Merantau di Helsingborg

bebeBebe –   An Indonesian stranded in Sweden. Found her home away from home in a small city called Helsingborg.  A wife and a mom of a cute baby girl who has a passion for photography and design. A gadget-freak, manga lover and k-pop listener.

Tentang keluarga. Nama saya Bebe, yang tentunya bukan nama saya yang sebenarnya. Nama ini adalah panggilan kesayangan dari suami, yang juga saya panggil ”Bubu”. Alasan kemisteriusan nama ini berawal dari suami yang keberatan nama aslinya saya tulis di blog (ga mau namanya muncul di Google, katanya saat itu). Akhirnya supaya nyaman dan ’karir’ menulis blog saya bisa lebih panjang, permintaannya saya turuti. Saya menikah dengan Bubu, yang merupakan pria berkewarganegaraan Swedia pada tahun 2010 yang lalu dan membawa saya hijrah ke negeri asal IKEA ini.

Bersama Bubu di Göteborg (kota terbesar kedua di Swedia, setelah Stockholm)

Resident Permit Swedia. Ketika merencanakan pernikahan dulu, sudah menjadi tekad kami berdua bahwa setelah menikah, saya akan langsung pindah ke Swedia bersama Bubu. Tentunya untuk bisa tinggal di negara ini saya membutuhkan ijin tinggal atau resident permit (RP). Memang sih kalau dilihat-lihat pengajuan RP jauh lebih susah dan lama dibandingkan visa. Tapi dibandingkan dengan keharusan memperpanjang visa setiap beberapa bulan sekali sepertinya mengurus RP menjadi pilihan yang lebih tepat. Apalagi dengan memegang RP itu saya juga otomatis mendapatkan work permit di Swedia. Jadi kalau memang berencana untuk langsung mencari kerja, tidak kesulitan dalam masalah ijinnya.  Untuk info lebih lanjut tentang dokumen bisa dibaca di sini ya.

Perjalanan proses pengajuan aplikasi RP saya sendiri dimulai dari bulan Oktober 2009 dengan perkiraan proses aplikasi akan memakan waktu setidaknya 6 bulan. Tapi ternyata bulan Februari 2010 saya mendapatkan jawaban dari pihak imigrasi Swedia (melalui Bubu yang statusnya masih calon suami dan tinggal di Swedia) kalau aplikasi saya ditolak dengan alasan saya tidak ada rencana menetap di Swedia dalam waktu dekat. Nggg.. Maksutnyaaa???

Langsung keesokan harinya, Bubu mengirimkan banding (appeal) ke kantor imigrasi di Swedia untuk menolak hasil yang kami terima dan meminta keputusannya agar dipertimbangkan ulang, hanya untuk mendapatkan jawaban yang sama satu setengah minggu setelahnya. Karena masih tidak puas dengan jawaban yang didapatkan, kami menggunakan kesempatan appeal ke-2, dimana kali ini prosesnya tidak lagi dilakukan oleh kantor imigrasi, melainkan pengadilan imigrasi. Setelah berbulan-bulan tanpa kabar, barulah pada bulan Juni 2010 Bubu mendapat sebuah surat dari pengadilan yang menyatakan bahwa saya berhak mendapat resident permit Swedia yang berlaku untuk 2 tahun. Fiuuuh.. Finally!! Alhamdulillah..

Setelah proses penuh drama dan air mata, pada bulan Okt 2010 saya pergi meninggalkan Indonesia dan menginjakkan kaki di kota Malmö, Swedia yang merupakan kota tempat tinggal kami yang pertama.

malmo-1

Landmark kota Malmö, The turning torso (gedung tinggi di sebelah kiri)

malmo13A

Pusat kota Malmo ; Malmo adalah kota terbesar ketiga di Swedia dan merupakan ibukota propinsi Skåne

Jembatan Öresund (bahasa Swedia: Öresundsbron) adalah sebuah jembatan-terowongan kereta api dan jalan raya yang melintasi Selat Øresund. Jembatan ini menghubungkan Swedia (kota Malmo) dan Denmark (Copenhagen) dan merupakan jembatan jalan dan rel terpanjang di Eropa. Hanya memakan waktu tempuh sekitar 35-45 menit dengan menggunakan kereta atau mobil.

Hanya setahun kami tinggal di Malmö sampai akhirnya memutuskan untuk pindah ke Helsingborg karena memang kantor suami (yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir) berada di kota ini.

 Skåne County, sometimes referred to as

Malmo dan Helsingborg terletak di Skåne Lan atau “Scania County” dalam bahasa Inggris, adalah daerah paling selatan di Swedia.

Setelah beberapa tahun tinggal merantau dan menikmati fase honeymoon berdua (*uhuk*), kami dikaruniai  anak perempuan kami yang pertama, Jo, yang lahir pada awal tahun 2014 silam.

Keluarga kami, Maret 2015.

Tentang Helsingborg. Helsingborg adalah sebuah kota kecil di pinggir pantai di propinsi Skåne yang terletak di daerah selatan Swedia. Kota ini merupakan titik terdekat antara Swedia dan Denmark, yang saking dekatnya, di hari yang cerah kita bisa melihat ke Denmark dengan mata telanjang.
helsingborg city

Historic Helsingborg dengan banyak bangunan tua, adalah sebuah kota pantai yang indah.

helsingborg city (2)

At its heart, Helsingborg is a sparkly showcase of rejuvenated waterfront, metro-glam restaurants, lively cobbled streets and lofty castle ruins.

Kontur kota Helsingborg terbilang unik karena walaupun letaknya di pinggir pantai, tapi langsung berbukit-bukit. Di bagian pusat kota di dekat pelabuhan terletak stasiun kereta, pertokoan, city hall (rådhuset), tempat pameran Seni (Dunkers Kulturhus) dan lain sebagainya.

helsingborg6

Kota Helsingborg dari atas

Jika kita berdiri di tepi pantai dan melihat ke sebrang di hari yang cerah, akan terlihat dengan jelas kota Helsingör, Denmark yang bisa didatangi menggunakan ferry selama 15 menit perjalanan.

Pusat kotanya Helsingör, Denmark.

Tinggal nyebrang: pusat kota Helsingör, Denmark.

Pemandangan kota Helsingborg ke arah Helsingör dari atas saat winter

Tempat yang paling terkenal di Helsingborg mungkin adalah benteng Kärnan yang lokasinya persis di tengah kota. Benteng ini merupakan peninggalan jalan perang antara Denmark dan Swedia dulu.

A 600 year old medieval fortress (Kärnan) in the city centre

Pindah ke tempat baru untuk pertama kalinya, dalam hal ini ke negeri orang, bukanlah hal yang mudah dan terkadang menakutkan untuk beberapa orang. Belum lagi kalau pindahnya sendiri (baik karena menikah, kerja, sekolah, dsb). Ga cuma harus rela keluar dari zona nyaman, tapi juga harus bisa survive tanpa bantuan keluarga dan kerabat. Selain itu masih harus beradaptasi juga dengan bahasa baru (yang seringnya terdengar sangat ajaib seperti bahasa planet), tradisi dan kebiasaan yang pasti jauh berbeda dengan di tanah air. Pendeknya, ga semua orang akan bisa cepat merasa betah.

Untuk saya sendiri, pindah ke Swedia merupakan pengalaman pertama saya hidup jauh dari orang tua. Karena itulah menjelang keberangkatan saya ke Swedia, sempat juga merasa cold feet dan ragu mau berangkat atau ga. Yah gimana juga yang sebelumnya bisa ketemu orang tua kapan aja, kali ini akan terpisahkan jarak ribuan kilometer jauhnya. Kalau nanti aku kangen gimanaaa? Hiks. Namun setelah akhirnya berangkat dan tinggal di Swedia beberapa tahun terakhir ini, alhamdulillah bisa dikatakan saya betah (saking betahnya sampai sekarang belum pernah pulang kampung loh. Hih!) hahaha…

Atas dasar itulah di post ini saya ingin berbagi tips (ala saya tentunya) tentang cara supaya cepat betah tinggal di negeri orang. Tentunya tips ini sifatnya personal dan berdasarkan kondisi saya di Swedia. Tapi saya berharap berguna juga untuk teman-teman yang ingin pindah ke negara lainnya, terutama yang baru pertama kali tinggal di negeri orang seperti saya.

Tips bagi para first-timer mamarantau:

1. Siapkan mental & lower your expectation – tips pertama ini memang sekilas terlihat template dan superficial ya? Kayaknya semua orang pasti ngomong gitu. Tapi berdasarkan pengalaman pribadi, menyiapkan mental sebelum berangkat ternyata cukup membantu. Cara mempersiapkannya seperti apa? Kalau saya sih dengan banyak browsing tentang Swedia. Selain itu minta Bubu juga untuk cerita tentang kota tempat saya akan tinggal nanti seperti apa (mall-nya apa aja?, penting itu, haha).

Salah satu foto kiriman Bubu dulu sebelum saya pindah, yang disertai pesan: “so you’ll feel at home”

Persiapan lain saya juga sempat belajar masak (yang mana sampai berangkat cuma bisa bikin spaghetti bolognese doang), and last but not least banyak berdoa supaya cepat ikhlas dengan berbagai kondisi yang akan saya lalui di tempat baru.

Sekarang sudah bisa masak berbagai macam masakan yang saya tuangkan juga di blog yang khusus saya dedikasikan untuk berbagi resep masakan.

Kenapa cepat ikhlas? Karena walaupun tinggal di LN itu terlihat indah, tapi saya yakin ga semua secantik hasil foto atau gambar yang ada di TV, maupun berdasarkan cerita orang. Pasti ada sesuatu yang bikin kita berkomentar ”meh gini doang? Di Jakarta lebih keren mallnya!” atau malah shock ketika tau begitu tau yang namanya nyewa/bayar ART atau suster itu mahal sehingga semua harus dikerjakan sendiri. Dengan banyak browsing, tanya-tanya, berdoa memantapkan hati dan terpenting, lower my expectation, saya berharap sih apapun kondisinya nanti saya udah ga kaget lagi dan bisa menerima dengan lapang dada.

snow-2

Tantangan cuaca yang kadang terlalu dingin – kadang berpengaruh juga untuk membuat proses betah-tidak betah ini.

2. Don’t look back (too much) with anger. Alias.. Jangan semua dikit-dikit dibandingin sama keadaan di Indonesia atau di tempat kita dulu. Yang paling susah saya lalui ketika pindah ke sini adalah ga ngebandingin harga barang dan jasa yang diketok di Swedia. Setiap mau beli apa pasti dikurs balik ke Indo. Mau ngapain, kurs lagi balik ke Indo. Kebanyakan kayak gitu ujung-ujungnya cuma sakit ati doang, trus pundung pingin balik.

Tapi setelah saya sadar kecuali saya punya kemampuan lebih untuk bisa bolak balik Jakarta – Swedia beberapa kali tiap tahunnya, ngebandingin terus gitu ga ada gunanya. Ya masaaa ga mau makan atau beli baju karena harga beras atau kaos mungkin 2-3 kali lipat dari di Jakarta. Rambut juga ga mungkin dibiarin awut-awutan ga dirapihin cuma karena harga salonnya luar biasa. Lagipula sekilas memang harga barang & jasa di Indonesia terlihat murah, tapi hitunglah juga tiket pesawat PP-nya. Misalnya potong rambut disana cuma 25rb, kalo plus pesawat jadi 17jutaan+25 rb. Seketika ongkos potong deket rumah yang tinggal jalan kaki jadi terlihat lebih murah deh.. Hihihi

3. If you miss it, make it (or buy it) – salah satu faktor yang bikin seseorang kadang ga betah tinggal di negeri orang adalah makanan. Like we all know, makanan Indonesia cenderung lebih berbumbu dan ‘nendang’ dibandingkan makanan barat. Tentu aja rasanya berbanding lurus dengan kesulitan pembuatan dan bahan-bahannya yang buanyaaak. Kalau misalnya tetiba kangen makanan Indonesia, my advice: belajarlah untuk bikin sendiri. Ga perlu harus ambisius harus bikin semua dari awal. Pakai bumbu instant juga menurut saya cukup kok untuk mengurangi rasa rindu. Seperti yang saya sudah tulis di tips nomor 1, yakni lower your expectation.

Kalau kadung males bikin terus gimana? Ada beberapa pilihan sih. Pilihan pertama gigit jari sambil nangis sesegukan di pojok kamar atau opsi kedua yaitu cari teman setanah air yang jago masak/jualan makanan Indonesia. Contohnya di Skåne sini ada orang Indonesia yang melayani menu-menu nusantara dari gudeg, siomay, pempek, dsb. Harganya tentu lumayan kalo dibandingin sama aslinya di Indo, tapi seperti tips no.2.. kalo dibanding nambah tiket belasan juta, yang deket ini jadi berasa lebih murah koook.. Serius! Sebaliknya.. kalau kita belajar masak trus akhirnya bisa jualin lagi ke teman-teman setanah air.. lah lumayan juga bukaaaan?

ketoprak-02-small

Ketoprak ala-ala – yang penting ga kangen lagi

4. Make yourself at home. Perasaan ga betah dan pingin pulang kadang diakibatkan kita masih merasa seperti orang asing di negeri asing ini. Yah technically emang bener sih.. ahaha, tapi ga berarti harus terus-terusan merasa seperti itu kan? Cara yang paling mudah menurut saya adalah dengan belajar bahasanya. Untuk beberapa negara kita sudah bisa belajar bahasannya sewaktu masih di Indonesia (contohnya bahasa Belanda, Jerman, Perancis, mandarin) jadi ketika pindah bisa lebih mudah berkomunikasi dengan orang lokal. Tapi bagi orang-orang yang pindah ke negara yang bahasanya ga familiar di Indonesia (seperti contohnya Swedia ini lah), berkenalan dengan bahasa Swedia biasanya dimulai ketika sudah pindah. Dengan belajar bahasanya, peluang untuk lebih berkembang tentunya makin besar. Makin banyak kesibukan artinya ga ada waktu lagi untuk bermuram durja berangan-angan “seadainya masih di Indonesia”. Untuk masalah budaya, menurut saya sih seiring waktu pasti kita bisa beradaptasi juga. Dipilih-pilih sendiri yang bagus diambil, yang jelek dihindari.

Belajar bahasa Swedia: “Svenska”

5. Time to start over. Untuk yang pindah ke luar negeri (terutama yang negaranya beda bahasa) atas dasar menikah dengan orang lokalnya kemungkinan besar harus memulai semuanya lagi dari nol. Harus pelan-pelan belajar bahasanya dulu, abis itu baru mulai cari-cari kerja/intership, dsb. Ijazah dan pengalaman kerja di Indonesia bisa dibilang ga ada harganya. Sedih? Pasti!

Cuma kalo mau diambil positifnya, kepindahan ini bisa dianggap sebagai kesempatan kedua loh. Misalnya dulu di Indonesia kita kerja atau kuliah ga sesuai dengan minat yang dimau, kali aja setelah pindah ini bisa benar-benar menekuni bidang yang kita sukai. Toh semuanya juga harus ulang lagi dari awal kan (harus sekolah lagi, dll). Jadi kenapa ga. Jenis pekerjaan yang kita mau coba juga ga sebatas pekerjaan kantoran di belakang meja. Karena semua pekerjaan (at least di Swedia yah) nilainya sama. Ga ada pekerjaan yang lebih elit dan yang rendahan. Mau jadi pelayan restoran, tukang potong rambut, pegawai supermarket, guru, dokter dkk bagi orang sini ya umum dan sama aja. Tentu dari gaji ya tetep ada tingkatannya masing-masing, cuma kalo dari segi gengsi mah (sejauh yang saya perhatikan selama ini) ga ngaruh yaaa.

Ga pede cari kerja seperti saya? Bisa juga membuat peluang kerja sendiri alias wiraswasta. Contohnya teman dekat saya memutuskan untuk membuka layanan travel wedding dan honeymoon ke Bali untuk market Swedia. Dan melihat contoh teman saya tersebut saya pun mencoba mendapatkan penghasilan dengan menjadi designer/fotografer freelance.

Freelance Photographer – Jo dan Bubu mendampingi saya ketika sedang menerima pekerjaan untuk foto suatu acara

6. Create your own small circle of friends. Kangen dengan keluarga biasanya yang menjadi alasan saya suka berpikiran untuk pulang ke Indonesia. Apalagi ketika pindah ke Swedia saya bergantung sepenuhnya ke suami sebagai teman dan keluarga saya satu-satunya. Oleh karena itu ketika pada akhirnya saya bertemu beberapa orang  Indonesia dan menjadi akrab, rasanya seperti mendapat durian runtuh. Karena walau jauh dari keluarga, saya mendapat keluarga baru di sini. Tapi tentu aja mencari yang cocok itu gampang-gampang susah dan ga melulu harus teman setanah air loh. Bertemu orang-orang dari negara lain tapi ternyata klik dan cocok, ya kenapa ga. Yang penting keep it small and simple. Nothing’s worse than having a drama when you are far-far away from home. Quality over quantity still the best policy for me.

7. Just enjoy it. Bagi saya kesempatan untuk ngerasain tinggal di negeri orang itu adalah kesempatan emas yang mungkin ga datang dua kali dan belum tentu semua orang bisa dapat. Kalau untuk liburan ya masih bisa lah setelah rajin menabung pergi kemana-mana, tapi kalau untuk beneran menetap permanent, yah prosesnya ga semudah kalau liburan kan (malah dalam kasus saya penuh drama penolakan dan airmata). Tinggal sementara (untuk beberapa tahun trus balik) ataupun yang permanen (tanpa ada rencana untuk balik) bagi saya sama aja. Malah yang tinggal sementara menurut saya lebih mudah karena toh tiap hari itu layaknya menunggu hari pulang. Jadi seeneq-eneqnya tinggal di negara baru, in the end you’ll be back home soon. Daripada nanti pas udah balik ke Indonesia malah nyesel kebanyakan ngeluh, mendingan dinikmati aja kan.

