Merantau di Bad Aibiling

HikingA stubborn Taurean yang lahir 40 tahun silam di Jakarta. Seorang istri dari suami yang jangkung bernama Sven dan seorang ibu dari seorang putri kecil bernama Medea Kedasih (4 tahun). Saat ini sedang bersekolah kembali untuk nantinya bisa berkerja dengan anak-anak. Co-Author buku 3 Wanita Menjejak Dunia dan Menghirup Dunia. Salah satu kontributor resep di buku 99+ Resep Rumahan Cihuy, sebuah buku komunitas Mama Koki Handal. Suka membaca, membuat DIY dan belajar masak, juga fotography secara autodidak.

Pengalaman Merantau

Saya meninggalkan kampung halaman pertama kali itu di tahun 1994, sewaktu masih kuliah Bahasa Cina di Program D3 FSUI. Ga jauh sih, hanya ke Bali dan bekerja di Club Med, Nusa Dua. Bekerja menjadi GO (Gentil Organisateur) di Kids Club. Enjoy banget masa-masa bekerja dengan anak-anak. Kembali lagi ke Jakarta dan bekerja di bidang perhotelan. Lalu kepikiran untuk sekolah kembali di bulan Maret tahun 2000 dan tinggal di Berlin untuk mendampingi suami yang waktu itu bekerja menjadi guru high school. Di ibukota Jerman itu saya memulai semuanya dari nol. Mulai dari belajar Bahasa Jerman sampai akhirnya mencari pekerjaan. Kursus Bahasa Jerman di Berlitz School yang intensif – setiap hari dari jam 8 sampai jam 15 –  membuat saya mendapat teman baru dengan beragam kebudayaan dan asal negara. Ada yang dari Mongolia, Taiwan, Spanyol, dan juga Rusia. Dalam kurun waktu dua bulan, saya mulai bisa berkomunikasi dengan bahasa Jerman cukup lancar. Bahasa Inggris dengan suami juga akhirnya tergantikan dengan bahasa Jerman. Hasil ujian bahasa Jerman juga tidak memalukan :d Setelah itu saya disibukkan dengan mencari kerja. Sebagai batu loncatan, saya bekerja sebagai Barista di sebuah coffee shop terkenal di Berlin. Di mana akhirnya saya diangkat menjadi manager salah satu cabang.

Di tahun 2002 saya memutuskan untuk kembali ke sekolah. Awalnya saya mau kuliah, namun karena ijazah SMA dari Indonesia diakui hanya sebagai lulusan Mittlere Reife (secondary level certificate), jadi saya harus mengikuti Studienkolleg, sebuah program yang fungsinya sebagai “jembatan“ untuk mendapatkan level yang sama dengan sistem pendidikan di Jerman. Akhirnya saya memutuskan untuk sekolah jurusan Correspondent of Foreign Language karena ijazah SMA saya bisa langsung dipakai.

Pada tahun 2004 – 2010 pindah ke Caracas, Venezuela karena suami ditugaskan menjadi guru di Colegio Humboldt. Sebuah sekolah untuk warga Jerman di Caracas, tapi juga untuk warga setempat. Di sana saya belajar bahasa Spanyol dan juga memutuskan untuk mengikuti ujian Bahasa Jerman untuk mendapatkan diploma bahasa Jerman. Program dari Goethe Institut di Munich itu berhasil saya ikuti, sehingga bisa mengajar bahasa Jerman di Goethe Institut, Caracas. Selain itu saya juga memberikan les tambahan bahasa Jerman untuk murid-murid Venezuela di Colegio Humboldt.

20150606173551-1200x674

Favelas of Petare neighborhood. Caracas, Venezuela

Di sini saya juga berkenalan dengan dua orang Indonesia yang akhirnya menjadi sahabat dekat. Kita seringnya berkumpul, masak dan baking bersama sambil curhat dan ketawa-ketiwi. Saling membantu di saat down dan saling menyemangati. Mereka jugalah yang menyemangati saya sewaktu program IVF (In Vitro Fertilization/ Bayi tabung) yang belum berhasil. Beruntung ada mereka, jadi saya punya shoulders to cry on. Kita bertiga layaknya udah seperti keluarga deh. Baru kenal dan langsung terasa sehati dan dekat.

2010 masa tugas suami selesai dan keadaan keamanan di Caracas yang tidak pasti, kita memutuskan untuk kembali ke Jerman. Tepatnya ke Bavaria, asalnya suami. Pucuk dicinta, ulam tiba. Suami mendapatkan tawaran kerja di sebuah sekolah. Oleh karena itu kita memutuskan untuk tinggal di Bad Aibling karena kotanya tidak terlalu besar, namun mempunyai infrastruktur yang OK. Setelah kembali ke Jerman, saya mencari kerja dan memulai kembali sebagai Barista.

Namun kamipun mendapatkan rejeki yang tak dikira. Setelah divonis tidak bisa hamil secara normal, dan sudah berkali-kali mengikuti program bayi tabung di Caracas, akhirnya saya hamil, normal mal mal.

6350186986_74d5b522ce_z

Medea Kedasih lahir dengan sehat 12 Januari 2012. Saya berhenti bekerja dan menikmati banget jadi SAHM selama 3 tahun. Kenikmatan yang luxury banget!

6942058398_71001ef004_h

Pengalaman Merantau di Dunia Benua

Jika ditanya perbedaanya, yang jelas bedanya sangat terasa. Kalau di Jerman, rasanya susah untuk mendapatkan teman baik. Tapi kalau sudah kenal, mereka jadi teman baik yang asik. Nah kalau di Venezuela, rasanya gampang banget dapet teman tapi kenyataannya mereka membangun barrier. Walaupun tak terucap, kita berasa.

Kenyamanan tinggal di Caracas adalah cuaca tropisnya. Letak Caracas adalah 1000m d.p.l bikin cuaca selalu sekitar 25 derajat Celsius. Asik banget! Kalau di Jerman seringnya jalan kaki dan naik kendaraan umum, di Venezuela selalu naik mobil atau taksi. Tapi naik taksi pun masih harus berhati-hati. Tidak disarankan untuk menyetop taksi di pinggir jalan, karena banyak kejadian penculikan dan perampokan. Jadi pesan taksi lewat telfon, atau naik taksi tercatat dari mall. Makanya ngerasa bebas merdeka banget waktu kembali ke Jerman karena ga ada rasa takut.

