Merantau di Guangdong

lapanganNiken Wulandari – Wanita kelahiran Balikpapan yang sudah pindah dan menetap di Jakarta sejak berumur 3 tahun, sekarang menetap jangka panjang di Foshan, propinsi Guangdong, China bersama suami dan anak perempuan saya yang berkewarganegaraan China.

Pengalaman dan Latar Belakang Merantau

Saya tidak punya keterampilan khusus yg menonjol, suka membaca buku atau sekedar nonton video via handphone. Tetapi dari saya kecil, yang saya tahu, saya punya cita-cita untuk hidup di luar negeri, karena saya tertarik sekali dengan bahasa asing, meskipun pada akhirnya bahasa asing yang saya kuasai pun hanya 1-2 macam saja. Ayah saya beberapa tahun yang lalu baru saja pensiun, sedangkan ibu saya di usianya yg ke 63 tahun masih energik dan masih bekerja menjadi karyawan di perusahaan swasta.

Tahun 2006 saya lulus kuliah dan mendapat beasiswa untuk belajar bahasa mandarin di Sun Yat Sen University, Guangzhou, propinsi Guangdong, China. Saya belajar (sebenernya sih, main sambil belajar karena waktu sekolahnya hanya 4 jam sehari Senin-Jumat) selama 5 bulan di sana. Karena sejak saya kecil orangtua sudah biasa berbahasa Mandarin di rumah, saya cukup beruntung bisa langsung masuk ke kelas intermediate yang (menurut saya) dapat ilmu jauh lebih banyak dibanding memulai dari kelas basic.

Sun Yat- sen University, Guangzhou North Campus

Selama merantau di sana saya mengalami culture shock, yang membuat saya stress hingga sampai absen dapat tamu bulanan sampai 3 bulan. Alasannya? Orang China itu…ya ampun kasar sekaliiii dan tidak mengerti sopan santun sama sekali. Plus kurang menghargai kebersihan. Sampai cape hati saya selama 5 bulan disana, dan berjanji pada diri saya, tidak akan saya kembali ke China lagi untuk hidup jangka panjang (kecuali untuk holiday ya ok-ok  saja :D).

Tapi ternyata Tuhan sedang menghukum saya sepertinya, karena pada April 2007 saya ditugaskan untuk pindah kerja ke Dongguan, masih di propinsi Guangdong juga. Saya sebenarnya sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan di Singapore, tetapi ijin kerja saya ditolak oleh pemerintah Singapore, meskipun atasan saya sudah berusaha untuk appeal ke Departemen Tenaga Kerja Singapore. Ya sudahlah saya tidak memaksa juga, tapi ternyata atasan saya sudah kadung cinta pada saya, maka dia tetap berusaha agar saya bisa bekerja dengannya, tapi di negara yg berbeda, yaitu di pabrik produksi perusahaannya. Saya bekerja di Dongguan, dan akhirnya setelah setahun memutuskan untuk resign dan kembali ke Indonesia.

Jadilah saya akhirnya pulang kembali ke Indonesia pada Mei 2008, dan saya lagi-lagi berjanji pada diri saya, tak akan lagi saya kembali ke China, I hate China, I hate Chinese guys dan tidaklah mungkin saya punya pacar apalagi suami orang China…Kenapa saya begitu benci dengan China? karena saya minta ampun sudah tobattttt sama orang China. Orang-orang China yg saya temui saat sekolah dan saat bekerja sangatlah berbeda jauh, karena di lingkungan kerja mereka jauh lebih kompetitif dan “galak”. Mungkin karena kehidupan mereka tidaklah mudah, harus bersaing dengan beberapa milyar orang China lainnya makanya jadi galak dan jutekkk. Tapi kok kayanya saya dipermainkan oleh kata-kata yg keluar dari mulut saya sendiri yah, atau memang ngga boleh deh namanya mengatur-ngatur Tuhan :D. Karena saya kembali bekerja di sebuah perusahaan China di Jakarta, dan di bulan kedua saya bekerja saya malah kecantol orang China hahaha….

