Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 4 – Final)

7526fe7990e6591c3fa4d9bdf506e934Permai Sari Molyana Yusuf (Melly – An Indonesian, currently living in Mannheim, Germany. A Housewife with two kids, Afiqah and Aqila. Interest in Biophysics and love to cook, bake and do Food Photography. A Culinary Contributor of Indonesian Fashion Magazine.

Frankfurter Buchmesse atau lebih dikenal Frankfurt Book Fair (FBF) disinyalir sebagai the world’s largest trade fair for books ,hal ini dilihat dari jumalah pengunjung dan perusahaan pelaku bisnis terkait penerbitan buku dan lisensi serta penulis, ilustrator, seniman, perangkat lunak dan multimedia. Sehingga tidak salah jika banyak yang menganggap FBF ini merupakan pameran buku yang paling penting di dunia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Frankfurt Haupbahnhof , Stasiun Kereta Frankfurt

Setiap tahunnya, acara ini diselenggarakan  di Frankfurt Messe, Frankfurt am Main, Jerman , di pertengahan bulan Oktober, selama 5 hari. Tiga hari pertama merupakan jadwal untuk pengunjung  eksklusif (pelaku bisnis di bidang buku untuk penerbitan, menulis, lisensi, dsb) dan 2 hari terakhir sisanya, terbuka untuk khalayak umum.

Sejak  tahun 1976, pameran ini memberikan ruang bagi negara negara lain untuk menjadi tamu kehormatan dan menjadikannya sebagai Tema  Frankfurt Book Fair di tahun tersebut. Sebagai contoh, untuk tahun ini, 2015, Indonesia menjadi tamu kehormatan dengan mengusung tema „17.000 Inseln der Imagination (17.000 Islands of Imagination)”.

Adanya kesempatan sebagai tamu kehormatan tentunya memberikan dampak yang positif bagi negara berkembang Indonesia, untuk memperkenalkan diri, potensi dan karya anak bangsa. Bisa dibayangkan, hadirnya Indonesia disini menjadilkan hasil kreatifitas anak bangsa makin diakui banyak pihak dari berbagai negara dan tentunya ini menjadi pemicu makin meningkatnya kepercayaan generasi muda dalam berkarya seni, menulis, dsb.

Informasi mengenai penyelenggaraan Frankfurter Buchmesse setiap tahunnya bisa dilihat di website Buchmesse.

***

Sejak tahun lalu sebenarnya aku sudah ingin datang ke acara FBF ini, hanya saja saat itu menjelang ujian DTZ dan ujian politik negara, jadilah mengesampingkan dulu kepentingan yang lainnya. Alhamdulillah tahun ini bisa mengunjungi Frankfurt Book Fair di saat Indonesia menjadi tamu kehormatan. Hal yang bersamaan pula momen ini menjadikan temu kopi darat beberapa teman teman Mbakyurop yang juga mengunjungi FBF ini 😉

Beberapa dari kami sudah mengunjungi FBF di hari Sabtu, jadi kami janjian sarapan bersama di tempat yang sudah disepakati sehari sebelumnya, di salah satu kafe di dekat Hauptbahnhof. Alhamdulillah seneng bangeeet. Kebayang kan biasanya info-info hanya di grup dan tidak pernah bertemu, setelah bertemu rasanya seperti sudah kenal lama ^^

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari kiri ke kanan : Mindy dan Medea, Beth, Era dan Aima, Aku dan Flipper, Mia

***

FBF tahun ini dibuka untuk umum pada tanggal 17 dan 18 Oktober 2015, 2 hari terakhir menjelang penutupan. Dan aku datang di hari Minggunya. Jujur saja, 1 hari tidak akan cukup menjelajahi seluruh pameran ini, ada 5 gedung besar dengan minimal 3 lantai yang cukup luas untuk dilihat apalagi jika waktunya terpotong untuk mengikuti sesi-sesi diskusi yang diadakan.

Biaya tiket masuk yang ditawarkan pun beragam (umum, kontributor atau bisnis). Untuk umum, tiketnya sekitar 18 eur dan ada penawaran harga khusus untuk student atau sejenisnya dan juga pemegang kartu Arbeitlos (tidak bekerja), dsb. Sedangkan untuk Flüchtlinge atau pengungsi (pengungsi yang berasal dari negara negara perang, dsb) diberikan hak untuk masuk gratis.

5 - Tiket untuk kalangan privat

Tiket untuk kalangan private

***

Pengalamanku dengan tiket, sesaat sebelum masuk Messe frankfurt, aku ditawari untuk membeli koran lokal seharga 0,80 eur atau 80 cent, yang didalamnya ada voucher untuk membeli 1 tiket gratis 1 dan hanya berlaku untuk pembelian jenis tiket sehari. Kebetulan aku saat itu berdua dengan temenku Mia, jadi adanya voucher ini membuat kami berdua tampak lebih sumringah melewati dingin pagi itu di Frankfurt, hihihihihihihi 😀

Setelah melewati loket tiket, panitia juga menyediakan sarana penitipan barang dan jaket dan dikenakan biaya sekitar 2 euro untuk satu jenis barang penitipan. Jadi mempermudah pengunjung untuk mengunjungi stand-stand tanpa ribet dengan bawaan pribadi.

***

Di sini, benar benar seperti surganya buku, semua jenis buku dari berbagai negara ada. Karena memang event Internasiona ya. Dari mulai buku anak, remaja, dewasa, orang tua, roman, pokoknya semuanyaaa… dari mulai bahasa lokal (jerman), bahasa Inggris dan bahasa dari masing masing negara peserta Book Fair. Bisa dibayangkan satu lantai hall saja besarnya ga nahan untuk dilihat satu-satu, ini ada 5 hall yang semuanya besar.

Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca
Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca

Hal yang menarik, di setiap stand buku, pengunjung diberi fasilitas kursi dan meja atau kursi saja yang nyaman untuk membaca dan semua buku dipajang dalam keadaan tidak di bungkus, jadi semua pengunjung dipersilahkan dengan senang hati untuk duduk santai dan membaca. Pemandangan yang seperti ini memang sangat lumrah ditemui di berbagai toko buku di Jerman. Seharian di toko buku untuk membaca adalah hal yang sah sah saja, asyik ya? 😉

Lesezelt
Lesezelt

Seperti halnya kegiatan perpustakaan-perpustakaan di Jerman pada umumnya, di FBF juga menghadirkan kegiatan „menceritakan“ untuk bacaan anak-anak, bahkan ada disediakan tempat khusus, Lesezelt (atau disebut sebagai Tenda Membaca). Di pameran buku pun ada beberapa spot tertentu dimana anak anak bisa duduk santai sambil mendengarkan cerita. Percayalah, si pencerita akan menarik pendengar untuk duduk anteng mendengarkan isi ceritanya dengan seksama. Kenapa?? Karena di setiap adegannya dia bisa mengeluarkan berbagai jenis suara berbeda diikuti dengan mimik yang kadang penuh kejutan ! 🙂

Sehingga tidak heran, kalau pendengar pun ikut merasakan alur cerita yang lucu, sedih, gembira dan petualangan seru. Saat mengunjungi spot ini agak sedikit menyesal memang, tidak membawa anak-anak untuk ikut serta. Tapiii ya karena memang hari Minggu, kakak Afiqah punya jadwal sekolah Minggu yang sepertinya tidak boleh terlalu sering membolos.

Kinderbuch Centrum, Children's Book Centre
Kinderbuch Centrum, Children’s Book Centre

 

Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru
Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru

 

Apps Radio.de
Apps Radio.de

 

Pilihan di Apps Radio.de
Pilihan di Apps Radio.de

 

Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak
Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak

Oh iya, kegiatan seperti ini juga bisa didengar melalui apps radio dari hp, nama apps nya radio.de bisa di download di apps store , langsung saja cari „Hallo Eltern Podcast – Märchen“ (menceritakan cerita dongeng Jerman untuk anak anak).


Stand Buku Indonesia
Stand Buku Indonesia

 

Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015
Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015

 

Gramedia Printing di FBF 2015
Gramedia Printing di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan
Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku di Indonesia Pavilion
Buku-buku di Indonesia Pavilion

 

Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.
Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

 

Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion
Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

* * *

Sebagai tamu kehormatan, tentunya Indonesia banyak memberikan peran dalam event-event diskusi yang diadakan. Sebagian besar panelis merupakan utusan dari Indonesia, yang memang berprofesi sebagai penulis, tokoh kuliner, dsb.

