Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 1)

8970440293_db01e5a142Mindy Jordan – A stubborn Taurean yang lahir 40 tahun silam di Jakarta. Istri dari suami yang jangkung (Sven) dan ibu dari seorang putri kecil (Medea Kedasih ). Saat ini sedang bersekolah kembali untuk nantinya bisa berkerja dengan anak-anak. Co-Author buku 3 Wanita Menjejak Dunia dan Menghirup Dunia. Suka membaca, membuat DIY dan belajar masak, juga fotografi secara autodidak.

Frankfurter Buchmesse

Waktu saya tahu kalau Tamu Kehormatan di Frankfurter Buchmesse (Frankfurt Book Fair) adalah Indonesia, saya sudah bertekat untuk datang. Biarpun jarak 470 km memisahkan antara kota tempat tinggalku dan kota Frankfurt, tetap tidak menggoyahkan niat saya. Apalagi akhirnya teman-teman yang saya kenal melalui ajang Upload Kompakan juga mau datang dan menjadikan ajang istimewa ini untuk acara kopi darat pertama kali. Pokoknya I was so uber excited deh!

Gimana ga excited coba, karena ajang pameran buku terbesar ini ada di bucket list saya, lalu tahun ini Indonesia yang menjadi tamu kehormatan, ditambah lagi saya akan bertemu dengan salah satu teman dan partner penulis buku Menghirup Dunia dan juga teman-teman seantero Jerman (plus Deny yang datang dari Den Haag). Anak saya juga minta ikut, sewaktu saya wanti-wanti kalau nanti saya akan pergi. Dilalah sang suami yang tadinya tidak mau ikut akhirnya jadi tertarik untuk ikut. Jadilah kita sekeluarga liburan weekend getaway 14-18 Oktober 2015 ke ajang Pameran Buku yang tertua dan terbesar di dunia, Frankfurter Buchmesse.

Beberapa minggu sebelum pergi saya sudah mempelajari kalender acara. Kebanyakan acara yang diselenggarkan oleh Tamu Kehormatan. Karena perginya dengan anak batita, jadi saya juga mencatat acara anak-anak, seperti misalnya pembacaan dongeng, peluncuran buku anak-anak yang berjudul Putri Kemang yang juga sudah ada versi terjemahan Indonesianya dan ada dalam format Kamishibai.

Selain itu saya memasukan beberapa acara talk show atau diskusi ke agenda saya. Sebut saja, talk show Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak, lalu Dewi Lestari dengan Ika Natassa, dan Tita Larasati karena sudah lama ingin bertemu dari jaman Multiply. Beberapa penulis Jerman juga saya masukkan ke agenda saya, misalnya Ilija Trojanow dan Axel Scheffler, ilustrator buku anak. Beliau sering kolaborasi dengan Julia Donaldson dan buku mereka yang populer adalah der Grueffelo atau Gruffalo.

Euphoria Frankfurt Book Fair 2015 untuk saya juga diisi dengan membaca beberapa tulisan dan berita tentang tanah air di beberapa surat kabar ternama Jerman, misalnya tentang budaya baca masyarakat Indonesia atau juga tentang slogan yang dipakai di Frankfurt Book Fair 2015, yaitu 17.000 Islands of Imagination. Lengkapnya bisa dibaca di http://islandsofimagination.id/about/. Potongan berita, tulisan dan liputan di surat kabar tersebut saya simpan.

Indonesia’s slogan for the Fair— “17,000 Islands of Imagination”—symbolizes the intellectual and artistic richness of this incredibly diverse and multi-religious nation.

Perjalanan ke kota Frankfurt am Main memakan waktu lebih lama karena macet di jalan tol. Tidak heran sih karena hari keberangkatan kita adalah Jumat dan terkena rush hour ditambah hujan rintik. Puji Tuhan kita tiba dengan selamat di Innside Hotel tempat menginap selama dua malam. Sang resepsionis yang ramah memberikan Medea sebuah welcome gift yaitu berisi sekotak pensil warna dan beberapa coloring postcards bergambar binatang. Bahagia sekali dia melihat isi welcome giftnya dan langsung mau mewarnai begitu kita masuk ke kamar yang nyaman. Sebelum tidur Medea bertanya kapan kita berangkat ke Frankfurter Book Fair-nya. Ternyata ada yang sudah excited seperti ibunya.

