Merantau di New Plymouth, New Zealand

Reziana Mauliena

Salam kenal Mantau semua! Saya Reziana Mauliena, biasa dipanggil Eji. Sejak awal tahun 2020, tepat saat awal pandemi Covid-19 dimulai, saya, suami, dan kedua anak kami merantau ke New Zealand. Ini merupakan kali kedua bagi saya merantau ke luar negeri. Sebelumnya pada tahun 2015, berdua bersama anak pertama saya yang berusia 1 tahun pada saat itu, saya merantau ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi master di University of Illinois at Urbana Champaign, sementara suami saya bekerja di Jakarta, Indonesia. Walaupun judulnya sama-sama merantau jauh, namun dengan kondisi dan tanggung jawab yang relatif berbeda, tentu pengalamannya pun berbeda.

Mudah-mudahan lain waktu saya bisa berbagi pengalaman menjadi mahasiswi di luar negeri, sambil mengasuh bayi 1 tahun dengan status solo parent alias having long distant marriage. Untuk saat ini, saya akan berbagi pengalaman tinggal di New Zealand bersama keluarga yang lengkap, yaitu saya, suami dan kedua anak kami. 

New Plymouth, New Zealand

Di New Zealand, kami tinggal di kota New Plymouth. New Plymouth merupakan kota kecil di pantai barat pulau utara New Zealand dengan jumlah penduduk sekitar 58.400 orang. Posisinya cukup strategis karena berada di tengah-tengah dua kota utama New Zealand yaitu Wellington, yang merupakan Ibu Kota New Zealand, serta Auckland, yang merupakan kota terbesar dan pusat bisnis di New Zealand. Walaupun kota kecil, namun New Plymouth cukup unik, letaknya di pesisir pantai dengan jarak hanya 30 menit perjalanan darat ke Mount Taranaki, gunung yang sangat cantik mirip Mount Fuji.

Dalam satu hari yang sama, kita bisa hiking, ski, snowboarding di gunung, kemudian lanjut surfing, berenang atau sekedar bersantai di pantai. 

Tak hanya New Plymouth, setiap sudut negara New Zealand sangat cantik dan terjaga kelestarian alamnya. Kelestarian alam yang terjaga inilah yang menjadikan New Zealand istimewa. Sesungguhnya Indonesia sendiri tidak kalah cantik, bahkan dalam salah satu artikel media berita di New Zealand baru-baru ini, NZHerald, diulas bahwa Indonesia dinobatkan menjadi satu-satunya negara yang dapat mengalahkan New Zealand dalam jumlah titik keindahan alamnya. Sayangnya, kemudian dijelaskan bahwa secara kualitas ternyata sulit memang mengalahkan New Zealand karena negara ini mampu mengelola dengan baik keindahan alamnya menjadi destinasi wisata yang lestari dan bersih. 

Banyak cara untuk menikmati pesona alam New Zealand yang indah. Bagi kami sekeluarga, cara terbaik menikmati keindahan alam New Zealand adalah dengan berpetualang menggunakan campervan

Campervan di New Zealand

Walaupun tak lama setelah kedatangan kami ke New Zealand diberlakukan lockdown selama kurang lebih 7 minggu, namun setelah itu kehidupan di New Zealand relatif kembali normal. Kasus Covid-19 pasca lockdown berangsur terkendali hingga New Zealand dinyatakan bebas covid karena pada saat itu selama berbulan-bulan tidak ada kasus di komunitas atau NOL kasus. Maka dari itu, penduduk New Zealand dapat dengan bebas melakukan perjalanan domestik dengan menerapkan protokol kesehatan. 

Oiya, kalau ditanya gimana status Covid-19 saat ini? sayangnya New Zealand tidak bisa menghindar dari varian Omicron. Setiap harinya terdapat kasus baru hingga mencapai ribuan. Namun dengan persentase penduduk yang sudah divaksin mencapai lebih dari 95 persen, maka pemerintah New Zealand tidak lagi menerapkan kebijakan lockdown, bahkan tahun ini secara berangsur New Zealand akan membuka perbatasan dan siap menyambut kembali warga dunia.

Kembali ke topik campervan. Selama tinggal di New Zealand sejak 2 tahun lalu, Alhamdulillah kami sudah berkeliling ke hampir seluruh penjuru New Zealand, dan 2 kali diantaranya kami berkeliling menggunakan campervan. Dengan berkeliling menggunakan campervan, kita bisa menyusuri sudut-sudut negeri yang memang seindah itu setiap jengkalnya, bermalam di tempat-tempat tersembunyi yang unik dan sangat indah, dan mendapatkan pengalaman berpetualang yang sangat luar biasa.

Dua kali perjalanan dengan campervan kami lakukan di pulau selatan New Zealand. Mengapa di pulau selatan? Karena kebetulan kami tinggal di pulau utara, sehingga berkeliling di pulau utara bisa dilakukan secara “nyicil” ketika long weekend atau liburan singkat saja. Selain itu, karena pulau selatan memang terkenal sangat cantik dan menarik. It is just magically attractive. Dikelilingi dengan pegunungan bersalju ketika musim dingin, dipercantik dengan sungai dan danau berwarna biru, hijau, dan tosca, serta diperkaya dengan percikan aliran air terjun dan savanna yang membentang luas. Sungguh keindahan alamnya begitu lengkap dan addictive.

New Zealand merupakan salah satu negara yang sangat campervan friendly. Campsite tersebar di seluruh penjuru negeri, mulai dari Commercial Campsites yang berbayar dan dikelola oleh swasta, hingga yang murah dan bahkan gratis yang disediakan oleh Department of ConservationCampsite berbayar merupakan campsite dengan fasilitas lengkap, yaitu toilet dan kamar mandi umum yang bersih, dapur umum, laundry, powersite listrik, pengisian air bersih, serta pembuangan air kotor. Campervan dan segala fasilitas di dalamnya berjalan dengan menggunakan energi baterai, gas, dan bahan bakar minyak. Maka dari itu, walaupun campervan yang kita gunakan berjenis self-contain, namun tetap perlu bermalam di campsite berbayar untuk mengisi baterai dan air bersih, serta membuang air kotor. Adapun bahan bakar minyak dan gas bisa diisi di gas station.

Sementara itu, low cost dan free campsite biasanya dilengkapi dengan toilet umum, tapi tidak ada kamar mandi, aliran listrik, air bersih, ataupun pembuangan air kotor. Meski demikian, low cost dan free campsite justru merupakan favorit para traveler karena biasanya lokasinya sangat “mahal” dengan pemandangan yang sangat cantik. Trully hidden gems karena lokasinya biasanya cenderung tersembunyi di pinggir pantai, pinggir danau, “nyempil” di belakang pegunungan, hutan yang tanpa sinyal telepon/internet, dan jauh dari keramaian namun aman dan damai. Tinggal satu malam di suatu freedom campsite yang indah selalu merasa tidak cukup. 

Plan Your Campervan Trip

Kapan waktu terbaik untuk menikmati keindahan alam pulau selatan di New Zealand? jawabannya relatif karena setiap musim memiliki keunikan masing-masing. Musim favorit untuk berlibur bagi masyarakat lokal sendiri adalah pada musim panas. Namun, bagi keluarga kami musim semi adalah yang terbaik. Mengapa musim semi? karena kami ingin menikmati pegunungan yang ditutupi salju tapi suhu udara sudah tidak terlalu dingin. Selain itu, mengingat musim panas merupakan musim paling favorit maka biasanya harga sewa campervan juga mahal. Berbeda dengan negara-negara 4 musim di belahan utara ekuator, musim semi di New Zealand, yang terletak di bagian selatan ekuator, jatuh pada Bulan September sampai dengan Bulan November.

Sementara itu, musim panas jatuh pada Bulan Desember sampai dengan Bulan Februari. Pada musim semi terkadang jalanan dan destinasi wisata masih dihujani dan ditutupi salju. Maka mengemudi di musim semi juga tetap harus berhati-hati dan dilengkapi dengan perlengkapan keamanan mengemudi di musim dingin, misalnya wajib membawa snow chains, yaitu rantai untuk dipasang melilit di roda kendaraan agar dapat berjalan dengan aman di atas jalanan bersalju yang licin.

Lama perjalanan ideal dengan campervan sebetulnya semakin lama semakin seru ya selama memang tidak ada constraints waktu dan biaya. Namun dengan rata-rata jatah cuti yang bisa diambil dalam sekali waktu adalah antara 1-2 minggu, maka memang perlu memilih rute perjalanan yang paling cocok. Rute perjalanan bisa disesuaikan dengan hobi dan ketertarikan. Tapi ada jalur favorit perjalanan di pulau selatan karena memang melewati destinasi-destinasi “must visit”.

Berikut 2 rute berbeda yang kami lewati yang relatif merupakan rute favorit: 

Jalur pantai barat: Christchurch – Lake Taupo – Mt.Cook/Aoraki – Lake Pukaki – Queenstown – Milford Sound – Wanaka – Christchurch.
Jalur pantai timur: Christchurch – Timaru – Oamaru – Dunedin – Invercargill – Queenstown – Wanaka – Lake Pukaki – Mt.Cook/Aoraki – Lake Taupo – Castle Hill – Christchurch.

Sepanjang rute ini kita akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang beragam dan sungguh cantik. Tak henti kami mengagungkan nama Allah dan memuji ciptaanNya.

Persiapkan Budget

Budget yang harus disiapkan dalam merencanakan perjalanan dengan campervan akan bergantung pada:

  • Pilihan penyedia sewa campervan dan asuransinya. Harga sewa campervan juga akan bergantung pada jumlah penumpang yang inline dengan kapasitas tempat tidur dalam campervan, serta fasilitas kamar mandi dan toilet (self-contain). Bisa dicek di di beberapa penyedia campervan yang family friendly berikut ini yaa sebagai gambaran harga sewa campervan di New Zealand: https://www.wilderness.co.nz/; https://www.maui-rentals.com/nz/en; https://www.britz.com/nz/en; https://www.mightycampers.com/nz/en.
  • Campsite tempat bermalam yang berbayar, low cost atau free. Ada beberapa aplikasi yang sangat berguna dalam mencari campsite, serta berbagai tempat yang dibutuhkan bagi para traveler, yaitu diantaranya CamperMate dan Rankers Camping NZ. 
  • Bahan bakar minyak dan gas.
  • Makan. Biaya makan selama perjalanan relatif hemat karena kita bisa masak sendiri. Campervan dilengkapi dengan kompor gas, perlengkapan masak dan makan, bak cuci piring, kulkas, oven, hingga perlengkapan barbecue dan meja kursi lipat untuk outdoor. Jajan di restoran bisa jadi boros karena mahal. Satu porsi makan orang dewasa rata-rata mengeluarkan biaya NZD15 – NZD25 atau Rp.145.000,00 – Rp.245.000,00. Jadi, dengan fasilitas lengkap di dalam campervan, lebih baik belanja saja di supermarket dan masak sendiri menu yang sehat dan mudah.
  • Destinasi wisata. Rata-rata destinasi wisata alam tidak berbayar. Namun jika ingin menikmati pengalaman petualangan berbayar juga banyak pilihannya. Informasi tentang destinasi wisata dapat dengan mudah didapat dari situs tripadvisor atau situs lainnya melalui google.com.

