Merantau di Kuwait

profile picAhaddini Maretty (Dini) – Has been living in Kuwait since 2009 with two awesome sons Farrel and Rafan and a loving husband Rino. Manga-lover, K-Drama lover. Passionate about arts & crafts. Used to hate garlic and veggies, now can’t live without ones. Food Photographer and Food Stylish of Hijabella Magazine.

DINI DAN KELUARGA

Assalamu’alaikum… Saya Ahaddini Maretty yang akrab di panggil Dini, Bunde atau Dinky. Sebelum merantau, saya bekerja sebagai designer di salah satu perusahaan garmen internasional dan designer di sebuah perusahan fashion apparel lokal di Jakarta. Pada pertengahan tahun 2008, suami saya, Rino, yang pada saat itu bekerja di salah satu perusahaan advertising di Jakarta, mendapat tawaran pekerjaan di salah satu TV swasta di Kuwait. Kesempatan ini langsung kami sambut dengan semangat. Jadilah pada bulan Oktober 2008, suami pergi ke Kuwait, sementara saya dan anak kami tinggal di Indonesia. Sementara itu Rino tinggal bersama keluarga tante (adik mama saya) yang sudah lama tinggal di Kuwait di daerah Jabriya. Setelah 4 bulan, Rino menyewa apartemen untuk keluarga kecil kami di daerah Salmiya. Setelah resign dari tempat saya bekerja, pada 2009 bulan Februari saya dan anak kami Farrel yang saat itu berumur 23 bulan berangkat ke Kuwait ditemani mama saya.

Our family from years to years in Kuwait.  (photo courtesy Eman Sagala)
Our family from years to years in Kuwait (photo courtesy Eman Sagala)

Bulan-bulan awal merantau, sebagaimana yang dialami juga oleh para mamarantau lainnya, adalah masa penyesuaian buat keluarga kami. Khusus buat saya, sebelumnya saya gak bisa masak sama sekali, tapi di sini harus bisa masak. Sebelumnya pekerjaan rumah tangga ketika di Indonesia dikerjakan ART, di sini harus dikerjakan sendiri. Langsung deh belajar masak sama mama, dan selanjutnya learning by doing aja.

2

Creating memory in Kuwait with our kids, playing, drawing and baking.

Ketika awal di Kuwait, mama dan papa saya sempat mendampingi selama 3 bulan pertama – walau tidak tinggal bersama kami, melainkan di tempat tante. Nah, selepas ditinggal mama dan papa balik ke Indonesia, baru deh berasa banget yang namanya tinggal sendiri, jauh dari orang tua, semua perlu penyesuaian, termasuk dalam urusan mengurus anak dan rumah. Satu hal yang paling saya syukuri dari awal merantau ini, walaupun jauh dari tanah air, di Kuwait masih ada tante, om dan sepupu. Dan Alhamdulillah, selama ini Rino pengertian banget dan mau bahu membahu mengurus anak dan rumah. Gak terasa sudah 6 tahun lebih kami tinggal di Kuwait. Bahkan anak kedua kami pun lahir di Kuwait pada tahun 2012.

Kegiatan yang saya sukai di sela-sela waktu luang.

Arts & crafts: kegiatan yang saya sukai di sela-sela waktu luang.

Kuwait first to do:

Mempersiapkan Dokumen Awal Kepindahan

Dokumen yang harus disiapkan suami sebelum mendatangkan saya dan Farrel ke Kuwait pada tahun 2009 adalah mengurus family visa. Setelah visa selesai lalu di kirim ke Indonesia. Selanjutnya saya dan Farrel melakukan medical check up di klinik An-Nur yg berlokasi di Tebet yang telah di tunjuk oleh Kedutaan Kuwait. Dokumen yang harus disiapkan adalah:

  • Pas photo 4×6
  • Fotokopi paspor
  • Fotokopi surat imunisasi (berbahasa inggris) dari dokter anak.
  • Visa asli yang dikirim suami

Setelah mengambil hasil medical check up keluar (1-2 hari) kami langsung menuju Kuwait Embassy di kawasan Kuningan untuk di-stamp Dokumen yang diperlukan:

  • Visa asli
  • Paspor asli
  • Hasil medical check up

Lama proses stamp bervariasi, Alhamdulillah waktu itu dokumen kami selesai di-stamp hari itu juga gak lebih dari 1 jam. Kami dipersilahkan menunggu di lobby Kedutaan Kuwait. Setelah semua dokumen lengkap dan di stamp we are ready to go!

