Pengalaman Melahirkan di Belanda dan Jerman

großer garten musim gugurSiti Prima Genni (Meli) – Mother of two energetic boys, Adriaan Radhitya Irman (7 y.o) and Adam Irman (2 y.o). Married to an Indonesian Scientist. A housewife who loves cooking, baking and travelling. Currently living in Dresden, a city in East Germany.

Pengalaman melahirkan saat merantau

Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan dua kali melahirkan secara normal di kala merantau. Anak pertama saya, Adriaan, lahir di Enschede, Belanda. Anak kedua saya, Adam, lahir di Dresden, Jerman. Yang jelas di dua negara ini, melahirkan secara operasi bukanlah pilihan. Operasi dilakukan jika tidak ada pilihan lain lagi. Misalnya jika melahirkan normal akan berbahaya untuk bayi dan ibunya.

adriaan&mama(enschede)

Adriaan dan Mama(enschede)

Melahirkan di Belanda

Melahirkan di Belanda mungkin sedikit berbeda dengan di negara lain. Di negara kincir angin ini, bidan berperan sangat besar. Kontrol rutin selama kehamilan selalu dilakukan oleh bidan, bukan dokter kandungan. Pertama kali kontrol ke bidan, saya tidak diperiksa sama sekali. Saya hanya diberi selamat, kemudian diwawancara mengenai riwayat kesehatan. USG pun tidak dilakukan di praktek bidan. Saya harus pergi ke Echo Centrum, tempat khusus USG. USG selama hamil hanya dua kali jika kehamilan tidak bermasalah. Disaat kandungan berusia 3 bulan dan 5 bulan.

Jika proses persalinan berjalan normal dan tanpa masalah, bidanlah yang membantu dan menemani kita selama persalinan, tanpa adanya dokter. Persalinan pun bisa dilakukan di rumah tanpa harus ke Rumah Sakit. Jika ingin melakukan persalinan di rumah, calon ibu sebelumnya harus mempersiapkan keperluan untuk persalinan. Biasanya sebelum waktu perkiraaan lahir, calon ibu akan diberikan daftar apa saja yang harus dipersiapkan untuk melahirkan di rumah. Kamar biasa seolah dirubah jadi kamar bersalin 😉 Jadi jangan kaget jika di usia kehamilan diatas 30 minggu, bidan akan bertanya “Mau melahirkan dimana, di rumah atau di Rumah Sakit?“

Saya sendiri sempat terpikir untuk melahirkan di rumah, karena saya pernah menemani teman Indonesia melahirkan di rumah. Ternyata tidak sesulit dan seseram yang saya bayangkan. Malah lebih praktis karena tidak perlu buru-buru ke RS.

Lain halnya dengan melahirkan di negara lain, di Belanda, jika ada tanda-tanda melahirkan seperti kontraksi dan pecah ketuban, maka yang perlu dilakukan bukanlah langsung ke RS, melainkan menelfon bidan. Kemudian bidan akan datang ke rumah dan memeriksa semuanya seperti sudah ada bukaan atau belum, memeriksa posisi bayi dan lainnya. Jika ternyata proses persalinan berjalan normal, cepat dan tidak masalah, maka persalinan bisa dilakukan di rumah. Tapi jika ada masalah, maka bidan akan mengirim calon ibu langsung ke RS. Sebenarnya moment ini rada beresiko, kalo menurut saya, jika telat ke RS, bisa-bisa melahirkan di mobil. Yang pasti bidan di Belanda sangat profesional. Mereka pasti akan mengirim calon bu ke RS secepatnya jika ada masalah.

Saya sendiri melahirkan di Rumah Sakit. Adriaan diperkirakan lahir tanggal 24 Desember 2008. Pagi harinya tanggal 24 Desember itu saya belum merasakan adanya kontraksi. Tetapi pagi itu keluar sedikit cairan dan berwarna pink. Lama kelamaan cairan tersebut keluar terus dan keluarnya hanya sedikit demi sedikit. Saya yang belum pengalaman waktu itu jadi bingung. Apakah ini air ketuban? Bukannya biasanya air ketuban keluarnya langsung banyak? Karena bingung, saya menelfon bidan. Bidan datang ke rumah dan memeriksa cairan tersebut. Bidan pun menyuruh saya untuk langsung ke Rumah Sakit. Beliau juga kurang yakin kalau itu air ketuban. Di RS bisa langsung diperiksa.

