Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 1)

8970440293_db01e5a142Mindy Jordan – A stubborn Taurean yang lahir 40 tahun silam di Jakarta. Istri dari suami yang jangkung (Sven) dan ibu dari seorang putri kecil (Medea Kedasih ). Saat ini sedang bersekolah kembali untuk nantinya bisa berkerja dengan anak-anak. Co-Author buku 3 Wanita Menjejak Dunia dan Menghirup Dunia. Suka membaca, membuat DIY dan belajar masak, juga fotografi secara autodidak.

Frankfurter Buchmesse

Waktu saya tahu kalau Tamu Kehormatan di Frankfurter Buchmesse (Frankfurt Book Fair) adalah Indonesia, saya sudah bertekat untuk datang. Biarpun jarak 470 km memisahkan antara kota tempat tinggalku dan kota Frankfurt, tetap tidak menggoyahkan niat saya. Apalagi akhirnya teman-teman yang saya kenal melalui ajang Upload Kompakan juga mau datang dan menjadikan ajang istimewa ini untuk acara kopi darat pertama kali. Pokoknya I was so uber excited deh!

Gimana ga excited coba, karena ajang pameran buku terbesar ini ada di bucket list saya, lalu tahun ini Indonesia yang menjadi tamu kehormatan, ditambah lagi saya akan bertemu dengan salah satu teman dan partner penulis buku Menghirup Dunia dan juga teman-teman seantero Jerman (plus Deny yang datang dari Den Haag). Anak saya juga minta ikut, sewaktu saya wanti-wanti kalau nanti saya akan pergi. Dilalah sang suami yang tadinya tidak mau ikut akhirnya jadi tertarik untuk ikut. Jadilah kita sekeluarga liburan weekend getaway 14-18 Oktober 2015 ke ajang Pameran Buku yang tertua dan terbesar di dunia, Frankfurter Buchmesse.

Beberapa minggu sebelum pergi saya sudah mempelajari kalender acara. Kebanyakan acara yang diselenggarkan oleh Tamu Kehormatan. Karena perginya dengan anak batita, jadi saya juga mencatat acara anak-anak, seperti misalnya pembacaan dongeng, peluncuran buku anak-anak yang berjudul Putri Kemang yang juga sudah ada versi terjemahan Indonesianya dan ada dalam format Kamishibai.

Selain itu saya memasukan beberapa acara talk show atau diskusi ke agenda saya. Sebut saja, talk show Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak, lalu Dewi Lestari dengan Ika Natassa, dan Tita Larasati karena sudah lama ingin bertemu dari jaman Multiply. Beberapa penulis Jerman juga saya masukkan ke agenda saya, misalnya Ilija Trojanow dan Axel Scheffler, ilustrator buku anak. Beliau sering kolaborasi dengan Julia Donaldson dan buku mereka yang populer adalah der Grueffelo atau Gruffalo.

Euphoria Frankfurt Book Fair 2015 untuk saya juga diisi dengan membaca beberapa tulisan dan berita tentang tanah air di beberapa surat kabar ternama Jerman, misalnya tentang budaya baca masyarakat Indonesia atau juga tentang slogan yang dipakai di Frankfurt Book Fair 2015, yaitu 17.000 Islands of Imagination. Lengkapnya bisa dibaca di http://islandsofimagination.id/about/. Potongan berita, tulisan dan liputan di surat kabar tersebut saya simpan.

Indonesia’s slogan for the Fair— “17,000 Islands of Imagination”—symbolizes the intellectual and artistic richness of this incredibly diverse and multi-religious nation.

Perjalanan ke kota Frankfurt am Main memakan waktu lebih lama karena macet di jalan tol. Tidak heran sih karena hari keberangkatan kita adalah Jumat dan terkena rush hour ditambah hujan rintik. Puji Tuhan kita tiba dengan selamat di Innside Hotel tempat menginap selama dua malam. Sang resepsionis yang ramah memberikan Medea sebuah welcome gift yaitu berisi sekotak pensil warna dan beberapa coloring postcards bergambar binatang. Bahagia sekali dia melihat isi welcome giftnya dan langsung mau mewarnai begitu kita masuk ke kamar yang nyaman. Sebelum tidur Medea bertanya kapan kita berangkat ke Frankfurter Book Fair-nya. Ternyata ada yang sudah excited seperti ibunya.

