Merantau di Athena

di-museum-arkeologi-athens.jpgIrma Kartika – I am an architecture graduate who never worked in architecture world, but my passion is still there (at least admiring the buildings 🙂 ), now a mother of two boys, currently living abroad with my family to accompany my husband pursuing his master’s degree in La Rochelle, France. In 2011-2014 our family resided in Athens, Greece to follow my husband’s duty in the embassy.

Hallo..! Saya seorang sarjana Teknik jurusan Arsitektur, yang setelah lulus kuliah kemudian bekerja di beberapa perusahaan sebagai marketing. Sejak melahirkan anak pertama saya berhenti bekerja dengan rencana akan kembali bekerja, namun 20 bulan kemudian saya melahirkan anak kedua, maka saya pun memilih untuk menjadi full-time mom untuk kedua anak saya, Rafa dan Zafa. Sedari kecil saya tidak pernah pindah domisili, berada di kota dan kompleks yang sama, baru pindah rumah ketika menikah, itu pun cuma beda beberapa blok dari rumah orang tua saya.

Berbeda dengan suami saya yang ayahnya bekerja sebagai diplomat, membuatnya selalu berpindah rumah dan negara. Ia pun memilih pekerjaan yang sama dengan ayahnya setelah menikah dengan saya. Maka di tahun 2011, 5 tahun setelah menikah dengan 2 anak balita saya pun memulai petualangan berpindah ke negara lain mengikuti tugas suami saya sebagai diplomat. Kota yang menjadi tempat tujuan kami adalah Athena, ibukota Yunani.

Idul Fitri 2014 di Wisma Duta Athena.jpg

Idul Fitri di KBRI Athena

Tinggal di Ibukota Yunani

Yunani seperti halnya Indonesia merupakan negara kepulauan yang indah dan kaya akan tradisi. Terletak di daerah mediterania membuat Yunani mempunyai iklim yang hangat, memiliki 4 musim namun musim dingin relative lebih ‘hangat’ dibanding negara Eropa lainnya.

dsc_0066

Athens, a city worshipped by people and gods. The beautiful capital of Greece is one of the oldest cities in the world. It is said to be the cradle of civilization and the birthplace of democracy. 

Athena, ibukotanya merupakan kota bersejarah dengan bangunan-bangunan kuno berpadu dengan hiruk pikuk kehidupan di ibukota. Saat kami tiba di sana di bulan Agustus 2011 Yunani sedang dihantam oleh krisis ekonomi yang sangat parah sehingga kehidupan di kota Athena agak muram, dan lesu ditandai dengan banyaknya toko-toko yang tutup dan keadaan lingkungan yang kurang terawat serta kotor. Demonstrasi pegawai / buruh menjadi agenda rutin beberapa bulan sekali dengan sesekali ada mogok (strike) transportasi umum seperti metro dan bus. Namun selama kami tinggal di sana masih dalam taraf aman dan terkendali.

Kendala utama yang harus kami hadapi adalah Bahasa. Bahasa Yunani mempunyai alfabet sendiri yang berjumlah 24. Meskipun beberapa alfabet sudah cukup familiar karena penggunaannya di pelajaran fisika namun jadi peer bagi saya di awal-awal kedatangan kami untuk membaca nama tempat terutama jika sedang bepergian dengan transportasi umum. Namun lama-kelamaan saya pun bisa membaca tulisan Yunani dan saya pun sempat kursus singkat Bahasa Yunani selama 3 bulan yang diadakan oleh KBRI untuk para pegawai dan pasangannya.

img_2011

Meskipun demikian tidaklah sulit menemukan penutur Bahasa Inggris di Athena. Di daerah wisata di pusat kota Athena, Bahasa Inggris sangatlah umum digunakan sehingga kita tidak perlu khawatir lost in translation.

Berkeliling di Athena

Kota Athena merupakan tujuan wisata historis,  kota ini berbukit-bukit dengan bukit tertingginya adalah Bukit Lykavittos dimana dari puncaknya kita dapat melihat pemandangan kota Athena 360 derajat.

lykavittos_hill_002

Lykavittos Hill

Bukit lainnya adalah bukit dimana terdapat bangunan paling terkenal di Yunani yaitu Acropolis of Athens. Mengunjungi tempat ini sudah menjadi impian saya sejak kecil dan akhirnya tercapai malah lebih dari 5 kali tak bosan kesana melihat kebesaran sejarah dan juga pemandangan yang spektakuler.

1200px-view_of_the_acropolis_athens_28pixinn-net29

The word acropolis comes from the Greek words ἄκρον (akron, “highest point, extremity”) and πόλις (polis, “city”).[2] Although there are many other acropoleis in Greece, the significance of the Acropolis of Athens is such that it is commonly known as “The Acropolis” without qualification

pemandangan Athena dr Acropolis

Pemandangan Athena dari Acropolis

bermain sepeda di Stadion Olympiade OAKA

Bermain sepeda di Stadion Olympiade OAKA

Tempat lain yang perlu dikunjungi adalah Monastiraki, sebenarnya saya kesini karena disanalah terdapat restoran makanan khas Yunani yang sangat lezat. Gyros (di Indonesia dikenal dengan nama Kebab), merupakan irisan daging kambing dan sapi yang dibungkus dengan Pita (roti tipis berbentuk lingkaran) dengan saus Tzatziki (paduan yoghurt Yunani dengan potongan timun dan taburan daun dill) yang segar plus Greek Salad ( potongan timun, paprika hijau, bawang Bombay, tomat, olive, disiram dengan minyak olive, perasan lemon dan garam) merupakan makanan yang dapat dijumpai di seluruh penjuru Yunani.

souvlaki-pita-gyros

Gyros..!

monastiraki-shop2

Monastiraki Flea Market is a jumble of shops selling artisanal soaps, handmade sandals and souvenir T-shirts.

Untuk berbelanja area yang sangat terkenal adalah jalan Ermou di Daerah Syntagma di seberang parlemen Yunani. Jalan ini merupakan jalur pejalan kaki yang di kiri kanannya dijejali oleh berbagai toko dengan merk-merk global seperti H&M, Zara, Marks & Spencer, dan juga restoran cepat saji seperti McDonald’s, Starbucks dan lainnya. Sudah menjadi rahasia umum di jalan ini banyak copet yang beroperasi, sehingga jangan pernah lengah ketika sedang berbelanja disini.

athens-greece-ermou-street-panagia-church

Ermou Street – It took its name from Hermes, the ancient Greek god of commerce. In the middle of Ermou Street is one of the oldest churches in Athens, the Panaghia Kapnikarea

Selain itu tentunya tempat yang harus dikunjungi di Athens adalah Plaka yang terletak di dekat Akropolis dan merupakan ‘village’ di dalam kota Athena. Saat ini sepanjang jalannya berjejer toko suvenir, restoran dan kafe dengan bangunan-bangunan yang bernuansa ‘desa’ Yunani dengan gang-gang yang sempit, menanjak, dan jalan berbatuan.

Tempat Tinggal di Athena dan Sekolah Anak

Kami tinggal di daerah suburban di Utara kota Athena di sebuah Mesoneta, ini adalah istilah khas Yunani untuk bangunan paduan antara apartemen dan rumah. Jadi bangunan tempat kami tinggal terdiri dari 6 lantai dan 4 unit tempat tinggal. Tetangga satu bangunan kami terdiri dari berbagai bangsa, dari Nigeria, Jerman dan satu unit lagi ditempati oleh pemilik bangunan yang asli Yunani.

BBQ di halaman rumah

BBQ di halaman rumah

Pada saat pindah ke Athena, anak saya yang pertama berumur 4 tahun sehingga masih di tingkat nursery (disebut paidikos statmos). Di Yunani umur masuk TK (disebut Nipiagogio) adalah 5 tahun dan SD (disebut Sxolio) adalah 6 tahun. Untuk sekolah negeri tingkat TK dan selanjutnya tidak ada biaya pendidikan alias gratis, kami hanya perlu membayar untuk biaya wisata sekolah saja.

23530347

Rafael, anak pertama saya, masuk sekolah pertamanya di Yunani di Nipiagogio negeri yang terletak 700 meter dari rumah. Pendaftaran sudah dilakukan di bulan Maret, syaratnya adalah pemeriksaan kesehatan di dokter mata dan dokter gigi, dan akte kelahiran serta buku vaksinasi. Pada saat masuk sekolah Rafael belum bisa sama sekali berbahasa Yunani, namun 2 minggu kemudian ia pun sudah dapat berkomunikasi dengan teman-teman sekalasnya.

Di kelas Rafael

Untuk masuk SD syaratnya ditambah dengan pemeriksaan ke dokter jantung. Selama 2,5 tahun bersekolah di Yunani Rafa tidak mengalami kesulitan beradaptasi dan berkomunikasi. Ia bahkan memiliki teman baik yang masih sering berkomunikasi hingga saat ini.

Bersama teman-teman sekolah

Bersama teman-teman sekolah

Anak saya yang kedua, Zhafran, pernah saya coba untuk masukkan sekolah di tingkat paidikos statmos. Di tingkatan ini meskipun milik negara, namun kami harus membayar biaya yang besarannya tergantung gaji orangtua. Semakin besar gajinya maka bayarannya pun semakin mahal, namun tentu saja jauh lebih murah dari sekolah swasta. Setiap hari anak-anak diberi makan 2 kali dan jam sekolahnya adalah jam 8 hingga jam 11.30.