Fish Market near Souk Sharq

Fish Market near Souk Sharq

Mengurus Dokumen Awal di Kuwait

Sesampainya di Kuwait kami harus segera mengurus Civil Identity Card atau biasa di sebut Civil ID (KTP nya Kuwait), dikeluarkan oleh Public Authority for Civil Information (PACI). Di Kuwait saya melalui proses medical check-up (mcu)  lagi di rumah sakit pemerintah sini. Karena Farrel masih anak-anak, tidak perlu mcu lagi.

Setelah hasil mcu keluar maka kami mengurus iqomah atau Residence Visa.  Setiap pendatang wajib mempunyai Civil ID dan asuransi, untuk tahun pertama dikenakan biaya sebesar 150 KD untuk dewasa, 140 KD untuk anak-anak ( 1 KD = Rp. 43.532), yang nantinya harus di perpanjang setiap tahun. Tahun berikutnya hanya membayar asuransi 40 KD untuk dewasa, 30 KD untuk anak-anak, dan Civil ID 2 KD.

Persyaratan untuk mengurus Civil ID sekarang berbeda dengan dulu waktu kami pertama kali datang ke Kuwait tahun 2009. Untuk lebih lengkapnya mengenai persyaratan Visa dan Civil ID di Kuwait bisa di lihat di website ini

TENTANG VISA kuwait

Visa yang kami gunakan adalah Residence Visa (Iqomah), yang harus diperpanjang setiap tahun. Setiap warga asing yang tinggal di Kuwait harus memiliki sponsor, suami saya di sponsori oleh perusahaan, saya dan anak-anak di sponsori oleh suami. Visa ini berlaku untuk suami yang bekerja di perusahaannya. Sedangkan untuk saya, tidak diperbolehkan untuk bekerja dengan visa ini, apabila ingin bekerja di sini harus bikin visa lagi dan sponsornya harus perusahaan yang memperkerjakan.

Apartment buildings at night

Apartment buildings at night

BENEFIT DARI PEMERINTAH KUWAIT

Setiap pemegang Civil ID berhak mendapatkan layanan rumah sakit/ klinik pemerintah secara gratis. Cukup membayar stamp sebesar 1 KD atau 2 KD untuk biaya administrasi, obat-obatan pun gratis. Untuk medical check up seperti rontgen atau cek darah biasanya dikenakan biaya stamp sebesar 5 – 10 KD. Untuk vaksinasi anak tidak di kenakan biaya stamp sama sekali.

Di Kuwait setiap expat yang telah bekerja selama minimal 3 tahun berhak mendapat indemnity dari perusahaan di mana dia bekerja apabila dia resign atau di berhentikan.

  • 3 tahun masa kerja mendapat: 1/2 gaji x 3
  • 5 tahun masa kerja mendapat: 2/3 gaji x 5
  • 10 tahun masa kerja mendapat: full gaji x 10

Pertengahan tahun 2014 lalu Rino mendapat kesempatan untuk bekerja di salah satu Architecture and Engineering Firms di Kuwait. Kesempatan ini kami pertimbangkan dan akhirnya suami resign dari kantor yang lama dan pindah ke kantor yang baru. Karena masa kerja suami sudah mencapai 5 tahun jadi dapet deh indemnity, Alhamdulillah banget khan…! Hehehhe *dora dancing* 😉

TENTANG KUWAIT

Kuwait terbagi dari 6 governorates (muhafazah) yang masing-masing di pimpin oleh Gubernur. Kuwait city adalah pusat kota Kuwait. Keenam Muhafazah tersebut adalah: Jahra, Al Asimah (Capital), Farwaniya, Hawalli, Mubarak Al-Kabeer, dan Ahmadi.

Pembagian Governorates di Kuwait

Hampir 70% penduduk Kuwait adalah warga asing (expat/ imigran) dan 30 % nya warga asli Kuwait. Maka untuk tempat tinggal banyak sekali apartemen atau villa yang disewakan bagi expat di Kuwait. Apartemen di sini rata-rata terdiri dari 10 lantai. Villa rata-rata terdiri dari 3 – 4 lantai.  Keluarga kami tinggal di Salmiya yang masuk kedalam wilayah Hawalli, lumayan dekat dengan pusat kota, jaraknya sekitar 15 menit dengan menggunakan mobil.