Instalasi 1500 Batang Bambu Joko Avianto Pukau Pengunjung Frankfurter Kunstverein

Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Hari H pun tiba. Kita sekeluarga pergi ke lokasi dengan mobil dan beruntung mendapat parkir yang tidak jauh dari Frankfurt Messe (Frankfurt Exhibition). Mungkin karena pagi-pagi banget yaa… Di sebelum pintu masuk, kita ditawari untuk membeli sebuah surat kabar yang harganya 0,80€. Awalnya tidak mau beli karena surat kabar tersebut image-nya seperti Pos Kota, tapi hadiah kupon dapat tiket lebih murah mengalahkan pikiran kita.

Setelah mengisi perut dengan gado-gado dan teh panas di Canteen Indonesia, saya dan keluarga menuju ke Paviliun Indonesia untuk mengikuti acara diskusi dengan dua penulis wanita Indonesia, yaitu Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Oiya, buku Laksmi Pamuntjak yang berjudul “Amba“, diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul “Alle Farben Rot“ dan sudah saya liat di beberapa toko buku. Ada rasa bangga terbesit setiap melihat buku Indonesia di antara buku-buku karya penulis dalam negeri, maupun penulis luar negeri. Sebelum acara diskusi dimulai, saya sempat melihat Pak B.J. Habibie. Sayangnya tidak bisa minta foto bareng karena security yang ketat.

RBu8KSnmfaf75GjR8q644jwuZQrmpdfR4FI6n8b4ryQ,NcYmJ0myx-4iIibjCBki3N8MrpA3nXEWVod6VurTHNw

Menonton acara tarian ini bikin kangen kampung halaman

Deretan buku tentang Indonesia saat dipamerkan dalam Frankfurt Book Fair 2015 di Frankfurt am Main, Jerman (13/10).

Akhirnya acara diskusi yang bertemakan tentang kaum Exil dari masa 1965 dimulai. Dengan moderator seorang penulis Jerman bernama Anett Keller, seorang wartawati yang fasih berbahasa Indonesia dan penulis “Indonesien 1965ff. Die Gegenwart eines Massenmordes. Ein politisches Lesebuch.“ Buku setebal 213 halaman ini mengambil latar belakang kejadian di tahun 1965. Karena acara diskusi ini dalam bahasa Jerman, Indonesia dan Inggris jadi disediakan head set bagi para pengunjung supaya bisa mendengar terjemahan stimulasi secara langsung.

Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak menceritakan tentang buku mereka, yaitu “Pulang“ dan “Amba“, yang keduanya memiliki latar belakang yang sama, yaitu kejadian di tahun 1965. Seperti halnya “Amba“, novel “Pulang“ juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul “Heimkehr nach Jakarta“. Sebuah novel yang berhasil membuat saya nangis tersedu-sedu dan ingin pulang ke kampung halaman, ke Jakarta dan tentunya dalam keadaan utuh jiwa serta raga.

wdrVrdGGOiKSp-S3Oz37CUeWTV_Wdwi_kv1-GLbFtqo,FVzLi1nK0RasSu4nMPLqvLt4yL1qLZYQfO46wo4Dx4A

Leila S. Chudori, Laksmi Pamuntjak dan Anett Keller

FBF - Medea di acara Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Medea di acara Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak

Sesi tanya jawab dengan kedua penulis wanita ini menjadi bagian penutup acara diskusi selama 45 menit ini. Di ajang ini saya juga bertemu dengan Beth, Deny dan beberapa teman. Senangnya tak terkira karena kita akhirnya bertemu dan bisa ngobrol secara langsung karena selama ini hanya melalui sarana WhatsApp saja.

