Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 2)

925351_547216565411067_743477697_aBeth Agustina. Has been living in Germany for 8 years. Full time happy SAHM and part time passionate portrait photographer.

Hajat tahunan Frankfurt Book Fair yang digelar selama lima hari akhirnya selesai juga hari Minggu kemarin. Konon banyak buku-buku yang diobral bahkan gratis di hari terakhir (Minggu 18 Oktober 2015). Sayangnya saya datang hanya di hari Sabtunya saja, jadi tidak kebagian obralan. Tapi lumayan juga sih, mendapat buku-buku kortingan setelah tawar menawar tingkat tinggi dengan di beberapa stand penerbit. Untung suami saya tidak ikut masuk ke pameran buku ini, dia suka malu mendapati istrinya nggak tahu malu tawar-menawar harga ūüėÄ

Indonesia menjadi tamu kehormatan di acara Franfurt Book Fair tahun ini dengan fokus utama penulis-penulis wanita Indonesia yang menyinggung topik tabu seperti seks dan agama dalam karya-karya mereka. Jauh hari sebelum hajatan literatur terbesar di dunia ini dibuka, berita tentang kultur, budaya dan literatur Indonesia sudah banyak menghiasi beberapa media di Jerman. Di samping berita tentang kehadiran Salman Rushdie di acara pembukaan pameran dan boikot dari negara Iran karenanya, tentunya.

APw4_ONdQ_3AGFtxd4QI3F31vk5XLn4eTh3kWFEbkXk,SYedbeWWJYURa9Z1cc7gonwY8oO7s0eEAtBwD08qfcU

Frankfurt Book fair dibuka untuk umum pada dua hari terakhir, 17 dan 18 Oktober 2015. Tiket masuknya berharga 18,00 Euro sehari, yang termasuk normal untuk tiket pameran berkelas internasional seperti ini. Khusus untuk refugees, yang saat ini sedang ramai-ramainya membuat pemerintah dan warga negara Jerman pusing tujuh keliling, mereka mendapat fasilitas masuk gratis.

Saya lumayan menyesal hanya datang di hari Sabtunya saja. Bukan masalah obralan buku di hari terakhir, namun karena saya belum khatam mengelilingi semua halls dan stand. Hari itu saya hanya berkonsentrasi pada jadwal acara dari Indonesia dan mencari buku anak-anak sedangkan sebenarnya ada lebih dari 7000 peserta pameran 100 negara yang rutin mengikuti Frankfurt Book Fair. Tapi not bad juga sih, semua target saya terpenuhi; melihat acara tanya jawab Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori, menemui senior jaman kuliah Beng Rahardian dan Eko Nugroho-para komikus kondang tanah air, mengikuti acara interview Andrea Hirata dan tentunya membeli beberapa buku anak berbahasa Indonesia yang tidak bisa saya dapatkan di sini -itupun pilihannya terbatas karena sebenarnya hari Sabtu itu belum diadakan transaksi jual beli. Oh ada satu acara yang tak bisa saya ikuti karena saya datangnya telat, acara show cooking-nya Chef Vindex!

ANDREA HIRATA

Andrea Hirata untuk ketiga kalinya kembali diundang untuk menghadiri Frankfurt Book Fair, sebuah pameran buku terbesar di dunia. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sempat mengikuti interview Andrea Hirata di booth milik stasiun TV Jerman 3Sat. Sempat bangga juga saya melihat bangku penonton langsung penuh begitu session Andrea Hirata tiba. Dan serunya lagi, 95% penontonnya bukan orang Indonesia padahal buku-buku Andrea Hirata baru ada versi bahasa Jermannya sejak bulan September kemarin. Di Amazon.de buku Laskar Pelangi yang dalam bahasa Jermannya Die Regenbogentruppe mendapat review 4,5 dari total 5 dari para pembacanya. Yay!


