Insiden Charlie Hebdo dan #prayforParis

csOntel – I am a housewife and mother who love outdoor activities. I am actually a serious one but people said that I smile and laugh a lot. I love  british accent, watching football and I am a biggest fan of Manchester United FC.

Bagi sebagian warga di dunia, tahun baru merupakan sebuah perayaan di mana seluruh warga akan bersuka cita menyambutnya. Namun, kali ini tidak bagi warga Prancis. Mengawali tahun 2015, tepatnya tanggal 7 Januari 2015 pukul 11.30 waktu setempat, warga Prancis dikejutkan melalui serangan bom yang ditujukan kepada kantor majalah Charlie Hebdo. Kejadian pemboman disulut dari konten majalah satir ini yang kerap membuat gerah para politisi. Selain para politikus yang menjadi ‘bahan’ satiran, majalah ini juga kerap menampilkan gambar ‘nyeleneh’ dari berbagai agama. Serangan terhadap Charlie Hebdo ini dianggap sebagai simbol dari belenggu kebebasan berekspresi oleh warga Prancis.

Untuk mendukung Charlie Hebdo, seorang Art Director asli Prancis yang bernama Joachim Roncin, membuat slogan “Je suis Charlie” yang kemudian digunakan dalam berbagai manifestasi untuk mendukung Charlie Hebdo dan kebebasan berekspresi.

je_suis_charlie_paris_11_january_2015_3

Kejadian kelam di tahun 2015 bagi Warga Prancis bukan hanya itu, pada Pertengahan bulan November 2015, serangan bom kembali pecah di daerah sekitar tempat konser Le Bataclan, Paris (10-11 Arrodisement). Tahun 2015 bagi Prancis mungkin menjadi tahun yang cukup kelam akibat adanya serangan teroris.

4553831_7_19a9_ill-4553831-03a0-456712_d8a9e4ac8d4b3807c8b36dc5bf1cacdf1

Je (ne) suis (pas) Charlie

Setelah serangan terhadap Charlie Hebdo, siaran televisi Prancis lalu banyak menghadirkan Imam besar agama Islam yang ada di negara ini. Mereka bertugas untuk menjawab pertanyaan mengenai aksi teroris yang kemudian dikaitkan dengan Islam. Akan tetapi, jalan yang ditempuh ini belum sepenuhnya tercapai. Islam masih dipandang negatif bagi beberapa kalangan. Padahal, Islam sebagai agama memiliki pandangan tersendiri tentang bagaimana menyikapi kebebasan berekspresi.

Masih di acara berita televisi. Sang Imam bercerita bahwa salah satu murid di sebuah sekolah mendapat hukuman dari gurunya. Ia dikeluarkan dari kelas karena berkata kepada sang guru “Je ne suis pas Charlie” (baca: aku tidak mendukung Charlie). Cerita sang Imam kemudian memancing sebuah pertanyaan. Apakah sikap guru tadi sudah sesuai dengan tujuan dari slogan “Je suis Charlie” dalam hal kebebeasan berekspresi?. Menurut saya pribadi, sepertinya momentum terjadinya aksi teroris terhadap Charlie Hebdo, hanya dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan popularitas pemerintah yang sebelum kejadian ini tingkat popularitasnya cukup menurun.

dans-le-flot-des-manifestants-un-message-divergeant-balaye_1260335_1200x800

Je Ne Suis Pas Charlie

#PrayforParis

Kejadian pemboman di Paris cukup mengejutkan banyak warga Perancis. Mereka dibuat shock dan takut untuk keluar rumah. Saya membaca komentar – komentar para pembaca di Lefigaro.fr dan Yahoo.fr. Kebanyakan dari mereka mengaitkan kejadian pemboman ini sebagai akibat dibukanya perbatasan Eropa untuk membebaskan warga suriah masuk ke negara-negara Uni Eropa.

Pro dan kontra dari warga Prancis bermunculan akibat adanya kebijakan tersebut. Lagi – lagi agama sebagai salah sau alasannya. Mayoritas warga Suriah menganut agama Islam. Agama tersebut tidak cocok dengan nilai – nilai agama Katholik yang merupakan agama dasar di Prancis. Jika semakin banyak umat muslim yang berada di Prancis, nilai – nilai agama Katholik akan memudar lalu menghilang. Kekhawatiran – kehawatiran itulah yang mendasari sehingga warga Prancis kurang mendukung masuknya para pengungsi Suriah.

Pernah suatu hari ketika saya sedang di sudut pusat perbelanjaan, secara tidak sengaja saya mendengar sebuah percakapan beberapa warga Prancis yang isinya seperti ini. “Kejadian ini adalah kesalahan pemerintah sendiri”. Pemerintah dinilai kurang berusaha secara maksimal dalam menghentikan teroris di tanah Prancis pasca aksi teror terhadap kantor majalah Charlie Hebdo.

4553814_7_7c35_ill-4553814-26ad-456617_1ba361337a35fa19c49a7837dd503522

Edisi Khusus Charlie Hebdo: “Di mana Sekulerisme?”

Akibat dari aksi teroris ini berdampak pada ditutupnya perbatasan Prancis dengan negara-negara lain sebagai bentuk antisipasi masuknya teroris secara bebas. Pengamanan Prancis diperketat. Jika ingin bertandang ke Prancis, para pengunjung harus melalui perbatasan dengan proses pemeriksaan yang sangat keteat dan memakan waktu berjam-jam lamanya. Peraturan juga diberlakukan di pusat perbelanjaan. Sebelum masuk, para pegunjung harus memeriksakan tasnya kepada petugas. Dampak yang paling terasa adalah dari segi turistik. Jumlah wisatawan di pusat-pusat turistik di paris mengalami penyusutan hingga 30%.

Tentunya kami semua berharap agar tidak ada lagi kejadian-kejadian terorisme seperti ini baik di Prancis maupun di negara-negara lain.


Written by Ontel. Images in this page linked to its URL’s sources.

Edited by Ummul Masir, Mamarantau’s Content Editor.

Advertisements

Kesempatan Kedua Tinggal di Jepang..!

IMG_9867Enrica Rinintya (Chacha) – Seorang perempuan (27) asli Yogyakarta yang Alhamdulillah diberi kesempatan untuk singgah di beberapa belahan Bumi. Ibu dari seorang anak lelaki berumur 2 tahun, seorang stay at home mom yang sedang menemani sang suami berpetualang di Negeri Sakura. My family is my life, we learn and grow together. 

Merantau di Jepang

Pertama kalinya menjejakkan kaki di Negeri Sakura ini pada tahun 2008. Dengan status mahasiswa pertukaran pelajar di Osaka, sebuah kota yang menurutku tidak terlalu besar dibandingkan dengan kota di mana saya tinggal sekarang. Saat ini saya adalah seorang Full Time Mother yang berstatus menemani suami yang sedang melanjutkan studi S3 di Tokyo Metropolitan University (TMU/Shuutodai), Tokyo. Saya diberi kesempatan kedua untuk menjejakkan kaki di Negeri ini, kali ini bersama keluarga kecilku: Joned (suami) dan Izza. Di sebuah kota di pinggiran Tokyo; Tama City.

1Sumber: Google.com

Terkenal dengan maskot Hello Kitty, “Sanrio Puroland” dan “Hello Kitty Town” dengan lokasi yang berjarak agak jauh, kira-kira 1 jam dari pusat kota (dengan kendaraan umum), ternyata memiliki cerita dan kejutan-kejutan tersendiri.

sanrio1Sanrio Puroland, Tama City, Tokyo – where Hello Kitty dreams came true

3

Dan di kesempatan kedua kali ini, saya banyak menemukan hal-hal baru, terutama terkait dengan dunia parenting di Jepang. Dimana anak-anak di Negeri ini amat sangat dijaga dengan baik oleh Negara, diberikan fasilitas yang memadai dan pelayanan yang memuaskan.

FASILITAS KESEHATAN

Kami biasa mengantarkan anak kami, Izza (26 bulan) untuk kontrol kesehatan di sebuat klinik di dekat tempat tinggal kami. Setelah selesai kontrol, barulah kami tahu kalau semua fasilitas dan pelayanan adalah gratis! Bahkan biaya imunisasi dan obat pun hampir semua bebas biaya.

Kami awalnya kesusahan dalam berbahasa (untuk istilah-istilah medis) pun dibantu dengan semaksimal mungkin oleh pihak staff klinik yang bertugas. Bahkan pihak dokter pun mau menerjemahkan ke dalam bahasa inggris walaupun terbata-bata. Yah, walaupun mereka lebih sering mengulangi dalam bahasa Jepang, dengan harapan kami mengerti bahasa mereka.