Beberapa diantaranya, yaitu :

Penulis buku sastra dan fiksi
A. S. Laksana
Abidah El Khalieqy
Afrizal Malna
Agus R. Sarjono
Ahmad Fuadi
Ahmad Tohari
Andrea Hirata
Avianti Armand
Ayu Utami
Azhari
Budi Darma
Cok Sawitri
Dewi Lestari
Dorothea Rosa Herliany
Eka Kurniawan
Goenawan Mohamad
Gunawan Maryanto
Gus tf Sakai
Ika Natassa
Intan Paramaditha
John Waromi
Joko Pinurbo
Laksmi Pamuntjak
Leila S. Chudori
Lily Yulianti Farid
Linda Christanty
M. Iksaka Banu
Maggie Tiojakin
N. Riantiarno
Nh. Dini
Nirwan Dewanto
Nukila Amal
Okky Madasari
Oka Rusmini
Putu Oka Sukanta
Ratih Kumala
Sapardi Djoko Damono
Seno Gumira Ajidarma
Sindhunata
Taufiq Ismail
Darwis (Tere Liye)
Toeti Heraty
Triyanto Triwikromo
Yusi Avianto Pareanom
Zen Hae

Penulis komik
Aji Prasetyo
Apriyadi Kusbiantoro
Arief Yaniadi
Beng Rahadian
Benny Rachmadi
Hikmat Darmawan
Is Yuniarto
Iwan Gunawan
Kharisma Jati
Muhammad Misrad (Mice)
Sheila Rooswitha Putri
Tita Larasati
Wendy Jaka Sundana

Penulis buku anak
Arleen Amidjaja
Christiawan Lie
Djokolelono
Murti Bunanta
Nadia Shafiana Rahma
Renny Yaniar
Tety Elida

Penulis buku non-fiksi
Agustinus Wibowo
Dian Pelangi
Imelda Akmal
Julia Suryakusuma
Noor Huda Ismail
Trinity
Suwati Kartiwa
Wahyu Aditya
Yoris Sebastian

Penulis digital
Daryl Wilson
Taufik Assegaf

Juru Masak
Aries Adhi Baskoro
Astrid Enricka Dhita
Bara Pattiradjawane
Budi Lee
Ignatius Emmanuel Julio
Ivan Leonard Mangudap​
Mukhamad Solihin
Petty Elliot
Putri Mumpuni
Ragil Imam Wibowo
Sandra Djohan
Sisca Soewitomo
Sudarius Tjahja
Vindex Tengker

Tokoh Kuliner
Helianti Hilman
Lisa Virgiano
Mary Jane Edleson
Mei Batubara
Santhi Serad
Sri Owen
William Wongso

Aktivis Literasi
Anton Solihin
Asma Nadia
Evelyn Ghozalli
Heri Hendrayana (Gola Gong)
Janet DeNeefe
Muhidin M. Dahlan

Narasumber seminar
Frans Magnis Suseno (Pluralisme and Islamophobia)
Haidar Bagir (Pluralism and Islamophobia)
Ulil Abshar Abdalla (Pluralisme and Islamophobia)
Philips Vermonte (Pluralisme and Islamophobia)
Setiadi Sopandi (Tropical Architecture in Indonesia)
Gede Kresna (Tropical Architecture in Indonesia)
Oman Fathurahman (Script in Indonesian Manuscript)
Sugi Lanus(Script in Indonesian Manuscript))
Dewi Candraningrum (Translating Faust and Goethe)
Mery Kolimon (Writing of Political Violence and Trauma)
Endo Suanda (Recording of Indonesian Music)
Eko Prawoto (Climate and Architecture)
Francis Kere (Climate and Architecture)
I Made Bandem (Indonesian Superhero, Cerita Panji)

Pembaca Karya
Butet Kartaredjasa
Elizabeth Inandiak
Endah Laras
Jennifer Lindsey
Landung Simatupang

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Dan masih ada lagi yang lain. Buku hasil karya penulis pun beberapa sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman dan sudah tersedia di toko buku online seperti Amazon.de , Thalia.de dan bookdepository.com.

Selain itu nama nama yang dituliskan di atas juga berperan sebagai panelis dan narasumber dalam berbagai event diskusi selama berlangsungnya FBF dan di beberapa Bibliothek/ perpustakaan di berbagai kota di Jerman,  seperti Dresden, Heidelberg, Berlin, dsb.

Semaraknya Indonesia mewarnai FBF tahun ini tidak mungkin terlepas dari cita rasa masakan khas tanah air. Sehingga ada beberapa spot di pameran ini yang menyediakan masakan khas Nusantara seperti Nasi Kapau, Gado-gado, Ayam rica-rica, dessert Klappertaart, dsb

Selain itu, di luar area pameran, juga digelar masakan Kaki Lima, yang menyediakan Nasi Goreng dan Sate khas Indonesia. Kaki Lima ini bisa dikunjungi langsung di Römer, salah satu sudut kota Frankfurt, Jerman. Tantangan banget kan ya, menjajakan makanan di luar ruangan di saat suhu sudah mulai turun di musim gugur.

Rasanya tidak cukup hanya satu hari untuk bisa mengunjungi seluruh area FBF. Hari Minggu, aku berkesempatan untuk mengikuti dua event setelah berkeliling melihat-lihat buku 😉 , yang pertama,  “The Art of Banana Leaves Food Wrapping” yang disampaikan oleh Ibu Sisca Soewitomo dalam Bahasa Indonesia dengan penterjemah Bahasa Jerman dan yang kedua,  “Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Dr. Jusuf Habibie dan Frans Magnis-Suseno dalam Bahasa Jerman.

Keduanya dilakukan sama sama di Indonesia Pavilion dan waktunya yang berdekatan, sehingga aku pun bisa mengikuti tanpa harus berpindah gedung lainnya.

***

Event yang pertama, Bu Sisca memperkenalkan penggunaan daun pisang yang kerap kali digunakan di berbagai macam masakan Indonesia. Baik itu sebagai pelengkap, alas/ wadah ataupun pembungkus. Sambil mendemokan membuat gado-gado, beliau menjelaskan aroma yang dikeluarkan dari daun pisang tersebut yang memberikan rasa dan aroma yang khas, apalagi jika daun pisang yang digunakan untuk membungkus makanan, selanjutnya dibakar sebentar di perapian, akan menambah cita rasa sedap dalam masakan. Dan ternyata, Ibu Sisca menggunakan daun pisang yang di dapatkan di Toko Asia di Jerman.

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta warganegara Jerman, menanyakan mengenai rasa masakan khas Indonesia, yang sebagian besar menggunakan cabai dan rasanya pedas. Hal ini tentunya berkaitan dengan selera masyarakat Jerman yang cenderung plain saja tanpa pedas.

„Banyaknya macam jenis masakan Indonesia, tentunya ada pula yang tidak harus menggunakan cabe atau jika pun menggunakan, kadar penggunaan cabe itu sendiri juga dapat disesuaikan dengan selera. Jadi tidak selalu harus pedas“ jelas bu Sisca.

Event selanjutnya, antusias peserta tidak kalah banyaknya dibanding dengan event sebelumnya. Bahkan podium peserta diskusi tidak cukup menampung dan banyak yang rela untuk melantai agar dapat mengikuti diskusi bersama Presiden Indonesia yang ketiga ini, Dr. BJ. Habibie.

“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie
“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie

Intinya, Bapak Habibie sangat yakin bahwa nantinya Indonesia akan menjadi negara yang mandiri dan bisa mensejahterakan rakyatnya. Kekayaan alam Indonesia yang sangat banyak dan semakin potensialnya sumber daya manusia tentunya menjadi kombinasi yang positif untuk kemajuan bangsa.

Ada beberapa event lainnya yang aku lihat namun tidak full, karena aku masih ingin melihat-lihat pameran buku, yakni

Morning Coffee with Literacy Activist bersama Muhidin Dahlan, Anton Solihin, Heri Hendrayana, Asma Nadia dan Evelyn Gozali.

dan terakhir sebelum penutupan, ada diskusi 2 penulis, satu dari Indonesia yang yang diwakili oleh Ayu Utami dan satunya dari Belanda yang diwakili oleh Adriaan van Dis. Podium penonton untuk diskusi ini sepertinya hanya untuk orang-orang tertentu karena akan sekalian dengan penutupan dan serah terima ke Belanda sebagai Guest Honour tahun depan.

Die nächste Buchmesse findet vom 19. bis 23. Oktober 2016 statt !!
Nantikan Frankfurt Book Fair berikutnya, yang akan diselenggarakan pada tanggal 19-23 Oktober 2016 !!

——–

Tulisan ini disadur dari tulisan di blog Melly . Foto  yang dilampirkan menggunakan watermark Mellyloveskitchen adalah dokumentasi pribadi dan yang mengambil dari website lain dicantumkan sumbernya pada nama foto tersebut.

IG: @mellyloveskitchen

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 3)

11195840_700362946752341_86095811_nLulusan Statistika dan Teknik Industri yang baru 10 bulan tinggal di Den Haag mengikuti suami, seorang warga negara Belanda. Saat ini sedang sekolah bahasa Belanda sembari mengikuti beberapa kegiatan volunteer disekitar Den Haag untuk memperlancar bahasa Belanda. Senang mengamati apapun dan menuangkan dalam tulisan diblog, senang bepergian, membaca, dan memasak.

Frankfurt Book Fair (FBF) adalah pameran buku terbesar dan tertua didunia, lebih dari 500 tahun usianya. Frankfurt Book Fair adalah tempat bertemunya pelaku industri buku, media, pemegang hak cipta yang datang dari seluruh penjuru dunia. Acara ini digelar setiap tahun pada pertengahan bulan oktober. Jadi pada saat tersebut akan ada banyak sekali penulis buku, penerbit, penjual buku, agen bahkan produser film yang bertemu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Partisipannya sebanyak 132 negara dengan jumlah pengunjung mencapai ratusan ribu orang. Hal lain yang tidak kalah menariknya adalah setiap tahun selalu ada tamu kehormatan. Pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan. FBF tahun ini dilaksanakan pada tanggal 14-18 Oktober 2015.