Metrocable di kota Medellin - Kolombia

Metrocable di kota Medellin – Kolombia

Soal tepat waktu di Venezuela itu ngingetin aku sama Indonesia :d Jam karet berlaku deh di sana. Kata “besok“ di Indonesia mirip banget fungsinya dengan “mañana“ di sana. Kebetulan artinya bahasa Spanyol ini adalah “besok“.

Dari pengalaman merantau di Venezuela, suka dan dukanya, malah tetap membuat kami berpikir untuk merantau lagi sambil mengajak Medea mengenal negara baru dengan tradisi, bahasa dan culture-nya. Tapi sementara itu, kita nikmatin dulu tinggal di Jerman.

Bad aibling dan State Bavaria

Bad Aibling letaknya di lembah sungai Mangfall dan luasnya sekitar 42km². Terkenal dengan swamp health spa. Enaknya semua ada, dari perpustakaan umum, beberapa TK, daycare, beberapa supermarket, drug store, thermal, beberapa toko buku, apotik, dokter, Rumah Sakit, taman, sampai bioskop, cafe/restoran, gelateria dan pub.

47932028

Ke mana-mana bisa naik sepeda dan jalan kaki. Ada kereta api juga untuk ke kota-kota berikutnya. Sejak tahun ini, malah ada kereta langsung ke Munich. Ke sekolah, saya memilih naik kereta karena hanya 3 stasiun dan dalam 10 menit sudah sampe di kota Rosenheim, lokasi sekolah saya. Dari Rosenheim ada kereta langsung ke Salzburg, Austria.

rosenheim_bild19_600px

Rosenheim

Dari Bad Aibling, kita bisa pergi ke banyak tujuan. Pokoknya kami tuh tinggal di tempat di mana orang-orang ingin berlibur. Jadi kebayang kan banyaknya tempat tujuan yang asik untuk dikunjungi? Entah itu untuk hiking, bike tour, untuk ke outdoor Alpine Zoo, untuk menikmati Chiemsee, danau terbesar kedua di Bavaria ataupun plesir ke kota Innsbruck di Austria.

Karena Bad Aibling adalah spa town, jadi banyak sekali klinik-klinik. Banyak pasien klinik yang berasal dari negara Saudi Arabia, oleh karena itu banyak juga hotel. Karena letaknya sekitar 40km dari ibukota Bavaria, jadinya harga tanah dan rumah cukup tinggi. Banyak penduduk yang bekerja di Munich, namun karena harga sewa rumah di sana amat sangat tinggi, jadi mereka memilih untuk tinggal di pinggiran. Salah satunya adalah Bad Aibling.

Nah tapi namanya juga manusia, pasti ada yang kurang nih dari kota tempat tinggal kami. Yang kurang adalah… playground! Ada empat sih, tapi sudah tidak up-to-date. Ada yang baru dan tidak directly in the town. Enaknya masih bisa cycling distance sih, jadi anggap aja sekalian olah raga.

bike tour di kota Eigen am Inn%2C perbatasan Jerman Selatan dan Austria

Sementara mengenai Bavaria: adalah salah satu state di Jerman yang paling kaya. Nyaris tidak ada tingkat pengangguran. Karena itu banyak sekali pendatang dari daerah mantan Jerman Timur untuk menetap di Bavaria karena masih ada lahan pekerjaan. Banyak penduduk state lain di Jerman yang bilang kalau penduduk Bavaria itu sombong, tapi sebetulnya tidak. Mereka terlihat kaku tapi sebetulnya sangat ramah dan easy going. Sistem sekolah di Bavaria juga paling tinggi dibanding dengan state lain di Jerman.

Koenigssee dan St. Bartholomae di Bavaria

Koenigssee dan St. Bartholomae di Bavaria

Oiya, kalau kita bicara soal a picture about Germany, pasti yang dibayangkan itu adalah  Dirndl (pakaian tradisional wanita di Bavaria), Lederhose (pakaian tradisional pria di Bavaria), Breze (Pretzel) dan Sauerkraut, ini sebetulnya bukan Jerman tapi Bavaria.

Maibaum tradisi 1 mai

Enter a caption

Bahasa Pengantar

Bahasa sehari-hari antara penduduk setempat adalah bahasa Jerman dialek. Di Bavaria sendiri ada beragam dialek, tergantung dari daerahnya di Bavaria. Bahasa Inggris kadang terdengar di Munich, mungkin karena Munich adalah ibukota Bavaria dan di sana juga banyak expatriats. Namun hal ini tidak umum di kota-kota kecil lain, seperti juga di Bad Aibling, jadi bahasa pengantar sehari-hari adalah bahasa Jerman. Awalnya saya sempat ragu apakah bisa mengerti dialek Jerman di daerah kami tinggal. Namun ternyata itupun bukan kendala untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal, dengan orang tua murid di TK saya bekerja, maupun di sekolah saya menimba ilmu. Mereka tidak meminta kita berbicara perfect, namun akan menghargai usaha kita sebagai pendatang.

Medea as a knight on Medieval Knight Festival di Bavaria

Medea as a knight in Medieval Knight Festival di Bavaria

Penduduk di Bad Aibling atau Upper Bavaria

Seperti yang saya sudah tulis di atas, penduduk Upper Bavaria dicap sebagai orang yang sombong. Namun hal ini tidak bisa saya setujui karena pengalaman pribadi saya berbicara lain. Mereka, seperti layaknya penduduk Jerman, terlihat kaku awalnya. Namun sebetulnya mereka itu friendly, easy-going, dan mempunyai humor yang tinggi. Tradisi juga sangat dijunjung tinggi dan belum punar dari modernisasi kehidupan. Karena sistim perekonomian yang sangat baik, jadi terlihat sekali kalau penduduknya mapan. Sisi kemanusiaan juga terlihat di masa ini, dengan banyaknya refugees yang datang ke Jerman. Kebanyakkan dari mereka datang melalui Bavaria. Sudah banyak camp untuk refugee dibangun oleh pemerintah Bavaria, juga di Bad Aibling.

2016-02-17-064033_1600x900_scrot

Linderhof Palace or Schloss Linderhof in German is a palace built by King Ludwig II and located in Ettal valley, Upper Bavaria.