5

6Sumber: Website Tama Garden Clinic

Selain fasilitas berobat di klinik, ternyata dari pihak kantor kecamatan setempat pun mewajibkan Izza untuk melakukan general check-up untuk anak setiap 1,5 tahun sekali. Plus, diberikan jadwal rutin kontrol ke dokter gigi.

Pada saat kontrol ke dokter gigi, semuanya lengkap, selain mengecek kesehatan gigi anak, orangtua pun diajarkan cara menyikat gigi anak dengan tepat. Orangtua diminta untuk praktek langsung di tempat konsultasi yang telah disediakan. Mereka bahkan menanyakan lho sikat gigi dan odol apa yang kita gunakan (karena wajib dibawa saat kontrol) 🙂

FASILITAS TUMBUH KEMBANG ANAK

Tadinya sempet deg-deg an juga, apa jadinya ya hidup di Jepang bersama seorang anak yang masih usia dini. Bisa survive ngga ya kita? Jengjeng..ternyata bisa lho! Karena perhatian pemerintah Jepang terhadap anak-anak ternyata luas biasa besarnya, banyak fasilitas-fasilitas tersedia untuk anak-anak di sekitar kami. Diantaranya yang terjangkau dari lokasi tempat kami tinggal ada:

A. Jidoukan (children center)
Hampir di setiap daerah memiliki Jidoukan. Fasilitas yang ditawarkan pun berbeda-beda. Pada umumnya, jidoukan berlokasi dekat dengan perpustakaan daerah.

221x165xnakameguro-jidoukan-png-pagespeed-ic-iruzpcdn7f

Jidoukan is a great place to meet-up with a fellow Mom and Dad with kids for a playdate, or go alone with baby and make some new friends. (Sumber: bestlivingjapang.com)

Di Toyogaoka Jidoukan, yang berlokasi kira-kira 5 menit dengan berjalan kaki dari tempat kami tinggal, secara rutin mengagendakan aktivitas untuk ibu & anak seminggu sekali. Aktivitasnya seru-seru, biasanya ada tetzukuri (crafting dengan berbagai tema yang berbeda-beda), outing ke kebun binatang, dan  kamishibai (story telling).

kamishibai5

What is Kamishibai? (kah-mee-she-bye) or “paper-theater,” is said to have started in Japan in the late 1920s, but it is part of a long tradition of picture storytelling. Kamishibai stories for educational purposes are still being published and can be found in schools and libraries throughout Japan and more recently, through the efforts of Kamishibai for Kids, in the United States and Canada.

Selain itu, kalo lagi mati gaya, bisa ajak anak ke tempat ini untuk main sepuasnya juga, dari pukul 9.00-15.00 setiap hari (selain ahad). Karena di tempat ini disediakan ruangan bermain dengan permainan lengkap yang sudah ditata sesuai umur dan jenis permainan. Ibu bisa menemani anak sepuasnya, anak senang, ibunya pun bisa menikmati quality time dengan sang anak dan juga bercengkerama dengan ibu-ibu lainnya.

B. Seitoku Youchien (Seitoku Kindergarten)

Belum lama ini, sebuah taman kanak-kanak yang juga berdekatan jaraknya, membuka diri untuk umum, setiap hari Rabu. Anak boleh masuk ke dalam taman kanak-kanak dan bermain dengan fasilitas bermain yang disediakan sepuasnya juga. Bahkan terkadang dibiarkan bermain dengan anak-anak yang bersekolah.

Sumber: (Atas) Website Sekolah Seitoku (Bawah) Dok. Pribadi

Di sini anak dapat belajar untuk bersosialisasi serta mengenal dunia selain rumah. Jadi, walaupun usianya belum menginjak 3 tahun pun sudah bisa kenalan dengan suasana di taman kanak-kanak, yang kurang-lebih dihabiskan dengan belajar sambil bermain.

C. Outdoor Playground

Hampir disetiap blok di antara bangunan di cluster tempat tinggal kami pasti ada taman bermain. Dimana anak bisa bebas bermain dan berlarian. Pastinya, kalau cuaca sedang mendukung fasilitas ini lah yang kita manfaatkan. Begitu pedulinya pemerintah terhadap keselamatan, kenyamanan dan kebahagiaan anak, apapun selalu dengan slogan “kodomo no tame” (demi kepentingan anak-anak/ for the sake of children).

17584404099_70a25d333d_cSuasana salah satu outdoor playground di Tokyo (Sumber: Google)

D. Perpustakaan Daerah dan Toko Buku
Kami dimanjakan dengan fasilitas bernama buku. Kalaupun ternyata buku-buku bertuliskan tulisan jepang, tetapi gambar-gambar di buku anak-anak bagus-bagus semua. Jadi, asik-asik aja buat pinjem buku-buku di perpustakaan Jepang, karena gambarpun bisa kami pakai untuk saling bercerita. Toko buku pun tersebar di sekeliling kami, dimana di toko-toko tersebut biasanya diperbolehkan untuk membaca buku ditempat (disediakan tempat-tempat untuk duduk dan membaca).

mainSalah satu perpustakaan untuk anak di Kyoto Univeristy of Art and Design. Sumber: piccoli.jp

Selain itu, membudayakan membaca untuk anak menurut kami adalah penting. Bukan esensi belajar membacanya tapi menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku dan kegiatan membaca adalah salah satu hal yang menurut kami penting.

FASILITAS UNTUK BELAJAR BERBAHASA

Didanai/diprakarsai oleh Pemerintah Kota, berdirilah sebuat lembaga belajar bahasa Jepang. Dengan staff pengajar orang Jepang asli yang bisa berbahasa inggris. Lembaga ini bernama TIC (Tama International Centre). Lembaga ini tersebar di beberapa lokasi di dalam satu kota, jadi kita bisa memilih lokasi yang paling nyaman untuk kita datangi. Selain program bahasa, lembaga ini juga terkadang menawarkan aktivitas-aktivitas kebudayaan berupa kelas yang bisa kami ikuti juga; seperti Ikebana, kelas memasak, dsb. Lembaga ini juga menyediakan fasilitas penitipan anak gratis selama 2 jam, jadi sang ibu bisa belajar dengan tenang sementara sang anak bisa main sepuasnya..(biasanya sih terus ngga mau pulang ^_^v). So, buat yang di rumah dan ingin tetap bisa belajar bahasa dan budaya Jepang, ngga perlu bingung lagi. Kalau penasaran bisa klik link ini yah! http://www1a.biglobe.ne.jp/tic/

FASILITAS KELUARGA

Salah satu bonus, ketika tinggal di Jepang adalah tempat-tempat berlibur bagi keluarga. Kami terkadang menyempatkan sebagian waktu dari keseharian kami untuk berlibur. Semisal ke theme park ataupun ke lokasi-lokasi yang asyik untuk di datangi.

18Yomiuri Land saat Jewel Light-up

21

Ski Park di daerah Nagano

Selain aktivitas-aktivitas di atas, eratnya hubungan antara sesama orang Indonesia pun membuat kami tidak merasa sendirian. Terkadang kami saling bersilaturahmi untuk menimba ilmu dan saling bertukar pengalaman.

(Kiri) Bersama rekan-rekan PPI-TMU (Kanan) Bersama teman-teman Pengajian Muslimah Fuchu

Dan juga, Kebudayaan Jepang yang sangat kental, menghargai hadirnya empat musim bisa kami nikmati seiring dengan kehidupan kami sehari-hari.

24

Undangan ke Pernikahan ala Jepang

26

Hanami – Cherry Blossom Viewing – Menikmati Bunga Sakura di Musim Semi

27

Hina Matsuri (Girls/Dolls Festival)

Kurang lebih itu yang selama ini kami lakukan untuk menghabiskan waktu kami sehari-hari disini. Walaupun seorang Full Time Mother, saya tetap diberi fasilitas untuk menyalurkan minat dan hobi. Izza pun dapat mendapatkan fasilitas-fasilitas yang mendukung tumbuh kembangnya.

——-

Kalau ada teman-teman yang ingin berkenalan dengan kami, kami bisa ditemui di:
Instagram: @rinintya
blog: http://belajarjadiortu.wordpress.com

*Semua foto dalam artikel ini, otherwise stated, adalah dokumentasi pribadi Chacha dan keluarga.