Dulu waktu saya masih baru-barunya di Jerman (tahun 2007), buku Andrea Hirata belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pendidikan di Indonesia, saya selalu menyelipkan cerita dari bukunya Andrea, tentang perjuangan Ikal dkk. dalam menempuh ilmunya. Teman-teman saya yang kebanyakan lahir dan besar di Jerman sangat tertarik dengan Laskar Pelangi dan banyak bertanya tentang kebenarannya, bagaimana dengan sistem pendidikan pada umumnya di Indonesia dan bagaimana dengan sekolah saya sendiri. Apalagi saat itu di Jerman sedang ramai-ramainya demonstrasi mahasiswa yang tidak puas dengan  fasilitas di Universitas Negeri yang kurang dan buku-buku diktatnya yang mahal. Teman-teman yang sudah kena setrum cerita Laskar Pelangi inipun kemudian berkata betapa kurang bersyukurnya mahasiswa di Jerman yang berdemo itu karena biaya kuliah di Jerman sebenarnya termasuk yang paling murah di dunia, bahkan biaya sekolah sampai SMA pun gratis. Dan buntutnya mereka ingin sekali membaca buku Laskar Pelangi. Tahun ini harapan mereka akan saya kabulkan!

Dalam interview di stasiun 3Sat kemarin, Andrea Hirata sempat diminta untuk mendeskripsikan bangsa Indonesia yang complex ini hanya dalam 3 kalimat pendek. Menurut Andrea, bangsa Indonesia itu toleran, bangsa Indonesia itu suka belajar dan yang terakhir, bangsa Indonesia itu suka tersenyum yang disambut dengan senyum lebar para pengunjung. Pembawa acara cantik yang mewawancarai Andrea Hirata juga sempat menanyakan seberapa penting pengaruh  magic di Indonesia karena dalam buku Sang Pemimpin (Jerman: Der Träumer) ada bagian di mana Ikal menuliskan harapannya di secarik kertas yang digantung di sebuah layang-layang. Menurut Andrea Hirata magic merupakan bagian dari kultur Indonesia dan  sebagai seorang penulis cultural fiction, memasukkan unsur-unsur magic itu baginya merupakan hal yang penting. Yang paling lucu adalah ketika Andrea Hirata membacakan bagian dari Sang Pemimpi, tentang asal-usul namanya (Andrea Hirata sempat ganti nama 9 kali!) yang sayangnya tidak diterjemahkan secara lengkap oleh si penerjemah sehingga pemirsa non-Indonesia tidak bisa ikut cekikikan seperti saya. Video tentang interview Andrea Hirata ini bisa dilihat di websitenya 3Sat.

Setelah interview usai, saya dan dua orang teman saya langsung bergegas ke backstage, mau minta tanda tangan dan foto bareng. Rupanya di sana sudah banyak orang yang antri, kebanyakan mahasiswa dari Indonesia. Andrea Hirata sempat bertanya apakah ada dari kami yang memiliki bukunya dalam versi bahasa Jerman. Sayangnya kami belum punya tapi saya janji mas, saya akan segera beli buku itu secara dari dulu saya memang sudah tidak sabar, ingin teman-teman Jerman saya membaca buku itu.

Andrea Hirata orangnya sangat ramah, sedang sibuk-sibuknya sesi tanda tangan, dia sempat-sempatnya bercerita kalau editornya masih lajang. Maksudnya bagaimana nih mas?

Buku Anak

Ohya, saya sempat¬† membeli beberapa buku anak-anak berbahasa Indonesia buat si Flipper (anak perempuan saya), salah satunya adalah buku ‚ÄėIndahnya Negeriku‚Äô ‚Äď Berpetualangan bersama Ella dan Eza dari penulis Fitri Kurniawan dan Watik Ideo (Penerbit: Bhuana Ilmu Populer). Buku yang rupanya bilingual ini (Indonesia dan Inggris), mengisahkan tentang dua kakak beradik Ella dan Eza yang berwisata berkeliling Indonesia ke 13 kota dari Sumbawa¬†sampai ke Sulawesi Utara.

Menurut saya ceritanya standar saja. Di setiap kota yang disinggahi, mereka bertemu dengan kenalan baru yang mengenalkan mereka dengan budaya setempat seperti tari-tarian, kerajinan tangan dan makanan dengan latar belakang ilustrasi rumah adat mereka. Saya sebut standar karena informasi-informasi pendek seperti ini seingat saya sudah ada di buku pelajaran jaman SD atau SMP dulu yang saya yakin saat inipun masih ada. Tapi dengan illustrasi penuh warna dan teks non-formal membuat buku ini tentu saja lebih menarik dari buku pelajaran sekolah.

