Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 3)

11195840_700362946752341_86095811_nLulusan Statistika dan Teknik Industri yang baru 10 bulan tinggal di Den Haag mengikuti suami, seorang warga negara Belanda. Saat ini sedang sekolah bahasa Belanda sembari mengikuti beberapa kegiatan volunteer disekitar Den Haag untuk memperlancar bahasa Belanda. Senang mengamati apapun dan menuangkan dalam tulisan diblog, senang bepergian, membaca, dan memasak.

Frankfurt Book Fair (FBF) adalah pameran buku terbesar dan tertua didunia, lebih dari 500 tahun usianya. Frankfurt Book Fair adalah tempat bertemunya pelaku industri buku, media, pemegang hak cipta yang datang dari seluruh penjuru dunia. Acara ini digelar setiap tahun pada pertengahan bulan oktober. Jadi pada saat tersebut akan ada banyak sekali penulis buku, penerbit, penjual buku, agen bahkan produser film yang bertemu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Partisipannya sebanyak 132 negara dengan jumlah pengunjung mencapai ratusan ribu orang. Hal lain yang tidak kalah menariknya adalah setiap tahun selalu ada tamu kehormatan. Pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan. FBF tahun ini dilaksanakan pada tanggal 14-18 Oktober 2015.

FBF dibuka untuk umum hanya pada 2 hari terakhir yaitu 17 dan 18 Oktober 2015. Area FBF sendiri dibagi menjadi 5 gedung utama. Untuk detailnya bisa dilihat pada foto dibawah ini :

Foto 1 (Denah FBF)

Sekitar 7 atau 8 tahun lalu saya selalu memimpikan untuk bisa pergi ke acara ini. Saya rajin memupuk mimpi tersebut. Setiap tahun saya selalu membaca liputannya. Saya selalu mempunyai harapan besar bahwa suatu saat mimpi tersebut akan terwujud. Alasannya sederhana, karena saya cinta buku. Saya suka aroma kertasnya, saya suka sensasi ketika membalik halamannya dan yang terpenting adalah saya cinta membaca buku. Bersyukur tahun 2015 ini salah satu harapan saya (diantara banyak sekali mimpi) bisa menjadi nyata bertepatan dengan Indonesia menjadi tamu kehormatan. Dan yang membuat saya semakin semangat adalah saya ingin bertemu beberapa penulis yang saya idolakan sejak buku pertama mereka terbit, bahkan satu penulis sudah saya idolakan sejak dia menjadi penyanyi. Jadi bisa dibayangkan betapa girangnya saya.

Saya dan suami berangkat dari Den Haag jam 3 dini hari berkendara selama 6 jam dengan berhenti 2 kali karena suami tidur sebentar dan setelahnya mencari tempat sarapan. Keluar dari parkiran mobil, sudah ada bis yang disediakan untuk antar jemput dari dan ke gedung FBF. Tepat jam 10 pagi pada 17 Oktober 2015 saya menginjakkan kaki pertama kali dalam area FBF. Suami selalu memegangi tangan saya ketika kami sedang berjalan, bukan karena supaya tampak mesra, tetapi saya selalu berjalan cepat kesana kemari karena terlalu antusias dan suasana saat itu memang sedang ramai sekali 😀

17.000 Islands of Imagination, Tema Paviliun Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015

Akhirnya pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair. Menjadi tamu kehormatan pada acara yang yang berusia lebih dari 500 tahun tersebut merupakan kesempatan berharga. Menurut Pak Anies Baswedan dalam pidatonya bahwa kesempatan berharga ini bukan hanya untuk memperkenalkan Indonesia tetapi juga mengajak Eropa melakukan percakapan lintas budaya yang lebih luas. Mengusung tema Islands of Imagination, Muhamad Thamrin sebagai Arsitek yang dipercaya untuk menggarap area paviliun tersebut menjadi area yang penuh desain cantik. Dalam paviliun tersebut terdapat tujuh pulau yang masing-masing memiliki unsur budaya di Indonesia. Pulau-pulau tersebut adalah : Island of Scenes, Island of Spices, Islands of Illumination, Island of Inquiry, Island of Tales, Island of Images, dan Island of Images.

