemiri, pala, daun jeruk, tempe, daun pandan, dan lain sebagainya. Untungnya bahan makanan seperti tahu, kecambah, kacang kedelai masih bisa didapatkan di Toko Korea.

Kemudian bahasa, jelas beda ya. Tapi lebih menantangnya di Astana jarang orang yang bisa berbahasa Inggris. Bahasa sehari-hari mereka adalah bahasa Russia, tetapi bahasa resminya adalah bahasa Kazakh. Pusing juga awalnya karena saya belum bisa bahasa Russia dan membaca huruf Cyrillic. Akhirnya dengan berbekal bahasa tubuh dan google translate lah komunikasi saya. 

Kegiatan Sehari-hari Sebagai Seorang “Mamarantau”

Kegiatan sehari2 saya disini sebagian besar masih bergulat dengan pekerjaan ibu rumah tangga dengan 1 anak batita pada umumnya.

Saya mulai menyukai masak memasak ketika mulai tinggal di luar negeri, mencoba resep-resep makanan khas Indonesia ataupun resep lainnya. Karena ketika ingin makan makanan Indonesia mau tidak mau saya harus membuat sendiri dam ternyata itu menyenangkan buat saya.

Kegiatan di luar rumah, sesekali pertemuan dengan ibu-ibu Dharma Wanita di kantor suami, mendukung kegiatan di kantor suami misalnya menyediakan makanan khas Indonesia untuk acara-acara bazaar, serta acara spesial seperti menyambut tamu-tamu penting dari Indonesia yg berkunjung ke Astana atau menghadiri acara di kedutaan lain.

Beberapa bulan yang lalu kantor suami juga membuka kelas seni dan bahasa Indonesia-Russia untuk warga lokal serta WNI yang berada di Astana. Saya pun mengikuti kedua kelas tersebut karena saya memang pada dasarnya suka dengan seni, dan belajar bahasa Russia untuk lebih memudahkan dalam interaksi sehari-hari.

Pertama kali saya belajar tari di sini adalah Tari Piring yang berasal dari Sumatera Barat dan Tari Enggang yang berasal dari Kalimantan. Selain itu saya berlatih bermain angklung. Lagu pertama saya adalah Es Lilin dari Jawa Barat. Selama latihan ataupun berkegiatan, Jenna selalu saya bawa karena saya tidak membawa ART di Astana. Alhamdulillah Jenna bisa mengikuti dengan baik, dengan dukungan dan pengertian dari teman2 juga tentunya. Bahkan Jenna sangat senang jika ikut latihan menari, dia bisa ikut berjingkrak jingkrak olah tubuh. Atau ketika ikut kelas bahasa Indonesia-Russia, Jenna secara tidak langsung ikut mendengarkan dan belajar juga.

Kegiatan yang berkesan sejauh ini adalah latihan menari dan bermain angklung. Karena entah mengapa rasanya membuat saya semakin bangga dan cinta dengan budaya Indonesia, bisa belajar sejarah dan maksud dari tarian maupun lagu-lagu daerah Indonesia, serta memang merupakan hobby saya menari dan hal-hal berbau musik yang sudah lama sekali tidak dilakukan.

Di samping itu, pada acara Resepsi Diplomatik RI ke-72 di Asrana ini, saya bisa berkesempatan tampil pertama kali membawakan Tari Piring dan bermain angklung membawakan lagu Yamko Rambe Yamko, Closer, dan Kamazay (lagu populer Kazakhstan) bersama teman2 baik dari Indonesia maupun warga Astana.

Suka Duka Kehidupan di Astana

Sejauh ini fasilitas kesehatan yang saya rasakan kurang sreg di sini. Pengalaman pertama saya di sini ketika Jenna demam tinggi hingga 39°C ketika beberapa bulan kami baru tiba. Dokter di sini jarang sekali yang bisa berbahasa Inggris, sehingga kami harus dibantu oleh staf orang lokal untuk menerjemahkan ke bahasa Russia. Bagaimanapun rasanya kurang puas jika berkonsultasi tidak secara langsung (harus lewat perantara), kadang saya mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan saya karena salah tangkap oleh penerjemah.