A glimpse of Kuwait.  Top row: Kuwait tower, Kuwait City, Liberation tower.  Centre: Kuwait City view from Marina.  Second & Third row: Grand Mosque Kuwait Fourth row: Neighbourhood in Kuwait

A glimpse of Kuwait.
Top row: Kuwait tower, Kuwait City, Liberation tower. Centre: Kuwait City view from Marina. Second & Third row: Grand Mosque Kuwait. Fourth row: Neighbourhood in Kuwait

Di wilayah Salmiya biaya apartemen untuk 2 kamar tidur berkisar antara 250 KD – 500 KD, untuk 3 kamar tidur atau lebih sekitar 350 KD – 1000 KD. Sejak datang ke Kuwait kami sudah dua kali pindah apartemen. Dulu kami tinggal di apartemen 1 kamar tidur, sekarang 2 kamar tidur. Pertimbangan kami untuk tinggal di Salmiya karena dekat dengan pusat kota, pantai, sekolah anak, taman, mall, dan supermarket.

Salmiya Garden, public garden near our apartment.

Salmiya Garden dekat apartemen kami: kita biasa nyebut taman ini Taman India, karena banyak orang India yang jogging, main cricket atau sekedar piknik di taman ini.

HAL-HAL YANG DISUKAI dari TINGGAL DI KUWAIT

Saya suka sekali dengan sistem pemerintahan Kuwait yang Islami. Bebas pajak, makanan di jamin kehalalannya, tidak ada minuman beralkohol yang dijual bebas. Pemerintah Kuwait sangat mendukung perkembangan Islam. Terbukti dengan adanya Islamic Center of Kuwait  dengan berbagai program-programnya. Ada juga Islam Presentation Committee (IPC)  di sini kita bisa les bahasa Arab secara gratis.

Suasana di dalam Grand Mosque Kuwait saat bulan Ramadhan – ini adalah masjid terbesar di Kuwait

“Shark Building” : Kuwait Scientific Center at the top of Arab Gulf Rd is a massive building that faces the water, and its beautiful and enchanting design reflects Islamic art and culture. You can spend hours wandering the huge aquarium, discovery hall, and watching the documentary film screenings.

Tapi kalau yang paling disukai *ehem* sudah pasti musim SALE-nya..! Hehe. Di Kuwait, kalo lagi sale nendang banget harganya. Kesempatan ini biasanya kami gunakan untuk belanja baju-baju mumpung bisa dapet baju dari harga 1 KD – 5 KD…! (Inget khan, bahwa 1 KD itu berkisar IDR 43.000 – dan currency dengan nilai mata uang tertinggi sedunia. So, every fills counts (fills = pecahan receh dari Dinar, seperti ‘cents’)..!

kesan tentang KUWAITI

Orang Kuwait sangat taat beribadah, di dalam mall pun banyak terdapat Musholla dengan jarak yang berdekatan. Mereka sangat tepat waktu dalam beribadah dan terlihat sering menjaga wudhu. Perempuan Kuwaiti kebanyakan mengenakan abaya, lelakinya mengenakan disdasha. Beberapa juga mengenakan pakaian biasa dan yang perempuannya mayoritas mengenakan hijab.

This is a useful illustration done by Liz Ramon-Prado explaining the different types of Dishdasha, Thobe, Kandura (Men’s Traditional Costume) worn by each of the GCC countries and how they have their Qetra, Shmaq (Head piece ) worn.

Orang-orang yang menggunakan Dishdasha biasanya lebih diakui di lingkungan sekitar. Diakui dalam arti, dia adalah seorang Kuwaiti, walaupun sebetulnya dari wajahnya juga sudah bisa kelihatan orang Kuwaiti atau tidak. Hal ini juga berlaku dalam menghadiri acara formal, Dishdasha harus melekat, jika tidak, maka nilai kehormatannya sedikit berkurang.

Kesan lain tentang Kuwaiti terlepas dari yang baik-baiknya, ada juga Kuwaiti yang kurang memandang warga asing dan tidak mau antri. Sering banget ketika lagi antri di selak antriannya.  Tambahan cerita tentang selak-menyelak cukup tergambarkan di blog ini, yang saya lansir sebagai berikut:

Di Kuwait dan juga negara negara Arab sekitarnya masalah ngantri sangat unik dan menarik. Tidak seperti di Singapore atau negara -negara bule di mana suasana ngantri sangat tertib dan rapi. Enak dipandang tidak ada yang nyerobot ke depan. Di Indonesia, kalau ada yang nyerobot selalu diteriaki pengantri lain yang sudah lama berdiri nggak maju-maju. Di Kuwait nggak ada yang berani teriak, gimana mau teriak kalau semuanya nyelonong ke depan sesukanya. Hanya expats dari Philipine, Nepal, Indonesia dan negara negara Eropa dan AS saja yang berusaha setengah mati untuk tertib ngantri. Expats dari Mesir, Lebanon, Oman, Qatar, UAE, Saudi, Yaman dan juga Kuwait sendiri jangan harap mau ngantri. Kalaupun ada yang ngantri, sudah bisa dipastikan bahwa mereka sangat ‘well educated’.