Masing-masing pulau menyajikan Indonesia dalam cara yang berbeda. Island of Spices yang mengajak pengunjung untuk berpetualang dan mengenal keragaman Indonesia melalui rempah dan kekayaan kulinernya.

Island of Scenes menampilkan Indonesia dari sisi pentas dan pertunjukan budaya. Island of Illumination menampilkan naskah dan manuskrip kuno yang menjadikan awal sastra yang ada saat ini. Island of Inquiry menampilkan sains dan kebudayaan Indonesia dalam bentuk digital.

Islands of Tales memberikan nuansa berbeda yaitu memperlihatkan negeri dongeng Nusantara dengan suara dan proyeksi gambar bergerak.

Pada bagian Island of Words diperuntukkan bagi para peminat kartun, cerita bergambar, novel grafis dan animasi. Sedangkan bagian yang terakhir adalah Island of Words menampilkan beragam buku karya penulis Indonesia dengan visual dan konten yang menarik.

 Foto 4 (Stand Indonesia)

Sejak saat persiapan sampai hari terakhir acara, perkembangan dan beritanya bisa diikuti langsung melalui website resmi Islands of Imagination, akun Facebook Pulau Imaji dan akun twitter @pulauimaji. Kuliner Indonesia juga berjaya disini. Tidak hanya masakan saja yang disajikan, tetapi rempah Indonesia juga diperkenalkan pada pengunjung. Saya melihat ada beberapa pengunjung tidak hanya mencium rempah-rempah tersebut, tetapi juga mencicipinya. 25 chef sampai didatangkan langsung dari Indonesia seperti William Wongso sebagai ketua kulinernya, Bondan Winarno, Sisca Soewitomo, Barra Pattiradjawane, dan masih banyak yang lainnya. Menu yang disajikan dikantin Indonesia adalah gado-gado (6.5 euro), sayur kapau (9.5 euro), asinan Jakarta (5.9 euro), ayam rica-rica (9.5 euro), dan dessert klappertart (lupa harganya berapa). Sejak sebelum jam makan siang, antrian sudah mengular. Selain demo memasak, juga dibuka kelas memasak yang diikuti oleh pelajar dan anak muda. Kelas memasak ini salah satu contohnya adalah mengajarkan cara membuat kolak pisang dan pepes ikan. Dari situs CNN Indonesia, disebutkan bahwa peserta sangat antusias.

Foto 5 (Beberapa spicies yang didisplay) Foto 6
Awal datang, saya langsung menuju hall terdekat yaitu hall 4. Bersyukurnya langsung menemukan stand Gramedia yang sedang mengetengahkan talkshow tentang buku anak-anak. Setelah puas berkeliling di hall 4.0 dan 4.1 kami langsung menuju Paviliun yang ternyata sedang berlangsung sesi Leila S.Chudori dan Laksmi Pamuntjak tentang buku mereka masing-masing yaitu Amba dan Pulang. Saya datangnya telat, jadi mendapat tempat dibelakang para pembicara, karena penuh dengan penonton. Diantara penonton saya melihat Taufik Ismail dan Bapak BJ Habibie. Setelah sesi mereka selesai, kami langsung menuju kantin untuk makan siang. Kami memesan sayur kapau dan gado-gado.
Foto 7 (Source @pulauimaji)

Sekitar jam 1 kami bergegas menuju hall 4.3, berputar sebentar dan sebelum jam 2 saya sudah duduk manis menunggu sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa jam 2 siang di stand nasional. Sesi yang paling saya tunggu karena ada Dewi Lestari, penulis idola. Sejak Dewi Lestari menjadi penyanyi digrup RSD, saya sudah mengidolakan dia. Lagu ciptaannya yang berjudul Satu Bintang di Langit Kelam menjadi salah satu lagu favorit sampai saat ini. Dan ketika dia mengeluarkan buku pertamanya yang berjudul Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001) bisa ditebak setelahnya saya selalu membeli karya-karyanya, lengkap sampai Gelombang. Saya mengagumi setiap karakter yang dia ciptakan, cara dia membawa pembaca untuk hanyut dalam setiap cerita yang dia tulisakan. Pada buku Perahu Kertas, saya sampai tersedu sedan ketika membacanya. Jadi, salah satu mimpi saya sejak lama juga adalah bisa bertemu langsung dengan Dewi Lestari, berbincang sebentar, meminta tanda tangan dibukunya, dan foto bersama. Jadi ketika tahu Dewi Lestari akan ada sesi dihari sabtu bersama Ika Natassa yang bertema “Woman and The City” saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selama 30 menit saya mendengarkan dengan anteng talkshow dalam bahasa inggris tersebut. Sampai sesi tanya jawab, saya langsung mengacungkan tangan, padahal pada saat itu saya belum tahu apa yang akan ditanyakan (kebiasaan!!). Pikir saya, mumpung ada kesempatan. Dan saat itu saya satu-satunya orang yang mengacungkan tangan pada saat sesi awal tanya jawab.

