Merantau di Ho Chi Minh

AmelAmalia Siregar- Ibu rumah tangga yang baru punya 1 anak perempuan umur 6 bulan, Pecinta art, craft, design & photography. Sedang merintis bisnis editing design foto keluarga atau personal yang dicetak di Lacquer khas Vietnam, dengan nama Mel Lacquer Project.

Amel dan Keluarga

Saya Amalia Siregar, Lahir 6 Juni 1982 tinggal & besar di Bandung, lahir dari bapak orang Batak dan Ibu orang Sunda. Saya & suami lulusan Desain Produk ITENAS, ketemu & berjodoh karena sama-sama bekerja di bidang desain sepatu. Sebelum menikah, saya pernah bekerja di Reebok IDC di Tangerang dan terakhir di BEBOB shoes sebagai designer sepatu wanita di Bandung. Suami saya, Yosse, sudah malang melintang di industri sepatu di Indonesia semenjak lulus kuliah dan saat ini bekerja sebagai Adidas Footwear Designer.

Mel Lacquer Project.jpg

Mel Lacquer Project

Enam bulan setelah calon suami pindah & bekerja di Vietnam (masih calon karena belum sah menikah) – pada Desember 2010, kami menikah dan saya langsung diboyong ke negara Republik Sosialis Vietnam ini tepatnya di kota Ho Chi Minh atau lebih dikenal dengan Saigon. Setelah 5 tahun menikah, Alhamdulillah tahun kemarin kami baru dikaruniai anak perempuan.

Amel, Yosse & RIndu di Nguyen Hue

Amel, Yosse, dan bayi mungil: Rindu.

Kehidupan di Ho Chi Minh City

Awal pindah ke Ho Chi Minh City ini tidak terlalu sulit untuk kita beradaptasi, karena dari lingkungan hampir mirip dengan Indonesia, dengan suhu udara yang cenderung panas dan lembab. Cuaca di Ho Chi Minh City rata-rata berkisar di 25°C-35°C.

Patung Ho Chi Minh

Ho Chi Minh statue. Hồ Chí Minh, born Nguyễn Sinh Cung, also known as Nguyễn Tất Thành and Nguyễn Ái Quốc, was a Vietnamese Communist revolutionary leader who was prime minister and president of the Democratic Republic of Vietnam.

Yang menarik dari negara ini, suhu di utara & selatan Vietnam berbeda, di utara memiliki 4 musim sedangkan selatan 2 musim. Jadi saat musim dingin di utara, berimbas pada suhu di selatan (Ho Chi Minh City) lebih dingin dari bulan biasanya bisa sekitar 18°C-25°C. Kalau mau jalan-jalan ala-ala winter pake coat & syal bisa berkunjung ke Hanoi di akhir tahun.

vietnammapwithcities1

Kota ini tidak seperti Jakarta banyak gedung tinggi dan mall dimana-mana. Mall di kota ini bisa dihitung jari dan tidak sebesar mall di Jakarta bahkan bisa dibilang sepi pengunjung mall. Tapi yang saya salut dari kota ini tempat rekreasi outdoornya difasilitasi dengan baik; sebagai contoh, taman terbuka di tengah kota bisa digunakan warga untuk berkumpul, piknik, olahraga, dll. Sering saya lihat di taman-taman tersebut sekeluarga bawa kompor kecil dan makanan saat akhir pekan atau anak mudanya berkumpul latihan menari dan bermain musik.

Downtown HCMC

Nguyen Hue Pedestrian Street at night

Suasana downtown HCMC

Di kota ini, bangunan peninggalan kolonial Perancis masih dilestarikan, bahkan gedung dan apartemen tua di tengah kota sekarang ini banyak dialih fungsikan oleh anak muda menjadi café dengan interior unik & menarik.

Gambar-gambar propaganda ini bisa dilihat disetiap sudut kota ini. Sebagai negara sosialis mereka mempergunakan media komunikasi kampanye pemerintahan dengan gaya propaganda.

Propaganda Poster

Poster propaganda

Sepeda motor adalah transportasi utama di Vietnam. Jadi jangan heran saat lihat penumpangnya macam-macam, bisa dari orang dewasa, anak-anak, binatang, pohon, kulkas, mesin cuci, kasur, sampai lemari pun bisa diangkut menggunakan sepeda motor.

lalu lintas Saigon

3030483-slide-hoolahoops

Segala macam jenis motor ada di sini, sampe-sampe suami saya beli motor Honda Chaly keluaran tahun 80an, kita kasih nama Bulao. Motor ini biasanya dipake nenek-nenek untuk pergi ke pasar, karena hanya 50 cc, jadi jalannya pelan dan tidak bisa ngebut serta tidak perlu punya SIM untuk pake motor ini ke jalanan. Menurut teman saya proses bikin SIM untuk ekspatriat disini ribet dan ada ujiannya, tidak bisa hanya mengkonvert SIM Indonesia menjadi SIM lokal sini.

Suami & Chaly

Suami dan Chaly

Lalu jangan tertipu kalau lihat perempuan-perempuan yang mengendarai motor selintas seperti menggunakan hijab (full cover dari tudung kepala, helm, masker, kacamata, jaket, sarung tangan, rok penutup kaki, kaus kaki & highheel) tapi saat motor diparkir, mereka buka semua penutup covernya tinggal tanktop & rok mini. Alasannya cuma karena takut kulitnya menghitam kena sinar matahari😀

motor-bike-rush-hour-ho-chi-minh-city-vietnam

Motorbikes at Rush Hour, Ho Chi Minh City

Sudah Hampir 6 tahun saya tinggal disini yang paling sulit yaitu bahasa Vietnam. Tulisannya latin tapi cara baca dan intonasi beda, artinya akan beda juga. Kalau kita dengar orang sini ngobrol, terdengar seperti orang yang lagi berantem dengan tone suara yang tinggi. Sejauh ini bahasa Vietnam yang saya kuasai hanya bahasa taksi, bahasa tawar menawar di pasar (yang ini penting untuk ibu-ibu, haha).

Menurut saya negara ini surganya sayuran dan buah-buahan, karena yang dijual di pasar tradisional dengan kualitas baik dan harganya murah. Musim mangga bisa sepanjang tahun, jadi bisa ditemui chi oi (“ibu-ibu” dalam bahasa Vietnam) di jalanan berjualan mangga potong lengkap dengan garam cabai bubuknya. Vietnam ini pemakan sayuran segar, dan daun-daunan yang di Indonesia seringnya tumbuh di pinggir kali, di sini ternyata jadi pelengkap dalam sup ikan, dan enak ternyata.. haha.

Benh Thanh Market .JPG

Benh Thanh Market

Hari Besar Vietnam

Hari besar Vietnam yaitu Tet Holiday atau Chinese New Year atau imlek di Indonesia. Libur nasional selama 3 hari, tapi sebenarnya warga sini merayakan Tet Holiday ini bisa hingga 2 minggu. Hari libur ini semua perkantoran & toko libur, seperti lebaran di Indonesia, warga sini punya tradisi mudik juga untuk kumpul keluarga, jalanan di kota sepi dan tidak ada restoran yang berjualan. Biasanya 1 minggu restoran & toko-toko tutup.

Menjelang Tet tiba, pemerintah mempercantik jalanan dan kotanya dengan dekorasi warna merah dan kuning, dekorasi Bunga Aprikot Kuning atau Hoa Mai yang menjadi simbol Tet.

Setiap tahunnya kota Ho chi minh merayakan Tet dengan mendekorasi jalan Nguyen Hue menjadi taman bunga yang cantik didekorasi sesuai lambang tahun china. Pengunjung yang datang berdandan cantik dan berfoto dengan pakaian tradisional Vietnam, disebut Ao Dai. Juga ada book corner & poster-poster sejarah tentang Vietnam.

img_42251

Tet is Vietnamese New Year and is the most important festival and public holiday in Vietnam. An example of Tet being the definitive Vietnamese holiday is that ‘Tet‘ itself means ‘festival‘ and is the shortened version of ‘Tết Nguyên Đán’, which is Sino-Vietnamese for ‘Feast of the First Morning of the First Day’.

Warga Indonesia di HCMC

Saat pindah ke sini, suami bertemu dengan warga Indonesia yang bekerja di salah satu pabrik sepatu di Dong Nai. Dari beliau ini kita bergabung dengan Masyindo (Perhimpunan Masyarakat Indonesia) Ho Chi Minh City.

Warga Indonesia di Ho Chi Minh City ini sekitar 400 orang. Banyak kegiatan warga Indonesia disini dari keagamaan sampai olahraga. Untuk Muslim ada pengajian Nurul Hikmah untuk ibu-ibu Indonesia yang dilakukan setiap hari rabu, perkumpulan agama lainnya pun ada dan semua kegiatan biasanya dilakukan setiap seminggu 1 kali. Kegiatan olaharaga ada badminton, futsal, tennis, dll.

Masyindo punya kegiatan keluarga Indonesia namanya Pesta Rakyat & Pasar Senggol yang biasanya diadakan setahun sekali dalam rangka 17 Agustus. Acara tersebut ajang warga Indonesia dari lingkungan HCMC dan provinsi sekitarnya untuk berkumpul di isi dengan bazzar, berjualan makanan Indonesia, permainan tradisional Indonesia, dll.

Ibu2 Pengajian Nurul Hikmah Sesi Foto Bersama

Ibu-ibu Pengajian Nurul Hikmah Sesi Foto Bersama

Info lebih lanjut tentang warga Indonesia di HCMC: Website Konsulat  Jenderal RI di HCMC dan Website Masyindo HCMC.

Lalu untuk yang Muslim, Alhamdulillah, selama hampir 6 tahun tinggal di negara ini kami tidak menemukan kesulitan dalam beribadah. Setiap Ramadhan tiba masjid-masjid menyediakan buka bersama gratis dan shalat tarawih. Shalat Idul Fitri atau idul adha dilaksanakan jam 9 pagi, ceramah biasanya 2 bahasa, bahasa Vietnam dan Melayu. Ada 3 mesjid yang mudah dijangkau dan terletak ditengah kota yaitu :

  1. Musulmane Mosque, 66 Dong Du, Q.1. HCMC (sebelah Hotel Sheraton)
  2. Al-Rahim Mosque, 45 Nam Ky Kho Nghia, Q.1 HCMC
  3. Jamiul Islamiah Mosque, 459B Tran Hung Dao, Q.1 HCMC

Dong Du Mosque HCMC

Di sekitar masjid-mesjid ini pasti ada rumah makan halal, biasanya RM Malaysia, Turki, India atau Vietnam.