Penduduk New Zealand sangat ramah serta memiliki ritme kehidupan yang cukup slow dan tidak konsumtif. Jadi, kalau para Mantau berencana berkunjung ke New Zealand jangan terlalu berharap untuk wisata belanja, karena selain serba mahal, toko-toko juga sudah tutup jam 5 sore. Lebih baik fokus pada menikmati petualangan alamnya yang cantik dan seru.

Oiya satu hal penting lainnya, walaupun campervan merupakan jenis kendaraan berukuran besar, tapi untuk mengemudikannya cukup dengan menggunakan SIM kendaraan roda empat ukuran normal. SIM yang dapat digunakan oleh para traveler dari luar New Zealand adalah SIM yang berlaku Internasional dan berbahasa Inggris/diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. 

Tips Perjalanan Campervan Bersama Anak

Bepergian jauh dan lama bersama anak-anak tentu butuh persiapan yang lebih lengkap. Berikut beberapa tips perjalanan kami bersama anak-anak:

  • Mencari informasi sebanyak-banyaknya. Informasi bisa didapat melalui blog, youtube, ataupun bertanya kepada keluarga dan teman yang memiliki pengalaman bepergian dengan campervan.
  • Membawa pakaian yang cukup tapi juga lengkap. Mulai dari pakaian renang, pakaian sehari-hari, hingga pakaian musim dingin. Karena memang cuaca di New Zealand ini perubahannya terkadang ekstrim. Bisa tiba2 sangat terik matahari dan hangat, tapi tiba-tiba malam hari atau esok harinya turun hujan, salju, dan angin kencang sehingga sangat dingin. Begitupun pada musim panas, bisa tiba-tiba turun hujan dan angin kencang sehingga tetap perlu membawa jaket. 
  • Membuat daftar menu makanan (meal plan) yang mudah dimasak. Membuat daftar menu dapat memudahkan kita untuk menyiapkan makanan kesukaan anak-anak dengan relatif cepat. Berhubung kami tinggal di New Zealand, maka ransum kami dapat berupa ayam ungkep, rendang, siomay, bakso, bahkan pempek yang sudah disiapkan sebelumnya di rumah. Karena perlindungan biosecurity di New Zealand sangat ketat, maka makanan yang dibawa oleh traveler dari luar New Zealand harus berupa makanan dalam kemasan yang rapi, terdapat merek dagang resmi yang memperlihatkan makanan tersebut diproduksi dan dikemas secara komersial. Makanan juga harus dalam kemasan aslinya yang belum dibuka, dan tercantum negara produsen dengan jelas pada kemasannya. Semua makanan yang dibawa harus di-declare ketika tiba di bandara, jika tidak maka bisa terkena denda sebesar NZD400
  • Menerapkan jadwal makan yang teratur. Kita bisa berhenti dan beristirahat di tengah perjalanan disesuaikan dengan jadwal makan anak-anak. Dengan jadwal makan yang teratur akan membantu anak-anak tetap happy dan sehat.
  • Membawa obat-obatan yang dibutuhkan oleh anak-anak dan perlengkapan P3K.
  • Menyiapkan hiburan dan ide-ide aktivitas selama dalam campervan dan perjalanan. Meskipun padat aktifitas dan petualangan, namun perjalanan darat yang cukup panjang  dan lama terkadang membuat anak-anak bosan. Kita bisa menyiapkan activity book, board games, membawa mainan kesukaan anak-anak, mainan pantai, serta melakukan family games yang sederhana namun seru seperti main tebak-tebakan. Jika Mantau memberikan jatah screen time, maka bisa juga dengan menyiapkan serial/film anak di Netflix yang bisa diputar secara offline.
  • Memastikan anak-anak tetap duduk di carseat masing-masing jika campervan dalam keadaan berjalan. Walaupun di dalam campervan ada tempat tidur yang sungguh jika dibayangkan akan sangat nyaman tidur diatasnya ketika campervan berjalan, namun sebaiknya tetap menjaga dan memastikan anak-anak selalu berada di carseat masing-masing. Bukan hanya sekedar menghindari sanksi jika terkena tilang, namun yang utama demi keamanan bersam

Kecelakaan itu hal yang kadang kita pikir tidak akan terjadi, namun sesungguhnya kita tidak pernah tahu bahwa itu sangat mungkin terjadi. Contohnya kami mengalami kecelakaan yang tidak pernah kami sangka, yaitu tabrakan dengan burung yang sedang terbang hingga menyebabkan kaca depan campervan retak. Alhamdulillah saat itu kami sedang menuju perjalanan pulang dan akan segera mengembalikan campervan, sehingga kami tidak perlu melakukan penggantian mobil. 

Bisa dibayangkan jika kecelakaan yang terjadi lebih besar dan anak-anak tidak duduk di carseat masing-masing. Tentu kita akan menyesal jika kondisi buruk menimpa mereka.

  • Perjalanan bersama anak-anak seringkali tidak bisa memenuhi rencana perjalanan/itinerary yang sudah disiapkan. Kita perlu menyesuaikan waktu perjalanan dengan mood dan kesiapan anak-anak dalam beraktifitas. Maka dari itu, usahakan untuk tidak terlalu ambisius menyelesaikan itinerary yang padat. Fokuslah pada pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak. Biarkan mereka menikmati petualangan di alam sampai merasa cukup dan happy, tidak terburu-buru sehingga mood mereka tidak rusak. Jika mood anak-anak rusak maka biasanya berdampak pada mood orang tua jua. Sayang kan kalau mood kita rusak saat perjalanan yang seharusnya semua happy. Toh kalau dirasa kurang maksimal memenuhi itinerary, kapan-kapan InsyaaAllah ada rezeki lagi untuk kembali.

Demikian pengalaman perjalanan kami, semoga mantau semua suatu hari nanti bisa punya kesempatan untuk berkunjung dan berpetualang menggunakan campervan di New Zealand atau mungkin di negara lainnya. A lifetime experience which is worth every penny and every second

***

Temui Eji di Instagram @reziana

Merantau di Canberra, Australia

Winda Yuliani

Hi…nama saya Winda Yuliani. Ibu dari dua anak Izz (7yo) dan Mya (4yo). Saya bekerja di bidang perhotelan selama 14 tahun hingga akhirnya memutuskan untuk resign untuk mendampingi suami melanjutkan studi S3 dia Canberra, Australia. Kini saya tinggal di Canberra sambil terus melanjutkan pekerjaan di PR Agency yang saya bangun bersama teman-teman di Bandung.

Cerita di balik perjalanan saya dan anak-anak menyusul suami di Aussie lumayan menarik. Kami seharusnya pergi pada Maret 2020, namun dua hari sebelum tanggal keberangkatan Aussie lockdown, dan kami tidak bisa pergi hingga internasional border dibuka. Aussie merupakan salah satu negara yang sangat ketat dengan aturan lockdown di negaranya, mereka tidak mengijinkan non permanent resident untuk masuk. Sehingga kami harus menunggu lebih lama. Pandemi ini membuat semua berjalan tidak sesuai dengan rencana, sehingga kami harus berimprovisasi dan beradaptasi dengan keadaan. Hingga akhirnya pada pertengahan Desember 2021 mereka memutuskan untuk open border untuk para pemegang visa tertentu.

Alhamdulillah kami adalah salah satu pemegang visa (visa student) yang diijinkan untuk masuk Aussie. Sehingga setelah tertunda sekitar 21 bulan, saya dan anak-anak bisa pergi menyusul suami di Canberra dan kami bisa berkumpul kembali.

New normal during pandemic di Aussie untuk public area terutama yang indoor wajib menggunakan masker. Lalu kita harus scan aplikasi di setiap tempat yang akan kita kunjungi, fungsinya untuk tracking. Disini tracing & tracking nya bener-bener dikelola dengan baik. Untuk anak-anak, mereka sudah sekolah tatap muka dari Senin-Jumat, per dua minggu akan diberikan RATS (Rapid Antigen Tests) secara gratis oleh sekolah. Jadi kita bisa melakukan sendiri tes antigen di rumah, Kalau hasilnya positif kita sudah diberikan guidelines harus menghubungi kemana, kunjungi laman website khusus dan langkah- langkah yang harus dilakukan.

Kenalan sama Canberra

Canberra adalah ibukota Australia, yang dijuluki one of the world’s most liveable cities! Beneran kotanya enak banget, rapi, teratur, tenang, no rush. As per June 2020 estimasi jumlah populasi di Canberra 431,380 (source Wikipedia-Australian Bureau of Statictic) dengan luas wilayah 814,2 km2, coba bandingin sama jumlah populasi warga Bandung 2,4 juta (source Wikipedia) dengan luas wilayah 167.3 km2…!

Awal-awal kaget sih, ini kota orang-orangnya pada ke mana ga keliatan rame. Jadi jangan bayangin kayak Sydney, yang emang heboh banget. Mall aja tutupnya jam 5 sore, bahkan kalo weekend lebih cepet, jam 4 sore. Hihihi..kebalikan sama Indonesia ya, kalo weekend orang ngumpul di mall sampe malem. Tapi jangan sedih kalau mau dinner, karena lokasi café/resto gitu adanya di luar mall, jadi aman sampe malem. Yang paling saya suka adalah di Canberra ga ada macet sama sekali, jadi meskipun jaraknya jauh tapi waktu tempuhnya itu cepet . Aplikasi penunjuk arah/ maps juga sangat reliable dengan akurasi waktu yang cukup tepat.

Canberra Autumn 3 – Australia is a photograph by Steven Ralser which was uploaded on June 10th, 2019.

Transportasi di sini rata-rata orang pada punya mobil sendiri, termasuk para pedatang, karena ga terlalu sulit dan ga perlu bikin SIM internasional, cukup ditranslate aja. Bisa translate di Indonesia atau di KBRI sini. Tapi untuk sehari-hari kita biasanya pake sepeda, anak-anak ke sekolah sepedahan, saya juga sepedahan ke tempat kerja. Di Canberra sangat nyaman dan aman untuk bersepeda, karena disediakan jalur khusus bahkan di highway sekalipun ada jalur khusus sepeda. Transportasi umum lainnya ada bis, tram, skuter listrik, taksi dan uber. Ojek online yang ga ada huhuhuu padahal di Indo mamang ojol andalan yah…

Yang juga bikin seneng tinggal di Canberra adalah, diaspora Indonesia di sini kuat banget. Semuanya saling tolong menolong, berasa punya keluarga di perantauan. Biasanya kalau ga lagi situasi Covid mereka rutin bikin acara kumpul-kumpul, di situlah saatnya kita melepas kerinduan sama masakan-masakan Indonesia. Mulai dari nasi kuning, rendang, sambel terasi, soto betawi, bakwan, getuk, semua ada. 