Yang lebih menarik lagi ¬†-dan tidak ada di buku pelajaran- adalah pengenalan makanan setempat di setiap kota yang mereka singgahi. ¬†238 halaman, 13 kota, 19 ilustrasi makanan (38 halaman), nom! Waktu suami saya baca buku ini komentar pertamanya adalah, ‚Äúpantas saja orang Indonesia suka makan.‚ÄĚ Yup, pengenalan makanan sejak dini! Bisa jadi dia iri hati juga karena kulinari Jerman tidak sekaya kulinari di Indonesia.

Ikan gabus kuah kuning, makanan khas Papua

Makan wadi, makanan khas suku Dayak sambil membahas senjata Sipet dan Mandau

Cukup menarik khan? ūüôā

——–

Foto-foto pada laman ini adalah karya Beth, dengan beberapa foto pendukung yang terhubung dengan link pada foto.

https://autumnisokay.wordpress.com & Instagram @frausie

Advertisements

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 1)

8970440293_db01e5a142Mindy Jordan – A stubborn Taurean yang lahir 40 tahun silam di Jakarta. Istri dari suami yang jangkung (Sven) dan ibu dari seorang putri kecil (Medea Kedasih ). Saat ini sedang bersekolah kembali untuk nantinya bisa berkerja dengan anak-anak. Co-Author buku 3 Wanita Menjejak Dunia dan Menghirup Dunia. Suka membaca, membuat DIY dan belajar masak, juga fotografi secara autodidak.

Frankfurter Buchmesse

Waktu saya tahu kalau Tamu Kehormatan di Frankfurter Buchmesse (Frankfurt Book Fair) adalah Indonesia, saya sudah bertekat untuk datang. Biarpun jarak 470 km memisahkan antara kota tempat tinggalku dan kota Frankfurt, tetap tidak menggoyahkan niat saya. Apalagi akhirnya teman-teman yang saya kenal melalui ajang Upload Kompakan juga mau datang dan menjadikan ajang istimewa ini untuk acara kopi darat pertama kali. Pokoknya I was so uber excited deh!

Gimana ga excited coba, karena ajang pameran buku terbesar ini ada di bucket list saya, lalu tahun ini Indonesia yang menjadi tamu kehormatan, ditambah lagi saya akan bertemu dengan salah satu teman dan partner penulis buku Menghirup Dunia dan juga teman-teman seantero Jerman (plus Deny yang datang dari Den Haag). Anak saya juga minta ikut, sewaktu saya wanti-wanti kalau nanti saya akan pergi. Dilalah sang suami yang tadinya tidak mau ikut akhirnya jadi tertarik untuk ikut. Jadilah kita sekeluarga liburan weekend getaway 14-18 Oktober 2015 ke ajang Pameran Buku yang tertua dan terbesar di dunia, Frankfurter Buchmesse.

Beberapa minggu sebelum pergi saya sudah mempelajari kalender acara. Kebanyakan acara yang diselenggarkan oleh Tamu Kehormatan. Karena perginya dengan anak batita, jadi saya juga mencatat acara anak-anak, seperti misalnya pembacaan dongeng, peluncuran buku anak-anak yang berjudul Putri Kemang yang juga sudah ada versi terjemahan Indonesianya dan ada dalam format Kamishibai.

Selain itu saya memasukan beberapa acara talk show atau diskusi ke agenda saya. Sebut saja, talk show Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak, lalu Dewi Lestari dengan Ika Natassa, dan Tita Larasati karena sudah lama ingin bertemu dari jaman Multiply. Beberapa penulis Jerman juga saya masukkan ke agenda saya, misalnya Ilija Trojanow dan Axel Scheffler, ilustrator buku anak. Beliau sering kolaborasi dengan Julia Donaldson dan buku mereka yang populer adalah der Grueffelo atau Gruffalo.

Euphoria Frankfurt Book Fair 2015 untuk saya juga diisi dengan membaca beberapa tulisan dan berita tentang tanah air di beberapa surat kabar ternama Jerman, misalnya tentang budaya baca masyarakat Indonesia atau juga tentang slogan yang dipakai di Frankfurt Book Fair 2015, yaitu 17.000 Islands of Imagination. Lengkapnya bisa dibaca di http://islandsofimagination.id/about/. Potongan berita, tulisan dan liputan di surat kabar tersebut saya simpan.