Traveling di Vietnam

Pariwisata di Vietnam ini mudah, murah dan menarik, Transportasi menuju tempat wisata di Vietnam mudah dijangkau karena sudah diakomodir oleh pemerintah. Travel agen di Ho Chi Minh City ini mudah dicari, tinggal datang ke Pham Ngu Lao, backpacker area di distrik 1. Agen-agen tersebut menawarkan jasa pesan bis, kereta, pesawat sampai paket tour keliling Vietnam. Untuk pilihan Bis dan kereta di Vietnam ada sleeper bus atau sleeper train. Jadi nyaman banget untuk perjalanan yang lebih dari 5 jam.

blog-beer-street

Dari Utara Vietnam sampai selatan yang pernah dikunjungi dan paling kami suka yaitu Sapa & Hoi An.

Sapa. Letaknya di Vietnam utara dekat dengan perbatasan China. Untuk mencapai ke sana dari Ho Chi Minh City terbang dulu ke Hanoi sekitar 2 jam, lanjut dengan kereta malam (sleeper train) 10 jam menuju Lao Cai, tiba di Lao Cai jam 8 pagi lanjut dengan bis atau mobil  kira-kira 1 jam akan tiba di Sapa. Tapi sekarang ini setelah dibangun highway dari Hanoi menuju Sapa hanya 6 jam saja dengan menggunakan Bis.

Sapa merupakan lokasi tertinggi di Vietnam, setiap akhir tahun suhunya bisa mencapai 1ºC dan sudah 2 tahun ini turun salju.

  Penduduk asli Sapa yaitu etnis Hmong dengan busananya yang khas.

Yang menarik menurut saya dari Sapa yaitu sawah-sawah di lereng bukit dan terasering, udaranya yang sejuk, dan penduduk etnisnya yang unik. Saat di sana saya menginap disalah satu hotel yang balkonnya menghadap ke pegunungan, lokasi di lereng bukit dan dengan awan yang silih berganti seolah-olah saya sedang berada di atas awan dan saat pagi hari berkali-kali pelangi muncul dari balik gunung dengan jelasnya.

hinh-anh-sapa-1

Sapa

Jika sudah di sana bisa pilih tour yang kita suka bisa mengunjungi Hmong Village yang menyajikan culture etnis mereka dan juga pertunjukan tari-tarian tradisional. Kalau suka wisata sport bisa trekking, biking atau hiking ke gunung Fansipan, gunung tertinggi di Vietnam.

Hoi An. Letaknya di Vietnam tengah. Untuk mencapai ke sana, dari Ho Chi Minh City terbang ke Danang sekitar 1 jam 30 menit, lanjut dengan Taxi sekitar 45 menit ke kota Hoi An. Hoi An merupakan kota tua yang di akui UNESCO sebagai salah satu world heritage. Kota yang didominasi bagunan tua campuran asitektur Perancis, Vietnam, China dan Jepang. Bangunan bernuansa rustic dan berwarna kuning, ciri khas dari Vietnam cocok untuk yang hobi photography kota ini menarik dari segala angle.

424283_10150620123313392_1242769865_n

Untuk menikmati Heritage Hoi An Tour tinggal beli tiket seharga VND90,000 bisa masuk ke area yang dilestarikan. Yang paling terkenal dari kota ini adalah The Japanese Covered Brigde atau “Lai Vien Kieu” dalam bahasa Vietnam. Jembatan yang dibangun di abad ketujuh belas. Selain jembatan ini ada bangunan tua yang umurnya sudah berabad-abad tahun dan masih kokoh, di balik bangunan tua tersebut ada sejarah dari pemilik bangunan tersebut. Kalau capek jalan kaki berkeliling di kota tua ini, bisa juga sewa sepeda ontel dengan harga VND 20,000 per harinya.

Malam hari kota ini dihiasi warna warni lampu lampion juga hiburan malam dari warga lokal dengan bernyanyi dan tarian di alun-alunnya.

Makanan Favorite di Vietnam

Pho, makanan paling terkenal dari Vietnam. Mie beras dengan kuah kaldu sapi (Pho Bo) atau Ayam (Pho Ga) dicampurkan dengan potongan daun-daunan segar. Pho dinikmati warga sini bisa untuk makan pagi, siang atau malam. Kesulitan kita sebagai muslim di negara ini yaitu tidak bisa menikmati makanan street food sembarangan, karena sumber protein pokok disini yaitu babi. Alhamdulillah, teman saya memberi info ada Pho Halal disini namanya Pho Muslim di 459B Tran Hung Dao, lokasinya belakang Mesjid Jamiul Islamiah. Penjualnya keturunan Champa dari provinsi Châu Đốc yang warganya mayoritas muslim. Setiap weekend sudah menjadi menu wajib saya, suami & kawan-kawan sarapan pagi di sini.

Pho Bo & Caphe Sua Da

IMG_2205

Pho Muslim

10943410_649322191860256_790645866_n

Ada juga banh mi yang berarti “roti” dan juga dikenal dengan “Vietnamese Sandwich” yang wajib dicoba. Biasanya berisi daging, pickles dari wortel, timun, daikon, dan daun ketumbar – namun, khusus yang Muslim,  ada baiknya memperhatikan kehalal-annya.

Kopi Vietnam, minuman paling terkenal di Vietnam. Disini kita bisa menikmati kopi dimana saja dari kopi yang dijual chi oi pake motor sampe minum kopi di café milik brand terbesar di Vietnam namanya Trung Nguyen. Cara menyeduh kopi disini menggunakan dripper yg berbentuk cangkir dari bahan alumunium dan disimpan diatas cangkir kopi. Yang paling khas yaitu Caphe Sua Da atau es kopi susu,. 1 gelas isinya 1/3 susu kental manis, 1/3 ekstrak kopi, sisanya es batu. Cara menikmatinya tunggu sampe es batu sedikit mencair supaya tidak kopi terlalu kental.

img_0002

Segar!

Kopi Vietnam ini jenisnya robusta rasanya lebih pahit dari kopi Indonesia , kalau menurut saya kopi di sini tidak membuat lambung saya perih. Setelah saya mencicipi kopi Vietnam ini tidak ada bandingannya daripada kopi francise Amerika yang rasa kopinya berkurang karena terlalu banyak susunya.

Ada juga Banh Knot ini makanan favorit saya, semacam bakwan dari tepung beras dengan potongan udang diatasnya. Cara makannya digulung dengan daun2an segar khas Vietnam, celup dalam saus campuran jeruk & cabe.

banh-khot-goc-vu-sua

Sebagian besar makanan Vietnam ini disajikan dengan daun-daunan segar untuk digulung dimakanan atau dimasukan dalam sup panas, Daun wajib dalam setiap masakan Vietnam yaitu daun ketumbar yang aromanya menyengat, lidah saya masih belum bisa menerima aroma daun tersebut.

Yuk, jalan-jalan ke Saigon!


Sebagian foto pada laman ini terhubung dengan image asli gambar, dan selebihnya adalah karya Amel dan keluarga.

Instagram : @ameliorative. Foodblog : www.foodwalks.tumblr.com

Mel Lacquer Project : https://www.etsy.com/shop/MelLacquerProject

Kesempatan Kedua Tinggal di Jepang..!

IMG_9867Enrica Rinintya (Chacha) – Seorang perempuan (27) asli Yogyakarta yang Alhamdulillah diberi kesempatan untuk singgah di beberapa belahan Bumi. Ibu dari seorang anak lelaki berumur 2 tahun, seorang stay at home mom yang sedang menemani sang suami berpetualang di Negeri Sakura. My family is my life, we learn and grow together. 

Merantau di Jepang

Pertama kalinya menjejakkan kaki di Negeri Sakura ini pada tahun 2008. Dengan status mahasiswa pertukaran pelajar di Osaka, sebuah kota yang menurutku tidak terlalu besar dibandingkan dengan kota di mana saya tinggal sekarang. Saat ini saya adalah seorang Full Time Mother yang berstatus menemani suami yang sedang melanjutkan studi S3 di Tokyo Metropolitan University (TMU/Shuutodai), Tokyo. Saya diberi kesempatan kedua untuk menjejakkan kaki di Negeri ini, kali ini bersama keluarga kecilku: Joned (suami) dan Izza. Di sebuah kota di pinggiran Tokyo; Tama City.

1Sumber: Google.com

Terkenal dengan maskot Hello Kitty, “Sanrio Puroland” dan “Hello Kitty Town” dengan lokasi yang berjarak agak jauh, kira-kira 1 jam dari pusat kota (dengan kendaraan umum), ternyata memiliki cerita dan kejutan-kejutan tersendiri.

sanrio1Sanrio Puroland, Tama City, Tokyo – where Hello Kitty dreams came true

3

Dan di kesempatan kedua kali ini, saya banyak menemukan hal-hal baru, terutama terkait dengan dunia parenting di Jepang. Dimana anak-anak di Negeri ini amat sangat dijaga dengan baik oleh Negara, diberikan fasilitas yang memadai dan pelayanan yang memuaskan.

FASILITAS KESEHATAN

Kami biasa mengantarkan anak kami, Izza (26 bulan) untuk kontrol kesehatan di sebuat klinik di dekat tempat tinggal kami. Setelah selesai kontrol, barulah kami tahu kalau semua fasilitas dan pelayanan adalah gratis! Bahkan biaya imunisasi dan obat pun hampir semua bebas biaya.

Kami awalnya kesusahan dalam berbahasa (untuk istilah-istilah medis) pun dibantu dengan semaksimal mungkin oleh pihak staff klinik yang bertugas. Bahkan pihak dokter pun mau menerjemahkan ke dalam bahasa inggris walaupun terbata-bata. Yah, walaupun mereka lebih sering mengulangi dalam bahasa Jepang, dengan harapan kami mengerti bahasa mereka.

5

6Sumber: Website Tama Garden Clinic

Selain fasilitas berobat di klinik, ternyata dari pihak kantor kecamatan setempat pun mewajibkan Izza untuk melakukan general check-up untuk anak setiap 1,5 tahun sekali. Plus, diberikan jadwal rutin kontrol ke dokter gigi.

Pada saat kontrol ke dokter gigi, semuanya lengkap, selain mengecek kesehatan gigi anak, orangtua pun diajarkan cara menyikat gigi anak dengan tepat. Orangtua diminta untuk praktek langsung di tempat konsultasi yang telah disediakan. Mereka bahkan menanyakan lho sikat gigi dan odol apa yang kita gunakan (karena wajib dibawa saat kontrol)🙂

FASILITAS TUMBUH KEMBANG ANAK

Tadinya sempet deg-deg an juga, apa jadinya ya hidup di Jepang bersama seorang anak yang masih usia dini. Bisa survive ngga ya kita? Jengjeng..ternyata bisa lho! Karena perhatian pemerintah Jepang terhadap anak-anak ternyata luas biasa besarnya, banyak fasilitas-fasilitas tersedia untuk anak-anak di sekitar kami. Diantaranya yang terjangkau dari lokasi tempat kami tinggal ada:

A. Jidoukan (children center)
Hampir di setiap daerah memiliki Jidoukan. Fasilitas yang ditawarkan pun berbeda-beda. Pada umumnya, jidoukan berlokasi dekat dengan perpustakaan daerah.