Daripada mengeluh: “Dingin banget..! Ga bisa kemana-mana..!”. Adanya salju dan pemandangan yang indah adalah salah satu alasan kenapa saya bisa menikmati winter.

8. If all else fails.. buy a plane ticket and go home! Hahahaha.. ya ini judulnya kayak ngusir yaa? Maksud saya kalau emang udah senep, sebel, kesel ga betah-betah juga tinggal di negara baru ya lebih baik rajin menabung trus pulang ke Indonesia deh tiap 3-4 bulan sekali (buat potong rambut atau pijet-pijet) atau mungkin balik for good? Toh dipaksain tinggal di suatu tempat tanpa kita merasa nyaman juga artinya menyiksa diri sendiri bukan?

Segitu saja tips dari saya untuk betah merantau di negeri orang. Semoga bermanfaat…!

——-

Bebe menulis tentang kehidupan di Swedia di http://www.bebenyabubu.com, tentang masakan di bebeskitchen.wordpress.com, dan foto keseharian di Instagram: @hejjossan. Foto-foto terlampir adalah karya Bebe, foto jembatan dan map didapat dari situs yang terhubung langsung. Beberapa keterangan pada gambar didapatkan dari situs Wikipedia.

Membesarkan Anak Bilingual

seerika_16Rika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finland with two bilingual sons, a Finns husband, and trying (hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Tentang Rika dan keluarga. Nama saya Rika Melissa, perempuan asli Indonesia yang saat ini sedang tinggal di Finlandia, tepatnya di kota Kerava. Hingga saat ini saya sudah merantau selama 12 tahun, dimulai dengan status pelajar program master di Jerman, kemudian kerja di Singapura, lalu setelah menikah, lanjut ikut suami yang jadi pelajar di Belanda dan saat ini menetap di Finlandia. Tapi kalau hati sih jangan ditanya, menclok di Jakarta terus.

Kami tinggal di Kerava yang dapat ditempuh dalam waktu 25 menit dengan kereta dari Helsinki

Jika ditanya soal hobi biasanya saya bilang hobi saya menari dan nonton film, tapi yang sebenarnya sering saya lakukan adalah makan dan tidur (hehe).

Suka jalan-jalan juga, ini saat di Old Town, Tallinn, Ibu kotanya Estonia yang bisa ditempuh dengan kapal ferry dari Helsinki.

Saat di Old Town, Tallinn, Ibu kota Estonia yang sangat cantik dan salah satu tempat wisata favorite orang Finlandia -bisa ditempuh dalam waktu 2 jam dengan kapal dari Helsinki.

Suami saya, Mikko, adalah warga negara Finlandia yang selalu punya mimpi untuk bisa hidup dan menetap di Indonesia. Kami bertemu di Istanbul waktu  sama-sama sedang liburan di kota cantik tersebut. Lima tahun setelah pertemuan tersebut, kami menikah dan saya diboyong ke Leiden, Belanda untuk menemani Mikko  yang saat itu sedang melanjutkan pendidikan di Leiden University. Sebenarnya tinggal dan menetap di Finlandia bukan bagian dari rencana kami waktu menikah dulu. Kami jatuh cinta pada Leiden, pada Belanda yang cantik, ramah dan penuh kehidupan. Rencananya kami ingin mencari kerja di Belanda jika Mikko telah merampungkan kuliahnya. Atau, kembali ke Indonesia, mencari kerja atau memulai bisnis kecil-kecilan di sana sambil berpetualang keliling pulau-pulau cantik di Indonesia.

Bersama Mikko

Bersama Mikko

Tanpa direncanakan saya hamil tiga bulan setelah menikah. Panik! Keuangan kami pas-pasan sekali waktu itu. Hidup dari uang beasiswa Erasmus-nya suami yang gak akan cukup untuk menanggung satu nyawa lagi. Rencana untuk tinggal di Belanda pun dibatalkan. Bagaimana bisa cari kerja kalau saya hamil begini? Pulang ke Indonesia juga tidak mungkin karena berarti butuh dana yang besar untuk biaya lahiran di RS. Akhirnya kami mengepak koper dan pindah ke Finlandia dengan pertimbangan Mikko akan lebih mudah cari kerja di negaranya sendiri, ditambah dengan berbagai benefit yang bisa kami dapat jika menjadi penduduk Finlandia.

Suomenlinna, pulau kecil nan cantik yang masih merupakan bagian dari kota Helsinki

Suomenlinna, pulau kecil nan cantik yang masih merupakan bagian dari kota Helsinki

Untuk sementara saja, pikir saya waktu itu. Tapi kenyataannya sudah 5 tahun lebih kami di Finlandia dan sudah dikaruniai dua anak laki-laki, Kai (5 tahun) dan Sami (3tahun).

Menurut Mikko, yang lahir dan besar di Finlandia, negaranya itu, sepi, dingin, gelap dan membosankan. Apa yang dibilang Mikko memang benar adanya, tapi kok, biarpun begitu, tinggal di Finlandia ini bikin betah? Dibalik negatif-negatifnya (yaa dinginnya yang seperti di kulkas), Finlandia juga merupakan negara yang aman dan nyaman, yang social security sistemnya sungguh jawara hiji seng ada lawan, pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak gratis dan terjamin kualitasnya, udaranya masih sangat segar bebas polusi, banyak ruang terbuka tempat anak bebas berlari, dan Finlandia yang tertutup salju ternyata cantik sekali. Seperti di negeri dongeng. Harapan untuk kembali ke Indonesia masih disimpan dalam hati. Tapi saat ini kami sekeluarga berbahagia di kota kecil bernama Kerava.

Kerava winter wonderland

Kerava winter wonderland

Kerava di musim gugur

Kerava saat autumn

Pusat kota Kerava

Pusat kota Kerava

Berkomunikasi dengan Anak Bilingual. Sebagai pelaku kawin campur, saya dan Mikko pastinya berdiskusi bagaimana kami akan membesarkan anak-anak, salah satu yang penting untuk dibahas tentunya: bagaimana kami berkomunikasi dengan anak? Ternyata kami berdua sama-sama langsung sepakat bahwa kami akan menggunakan bahasa kami masing-masing ketika berbicara dengan anak kami. Alasannya gampang saja: it feels more natural, kami ingin berbicara dengan anak dalam bahasa yang paling kami kuasai. Karena itulah kami menerapkan OPOL (One Parent One Language) dalam berkomunikasi dengan anak

Sami Kai

Kai dan Sami di Kampung Sampireun, Garut

Di luar itu juga ada alasan penting lainnya kenapa kami memutuskan untuk ber-OPOL, kami ingin anak kami punya hubungan yang erat dengan kakek-nenek dari kedua belah pihak. Saya ingin Kai dan Sami bisa bicara bebas lepas dengan ayah dan ibu saya di Indonesia. Mikko tentunya juga ingin anak-anak bisa lancar berkomunikasi dengan ibu mertua saya di Finlandia.

Kai dan Ompungnya, tidak pernah ada kesulitan komunikasi di antara mereka. Bersyukur sekali anak-anak bisa bahasa Indonesia

Kai dan Ompungnya, tidak pernah ada kesulitan komunikasi di antara mereka. Bersyukur sekali anak-anak bisa lancar berbahasa Indonesia.

Sejak anak-anak baru lahir kami konsisten ber-OPOL. Saya berbicara hanya dalam bahasa Indonesia ke anak-anak dan Mikko hanya berbahasa Finlandia. Antara saya dan Mikko sendiri sebenarnya lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi.

Banyak yang bertanya kenapa anak-anak tidak diajarkan bahasa Inggris saja? Kan akan lebih berguna? Kalau menurut saya sih, bahasa ibu jauh lebih berguna dari bahasa apapun juga. Bayangkan kalau anak-anak saya tidak bisa berbahasa Indonesia (atau Finlandia). Artinya sejak usia dini mereka sudah terputus komunikasinya dari keluarga dan saudara-saudaranya sendiri di tanah air karena tidak menguasai bahasanya. Tidak semua orang berbahasa Inggris, kan, di Indonesia (dan juga Finlandia!).

Bersama Oma saat dikunjungi

Bersama Oma saat dikunjungi

Lagipula, baik bahasa Indonesia dan Finlandia bukan termasuk bahasa populer di dunia ini dan sulit ditemui di luar lingkup daerahnya. Jadi, kalau bukan dari saya dan suami, dari mana lagi anak kami bisa belajar bahasa Indonesia dan Finlandia? Bahasa Inggris sudah sangat mendunia, bisa dipelajari di mana saja, anak-anak pun nantinya akan belajar di sekolah.

Apakah ber-OPOL itu sulit? Iya dan tidak. Pada hakikatnya metode OPOL cuma meminta kita untuk berbicara dengan bahasa ibu kita sendiri, bahasa yang paling kita kuasai. Apa susahnya sih? Yang agak sulit itu adalah untuk terus konsisten menggunakan satu bahasa tanpa tercampur-campur, termasuk juga membenarkan kesalahan anak ketika mereka mencampurkan dua bahasa atau lebih. Kai dan Sami biasanya suka mencampur bahasa Indonesia dan Finlandia ketika mereka baru mulai belajar bicara. Seperti misalnya “Ei bobo” yang maksudnya “Gak mau bobo” atau “Mau maito” yang berarti “Mau susu” dan lain-lain. Di saat seperti ini saya harus berkali-kali membenarkan omongan mereka. “Gak mau bobo, Kai”  atau “Mau susu, Sami”. Saya ulang-ulang terus sampai akhirnya anak-anak bisa mengucapkannya dengan benar.

One Parent, One Language

Kalau baca ini sih kesannya gampang, tapi anak-anak kan berbicara setiap menit yang berarti setiap menit pula kita harus membenarkan kesalahan mereka, berulang-ulang sampai mereka ingat. Lumayan bikin capek ya ini. Di usia 5 dan 3 tahun, saat ini Kai dan Sami termasuk lancar di kedua bahasa, Indonesia dan Finlandia. Tetap ada sekali-sekali pencampuran bahasa, terutama untuk kata-kata baru, jadi saya pun masih rajin membenarkan omongan mereka.

Dalam ber-OPOL ada beberapa prinsip yang selalu saya ingat:

  1. Tidak mencampur-campur bahasa. Misalnya: “Kai mau makan pisang?” dan bukannya “Kai mau makan banani?” Menyelipkan kata-kata asing akan menyulitkan anak untuk mendiferensiasikan bahasa. Mana yang Indonesia mana yang Finlandia.
  2. Berbicara dengan baik, benar, jelas dan lengkap. Biasakanlah berbicara dengan kalimat yang lengkap. Mengajarkan bahasa Indonesia bukan sekedar menerima anak bisa ngomong “pisang”, “kereta”, “rumah”. Tapi juga memberi contoh penggunaan kata dalam kalimat. “Saya mau pisang”, “Lihat, ada kereta lewat”. Sama prinsipnya untuk bahasa lain. Anak bisa menyebut kata “orange”, “yellow”, “car” bukan lantas berarti si anak bisa berbahasa Inggris. Dia cuma tau beberapa kata dalam bahasa Inggris. Anak yang berucap “Saya mau orange” tidak bisa dikatakan bisa berbahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris dengan benar.
  3. Mendorong penggunaan bahasa yang benar, dan tidak mendorong penggunaan yang salah. Misalnya, saat Kai bilang “Kai mau pisang”, saya beri dia pujian, saya ambilkan pisangnya. Tapi ketika Kai bilang “Kai mau banani” atau “Haluan banania”, saya tidak akan memberi pisangnya sampai Kai mengucapkannya dengan bahasa Indoensia yang benar.
  4. Rajin mengulang-ngulang. Terutama ketika anak membuat kesalahan, harus sabar untuk memberi penjelasan berulang-ulang sampe anaknya mengerti. Termasuk juga meminta anak untuk mengulangi kalimatnya supaya benar.
  5. Kembali lagi ke kon-sis-ten-si. Harus selalu-kudu-musti  konsisten. Saya terus menggunakan bahasa Indonesia, Mikko bahasa Finlandia. Jangan hari ini  ngomong  Indonesia tapi besok pakai Inggris atau Finlandia. Yang seperti ini  bisa bikin anak bingung dan memperlambat proses belajarnya.
  6. Nyaman dan PD dengan bahasa yang digunakan. Alasan utama kenapa saya berbicara bahasa Indonesia ke Kai. Karena cuma dalam bahasa inilah saya paling bebas berekspresi. Dalam proses pengajaran bahasa, komunikasi yang lancar itu penting untuk mendapatkan hasil yang optimal.
  7. Penggunaan berbagai macam media pendukung bahasa seperti buku, musik, video. Ini bisa jadi tantangan besar buat bahasa minoritas, bahasa-bahasa yang kurang populer di dunia. Misalnya saja, sulit sekali menemukan materi dalam bahasa Indonesia di sini, apalagi yang cocok untuk anak-anak. Setiap mudik ke Indonesia kami selalu memborong buku-buku dan DVD anak di Gramedia.
  8. Atur ekspektasi supaya jangan berlebihan. Terutama untuk bahasa Indonesia dan Finlandia yang memiliki perbedaan bahasa formal dan informal, poin ini penting untuk diingat. Saat ini saya berbicara dengan bahasa sehari-hari yang tidak formal dan tidak sesuai aturan EYD ke anak-anak. Kalau kami nantinya akan tinggal permanen di Finlandia, mungkin anak-anak tidak akan bisa menguasai bahasa Indonesia sampai, misalnya, tahap menulis thesis.

Perjuangan OPOL kami belum selesai. Kai dan Sami masih harus banyak belajar bahasa Indonesia dari sumber lain kalau mau mengerti bahasa yang lebih formal. Belum lagi masalah penolakan bahasa yang biasanya terjadi terhadap bahasa minoritas (dalam hal ini bahasa Indonesia karena di sini yang menjadi mayoritas tentu bahasa Finlandia). Sekarang saja Kai kadang-kadang mengeluh bahwa dia malas cerita-cerita sama äiti (ibu, dalam bahasa Finlandia) karena sama äiti harus berbahasa Indonesia. Lebih enak ngobrol sama Isi (ayah) saja pakai bahasa Finlandia.

seerika_84

Bahagia ketika berlibur di Indonesia

Keluhan Kai tidak pernah saya tanggapi, saya anggap saja angin lalu. Pokonya kalau sama äiti harus pakai bahasa Indonesia, gak ada cerita lain! Kalau tidak berbahasa Indonesia äiti akan pura-pura tuli.

Berbahasa Indonesia. Sebenarnya saat ini saya lumayan mengelus dada melihat fenomena anak-anak yang lupa akan bahasa Indonesia (atau tidak diajarkan bahasa Indonesia) begitu pindah tinggal ke luar negri. Lebih prihatin lagi melihat anak Indonesia, tinggal di Indonesia, tapi tidak bisa berbahasa Indonesia dengan alasan sekolah di international school. Kenapa orang tuanya tidak mengajarkan di rumah? Tidak ada salahnya mengajarkan bahasa lain, tapi bahasa ibu jangan dilupakan. Akan ada saatnya anak-anak akan bertanya tentang akar budayanya ketika mereka besar nanti. Penguasaan bahasa ibu akan membantu mereka dalam pencarian jati dirinya.

Menghapus penggunaan bahasa ibu juga memperkecil kesempatan anak untuk berkarya di negaranya sendiri di kemudian hari. Belum tentu kan dia akan selamanya ingin sekolah di luar negri, berkarir dan menetap di sana? Bisa jadi mereka juga ingin hidup di Indonesia, ingin punya pasangan hidup Indonesia, atau sekedar jalan-jalan ke pedalaman Indonesia? Penguasaan bahasa Indonesia akan membantu anak untuk mencapai hal-hal tersebut. Lagipula, anak-anak punya kemampuan ajaib untuk menyerap beberapa bahasa sekaligus. Mereka tidak perlu belajar, cuma perlu diajak berbicara. Kalau bisa dua bahasa kan lebih baik daripada satu? Anak-anak bilingual (atau bahkan multilingual) katanya punya intelenjesi yang lebih tinggi, lebih kritis dalam berpikir dan lebih cepat dalam mempelajari bahasa baru di kemudian hari.

——–

Untuk kisah lainnya tentang kehidupan di Finlandia, Rika menulis di http://seerika.wordpress.com/ atau untuk keseharian, bisa follow IG @seerika.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Rika dan keluarga – dan beberapa diambil dari URL yang terhubung langsung dengan image gambar. Diedit oleh: @chiceniza.

Pengasuhan Anak di Finlandia

RikaRika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finlandia with two bilingual sons, a Finns husband, and trying (really hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Lain padang lain belalang, begitu kata peribahasa Melayu. Artinya budaya dan tingkah laku manusia selalu bervariasi tergantung tempat tinggalnya, termasuk juga dalam hal pengasuhan anak. Nah, berikut ini praktek-praktek pengasuhan yang menurut saya “Finlandia banget” yang bisa jadi sangat berbeda dengan pola pengasuhan anak di Indonesia (khususnya di Jakarta).

Equality. Prinsip kesetaraan adalah prinsip yang dianut sepenuh hati oleh bangsa Finlandia. Prinsip inilah yang mendasari pemberian Kela maternity box, daycare bersubsidi dan pendidikan gratis bagi seluruh penduduk Finlandia, untuk memastikan bahwa semua anak bisa memulai hidupnya dengan cara yang sama.