Pada saat tinggal di Yunani Zhafran sempat berhubungan dengan masalah kesehatan karena ia memiliki kelainan Sleep apnea (gangguan tidur karena tidak bisa bernapas untuk beberapa detik) akibat pembesaran amandel dan adenoid. Di Athena Zhafran pun dioperasi pengecilan amandel dan adenoid di sebuah rumah sakit negeri. Mengapa negeri? Karena harga rumah sakit swasta di Athena sangat sangat mahal. Kekurangannya adalah stafnya (kecuali dokternya) TIDAK ADA yang dapat berbahasa Inggris. Berbekal modal Bahasa Yunani sepatah sepatah Alhamdulillah saya pun dapat menembus kerumitan administrasi birokrasi rumah sakit negeri di Yunani. Operasi pun berjalan lancar dan uniknya setelah operasi dengan bius total Zhafran hanya perlu diobservasi 3 jam setelah itu langsung pulang.

Yang Paling Disenangi dari Athena

Hal yang paling kami sukai di Athena adalah banyaknya taman bermain untuk anak-anak di pemukiman dan pantai yang bersih dan yang paling penting adalah pantai tersebut gratis biaya masuk ataupun apabila dipungut bayaran sangatlah murah. Sehingga sepanjan kami tinggal di Yunani tempat yang paling banyak kami kunjungi adalah pantai-pantainya di berbagai pulau yang ada di sana.

satu tenda sewa beramai-ramai di pantai

Satu tenda sewa beramai-ramai di pantai

Pantai Myrtos di pulau kefalonia

Pantai Myrtos di pulau Kefalonia

Liburan musim panas merupakan liburan sekolah yang terpanjang yaitu 3 bulan lamanya. Di musim panas ini banyak keluarga Athena yang ‘mudik’ menitipkan anak-anak mereka di rumah orang tuanya di kampung halaman mereka masing-masing yang berada di luar kota Athena. Di musim panas temperature dapat mencapai hingga 45 derajat sehingga hiburan yang paling murah dan menyenangkan adalah berenang di laut. Dengan temperature air yang cukup sejuk sekitar 25 derajat berpadu dengan temperature di luar yang lebih panas membuat badan segar.

Nafplio

Nafplio

summer life in Greece

Summer life in Greece

marina Flisvos di utara kota Athena, tempat hangout di tepi laut

Marina Flisvos di utara kota Athena, tempat hangout di tepi laut

Bermain di pantai tentu saja tidak boleh melupakan minuman khas di musim panas yaitu frappe, campuran es, kopi, dengan susu dan gula lalu di mix dengan mesin khusus sehingga keluar buih. Rasanya, segar sekali…!

frappe

Frappe..!

Masyarakat Yunani masih memeluk erat agama Kristen Orthodoks, dengan ritual yang berbeda dengan Kristen Protestan dan katolik. Hari keagamaan yang dirayakan besar-besaran di Yunani adalah Paskah, yang berbeda dengan paskah Internasional, biasanya beda 1 minggu sebelum atau sesudahnya. Di hari ini dirayakan dengan berbagai ritual keagamaan dengan puasa selama 40 hari sebelumnya.

tradisi lempar guci di hari paskah (2)

Tradisi melempar guci di Hari Paskah

Secara umum orang Yunani sangatlah ramah dan mereka sangat menyukai anak-anak. Jangan heran jika berpapasan di jalan ada orang yang mengusap kepala anak-anak sambil tersenyum hangat bahkan di toko jika saya berbelanja dengan anak-anak ada pegawai toko yang memberikan coklat, eskrim, atau buah-buahan gratis untuk anak-anak.

greek-hospitality-xenia

Xenia is the Greek concept of hospitality

Orang Yunani merupakan orang yang senang mengobrol, suka makan, superstitious, sangat kekeluargaan, santai.


More stories from Irma: https://mamarafazafa.wordpress.com/ and Instagram @irmakarika

Advertisements

Musim Dingin di Negeri Padang Pasir, Abu Dhabi

 

c8de7c1d-1923-48ac-834d-ee472ac93925-e1507717587502.jpgWinda Putri (Winda) – Black coffee lover, Bhumi’s bunda, Al’s wife. Move from north to middle east. 4 years in Copenhagen, the 3rd year in Abu Dhabi. Ready for next chapter.

Pastilah yang terbersit saat pertama kali mendengar Timur Tengah dan gurun adalah cuaca panas dan matahari yang terik. Memang tidak mengherankan, di kota ini, musim panas yang dimulai bulan Juni dan puncaknya di bulan Agustus, temperatur udaranya bisa mencapai 55 derajat Celcius. Kegiatan di luar ruangan seolah-olah berhenti saat musim panas. Udaranya yang kering membuat orang-orang malas keluar rumah. Namun saat musim dingin tiba, semuanya berubah.

Abu Dhabi from Heritage Village

Tinggal di Abu Dhabi, salah satu emirat (negara bagian) di Uni Arab Emirat, membuat saya sangat menikmati musim dingin yang dimulai di akhir Oktober. Saat angin dingin mulai bertiup, saat suhu udara mulai turun adalah waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan di luar ruangan. Bahkan musim dingin pun menjadi saat yang tepat untuk membuka kembali koleksi baju hangat , sweater dan jaket, mengingat saat malam hari suhu udara bisa mencapai 7 derajat selsius.

Padang Pasir yang Sureal.

Padang Pasir

Abu Dhabi adalah kota yang dikelilingi oleh padang pasir, hanya bagian Utara yang berbatasan dengan laut. Lautan pasir berwarna kuning adalah keindahan yang bisa dinikmati saat musim dingin tiba. Hening dan sureal. Desir suara pasir yang bergerak seolah-olah mencoba berbicara tentang masa lalu, dinginnya pasir saat bertelanjang kaki berjalan diatasnya mendinginkan tubuh setelah musim panas yang panjang. Keindahan matahari tenggelam yang memberikan warna keemasan dan bintang yang bertebaran di langit saat malam tiba merupakan keelokan yang tak bisa diungkapkan.

 

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di gurun pasir yang indah ini, berkemah salah satunya. Bermalam di padang pasir menjadi kegiatan banyak penduduk Abu Dhabi saat musim dingin. Baik yang datang dengan membawa tenda sendiri atau menggunakan penginapan yang telah disediakan.

 

Gambar kiri atas-bawah : hasil pencarian Google

Pengalaman mengikuti satu paket wisata menikmati padang pasir bersama dengan keluarga mengubah pandangan saya tentang kehidupan sosial masyarakat padang pasir. Sebelum negara Uni Emirat Arab terbentuk, negara awalnya merupakan sebuah suku-suku kecil yang berpindah-pindah dari satu sudut padang pasir yang satu ke sudut yang lain, berkelana bersama keluarga dan kelompoknya bersama dengan ternak mereka yang sering disebut Bedouin. Kehidupan nomaden ini kemudian berubah menjadi kehidupan menetap namun tetap menjalankan tradisi kehidupan semi-nomaden.

DESERT5.JPG

Pada suatu kegiatan berkemah, para tamu akan menggunakan tenda-tenda dengan motif yang indah dan kuat melindungi dari panas di siang hari dan dingin di malam hari sebagai tempat istirahat. Para wanita akan menyiapkan makanan atau membuat hiasan henna di tangan para tamu yang ingin dihias. Para lelaki akan menyiapkan kopi khas Arab yang disebut Qahwa dengan aroma kardamom (kapulaga) yang dibuat langsung diatas bara api dan disajikan dengan teko khusus dallah di teko kecil tanpa gagang fenjan , diiringi bunyi rebab dan puisi yang mengalun menjadikan malam musim dingin, berkemah di bawah langit padang pasir, adalah pengalaman yang tak mudah terlupakan.

Pesona Pantai di Pinggir Teluk Arab

Kalau saja saya tidak pindah ke negara ini, mungkin saya tidak pernah mengatahui kalau negara ini memiliki pulau-pulau kecil di bagian luarnya dan berbatasan dengan teluk Arab yang terkenal. Abu Dhabi memiliki beberapa pantai yang menjadi tujuan penduduknya menghabiskan waktu sambil menikmati matahari saat musim dingin. Salah satu yang menarik adalah Pantai Layang-layang (Kite Beach) , Pulau Yas.

IMG-9926

Pantai ini cukup landai sehingga selain para penggiat hobi kite surfing/boarder , pantai ini juga dijadikan tempat melakukan olah raga kano atau kayak, dan juga merupakan tempat keluarga menghabiskan waktu akhir minggu untuk berkemah. Jika tidak ingin berkemah, bisa juga menikmati hari dengan acara panggang-memanggang dan menunggu air pasang sambil mencari kepiting dibalik bebatuan.

 

Dibeberapa sisinya tedapat sekelompok pohon mangrove sehingga sebagian orang memilih untuk menghabiskan waktu memancing. Tidak jauh dari pantai ini, disisi yang tidak landai, pemilik jetski menghabiskan waktunya memanaskan mainannya dan kemudian berkeliling sedangkan yang lain memilih untuk berkendara dengan kudanya.

Saadiyat beach

Pantai lain yang bisa dijadikan tempat pilihan menikmati sore sambil menunggu matahari terbenam adalah pantai Saadiyat. Pantai ini merupakan bagian dari wilayah konservasi koral dan tempat singgah beberapa spesies lumba-lumba dan penyu di Abu Dhabi.

Museum di Sudut Padang Pasir

Abu Dhabi sesungguhnya bukan kota yang bisa dinikmati dengan transportasi umum. Transportasi umum seperti bis lebih banyak tersedia di pusat kota dan beberapa jalur bis yang menghubungkan pusat kota dengan bagian luar kota . Beberapa tempat hanya bisa dicapai dengan taksi, namun taksi juga tidak tersedia disemua tempat. Sehingga pada umumnya, satu keluarga akan memiliki satu mobil untuk alasan kemudahan.

Museum Auto Nasional

Satu tempat unik yang letaknya agak tersembunyi di tengah gurun Al Bashra layak dikunjungi dan hanya bisa dicapai dengan kendaraan pribadi adalah Museum Auto Nasional Emirat (Emirates National Auto Museum). Museum ini terletak 45 km dari kota Abu Dhabi atau sekitar 30 menit, dengan bangunan utamanya berbentuk piramida, museum ini memiliki 200 koleksi mobil yang merupakan koleksi pribadi Sheikh Hamad bin Hamdan Al Nahyan yang beberapa diantaranya adalah mobil-mobil dengan ukuran raksasa, pesawat penumpang dan bola dunia beroda.