Foto 8 (Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa Penuh)

Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa Penuh

Dewi Lestari, penulis beberapa buku bestseller, termasuk “Supernova” dan “Perahu Kertas” pada tahun 2014 merupakan perwakilan Indonesia yang secara simbolis menerima tampuk bergilir sebagai tamu kehormatan 2015, dari Finlandia sebagai Tamu kehormatan pada FBF 2014. Pada saat itu Dee, panggilan Dewi Lestari mengatakan bahwa sebagai tamu kehormatan, Indonesia akan mendapatkan sorotan yang lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, yang artinya ada pekerjaan dan tanggunjawab yang harus diselesaikan sebelum Oktober 2015. Tanggungjawab yang dimaksud berhubungan dengan penerjemahan. Dari setiap naskah Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa asing, jendela pengetahuan dunia tentang Indonesia terbuka semakin lebar.

”Saat ini, karena terbatasnya jumlah buku Indonesia yang diterjemahkan, boleh dibilang kondisi perbukuan kita gelap gulita di luar sana. Jika kita melihat begitu banyaknya judul buku menghiasi rak-rak benderang di Gramedia, gulita itu tidak terasa. Tapi, setiap saya diundang ke berbagai festival buku internasional, di sanalah saya mendapatkan kondisi perbukuan kita yang gelap dan terkucil. Setelah bicara berbusa-busa dengan penuh percaya diri di panggung bersama para penulis mancanegara, pertanyaan sederhana seorang penonton, “Where can I get your book?” menjadi pukulan telak yang cuma bisa saya tangkis dengan senyum semanis mungkin sambil berkata, “Unfortunately, it’s not yet available in English.” Skakmat” begitu yang dijelaskan Dee dalam websitenya deelestari.com. Karenanya, tugas Indonesia sebagai tamu kehormatan pada tahun 2015 bukanlah pekerjaan yang ringan. Mengajak mata dunia untuk memandang literasi Indonesia.

Foto 9 (Dewi Lestari Ika Natassa)
Dee dan Ika Natassa membicarakan topik yang relevan dengan kondisi saat ini yaitu tentang perempuan, kota dan problematikanya. Dua topik ini lekat dengan cerita-cerita yang ditulis oleh kedua penulis tersebut. Ika Natassa merupakan penulis best seller yang salah satu karyanya adalah “Twivortiare” dan karya terbarunya adalah “Critical Eleven”. Dee dan Ika Natassa dianggap mampu mewakili pemikiran wanita & problematika yang banyak ditemui generasi saat ini. Dee yang menggabungkan science dan fiction ke dalam nuansa karyanya mengaku selalu memberikan bumbu – bumbu problematika saat ini ke dalam tulisannya, berbagi cerita tentang proses pembuatan karakter setiap tokoh dalam novelnya, serta membacakan bagian scene dalam bukunya, “Supernova”. “Proses menulis yang saya alami adalah pembelajaran seumur hidup. Writing is like building your muscles.”, ujarnya.

Sementara Ika Natassa bercerita tentang proses produksi dan pembentukan karakter novel yang tidak hanya bermodalkan fiksi, tetap juga merupakan hasil riset dari karakter – karakter masa kini yang ‘nyata’ ada di kehidupan sehari – hari. Karenanya karya Ika Natassa tidak pernah jauh dari cerita dan jejak kehidupan sosial kaum urban Jakarta dengan segala lika likunya. Sesi diskusi ini mendapatkan perhatian pengunjung dari berbagai kalangan, terutama para penggemar Dee dan Ika yang datang dari sekitar wilayah Eropa. “Untuk penulis – penulis Indonesia yang karyanya ingin dikenal di dunia internasional, pastikan konten dan isi cerita yang kita tulis sudah cukup berkualitas. Menangkan dulu pasar nasional, baru kemudian kita sama –sama berkonsentrasi untuk memperkenalkan karya ke pasar internasional. Tahun ini sebagai tamu kehormatan, beruntung sekali kita penulis – penulis Indonesia mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan kelompok publishers yang datang dari seluruh penjuru dunia. Tidak hanya itu, event ini juga menjadi panggung bagi kita untuk memperkenalkan budaya bangsa,” pesan Dee dan Ika Natassa diakhir sesi.

