Karakter Ibu Jepang

1Ninggalih (Tyas). Has been living in Sendai, Japan since 2009. Mother of a cute boy, full time home educator for his son. Do not like shopping, but addicted to traveling. Spending her spare time for traveling and writing on her personal blog.

Merantau di Sendai

Tahun 2009 saya meninggalkan Indonesia untuk mengikuti suami yang sedang belajar di Jepang. Setelah menyelesaikan pendidikan S2 dan S3, suami melanjutkan bekerja sebagai staf pengajar dan peneliti di Tohoku University. Tahun 2012 keluarga kami semakin lengkap dengan lahirnya seorang putra Eiji Royyan Nugraha (2 tahun 8 bulan). Tahun ini adalah perjalanan saya menuju tahun keenam berada di Sendai dan tahun ketujuh bagi suami.

Sendai adalah salah satu kota di daerah Tohoku, merupakan ibukota provinsi Miyagi. Tahun 2011 daerah Tohoku mengalami bencana gempa dan tsunami besar.

Tsunami 2011

Sendai terletak di pulau Honshu bagian utara, di musim panas (makin ke utara) tergolong sejuk untuk ukuran musim panas di Jepang. Tentunya, lebih banyak salju dan lebih lama musim dinginnya dibanding daerah Tokyo ke selatan.

2

Sakura di Sendai

Jika sudah merasakan tinggal di Sendai, ketika jalan-jalan ke kota besar lainnya di Jepang pasti akan kaget. Kota Sendai sangat tenang, cocok untuk belajar, dan nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Sendai sangat bersih, udaranya segar, dan penduduknya taat aturan. Hal ini tidak saya temukan di kota metropolis seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Berbeda dengan kota besar lainnya, karakter orang Sendai sangat ramah dibandingkan kota yang lain.

Sendai di musim gugur

3

Sendai di musim dingin

Jika Kobe terkenal dengan Kobe beef, Hokkaido terkenal dengan produk susu, Sendai pun menu kuliner yang khas. Ada berbagai macam makanan khas daerah Miyagi (Sendai pada khususnya), antara lain: gyutan (lidah sapi) tidak halal bagi muslim, zunda mochi (mochi edamame/kedelai), sasa kamaboko (fish cake/mirip otak-otak).

Zunda Mochi

Kamaboko (steamed fish paste) is made by grinding up the white meat of fish.

Makanan tersebut banyak dijual di pusat kota Sendai, sekitar stasiun Sendai, dan kawasan perbelanjaan Clisroad. Silakan mencobanya saat datang ke Sendai.

The Sendai Asaichi Market, sometimes called “Sendai’s kitchen” is located on the west side of Sendai Station. Although the market is called “Asaichi,” which means “morning market,” it is open all day long.

Komunitas Indonesia di Sendai

Warga Indonesia yang datang di Sendai mayoritas adalah pelajar. Kami tergabung dalam wadah Persatuan Pelajar Indonesia Sendai (PPIS). Dalam setahun ada enam kali pertemuan PPIS, jadi tiap dua bulan ada sekali ngumpul bareng. Acaranya berbagai macam, seperti makan bersama, presentasi warga, jalan-jalan, dan lainnya. Selain pelajar, warga Indonesia yang tinggal di Sendai adalah beberapa WNI yang menikah dengan orang Jepang, trainee (tinggal di luar Sendai, namun masih daerah Tohoku; dan para peneliti di Tohoku University.

Berkeliling di Sekitaran Sendai

Daerah sekitaran Sendai yang menarik dikunjungi beberapa di antaranya adalah:

Matsushima. Hanya 45 menit menggunakan kereta dari stasiun Sendai. Matsushima termasuk salah satu dari tempat terindah di Jepang. Pemandangan teluk, beberapa pulau kecil, dan paviliun Date Masamune (pendiri kota Sendai) ada di sana. Kita bisa menikmati pemandangan laut yang berujung pada samudera Pasifik, sambil menikmati seafood dan bermain di atas pasir putih. Hiburan ringan di tengah rutinitas sehari-hari.

????????????????????????????????????

Matsusima

Jogi Nyorai. Perlu waktu sekitar satu jam menggunakan bus untuk sampai di sana. Hiburan taman Jepang yang sangat indah di musim gugur.

Jogi Nyorai

Jogi Nyorai

Lukisan alam sekitar Jogi Nyorai.
Lukisan alam sekitar Jogi Nyorai.