Kami belum mempunyai mobil waktu itu. Karena itu suami saya langsung menelfon teman yang sudah kami beri tahu untuk minta tolong mengantar kami ke RS. Tapi karena hari itu libur Natal, teman kami sedang berada di luar kota. Otomatis, kami pun menelfon taksi. Tidak lebih dari 5 menit, taksi pun datang dan kami pergi ke RS.

Di RS, saya belum merasakan kontraksi. Dokter di RS memeriksa cairan pink tersebut dan saya dipasangkan alat pendeteksi kontraksi dan detak jantung bayi. Sore harinya, dokter memberi tahu bahwa cairan itu memang air ketuban. Saya disuruh menginap di RS. Mungkin karena udah due date juga ya. Saya pun dipindahkan ke ruang opname. Suami tidak boleh ikut menginap. Suami saya menemani sampai pukul 10 malam. Dokter juga menyuruh saya untuk berjalan keliling RS supaya ada kontraksi dan bukaan.

Tanggal 25 Desember 2008, dini hari, barulah terjadi kontraksi. Pagi harinya saya dipasangkan kembali alat pendeteksi kontraksi dan detak jantung bayi. Dari sana baru saya tahu kalau kontraksi telah dimulai. Kira-kira jam 1 siang, saya diperiksa lagi oleh dokter. Dan ternyata sudah bukaan 5. Saya pun dipindahkan ke ruang persalinan. Dokter dan Susternya sangat ramah sekali. Dokternya berkomunikasi dengan bahasa Inggris, sedangkan susternya dengan bahasa Belanda. Dokternya berusaha untuk menenangkan saya dengan mengatakan “everything is gonna be okay“. Jam 3 sore, saya diinduksi. Dari bukaan 5 ke 10 hanya berjarak kira-kira satu jam saja. Mungkin efek dari induksi ini. Saya berusaha untuk tidak teriak-teriak selama kontraksi karena akan buang-buang energi saja. Sekitar jam 16.00 Adriaan pun lahir dengan berat 3,685 kg. Gede juga ya.. Kemudian Adriaan langsung ditaruh di dada saya. Suami saya memotong tali pusar Adriaan. Saya mengambil posisi menyusui. Alhamdulillah, Adriaan langsung bisa. Setelah itu, Adriaan pun dimandikan oleh suster di RS.

Dokter di RS menyuruh saya untuk menginap semalam lagi di RS karena Adriaan harus diperiksa dulu. Jarak waktu antara pertama kali air ketuban keluar dan Adriaan lahir terlalu lama. Jadi Adriaan harus benar-benar diperiksa. Biasanya, jika tidak ada masalah, beberapa jam setelah melahirkan, ibu dan baby bisa langsung pulang ke rumah.

Esok harinya, saya sudah boleh pulang ke rumah. Alhamdulillah, kondisi Adriaan baik-baik saja. Saya pulang ke rumah dengan Taksi bersama ibu dan suami. Ibu saya sudah datang sebelum melahirkan. Saya memanggilnya Bundo. Bundo akan stay di Belanda kira-kira 3 minggu. Saya beruntung mempunyai Ibu seperti Bundo yang tidak terlalu mau ikut campur urusan keluarga anaknya. Tidak lantas sok tau bagaimana seharusnya mengurus bayi yang baik. Yang selalu saya amati di Indonesia. Bahkan kadang bisa mengganggu dan membikin stress sang ibu baru karena terlalu banyak individu yang ikut campur untuk mengurus baby yang baru lahir ini.