221x165xnakameguro-jidoukan-png-pagespeed-ic-iruzpcdn7f

Jidoukan is a great place to meet-up with a fellow Mom and Dad with kids for a playdate, or go alone with baby and make some new friends. (Sumber: bestlivingjapang.com)

Di Toyogaoka Jidoukan, yang berlokasi kira-kira 5 menit dengan berjalan kaki dari tempat kami tinggal, secara rutin mengagendakan aktivitas untuk ibu & anak seminggu sekali. Aktivitasnya seru-seru, biasanya ada tetzukuri (crafting dengan berbagai tema yang berbeda-beda), outing ke kebun binatang, dan  kamishibai (story telling).

kamishibai5

What is Kamishibai? (kah-mee-she-bye) or “paper-theater,” is said to have started in Japan in the late 1920s, but it is part of a long tradition of picture storytelling. Kamishibai stories for educational purposes are still being published and can be found in schools and libraries throughout Japan and more recently, through the efforts of Kamishibai for Kids, in the United States and Canada.

Selain itu, kalo lagi mati gaya, bisa ajak anak ke tempat ini untuk main sepuasnya juga, dari pukul 9.00-15.00 setiap hari (selain ahad). Karena di tempat ini disediakan ruangan bermain dengan permainan lengkap yang sudah ditata sesuai umur dan jenis permainan. Ibu bisa menemani anak sepuasnya, anak senang, ibunya pun bisa menikmati quality time dengan sang anak dan juga bercengkerama dengan ibu-ibu lainnya.

B. Seitoku Youchien (Seitoku Kindergarten)

Belum lama ini, sebuah taman kanak-kanak yang juga berdekatan jaraknya, membuka diri untuk umum, setiap hari Rabu. Anak boleh masuk ke dalam taman kanak-kanak dan bermain dengan fasilitas bermain yang disediakan sepuasnya juga. Bahkan terkadang dibiarkan bermain dengan anak-anak yang bersekolah.

Sumber: (Atas) Website Sekolah Seitoku (Bawah) Dok. Pribadi

Di sini anak dapat belajar untuk bersosialisasi serta mengenal dunia selain rumah. Jadi, walaupun usianya belum menginjak 3 tahun pun sudah bisa kenalan dengan suasana di taman kanak-kanak, yang kurang-lebih dihabiskan dengan belajar sambil bermain.

C. Outdoor Playground

Hampir disetiap blok di antara bangunan di cluster tempat tinggal kami pasti ada taman bermain. Dimana anak bisa bebas bermain dan berlarian. Pastinya, kalau cuaca sedang mendukung fasilitas ini lah yang kita manfaatkan. Begitu pedulinya pemerintah terhadap keselamatan, kenyamanan dan kebahagiaan anak, apapun selalu dengan slogan “kodomo no tame” (demi kepentingan anak-anak/ for the sake of children).

17584404099_70a25d333d_cSuasana salah satu outdoor playground di Tokyo (Sumber: Google)

D. Perpustakaan Daerah dan Toko Buku
Kami dimanjakan dengan fasilitas bernama buku. Kalaupun ternyata buku-buku bertuliskan tulisan jepang, tetapi gambar-gambar di buku anak-anak bagus-bagus semua. Jadi, asik-asik aja buat pinjem buku-buku di perpustakaan Jepang, karena gambarpun bisa kami pakai untuk saling bercerita. Toko buku pun tersebar di sekeliling kami, dimana di toko-toko tersebut biasanya diperbolehkan untuk membaca buku ditempat (disediakan tempat-tempat untuk duduk dan membaca).

mainSalah satu perpustakaan untuk anak di Kyoto Univeristy of Art and Design. Sumber: piccoli.jp

Selain itu, membudayakan membaca untuk anak menurut kami adalah penting. Bukan esensi belajar membacanya tapi menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku dan kegiatan membaca adalah salah satu hal yang menurut kami penting.

FASILITAS UNTUK BELAJAR BERBAHASA

Didanai/diprakarsai oleh Pemerintah Kota, berdirilah sebuat lembaga belajar bahasa Jepang. Dengan staff pengajar orang Jepang asli yang bisa berbahasa inggris. Lembaga ini bernama TIC (Tama International Centre). Lembaga ini tersebar di beberapa lokasi di dalam satu kota, jadi kita bisa memilih lokasi yang paling nyaman untuk kita datangi. Selain program bahasa, lembaga ini juga terkadang menawarkan aktivitas-aktivitas kebudayaan berupa kelas yang bisa kami ikuti juga; seperti Ikebana, kelas memasak, dsb. Lembaga ini juga menyediakan fasilitas penitipan anak gratis selama 2 jam, jadi sang ibu bisa belajar dengan tenang sementara sang anak bisa main sepuasnya..(biasanya sih terus ngga mau pulang ^_^v). So, buat yang di rumah dan ingin tetap bisa belajar bahasa dan budaya Jepang, ngga perlu bingung lagi. Kalau penasaran bisa klik link ini yah! http://www1a.biglobe.ne.jp/tic/

FASILITAS KELUARGA

Salah satu bonus, ketika tinggal di Jepang adalah tempat-tempat berlibur bagi keluarga. Kami terkadang menyempatkan sebagian waktu dari keseharian kami untuk berlibur. Semisal ke theme park ataupun ke lokasi-lokasi yang asyik untuk di datangi.

18Yomiuri Land saat Jewel Light-up

21

Ski Park di daerah Nagano

Selain aktivitas-aktivitas di atas, eratnya hubungan antara sesama orang Indonesia pun membuat kami tidak merasa sendirian. Terkadang kami saling bersilaturahmi untuk menimba ilmu dan saling bertukar pengalaman.

(Kiri) Bersama rekan-rekan PPI-TMU (Kanan) Bersama teman-teman Pengajian Muslimah Fuchu

Dan juga, Kebudayaan Jepang yang sangat kental, menghargai hadirnya empat musim bisa kami nikmati seiring dengan kehidupan kami sehari-hari.

24

Undangan ke Pernikahan ala Jepang

26

Hanami – Cherry Blossom Viewing – Menikmati Bunga Sakura di Musim Semi

27

Hina Matsuri (Girls/Dolls Festival)

Kurang lebih itu yang selama ini kami lakukan untuk menghabiskan waktu kami sehari-hari disini. Walaupun seorang Full Time Mother, saya tetap diberi fasilitas untuk menyalurkan minat dan hobi. Izza pun dapat mendapatkan fasilitas-fasilitas yang mendukung tumbuh kembangnya.

——-

Kalau ada teman-teman yang ingin berkenalan dengan kami, kami bisa ditemui di:
Instagram: @rinintya
blog: http://belajarjadiortu.wordpress.com

*Semua foto dalam artikel ini, otherwise stated, adalah dokumentasi pribadi Chacha dan keluarga.

Processed with VSCOcam with a6 preset

Merantau di Le Barcares

csOntel – I am a housewife and mother who love outdoor activities. I am actually a serious one but people said that I smile and laugh a lot. I love  british accent, watching football and I am a biggest fan of Manchester United FC.

 

Saya tinggal di Perancis setelah menikah dengan Monsieur yang berkebangsaan Perancis pada tahun 2011. Satu tahun setelah menikah, saya melahirkan petit monsieur, dan sekarang kami tinggal di sebuah kota di tepi pantai Mediterania bernama Le Barcares.

Merantau di Le Barcares

Saat ini saya tinggal di kota tepi pantai Mediterania bernama Le Barcares. Karena letaknya yang di selatan Perancis, kota saya ini selalu memiliki suhu yang lumayan hangat sepanjang tahun. Jadi jangan berharap ada salju tebal yang turun di kota ini di musim dingin, hujan saja jarang sekali, yang ada itu ya angin kencang.

1802178_barcares

Le Barcarès is a commune in the Pyrénées-Orientales department in southern France bordering the Mediterranean Sea

Hal-hal yang menarik untuk dikunjungi di kota Barcares

Pantai

Kalau musim panas, jangan ditanya ramainya. Pantai dan jalanan penuh sama para turis yang datang dari berbagai negara. Nah, biasanya kalau musim panas untuk para turisnya, pantai Barcares menyewakan fasilitas olah raga air seperti yacht, jet ski, dsb. Dan untuk yang suka party, hampir setiap weekend akan ada DJs yang siap untuk menemani para turis menghabiskan malam. Di daerah sekitaran pantai Grande Plage, terdapat salah satu perahu besar bernama Le Lydia yang menjadi salah satu kantor turisme di kota Barcares ini. Di sekitaran Lydia ini terdapat pedestrian yang cukup nyaman dan bersih, yang menarik kita juga dapat melihat instalasi artistik yang berada di sepanjang jalan.

beach4 (1)

Pelabuhan

Kalau untuk saya pribadi, tempat yang jadi favoritnya saya di kota Barcares ini itu adalah pelabuhannya. Enggak tahu kenapa, tapi saya suka banget bersepeda ke tempat ini, melihat para nelayan yang sedang mempersiapkan jala,  mencium aroma laut, mengagumi rumah singgah nelayan yang berwarna-warni, dan menikmati senja di antara perahu nelayan. Buat saya pribadi hal-hal seperti itu yang menjadi data tarik pelabuhan Barcares ini.

IMG_0725 (1)

fishermen house (1)

Le village magique de Noel

Walaupun Barcares ini ramainya di musim panas, bukan berarti tidak ada hal menarik yang layak dikunjungi di musim dingin. Objek turisme musim dingin yang harus dikunjungi di Barcares adalah Le Village Magique de Noel. Desa yang penut dennen ‘keajaiban’ ini judah ada sejak tahun 1999. Ini adalah desa buatan yang didekorasi sedemikian rupa sehingga menciptakan kesan bahwa kita sedang berada di sebuah negeri dongeng yang penuh dengan keajaiban. Inti dekorasi kota ‘ajaib’ yang selalu sama setiap tahunnya adalah pepohonan yang dipenuhi dengan butiran salju (buatan tentunya). Kemudian dekorasi tambahan lainnya adalah lampu-lampu hias dalam berbagai bentuk, yang selalu berganti setiap tahunnya.