Merantau di Le Barcares

csOntel – I am a housewife and mother who love outdoor activities. I am actually a serious one but people said that I smile and laugh a lot. I love  british accent, watching football and I am a biggest fan of Manchester United FC.

 

Saya tinggal di Perancis setelah menikah dengan Monsieur yang berkebangsaan Perancis pada tahun 2011. Satu tahun setelah menikah, saya melahirkan petit monsieur, dan sekarang kami tinggal di sebuah kota di tepi pantai Mediterania bernama Le Barcares.

Merantau di Le Barcares

Saat ini saya tinggal di kota tepi pantai Mediterania bernama Le Barcares. Karena letaknya yang di selatan Perancis, kota saya ini selalu memiliki suhu yang lumayan hangat sepanjang tahun. Jadi jangan berharap ada salju tebal yang turun di kota ini di musim dingin, hujan saja jarang sekali, yang ada itu ya angin kencang.

1802178_barcares

Le Barcarès is a commune in the Pyrénées-Orientales department in southern France bordering the Mediterranean Sea

Hal-hal yang menarik untuk dikunjungi di kota Barcares

Pantai

Kalau musim panas, jangan ditanya ramainya. Pantai dan jalanan penuh sama para turis yang datang dari berbagai negara. Nah, biasanya kalau musim panas untuk para turisnya, pantai Barcares menyewakan fasilitas olah raga air seperti yacht, jet ski, dsb. Dan untuk yang suka party, hampir setiap weekend akan ada DJs yang siap untuk menemani para turis menghabiskan malam. Di daerah sekitaran pantai Grande Plage, terdapat salah satu perahu besar bernama Le Lydia yang menjadi salah satu kantor turisme di kota Barcares ini. Di sekitaran Lydia ini terdapat pedestrian yang cukup nyaman dan bersih, yang menarik kita juga dapat melihat instalasi artistik yang berada di sepanjang jalan.

beach4 (1)

Pelabuhan

Kalau untuk saya pribadi, tempat yang jadi favoritnya saya di kota Barcares ini itu adalah pelabuhannya. Enggak tahu kenapa, tapi saya suka banget bersepeda ke tempat ini, melihat para nelayan yang sedang mempersiapkan jala,  mencium aroma laut, mengagumi rumah singgah nelayan yang berwarna-warni, dan menikmati senja di antara perahu nelayan. Buat saya pribadi hal-hal seperti itu yang menjadi data tarik pelabuhan Barcares ini.

IMG_0725 (1)

fishermen house (1)

Le village magique de Noel

Walaupun Barcares ini ramainya di musim panas, bukan berarti tidak ada hal menarik yang layak dikunjungi di musim dingin. Objek turisme musim dingin yang harus dikunjungi di Barcares adalah Le Village Magique de Noel. Desa yang penut dennen ‘keajaiban’ ini judah ada sejak tahun 1999. Ini adalah desa buatan yang didekorasi sedemikian rupa sehingga menciptakan kesan bahwa kita sedang berada di sebuah negeri dongeng yang penuh dengan keajaiban. Inti dekorasi kota ‘ajaib’ yang selalu sama setiap tahunnya adalah pepohonan yang dipenuhi dengan butiran salju (buatan tentunya). Kemudian dekorasi tambahan lainnya adalah lampu-lampu hias dalam berbagai bentuk, yang selalu berganti setiap tahunnya.

IMG_0270 (1).jpg

skatingatvillagemagique

Pines Forest

Hutan pinus di Barcares ini menjadi tempat refreshing yang sangat alami dan sepi. Hutannya sendiri memang tidak terlalu luas, tetapi setiap kali kami berkunjung tidak terlihat banyak orang di sana. Selain itu, tempat ini juga memiliki peralatan olahraga ala-ala militer yang terbuat dari gelondongan kayu.

pines tree

Tahapan Awal masuk ke Perancis

Visa Long Sejour

Pada saat saya sedang menunggu proses izin dari Kedutaan Perancis di Jakarta untuk menikah dengan Monsieur,  kami pikir dapat sekaligus melakukan permohonan agar saya dapat segera mendapatkan visa ke Perancis, maksudnya sih supaya setelah proses pernikahan tidak usah repot-repot lagi mengurus visa. Tetapi ternyata untuk warga negara Indonesia yang menikah dengan warga negara Perancis di Indonesia, permohonan visa tersebut baru bisa diajukan setelah menerima livret de familie. Visa yang saya dapatkan adalah visa long sejour dengan status sebagai conjoint français, yang memperbolehkan saya untuk bekerja di Perancis. Bersamaan dengan visa tersebut dari pihak kedutaan memberikan formulir yang harus saya isi dan kirim ke l’Office français de l’immigration et de l’intégration (OFII):

  1. Setelah itu saya menghadiri pertemuan di kantor OFII, pertemuan ini sangat penting karena di sini saya diwajibkan untuk menandatangani kontrak integritas, sebelum mendapatkan stiker yang nantinya akan berguna untuk memperoleh titre de sejour.
  2. Mereka juga mewajibkan saya untuk menghadiri empat pertemuan yang diperuntukan bagi para imigran. Di mana di setiap pertemuan tersebut akan diberikan sertifikat yang berguna untuk mendapatkan titre de sejour di tahun-tahun berikutnya.
  3. Pihak dari OFII juga akan menanyakan kemampuan berbahasa Perancis kita. Kalau dianggap belum cukup maka mereka akan menawarkan kursus bahasa Perancis gratis. Karena waktu itu saya sudah mempunyai sertifikat DELF A1, maka saya tidak mengambil kursus tersebut.
  4. Lalu setelah itu mereka akan mempertanyakan latar belakang pendidikan kita, nanti mereka akan memberikan kesempatan untuk kita diwawancara di agen pencari kerja untuk diwawancara, agar kita bisa mendapatkan pekerjaan.

Visa long sejour ini hanya berlaku selama satu tahun saja. Karena bentuknya merupakan stiker yang ditempel di paspor, maka selama tahun pertama tinggal di Perancis, supaya lebih aman kalau keluar rumah agak jauh saya selalu membawa paspor.

Titre de séjour

Setelah mengantongi ijin tinggal di Perancis dengan visa de sejour, di tahun kedua saya harus memperbaharui ijin tinggal saya dengan titre de sejour. Tidak seperti visa long sejour yang hanya berupa stiker di paspor, titre de sejour ini saya anggap sebagai sebuah kartu identitas, jadilah setelah mendapatkan kartu ini saya tidak perlu membawa paspor lagi kecuali kalau mau keluar Perancis. Untuk mendapatkan kartu ini, syarat yang paling utama untuk pasangan yang menikah dengan orang Perancis adalah tidak bercerai. Setelah itu tentu saya harus melengkapi beberapa berkas yang dibutuhkan dan dikirimkan ke le prefecture. Sama seperti visa de sejour, kartu ini masa berlakunya adalah satu tahun, dan setiap kali melakukan pembaharuan, kartu yang lama harus dikembalikan.

Carte de resident

Saat ini saya telah mendapatkan kartu tanda penduduknya Perancis yang berlaku selama sepuluh tahun. Kartu ini saya dapatkan setelah tiga tahun tinggal di Perancis. Berdasarkan pengalaman saya, untuk mendapatkan kartu ini memang persyaratannya minimal tiga tahun tinggal di Perancis, tetapi teman saya yang lain baru mengajukan kartu penduduk ini setelah tahun ke-empat tinggal di Perancis. Pada saat saya mengajukan pembaharuan titre de sejour, pegawai dari pihak prefektur menawarkan saya untuk membuat kartu penduduk 10 tahun ini. Karena saya sudah tiga tahun tinggal di Perancis, dan bahasa Perancis saya dianggap sudah cukup bagus, beliau mengatakan (jika saya setuju), bisa langsung buat janji untuk diwawancara. Pada waktu itu, dengan ragu-ragu, saya langsung mengiyakan, karena saya pikir tidak ada salahnya dicoba, kalau berhasil lumayan tidak usah bolak-balik setiap tahun ke prefektur untuk memperbaharui kartu. Lagi pula masih bisa buat janji dulu, jadi masih bisa mempersiapkan diri untuk diwawancara di hari lain. Akhirnya saya iya-kan penawaran dari pegawai prefektur tersebut. Setelah saya mengiyakan, pegawai tersebut langsung menelepon pegawai prefektur lainnya untuk menanyakan jadwal wawancara. Tetapi.. ternyata lima menit kemudian saya diwawancara! Tanpa ada persiapan sama sekali, saya pun menjalankan wawancara.