Akiu Onsen. Terkenal sebagai salah satu onsen terbaik di Tohoku. Wisata air terjun (Akiu Otaki Fall) dengan jalan setapak sangat cocok untuk hiking kecil-kecilan.

????????????????????????????????????

Akiu water falls dengan daun merah di awal musim gugur

Kedai teh di jalan setapak menuju air terjun.
Kedai teh di jalan setapak menuju air terjun.

Ayashi. Ada bukit kecil yang letaknya mengelilingi danau. Biasanya orang-orang sering memancing, hiking, sekedar menikmati wisata alam di sana.

16

Danau Ayashi

 

Separuh perjalanan, singgah sebentar untuk melepas lelah dan menikmati pemandangan.
Separuh perjalanan, singgah sebentar untuk melepas lelah dan menikmati pemandangan.

Ogawari. Sekitar 30 menit menggunakan kereta dari stasiun Sendai. Tempat ini terkenal dengan sakura matsuri-nya. Sangat ramai oleh pengunjung pada musim semi. Mereka datang untuk hanami (melihat sakura) dengan duduk dan makan siang lesehan di bawah deretan pohon sakura.

????????????????????????????????????

Sakura Matsuri

Ogawari

Musim panas di Sendai selalu ada berbagai macam festival, misalnya Aoba Matsuri, Tanabata Festival. Khusus Tanabata, di Sendai merupakan festival Tanabata terbesar di Jepang. Biasanya diadakan di bulan Juli, tidak hanya orang Sendai saja yang datang namun orang-orang dari daerah Kanto, Aomori, dan sekitarnya juga banyak yang berkunjung ke Sendai. Beberapa pernak-pernik kota Sendai akan ditulis di bagian lain.

Tanabata Festival

Karakter ibu jepang

Mandiri dan Disiplin. Saya akan cerita bagaimana mandiri dan disiplin-nya para ibu Jepang. Mayoritas ibu Jepang mengerjakan semua pekerjaannya tanpa bantuan pembantu rumah tangga, meskipun dia adalah wanita karir. Mereka menggunakan jasa tenaga kerja ketika mengalami kejadian khusus, misalnya sakit setelah melahirkan. Itu pun hanya beberapa jam, karena tenaga kerja di sini digaji per jam. Jadi ga ada beda profesi di rumah tangga maupun profesi pramuniaga, kurang lebihnya seperti itu. Tentu saja biaya/gajinya sangat amat mahal. Soalnya gaji pekerjaan mereka dihitung tiap jam.

Terkait dengan mandiri, ibu-ibu Jepang terbiasa mengerjakan segala pekerjaannya sendiri. Pun, meski punya anak-anak kecil yang jaraknya sangat dekat. Kerap kali saya melihat mereka mendorong stroller, di dalamnya ada balita, sembari menggendong bayi dan menggandeng balita yang lain, menggantungkan belanjaan di kereta dorong tersebut, mengangkat stroller ke dalam bus, memboncengkan dua anak dengan sepeda (depan-belakang), dll. Waktu mereka sangat efektif.

Nah...!

You can usually see this moms riding with kids infront or at the back. They also use this for an errand with kids as their backride. I know it’s dangerous but this is the only way they can multitask. Japanese are good in doing stuff that is multifunction.

Kebanyakan orang Jepang masak sehari 3x agar semuanya segar. Sejak pagi menyiapkan bento (bekal makan siang), menyiapkan anak-anak, menata/membersihkan rumah, kalo dia wanita karir dia juga menyiapkan dirinya sendiri. Namun kebanyakan mereka memutuskan berhenti bekerja ketika sudah memiliki anak. Ya, waktu mereka sangat efektif! Menyiapkan semuanya di pagi hari, memasak, mengantar anak sekolah, belanja, ngajak main anak ke taman kota, ke dokter, masak lagi, ngurus macem-macem, pokoknya semua terselesaikan dengan baik.

Selain itu para suami (orang Jepang) sibuknya luar biasa, jadi kebanyakan urusan rumah dipegang oleh sang istri. Meskipun juga ada bapak-bapak yang ngasuh anak, itu hanya kelihatan di hari libur atau akhir pekan. Hebatnya mereka (ibu-ibu), mereka tidak mengeluh dengan semua pekerjaan yang tidak ada habisnya. Saat ada kesempatan ngobrol dengan mereka, tidak nampak ada wajah kelelahan dengan semua itu. Saya mencoba belajar dari mereka. Betapa berharganya waktu bagi mereka. Hebatnya, kok bisa sih rumah terjaga kerapiannya padahal ada anak-anak kecil di dalamnya. Semua pekerjaan selesai, rumah rapi, sempat merawat diri, sempat jalan-jalan ke taman, sempat antar jemput anak, sempat ngumpul dengan kawan-kawannya.