 

Selain Museum Auto Nasional , tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Syeikh Zayed Learning Centre (SZLC). Berlokasi di dalam kebun binatang Al Ain, yang merupakan kebun binatang terbesar di UEA, pusat belajar ini terdiri dari museum, beberapa ruang pamer, sebuah ruang cinema, dan perpustakan yang akan memberikan informasi tidak hanya kehidupan flora dan fauna di UAE namun juga memberikan informasi mengenai kehidupan kultural di jazirah Arab.

 

Hal menarik lain tentang Pusat Belajar Syeikh Zayed ini adalah bangunannya yang dibangun dengan memperhatikan keberlanjutan dengan lingkungan sekitarnya. Saat berkunjung ke muse mini, pemandu wisata yang sebagian besar adalah mahasiswa menerangkan tentang arsitekturnya dibuat sedemikian rupa sehingga hemat energi, menggunakan bahan yang rendah polusi dan kemudian menerangkan tentang pendingin alami dengan menggunakan kolam di tengah bangunan sehingga menjaga suhu dalam ruangan tetap sejuk. Selain itu yang menarik adalah tentang penggunaan grey water untuk keperluan sanitasi. Satu hal lagi yang menarik tentang museum ini adalah latar belakangnya adalah bagian tertinggi di negara ini, yaitu Jabal Hafeed atau Bukit Hafeed.

Perjalanan Safari di Gurun Buatan terbesar di dunia

Gazelle

Kegiatan menarik lainya bisa dilakukan di kebun binatang terbesar di negara ini, yang terletak di Al Ain, adalah menikmati perjalanan safari di gurun Afrika buatan seluas 217 ha. Di area buatan ini hewan-hewan dibiarkan liar dan kita bisa menyaksikan hewan-hewan ini bergerak berkelompok, beristirahat, dan saling berinteraksi antar spesies. Tempat ini bukan hanya rumah bagi spesies hewan yang berasal dari jazirah Arab dan Afrika seperti Oryx, Springbok , Gazelle, Singa, Burung Unta, Jerapah dan Zebra, namun juga merupakan habitat bagi 38 spesies tanaman yang berasal dari Afrika juga lokal. Tempat ini dibangun menyerupai dengan gurun asli di Afrika dengan membuat oasis di beberapa bagian agar hewan-hewan ini dapat hidup seperti di habitat aslinya.

 

Perjalanan safari ini menggunakan kendaraan 4×4 yang dikemudikan langsung oleh Emirati yang sekaligus sebagai pengarah tur. Sesekali perjalanan harus terhenti karena sekelompok Orxy melintas di depan kendaraan atau sekawanan Jerapah mendekat. Jerapah-jerapah ini boleh diberi makan wortel yang disediakan oleh kebun binatang. Sayangnya, hewan predator , saat ini baru singa, diletakkan ditempat terpisah dan dalam area tertutup, namun masih bisa melihat mereka berkeliaran bebas.

Mesjid Megah yang Menyejukkan

Zayed Grand Mosque

Tempat ini sebenarnya tidak hanya bisa dinikmati saat musim dingin, pada musim panas pun tempat ini akan menjadi salah satu tujuan favorit menghabiskan waktu menunggu waktu sholat sambil membaca Al Quran atau beristirahat. Mesjid besar Syeikh Zayed (Syeikh Zayed Grand Mosque) merupakan masjid terbesar di Abu Dhabi dengan bangunan putih yang megah. Selesai dibangun pada tahun 2006, masjid ini merupakan bangunan dengan desain yang terinspirasi dari desain-desain masjid di seluruh dunia. Kubahnya terinspirasi dari Mesjid Badashi di Lahore Pakistan, dan desain dinding, menara dan ruang-ruangnya terinspirasi dari desain masjid-mesjid di Maroko salah satunya masjid Hasan II di Kasablanka, Maroko. Di ruang utama mesjid , terdapat karpet terbesar di dunia yang melapisi seluruh lantai ruangan dan merupakan buatan tangan para pengrajin karpet Persia dari Iran.

 

Mengikuti tour gratis yang diadakan oleh mesjid adalah pilihan yang tepat untuk bisa menikmati seluruh sudut mesjid, karena beberapa bagian hanya dibuka untuk sholat Jumat dan hanya untuk laki-laki. Dengan mengikuti tour kita bisa menikmati sampai bagian depan mimbar, dan melihat lampu Kristal megah yang berada di tengah-tengah ruangan utama.

Mesjid ini akan menjadi tempat tujuan utama di bulan Ramadhan dan menjadi salah satu mesjid yang menjadi pilihan utama untuk sholat Ied.

Wilayah Suaka Flamingo

Tempat lain yang sangat menarik di sudut kota Abu Dhabi adalah wilayah suaka Al Wathba. Daerah konservasi Al Wathba ini merupakan salah satu daerah tujuan migrasi bagi burung Flamingo di UEA. Flamingo besar (Phoeicopterus roseus) tidak hanya bermigrasi, namun selama musim dingin, mereka juga berkembang biak, sehingga pada puncaknya bisa mencapai 2000 ekor di wilayah suaka ini.

Flamingo Besar

Di tempat ini telah disediakan jalur untuk melakukan pengamatan burung dan di sepanjang jalur kita bisa menemukan tanaman-tanaman liar khas gurun dan bila beruntung kita bisa bertemu dengan beberapa reptil yang melintas. Rumah bagi 260 jenis burung , 16 reptil dan 10 mamalia ini merupakan tempat yang tepat untuk menikmati musim dingin sambil berpiknik. Berjarak 40 km dari pusat kota Abu Dhabi di wilayah Al Ghar, tempat ini merupakan permata tersembunyi di tengah gurun.

 

Tidak dipungkiri, dengan moda transportasi umum yang terbatas, banyak tempat-tempat menarik yang bisa menjadi tujuan menghabiskan musim dingin di Abu Dhabi. Bila ingin merasakan tantangan yang tidak biasa, bisa menikmati dune bashing di bukit pasir tertinggi di negara ini, yaitu di Gurun Liwa, atau menikmati liburan mewah di hotel bintang lima yang terketak di tengah gurun, atau berkemah sambil menikmati kawanan flamingo yang sedang menetap sementara waktu di pesisir teluk Arab ini.

–ø–

windadeftianiputri.wordpress.com |@windadeftiani

Images provided were taken by Winda and family, some related images are linked to original sources.

[Mamarantau Tips] Pengalaman Naik Pesawat dengan Bayi 1 Bulan

Fathiannisa Gelasia (Icha) – Seorang litigator yang sekarang beralih profesi mendedikasikan waktu serta tenaga untuk merantau bersama suami ke Bangkok dan menjadi stay at home mom.

Tips Pertama:  Naik Pesawat dan Traveling Bersama Bayi 1 Bulan

Saya dan suami pertama kali membawa Dhaulagiri pulang ke Indonesia dengan pesawat ketika Dhaulagiri berusia 1 bulan 7 hari. Waktu itu kami, terutama saya, lumayan panik dan kebingungan, karena ini pertama kalinya membawa anak bayi yang bahkan belum berusia 40 hari untuk naik pesawat terbang. Sesuai dengan rekomendasi dokter di Bangkok, tidak ada halangan untuk Dhaula bisa naik pesawat, dan tidak ada keharusan untuk saya menutup lubang telinganya, sesuai dengan apa yang direkomendasikan banyak orang selama ini.

Seandainya memungkinkan, memang lebih baik apabila ketika lepas landas maupun mendarat Dhaulagiri aktif menggunakan otot-otot di rahang dan rongga kerongkongannya, agar tidak ada udara yang tersumbat ketika tekanan kabin naik. Akan tetapi, dokter kami tidak mewajibkan hal tersebut. Untuk berjaga-jaga, saya tetap membawa kapas yang sudah digulung kecil-kecil untuk telinga Dhaula. Kami sengaja membeli tiket pulang ke Indonesia pada malam harinya, ketika jam tidur Dhaula. Alhamdulillahnya, Dhaula sejak usia 1 bulan selalu tidur di waktu yang sama setiap malamnya, dan Alhamdulillah masih beranjut hingga sekarang sudah berumur 4 bulan 11 hari. Walaupun masih terbangun 2-3 kali setiap malamnya, tapi antara pukul 20.00 – 21.00 pasti sudah tertidur di kamar.

Pengalaman pertama naik pesawat bersama Dhaula berjalan lancar. Dhaula sempat menangis 20 menit pertama di pesawat, karena tidurnya terganggu dengan suara-suara di pesawat, dan arena saya juga panik, maka mungkin Dhaula ikut menjadi panik juga. Akhirnya sepanjang perjalanan pulang tersebut, karena saya tidak bisa menenangkan Dhaula saking paniknya, akhirnya Dhaula digendong oleh bapaknya hingga kami mendarat di Soekarno Hatta. Tidak ada kapas yang tersumpal di telinga Dhaula maupun susu yang diminum sesuai rencana, tapi untungnya Dhaula tidak mengalami gangguan pada telinganya.

Hingga hari ini, Dhaula sudah 8 kali naik pesawat terbang, dan semuanya tanpa menggunakan kapas pada telinganya. Apabila memungkinkan dan Dhaula sedang terbangun, pasti saya beri susu. Namun apabila tidak, saya dan suami tidak memaksa Dhaula untuk bangun dari tidurnya untuk minum susu. Yang paling saya ingat adalah perjalanan pulang kami dari Korea Selatan kembali ke Bangkok, ketika Dhaula masih berusia 2,5 bulan. Kami mengambil pesawat  sore karena tidak ada jadwal untuk pesawat malam. 2 jam pertama Dhaula tertidur pulas, tapi lalu terbangun karena tiba-tiba Dhaula harus buang air, dan lalu pampersnya bocor, haha. Jadilah saya harus memandikan Dhaula di wastafel kamar mandi pesawat terbang yang sangat sempit tersebut.