Lalu ketika Jenna harus tes darah, mereka menggunakan jarum untuk dewasa untuk tangan semungil anak usia 1,5 tahun ☹. Padahal waktu itu saya periksa di rumah sakit ibu dan anak, tetapi mereka tidak punya jarum untuk anak. Lalu obat-obatan yang diberikan untuk Jenna yaitu berupa tablet semua, dan saya harus menggerus sendiri di rumah karena Jenna yang ketika itu masih berusia 1,5 tahun masih belum bisa minum obat dalan bentuk tablet. Lalu Jenna diminta untuk kontrol lagi setelah 1 bulan dan masih mendapatkan obat-obatanan yang saya juga kurang paham obat apa karena tidak mendapatkan penjelasan dengan baik, padahal kondisinya waktu itu sudah sehat.

Kalau dari cerita teman yang sudah hampir 3 tahun tinggal di Astana, hal itu sudah lebih baik dari pengalaman dia sebelumnya. Karena sebelum-sebelumnya, pasien biasanya akan diberi resep obat injeksi beserta alat suntiknya. Kemudian, anggota keluarga pasien akan diajarkan cara menyuntik obat oleh dokter agar bisa memberikan obat suntik kepada pasien di rumah. Tak heran masyarakat biasa di sini mahir dalam menyuntik. Aneh sih menurut saya sebagai praktisi kesehatan juga, tapi ya mau bagaimana lagi. Sejak pengalaman itu saya sangat memperhatikan kesehatan keluarga di sini.

Selain itu karena Astana termasuk kota yang kecil dan tidak begitu banyak tempat wisata, kota terdekat berjarak lumayan jauh, serta musim dingin yang berlangsung lama membuat saya sering dilanda rasa bosan. Hiburan paling sering yaitu jalan2 ke mall, tetapi kalau mengingat ada negara yang lebih kecil lagi saya harus sudah lebih bersyukur ya.

Harapan Sebagai Keluarga Diplomat

Sepertinya masalah utama yang sering dihadapi adalah mengenai pendidikan anak terutama untuk jenjang sekolah dasar dan selanjutnya, karena tidak semua negara memiliki sekolah indonesia. Meskipun Jenna belum memasuki usia sekolah, tapi ada rasa khawatir bagi saya bagaimana pemilihan pendidikan Jenna nantinya. Mengingat perbedaan kurikulum di Indonesia dengan di luar negeri, dan jika masuk ke sekolah internasional di Indonesia sangat mahal biayanya. Harapan saya ada perhatian dari instansi yang terkait mengenai masalah ini, seperti misalnya ada sekolah untuk anak2 dari para diplomat ketika berada di Indonesia atau mungkin dengan solusi lainnya.

Ketika keadaan tidak mendukung atau tidak sesuai dengan harapan kita, beranilah berbuat sesuatu atau mencoba hal yang baru meskipun kita tidak pernah tau hasilnya seperti apa. Karena bisa jadi kita temukan kesenangan dan manfaat di dalamnya. Dan yang paling penting adalah selalu bersyukur dan percaya bahwa Allah selalu bersama kita dimanapun dan bagaimanapun kita berada.

—- 

Interview oleh tim phdmamaindonesia.com kepada Gita.

Kegiatan Murah Meriah untuk Anak dan Keluarga di London

YokeYoke Wulansari – An Indonesian currently living a life in London. A native speaker of Indonesian with English and Dutch as the second language. I speak Spanish quite well to have a sobremesa-style conversation. My Italian is sufficient to make me survive when I need to buy food or ask for directions. My Mandarin, not bad to order rice with Peking duck. An extrovert that has turned out to be an introvert. I love Indonesia, and constantly miss Bandung.