IMG_0270 (1).jpg

skatingatvillagemagique

Pines Forest

Hutan pinus di Barcares ini menjadi tempat refreshing yang sangat alami dan sepi. Hutannya sendiri memang tidak terlalu luas, tetapi setiap kali kami berkunjung tidak terlihat banyak orang di sana. Selain itu, tempat ini juga memiliki peralatan olahraga ala-ala militer yang terbuat dari gelondongan kayu.

pines tree

Tahapan Awal masuk ke Perancis

Visa Long Sejour

Pada saat saya sedang menunggu proses izin dari Kedutaan Perancis di Jakarta untuk menikah dengan Monsieur,  kami pikir dapat sekaligus melakukan permohonan agar saya dapat segera mendapatkan visa ke Perancis, maksudnya sih supaya setelah proses pernikahan tidak usah repot-repot lagi mengurus visa. Tetapi ternyata untuk warga negara Indonesia yang menikah dengan warga negara Perancis di Indonesia, permohonan visa tersebut baru bisa diajukan setelah menerima livret de familie. Visa yang saya dapatkan adalah visa long sejour dengan status sebagai conjoint français, yang memperbolehkan saya untuk bekerja di Perancis. Bersamaan dengan visa tersebut dari pihak kedutaan memberikan formulir yang harus saya isi dan kirim ke l’Office français de l’immigration et de l’intégration (OFII):

  1. Setelah itu saya menghadiri pertemuan di kantor OFII, pertemuan ini sangat penting karena di sini saya diwajibkan untuk menandatangani kontrak integritas, sebelum mendapatkan stiker yang nantinya akan berguna untuk memperoleh titre de sejour.
  2. Mereka juga mewajibkan saya untuk menghadiri empat pertemuan yang diperuntukan bagi para imigran. Di mana di setiap pertemuan tersebut akan diberikan sertifikat yang berguna untuk mendapatkan titre de sejour di tahun-tahun berikutnya.
  3. Pihak dari OFII juga akan menanyakan kemampuan berbahasa Perancis kita. Kalau dianggap belum cukup maka mereka akan menawarkan kursus bahasa Perancis gratis. Karena waktu itu saya sudah mempunyai sertifikat DELF A1, maka saya tidak mengambil kursus tersebut.
  4. Lalu setelah itu mereka akan mempertanyakan latar belakang pendidikan kita, nanti mereka akan memberikan kesempatan untuk kita diwawancara di agen pencari kerja untuk diwawancara, agar kita bisa mendapatkan pekerjaan.

Visa long sejour ini hanya berlaku selama satu tahun saja. Karena bentuknya merupakan stiker yang ditempel di paspor, maka selama tahun pertama tinggal di Perancis, supaya lebih aman kalau keluar rumah agak jauh saya selalu membawa paspor.

Titre de séjour

Setelah mengantongi ijin tinggal di Perancis dengan visa de sejour, di tahun kedua saya harus memperbaharui ijin tinggal saya dengan titre de sejour. Tidak seperti visa long sejour yang hanya berupa stiker di paspor, titre de sejour ini saya anggap sebagai sebuah kartu identitas, jadilah setelah mendapatkan kartu ini saya tidak perlu membawa paspor lagi kecuali kalau mau keluar Perancis. Untuk mendapatkan kartu ini, syarat yang paling utama untuk pasangan yang menikah dengan orang Perancis adalah tidak bercerai. Setelah itu tentu saya harus melengkapi beberapa berkas yang dibutuhkan dan dikirimkan ke le prefecture. Sama seperti visa de sejour, kartu ini masa berlakunya adalah satu tahun, dan setiap kali melakukan pembaharuan, kartu yang lama harus dikembalikan.

Carte de resident

Saat ini saya telah mendapatkan kartu tanda penduduknya Perancis yang berlaku selama sepuluh tahun. Kartu ini saya dapatkan setelah tiga tahun tinggal di Perancis. Berdasarkan pengalaman saya, untuk mendapatkan kartu ini memang persyaratannya minimal tiga tahun tinggal di Perancis, tetapi teman saya yang lain baru mengajukan kartu penduduk ini setelah tahun ke-empat tinggal di Perancis. Pada saat saya mengajukan pembaharuan titre de sejour, pegawai dari pihak prefektur menawarkan saya untuk membuat kartu penduduk 10 tahun ini. Karena saya sudah tiga tahun tinggal di Perancis, dan bahasa Perancis saya dianggap sudah cukup bagus, beliau mengatakan (jika saya setuju), bisa langsung buat janji untuk diwawancara. Pada waktu itu, dengan ragu-ragu, saya langsung mengiyakan, karena saya pikir tidak ada salahnya dicoba, kalau berhasil lumayan tidak usah bolak-balik setiap tahun ke prefektur untuk memperbaharui kartu. Lagi pula masih bisa buat janji dulu, jadi masih bisa mempersiapkan diri untuk diwawancara di hari lain. Akhirnya saya iya-kan penawaran dari pegawai prefektur tersebut. Setelah saya mengiyakan, pegawai tersebut langsung menelepon pegawai prefektur lainnya untuk menanyakan jadwal wawancara. Tetapi.. ternyata lima menit kemudian saya diwawancara! Tanpa ada persiapan sama sekali, saya pun menjalankan wawancara.

Setelah itu pihak prefektur mengirimkan beberapa pertanyaan ke la maire (balai kota) di tempat saya tinggal, yang gunanya untuk mengetahui keaktifan saya di sini. Setelah itu saya melakukan wawancara dengan pihak balaik kota. Dari sini dapat diketahui apakah kita sebagai imigran dapat berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat sekitar. Terutama juga (ini yang paling penting menurut saya) untuk mengetahui tingkat kemampuan berbahasa Perancis kita. Setelah wawancara dengan pihak balai kota selesai, mereka akan memberikan pendapat mereka mengenai pantas atau tidak pantasnya saya untuk mendapatkan kartu residen. Setelah itu saya harus menunggu dua minggu, sebelum akhirnya mendapatkan surat untuk mengambil kartu residen saya di prefektur.

Ohya! Perlu diingat, untuk memperbaharui visa tersebut harus dilakukan 3 bulan sebelum masa berlakunya habis. Periksa kelengkapan berkas sebelum ke prefektur, karena ada beberapa prefektur yang menolak menerima berkas kalau tidak lengkap. Jadi daripada bolak-balik, lebih baik dilengkapinya terlebih dulu berkas-berkas yang dibutuhkan.

Berkendara di Perancis

Untuk di kota-kota besar seperti Paris, Bordeaux, Marseille, dan sebagainya, pada umumnya sudah memiliki sarana transportasi umum yang cukup memadai, seperti misalnya kereta cepat TGV, bis, ataupun tramway. Sehingga tidak menjadi masalah bagi warganya untuk berpindah tempat tanpa harus memiliki kendaraan pribadi. Hal ini berbeda dengan mereka yang tinggal di kota kecil seperti saya. Karena jadwal bus yang tidak selalu ada setiap waktu, para warga di kota kecil selalu mengandalkan kendaraan pribadi untuk berpindah tempat. Nah, untuk itu saya tertarik untuk memberikan informasi (sedikit) tentang apa-apa yang harus diketahui kalau mau berkendaraan di Perancis.

Sistem Izin Mengemudi dengan poin

Setiap pengemudi di Perancis punya jumlah maksimum dua belas poin. Berkendara di Perancis itu bantak jebakan mautnya, kalau misalnya kena tilang karena tidak pakai sabuk pengaman atau sedang menelepon, poinnya berkurang tiga poin. Misalnya kena radar, berkurang satu poin. Jadinya kalau tidak hati-hati sekali, poin SIM ini cepat sekali habisnya. Nah, kalau yang jumlah poinnya sudah menipis (untuk mengemudi diharuskan memiliki minimum poin yaitu empat poin), para pengemudi diwajibkan mengikuti stage recuperation (semacam kursus rekuperasi poin), supaya bisa mendapatkan poin mereka kembali. Kalau misalnya mereka tidak mengikuti kursus ini mereka terancam didenda dan pembekuan SIM telama tiga tahun.

Kursus rekuperasi poin ini berbayar, sistemnya hampir sama seperti kalau mau mendapatkan SIM baru – musti tes tentang kode jalan, dan latihan menyetir lagi. Kadang-kadang para pengendaranya malas, jadi banyak juga yang membiarkan SIM mereka hilang, dan mengganti mobil mereka dengan mobil yang bisa dikendarai tanpa SIM.

Setiap kendaraan wajib memiliki asuransi

Di Perancis ini asuransi mobil itu wajib hukumnya. Bisa saja sih berkendaraan tanpa asuransi, tapi kalau nanti ada pemeriksaan dan ternyata kendaraan kita gak punya asuransi bisa terkena denda. Selain itu, dari pengalaman saya hari ini, punya asuransi itu bisa bikin kita tenang kalau misalnya (sambil ketok meja) terjadi kecelakaan. Tidak perlu marah-marah sama yang nabrak, yang perlu cuma tinggal minta dan isi (oleh kedua pihak) kertas Constat Europeen d’Accident untuk ditujukan ke asuransi, dan selanjutnya biarkan mereka yang bekerja untuk mengganti kerusakan kendaraan kita. Asuransi ini tidak hanya berlaku untuk kendaraan yang rusak saja, tetapi juga untuk korban yang terluka akan dibayarkan pengobatannya. Kalau misalnya kalian mau menyewa mobil, pihak penyewa biasanya akan menawarkan asuransi. Kalau menurut saya lebih baik diambil saja, tidak apa-apa bayar sedikit lebih mahal yang penting jadi lebih aman.

Jika terjadi kecelakaan polisi akan datang ke tempat kejadian hanya jika ada korban

Kalau misalnya sudah terjadi kecelakaan, tidak udah buru-buru panik dan telepon polisi. Di sini polisi akan datang kalau sampai ada korban. Beda banget sama di Indonesia yang kalau ada kecelakaan Pak polisi pasti langsung nyamperin kita dong buat nanya-nanya kejadian, atau jadi mediator kalau misalnya pihak yang nabrak dan ditabrak saling ngotot. Kalau di Perancis mah boro-boro. Pernah ya waktu pas kami kecelakaan karena ada mobil yang menabrak mobil kami. Di tengah jalan ada pak polisi melihat kami dan mobil kami yang ringsek, tetapi dia gak ngapa-ngapain cuma jalan aja terus gitu, tidak tertarik sama sekali untuk mengetahui kronologis kejadian. Mertua saya juga waktu itu sempat menelepon ke kantor polisi, terus beliau ditanya apakah ada korban yang terluka atau tidak?. Pas mertua saya jawab tidak ada, mereka malah menyuruh kami untuk menyelesaikan sendiri. Katanya mereka bisa datang ke tempat kejadian kecelakaan cuma kalau ada korban saja. Makanya, kalau misalnya (sambil ngetok kayu) sampai ada kecelakaan tetapi tidak ada koran lebih baik diselesaikan sendiri saja.