FBF dibuka untuk umum hanya pada 2 hari terakhir yaitu 17 dan 18 Oktober 2015. Area FBF sendiri dibagi menjadi 5 gedung utama. Untuk detailnya bisa dilihat pada foto dibawah ini :

Foto 1 (Denah FBF)

Sekitar 7 atau 8 tahun lalu saya selalu memimpikan untuk bisa pergi ke acara ini. Saya rajin memupuk mimpi tersebut. Setiap tahun saya selalu membaca liputannya. Saya selalu mempunyai harapan besar bahwa suatu saat mimpi tersebut akan terwujud. Alasannya sederhana, karena saya cinta buku. Saya suka aroma kertasnya, saya suka sensasi ketika membalik halamannya dan yang terpenting adalah saya cinta membaca buku. Bersyukur tahun 2015 ini salah satu harapan saya (diantara banyak sekali mimpi) bisa menjadi nyata bertepatan dengan Indonesia menjadi tamu kehormatan. Dan yang membuat saya semakin semangat adalah saya ingin bertemu beberapa penulis yang saya idolakan sejak buku pertama mereka terbit, bahkan satu penulis sudah saya idolakan sejak dia menjadi penyanyi. Jadi bisa dibayangkan betapa girangnya saya.

Saya dan suami berangkat dari Den Haag jam 3 dini hari berkendara selama 6 jam dengan berhenti 2 kali karena suami tidur sebentar dan setelahnya mencari tempat sarapan. Keluar dari parkiran mobil, sudah ada bis yang disediakan untuk antar jemput dari dan ke gedung FBF. Tepat jam 10 pagi pada 17 Oktober 2015 saya menginjakkan kaki pertama kali dalam area FBF. Suami selalu memegangi tangan saya ketika kami sedang berjalan, bukan karena supaya tampak mesra, tetapi saya selalu berjalan cepat kesana kemari karena terlalu antusias dan suasana saat itu memang sedang ramai sekali 😀

17.000 Islands of Imagination, Tema Paviliun Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015

Akhirnya pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair. Menjadi tamu kehormatan pada acara yang yang berusia lebih dari 500 tahun tersebut merupakan kesempatan berharga. Menurut Pak Anies Baswedan dalam pidatonya bahwa kesempatan berharga ini bukan hanya untuk memperkenalkan Indonesia tetapi juga mengajak Eropa melakukan percakapan lintas budaya yang lebih luas. Mengusung tema Islands of Imagination, Muhamad Thamrin sebagai Arsitek yang dipercaya untuk menggarap area paviliun tersebut menjadi area yang penuh desain cantik. Dalam paviliun tersebut terdapat tujuh pulau yang masing-masing memiliki unsur budaya di Indonesia. Pulau-pulau tersebut adalah : Island of Scenes, Island of Spices, Islands of Illumination, Island of Inquiry, Island of Tales, Island of Images, dan Island of Images.

Masing-masing pulau menyajikan Indonesia dalam cara yang berbeda. Island of Spices yang mengajak pengunjung untuk berpetualang dan mengenal keragaman Indonesia melalui rempah dan kekayaan kulinernya.

Island of Scenes menampilkan Indonesia dari sisi pentas dan pertunjukan budaya. Island of Illumination menampilkan naskah dan manuskrip kuno yang menjadikan awal sastra yang ada saat ini. Island of Inquiry menampilkan sains dan kebudayaan Indonesia dalam bentuk digital.

Islands of Tales memberikan nuansa berbeda yaitu memperlihatkan negeri dongeng Nusantara dengan suara dan proyeksi gambar bergerak.

Pada bagian Island of Words diperuntukkan bagi para peminat kartun, cerita bergambar, novel grafis dan animasi. Sedangkan bagian yang terakhir adalah Island of Words menampilkan beragam buku karya penulis Indonesia dengan visual dan konten yang menarik.

 Foto 4 (Stand Indonesia)

Sejak saat persiapan sampai hari terakhir acara, perkembangan dan beritanya bisa diikuti langsung melalui website resmi Islands of Imagination, akun Facebook Pulau Imaji dan akun twitter @pulauimaji. Kuliner Indonesia juga berjaya disini. Tidak hanya masakan saja yang disajikan, tetapi rempah Indonesia juga diperkenalkan pada pengunjung. Saya melihat ada beberapa pengunjung tidak hanya mencium rempah-rempah tersebut, tetapi juga mencicipinya. 25 chef sampai didatangkan langsung dari Indonesia seperti William Wongso sebagai ketua kulinernya, Bondan Winarno, Sisca Soewitomo, Barra Pattiradjawane, dan masih banyak yang lainnya. Menu yang disajikan dikantin Indonesia adalah gado-gado (6.5 euro), sayur kapau (9.5 euro), asinan Jakarta (5.9 euro), ayam rica-rica (9.5 euro), dan dessert klappertart (lupa harganya berapa). Sejak sebelum jam makan siang, antrian sudah mengular. Selain demo memasak, juga dibuka kelas memasak yang diikuti oleh pelajar dan anak muda. Kelas memasak ini salah satu contohnya adalah mengajarkan cara membuat kolak pisang dan pepes ikan. Dari situs CNN Indonesia, disebutkan bahwa peserta sangat antusias.

Foto 5 (Beberapa spicies yang didisplay) Foto 6
Awal datang, saya langsung menuju hall terdekat yaitu hall 4. Bersyukurnya langsung menemukan stand Gramedia yang sedang mengetengahkan talkshow tentang buku anak-anak. Setelah puas berkeliling di hall 4.0 dan 4.1 kami langsung menuju Paviliun yang ternyata sedang berlangsung sesi Leila S.Chudori dan Laksmi Pamuntjak tentang buku mereka masing-masing yaitu Amba dan Pulang. Saya datangnya telat, jadi mendapat tempat dibelakang para pembicara, karena penuh dengan penonton. Diantara penonton saya melihat Taufik Ismail dan Bapak BJ Habibie. Setelah sesi mereka selesai, kami langsung menuju kantin untuk makan siang. Kami memesan sayur kapau dan gado-gado.
Foto 7 (Source @pulauimaji)

Sekitar jam 1 kami bergegas menuju hall 4.3, berputar sebentar dan sebelum jam 2 saya sudah duduk manis menunggu sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa jam 2 siang di stand nasional. Sesi yang paling saya tunggu karena ada Dewi Lestari, penulis idola. Sejak Dewi Lestari menjadi penyanyi digrup RSD, saya sudah mengidolakan dia. Lagu ciptaannya yang berjudul Satu Bintang di Langit Kelam menjadi salah satu lagu favorit sampai saat ini. Dan ketika dia mengeluarkan buku pertamanya yang berjudul Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001) bisa ditebak setelahnya saya selalu membeli karya-karyanya, lengkap sampai Gelombang. Saya mengagumi setiap karakter yang dia ciptakan, cara dia membawa pembaca untuk hanyut dalam setiap cerita yang dia tulisakan. Pada buku Perahu Kertas, saya sampai tersedu sedan ketika membacanya. Jadi, salah satu mimpi saya sejak lama juga adalah bisa bertemu langsung dengan Dewi Lestari, berbincang sebentar, meminta tanda tangan dibukunya, dan foto bersama. Jadi ketika tahu Dewi Lestari akan ada sesi dihari sabtu bersama Ika Natassa yang bertema “Woman and The City” saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selama 30 menit saya mendengarkan dengan anteng talkshow dalam bahasa inggris tersebut. Sampai sesi tanya jawab, saya langsung mengacungkan tangan, padahal pada saat itu saya belum tahu apa yang akan ditanyakan (kebiasaan!!). Pikir saya, mumpung ada kesempatan. Dan saat itu saya satu-satunya orang yang mengacungkan tangan pada saat sesi awal tanya jawab.

Foto 8 (Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa Penuh)

Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa Penuh

Dewi Lestari, penulis beberapa buku bestseller, termasuk “Supernova” dan “Perahu Kertas” pada tahun 2014 merupakan perwakilan Indonesia yang secara simbolis menerima tampuk bergilir sebagai tamu kehormatan 2015, dari Finlandia sebagai Tamu kehormatan pada FBF 2014. Pada saat itu Dee, panggilan Dewi Lestari mengatakan bahwa sebagai tamu kehormatan, Indonesia akan mendapatkan sorotan yang lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, yang artinya ada pekerjaan dan tanggunjawab yang harus diselesaikan sebelum Oktober 2015. Tanggungjawab yang dimaksud berhubungan dengan penerjemahan. Dari setiap naskah Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa asing, jendela pengetahuan dunia tentang Indonesia terbuka semakin lebar.

”Saat ini, karena terbatasnya jumlah buku Indonesia yang diterjemahkan, boleh dibilang kondisi perbukuan kita gelap gulita di luar sana. Jika kita melihat begitu banyaknya judul buku menghiasi rak-rak benderang di Gramedia, gulita itu tidak terasa. Tapi, setiap saya diundang ke berbagai festival buku internasional, di sanalah saya mendapatkan kondisi perbukuan kita yang gelap dan terkucil. Setelah bicara berbusa-busa dengan penuh percaya diri di panggung bersama para penulis mancanegara, pertanyaan sederhana seorang penonton, “Where can I get your book?” menjadi pukulan telak yang cuma bisa saya tangkis dengan senyum semanis mungkin sambil berkata, “Unfortunately, it’s not yet available in English.” Skakmat” begitu yang dijelaskan Dee dalam websitenya deelestari.com. Karenanya, tugas Indonesia sebagai tamu kehormatan pada tahun 2015 bukanlah pekerjaan yang ringan. Mengajak mata dunia untuk memandang literasi Indonesia.