Indonesia‚Äôs slogan for the Fair‚ÄĒ ‚Äú17,000 Islands of Imagination‚ÄĚ‚ÄĒsymbolizes the intellectual and artistic richness of this incredibly diverse and multi-religious nation.

Perjalanan ke kota Frankfurt am Main memakan waktu lebih lama karena macet di jalan tol. Tidak heran sih karena hari keberangkatan kita adalah Jumat dan terkena rush hour ditambah hujan rintik. Puji Tuhan kita tiba dengan selamat di Innside Hotel tempat menginap selama dua malam. Sang resepsionis yang ramah memberikan Medea sebuah welcome gift yaitu berisi sekotak pensil warna dan beberapa coloring postcards bergambar binatang. Bahagia sekali dia melihat isi welcome giftnya dan langsung mau mewarnai begitu kita masuk ke kamar yang nyaman. Sebelum tidur Medea bertanya kapan kita berangkat ke Frankfurter Book Fair-nya. Ternyata ada yang sudah excited seperti ibunya.

Instalasi 1500 Batang Bambu Joko Avianto Pukau Pengunjung Frankfurter Kunstverein

Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Hari H pun tiba. Kita sekeluarga pergi ke lokasi dengan mobil dan beruntung mendapat parkir yang tidak jauh dari Frankfurt Messe (Frankfurt Exhibition). Mungkin karena pagi-pagi banget yaa… Di sebelum pintu masuk, kita ditawari untuk membeli sebuah surat kabar yang harganya 0,80‚ā¨. Awalnya tidak mau beli karena surat kabar tersebut image-nya seperti Pos Kota, tapi hadiah kupon dapat tiket lebih murah mengalahkan pikiran kita.

Setelah mengisi perut dengan gado-gado dan teh panas di Canteen Indonesia, saya dan keluarga menuju ke Paviliun Indonesia untuk mengikuti acara diskusi dengan dua penulis wanita Indonesia, yaitu Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Oiya, buku Laksmi Pamuntjak yang berjudul “Amba“, diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul “Alle Farben Rot“ dan sudah saya liat di beberapa toko buku. Ada rasa bangga terbesit setiap melihat buku Indonesia di antara buku-buku karya penulis dalam negeri, maupun penulis luar negeri. Sebelum acara diskusi dimulai, saya sempat melihat Pak B.J. Habibie. Sayangnya tidak bisa minta foto bareng karena security yang ketat.

RBu8KSnmfaf75GjR8q644jwuZQrmpdfR4FI6n8b4ryQ,NcYmJ0myx-4iIibjCBki3N8MrpA3nXEWVod6VurTHNw

Menonton acara tarian ini bikin kangen kampung halaman

Deretan buku tentang Indonesia saat dipamerkan dalam Frankfurt Book Fair 2015 di Frankfurt am Main, Jerman (13/10).

Akhirnya acara diskusi yang bertemakan tentang kaum Exil dari masa 1965 dimulai. Dengan moderator seorang penulis Jerman bernama Anett Keller, seorang wartawati yang fasih berbahasa Indonesia dan penulis “Indonesien 1965ff. Die Gegenwart eines Massenmordes. Ein politisches Lesebuch.“ Buku setebal 213 halaman ini mengambil latar belakang kejadian di tahun 1965. Karena acara diskusi ini dalam bahasa Jerman, Indonesia dan Inggris jadi disediakan head set bagi para pengunjung supaya bisa mendengar terjemahan stimulasi secara langsung.

Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak menceritakan tentang buku mereka, yaitu “Pulang“ dan “Amba“, yang keduanya memiliki latar belakang yang sama, yaitu kejadian di tahun 1965. Seperti halnya “Amba“, novel “Pulang“ juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul “Heimkehr nach Jakarta“. Sebuah novel yang berhasil membuat saya nangis tersedu-sedu dan ingin pulang ke kampung halaman, ke Jakarta dan tentunya dalam keadaan utuh jiwa serta raga.

wdrVrdGGOiKSp-S3Oz37CUeWTV_Wdwi_kv1-GLbFtqo,FVzLi1nK0RasSu4nMPLqvLt4yL1qLZYQfO46wo4Dx4A

Leila S. Chudori, Laksmi Pamuntjak dan Anett Keller

FBF - Medea di acara Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Medea di acara Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Sesi tanya jawab dengan kedua penulis wanita ini menjadi bagian penutup acara diskusi selama 45 menit ini. Di ajang ini saya juga bertemu dengan Beth, Deny dan beberapa teman. Senangnya tak terkira karena kita akhirnya bertemu dan bisa ngobrol secara langsung karena selama ini hanya melalui sarana WhatsApp saja.