Setelah itu pihak prefektur mengirimkan beberapa pertanyaan ke la maire (balai kota) di tempat saya tinggal, yang gunanya untuk mengetahui keaktifan saya di sini. Setelah itu saya melakukan wawancara dengan pihak balaik kota. Dari sini dapat diketahui apakah kita sebagai imigran dapat berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat sekitar. Terutama juga (ini yang paling penting menurut saya) untuk mengetahui tingkat kemampuan berbahasa Perancis kita. Setelah wawancara dengan pihak balai kota selesai, mereka akan memberikan pendapat mereka mengenai pantas atau tidak pantasnya saya untuk mendapatkan kartu residen. Setelah itu saya harus menunggu dua minggu, sebelum akhirnya mendapatkan surat untuk mengambil kartu residen saya di prefektur.

Ohya! Perlu diingat, untuk memperbaharui visa tersebut harus dilakukan 3 bulan sebelum masa berlakunya habis. Periksa kelengkapan berkas sebelum ke prefektur, karena ada beberapa prefektur yang menolak menerima berkas kalau tidak lengkap. Jadi daripada bolak-balik, lebih baik dilengkapinya terlebih dulu berkas-berkas yang dibutuhkan.

Berkendara di Perancis

Untuk di kota-kota besar seperti Paris, Bordeaux, Marseille, dan sebagainya, pada umumnya sudah memiliki sarana transportasi umum yang cukup memadai, seperti misalnya kereta cepat TGV, bis, ataupun tramway. Sehingga tidak menjadi masalah bagi warganya untuk berpindah tempat tanpa harus memiliki kendaraan pribadi. Hal ini berbeda dengan mereka yang tinggal di kota kecil seperti saya. Karena jadwal bus yang tidak selalu ada setiap waktu, para warga di kota kecil selalu mengandalkan kendaraan pribadi untuk berpindah tempat. Nah, untuk itu saya tertarik untuk memberikan informasi (sedikit) tentang apa-apa yang harus diketahui kalau mau berkendaraan di Perancis.

Sistem Izin Mengemudi dengan poin

Setiap pengemudi di Perancis punya jumlah maksimum dua belas poin. Berkendara di Perancis itu bantak jebakan mautnya, kalau misalnya kena tilang karena tidak pakai sabuk pengaman atau sedang menelepon, poinnya berkurang tiga poin. Misalnya kena radar, berkurang satu poin. Jadinya kalau tidak hati-hati sekali, poin SIM ini cepat sekali habisnya. Nah, kalau yang jumlah poinnya sudah menipis (untuk mengemudi diharuskan memiliki minimum poin yaitu empat poin), para pengemudi diwajibkan mengikuti stage recuperation (semacam kursus rekuperasi poin), supaya bisa mendapatkan poin mereka kembali. Kalau misalnya mereka tidak mengikuti kursus ini mereka terancam didenda dan pembekuan SIM telama tiga tahun.

Kursus rekuperasi poin ini berbayar, sistemnya hampir sama seperti kalau mau mendapatkan SIM baru – musti tes tentang kode jalan, dan latihan menyetir lagi. Kadang-kadang para pengendaranya malas, jadi banyak juga yang membiarkan SIM mereka hilang, dan mengganti mobil mereka dengan mobil yang bisa dikendarai tanpa SIM.

Setiap kendaraan wajib memiliki asuransi

Di Perancis ini asuransi mobil itu wajib hukumnya. Bisa saja sih berkendaraan tanpa asuransi, tapi kalau nanti ada pemeriksaan dan ternyata kendaraan kita gak punya asuransi bisa terkena denda. Selain itu, dari pengalaman saya hari ini, punya asuransi itu bisa bikin kita tenang kalau misalnya (sambil ketok meja) terjadi kecelakaan. Tidak perlu marah-marah sama yang nabrak, yang perlu cuma tinggal minta dan isi (oleh kedua pihak) kertas Constat Europeen d’Accident untuk ditujukan ke asuransi, dan selanjutnya biarkan mereka yang bekerja untuk mengganti kerusakan kendaraan kita. Asuransi ini tidak hanya berlaku untuk kendaraan yang rusak saja, tetapi juga untuk korban yang terluka akan dibayarkan pengobatannya. Kalau misalnya kalian mau menyewa mobil, pihak penyewa biasanya akan menawarkan asuransi. Kalau menurut saya lebih baik diambil saja, tidak apa-apa bayar sedikit lebih mahal yang penting jadi lebih aman.

Jika terjadi kecelakaan polisi akan datang ke tempat kejadian hanya jika ada korban

Kalau misalnya sudah terjadi kecelakaan, tidak udah buru-buru panik dan telepon polisi. Di sini polisi akan datang kalau sampai ada korban. Beda banget sama di Indonesia yang kalau ada kecelakaan Pak polisi pasti langsung nyamperin kita dong buat nanya-nanya kejadian, atau jadi mediator kalau misalnya pihak yang nabrak dan ditabrak saling ngotot. Kalau di Perancis mah boro-boro. Pernah ya waktu pas kami kecelakaan karena ada mobil yang menabrak mobil kami. Di tengah jalan ada pak polisi melihat kami dan mobil kami yang ringsek, tetapi dia gak ngapa-ngapain cuma jalan aja terus gitu, tidak tertarik sama sekali untuk mengetahui kronologis kejadian. Mertua saya juga waktu itu sempat menelepon ke kantor polisi, terus beliau ditanya apakah ada korban yang terluka atau tidak?. Pas mertua saya jawab tidak ada, mereka malah menyuruh kami untuk menyelesaikan sendiri. Katanya mereka bisa datang ke tempat kejadian kecelakaan cuma kalau ada korban saja. Makanya, kalau misalnya (sambil ngetok kayu) sampai ada kecelakaan tetapi tidak ada koran lebih baik diselesaikan sendiri saja.

Awas radar

Iya radar ini digunakan untuk mengatur batas maksimum kecepatan. Biasanya sih radar ini ditempatkan di jalan-jalan besar yang padat lalu lintasnya. Tidak jarang juga dari pihak gendarmerie turun tangan langsung untuk meneropong kecepatan kendaraan di tempat yang tidak terduga. Ada juga radar mobile. Radar ini ada di dalam mobil yang dikendarai polisi atau gendarmerie yang tidak berseragam. Tapi mobil yang dikendarai ini mobil biasa, bukan mobil polisi atau gendarmerie. Jadi mereka menyamar gitu. Sebenarnya ini kadang-kadang dianggap menjebak para pengendara. Karena saking banyaknya radar, ada sekelompok pengendara yang membuat grup antiradar, karena mereka menganggap radar sepertinya disalahfungsikan oleh pemerintah. Tidak jarang banyak juga yang menutup kamera radar dengan cat atau plastik, supaya mereka tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Setuju atau tidak setuju sama radar ya namanya juga berkendara, jadi harus taat dengan batas kecepatan maksimum yang dianjurkan.

wheels-france-camera-blog480

Kalau kita sampai melewati batas kecepatan, radar akan memfoto nomor kendaraan kita dan surat dendanya akan dikirimkan beberapa hari kemudian ke alamat rumah kita. Tapi bisa juga kalau lagi apes ya langsung dijegat sama polisi atau gendarmerie. Jadi kalau gak mau didenda ya musti hati-hati.

Tidak usah umbar klakson

Kalau berkendaraan di Jakarta (apalagi kalau sedang macet) orang senang banget mengklakson mobil. Kalau di Perancis klakson dipakai untuk mengingatkan pengemudi yang nyetirnya tidak benar dan bisa bikin bahaya pengendara lainnya. Jadi kalau misalnya kalian sedang berkendara di jalanan Perancis dan dapat klakson, itu artinya kalian nyaris membahayakan pengendara lain. Klaksonnya cuma sekali aja kok, enggak berkali-kali. Jadi tidak udah panik atau kesal yaa.

Untuk sementara saya baru bisa berbagi segitu saja tentang info berkendaraan di Perancis. Nanti kalau saya sudah tahu lebih banyak lagi akan saya tambahkan, hehe. Tapi sebenarnya sih mau di mana pun juga kalau mau berkendara ya musti hati-hati. Tidak usah pakai emosi kalau misalnya ada kendaraan yang bikin kesal ya diklakson aja.