Tips dari saya, intinya sebagai orang tua tidak boleh panik, karena pastinya anaknya ikutan panik juga.  Tidak usah terlalu strict dan yang penting dibawa happy. Anak bayi menangis ketika lepas landas ataupun mendarat saat naik pesawat itu hal biasa, kadang-kadang Dhaula juga menangis, tapi saya dan suami cuek aja. Dibawa happy sambil ajak ngobrol si bayi. Untungnya suami saya selalu siaga membantu saya menjaga Dhaula, ditambah suami saya tipe orang yang anti panik, jadilah kalo saya panik sedikit pasti langsung dibantu untuk bisa santai lagi.

Tips Kedua: SLING WRAP, BABY CARRIER ATAU STROLLER?

Kondisi pedestrian street di Bangkok tidak semaju di Negara-negara Barat sana; jalanannya tidak rata, banyak lubang dan tidak semua stasiun ataupun terminal untuk kendaraan publik memungkinkan kami menggunakan stroller. Saya mulai menggunankan sling wrap ketika Dhaula berumur 2 minggu, merk saya gunakan adalah Boba, bentuknya kain panjang dengan bahan elastis yang cara penggunaannya harus dililit di badan saya.

Saya juga punya baby carrier dengan merk ergo baby, dan mulai digunakan sejak Dhaula berumur 2 minggu juga. Dengan penggunaan sling wrap ataupun baby carrier itu, saya bisa dengan bebas menggunakan kedua tangan saya untuk beraktifitas, dan entah kenapa Dhaula selalu dapat tidur lebih lelap dengan kedua benda tersebut. Bahkan diawal-awal, suami saya setiap malam membantu saya menidurkan Dhaula dengan menggunakan ergo baby sebelum dipindahkan ke kasur. Untuk berjalan-jalan pun kami lebih prefer untuk menggunakan sling wrap atau baby carrier.

Selama di Korea dan Koh Samui, keduanya adalah benda yang wajib ada di dalam tas saya. Mungkin karena posisi Dhaula ketika digendong seperti dipeluk dan di dekat dengan dada saya atau suami, sehingga tidurnya pun lebih tenang. Akan tetapi untuk sekarang, saya dan suami membatasi penggunaannya hanya apabila kami berjalan-jalan keluar rumah atau apabila saya harus beraktifitas di rumah, seperti memasak, menyapu, dll.

Sementara untuk stroller, Dhaula belum bisa terlalu lama dan betah duduk berlama-lama di stroller, sehingga walaupun kami keluar membawa stroller, kami tetap berjaga-jaga membawa salah satu dari sling wrap atau baby carrier. Merk stroller yang kami gunakan adalah Babyzen Yoyo karena tingginya frekuensi kami untuk travelling, maka suami saya memilih untuk invest di stroller yang kokoh, ringan dan kecil ketika dilipat. Sewaktu kami travelling ke Koh Samui saat liburan songkran kemarin, hanya dua kali kami menggunakan stroller, sisanya dengan boba atau ergo. Keadaan jalanan di Koh Samui hampir tidak memungkinkan kami untuk menggunakan stroller. Ditambah karena destinasi kami adalah pulau, maka stroller lebih sering digunakan apabila kami berjalan-jalan disekitar hotel saja.

Tips saya untuk yang mau berwisata ke Bangkok, selalu sedia kain untuk menggendong anak, baik itu slingwrap, geos ataupun kain jarik dan atau baby carrier, karena kondisi jalanan dan udara di Bangkok tidak selalu memungkinkan untuk penggunaan stroller, apalagi jika bentuk strollernya adalah heavy weight stroller.

===

Merantau di Berlin

Afifah Shihab – Ibu dari 2 anak perempuan dan sekarang menetap di Berlin, Jerman. Bukan tipe ibu penyabar dan kreatif, tapi belajar setiap hari untuk lebih baik.

Pertama kali saya datang ke Berlin, Jerman 6,5 tahun (2010) yang lalu karena ikut suami yang bekerja sebagai Engineer di bidang konstruksi automotif.  Awal datang, penyesuaian yang sulit selain cuaca yang dingin adalah bahasa. Bahasa Jerman termasuk bahasa yang sulit mulai dari Pronunciation apalagi Gramatik. Di Jerman, mengikuti kursus bahasa Jerman menjadi program Integrasi Republik Jerman bagi pendatang yang akan bermukim di sini.

WhatsApp Image 2017-07-05 at 14.56.50

Untuk mendapatkan visa tinggal bersama keluarga, saya harus mengikuti sertifikasi ujian A1 di Goethe Institute Jakarta. Sesampainya di Berlin, melanjutkan sampai B1 sebagai program integrasi. Sekarang ini saya baru saja menyelesaikan ujian B2 setelah sebelumnya vakum melahirkan dan mengurus dua anak selama 3,5 tahun. Biaya yang dibayarkan untuk mengikuti kursus bahasa sampai tingkat B1 waktu itu dibiayai setengahnya oleh Badan Imigrasi.  Masih ingat waktu itu masih takut untuk ke supermarket atau ke dokter sendiri, karena takut tidak mengerti bahasa mereka dan tidak bisa berkomunikasi.  Karena beberapa pengalaman pertama saya, beberapa orang Jerman entah karena enggan atau apa, tidak mau menggunakan bahasa Inggris. Dan first impression saya waktu itu orang Jerman agak dingin dan kurang begitu ramah dengan pendatang.

Pengalaman melahirkan

Ibu hamil memeriksa kandungannya di klinik dokter kandungan, untuk melahirkan mendaftar di RS lain sesuai pilihan. Selain itu, ibu yang akan melahirkan mendapatkan bidan khusus yang akan datang kerumah untuk memeriksa kesehatan ibu dan bayi mulai dari sebelum melahirkan sampai pasca melahirkan.

Waktu itu pengalaman yang bikin agak kaget karena waktu itu bayangan saya, yang ganti popok di hari hari pertama di RS adalah suster, tapi ternyata semua dikerjakan ibu atau ayahnya sendiri, jadi biasanya di sebelah kamar inap tersedia kamar khusus yang menyediakan perlengkapan bayi lengkap mulai dari popok ganti, baju, jumper, popok kain, tisu basah, dll. Awalnya ngerasa repot dan masih sakit. tapi justru itu yang membuat kita sebagai orangtua baru jadi percaya diri dan kuat untuk mengurus bayi sendiri mulai dari mengganti popok sampai mengukur temperatur bayi.  Bukan hanya itu, makan pagi pun kita harus ambil sendiri di kafetaria RS, jadi waktu itu ke kafetaria yang letaknya di lantai yang sama sambil dorong bayi, makan pagi pun ditemani bayi karena memang para suami tidak boleh menginap di RS.

By the way, di sini, selimut dan bantal diwanti-wanti agar tidak dipakai untuk bayi. mereka sangat memperhatikan keselamatan bayi ketika tidur, karena bisa tertutup selimut/bantal. Sebagai gantinya, mereka memakai schlafsack (kantung tidur). Di RS umum seperti tempat saya melahirkan kantung tidur ini diberikan secara percuma dari awal bayi dilahirkan.

Kantung tidur (schlafsack) pengganti selimut

Mencari berbagai informasi tentang mengasuh bayi di Berlin, bagaimana merawat kesehatan bayi dll saya dapatkan secara gratis dari berbagai tempat; mulai dari flyer, situs online, majalah-majalah gratis yang ada di klinik, apotek, hingga  ke sentra keluarga tempat bertemunya komunitas keluarga. Sayangnya memang semua dalam bahasa Jerman. Selain itu, kita juga bisa bertanya dengan bidan yang datang ke rumah. Tugas utama bidan yang datang ke rumah adalah memeriksa kondisi ibu dan bayi, dan beberapa kali mengajarkan ibu cara memandikan bayi, membersihkan bekas tali pusar, mengajarkan cara menyusui, memberi obat jika ada luka menyusui, dan sebagainya. Bidan biasanya datang selama 2 minggu sampai 1 bulan, tergantung kebutuhan, tapi biasanya setelah 1 bulan ibu-ibu sudah ahli mengurus anaknya 😉

WhatsApp Image 2017-07-05 at 14.526.50.jpg

Selain bidan, yang membuat saya juga terkesan adalah badan sosial keluarga di Jerman yang sangat memperhatikan kesejahteraan keluarga. Waktu itu ada pekerja sosial yang datang, memberikan informasi, misalnya, daftar dokter anak yang ada di daerah sekitar, jadwal imunisasi, daftar daycare, memberikan informasi terkait administrasi kelahiran anak dst. Selain itu juga menanyakan kondisi psikologis ibu dan anak dan bersedia menjawab segala pertanyaan tentang anak di Berlin (misalnya tempat bermain indoor atau grup bermain PEKIP )

54005021012514744029

PEKiP-kurs is a Parent-Child Program for parents and their children in their first year.

Senam Pasca Melahirkan

Setelah kelahiran, saya mengikuti senam pasca kelahiran yang dianjurkan oleh dokter. Biayanya ditanggung oleh asuransi jika diambil selama bayi nya masih dibawah 9 bulan. Senamnya membawa bayi tentunya di suatu ruangan sentra keluarga, tenang dan lebih banyak diatas matras. Senam yang berfungsi untuk  menguatkan rahim kembali. Di sentra keluarga ini juga terdapat program lain seperti Pekip, yaitu grup bermain ibu dan anak yang dipandu oleh guru. Sambil bernyanyi, bermain dan berkenalan sesama ibu atau ayah.