Dari obrolan-obrolan tersebut saya menangkap bahwa adanya komitmen terhadap diri sendiri adalah kunci utama. Semua terjadwal dan dikerjakan sesuai jadwal tersebut. Jangan heran jika mereka hanya menerima tamu ketika sudah ada janji sebelumnya. 😀

Oya, kata teman-teman Korea saya malah lebih ekstrim lagi, dalam 30 menit mereka bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah. 30 menit doang!! Saya tanya apa ga kecapean, mereka bilang di Korea sudah terbiasa dengan hal ini. Sejam bersih-bersih, masak, cuci baju, bagi mereka itu terlalu lama. Ehhh… Saya coba dalam 30 menit beresin semua, beres sih… tapi setelahnya ngos-ngosan! 😀

Yap, intinya kita harus punya komitmen untuk mandiri/disiplin di manapun kita berada. Kita coba belajar dari mereka, dimulai dari hal yang kecil, mendisiplinkan yang ada di dalam rumah. Sampe akhirnya terbentuk tatanan negara yang maju dan berdisiplin. 😉

Penuh Dedikasi. Berkesempatan ngobrol dengan seorang teman Jepang, saya mendapatkan cerita ini. Wanita Jepang kebanyakan memutuskan menikah pada usia di atas 30-35 tahun. Alasannya, selepas kuliah adalah saatnya berkarir, mendapatkan gaji, bersenang-senang, atau pun jalan-jalan keliling dunia. Karena mereka menyadari bahwa ketika menikah maka kebebasan tersebut tidak akan mereka dapatkan. Tak jarang juga memilih untuk tidak menikah. Mereka tahu betul bahwa ketika sudah menikah maka ada banyak konsekuensi atas pilihan tersebut.

Ia menuturkan, pilihan menikah adalah ketika seorang wanita menyadari bahwa ia ingin hamil dan memiliki anak.  Didasari pemikiran bahwa wanita memiliki umur biologis di mana ada batasan tidak bisa melahirkan lagi. Saat itulah ia mulai menghitung usianya, merencanakan kapan menikah, kapan punya anak, dan jumlah anak yang diinginkan.

Example of Japanese home-cooked daily meals: Teriyaki Saba mackeral, miso soup, maki sushi, daikon with bonito flakes, cuke & wakame salad, potato salad, okra salad and carrot & daikon pickles.

Ketika ia memutuskan menjadi ibu rumah tangga total, maka akan keluar dari pekerjaannya dan fokus mengurus anak, mengatur semua urusan domestik di rumahnya. Semuanya diurus sendiri, kecuali bila ada orangtua yang mau membantu. Namun kebanyakan para orangtua (kakek-nenek) tidak mau jika harus mengurus cucunya sementara si ibu bekerja di luar rumah, karena para kakek-nenek di sini usia 70 tahun pun masih sangat aktif dan mereka merasa masih muda. Kakek-nenek masih punya segudang aktivitasnya sendiri.

Nah ketika seorang wanita memutuskan untuk menjadi working mom, maka ia harus mengalokasikan sebagian besar gajinya untuk membayar hoikuen *penitipan anak* swasta yang harganya mahal. Hoikuen negeri mendapat subsidi dari pemerintah, namun jumlahnya terbatas dan kuota tidak memenuhi permintaan yang ada.

Kembali ke dedikasi ibu Jepang dalam mengurus keluarganya, benar-benar dedikasi yang besar. Seluruh urusan domestik diserahkan kepada si ibu. Tugas bapak Jepang full mencari nafkah di luar rumah. Urusan rapat sekolah, pendidikan, prestasi anak, dapur, belanja, bayar tagihan, dan printil-printilnya ada di tangan si ibu. Benar-benar pekerjaan berat namun dikerjakan penuh dedikasi.