Sampai cerita selanjutnya dari saya..!


xxxx

Ontel bisa dihubungi via http://www.halobonjour.com

halobonjour@outlook.fr

Instagram: @halobonjour

Merantau di Kerpen

Processed with VSCOcam with f2 presetBeth Agustina, wanita kelahiran Agustus 1977 yang tidak bisa berenang meskipun lahir dan tinggal di kota yang terkenal dengan pantai-pantainya, Pacitan, hingga usia 16 tahun. Menetap di Kerpen Jerman sejak tahun 2007. Bekerja sebagai fotografer yang  saat ini sedang menikmati masa-masa tiga tahun parental leave yang akan segera berakhir dua bulan mendatang.

Continue reading

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 4 – Final)

7526fe7990e6591c3fa4d9bdf506e934Permai Sari Molyana Yusuf (Melly – An Indonesian, currently living in Mannheim, Germany. A Housewife with two kids, Afiqah and Aqila. Interest in Biophysics and love to cook, bake and do Food Photography. A Culinary Contributor of Indonesian Fashion Magazine.

Frankfurter Buchmesse atau lebih dikenal Frankfurt Book Fair (FBF) disinyalir sebagai the world’s largest trade fair for books ,hal ini dilihat dari jumalah pengunjung dan perusahaan pelaku bisnis terkait penerbitan buku dan lisensi serta penulis, ilustrator, seniman, perangkat lunak dan multimedia. Sehingga tidak salah jika banyak yang menganggap FBF ini merupakan pameran buku yang paling penting di dunia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Frankfurt Haupbahnhof , Stasiun Kereta Frankfurt

Setiap tahunnya, acara ini diselenggarakan  di Frankfurt Messe, Frankfurt am Main, Jerman , di pertengahan bulan Oktober, selama 5 hari. Tiga hari pertama merupakan jadwal untuk pengunjung  eksklusif (pelaku bisnis di bidang buku untuk penerbitan, menulis, lisensi, dsb) dan 2 hari terakhir sisanya, terbuka untuk khalayak umum.

Sejak  tahun 1976, pameran ini memberikan ruang bagi negara negara lain untuk menjadi tamu kehormatan dan menjadikannya sebagai Tema  Frankfurt Book Fair di tahun tersebut. Sebagai contoh, untuk tahun ini, 2015, Indonesia menjadi tamu kehormatan dengan mengusung tema „17.000 Inseln der Imagination (17.000 Islands of Imagination)”.

Adanya kesempatan sebagai tamu kehormatan tentunya memberikan dampak yang positif bagi negara berkembang Indonesia, untuk memperkenalkan diri, potensi dan karya anak bangsa. Bisa dibayangkan, hadirnya Indonesia disini menjadilkan hasil kreatifitas anak bangsa makin diakui banyak pihak dari berbagai negara dan tentunya ini menjadi pemicu makin meningkatnya kepercayaan generasi muda dalam berkarya seni, menulis, dsb.

Informasi mengenai penyelenggaraan Frankfurter Buchmesse setiap tahunnya bisa dilihat di website Buchmesse.

***

Sejak tahun lalu sebenarnya aku sudah ingin datang ke acara FBF ini, hanya saja saat itu menjelang ujian DTZ dan ujian politik negara, jadilah mengesampingkan dulu kepentingan yang lainnya. Alhamdulillah tahun ini bisa mengunjungi Frankfurt Book Fair di saat Indonesia menjadi tamu kehormatan. Hal yang bersamaan pula momen ini menjadikan temu kopi darat beberapa teman teman Mbakyurop yang juga mengunjungi FBF ini 😉

Beberapa dari kami sudah mengunjungi FBF di hari Sabtu, jadi kami janjian sarapan bersama di tempat yang sudah disepakati sehari sebelumnya, di salah satu kafe di dekat Hauptbahnhof. Alhamdulillah seneng bangeeet. Kebayang kan biasanya info-info hanya di grup dan tidak pernah bertemu, setelah bertemu rasanya seperti sudah kenal lama ^^

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari kiri ke kanan : Mindy dan Medea, Beth, Era dan Aima, Aku dan Flipper, Mia

***

FBF tahun ini dibuka untuk umum pada tanggal 17 dan 18 Oktober 2015, 2 hari terakhir menjelang penutupan. Dan aku datang di hari Minggunya. Jujur saja, 1 hari tidak akan cukup menjelajahi seluruh pameran ini, ada 5 gedung besar dengan minimal 3 lantai yang cukup luas untuk dilihat apalagi jika waktunya terpotong untuk mengikuti sesi-sesi diskusi yang diadakan.

Biaya tiket masuk yang ditawarkan pun beragam (umum, kontributor atau bisnis). Untuk umum, tiketnya sekitar 18 eur dan ada penawaran harga khusus untuk student atau sejenisnya dan juga pemegang kartu Arbeitlos (tidak bekerja), dsb. Sedangkan untuk Flüchtlinge atau pengungsi (pengungsi yang berasal dari negara negara perang, dsb) diberikan hak untuk masuk gratis.

5 - Tiket untuk kalangan privat

Tiket untuk kalangan private

***

Pengalamanku dengan tiket, sesaat sebelum masuk Messe frankfurt, aku ditawari untuk membeli koran lokal seharga 0,80 eur atau 80 cent, yang didalamnya ada voucher untuk membeli 1 tiket gratis 1 dan hanya berlaku untuk pembelian jenis tiket sehari. Kebetulan aku saat itu berdua dengan temenku Mia, jadi adanya voucher ini membuat kami berdua tampak lebih sumringah melewati dingin pagi itu di Frankfurt, hihihihihihihi 😀

Setelah melewati loket tiket, panitia juga menyediakan sarana penitipan barang dan jaket dan dikenakan biaya sekitar 2 euro untuk satu jenis barang penitipan. Jadi mempermudah pengunjung untuk mengunjungi stand-stand tanpa ribet dengan bawaan pribadi.

***

Di sini, benar benar seperti surganya buku, semua jenis buku dari berbagai negara ada. Karena memang event Internasiona ya. Dari mulai buku anak, remaja, dewasa, orang tua, roman, pokoknya semuanyaaa… dari mulai bahasa lokal (jerman), bahasa Inggris dan bahasa dari masing masing negara peserta Book Fair. Bisa dibayangkan satu lantai hall saja besarnya ga nahan untuk dilihat satu-satu, ini ada 5 hall yang semuanya besar.

Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca
Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca

Hal yang menarik, di setiap stand buku, pengunjung diberi fasilitas kursi dan meja atau kursi saja yang nyaman untuk membaca dan semua buku dipajang dalam keadaan tidak di bungkus, jadi semua pengunjung dipersilahkan dengan senang hati untuk duduk santai dan membaca. Pemandangan yang seperti ini memang sangat lumrah ditemui di berbagai toko buku di Jerman. Seharian di toko buku untuk membaca adalah hal yang sah sah saja, asyik ya? 😉

Lesezelt
Lesezelt

Seperti halnya kegiatan perpustakaan-perpustakaan di Jerman pada umumnya, di FBF juga menghadirkan kegiatan „menceritakan“ untuk bacaan anak-anak, bahkan ada disediakan tempat khusus, Lesezelt (atau disebut sebagai Tenda Membaca). Di pameran buku pun ada beberapa spot tertentu dimana anak anak bisa duduk santai sambil mendengarkan cerita. Percayalah, si pencerita akan menarik pendengar untuk duduk anteng mendengarkan isi ceritanya dengan seksama. Kenapa?? Karena di setiap adegannya dia bisa mengeluarkan berbagai jenis suara berbeda diikuti dengan mimik yang kadang penuh kejutan ! 🙂

Sehingga tidak heran, kalau pendengar pun ikut merasakan alur cerita yang lucu, sedih, gembira dan petualangan seru. Saat mengunjungi spot ini agak sedikit menyesal memang, tidak membawa anak-anak untuk ikut serta. Tapiii ya karena memang hari Minggu, kakak Afiqah punya jadwal sekolah Minggu yang sepertinya tidak boleh terlalu sering membolos.

Kinderbuch Centrum, Children's Book Centre
Kinderbuch Centrum, Children’s Book Centre

 

Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru
Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru

 

Apps Radio.de
Apps Radio.de

 

Pilihan di Apps Radio.de
Pilihan di Apps Radio.de

 

Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak
Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak

Oh iya, kegiatan seperti ini juga bisa didengar melalui apps radio dari hp, nama apps nya radio.de bisa di download di apps store , langsung saja cari „Hallo Eltern Podcast – Märchen“ (menceritakan cerita dongeng Jerman untuk anak anak).