Foto 9 (Dewi Lestari Ika Natassa)
Dee dan Ika Natassa membicarakan topik yang relevan dengan kondisi saat ini yaitu tentang perempuan, kota dan problematikanya. Dua topik ini lekat dengan cerita-cerita yang ditulis oleh kedua penulis tersebut. Ika Natassa merupakan penulis best seller yang salah satu karyanya adalah “Twivortiare” dan karya terbarunya adalah “Critical Eleven”. Dee dan Ika Natassa dianggap mampu mewakili pemikiran wanita & problematika yang banyak ditemui generasi saat ini. Dee yang menggabungkan science dan fiction ke dalam nuansa karyanya mengaku selalu memberikan bumbu – bumbu problematika saat ini ke dalam tulisannya, berbagi cerita tentang proses pembuatan karakter setiap tokoh dalam novelnya, serta membacakan bagian scene dalam bukunya, “Supernova”. “Proses menulis yang saya alami adalah pembelajaran seumur hidup. Writing is like building your muscles.”, ujarnya.

Sementara Ika Natassa bercerita tentang proses produksi dan pembentukan karakter novel yang tidak hanya bermodalkan fiksi, tetap juga merupakan hasil riset dari karakter – karakter masa kini yang ‘nyata’ ada di kehidupan sehari – hari. Karenanya karya Ika Natassa tidak pernah jauh dari cerita dan jejak kehidupan sosial kaum urban Jakarta dengan segala lika likunya. Sesi diskusi ini mendapatkan perhatian pengunjung dari berbagai kalangan, terutama para penggemar Dee dan Ika yang datang dari sekitar wilayah Eropa. “Untuk penulis – penulis Indonesia yang karyanya ingin dikenal di dunia internasional, pastikan konten dan isi cerita yang kita tulis sudah cukup berkualitas. Menangkan dulu pasar nasional, baru kemudian kita sama –sama berkonsentrasi untuk memperkenalkan karya ke pasar internasional. Tahun ini sebagai tamu kehormatan, beruntung sekali kita penulis – penulis Indonesia mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan kelompok publishers yang datang dari seluruh penjuru dunia. Tidak hanya itu, event ini juga menjadi panggung bagi kita untuk memperkenalkan budaya bangsa,” pesan Dee dan Ika Natassa diakhir sesi.

Dan pada akhirnya saya bisa mewujudkan impian. Meminta tanda tangan, berbincang sebentar dan berfoto bersama Dewi Lestari. Bahagia luar biasa dan tidak terkira rasanya.

Foto 10 (Foto dengan Dee dan meminta tanda tangan didua bukunya, Gelomband dan Partikel)

Misi selanjutnya adalah menemui penulis idola yang kedua, yaitu Andrea Hirata. Saya menyukai bukunya sejak Laskar Pelangi. Buku dan film Laskar Pelangi sukses membuat saya menangis sekaligus semakin yakin akan kekuatan mimpi, doa dan kegigihan dalam mewujudkan mimpi kita. Sejak saat itu saya semakin berani untuk bermimpi dan berusaha keras serta cerdas untuk mewujudkan setiap mimpi tersebut. Rasanya masih tidak percaya juga bisa meminta tandatangan pada buku terbaru Andrea Hirata yang berjudul Ayah. Terus terang saya belum membaca Ayah sama sekali karena baru mendapatkan buku tersebut dari seorang teman yang ke Den Haag 2 hari sebelum saya berangkat ke Frankfurt. Beruntung, pikir saya.

Pengalaman yang tidak akan terlupakan untuk saya karena bisa mewujudkan impian lama. Secara keseluruhan saya merasa terharu dan bangga dengan tampilnya Indonesia sebagai tamu kehormatan di FBF 2015. Melihat dan merasa dekat dengan Indonesia ketika saya sedang jauh dari Indonesia. Angkat topi kepada Goenawan Mohammad selaku Ketua Komite Nasional Pelaksana serta sekitar 80 penulis dan total 300 orang budayawan maupun seniman yang berkumpul dan mensukseskan peran Indonesia sebagai guest of honor pada acara bergengsi tersebut. Meskipun banyak kritik disana sini tentang tidak sempurnanya Indonesia sejak tahap persiapan yang super mepet sampai pada acara berakhir, tetapi langkah awal ini membawa optimisme tersendiri akan Indonesia dan Industri buku Indonesia dimata Internasional. Bukankah perjalanan panjang dan besar selalu diawali dengan langkah yang kecil. Jika tidak dimulai saat ini, maka tidak akan pernah tampak juga perubahaan besarnya dikemudian hari.

Video Dee menjawab pertanyaan saya serta pembacaan penggalan Supernova 1 dalam bahasa Inggris dapat dilihat disini : https://www.youtube.com/watch?v=UooYF_pw-So

————————

Koleksi foto pada laman ini adalah karya Deny – dengan  gambar-gambar  penunjang terhubung dengan image URL gambar aslli.

Deny Lestiyorini- Indonesian living in Den Haag |IG : @deny_l
Blog : http://denald.com/ Twitter : @denald

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 2)

925351_547216565411067_743477697_aBeth Agustina. Has been living in Germany for 8 years. Full time happy SAHM and part time passionate portrait photographer.

Hajat tahunan Frankfurt Book Fair yang digelar selama lima hari akhirnya selesai juga hari Minggu kemarin. Konon banyak buku-buku yang diobral bahkan gratis di hari terakhir (Minggu 18 Oktober 2015). Sayangnya saya datang hanya di hari Sabtunya saja, jadi tidak kebagian obralan. Tapi lumayan juga sih, mendapat buku-buku kortingan setelah tawar menawar tingkat tinggi dengan di beberapa stand penerbit. Untung suami saya tidak ikut masuk ke pameran buku ini, dia suka malu mendapati istrinya nggak tahu malu tawar-menawar harga 😀

Indonesia menjadi tamu kehormatan di acara Franfurt Book Fair tahun ini dengan fokus utama penulis-penulis wanita Indonesia yang menyinggung topik tabu seperti seks dan agama dalam karya-karya mereka. Jauh hari sebelum hajatan literatur terbesar di dunia ini dibuka, berita tentang kultur, budaya dan literatur Indonesia sudah banyak menghiasi beberapa media di Jerman. Di samping berita tentang kehadiran Salman Rushdie di acara pembukaan pameran dan boikot dari negara Iran karenanya, tentunya.

APw4_ONdQ_3AGFtxd4QI3F31vk5XLn4eTh3kWFEbkXk,SYedbeWWJYURa9Z1cc7gonwY8oO7s0eEAtBwD08qfcU

Frankfurt Book fair dibuka untuk umum pada dua hari terakhir, 17 dan 18 Oktober 2015. Tiket masuknya berharga 18,00 Euro sehari, yang termasuk normal untuk tiket pameran berkelas internasional seperti ini. Khusus untuk refugees, yang saat ini sedang ramai-ramainya membuat pemerintah dan warga negara Jerman pusing tujuh keliling, mereka mendapat fasilitas masuk gratis.

Saya lumayan menyesal hanya datang di hari Sabtunya saja. Bukan masalah obralan buku di hari terakhir, namun karena saya belum khatam mengelilingi semua halls dan stand. Hari itu saya hanya berkonsentrasi pada jadwal acara dari Indonesia dan mencari buku anak-anak sedangkan sebenarnya ada lebih dari 7000 peserta pameran 100 negara yang rutin mengikuti Frankfurt Book Fair. Tapi not bad juga sih, semua target saya terpenuhi; melihat acara tanya jawab Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori, menemui senior jaman kuliah Beng Rahardian dan Eko Nugroho-para komikus kondang tanah air, mengikuti acara interview Andrea Hirata dan tentunya membeli beberapa buku anak berbahasa Indonesia yang tidak bisa saya dapatkan di sini -itupun pilihannya terbatas karena sebenarnya hari Sabtu itu belum diadakan transaksi jual beli. Oh ada satu acara yang tak bisa saya ikuti karena saya datangnya telat, acara show cooking-nya Chef Vindex!

ANDREA HIRATA

Andrea Hirata untuk ketiga kalinya kembali diundang untuk menghadiri Frankfurt Book Fair, sebuah pameran buku terbesar di dunia. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sempat mengikuti interview Andrea Hirata di booth milik stasiun TV Jerman 3Sat. Sempat bangga juga saya melihat bangku penonton langsung penuh begitu session Andrea Hirata tiba. Dan serunya lagi, 95% penontonnya bukan orang Indonesia padahal buku-buku Andrea Hirata baru ada versi bahasa Jermannya sejak bulan September kemarin. Di Amazon.de buku Laskar Pelangi yang dalam bahasa Jermannya Die Regenbogentruppe mendapat review 4,5 dari total 5 dari para pembacanya. Yay!