Gambar di atas: kalau ada wanita yang nyelak, dianggap “halal” dan dimaklumi. India di belakangnya? Nehi-nehi..! (dimarahi oleh petugas)

Kecelakaan lalu lintas juga sering terjadi, makanya harus extra hati-hati saat berkendaraan. Ohya, Kuwaiti juga sangat suka dengan anak kecil, kemana pun kami pergi pasti akan selalu di sapa ramah, bahkan beberapa langsung mendekati anak kami, ngasih permen atau coklat bahkan menggendongnya..! Waktu awal-awal sempet kaget juga, tapi lama-kelamaan jadi maklum, karena memang mereka ramah sekali sama anak-anak.

Pengalaman yang agak lucu: sering kali kami disangka orang Filipin atau Malaysia, dan kami jelaskan kalo kami dari Indonesia, reaksi mereka “Indonisi? very good, good workers very clean and nice”. Nah maksudnya? Hahaha, jangan kaget kalo mind set mereka negara Indonesia itu ya negara maid-nya mereka. Tapi itu dulu banget ya… sekarang Alhamdulillah sudah banyak orang sini yang melek kalo orang Indonesia banyak juga yang bekerja di bidang profesional.

TRANSPORTASI UMUM

Transportasi umum di Kuwait hanya bis. Namun halte satu dengan lainnya berjarak cukup jauh. Warga Kuwait dan expat lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi.  Terdapat tiga jenis bus umum yang beroperasi di Kuwait: KPTC, CityBus, dan KGL yang cukup bersih, aman dan nyaman.

CityBus

Berdasarkan info dari blog ini: bus di Kuwait tidak mengenal sistem setoran. Juga tidak ada kondektur. Si supir bus selain bertugas mengemudi, juga bertanggung jawab penuh atas uang yang ia tarik dari para penumpang. Setiap penumpang yang naik, akan diberikan selembar karcis yang terdapat sebuah nomor di kertasnya. Nomor-nomor karcis ini berguna untuk pemeriksaan di tengah jalan oleh petugas pemeriksa karcis. Cara penerapan tarifnya berdasarkan jarak. Bukan jarak jauh dan dekat. Tapi jarak antar daerah. Misalnya, dari daerah A ke B ditentukan 250 fils. Dari daerah A atau B ke daerah C ditentukan 300 fils. Jadi, walaupun kita naik dari perbatasan daerah B ke daerah C, tetap saja dihitung 300 fils. Dan penerapan tarif ini sudah baku. Dan sangat ditaati oleh semua supir bus. Ada beberapa penumpang yang marah-marah karena ini, tapi tetap saja tak ada kompensasi. Kadang si penumpang disuruh jalan terlebih dahulu untuk mendapatkan karcis yang lebih murah. Konsekuensinya, ketinggalan bus.. hehhe…

Believe it or not selama tinggal di Kuwait kami sama sekali belum pernah naik bis umum di sini, karena memang lebih nyaman dan praktis naik mobil pribadi. Harga mobil di sini terbilang murah yaitu 2,5 kali lipat lebih murah dibanding di Indonesia. Motor gede biasanya digunakan warga Kuwait saat musim dingin, ya panas banget kali kalo naik motor saat musim panas yang bisa mencapai 50 derajat celcius, rasanya muka kayak di blow pake hair dryer raksasa..! Haha. Harga bensin kualitas super pun murah hanya 65 fills/liter ( Rp. 2.780/liter ).

Alternatif kendaraan lain adalah taksi, saya dan teman-teman kalo pergi tanpa suami misalnya ke pengajian atau ke rumah teman biasanya menggunakan jasa taksi. Taksi ini sudah jadi langganan kami yang bisa dipesan melalui telfon atau whatsapp.

PERSYARATAN PEMBUATAN SIM di kuwait

Syarat untuk membuat SIM di Kuwait bagi expat adalah minimal tingkat pendidikan harus S1. Dan minimal harus sudah tinggal di Kuwait selama 2 tahun. Waktu Rino bikin SIM pertama kali yang disiapkan adalah legalisir ijazah S1 yg harus di-attested di Kedutaan Kuwait di Jakarta, lampiran SIM Indonesia, lampiran golongan darah dari klinik dan surat permohonan pembuatan SIM kuwait yang dikeluarkan oleh KBRI kuwait.