5142BsRTz1YDygV6Qo0WnKXS8DDJ105_TzA2jYlgeCk

Bersama Beth dan Deny

Oiya, saya bodohnya kurang eager untuk meminta foto bareng dengan Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Sekarang masih suka menyesal karena sudah lama juga bertukar tweet dengan Mba Leila dan ingin bertemu. Semoga kita bertemu di Jakarta ya, Mba…

German’s Publishers and Indonesian’s Publishers

Setelah acara diskusi selesai, saya bertukar kata dengan teman-teman. Kita akhirnya berpencar dan akan ketemu lagi di Canteen Indonesia untuk makan siang bersama. Saya juga senang banget karena akhirnya saya dan Febbie, seorang partner penulis saya, bisa bertemu kembali dan memegang “bayi“ kami berdua, buku Menghirup Dunia untuk pertama kalinya. Kita berdua sempat diminta untuk menanda tangani buku tersebut. Walaupun tidak dapat stage, tapi tetap boleh ada rasa bangga dong ya…

Menghirup Dunia (foto courtesy: Noni Khairani)

Saya juga sempat melihat-lihat hall penerbit Jerman. Waaahh kalap banget deh! Banyak buku yang menarik dan ingin dibeli. Untung saja harga buku di Jerman itu harganya sama, baik offline maupun online. Jadi bisa saya cari di toko buku kota saya tinggal. Sayangnya acara diskusi dengan Ilija Trojanow tidak saya ikuti dengan tuntas karena berbagi waktu dengan acara anak-anak. Beruntung sekali anak saya tidak rewel, bahkan dia terlihat menikmati harinya. Apalagi waktu kita ke stand Gramedia, Mizan dan beberapa stand lainnya. Berasa di surga dia melihat banyak buku anak-anak.

f6S2gnWLPjfXCnL7XoIQPuifX9GKKSfsK9FoB7IT7lA

Di stand Gramedia saya sempet ngobrol dengan Ika Natassa, sedikit bertukar kata dengan Dewi Lestari, juga dengan Mas Fuadi yang ketemu lagi di tengah kota keesokan harinya. Tentunya juga browsing buku-buku dan ikutan heboh sewaktu stand Gramedia membuka sesi penjualan buku. Saya membeli beberapa buku cerita anak berbahasa Indonesia yang ternyata tidak banyak karena yang diikutkan ke Frankfurt Book Fair 2015 sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman ataupun bahasa Inggris.

Di sini saya juga berbincang dengan Werner Schulze, seorang penulis serta Profesor berkebangsaan Jerman yang sering melakukan perjalanan ke Indonesia. Beliau hari itu membacakan cerita dari bukunya dengan judul “Paradiesvoegel und andere wundersame Erzaelungen“. Bahasa asli buku ini adalah bahasa Jerman dan pada tahun 2010 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu “Burung Cendrawasih dan Cerita Cerita Memikat Lainnya“.

Agak menyesal kenapa saya tidak datang ke pameran hari Minggunya. Karena saya kurang lama beredar di hall buku-buku bahasa Jerman dan bahasa Inggris. Penyesalan berikutnya itu datang sewaktu tahu kalau ternyata ada acara diskusi dengan Dewi Lestari yang moderatornya adalah Ilija Trojanow. Grrr…

HC-D6Nsav5KzdtGvUbjfHuHqGyAfisEWETDLN9Jpqxo,2Vydzi_FzSPOuctyv0LxyH57tEK-LC834c4jQUVWeGw

Suasana Sabtu itu..

The Act of Killing

Di ajang pameran buku terbesar di dunia ini juga diputar sebuah film dokumenter karya Joshua Oppenheimer, seorang sutradara kewarganegaraan Amerika. “The Act of Killing“ yang diproduksi pada tahun 2012 dan bercerita tentang pembunuhan massal di tahun 1965 akan mulai diputar di bioskop Jerman pada tanggal 14 November 2015.

—–

Foto-foto pada laman ini adalah karya Mindy, dengan beberapa foto pendukung yang terhubung dengan link pada foto.

http://www.mindoel.blogspot.com. Instagram @mindoel.

Advertisements

Berkeliling di Sydney

 Annisa Sarahayu (Nisa) – The Beatles lover, daydreamer, batch_5IMG_4578_Fotorlove to cook and write. I can sometimes get a bit too friendly, touchy-feely, and silly! My personality is kind of complex I guess. I take a lot of time to get used to new people – before I feel comfortable with them.