Wait, apa itu Kela Maternity Box? Saat usia kandungan Ibu memasuki minggu ke 34-36, Ibu hamil akan mendapatkan sebuah paket dari pemerintah bagian urusan sosial atau dikenal dengan Kela; Kela adalah penyedia jaminan sosial (social security benefits) bagi seluruh penduduk Finlandia. Paket apakah itu?  Kela maternity box adalah paket yang berisi segala kebutuhan bayi yang baru lahir dan diberikan kepada semua ibu hamil di Finlandia (tidak ada pandang bulu, si kaya atau si miskin). Menerima Kela Box ini serasa mendapatkan hadiah Natal (sebuah ungkapan, karena bener-bener bikin bahagia..!). Isi di dalamnya mencakup aneka perlengkapan bayi: mulai dari baju-baju segala rupa (onesies, romper, overall, legging), snowsuit, handuk, sleeping bag/quilt, mainan, sikat gigi, buku cerita, popok kain, dll. Ukuran bajunya pun bervariasi mulai dari ukuran 60-86, jadi bisa dipakai untuk bayi baru lahir sampai kira-kira umur setahunan. Beginilah penampakannya kira-kira jika dijajarkan:

For 75 years, Finland’s expectant mothers have been given a box by the state. Some say it helped Finland achieve one of the world’s lowest infant mortality rates.

Kai yang senang sekali melihat kela box untuk adiknya

Isi Kela box sama untuk semua orang, tidak ada perbedaan untuk bayi perempuan ataupun laki-laki, makanya variasi warna yang ada di dalam kotak umumnya netral semua; putih, kuning, hijau, abu-abu atau coklat. Isi barang-barangnya juga selalu sama setiap tahun, hanya saja Kela mengubah desain dan warna untuk setiap tahunnya. Jadi jangan heran kalo ngeliat bayi sini kok snowsuit-nya sering seragaman karena snowsuit pertama anak sini umumnya memang dari Kela. Ada kejadian ketika Kai masih bayi, saya pernah pergi ke acara bayi-bayian (semacam expo) di Helsinki. Di sana kami bertemu bayi-bayi lain dengan snowsuit yang sama dengan Kai, bukan cuma satu atau dua, tapi lusinan..! Lucu banget kalo mereka dijejerkan bersama. Seragaman, seperti rombongan sekolah bayi.

Kela Box yang saya terima untuk Sami

Nah, terus, yang juga sangat penting, adalah kotak paketnya sendiri. Kotak ini bukan sekedar jadi wadah barang tapi juga dipakai sebagai tempat tidur pertama bayi-bayi Finlandia. Bikin kita jadi bingung kan? Ini bayi atau anak kucing kok tidurnya di kardus? Menurut bidan sini, bayi yang baru lahir menyukai tempat yang kecil dan sempit, seperti di kandungan ibu. Baby crib sebenarnya terlalu besar untuk bayi dan sering bikin bayi kecil gelisah. Karena itu kotak kecil dari Kela ini memang ideal sebagai tempat tidur bayi. Sebelum dipakai kotaknya dialasi dulu pakai matras tipis dan selimut yang juga didapat dari Kela box.

Bayi di dalam Kela Box (ini bukan Sami ya)

Kotak Kela ini sudah beredar selama 75 tahun di Finlandia! Bener-bener sudah jadi bagian penting dari kehidupan rakyat sini. Mulai dari kakek-nenek, ayah-ibu dan anak-anak pernah merasakan tidur di dalam kotak Kela. Setiap modifikasi yang ada di kotak Kela pasti jadi bahan pembicaraan hangat karena memang isi kotaknya nostalgic sekali bagi masyarakat sini. Mulai tahun 2010 kemarin mainan kerincingan berwarna merah tidak disertakan lagi di dalam kotak Kela, pembahasannya sampai ada di koran dan TV segala. Sekarang mainan tersebut dianggap sebagai barang koleksi.

Kerincingan Merah

Kerincingan Merah

A 1947 maternity pack

Menidurkan Bayi dan Anak di Luar. Nah, bayinya kan tidur di kardus Kela. Trus kardusnya itu taro dimana? Umumnya sih di dekat tempat tidur orang tuanya. Tapi, sering juga kotak bersama bayinya itu diletakkan di balkon! Di luar! Orang Finlandia percaya udara segar membuat bayi tidur lebih nyenyak. Jadinya, jika udara lagi bersahabat, tidak hujan dan tidak terlalu dingin, bayi-bayi dibiarkan tidur di balkon atau di teras rumah. Dulu, mertua saya juga membiarkan Mikko (suami) tidur di balkon sementara beliau  menggeret kasur ke ruang tamu dan tidur dengan pintu terbuka.  Dibantu dengan hembusan angin musim panas yang sepoi-sepoi, Mikko slept like a baby di udara terbuka begitu  (ya, emang masih bayi, sih, yaaaaa).

Sudah jadi kebiasaan juga buat orang sini untuk mengajak bayi keluar setiap hari. Kadang sambil belanja, tapi tak jarang melihat mereka menggeret stroller sekedar untuk bawa bayi jalan-jalan sambil menghirup udara segar. Biasanya bayi-bayi lantas tertidur di strollernya. Nah, kalau bayinya udah ketiduran orang tuanya bisa mampir ke cafe, ke restoran, atau balik ke rumah sementara strollernya di tinggal di halaman. Lagi-lagi orang sini percaya kalau udara segar sangat baik untuk tidurnya bayi-bayi, jadi biarkan mereka tidur di luar lebih lama.

Praktek ini dilakukan di segala musim, termasuk juga di musim dingin. Tidur di suhu subzero (di bawah O derajat Celsius) bukan masalah..! Selama stroller dan pakaian bayinya tahan dingin. Dulu, ibu bidan pernah bilang ke saya bahwasanya selama suhunya tidak di bawah minus 15 derajat Celsius, masih baik untuk membawa bayi ke luar. Malahan bayi-bayi tambah nyenyak tertidur di udara dingin begitu. Jadi, jangan heran kalau di pinggir jalan atau di halaman rumah ada stroller bertengger sendirian berikut bayinya. Pemandangan yang cukup umum di Finlandia, terutama di Kerava, di tempat kami tinggal sekarang. Di Helsinki pun sering lihat stroller dengan bayi tertidur di dalamnya diparkir di pinggir sebuah cafe sementara orang tuanya mengawasi dari jendela.

Would you put your baby or toddler outside in the freezing cold for their lunchtime nap? Most Nordic parents wouldn’t give it a second thought. For them it’s part of their daily routine. (Nordic: Denmark, Finland, Iceland, Norway and Sweden)

Gak terbayang rasanya bisa meninggalkan bayi tertidur sendirian di jalanan Jakarta. Pasti orang tuanya sudah gila! Tapi hal tersebut mungkin dilakukan di Finlandia berkat situasi negaranya yang terbilang aman. Tingkat kriminalitas di sini relatif kecil terutama untuk kasus-kasus penculikan anak. Saya pun sering membiarkan Kai dan Sami tidur di halaman sementara saya menunggu dari apartemen kami yang ada di lantai dua. Tiap beberapa menit saya melongok dari jendela untuk memastikan apakah mereka sudah bangun. Jendela juga dibiarkan terbuka supaya saya bisa mendegar kalau mereka nangis.

Tidur di luar, tapi tetap diawasi lewat jendela

Tapi pernah ada kejadian menggemparkan di tahun 2009. Seorang bayi yang sedang tidur di luar hilang dari strollernya yang di parkir di halaman rumah. Satu Finlandia geger seketika. Panik! Gimana kalau mereka gak bisa menidurkan bayi di luar lagi? Ini kan udah jadi tradisi nenek moyang! Untungnya, bayi tersebut kemudian ditemukan beberapa jam kemudian, di gundukan salju. Ternyata ‘penculik’ nya adalah seorang anak perempuan usia 9 tahun yang lagi terobsesi main bayi-bayian. Niatnya cuma mau main-main tapi si anak panik ketika bayinya mulai menangis dan akhirnya melarikan diri setelah ‘mencampakkkan’ bayinya ke gundukan salju. Untung saja ada polisi yang kemudian mendengar tangisan si bayi dari gundukan salju dan si bayi pun selamat sebelum kedinginan. Berita penemuan bayi ini bikin warga Finlandia kembali lega karena kasusnya tidak dianggap sebagai kasus kriminal, tidak tergolong kejadian penculikan anak ataupun human trafficking. Tapi gak ada salahnya juga untuk lebih berhati-hati saat membiarkan bayi tidur di luar.

Haalari (Snowsuit). Saya pernah baca buku berjudul “How to Marry a Finnish Girl” dan di buku itu penulisnya berkomentar bahwa “Finnish kids are always, ALWAYS, in their overalls”. Selain di negara-negara Nordic, memakai haalari (aka snowsuit, aka winter overall) sepertinya memang tidak umum, kecuali untuk kegiatan tertentu seperti ski atau bermain air. Anak Finlandia memakai haalari setiap hari sejak musim gugur sampai musim semi yang berarti dari bulan September hingga April. Sekitar 8 bulan. Haalari dianggap lebih praktis ketimbang jaket biasa karena haalari lebih tahan air, tahan angin dan tahan banting. Haalari juga lebih melindungi anak dari udara dingin plus menjaga anak tetap bersih di acara main-main air atau salju.

Biasanya ada dua macam haalari yang harus dimiliki seorang anak: välikausihaalari (mid season haalari) dan talvihaalari (winter haalari). Välikausihaalari bahannya lebih tipis dan lebih ringan, cocok untuk cuaca yang tidak terlalu dingin di musim gugur atau semi. Di musim dingin barulah dipakai talvihaalari yang lebih tebal karena didalamnya ada lapisan thermal. Selain itu ada juga kurahaalari (rubber overall) yang lebih tahan air dan sangat cocok dipakai di musim hujan. Beberapa merk melengkapi haalari mereka dengan lapisan fleece biar kehangatannya lebih terjamin. Merk yang terkenal di sini adaah Reima yang merupakan merk asli Finlandia, dan merk-merk lain dari Swedia dan Denmark seperti Polarn O Pyret, Didriksons, Molo dan Ticket to Heaven. Selain haalari, anak-anak sini juga dilengkapi dengan pipo (beanie, topi kupluk), sarung tangan, long john berbahan wol, kaos kaki wol dan sepatu bot untuk menghadapi musim dingin. Banyak, yaaaaa, perlengkapannya.

Kai dan Sami dalam Haalari mereka

Kai dan Sami dalam Haalari mereka

Membeli Pakaian di Lastenkirppis. Waktu saya baru sampai di Finlandia dalam keadaan hamil besar, banyak sekali orang-orang sini yang memberi tahu dimana saya bisa beli pakaian bayi bekas. BANYAK! Saya sampe sedih. Segitu kentaranya, ya, muka melarat saya sampai beli barangnya cuma bisa yang bekas-bekas? Ternyata memang begitulah adatnya di sini. Untuk bayi-bayi, banyak orang tua yang lebih suka beli barang bekas ketimbang yang masih baru. Alasannya karena harga perlengkapan bayi tuh mahal-mahal banget padahal dipakainya cuma sebentar. Makanya pasar barang bekas laku sekali di sini.

Kirpputori Valtteri, Helsinki

Dalam bahasa Suomi, pasar barang bekas disebut sebagai kirpputori atau disingkat kirppis. Ada dua macam kirpputori di sini, kirpputori swalayan yang memang seperti swalayan/toserba di mana penjual menyewa sebuah meja dan meninggalkan dagangannya di meja tersebut. Sementara pembeli tinggal masuk ke kirppis, cuci mata dari meja-ke meja dan membayar barang yang disuka di kasir. Yang kedua adalah kirpputori dengan kontak langsung antara pembeli dan penjual, biasanya outdoor (di musim panas) atau di hall besar. Kirppis seperti ini biasanya cuma ada di waktu-waktu tertentu atau cuma di akhir minggu saja. Sistemnya penjual menyewa sebuah meja untuk kemudian membawa barang-barangnya dan berjualan langsung di situ. Di kirppis seperti ini bisa terjadi tawar-menawar, malah, di penghujung hari harga barangnya makin diobral.

Hietalahti kirpputori, salah satu kirpputori outdoor di Helsinki

Lastenkirppis adalah kirpputori yang khusus menjual perlengkapan anak-anak saja. Di Rekola, tiga stasiun dari Kerava, ada lastenkirppis yang terkenal dan cukup besar. Di sana ada puluhan meja dengan bermacam-macam barang, mulai dari baju-bajuan, sepatu, kaos kaki, buku cerita, mainan bayi, sampe pispot juga ada. Di sudutnya ada juga bagian khusus menjual peralatan besar seperti stroller dan tempat tidur bayi. Kondisi barangnya juga bermacam-macam mulai dari yang keliatan ‘bekas banget’ sampe yang masih baru lengkap dengan label harganya pun ada, tentunya dengan harga yang sudah dimiringkan.

Lastenkirrpis: toko barang seken khusus untuk anak-anak

Pertama kali berkunjung ke kirpputori saya masih males-malesan melihat barang-barang bekas begitu, akhirnya keluar tanpa beli apa-apa. Tapi makin hari saya malah semakin hobi dan semakin ahli pula untuk menemukan harta karun yang biasa terpendam di tumpukan barang-barang dekil, baik untuk diri sendiri ataupun anak-anak. Puas banget rasanya kalau bisa menemukan barang bagus tapi murah dari kirpputori…! Saking meriahnya pasaran barang bekas di sini, harganya juga gak murah-murah amat akibat demand yang terlalu tinggi. Sebagai bandingan, harga barang yang sama di ebay.co.uk suka lebih murah bahkan setelah ongkos kirim. Kalo begitu buat apa beli yang bekas? Beli yang baru aja dong sekalian? Tapi orang-orang sini kemudian akan mejawab: beli bekas tetap lebih bagus karena artinya kita berpartisipasi dalam proses daur ulang, mengurangi sampah, dan menjaga kelestarian bumi kita. Dan hatiku pun meleleh….Aaaaaaaaw. Hidup kirpputori!

Kecintaan Akan Ruang Terbuka. Ada yang bisa menemukan benang merah dari poin-poin yang ada di atas? Bayi yang tidur di balkon, stroller di parkir di halaman, haalari, dan baju-baju bekas? Jawabannya adalah: OUTDOOR. Ruang terbuka…! Sudah ketebak yaa kalo orang Finlandia suka banget sama udara segar dan ruang terbuka? Bayinya aja disuruh tidur di balkon begitu, gak takut digondol kucing apa ya?

“There’s No Such Thing As Bad Weather, Just Bad Clothing” –  semacam prinsip yang dipegang oleh orang Finland.

Bahagia itu sederhana :)

Nah, menurut anjuran ahli kesehatan di sini, bayi dan anak-anak harus dibiarkan di udara terbuka minimal 2 jam sehari. Makanya sudah jadi rutinitas orang tua sini untuk membawa bayi dan anaknya jalan-jalan keluar. Bisa sekedar muter-muter sambil dorong stroller atau sekalian bawa anak ke taman bermain. Di Finlandia memang banyak tersebar taman bermain untuk anak. Seinget saya nih, untuk daerah Kerava, pengaturan kotanya melingkupi: minimal ada 1 taman bermain dalam radius 400 m dari tiap tempat tinggal, 1 daycare dalam radius 500 m dan 1 sekolah dasar dalam radius 1 km. Dalam radius 1 km dari rumah kami sepertinya ada 6 taman bermain untuk anak-anak. Gak besar dan nothing fancy, tapi kalo dibandingkan dengan yang ada di Indonesia sudah mencukupi sekali.

marizkarima_14

Di päiväkoti (daycare) anak-anak juga dibiarkan main di luar, dua kali dalam sehari. Pagi-pagi setelah sarapan dan sore setelah tidur siang. Mau panas, dingin, atau hujan, tetap saja halaman päiväkoti ramai dengan anak-anak. Kalau hujannya deras, baru deh mereka ‘disimpen’ di dalam kelas. Dan kalau sudah di luar,….ampun dijeeeee…Anak-anak sini mainnya ganas! Guling-gulingan di salju, loncat-loncat di kubangan air, tidur-tiduran di bak pasir, bergumul di tanah berlumpur, pokoknya pulang ke rumah dijamin kotor, tor, tor, tor. Kalau sepatu Kai dibuka isinya pasir semua.

Kotor-kotoran itu biasa…!

Nah, ngerti kan sekarang kenapa lebih praktis pakai haalari ketimbang jaket-jaket trendy seperti Parisian kids? Jantung saya pasti copot kalo melihat jaket wol dipakai buat main lumpur. Haalari yang terbuat dari bahan poliester lebih tahan banting buat main basah-basahan dan kotor-kotoran.

Kegiatan bermain di alam terbuka yang sangat dicintai oleh orang Finlandia

Orang tua di Finlandia memang lebih permisif dalam hal kotor-kotoran begini. Bayi-bayi dibiarkan berguling di rumput di musim panas, kalau sekali-sekali rumputnya kemakan atau tanahnya dijilet sedikit ya gak masalah. Anak-anak juga diharapkan sudah makan sendiri sejak umur 1 tahun, jika bajunya kotor dan rumah juga ikutan kotor ya gak masalah, yang penting anaknya belajar untuk lebih mandiri. Makanya ada temen bule saya yang bilang “Anak-anak cukup dikasih pakaian bekas aja, orang cuma buat dikotor-kotorin kok”.

seerika_31

Di hutan kecil di dekat rumah

Di hutan kecil di dekat rumah

Kembali ke udara terbuka, ada banyak kegiatan outdoor yang bisa dilakukan di sini. Dari mulai usia päiväkoti anak-anak dibiasakan untuk retki (outing) alias jalan-jalan ke hutan, ke taman atau empang kecil buat kasih makan bebek setiap minggu. Ada juga päiväkoti yang punya program bersepeda, ski, dan ice skating. Yang jelas pergi keluar dan bermain dengan alam jadi kegiatan rutin orang Finlandia yang sudah diterapkan sejak anak-anak. Dan hutan adalah bagian yang sangat penting dari alam Finlandia. Orang sini bangga sekali akan hutan mereka.

“Retkellä rannalla” jika diterjemahkan: perjalanan ke pantai, salah satu bentuk kegiatan retki

Di hutan anak-anak diajarkan tentang jenis-jenis arbei dan jejamuran yang merupakan kekayaan hutan Finlandia. Pulang dari retki, Kai dan Sami sering bawa oleh-oleh untuk Isi (ayah) dan äiti (ibu) berupa ranting pohon atau daun-daun kering yang mereka ambil di hutan.

Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak di Finlandia. Negara Nordik sangat terkenal dengan prinsip keseteraan gendernya dan Finlandia hampir selalu berada di posisi teratas dalam daftar negara-negara dengan kesetaraan gender terbaik. Karena itu, gak heran kalau tugas-tugas membesarkan anak diemban dengan hampir sama rata antara ayah dan ibu. Saya bilang hampir, karena tetap ibu yang harus bertugas hamil, melahirkan dan menyusui. Tapi di luar tiga hal tersebut, segala hal tentang pengurusan anak  dilakukan bersama oleh  ayah dan ibu.

Mikko dan Kai berumur 2 hari

Mikko dan Kai berumur 2 hari

Kisah-kisah SAHD (stay at home dad) banyak terjadi di Finlandia. Hal ini memungkinkan karena setiap ayah di Finlandia berhak atas 18 hari kerja paid paternity leave sementara paid parental leave selama 158 hari kerja bisa diambil baik oleh ayah atau ibu atau di-share di antara keduanya. Dan banyak juga orang tua yang kemudian memperpanjang parental leave hingga anaknya berusia 3 tahun, usia yang dianggap ideal untuk masuk päiväkoti.

Di Finlandia tidak ada stigma negatif untuk ayah yang terlibat langsung dari pengasuhan anaknya. Wanita Finlandia juga tak segan-segan menunjukkan protesnya kepada ayah yang pemalas. Ditambah dengan  paternity leave dan parental leave yang memadai, ayah Finlandia punya cukup waktu untuk mendampingi anaknya sehingga mereka terlihat sangat terlatih dalam mengurus anak. Gak heran kalau Finlandia kadang disebut sebagai negara dengan ayah-ayah terbaik.

seerika_61 seerika_38

Ada berapa banyak SAHD di Finlandia? Sayangnya saya tidak menemukan statistiknya, tapi, hingga sampai saat ini parental leave lebih banyak diambil oleh wanita, apalagi untuk parental leave yang panjang hingga tiga tahun. Biarpun digadang-gadang sebagai negeri dengan kesetaraan gender terbaik, tetap saja di Finlandia masih ada ketimpangan antara pendapatan wanita dan pria. Pada umumnya gaji pria masih lebih tinggi dari wanita dan karenanya wanita lebih sering mengambil parental leave. Biar dapur tetap ngebul ya, bok.

Tapi, sebenarnya, di Finlandia sendiri istilah SAHD dan SAHM tidak banyak digunakan karena semua orang di sini, baik wanita maupun pria, umumnya bekerja atau sekolah. Orang-orang yang tinggal di rumah untuk mengurus anak di bawah usia tiga tahun disebut ‘sedang cuti’ atau ‘sedang mangambil parental leave’. Mereka yang masih di rumah ketika anaknya di atas tiga tahun biasanya disebut pengangguran. Haiish, kejam, ya?

Tapi memang begitulah kenyataan hidup di sini. Biaya hidup yang tinggi, dan wanita Finlandia yang menginginkan status independen, membuat semua orang harus bekerja, baik dari rumah atau pun di luar rumah. Tidak seperti di negara lain, dimana banyak label seperti full time mom/dad, working mom/dad, stay at home mom/dad atau work from home mom/dad, pelabelan seperti ini tidak ditemui di Finlandia. Kerja ya kerja aja, terserah mau dari mana, kek, ngurus anak ya jalan terus. Begitu mungkin menurut mereka.

Pikku Kakkonen. Pikku Kakkonen berarti Little Two dalam bahasa Inggris karena memang ditayangkan di channel 2. Ini dia serial TV anak-anak paling populer se-Finlandia. Program sepanjang satu jam di channel YLE 2 yang ditayangkan dua kali di hari kerja (jam 7 pagi dan jam 5 sore) dan sekali di akhir pekan (jam 8 pagi).

Logo Pikku Kakkonen yang pasti dikenali oleh setiap penduduk Finlandia.

Pikku kakkonen ini bagian dari masa anak-anaknya Mikko dan mertua saya, dan sekarang jadi bagian dari hari-harinya Kai dan Sami. Programnya berisi gabungan serial anak-anak yang sudah di dub dan judulnya pun sudah diganti ke bahasa Finlandia seperti Postimies Pate (Postman Pat), Arvaa Kuinka Monta Minä Rakastan Sua (Guess How Much I Love You), Kaapo (Caillou), Saara ja Sorsa (Sara and The Duck).

Arvaa Kuinka Monta Minä Rakastan Sua a.k.a “Guess How Much I Love You”

Kalo menurut saya, serial yang ditampilkan dipilih dengan hati-hati dan sangat sesuai untuk anak-anak. Gak ada konten kekerasan, humornya gak slapstik, dan ceritanya sarat tentang kekeluargaan atau tentang kehidupan anak sehari-hari. Selain itu ada juga konten lokal  yang temanya berganti-ganti, misalnya, tentang polisi lalu lintas, tentang kehidupan anak-anak di pedesaan, tentang hutan, tentang cuaca, dll.

Pembawa acara di Pikku Kakkonen bervariasi dari anak-anak, remaja, orang dewasa dan nenek-nenek. Biasanya mereka memakai baju warna-warni tapi dengan motif sederhana. Sambil membawakan acara mereka biasa bernyanyi dengan iringan gitar atau berprakarya kecil-kecilan.

Baru-baru ini ketika kami mudik ke Indonesia, Kai dan Sami rajin nonton Disney Junior di TV, salah satunya adalah acara High Five. Kalau dibandingkan Pikku Kakkonen yang nuansanya tenang dan ceria secukupnya, begitu ngeliat high five langsung puyeng. “Apa pula ini kok heboh banget?” begitu komentar Mikko. Dibanding Pikku Kakkonen acara anak-anak lain terasa terlalu gegap gempita. Warna-warninya bombastis dan cerianya berlebihan sampai terasa dipaksakan. Orang Finlandia memang menjunjung tinggi kesederhanaan dan ketenangan. Saya sendiri sepertinya  sudah terlalu lama tinggal di Finlandia karena setelah rajin nonton Pikku Kakkonen, nonton High Five langsung bikin ilfil.

Jyrki dan Neponen, dua tokoh yang sering muncul sebagai pembawa acara di Pikku Kakkonen

Vauvauinti. Alias kelas berenang untuk bayi. Bayi-bayi usia 3 bulan hingga 1 tahun di Finlandia biasanya diikutkan ke kelas vauvaunti yang walaupun artinya berenang bayi tapi pada kenyataannya bayi-bayi tidak lantas jadi jago berenang di sana. Saya sempet kecele, saya pikir setelah vauvauinti, Kai, yang waktu itu usianya 4 bulan, bakal jadi perenang handal, bisa ngebut berenang dari ujung ke ujung. Ternyata gak, tuh. Tujuan vauvauinti rupanya bukan untuk mengajarkan bayi berenang. Yang ingin dicapai di sini adalah perkenalan bayi dengan air dan kegiatan air. Jadi isinya ya cuma main-main di air saja.

4 month old Kai in vauvauinti

4 month old Kai in vauvauinti

Orang sini percaya kalau air adalah habitat kedua buat bayi. Selama 9 bulan, kan, bayi-bayi sudah berenang di air ketuban ibunya. Bayi yang baru lahir biasanya sangat mencintai air karena mengingatkan mereka akan perasaan nyaman di dalam perut ibu. Semakin kecil bayinya, semakin sedikit ketakutan mereka akan air, semakin gampang untuk diajak menyelam ke dalam air. Kalau bayi diajarkan menyelam sejak dari kecil, nantinya mereka akan lebih mudah diajarkan berenang.

Vauvauinti biasanya diadakan di kolam renang yang dalamnya kurang dari 1m dan suhunya sudah dipanaskan ke 32 derajat Celcius. Bayi-bayi berenang sambil digendong ibunya, ayahnya, atau keduanya. Di kolam kegiatan dimulai dengan bernyanyi dan bermain air di dalam lingkaran, setelahnya bayi-bayi diajarkan untuk mengepak-ngepakkan tangan dan kakinya, memutari kolam sambil bergelayut di tangan orang tuanya, dan menyelam di dalam air selama beberapa detik, bahkan kadang dilepas untuk melayang sesaat di dalam air.

Circle time vauvauinti

Circle time sebagai pembukaan dan penutupan di tiap sesi vauvauinti

Sikap yang Cenderung Santai Terhadap Pendidikan. Pendidikan sudah pasti jadi bagian yang sangat penting dalam pengasuhan anak. Satu dekade belakangan ini sistem pendidikan Finlandia menggemparkan dunia karena dianggap berhasil menghasilkan anak-anak yang berprestasi dengan kurikulum yang sangat santai dan tidak membebani anak. Anak-anak Finlandia mulai sekolah di usia 7 tahun, usia yang mungkin dianggap terlambat di negara lain,  dan di usia itulah mereka baru akan belajar membaca dan berhitung secara formal.

Mulai tahun 2015 ini ada peraturan baru yang mewajibkan setiap anak umur 6 tahun untuk ikut esikoulu atau preschool. Esikoulu biasanya berupa sebuah kelas khusus di päivökoti, di sana anak-anak diajarkan tentang angka dan huruf dan tentang kegiatan bersekolah. Bahwa di sekolah anak-anak harus duduk dan tidak boleh lari-larian di kelas, bahwa di sekolah akan ada guru yang berbicara dan harus didengarkan, dsb. Kegiatan membaca dan berhitung tetap dimulai ketika anak-anak masuk sekolah dasar. Sebelum usia sekolah (maupun esikoulu) anak-anak ditempatkan di päiväkoti atau perhepäivähoito yang kalau diterjemahkan artinya kira-kira ‘daycare’. Di päiväkoti kegiatannya ya cuma main, main dan main tanpa ada kurikulum khusus. Sungguh berbeda dengan tuntutan di Jakarta dimana anak-anak TK sudah harus bisa membaca, menulis dan bahkan berhitung.

Sudut kelas Esikoulu

Sekolah anak Finlandia terkenal santai, banyak liburnya, jam istirahatnya panjang, dan PRnya sedikit. Pendidikan di Finlandia ditujukan untuk menghasilkan generasi yang mandiri dan bisa bepikir sendiri, karena itu keterlibatan orang tua dalam proses belajar mengajar tidak banyak dituntut, bahkan bisa dibilang sangat minim. Pelajaran di sekolah  disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak di usianya sehingga anak-anak diharapakan bisa mengerjakan PR-nya  tanpa bantuan orang tua. Kegiatan yang melibatkan kehadiran orang tua di sekolah juga sangat jarang, palingan untuk ambil rapor atau menonton pertunjukkan akhir tahun. Gak banyak acara bazar-bazaran, prakarya bersama, atau seminar ini itu. Tanya deh sama orang tua Finlandia yang pernah tinggal di Amerika, katanya di Amerika mereka kewalahan menghadiri kegiatan sekolah anaknya.

Perbandingan di Finlandia dan Amerika: PR dan waktu istirahat anak

Orang Finlandia sangat mengagungkan kemandirian, karena itu sejak kecil anak-anak sudah diajarkan untuk mandiri. Mulai dari belajar makan sendiri di umur satu tahun, belajar pakai haalari sendiri di päiväkoti, dll. Anak-anak harus mengerti bahwa keberhasilan dan kegagalan yang mereka capai adalah hasil perbuatan mereka sendiri. Keberhasilan di sekolah adalah tanggung jawab si anak pribadi, bukan orang tuanya.

Tidak ada ujian – hanya sekali-dua kali sepanjang masa sekolah

Sekolah di Finlandia juga minim ujian. Ujian-ujian kecil tetap ada tapi ujian besar seperti UN cuma berlangsung sekali-dua kali sepanjang masa sekolah mereka. Penilaian dari guru juga umumnya bukan berbentuk nilai. Rapor sekolah biasanya berisi keterangan apakah si anak lulus atau tidak lulus di tiap mata pelajaran. Tapi tiap guru tau benar akan kemampuan masing-masing muridnya. Gak jarang guru membuat soal ujian yang berbeda tingkat kesulitannya untuk siswa tertentu. Murid-murid diharapkan bersaing dengan dirinya sendiri di sekolah, bukan dengan orang lain. Sistem pendidikan di Finlandia memang jauh dari kompetitif. Tiger mothers dan tiger fathers adalah mahluk langka di negara ini.

Peran guru juga sangat dihargai

Balik lagi kepada prinsip pertama: Kesetaraan. Perlu diingat bahwa tidak ada sekolah swasta di Finlandia (dan tidak ada universitas swasta) sehingga tidak ada sekolah elit atau universitas Ivy League yang lulusannya membentuk kelompok eksklusif di masyarakat. Semua sekolah di Finlandia dianggap sejajar secara kualitas.

Revolusi pendidikan di Finlandia dimulai di tahun 1970-an, dimana waktu itu cuma kalangan berada yang bisa mengakses pendidikan dengan kualitas baik di sekolah-sekolah elit. Setelah revolusi berlangsung, nama Finlandia mulai naik daun sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik. Bukan status itu sebenarnya yang ingin mereka capai melalui revolusi pendidikan. Mereka tidak ingin menjadi yang terbaik. Mereka cuma ingin menjamin bahwa semua rakyatnya bisa menikmati pendidikan tanpa pandang bulu. Bukan kompetisi yang mereka cari, melainkan kesetaraan. Equality and not competition.

Anak-anak di Finlandia memulai hidupnya dengan baju dari kotak Kela,  pergi ke sekolah negri dan menerima layanan kesehatan dari puskesmas. Ini adalah usaha pemerintah Finlandia untuk meminimalisir kesenjangan di masyarakat.  Kesenjangan tentunya tetap ada di antara individu tapi bisa dibilang sangat kecil dibanding negara lain seperti Amerika Serikat, UK dan banyak negara maju lainnya.

——

Untuk kisah lainnya tentang kehidupan di Finlandia, Rika menulis di http://seerika.wordpress.com/ atau untuk keseharian, bisa follow IG @seerika.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Rika dan keluarga – dan beberapa diambil dari URL yang terhubung langsung dengan image gambar. Diedit oleh: @chiceniza.

Merantau di Sydney

batch_5IMG_4578_Fotor Annisa Sarahayu (Nisa) – The Beatles lover, daydreamer, love to cook and write. I can sometimes get a bit too friendly, touchy-feely, and silly! My personality is kind of complex I guess. I take a lot of time to get used to new people – before I feel comfortable with them.

Nisa dan Keluarga. Saya mulai merantau di awal tahun 2014 ke Amerika Serikat untuk menyusul suami yang pindah untuk bekerja di salah satu perusahaan elektronik di kota San Francisco. Selang beberapa bulan kemudian, suami mendapatkan  kesempatan  untuk melanjutkan studi Master di salah satu Universitas di Sydney. Maka pada bulan Agustus 2014 yang lalu, kami sekeluarga hijrah ke Sydney. Kami memiliki seorang anak laki-laki bernama Bazylio Sakha Harsono (Bazyl ) yang saat ini berusia 2.5 tahun.

batch_5IMG_0828

Bersama keluarga

Visa Australia untuk Keluarga Mahasiswa. Saat ini status kami menggunakan student visa . Dengan visa tersebut, saya sebagai dependent diperbolehkan untuk bekerja full-time, pengecualian buat suami karena berstatus student hanya diperbolehkan untuk kerja part-time; yakni maksimal bekerja 20 jam per minggu, kecuali saat liburan summer dan winter baru bisa bekerja full-time (40 jam per minggu).

Sydney adalah ibukota negara bagian New South Wales (NSW). Warga Sydney dikenal sebagai “Sydneysiders” dan merupakan kota paling multikultural di Australia

Saat ini saya bekerja casual work di salah satu kampus di Sydney; maksud casual work di sini adalah untuk jadwal bekerjanya (baik hari dan jam) tidak tentu setiap minggunya, tergantung dari kebutuhan pihak kampusnya. Hal ini jadi lebih fleksibel dan menguntungkan juga buat saya, karena dengan sistem seperti ini saya bisa menyesuaikan dengan jadwal kuliah dan kerja suami serta jadwal Bazyl sekolah dan kegiatan dia lainya. Mungkin kalau Bazyl sudah agak lebih besar, baru saya mau ambil kerja full-time. Kami berencana ke depannya untuk apply sebagai permanent resident di sini, salah satu caranya adalah dengan membuat pengajuan melalui sponsor dari pihak keluarga atau perusahaan tempat bekerja, dengan syarat minimal tinggal 2 tahun terlebih dahulu di Australia. Doakan dapat ya ;p

batch_5IMG_1156

Kota Sydney diambil dari kapal ferry

Status Non-citizen. Dengan status kami yang yang masih non – citizen ini hampir tidak ada benefits apapun dari pemerintah setempat. Walau demikian, di sini tersedia program kesehatan gratis, seperti check-up kesehatan gigi anak di bawah usia 18 tahun yang diadakan oleh pemerintah negara bagian NSW, tepatnya di bawah Department of Human Services atau yang sering juga disebut Centerlink yang bekerja sama dengan komunitas di area atau suburb tempat kami tinggal. Diadakannya setiap 1 -2 bulan sekali. Cukup dengan membuat appointment melalui telepon terlebih dahulu dan jika sesuai dengan persyaratan eligibility-nya akan diminta untuk mengisi formulir yang sudah mereka siapkan.

batch_5IMG_4867

Salah satu health service dari Centerlink

Centerlink ini tidak hanya mengurusi kesehatan saja tapi mulai dari para imigran (legal) yang baru datang sampai masalah domestic family violence. Nah untuk masalah keringanan biaya pendidikan anak juga bisa diurus di sini: misalkan mau minta keringanan biaya buat daftar anak ke childcare. Hanya saja, syaratnya minimal sudah berapa tahun tinggal disini dan punya income history dll. Untuk program lain yang Centerlink tawarkan, bisa dicek di Web mereka.