By the way, pendeknya saya pacaran kilat selama setahun lebih dan kemudian menikah di tahun 2010 di China.

saya dan suami

Saya dan suami

Setelah menikah kami menetap di Jakarta sampai pada September 2013 kami back for good ke China sampai hari ini.

kamar pengantin 2

Ini foto apa? Ini foto salah satu sudut Kamar Pengantin saya. Sangat tradisional sekali ya..! foto jenis2 “persembahan” untuk sembahyang bagi pengantin baru, diantaranya ada ayam, arak, lilin, sisir rambut, payung dll. intinya seperti perlengkapan bagi pengantin baru untuk memulai hidup berumah tangga

Masih soal kamar penganting, ranjang di kampung-kampung di China (dan sebagian kecil rumah tangga di China) masihlah menggunakan ranjang kayu yang tidak dilapisi kasur lagi. Kalau di musim dingin dilapisi selimut yg tebal dan di musim panas dilapisi tikar agar tidak panas. lumayan kaku badan, apalagi kalau mau balik badan ganti posisi tidur 😀

kehidupan di Foshan secara Umum

Kami tinggal di Foshan Gaoming. Foshan terbagi menjadi beberapa region yaitu Chancheng, Nanhai, Gaoming, Sanshui, Shunde. Gaoming merupakan region yang terkecil dengan 420ribu penduduk saja. Di sini termasuk area kecil, tidak ada kemacetan, kalau macet pasti ada kejadian besar sekali.

kebun sayur

Suasana pedesaan

foshan-map-related-keywords-u0026amp-suggestions-foshan-map-long-tail-

Foshan is a prefecture-level city in central Guangdong province, People’s Republic of China. The area under the city’s jurisdiction is about 3,848.49 km² and has an urban population of over 7.2 million.

Di Gaoming tidak ada mall besar, supermarket besar yg terkenal hanyalah Walmart, brand terbesar yang ada disini hanyalah KFC dan McD, tidak ada Starbucks dan lainnya.

Walmart

Kebanyakan daerah desa, mereka masih berkebun sendiri tanam sayuran, termasuk mertua saya, kami sering mendapat supply sayuran segar tanpa pestisida :).

sayur

Sayuran segar

Yang paling saya sukai di Foshan: suasananya tenang, santai, tidak macet. Suami pulang pergi kerja dlm waktu 15 menit saja. Kemana-mana dekat, dan jalanannya lebar, trotoar bagi pejalan kaki sangatlah lebar, dan tidak dipenuhi oleh pedagang kaki lima (kecuali pada saat-saat dekat musim tahun baru China).

People visit a lantern show to celebrate the Spring Festival on February 17, 2013 in Guangzhou, China. The Chinese Lunar New Year of Snake also known as the Spring Festival, which is based on the Lunisolar Chinese calendar, is celebrated from the first day of the first month of the lunar year and ends with Lantern Festival on the Fifteenth day. (Photo by China Foto Press

Kalau berkunjung ke Gaoming, berjalan-jalan lah ke Wen Chang Lu atau Jalan Wen Chang, inilah jalan teramai di seluruh Gaoming, hanya pedestrian street sepanjang tidak lebih dari 2 km dan umumnya hanya menjual pakaian. McD dan KFC terletak di sini.

Berkeliling di Foshan

Untuk rekomendasi tempat makan, sejujurnya agak susah, karena saya tidak cocok dengan makanan di sini. Either terlalu berminyak (yes, very very greasy!). Karena mereka makan minyak mentah. Maksudnya makan minyak mentah adalah isian sup dimakan dengan dicocolkan ke minyak mentah yang dicampur kecap asin. Cah sayur pun harus dengan minyak yang banyak. Setiap makan harus ada kuah. Tapi anehnya orang China selalu mencibir dengan berkata orang Indonesia makan terlalu banyak makanan berminyak, padahal mereka sendiri konsumsi minyak berlebih. Makanan yang saya suka di sini hampir tidak ada, makanya menderita dan rindu makanan Indonesia *masalah klasik di perantauan*.