Awas radar

Iya radar ini digunakan untuk mengatur batas maksimum kecepatan. Biasanya sih radar ini ditempatkan di jalan-jalan besar yang padat lalu lintasnya. Tidak jarang juga dari pihak gendarmerie turun tangan langsung untuk meneropong kecepatan kendaraan di tempat yang tidak terduga. Ada juga radar mobile. Radar ini ada di dalam mobil yang dikendarai polisi atau gendarmerie yang tidak berseragam. Tapi mobil yang dikendarai ini mobil biasa, bukan mobil polisi atau gendarmerie. Jadi mereka menyamar gitu. Sebenarnya ini kadang-kadang dianggap menjebak para pengendara. Karena saking banyaknya radar, ada sekelompok pengendara yang membuat grup antiradar, karena mereka menganggap radar sepertinya disalahfungsikan oleh pemerintah. Tidak jarang banyak juga yang menutup kamera radar dengan cat atau plastik, supaya mereka tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Setuju atau tidak setuju sama radar ya namanya juga berkendara, jadi harus taat dengan batas kecepatan maksimum yang dianjurkan.

wheels-france-camera-blog480

Kalau kita sampai melewati batas kecepatan, radar akan memfoto nomor kendaraan kita dan surat dendanya akan dikirimkan beberapa hari kemudian ke alamat rumah kita. Tapi bisa juga kalau lagi apes ya langsung dijegat sama polisi atau gendarmerie. Jadi kalau gak mau didenda ya musti hati-hati.

Tidak usah umbar klakson

Kalau berkendaraan di Jakarta (apalagi kalau sedang macet) orang senang banget mengklakson mobil. Kalau di Perancis klakson dipakai untuk mengingatkan pengemudi yang nyetirnya tidak benar dan bisa bikin bahaya pengendara lainnya. Jadi kalau misalnya kalian sedang berkendara di jalanan Perancis dan dapat klakson, itu artinya kalian nyaris membahayakan pengendara lain. Klaksonnya cuma sekali aja kok, enggak berkali-kali. Jadi tidak udah panik atau kesal yaa.

Untuk sementara saya baru bisa berbagi segitu saja tentang info berkendaraan di Perancis. Nanti kalau saya sudah tahu lebih banyak lagi akan saya tambahkan, hehe. Tapi sebenarnya sih mau di mana pun juga kalau mau berkendara ya musti hati-hati. Tidak usah pakai emosi kalau misalnya ada kendaraan yang bikin kesal ya diklakson aja.

Sampai cerita selanjutnya dari saya..!


xxxx

Ontel bisa dihubungi via http://www.halobonjour.com

halobonjour@outlook.fr

Instagram: @halobonjour

Merantau di Maryland & Washington DC

11329869_10153425700501064_5766898211181739643_nIka Inggas – Ibu dari seorang anak usia 6 tahun, tinggal di Maryland, USA. Independent consultant, yang selalu menikmati travelling, membaca dan berpetualang dengan keluarga kecilnya (walaupun berpetualang disini mungkin hanyalah naik mobil tanpa tujuan di akhir minggu).

Profesi saya sebelumnya saat di Indonesia adalah International Development Specialist bekerja untuk beberapa lembaga internasional di Indonesia seperti di USAID, European Commission, the Solidarity Center dan beberapa organisasi lainnya untuk program yang berhubungan dengan masalah HAM dan Demokrasi.

Saya pindah ke Amerika pada akhir tahun 2011  mengikuti suami yang berkewarganegaraan Amerika yang kebetulan karena pekerjaannya membawanya kembali ke Amerika. Saya bertemu dengan suami saya di Indonesia ketika ia bekerja di Indonesia. Sejak saya tiba di Amerika, saya sempat bekerja di Voice of Amerika selama 3 tahun dan sekarang saya bekerja sebagai independent consultant.

Merantau sepertinya sudah merupakan bagian dari hidup saya. Sebelum saya pindah ke Maryland, AS, kami sempat empat tahun tinggal di Bangkok, di mana putri saya Saraswati (Sara) lahir. Sebelum menikah saya juga  sempat tinggal di Inggris selama setahun saat mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Inggris untuk studi Masters (2001 – 2002) dan tinggal setahun di Jepang dalam program pertukaran mahasiswa di kota Chiba (1996 – 1997).

10390071_10153425701601064_7596901658890560692_n

Our family: saat Sara “wisuda” preschool

Merantau di Amerika Serikat

Kami tinggal di Kota Gaithersburg, di Negara Bagian Maryland, sekitar 45 menit dari Washington DC dengan menggunakan metro atau mobil. Namun wilayah Maryland, Virginia dan Washington DC yang terjangkau oleh metro biasa disebut sebagai Washington DC secara general. Kami tadinya tinggal di sebuah kondo, tapi kami tidak terlalu merasa “homey” akhirnya kami membeli sebuah rumah di daerah Washington DC coret ini  Kami bersyukur tetangga kami juga sangat baik

11698447_10153425683656064_551805088222163793_n

Welcome Gifts dari tetangga kami

11695838_10153425697611064_3118006897233945438_n

Suasana musim gugur di teras rumah kami

Tinggal di ibukota Amerika, di Washington DC memang memiliki kesan dan keunikan tersendiri. Sebagai ibukota negara, kota ini menjadi pusat pemerintahan, juga menjadi markas berbagai lembaga internasional.  Kota ini penuh dengan bangunan ikonik yang bersejarah, dan museum-museum yang semuanya bisa dikunjungi sebagian besar dengan gratis.

hotels-outside-of-washington-dc-near-the-metro-300x227

Hanya memerlukan waktu 45 menit dengan Metro untuk mencapai Washington DC dari tempat tinggal kami di Maryland.

Salah satu kriteria saya untuk sebuah kota yang asyik adalah bisa menikmati kota tersebut secara nyaman dengan berjalan kaki, dan Washington DC termasuk dalam kategori ini. Hampir semua  landmark di Washigton DC seperti Gedung Putih, Washington Monument, Thomas Jefferson Memorial, Abraham Lincoln Memorial, The Mall, the Capitol, dan museum-museum di Smithsonian semuanya bisa dicapai dengan jalan kaki, karena berada tidak terlalu jauh, dari satu dengan lainnya. Beberapa landmark ibu kota Amerika ini bisa dinikmati sambil berjalan santai tanpa harus takut tertabrak atau terekspos polusi.

Saya dan suami bekerja di Washington DC.  Setiap pagi setelah mengantar putri kami ke TK nya yang tidak jauh dari rumah, kami menuju stasiun metro terdekat dan commute ke Washington DC.

11219398_10153425697886064_8482955593470275450_n

Metro train

11694758_10153425697526064_4229877701243206299_n

Sara mendengarkan cerita guru di atas tumpukan jerami

Pada saat-saat awal saya tiba di Amerika, saya sering berangkat kerja lebih awal ke Washington DC , sehingga  bisa berjalan-jalan sambil mengambil gambar beberapa landmark kota tersebut yang sangat cantik ketika musim semi.

11659498_10153425702436064_3796324391680168918_n

Tulip di depan Capitol Hill

Bunga sakura di  Washington Monument, Tidal Basin dan Jefferson Memorial:

11698623_10153425880981064_427224785146785701_n11666179_10153425880991064_2254460094993595668_n11667402_10153425697146064_8514448603707580546_n

 

 Hal-hal yang menyenangkan dari Merantau di Amerika Serikat

Berada di Ibukota Amerika yang tidak hanya menjadi kota pusat pemerintahan, tapi juga sering menjadi pusat seni dan budaya termasuk tuan rumah berbagai pameran dan eksebisi, siap-siap saja bagi kita untuk mendapatkan kejutan ketika kita melangkah di kota ini. Seperti yang saya alami saat sehabis menjemput anak yang saya titip di kantor suami ketika saya harus menghadiri meeting di Washington DC. Dalam perjalanan menuju Metro, kami melewati National Geographic Museum dan ternyata di sana sedang ada pameran Petualangan Indiana Jones. Jadilah saya dan si kecil melipir menuju museum tersebut dan menikmati berbagai kisah seru di balik pembuatan film yang dibintangi Harisson Ford yang juga adalah film favorit saya sepanjang masa.

11214258_10153425698271064_2010447836178466432_n.jpg

Atau kejutan lain bertemu dengan pemenang Nobel Perdamaian dalam sebuah acara untuk meningkatkan kesadaran untuk pemberantasan atau pencegahan Human Trafficking.

11009148_10153425701181064_7386899068767473888_n

Tidak disangka bisa bertemu dengan penerima Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi di Washington DC, Juni 2015.

Berada di Washington DC, juga cukup mendukung profesi dan minat saya pribadi. Saya bisa mengikuti berbagai acara seminar yang diadakan oleh lembaga-lembaga Think Tank yang mendatangkan orang-orang penting di bidangnya yang sebagian besar diselenggarakan secara gratis oleh berbagai lembaga Think Tank seperti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Carnegie  Endowment for Intl  Peace, Wilson Center dsb.

11665562_10153425700426064_7228327267584614656_n

Prof. William Liddle, a renowed expert on Indonesian politics at Carnegie Endowment for International Peace, 2014.

Tinggal di pusat Ibukota Amerika yang juga merupakan kota lokasi KBRI lokasi Wisma Indonesia, ini berarti ikut merayakan acara 17 Agustusan dengan teman-teman Indonesia

1441456_10153425698976064_6425860841076249620_n

17 Agustusan di Wisma Indonesia

Sebagai warga Washington DC kita  juga memungkinkan untuk datang ke Gedung Putih untuk ikut menyemarakan acara Easter Egg Roll, bersama keluarga orang nomor satu di Amerika. Acara ini adalah acara tahunan yang dilakukan oleh Gedung Putih untuk merayakan Easter dengan mengundang masyarakat umum dengan anak –anak mereka. Untuk bisa ikut acara ini kita harus mendaftar dan kemudian nama kita diundi. Kami merupakan salah satu yang beruntung bisa bermain di halaman Gedung Putih pada saat Easter Egg Rolls tahun 2013.

Kami diantara 30,000 tamu eksklusif  (LOL) yang diundang ke  White House untuk acara  2013 White House Easter Egg Roll 2013.

Hal lain yang paling menyenangkan dari tinggal di Washington DC area selain karena kotanya yang asyik buat dijelajahi dengan berjalan kaki, adalah tersedianya layanan untuk masyarakat yang cukup baik. Seperti adanya taman kota di mana-mana lengkap dengan taman bermain untuk anak-anak, fasilitas untuk kepentingan umum termasuk bagi kaum difabel juga diutamakan. Tidak hanya tempat parkir atau kamar mandi yang khusus disediakan untuk difabel, tapi juga bisa dilihat di restauran cepat saji misalnya yang menyediakan  meja-meja khusus untuk mereka dan juga di kolam renang ada alat yang khusus untuk membantu mereka bisa turun ke kolam renang, jadi kaum difabel pun bisa melakukan kegiatannya. Buat saya, kota atau negara yang bisa memperhatikan kepentingan kaum minoritas seperti kaum difabel, membuat saya tenang dan merasa nyaman.