Oh dan satu lagi yang bikin anak-anak seneng, taman dan playground bertebaran di mana-mana. Jadi kita bisa picnic, gelar matras, bawa camilan dan buah-buahan di pinggir danau sambil liat angsa, burung-burung, anak-anak lari-larian di hamparan rumput hijau atau main di area playground. Canberra surrounding by nature jadi ada danau, pegunungan, hutan-hutan, jadi kalau mau hiking bareng keluarga treknya juga ramah untuk anak-anak.

Salah satu playground: National Aboretum Pod Playground

Buang Sampah Harus Bayar!

Saya banyak belajar tentang recycling and waste management di sini. Mulai dari di rumah, kita minimal punya tiga tempat sampah, lalu buang minyak goreng bekas ga bisa sembarangan. Jadi kita kumpulin dulu sisa minyak gorengnya lalu dibuang ke tempat khusus. Ada yang namanya resources management centres, di sana kita bisa drop off/ buang barang sesuai dengan kategori yang sudah ditentukan. Ada beberapa kategori sampah yang dikenakan biaya, semisal matras, ban, barang-barang oversized, dan kategori lainnya. Makanya di sini daripada buang sampah dan bayar mending kita kasih ke orang lain atau dijual dengan harga murah. Di sini saya dapat sofa, meja belajar, kursi belajar, sepeda, skuter anak, stroller, dan beberapa barang lainnya dengan kondisi yang masih sangat bagus. Thrifting di sini seru-seru..asal pinter nyari 😀

Kerbside/curbside barang-barang yang masih dalam kondisi baik dan bisa kita ambil


Kolaborasi dengan Kampus Keuangan Keluarga

Kali ini Mamarantau berkolaborasi dengan Kampus Keuangan Keluarga (IG: @kampus.keuangankeluarga) untuk berbagi pengalaman dan tips mengelola keuangan di rantau, terutama untuk mereka yang berencana pindahan ke negara lain. Kolaborasi ini dilakukan melalui zoom meeting yang diselenggarakan pada 14 Maret 2022.

Sebelum acara, Tim Mamarantau (Safitri) mewawancarai tim KKK (Kampus Keuangan Keluarga) untuk mengenal lebih jauh pada foundernya yakni Rizki Laila Harahap (Kiky Harahap) dan Dian Mariesta. Berikut hasil obrolan kami.

Dian Mariesta: Aktivitasku saat ini sebagai penulis buku anak, co Founder Kampus Keuangan Keluarga, Font Designer di Tigadestd dan Ketua Komunitas Ibu Profesional Asia. Suami seorang software engineer dan Font Designer di Tigadestd. Aku, suami dan 1 anak perempuanku tinggal di Malaysia. Sejak 2005, aku sudah tinggal di Malaysia sebagai mahasiswa S1 lalu lanjut S2. Kemudian bekerja selama 2 tahun dan memutuskan untuk resign dari kantor. Sampai saat ini, rezeki keluarga kami masih di Malaysia.

Kiky Harahap: Pekerjaan suami yang membuat kami harus berpindah dari satu negara ke negara yang lainnya. Saat ini domisili di Kuwait. Perjalanan merantau dimulai dari tahun 2011 hingga sekarang. Melakukan sesuatu yang rutin membuat proses adaptasi di setiap tempat menjadi lebih mudah untuk dilewati. Saat ini aku memilih untuk menjadi Financial Trainer dan mengasuh Kampus Keuangan Keluarga secara profesional. Pernah beraktivitas sebagai pelajar dan kemudian berprofesi sebagai guru ketika berdomisili di Malaysia ternyata membuat aku menemukan kalau mengajar dan berkegiatan di bidang edukasi menjadi pilihan yang cukup menyenangkan hati.

Apa sih latar belakang didirikannya KKK dan boleh dishare ga apa mimpi besar KKK?

Kampus Keuangan Keluarga (@kampus.keuangankeluarga) merupakan sebuah platform e-learning yang mengedepankan semangat berbagi dan menularkan habit baik dalam mengelola keuangan. Lebih dari 800 orang sudah belajar bersama kami sejak 2020 hingga saat ini.

Perubahan tata atur hidup, cara memaknai sehat, dan betapa kecilnya kemampuan manusia melalui satu seri pandemi, mengawali perjalanan Kampus Keuangan Keluarga. Tahun 2020 menjadi pembukti akan banyak hal. Salah satunya adalah rendahnya literasi keuangan dan lemahnya fondasi keuangan keluarga Indonesia. Cerita tentang sandwich generation masih seperti gulungan benang kusut yang sulit diurai. Jatuh ke pangkuan tengkulak yang berkedok kredit kekinian belum juga terbendung. Bahkan investasi bodong masih beramai-ramai didatangi orang. Ditambah dengan dunia yang sedang menekan tombol pause-nya, memutiplikasi nominal kesulitan keuangan. Keresahan ini yang kemudian membawa kami (Kiky Harahap dan Dian Mariesta) untuk mengajak orang di sekitar agar bisa meningkatkan literasi keuangan mereka.

Tujuan utama KKK adalah untuk bisa meningkatkan literasi keuangan keluarga dengan berbagai cara. Mulai dari menciptakan zona belajar keuangan yang menyenangkan, mendobrak stigma bahwa belajar keuangan itu sulit dan membosankan, dan menularkan habit baik mengelola keuangan melalui berbagai media. Mimpi besar kami adalah untuk bisa menciptakan 1000 keluarga Indonesia cerdas atur uang.

Podcast Minggu Mikir

Setelah satu setengah tahun berdiri, siapa audience dari komunitas KKK? Feedback apa yang berasal dari audience yang membuat tim KKK makin bersemangat memberikan literasi?

Pada awalnya, kami terfokus kepada keuangan keluarga saja. Kami ingin meningkatkan literasi keuangan keluarga Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu, kami juga melihat bahwa anak muda juga mulai tertarik untuk belajar perencanaan keuangan. Saat ini, peserta di berbagai kelas KKK cukup beragam mulai usia remaja hingga lanjut usia.

Hal paling membuat kami terus hadir sebagai ruang belajar keuangan adalah melihat testimoni teman-teman setelah mengikuti kelas di KKK. Banyak teman-teman merasakan manfaat yang luar biasa setelah mereka belajar bersama kami. Mulai dari semakin rapinya pencatatan keuangan, tahu apa saja hal yang membuat keuangan mereka bocor, memiliki komunikasi terkait keuangan yang baik dengan pasangan, hingga bagaimana pada akhirnya mereka bisa terlepas dari jeratan utang.

Apakah kalian punya pengalaman kurang menyenangkan saat mengelola finansial sehingga menginspirasi berdirinya KKK?

Meskipun komunikasi keuangan tidak pernah menjadi masalah dalam pernikahan kami, tapi karena keduanya baik saya maupun suami tidak pernah membekali diri dengan cara mengelola keuangan dengan baik, banyak sekali keputusan keuangan yang diambil menjadi bumerang bagi kami pada tahun-tahun awal pernikahan. 

Seringkali emosi yang menjadi penentu dalam keputusan yang diambil. Contohnya emosi ketika akan mengganti mobil, mengambil keputusan dengan asumsi akan ada uang yang diterima beberapa bulan kemudian. Atau merenovasi rumah tapi di luar dari kemampuan keuangan yang ada. Ya hal-hal semacam itu, yang ternyata akibatnya bisa fatal. Kami terlilit dengan utang kartu kredit bukan hanya pada satu atau dua kartu, tapi kurang lebih enam sampai tujuh kartu. Bisa dibayangkan bagaimana hidup dari gajian ke gajian tapi hanya untuk melunasi tagihan kartu kredit. 

Kami menyadari kalau tidak cepat diselesaikan, maka keuangan tidak akan pernah sembuh. Dari kejadian ini kami belajar dan juga ingin agar orang lain bisa belajar, untuk menyadari kalau memiliki masalah keuangan dan bisa keluar darinya. Ini lah yang membuat besar keinginan untuk meningkatkan literasi keuangan keluarga-keluarga lainnya.

Apa tantangan Dian dan Kiky dalam mengatur keuangan di perantauan?

Dian Mariesta:

  • Harus cermat dan smart dalam mengatur pos mudik. Walaupun Malaysia-Indonesia tidak terlalu jauh tapi pos untuk mudik harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin.
  • Di Malaysia ini, banyak sekali orang Indonesia yang tinggal. Sejak pandemi ini, banyak ibu-ibu rantau membuka usaha PO makanan Indonesia. Wah, kalo gak punya pos khusus untuk jajan, bisa-bisa keuangan bolong!
  • Harus tau aturan di negara domisili. Terutama terkait aturan dana pensiun yang diberikan perusahaan dan perpajakan.

Kiky Harahap:

  • Mencari tempat belanja groceries yang masuk akal dengan perbedaan bahasa. PR terbesar setiap kali pindah negara adalah melakukan pencatatan belanja selama 3 bulan pertama dan memilih tempat mana yang paling sesuai untuk belanja rutin mingguan dan bulanan.
  • Biaya transportasi yang lumayan mahal, karena di Kuwait sarana transportasi umumnya kurang memadai, sementara untuk housewife mendapatkan SIM sangatlah sulit. Hal ini mengakibatkan perlu pos tambahan biaya taxi untuk mobilisasi.
  • Summer yang luar biasa panasnya membuat hidup di Kuwait menjadi lebih mahal, karena tempat-tempat outdoor yang gratis jadi tidak bisa diakses. Jadi, hiburan di kala weekend hanyalah ke mall, dan tentu kalau sudah di mall biaya yang dikeluarkan jadi lebih banyak. Selain ini, Kuwait juga negara kecil, jadi ketika summer orang pun berlomba-lomba untuk escape ke luar negeri mencari cuaca yang lebih menyenangkan.
Daftar di bit.ly/kelasmamarantau ya!

Pengalaman apa yang paling berkesan selama memberikan edukasi melalui literasi finansial? 

Dian Mariesta:

Bertemu dengan anak SMP yang mau belajar keuangan. Semangat yang luar biasa! Kebayang dulu waktu aku SMP masih sibuk jajan di warung sekolah tanpa mikirin apa-apa.

Kiky Harahap:

Sebenarnya pengalaman yang selalu berbekas di hati itu kalau ada orang yang aku sendiri gak ingat, mengirimkan pesan dan menyampaikan rasa terima kasihnya karena sudah bisa terlepas dari utang yang selama ini melilitnya. Padahal aku sama sekali gak bantuin untuk melunasi utangnya. 

Pertanyaan terakhir, apa rencana/goals KKK di tahun 2022? 

  • Memperluas dampak.
  • Berkolaborasi dengan berbagai pihak.
  • Membangun sebuah sistem pembelajaran keuangan yang lebih komprehensif.