Kegiatan Outdoor

Karena tidak terlalu jauh dari Pegunungan Alpina, jadi kita seneng hiking. Pastinya toddler-friendly-hiking. Selain itu juga bersepeda. Kita pernah beberapa kali bike tour. Yang terjauh itu dengan jarak 60km. It was a round trip dari Bad Aibling ke kota-kota tetangga dan return. Abis itu sempet ngomelin Pak Jangkung (suami) karena kaki jadi pegel kaya mau patah. Medea cukup menikmati setiap kali bike tour. Kalau hiking, dia masih suka malas jalan. Maka dari itu, kami buat se-fun mungkin dan selalu motivasi dia untuk terus jalan. Entah dengan main petak umpet, ngumpulin ranting, pokoknya segala usaha deh supaya sama-sama asik menikmati kegiatan.

playground momen

Tradisi Bavaria

Ada banyak tradisi di Bavaria dan seringnya berkaitan dengan agama Katolik sebagai agama mayoritas di Bavaria. Fasching yang dirayakan tujuh minggu sebelum masa puasa dimulai. Masa pra-Paskah ditandai dengan puasa untuk menyambut Paskah dan dimulai saat Rabu Abu. Acara Fasching yang berlangsung beberapa hari ini selain di Bavaria, juga di negara bagian Jerman yang beragama Katolik, dan disebut dengan Karnaval. Masa di mana orang-orang berpesta, ada arak-arakan atau parade dan mayoritas berkostum. Kata karnaval sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu Carne vale yang artinya meat farewell. Selama masa puasa, umat Katolik diajak untuk mengurangi konsumsi daging.

Left: Leberkase is a specialty food found in the south of Germany, in Austria and parts of Switzerland, similar to bologna sausage. It consists of corned beef, pork, bacon and onions and is made by grinding the ingredients very finely and then baking it as a loaf in a bread pan until it has a crunchy brown crust.) and right: Wurstsalat (German sausage salad)

Di Bavaria ada tradisi Maibaum, May tree, Maypole. Sebuah tiang dari satu batang pohon yang tingginya bisa mencapai 56meter. Pohon ini dicet biru dan putih, warna bendera Bavaria. Lalu dihias dengan berbagai figure sesuai tradisi tiap kota/daerah; misalnya baker, tukang kayu, petani, etc. Tradisi ini jatuh tepat pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya. Dan seringnya dipakai juga sebagai pesta rakyat. Ada tarian tradisional, ada musik khas Bavaria dan tentu saja makanan, seperti Wurst (sausages), Semmel (bun) dan Breze (pretzel). Oiya tradisi ini setiap tahunnya mengambil tempat di kota yang berbeda. Misalnya tahun 2013 ada di Bad Aibling, dan  tahun mendatang baru akan diganti dengan Maibaum yang baru.

Maibaum

In Germany and Austria the maypole (or Maibaum) is a tradition going back to the 16th century

Sebuah tradisi yang sangat ditunggu oleh anak-anak kecil adalah perayaan Sankt Martin atau disebut juga Martinstag (Martin Day) yaitu setiap 11 November. Anak-anak di daycare, playgroup dan TK bersama dengan staf pengajar, bahkan ada yang melibatkan orang tua juga, akan membuat lantern kertas dan nantinya akan dibawa saat Martinsumzug, St. Martin’s parade. Ada yang berkumpul di kebun TK masing-masing. Namun Tknya Medea merayakan parade ini di taman. Saya dan Medea berkumpul dengan teman TK dan keluargnya, berjalan mengelilingi taman sambil bernyanyi beberapa lagu khas St. Martin. Udara yang dingin terasa hangat dengan  ada juga yang berkumpul di taman kota. hasil prakarnya dan berkumpul di taman.

2016-02-17-063522_1600x900_scrot

Biasanya disediakan cookies berbentuk goose, kita menyebutnya Martingans (Martin’s goose)

Tradisi yang paling terkenal seantero dunia, Oktoberfest. Sebuah pesta rakyat menjelang musim gugur selama dua minggu, biasanya akhir September hingga awal Oktober. Pesta rakyat tekenal ini awalnya adalah pasar tradisional, di mana para petani, para pengrajin, menjual dagangan mereka. Oiya, cerita tentang Oktoberfest ini ada di buku 3 Wanita Menjejak Dunia. Buku yang saya tulis dengan dua orang teman. *ujung-ujungnya promosi :d*

1200x630_314236_oktoberfest-bavarian-costumes-bands-an.jpg

Bavarian costumes, bands, and beers..!

Traveling with little ones

Saya sudah berkunjung ke sekitar 15 negara dan 6 di antaranya dengan Medea. Karena dibiasain sejak umur 3 bulan, jadi cukup travel-able nih anak wedokku. Di IG saya, #travelwithlittlebirdie boleh dilihat-lihat kalau ada waktu.

Melk Abbey

Medea in Melk Abbey.

Melk Abbey is a Benedictine abbey above the town of Melk, Lower Austria, Austria, on a rocky outcrop overlooking the Danube river, adjoining the Wachau valley.

Kita sekeluarga memang seringnya pergi ke tempat yang non-mainstream. Sebisa mungkin ke tempat yang jarang wisatawannya. Misalnya ke daerah Burgundy di Perancis. Waktu itu kita menyewa penginapan di Morvan. Sebuah kota kecil yang penduduknya banyak meninggalkan kota untuk pergi ke kota yang lebih besar. Jadi banyak sekali rumah-rumah, bahkan juga chateau yang kosong dan dijual murah.

Liburan musim panas yang lalu kita memilih Waldviertel, Forest Region, di Austria. Sebuah daerah cantik namun tidak terkenal di kalangan wisatawan. Penduduk lokalnyapun banyak yang memilih untuk migrasi ke kota lain. Di sana kita menginap di sebuah organic farm house.

Kalau kita seringnya kalau road trip, bawa makanan cemilan, audio books yang buanyak (Medea seneng dengerin audio books), dan selalu nyempetin istirahat untuk bergerak.

South Tyrol - Italia

South Tyrol, Italia

mamarantau - snowy Schlern di South Tyrol - Italia

Snowy Schlern, South Tyrol, Italia

Tipsnya: persiapkan diri kita lebih dahulu. Kalau kita sebagai orang tua siap lahir batin, anak jadi berasa. Karena kita adalah contoh buat mereka.

LL-mamarantau-

 *This post is written in collaboration with LivingLoving. Do check out the other side of Mindy on LivingLoving’s blog

IG dan Twitter: @mindoel – mindycjordan@yahoo.de –

Blog: mindoel.blogspot.de

Foto-foto terlampir adalah karya Mindy dan keluarga – Dan beberapa foto penunjang terhubung langsung dengan image pada gambar.