5142BsRTz1YDygV6Qo0WnKXS8DDJ105_TzA2jYlgeCk

Bersama Beth dan Deny

Oiya, saya bodohnya kurang eager untuk meminta foto bareng dengan Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Sekarang masih suka menyesal karena sudah lama juga bertukar tweet dengan Mba Leila dan ingin bertemu. Semoga kita bertemu di Jakarta ya, Mba…

German’s Publishers and Indonesian’s Publishers

Setelah acara diskusi selesai, saya bertukar kata dengan teman-teman. Kita akhirnya berpencar dan akan ketemu lagi di Canteen Indonesia untuk makan siang bersama. Saya juga senang banget karena akhirnya saya dan Febbie, seorang partner penulis saya, bisa bertemu kembali dan memegang ‚Äúbayi‚Äú kami berdua, buku Menghirup Dunia untuk pertama kalinya. Kita berdua sempat diminta untuk menanda tangani buku tersebut. Walaupun tidak dapat stage, tapi tetap boleh ada rasa bangga dong ya…

Menghirup Dunia (foto courtesy: Noni Khairani)

Saya juga sempat melihat-lihat hall penerbit Jerman. Waaahh kalap banget deh! Banyak buku yang menarik dan ingin dibeli. Untung saja harga buku di Jerman itu harganya sama, baik offline maupun online. Jadi bisa saya cari di toko buku kota saya tinggal. Sayangnya acara diskusi dengan Ilija Trojanow tidak saya ikuti dengan tuntas karena berbagi waktu dengan acara anak-anak. Beruntung sekali anak saya tidak rewel, bahkan dia terlihat menikmati harinya. Apalagi waktu kita ke stand Gramedia, Mizan dan beberapa stand lainnya. Berasa di surga dia melihat banyak buku anak-anak.

f6S2gnWLPjfXCnL7XoIQPuifX9GKKSfsK9FoB7IT7lA

Di stand Gramedia saya sempet ngobrol dengan Ika Natassa, sedikit bertukar kata dengan Dewi Lestari, juga dengan Mas Fuadi yang ketemu lagi di tengah kota keesokan harinya. Tentunya juga browsing buku-buku dan ikutan heboh sewaktu stand Gramedia membuka sesi penjualan buku. Saya membeli beberapa buku cerita anak berbahasa Indonesia yang ternyata tidak banyak karena yang diikutkan ke Frankfurt Book Fair 2015 sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman ataupun bahasa Inggris.

Di sini saya juga berbincang dengan Werner Schulze, seorang penulis serta Profesor berkebangsaan Jerman yang sering melakukan perjalanan ke Indonesia. Beliau hari itu membacakan cerita dari bukunya dengan judul “Paradiesvoegel und andere wundersame Erzaelungen“. Bahasa asli buku ini adalah bahasa Jerman dan pada tahun 2010 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu “Burung Cendrawasih dan Cerita Cerita Memikat Lainnya“.

Agak menyesal kenapa saya tidak datang ke pameran hari Minggunya. Karena saya kurang lama beredar di hall buku-buku bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Penyesalan berikutnya itu datang sewaktu tahu kalau ternyata ada acara diskusi dengan Dewi Lestari yang moderatornya adalah Ilija Trojanow. Grrr…

HC-D6Nsav5KzdtGvUbjfHuHqGyAfisEWETDLN9Jpqxo,2Vydzi_FzSPOuctyv0LxyH57tEK-LC834c4jQUVWeGw

Suasana Sabtu itu..

The Act of Killing

Di ajang pameran buku terbesar di dunia ini juga diputar sebuah film dokumenter karya Joshua Oppenheimer, seorang sutradara kewarganegaraan Amerika. “The Act of Killing“ yang diproduksi pada tahun 2012 dan bercerita tentang pembunuhan massal di tahun 1965 akan mulai diputar di bioskop Jerman pada tanggal 14 November 2015.