Senam pasca melahirkan (Ruckbildung Gymnastik)

Komunitas Indonesia di Berlin

Sebagai ibu kota Jerman di mana KBRI bertempat, Berlin memiliki penduduk Indonesia yang sangat banyak diantara kota kota lain. Di Berlin ada mesjid komunitas Indonesia yang disebut juga IWKZ.eV. Masjidnya masih berbentuk rumah belum seperti bangunan masjid. Di sini adalah salah satu tempat paling mudah dan cepat mencari komunitas bagi para muslim ☺. Bagi para mahasiswa Ada juga PPI dan KMKI (komunitas katolik). Di bulan Ramadhan, masjid Indonesia dan KBRI mengadakan acara buka puasa bersama setiap minggunya.

Selain itu, KBRI juga sering mengadakan acara festival budaya , baik itu di aula KBRI atau di tempat umum seperti Mall atau di taman kota misalnya di salah satu Taman Garten der Welt yaitu taman yang memuat area dengan arsitektur berbagai negara, salah satunya ada taman bali. Di area ini semua arsitekturnya bertemakan Bali. Di taman ini, sering diadakan festival kultur seperti pertunjukan tari dan kuliner dari Bali.

Area taman Bali di Garten der Welt , Berlin  disamping menawarkan keaslian suasana Bali, juga menawarkan pemandangan yang eksotis tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga tropis yang banyak di jumpai di negara beriklim trofis.

Tempat Ramah Anak di Berlin

Berlin merupakan kota yang sangat hijau, dengan 2.500 tempat terbuka hijau diseluruh Berlin (https://www.berlin.de/berlin-im-ueberblick/hauptstadtleben/erholung/ ). Setiap 200 m di daerah perumahan, harus ada tempat bermain anak. Sayangnya , banyaknya pemilik anjing di Berlin membuat kota ini jadi kotor dengan kotoran anjing di jalanan dan beberapa taman walau sudah ada larangan membawa masuk anjing ke rumput taman. Ditambah masih banyak juga penduduk  yang tidak menjaga kebersihan kota.

Tempat bermain di Berlin dan mungkin di sebagian besar di kota kota di Jerman lebih banyak berbahan kayu dan lebih banyak menawarkan main panjat-panjatan dan rintangan.

Di tengah kota juga terdapat beberapa peternakan mini. Tidak harus  pergi jauh ke luarkota , anak -anak bisa lihat langsung binatang-binatang seperti : domba, sapi, kuda poni, ayam, dan kelinci.

Waktu Keluarga

Akhir pekan biasanya kita pakai jalan jalan main ke spielplatz ( playpark) diluar. Kalau cuaca tidak mendukung, kita pindah ke tempat main indoor seperti Legoland yang menawarkan yearly ticket.  Memasuki musim semi, taman0taman besar seperti Britzer Garten dan Garten der Welt menawarkan pameran bunga seperti tulip dan sakura (Cherry Blossom).

tulipan-03

Britzer Garten

Street Art di Berlin juga menarik untuk diamati

Pengalaman lainnya di Berlin

Selain sebagai ibu rumah tangga, saya masih mengikuti kursus lain namanya Elternredaktion. Sebuah program kursus dari VHS ( sentra pendidikan komunal) untuk menulis sebuah majalah bagi para imigran. Disini saya belajar berdiskusi tentang tema apa yang menarik ditulis, belajar mengenal berbagai orang dari berbagai latar belakang budaya dan belajar menulis berita atau sebuah laporan interview dan belajar fotografi jurnalistik.

Di majalah edisi kemarin yang saya tulis adalah tentang pengalaman seorang relawan asal Indonesia yang mendedikasikan waktunya untuk mengajar Bahasa Jerman bagi keluarga pengungsi asal Syria. Karena saya suka menulis, kursus ini sangat menarik buat saya.  Kursus ini diadakan secara gratis bagi siapa saja dengan tingkat bahasa standard, kebanyakan yang ikutpun beragam mulai dari anak muda sampai orangtua. Tidak perlu punya keahlian menulis apalagi jago bahasa Jerman. Di sini siapapun diterima. Selain menulis tentang interview, saya juga ikut menyumbangkan resep indonesia yaitu resep tumis kacang panjang tempe (karena waktu itu tema majalah nya kacang panjang) .

Dari kursus bahasa Jerman saya mendapat sekali banyak pengalaman, diantaranya bisa pergi ke kamp Konsentrasi Yahudi di Berlin utara, karena di setiap kursus biasanya ada yang namanya kunjungan ke museum atau tempat tempat bersejarah.

Memorial and Museum sachsenhausen

Sampai ke pengalaman bertemu dengan Perdana Mentri Jerman ‚Angela Merkel di tahun 2017. Perdana Mentri Jerman ini datang dalam rangka kunjungan demografis dan tempat kami belajar kebetulan juga bertempat di gedung sosial yang menunjang dan membantu berbagai program sosial untuk berbagai lapisan masyarakat. Suatu pengalaman yang tidak akan terlupakan bisa bertatap muka langsung dengan orang nomor satu di Jerman.

Di gedung tempat saya belajar ini pula terdapat berbagai program ‘Engagement‘ , yaitu suatu inisiasi bagi masyarakat yang ingin membantu komunitas Berlin secara volunteer. Bisa membantu membacakan buku di perpustakaan bagi kelompok anak-anak, bisa juga membantu menemani pengungsi yang masih minim berbahasa Jerman, membantu para lansia, membantu membersihkan kota, dst.

Program Engagement ini sangat terstruktur di mana para relawan ditraining dan didampingi oleh supervisor. Saya tertarik dengan program engagement ‚Lesepaten, dimana volunteer 1x dalam seminggu menyediakan sekitar 2-3 jam untuk membacakan buku bagi anak anak di Perpustakaan. Menurut saya, program sosial di Berlin yang terintegrasi dan lengkap ini lah yang ingin sekali suatu saat saya bawa ke Indonesia untuk mensupport masyarakat di berbagai aspek. Mulai dari anak anak, keluarga dan juga lansia.

=====

Kisah Afifah dan keluarga bisa dibaca juga di http://www.jemarikecil.wordpress.com tentang kehidupan di Berlin dan kisah + tips parenting lainnya.

 

Merantau di Bangkok

Processed with VSCO with hb1 presetFathiannisa Gelasia (Icha) – Seorang litigator yang sekarang beralih profesi mendedikasikan waktu serta tenaga untuk merantau bersama suami ke Bangkok dan menjadi stay at home mom.

PENGALAMAN MERANTAU

Pertama kali saya mulai merantau itu pada tahun 2013, dimana saya menempuh pendidikan master hukum di Leiden, Belanda. Tapi saat itu saya belum menikah dan belum jadi seorang mamarantau. Setelah menikah dengan suami pada tahun 2015, kami sempat merantau dan tinggal di Bali selama 7 bulan, sebelum akhirnya suami mendapatkan panggilan kerja di Bangkok pada awal tahun 2016.

IMG_8476

With husband: Agantara Juanda

Awalnya hanya suami yang berangkat ke Bangkok karena saya sedang hamil kedua dan ketika kehamilan pertama saya mengalami kegagalan, dokter menyarankan saya untuk berangkat ke Bangkok ketika kehamilan kedua saya ini sudah berumur 5 bulan.

MERANTAU DI BANGKOK

Pada tanggal 15 Agustus 2016 saya tiba di Bangkok dan memulai perantauan saya kembali, kali ini bersama suami saya. Walaupun sudah terbiasa tidak tinggal serumah dengan orangtua (saya sejak kuliah sampai akhirnya menikah dengan suami tidak tinggal bersama orang tua), mungkin karena saya sedang hamil dan hormon yang berantakan, bulan-bulan pertama saya di Bangkok lumayan membuat saya depresi, tertekan dan sedih. Sejak lulus kuliah Sarjana Hukum pada Januari 2012, saya sudah terbiasa bekerja, menghasilkan pendapatan sendiri dan memiliki hari-hari yang aktif.

Processed with VSCO with hb1 preset

Namun, karena kondisi saya yang sedang hamil 5 bulan ketika tiba di Bangkok, maka sangat tidak mungkin ada kantor hukum atau perusahaan yang mau menerima saya bekerja karena toh dalam waktu 3 bulan saya sudah akan mengambil cuti melahirkan. Maka dimulailah hari-hari saya dimana saya benar-benar belajar menjadi ibu rumah tangga dan belajar menikmati kesendirian saya di Bangkok.

TENTANG BANGKOK

Tinggal di Bangkok hampir mirip dengan Jakarta. Cuacanya, kondisi jalanannya, bahkan tekstur makanan pun sedikit tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Yang cukup mengejutkan adalah kemacetan di Bangkok; sama persis dengan Jakarta. Untungnya apartemen saya dan suami berada persis di depan stasiun BTS (Bangkok Mass Transit System) yang berupa kereta cepat, hampir sama dengan MRT. Karena kemacetan yang berlebihan itu, terkadang saya dan suami sangat menghindari berkunjung ke tempat-tempat yang hanya bisa didatangi dengan menggunakan kendaraan pribadi.