Instalasi 1500 Batang Bambu Joko Avianto Pukau Pengunjung Frankfurter Kunstverein

Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Hari H pun tiba. Kita sekeluarga pergi ke lokasi dengan mobil dan beruntung mendapat parkir yang tidak jauh dari Frankfurt Messe (Frankfurt Exhibition). Mungkin karena pagi-pagi banget yaa… Di sebelum pintu masuk, kita ditawari untuk membeli sebuah surat kabar yang harganya 0,80€. Awalnya tidak mau beli karena surat kabar tersebut image-nya seperti Pos Kota, tapi hadiah kupon dapat tiket lebih murah mengalahkan pikiran kita.

Setelah mengisi perut dengan gado-gado dan teh panas di Canteen Indonesia, saya dan keluarga menuju ke Paviliun Indonesia untuk mengikuti acara diskusi dengan dua penulis wanita Indonesia, yaitu Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Oiya, buku Laksmi Pamuntjak yang berjudul “Amba“, diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul “Alle Farben Rot“ dan sudah saya liat di beberapa toko buku. Ada rasa bangga terbesit setiap melihat buku Indonesia di antara buku-buku karya penulis dalam negeri, maupun penulis luar negeri. Sebelum acara diskusi dimulai, saya sempat melihat Pak B.J. Habibie. Sayangnya tidak bisa minta foto bareng karena security yang ketat.

RBu8KSnmfaf75GjR8q644jwuZQrmpdfR4FI6n8b4ryQ,NcYmJ0myx-4iIibjCBki3N8MrpA3nXEWVod6VurTHNw

Menonton acara tarian ini bikin kangen kampung halaman

Deretan buku tentang Indonesia saat dipamerkan dalam Frankfurt Book Fair 2015 di Frankfurt am Main, Jerman (13/10).

Akhirnya acara diskusi yang bertemakan tentang kaum Exil dari masa 1965 dimulai. Dengan moderator seorang penulis Jerman bernama Anett Keller, seorang wartawati yang fasih berbahasa Indonesia dan penulis “Indonesien 1965ff. Die Gegenwart eines Massenmordes. Ein politisches Lesebuch.“ Buku setebal 213 halaman ini mengambil latar belakang kejadian di tahun 1965. Karena acara diskusi ini dalam bahasa Jerman, Indonesia dan Inggris jadi disediakan head set bagi para pengunjung supaya bisa mendengar terjemahan stimulasi secara langsung.

Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak menceritakan tentang buku mereka, yaitu “Pulang“ dan “Amba“, yang keduanya memiliki latar belakang yang sama, yaitu kejadian di tahun 1965. Seperti halnya “Amba“, novel “Pulang“ juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul “Heimkehr nach Jakarta“. Sebuah novel yang berhasil membuat saya nangis tersedu-sedu dan ingin pulang ke kampung halaman, ke Jakarta dan tentunya dalam keadaan utuh jiwa serta raga.

wdrVrdGGOiKSp-S3Oz37CUeWTV_Wdwi_kv1-GLbFtqo,FVzLi1nK0RasSu4nMPLqvLt4yL1qLZYQfO46wo4Dx4A

Leila S. Chudori, Laksmi Pamuntjak dan Anett Keller

FBF - Medea di acara Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Medea di acara Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Sesi tanya jawab dengan kedua penulis wanita ini menjadi bagian penutup acara diskusi selama 45 menit ini. Di ajang ini saya juga bertemu dengan Beth, Deny dan beberapa teman. Senangnya tak terkira karena kita akhirnya bertemu dan bisa ngobrol secara langsung karena selama ini hanya melalui sarana WhatsApp saja.