Stand Buku Indonesia
Stand Buku Indonesia

 

Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015
Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015

 

Gramedia Printing di FBF 2015
Gramedia Printing di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan
Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku di Indonesia Pavilion
Buku-buku di Indonesia Pavilion

 

Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.
Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

 

Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion
Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

* * *

Sebagai tamu kehormatan, tentunya Indonesia banyak memberikan peran dalam event-event diskusi yang diadakan. Sebagian besar panelis merupakan utusan dari Indonesia, yang memang berprofesi sebagai penulis, tokoh kuliner, dsb.

Beberapa diantaranya, yaitu :

Penulis buku sastra dan fiksi
A. S. Laksana
Abidah El Khalieqy
Afrizal Malna
Agus R. Sarjono
Ahmad Fuadi
Ahmad Tohari
Andrea Hirata
Avianti Armand
Ayu Utami
Azhari
Budi Darma
Cok Sawitri
Dewi Lestari
Dorothea Rosa Herliany
Eka Kurniawan
Goenawan Mohamad
Gunawan Maryanto
Gus tf Sakai
Ika Natassa
Intan Paramaditha
John Waromi
Joko Pinurbo
Laksmi Pamuntjak
Leila S. Chudori
Lily Yulianti Farid
Linda Christanty
M. Iksaka Banu
Maggie Tiojakin
N. Riantiarno
Nh. Dini
Nirwan Dewanto
Nukila Amal
Okky Madasari
Oka Rusmini
Putu Oka Sukanta
Ratih Kumala
Sapardi Djoko Damono
Seno Gumira Ajidarma
Sindhunata
Taufiq Ismail
Darwis (Tere Liye)
Toeti Heraty
Triyanto Triwikromo
Yusi Avianto Pareanom
Zen Hae

Penulis komik
Aji Prasetyo
Apriyadi Kusbiantoro
Arief Yaniadi
Beng Rahadian
Benny Rachmadi
Hikmat Darmawan
Is Yuniarto
Iwan Gunawan
Kharisma Jati
Muhammad Misrad (Mice)
Sheila Rooswitha Putri
Tita Larasati
Wendy Jaka Sundana

Penulis buku anak
Arleen Amidjaja
Christiawan Lie
Djokolelono
Murti Bunanta
Nadia Shafiana Rahma
Renny Yaniar
Tety Elida

Penulis buku non-fiksi
Agustinus Wibowo
Dian Pelangi
Imelda Akmal
Julia Suryakusuma
Noor Huda Ismail
Trinity
Suwati Kartiwa
Wahyu Aditya
Yoris Sebastian

Penulis digital
Daryl Wilson
Taufik Assegaf

Juru Masak
Aries Adhi Baskoro
Astrid Enricka Dhita
Bara Pattiradjawane
Budi Lee
Ignatius Emmanuel Julio
Ivan Leonard Mangudap​
Mukhamad Solihin
Petty Elliot
Putri Mumpuni
Ragil Imam Wibowo
Sandra Djohan
Sisca Soewitomo
Sudarius Tjahja
Vindex Tengker

Tokoh Kuliner
Helianti Hilman
Lisa Virgiano
Mary Jane Edleson
Mei Batubara
Santhi Serad
Sri Owen
William Wongso

Aktivis Literasi
Anton Solihin
Asma Nadia
Evelyn Ghozalli
Heri Hendrayana (Gola Gong)
Janet DeNeefe
Muhidin M. Dahlan

Narasumber seminar
Frans Magnis Suseno (Pluralisme and Islamophobia)
Haidar Bagir (Pluralism and Islamophobia)
Ulil Abshar Abdalla (Pluralisme and Islamophobia)
Philips Vermonte (Pluralisme and Islamophobia)
Setiadi Sopandi (Tropical Architecture in Indonesia)
Gede Kresna (Tropical Architecture in Indonesia)
Oman Fathurahman (Script in Indonesian Manuscript)
Sugi Lanus(Script in Indonesian Manuscript))
Dewi Candraningrum (Translating Faust and Goethe)
Mery Kolimon (Writing of Political Violence and Trauma)
Endo Suanda (Recording of Indonesian Music)
Eko Prawoto (Climate and Architecture)
Francis Kere (Climate and Architecture)
I Made Bandem (Indonesian Superhero, Cerita Panji)

Pembaca Karya
Butet Kartaredjasa
Elizabeth Inandiak
Endah Laras
Jennifer Lindsey
Landung Simatupang

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Dan masih ada lagi yang lain. Buku hasil karya penulis pun beberapa sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman dan sudah tersedia di toko buku online seperti Amazon.de , Thalia.de dan bookdepository.com.

Selain itu nama nama yang dituliskan di atas juga berperan sebagai panelis dan narasumber dalam berbagai event diskusi selama berlangsungnya FBF dan di beberapa Bibliothek/ perpustakaan di berbagai kota di Jerman,  seperti Dresden, Heidelberg, Berlin, dsb.

Semaraknya Indonesia mewarnai FBF tahun ini tidak mungkin terlepas dari cita rasa masakan khas tanah air. Sehingga ada beberapa spot di pameran ini yang menyediakan masakan khas Nusantara seperti Nasi Kapau, Gado-gado, Ayam rica-rica, dessert Klappertaart, dsb

Selain itu, di luar area pameran, juga digelar masakan Kaki Lima, yang menyediakan Nasi Goreng dan Sate khas Indonesia. Kaki Lima ini bisa dikunjungi langsung di Römer, salah satu sudut kota Frankfurt, Jerman. Tantangan banget kan ya, menjajakan makanan di luar ruangan di saat suhu sudah mulai turun di musim gugur.

Rasanya tidak cukup hanya satu hari untuk bisa mengunjungi seluruh area FBF. Hari Minggu, aku berkesempatan untuk mengikuti dua event setelah berkeliling melihat-lihat buku 😉 , yang pertama,  “The Art of Banana Leaves Food Wrapping” yang disampaikan oleh Ibu Sisca Soewitomo dalam Bahasa Indonesia dengan penterjemah Bahasa Jerman dan yang kedua,  “Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Dr. Jusuf Habibie dan Frans Magnis-Suseno dalam Bahasa Jerman.

Keduanya dilakukan sama sama di Indonesia Pavilion dan waktunya yang berdekatan, sehingga aku pun bisa mengikuti tanpa harus berpindah gedung lainnya.

***

Event yang pertama, Bu Sisca memperkenalkan penggunaan daun pisang yang kerap kali digunakan di berbagai macam masakan Indonesia. Baik itu sebagai pelengkap, alas/ wadah ataupun pembungkus. Sambil mendemokan membuat gado-gado, beliau menjelaskan aroma yang dikeluarkan dari daun pisang tersebut yang memberikan rasa dan aroma yang khas, apalagi jika daun pisang yang digunakan untuk membungkus makanan, selanjutnya dibakar sebentar di perapian, akan menambah cita rasa sedap dalam masakan. Dan ternyata, Ibu Sisca menggunakan daun pisang yang di dapatkan di Toko Asia di Jerman.

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta warganegara Jerman, menanyakan mengenai rasa masakan khas Indonesia, yang sebagian besar menggunakan cabai dan rasanya pedas. Hal ini tentunya berkaitan dengan selera masyarakat Jerman yang cenderung plain saja tanpa pedas.

„Banyaknya macam jenis masakan Indonesia, tentunya ada pula yang tidak harus menggunakan cabe atau jika pun menggunakan, kadar penggunaan cabe itu sendiri juga dapat disesuaikan dengan selera. Jadi tidak selalu harus pedas“ jelas bu Sisca.

Event selanjutnya, antusias peserta tidak kalah banyaknya dibanding dengan event sebelumnya. Bahkan podium peserta diskusi tidak cukup menampung dan banyak yang rela untuk melantai agar dapat mengikuti diskusi bersama Presiden Indonesia yang ketiga ini, Dr. BJ. Habibie.

“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie
“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie

Intinya, Bapak Habibie sangat yakin bahwa nantinya Indonesia akan menjadi negara yang mandiri dan bisa mensejahterakan rakyatnya. Kekayaan alam Indonesia yang sangat banyak dan semakin potensialnya sumber daya manusia tentunya menjadi kombinasi yang positif untuk kemajuan bangsa.