Merantau di London

Semenjak kurang lebih dua tahun terakhir, saya dan anak laki-laki saya berusia 7 tahun tinggal di London untuk mendampingi suami yang berstatus sebagai karyasiswa di sebuah universitas di bagian barat kota. Sudah jadi rahasia umum khan, bahwa biaya hidup di London, seperti di kebanyakan kota besar lain di Eropa, tidak bisa dibilang rendah dan sering bikin sakit kepala. Tapi, untungnya saya bisa mengatakan kalau kota ini adalah kota yang pengertian dan ramah untuk keluarga dan anak-anak. Mengapa saya berpikir begitu? Karena ternyata pemerintah kota dan berbagai institusi banyak menyediakan kegiatan berkualitas untuk anak yang bisa diikuti tanpa dipungut bayaran dan itu jadi pengalaman yang menyenangkan tidak hanya bagi anak tapi juga bagi orang tuanya. Saya ingin berbagi sedikit tentang pengalaman saya mengikuti kegiatan gratis dan low-budget bersama keluarga.

Berkunjung ke museum yang masuk kategori “The Best Museum in the World”

London punya beberapa museum terbaik dunia dan bayangkan, kita tidak perlu bayar untuk bisa masuk dan menikmati semua koleksinya. Memang sih, mereka menyediakan kotak donasi, tapi kita tidak wajib memberikan donasi. Museum-museum terkenal seperti British Museum, Natural History Museum, Science Museum, Victoria and Albert Museum dan banyak museum lainnya punya koleksi keren yang sayang untuk dilewatkan. Di situs Web museum selalu ada info untuk kegiatan anak dan keluarga. Selalu klik di situ untuk tahu informasi tentang kegiatan yang dirancang khusus untuk anak.

london-natural-history-museum

Di Natural History Museum

Di Natural History Museum

Satu lagi, museum-museum ini ukurannya besar sekali jadi idealnya memang sekali berkunjung dengan anak, kita fokus di area tertentu saja karena apalagi jika kita membawa anak masih kecil biasanya jadi kelelahan. Tapi kalau memang waktunya sempit, selalu cari tahu tentang highlights setiap museum. Jadi dalam waktu singkat kita bisa melihat dan menikmati koleksi paling populer di museum tersebut.

irwinopolis-victoria-and-albert-museum-10

Museum Victoria dan Albert, London, adalah museum seni dekoratif dan desain terbesar di dunia, menampung koleksi permanen lebih dari 4,5 juta objek. Didirikan pada tahun 1852 dan dinamai menurut Queen Victoria dan Prince Albert

Ikut workshop seni dipandu seniman berpengalaman di National Gallery

National Gallery di London memiliki lebih dari 2000 koleksi lukisan dan banyak di antaranya bahkan lukisan maha karya pelukis kenamaan. Untuk anak-anak, mungkin masih sulit memahami lukisan tapi National Gallery punya program yang namanya Studio Sunday. Program ini adalah art workshop untuk anak yang dilakukan setiap hari Minggu. Kegiatannya berbeda-beda seperti menggambar sketsa, melukis, membuat 3-D object, membuat buku ilustrasi, dll. Anak-anak akan dibimbing oleh seniman yang memang bekerja di National Gallery. 

Hasil Menggambar Anak-anak di National Gallery

Hasil Menggambar Anak-anak di National Gallery

Studio Sunday Drawing Session
Studio Sunday Drawing Session

Saya pernah sesekali browsing mencari tahu tentang beberapa seniman pembimbing program ini dan wow, mereka punya jam terbang dan pengalaman yang juga tinggi. Selain Studio Sunday, National Gallery juga punya program seperti storytelling dan pertunjukan musik.

Bebas main di taman-taman London yang super luas.

London dikenal juga sebagai the green capital atau ibu kota yang hijau karena punya 43% lahan hijau. Jumlah taman kotanya juga banyak, ada 3.000 taman. Beberapa yang paling luas dan cantik adalah Hyde Park, Kensington Garden, Green Park, Greenwich Park, Hampstead Heath dan Richmond Park.