Merantau di Eagle Bay, Western Australia

Christina @christinaodorus

Haiii! Aku Christina asal Jakarta. 2 tahun yang lalu kami booked a trip to Australia buat liburan 4 hari, packing koper benar-benar cuman untuk pergi sebentar, eh tiba-tiba COVID merajalela dan border Australia ditutup. Akhirnya kami tidak bisa pulang dan menetap deh di sini. Myself, my husband, and our 5 y.o daughter sekarang tinggal di Eagle Bay, Western Australia (3 jam dari Perth). Eagle Bay is beautiful, kota kecil berpenduduk kurang dari 60 orang. Pantai nya indah sekali dan hanya 5 menit jalan dari rumah. Hidup di sini we are surrounded by nature… kalau bahasa kerennya “country living” hehe.  

Australia is our second home. Bryce (suami) warga negara Australia, aku memegang visa Permanent Resident dan Bella (anak kami) is a dual citizen jadi kami bisa tinggal di Australia secara permanen. Saat border ditutup, yg menjadi beban pikiran kami adalah bagaimana dengan kerjaan, kehidupan & keluarga yg kami tinggalkan di Jakarta. Aku selalu berpikir kalau one day pindah ke Australia akan ada banyak sekali barang-barang dan perintilan yg harus kami bawa. Nyatanya, kami hanya datang membawa beberapa potong baju dan basic items lainnya tapi sama sekali tidak merasa kekurangan. Ini sebagai reminder untukku bahwa kalau kepepet/tidak ada pilihan, kita ternyata bisa hidup dengan minimal amount of belongings.

Menjalani New Normal di Australia

Kami beruntung di situasi kami yg “stuck” away from home, masih bisa melanjutkan kerjaan kami dari rumah walau sudah lagi tidak di Indonesia. Awal-awal tiba di Australia kami masih berpikir akan soon pulang ke Indonesia. Ketidakpastian membuat kami sulit untuk bikin rencana jangka panjang, hanya bisa take it a day at a time dan bikin rencana2 jangka pendek. Setelah 6 bulan berlalu kami memutuskan it’s best to start settling in Australia agar lebih punya stability (dan ketenangan batin haha). Kami pun mulai bisa perlahan2 menata kehidupan baru di Australia seperti memasukkan Bella ke sekolah, membeli mobil, ambil asuransi kesehatan dst.

Wilayah kami Western Australia selama ini merupakan covid-free bubble, hidup normal tetap bisa keluar, tanpa masker dan restrictions. Namun di beberapa minggu belakangan ini terkait denganvarian Omicron, jumlah kasus mulai banyak, jadi new normal untuk kami baru saja dimulai sekarang. Mengenai prokes, pemerintah Australia dan setempat sangat gercep dan warga pun rata-rata patuh. Saat indoor semua diwajibkan memakai masker, harus menunjukkan bukti vaksinasi jika ingin makan di restaurant, wajib scan in aplikasi Safe WA (seperti Peduli Lindungi) di setiap tempat umum agar mudah contact tracing jika ada Covid breakout. Kami sebagai warga merasa aman dengan penanganan Covid pemerintah setempat.

Sekolah anak sampai saat ini masih normal, dan blm pernah sampai harus online. Dengan naiknya kasus covid di beberapa minggu belakangan ini, sudah mulai diberlakukan aturan prokes seperti: harus pakai masker saat antar jemput anak dan pengantar tidak boleh masuk ke dalam kelas. 

Country Living

Country living for me is a memory we will forever treasure 🙂 simple, quiet & surrounded by nature. Kami tinggal di Eagle Bay, 3 jam nyetir dari Perth, populasi sekitar 60 orang dan area ini mayoritasnya holiday houses. Yang artinya sepi sekaliii haha, karena kebanyakan penduduk nya tinggal di kota lain dan hanya datang saat liburan saja. On the down side it can feel very isolating, apalagi karena aku lahir dan besar di kota Jakarta yg ramai. Tapi on the other side, banyak sekali keindahan yang tidak bisa didapatkan di kota.

Jalan 5 menit sudah sampai ke Eagle Bay Beach, yg terasa seperti private beach krn tidak banyak didatangi public. Our days are filled with beach swim after school, memancing, nature walks atau kalau musim dingin, api unggun di teras rumah. Rumah kami lebih besar area kebun nya dari pada bangunan rumahnya sendiri. Kami tanam banyak sayuran dan herbs yang tiap hari dipakai utk memasak. Pagi dan sore nyaring suara burung berkicau. Terkadang ada kangguru main ke rumah, priceless sekali. Di sekitar rumah kami tidak ada lampu jalanan jadi saat malam sangat gelap gulita di luar dan bintang di langit terlihat terang sekali dan dekat sekali dengan kita.

Saat ini kami memutuskan akan menetap di sini untuk saat ini. Karena sudah settled dan lebih bisa menikmati hidup secara “normal” (terutama untuk anak) di sini. Kangen dengan keluarga tentunya, sudah 2 taun tidak bertemu. Semoga tahun 2022 ini bisa berkumpul kembali 🙂

Merantau di Mainz,Jerman

Olga Florentyna-Schneider

Halo mamarantau di seluruh penjuru dunia! Perkenalkan, namaku Olga. Ibu dan ayahku asli Minang, Sumatra Barat. Aku sendiri lahir dan besar di Jakarta tapi lai pandai mangecek baso awak hehe. Pada tahun 2014, aku memutuskan untuk merantau ke Bonn, Jerman – aslinya demi mengejar cinta. Aku dan mantan pacar (yang sekarang jadi suami), menjalani LDR sejak 2009. Dikarenakan kami masih muda dan merasa belum mengenal satu sama lain dengan baik, kami pada saat itu belum mau menikah. Jadi aku pun pergi ke Jerman berbekal visa studi untuk menjalani program master di Bonn. 

Kami menikah tahun 2016 di Jerman, saat aku telah menyelesaikan tesis master. Setelah studi, aku tinggal dan bekerja di Bonn sebagai management consultant di salah satu perusahaan konsultan kecil di sana. Di tengah carut marut pandemi, April 2020- putra kami Kayo lahir dan di bulan Agustus di tahun yang sama, kami harus pindah ke kota Mainz dikarenakan suami memutuskan untuk membuka kantor konsultan pajak bersama partnernya di kota ini. Jadi kalau ada mamarantau dari Jerman yang butuh Steuerberater atau konsultan pajak, jangan segan-segan hubungi aku yah 😀 #teteppromo.

Oh iya, saat ini aku sibuk jadi 80% stay at home mom, dan 20% nya aku mengerjakan proyek kecil di bidang foreign direct investment sebagai freelancer (yang benernya aku kerjakan hanya saat Kayo tidur siang). Sebelum aku aktif jadi freelancer seperti sekarang, aku sempat jadi vlogger di YouTube karena I love being a storyteller! Bisa dicek juga di https://www.youtube.com/oflorentyna.

Christmas 2021

Pengalaman Mencari Daycare

Selanjutnya, aku akan berbagi pengalaman dan dramaku dalam mencari daycare di Mainz, Rhineland Palatinate (Jerman: Rheinland-Pfalz) – dikarenakan setiap sistem dan peraturan bisa berbeda di setiap Bundesland/ provinsi di Jerman, jadi jangan dipukul rata yah, anak-anak dapat masuk daycare (Krippe) mulai umur 1 tahun. Mulai 2 tahun itu sudah memenuhi syarat untuk masuk TK (Kindergarten). Rata-rata memang sangat sulit sekali untuk mendapatkan daycare di kota besar di Jerman. Belum lagi pengalaman dramaku ketika berhadapan dengan petugas administrasi dari kota Mainz.

Posisi Rhineland – Palatine dalam peta

Pihak Krippe telah menghubungiku kalau tempat telah tersedia untuk Kayo – aku senang sekali! Akhirnya aku bisa lebih fokus kerja dan mungkin mengelola YouTube ku lagi. Pihak Krippe meminta surat konfirmasi dari pihak admin kota. Akupun menghubungi pihak kota TAPI kemudian pihak kota tidak tahu menahu soal itu. Aku dipingpong sampai akhirnya aku kehilangan slot di Krippe tersebut. Aku hanya bisa menangis pada saat itu 😥

Di kotaku, daycare jumlahnya sedikit sekali dibandingkan peminatnya. Yang aku tahu memang Jerman kekurangan tenaga pengasuh profesional. Aku iri sekali dengan kondisi teman-teman di Jakarta karena masalah ini bisa lebih mudah diselesaikan dengan uang. Atau mudah sekali punya babysitter menginap karena affordable (sebagaimana punya asisten rumah tangga). Atau ada anggota keluarga yang bisa dititipkan kalau mama lagi capeee banget sehingga butuh isi tangki kekuatan untuk menghadapi kerasnya dunia (ceilah). Bukan lagi rahasia kalau menjadi mamarantau itu diharuskan untuk dobel kuatnya karena apa-apa harus dihadapi sendiri. Solusinya adalah private daycare, tapi pada saat itu aku tidak menemukannya di radius 30km di rumahku. Kupikir, udah harus bayar mahal dan jalan jauh ke sana, sangat tidak worth it. Jadilah aku memutuskan untuk tetap mengurus anak sendiri di rumah sampai Kayo mendapatkan tempat di Kindergarten pada saat dia berusia 2 tahun. Rencanaku yang lain harus kukesampingkan.

Sudut Kota Mainz

Dukungan Finansial dari Pemerintah Jerman

Positifnya dalam membesarkan anak di Jerman adalah biaya sekolah negeri ‘gratis’ dan dukungan finansial yang bernama Kindergeld dari pemerintah Jerman sampai anak tersebut berusia 25 tahun. Di provinsiku besarannya €200 per bulan per anak. Makin banyak anak, makin besar juga Kindergeld yang didapat. Semua pernyataanku ada disclaimer nya yah. Gratis yang dimaksud adalah tanpa uang sekolah yang besar di sekolah negeri, misal harus bayar uang buku atau dalam perkuliahan hanya harus bayar 250-500 euro per semester. Semesteran ini juga benernya bukan uang kuliah melainkan hanya untuk mengcover biaya tiket kendaraan umum mahasiswa, jadi mereka bisa ke mana-mana gratis di satu kota/propinsi. Ada juga sekolah/universitas privat dan internasional yang bayarnya bisa 30.000€ per tahun. Semuanya dibalikin ke masing-masing orang tua hehe.

Infografis Kindergeld (sumber dari sini)

Aku pernah dapet komentar dari Instagramku, “Kok kayanya seneng-seneng mulu sih Ga, ga pusing apa biaya sekolah anak?” oh ya jangan sampai kamu ngga bisa senang-senang lagi dong kalau punya anak hehe. Atas saran suamiku yang memang hobi mengatur finansial, kami selalu menyisihkan €100 per bulan untuk biaya pendidikan tinggi Kayo. Usia sekolah kan Kayo masih tinggal bersama orang tua. Akan berat saat dia mulai kuliah misalnya. Tergantung dia kuliah di kota apa, Kayo harus membayar uang sewa dan biaya hidupnya saat dia berkuliah. Ini tidaklah murah, tergantung kota. Kami sebagai orang tua beritikad untuk memudahkan hidupnya, supaya pada saat Kayo kuliah, dia bisa fokus belajar tanpa cape mikirin besok bayar sewa pakai apa kayak mama papa nya dulu hehe. Biaya hidup pas-pasan jaman aku studi dulu sih berkisar €700-1000 per bulan yah. Kalo Kayo mau lebih-lebih, di sini selalu ada kesempatan buat kerja saat student. Jadi tolong ya nak, kalo mau yang mewah-mewah– kerja! Jangan minta-minta aja bisanya (mama galak haha). Kalau ada asumsi lain “kalo Kayo mau kuliah di Harvard gimana Ga?” ya, usaha dong cari beasiswa. Kalau ngga bisa, ya artinya emang ngga mampu kuliah di sana, udah bagus dimodalin (mama galak lagi xD).