5104226627001_5230017886001_5219431537001-vs

Bangkok via Lonely Planet

7138231-bangkok-july-12-bts-sky-train-at-the-platform-in-rush-hour-on-july-12-2013-in-bangkok

The Bangkok Mass Transit System, commonly known as the BTS or the Skytrain

Lebih menarik lagi, ojek disini juga merupakan sebuah transportasi yang cukup umum dan sangat murah. Jadi, terkadang saya dan suami menyiasati jalanan macet dengan menggunakan ojek. Misalnya, sewaktu shalat Ied pada Idul Adha kemarin. Jarak antara rumah kami dengan KBRI cukup jauh, dan di daerah sekitar KBRI tidak terdapat BTS. Ditambah KBRI berada di tengah-tengah kawasan perbelanjaan, jadi biasanya sangat jarang taksi yang mau mengantarkan penumpang dengan tujuan ke daerah-daerah sekitar KBRI tersebut. Shalat Ied di Bangkok dilaksanakn pukul 07.00 pagi, bersamaan dengan jam sibuk para pegawai Bangkok yang harus berebutan untuk bisa masuk ke dalam BTS. Setelah mengantri di BTS lebih dari 30 menit, saya dan suami akhirnya memutuskan untuk naik ojek ke KBRI. Dengan waktu tempuh sekitar 30-35 menit ke KBRI, kami harus membayar ojek sekitar 80.000 per orang. Tapi ya hampir sama dengan di Jakarta, kalau pake ojek, sudah pasti akan bisa menghindari macet di Bangkok.

motorcycle-taxi-in-bangkok_1

Motorcycle Taxi (a.k.a Ojek)  dan ada UberMOTO juga

Hal menarik lainnya yang kami alami disini adalah ketika Raja Thailand, King Rama IX Bhumibol Adulyajed, meninggal dunia pada bulan Oktober 2016 yang lalu. Kami menyaksikan sendiri bagaimana seluruh warga Thailand secara bersama-sama berkabung atas kematian Raja mereka tersebut. Stasiun TV lokal hanya menggunakan warna hitam putih, hampir seluruh website Thailand pun hanya berwarna hitam putih, tidak ada lagi iklan dan musik-musik yang terdengan di TV umum di dalam BTS, dan hampir 90% warga Bangkok menggunakan baju berwarna hitam, abu-abu atau putih. Sangat jarang kami melihat ada warga Bangkok yang tidak menggunakan ketiga warna tersebut. Minggu-minggu pertama setelah kematian Raja Thailand tersebut, suasana berkabung benar-benar terasa di seluruh jalanan-jalanan Thailand.

ru-co-tang-3ngay-tang-thong3.jpg

Saya dan suami pun berusaha mengikuti peraturan berkabung tersebut. Sampai-sampai kami kehabisan pilihan baju berwarna hitam, abu-abu atau putih untuk digunakan sehari-hari.

KEHIDUPAN DI BANGKOK

Untuk mengurus rumah di Bangkok saya dan suami seringkali mengalami kesulitan, khususnya dalam hal bahasa. Rata-rata pegawai yang bekerja di apartemen kami tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, termasuk pula asisten rumah tangga harian yang membantu saya membersihkan rumah, ataupun pekerja yang biasa memperbaiki AC atau masalah listrik kami. Jadi benar-benar semuanya menggunakan bahasa Inggris yang sangat singkat dan kebanyakan menggunakan bahasa isyarat. Saya dan suami tidak mempekerjakan asisten rumah tangga bulanan, tetapi hanya mingguan. Seminggu sekali, ada 2 orang asisten rumah tangga yang membantu saya membersihkan rumah. Sisanya saya sendiri yang membersihkan. Sampai detik ini saya masih belajar dan berusaha beradaptasi dengan peran baru saya sebagai ibu rumah tangga. Mengurus rumah dan mulai Desember, mulai mengurus anak pertama kami. Akan tetapi, kemauan saya untuk bekerja sepertinya sangat sulit untuk dihilangkan sehingga sudah sebulan belakangan ini saya akhirnya memulai profesi baru saya sebagai konsultan hukum freelancer, yang mana sejauh ini pekerjaan tersebut sangat pas dengan saya di Bangkok ini.

Karena kondisi sedang hamil sewaktu pindah ke Bangkok, jujur saya tidak terlalu banyak mengeksplorasi kota Bangkok, kecuali berkunjung ke tempat2 perbelanjaan yang memang harganya sangat jauh lebih murah dibanding Jakarta. Menariknya, di Bangkok ini sangat banyak dan terkenal dengan Night Market, yaitu tempat-tempat perbelanjaan dan hiburan yang buka dari sore hingga dini hari. Dari mulai yang khusus untuk belanja seperti Chatucak Weekend Market, sampai kawasan hiburan malam seperti yang ada di Patpong.

IMG_3163

chatuchak-weekend-market

The Chatuchak Weekend Market is the largest market in Thailand. Also known as JJ Market, it has more than 8,000 stalls, divided into 27 sections.

or-tor-kor-market-bangkok

Food galore via migrationology

Sisanya hampir sama seperti Jakarta, Bangkok dikelilingi oleh mall-mall besar yang menjadi tempat hiburan utama.

PENGALAMAN HAMIL DAN MELAHIRKAN

Pada 22 Desember 2016 yang lalu, saya melahirkan anak pertama saya di Bangkok. Perjalanan kami untuk bisa menemukan dokter yang sesuai tidak terlalu susah sepertinya. Hal tersebut dikarenakan kriteria saya dan suami dipersempit dengan keharusan memilih rumah sakit yang jaraknya dekat apartemen kami dan mudah aksesnya (akses BTS terutama, karena seperti yang sudah tulis, kemacetan di Bangkok tidak jauh berbeda dengan Jakarta). Pilihan kami akhirnya jatuh pada rumah sakit St. Louis, yang jaraknya hanya 3 stasiun BTS dari apartemen kami. Untuk akses dengan uber maupun taksi pun cukup mudah dan dekat, sehingga tidak perlu khawatir mengenai waktu tempuh. Dokter kandungan yang kami temui pun ternyata sangat pro persalinan normal dan kemampuan berbahasa Inggris-nya mempermudah kami untuk berkomunikasi.

IMG_8083

St. Louis Hospital – Women’s Health Center

Due date persalinan saya Desember kemarin adalah tgl 26 Desember 2016. Namun, sejak awal Desember rupanya saya sudah mengalami pembukaan 1, dan pembukaan 1 mentok hampir 10 hari. Dua minggu sejak dokter saya memeriksa bukaan 1 saya tersebut, akhirnya keputusan untuk diinduksi kami ambil karena rupanya saya sudah ada di bukaan 4, akan tetapi kontraksi yang saya rasakan tidak cukup kuat. Pada 22 Desember 2016 pukul 3 sore, saya masuk ruang persalinan.

Pengalaman melahirkan saya yang pertama ini cukup traumatis untuk saya pribadi, walaupun terhitung cukup cepat. Saya mulai diinduksi pukul 15.00 sore, dan putri kami lahir pukul 23.36 malamnya. Akan tetapi, proses persalinan yang saya alami cukup jauh berbeda dengan persalinan di Indonesia. Pukul 20.00 dokter menyatakan bahwa saya sudah memasuki bukaan 8, dan sepertinya pukul 21.00 saya sudah akan mempunyai bukaan penuh dan bisa mengejan untuk melahirkan anak saya. Akan tetapi, sejak bukaan 8 tersebut, rupanya saya sudah disuruh untuk mengejan. Dokter bilang untuk mempercepat naiknya bukaan. Saya pun mengejan ditemani suami dan ibu saya, dibantu oleh beberapa bidan, dokter saya ada di ruangan sebelah membantu pasien lain yang juga sedang bersalin.

Pukul 21.00 tiba, tetapi dokter saya tidak juga datang. Beberapa bidan juga sudah sibuk keluar masuk sehingga terkadang saya mengejan hanya didampingi suami dan ibu saya. Rasa sakit dan mulas karena kontraksi serta obat induksi bercampur jadi satu, ditambah juga rasa panik karena dokter yang kami andalkan tidak datang-datang ke ruang bersalin. Pukul 22.30 akhirnya dokter masuk ruang bersalin sambil meminta maaf karena sebelumnya tertahan di ruang bersalin lainnya dengan pasien yang juga sedang melahirkan. Suami dan ibu saya sudah habis tenaga untuk protes dan saya pun sudah tidak bisa fokus lagi. Proses persalinan pun dimulai, saya mulai mengejan dan kepala putri kami mulai perlahan-lahan terlihat. Namun, mungkin badan saya sudah terlalu lemas dan tidak bertenaga karena tiba-tiba saya kejang-kejang dan akhirnya dokter pun memutuskan untuk emergency c-section karena kondisi saya cukup berbahaya untuk persalinan normal. Pukul 23.05 kami masuk ruang operasi dengan keadaan saya yang masih gemetar tidak bisa diberhentikan, dan baru bisa tenang setelah disuntikkan obat penenang. Setelah itu proses operasi pun dimulai dan tak lama kemudian putri saya lahir. Alhamdulillah dengan keadaan sehat, selamat dan sempurna.

IMG_2134

Putri pertama kami “Kakak Dhaula”

Secara keseluruhan, kebiasaan-kebiasaan di rumah sakit ini hampir sama dengan di Indonesia. Saya diajari cara menyusui yang baik dan benar, bahkan suster-suster pun tidak keberatan membantu saya melakukan breast massage di hari-hari awal untuk memperlancara produksi ASI. Saya diberikan minuman jahe dan gingseng 3 kali sehari untuk memperbanyak ASI dan memulihkan tenaga. Setelah 4 hari observasi di rumah sakit, akhirnya kami sekeluarga bisa pulang ke rumah. Yang unik adalah rumah sakit di Bangkok tidak mengenal tindik menindik pada bayi perempuan, jadinya putri kami baru bisa ditindik ketika kami pulang ke Indonesia sebulan kemudian.

HAL SEPUTAR ANAK

Sejauh ini mengurus bayi hanya berdua dengan suami di negara orang merupakan tantangan tersendiri. Selain dari asisten rumah tangga yang datang untuk membersihkan rumah seminggu sekali, kami melakukan yang lain-lainnya sendiri. Untungnya Bangkok sangatlah baby friendly. Rata-rata stasiun BTS memiliki eskalator dan elevator sehingga mempermudah kami menggunakan stroller. Di mall-mall pun sudah disediakan nursery room, walaupun terkadang masih menjadi satu dengan disable bathroom, tapi setidaknya privasi ketika menyusui atau harus ganti popok bisa terjaga dengan baik.