Setelah itu dokumen dibawa ke traffic department sesuai area tempat tinggal, dari sana akan dikeluarkan surat untuk ujian test mata di klinik area tempat tinggal. Setelah lulus proses test mata, kembali lagi ke traffic department untuk dibuatkan Isthimara (kartu untuk jadwal ujian praktek). Kartu Isthimara ini juga berfungsi untuk daftar sekolah menyetir sebelum kita melakukan ujian.

Setelah itu prosesnya yaitu membuat appointment untuk test. Setelah mendapatkan appointment tahap selanjutnya adalah ujian teori dan ujian praktek di tanggal yang sudah ditentukan. Jika ujian teori lulus berlanjut ke ujian praktek dengan menyewa mobil 10 KD dan membayar test 5KD. Jika tidak lulus maka harus mengulangnya lagi dengan membuat appointment ulang. Jika lulus maka akan diberi lembar slip berwarna biru yang nantinya dibawa dan diserahkan ke traffic departmen sesuai alamat tempat tinggal, di sana langsung dibuatkan SIM dengan biaya 20 KD untuk masa berlaku 10 tahun.

SEKOLAH ANAK di KUWAIT

Sekolah Internasional di Kuwait banyak pilihannya. Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Inggris dan wajib belajar Bahasa Arab. Ada British school, American school, Pakistan school, dan Indian school. Dulu waktu Playgroup dan KG 1 Farrel sekolah di The English Playgroup (British curriculum) yang terletak di daerah Salwa. Di sekolah ini Farrel lebih banyak bermain sambil belajar. Setelah dua tahun di sekolah EPG kami memutuskan untuk memindahkan Farrel ke sekolah yang lebih dekat dengan rumah, karena pertimbangan perkembangan anak kami dan juga biaya sekolah. Setelah survey ke beberapa sekolah akhirnya pilihan jatuh ke Pakistan School & College Salmiya (British & Pakistan curriculum) yang sudah berdiri di Kuwait sejak tahun 1960. Di sekolah ini porsi pendidikan agama dan Qur’an nya lebih banyak di banding sekolah Farrel sebelumnya. Dengan banyaknya pilihan sekolah di Kuwait, kita bisa memilih yang sesuai dengan kebutuhan anak dan prioritas kita. Alhamdulillah Farrel menikmati masa-masa sekolahnya di sini.

PENGALAMAN HAMIL DAN MELAHIRKAN di kuwait

Rafan, anak kami yang kedua lahir di Kuwait. Pada waktu hamil, saya check-up rutin di private clinic. Karena kalo check up di rumah sakit pemerintah tidak boleh di temani suami dan anak walaupun biayanya jauh lebih murah dibanding private clinic. Sedangkan kami ingin Farrel juga tau dan liat perkembangan kandungan calon adiknya. Untuk tempat melahirkan kami sepakat memilih rumah sakit pemerintah dengan berbekal cerita pengalaman teman-teman yang pernah melahirkan di sana dan beberapa teman saya yang berprofesi sebagai perawat, jadinya lebih tenang karena ada kenalan di sana.

Rafan’s baby crib

Rafan’s baby crib: Kamar yang saya persiapkan untuk Rafan, semua di kerjakan saat kehamilan Rafan, dari bikin boneka, gambar, sampai bikin mural. Salah satu kegiatan yang saya suka adalah mendekor interior, ada rasa kebahagian tersendiri saat proses dari cari ide sampai saat mengerjakan semuanya sendiri sampai selesai.

Saya melahirkan di Sabah Hospital dengan hanya membayar stamp sebesar 2 KD saja. Saat persalinan, suami dan keluarga tidak diperbolehkan ikut masuk ruang bersalin. Sepi banget memang rasanya, tapi Alhamdulillah proses kelahiran anak kami yang kedua lancar. Setelah selesai persalinan keluarga diperbolehkan masuk ruang rawat. Senang rasanya melihat mama, suami, Farrel dan saudara-saudara saat setelah berjuang melahirkan Rafan. Teman-teman pun datang menjenguk.

Waktu itu saya udah seneng, karena mengira dua hari di RS sudah bisa langsung pulang ke rumah. Tapi ternyata Rafan waktu itu sempat kuning, jadi harus masuk inkubator. Keluarga tidak diperbolehkan menginap d RS, hanya boleh menjenguk pada jam-jam besuk saja. Setelah 5 hari di RS akhirnya kondisi Rafan membaik dan kami diperbolehkan pulang.