Gimana caranya? Yuk kita mulai itungan matematikanya.

Jadi Kayo kan menerima 200€ / bulan sejak dia lahir. €100 untuk ditabung biaya kuliahnya. Dia akan menerimanya selama 25 tahun. Jadi bertotal: 100×12 = 1200, 1200×25 = €30.000

Keliatannya banyak yah hehe, tapi jangan lupa inflasi. Jika inflasi 5% per tahun (kita ambil paling jeleknya aja ya), selama 25 tahun, itu uang 30.000 nilainya bakal cuma jadi €9.000. Ini bisa dicek pake kalkulator online. Yah, ini mah ngga nyampe biaya hidup setahun bundpap :(( 

Kontrak Investasi Kolektif

Nah mas suamiku yang cerdas itu (ngefans sama suami sendiri haha) menginvestasikan uang ini ke ETF. ETF adalah Reksa Dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek. Meskipun ETF pada dasarnya adalah reksa dana, produk ini diperdagangkan seperti saham-saham yang ada di bursa efek. ETF merupakan penggabungan antara unsur reksa dana dalam hal pengelolaan dana dengan mekanisme saham dalam hal transaksi jual maupun beli (Source: https://www.idx.co.id/produk/exchange-traded-fund-etf/). Aku ngga mau jelasin panjang lebar, nanti space nya ngga cukup. Siapa pun yang telah berinvestasi dalam indeks ekuitas Dunia MSCI global dengan ETF selama 20 tahun dapat mencapai pengembalian rata-rata sekitar 8% antara tahun 2000 dan 2020. Tergantung pada waktu pembelian dan penjualan, pengembalian tahunan berfluktuasi antara 14% dalam kasus terbaik dan 5% dalam kasus terburuk (Source: https://www.weltsparen.de/geldanlage/etf/etf-rendite/).

Jadi, bisa dihitung sendiri. ETF ini gunanya menjaga uang dari inflasi dan untung tipis-tipis-kalo beruntung. Supaya Kayo cukup bekalnya untuk dia kuliah nanti. Jika dia mau kuliah. Di Jerman banyak jalan menuju Roma – individual ngga harus kuliah setinggi-tingginya untuk mencapai kesuksesan. Misal di Jerman ada program Ausbildung, Dual Studium, daln lain-lain. Kalo Kayo ngga mau kuliah, mungkin uangnya bisa die kelola sendiri biar makin banyak hehe.

Sekian cerita, polemik dan trik aku dalam hal sekolah anak! Jika dirasa berguna, tolong dishare yah! Buat mamarantau yang mau silaturahmi, aku sekarang lebih aktif di Instagram @oflorentyna, karena aku belum ada waktu buat edit video di YouTube.

Yuk mari saling menyapa di @oflorentyna, siapa tau aku ketemu temen baru yang like-minded. Syukur-syukur tinggalnya deket Mainz juga. Sampai ketemu lagi yah di cerita selanjutnya! 😀

Merantau di Stavanger, Norwegia

Ayu Damayanti (Loui)

Lima bulan setelah menikah, tepatnya di tahun 2008, saya merantau ke Stavanger, Norwegia. Suami saya, Rizal, sudah lebih dulu berada di sana untuk ambil master degree-nya dan Alhamdulillah mendapatkan pekerjaan tetap. Dan terdamparlah kami di sini selama hampir 14 tahun lamanya 😄 

Bersama Rizal (suami), Adam, dan Adia

Saya suka Stavanger karena penduduknya sedikit dan semua serba bersih serta teratur. Dengan 4 musimnya yang membuat hidup menjadi lebih berwarna. Air bersih yang berlimpah (minum dari tap water). Alamnya yang luar biasa indah dan tentunya udara yang sangat segar. Alhamdulillah 🙏

Di sini semua serba mahal, apalagi ketika kami mau makan di luar, tidak seperti di Indonesia yang sedikit-sedikit tinggal jajan. Variasi makanan halal pun terbatas. Waktu shalat pun sangat menantang, karena berubah setiap musimnya. Bahasa yang digunakan di sini adalah bahasa Norwegia (Norsk), jadi kami harus belajar dari awal lagi untuk bisa berkomunikasi dengan pribumi. Sebetulnya bahasa Inggris bisa juga digunakan, tapi lebih enak kalau pakai Norsk.

Di sini keindahan alamnya luar biasa, dari mulai pantai, hutan dan gunung semua bisa dinikmati dalam jarak yang tidak jauh dari rumah. Ada Pantai Sola, Monumen 3 Pedang, Hutan Konservasi Arboret, Bukit Dalsnuten, Preikestolen (gunung), Kjerag (gunung), Danau Mosvannet, Sandvedparken (taman) dan lain-lain. Kebetulan kami tinggal di daerah Sola yang hanya 5 menit nyetir ke bandara internasionalnya. Saya suka tinggal di Sola karena kota kecil yang aman dan cenderung sepi. Kami juga suka kemping ketika musim panas tiba, di sini banyak sekali camping site dengan pemandangan yang indah.

Komunitas Indonesia di Stavenger

Komunitas Indonesia yang ada di sini adalah “Indonesian Community Stavanger (ICS)“. Ada juga komunitas muslimnya yg bernama “Keluarga Muslim Indonesia Stavanger(KAMIS)”

Bipolar Disorder

Di tahun 2009 setelah melahirkan anak pertama kami, Adam, saya didiagnosa Bipolar Disorder. Hari-hari yang sangat berat bagi kami saat itu, karena saya harus dirawat selama 6 bulan lamanya dan Rizal di rumah bersama bayi Adam. Kejadian ini berulang di tahun 2015, ketika anak kedua kami lahir. Saya kembali dirawat selama 6 bulan juga, dan Rizal harus menjaga anak-anak di rumah. Saat itu saya masih denial bahwa saya memiliki Bipolar Disorder. Tapi di tahun 2017 ketika saya kembali dirawat, saya mulai memahami penyakit saya ini dan mulai menerima bahwa saya memang sakit.

Ruang Inap DPS Sola ( DPS = Distriktspsykiatriske Senter/ Regional Psychiatric Center)

Alhamdulillah saya bisa lebih stabil dan lebih bisa mendeteksi gejala-gejala yang muncul ketika relaps. Untungnya di sini segala perawatan rumah sakit gratis, ketika dirawat dan harus cek rutin ke poliklinik tidak perlu bayar sepeser pun. Saat ini saya juga mengikuti terapi musik dan paduan suara yang diadakan oleh poliklinik psikiatri.

Road Trip Norge Summer 2020

Musim panas Juli 2020 lalu kami sekeluarga berkeliling Norge (tepatnya setengah bagiannya) dengan mobil dan bermalam di berbagai macam tempat (camping, hytta/kabin, atau hotel/penginapan) selama sebulan penuh.

Rizal sudah dari jauh hari membuat itinerary perjalanan dengan sangat rapi yang disponsori oleh APR Tour & Travel (ini adalah nama yang selalu dipakai Rizal ketika membuat rencana perjalanan, diambil dari inisial nama Adam dan Adia, hehehe…).

Kami baru benar-benar mulai packing 2 hari sebelum berangkat karena sebelumnya banyak kesibukan, termasuk mencari perlengkapan yang kurang. Alhamdulillah semua beres di hari H dan barang-barangnya hampir seperti pindahan rumah 😅. Kali ini kami menyewa mobil Skoda Octavia dari www.avis.no  dengan harga yang cukup murah, dan menambahkan roof top yang kami punya di atasnya untuk bagasi tambahan. Setelah berjuang memasukkan semua barang yang ada, akhirnya kami bisa berangkat.

Berikut saya share beberapa list perlengkapan untuk camping yang mempermudah kehidupan kami mengelilingi Norge…!

Peralatan dan Perlengkapan Kemping
Peralatan dan Perlengkapan Kemping

Menjadi Vlogger 😀

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa sih aku sampe repot-repot bikin video dan akhirnya mau jadi vlogger di YouTube?

Jadi… beberapa waktu yang lalu, aku dan para sahabat di grup WhatsApp yang kami namakan “Pesohor Astro” (yang isinya adalah almamaterku di Astronomi ITB dengan berbagai tahun angkatan sebagai anggotanya), awalnya kami melakukan diskusi tidak penting seperti biasaa 🙂 membahas tentang postingan salah satu anggota tentang info kelas online yang akan mengupas “tips bagaimana cara dapat uang di youtube”.

Sampai akhirnya obrolan kami tiba ke satu bahasan yang sudah mengarah ke serius, dan aku, juga beberapa teman lain yang terutama tinggal di luar negeri, kena todong untuk membuat video di youtube mengenai kehidupan sehari-hari kami.

Awalnya aku skeptis, dengan alasan aku itu ga videogenic dan cenderung pemalu. Tapi setelah dikompori oleh beberapa orang dengan segala cara, akhirnya aku jadi termotivasi untuk mengikuti saran mereka, dengan syarat mereka membantu dalam hal penentuan konten dan sebagainya. Dan mereka setuju.

Dan catat ya, video ini tidak kubuat khusus hanya untuk karena mau mendapatkan uang via youtube, walaupun kalau itu terjadi ya Alhamdulillah hehe, tapi lebih memenuhi request para sahabat dan akhirnya terpikirkan konten edukasi yang ingin aku sampaikan di dalamnya, yaitu sekalian belajar bahasa Norway bareng sambil jalan-jalan seru.

Yang juga penting bahwa video ini spesial kupersembahkan untuk keluarga tercinta dan para sahabat tersayang di Indonesia yang belum bisa menginjakkan kakinya ke Norwegia. Dan tentu saja untuk mereka mengobati kangen sama aku, hehehe..

Doanya, semoga suatu saat bisa mengunjungi kami di sini..Aamiiin! Teman-teman mamarantau juga bisa melihat beberapa video lainnya tentang pengalaman kemping dan suasana selama road trip kami di YouTube LouiandLove atau klik linktr.ee/Louiandlove ya!

Merantau di Logan, Utah, Amerika Serikat

Ludia 

Hallo! Saya Ludia, ibu dari 3 anak laki-laki (Evan-5 tahun, Erik-2 tahun, & Edgar-1 bulan). Saat ini saya dan keluarga tinggal di Logan, Utah, karena mengikuti suami yang melanjutkan studi di sini. Sebelum pindah ke Logan, saya dan suami sempat merantau di Korea Selatan selama 11 tahun.