Di Kensington Garden, anak-anak bisa bermain di area pasir tempat berlabuh kapal bajak laut dengan ukuran besar. Mereka bisa masuk kapal, memanjat, dll.

playground-1

The Princess Diana Memorial Playground in Kensington Garden

Di Hampstead Heath saat musim panas kita bisa berenang di danau dan hiking sedikit ke Parliament Hill kita akan disuguhi pemandangan kota London yang indah dari atas bukit.

parl-hill-415x275

Parliament Hill Viewpoint – Grassy, romantic hilltop park with benches & iconic views of the London skyline

Kalau mau melihat rusa, kita bisa mengunjungi Richmond Park. Main di taman untuk keluarga kami selalu jadi kegiatan yang menyenangkan. 

image

Kadang dalam sehari kita bisa park hopping karena jarak tamannya berdekatan.

Menyaksikan Changing of the Guards

Siapa yang tidak mengenali penjaga istana dengan seragam merah dan topi bearskin-nya? Hampir setiap hari, bertempat di Istana Buckingham kita bisa menyaksikan prosesi pergantian petugas jaga istana. Mereka berbaris berjalan menuju istana diiringi drumben. Prosesi biasanya dimulai jam 11.00 pagi tapi kalau bawa anak kecil, sebaiknya hindari area Buckingham Palace karena pasti ramai kerumunan orang. Lebih nyaman kalau kita ke arah Wellington Barracks pada sekitar jam 10.15. Di sana para penjaga istana sedang bersiap untuk berjalan menuju Buckingham Palace dan selama menunggu kita malah akan terhibur karena drumben akan memainkan beberapa lagu. Dengan cara ini, kita juga melihat penjaga lebih dekat. 

changing-of-the-guard-buckingham-palace-1

di depan gerbang Buckingham, harus digendong yaa supaya bisa lihat penjaga istana

Di depan gerbang Buckingham, harus digendong yaa supaya bisa lihat penjaga istana

Oh iya, jangan lupa cek dulu jadwal pergantian penjaga di situs webnya British Army karena ada hari-hari tertentu prosesi ini tidak dilaksanakan.

Family Sunday di Royal Opera House

Royal Opera House adalah gedung pertunjukan opera dan balet yang masuk dalam daftar Top 10 Opera Houses versi National Geographic. Untuk orang Inggris sendiri, menikmati pertunjukan di sini adalah hal yang istimewa banget karena harga tiket pertunjukan yang mahal. Tapi khusus untuk keluarga, setiap hari Minggu terakhir dari setiap bulan mereka mengadakan Family Sunday.

11311707403_6db9919197_b

Di acara ini kita bisa masuk gedung opera yang megah dan mengikuti berbagai aktivitas menyenangkan yang berhubungan dengan seni pertunjukan seperti menyanyi, menari, pakai kostum, dll. Setiap bulan susunan kegiatannya berbeda tapi biasanya ada pertunjukan balet, demonstrasi kostum, serta backstage tour. Biayanya tidak terlalu mahal kok, hanya £5 untuk orang dewasa dan £3 untuk anak-anak dan acara berlangsung selama 4 jam.

Jadi anggota Public Library

Jangan lupa untuk daftar jadi anggota perpustakaan. Pendaftarannya gratis dan perpustakaan selalu punya banyak program untuk anak berbagai usia dengan tujuan untuk mengisi hari libur sekolah. Aktivitasnya banyak sekali dan bervariasi mulai dari storytelling, origami, manga drawing, kerajinan tangan dll. Tak jarang aktivitas itu juga disesuaikan dengan tema sesuai musim atau hari raya seperti Paskah, Natal, Diwali, Remembrance Day, dll.

berkegiatan di perpustakaan lokal

Berkegiatan di perpustakaan lokal

Di perpustakaan ini juga kita biasanya bisa dapat info tentang acara anak-anak di sekitar daerah tempat tinggal kita, misalnya pertunjukan teater, open house kantor polisi, stasiun pemadam kebakaran, dll.

di acara open house metropolitan police dan london fire brigade

Di acara open house metropolitan police dan london fire brigade

Main Air Mancur Spektakuler di Musim Panas.

Biasanya saat musim panas, kita bisa menemukan beberapa air mancur di London yang bisa dipakai bermain anak. Awalnya saya juga hanya lihat-lihat saja karena kalau di Indonesia biasanya kan dilarang yaaaaa bermain di air mancur. Tapi saya perhatikan, anak-anak lain kok bebas main air mancur basah-basahan malah ada yang ganti baju pakai baju renang. Saya lihat orang tua mereka juga membawakan baju ganti.