Dan pada akhirnya saya bisa mewujudkan impian. Meminta tanda tangan, berbincang sebentar dan berfoto bersama Dewi Lestari. Bahagia luar biasa dan tidak terkira rasanya.

Foto 10 (Foto dengan Dee dan meminta tanda tangan didua bukunya, Gelomband dan Partikel)

Misi selanjutnya adalah menemui penulis idola yang kedua, yaitu Andrea Hirata. Saya menyukai bukunya sejak Laskar Pelangi. Buku dan film Laskar Pelangi sukses membuat saya menangis sekaligus semakin yakin akan kekuatan mimpi, doa dan kegigihan dalam mewujudkan mimpi kita. Sejak saat itu saya semakin berani untuk bermimpi dan berusaha keras serta cerdas untuk mewujudkan setiap mimpi tersebut. Rasanya masih tidak percaya juga bisa meminta tandatangan pada buku terbaru Andrea Hirata yang berjudul Ayah. Terus terang saya belum membaca Ayah sama sekali karena baru mendapatkan buku tersebut dari seorang teman yang ke Den Haag 2 hari sebelum saya berangkat ke Frankfurt. Beruntung, pikir saya.

Pengalaman yang tidak akan terlupakan untuk saya karena bisa mewujudkan impian lama. Secara keseluruhan saya merasa terharu dan bangga dengan tampilnya Indonesia sebagai tamu kehormatan di FBF 2015. Melihat dan merasa dekat dengan Indonesia ketika saya sedang jauh dari Indonesia. Angkat topi kepada Goenawan Mohammad selaku Ketua Komite Nasional Pelaksana serta sekitar 80 penulis dan total 300 orang budayawan maupun seniman yang berkumpul dan mensukseskan peran Indonesia sebagai guest of honor pada acara bergengsi tersebut. Meskipun banyak kritik disana sini tentang tidak sempurnanya Indonesia sejak tahap persiapan yang super mepet sampai pada acara berakhir, tetapi langkah awal ini membawa optimisme tersendiri akan Indonesia dan Industri buku Indonesia dimata Internasional. Bukankah perjalanan panjang dan besar selalu diawali dengan langkah yang kecil. Jika tidak dimulai saat ini, maka tidak akan pernah tampak juga perubahaan besarnya dikemudian hari.

Video Dee menjawab pertanyaan saya serta pembacaan penggalan Supernova 1 dalam bahasa Inggris dapat dilihat disini : https://www.youtube.com/watch?v=UooYF_pw-So

————————

Koleksi foto pada laman ini adalah karya Deny – dengan  gambar-gambar  penunjang terhubung dengan image URL gambar aslli.

Deny Lestiyorini- Indonesian living in Den Haag |IG : @deny_l
Blog : http://denald.com/ Twitter : @denald

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 2)

925351_547216565411067_743477697_aBeth Agustina. Has been living in Germany for 8 years. Full time happy SAHM and part time passionate portrait photographer.

Hajat tahunan Frankfurt Book Fair yang digelar selama lima hari akhirnya selesai juga hari Minggu kemarin. Konon banyak buku-buku yang diobral bahkan gratis di hari terakhir (Minggu 18 Oktober 2015). Sayangnya saya datang hanya di hari Sabtunya saja, jadi tidak kebagian obralan. Tapi lumayan juga sih, mendapat buku-buku kortingan setelah tawar menawar tingkat tinggi dengan di beberapa stand penerbit. Untung suami saya tidak ikut masuk ke pameran buku ini, dia suka malu mendapati istrinya nggak tahu malu tawar-menawar harga 😀

Indonesia menjadi tamu kehormatan di acara Franfurt Book Fair tahun ini dengan fokus utama penulis-penulis wanita Indonesia yang menyinggung topik tabu seperti seks dan agama dalam karya-karya mereka. Jauh hari sebelum hajatan literatur terbesar di dunia ini dibuka, berita tentang kultur, budaya dan literatur Indonesia sudah banyak menghiasi beberapa media di Jerman. Di samping berita tentang kehadiran Salman Rushdie di acara pembukaan pameran dan boikot dari negara Iran karenanya, tentunya.