—–

Foto-foto pada laman ini adalah karya Mindy, dengan beberapa foto pendukung yang terhubung dengan link pada foto.

http://www.mindoel.blogspot.com. Instagram @mindoel.

Merantau di Sevilla

Riana Garniati Rahayu – A retProfile Picired urban planner, an active weekly-food-planner, a blogger, and a traveler. A happy wife of Ibrahim Rohman and a blessed mom of Raya and Bita. Been living in Europe with her family since 2008. Currently based in Seville, Spain.

Continue reading

Berkeliling di Sydney

¬†Annisa Sarahayu (Nisa) ‚Äď The Beatles lover, daydreamer, batch_5IMG_4578_Fotorlove to cook and write. I can sometimes get a bit too friendly, touchy-feely, and silly! My personality is kind of complex I guess. I take a lot of time to get used to new people ‚Äď before I feel comfortable with them.

Berikut adalah beberapa tempat di Sydney yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi:

Dining Out with Kids.
Lumayan banyak tempat makan kid-friendly yang sering kami coba, seperti food court yang terletak pada lantai 5 di Pitt Street Mall, Chinatown, Bondi Junction (shopping center dekat Bondi Beach yang terkenal), menu pizza di kawasan The Rocks, Darling Harbor , Darling Quarter, dan Paddington. Karena daerah-daerah yang saya sebutkan disini memang daerah turis, kebanyakan restorannya kid-friendly dan menawarkan great value menu untuk anak-anak, bahkan early-bird deal untuk menu makan malam. Selain itu, yang wajib dicoba adalah hidangan seafood yang fresh di Sydney Fish Market!

IMG_4756_Fotor

Dining Out with Adults
Kalau sama ibu-ibu Indonesia yang kebetulan lagi ‚Äúngangon‚ÄĚ anak, kami prefer makan di rumah (seperti cerita di artikel Sydney 101) karena anak bisa bebas main sana sini, atau paling nggak cari resto yang dekat rumah. Kalau lagi playdate di park, kami biasanya bawa bekal masing-masing lalu saling tukar-menukar. Nah kalau kebetulan dapat me-time, ya terkadang lunch bareng teman di food court Pitt Street Mall tadi, ngopi di The Coffee Club,¬†ngemil sore di Guylian cafe atau di Adriana Zumbo di QVB (Queen Victoria Building). Kalau sama keluarga, selain di tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas, kami juga suka mencoba resto-resto di daerah The Rocks seperti Pancakes On The Rocks, Umi Sushi, Time for Thai, Nok Nok Thai Food, Duyum Thai food.

batch_5IMG_8186

Gelato Messina | Voted best gelato in Australia

Shopping for Kids
Untuk pakaian untuk Bazyl, saya suka berbelanja di Zara Kids, Cotton On Kids, Gap, Target atau Pumpkin patch dan Seed. Untuk mainan bisa di Toys R Us, Hobbyco ( wajib nih kesini kalau lagi ke sydney karena merka punya display toko yang keren banget banyak anak-anak suka betah nongkrong dan emang sengaja didesain buat hiburan mereka ) Target ataupun Kmart. Selain itu saya juga suka hunting online di Gumtree ( semacam forum jual beli barang secondhand ) kalau lagi beruntung suka ada yang free dengan kondisi yang masih bagus, cuma kita harus pick up sendiri¬† ūüôā

Untuk buku anak : saya lebih suka hunting di toko2 second hand store gitu kaya Salvation Army, kondisi masih bagus dan harga juga murah range harga $2 – $5 nah kalau gak saya juga suka sekali datang ke baby&kids market yang diadakanya setiap beberapa bulan sekali. ini barang-barangnya memang second tapi juga terkadang ada yang baru lengkap dengan tag pricenya. terakhir saya kesana dapat chalk board masih baru hanya $5 , buku2 cerita hanya $0.50 – $2 . baju2 cotton on yang masih ada label harga 5 celana hanya $10 !!! dan banyak lagi. bisa dicek di website mereka surga deh buat emak-emak macam saya ahahahaha. Jangan khawatir kalau nggak puas maksimal 7 hari barang bisa dikembalikan dengan mengkontak salah satu PIC si Baby Market dan melaporkan nomor resi yang ada.