Dulu waktu saya masih baru-barunya di Jerman (tahun 2007), buku Andrea Hirata belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pendidikan di Indonesia, saya selalu menyelipkan cerita dari bukunya Andrea, tentang perjuangan Ikal dkk. dalam menempuh ilmunya. Teman-teman saya yang kebanyakan lahir dan besar di Jerman sangat tertarik dengan Laskar Pelangi dan banyak bertanya tentang kebenarannya, bagaimana dengan sistem pendidikan pada umumnya di Indonesia dan bagaimana dengan sekolah saya sendiri. Apalagi saat itu di Jerman sedang ramai-ramainya demonstrasi mahasiswa yang tidak puas dengan  fasilitas di Universitas Negeri yang kurang dan buku-buku diktatnya yang mahal. Teman-teman yang sudah kena setrum cerita Laskar Pelangi inipun kemudian berkata betapa kurang bersyukurnya mahasiswa di Jerman yang berdemo itu karena biaya kuliah di Jerman sebenarnya termasuk yang paling murah di dunia, bahkan biaya sekolah sampai SMA pun gratis. Dan buntutnya mereka ingin sekali membaca buku Laskar Pelangi. Tahun ini harapan mereka akan saya kabulkan!

Dalam interview di stasiun 3Sat kemarin, Andrea Hirata sempat diminta untuk mendeskripsikan bangsa Indonesia yang complex ini hanya dalam 3 kalimat pendek. Menurut Andrea, bangsa Indonesia itu toleran, bangsa Indonesia itu suka belajar dan yang terakhir, bangsa Indonesia itu suka tersenyum yang disambut dengan senyum lebar para pengunjung. Pembawa acara cantik yang mewawancarai Andrea Hirata juga sempat menanyakan seberapa penting pengaruh  magic di Indonesia karena dalam buku Sang Pemimpin (Jerman: Der Träumer) ada bagian di mana Ikal menuliskan harapannya di secarik kertas yang digantung di sebuah layang-layang. Menurut Andrea Hirata magic merupakan bagian dari kultur Indonesia dan  sebagai seorang penulis cultural fiction, memasukkan unsur-unsur magic itu baginya merupakan hal yang penting. Yang paling lucu adalah ketika Andrea Hirata membacakan bagian dari Sang Pemimpi, tentang asal-usul namanya (Andrea Hirata sempat ganti nama 9 kali!) yang sayangnya tidak diterjemahkan secara lengkap oleh si penerjemah sehingga pemirsa non-Indonesia tidak bisa ikut cekikikan seperti saya. Video tentang interview Andrea Hirata ini bisa dilihat di websitenya 3Sat.

Setelah interview usai, saya dan dua orang teman saya langsung bergegas ke backstage, mau minta tanda tangan dan foto bareng. Rupanya di sana sudah banyak orang yang antri, kebanyakan mahasiswa dari Indonesia. Andrea Hirata sempat bertanya apakah ada dari kami yang memiliki bukunya dalam versi bahasa Jerman. Sayangnya kami belum punya tapi saya janji mas, saya akan segera beli buku itu secara dari dulu saya memang sudah tidak sabar, ingin teman-teman Jerman saya membaca buku itu.

Andrea Hirata orangnya sangat ramah, sedang sibuk-sibuknya sesi tanda tangan, dia sempat-sempatnya bercerita kalau editornya masih lajang. Maksudnya bagaimana nih mas?

Buku Anak

Ohya, saya sempat  membeli beberapa buku anak-anak berbahasa Indonesia buat si Flipper (anak perempuan saya), salah satunya adalah buku ‘Indahnya Negeriku’ – Berpetualangan bersama Ella dan Eza dari penulis Fitri Kurniawan dan Watik Ideo (Penerbit: Bhuana Ilmu Populer). Buku yang rupanya bilingual ini (Indonesia dan Inggris), mengisahkan tentang dua kakak beradik Ella dan Eza yang berwisata berkeliling Indonesia ke 13 kota dari Sumbawa sampai ke Sulawesi Utara.

Menurut saya ceritanya standar saja. Di setiap kota yang disinggahi, mereka bertemu dengan kenalan baru yang mengenalkan mereka dengan budaya setempat seperti tari-tarian, kerajinan tangan dan makanan dengan latar belakang ilustrasi rumah adat mereka. Saya sebut standar karena informasi-informasi pendek seperti ini seingat saya sudah ada di buku pelajaran jaman SD atau SMP dulu yang saya yakin saat inipun masih ada. Tapi dengan illustrasi penuh warna dan teks non-formal membuat buku ini tentu saja lebih menarik dari buku pelajaran sekolah.

Yang lebih menarik lagi  -dan tidak ada di buku pelajaran- adalah pengenalan makanan setempat di setiap kota yang mereka singgahi.  238 halaman, 13 kota, 19 ilustrasi makanan (38 halaman), nom! Waktu suami saya baca buku ini komentar pertamanya adalah, “pantas saja orang Indonesia suka makan.” Yup, pengenalan makanan sejak dini! Bisa jadi dia iri hati juga karena kulinari Jerman tidak sekaya kulinari di Indonesia.

Ikan gabus kuah kuning, makanan khas Papua

Makan wadi, makanan khas suku Dayak sambil membahas senjata Sipet dan Mandau

Cukup menarik khan? 🙂

——–

Foto-foto pada laman ini adalah karya Beth, dengan beberapa foto pendukung yang terhubung dengan link pada foto.

https://autumnisokay.wordpress.com & Instagram @frausie

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 1)

8970440293_db01e5a142Mindy Jordan – A stubborn Taurean yang lahir 40 tahun silam di Jakarta. Istri dari suami yang jangkung (Sven) dan ibu dari seorang putri kecil (Medea Kedasih ). Saat ini sedang bersekolah kembali untuk nantinya bisa berkerja dengan anak-anak. Co-Author buku 3 Wanita Menjejak Dunia dan Menghirup Dunia. Suka membaca, membuat DIY dan belajar masak, juga fotografi secara autodidak.

Frankfurter Buchmesse

Waktu saya tahu kalau Tamu Kehormatan di Frankfurter Buchmesse (Frankfurt Book Fair) adalah Indonesia, saya sudah bertekat untuk datang. Biarpun jarak 470 km memisahkan antara kota tempat tinggalku dan kota Frankfurt, tetap tidak menggoyahkan niat saya. Apalagi akhirnya teman-teman yang saya kenal melalui ajang Upload Kompakan juga mau datang dan menjadikan ajang istimewa ini untuk acara kopi darat pertama kali. Pokoknya I was so uber excited deh!

Gimana ga excited coba, karena ajang pameran buku terbesar ini ada di bucket list saya, lalu tahun ini Indonesia yang menjadi tamu kehormatan, ditambah lagi saya akan bertemu dengan salah satu teman dan partner penulis buku Menghirup Dunia dan juga teman-teman seantero Jerman (plus Deny yang datang dari Den Haag). Anak saya juga minta ikut, sewaktu saya wanti-wanti kalau nanti saya akan pergi. Dilalah sang suami yang tadinya tidak mau ikut akhirnya jadi tertarik untuk ikut. Jadilah kita sekeluarga liburan weekend getaway 14-18 Oktober 2015 ke ajang Pameran Buku yang tertua dan terbesar di dunia, Frankfurter Buchmesse.

Beberapa minggu sebelum pergi saya sudah mempelajari kalender acara. Kebanyakan acara yang diselenggarkan oleh Tamu Kehormatan. Karena perginya dengan anak batita, jadi saya juga mencatat acara anak-anak, seperti misalnya pembacaan dongeng, peluncuran buku anak-anak yang berjudul Putri Kemang yang juga sudah ada versi terjemahan Indonesianya dan ada dalam format Kamishibai.

Selain itu saya memasukan beberapa acara talk show atau diskusi ke agenda saya. Sebut saja, talk show Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak, lalu Dewi Lestari dengan Ika Natassa, dan Tita Larasati karena sudah lama ingin bertemu dari jaman Multiply. Beberapa penulis Jerman juga saya masukkan ke agenda saya, misalnya Ilija Trojanow dan Axel Scheffler, ilustrator buku anak. Beliau sering kolaborasi dengan Julia Donaldson dan buku mereka yang populer adalah der Grueffelo atau Gruffalo.

Euphoria Frankfurt Book Fair 2015 untuk saya juga diisi dengan membaca beberapa tulisan dan berita tentang tanah air di beberapa surat kabar ternama Jerman, misalnya tentang budaya baca masyarakat Indonesia atau juga tentang slogan yang dipakai di Frankfurt Book Fair 2015, yaitu 17.000 Islands of Imagination. Lengkapnya bisa dibaca di http://islandsofimagination.id/about/. Potongan berita, tulisan dan liputan di surat kabar tersebut saya simpan.

Indonesia’s slogan for the Fair— “17,000 Islands of Imagination”—symbolizes the intellectual and artistic richness of this incredibly diverse and multi-religious nation.

Perjalanan ke kota Frankfurt am Main memakan waktu lebih lama karena macet di jalan tol. Tidak heran sih karena hari keberangkatan kita adalah Jumat dan terkena rush hour ditambah hujan rintik. Puji Tuhan kita tiba dengan selamat di Innside Hotel tempat menginap selama dua malam. Sang resepsionis yang ramah memberikan Medea sebuah welcome gift yaitu berisi sekotak pensil warna dan beberapa coloring postcards bergambar binatang. Bahagia sekali dia melihat isi welcome giftnya dan langsung mau mewarnai begitu kita masuk ke kamar yang nyaman. Sebelum tidur Medea bertanya kapan kita berangkat ke Frankfurter Book Fair-nya. Ternyata ada yang sudah excited seperti ibunya.