Pengalaman Merantau di Seoul, Korea Selatan

Tahun 2009 merupakan kali pertama saya pergi merantau jauh dari keluarga. Pada tahun itu saya berangkat  untuk melanjutkan studi S2 di Seoul, Korea Selatan. Setahun sebelumnya, suami – Nanang Mahardika – (yang pada waktu itu masih berstatus pacar) sudah lebih dulu memulai studi S2-nya di Seoul. Jadi, itu adalah salah satu alasan kenapa saya memilih Korea sebagai negara tujuan melanjutkan studi lanjutan yaitu supaya bisa bertemu kembali dengan pacar. Hehe.

Pada awalnya saya dan suami hanya berencana untuk kuliah S2 di Korea, lalu setelah lulus kami ingin kembali ke tanah air untuk bekerja dan berkumpul lagi dengan keluarga. Namun, rencana tersebut berubah total karena setelah lulus S2, kami  berdua mendapat kesempatan untuk bekerja di Korea. Tidak terasa kami pun tinggal di Korea hingga lebih dari 10 tahun lamanya. Setelah 11 tahun tinggal di Korea, akhirnya pada tahun 2020 kami memutuskan untuk pindah merantau ke Amerika Serikat karena suami saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi doktoral di Utah State University. 

Utah State University

Suami melanjutkan pendidikan S3 di jurusan Mechanical & Aerospace Engineering, Utah State University.

Kepindahan ke Amerika Saat saat Pandemi COVID-19

Kami pindah dari Korea ke AS pada masa  pandemi, jadi ada beberapa hal khusus yang perlu dipersiapkan sebelum keberangkatan. Pertama, melakukan check up kesehatan dan melengkapi vaksin untuk anak-anak. Tidak lupa mempersiapkan obat-obatan umum yang diperlukan untuk antisipasi apabila terkena sakit pada saat perjalanan. Kedua, memilih rute perjalanan yang minim kontak dengan banyak orang. Dalam hal ini kami memilih maskapai yang ketat dalam menjalankan prosedur kesehatannya, bandara dan tempat transit yang tidak terlalu ramai, juga kota yang tingkat kasusnya tidak terlalu tinggi.

Suasana di Airport Incheon – Dari Busan kami menggunakan flight pagi ke Seoul (Incheon), lalu dari Seoul transit di Seattle(Tacoma) baru lanjut ke SLC Utah. Saat itu transitnya ada pilihan LAX (Los Angeles, CA), tapi waktu itu di LA kasus COVID-nya sedang tinggi dan bandaranya lebih ramai, sehingga aku pilih transit di SEA (Seattle-Tacoma International Airport) yang lebih sepi.

Terakhir, mempersiapkan akomodasi untuk karantina setelah tiba di AS. Kami membawa dua anak balita, jadi tempat yang kami pilih harus sesuai dengan kebutuhan kami tersebut serta aman dengan standar prosedur kesehatan yang baik. Kondisi pandemi ini sempat membuat kami berpikir untuk membatalkan kepindahan kami, tapi pada akhirnya kami jadi berangkat juga.

Ketika transit di Tacoma, Seattle

Proses perpindahan kami dari Korea ke AS tergolong cukup cepat dan lancar. Anak-anak untungnya tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya. Mereka senang sekali karena banyak aktivitas outdoor yang bisa dilakukan di tempat tinggal barunya (Logan).

Di Korea, kami tinggal di apartment yang terletak di tengah kota, jadi kami tidak memiliki halaman sendiri untuk bermain anak. Playground yang ada di daerah apartment kami ukurannya tidak terlalu besar, jadi saat akhir pekan akan penuh dengan anak-anak dan para orang tua yang menemani anak mereka. Sementara itu di Logan kami dapat menikmati taman di belakang dan depan rumah, juga taman kota yang ukurannya jauh lebih luas dari taman kota yang ada di kota tempat kami tinggal sebelumnya.

Bagi saya sendiri, proses adaptasi sedikit lebih sulit daripada suami dan anak-anak. Saya terbiasa dan lebih suka tinggal di kota besar daripada kota kecil yang jauh dari keramaian. Di Logan, toko-toko dan perkantoran pada umumnya sudah tutup jam 5 sore, jadi setelah itu kota terasa sangat sepi. Restoran atau rumah makan juga kebanyakan tidak buka sampai larut malam dan layanan delivery makanan pun terbatas waktu pelayanannya. Berbagai fasilitas umum pun memiliki jam operasi yang terbatas sehingga sebagian besar waktu saya dan keluarga habiskan di rumah daripada di luar rumah. Hal tersebut membuat munculnya rasa suntuk dan bosan, tapi lama kelamaan saya dapat mengatasinya dengan melakukan kegiatan hobi, mengikuti online course, dan juga dengan berolahraga. 

Tempat Favorit di Logan

Saya dan keluarga banyak menghabiskan waktu di akhir pekan dengan bermain di taman atau outdoor playground. Taman yang ada di kota Logan jumlahnya cukup banyak, jadi kami tidak pernah bosan untuk mengunjunginya karena tiap minggu kami coba mendatangi taman yang berbeda. Beberapa taman favorit keluarga kami adalah: Adams Park, Willow Park, Meril Olsen Park, Lundstorm Park, dan Elk Ridge Park.  

Suka-Duka saat Merantau

Setiap hal pasti memiliki nilai plus dan minusnya, begitu juga dengan merantau. Saya dan keluarga pernah mengalami masa-masa suka dan duka selama di perantauan. Sebagai orangtua dengan tiga anak yang masih kecil, tentunya saya dan suami sering merasa lelah karena harus melakukan berbagai hal terutama urusan domestik tanpa bantuan siapapun. Namun dengan kerjasama dan pengaturan waktu yang baik,lama kelamaan kami mulai bisa menemukan ritme yang pas agar kami tidak merasa terlalu lelah dalam mengurus rumah atau mengerjakan urusan domestik rumah. Mungkin hal tersulit yang pernah saya alami yaitu saat melahirkan anak ketiga di masa pandemi. Dulu saat melahirkan anak pertama dan kedua di Korea, orangtua saya dan suami bisa datang berkunjung untuk membantu dan menemani saya di rumah. Sedangkan pada saat melahirkan anak ketiga saya di AS, orangtua/keluarga dari Indonesia tidak dapat berkunjung atau menemani. Pada saat hari H melahirkan saya hanya ditemani oleh suami, anak-anak kami dititipkan di rumah penitipan anak yang buka 24 jam karena kami tidak memiliki kerabat dekat di Logan dan rumah sakit pun tidak memperbolehkan membawa anak kecil untuk berkunjung/menginap. Hal tersebut terlihat tidak mudah, namun setelah dijalani ternyata saya dan suami mampu melewatinya dan kami menjadi pribadi yang lebih mandiri juga kompak sebagai pasangan. 

Selain duka, tentu ada sukanya dalam merantau. Saya dan keluarga bisa belajar bahasa juga budaya di negara tempat kami tinggal, bisa kenal banyak orang dan punya banyak teman dari latar belakang yang berbeda, dan bisa jalan-jalan ke tempat-tempat menarik tentunya..hehe.. Salah satu tempat menarik yang pernah kami kunjungi di Utah adalah taman nasional Bryce dan Zion yang terkenal dengan pemandangan canyon-nya. Saya ingin sekali nantinya bisa mengajak anak-anak untuk mengunjungi berbagai tempat menarik di AS ini supaya mereka mendapat pengalaman berbeda dan belajar hal-hal baru di tempat tersebut. 

Tulisan pendek saya ini mungkin belum memberi gambaran atau info yang cukup mengenai pengalaman merantau di kota Logan. Apabila ada yang tertarik atau ingin memperoleh info lebih lagi, bisa kontak saya langsung melalui akun sosial media (IG: @iniludi & @themahardikas, Twitter: @ludiaekaferi, FB: Ludia Eka Feri).

***

Merantau di Linköping, Swedia

Hestu Rahmayani – I received Swedish Institute scholarship and firstly arrived in Sweden in 2014 for studying Master in Child Studies at Linköping University. Now I am working as a preschool teacher. Other than working as a teacher, I am also a movement enthusiast who enjoy yoga and learn about functional and embodied movements. My interest in movements grow when I started learning about yoga. The more I learn about movement, the more I understand how moving my body in everyday life give me a lot of benefits. I get a clear mind and less stress when I move regularly, either in a form of training or just walking with my son. I wrote in hestu.rahmayani.com a media to share my movement practice, with the hope that you can also start to move every day.

Pengalaman Merantau

Di tahun 2014 saya mendapat beasiswa dari Swedish Institute untuk kuliah di Master program in Child Studies di Linköping University. Saya tiba di Linköping di bulan Agustus 2014.

Saya suka dengan kota ini karena kotanya tidak terlalu besar. Selain itu kota ini cukup tenang dan kontur alamnya datar sehingga kemana-mana bisa naik sepeda.

Untuk fasilitas umum hampir semua kota di Swedia sangat bagus, jadi tidak hanya di Linköping saja. Linköping adalah salah satu kota dari wilayah Östergötland. Östergötland sendiri terdiri dari tujuh kota yaitu Linköping, Norrköping, Mjölby, Motala, Söderköping, Vadstena dan Skänninge. Hanya ada satu universitas di wilayah ini, yaitu Linköping University. Jadi Linköping bisa disebut juga kota mahasiswa.

Sebenarnya tidak ada tantangan berat tinggal di kota ini, karena kebetulan saya tidak suka tinggal di kota besar. Hidup di Linköping ini cukup tenang dan nyaman. Karena kotanya tidak begitu besar, maka tempat perbelanjaan tidak begitu banyak. Walau tidak begitu banyak, toko-tokonya cukup lengkap dan mudah dijangkau. Pada umumnya tantangan terbesar tinggal di Swedia itu adalah mendapat teman asli Swedia yg ingin sosialisasi dengan pendatang. Karena kebanyakan orang Swedia mungkin tidak seterbuka penduduk eropa selatan. Orang Swedia cenderung lebih sungkan untuk membuka diri dengan orang asing. Selama tinggal di Swedia, sebagian besar teman dekat saya adalah penduduk pendatang.

Tempat Favorit

Tempat favorit saya di Linköping yaitu di Stångån, sebuah area dekat kanal. Di sana saya suka sekali jalan kaki sambil mengasuh anak saya, karena lingkungan sekitarnya dekat kanal jadi walau sudah berkali-kali jalan kaki, saya tidakk bosan. Dengan berjalan kaki menyusuri area tersebut, saya bisa menikmati indahnya suasana alam sekitar kanal yg menghubungkan Göta Kanal di seluruh area Östergötland.