Berikut adalah beberapa tempat di Sydney yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi:

Dining Out with Kids.
Lumayan banyak tempat makan kid-friendly yang sering kami coba, seperti food court yang terletak pada lantai 5 di Pitt Street Mall, Chinatown, Bondi Junction (shopping center dekat Bondi Beach yang terkenal), menu pizza di kawasan The Rocks, Darling Harbor , Darling Quarter, dan Paddington. Karena daerah-daerah yang saya sebutkan disini memang daerah turis, kebanyakan restorannya kid-friendly dan menawarkan great value menu untuk anak-anak, bahkan early-bird deal untuk menu makan malam. Selain itu, yang wajib dicoba adalah hidangan seafood yang fresh di Sydney Fish Market!

IMG_4756_Fotor

Dining Out with Adults
Kalau sama ibu-ibu Indonesia yang kebetulan lagi “ngangon” anak, kami prefer makan di rumah (seperti cerita di artikel Sydney 101) karena anak bisa bebas main sana sini, atau paling nggak cari resto yang dekat rumah. Kalau lagi playdate di park, kami biasanya bawa bekal masing-masing lalu saling tukar-menukar. Nah kalau kebetulan dapat me-time, ya terkadang lunch bareng teman di food court Pitt Street Mall tadi, ngopi di The Coffee Club, ngemil sore di Guylian cafe atau di Adriana Zumbo di QVB (Queen Victoria Building). Kalau sama keluarga, selain di tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas, kami juga suka mencoba resto-resto di daerah The Rocks seperti Pancakes On The Rocks, Umi Sushi, Time for Thai, Nok Nok Thai Food, Duyum Thai food.

batch_5IMG_8186

Gelato Messina | Voted best gelato in Australia

Shopping for Kids
Untuk pakaian untuk Bazyl, saya suka berbelanja di Zara Kids, Cotton On Kids, Gap, Target atau Pumpkin patch dan Seed. Untuk mainan bisa di Toys R Us, Hobbyco ( wajib nih kesini kalau lagi ke sydney karena merka punya display toko yang keren banget banyak anak-anak suka betah nongkrong dan emang sengaja didesain buat hiburan mereka ) Target ataupun Kmart. Selain itu saya juga suka hunting online di Gumtree ( semacam forum jual beli barang secondhand ) kalau lagi beruntung suka ada yang free dengan kondisi yang masih bagus, cuma kita harus pick up sendiri  🙂

Untuk buku anak : saya lebih suka hunting di toko2 second hand store gitu kaya Salvation Army, kondisi masih bagus dan harga juga murah range harga $2 – $5 nah kalau gak saya juga suka sekali datang ke baby&kids market yang diadakanya setiap beberapa bulan sekali. ini barang-barangnya memang second tapi juga terkadang ada yang baru lengkap dengan tag pricenya. terakhir saya kesana dapat chalk board masih baru hanya $5 , buku2 cerita hanya $0.50 – $2 . baju2 cotton on yang masih ada label harga 5 celana hanya $10 !!! dan banyak lagi. bisa dicek di website mereka surga deh buat emak-emak macam saya ahahahaha. Jangan khawatir kalau nggak puas maksimal 7 hari barang bisa dikembalikan dengan mengkontak salah satu PIC si Baby Market dan melaporkan nomor resi yang ada.

Shopping for Myself
Untuk pakaian saya suka di Zara,Tree of Life ( Australian boho product ) , Target, Cotton on, atau butik-butik vintage di daerah Surry Hills dan Newtown. Tetapi nggak jarang  saya juga berburu di secondhand store seperti Salvation Army. Untuk peralatan dapur dan rumah tadinya suka ke IKEA,  tapi sekarang saya prefer ke Peter’s Kensington karena harganya jauh lebih murah dari pada dept. store lokal seperti Myer, David Jones bahkan Target. Lengkap banget kadang juga suka ada harga diskon yang tak terduga. Review lengkapanya bisa dicaba di blog saya.

Salvation Army

Flea Markets
Saya suka berkunjung ke Surry Hills Market yang diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu pertama setiap bulannya. Selain itu Paddington Market juga patut dikunjungi,  buka lebih sering yaitu setiap Sabtu dan Minggu dari jam 9 – 3 sore.