Instalasi 1500 Batang Bambu Joko Avianto Pukau Pengunjung Frankfurter Kunstverein

Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Hari H pun tiba. Kita sekeluarga pergi ke lokasi dengan mobil dan beruntung mendapat parkir yang tidak jauh dari Frankfurt Messe (Frankfurt Exhibition). Mungkin karena pagi-pagi banget yaa… Di sebelum pintu masuk, kita ditawari untuk membeli sebuah surat kabar yang harganya 0,80€. Awalnya tidak mau beli karena surat kabar tersebut image-nya seperti Pos Kota, tapi hadiah kupon dapat tiket lebih murah mengalahkan pikiran kita.

Setelah mengisi perut dengan gado-gado dan teh panas di Canteen Indonesia, saya dan keluarga menuju ke Paviliun Indonesia untuk mengikuti acara diskusi dengan dua penulis wanita Indonesia, yaitu Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Oiya, buku Laksmi Pamuntjak yang berjudul “Amba“, diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul “Alle Farben Rot“ dan sudah saya liat di beberapa toko buku. Ada rasa bangga terbesit setiap melihat buku Indonesia di antara buku-buku karya penulis dalam negeri, maupun penulis luar negeri. Sebelum acara diskusi dimulai, saya sempat melihat Pak B.J. Habibie. Sayangnya tidak bisa minta foto bareng karena security yang ketat.

RBu8KSnmfaf75GjR8q644jwuZQrmpdfR4FI6n8b4ryQ,NcYmJ0myx-4iIibjCBki3N8MrpA3nXEWVod6VurTHNw

Menonton acara tarian ini bikin kangen kampung halaman

Deretan buku tentang Indonesia saat dipamerkan dalam Frankfurt Book Fair 2015 di Frankfurt am Main, Jerman (13/10).

Akhirnya acara diskusi yang bertemakan tentang kaum Exil dari masa 1965 dimulai. Dengan moderator seorang penulis Jerman bernama Anett Keller, seorang wartawati yang fasih berbahasa Indonesia dan penulis “Indonesien 1965ff. Die Gegenwart eines Massenmordes. Ein politisches Lesebuch.“ Buku setebal 213 halaman ini mengambil latar belakang kejadian di tahun 1965. Karena acara diskusi ini dalam bahasa Jerman, Indonesia dan Inggris jadi disediakan head set bagi para pengunjung supaya bisa mendengar terjemahan stimulasi secara langsung.

Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak menceritakan tentang buku mereka, yaitu “Pulang“ dan “Amba“, yang keduanya memiliki latar belakang yang sama, yaitu kejadian di tahun 1965. Seperti halnya “Amba“, novel “Pulang“ juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul “Heimkehr nach Jakarta“. Sebuah novel yang berhasil membuat saya nangis tersedu-sedu dan ingin pulang ke kampung halaman, ke Jakarta dan tentunya dalam keadaan utuh jiwa serta raga.

wdrVrdGGOiKSp-S3Oz37CUeWTV_Wdwi_kv1-GLbFtqo,FVzLi1nK0RasSu4nMPLqvLt4yL1qLZYQfO46wo4Dx4A

Leila S. Chudori, Laksmi Pamuntjak dan Anett Keller

FBF - Medea di acara Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Medea di acara Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Sesi tanya jawab dengan kedua penulis wanita ini menjadi bagian penutup acara diskusi selama 45 menit ini. Di ajang ini saya juga bertemu dengan Beth, Deny dan beberapa teman. Senangnya tak terkira karena kita akhirnya bertemu dan bisa ngobrol secara langsung karena selama ini hanya melalui sarana WhatsApp saja.

5142BsRTz1YDygV6Qo0WnKXS8DDJ105_TzA2jYlgeCk

Bersama Beth dan Deny

Oiya, saya bodohnya kurang eager untuk meminta foto bareng dengan Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Sekarang masih suka menyesal karena sudah lama juga bertukar tweet dengan Mba Leila dan ingin bertemu. Semoga kita bertemu di Jakarta ya, Mba…

German’s Publishers and Indonesian’s Publishers

Setelah acara diskusi selesai, saya bertukar kata dengan teman-teman. Kita akhirnya berpencar dan akan ketemu lagi di Canteen Indonesia untuk makan siang bersama. Saya juga senang banget karena akhirnya saya dan Febbie, seorang partner penulis saya, bisa bertemu kembali dan memegang “bayi“ kami berdua, buku Menghirup Dunia untuk pertama kalinya. Kita berdua sempat diminta untuk menanda tangani buku tersebut. Walaupun tidak dapat stage, tapi tetap boleh ada rasa bangga dong ya…

Menghirup Dunia (foto courtesy: Noni Khairani)

Saya juga sempat melihat-lihat hall penerbit Jerman. Waaahh kalap banget deh! Banyak buku yang menarik dan ingin dibeli. Untung saja harga buku di Jerman itu harganya sama, baik offline maupun online. Jadi bisa saya cari di toko buku kota saya tinggal. Sayangnya acara diskusi dengan Ilija Trojanow tidak saya ikuti dengan tuntas karena berbagi waktu dengan acara anak-anak. Beruntung sekali anak saya tidak rewel, bahkan dia terlihat menikmati harinya. Apalagi waktu kita ke stand Gramedia, Mizan dan beberapa stand lainnya. Berasa di surga dia melihat banyak buku anak-anak.

f6S2gnWLPjfXCnL7XoIQPuifX9GKKSfsK9FoB7IT7lA

Di stand Gramedia saya sempet ngobrol dengan Ika Natassa, sedikit bertukar kata dengan Dewi Lestari, juga dengan Mas Fuadi yang ketemu lagi di tengah kota keesokan harinya. Tentunya juga browsing buku-buku dan ikutan heboh sewaktu stand Gramedia membuka sesi penjualan buku. Saya membeli beberapa buku cerita anak berbahasa Indonesia yang ternyata tidak banyak karena yang diikutkan ke Frankfurt Book Fair 2015 sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman ataupun bahasa Inggris.

Di sini saya juga berbincang dengan Werner Schulze, seorang penulis serta Profesor berkebangsaan Jerman yang sering melakukan perjalanan ke Indonesia. Beliau hari itu membacakan cerita dari bukunya dengan judul “Paradiesvoegel und andere wundersame Erzaelungen“. Bahasa asli buku ini adalah bahasa Jerman dan pada tahun 2010 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu “Burung Cendrawasih dan Cerita Cerita Memikat Lainnya“.

Agak menyesal kenapa saya tidak datang ke pameran hari Minggunya. Karena saya kurang lama beredar di hall buku-buku bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Penyesalan berikutnya itu datang sewaktu tahu kalau ternyata ada acara diskusi dengan Dewi Lestari yang moderatornya adalah Ilija Trojanow. Grrr…

HC-D6Nsav5KzdtGvUbjfHuHqGyAfisEWETDLN9Jpqxo,2Vydzi_FzSPOuctyv0LxyH57tEK-LC834c4jQUVWeGw

Suasana Sabtu itu..

The Act of Killing

Di ajang pameran buku terbesar di dunia ini juga diputar sebuah film dokumenter karya Joshua Oppenheimer, seorang sutradara kewarganegaraan Amerika. “The Act of Killing“ yang diproduksi pada tahun 2012 dan bercerita tentang pembunuhan massal di tahun 1965 akan mulai diputar di bioskop Jerman pada tanggal 14 November 2015.

—–

Foto-foto pada laman ini adalah karya Mindy, dengan beberapa foto pendukung yang terhubung dengan link pada foto.

http://www.mindoel.blogspot.com. Instagram @mindoel.

Merantau di Sevilla

Riana Garniati Rahayu – A retProfile Picired urban planner, an active weekly-food-planner, a blogger, and a traveler. A happy wife of Ibrahim Rohman and a blessed mom of Raya and Bita. Been living in Europe with her family since 2008. Currently based in Seville, Spain.

Continue reading

Berkeliling di Sydney

 Annisa Sarahayu (Nisa) – The Beatles lover, daydreamer, batch_5IMG_4578_Fotorlove to cook and write. I can sometimes get a bit too friendly, touchy-feely, and silly! My personality is kind of complex I guess. I take a lot of time to get used to new people – before I feel comfortable with them.

Berikut adalah beberapa tempat di Sydney yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi:

Dining Out with Kids.
Lumayan banyak tempat makan kid-friendly yang sering kami coba, seperti food court yang terletak pada lantai 5 di Pitt Street Mall, Chinatown, Bondi Junction (shopping center dekat Bondi Beach yang terkenal), menu pizza di kawasan The Rocks, Darling Harbor , Darling Quarter, dan Paddington. Karena daerah-daerah yang saya sebutkan disini memang daerah turis, kebanyakan restorannya kid-friendly dan menawarkan great value menu untuk anak-anak, bahkan early-bird deal untuk menu makan malam. Selain itu, yang wajib dicoba adalah hidangan seafood yang fresh di Sydney Fish Market!