APw4_ONdQ_3AGFtxd4QI3F31vk5XLn4eTh3kWFEbkXk,SYedbeWWJYURa9Z1cc7gonwY8oO7s0eEAtBwD08qfcU

Frankfurt Book fair dibuka untuk umum pada dua hari terakhir, 17 dan 18 Oktober 2015. Tiket masuknya berharga 18,00 Euro sehari, yang termasuk normal untuk tiket pameran berkelas internasional seperti ini. Khusus untuk refugees, yang saat ini sedang ramai-ramainya membuat pemerintah dan warga negara Jerman pusing tujuh keliling, mereka mendapat fasilitas masuk gratis.

Saya lumayan menyesal hanya datang di hari Sabtunya saja. Bukan masalah obralan buku di hari terakhir, namun karena saya belum khatam mengelilingi semua halls dan stand. Hari itu saya hanya berkonsentrasi pada jadwal acara dari Indonesia dan mencari buku anak-anak sedangkan sebenarnya ada lebih dari 7000 peserta pameran 100 negara yang rutin mengikuti Frankfurt Book Fair. Tapi not bad juga sih, semua target saya terpenuhi; melihat acara tanya jawab Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori, menemui senior jaman kuliah Beng Rahardian dan Eko Nugroho-para komikus kondang tanah air, mengikuti acara interview Andrea Hirata dan tentunya membeli beberapa buku anak berbahasa Indonesia yang tidak bisa saya dapatkan di sini -itupun pilihannya terbatas karena sebenarnya hari Sabtu itu belum diadakan transaksi jual beli. Oh ada satu acara yang tak bisa saya ikuti karena saya datangnya telat, acara show cooking-nya Chef Vindex!

ANDREA HIRATA

Andrea Hirata untuk ketiga kalinya kembali diundang untuk menghadiri Frankfurt Book Fair, sebuah pameran buku terbesar di dunia. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya sempat mengikuti interview Andrea Hirata di booth milik stasiun TV Jerman 3Sat. Sempat bangga juga saya melihat bangku penonton langsung penuh begitu session Andrea Hirata tiba. Dan serunya lagi, 95% penontonnya bukan orang Indonesia padahal buku-buku Andrea Hirata baru ada versi bahasa Jermannya sejak bulan September kemarin. Di Amazon.de buku Laskar Pelangi yang dalam bahasa Jermannya Die Regenbogentruppe mendapat review 4,5 dari total 5 dari para pembacanya. Yay!


Dulu waktu saya masih baru-barunya di Jerman (tahun 2007), buku Andrea Hirata belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan setiap kali ada yang bertanya kepada saya tentang pendidikan di Indonesia, saya selalu menyelipkan cerita dari bukunya Andrea, tentang perjuangan Ikal dkk. dalam menempuh ilmunya. Teman-teman saya yang kebanyakan lahir dan besar di Jerman sangat tertarik dengan Laskar Pelangi dan banyak bertanya tentang kebenarannya, bagaimana dengan sistem pendidikan pada umumnya di Indonesia dan bagaimana dengan sekolah saya sendiri. Apalagi saat itu di Jerman sedang ramai-ramainya demonstrasi mahasiswa yang tidak puas dengan  fasilitas di Universitas Negeri yang kurang dan buku-buku diktatnya yang mahal. Teman-teman yang sudah kena setrum cerita Laskar Pelangi inipun kemudian berkata betapa kurang bersyukurnya mahasiswa di Jerman yang berdemo itu karena biaya kuliah di Jerman sebenarnya termasuk yang paling murah di dunia, bahkan biaya sekolah sampai SMA pun gratis. Dan buntutnya mereka ingin sekali membaca buku Laskar Pelangi. Tahun ini harapan mereka akan saya kabulkan!