Manggong Cake: Kue khas daerah Foshan, seperti kue kacang tanah

Sedangkan makanan halal untuk yang Muslim umumnya bisa ditemukan dengan pergi ke restauran orang Lanzhou, dijamin halal dan enak-enak! Atau bisa juga pergi ke restaurant vegetarian yang herannya ternyata cukup banyak di sini loh.

Tempat favorit jalan-jalan keluarga kami….. biasanya di rumah..! Haha.  Karena sebenarnya di sini tempat hiburan lebih diperuntukkan bagi anak-anak; seperti taman. Banyak sekali taman-taman di sini, yang biasanya penuh dengan orangtua dan anak-anak lagi bermain, apalagi musim panas pasti penuh dengan anak-anak yang bermain pasir dan air.

The Ancestral Temple Foshan

Nanhai Baofeng Temple at Xiqiao Mountain Foshan Big Buddha Guangdong

Untuk berjalan-jalan, biasanya saya naik bus, tidak ada subway di daerah Gaoming sini. Atau lebih tepatnya belum ada rencana dari pemerintah untuk membangun subway sampai ke Gaoming. Tapi Foshan area lainnya sudah ada subway kok 🙂

lapangan

di seluruh China adalah normal untuk menghabiskan waktu di lapangan sperti ini yg tersebar di seluruh daerah. biasanya dipakai untuk bawa anak2 berjalan2, berjemur matahari, menari, atau olahraga ringan

One Child Policy

One child policy tadinya berlaku jika kami memiliki anak kedua yg ingin masuk ke kewarganegaraan China dan harus membayar denda. Di sini bisa mempunyai anak lebih dari satu kalau pihak suami atau istri merupakan anak tunggal, suami saya kebetulan bukan anak tunggal dan saya tidak diakui untuk mengikuti peraturan ini krn saya warga negara asing. Namun “berita gembira”nya, sejak awal November 2015 sudah diresmikan oleh pemerintah China bahwa seluruh penduduk China boleh memiliki 2 orang anak tanpa syarat, jadi saya tidak takut lagi untuk memiliki anak kedua 😀

Pengalaman Hamil dan Melahirkan di China

Pertama yang bikin kaget adalah…. Dokter yg saya kunjungi untuk cek up bulanan bukanlah dokter yg membantu saya melahirkan nantinya. Dokter untuk cek up bulanan hanya dokter di poliklinik, sedang dokter yang membantu lahiran adalah dokter di bangunan lainnya yang diperuntukkan untuk rawat inap. Di sini mengecek jenis kelamin bayi sebelum lahir adalah melanggar hukum, meskipun bisa saja dilakukan kalau punya kenalan dan uang. Proses kelahiran tidak boleh didampingi suami atau orang lain, karena dalam ruang persalinan biasanya ada ibu melahirkan lainnya. Lainnya setelah melahirkan langsung dilakukan inisiasi dini sama kok seperti di Indonesia. Masa pemulihan setelah melahirkan lumayan banyak pantangan, apalagi karena ibu mertua agak ndeso jadi pantangannya agak banyak hehehe…

keluarga suami

Bersama keluarga suami

kendala berBahasa

Di China umumnya sangat sedikit orang lokal yang bisa berbahasa inggris secara fasih, untuk melakukan percakapan simple pun sangat jarang yang bisa. Bahkan saya bisa mengatakan di kota besarpun sangat jarang yang bisa berbahasa Inggris. Bahasa utama adalah Chinese Mandarin, dengan berbagai macam dialek lokal, kebetulan daerah saya tinggal adalah China selatan yang mayoritas berbahasa Cantonese. Jenis huruf yang dipakai oleh masyarakat di China daratan dan Hongkong dan Taiwan memiliki perbedaan, Hongkong dan Taiwan memakai huruf tradisional sedangkan China daratan huruf simplified.