Aerial view – bagian hijau adalah Royal Botanic Gardens dengan track untuk berolahraga

Tempat tinggal. Untuk tempat tinggal, kami cari sendiri dengan bantuan agent. Sebenarnya agak susah kalau mau sewa apartment apalagi kalau kita tidak ada referensi dan history pernah sewa sebelumnya di Australia, karena di sini  semua sewa/jual/beli properti harus menggunakan jasa agent. Terlebih lagi di sini biayanya mahal, kita harus punya surat jaminan, deposito, dan referensi keluarga atau kerabat. Kebetulan kami memiliki keluarga dekat yang sudah menjadi citizen dan bisa kami jadikan referensi/jaminan sebagai salah satu syarat  penyewaan apartemen disini. Alhamdulillah  kami bisa mendapatkan potongan harga sewa juga dan lokasi apartemen yang sangat strategis, dekat dari rumah keluarga, lokasi kampus, tempat kerja suami, tempat grocery dan pantai…! ;p

Suasana jalan di lingkungan kami

Suasana jalan di lingkungan kami

Lokasi tempat tinggal kami adalah di kawasan suburb, yaitu di daerah Maroubra. Lokasinya dekat sekali dengan pantai “Maroubra Beach” yang bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15 – 20 menitan, kalau naik bus yang berhenti di depan gedung apt, 5 menit juga sudah sampai..! Selain faktor yang sudah saya ceritakan di atas, kami kadung cinta dengan lokasi apartemen kami, terlebih mengetahui lokasi apartemen kami dekat banget dengan pantai dan KBRI, ahaha jadi kalau ada yang mau diurus tinggal “ngesot” nyampe deh ;p . Dan daerah kami juga tidak terlalu jauh  dari City, kalau naik bus hanya sekitar 20 menit juga sampai. Untuk range harga apartemen 1-2 bedroom di daerah sini berkisar dari $500week – $800week.

batch_5IMG_8647

Maroubra Beach

Lokasi Tempat Tinggal Idaman di Sydney. Saya dan suami suka sekali dengan daerah Surry Hills, daerah itu bagus banget..! Termasuk daerah yang “Trendy, artistic dan bohemian”, lalu banyak coffeeshop enak-enak, salah satunya Bourke Street Bakery yang terkenal dan termasuk must visit bakery before you die versi Buzzfeed. Tempatnya pun seru dan unik, kalau Anda dan keluarga termasuk coffee lover saya sarankan berkunjung ke Surry Hill. Di daerah sini juga banyak toko-toko atau pun butik-butik vintage lucu.

Beautiful Surry Hills

Beautiful Surry Hills

Vibrant colours

Selain itu, daerah North Sydney terutama Milsons Point. Di sana adalah daerah tempat orang-orang berada kulit putih di Sydney, termasuk lokasi rumahnya aktor Russel Crowe, Gubernur Sydney dan pejabat-pejabat sini. Di sana, setiap rumahnya pasti punya dermaga kapal sendiri, hehehehe. Kalau mereka mau ke City, ya tinggal naik boat atau nungguin kapal ferry yang lewat deh…! Untuk biaya sewa apartemen di kedua daerah tersebut, pastinya mahal sekali. Denger-denger, untuk 1 bedroom apt daerah North itu kisaran $4000 ke atas, karena view mereka ini menghadap area harbor dan Sydney Harbour Bridge yang terkenal sebagai icon kota ini. Pokoke kawasan ini million dollar view…!

The Famous Sydney Harbour Bridge

Tentang Sydney. Sydney merupakan  salah satu kota yang saya rasa sangat menyenangkan karena memiliki banyak keindahan alam yang bisa dieksplor setiap saat. Restaurant dan kuliner yang unik, museum-museum yang bagus dan terawat (dan banyak di antaranya yang gratis pada hari-hari tertentu), pelabuhan mereka yang iconic, taman-taman yang asri dan rindang, dan lainnya. Selain itu, Sydney termasuk kota yang aman dan nyaman. Saya masih berani kalau pulang berdua dengan Bazyl dalam keadaan langit sudah gelap, tapi ya gak pas midnight juga yaa 😀

Nyaman dan aman untuk pejalan kaki

Nyaman dan aman untuk pejalan kaki

Kegiatan favorite di taman: main di playground..!

Kalau untuk hal yang kurang disukai: biaya hidup di sini mahal banget, ahahaa. Secara Sydney kan termasuk salah satu kota yang living cost nya mahal. bahkan biaya sewa apt kita itu masih murahan waktu di SF kemarin dan juga untuk beberapa kebutuhan pangan di sini serba mahal. Makanya orang sini banyak yang prefer online shop.

Circulay Quay Sydney

Circular Quay Sydney

Sama saya kurang suka dengan mall dan pertokoan yang tutupnya cepat, ahahaha. Ada yang dari jam 4 atau jam 5 sudah tutup. kecuali tiap hari Kamis mereka buka sampai jam 9-10 malam. apalagi kaya coffeeshop gitu mereka tutup cepat termasuk weekend; buka jam 9-10 pagi tutup biasanya jam 3 atau jam 4 sore…! Yah walau gak semua sih yaa, tapi mayoritas seperti itu. Mungkin juga hal ini yang membuat work-life di sini jadi seimbang. Ada kejadian, waktu awal datang ke Sydney dan lagi nungguin suami selesai kuliah, kami janjian untuk ketemu di City, ya udah sekalian “numpang” ngopi di salah satu coffee shop deket situ. padahal baru jam 3 sore tapi bangku-bangku sudah diangkat dan secara halus saya disuruh keluar karena mereka mau tutup..! xD

Transportasi umum di Sydney. Salah satu hal yang membuat hidup di Sydney menyenangkan dan mudah itu adalah transportasi umumnya  yang aman dan nyaman. Bus, kereta, ferry, light rail/tram, taxi, dan tentunya pemerintah di sini sudah sangat memperhitungkan buat kenyamanan anak-anak, wanita hamil, orang tua, dan yang menggunakan kursi roda. Di setiap transportasi umum (kecuali taksi) selalu ada tempat khusus untuk anak dengan stroller, wheelchair accessible service, ibu hamil dan orang tua. Sedikit tips, jika menggunakan bus dan menunggu di halte, kita wajib kasih signal tangan ke driver; kalau gak, mereka akan lewat begitu saja walau kita udah jelas-jelas menunggu di halte tersebut..! Jadi ngerasa kaya lagi berhentiin Kopaja di Jakarta jadinya, hehehe.

Salah satu stasiun kereta

Station Macquarie center

Di sini penentuan harga untuk transportasi umumnya menggunakan sistem Opal. Opal adalah sistem ‘pay-as – you-go’, sehingga Anda hanya membayar bila Anda menggunakan kereta, bus, ferry, atau light rail. Jadi setiap naik kendaraan umum, harus tap on dan jangan lupa tap off waktu turun agar dapat harga yang sesuai, kalau tidak (kelupaan tap off) nantinya bisa di-charge lebih dari biaya seharusnya.

Public transportation in Sydney actually gives you more freedom to go anywhere because of its comprehensive network of buses, trains, taxis and ferries

Suasana di kapal ferry

Suasana di kapal ferry

Sementara harga tiket Opal terbagi dalam beberapa kategori: tiket dewasa (harga bervariasi sesuai dengan jarak), tiket orang tua (gold senior)/ pensiunan (pensioner), penyandang cacat, dan anak sekolah (child/youth) dapat benefit harga tiket diskon setengah harga dan tiketnya dapat tanda khusus, sementara anak-anak di bawah usia 5 tahun masih gratis. Selain itu ada juga tiket khusus untuk warga yang belum memiliki pekerjaan, selama dia sudah memiliki surat keterangan tidak mampu dari pemerintah lokal setempat. Untuk keluarga, ada tiket khusus untuk family. Jadi misalkan setiap keluarga tiketnya dipegang oleh si kepala keluarga, tapi setiap masing-masing anggota keluarga juga punya tiketnya dan wajib tap on. Cuma yang saya perhatikan, jarang ada keluarga yang pakai tiket family ini, karena agak ribet juga sistemnya.

Sydney South East Light Rail

Dan di sini setiap hari Minggu, harga tiket untuk semua transportasi menjadi $2.5 unlimited travel baik untuk bus, train, tram ataupun ferry. Jadi mau kemana-mana naik apa saja seharian ya bayarnya tetep $2.5, seru yaa…! Istilahnya Family Funday Sunday. Biasanya hari Minggu ini suka kita pergunakan buat jalan-jalan menggunakan kereta ataupun tram dari ujung ke ujung ahahahah. Habisnya Bazyl suka banget naik kereta ataupun tram  di sini..!

Family funday Sunday

Nyaman di kereta

Nyaman berkeliling dengan kereta

Walau transportasi umumnya sudah sangat bagus, pengguna mobil pribadi di sini juga banyak, karena tidak bisa dipungkiri, untuk beberapa wilayah sangat mudah dijangkau jika menggunakan kendaraan pribadi. Catatan bagi pemilik SIM Indonesia, sejak tahun 2006 ada perubahan kebijakan, sehingga jika mau menyetir kendaraan pribadi di sini, sangat diwajibkan untuk memiliki SIM Australia dan mengikuti driving test.

View from Royal Botanical gardens " CBD Sydney Area" -

View from Royal Botanical gardens ” CBD Sydney Area”

Penduduk Lokal di Sydney. Kalau untuk di kota orang-orangnya agak cuek; tipikal orang kota kali ya, serba in a rush bawaanya dan individual. Tapi kalau untuk daerah suburb seperti di daerah saya, tipenya lebih relax, santai dan ramah. Mungkin juga karena dekat dengan alam dan gak seriweh di City. Tapi jika saya bandingkan dengan orang-orang di Amerika (waktu kami di SF), orang di Sydney tidak se-easy going orang-orang di Amerika, yang kalau tiap berpapasan khan mereka suka menyapa “Hi, how are you?” atau “Good morning..!”, kalau di sini yaa lewat saja. Walau ada juga beberapa yang ramah, tapi kebanyakan orang tua . Apalagi kalau kita udah kenal baik, mereka suka negur duluan dan diajakin ngobrol dulu. Kadang ajak ngobrolnya suka kelamaan, hehe, rata-rata yang dibahas tentang cuaca hari itu. Jadinya saya kadang harus potong pembicaraan, kalau gak yaa gak selesai-selesai deh oborolannya, ahahahah. Selain itu, kalau mereka sudah kenal baik sama kita, mereka suka mengundang untuk barbeque-an atau sekedar makan dan tea time di tempat mereka; itu tandanya mereka suka dan nyaman dengan kita. Karena jarang banget penduduk lokal “bule” yang terlalu “open” dengan orang lain, kecuali dengan keluarga atau kerabat mereka.

The Sydney Town Hall is a landmark sandstone building in Sydney

Sebagai orang Indonesia. Di sini kan pendatang lumayan banyak dari mana saja, terutama orang Asia banyak banget di sini. Jadi sebenarnya orang-orang di Sydney secara general sangat menerima perbedaan. Walau terkadang emang ada juga yang menganggap orang Asia termasuk orang Indonesia itu kaya gak bisa apa-apa. Dianggap “lemah” atau gak berani “speak up”, jadi terkadang suka disepelekan. Walau gak semua yaa. Apalagi baru-baru ini ada berita  heboh tentang klinik pijat yang dituntut, dikarenakan kesalahan teknik pijat dari salah satu pegawainya yang berakibat fatal. Di sini khan kebanyakan klinik pijat pegawainya orang  Asia, ternyata setelah ditelusuri si terapi pijatnya itu tidak bisa berbahasa Inggris yang baik dan benar, jadi ketika si pelanggan menjelaskan mana yang sakit, si terapis tidak paham. Jadi ada sebagian orang-orang sini yang menganggap orang Asia itu “bodoh”.

Tentang I’ll Ride With You. Pasca kejadian teror dan penyanderaan selama hampir 16 jam di Lindf cafe Sydney pada bulan Desember 2014 yang lalu, beberapa konsekuensi dan sindiran negatif yang tidak mengenakan akhirnya harus ditanggung oleh warga Muslim di sini, apalagi bagi mereka yang menggunakan atribut jilbab dan lainnya. Saya sendiri, pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakan dari salah satu teman di sini beberapa saat setelah kejadian “Sydney Siege” tersebut berlangsung. Di tempat saya mengikuti kelas Zumba, para Ibu-ibu di kelas dan beberapa teman lainnya berniat untuk mengadakan acara berdoa bersama di sebuah Gereja terdekat dan mengajak saya untuk gabung. Ketika saya bilang bahwa saya Muslim dan akan berdoa menurut ajaran dan keyakinan saya untuk para korban, beberapa dari mereka langsung diam, hening dan tidak percaya kalau saya adalah seorang Muslim. Kemudian salah satu dari mereka bilang: “I cant believe that you’re a Muslim dear, how could your people do this to us?”, terus terang saya kaget dengan pernyataan salah satu teman Zumba tersebut. Saya gak nyangka akan dikasih pertanyaan (dan pernyataan) seperti itu. Sempat hening dan ngerasa “awkward“, sembari bingung juga kemudian saya hanya berkata “As a Muslim, I really didn’t want that to happen and I feel ashamed for that. They’re not Muslim, they’re just people who didn’t understand what Islam is”. Kemudian saya langsung permisi untuk pulang. Mereka juga gak komentar lagi, daripada tambah panjang urusannya. Aksi teroris ini benar-benar merusak image umat Muslim lainnya di sini. Tapi Alhamdulillah, sekarang semua sudah baik-baik saja antara saya dan teman tersebut.

Kampanye #I’llRideWithYou

Nah, I’ll Ride With You ini merupakan kampanye yang awalnya dimulai oleh salah seorang wanita di Sydney bernama Rachael Jacosb yang menceritakan pengalamannya ketika di kereta melihat wanita muslim secara diam-diam melepas jilbabnya karena takut akan diserang atau di-bully. Lalu dia menghampiri si wanita ini untuk tetap menggunakan jilbabnya dan menemani si wanita ini selama di perjalanan. Rachael menceritakan kisahnya ini di Twitter dan di-Retweet oleh orang-orang lain, yang akhirnya menjadi trending dan mendapat banyak sekali dukungan dari warga Australia kepada kaum Muslim agar tidak takut dan berani untuk terus merasa aman dan nyaman di sini.

Pasca kejadian di Lindf Cafe, juga sempat heboh dengan video yang beredar di salah satu akun sosmed yang isinya tentang society experiment terhadap kaum Muslim, terutama yang menggunakan hijab atapun peci dan atribut Muslim lainnya. Dari situ terlihat sekali kalau masyarakat di Sydney sangat menerima dan bahkan ada yang membela secara terang-terangan ketika salah satu wanita Muslim yang menggunakan jilbab dilecehkan  dan di-bully . Jadi emang terbukti kampanye I’ll Ride With You ini sangat efektif dan bahkan saya sebagai Muslim sangat merasa nyaman dan aman. Bahkan teman-teman Indonesia di sini banyak juga yang berjilbab dan tidak ada masalah. Orang-orang di sini sangat modern dan meneirma perbedaan. Selain kampanye tersebut, ada lagi dukungan atau kampanye “Racism. It Stops With Me” yang intinya untuk semua warga Australia harus saling menghormati setiap etnis yang ada dan mendapatkan hak yang sama di area umum dan diharapkan tidak adanya hal diskriminasi .

Kampanye “Racism. It Stops With Me”

Yang Unik di Syndey. Tau kah? Kebanyakan orang-orang Australia itu sukanya nyeker…! Gak pake sendal atau pun sepatu, bebas aja gitu lenggang-kangkung masuk ke mall atau di coffeeshop, dan tempat umum lainnya. Alasan mereka: lebih nyaman dan menyatu dengan alam, ahahaha…! Mungkin karena di sini daerah alamnya khan masih banyak kali yaa 😀

“Nyeker”

Lalu awal-awal di sini (yaa sampai sekarang) masih suka bingung kalau denger logat mereka kalau ngomong. Mana ngomongnya terkadang cepat dan banyak sekali istilah slang atau singkatan yang harus saya pelajari..! Mungkin karena saya lebih terbiasa dengan American-English. Contohnya nih : Arvo = afternoon, Banger/Snag = sausage, Chook = chicken , Hungryjack = Burger King, Pram = Stroller, Uni = University, dan “Yeewww…!!” = I hear a lot of Aussies saying this when expressing their excitement ;p, dan masih banyak lagi sebenarnya tapi belum terlalu update.

Australians sometimes say several words as one ‘Waddayareckon’ (what do you reckon?), “Owyagoin” (how are you going?) etc. This can be confusing for an overseas visitor but you can soon get used to it..!

Sama di sini banyak sekali snake catcher..! Terutama pas summer (Desember – Februari) sekarang ini. Seperti beberapa waktu yang lalu ketika kami mau ke pantai, ternyata beberapa area ditutup karena ada ular muncul di area park.. ! Pokoknya kalau ada mobil snack catcher berhenti, pasti di situ lagi ada ular berkeliaran ;p. Jadi yaa, balik lagi, gak jadi lewat daerah situ deh. Suka jadi parno kadang. Cuma biasanya hanya terjadi di daerah yang deket hutan kecil atau park yang lokasinya emang masih alam banget (national park). Sydney walaupun sudah “kota” banget, tapi buat sebagian wilayahnya ya masih alam banget, jadi hal-hal seperti ini (banyak ular) masih sering  terjadi.

Snake Catcher beraksi

Festival di Sydney. Sejak pindah ke sini, kami sudah beberapa kali mengunjungi berbagai festival-festival yang diadakan di Sydney: Acara kuliner yaitu Night Noodle Market yang mayoritas standnya adalah kuliner makanan asia, sayangnya gak ada stand makanan Indonesia, hiks.

batch_5IMG_9763

Lampions at Night Noodle Festival at Hyde Park

Suasana di Night Noodle Market – Hyde Park, Sydney

Ada juga ada Chocolate Festival yang kesemuanya tentang dessert dan coklat. Trus sebelumnya lagi, ketika winter kemarin ada Beer Festival di The Rocks.