Sistem Perpustakaan

Sebagai ibu dengan anak kecil yang suka buku, saya suka dengan sistem perpustakaan di Montgomery County Maryland, di mana saya tinggal. Tidak hanya koleksinya yang beragam, juga dalam sistem pelayanan yang sangat memanjakan konsumen. Administrasi keanggotaan yang gratis dan kita bisa meminjam buku di berbagai perpusatakaan yang tergabung dalam Montgomery County Public Libraries (MCPL) yang terdiri dari sekitar 21 perpustakaan di wilayah itu.. Dalam  sekali peminjaman, maksimal buku yang bisa dipinjam atau kita pegang adalah 100 buku atau CD, dan sekali meminjam kita bisa meminjamnya selama 3 minggu untuk kemudian jika buku tersebut tidak ada yang memesan, kita bisa perpanjang lagi secara online sebanyak maksimum 2 kali. Dan pada saat mengembalikan, kita tidak harus mengembalikan buku tersebut ke perpustakaan yang kita pinjam tapi bisa dikembalikan di perpustakaan manapun yang masih berada di bawah MCPL.

1511418_10153425698021064_7948630394927867829_n

Sara sedang antri untuk self checkout

10402940_10153425700531064_2109330299232432137_n

Salah satu perpustakaan yang tergabung dalam MCPL di Kota Rockville. Seperti hotel ya..!

Selain itu yang menyenangkan di AS ini adalah sistem yang diterapkan dipatuhi dan berjalan dengan baik. Ini juga yang menjelaskan bagaimana lalu lintas di jalan raya bisa berjalan dengan tertib dan lain-lainya.  Jadi peraturan memang dibuat untuk dipatuhi bukan untuk dicari-cari kelemahannya sehingga bisa dilanggar.

Kesan tentang Orang Amerika

Orang-orang Amerika walaupun mereka mungkin terlihat individual mereka sebenarnya cukup penolong dan perhatian kepada orang lain dan lingkungan mereka.

Mereka juga cukup ramah. Walaupun mungkin cuma basa-basi namun siapa yang tidak senang ketika setiap saat kita ingin membayar di kasir di supermarket sang penjaga akan selalu menanyakan “How are you today?” dan pada saat akhir sang penjaga akan berkata “Have a good day”. Senang sekali ada  yang mengharapkan bahwa hari kita happy dan indah. Saking seringnya mendapat salam seperti ini di supermarket di sini  dan suatu saat pergi ke supermarket yang dikelola oleh warga Asia masih di AS juga dan saat di kasir sang penjaga kasir boro-boro mengatakan how are you, menoleh pun tidak, cuman sibuk mendata harga barang belanjaan kita, rasanya bagaimana gitu…😉

Namun yang paling menyenangkan buat saya berada di AS ini adalah bagaimana kami bisa menikmati alam Amerika dengan mengendarai mobil sendiri tanpa harus kejebak macet dan polusi di jalan. Setelah tinggal selama  6 tahun di Jakarta dan 4 tahun di Bangkok di mana kami biasanya menghabiskan weekend di rumah atau di mall karena tidak mungkin bisa menikmati perjalanan dengan naik kendaraan dalam suasana kemacetan, baru di AS inilah kami bisa  merasakan nikmatnya naik mobil, walaupun awalnya tanpa tujuan, namun akan selalu berakhir dengan melihat panorama alam yang indah. Alam Indonesia pasti tidak kalah indahnya, hanya saja kadang begitu sulit untuk menemukannya ketika kemacetan menghadang di mana-mana dan para pengendara lainnya tidak peduli akan tata tertib berlalu lintas.

10491091_10152626608886064_2005946690749315423_n

Scenery from our car while roadtrippin’

Yang tidak mengenakkan dari tinggal di AS ini untuk saya adalah pada saat  musim dingin yang berat. Salju memang cantik dan menyenangkan untuk beberapa saat. Namun jika sudah terlalu lama dan suhu terlalu dingin tidak  akan asyik lagi. Pas musim dingin di Maryland suhu bisa drop hingga -4 F (-15 C) ditambah cahaya matahari yang sangat pendek, jam 4:30 PM sore sudah gelap. Cuaca yang dingin ditambah hari gelap begitu cepat kadang sukses bikin saya sedih, kangen balik ke Indonesia dan semakin kangen dengan keluarga.

11221472_10153425702996064_3569048443391417623_n

Beberes tumpukan salju

Oh ya, hal lain yang tidak menyenangkan saat  berada di luar negeri adalah jauh dari keluarga besar kita di Indonesia. Sedih ketika pada acara-acara khusus kita tidak bisa datang apalagi jika ada keluarga yang sakit. Sedih dan sering merasa bersalah, karena tidak bisa menemani, hanya bisa lewat skype dan whatsapp.

11112799_10153425702956064_5224064785856196733_n

Halaman belakang rumah saat musim salju

Kebiasaan Orang Amerika

  1. Kecuali mungkin dia adalah Presiden atau orang super kaya, orang Amerika biasanya ngurus rumah tangganya sendiri, alias ngga ada pembantu, karena biaya untuk pembantu atau tukang-tukang ini  juga cukup besar. Jadi dari masak, ngasuh anak, kerja, jemput anak, berkebun, bertukang biasanya semuanya dikerjakan sendiri. Buat yang terbiasa ada pembantu di Indonesia, melihat kenyataan ini awalnya mungkin susah tapi lama-lama malah bikin kita jadi mandiri kok.
11183445_10153425698876064_8574970583853290867_n

Bayar tukang mahal: jadi gotong royong sekeluarga buat ngecet pagar🙂

2. Di sini ada kewajiban tidak tertulis untuk ngasih tips di restaurant jika kita  puas dengan pelayanan yang diberikan.

3.Anak-anak remaja walaupun dia berasal dari keluarga kaya, mengambil kerja sambilan di toko-toko, restaurant, atau di tempat lain untuk mendapatkan tambahan uang saku, dan ini bukan hal yang memalukan.

4.Return policy. Jadi kalau beli barang ternyata tidak sesuai, dalam jangka waktu tertentu (biasanya 1 – 3 bulan untuk barang-barang yang bukan dikonsumsi ) barang tersebut bisa dikembalikan lagi dan uang akan dikembalikan asal melampairkan bukti pembelian. Dan pada saat mengembalikan barang pun kita sama sekali tidak dipersulit, tidak ditanya bertele-tele.

5. Free refill, di berbagai chain restaurant, minuman bisa diisi sendiri dan nambah sendiri, dengan gratis.

6. Restaurant biasanya memberikan krayon dan kertas mewarnai/ menggambar untuk anak2 supaya anak-anak tidak rewel di rumah makan

7. Keamanan dan keselamatan anak sangat diperhatikan, secara detail misalnya ada peraturan sampai usia atau berat tertentu seorang anak harus menggunakan car seat saat duduk di mobil untuk keselamatan sang anak dan mereka yang tidak mematuhi akan beurusan dengan hukum. Namun sayangnya, undang-undang untuk keselamatan anak ini pun tidak maksimum karena berbenturan dengan undang-undang lainnya seperti begitu mudahnya orang mempunyai senjata api, yang berujung pada banyaknya anak ataupun orang dewasa yang meninggal karena korban senjata api yang digunakan dengan tidak bertanggung jawab.

8. Menjadi anjing di Amerika tampaknya lebih beruntung dibanding di negara lainnya, karena anjing di sini sangat disayang dan dianggap sebagai anggota keluarga sendiri. Di Supermarket ada khusus aisle untuk keperluan anjing, dari makanan hingga mainan untuk anjing.

11701105_10153425932841064_3874379685407829186_n

Anjing juga di sekolahkan sehingga dia bisa  berperikeanjingan yang baik  Ada semacam bed and breakfast untuk anjing, jasa penitipan anjing ketika tuan rumah harus bepergian. Tapi pada saat yang sama juga, si tuan yang punya anjing harus bertanggung jawab terhadap anjingnya termasuk mengambil kotoran anjing tersebut sehingga tidak akan terinjak orang lain.

Komunitas Indonesia di DC

Agar Sara dekat dengan akar budaya Indonesia, selain berusaha mengajak Sara berbicara bahasa Indonesia (hal yang cukup menantang karena walaupun dia kadang mengerti apa yang saya sampaikan kepadanya dalam Bahasa Indonesia, dia jarang menjawab dalam Bahasa Indonesia dan maunya hanya Bahasa Inggris) saya juga sering  mengajak dia ke berbagai acara yang melibatkan masyarakat Indonesia seperti acara 17 Agustusan dan acara-acara lainnya yang biasa diadakan di KBRI. Kebetulan di Washington DC juga ada organisasi yang dibangun untuk memperkenalkan anak-anak Indonesia di AS dengan budaya Indonesia yaitu Rumah Indonesia yang kebetulan beberapa pendirinya adalah teman-teman saya juga. Organisasi ini cukup banyak mengadakan kegiatan untuk mendekatkan anak-anak Indonesia di DC terhadap budaya Indonesia.

12140180_10153674117561064_3304055975903738988_o

Little Indonesia at Montgomery Festival – we’re ready for the parade!

11707681_10153425698781064_2007285740633717085_n.jpg

Bersama Maya Sutoro dalam acara Membentuk Identitas Anak Indonesia yang berasal dari dua budaya yang berbeda yang diadakan oleh Rumah Indonesia, Juni 2015 di KBRI Washington DC.

Salah satu upaya supaya Sara bisa mengenal kebudayaan Indonesia adalah dengan mengajaknya ke acara budaya Indonesia, seperti saat pagelaran Wayang Sutasoma di KBRI di mana saya dengan teman-teman Banjar Bali USA diminta untuk ikut menari, Januari 2015:

988563_10153425697046064_566377557002640087_n.jpg

Saya juga senang di Washington DC ada sejumlah keluarga yang juga berasal dari kampung halaman saya, Bali. Walaupun jumlahnya tidak banyak namun komunita BanjarBaliUSA ini (www.banjarbaliusa.org) cukup lumayan untuk obat rindu kampung halaman dengan kegiatan-kegiatan yang kita lakukan seperti kumpul-kumpul saat hari raya. Senang juga bisa mendengar canda gurau dalam Bahasa Bali yang pernah begitu akrab ketika saya besar di Bali, dan ini bagus buat putri saya untuk mengenal lebih dekat bahasa dan budaya dimana ibunya berasal (Walaupun buat sang Ibu sendiri bisa  melepas  kangen dengan makanan khas Bali yang jarang bisa dinikmati selama di Amerika, adalah juga sesuatu banget dalam cara kumpul-kumpul ini).