Festival di Linköping

Festival atau perayaan yg paling asik itu biasanya saat musim panas tiba, khususnya pertengahan Juni. Di pertengahan Juni ini ada perayaan “midsommar” atau mid-summer. Dalam perayaan ini, dipasanglah tiang “midsommarstången” atau “maypole”, kemudian orang-orang berdansa mengelilingi maypole tersebut sambil bernyanyi “Små Grödorna” atau dalam bahasa Indonesia Katak Kecil. Yg lebih seru lagi, lagu ini nadanya persis sama seperti lagu Kodok Ngorek. Apakah ini kebetulan? 🙂

Pengalaman Menarik

Saat masih kuliah, saya bekerja part time mengajar yoga dan sebagai “vikarie” atau staf pengajar pengganti guru yg sedang sakit. Sebelum lulus saya dikontrak untuk bekerja temporary di sebuah PAUD selama satu tahun. Walaupun bahasa Swedia masih belepotan, saya berusaha meyakinkan para staf dan kepala sekolahnya agar menerima saya bekerja disana. Jadi ini modal nekat sih 🙂

Kemudian di tahun 2016, setelah lulus, saya pun diangkat sebagai pegawai tetap di tempat tersebut. Walaupun lulusan master, saya bekerja (hanya) sebagai asisten guru. Karena saya tidak ada sertifikat mengajar dari Departemen Pendidikan Swedia. Untuk bekerja di sektor pendidikan di Swedia tidaklah mudah. Di samping harus bisa bahasa, saya juga harus punya sertifikat mengajar agar bisa diangkat sebagai guru. Akhirnya setelah menyelesaikan kursus bahasa level SMA, saya dapat mendaftarkan diri untuk sertifikasi. Sayangnya pengalaman mengajar SD dan TK di Indonesia tidak dipertimbangkan. Departemen Pendidikan Swedia hanya melihat pendidikan Sarjana Pendidikan saja sebagai syarat sertifikasi. Di tahun 2020, akhirnya saya mendapat sertifikat tersebut, namun bukan sertifikat guru TK yg didapat. Tapi sertifikat guru SD khusus untuk mengajar matematika dan kesenian. Jika ingin mengajar di SD, saya harus ikut kuliah penyetaraan selama 1 – 2 tahun. Tidak mudah memang untuk bekerja di sektor ini, namun semuanya harus tetap dijalani dengan penuh perjuangan dan kesabaran.

Di waktu senggang aku adalah host di podcast Perantau Bercerita. Perantau Bercerita adalah sebuah media untuk berbagi cerita tentang kehidupan perantauan. Selain itu ada juga segmen “ngobrolin apa” sebagai sarana beropini tentang berbagai topik yang muncul dalam perantauan. Keep in contact: Instagram: @perantau_bercerita, podcasthestu@gmail.com, hestu.rahmayani.com.

Merantau di Busan, Korea Selatan

Imroatus Sholihah (Iim) – Annyeong! Nama saya Iim. Kami sekeluarga merantau ke Korea sejak akhir tahun 2018 karena suami yang melanjutkan pendidikan S3 nya di Pusan National University Busan, Korea Selatan. Di Maret 2021 kami kembali ke tanah air 😀

Busan adalah kota kedua terbesar setelah ibu kota Seoul di Korea Selatan. Walau judulnya kota besar kedua setelah Seoul di Korea tapi akses ke alam sangat terbuka. Tempat wisata alamnya pun lebih beragam, mau ke gunung ada, ke pantai juga ada. Biaya hidup di sini cenderung lebih ringan dibanding Seoul, dan kalau diskon sembako (kesenengan mamak2 ya) gak tanggung-tanggung bisa mencapai 3-5x lipatnya.

Musim Gugur yang selalu indah

Selain itu kultur Korea yang sangat dekat dengan keluarga, anak dengan ibu dan ayahnya. Kami bertetangga dengan imo dan ahjussi yang sudah berusia senja tapi masih bugar sekali, imo (bibi) ini sangat baik sekali suka memberikan buah-buahan dan sayuran seperti hasil panen, mungkin beliau memang punya rumah dan ladang sendiri di desanya.

Lalu yang saya sukai di sini yaitu akses transportasinya yang saling berhubungan. Mau ke tempat yang paling jauh pun kita hanya perlu mengetap T card sekali untuk pembayaran, jadi ongkosnya jauh dekat sama lah ya dan anak dibawah 6 tahun tak perlu membawa kartu. Karena itu kita bebas pergi kemanapun walau tanpa kendaraan pribadi sekalipun.

Tantangan Hidup di Busan

Tantangan Pertama dengan bahasa, karena kami bukan tinggal di ibu kota Korea dan bukan tempat wisata internasional jadi orang-orang di sini cenderung tidak faham bahasa Inggris bahkan dalam beberapa kata basic, jadi harus menchallenge diri buat berani mencoba bahasa Korea walau dengan dialek foreigner, hal begini jauh lebih respect orang-orangnya dengan kita dari pada harus memakai aplikasi terjemahan kemana-mana.

Ada kejadian lucu terkait nama saya. Jadi, kebiasaanku kalau belanja ke Matte (ya sejenis Giant lah ya kalo di Indonesia) mbak-mbak kasirnya selalu nanya:⁣ “Pointe juseyo”⁣. Lalu aku menyebutkan 4 angka nomor member matteku, gak perlu pake kartu langsung terlacak namaku.⁣ “Ah….Im Ro Ah nim?”⁣. Sama orang non Indonesia aku selalu mengenalkan namaku Imroah, bukan nama panggilan Iim. Pernah suatu ketika awal kesini berkenalan dengan warga Amerika aku mengenalkan namaku Iim malah di baca ayem ayem wkwkwk⁣. Lama kelamaan orang Korea pada ngira namaku ya 3 suku kata itu, Im Ro Ah. Pernah sonsengnim bahasa Koreaku manggil Ro Ah sii, Ro Ah sii….lah wkwkwk⁣. Padahal kalaupun aku mengenalkan nama panggilanku Iim masih masuk saja sama orang Korea. Tulisan hangeul Iim itu 이임 dan biasanya orang Korea baca marga 이 itu bukan “i” tapi lee. Jadi kalau Lee Min Ho tulisannya 이민호. Jadi bisalah aku semarga ya jadi Lee Im wkwkwk⁣. Oh iya, man teman boleh banget kalau mau mampir ke vlog di YouTube aku untuk cerita-cerita lainnya di Busan ya! Termasuk kunjungan ke lokasi syuting K drama #StartUp yang sempat booming dibahas oleh para pencinta K-Drama di tanah air. 

Di tempat lokasi syuting Start-up!

Tantangan kedua dengan makanan halal kami sebagai muslim, ternyata Korea masih sangat berproses menuju edukasi makanan halal. Jadi kami harus struggle dan konsisten mencari bahan-bahan basic perdapuran seperti garam, saus,  yang aman bagi muslim dan edukasi ke anak-anak juga agar memfilter jajanan yang mereka dapat di luar rumah.

Tantangan ketiga tentang kultur pengasuhan, saat sampai di sini anak saya minta dipesenin taksi online seperti di Indonesia karena tidak kuat jalan kaki hehe. Di sini hampir tidak terlihat kesenjangan sosial seperti di drama Korea. Mau itu mahasiswa, dosen dan proffesor semuanya sudah terbiasa berjalan kaki. Kendaraan pribadi mungkin ada tapi biasa hanya dipakai untuk ke tempat jauh atau liburan. Dan kebiasaan seperti inilah yang di awal kami coba adaptasikan ke anak kami. Seperti sejak di sini, kalau mau jajan harus menunggu saya masak sendiri, tidak bisa lagi klik order seperti di Indonesia, karena kita menjaga kehalalan juga. Kakak yang tiba-tiba dari sekolah atau dari luar rumah mendapatkan jajanan harus lapor ke saya dulu untuk memastikan apakah aman dimakan dari segi kehalalan.

Kehidupan Bertetangga di Busan

Jadi, tempat tinggal di Korea itu bermacam jenisnya. Ada yang tipe apartemen (아파트), tipe room (원룸) dan rumah (주택). Nah qadarullahnya kami sekeluarnya menempati tipe yang ketiga, yaitu tipe rumah/주택 (baca: juteg) . Rumah di sini maksudnya ya rumah orang Korea yang disewakan, biasanya satu pagar dengan juin (pemiliknya), biasanya pula juin di lantai 2 penyewa di lantai bawah atau sebaliknya.⁣

Nah karena kami tinggalnya di rumah, jadi mengikuti aturan rumah orang-orang seperti orang Korea, dari mulai kewajiban membayar tagihan listrik, gas, dan internet semua dapat bill terpisah walau satu gedung dengan juin tetap tidak pararel, juga aturan pembuangan sampah dll, kita mengikuti aturan pemerintah setempat bukan aturan gedung atau apartemen.⁣

Ngomong-ngomong soal tetangga di Korea, rumah kami bertetangga denga Coffee Shop ini, pemilik kafenya tinggal di lantai 2 dan di bawahnya kafe ini. Kafenya jarang ramai sebenarnya padahal posisinya lumayan strategis cuma mungkin karena agak masuk ke jalan kecil jadi kadang tidak terlihat dari jalan besar.⁣ Selain kafe ini, disebelah rumah juga terdapat pasangan ahjuma dan ahjussi yang menyewa satu plat disamping kediaman kami. Ahjuma ini begitu ramah, saya dari cuma tahu “anyeong haseo” sampai beberapa kosa kata lainnya. Ada satu anaknya laki-laki yang sepertinya bekerja di luar Busan yang suka datang setiap akhir pekan.⁣

Untuk pemilik rumah yang tinggal di lantai 2, mereka punya anak pertama yang seumuran #kakakgadis (anak pertama kami) tapi berbeda sekolah, dan adiknya yang baru lahir juga laki-laki.⁣ Sepengalaman hampir setahun bertetangga langsung dengan orang Korea di rumah orang Korea, sebenarnya orang Korea itu ramah-ramah dan kepo. Walaupun tingkat keponya gak sampe seperti orang Indonesia, kadang suka berbagi juga, ahjuma sebelah suka berbagi buah-buahan, anaknya juin suka kasih kakak snack dan permen (walau berakhir dijadikan mainan saja wkwkw), bahkan tetangga depan pernah kasih kita segepok kresek yang isinya mainan-mainan anak dan raket bulu tangkis.⁣

Orang-orang Korea cenderung sangat menghargai orang asing yang berusaha bertutur kata sama dengan mereka berbahasa Korea. Walau salah mereka tak segan membenarkan dan mengajari. Yah walau tak seperti tetangga tetanggi di Indonesia yang banyak ajakan liwet sana sini, kami cukup nyaman hidup bertetangga disini, walau ramah dan kepo tapi tetap saling menjaga privasi.

⁣Tempat Favorit di Busan

Tempat favorit pertama saya di Busan ada di pantai Haeundae. Saya yang tadinya tidak suka pantai jadi sangat suka sekali ke pantai karena Haeundae ini. Tempatnya bersih, ada banyak pilihan resto halal disana, dan akses kesana dari rumah pun bisa ditempuh hanya dengan menggunakan subway.