ADAPTASI awal di kuwait

Bahasa. Alhamdulillah waktu pertama kali datang ke Kuwait tidak terlalu susah beradaptasi. Selain bahasa Arab, bahasa yang digunakan sehari-hari di pertokoan atau tempat makan adalah bahasa Inggris, karena para pekerjanya mayoritas adalah pendatang, yaitu dari Filipin, India, Lebanon, Mesir, Indonesia, dll. Namun di beberapa instansi pemerintah tidak semua petugasnya dapat berbahasa Inggris, kadang kala kita harus bisa berbahasa Arab agar mempermudah pengurusan surat dan dokumen-dokumen, atau kalo mentok gak bisa bahasa Arab ya ujung-ujungnya mengandalkan bahasa tubuh.

Makanan. Jenis makanan Arab juga masih cocok dengan lidah Indonesia kami, salah satu makanan favorit kami adalah Shawarma dan Nasi Machboos.

nasi machboos

Chicken Machboos. Makannya rame-rame sambil lesehan, biasanya 1 piring besar untuk 2-4 orang.

5 RESEP MAsakan MUDAH UNTUK MAMARANTAU

Dulu saya paling anti banget sama bawang putih, loh emang vampir? kok anti bawang putih? 😀 selalu gak suka sama baunya bahkan potongan kecil bawang putih aja gak suka. Nah sejak mulai belajar masak dan kenal bumbu-bumbu masakan malah jadi jatuh cinta banget sama bawang putih. Dulu paling susah banget makan sayuran, sejak mulai memasak jadi suka banget sama sayuran. Semuanya pasti ada hikmahnya dan dari hidup merantau saya juga menikmati kegiatan masak-memasak.

Hidup di perantauan membuat kita kangen makanan Indonesia maupun jajanannya. Saya lebih suka makanan yang cepat dan praktis, prioritas saya adalah masak maksimal 1 jam. Alhamdulillah bumbu-bumbu seperti di Indonesia banyak tersedia di Kuwait, walaupun ada beberapa yang harus di bawa dari Indonesia dan di stock tiap kali mudik atau bisa juga pesan lewat teman yang menjual bumbu-bumbu dari Indonesia. Beberapa tempat favorit kami untuk grocery shopping adalah Carrefour dan Sultan centre yang banyak menjual bahan-bahan makanan organik. City centre karena lokasinya dekat dengan rumah, Lulu Hypermarket lengkap dengan bahan makanan asia. Singarea – supermarket Korea yang cukup lengkap dengan bahan makanan khas Korea.

Selain itu di Kuwait banyak sekali teman-teman yang jualan makanan dan jajanan khas Indonesia. Ada yang jualan sate padang, ayam bakar nasi uduk, siomay, gudeg, nasi kapau dan berbagai macam kue-kue. Jadi kalo lagi gak masak atau lagi pengen jajan bisa beli sama mereka.

Untuk menghemat waktu saya biasanya masak cukup sekali dalam sehari untuk makan siang dan makan malam. Kadang menu untuk anak-anak bisa berbeda dari menu untuk saya dan suami misalnya anak-anak lebih suka makanan seperti pasta, mie goreng atau mie bakso. Biasanya saya lebihkan masaknya supaya bisa di simpan di kulkas untuk di makan di hari lain. Ada beberapa menu yang biasa saya masak, bahan-bahannya mudah didapat dan praktis.

Selain memasak saya juga suka membuat green smoothies, sebagai energy booster keluarga kami yang biasa diminum pagi hari sebagai sarapan:

Food Photographer dan Food Stylish

Saya berkecimpung di dalam bidang food photography awalnya sebagai hobby dan tempat menyalurkan kreatifitas. Lagi semangat belajar masak, lalu di tata sedemikian rupa dan di abadikan dengan foto. Awalnya waktu itu bareng sama teman-teman di Kuwait mulai belajar food photography, dari situ mulai cari referensi foto-foto dan banyak melihat blog food photographer ternama. Awalnya motret cuma pake kamera poket lalu ke kamera DSLR, kemudian di update di Facebook dan di blog. Sebenernya saya gak terlalu sering update blog, lebih sering update foto lewat instagram (IG). Setelah selesai masak atau baking lalu di foto pake kamera iPhone dan di upload ke IG. Melalui IG saya jadi banyak kenal teman di dunia maya dari berbagai belahan dunia, dan dari berbagai macam profesi. Dari sini saya makin pede dengan hasil-hasil foto saya, dan bikin tambah semangat untuk terus belajar food styling dan food photography.