Hanging Out with Bazyl.
Royal Botany Garden adalah pilihan tempat hang out favorit dengan Bazyl, karena bisa melihat pemandangan ke harbour dan Sydney Opera House. Selain itu ada Hyde Park, yang lokasinya tepat di city central dimana terdapat Stunning Archibald Fountain dan  Anzac Memorial. Karena letak rumah kami dekat dengan pantai, hampir setiap minggu bahkan beberapa hari sekali, kami suka “ngabsen” ke Maroubra beach dan playgroundnya. Enaknya disini pantainya lengkap dengan fasilitas seperti playground, bike rides dan walking tours. Darling Quarter Kids Playground ( salah playground terfavorit di Sydney lengkap  dengan waterpark-nya ). Grant Reserve (Coogee Beach Playground ), Heffron park, yah…pokoknya dimana ada playground biasanya pasti kami datangi! Hehehe…

Hanging Out with Adults
Selain makan dan ngopi, kegiatan hangout saya dengan adult salah satunya adalah mengikuti kelas Zumba bersama Maroubra Dance Studio di St John Hall Maroubra. Sisanya ya hangout  di Bondi Junction , QVB, Westfield , Strand Arcade , Cafe de Luca, II Cafetino, atau Laduree.

Getting Out in the Nature
Selain park dan beach yang sudah disebutkan diatas, kami juga suka ke Little Bay dan La Perouse.

The Famous manly beach

The Famous manly beach

batch_5batch_5IMG_4044

Favorite Public Spaces?
Australian National Maritime Museum, Sydney Living Museum, Art Sydney (ini gratis! ). Selain itu bisa juga ke City of Sydney Library atau yang dekat rumah seperti Bowen Library dan Eastgarden Library di daerah Randwick City Council. Untuk bisa dapat free entry ke museum.

Must-visit Touristy Spots
Get beached in Bondi and other beaches in Sydney, like Coogee, Bronte, Clovely and Manly. Lalu hangout di kafe-kafe-nya Surry Hills seperti Bills, Reuben Hills dan Bourket Street Bakery. Naik kapal ferry ke Manly dari Circulay Quay, makan gelato-nya Messina di Surry Hills (siap-siap antri panjang. karena emang enak banget!). Jangan lupa explore Chinatown & Newtown, lalu kalau berani jalan, lari, atau bahkan naik ke atas Sydney Harbor Bridge ( AU$150/orang ).

Luna park one of the iconic place in sydney

Luna park one of the iconic place in sydney@sachpfaff

Selain itu, play tourist dan main berbagai permainan di Luna Park, nonton firework show gratis di Darling Harbor setiap malam minggu, ke King’s Cross,  piknik di Royal Botany Garden, dan kalau sempat ke Blue Mountain (2 jam naik train, kalau mau murah bisa pergi pas hari Minggu, karena  ada promo Family Sunday Fun Day). Yang pasti, kalau mau free entry untuk ke museum dan touristy spots lainnya bisa kunjungi visitor/information center di Darling Harbor.

———       
Nisa juga mendokumentasikan kehidupannya bersama keluarga pada blog http://nisadanchicco.com/, serta account Instagram: @qyusha dan @denchicco.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Nisa dan Chicco – beberapa image diambil dari berbagai sumber yang URL-nya terhubung langsung dengan gambar.

Hiburan Musim Dingin di Ottawa

Screen shot 2014-11-26 at 2.11.06 PM

Josephine Desiana accompanying her husband working in Embassy of Indonesia in Ottawa, Canada since 2011. During her leisure time, she enjoys taking photographs and playing with her daughter Summerlila.

Meski dinginnya dapat mencapai 5.4 derajat Fahrenheit (sekitar -14.8 derajat Celsius), kota Ottawa memiliki berbagai tempat pariwisata dan festival kebudayaan menarik yang patut dikunjungi saat winter. Dimulai dengan Ottawa Zombie Walk

ottawazom

Acara yang diadakan pada awal bulan Oktober ini bukan sekedar pameran kostum, karena masing-masing partisipan harus berjalan dalam sebuah parade yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Garden of the Provinces, ke Territories at Confederation Park, sampai akhirnya berhenti di City Hall.

Selanjutnya Christmas Lights Across Canada di Parliament Hill.

ottawaxmas

Tradisi yang dimulai pada tahun 1985 ini merupakan salah satu objek wisata musim dingin yang sangat dinantikan oleh warga Canada. Puluhan ribu lampu dinyalakan secara resmi oleh pemerintah setempat dalam sebuah upacara yang disebut “Illumination Ceremony”, yang tahun ini akan di adakan pada tanggal 3 Desember.