Main Air Mancur di Southbank

Main Air Mancur di Southbank

Jadi ternyata air mancur itu memang boleh banget jadi arena bermain anak. Beberapa tempat air mancur yang keren buat splish splash splosh ada di Southbank, Granary Square, Diana Memorial Fountain dan Queen Elizabeth Olympic Park Fountain. Water jets-nya bikin anak-anak betah banget.

image1

Queen Elizabeth Olympic Park Fountains

Winter Wonderland

Menjelang musim dingin, biasanya di awal bulan bulan November kita bisa berkunjung ke Winter Wonderland di Hyde Park. Seluruh area taman disulap jadi taman hiburan yang dipenuhi dengan berbagai atraksi dan rupa-rupa jajanan yang enak. Untuk masuk Winter Wonderland kita tidak perlu bayar. Kita hanya bayar jika ingin naik atraksi tertentu seperti komedi putar, ferris wheel, dll. 

winterwonderland

Kalau tidak ingin naik atraksi kita tetap bisa merasakan meriahnya suasana menjelang musim dingin. Anak-anak pasti suka mencoba jajanan khas marshmallow panggang dan cotton candy.

 

Nonton Film Anak dengan Harga Khusus

Tiket masuk untuk menonton film di bioskop di London tergolong mahal. Untuk dewasa sekitar £12 dan anak £8. Tapi di setiap hari Sabtu dan Minggu, dan juga saat libur sekolah, anak-anak bisa nonton film dengan harga khusus. Di UK ada beberapa perusahaan bioskop. Dua yang paling terkenal yaitu Odeon dan Vue punya program Kids Screening dan Mini Mornings yang menayangkan film anak-anak. 

image001

Memang film yang ditawarkan bukan film yang baru saja dirilis, tapi saya sering memilih program ini sebagai alternatif hiburan karena murah meriah. Berbeda jauh dengan harga normal, kita hanya harus membayar £3.5 per orang (harga dewasa dan anak sama).

London Open House

London punya banyak bangunan menarik yang sebetulnya tidak terbuka untuk umum. Namun satu tahun sekali, di acara yang dinamakan London Open House, masyarakat boleh masuk gratis dan melihat bagian dalam bangunan. Untuk tahu bangunan apa saja yang masuk dalam daftar, kita tinggal berkunjung ke situs web acara ini. Khusus untuk anak-anak, ada Open House Junior. Bangunan yang masuk dalam daftar Open House Junior, cocok untuk dikunjungi anak disertai dengan berbagai aktivitas untuk anak berbagai usia. Beberapa yang menarik adalah program City of a Thousand Architects yang diadakan di City Hall. Di sini anak-anak bisa ambil bagian membuat rancangan gedungnya untuk ditempatkan di maket kota London masa depan.  

cityofthousandarchitects_cityhall

Selain hal-hal yang telah saya sebutkan di atas, tentunya masih banyak kegiatan lain yang diadakan sepanjang tahun. Disamping kegiatan gratis, TFL atau Transport for London, penyedia jasa transportasi umum untuk kota London punya kebijakan kids go free. Jadi kalau kita menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta bawah tanah dan tram, anak sampai usia 11 tahun tidak perlu bayar. Bahkan satu orang dewasa diperbolehkan membawa maksimal 4 orang anak di bawah usia 11 tahun. Tidak bisa dipungkiri, biaya transportasi di London mahal – bahkan salah satu yang tertinggi di dunia karena masih lebih mahal dibanding kota New York – tapi karena anak tidak perlu bayar, kami agak terhibur dan jadi nggak pernah mati gaya selama tinggal di London ☺

Semoga bermanfaat, yaaa..! Untuk beragam kegiatan FREE dan murah meriah lainnya, beberapa Website seperti: http://www.london-baby.com dan www.familybreakfinder.co.uk juga dapat membantu..!

=====

More about London stories from Yoke can be read at her blog: https://ladybugonthego.wordpress.com