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 4 – Final)

7526fe7990e6591c3fa4d9bdf506e934Permai Sari Molyana Yusuf (Melly – An Indonesian, currently living in Mannheim, Germany. A Housewife with two kids, Afiqah and Aqila. Interest in Biophysics and love to cook, bake and do Food Photography. A Culinary Contributor of Indonesian Fashion Magazine.

Frankfurter Buchmesse atau lebih dikenal Frankfurt Book Fair (FBF) disinyalir sebagai the world’s largest trade fair for books ,hal ini dilihat dari jumalah pengunjung dan perusahaan pelaku bisnis terkait penerbitan buku dan lisensi serta penulis, ilustrator, seniman, perangkat lunak dan multimedia. Sehingga tidak salah jika banyak yang menganggap FBF ini merupakan pameran buku yang paling penting di dunia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Frankfurt Haupbahnhof , Stasiun Kereta Frankfurt

Setiap tahunnya, acara ini diselenggarakan  di Frankfurt Messe, Frankfurt am Main, Jerman , di pertengahan bulan Oktober, selama 5 hari. Tiga hari pertama merupakan jadwal untuk pengunjung  eksklusif (pelaku bisnis di bidang buku untuk penerbitan, menulis, lisensi, dsb) dan 2 hari terakhir sisanya, terbuka untuk khalayak umum.

Sejak  tahun 1976, pameran ini memberikan ruang bagi negara negara lain untuk menjadi tamu kehormatan dan menjadikannya sebagai Tema  Frankfurt Book Fair di tahun tersebut. Sebagai contoh, untuk tahun ini, 2015, Indonesia menjadi tamu kehormatan dengan mengusung tema „17.000 Inseln der Imagination (17.000 Islands of Imagination)”.

Adanya kesempatan sebagai tamu kehormatan tentunya memberikan dampak yang positif bagi negara berkembang Indonesia, untuk memperkenalkan diri, potensi dan karya anak bangsa. Bisa dibayangkan, hadirnya Indonesia disini menjadilkan hasil kreatifitas anak bangsa makin diakui banyak pihak dari berbagai negara dan tentunya ini menjadi pemicu makin meningkatnya kepercayaan generasi muda dalam berkarya seni, menulis, dsb.

Informasi mengenai penyelenggaraan Frankfurter Buchmesse setiap tahunnya bisa dilihat di website Buchmesse.

***

Sejak tahun lalu sebenarnya aku sudah ingin datang ke acara FBF ini, hanya saja saat itu menjelang ujian DTZ dan ujian politik negara, jadilah mengesampingkan dulu kepentingan yang lainnya. Alhamdulillah tahun ini bisa mengunjungi Frankfurt Book Fair di saat Indonesia menjadi tamu kehormatan. Hal yang bersamaan pula momen ini menjadikan temu kopi darat beberapa teman teman Mbakyurop yang juga mengunjungi FBF ini 😉

Beberapa dari kami sudah mengunjungi FBF di hari Sabtu, jadi kami janjian sarapan bersama di tempat yang sudah disepakati sehari sebelumnya, di salah satu kafe di dekat Hauptbahnhof. Alhamdulillah seneng bangeeet. Kebayang kan biasanya info-info hanya di grup dan tidak pernah bertemu, setelah bertemu rasanya seperti sudah kenal lama ^^

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari kiri ke kanan : Mindy dan Medea, Beth, Era dan Aima, Aku dan Flipper, Mia

***

FBF tahun ini dibuka untuk umum pada tanggal 17 dan 18 Oktober 2015, 2 hari terakhir menjelang penutupan. Dan aku datang di hari Minggunya. Jujur saja, 1 hari tidak akan cukup menjelajahi seluruh pameran ini, ada 5 gedung besar dengan minimal 3 lantai yang cukup luas untuk dilihat apalagi jika waktunya terpotong untuk mengikuti sesi-sesi diskusi yang diadakan.

Biaya tiket masuk yang ditawarkan pun beragam (umum, kontributor atau bisnis). Untuk umum, tiketnya sekitar 18 eur dan ada penawaran harga khusus untuk student atau sejenisnya dan juga pemegang kartu Arbeitlos (tidak bekerja), dsb. Sedangkan untuk Flüchtlinge atau pengungsi (pengungsi yang berasal dari negara negara perang, dsb) diberikan hak untuk masuk gratis.

5 - Tiket untuk kalangan privat

Tiket untuk kalangan private

***

Pengalamanku dengan tiket, sesaat sebelum masuk Messe frankfurt, aku ditawari untuk membeli koran lokal seharga 0,80 eur atau 80 cent, yang didalamnya ada voucher untuk membeli 1 tiket gratis 1 dan hanya berlaku untuk pembelian jenis tiket sehari. Kebetulan aku saat itu berdua dengan temenku Mia, jadi adanya voucher ini membuat kami berdua tampak lebih sumringah melewati dingin pagi itu di Frankfurt, hihihihihihihi 😀

Setelah melewati loket tiket, panitia juga menyediakan sarana penitipan barang dan jaket dan dikenakan biaya sekitar 2 euro untuk satu jenis barang penitipan. Jadi mempermudah pengunjung untuk mengunjungi stand-stand tanpa ribet dengan bawaan pribadi.

***

Di sini, benar benar seperti surganya buku, semua jenis buku dari berbagai negara ada. Karena memang event Internasiona ya. Dari mulai buku anak, remaja, dewasa, orang tua, roman, pokoknya semuanyaaa… dari mulai bahasa lokal (jerman), bahasa Inggris dan bahasa dari masing masing negara peserta Book Fair. Bisa dibayangkan satu lantai hall saja besarnya ga nahan untuk dilihat satu-satu, ini ada 5 hall yang semuanya besar.

Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca
Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca

Hal yang menarik, di setiap stand buku, pengunjung diberi fasilitas kursi dan meja atau kursi saja yang nyaman untuk membaca dan semua buku dipajang dalam keadaan tidak di bungkus, jadi semua pengunjung dipersilahkan dengan senang hati untuk duduk santai dan membaca. Pemandangan yang seperti ini memang sangat lumrah ditemui di berbagai toko buku di Jerman. Seharian di toko buku untuk membaca adalah hal yang sah sah saja, asyik ya? 😉

Lesezelt
Lesezelt

Seperti halnya kegiatan perpustakaan-perpustakaan di Jerman pada umumnya, di FBF juga menghadirkan kegiatan „menceritakan“ untuk bacaan anak-anak, bahkan ada disediakan tempat khusus, Lesezelt (atau disebut sebagai Tenda Membaca). Di pameran buku pun ada beberapa spot tertentu dimana anak anak bisa duduk santai sambil mendengarkan cerita. Percayalah, si pencerita akan menarik pendengar untuk duduk anteng mendengarkan isi ceritanya dengan seksama. Kenapa?? Karena di setiap adegannya dia bisa mengeluarkan berbagai jenis suara berbeda diikuti dengan mimik yang kadang penuh kejutan ! 🙂

Sehingga tidak heran, kalau pendengar pun ikut merasakan alur cerita yang lucu, sedih, gembira dan petualangan seru. Saat mengunjungi spot ini agak sedikit menyesal memang, tidak membawa anak-anak untuk ikut serta. Tapiii ya karena memang hari Minggu, kakak Afiqah punya jadwal sekolah Minggu yang sepertinya tidak boleh terlalu sering membolos.

Kinderbuch Centrum, Children's Book Centre
Kinderbuch Centrum, Children’s Book Centre

 

Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru
Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru

 

Apps Radio.de
Apps Radio.de

 

Pilihan di Apps Radio.de
Pilihan di Apps Radio.de

 

Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak
Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak

Oh iya, kegiatan seperti ini juga bisa didengar melalui apps radio dari hp, nama apps nya radio.de bisa di download di apps store , langsung saja cari „Hallo Eltern Podcast – Märchen“ (menceritakan cerita dongeng Jerman untuk anak anak).


Stand Buku Indonesia
Stand Buku Indonesia

 

Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015
Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015

 

Gramedia Printing di FBF 2015
Gramedia Printing di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan
Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku di Indonesia Pavilion
Buku-buku di Indonesia Pavilion

 

Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.
Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

 

Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion
Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

* * *

Sebagai tamu kehormatan, tentunya Indonesia banyak memberikan peran dalam event-event diskusi yang diadakan. Sebagian besar panelis merupakan utusan dari Indonesia, yang memang berprofesi sebagai penulis, tokoh kuliner, dsb.

Beberapa diantaranya, yaitu :

Penulis buku sastra dan fiksi
A. S. Laksana
Abidah El Khalieqy
Afrizal Malna
Agus R. Sarjono
Ahmad Fuadi
Ahmad Tohari
Andrea Hirata
Avianti Armand
Ayu Utami
Azhari
Budi Darma
Cok Sawitri
Dewi Lestari
Dorothea Rosa Herliany
Eka Kurniawan
Goenawan Mohamad
Gunawan Maryanto
Gus tf Sakai
Ika Natassa
Intan Paramaditha
John Waromi
Joko Pinurbo
Laksmi Pamuntjak
Leila S. Chudori
Lily Yulianti Farid
Linda Christanty
M. Iksaka Banu
Maggie Tiojakin
N. Riantiarno
Nh. Dini
Nirwan Dewanto
Nukila Amal
Okky Madasari
Oka Rusmini
Putu Oka Sukanta
Ratih Kumala
Sapardi Djoko Damono
Seno Gumira Ajidarma
Sindhunata
Taufiq Ismail
Darwis (Tere Liye)
Toeti Heraty
Triyanto Triwikromo
Yusi Avianto Pareanom
Zen Hae

Penulis komik
Aji Prasetyo
Apriyadi Kusbiantoro
Arief Yaniadi
Beng Rahadian
Benny Rachmadi
Hikmat Darmawan
Is Yuniarto
Iwan Gunawan
Kharisma Jati
Muhammad Misrad (Mice)
Sheila Rooswitha Putri
Tita Larasati
Wendy Jaka Sundana

Penulis buku anak
Arleen Amidjaja
Christiawan Lie
Djokolelono
Murti Bunanta
Nadia Shafiana Rahma
Renny Yaniar
Tety Elida

Penulis buku non-fiksi
Agustinus Wibowo
Dian Pelangi
Imelda Akmal
Julia Suryakusuma
Noor Huda Ismail
Trinity
Suwati Kartiwa
Wahyu Aditya
Yoris Sebastian

Penulis digital
Daryl Wilson
Taufik Assegaf

Juru Masak
Aries Adhi Baskoro
Astrid Enricka Dhita
Bara Pattiradjawane
Budi Lee
Ignatius Emmanuel Julio
Ivan Leonard Mangudap​
Mukhamad Solihin
Petty Elliot
Putri Mumpuni
Ragil Imam Wibowo
Sandra Djohan
Sisca Soewitomo
Sudarius Tjahja
Vindex Tengker

Tokoh Kuliner
Helianti Hilman
Lisa Virgiano
Mary Jane Edleson
Mei Batubara
Santhi Serad
Sri Owen
William Wongso

Aktivis Literasi
Anton Solihin
Asma Nadia
Evelyn Ghozalli
Heri Hendrayana (Gola Gong)
Janet DeNeefe
Muhidin M. Dahlan

Narasumber seminar
Frans Magnis Suseno (Pluralisme and Islamophobia)
Haidar Bagir (Pluralism and Islamophobia)
Ulil Abshar Abdalla (Pluralisme and Islamophobia)
Philips Vermonte (Pluralisme and Islamophobia)
Setiadi Sopandi (Tropical Architecture in Indonesia)
Gede Kresna (Tropical Architecture in Indonesia)
Oman Fathurahman (Script in Indonesian Manuscript)
Sugi Lanus(Script in Indonesian Manuscript))
Dewi Candraningrum (Translating Faust and Goethe)
Mery Kolimon (Writing of Political Violence and Trauma)
Endo Suanda (Recording of Indonesian Music)
Eko Prawoto (Climate and Architecture)
Francis Kere (Climate and Architecture)
I Made Bandem (Indonesian Superhero, Cerita Panji)

Pembaca Karya
Butet Kartaredjasa
Elizabeth Inandiak
Endah Laras
Jennifer Lindsey
Landung Simatupang

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Dan masih ada lagi yang lain. Buku hasil karya penulis pun beberapa sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman dan sudah tersedia di toko buku online seperti Amazon.de , Thalia.de dan bookdepository.com.

Selain itu nama nama yang dituliskan di atas juga berperan sebagai panelis dan narasumber dalam berbagai event diskusi selama berlangsungnya FBF dan di beberapa Bibliothek/ perpustakaan di berbagai kota di Jerman,  seperti Dresden, Heidelberg, Berlin, dsb.