Negara Jepang menjadi salah satu negara maju dan penduduknya memiliki mental mandiri, tentu saja tak lepas dari peran para ibu dalam mendidik anaknya. Di sisi lain, karena beban kerja menjadi ibu rumah tangga di sini cukup berat, maka angka post partum blues pun tinggi. Untuk mengurangi beban tersebut, pemerintah Jepang membantu dengan menyediakan fasilitas helper yang datang ke rumah untuk membantu para ibu pasca melahirkan. Tawaran jasa helper tersebut bisa diambil atau tidak.

Pengalaman saya sebelum melahirkan kemarin, saat melaporkan kehamilan ke kuyakusho, petugas kuyakusho mengatakan hal ini: “Kami menyediakan jasa helper untuk datang ke rumah membantu pekerjaan rumah, memasak, dan memandikan bayi sampai 10x datang, sebelum bayi berusia 6 bulan. Anda bisa mengambil jasa tersebut dengan mengajukan aplikasi ke sini. Ini adalah pengalaman kehamilan pertama Anda, di luar negeri, dan tidak ada keluarga yang datang membantu mengurus bayi. Pasti Anda akan kelelahan sekali. Sebaiknya Anda mengambil tawaran ini.”

Saya pun menjawab akan memikirkan tawaran tersebut dan melihat keadaan saya setelah melahirkan nanti, apakah saya akan mengambil atau tidak. Apalagi jika melahirkan secara caesar yang membutuhkan pemulihan lebih lama, semakin didukung oleh petugas kuyakusho untuk mengambil jasa helper. Setelah melahirkan, Alhamdulillah kondisi saya sehat, bisa langsung memandikan bayi sepulang dari rumah sakit, dan beraktivitas lainnya. Jadi saya tidak mengambil tawaran helper tersebut.

Melanjutkan cerita sebelumnya, saking besar tanggung jawabnya seorang ibu dalam mengurus anak bahkan ekstrimnya ada yang bunuh diri karena prestasi anaknya turun. 😦 Selain berdedikasi, tingkat stress ibu juga tinggi karena beban kerja yang tinggi tersebut. Kalau di Indonesia, budaya kekeluargaan masih sangat kental. Ada bantuan dari keluarga, tetangga, dll saat membesarkan anak. Hal tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan orang Jepang untuk memiliki sedikit anak. Jumlah bayi yang lahir semakin sedikit, menimbulkan permasalahan baru bagi negara.

Bagi ibu Jepang, menjadi ibu rumah tangga dan memiliki anak adalah sebuah pilihan besar. Berlaku juga bagi seluruh wanita di dunia. Ingin menjadi ibu rumah tangga, berkarir total, atau menjalankan keduanya; kembali pada pilihan masing-masing. Tentu saja setiap pilihan memiliki tanggung jawab, kelelahan, dan kebahagiaan yang berbeda. Belajar dari kisah para ibu Jepang; pilihlah dengan sadar setiap keputusan dalam hidup dan lakukanlah dengan penuh dedikasi. 🙂

———-

Blog: rninggalih.wordpress.com. IG: tyasmomiji. Email: renan_galih at yahoo.com. Foto pada laman ini adalah karya Tyas dan keluarga – beberapa foto penunjang terhubung langsung pada link masing-masing gambar. Foto ibu dengan sepeda oleh Andia Hastriani.

Advertisements

8 thoughts on “Karakter Ibu Jepang

  1. Gara says:

    Intinya melakukan segala sesuatu sepenuh hati agar hasilnya maksimal. Orang Jepang memang super banget kegigihan, komitmen, ketekunan, dan dedikasinya, dan hal-hal itu yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari supaya kita dapat yang terbaik yang hidup ini tawarkan, kalau kata orang pintar live to the fullest ya Mbak :hihi.

    Keren! Terima kasih sudah menginspirasi!

    Liked by 1 person

  2. Feri says:

    Assalamualaikum.
    Salam kenal teh.

    Saya senang membaca artikel tentang Jepang dan selalu antusias jika ada website yang memuat artikel tersebut.
    Saya salut dengan dedikasi ibu di Jepang. Mereka benar-benar memainkan perannya semaksimal mungkin. Pantas saja, SDM Jepang sangat berkualitas. Salah satunya adalah peran dari ibu dalam membesarkan anaknya.

    Saya yang bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan di Jepang menjadi termotivasi lagi setelah membaca artikel ini. Mungkin saja suatu saat saya mengalami hal yang serupa dengan suami teteh (rejeki kan siapa yang tau, hehe.).

    Semoga teth bisa memiliki karakter seperti ibu Jepang! Aamiin.
    Barakallah.

    Arigatou gozaimasu.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s