adriaan bobo di rmh

Adriaan ketika baru pulang dari RS ke rumah

Keesokan harinya, Kraamzorg datang. Apa itu Kraamzorg? Nah, ini enaknya di Belanda. Kraamzorg datang ke rumah-rumah ibu yang baru melahirkan untuk mengontrol kondisi ibu dan bayi selama beberapa hari setelah melahirkan. Tugasnya seperti memeriksa kondisi bayi, menimbang berat tubuh bayi selama seminggu pertama, mengontrol buang air besar dan kecil bayi, memberi konsultasi ASI, memberi tahu cara menyusui yang benar, memperagakan bagaimana cara memandikan bayi yang benar, dan masih banyak lagi. Tugas Kraamzorg bukan hanya itu saja, mereka juga membantu ibu baru mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah, menyuci piring, menyeterika, dan lainnya. Sangat membantu bukan. Bagi saya yang tidak pernah merasakan mempunyai asistem rumah tangga, hal ini sangat membantu.

kraamzorg memperagakan cara mandiin baby adriaan

Kraamzorg memperagakan cara mandiin baby Adriaan

ditimbang oleh kraamzorg

Ditimbang oleh kraamzorg

FYI, semua biaya melahirkan di RS dan Kraamzorg sudah di cover asuransi. Jadi tidak ada biaya tambahan lagi. Menyenangkan bukan melahirkan di negeri kincir angin ini 🙂

Melahirkan di Jerman

Melahirkan di Jerman kurang lebih sama dengan melahirkan di Indonesia. Di sini kontrol kehamilan dilakukan di Frauenartz atau Dokter Kandungan. Melahirkan juga di Rumah Sakit. Jika hamil, kita akan diberi sebuah buku yang dinamakan Mutterpass oleh Frauenartz. Frauenartz akan mencatat semua kondisi kita selama hamil di dalam Mutterpass ini. Pertama kali kontrol saya langsung diperiksa dalam. Setiap kontrol, dokter selalu melakukan USG, memeriksa detak jantung bayi dan memperkirakan berat badan bayi. Berat badan dan tekanan darah saya selalu diperiksa. Beberapa kali dilakukan tes darah untuk mengetahui kondisi saya.  Alhamdulillah semua normal dan tidak membahayakan bayi. Ibu hamil di Jerman, juga banyak diberi informasi dan pengetahuan oleh Dokter Kandungan, seperti informasi mengenai perkembangan bayi selama di dalam kandungan, informasi mengenai asupan makanan yang baik selama hamil, informasi mengenai Toxoplasma, informasi mengenai bagaimana cara menyusui yang baik nantinya, dll. Selama hamil banyak sekali ditawarkan tes seperti tes gula darah, tes HIV dan tes toxoplasma. Ibu hamil boleh melakukan tes, boleh juga tidak. Jika kita melakukan tes, biasanya akan dikenakan biaya.

Sebelum melahirkan, ibu hamil harus datang dan mendaftar ke Rumah Sakit. Nggak masalah Rumah Sakit Pemerintah atau Swasta. Semua RS di sini pasti menerima semua asuransi. Setiap orang di Jerman wajib mempunyai asuransi (Krankenkasse). Biasanya setiap RS pasti mempunyai agenda Infoabend Termin setiap bulannya. Jadi bagi ibu hamil yang ingin melihat dimana RS nya, bagaimana kondisi ruang bersalin dan opname, dan ingin mengajukan pertanyaan, datang saja pada waktu Infoabend Termin.

Proses pendaftaran di RS sangat simple. Saya mendaftar dan langsung diterima oleh Bidan, kemudian dilakukan wawancara untuk mengetahui riwayat kesehatan saya. Bidan juga bertanya banyak tentang proses melahirkan anak pertama.