Ada beberapa event lainnya yang aku lihat namun tidak full, karena aku masih ingin melihat-lihat pameran buku, yakni

Morning Coffee with Literacy Activist bersama Muhidin Dahlan, Anton Solihin, Heri Hendrayana, Asma Nadia dan Evelyn Gozali.

dan terakhir sebelum penutupan, ada diskusi 2 penulis, satu dari Indonesia yang yang diwakili oleh Ayu Utami dan satunya dari Belanda yang diwakili oleh Adriaan van Dis. Podium penonton untuk diskusi ini sepertinya hanya untuk orang-orang tertentu karena akan sekalian dengan penutupan dan serah terima ke Belanda sebagai Guest Honour tahun depan.

Die nächste Buchmesse findet vom 19. bis 23. Oktober 2016 statt !!
Nantikan Frankfurt Book Fair berikutnya, yang akan diselenggarakan pada tanggal 19-23 Oktober 2016 !!

——–

Tulisan ini disadur dari tulisan di blog Melly . Foto  yang dilampirkan menggunakan watermark Mellyloveskitchen adalah dokumentasi pribadi dan yang mengambil dari website lain dicantumkan sumbernya pada nama foto tersebut.

IG: @mellyloveskitchen

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 3)

11195840_700362946752341_86095811_nLulusan Statistika dan Teknik Industri yang baru 10 bulan tinggal di Den Haag mengikuti suami, seorang warga negara Belanda. Saat ini sedang sekolah bahasa Belanda sembari mengikuti beberapa kegiatan volunteer disekitar Den Haag untuk memperlancar bahasa Belanda. Senang mengamati apapun dan menuangkan dalam tulisan diblog, senang bepergian, membaca, dan memasak.

Frankfurt Book Fair (FBF) adalah pameran buku terbesar dan tertua didunia, lebih dari 500 tahun usianya. Frankfurt Book Fair adalah tempat bertemunya pelaku industri buku, media, pemegang hak cipta yang datang dari seluruh penjuru dunia. Acara ini digelar setiap tahun pada pertengahan bulan oktober. Jadi pada saat tersebut akan ada banyak sekali penulis buku, penerbit, penjual buku, agen bahkan produser film yang bertemu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Partisipannya sebanyak 132 negara dengan jumlah pengunjung mencapai ratusan ribu orang. Hal lain yang tidak kalah menariknya adalah setiap tahun selalu ada tamu kehormatan. Pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan. FBF tahun ini dilaksanakan pada tanggal 14-18 Oktober 2015.

FBF dibuka untuk umum hanya pada 2 hari terakhir yaitu 17 dan 18 Oktober 2015. Area FBF sendiri dibagi menjadi 5 gedung utama. Untuk detailnya bisa dilihat pada foto dibawah ini :

Foto 1 (Denah FBF)

Sekitar 7 atau 8 tahun lalu saya selalu memimpikan untuk bisa pergi ke acara ini. Saya rajin memupuk mimpi tersebut. Setiap tahun saya selalu membaca liputannya. Saya selalu mempunyai harapan besar bahwa suatu saat mimpi tersebut akan terwujud. Alasannya sederhana, karena saya cinta buku. Saya suka aroma kertasnya, saya suka sensasi ketika membalik halamannya dan yang terpenting adalah saya cinta membaca buku. Bersyukur tahun 2015 ini salah satu harapan saya (diantara banyak sekali mimpi) bisa menjadi nyata bertepatan dengan Indonesia menjadi tamu kehormatan. Dan yang membuat saya semakin semangat adalah saya ingin bertemu beberapa penulis yang saya idolakan sejak buku pertama mereka terbit, bahkan satu penulis sudah saya idolakan sejak dia menjadi penyanyi. Jadi bisa dibayangkan betapa girangnya saya.

Saya dan suami berangkat dari Den Haag jam 3 dini hari berkendara selama 6 jam dengan berhenti 2 kali karena suami tidur sebentar dan setelahnya mencari tempat sarapan. Keluar dari parkiran mobil, sudah ada bis yang disediakan untuk antar jemput dari dan ke gedung FBF. Tepat jam 10 pagi pada 17 Oktober 2015 saya menginjakkan kaki pertama kali dalam area FBF. Suami selalu memegangi tangan saya ketika kami sedang berjalan, bukan karena supaya tampak mesra, tetapi saya selalu berjalan cepat kesana kemari karena terlalu antusias dan suasana saat itu memang sedang ramai sekali 😀

17.000 Islands of Imagination, Tema Paviliun Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015

Akhirnya pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair. Menjadi tamu kehormatan pada acara yang yang berusia lebih dari 500 tahun tersebut merupakan kesempatan berharga. Menurut Pak Anies Baswedan dalam pidatonya bahwa kesempatan berharga ini bukan hanya untuk memperkenalkan Indonesia tetapi juga mengajak Eropa melakukan percakapan lintas budaya yang lebih luas. Mengusung tema Islands of Imagination, Muhamad Thamrin sebagai Arsitek yang dipercaya untuk menggarap area paviliun tersebut menjadi area yang penuh desain cantik. Dalam paviliun tersebut terdapat tujuh pulau yang masing-masing memiliki unsur budaya di Indonesia. Pulau-pulau tersebut adalah : Island of Scenes, Island of Spices, Islands of Illumination, Island of Inquiry, Island of Tales, Island of Images, dan Island of Images.

Masing-masing pulau menyajikan Indonesia dalam cara yang berbeda. Island of Spices yang mengajak pengunjung untuk berpetualang dan mengenal keragaman Indonesia melalui rempah dan kekayaan kulinernya.

Island of Scenes menampilkan Indonesia dari sisi pentas dan pertunjukan budaya. Island of Illumination menampilkan naskah dan manuskrip kuno yang menjadikan awal sastra yang ada saat ini. Island of Inquiry menampilkan sains dan kebudayaan Indonesia dalam bentuk digital.

Islands of Tales memberikan nuansa berbeda yaitu memperlihatkan negeri dongeng Nusantara dengan suara dan proyeksi gambar bergerak.

Pada bagian Island of Words diperuntukkan bagi para peminat kartun, cerita bergambar, novel grafis dan animasi. Sedangkan bagian yang terakhir adalah Island of Words menampilkan beragam buku karya penulis Indonesia dengan visual dan konten yang menarik.

 Foto 4 (Stand Indonesia)

Sejak saat persiapan sampai hari terakhir acara, perkembangan dan beritanya bisa diikuti langsung melalui website resmi Islands of Imagination, akun Facebook Pulau Imaji dan akun twitter @pulauimaji. Kuliner Indonesia juga berjaya disini. Tidak hanya masakan saja yang disajikan, tetapi rempah Indonesia juga diperkenalkan pada pengunjung. Saya melihat ada beberapa pengunjung tidak hanya mencium rempah-rempah tersebut, tetapi juga mencicipinya. 25 chef sampai didatangkan langsung dari Indonesia seperti William Wongso sebagai ketua kulinernya, Bondan Winarno, Sisca Soewitomo, Barra Pattiradjawane, dan masih banyak yang lainnya. Menu yang disajikan dikantin Indonesia adalah gado-gado (6.5 euro), sayur kapau (9.5 euro), asinan Jakarta (5.9 euro), ayam rica-rica (9.5 euro), dan dessert klappertart (lupa harganya berapa). Sejak sebelum jam makan siang, antrian sudah mengular. Selain demo memasak, juga dibuka kelas memasak yang diikuti oleh pelajar dan anak muda. Kelas memasak ini salah satu contohnya adalah mengajarkan cara membuat kolak pisang dan pepes ikan. Dari situs CNN Indonesia, disebutkan bahwa peserta sangat antusias.