Smooth Chocolate Festival

Smooth Chocolate Festival

La Maison De L’Eclair display window at Smooth Chocolate Festival

Bulan lalu, baru saja ada perayaan Australia Day (26 Januari) yang merupakan hari lahirnya Australia. Banyak banget acara seru; seperti balapan kapal-kapal/ferry, konser lagu oleh artis di tengah laut. Lalu touring museum yang masuknya gratis (yeay!!), karena sebagian museum kalau di hari biasa ada yang harus bayar. Dan juga acara anak dan keluarga untuk meet and greet tokoh kartun Nickeledeon, konser Hi5, dan bagi-bagi snack gratis dari salah satu brand biskuit terkenal di sini yaitu Arnott’s, pameran koleksi mobil antik, parade bus-bus antiknya kota Sydney yang sengaja dikeluarkan lagi buat sightseeing kota Sydney; cukup dengan membayar gold coin $1-$2 yang mana uangnya juga dipakai untuk perawatan bus-bus tersebut. Seru banget! :).

Australia Day Fireworks at Darling Harbour

Vintage Bus saat Australia Day

Yang terakhir kami datangi yaitu Sydney Festival saat musim panas, yang meliputi acara kuliner, seni, konser musik, dan pemutaran film-film asing. The best part-nya buat masuk ke acara-acara festival ini adalah free…!

Summer in the City

City of Sydney Lawn Library, which is home to a lot of activities for all ages like calligraphy, circus skills and pop-up crafts

Salah satu yang dinanti pada bulan Mei mendatang adalah Vivid Sydney:

In 2015, Vivid Light will engage lighting artists, designers and manufacturers from around Australia and the world to illuminate, interpret and transform Sydney’s urban spaces for 18 nights through their creative vision

Kegiatan dengan Anak usia Prasekolah. Di Australia, usia wajib sekolah adalah usia 5 tahun untuk level Kindegarten (TK) dan biasanya untuk daftar sekolah, si anak masuk ke sekolah di area tempat dia tinggal. Kalau sudah jadi citizen, di sini sekolah gratis, kecuali dimasukin di sekolah swasta. Jadi sebelum usia 5 tahun, anak bisa ikutan acara playgroup atau playtime ataupun dimasukan ke childcare. Bazyl sendiri saat ini aktif mengikuti playgroup yang lokasinya tidak jauh dari rumah: seminggu jadwalnya dua kali pertemuan, dengan membayar donasi sebesar $9  di awal dan setiap datang hanya membayar $5 atau gold coin sebesar $1 – $2 untuk snack supplied berupa buah dan biscuit. Tapi ada juga beberapa playgroup yang benar-benar gratis dan hanya dengan membayar gold coin saja.

Bazyl di Playgroup

Bazyl di Playgroup

Selain itu ada juga story time, outdoor activity, art class, dll. Saya sendiri suka bawa Bazyl ke perpustakaan dekat rumah, karena di sini setiap perpustakaan pasti ada baby and kids activity and it’s free. Di perpustakaan ini juga hanya dengan sign in menjadi member kita bisa pinjam aneka macam buku dan mainan anak (maksimal 2 minggu). Kegiatan lainnya, Bazyl saya daftarkan di swimming lesson khusus untuk toddler yang jadwalnya seminggu 1x pertemuan.

batch_5IMG_0205

Kegiatan playgroup di perpustakaan

Kalau untuk childcare, Bazyl harus waiting list terlebih dahulu. Apalagi kalau yang disubsidi pemerintah. pasti selalu penuh. Untuk biayanya sendiri per-hari itu kisaran $95 – $135 tergantung fasilitas si childcare tersebut. Seminggu harus daftar atau masuk minimal 2x. Bisa dapat potongan harga juga, kalau kita lapor ke Centerlink (seperti yang saya jelaskan sebelumnya).

 Menemukan Komunitas. Biasanya dengan ibu-ibu Indonesia di sini, kami sering mengadakan playdate bareng di park atau pantai. Atau gak, kalau lagi pengen santai, ya kumpul di salah satu rumah teman yang bersedia rumahnya “diacak-acak”, ahahahaha; jadi anak-anak bebas main, dan ibu-ibu biasanya masak-masak, atau bisa delivery sembari mengawasi anak-anak, trus makan-makan deh..! Tipikal kegiatan ibu-ibu banget pokoke :D. Hal-hal simple seperti itu saja sih, tapi menyenangkan. Setidaknya bisa jadi pengobat kangen keluarga dan teman di Indonesia. Selain itu untuk Keluarga Pelajar Islam Indonesia (PII) ada kegiatan mengadakan pengajian rutin sebulan sekali.

batch_5IMG_4964_1 batch_5IMG_5156

Saya juga tergabung dalam komunitas Mommy (International) English Class yang kegiatannya hampir sama, semacam playdate tetapi ada sesi sharing tentang parenting style dari berbagai negara asal si mommy. Di sini saya banyak mendapat teman-teman dari mancanegara, kebetulan yang term kemarin ada dari Columbia, Singapore, Malaysia, Iran, Canada dan Saudi Arabia, kalau udah kumpul ramean kita suka saling tukar makanan khas kita masing-masing  🙂

batch_5IMG_0209

Mommy International English Class

Menjadi Mamarantau. Bersyukur banget bisa dapat kesempatan dan memiliki pengalaman hidup  untuk tinggal di negeri orang, kenal lingkungan baru, budaya baru, dan dapat teman-teman baru, juga jadi tambah membuka wawasan dalam berpikir dan melihat perspektif hidup lebih luas lagi. Ditambah dengan lingkungan yang serba bersih, teratur, senang aja gitu tiap hari kalau bawa Bazyl jalan pagi, siang, sore, bahkan malam. Pikiran jadi fresh. Kegiatan kala me time saya pergunakan dengan zumba ataupun lari di sekitaran rumah, walaupun gak lama, tapi setidaknya bisa buat pikiran kembali segar dan badan tetap fit dan siap sedia buat ngurus urusan anak dan rumah.

Zumba Class - menjaga tubuh tetap fit dan menyegarkan pikiran..!

Zumba Class – menjaga tubuh tetap fit dan menyegarkan pikiran..!

 Kadang saya suka iseng cobain berbagai macam resep, kebetulan saya memang hobi masak, dan kadang juga janjian jalan-jalan trus ngopi-ngopi dengan teman-teman.

Homemade Makanan Indonesia

Homemade Makanan Indonesia

Yang gak disukai, yaitu tadi: biaya hidup di sini mahal  banget, plus apa-apa harus ngerjain sendiri. Kangen sama keluarga. Jujur terkadang ada kalanya saya masih suka homesick hehe, apalagi kalau udah capek banget. Iya kan… di sini kami kerjakan segala sesuatu ya sendiri (yaa bagi tugas sama suami). Trus kaya nyalon atau pun perawatan badan disini mahal banget..!! Huhu. Untuk tempat rekomendasi jalan-jalan di Syndey, tunggu di artikel selanjutnya ya 🙂

—-

If you like to follow along our journey we’re on Web: http://nisadanchicco.com/ and Instagram: @qyusha and @denchicco.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Nisa dan Chicco – dan beberapa diambil dari URL yang terhubung langsung dengan image gambar. Diedit oleh: @chiceniza.

Memasak Makanan Indonesia di Perantauan

Baik sudah bertahun-tahun, maupun baru beberapa bulan -yang namanya merantau pasti mendatangkan suatu perasaan yang hampir tidak bisa dihindari para perantau; yaitu homesick. Biasanya homesick mengingatkan kita akan dua hal : orang-orang yang kita sayangi dan makanan kesukaan kita (yang biasanya kita nikmati bersama mereka). Kalimat-kalimat seperti “Aduh, kangen sup brenebon nya Mama deh” atau “Jam segini makan nasi goreng tek-tek enak ya” – mungkin pernah Anda lontarkan selama masa perantauan Anda.

Di beberapa kota tujuan rantauan yang tinggi populasi orang Indonesia-nya, mencari makanan Indonesia mungkin tidak sulit, contohnya di Sydney (Australia), Philadelphia (Amerika Serikat), dan Amsterdam (Belanda). Tetapi bagaimana dengan para perantau di kota-kota dimana restoran Indonesia jarang/bahkan tidak dapat ditemui? Pilihan yang murah dan sebenarnya mudah adalah dengan memasak makanan Indonesia sendiri di rumah! Tidak bisa masak? Tenang, di era teknologi seperti sekarang ini, ada berbagai macam cara untuk belajar memasak. Salah satunya adalah dengan menonton podcast khusus masak-memasak yang di produksi dengan sangat simple, jelas, kreatif, dan modern oleh anak-anak muda Indonesia yang tergabung dalam Youtube channel  Masak. TV.

Screen shot 2015-02-11 at 3.46.59 PM

Sebelum subscribe dan mulai mempelajari resep-resep mereka, simak beberapa tips singkat berikut ini berdasarkan obrolan kami dengan Chef Alvin Maulana dari Masak.TV yang kerap disapa “Kapau”. Alvin mengaku sebagai seorang pecinta makanan indonesia yang selalu bercita-cita untuk mempunyai restaurant Indonesia di luar negri karena ingin memperkenalkan budaya Indonesia lewat makanan. Penggemar lalapan + sambal + tahu goreng setengah matang + bawang goreng dan sedikit kecap manis ini (lengkap yaa!) sudah suka memasak sejak kelas 2 SD,  karena senang melihat orang lain tersenyum akibat makanan yang enak. Menurut Alvin, masakan itu adalah suatu bentuk seni yg sangat luas sekali , selain bisa dinikmati dari segi visual, masakan bisa dinikmati dari segi rasa. Nah, sudah siap belajar? Siapkan catatan Anda!

Bumbu-bumbu Wajib Dapur.
Untuk memudahkan proses memasak dan menghemat waktu dalam memasak masakan Indonesia, Alvin menyarankan kita untuk menyetok “bahan-bahan untuk membuat 3 bumbu dasar (bumbu inti) masakan Indonesia, yaitu Bumbu Putih, Bumbu Kuning, dan Bumbu Merah”. Mengapa? Karena dengan penambahan kecap, daun pengharum, dan santan, ketiga bumbu dasar ini dapat dipakai untuk membuat berbagai menu masakan Indonesia. Untuk mengolahnya, Anda bisa menggunakan cara manual dengan ulekan (atau cari mortar and pestle di banyak tempat belanja online maupun di toko-toko Asia) atau food processor.
Berikut bahan-bahannya:

1. Bumbu Putih ini biasanya dipakai untuk membuat menumasakan seperti opor, lodeh, dan empal. Bahan-bahannya : Bawang merah, bawang putih,  lengkuas,  jahe, dan kemiri.

Screen shot 2015-02-11 at 4.05.37 PM
2. Bumbu Kuning dapat digunakan untuk membuat ayam goreng, pepes, dan bahkan soto. Bahan: Bumbu putih dan kunyit.
Screen shot 2015-02-11 at 4.04.43 PM
3. Bumbu Merah tentunya dapat digunakan untuk membuat sambal balado dan masakan-masakan ‘turunan’nya seperti ayam balado, telur balado, dan lain-lain. Bahan-bahannya: Bumbu Putih, cabai (paling mudah ditemui Thai bird’s eye chilli), sereh,  daun jeruk, dan daun salam.
Screen shot 2015-02-11 at 4.06.42 PM
Cara lengkap pembuatan masing-masing bumbu versi Masak.TV bisa nonton episode yang ini:
Mengakali Keterbatasan Bahan Dasar
Tinggal di perantauan bisa berarti memiliki keterbatasan mendapatkan bumbu-bumbu wajib Indonesia. Seperti yang kita ketahui, tidak mudah mencari rempah-rempah dan bumbu-bumbu khas nusantara di negeri orang. Maka itu, Anda dapat mengakalinya dengan menggunakan bahan atau bumbu substitusi..! Contohnya, menurut Alvin “Kemiri dapat Anda ganti dengan kacang tanah atau kacang mete (cashew)”. Sementara asam jawa dapat Anda ganti dengan cuka atau bahan lain yang memiliki rasa serupa (asam-manis). Perlu diingat bahwa menggantikan bahan yang seharusnya dipakai pada suatu masakan tentunya akan menghasilkan sedikit perbedaan pada rasa. “Misalnya, si asam jawa apabila diganti cuka pasti yang tergantikan hanya rasa asamnya saja, karna akan hilang aroma tengir (susah mencari padanan kata untuk mendeskripsikan rasa ini!) dari asam jawa tersebut. Jadi, bila Anda memakai bahan pengganti, pasti tidak akan sempurna 100%,” jelas Alvin.
Menakar Bumbu
Di banyak negara kita bisa mencari bumbu-bumbu dalam bentuk bubuk (powder atau ground) atau daun kering (dried herbs) dengan mudah di rak pada supermarket. Tapi bagaimana menakarnya? Pasti berbeda jika menggunakan bahan-bahan segar.

“Menurut saya pribadi tidak ada takaran pasti untuk setiap masakan , karena semuanya tergantung dari indra pengecap kita masing-masing,” jawab Alvin saat ditanya mengenai takaran bumbu yang pas saat menggunakan bahan-bahan dalam bentuk bubuk/kering. “Dan bagi saya, masakan yang paling menyenangkan adalah ketika kita mengikuti rasa yang kita inginkan. Tips dari saya, kalau sedang membumbui masakan, tambahkanlah sedikit demi sedikit saja, sambil menyicipinya sesekali. Jika yang tersedia di kota Anda hanyalah bumbu kering (contoh : kemiri bubuk botolan), campurkan bumbu kering langsung dengan bawang-bawangan ketika sedang menghaluskannya,” jelasnya.
***
Tidak terlalu sulit kan? Memasak masakan Indonesia memang membutuhkan lebih banyak rempah-rempah, tidak seperti masakan ‘bule’, tetapi kalau niat menyempatkan waktu, pasti bisa dilakukan! Sebelum Anda melakukan grocery shopping, berikut ada beberapa terjemahan bahasa inggris dari bumbu-bumbu Indonesia yang mungkin belum Anda ketahui sebelumnya :
  • Daun Salam – Bay Leaves
  • Lengkuas – Galangal
  • Jahe – Ginger
  • Kemiri – Candlenut
  • Sereh – Lemongrass
  • Dauh Jeruk – Lime Leaf
  • Kunyit – Turmeric
  • Jinten – Cumin
  • Asam – Tamarind
  • Kapulaga – Cardamom
  • Cengkeh – Clove
  • Pala – Nutmeg
Quick links ke resep-resep di Masak.TV favorit kami yang patut anda coba :

Nasi Gila – bahan-bahannya mudah didapat, cara masaknya pun gampang!

Ayam Goreng Kremes – cocok dengan selera kita dan juga selera orang asing, pas untuk entertaining tamu yang datang makan dirumah!

Screen shot 2015-02-11 at 6.55.11 PM

Kering Tempe – pas untuk di stok di dapur, kalau tidak ada makanan di rumah, bisa dimakan pakai telur goreng dan nasi putih!

Kue Cubit – bahannya tersedia dimana-mana (karena mirip pancake), pembuatannya juga mudah!Screen shot 2015-02-11 at 6.40.53 PM

 Tunggu apa lagi? Mari memasak!

*all photos courtesy of Masak.TV

Merantau di Abu Dhabi

FiniGita Trifini  – Previous geophysicist in Schlumberger (Jakarta and Doha), now enjoying life in Abu Dhabi as a full time mom for Rafi (3.5 yo) and Fathir (9 months).

Pengalaman merantau: Aku tinggal di Abu Dhabi sudah 2 tahun, sebelumnya tinggal di Doha (Qatar) selama 2 tahun. Aku ikut suami yang kerja di sini. Kalau di Abu Dhabi gak bisa jadi resident, jadi harus selalu perpanjang family visa setiap 2 tahun. Untuk mengurus visa ke sini bisa langsung ke Embassy di Jakarta.

Established in December 1971, the country UAE (United Arab Emirates) is a federation of seven emirates; Abu Dhabi (which serves as the capital), Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, and Umm al-Quwain.

Anak aku yang pertama lahir di Qatar, dan yang ke-2 baru lahir di Abu Dhabi. Anak yang lahir di sini tidak mendapat benefits apa-apa dari pemerintah. Tapi selama setahun pertama bisa mendapatkan vaksin gratis di rumah sakit tertentu. Dan di sini tidak bisa dual citizenship, terhitungnya tetap sebagai Warga Negara Indonesia, meskipun lahir di Abu Dhabi atau yang sudah puluhan tahun tinggal di sini pun tidak bisa jadi warga negara sini. Di sini mungkin sekitar 70% penduduknya adalah pendatang, penduduk lokalnya sedikit.
At Sheikh Zayed Mosque

At Sheikh Zayed Mosque

Yang paling disukai dari tinggal di Abu Dhabi itu, salah satunya gak ada macet, hihi. Terus orang Indonesia di sini lumayan banyak, jadi enggak terlalu merasa kesepian. Kotanya juga enak, di Abu Dhabi ini termasuk (Alhamdulilah) aman, jadi aku kalo bawa anak-anak jalan ke mana-mana itu nyaman.
Piknik menunggu kembang api di peringatan 43rd Anniversary UAE..!
Waktu tinggal di Doha, aku ikut perkumpulan ibu-ibu yang suka nari (kebetulan memang baru dirintis), lumayan banyak peminatnya, bahkan yang belum bisa nari pun bisa ikut nari. Ada juga grup angklung. Karena aku dulu pas kecil suka nari Bali, jadinya aku ikut nari deh, lumayan bisa merasakan manggung di Qatar Foundation. Kalau di Qatar, kita biasanya latihan di KBRI, atau di rumah teman. Sekarang di Abu Dhabi, ternyata tidak ada sanggar tari, tapi waktu itu aku diminta untuk ngajar tari pendet untuk anak-anak yang mau pentas acara indonesia festival di KBRI, lumayan mengobati rasa kangen menari..hehe.
Grup tari dan angklung di Qatar (Image: Pajar R. Achmad)
Yang tidak disukai di sini…mm apa ya, mungkin kalau bawa mobil di sini harus ekstra hati-hati karena orang-orang di sini kalau nyetir pada ngebut banget…! Dan kemana-mana harus pake mobil (di sini harga mobil relatif lebih murah dibanding di Indonesia), kendaraan umumnya gak kids friendly. Mungkin karena aku tinggal agak jauh dari kota, sekitar 20 menit dari pusat kota jadi susah. Paling pakai taksi, tapi kalau yang tinggal di pusat kota, bisa pake bus (tidak ada MRT di sini).