Semaraknya Indonesia mewarnai FBF tahun ini tidak mungkin terlepas dari cita rasa masakan khas tanah air. Sehingga ada beberapa spot di pameran ini yang menyediakan masakan khas Nusantara seperti Nasi Kapau, Gado-gado, Ayam rica-rica, dessert Klappertaart, dsb

Selain itu, di luar area pameran, juga digelar masakan Kaki Lima, yang menyediakan Nasi Goreng dan Sate khas Indonesia. Kaki Lima ini bisa dikunjungi langsung di Römer, salah satu sudut kota Frankfurt, Jerman. Tantangan banget kan ya, menjajakan makanan di luar ruangan di saat suhu sudah mulai turun di musim gugur.

Rasanya tidak cukup hanya satu hari untuk bisa mengunjungi seluruh area FBF. Hari Minggu, aku berkesempatan untuk mengikuti dua event setelah berkeliling melihat-lihat buku 😉 , yang pertama,  “The Art of Banana Leaves Food Wrapping” yang disampaikan oleh Ibu Sisca Soewitomo dalam Bahasa Indonesia dengan penterjemah Bahasa Jerman dan yang kedua,  “Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Dr. Jusuf Habibie dan Frans Magnis-Suseno dalam Bahasa Jerman.

Keduanya dilakukan sama sama di Indonesia Pavilion dan waktunya yang berdekatan, sehingga aku pun bisa mengikuti tanpa harus berpindah gedung lainnya.

***

Event yang pertama, Bu Sisca memperkenalkan penggunaan daun pisang yang kerap kali digunakan di berbagai macam masakan Indonesia. Baik itu sebagai pelengkap, alas/ wadah ataupun pembungkus. Sambil mendemokan membuat gado-gado, beliau menjelaskan aroma yang dikeluarkan dari daun pisang tersebut yang memberikan rasa dan aroma yang khas, apalagi jika daun pisang yang digunakan untuk membungkus makanan, selanjutnya dibakar sebentar di perapian, akan menambah cita rasa sedap dalam masakan. Dan ternyata, Ibu Sisca menggunakan daun pisang yang di dapatkan di Toko Asia di Jerman.

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta warganegara Jerman, menanyakan mengenai rasa masakan khas Indonesia, yang sebagian besar menggunakan cabai dan rasanya pedas. Hal ini tentunya berkaitan dengan selera masyarakat Jerman yang cenderung plain saja tanpa pedas.

„Banyaknya macam jenis masakan Indonesia, tentunya ada pula yang tidak harus menggunakan cabe atau jika pun menggunakan, kadar penggunaan cabe itu sendiri juga dapat disesuaikan dengan selera. Jadi tidak selalu harus pedas“ jelas bu Sisca.

Event selanjutnya, antusias peserta tidak kalah banyaknya dibanding dengan event sebelumnya. Bahkan podium peserta diskusi tidak cukup menampung dan banyak yang rela untuk melantai agar dapat mengikuti diskusi bersama Presiden Indonesia yang ketiga ini, Dr. BJ. Habibie.

“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie
“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie

Intinya, Bapak Habibie sangat yakin bahwa nantinya Indonesia akan menjadi negara yang mandiri dan bisa mensejahterakan rakyatnya. Kekayaan alam Indonesia yang sangat banyak dan semakin potensialnya sumber daya manusia tentunya menjadi kombinasi yang positif untuk kemajuan bangsa.

Ada beberapa event lainnya yang aku lihat namun tidak full, karena aku masih ingin melihat-lihat pameran buku, yakni

Morning Coffee with Literacy Activist bersama Muhidin Dahlan, Anton Solihin, Heri Hendrayana, Asma Nadia dan Evelyn Gozali.

dan terakhir sebelum penutupan, ada diskusi 2 penulis, satu dari Indonesia yang yang diwakili oleh Ayu Utami dan satunya dari Belanda yang diwakili oleh Adriaan van Dis. Podium penonton untuk diskusi ini sepertinya hanya untuk orang-orang tertentu karena akan sekalian dengan penutupan dan serah terima ke Belanda sebagai Guest Honour tahun depan.

Die nächste Buchmesse findet vom 19. bis 23. Oktober 2016 statt !!
Nantikan Frankfurt Book Fair berikutnya, yang akan diselenggarakan pada tanggal 19-23 Oktober 2016 !!

——–

Tulisan ini disadur dari tulisan di blog Melly . Foto  yang dilampirkan menggunakan watermark Mellyloveskitchen adalah dokumentasi pribadi dan yang mengambil dari website lain dicantumkan sumbernya pada nama foto tersebut.

IG: @mellyloveskitchen

Merantau di Guangdong

lapanganNiken Wulandari – Wanita kelahiran Balikpapan yang sudah pindah dan menetap di Jakarta sejak berumur 3 tahun, sekarang menetap jangka panjang di Foshan, propinsi Guangdong, China bersama suami dan anak perempuan saya yang berkewarganegaraan China.

Pengalaman dan Latar Belakang Merantau

Saya tidak punya keterampilan khusus yg menonjol, suka membaca buku atau sekedar nonton video via handphone. Tetapi dari saya kecil, yang saya tahu, saya punya cita-cita untuk hidup di luar negeri, karena saya tertarik sekali dengan bahasa asing, meskipun pada akhirnya bahasa asing yang saya kuasai pun hanya 1-2 macam saja. Ayah saya beberapa tahun yang lalu baru saja pensiun, sedangkan ibu saya di usianya yg ke 63 tahun masih energik dan masih bekerja menjadi karyawan di perusahaan swasta.

Tahun 2006 saya lulus kuliah dan mendapat beasiswa untuk belajar bahasa mandarin di Sun Yat Sen University, Guangzhou, propinsi Guangdong, China. Saya belajar (sebenernya sih, main sambil belajar karena waktu sekolahnya hanya 4 jam sehari Senin-Jumat) selama 5 bulan di sana. Karena sejak saya kecil orangtua sudah biasa berbahasa Mandarin di rumah, saya cukup beruntung bisa langsung masuk ke kelas intermediate yang (menurut saya) dapat ilmu jauh lebih banyak dibanding memulai dari kelas basic.

Sun Yat- sen University, Guangzhou North Campus

Selama merantau di sana saya mengalami culture shock, yang membuat saya stress hingga sampai absen dapat tamu bulanan sampai 3 bulan. Alasannya? Orang China itu…ya ampun kasar sekaliiii dan tidak mengerti sopan santun sama sekali. Plus kurang menghargai kebersihan. Sampai cape hati saya selama 5 bulan disana, dan berjanji pada diri saya, tidak akan saya kembali ke China lagi untuk hidup jangka panjang (kecuali untuk holiday ya ok-ok  saja :D).