My love for food styling & food photography

My love for food styling & food photography

Lewat IG pula saya ditawarkan menjadi kontributor salah satu agency stock photo yaitu Room the Agency . Beberapa karya saya yang bisa di beli di Room the Agency.

My Fruits photos series can be bought at Room the Agency

My Fruits photos series can be bought at Room the Agency

DINI DAN MAJALAH HIJABELLAMAGZ

Awal tahun 2013 Dian Pelangi melihat blog dan instagram saya lalu menawarkan untuk mengisi artikel mengenai masakan di salah satu majalah remaja muslim yang baru. Waktu itu saya minta pendapat dan ijin suami, setelah dapat ijin suami, saya akhirnya menyanggupi sebagai kontributor di majalah Hijabella . Setiap sebulan sekali saya mengirimkan foto dan resep makanan/ minuman yang praktis dan cocok untuk remaja. Semua file di kirim melalui email dan komunikasi dengan Editor in Chief Mba Diana Caroline melalui chat. Beberapa karya saya untuk Let’s Cook Hijabella magazine:

Greensmoothies Parfait, Overnight Fruit Oats, Yogurt Fruit Parfait

Greensmoothies Parfait, Overnight Fruit Oats, Yogurt Fruit Parfait

Kue Cubit Nutella & Cheese, Pineapple Fried Rice, Blueberry Lemon Muffins

Kue Cubit Nutella & Cheese, Pineapple Fried Rice, Blueberry Lemon Muffins

komunitas indonesia di kuwait

Tiap sebulan sekali saya dan teman-teman buncis biasanya arisan sebagai bentuk me time kami. Sebuah privilege yang diberikan para suami kepada para istri untuk kumpul tanpa suami dan anak-anak, untuk re-charge energi ibu-ibu selama sebulan. Biasanya kami makan siang bareng, shopping, nonton, main bowling atau sekedar duduk-duduk sambil ngopi-ngopi cantik dan tentunya sambil foto-foto juga 😀 Teman-teman dekat inilah yang juga bikin saya merasa betah tinggal di Kuwait.

(photo courtesy Baby)

Bersama teman-teman Indonesia (photo courtesy Baby)

Dari 9 orang, sekarang tinggal 4 orang yang tinggal di Kuwait, 3 orang sudah balik ke Indonesia, yang satu pindah ke Dubai dan satu lagi pindah ke New York. Mudah-mudahan pertemanan kami tetap terjaga walau jarak dan waktu memisahkan. Aamiin…

Selain sahabat dari “geng arisan”, di Kuwait banyak sekali komunitas warga Indonesia. Yang saya ketahui, ada beberapa komunitas pengajian sesuai dengan di daerah masing-masing yaitu Khairunnisa untuk daerah sekitar Jabriya, Salmiya dan Salwa. Pengajian Al Husna untuk daerah Riggae dan sekitarnya. Pengajian Al Kautsar untuk daerah sekitar Mangaf. Komunitas perawat Indonesia, dan komunitas “Aku di Kuwait”. Saya kebetulan ikut serta dalam kelompok pengajian Khairunnisa dan aktif sebagai salah satu pengurus. Pengajian ini di adakan setiap Selasa pagi. Farrel ikut dalam kelompok pengajian anak-anak TPA Firdaus yang diadakan setiap Kamis malam. Rino juga ikut dalam kelompok pengajian bapak-bapak setiap Rabu malam.

Getto Khairunnisa

Getto Khairunnisa

Salah satu kegiatan dari komunitas pengajian Khairunnisa adalah tilawah qur’an, tajwid, pembahasan materi tentang ilmu agama, di adakan setiap hari Selasa pagi. Setahun sekali di adakan gathering keluarga besar Khairunnisa. Dan sesekali di adakan acara jalan-jalan untuk menambah wawasan seperti ke Sadu House (Museum Tekstil Kuwait) dan Grand Mosque (mesjid Al Kabir Kuwait).

19

Piknik yang diadakan oleh keluarga TPA Firdaus Jabriya ke Kuwait Zoo, kebun binatang kecil di Kuwait. Walaupun ukurannya kecil namun cukup lumayan untuk hiburan anak-anak.