Yas Marina Circuit (Image: Abduzeedo.com)

Mengurus SIM Nah, kalau mau nyetir di sini, kita harus punya SIM UAE, gak bisa pake SIM Indonesia. Karena aku dulu pas tinggal di Qatar gak nyetir dan cuma punya SIM Indonesia, jadinya harus ikut teori course,teori test dan road test, kalau udah punya SIM Qatar bisa langsung road test aja. SIM Indonesia pun dilihat sama mereka, kalo baru buat SIM Indonesia (maksudnya baru nyetir setahun di Indo misalnya), harus ikut proses yang lebih panjaaang lagi…bener-bener panjang…!
Sistem pembuatan SIM di sini: aku harus ikut teori course selama 8 jam, terus test teori…Alhamdulilah langsung lulus. Setelah itu daftar untuk road test (biasanya sebulan setelah teori test). Deg-degan banget pas road test, karena kata orang-orang di sini susah banget untuk bisa langsung lulus road test…..nasib-nasiban juga sih sebenernya. Sebelum road test, aku belajar nyetir sekitar 2 kali untuk membiasakan stir kiri (kebalik sama di Indo). Pas Hari H road test, aku udah berdoa aja pasrah dan dikasih tips and trik sama temen-temen di sini. Alhamdulilah banget langsung lulus..! Soalnya banyak juga yang udah jago nyetirnya tapi malah gak lulus, gak jelas juga kenapa gak lulus. Karena kalo gak lulus, kita harus melakukan course lagi, prosesnya panjang dan lumayan mahal. Untuk proses dasar aja seperti yang aku ambil bisa menghabisakan 1200 Dirham (sekitar 3.6 jt IDR) ,mahal yah 😦 Begitulah proses di sini, gak bisa bayar-bayar seenaknya, ada peraturannya.
Tips kalo mau road test : berdoa, tetep tenang, pas start mobil, langsung di gas aja sampe kecepatan 80 km/jam..! Karena di sini mobil tuh cepet semua, kalo terlalu lambat malah gagal di testnya (tapi tetep harus hati-hati ya), liat spion jangan lupa. Ketika road test, akan ada ada 2 polisi yg ngetest: duduk di depan dan di samping belakang, dan test nya cepet banget, kadang cuma 5 menit udah disuruh stop.

Abu Dhabi at night (Image: Pictures Depot)

 Tempat belanja groceries: biasanya kami ke supermarket seperti LULU atau Carefour ada juga Abu Dhabi COOP, di situ lengkap, semua ada, tapi kalo mau cari kemiri, terasi ato teh botol..hehe..bisa ke minimarket indonesia tapi jarang juga sih ke situ, paling biasanya borong bumbu-bumbu banyak pas pulang ke Indonesia, lumayan buat stok di Abu Dhabi, hehe. Lalu ada minimarket disini namanya South East Asia Trading, cuma 1 di sini, tapi sekarang lagi tutup sementara,huhu. Di sini kalau mau buka toko harus ada standard dari pemerintah UAE, kalo enggak…langsung ditutup tokonya. Bagus sih, menurut aku, karena berarti semua toko di sini harus memenuhi standard seperti kesehatan, kebersihan, kualitas makanan,dll.
Kalau kangen makanan Indonesia kita bisa ke resto Bandung dan Sari Rasa. Kayaknya aku sekeluarga hampir tiap minggu ke sana..hehe. Apa aja ada di situ; dari bakso, batagor, makanan padang, martabak manis, ketoprak (itu yg biasa kita pesen), dll.

Bandung Resto (image: mealadvisors.com)

Untuk tempat jalan-jalan: Di sini lebih banyak mall dibandingkan museum atau science center, di mana-mana mall, bahaya juga buat ‘kantong’,hehe. Biasanya kalo weekend kita sekeluarga ke park atau ke Corniche, berenang di pinggir pantai gitu atau barbeque di park bareng temen-temen, tapi itu bisanya kalau musim dingin aja. Kalau pas summer, terlalu panas buat main di luar. Di sini ada museum tapi sepiii banget dan gak ada yg dateng, science center juga gak ada, paling kalo winter baru banyak acara kaya science for kids,dll. Ohya, kalau mau kumpul dengan Ibu-ibu lain dan anak-anak bisa bersosialisasi, bisa lihat di Abu Dhabi Mums untuk kegiatan (bisa indoor dan outdoor) dan bisa jadi volunteer juga. Untuk mall bisa ke Yas Mall atau Marina Mall Abu Dhabi – itu paling lengkap, tapi kalau mau lebih lengkap lagi tinggal ke Dubai 2 jam saja, lengkap banget deh disana..hehehe.

Abu Dhabi Corniche (image: crictours.com)

Ferrari Theme Park Abu Dhabi – The Largest Indoor Theme Park in the World – http://www.ferrariworldabudhabi.com

Tentang musim: di sini ada 2 musim: musim panaasss banget (kadang sampai 47 derajat Celsius May-Okt ), dan dingin (paling rendah sampai 13 derajat Celsius pas malem November – April). Kalau pas musim panas, kita bener-bener gak bisa ke mana-mana selain ke mall, dan biasanya kalo pergantian musim gitu, anak-anak pasti sakit; demam, batuk atau pilek, jadi kita harus sedia obat-obatan dan vitamin. Karena di sini panas kering (gak lembab kaya di Indonesia), kulit harus sering-sering pake lotion (yang biasa juga gak masalah, gak ada perawatan khusus), dan yang pasti banyaaaak minum air putih, itu harus banget. Kalau pas musim dingin, lumayan enak karena anak2 bisa main ke park atau ke pantai, tapi kalau udah sore anginnya dingin banget sampe harus pake jaket tebal. Aku lebih suka musim dingin karena banyak sekali kegiatan outdoor disini, seperti food festival, science festival, cruise festival, konser musik, mancing,dl. Tapi kalau musim panas bener-bener gak ada kegiatan, jadi semua orang ke mall.

Tentang penduduk lokal: Orang Abu Dhabi (biasa kita panggil orang ‘Emirati’) ramah-ramah, walau ada juga sih yg enggak. Tapi kebanyakan dari mereka ramah terhadap pendatang kok, mereka bisa mengenali orang Indonesia karena hampir 80 persen ART mereka orang indonesia..hihi. Di sini banyak sekali TKW dari Indonesia dan rata-rata yang menggunakan jasa tersebut orang Emirati 😀
Asisten Rumah Tangga: setahun pertama tinggal di sini, aku gak pake asisten, segala sesuatu diurus sendiri, tapi karena mau lahiran anak ke-2 (waktu itu), aku cari pembantu untuk ngurusin rumah tangga (anak full aku yg pegang). Tapi karena cari ART orang Indonesia mahal dan susah (ambil dari agen aja bisa sampai 11 ribu Dirham = IDR 33 juta), akhirnya aku pake pembantu dari Srilanka, lumayan cuma harus bayar visa kerja aja selama 1 tahun 7 ribu Dirham (mahal jga sih, huhu). Di sini cari pembantu itu bener-bener mahal dan ada peraturan tenaga kerja, jadi gak bisa kita gaji seenaknya, ada standarnya sendiri.
Untuk sekolah anak di sini ada 2: British school atau American school. Bahasa yang digunakan di sini adalah Bahasa Inggris, jadi gak usah khawatir kalau gak bisa bahasa Arab. Karena semua di sini komunikasi memakai Bahasa Inggris. Rafi anakku yg pertama sekolah di Stepping Stone Nursery, British nursery gitu karena rencananya pas umur 4 tahun mau disekolahin ke British School di Abu Dhabi (mudah2an masuk..amin 🙂 ).
Tips untuk yang mau hijrah ke UAE: Mungkin cara berpakaian, di sini diharuskan berpakaian sopan, meskipun tidak berhijab, kalau bisa jangan pakai pakaian yg seksi atau rok mini gitu, bahkan kalau kita masuk mall, ada tulisannya harus berpakaian sopan. Pertama kali pindah kesini, Alhamdulilah gak ada culture shock (mungkin karena hampir sama dengan di Doha, Qatar), cuma yaa kalo mau belanja jangan diconvert ke Rupiah, di sini semua serba mahal..lumayan shock juga sih awalnya, hehe. Biaya hidup agak mahal. Tapi segala urusan dari buat visa atau cari apartemen di sini mudah kok, semua peraturan jelas dan ada agennya, jadi lebih mudah.

Mengisi Apartemen

Mengisi dan mendekor apartemen baru bisa jadi hal yang menyenangkan (kalau punya budget yang mencukupi) dan menantang (kalau budgetnya pas-pasan, aha).

Pengalaman saya dan Ibu lain mungkin berbeda, utamanya sebagai keluarga mahasiswa, kebanyakan barang furniture di apartemen kami adalah hasil thrifting dan cari di barang seken di Craigslist. Sebagian kecil adalah hibahan dari teman sesama international students yang pulang kampung dan juga barang hasil “mungut” di pinggir jalan 😀 Yup, di sebagian besar kota di Amerika, Eropa, dan Amerika adalah hal yang wajar menemukan “harta” di pinggir jalan dan kondisinya kalau beruntung masih sangat layak digunakan. Harta yang dimaksud kebanyakan berupa: sofa (tapi harus hati-hati! karena mungkin ada bedbugsnya?), lemari, kursi, meja, TV dan barang elektronik lainnya, hingga sepeda. Tapi tentunya kita ga mungkin mengandalkan barang bekas dan hibahan semua khan? Berikut adalah list perabot yang kami sarankan untuk dibeli secara bertahap ketika pindah ke apartemen baru – dengan asumsi: kulkas, kompor dan oven, AC dan heater sudah termasuk di dalamnya -dan bukan apartemen furnished.

1. Area Dapur:

Image: Google

  • Perlengkapan makan: sendok, garpu, piring, mangkok.
  • Pisau dapur (biasanya ada 3 set, pastikan pisahkan untuk potong daging, sayur/buah, dan roti)
  • Pots and pans (biasanya juga langsung sepaket. Beli yang rada bagusan, walau agak mahal tapi tahan lama dan akan sangat berguna. Nah, jenis panci dan penggorengan ini ada berbagai macam, di antaranya: cast iron skillet, non-stick, ceramics, stainless-steel, dan copper. Buat saya yang peduli akan isu kesehatan dan go-green namun budget ketat, saya memilih merek ini. Ketika membeli, pertimbangkan juga: apakah bisa dicuci di dishwasher (jika di apartemen ada dishwasher), oven-proof (akan berguna untuk memanaskan dalam oven), gampang dibersihkan, dan zat-zat yang terkandung dalan material panci tersebut.
  • Perlengkapan memasak: cutting board (pisahkan untuk memotong: ikan, daging sapi, daging ayam, dan buah/sayuran. Biasanya dijual dengan ukuran berbeda dan bisa berupa cutting board plastic), spatula, slotted spoons, tongs, colander, pembuka kaleng, saringan buat deep fried.
  • Perlengkapan baking: measuring cups and spoons, muffins pan, muffins liners (beli yang berbahan silikon dan bisa dipakai ulang), baking mat, pot holder, cookie sheet, mixing bowls, pyrex set (bermanfaat sekali), dan kontainer segala ukuran untuk menyimpan makanan di dalam kulkas.
  • Perlengkapan elektronik dapur: water filter (perlu untuk yang minim dari tap water. Beli yang ukurannya besar sekalian, jadi tidak perlu sering isi ulang), microwave. Lain-lain: blender, food processor, pemanas air, mixer, coffee maker.
  • Bumbu-bumbu dapur: salt, pepper (white and black), coriander, onion powder, garlic powder, turmeric, chili flakes, dll yang non-MSG. Dan bagi yang Muslim, bisa cel label Kosher dan Vegan pada setiap bumbu yang dibeli.
  • Baking needs: tepung terigu (all purpose flour), vegetable oil/ canola oil/ olive oil/ coconut oil, white vinegar, corn starch, baking powder, baking soda, gula, powder sugar, brown sugar.

2. Area Kamar Mandi

Image: cdn.home-designing.com

Sebagai orang yang tumbuh besar di Indonesia, hal yang paling menyulitkan ketika di luar negeri adalah urusan kamar mandi. Ya, setidaknya kalau di Indonesia atau di beberapa negara Asia masih menyediakan bidet spray di kamar mandi. Tidak demikian halnya kalau di negara2 lain yakni WC kering dengan tissue. Urusannya dengan anak toddler lebih ribet lagi, apalagi kalau sedang potty-training. Nah, beli bidet ini atau ini sangat membantu – dan pastinya lebih bersih dan hemat tissue!

Bidet: mudah untuk dipasang sendiri

Selain bidet, perlengkapan kamar mandi: rug, handuk untuk keringkan tangan, shower curtain (dan ring curtain), sikat kamar mandi dan cairan pembersih toilet bowl dan spray. Pastikan juga keduanya yang ramah lingkungan yaa.

3. Area Kamar Tidur

Image: flatideas.com

Kalau di Amerika, kebanyakan apartemennya hanya menyediakan lampu di: kamar mandi ruang makan, dan dapur. Kamar tidur dan ruang bersama (living room) gak ada lampunya. Jadi pertimbangkan beli floor lamps untuk kedua ruangan, lampu tidur, kasur atau sofa bed (matras futon IKEA adalah favorite kami), bedsheet, selimut, duvet cover, dan bantal.

4. Area Ruang Bersama

Image: Google (cdn.homedit.com)

Area ini bisa paling terakhir dicicilnya, tapi paling seru juga untuk didekor – karena area ini dan area ruang makan yang paling sering ditempati. Furniture: sofa, karpet/rug, coffee table, TV, meja TV, rak buku. Yang sifatnya dekorasi, bisa ditambahkan: seperti pajangan dinding, tanaman indoor, dan jam dinding.

5. Area Ruang Makan

Yang pasti: meja makan dengan kursi (minimal 4).

6. Perlengkapan Bebersih dan Mencuci

Mencakup sapu dan pengki (dust pan), sikat kecil, spons buat di dapur (sikat panci, sikat botol, spons aluminium, dan spons biasa anti-scratch), lap dapur, handuk tangan, vacuum cleaner. Untuk vacum cleaner, pertimbangkan yang bisa meraih sudut2 dan kolong sofa – dan filternya bisa mudah dicuci, saya menggunakan yang seperti ini. Lalu, cairan pembersih: all purpose cleaner (yang bisa dibikin sendiri dengan mudah: campuran air + vinegar + lemon), pembersih lantai, pengharum ruangan jika perlu atau aroma therapy, sabun dishwasher berupa pods, sabun cuci berupa pacs biar simple, dan pengharum pakaian jika dibutuhkan.

7. Perlengkapan Lainnya

Tools pertukangan (dijual di IKEA), berbagai jenis paku dan skrup satu set, senter, pemantik (jika sewaktu-waktu gas mandek), lilin, tali, hanger, jemuran baju (buat handuk atau kalau gak pakai dryer), gantungan jemuran buat pakaian dalam dan cloth diapers anak, keranjang baju (minimal dua: satu baju kotor, satu buat angkut jemuran), tempat sampah untuk di dapur (sampah kering dan basah), di kamar mandi, dan setiap kamar tidur.

Nah, untuk lebih lengkapnya list untuk apartemen bisa download di sini. Selamat mengisi apartemen…!

Semua foto terhubung dengan link gambar asli.

Apartment Hunting dan Komunitas Indonesia di NYC

Tia

 Tia Wulansari – a first time mom, a graduate student, and an ESL teacher (plus a Patriots and Red Sox fan) who lives in Medford, MA with her beloved husband and beautiful baby girl.

Apartment Hunting. Saya dan suami sudah pernah tinggal di beberapa kota di Amerika, dan bisa dibilang apartment hunting di New York itu yang paling ribet. Belum lagi sewa apartment di New York terkenal amat sangat mahal. Kami selama dua tahun (Jan 2012- Mei 2014) tinggal di Manhattan, tepatnya di 187th st dan Fort Washington. Nama daerahnya Washington Heights. Kami tinggal di one-bedroom apartment. Luasnya sekitar 800 sqft dan harga sewa ketika itu $1900/bulan (sudah termasuk heat dan gas). Sekarang apartment itu sudah disewakan dengan harga $2300 (Mahal? Amat sangat! Sigh…).

Bersama Keluarga

Mencari apartment yang lokasi dan harganya cocok di New York tidak lah mudah. Pertama kami coba cari sendiri melalui website Craigslist. Tetapi terlalu banyak apartment listing dan tidak jelas mana yang asli, mana yang scam. Akan lebih membingungkan lagi kalau belum tahu daerahnya. Ada 5 boroughs di New York: Manhattan, Brooklyn, Queens, Bronx, dan Staten Island. Within the boroughs, there are many neighborhoods, and each neighborhood has its own unique characteristics (dari yang bagus sampe yang sebaiknya dihindari). Walau saya sudah pernah tinggal di New York waktu kuliah S1, akhirnya, kami memutuskan untuk memakai jasa agen real estate supaya tidak kena tipu. Setelah membaca reviews di Yelp.com, saya menghubungi beberapa agen yang punya listing di Brooklyn dan Manhattan. Fokus kami hanya di Manhattan dan Brooklyn karena mempertimbangkan jarak ke kantor suami dan tempat kuliah saya (plus kami suka dengan daerahnya). Setelah bolak-balik kontak lewat email dengan spesifikasi harga dan amenities yang diinginkan dengan beberapa agen, akhirnya kami buat janji untuk melihat tempatnya.