Pemerintah China (setahu saya) tidak memberikan fasilitas kursus gratis, umumnya bagi orang asing tidak ada fasilitas apa-apa. Belajar bahasa Mandarin cukup susah, karena ada 4 nada yang berbeda, tapi tantangan lebih berat adalah belajar Cantonese karena ada 9 nada yang berbeda dan sampai sekarang saya masih tidak bisa sama sekali.

perkumpulan Orang Indonesia

Perkumpulan orang Indonesia ada, tapi biasanya di kota besar. Saya mempunyai beberapa teman orang Indonesia, tapi itu teman-teman kerja dulu dan beberapa yang kenal via Facebook. Btw, Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya diblokir di sini, saya harus menggunakan VPN untuk dapat mengakses website-website tersebut.

Penduduk Lokal Fushon Gaoming dan culture shock

Penduduk lokal termasuk baik, menikmati hidup. Basically karena kota kecil, maka waktu yang diperlukan utk pulang pergi kerja tidak begitu panjang, suka masak dan makan di rumah, jarang dijumpai keluarga besar makan di luar karena mereka menganggap makan di luar/ restaurant mahal dan tidak seenak makan di rumah. Tapi bukan berarti tidak ada sama sekali loh ya…. Mereka juga suka membawa anak jalan-jalan malam sampe jam 9-10, pergi bermain di taman yang lumayan banyak tersebar di sana-sini.

Camera 360

Gendongan bayi: gendongan bayi yang cara memakainya sangatlah rumit dan melelahkan, saya memilih untuk memakai gendongan bayi modern. saya tidak suka gendongan bayi kuno model ini krn selain memasangnya terlalu melelahkan, terlalu mengekspose daerah payudara si penggendong

Jangan bingung – karena ini adalah pemandangan yang lumrah ditemui di berbagai kota di China:  Yep, babies and toddlers in China don’t wear nappies so they’re able to do their ‘business’ wherever and whenever (!).

Nah, kalau berbicara tentang habit dan potensi culture shock…

The most disgusting Chinese habit that all foreigners seem to agree upon is spitting. They hack and spit everywhere, and not only outside. Why, you may wonder? It is claimed pollution is the problem. The air in cities, such as Beijing and Shanghai, is so bad that the simple act of breathing already irritates the throat so much that, like cats cough up hairballs, coughing and horking up mucus is the only way out.

Selain masalah “spitting” atau meludah sembarangan, adalah WC. WC di seluruh China sih memang kurang bersih, ada yang bersih juga tapi jarang. Sebenarnya mungkin karena saya sudah terbiasa hidup di China makanya asal wc-nya (maaf) tidak ada “bom” sudah termasuk bersih. Sekat di WC tidak ada kalau daerahnya agak terpencil, umumnya WC bersekat, tapi kadang-kadang ada juga yg sekatnya rendah jadi bisa sambil lihat-lihat samping kalau lagi buang air, heeeee, tapi jarang kok..! Hehehe.

Lumayan lah ada sekatnya 😉

Untuk potensi culture shock lainnya, bisa ke link ini, cukup membantu untuk yang pertama kali ke China 😀

—–

Advertisements

6 thoughts on “Merantau di Guangdong

  1. Firsty Chrysant says:

    kemakan omongan sendiri ya Mba… ga mau nikah sama orang Cina sana, tapi jodohnya emang orang sana, hehehe…

    Justru, kalau pendapatku, mata lebih sipit dari suami cina daratan…

    Itu bocah celananya yg bolong biar praktis atau karena ngga mau repot kali ya… kan kita mikirnya kasian anaknya ntar masuk angin… 🙂

    Aduh, toiletnya, terbuka gitu…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s