Pantau Haeundae

Di tempat ini juga suka dijadikan lokasi syuting drama Korea, yang paling dekat kemarin drama The King Eternal Monarchnya Lee Min Ho di awal tahun 2020, juga selalu ada berbagai macam festival seperti festival pasir (Haeundae Sand Festival) saat musim panas, festival lampu cantik (Haeundae Lighting Festival) saat musim dingin.

Haeundae Sand Festival 2019
Haeundae Lighting Festival

Lalu tempat kedua yang saya suka di Busan adalah Busan Citizen Park, tempat piknik keluarga melakukan quality time. Jaraknya tak jauh dari rumah, hanya berjarak 8 stasiun subway. Kami hanya perlu menggelar tikar dan membawa makanan dan bergabung dengan keliarga kecil lainnya untuk piknik masing-masing. Area Busan Citizen Park cukup luas, di sini disediakan taman pasir untuk anak-anak bermain, playground dengan berbagai macam permainan, taman bunga, taman bambu, sampai air mancur dan masuk sini pun gratis.

Busan Citizen Park
Busanjin-gu 부산진구 : Busan Citizen Park 부산시민공원

Info Komunitas Indonesia dan Muslim di Busan

Komunitas Muslim di Korea: KMI; komunitas muslimah WNI di Indonesia: Rumaisa (Ig/Fb: RumaisaKorea);  komunitas PMI Korea: Perpika

Sekolah PAUD

Saya cukup terkesan dengan pendidikan usia dini (PAUD) di sini. Awalnya saya tidak akan menyekolahkan anak saya di awal karena judulnya juga sudah Orinijib yang artinya daycare. Tapi ternyata orinijib sangat memperhatikan fase perkembangan anak sesuai usianya. Saat survey saya yang pertama di orinijibnya kakak, saya langsung jatuh hati dengan sistem yang mereka tetapkan disana. Di sana anak-anak hanya bermain, memang hanya bermain tapi jelas dengan permainan edukatif yang menunjang tumbuh kembangnya.

Saat undangan konsultasi oleh kepala sekolah dan guru. Di sini saya membawa interpreter wkwkwk

Hal yang tidak begitu mudah saya berikan sejak ke Korea karena keterbatasan bahasa dan tempat. Juga anak-anak di orinijib diajarkan untuk disiplin dan mandiri sesuai fase usianya, dan yang membuat saya lebih jatuh hati lagi kepala sekolahnya sangat terbuka dan toleran dengan agama yang kami punya. Saya dan suami alhamdulillah berhasil melobby pihak orinijib agar anak kami bisa membawa bekal sendiri ke sekolah karena di Korea, kenapa? Coba cek di sini yaa…!

Untuk sekolah SD-SMA di Korea itu gratis, tapi untuk preschool seperti orinijip dan kindergarten biaya perbulannya bermacam-macam. Standar orinijip itu 400ribu-500ribu won sebenarnya, tapi alhamdulillah wa syukurillah karena kami ikut bersekolah di orinijip yang banyak menerima foreigner dan disana karena status abang sebagai hakseng (mahasiswa) dan foreigner membuat kami banyak diberikan potongan. Jadi untuk fee perbulannya kakak dikenakan biaya sebesar 250.000 won dan adik karena tidak full 100.000 won (hitung sendiri ya kalau di rupiahin berapa wkwkw rate google). Setelah biaya ini tidak dipungut biaya apa-apa lagi, sudah include jemputan, makan, cemilan pagi sore, dan lainnya.

Fashion di Korea

Ngomongin Korea, kalau gak ngomongin KPOP, drakor, skincare dan fashionnya. Saya bernah bertanya-tanya ada gak ya orang kepo sama Korea tapi tidak tersangkut hal-hal di atas wkwwk.⁣

Ngomongin fashion dan style di Korea, memang diakui sih negeri ini memang high style banget di dunia fashion dibandig negeri 4 musim lainnya. Apa hubungannya dengan 4 musim? Lah iya, setiap musim jelas tiap brand punya standar style tersendiri yang kalau selalu diikuti akan merogoh kocek yang lumayan bikin nyeri. Haha. Dan fashion disini tuh cepat sekali berputar, misal dalam suatu toko ada produk di manekin depan keluaran winter tahun ini, di tahun depan di musim yang sama produk tersebut sudah ditaruh di etalase belakang dan tertulis harga sale 1+1 wkwkwk⁣.


Karena branding dari fashion Korea ini banyak orang-orang pendatang yang tinggal disini buka jastip, jasa titip barang-barang Korea. Mulai dari fashion, barang-barang branded, skincare nyampe rumput laut pun bisa menarik peminat calon pembeli sebenarnya. 


IG: im.imroah; Blog: imroahnote.com; YouTube: Im Imroah

Merantau di Maryland, AS

Hi! Nama saya Deasy Priadi, saya seorang istri dan ibu dari anak laki-laki berusia 2 tahun. Saya sudah tinggal di Amerika on/off sekitar 10 tahun, di mana 6 tahun terakhir saya merantau bersama suami. Pas kecil, saya sempat tinggal di Wisconsin bersama orang tua dan kakak, kemudian balik lagi ke Amerika untuk S2 di Baltimore, Maryland.

Setelah menikah, kami sempat tinggal di NYC di mana suami saya menyelesaikan pendidikan dokter spesialis. Lalu saya sempat melanjutkan studi di Virginia dan tinggal terpisah dengan suami (saat itu saya juga sedang hamil), kemudian pindah lagi ke Baltimore di mana anak saya lahir dan suami menyelesaikan pendidikan subspesialis. Sejak 2019, kami tinggal di Chester, Maryland di mana suami bekerja sebagai dokter. Kota ini berjarak tempuh sekitar 1 jam dari Washington, DC dan merupakan salah satu suburb kota tersebut.  

Setelah anak saya lahir, saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Selain mengurus keluarga, saya juga punya online shop @sevenponies yang saya rintis dan jalani bersama dengan teman baik di Jakarta, dan juga mengurus @kebayainspiration di mana saya adalah founder dan admin, serta trading forex yang sudah saya lakukan sejak 2015. Beberapa bulan lalu, saya mulai menjadi tutor GMAT seminggu sekali untuk murid di Indonesia. 

Cerita Pemilu 2020 AS

Saat ini, untuk pertama kalinya saya tinggal di kota kecil. Selama ini saya antara tinggal di kota besar atau college town, dimana penduduknya rata-rata liberal dan saya seperti hidup di dalam bubble. Saya terbiasa tinggal di kota dengan latar belakang beragam (terutama dari segi ras) dan di sekitar saya sebagian besar adalah pendukung partai Demokrat. 

Tinggal di kota kecil memberikan pengalaman yang sangat berbeda. Walau Chester adalah suburb DC, masih banyak peternakan dan ladang jagung tidak jauh dari rumah. Demografinya juga sebagian besar kulit putih. County tempat saya tinggal adalah satu-satunya di Maryland yang representativenya adalah Republican. Dalam artian, semua anggota DPR dari Maryland berasal dari partai Demokrat, kecuali perwakilan dari Dapil (daerah pilih) saya yang berasal dari partai Republikan. Trump juga mendapat sekitar 61% suara di county ini. Pada awalnya saya cukup shock karena di jalanan lebih banyak liat banner dan spanduk Trump daripada Biden. Tapi beginilah potret kota kecil Amerika. Menurut saya, kota besar seperti NYC dan LA kurang representatif dari keadaan Amerika yang sebenarnya. 

Di komplek tempat saya tinggal, sempat ada insiden di mana ada bendera Trump yang diambil dari halaman depan seseorang. Orang tersebut kesal dan heran kenapa ada yang tidak bisa menghargai pilihan orang lain. Akhirnya dia kembali masang bendera Trump lebih banyak lagi di halaman depan rumahnya. Haha.

Come back with more!

Blue Lives Matter

Sementara tahun 2020 selain diisi dengan kampanye dan pemilu, juga ramai Black Lives Matter atau BLM terkait kasus yang menimpa George Floyd pada bulan. Untuk BLM, saya justru lebih sering melihat atribut-atribu Blue Lives Matter yang merupakan respons terhadap Black Lives Matter. Blue Lives Matter memperjuangkan keselamatan polisi, karena semenjak protes Black Lives Matter polisi banyak yang di-antagonize. Atribut yang saya lihat umumnya bumper sticker, bendera yang dipasang di truk, dsb. Penduduk kota kecil memang concernnya berbeda sekali dengan kota besar.    

Walau demikian, saya tidak pernah merasa didiskriminasi oleh orang-orang di sini. Orang-orang yang saya temui sangat ramah dan welcoming layaknya penduduk kota kecil dan tidak pernah sekalipun ada yang pernah menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menganggap saya adalah orang asing (i.e. what country are you from? Your English is so good, etc).

Yang cukup lucu adalah pengalaman suami saya di kantor di mana ada beberapa kolega yang dari kecil tinggalnya di daerah sini. Mereka menganggap suami saya adalah “city boy”. Ada satu kolega yang takut sekali dengan NYC karena dianggap tidak aman dan penasaran dengan pengalaman suami naik subway setiap hari, Ada juga yang yang benar-benar asing dengan konsep Islam dan beberapa kali bertanya “so you don’t go to church?” atau “so you don’t celebrate Christmas?” seakan-akan itu adalah suatu hal yang bikin syok. Haha. Orang-orang kota kecil banyak yang tidak ter-expose dengan keberagaman sehingga terkadang terlihat seperti ignorant, padahal mereka adalah orang yang baik dan ramah. 

Kalau melihat di berita, memang saat pemilu dan protes BLM keadaan di Amerika sangat mencekam. Tapi sebagian besar terjadi di kota besar. Kota kecil seperti Chester sangat aman dan hari-hari berjalan seperti biasa saja.

Kehidupan di Masa Pandemi COVID-19

Masing-masing county memiliki kebijakan sendiri perihal lockdown dan quarantine. Presiden tidak memiliki wewenang untuk memberlakukan lockdown dan quarantine secara nasional. Bahkan gubernur hanya dapat memberikan himbauan. Masing-masing county kemudian memutuskan sendiri apakah perlu lockdown/tidak. Sama halnya dengan keputusan membuka sekolah, dsb.

Saat ini tidak ada lockdown/quarantine. Public school sudah mulai buka (hybrid) dan private school, preschool, dan daycare sudah buka sejak beberapa bulan lalu. Anak saya sudah sekolah in-person sejak September. Restoran, gym, dan salon juga sudah buka walau kapasitasnya disesuaikan. Lagi-lagi karena kota kecil, tidak sulit melakukan social distancing dan berhubung tidak ada public transport, semua orang punya mobil sehingga penyebaran COVID bisa ditekan. 

Supermarket memiliki jam-jam khusus di mana mereka buka hanya untuk populasi berisiko (orang tua, orang dengan underlying health condition). Vaksinasi terhadap tenaga kesehatan dan orang tua juga sudah mulai berjalan. Secara garis besar, hidup sudah berjalan seperti normal walau dengan penyesuaian.

——