Karena kami pindah ketika musim dingin, jumlah apartment listing tidak sebanyak kalau cari ketika musim panas. Dalam 2 hari, kami lihat 5 apartment di Brooklyn (daerah Park Slope, Prospet Heights, dan Gowanus) dan 1 apartment di Manhattan. Kami pikir di Brooklyn akan lebih murah, ternyata tidak. Semua apartment yang kami lihat hamper sama harga sewanya ($1800-$2000 untuk one-bedroom apartment). Kami akhirnya memutuskan untuk sewa apartment yang di Washington Heights karena jatuh cinta dengan pemandangan dan layout apartment.

Manhattan-GWB

Pemandangan George Washington Bridge ketika senja dari kamar kami

Alhamdullillah, saya berhasil kontak agen-agen yang baik. Ketika tanda tangan lease agreement, selain membayar first month dan deposit, kita juga harus membayar agent fee. Di New York, rata-rata 10%-15% dari harga sewa setahun (Mahal? Banget! sigh…). Oleh karena itu, penting sekali untuk dapat agen yang baik dan sangat membantu. Kalau tinggal di New York, mayoritas uang kita habis untuk bayar sewa. Di setiap borough, rata-rata harga sewa apartment tergantung daerahnya. Harga sewa di daerah kami termasuk bagus untuk apartment sebesar itu. Selain apartmentnya sendiri, lokasi apartmentnya enak, jauh dari kehebohan Manhattan, banyak taman dan sarana olah raga gratis. “Kekurangannya” adalah jauh dari hingar-bingar kota Manhattan, tidak cocok buat orang yang suka yang keramaian. Ke Times Square, sekitar 30 menit naik A express train; Ke Chinatown, sekitar 45 menit. Sebagai pembanding, teman saya sewa apartment 10 menit jalan dari Times Square. Luasnya sekitar 650 sqft, harganya $3400. Ada teman lain sewa apartment 10 menit naik subway ke Union Square. Luasnya 800 sqft, harganya $2400. Di Queens dan Brooklyn pun sama. Akan lebih mahal sewa di Astoria dan Long Island City (bukan Long Island ya…), dibanding di Jackson Heights atau Elmhurst. Lokasi (jarak ke subway, how convenient the area is,dll) dan amenities apartment mempengaruhi harga sewa. Untuk referensi, bisa dilihat di website ini: untuk boroughs yang lain juga ada di websitenya. Untuk informasi soal neighborhoods di Amerika, bisa dibaca di city data.

Restaurant Indonesia di NY
Enaknya tinggal di New York, kalau kangen masakan Indonesia dan malas masak (atau tidak jago masak seperti saya), bisa ke beberapa restoran.
Upi Jaya 
Teman saya yang asli Padang bilang masakan Padang di tempat ini TOP! Sate Padangnya mantap katanya. Sudah beberapa kali kesini, semuanya enak! Mereka juga ada masakan non-Padangnya seperti ayam panggang, tahu isi, gado-gado. Sekedar info bagi yang muslim, restoran ini menggunakan daging halal.IMG_6559

Java Village
Mereka menyediakan menu nusantara. Harganya cukup murah untuk porsi sajiannya. Mereka ada dua macam menu: bisa kita pesen dari daftar menunya langsung seperti lontong sayur atau ayam kremes; bisa juga kita pesen menu combonya (misal 2 jenis daging, 1 sayur, dan nasi). Seperti kalau di Indonesia, tinggal tunjuk ini itu dari counternya. Mereka juga menjual makanan ringan di restorannya seperti risoles dan tahu isi. Lihat juga review di sini.

Bali Nusa Indah
Bagi yang jauh tinggalnya dari daerah Elmhurst, Queens, di Manhattan ada restoran Indonesia juga namanya Bali Nusa Indah. Mereka menyediakan menu nusantara. Kami sering mengajak teman non-Indonesia kesini untuk memperkenalkan masakan Indonesia. Dibanding Upi Jaya dan Java Village, rasa masakan Bali Nusa Indah sudah ter-Americanized alias gak pedes dan kurang nendang. Untuk obat kangen, lumayan lha… Masakan yang OK menurut saya dan suami: mie goreng, siomay, lontong sayur, sate ayam. Ada beberapa restoran lainnya seperti Asian Taste 86 dan Sky Café (yang ini cabang dari yang di Philadelphia), tapi karena saya sudah lama tidak kesana atau belum pernah kesana, jadi tidak bisa komen banyak. Yang jelas kalau jalan-jalan ke New York, mampir lah ke Elmhurst, Queens untuk obat kangen rumah!

Kemudian ada beberapa toko yang menjual bumbu dan makanan ringan dari Indonesia. Banyak produk Indonesia yang bisa dibeli di New York. Yang penting jangan dipikir harganya dalam rupiah, bisa-bisa tidak jadi beli nanti! Hehehe…

Asia Market Corp di Chinatown, Manhattan
Berbagai macam bumbu Indofood dan Bamboe ($1.00/sachet), krupuk udang, kecap manis, tempe (frozen), Kusuka kripik singkong, kacang Garuda, bumbu pecel, kopi Nescafe, sambal ABC. “Indonesian corner”nya ada di pojok kanan belakang. Tempenya ada di frozen section. Kalau krupuk dan keripik, ada di bagian snack dan di bagian kasir.

Top Line, di Elmhurst, Queens
Lebih lengkap barang-barang yang dijual. Ada krupuk ikan, udang, dan krupuk putih abang-abang, segala macam bumbu jadi (Kokita, Munik, Indofood, Bamboe, Racik, dan beberapa merk yang saya pun baru lihat disini), meses, sirup Marjan, Beng-beng dan beberapa kukis khas Indonesia, Blue Band, tempe, kopi dan the Indonesia, dan masih banyak lagi… Kadang mereka juga jual meterai bagi yang membutuhkan. Kalau disini, “Indonesian corner”nya ada di bagian belakang toko, di bagian kanan.

Jajanan-lidi

Jajanan jaman SD “lidi berMSG” ada diual disini!

OK Indo, di Elmhurst, Queens
Tokonya kecil dan belum lama bukanya. Mereka spesialisi jualan produk Indonesia, tidak seperti Top Line dan Asia Market Corp. Barang yang dijual tidak selengkap toko-toko diatas, tapi kalau hari Sabtu, mereka jual makanan siap saji (dijual di container plastik). Terakhir kesana ada pempek, nasi kuning, nasi rames, martabak manis, dan beberapa jenis gorengan.

Komunitas Indonesia di New York
Bagi yang muslim, bisa mendatangi masjid Al-Hikmah untuk beribadah dan mengikuti kegiatan pengajian (untuk orang dewasa dan anak-anak). Masjid ini juga terkenal akan bazaar makanannya ketika bulan Ramadhan. Lumayan besar dan ramai bazaarnya; makanan yang dijual pun enak-enak. Selama bulan Ramadhan, biasanya bazaarnya buka setiap weekend. Informasi mengenai pengajian dan bazaar bisa dilihat di website masjidnya. Selain itu, terkadang komunitas Indonesia juga jualan di lokasi lain di Elmhurst, seperti ketika masa Pemilu kemarin.

Buat yang tertarik dengan musik gamelan, di New York ada grup Gamelan Kusuma Laras. Salah satu pelatihnya adalah Bapak Harjito. Beliau pengajar gamelan di kampus saya dulu, Wesleyan University. Yang menjadi anggota grup ini ada orang Indonesia dan Amerika. Mereka kadang pentas di KJRI, Lincoln Center, dan beberapa tempat ternama lainnya. Terakhir, kami menghadiri outdoor concert sebagai bagian dari Make Music NY event di bulan Juni. Pengalaman yang unik, mendengarkan gamelan di luar sambil menikmati angin sepoy-sepoy.

Gamelan Kusuma Laras

Gamelan Kusuma Laras pentas di depan KJRI NY sebagai rangkaian acara Make Music NY

Dana Yang Perlu Disiapkan Sebelum Merantau

Disamping mengurus visa, izin kerja, tempat tinggal, dan keberangkatan, penting bagi anda untuk menghitung dana yang perlu dipersiapkan sebelum berangkat. Sebab diluar uang tiket, banyak sekali pengeluaran lainnya yang jika tidak dipersiapkan dengan baik dapat menyulitkan anda dan keluarga diperantauan nanti. Setelah berkonsultasi dan mengalaminya sendiri, berikut adalah beberapa tips yang kiranya bermanfaat bagi anda yang berencana untuk merantau.

sumber foto : kidspot.com.au

sumber foto : kidspot.com.au

1. Sewa Tempat Tinggal Bulan Pertama

Kuncinya adalah research. Di era internet seperti sekarang ini, berbagai macam informasi dari berbagai negara dapat dengan mudah anda temukan, termasuk harga sewa apartemen di kota yang anda tuju. Anda juga bisa membaca berbagai review apartemen dan neighborhood yang dapat menjadi bahan pertimbangan. Selain itu anda juga bisa meng-email pihak manajemen tempat tinggal tersebut untuk mendiskusikan iuran sewa per-bulannya. Kalau cocok, bisa langsung booking online, kalau belum cocok, setidaknya anda tahu kisaran sewa tempat tinggal di kota yang anda tuju itu berapa. Ingat, biasanya apartemen ada ‘security deposit’ atau iuran lainnya yang harus dibayarkan diawal. Tanya sejelas-jelasnya dan siapkan dananya.

2. Perabotan & Kebutuhan Dasar Rumah Tangga

Ini mencakup kasur, bantal dan selimut untuk tidur, 1 set piring dan gelas, tempat sampah, wajan (kenapa wajan? lihat poin 4) dan berbagai kebutuhan mendasar rumah tangga lainnya yang pasti akan anda butuhkan di bulan pertama. Ingat, list yang penting-penting saja. Alat-alat pelengkap seperti TV bisa menyusul di bulan berikutnya setelah anda mendapat gaji/ penghasilan pertama di perantauan. Sebulan sebelum berangkat, saya dan suami bahkan sudah mengecek harga-harga perabotan mendasar di website IKEA dan department store setempat untuk dijadikan patokan anggaran kami di kategori ini.

3. Transportasi

Mulai dari uang taksi/bus/kereta yang dibutuhkan setibanya di perantauan sampai uang transportasi  ke kampus atau ke kantor selama bulan pertama (atau minimal sampai dapat gaji pertama) sebaiknya sudah disiapkan sebelum berangkat. Lalu setelah gajian, anda bisa mulai menyisihkan uang untuk men-DP mobil pre-owned atau seken yang harganya jauh lebih terjangkau.

4. Makan/ Groceries Bulan Pertama

Aturlah anggaran untuk kategori ini dengan secukupnya saja. Kalau dihitung satu bulan pertama makan restoran setiap hari pasti anggarannya akan sangat mahal. Maka itu, mulailah ancang-ancang untuk memasak dirumah, jadi anggaran ini bisa difokuskan untuk membeli bahan-bahan dasar memasak dan bukan melulu untuk membeli ‘makanan jadi’ di restoran. Mulai research supermarket terdekat di daerah tempat tinggal/ kampus/ kantor suami dimana, kalau ada website-nya, anda bisa browsing harga-harganya untuk dijadikan patokan.

5. Emergency Fund

Dana ini dibutuhkan untuk kebutuhan-kebutuhan tidak terduga, seperti obat kalau tiba-tiba anda atau anak anda demam misalnya, dan lain sebagainya. Tidak perlu banyak-banyak, yang penting ada supaya tidak mengganggu dana yang sudah dianggarkan untuk 4 kategori penting diatas.

 

Mungkin kesannya ‘ribet’, tetapi lebih baik sedia payung sebelum hujan, bukan? Saya dan suami tiba di Dallas 7 bulan yang lalu dengan berbagai macam list yang sudah kami buat sebelumnya di Jakarta berdasarkan research di internet. Dan terbukti, meski tidak membawa uang yang banyak, semua pengeluaran bulan pertama kami efisien dan syukurnya, kami bahkan tidak perlu berhutang sama sekali (dengan kartu kredit sekalipun). Kalau kami bisa, anda juga bisa.

 

Membuat SIM Amerika

ChicaPuti Ceniza Akbar (Chica) – has been living in New Bedford, Massachusetts, USA since 2010 with two sons and lifetime partner. She loves to volunteer at several local communities as well as running this site in her spare time.

“May I see your ID?” – adalah pertanyaan yang lumrah ditanyakan oleh pihak berkepentingan di sini. Tentu saja yang dimaksud sebagai “ID” atau identity document adalah sebuah dokumen yang mencantumkan nama lengkap, foto, tanggal lahir, alamat, dan tanda tangan. Kalau di Amerika, yang lumrah sebagai ID adalah SIM atau drivers license. Selain SIM, untuk yang non-driver bisa membuat State ID (hanya boleh pilih salah satu – state ID akan otomatis expired jika sudah punya SIM state setempat).

Kesalahan yang sering dilakukan sebagai international student atau expat dari Indonesia, adalah anggapan bahwa SIM Indonesia dan atau SIM internasional Indonesia bisa dipakai untuk nyetir di semua negara. Nyatanya tidak demikian…! Memang sih, kebanyakan SIM dari negara lain diakui oleh Amerika dan boleh dipergunakan selama setahun dari tanggal kedatangan ke Amerika (dan setiap kali re-enter ke Amerika). Tapi, tidak untuk Indonesia. Department of Motor Vehicle (DMV) mempunyai list resmi daftar negara-negara yang SIMnya diakui, dan di sana Indonesia gak termasuk. Hal ini perlu dicek juga di setiap Website resmi DMV/RMV (Registry of Motor Vehicle) untuk masing-masing state. Link yang saya sertakan di sini adalah untuk wilayah state Massachusetts.

Nah, karena SIM dari Indonesia (baik SIM biasa mau pun internasional) tidak diakui di Amerika. Sehingga, bisa dianggap kalau kita mengandalkan SIM Indonesia saja, artinya kita menyetir secara illegal. Dan menyetir illegal di Amerika agak berbahaya, karena dianggap sebagai pelanggaran berat! Gak mau khan dideportasi atau kena denda sekian ribu dollar hanya karena tidak tahu bahwa nyetir di sini illegal? Walaupun, dari pengalaman saya sendiri dan juga beberapa kenalan lain, mereka bisa dengan tenang melanglang buana hanya dengan berbekal SIM Indonesia dan tidak mengalami kendala apa-apa. Tapi ada baiknya, untuk ketenangan jiwa, marilah membuat SIM! Hehe.

Untuk dokumen yang perlu disiapkan sudah ada di sini. Tips: pastikan Anda punya surat penolakan Social Security Number jika memang tidak bisa mendapatkannya karena alasan visa (untuk visa non-kerja dan spouse dari student, atau visa F2 – tidak bisa mendapatkan SSN). Cara mendapatkan surat penolakan ini bisa langsung ke kantor SSN di masing-masing kota. Ingat ya, surat ini hanya berlaku selama 30 hari saja. Jadi setelah dapat surat, langsunglah urus Written Test.

Written test digunakan untuk mendapatkan Learner Permit. Nah, test ini sering dianggap gampang banget oleh sebagian besar orang, tapi buat saya sendiri, test ini SANGAT tricky karena sebagian besar berupa hafalan. Agak memalukan sih, karena saya gagal dua kali dalam written test x( Padahal biayanya lumayan! Sekali tes $30. Dan soal yang ditanyakan kalau Anda sudah baca di Driver’s Manual (bisa diunduh secara online atau pinjem ke library setempat), seharusnya bisa langsung pass. Soal testnya ada 25, dan harus benar 18 pertanyaan. Waktu test 30 menit. Tips: kalau ada pertanyaan yang tidak yakin, langsung di-skip saja. Karena kalau jawabannya salah, maka pertanyaan berikutnya tetap akan berkaitan dengan pertanyaan yang sebelumnya (resiko salah kembali lebih besar). Untuk belajar, coba isi tes latihan secara online.

Kalau Anda lulus dan mendapatkan learner permit, maka Anda akan diperbolehkan mengendarai mobil HANYA jika ada sponsor yang mendampingi. Yang dimaksud dengan sponsor adalah orang dewasa (> 21 tahun) yang sudah memiliki valid driver’s license dan berpengalaman menyetir minimal 1 tahun. Learner permit akan berlaku hingga 2 tahun. Dan dalam kurun waktu tersebut, Anda harus menjadwalkan road test (by online atau telepon). Tips: Butuh waktu agak lama untuk bisa daftar road test, bisa jadi 2-3 bulan dari kita menelpon. Jadi segera bikin jadwal untuk road test. Dan ingat, kalau mau cancel, minimal 3 hari sebelum test harus dicancel atau kita harus bayar $20 (dianggap ikut test dan gagal).

Road Test hanya akan memakan waktu 8- 15 menit. Walau pun Anda sudah biasa nyetir di Indonesia, jangan gegabah juga saat test ya dan jangan terlalu nervous juga. Saya dan suami yang sudah 6-8 tahun menyetir, ternyata masih harus mengulang road test karena gagal pada test yang pertama. Bahkan ada teman yang gagal hingga 3x, padahal dia sangat bagus sekali nyetirnya. Entah faktor si examinernya yang kelewat “jahat” atau faktor luck, atau tergantung kotanya… Pokoknya kalau di daerah New Bedford dan sekitarnya, rata-rata road test pertama gagal. Huhu. Yang akan diperhatikan saat test: hand signal (belok kiri, kanan, dan stop), kemampuan untuk: parallel parking, three point turn, memundurkan mobil secara lurus sejauh beberapa meter, menaati road sign, dll – untuk lengkapnya bisa baca di sini. Nah, kalau Anda memang tidak pernah punya SIM dan baru belajar nyetir, ada baiknya ambil kelas di Driving School kota setempat – kemungkinan besar Anda akan langsung guaranteed lulus test..!

Good luck! 🙂