Banyak hal yang saya pelajari dari kehidupan di perantauan dan semoga beberapa yang saya sampaikan bisa membawa manfaat khususnya bagi yang hendak merantau juga ke Kuwait. Sebagai orang yang merantau, kami disituasikan untuk bisa melihat segala sesuatu dengan kacamata positif. Menggali dan mengembangkan potensi diri kami dan anak-anak. Doing what you love to do is truly a blessing, selalu berusaha bersyukur dengan setiap rahmat dan rezeki yang diberikan Allah. Jauh dari orang tua dan adik-adik membuat kami makin menghargai saat berkualitas kami bersama mereka selama di Indonesia. Alhamdulillah di Kuwait kami memiliki saudara dan teman-teman yang menorehkan warna-warni dalam kehidupan kami. Berkat mereka kami jadi semakin betah tinggal di Kuwait dan hari-hari kami jadi lebih berwarna. Kuwait adalah tempat kami membuka peluang baru dan pengalaman baru. Kuwait is our second home.

——–

Keep in touch with Dini: Instagram: Dini @dinky . Blog:  helloandyellow.blogspot.com. Foto-foto terlampir courtesy of Dini, Baby, Eman Sagala, dan Rino (IG: @ri70). Beberapa foto penunjang dan caption didapatkan dari sumber yang terhubung langsung pada gambar. Interview and edited by Mamarantau’s contributor: Yania Andarini.

Advertisements

9 thoughts on “Merantau di Kuwait

  1. arinosanai says:

    Pengalaman bermamfaat banget..jadi pengeen tinggal di Kuwait hihi itu biaya apartemen 500 KD itu sebulan ya?mahal juga ya sekitar 24juta..
    Salam Kenal ya buat mama rantau yang lainnya

    Like

  2. Amalia says:

    Halo mba..

    Salam kenal 🙂
    Blognya sangat menarik.
    Boleh tau gak mba dimana saya bisa mendapatkan toko yang menjual perlengkapan baking atau bahan untuk buat kue di kuwait..?
    Moga moga mba berkenan menjawabya, hehe..

    Terimakasih sebelumnya ya mba 🙂

    Like

  3. Aizat says:

    As’salam.. Saya dari melaysia dan sedang mencari pekerjaan disana, bagaimana untuk saya dapatkn pkerjaan disana? Harap pihak Puan/ Tuan dapat membantu berkongsi dengan saya..

    Like

  4. Fatih says:

    Hi Assalamualaikum Mbak Dini…
    senang sekali saya baca tulisan kehidupan mbak di Kuwait, karena saya merasakan sendiri bagaimana tenangnya hidup di Kuwait… dua minggu yang lalu tanggal 9/4/16 – 16/4/16 saya pergi ke Kuwait karena dapat tugas dari perusahaan (saya kerja di perusahaan kontraktor bathware dari Australia) saya untuk datang ke proyek Burj Al Shaya / Four Seasons Hotel Kuwait tepatnya di Kuwait city….

    selama saya di Kuwait saya tinggal di daerah Salmiya, yang mungkin dekat sama apartemen mbak dini…. tepatnya di Hotel Bravo Royal Salmiya…( tau gitu kalau misalnya saya sudah baca cerita mbak dini saya bisa berkunjung ke tempat tinggal mbak yang notabene sama-sama orang Indo, karena selama seminggu saya di sana saya tidak nemu orang indonesia sama sekali yang banyak orang Filipina….

    sekarang saya sangat kangen dengan suasana kuwait yang sangat tenang, saya berharap bisa datang ke sana lagi dan inshallah bisa berkunjung ke tempat atau komunitas orang Indonesia di sana

    Regards
    Mochammad Fatih Ubaidillah

    Like

  5. Tengku Syafitri says:

    Assalammualaikum mbak… saya tinggal di Kuwait, salam kenal. Boleh saya ikut pengajian dan berkenalan dengan teman2 Indonesia yang tinggal di Kuwait.

    Terima kasih
    Fitri

    Like

  6. odilia dawson says:

    Halo mbak,

    seneng banget bisa nemu blog mbak setelah browsing2 tak tentu arah tentang kuwait. saia dari surabaya sedang menunggu dependant visa dari suami yang saat ini sudah stay di kuwait.

    bolehkah saia minta kontaknya, mbak? semoga bisa terjalin silaturahmi selama merantau ke sana.

    salam,
    odilia

    Like

  7. Thia dewi R says:

    Assalamualaikum wr.wb
    Keren abis deh, semua tentang kuwait ada di blog ini, makasih banget mba atas pengalamannya,, jdi pengen berlibur ke sana

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s