Dalam interview di stasiun 3Sat kemarin, Andrea Hirata sempat diminta untuk mendeskripsikan bangsa Indonesia yang complex ini hanya dalam 3 kalimat pendek. Menurut Andrea, bangsa Indonesia itu toleran, bangsa Indonesia itu suka belajar dan yang terakhir, bangsa Indonesia itu suka tersenyum yang disambut dengan senyum lebar para pengunjung. Pembawa acara cantik yang mewawancarai Andrea Hirata juga sempat menanyakan seberapa penting pengaruh  magic di Indonesia karena dalam buku Sang Pemimpin (Jerman: Der Träumer) ada bagian di mana Ikal menuliskan harapannya di secarik kertas yang digantung di sebuah layang-layang. Menurut Andrea Hirata magic merupakan bagian dari kultur Indonesia dan  sebagai seorang penulis cultural fiction, memasukkan unsur-unsur magic itu baginya merupakan hal yang penting. Yang paling lucu adalah ketika Andrea Hirata membacakan bagian dari Sang Pemimpi, tentang asal-usul namanya (Andrea Hirata sempat ganti nama 9 kali!) yang sayangnya tidak diterjemahkan secara lengkap oleh si penerjemah sehingga pemirsa non-Indonesia tidak bisa ikut cekikikan seperti saya. Video tentang interview Andrea Hirata ini bisa dilihat di websitenya 3Sat.

Setelah interview usai, saya dan dua orang teman saya langsung bergegas ke backstage, mau minta tanda tangan dan foto bareng. Rupanya di sana sudah banyak orang yang antri, kebanyakan mahasiswa dari Indonesia. Andrea Hirata sempat bertanya apakah ada dari kami yang memiliki bukunya dalam versi bahasa Jerman. Sayangnya kami belum punya tapi saya janji mas, saya akan segera beli buku itu secara dari dulu saya memang sudah tidak sabar, ingin teman-teman Jerman saya membaca buku itu.

Andrea Hirata orangnya sangat ramah, sedang sibuk-sibuknya sesi tanda tangan, dia sempat-sempatnya bercerita kalau editornya masih lajang. Maksudnya bagaimana nih mas?

Buku Anak

Ohya, saya sempat  membeli beberapa buku anak-anak berbahasa Indonesia buat si Flipper (anak perempuan saya), salah satunya adalah buku ‘Indahnya Negeriku’ – Berpetualangan bersama Ella dan Eza dari penulis Fitri Kurniawan dan Watik Ideo (Penerbit: Bhuana Ilmu Populer). Buku yang rupanya bilingual ini (Indonesia dan Inggris), mengisahkan tentang dua kakak beradik Ella dan Eza yang berwisata berkeliling Indonesia ke 13 kota dari Sumbawa sampai ke Sulawesi Utara.

Menurut saya ceritanya standar saja. Di setiap kota yang disinggahi, mereka bertemu dengan kenalan baru yang mengenalkan mereka dengan budaya setempat seperti tari-tarian, kerajinan tangan dan makanan dengan latar belakang ilustrasi rumah adat mereka. Saya sebut standar karena informasi-informasi pendek seperti ini seingat saya sudah ada di buku pelajaran jaman SD atau SMP dulu yang saya yakin saat inipun masih ada. Tapi dengan illustrasi penuh warna dan teks non-formal membuat buku ini tentu saja lebih menarik dari buku pelajaran sekolah.

Yang lebih menarik lagi  -dan tidak ada di buku pelajaran- adalah pengenalan makanan setempat di setiap kota yang mereka singgahi.  238 halaman, 13 kota, 19 ilustrasi makanan (38 halaman), nom! Waktu suami saya baca buku ini komentar pertamanya adalah, “pantas saja orang Indonesia suka makan.” Yup, pengenalan makanan sejak dini! Bisa jadi dia iri hati juga karena kulinari Jerman tidak sekaya kulinari di Indonesia.

Ikan gabus kuah kuning, makanan khas Papua

Makan wadi, makanan khas suku Dayak sambil membahas senjata Sipet dan Mandau

Cukup menarik khan? 🙂

——–

Foto-foto pada laman ini adalah karya Beth, dengan beberapa foto pendukung yang terhubung dengan link pada foto.

https://autumnisokay.wordpress.com & Instagram @frausie