10984150_10153425699586064_8994433774614615_n

Om Swastyastu dari Washington DC

11709681_10153425699721064_3412303173781551770_n

Upacara Galungan

11666074_10153425697301064_8325887843964257317_n

Sara dan Banjar Bali

Selain menjadi ajang kumpul-kumpul warga Bali, Banjar Bali juga aktif membantu KBRI dalam acara pengenalan seni budaya Indonesia di AS, seperti misalnya melalui penampilan tarian Bali dalam berbagai acara di Amerika.

11694028_10153425696951064_776132558217165435_n.jpgBanjar Bali ikut  berpartisipasi dalam peresmian Patung Saraswati di Washington DC oleh Mantan Presiden SBY (26 September 2014)

Walaupun jauh dari kampung halaman, tidak berarti kami melupakan tradisi kami, dan kami berusaha untuk selalu dekat dengan akar budaya kami untuk memastikan anak-anak  kami yang tidak besar di Bali/ Indonesia untuk selalu ingat akan akar yang juga membentuk identitas mereka. Itulah juga yang menjadi latar belakang kami melakukan acara Dharma Shanti warga Banjar Bali dalam memperingati Nyepi (liputannya bisa dilihat di sini).

Selain Banjar Bali, banyak komunitas dari berbagai suku/ adat Indonesia di Washington DC, seperti Rumah Gadang USA, Parsadaon Bangso Batak, Kawanua USA, House of Angklung, dan berbagai komunitas lainnya yang ikut melestarikan budaya tanah air di Amerika.

886012_10153425698186064_5811602004870725189_o.jpg

Sebelum tampil berfoto dengan teman-teman dari Rumah Gadang USA

12032932_10153621680836064_9201008665595096307_n.jpg

House of Angklung Washington DC concert (Courtesy:  House of Angklung).

—-

All pictures are courtesy of Ika Inggas and family, otherwise stated.

luftbild-900x300

Merantau di Kerpen

Processed with VSCOcam with f2 presetBeth Agustina, wanita kelahiran Agustus 1977 yang tidak bisa berenang meskipun lahir dan tinggal di kota yang terkenal dengan pantai-pantainya, Pacitan, hingga usia 16 tahun. Menetap di Kerpen Jerman sejak tahun 2007. Bekerja sebagai fotografer yang  saat ini sedang menikmati masa-masa tiga tahun parental leave yang akan segera berakhir dua bulan mendatang.

Continue reading

stadt_bad-aibling

Merantau di Bad Aibiling

HikingA stubborn Taurean yang lahir 40 tahun silam di Jakarta. Seorang istri dari suami yang jangkung bernama Sven dan seorang ibu dari seorang putri kecil bernama Medea Kedasih (4 tahun). Saat ini sedang bersekolah kembali untuk nantinya bisa berkerja dengan anak-anak. Co-Author buku 3 Wanita Menjejak Dunia dan Menghirup Dunia. Salah satu kontributor resep di buku 99+ Resep Rumahan Cihuy, sebuah buku komunitas Mama Koki Handal. Suka membaca, membuat DIY dan belajar masak, juga fotography secara autodidak.

Pengalaman Merantau

Saya meninggalkan kampung halaman pertama kali itu di tahun 1994, sewaktu masih kuliah Bahasa Cina di Program D3 FSUI. Ga jauh sih, hanya ke Bali dan bekerja di Club Med, Nusa Dua. Bekerja menjadi GO (Gentil Organisateur) di Kids Club. Enjoy banget masa-masa bekerja dengan anak-anak. Kembali lagi ke Jakarta dan bekerja di bidang perhotelan. Lalu kepikiran untuk sekolah kembali di bulan Maret tahun 2000 dan tinggal di Berlin untuk mendampingi suami yang waktu itu bekerja menjadi guru high school. Di ibukota Jerman itu saya memulai semuanya dari nol. Mulai dari belajar Bahasa Jerman sampai akhirnya mencari pekerjaan. Kursus Bahasa Jerman di Berlitz School yang intensif – setiap hari dari jam 8 sampai jam 15 –  membuat saya mendapat teman baru dengan beragam kebudayaan dan asal negara. Ada yang dari Mongolia, Taiwan, Spanyol, dan juga Rusia. Dalam kurun waktu dua bulan, saya mulai bisa berkomunikasi dengan bahasa Jerman cukup lancar. Bahasa Inggris dengan suami juga akhirnya tergantikan dengan bahasa Jerman. Hasil ujian bahasa Jerman juga tidak memalukan :d Setelah itu saya disibukkan dengan mencari kerja. Sebagai batu loncatan, saya bekerja sebagai Barista di sebuah coffee shop terkenal di Berlin. Di mana akhirnya saya diangkat menjadi manager salah satu cabang.

Di tahun 2002 saya memutuskan untuk kembali ke sekolah. Awalnya saya mau kuliah, namun karena ijazah SMA dari Indonesia diakui hanya sebagai lulusan Mittlere Reife (secondary level certificate), jadi saya harus mengikuti Studienkolleg, sebuah program yang fungsinya sebagai “jembatan“ untuk mendapatkan level yang sama dengan sistem pendidikan di Jerman. Akhirnya saya memutuskan untuk sekolah jurusan Correspondent of Foreign Language karena ijazah SMA saya bisa langsung dipakai.

Pada tahun 2004 – 2010 pindah ke Caracas, Venezuela karena suami ditugaskan menjadi guru di Colegio Humboldt. Sebuah sekolah untuk warga Jerman di Caracas, tapi juga untuk warga setempat. Di sana saya belajar bahasa Spanyol dan juga memutuskan untuk mengikuti ujian Bahasa Jerman untuk mendapatkan diploma bahasa Jerman. Program dari Goethe Institut di Munich itu berhasil saya ikuti, sehingga bisa mengajar bahasa Jerman di Goethe Institut, Caracas. Selain itu saya juga memberikan les tambahan bahasa Jerman untuk murid-murid Venezuela di Colegio Humboldt.

20150606173551-1200x674

Favelas of Petare neighborhood. Caracas, Venezuela

Di sini saya juga berkenalan dengan dua orang Indonesia yang akhirnya menjadi sahabat dekat. Kita seringnya berkumpul, masak dan baking bersama sambil curhat dan ketawa-ketiwi. Saling membantu di saat down dan saling menyemangati. Mereka jugalah yang menyemangati saya sewaktu program IVF (In Vitro Fertilization/ Bayi tabung) yang belum berhasil. Beruntung ada mereka, jadi saya punya shoulders to cry on. Kita bertiga layaknya udah seperti keluarga deh. Baru kenal dan langsung terasa sehati dan dekat.

2010 masa tugas suami selesai dan keadaan keamanan di Caracas yang tidak pasti, kita memutuskan untuk kembali ke Jerman. Tepatnya ke Bavaria, asalnya suami. Pucuk dicinta, ulam tiba. Suami mendapatkan tawaran kerja di sebuah sekolah. Oleh karena itu kita memutuskan untuk tinggal di Bad Aibling karena kotanya tidak terlalu besar, namun mempunyai infrastruktur yang OK. Setelah kembali ke Jerman, saya mencari kerja dan memulai kembali sebagai Barista.

Namun kamipun mendapatkan rejeki yang tak dikira. Setelah divonis tidak bisa hamil secara normal, dan sudah berkali-kali mengikuti program bayi tabung di Caracas, akhirnya saya hamil, normal mal mal.

6350186986_74d5b522ce_z

Medea Kedasih lahir dengan sehat 12 Januari 2012. Saya berhenti bekerja dan menikmati banget jadi SAHM selama 3 tahun. Kenikmatan yang luxury banget!

6942058398_71001ef004_h

Pengalaman Merantau di Dunia Benua

Jika ditanya perbedaanya, yang jelas bedanya sangat terasa. Kalau di Jerman, rasanya susah untuk mendapatkan teman baik. Tapi kalau sudah kenal, mereka jadi teman baik yang asik. Nah kalau di Venezuela, rasanya gampang banget dapet teman tapi kenyataannya mereka membangun barrier. Walaupun tak terucap, kita berasa.

Kenyamanan tinggal di Caracas adalah cuaca tropisnya. Letak Caracas adalah 1000m d.p.l bikin cuaca selalu sekitar 25 derajat Celsius. Asik banget! Kalau di Jerman seringnya jalan kaki dan naik kendaraan umum, di Venezuela selalu naik mobil atau taksi. Tapi naik taksi pun masih harus berhati-hati. Tidak disarankan untuk menyetop taksi di pinggir jalan, karena banyak kejadian penculikan dan perampokan. Jadi pesan taksi lewat telfon, atau naik taksi tercatat dari mall. Makanya ngerasa bebas merdeka banget waktu kembali ke Jerman karena ga ada rasa takut.

Metrocable di kota Medellin - Kolombia

Metrocable di kota Medellin – Kolombia

Soal tepat waktu di Venezuela itu ngingetin aku sama Indonesia :d Jam karet berlaku deh di sana. Kata “besok“ di Indonesia mirip banget fungsinya dengan “mañana“ di sana. Kebetulan artinya bahasa Spanyol ini adalah “besok“.

Dari pengalaman merantau di Venezuela, suka dan dukanya, malah tetap membuat kami berpikir untuk merantau lagi sambil mengajak Medea mengenal negara baru dengan tradisi, bahasa dan culture-nya. Tapi sementara itu, kita nikmatin dulu tinggal di Jerman.

Bad aibling dan State Bavaria

Bad Aibling letaknya di lembah sungai Mangfall dan luasnya sekitar 42km². Terkenal dengan swamp health spa. Enaknya semua ada, dari perpustakaan umum, beberapa TK, daycare, beberapa supermarket, drug store, thermal, beberapa toko buku, apotik, dokter, Rumah Sakit, taman, sampai bioskop, cafe/restoran, gelateria dan pub.

47932028

Ke mana-mana bisa naik sepeda dan jalan kaki. Ada kereta api juga untuk ke kota-kota berikutnya. Sejak tahun ini, malah ada kereta langsung ke Munich. Ke sekolah, saya memilih naik kereta karena hanya 3 stasiun dan dalam 10 menit sudah sampe di kota Rosenheim, lokasi sekolah saya. Dari Rosenheim ada kereta langsung ke Salzburg, Austria.

rosenheim_bild19_600px

Rosenheim

Dari Bad Aibling, kita bisa pergi ke banyak tujuan. Pokoknya kami tuh tinggal di tempat di mana orang-orang ingin berlibur. Jadi kebayang kan banyaknya tempat tujuan yang asik untuk dikunjungi? Entah itu untuk hiking, bike tour, untuk ke outdoor Alpine Zoo, untuk menikmati Chiemsee, danau terbesar kedua di Bavaria ataupun plesir ke kota Innsbruck di Austria.