Shopping for Myself
Untuk pakaian saya suka di Zara,Tree of Life ( Australian boho product ) , Target, Cotton on, atau butik-butik vintage di daerah Surry Hills dan Newtown. Tetapi nggak jarang  saya juga berburu di secondhand store seperti Salvation Army. Untuk peralatan dapur dan rumah tadinya suka ke IKEA,  tapi sekarang saya prefer ke Peter’s Kensington karena harganya jauh lebih murah dari pada dept. store lokal seperti Myer, David Jones bahkan Target. Lengkap banget kadang juga suka ada harga diskon yang tak terduga. Review lengkapanya bisa dicaba di blog saya.

Salvation Army

Flea Markets
Saya suka berkunjung ke Surry Hills Market yang diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu pertama setiap bulannya. Selain itu Paddington Market juga patut dikunjungi,  buka lebih sering yaitu setiap Sabtu dan Minggu dari jam 9 Р3 sore.

Hanging Out with Bazyl.
Royal Botany Garden adalah pilihan tempat hang out favorit dengan Bazyl, karena bisa melihat pemandangan ke harbour dan Sydney Opera House. Selain itu ada Hyde Park, yang lokasinya tepat di city central dimana terdapat Stunning Archibald Fountain dan¬† Anzac Memorial. Karena letak rumah kami dekat dengan pantai, hampir setiap minggu bahkan beberapa hari sekali, kami suka ‚Äúngabsen‚ÄĚ ke Maroubra beach dan playgroundnya. Enaknya disini pantainya lengkap dengan fasilitas seperti playground, bike rides dan walking tours. Darling Quarter Kids Playground ( salah playground terfavorit di Sydney lengkap¬† dengan waterpark-nya ). Grant Reserve (Coogee Beach Playground ), Heffron park, yah…pokoknya dimana ada playground biasanya pasti kami datangi! Hehehe…

Hanging Out with Adults
Selain makan dan ngopi, kegiatan hangout saya dengan adult salah satunya adalah mengikuti kelas Zumba bersama Maroubra Dance Studio di St John Hall Maroubra. Sisanya ya hangout  di Bondi Junction , QVB, Westfield , Strand Arcade , Cafe de Luca, II Cafetino, atau Laduree.

Getting Out in the Nature
Selain park dan beach yang sudah disebutkan diatas, kami juga suka ke Little Bay dan La Perouse.

The Famous manly beach

The Famous manly beach

batch_5batch_5IMG_4044

Favorite Public Spaces?
Australian National Maritime Museum, Sydney Living Museum, Art Sydney (ini gratis! ). Selain itu bisa juga ke City of Sydney Library atau yang dekat rumah seperti Bowen Library dan Eastgarden Library di daerah Randwick City Council. Untuk bisa dapat free entry ke museum.

Must-visit Touristy Spots
Get beached in Bondi and other beaches in Sydney, like Coogee, Bronte, Clovely and Manly. Lalu hangout di kafe-kafe-nya Surry Hills seperti Bills, Reuben Hills dan Bourket Street Bakery. Naik kapal ferry ke Manly dari Circulay Quay, makan gelato-nya Messina di Surry Hills (siap-siap antri panjang. karena emang enak banget!). Jangan lupa explore Chinatown & Newtown, lalu kalau berani jalan, lari, atau bahkan naik ke atas Sydney Harbor Bridge ( AU$150/orang ).

Luna park one of the iconic place in sydney

Luna park one of the iconic place in sydney@sachpfaff

Selain itu, play tourist dan main berbagai permainan di Luna Park, nonton firework show gratis di Darling Harbor setiap malam minggu, ke King’s Cross,¬† piknik di Royal Botany Garden, dan kalau sempat ke Blue Mountain (2 jam naik train, kalau mau murah bisa pergi pas hari Minggu, karena¬† ada promo Family Sunday Fun Day). Yang pasti, kalau mau free entry untuk ke museum dan touristy spots lainnya bisa kunjungi visitor/information center di Darling Harbor.

———¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†
Nisa juga mendokumentasikan kehidupannya bersama keluarga pada blog http://nisadanchicco.com/, serta account Instagram: @qyusha dan @denchicco.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Nisa dan Chicco ‚Äď beberapa image diambil dari berbagai sumber yang URL-nya terhubung langsung dengan gambar.