IMG_4756_Fotor

Dining Out with Adults
Kalau sama ibu-ibu Indonesia yang kebetulan lagi “ngangon” anak, kami prefer makan di rumah (seperti cerita di artikel Sydney 101) karena anak bisa bebas main sana sini, atau paling nggak cari resto yang dekat rumah. Kalau lagi playdate di park, kami biasanya bawa bekal masing-masing lalu saling tukar-menukar. Nah kalau kebetulan dapat me-time, ya terkadang lunch bareng teman di food court Pitt Street Mall tadi, ngopi di The Coffee Club, ngemil sore di Guylian cafe atau di Adriana Zumbo di QVB (Queen Victoria Building). Kalau sama keluarga, selain di tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas, kami juga suka mencoba resto-resto di daerah The Rocks seperti Pancakes On The Rocks, Umi Sushi, Time for Thai, Nok Nok Thai Food, Duyum Thai food.

batch_5IMG_8186

Gelato Messina | Voted best gelato in Australia

Shopping for Kids
Untuk pakaian untuk Bazyl, saya suka berbelanja di Zara Kids, Cotton On Kids, Gap, Target atau Pumpkin patch dan Seed. Untuk mainan bisa di Toys R Us, Hobbyco ( wajib nih kesini kalau lagi ke sydney karena merka punya display toko yang keren banget banyak anak-anak suka betah nongkrong dan emang sengaja didesain buat hiburan mereka ) Target ataupun Kmart. Selain itu saya juga suka hunting online di Gumtree ( semacam forum jual beli barang secondhand ) kalau lagi beruntung suka ada yang free dengan kondisi yang masih bagus, cuma kita harus pick up sendiri  🙂

Untuk buku anak : saya lebih suka hunting di toko2 second hand store gitu kaya Salvation Army, kondisi masih bagus dan harga juga murah range harga $2 – $5 nah kalau gak saya juga suka sekali datang ke baby&kids market yang diadakanya setiap beberapa bulan sekali. ini barang-barangnya memang second tapi juga terkadang ada yang baru lengkap dengan tag pricenya. terakhir saya kesana dapat chalk board masih baru hanya $5 , buku2 cerita hanya $0.50 – $2 . baju2 cotton on yang masih ada label harga 5 celana hanya $10 !!! dan banyak lagi. bisa dicek di website mereka surga deh buat emak-emak macam saya ahahahaha. Jangan khawatir kalau nggak puas maksimal 7 hari barang bisa dikembalikan dengan mengkontak salah satu PIC si Baby Market dan melaporkan nomor resi yang ada.

Shopping for Myself
Untuk pakaian saya suka di Zara,Tree of Life ( Australian boho product ) , Target, Cotton on, atau butik-butik vintage di daerah Surry Hills dan Newtown. Tetapi nggak jarang  saya juga berburu di secondhand store seperti Salvation Army. Untuk peralatan dapur dan rumah tadinya suka ke IKEA,  tapi sekarang saya prefer ke Peter’s Kensington karena harganya jauh lebih murah dari pada dept. store lokal seperti Myer, David Jones bahkan Target. Lengkap banget kadang juga suka ada harga diskon yang tak terduga. Review lengkapanya bisa dicaba di blog saya.

Salvation Army

Flea Markets
Saya suka berkunjung ke Surry Hills Market yang diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu pertama setiap bulannya. Selain itu Paddington Market juga patut dikunjungi,  buka lebih sering yaitu setiap Sabtu dan Minggu dari jam 9 – 3 sore.

Hanging Out with Bazyl.
Royal Botany Garden adalah pilihan tempat hang out favorit dengan Bazyl, karena bisa melihat pemandangan ke harbour dan Sydney Opera House. Selain itu ada Hyde Park, yang lokasinya tepat di city central dimana terdapat Stunning Archibald Fountain dan  Anzac Memorial. Karena letak rumah kami dekat dengan pantai, hampir setiap minggu bahkan beberapa hari sekali, kami suka “ngabsen” ke Maroubra beach dan playgroundnya. Enaknya disini pantainya lengkap dengan fasilitas seperti playground, bike rides dan walking tours. Darling Quarter Kids Playground ( salah playground terfavorit di Sydney lengkap  dengan waterpark-nya ). Grant Reserve (Coogee Beach Playground ), Heffron park, yah…pokoknya dimana ada playground biasanya pasti kami datangi! Hehehe…

Hanging Out with Adults
Selain makan dan ngopi, kegiatan hangout saya dengan adult salah satunya adalah mengikuti kelas Zumba bersama Maroubra Dance Studio di St John Hall Maroubra. Sisanya ya hangout  di Bondi Junction , QVB, Westfield , Strand Arcade , Cafe de Luca, II Cafetino, atau Laduree.

Getting Out in the Nature
Selain park dan beach yang sudah disebutkan diatas, kami juga suka ke Little Bay dan La Perouse.

The Famous manly beach

The Famous manly beach

batch_5batch_5IMG_4044

Favorite Public Spaces?
Australian National Maritime Museum, Sydney Living Museum, Art Sydney (ini gratis! ). Selain itu bisa juga ke City of Sydney Library atau yang dekat rumah seperti Bowen Library dan Eastgarden Library di daerah Randwick City Council. Untuk bisa dapat free entry ke museum.

Must-visit Touristy Spots
Get beached in Bondi and other beaches in Sydney, like Coogee, Bronte, Clovely and Manly. Lalu hangout di kafe-kafe-nya Surry Hills seperti Bills, Reuben Hills dan Bourket Street Bakery. Naik kapal ferry ke Manly dari Circulay Quay, makan gelato-nya Messina di Surry Hills (siap-siap antri panjang. karena emang enak banget!). Jangan lupa explore Chinatown & Newtown, lalu kalau berani jalan, lari, atau bahkan naik ke atas Sydney Harbor Bridge ( AU$150/orang ).

Luna park one of the iconic place in sydney

Luna park one of the iconic place in sydney@sachpfaff

Selain itu, play tourist dan main berbagai permainan di Luna Park, nonton firework show gratis di Darling Harbor setiap malam minggu, ke King’s Cross,  piknik di Royal Botany Garden, dan kalau sempat ke Blue Mountain (2 jam naik train, kalau mau murah bisa pergi pas hari Minggu, karena  ada promo Family Sunday Fun Day). Yang pasti, kalau mau free entry untuk ke museum dan touristy spots lainnya bisa kunjungi visitor/information center di Darling Harbor.

———       
Nisa juga mendokumentasikan kehidupannya bersama keluarga pada blog http://nisadanchicco.com/, serta account Instagram: @qyusha dan @denchicco.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Nisa dan Chicco – beberapa image diambil dari berbagai sumber yang URL-nya terhubung langsung dengan gambar.

Pembagian District di Singapura dan Info Mencari Sekolah Anak

858533_10151441582214637_205627387_oAnya Windira –  A mother of two, used to work in an office with shared cubicles before decided to pack her stuffs and flew to Singapore. Likes good friends, good food, and clean houses. Sometimes she tells people that she loves traveling around the world while in fact a trip to wet market is enough to make her happy.

Pembagian District. Biarpun negaranya cuma seuprit (luas Singapura kira-kira sama dengan Jakarta), tapi orang sini tetap suka main cela-celaan distrik lho. Garis besarnya, area di SG itu terbagi 4: North, West, East, dan Central. Dan masalah cela-mencela yang paling heboh adalah East vs West.

Pembagian wilayah Singapura

1. East Region. Stereotypingnya begini, daerah East ini adalah daerah yang paling dekat dengan Changi Airport, jadi daerahnya lebih hidup karena banyak business dan industrial center. Termasuk juga daerah Tampines, Bedok, Kallang, dll. Pada awal berdirinya, konon di East inilah orang-orang Inggris di Singapura membangun beach houses, sehingga rata-rata area di East berkesan lebih ekslusif dibanding di West. Kelemahannya, East ini aslinya banyak rawa, jadi udaranya cenderung gersang dan panas. Dan biarpun bekas rawa, di East tetap banyak area hijau. Selain itu, di East tempat makan enak dan halal lebih beragam dan lebih mudah ditemui dibandingkan dengan area lain di Singapura.

Tempat-tempat di East yang menarik untuk dikunjungi: Outdoor: Pasir Ris Park, Bedok Reservoir Park, East Coast Park. Beberapa tempat menyediakan penyewaan sepeda, space untuk barbeque, camping area, dan watersports.

Bedok Reservoir Park

Cafe-cafe dan toko-toko kecil di East Coast dan Katong Geylang Serai wet market: pasar basah dengan bahan makanan Malay (dan Indonesia) terlengkap. Pada bulan Ramadhan pasar Geylang Serai buka sejak sore hingga malam hari dan ramai dengan pasar Ramadhan.

Katong District: Singapore Peranakan Neighborhood

08 EC Shophouses

Jejeran rumah bergaya kolonial di daerah East Coast yang dipertahankan dan dipakai sebagai shophouses (ruko)

Suasana Geylang Serai saat bulan Ramadhan – ramai menjajakan aneka makanan Malay dan Indonesia

2. West Region. Daerah West ini dulunya hutan dan peternakan, jadi sampai sekarang relatif lebih rimbun dan masih banyak hutan hujan yang terpelihara, seperti Bukit Timah Nature Reserve dan Bukit Batok Nature Park. Tapi, area West yang paling ujung dekat dengan jembatan menuju Johor Bahru (daerah Tuas), yang mana di sana adalah lokasi heavy industrial area sehingga daerah itu lebih berpolusi.