Adam lahir kira-kira 2 minggu lebih cepat dari waktu perkiraan dokter. Sehari sebelum Adamlahir saya masih jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan dengan suami. Tanggal 20 Oktober 2013 pagi harinya, kira-kira pukul 8 pagi, saya datang ke RS bersama suami. Kebetulan itu hari minggu. Adriaan saya titipkan ke salah satu teman Indonesia. Di RS, saya langsung dipasangkan alat pendeteksi kontraksi dan detak jantung bayi. Pagi itu, kontraksi sudah datang setiap 15 menit. Kira-kira jam 11, saat saya sedang makan di restaurant RS, air ketuban saya pecah. Jadi saya harus balik ke ruangan untuk ganti baju. Setelah ganti baju, rasanya kontraksi sudah datang setiap 5 menit. Suster menyuruh saya untuk berjalan, tapi rasanya semua pinggul, paha dan kaki saya sudah capek. Saya memilih untuk tiduran saja. Saya merasa tidak lama lagi bayi akan keluar. Tetapi para suster di sana tampak santai saja. Kira-kira jam setengah 3 siang, alat pendeteksi kontraksi langsung berbunyi dengan nyaring spt alarm. Saya merasa bayi akan keluar. Suster pun tergopoh-gopoh masuk ke ruangan saya dan memindahkan saya ke ruangan bersalin. Ternyata memang benar sudah bukaan 10. Saya didampingi suami, dokter dan suster, melahirkan Adam kira-kira pukul setengah 4 sore. Adam lahir dengan berat 3.73 kg dan panjang 51 cm.

Setelah itu, Adam langsung ditaruh di dada saya. Kemudian dibersihkan oleh suster. Adam hanya dilap, bukan dimandikan. Setelah melahirkan saya istirahat sebentar dan kemudian mandi dengan bantuan suster.

Ada pertama kali dimandikan

Saya dan Adam menginap 3 malam di RS. Selama di RS, saya benar-benar istirahat. Adam juga banyak tidur. Adam tidak rewel meskipun ASI saya blm keluar. Di hari ketiga, barulah ASI saya keluar. Selama di RS, dilakukan U1 dan U2, seperti pemeriksaan kesehatan pertama kali utk Adam. Adam juga mendapat imunisasi pertama di RS. Kondisi saya juga selalu dipantau oleh suster dan dokter. Saya menginap hanya berdua dengan Adam di RS. Suami harus menginap di rumah untuk menjaga Adriaan. Setelah dilakukan pemeriksaan akhir oleh dokter kandungan, barulah kami pulang. Kami tidak perlu membayar apapun krn semua biaya RS di cover oleh asuransi.

adriaan dan adam

Adriaan dan Adam –

Beberapa tips melahirkan di perantauan :

  1. Jangan ragu berolahraga selama hamil. Berolahraga selama hamil seperti berenang, bersepeda, jogging, jalan kaki sangat dianjurkan selain utk kesehatan, juga untuk kelancaran proses melahirkan normal. Orang hamil bukanlah sakit, jadi berolahragalah dan beraktifitas seperti biasa.
  2. Jika ada tanda-tanda melahirkan langsung ke RS atau hubungi bidan atau dokter.
  3. Selalu simpan nomor telfon Taksi untuk berjaga-jaga.
  4. Jika belum menguasai bahasa setempat, minta bantuan teman yang native atau yang sudah bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat untuk menemani di RS.
  5. Nggak usah teriak-teriak jika kontraksi karena akan membuang-buang energi.
  6. Selalu jaga silaturrahmi dengan teman-teman di perantauan. Bagaimanapun tinggal di perantauan tanpa keluarga menuntut kita untuk mandiri. Saat-saat melahirkan seperti ini, mau tak mau terkadang kita butuh bantuan teman-teman. Seperti menitipkan anak, mengantar ke RS in case Taksi tak kunjung datang dan belum mempunyai mobil, berkomunikasi dgn suster dan dokter di RS jika kita belum bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat,dll.
  7. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Kalimat ini benar-benar menenangkan saya melahirkan pertama kalinya. Nggak usah terlalu takut dan cemas, everything is gonna be okay. 😉

—–

Advertisements

One thought on “Pengalaman Melahirkan di Belanda dan Jerman

  1. Marsya says:

    Halo mom aku mau tanya, aku hamil 5bln rencananya mau menyusul suami di belanda. Tapi ada yang bilang kalau melahirkan di belanda tidak diperbolehkan untuk org asing. Apakah benar mom?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s