5142BsRTz1YDygV6Qo0WnKXS8DDJ105_TzA2jYlgeCk

Bersama Beth dan Deny

Oiya, saya bodohnya kurang eager untuk meminta foto bareng dengan Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Sekarang masih suka menyesal karena sudah lama juga bertukar tweet dengan Mba Leila dan ingin bertemu. Semoga kita bertemu di Jakarta ya, Mba…

German’s Publishers and Indonesian’s Publishers

Setelah acara diskusi selesai, saya bertukar kata dengan teman-teman. Kita akhirnya berpencar dan akan ketemu lagi di Canteen Indonesia untuk makan siang bersama. Saya juga senang banget karena akhirnya saya dan Febbie, seorang partner penulis saya, bisa bertemu kembali dan memegang “bayi“ kami berdua, buku Menghirup Dunia untuk pertama kalinya. Kita berdua sempat diminta untuk menanda tangani buku tersebut. Walaupun tidak dapat stage, tapi tetap boleh ada rasa bangga dong ya…

Menghirup Dunia (foto courtesy: Noni Khairani)

Saya juga sempat melihat-lihat hall penerbit Jerman. Waaahh kalap banget deh! Banyak buku yang menarik dan ingin dibeli. Untung saja harga buku di Jerman itu harganya sama, baik offline maupun online. Jadi bisa saya cari di toko buku kota saya tinggal. Sayangnya acara diskusi dengan Ilija Trojanow tidak saya ikuti dengan tuntas karena berbagi waktu dengan acara anak-anak. Beruntung sekali anak saya tidak rewel, bahkan dia terlihat menikmati harinya. Apalagi waktu kita ke stand Gramedia, Mizan dan beberapa stand lainnya. Berasa di surga dia melihat banyak buku anak-anak.

f6S2gnWLPjfXCnL7XoIQPuifX9GKKSfsK9FoB7IT7lA

Di stand Gramedia saya sempet ngobrol dengan Ika Natassa, sedikit bertukar kata dengan Dewi Lestari, juga dengan Mas Fuadi yang ketemu lagi di tengah kota keesokan harinya. Tentunya juga browsing buku-buku dan ikutan heboh sewaktu stand Gramedia membuka sesi penjualan buku. Saya membeli beberapa buku cerita anak berbahasa Indonesia yang ternyata tidak banyak karena yang diikutkan ke Frankfurt Book Fair 2015 sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman ataupun bahasa Inggris.

Di sini saya juga berbincang dengan Werner Schulze, seorang penulis serta Profesor berkebangsaan Jerman yang sering melakukan perjalanan ke Indonesia. Beliau hari itu membacakan cerita dari bukunya dengan judul “Paradiesvoegel und andere wundersame Erzaelungen“. Bahasa asli buku ini adalah bahasa Jerman dan pada tahun 2010 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu “Burung Cendrawasih dan Cerita Cerita Memikat Lainnya“.

Agak menyesal kenapa saya tidak datang ke pameran hari Minggunya. Karena saya kurang lama beredar di hall buku-buku bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Penyesalan berikutnya itu datang sewaktu tahu kalau ternyata ada acara diskusi dengan Dewi Lestari yang moderatornya adalah Ilija Trojanow. Grrr…

HC-D6Nsav5KzdtGvUbjfHuHqGyAfisEWETDLN9Jpqxo,2Vydzi_FzSPOuctyv0LxyH57tEK-LC834c4jQUVWeGw

Suasana Sabtu itu..

The Act of Killing

Di ajang pameran buku terbesar di dunia ini juga diputar sebuah film dokumenter karya Joshua Oppenheimer, seorang sutradara kewarganegaraan Amerika. “The Act of Killing“ yang diproduksi pada tahun 2012 dan bercerita tentang pembunuhan massal di tahun 1965 akan mulai diputar di bioskop Jerman pada tanggal 14 November 2015.

—–

Foto-foto pada laman ini adalah karya Mindy, dengan beberapa foto pendukung yang terhubung dengan link pada foto.

http://www.mindoel.blogspot.com. Instagram @mindoel.

Advertisements

8 thoughts on “Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 1)

  1. Halim Santoso says:

    Baru tahu kalo mbak Mindy punya blog di WP 😀
    Bangga banget karya penulis Indonesia diberi panggung kehormatan di salah satu pameran buku terbesar di dunia. Alat yang dipakai Medea itu mesin penerjemah dari bahasa Indonesia ke bahasa Jerman kah?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s