Foto 5 (Beberapa spicies yang didisplay) Foto 6
Awal datang, saya langsung menuju hall terdekat yaitu hall 4. Bersyukurnya langsung menemukan stand Gramedia yang sedang mengetengahkan talkshow tentang buku anak-anak. Setelah puas berkeliling di hall 4.0 dan 4.1 kami langsung menuju Paviliun yang ternyata sedang berlangsung sesi Leila S.Chudori dan Laksmi Pamuntjak tentang buku mereka masing-masing yaitu Amba dan Pulang. Saya datangnya telat, jadi mendapat tempat dibelakang para pembicara, karena penuh dengan penonton. Diantara penonton saya melihat Taufik Ismail dan Bapak BJ Habibie. Setelah sesi mereka selesai, kami langsung menuju kantin untuk makan siang. Kami memesan sayur kapau dan gado-gado.
Foto 7 (Source @pulauimaji)

Sekitar jam 1 kami bergegas menuju hall 4.3, berputar sebentar dan sebelum jam 2 saya sudah duduk manis menunggu sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa jam 2 siang di stand nasional. Sesi yang paling saya tunggu karena ada Dewi Lestari, penulis idola. Sejak Dewi Lestari menjadi penyanyi digrup RSD, saya sudah mengidolakan dia. Lagu ciptaannya yang berjudul Satu Bintang di Langit Kelam menjadi salah satu lagu favorit sampai saat ini. Dan ketika dia mengeluarkan buku pertamanya yang berjudul Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001) bisa ditebak setelahnya saya selalu membeli karya-karyanya, lengkap sampai Gelombang. Saya mengagumi setiap karakter yang dia ciptakan, cara dia membawa pembaca untuk hanyut dalam setiap cerita yang dia tulisakan. Pada buku Perahu Kertas, saya sampai tersedu sedan ketika membacanya. Jadi, salah satu mimpi saya sejak lama juga adalah bisa bertemu langsung dengan Dewi Lestari, berbincang sebentar, meminta tanda tangan dibukunya, dan foto bersama. Jadi ketika tahu Dewi Lestari akan ada sesi dihari sabtu bersama Ika Natassa yang bertema “Woman and The City” saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selama 30 menit saya mendengarkan dengan anteng talkshow dalam bahasa inggris tersebut. Sampai sesi tanya jawab, saya langsung mengacungkan tangan, padahal pada saat itu saya belum tahu apa yang akan ditanyakan (kebiasaan!!). Pikir saya, mumpung ada kesempatan. Dan saat itu saya satu-satunya orang yang mengacungkan tangan pada saat sesi awal tanya jawab.

Foto 8 (Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa Penuh)

Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa Penuh

Dewi Lestari, penulis beberapa buku bestseller, termasuk “Supernova” dan “Perahu Kertas” pada tahun 2014 merupakan perwakilan Indonesia yang secara simbolis menerima tampuk bergilir sebagai tamu kehormatan 2015, dari Finlandia sebagai Tamu kehormatan pada FBF 2014. Pada saat itu Dee, panggilan Dewi Lestari mengatakan bahwa sebagai tamu kehormatan, Indonesia akan mendapatkan sorotan yang lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, yang artinya ada pekerjaan dan tanggunjawab yang harus diselesaikan sebelum Oktober 2015. Tanggungjawab yang dimaksud berhubungan dengan penerjemahan. Dari setiap naskah Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa asing, jendela pengetahuan dunia tentang Indonesia terbuka semakin lebar.

”Saat ini, karena terbatasnya jumlah buku Indonesia yang diterjemahkan, boleh dibilang kondisi perbukuan kita gelap gulita di luar sana. Jika kita melihat begitu banyaknya judul buku menghiasi rak-rak benderang di Gramedia, gulita itu tidak terasa. Tapi, setiap saya diundang ke berbagai festival buku internasional, di sanalah saya mendapatkan kondisi perbukuan kita yang gelap dan terkucil. Setelah bicara berbusa-busa dengan penuh percaya diri di panggung bersama para penulis mancanegara, pertanyaan sederhana seorang penonton, “Where can I get your book?” menjadi pukulan telak yang cuma bisa saya tangkis dengan senyum semanis mungkin sambil berkata, “Unfortunately, it’s not yet available in English.” Skakmat” begitu yang dijelaskan Dee dalam websitenya deelestari.com. Karenanya, tugas Indonesia sebagai tamu kehormatan pada tahun 2015 bukanlah pekerjaan yang ringan. Mengajak mata dunia untuk memandang literasi Indonesia.

Foto 9 (Dewi Lestari Ika Natassa)
Dee dan Ika Natassa membicarakan topik yang relevan dengan kondisi saat ini yaitu tentang perempuan, kota dan problematikanya. Dua topik ini lekat dengan cerita-cerita yang ditulis oleh kedua penulis tersebut. Ika Natassa merupakan penulis best seller yang salah satu karyanya adalah “Twivortiare” dan karya terbarunya adalah “Critical Eleven”. Dee dan Ika Natassa dianggap mampu mewakili pemikiran wanita & problematika yang banyak ditemui generasi saat ini. Dee yang menggabungkan science dan fiction ke dalam nuansa karyanya mengaku selalu memberikan bumbu – bumbu problematika saat ini ke dalam tulisannya, berbagi cerita tentang proses pembuatan karakter setiap tokoh dalam novelnya, serta membacakan bagian scene dalam bukunya, “Supernova”. “Proses menulis yang saya alami adalah pembelajaran seumur hidup. Writing is like building your muscles.”, ujarnya.

Sementara Ika Natassa bercerita tentang proses produksi dan pembentukan karakter novel yang tidak hanya bermodalkan fiksi, tetap juga merupakan hasil riset dari karakter – karakter masa kini yang ‘nyata’ ada di kehidupan sehari – hari. Karenanya karya Ika Natassa tidak pernah jauh dari cerita dan jejak kehidupan sosial kaum urban Jakarta dengan segala lika likunya. Sesi diskusi ini mendapatkan perhatian pengunjung dari berbagai kalangan, terutama para penggemar Dee dan Ika yang datang dari sekitar wilayah Eropa. “Untuk penulis – penulis Indonesia yang karyanya ingin dikenal di dunia internasional, pastikan konten dan isi cerita yang kita tulis sudah cukup berkualitas. Menangkan dulu pasar nasional, baru kemudian kita sama –sama berkonsentrasi untuk memperkenalkan karya ke pasar internasional. Tahun ini sebagai tamu kehormatan, beruntung sekali kita penulis – penulis Indonesia mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan kelompok publishers yang datang dari seluruh penjuru dunia. Tidak hanya itu, event ini juga menjadi panggung bagi kita untuk memperkenalkan budaya bangsa,” pesan Dee dan Ika Natassa diakhir sesi.

Dan pada akhirnya saya bisa mewujudkan impian. Meminta tanda tangan, berbincang sebentar dan berfoto bersama Dewi Lestari. Bahagia luar biasa dan tidak terkira rasanya.

Foto 10 (Foto dengan Dee dan meminta tanda tangan didua bukunya, Gelomband dan Partikel)

Misi selanjutnya adalah menemui penulis idola yang kedua, yaitu Andrea Hirata. Saya menyukai bukunya sejak Laskar Pelangi. Buku dan film Laskar Pelangi sukses membuat saya menangis sekaligus semakin yakin akan kekuatan mimpi, doa dan kegigihan dalam mewujudkan mimpi kita. Sejak saat itu saya semakin berani untuk bermimpi dan berusaha keras serta cerdas untuk mewujudkan setiap mimpi tersebut. Rasanya masih tidak percaya juga bisa meminta tandatangan pada buku terbaru Andrea Hirata yang berjudul Ayah. Terus terang saya belum membaca Ayah sama sekali karena baru mendapatkan buku tersebut dari seorang teman yang ke Den Haag 2 hari sebelum saya berangkat ke Frankfurt. Beruntung, pikir saya.

Pengalaman yang tidak akan terlupakan untuk saya karena bisa mewujudkan impian lama. Secara keseluruhan saya merasa terharu dan bangga dengan tampilnya Indonesia sebagai tamu kehormatan di FBF 2015. Melihat dan merasa dekat dengan Indonesia ketika saya sedang jauh dari Indonesia. Angkat topi kepada Goenawan Mohammad selaku Ketua Komite Nasional Pelaksana serta sekitar 80 penulis dan total 300 orang budayawan maupun seniman yang berkumpul dan mensukseskan peran Indonesia sebagai guest of honor pada acara bergengsi tersebut. Meskipun banyak kritik disana sini tentang tidak sempurnanya Indonesia sejak tahap persiapan yang super mepet sampai pada acara berakhir, tetapi langkah awal ini membawa optimisme tersendiri akan Indonesia dan Industri buku Indonesia dimata Internasional. Bukankah perjalanan panjang dan besar selalu diawali dengan langkah yang kecil. Jika tidak dimulai saat ini, maka tidak akan pernah tampak juga perubahaan besarnya dikemudian hari.

Video Dee menjawab pertanyaan saya serta pembacaan penggalan Supernova 1 dalam bahasa Inggris dapat dilihat disini : https://www.youtube.com/watch?v=UooYF_pw-So

————————

Koleksi foto pada laman ini adalah karya Deny – dengan  gambar-gambar  penunjang terhubung dengan image URL gambar aslli.

Deny Lestiyorini- Indonesian living in Den Haag |IG : @deny_l
Blog : http://denald.com/ Twitter : @denald