TUJUAN WISATA DI BANGKOK

Tempat favorit saya dan keluarga, terutama apabila ada keluarga atau teman yang berkunjung ke Bangkok, adalah Asiatique Riverfront. Night Market yang satu ini letaknya ada persis di sebelah Sungai Chao Phraya. Menariknya, toko-toko di sini buka sampai malam dan dikelilingi dengan jajanan yang menarik di sekitarnya. Untuk kami yang mempunyai bayi kecil, night market yang satu ini sangat ideal. Udaranya enak karena letaknya di pinggir sungai, banyak restoran-restoran yang bisa jadi pilihan untuk makan, dan tersedia nursery room di beberapa bagian.

Asiatique-6Edit

Asiatique The Riverfront is an expansive open-air mall with river views and a cutting-edge ‘festival market and living museum’ concept.

Merantau bertiga bersama suami dan anak saya adalah pengalaman hidup yang mengajarkan saya banyak hal. Bagaimana harus bekerja sama dengan suami, membagi tugas dan berkomunikasi dengan baik, dimana hingga saat ini saya dan suami masih harus terus belajar dan belajar. Apalagi ditambah, kami jauh dari keluarga dan kerabat dekat kami, sehingga sangat minim yang namanya bala bantuan. Hampir semua pekerjaan rumah tangga saya lakukan sendiri, 2 minggu sekali ada yang datang kerumah untuk membantu membersihkan rumah dari tungau-tungau, dan di weekend, saya dan suami kerja bakti berdua mengurus rumah sambil menjaga Dhaula. Begitu pula dalam hal mengurus Dhaula, setiap mandi pagi dan malam, bapaknya selalu meluangkan waktu untuk memandikan Dhaula sebelum berangkat kerja dan ketika pulang kerja. Baru ketika malam hari, saya dan suami bisa bersantai, makan malam dan beraktifitas lainnya. Siang harinya kadang saya harus putar otak untuk meng-entertain Dhaula, kadang saya ajak Dhaula jalan-jalan untuk groceries shopping atau sekedar bermain sore hari di taman atau apabila suami sedang tidak sibuk dan bisa pulang on time, saya ajak Dhaula jalan kaki menjemput suami ke kantornya yang memang jaraknya tidak jauh dari rumah.

Sekian sekilas cerita-cerita tentang kehidupan di Bangkok. Nanti akan saya sambung lagi mengenai liburan keluarga kami ke Koh Mui dan Seoul beberapa waktu lalu dengan si bayi kecil Dhaulagiri. Saya akan berbagi tips berpergian dengan bayi 40 hari  🙂

WhatsApp Image 2017-05-01 1at 22.37.25

———-

Foto-foto terlampir adalah foto pribadi Icha dan keluarga. Beberapa foto lainnya terhubung dengan tautan asli foto atau dicantumkan dalam picture credit.

Article written by Icha and edited by Mamarantau’s content editor: Mita Rangkuti.

Instagram Icha: ichagelasia. More info about living in Bangkok or contact Icha personally please contact to mamarantau@gmail.com.

 

Serba-serbi Finlandia (2)

WhatsApp Image 2016-10-18 at 20.34.02.jpegRika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finland with two bilingual sons- Kai and Sami, a Finns husband – Mikko. Still trying (hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Akibat musim dingin yang terlalu panjang, musim panas di Finlandia jadi terasa sangat berharga. Dan begitu langit musim panas mulai menyapa, banyak orang yang berusaha untuk menjadikan musim panas menjadi lebih spesial dengan cara menciptakan permainan-permainan seru. Permainan ini awalnya dibuat untuk iseng-iseng saja, pesertanya cuma warga sekitar saja tapi kemudian mulai terkenal sampai akhirnya diakui sebagai cabang olah raga resmi di Finlandia. Malah beberapa diantaranya dibikin kejuaran dunianya karena banyak orang asing yang juga tertarik untuk ikut serta. Berhubung olah raganya gak umum, aneh, dan memang agak gila, cabang-cabang olah raga tersebut kemudian dijuluki sebagai hullut suomalaiset urheilulajit atau olah raga gila orang Finlandia.

i_hullutsuomalaiset_valmis

Beberapa cabang olah raga tersebut adalah:

Eukonkanto (Wife Carrying Competition)

Ini salah satu olah raga gila yang paling penting dan paling terkenal. Kejuaraannya diadakan setiap musim panas di Sonkajärvi. Di cabang olah raga ini laki-laki harus berlari melewati beberapa rintangan sambil menggendong wanita (istri). Konon olah raga ini terinspirasi dari sebuah legenda di bagian timur negara Finlandia, dimana jaman dahulu kala, penjahat laki-laki suka datang ke desa kecil menculik perempuan untuk dijadikan istri. Biasanya penjahat tersebut membawa perempuan culikan mereka dengan cara menggendong/menunggingkannya di pundak.

ccf55b40-781f-49e8-9041-c567b73dce59

Untuk lombanya sendiri yang ikut tidak harus suami-istri tapi harus sepasang pria dan wanita. Kita dapat menjadi peserta dalam kompetisi Eukonkanto dengan cara mendaftarkan diri di website resminya dan jika menang, hadiahnya adalah berliter-liter bir sebanyak berat “istri” yang diangkut.

Ilmakitara (Air Guitar Competition)

Ini juga gak kalah gila, ya. Lomba pura-pura memainkan gitar. Maksud ‘ngana’?

Mengintip sedikit di Wikipedia: Air guitar is a form of dance and movement in which the performer pretends to play rock or heavy metal-style electric guitar, including riffs, solos, etc. Playing an air guitar usually consists of exaggerated strumming and picking motions and is often coupled with loud singing or lip-synching.

Masih menurut wikipedia, ada beberapa kriteria penilaian dalam kompetisi pura-pura main gitar ini:
Technical merit— biarpun cuma pura-pura tapi main gitarnya harus meyakinkan, harus terlihat real, dinilai dari bagaimana teknik bermainnya, termasuk posisi jari-jari saat memegang kord.
Mimesmanship— mimik dan ekspresi yang harus meyakinkan, bahwa mereka memang sedang sungguh-sungguh main gitar, bukan cuma pura-pura.
Stage presence—kharisma di atas panggung. Be a rock star and rock the audience. Salam tiga jari, pemirsa!
Airness—nilai artistik dari performance yang ditampilkan.

130813170912-air-guitar-world-championships-oulu-finland-horizontal-large-gallerynanami

Dan saya cuma bisa geleng-geleng kepala, apaan sih ini? Tapi Air Guitar Champioship justru yang sudah mendunia, kejuaraannya sudah diadakan dimana-mana dan ada computer game-nya juga.

Suojalkapallo (Swamp Soccer)

Alias main bola di dalam lumpur. Awalnya kegiatan ini dijadikan sebagai ajang latihan untuk militer atau atlet profesional dalam rangka meningkatkan kondisi fisik mereka. Secara permainan bola biasa saja sudah jelas menuntut ketahanan fisik, apalagi jika bermainnya di dalam lumpur. Seiring waktu, permainan ini mulai populer di kalangan masyarakat umum dan sekarang malah ada kejuaraannya.

suofutis2760762

Permainan ini tidak benar-benar dilakukan di rawa berlumpur melainkan di lapangan yang direndam lumpur. Waktu tandingnya juga lebih singkat dari permainan bola biasa, “cuma” 2×13 menit saja. Swamp soccer dibuka untuk grup lelaki dan perempuan dan kejuaraannya sudah diadakan di negara-negara lain seperti Swedia dan Brazil.

Muurahaispesässä istuminen (Ant-Nest Sitting Competition)

Ini pasti kejuaraan paling edan. Lomba duduk di sarang semut! Dengan bokong telanjang!

Katanya, sih, perlombaan duduk di sarang semut ini diadakan di banyak daerah di Finlandia sepanjang musim panas. Rekor dunia saat ini dipegang oleh Lyde Lyytikainen dengan waktu 2 jam 10 menit.

Dari yang saya baca-baca di internet, tips paling penting dalam mengikuti kegiatan ini adalah untuk membuat bokong kita kebas dan mati rasa sebelum berlomba. Bisa dengan cara mencubit-cubit bokong dulu seharian, atau ditampar-tampar hingga mati rasa, atau bisa juga dengan cara merendam bokong di air es selama beberapa jam sebelum perlombaan dimulai.

Saappaanheitto (Boots Throwing Competition)

Ini lomba jauh-jauhan melempar sepatu bot karet. Laki-laki akan diberikan sepatu bot no.43 untuk dilempar sementara perempuan no. 38. Gaya melemparnya dibebaskan kepada peserta yang penting harus coba untuk melempar sejauh mungkin. Kejuaraan dunia melempar sepatu ini sudah diadakan di beberapa negara di luar Finlandia, diantaranya di Italia, Jerman, Estonia, Swedia dan Polandia.

saappaanheitto

Asal muasal permainan ini masih menjadi tanda tanya. Diduga pada jaman dahulu kala ada seorang pria yang sedang bersantai di teras mökki-nya sambil minum bir, tiba-tiba dia melihat ada sepatu bot tergolek di halaman dan terus… dilempar deh (kriik… kriik). Ada yang bilang, semua cabang olah raga aneh di sini Finlandia tercipta akibat kebanyakan minum bir setelah bersauna.

Lomba lempar melempar ini agaknya cukup diminati di Finlandia. Selain melempar sepatu bot masih banyak lainnya yang bisa dilempar. Ada lomba melempar telepon genggam, melempar kursi atau melempar rumput.

Menarik yaa? Mau dicoba di Indonesia? 🙂


Written by Rika Melissa. Content editor: Mita Rangkuti.

Images on this page are linked to its original source (if not, it is all taken from the Internet).