Tapi ternyata Tuhan sedang menghukum saya sepertinya, karena pada April 2007 saya ditugaskan untuk pindah kerja ke Dongguan, masih di propinsi Guangdong juga. Saya sebenarnya sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan di Singapore, tetapi ijin kerja saya ditolak oleh pemerintah Singapore, meskipun atasan saya sudah berusaha untuk appeal ke Departemen Tenaga Kerja Singapore. Ya sudahlah saya tidak memaksa juga, tapi ternyata atasan saya sudah kadung cinta pada saya, maka dia tetap berusaha agar saya bisa bekerja dengannya, tapi di negara yg berbeda, yaitu di pabrik produksi perusahaannya. Saya bekerja di Dongguan, dan akhirnya setelah setahun memutuskan untuk resign dan kembali ke Indonesia.

Jadilah saya akhirnya pulang kembali ke Indonesia pada Mei 2008, dan saya lagi-lagi berjanji pada diri saya, tak akan lagi saya kembali ke China, I hate China, I hate Chinese guys dan tidaklah mungkin saya punya pacar apalagi suami orang China…Kenapa saya begitu benci dengan China? karena saya minta ampun sudah tobattttt sama orang China. Orang-orang China yg saya temui saat sekolah dan saat bekerja sangatlah berbeda jauh, karena di lingkungan kerja mereka jauh lebih kompetitif dan “galak”. Mungkin karena kehidupan mereka tidaklah mudah, harus bersaing dengan beberapa milyar orang China lainnya makanya jadi galak dan jutekkk. Tapi kok kayanya saya dipermainkan oleh kata-kata yg keluar dari mulut saya sendiri yah, atau memang ngga boleh deh namanya mengatur-ngatur Tuhan :D. Karena saya kembali bekerja di sebuah perusahaan China di Jakarta, dan di bulan kedua saya bekerja saya malah kecantol orang China hahaha….

By the way, pendeknya saya pacaran kilat selama setahun lebih dan kemudian menikah di tahun 2010 di China.

saya dan suami

Saya dan suami

Setelah menikah kami menetap di Jakarta sampai pada September 2013 kami back for good ke China sampai hari ini.

kamar pengantin 2

Ini foto apa? Ini foto salah satu sudut Kamar Pengantin saya. Sangat tradisional sekali ya..! foto jenis2 “persembahan” untuk sembahyang bagi pengantin baru, diantaranya ada ayam, arak, lilin, sisir rambut, payung dll. intinya seperti perlengkapan bagi pengantin baru untuk memulai hidup berumah tangga

Masih soal kamar penganting, ranjang di kampung-kampung di China (dan sebagian kecil rumah tangga di China) masihlah menggunakan ranjang kayu yang tidak dilapisi kasur lagi. Kalau di musim dingin dilapisi selimut yg tebal dan di musim panas dilapisi tikar agar tidak panas. lumayan kaku badan, apalagi kalau mau balik badan ganti posisi tidur 😀

kehidupan di Foshan secara Umum

Kami tinggal di Foshan Gaoming. Foshan terbagi menjadi beberapa region yaitu Chancheng, Nanhai, Gaoming, Sanshui, Shunde. Gaoming merupakan region yang terkecil dengan 420ribu penduduk saja. Di sini termasuk area kecil, tidak ada kemacetan, kalau macet pasti ada kejadian besar sekali.

kebun sayur

Suasana pedesaan

foshan-map-related-keywords-u0026amp-suggestions-foshan-map-long-tail-

Foshan is a prefecture-level city in central Guangdong province, People’s Republic of China. The area under the city’s jurisdiction is about 3,848.49 km² and has an urban population of over 7.2 million.

Di Gaoming tidak ada mall besar, supermarket besar yg terkenal hanyalah Walmart, brand terbesar yang ada disini hanyalah KFC dan McD, tidak ada Starbucks dan lainnya.

Walmart

Kebanyakan daerah desa, mereka masih berkebun sendiri tanam sayuran, termasuk mertua saya, kami sering mendapat supply sayuran segar tanpa pestisida :).

sayur

Sayuran segar

Yang paling saya sukai di Foshan: suasananya tenang, santai, tidak macet. Suami pulang pergi kerja dlm waktu 15 menit saja. Kemana-mana dekat, dan jalanannya lebar, trotoar bagi pejalan kaki sangatlah lebar, dan tidak dipenuhi oleh pedagang kaki lima (kecuali pada saat-saat dekat musim tahun baru China).

People visit a lantern show to celebrate the Spring Festival on February 17, 2013 in Guangzhou, China. The Chinese Lunar New Year of Snake also known as the Spring Festival, which is based on the Lunisolar Chinese calendar, is celebrated from the first day of the first month of the lunar year and ends with Lantern Festival on the Fifteenth day. (Photo by China Foto Press

Kalau berkunjung ke Gaoming, berjalan-jalan lah ke Wen Chang Lu atau Jalan Wen Chang, inilah jalan teramai di seluruh Gaoming, hanya pedestrian street sepanjang tidak lebih dari 2 km dan umumnya hanya menjual pakaian. McD dan KFC terletak di sini.

Berkeliling di Foshan

Untuk rekomendasi tempat makan, sejujurnya agak susah, karena saya tidak cocok dengan makanan di sini. Either terlalu berminyak (yes, very very greasy!). Karena mereka makan minyak mentah. Maksudnya makan minyak mentah adalah isian sup dimakan dengan dicocolkan ke minyak mentah yang dicampur kecap asin. Cah sayur pun harus dengan minyak yang banyak. Setiap makan harus ada kuah. Tapi anehnya orang China selalu mencibir dengan berkata orang Indonesia makan terlalu banyak makanan berminyak, padahal mereka sendiri konsumsi minyak berlebih. Makanan yang saya suka di sini hampir tidak ada, makanya menderita dan rindu makanan Indonesia *masalah klasik di perantauan*.

Manggong Cake: Kue khas daerah Foshan, seperti kue kacang tanah

Sedangkan makanan halal untuk yang Muslim umumnya bisa ditemukan dengan pergi ke restauran orang Lanzhou, dijamin halal dan enak-enak! Atau bisa juga pergi ke restaurant vegetarian yang herannya ternyata cukup banyak di sini loh.