Little Guilin, Bukit Gombah yang masih satu area dengan Bukit Batok

Daerah West juga sering dianggap lebih kumuh karena banyak non Singaporean dan blue-collar worker yang tinggal di sini. Selain itu mungkin karena jauh dari main business center, perkembangan area ini relatif lebih lambat dibandingkan East. Baru setelah tahun 2010 di area ini mulai banyak mall dan perkantoran.

Tempat-tempat menarik di daerah West: Outdoor: West Coast Park, Bukit Timah Nature Reserve, Chinese Garden/Jurong Lake, bersepeda menyusuri Park Connectors Singapore Science Center Nanyang Technical University dan National University of Singapore (main campus).

09 Ulupandan

Ulu Pandan Connector Bridge adalah salah satu spot foto favorit untuk jogger atau fun cyclist

10 Chinese Garden

Chinese Garden dan Jurong Lake

11 Kidstop

Kidstop, salah satu atraksi di Singapore Science Center, dimana anak-anak bisa mencoba berbagai pengalaman di dunia ‘orang dewasa’, seperti belanja di supermarket, melakukan ekskavasi fosil dinosaurus, menjadi cameraman untuk acara TV, dan banyak lagi

“Perseteruan” East vs West ini biarpun banyak jadi bahan candaan, kadang dianggap serius lho oleh orang Singapura, terutama bila dihubung-hubungkan dengan politik. Kalau saya dan teman-teman sih paling becandaannya seputar perlu atau enggaknya bawa paspor dan sikat gigi kalau main-main ke daerah West 🙂

 3. Central Region: adalah area yang paling keren. Harga properti di sini jauh lebih mahal dibanding area lain sehingga daerah ini dianggap sebagai daerah orang kaya-nya Singapura. Tempat-tempat seperti Orchard Road, Bugis, dan Marina Bay Sands, semua berlokasi di Central Singapore. Jadi biasanya, orang yang tinggal di Central jadi bahan disirikin sama yang lain. Paling gaya soalnya 🙂

Suasana Orchard Road saat menyambut perayaan Natal dan Tahun Baru

Tempat menarik di Central Area: selain tempat-tempat yang umumnya ada di panduan wisata ke Singapura, ada juga Bishan park, taman kota yang dibuat bergaya ‘kampung’, atau hiking di MacRitchie Reservoir.

Bishan Park

March 25 2015: A poster of elder statesman Lee Kuan Yew is surrounded by messages of support and flowers outside the Singapore General Hospital.

4. North Region terbagi menjadi dua: Northwest (Woodlands, Kranji, dll) adalah daerah yang terjauh dari Changi Airport dengan jalur kereta yang paling tidak reliable :), tapi harga sewa rumah biasanya lebih murah, dan biasanya apartemennya pun lebih luas. Sedang daerah Northeast (Sengkang, Punggol), karena termasuk daerah termuda, kelebihannya adalah umur apartemen yang masih baru dan demografis penghuni yang umumnya pasangan muda.

Tempat menarik di Northwest: Selain Singapore Zoo, banyak area urban farming yang terbuka untuk umum, misalnya Bollywood Farm di area Kranji, atau Urban Barn and Farm di daerah Bukit Panjang. Ada juga Sembawang Park dimana masih terdapat pantai yang natural (karena hampir semua pantai Singapura adalah hasil reklamasi).

Singapore Zoo

Salah satu plang di Bollywood Farm

Sembawang Park Playground

Faktor-faktor yang harus dipikirkan oleh calon mamarantau dalam memilih district untuk apartemen di Singapura:

Biasanya yang pertama dilihat adalah jarak dari rumah ke kantor. Karena biarpun negara ini kecil, tapi kalau punya rumah di West dan kantornya di East lumayan juga lho, bisa menghabiskan 1.5 jam untuk berangkat ke kantor.

Kemudian, untuk yang punya anak usia SD, sebaiknya mengecek SD yang ada di sekitar rumah, apakah semua SD unggulan, atau ada SD papan tengah. Alasannya kenapa? Karena sistem penerimaan SD (primary school) di Singapura ini SANGAT kompetitif. Level kompetisinya mungkin sama dengan jaman saya mengikuti UMPTN.

Sistem penerimaan SD di sini terbagi dalam beberapa fase:

  • Fase 1: Pendaftaran dibuka untuk anak yang saudara kandungnya sedang bersekolah di primary school tersebut.
  • Fase 2A: Pendaftaran dibuka untuk anak yang orangtua atau saudara kandungnya adalah alumni SD tersebut, atau yang orangtuanya adalah staf di sekolah tersebut.
  • Fase 2B: Pendaftaran untuk Singaporean Citizen yang orangtuanya adalah volunteer di SD tersebut.
  • Fase 2C: Pendaftaran untuk Singaporean Citizen atau PR yang belum masuk di fase 2B. Sekolah akan mendahulukan Citizen dalam penerimaan.
  • Fase 3: Pendaftaran untuk foreigner dan pendaftar yang tidak mendapat kursi di fase 2C.

SD unggulan di Singapura umumnya sudah penuh oleh Singaporean citizen di fase 2B. Sehingga anak-anak PR dan foreigner biasanya memilih untuk mendaftar di SD non unggulan yang jaraknya dekat rumah. Yang repot kalau SD di sekeliling rumah adalah unggulan semua. Biasanya Ministry of Education (MOE) akan meng-assign anak tersebut di SD yang masih punya kursi kosong, yang tak jarang lokasinya jauh dari rumah si anak. Sehingga banyak foreigner yang terpaksa pindah rumah demi bisa tinggal dekat sekolah.

Sementara untuk masuk ke level SMP (Secondary school), sudah ditentukan berdasarkan nilai ujian akhir, disini disebut PSLE (Primary School Leaving Examination). Jadi jarak tidak terlalu berpengaruh. Urusan kedekatan dengan amenities (supermarket, fasilitas kesehatan, public transport, wet market), biasanya tidak jadi masalah, karena umumnya di setiap daerah perumahan terdapat fasilitas yang lengkap.

Komunitas Orang Indonesia di Singapura. Ibu-ibu rumah tangga di sini umumnya mengikuti kelompok keagamaan. Untuk yang beragama Nasrani, biasanya ada perkumpulan keluarga dari majelis persekutuan gereja masing-masing. Majelis ini cukup aktif mengadakan family gathering. Bisa juga mendapat teman yang anak-anaknya ikut sekolah Minggu yang sama.

Untuk yang Muslim, di sini ada pengajian Muslimah yang dibuat per distrik dan diatur oleh IMAS (Ikatan Muslim Singapura). Membuat kelompok pengajian di Singapura tidak bisa sembarangan, harus terkoordinir. Begitupun untuk menjadi guru mengaji, seseorang harus mendapat ijazah melalui ujian yang diadakan oleh Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS). IMAS juga mengadakan kajian rutin di Mesjid Istiqamah KBRI Singapura yang mengundang pembicara dari Indonesia. Acara ini dikenal sebagai Saung Istiqamah dan sering jadi ajang silaturahim keluarga Muslim di Singapura. Selain itu, setiap bulan Ramadhan ada buka puasa bersama umat Muslim Indonesia di Singapura. Serunya, hidangan berbuka disuplai oleh semua kelompok pengajian ibu-ibu Indonesia se-Singapura.

Kelompok tahsin

Kelompok tahsin tempat saya bergabung ikut berpartisipasi menyiapkan makanan untuk Iftar IMAS tahun 2014 lalu.

Ada juga perkumpulan orang-orang dari latar belakang etnis yang sama, misalnya Paguyuban Pasundan Singapura dan KUA (Keluarga Urang Awak). Dari Paguyuban Pasundan terbentuk Indonesia Angklung Ensemble, yang cukup sering tampil di acara-acara lokal Singapura seperti Soundwaves 2012 Asia Major, Singapore Heritage Festival, dan banyak event lainnya.

13 Angklung

Indonesia Angklung Ensemble tampil di Botanic Gardens dalam salah satu rangkaian acara SG50 Celebration (50 tahun kemerdekaan Singapura)

Pementasan di Esplanade Open Theater 2011 oleh Indonesia Angklung Ensemble

Selain itu ada juga komunitas informal seperti komunitas futsal, bulutangkis, lari, dan tim basket amatir. Saya sendiri bergabung dalam kelompok pengajian dan mamarunners. Karena sama-sama berada di rantau, yang awalnya hanya untuk mencari teman yang punya minat yang sama, ternyata lama-lama jadi seperti saudara. Selain punya banyak teman, banyak informasi yang saya dapat dari teman komunitas. Contohnya info katering (dari mulai pempek sampai tumpeng) dan rekomendasi pembantu jam-jaman. Lalu ada info tukang pijat, tukang urut keseleo, sampai tukang cat murah meriah dan jasa penukaran uang. Yang paling dicari tentunya info preorder barang-barang dari Indonesia. Jadi biarpun tidak tinggal di Indonesia, kami semua cukup up-to-date dengan apa-apa yang sedang hits di Indonesia, mulai dari cireng bumbu rujak sampai jilbab Hana! (yang nggak kenal jilbab Hana silakan google yaa).

—–

Anya: Instagram @lengkengaddicts. Semua foto terlampir adalah milik Anya dan beberapa foto penunjang terhubung langsung dengan link foto asli.