Karena Bad Aibling adalah spa town, jadi banyak sekali klinik-klinik. Banyak pasien klinik yang berasal dari negara Saudi Arabia, oleh karena itu banyak juga hotel. Karena letaknya sekitar 40km dari ibukota Bavaria, jadinya harga tanah dan rumah cukup tinggi. Banyak penduduk yang bekerja di Munich, namun karena harga sewa rumah di sana amat sangat tinggi, jadi mereka memilih untuk tinggal di pinggiran. Salah satunya adalah Bad Aibling.

Nah tapi namanya juga manusia, pasti ada yang kurang nih dari kota tempat tinggal kami. Yang kurang adalah… playground! Ada empat sih, tapi sudah tidak up-to-date. Ada yang baru dan tidak directly in the town. Enaknya masih bisa cycling distance sih, jadi anggap aja sekalian olah raga.

bike tour di kota Eigen am Inn%2C perbatasan Jerman Selatan dan Austria

Sementara mengenai Bavaria: adalah salah satu state di Jerman yang paling kaya. Nyaris tidak ada tingkat pengangguran. Karena itu banyak sekali pendatang dari daerah mantan Jerman Timur untuk menetap di Bavaria karena masih ada lahan pekerjaan. Banyak penduduk state lain di Jerman yang bilang kalau penduduk Bavaria itu sombong, tapi sebetulnya tidak. Mereka terlihat kaku tapi sebetulnya sangat ramah dan easy going. Sistem sekolah di Bavaria juga paling tinggi dibanding dengan state lain di Jerman.

Koenigssee dan St. Bartholomae di Bavaria

Koenigssee dan St. Bartholomae di Bavaria

Oiya, kalau kita bicara soal a picture about Germany, pasti yang dibayangkan itu adalah  Dirndl (pakaian tradisional wanita di Bavaria), Lederhose (pakaian tradisional pria di Bavaria), Breze (Pretzel) dan Sauerkraut, ini sebetulnya bukan Jerman tapi Bavaria.

Maibaum tradisi 1 mai

Enter a caption

Bahasa Pengantar

Bahasa sehari-hari antara penduduk setempat adalah bahasa Jerman dialek. Di Bavaria sendiri ada beragam dialek, tergantung dari daerahnya di Bavaria. Bahasa Inggris kadang terdengar di Munich, mungkin karena Munich adalah ibukota Bavaria dan di sana juga banyak expatriats. Namun hal ini tidak umum di kota-kota kecil lain, seperti juga di Bad Aibling, jadi bahasa pengantar sehari-hari adalah bahasa Jerman. Awalnya saya sempat ragu apakah bisa mengerti dialek Jerman di daerah kami tinggal. Namun ternyata itupun bukan kendala untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal, dengan orang tua murid di TK saya bekerja, maupun di sekolah saya menimba ilmu. Mereka tidak meminta kita berbicara perfect, namun akan menghargai usaha kita sebagai pendatang.

Medea as a knight on Medieval Knight Festival di Bavaria

Medea as a knight in Medieval Knight Festival di Bavaria

Penduduk di Bad Aibling atau Upper Bavaria

Seperti yang saya sudah tulis di atas, penduduk Upper Bavaria dicap sebagai orang yang sombong. Namun hal ini tidak bisa saya setujui karena pengalaman pribadi saya berbicara lain. Mereka, seperti layaknya penduduk Jerman, terlihat kaku awalnya. Namun sebetulnya mereka itu friendly, easy-going, dan mempunyai humor yang tinggi. Tradisi juga sangat dijunjung tinggi dan belum punar dari modernisasi kehidupan. Karena sistim perekonomian yang sangat baik, jadi terlihat sekali kalau penduduknya mapan. Sisi kemanusiaan juga terlihat di masa ini, dengan banyaknya refugees yang datang ke Jerman. Kebanyakkan dari mereka datang melalui Bavaria. Sudah banyak camp untuk refugee dibangun oleh pemerintah Bavaria, juga di Bad Aibling.

2016-02-17-064033_1600x900_scrot

Linderhof Palace or Schloss Linderhof in German is a palace built by King Ludwig II and located in Ettal valley, Upper Bavaria.

Kegiatan Outdoor

Karena tidak terlalu jauh dari Pegunungan Alpina, jadi kita seneng hiking. Pastinya toddler-friendly-hiking. Selain itu juga bersepeda. Kita pernah beberapa kali bike tour. Yang terjauh itu dengan jarak 60km. It was a round trip dari Bad Aibling ke kota-kota tetangga dan return. Abis itu sempet ngomelin Pak Jangkung (suami) karena kaki jadi pegel kaya mau patah. Medea cukup menikmati setiap kali bike tour. Kalau hiking, dia masih suka malas jalan. Maka dari itu, kami buat se-fun mungkin dan selalu motivasi dia untuk terus jalan. Entah dengan main petak umpet, ngumpulin ranting, pokoknya segala usaha deh supaya sama-sama asik menikmati kegiatan.

playground momen

Tradisi Bavaria

Ada banyak tradisi di Bavaria dan seringnya berkaitan dengan agama Katolik sebagai agama mayoritas di Bavaria. Fasching yang dirayakan tujuh minggu sebelum masa puasa dimulai. Masa pra-Paskah ditandai dengan puasa untuk menyambut Paskah dan dimulai saat Rabu Abu. Acara Fasching yang berlangsung beberapa hari ini selain di Bavaria, juga di negara bagian Jerman yang beragama Katolik, dan disebut dengan Karnaval. Masa di mana orang-orang berpesta, ada arak-arakan atau parade dan mayoritas berkostum. Kata karnaval sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu Carne vale yang artinya meat farewell. Selama masa puasa, umat Katolik diajak untuk mengurangi konsumsi daging.

Left: Leberkase is a specialty food found in the south of Germany, in Austria and parts of Switzerland, similar to bologna sausage. It consists of corned beef, pork, bacon and onions and is made by grinding the ingredients very finely and then baking it as a loaf in a bread pan until it has a crunchy brown crust.) and right: Wurstsalat (German sausage salad)

Di Bavaria ada tradisi Maibaum, May tree, Maypole. Sebuah tiang dari satu batang pohon yang tingginya bisa mencapai 56meter. Pohon ini dicet biru dan putih, warna bendera Bavaria. Lalu dihias dengan berbagai figure sesuai tradisi tiap kota/daerah; misalnya baker, tukang kayu, petani, etc. Tradisi ini jatuh tepat pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya. Dan seringnya dipakai juga sebagai pesta rakyat. Ada tarian tradisional, ada musik khas Bavaria dan tentu saja makanan, seperti Wurst (sausages), Semmel (bun) dan Breze (pretzel). Oiya tradisi ini setiap tahunnya mengambil tempat di kota yang berbeda. Misalnya tahun 2013 ada di Bad Aibling, dan  tahun mendatang baru akan diganti dengan Maibaum yang baru.

Maibaum

In Germany and Austria the maypole (or Maibaum) is a tradition going back to the 16th century

Sebuah tradisi yang sangat ditunggu oleh anak-anak kecil adalah perayaan Sankt Martin atau disebut juga Martinstag (Martin Day) yaitu setiap 11 November. Anak-anak di daycare, playgroup dan TK bersama dengan staf pengajar, bahkan ada yang melibatkan orang tua juga, akan membuat lantern kertas dan nantinya akan dibawa saat Martinsumzug, St. Martin’s parade. Ada yang berkumpul di kebun TK masing-masing. Namun Tknya Medea merayakan parade ini di taman. Saya dan Medea berkumpul dengan teman TK dan keluargnya, berjalan mengelilingi taman sambil bernyanyi beberapa lagu khas St. Martin. Udara yang dingin terasa hangat dengan  ada juga yang berkumpul di taman kota. hasil prakarnya dan berkumpul di taman.

2016-02-17-063522_1600x900_scrot

Biasanya disediakan cookies berbentuk goose, kita menyebutnya Martingans (Martin’s goose)

Tradisi yang paling terkenal seantero dunia, Oktoberfest. Sebuah pesta rakyat menjelang musim gugur selama dua minggu, biasanya akhir September hingga awal Oktober. Pesta rakyat tekenal ini awalnya adalah pasar tradisional, di mana para petani, para pengrajin, menjual dagangan mereka. Oiya, cerita tentang Oktoberfest ini ada di buku 3 Wanita Menjejak Dunia. Buku yang saya tulis dengan dua orang teman. *ujung-ujungnya promosi :d*

1200x630_314236_oktoberfest-bavarian-costumes-bands-an.jpg

Bavarian costumes, bands, and beers..!

Traveling with little ones

Saya sudah berkunjung ke sekitar 15 negara dan 6 di antaranya dengan Medea. Karena dibiasain sejak umur 3 bulan, jadi cukup travel-able nih anak wedokku. Di IG saya, #travelwithlittlebirdie boleh dilihat-lihat kalau ada waktu.

Melk Abbey

Medea in Melk Abbey.

Melk Abbey is a Benedictine abbey above the town of Melk, Lower Austria, Austria, on a rocky outcrop overlooking the Danube river, adjoining the Wachau valley.

Kita sekeluarga memang seringnya pergi ke tempat yang non-mainstream. Sebisa mungkin ke tempat yang jarang wisatawannya. Misalnya ke daerah Burgundy di Perancis. Waktu itu kita menyewa penginapan di Morvan. Sebuah kota kecil yang penduduknya banyak meninggalkan kota untuk pergi ke kota yang lebih besar. Jadi banyak sekali rumah-rumah, bahkan juga chateau yang kosong dan dijual murah.

Liburan musim panas yang lalu kita memilih Waldviertel, Forest Region, di Austria. Sebuah daerah cantik namun tidak terkenal di kalangan wisatawan. Penduduk lokalnyapun banyak yang memilih untuk migrasi ke kota lain. Di sana kita menginap di sebuah organic farm house.

Kalau kita seringnya kalau road trip, bawa makanan cemilan, audio books yang buanyak (Medea seneng dengerin audio books), dan selalu nyempetin istirahat untuk bergerak.

South Tyrol - Italia

South Tyrol, Italia

mamarantau - snowy Schlern di South Tyrol - Italia

Snowy Schlern, South Tyrol, Italia

Tipsnya: persiapkan diri kita lebih dahulu. Kalau kita sebagai orang tua siap lahir batin, anak jadi berasa. Karena kita adalah contoh buat mereka.

LL-mamarantau-

 *This post is written in collaboration with LivingLoving. Do check out the other side of Mindy on LivingLoving’s blog

IG dan Twitter: @mindoel – mindycjordan@yahoo.de –

Blog: mindoel.blogspot.de

Foto-foto terlampir adalah karya Mindy dan keluarga – Dan beberapa foto penunjang terhubung langsung dengan image pada gambar.