Tempat favorit jalan-jalan keluarga kami….. biasanya di rumah..! Haha.  Karena sebenarnya di sini tempat hiburan lebih diperuntukkan bagi anak-anak; seperti taman. Banyak sekali taman-taman di sini, yang biasanya penuh dengan orangtua dan anak-anak lagi bermain, apalagi musim panas pasti penuh dengan anak-anak yang bermain pasir dan air.

The Ancestral Temple Foshan

Nanhai Baofeng Temple at Xiqiao Mountain Foshan Big Buddha Guangdong

Untuk berjalan-jalan, biasanya saya naik bus, tidak ada subway di daerah Gaoming sini. Atau lebih tepatnya belum ada rencana dari pemerintah untuk membangun subway sampai ke Gaoming. Tapi Foshan area lainnya sudah ada subway kok 🙂

lapangan

di seluruh China adalah normal untuk menghabiskan waktu di lapangan sperti ini yg tersebar di seluruh daerah. biasanya dipakai untuk bawa anak2 berjalan2, berjemur matahari, menari, atau olahraga ringan

One Child Policy

One child policy tadinya berlaku jika kami memiliki anak kedua yg ingin masuk ke kewarganegaraan China dan harus membayar denda. Di sini bisa mempunyai anak lebih dari satu kalau pihak suami atau istri merupakan anak tunggal, suami saya kebetulan bukan anak tunggal dan saya tidak diakui untuk mengikuti peraturan ini krn saya warga negara asing. Namun “berita gembira”nya, sejak awal November 2015 sudah diresmikan oleh pemerintah China bahwa seluruh penduduk China boleh memiliki 2 orang anak tanpa syarat, jadi saya tidak takut lagi untuk memiliki anak kedua 😀

Pengalaman Hamil dan Melahirkan di China

Pertama yang bikin kaget adalah…. Dokter yg saya kunjungi untuk cek up bulanan bukanlah dokter yg membantu saya melahirkan nantinya. Dokter untuk cek up bulanan hanya dokter di poliklinik, sedang dokter yang membantu lahiran adalah dokter di bangunan lainnya yang diperuntukkan untuk rawat inap. Di sini mengecek jenis kelamin bayi sebelum lahir adalah melanggar hukum, meskipun bisa saja dilakukan kalau punya kenalan dan uang. Proses kelahiran tidak boleh didampingi suami atau orang lain, karena dalam ruang persalinan biasanya ada ibu melahirkan lainnya. Lainnya setelah melahirkan langsung dilakukan inisiasi dini sama kok seperti di Indonesia. Masa pemulihan setelah melahirkan lumayan banyak pantangan, apalagi karena ibu mertua agak ndeso jadi pantangannya agak banyak hehehe…

keluarga suami

Bersama keluarga suami

kendala berBahasa

Di China umumnya sangat sedikit orang lokal yang bisa berbahasa inggris secara fasih, untuk melakukan percakapan simple pun sangat jarang yang bisa. Bahkan saya bisa mengatakan di kota besarpun sangat jarang yang bisa berbahasa Inggris. Bahasa utama adalah Chinese Mandarin, dengan berbagai macam dialek lokal, kebetulan daerah saya tinggal adalah China selatan yang mayoritas berbahasa Cantonese. Jenis huruf yang dipakai oleh masyarakat di China daratan dan Hongkong dan Taiwan memiliki perbedaan, Hongkong dan Taiwan memakai huruf tradisional sedangkan China daratan huruf simplified.

Pemerintah China (setahu saya) tidak memberikan fasilitas kursus gratis, umumnya bagi orang asing tidak ada fasilitas apa-apa. Belajar bahasa Mandarin cukup susah, karena ada 4 nada yang berbeda, tapi tantangan lebih berat adalah belajar Cantonese karena ada 9 nada yang berbeda dan sampai sekarang saya masih tidak bisa sama sekali.

perkumpulan Orang Indonesia

Perkumpulan orang Indonesia ada, tapi biasanya di kota besar. Saya mempunyai beberapa teman orang Indonesia, tapi itu teman-teman kerja dulu dan beberapa yang kenal via Facebook. Btw, Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya diblokir di sini, saya harus menggunakan VPN untuk dapat mengakses website-website tersebut.

Penduduk Lokal Fushon Gaoming dan culture shock

Penduduk lokal termasuk baik, menikmati hidup. Basically karena kota kecil, maka waktu yang diperlukan utk pulang pergi kerja tidak begitu panjang, suka masak dan makan di rumah, jarang dijumpai keluarga besar makan di luar karena mereka menganggap makan di luar/ restaurant mahal dan tidak seenak makan di rumah. Tapi bukan berarti tidak ada sama sekali loh ya…. Mereka juga suka membawa anak jalan-jalan malam sampe jam 9-10, pergi bermain di taman yang lumayan banyak tersebar di sana-sini.

Camera 360

Gendongan bayi: gendongan bayi yang cara memakainya sangatlah rumit dan melelahkan, saya memilih untuk memakai gendongan bayi modern. saya tidak suka gendongan bayi kuno model ini krn selain memasangnya terlalu melelahkan, terlalu mengekspose daerah payudara si penggendong

Jangan bingung – karena ini adalah pemandangan yang lumrah ditemui di berbagai kota di China:  Yep, babies and toddlers in China don’t wear nappies so they’re able to do their ‘business’ wherever and whenever (!).

Nah, kalau berbicara tentang habit dan potensi culture shock…

The most disgusting Chinese habit that all foreigners seem to agree upon is spitting. They hack and spit everywhere, and not only outside. Why, you may wonder? It is claimed pollution is the problem. The air in cities, such as Beijing and Shanghai, is so bad that the simple act of breathing already irritates the throat so much that, like cats cough up hairballs, coughing and horking up mucus is the only way out.

Selain masalah “spitting” atau meludah sembarangan, adalah WC. WC di seluruh China sih memang kurang bersih, ada yang bersih juga tapi jarang. Sebenarnya mungkin karena saya sudah terbiasa hidup di China makanya asal wc-nya (maaf) tidak ada “bom” sudah termasuk bersih. Sekat di WC tidak ada kalau daerahnya agak terpencil, umumnya WC bersekat, tapi kadang-kadang ada juga yg sekatnya rendah jadi bisa sambil lihat-lihat samping kalau lagi buang air, heeeee, tapi jarang kok..! Hehehe.

Lumayan lah ada sekatnya 😉

Untuk potensi culture shock lainnya, bisa ke link ini, cukup membantu untuk yang pertama kali ke China 😀

—–