Merantau di Britania Raya

dsc04794Resci Anggrita (Eci) – A wife and a mom of one daughter. Easily excited person. Lived in Egham, UK 2012 – 2016 to accompany my husband pursuing his PhD in Royal Holloway University of London.

Adaptasi tinggal di Egham, Britania Raya

Egham merupakan salah satu kota bagian dari Runnymede Council, yakni kota kecil yang ada di bagian South East-nya London. Kota kecil yang sepi ini juga dilalui oleh arus sungai the famous River Thames. Egham itu kota yang sepi, jauh dari keramaian layaknya London. Untuk yang ingin mecari ketenangan, banyak yang memilih Egham untuk dijadikan tempat tinggal. Yang bekerja di London pun rela menempuh jarak yang cukup jauh (kurang lebih 40 menit ke Central London dengan kereta). Dan bahkan, banyak juga yang memilih untuk menghabiskan masa tua di Egham; karena selain mahasiswa Royal Holloway, mayoritas penduduk di Egham adalah yang sudah sepuh.

10615505_10204407864775407_1543472584104387018_n

Eci bersama Ega dan Qaireen

Royal Holloway ini bagian dari university of London, terletak di kota Egham 31 km dari pusat kota London. Terdiri atas tiga Fakultas dan 20 Departement. Salah satu departemen nya itu adalah Department Earth of Sciences. Geology ada di bawah departemen tersebut dan menjadi salah satu jurusan favorit di Royal Holloway. Setiap tahunnya akan ada satu mahasiswa program master yang dikirim dari Teknik Geologi ITB. Mayoritas di Royal Holloway memang ada di jurusan GeologI dengan Program Master. Suami Eci kebetulan tinggal satu-satunya yang menjalani Phd di sini, dua seniornya sudah kembali mengabdi di almamater mereka.

Sama halnya dengan para perantau dari luar UK, hal yang sangat saya senangi adalah fasilitas umum yang rapih, bersih, dan gratis. Playground for kids jadi hiburan bagi saya dan anak saya, karena anak saya umurnya masih dibawah tiga tahun, jadi belum sekolah. Sehingga hari-hari weekdays sering sekali dihabiskan di playground, library atau yaa di rumah saja. Di library biasanya ikut kids activity seperti rhyme time bernyanyi bersama atau sekedar storytelling oleh pustakawan.

egham-main-street

Main Street Egham yang selalu sepi dan tenang di hari biasa

Tentang Egham dan Apartemen Hunting

Biaya sewa rumah dan transportasi di Egham yang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa. Tapi Alhamdulillah tercover tiap bulannya. dengan menyiasati kami selalu makan masakan rumah alias mengurangi jajan di weekdays. Jalan-jalan dan jajannya dirapel di akhir pekan.

Di Egham tidak ada supermarket atau butcher yang khusus menyediakan produk halal. Kita bisa mendapatkan daging, ayam dan produk halal lainnya di kota sebelah, Slough, yang banyak komunitas muslim disana, ataupun belanja online dari supermarket tertentu. Kalau untuk bumbu dapur, rempah, produk Asia yang  jarang dijual di supermarket pada umumnya bisa di beli di Oriental Store di Egham atau di Tuesday Market di kampus RHUL. Tempe, kecap manis, mie instan, saus sambal, ikan teri, dan sereh semua ada di sini, jadi tidak perlu jauh jauh ke London.

Dari 2012 di UK, Eci dan suami gak pusing cari rumah, karena sudah ada temen temen Indonesia yang bantu mencarikan. Dikarenakan budget sewa rumah yang kurang bersahabat untuk para mahasiswa yang membawa serta keluarga, jadi kami tinggal di sharing house sesama orang Indonesia. Egham ini salah satu kota mahal dalam hal property, padahal tidak ada apa-apanya tapi mungkin karena deket Windsor (rumahnya bu Ratu ), atau demand-nya banyak untuk mahasiswa pendatang. Lebih dari setengah uang beasiswa kami tersedot untuk sewa rumah. Belum lagi karena kita bukan permanent residence disini, ada beberapa House Agent yang mengharuskan kita membayar full 6 bulan sewa didepan. Mahal banget dong klo dibandingin sama kota lain di UK kayak Birmingham atau Cardiff. Uang sewa satu kamar sharing house di Egham bisa buat sewa flat atau rumah dengan dua kamar di Birmingham.

magna-carta-800th-anniversary-main-street

Annual Magna Charta event di Egham High Street

Dari 2012-pertengahan 2015 kita tinggalnya di Egham, deket banget dengan Train Station. Pertengahan 2015- sekarang kita pindah ke Englefield Green, lebih deket ke kampus, dan agak lebih murah karena jauh dari pusat kota Egham.

Pengalaman nyari rumah yang sekarang ditempatin punya cerita tersendiri. Karena banyak house agent yang menolak. Karena tau suamiku tidak hanya sendiri, tapi akan bawa istri dan anak. Intinya mereka mau menyewakan satu kamar untuk satu orang . Tapi untungnya di akhir akhir ada satu House Agent yang bersedia menerima satu kamar diisi dengen tiga orang, pegawainya udah kasian liat kita ditolak tolakin agent house karena punya toddler.

181401

Thames River yang melewati Egham

Tiap tahun ganti personil yang Master. Seru !!! kayak rumah kost deh,mau ke WC cepet cepetan. Keseruan lainnya ya homesick agak terobati lah ya, banyak temen ngobrol. Semua teman Indonesia sudah dianggap seperti saudara.

Pengalaman Melahirkan

Eci dari pertama hamil udah di UK, periksanya di puskesmas (Health Centre) di deket rumah. Misalnya bulan ini ke GP,bulan depan cek hamilnya ke bidan di Health centre yang sama. Dan dua kali USG ke Rumah Sakit waktu hamil 4bulan dan 7 bulan. Dari semasa hamil dan melahirkan tidak ada uang sepeserpun dikeluarkan, dari kontrol rutin bulanan, vitamin, injeksi, biaya melahirkan semuanya ditanggung pemerintah . Seinget saya, hanya membayar uang cetak USG dua kali, masing masing 3 pounds untuk sekali cetak foto usg. Sebenernya biaya cetak juga tidak diwajibkan, hanya karena ini pengalaman pertama hamil buat kenang-kenangan.

Di luar rencana kita, yang awalnya direncanakan melahirkan dirumah sakit . Gak disangka proses pembukaannya relatif  cepat. Waktu itu usia kandungan 37 weeks 6 days (besoknya emang sudah due date lahiran dan first wedding anniversary kami) si Qaireen sudah gak sabar mau keluar. Karena sudah masuk ke tahap emergency, maka saya dan suami memutuskan untuk menelpon 911 dan bidan. Satu unit Ambulance pun datang ke apartemen dengan 1 senior paramedic serta satu trainee paramedic. Pas datang, mereka memeriksa posisi bayi sudah crowning, sehingga diputuskan lebih aman menunggu di rumah daripada melahirkan di jalan. Dengan sabar, si bapak Paramedic ngebimbing kapan harus push. Selama proses persalinan, saya ditemani oleh si mbak trainee sambil menghirup Entonox dengan tujuan agar lebih rileks. Dan Alhamdulillah it works, dua kali ngeden saja. Si anak lahir jam tiga sore waktu setempat. Setengah jam kemudian, midwife tiba untuk cek kondisi aku dan bayi.

Walaupun tidak melahirkan di rumah sakit, ternyata hari kedua setelah melahirkan, saya dan Qai nginep juga dirumah sakit. Karena Qaireen agak kuning (jaundice), dan ASI saya masih belum banyak. Empat hari tiga malam kami menginap di rumah sakit, dan suami saya hanya boleh menemani dari pagi hingga jam 21 malem. Selebihnya saya survive berdua Qai. Tapi Alhamdulillah gak perlu sampai masuk incubator, dan hanya rawat jalan sampai Qai berumur dua bulanan harus cek darah ke rumah sakit setiap minggunya. Dan selama kami stay di rumah sakit pun, kita tidak perli bayar sama sekali baik biaya rawat inap maupun obat, injeksi dsb.

Komunitas Indonesia di Egham

Orang Indonesia di Egham sering banget kumpul-kumpul (selain karena di rumah sharing house dengan orang Indonesia ) tahun 2015 memang mahasiswa Indonesia-nya lagi banyak dan kompak banget. Mereka aktif di group LINE. Kalo ngumpul biasanya pada maen Play station (haha), nonton bareng, maen kartu, dan terakhir juga sempet badminton rutin setiap Jumat.

badminton

Kalau cuaca sedang hangat dan anak anak pada rajin, pada belanja bareng terus BBQ-an deh di rumah. Tahun 2016, mahasiswanya lebih sedikit, selain itu halaman belakang rumah kami kurang mumpuni untuk BBQ party, jadi sudah tidak pernah lagi kumpul-kumpul BBQan. Selain sama mahasiswa, kami juga jalan bareng keluarga Indonesia lain, ada yang tinggal di kota sebelah tepatnya Virginia Water.

14669018467111

Dan kenalan pun jadi bertambah serta membuka lapangan pekerjaan baru buat Eci. Eci sempet beberapa kali terima orderan jualan gorengan dan bumbu masak jadi. Alhamdulillah, banyak teman banyak rezeki 😀

dsc05690

Kumpul-kumpul dengan teman Indonesia sebelum Ramadan

festival-jajanan-indonesia-london

Festival jajanan indonesia event yang diselenggarakan PPI London

piknik-di-saville-garden

Piknik besama mbak pinkan dan keluarga (mamarantau London)

Dan Juni 2016 adalah summer terakhir kami di UK, ini. Dari pengalaman merantau disini, banyak hal yang didapat, salah satunya keluarga tak hanya sebatas hubungan darah, ketika jauh dari tanah air teman baik juga merupakan rezeki yang tak terhingga nilai.

 —-