Setelah memasukin tahun baru, Anda dapat mengunjungi acara Winterlude, dimana terdapat pameran berbagai pahatan es (ice sculpture), serta berbagai makanan dan wine yang disajikan oleh restaurant dan chef ternama.

ottwinterlude

Selain itu, Anda juga dapat menikmati serunya ice skating pada arena ice skating terbesar di dunia yaitu, Rideau Canal Skateway.

otticeskating

Jangan khawatir akan ketebalan esnya, karena cuaca dingin yang lumayan ‘awet’, arena ini dapat bertahan hingga 58 hari! Anda dan keluarga dapat menikmati serunya meluncur diatas perairan yang beku.

 

Pasar Raya di Addison, Texas

Pada hari Sabtu tanggal 8 November 2014 lalu, IFGF Dallas mengadakan event Pasar Raya. Tidak seperti di acara 17-an di bulan September lalu, di Pasar Raya anda tidak akan menemukan lomba makan kerupuk atau karaoke lagu Indonesia. Acara ini khusus untuk jual-beli makanan dan minuman khas Indonesia. Yang menarik dari acara ini adalah lokasi yang dipilih oleh panitia yaitu hotel La Quinta Inn di Addison, Texas.

pasaraya3

Tidakada asap bakar sate, ruanganrapih dan bersih, kami pengunjung pun tidak kepanasan atau kedinginan, dan kalau mau menghangatkan makanan, kami boleh memakai microwave yang tersedia dari hotel. Selain itu, pembayaran pada masing-masing stall makanan menggunakan kupon dengan harga yang ‘pas’, jadi kami tidak perlu bawa-bawa koin.

pasaraya5

Makanan yang disajikan juga lebih variatif, dan menu lengkapnya sudah disebarluaskan melalui email dan social media sejak beberapa minggu yang lalu, agar pengunjung dapat melakukan pre-order.

pasaraya8

“Emang kenapa sih perlu pre-order?”, pikir saya waktu membaca menu yang dikirim teman saya melalui Facebook. Ternyata pas hari H, banyak makanan yang sudah habis terjual pada pukul 11.30 sedangkan acara baru dimulai pukul 11 siang! Kebanyakan pengunjung sudah pre-order untuk bungkus bawa pulang, yahh…lumayan kan bisa stock ayam penyet/ ikan pesmol / kering tempe untuk makan dirumah? 🙂

  pasaraya2

pasaraya3pasaraya4

Menu fvorit kami adalah Mpek-mpek oleh Kedai Gisi, Nasi Kapau oleh ibu Wati Thompson, dan Risoles oleh Ibu Ita Amalia.

Sayangnya kami tidak kesampaian untuk menyicip Klepon, Martabak, dan Mie Kocok Bandung karena sudah kehabisan dalam waktu kurang dari setengah jam. Sepertinya mengunjungi acara seperti Pasar Raya ini membutuhkan strategi khusus : cek menu pre-order, pesan yang mau dibawa pulang, rencanakan stall mana saja yang mau dikunjungi di hari H, bagi tugas (papa coba makanan A, mama coba makanan B), dan yang pasti datang lebih awal supaya tidak kehabisan!

***

 

17-an di Bulan September

Oleh Debora Manusama-Sinaga

Hari Minggu tanggal 21 Septermber lalu,KMI Dallas-Fort Worth menyelenggarakan acara Indonesian Festival untuk merayakan HUT RI yang ke 69. Mengapa diadakan pada bulan September? Diantara banyak alasan lainnya, KMI sepertinya menyadari bahwa musim panas di Texas merupakan salah satu yang terburuk di Amerika, dengan ketinggian suhu yang dapat mencapai 104 derajat Fahrenheit, khususnya di bulan Agustus. Sayangnya, meski sudah memasuki bulan-bulan musim gugur, Texas masih saja didera panasnya matahari, dan Indonesian Festival minggu lalu juga tidak luput dari sengatannya.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Puluhan (bahkan mungkin ratusan) warga Indonesia dan keluarganya memenuhi pavillion kecil di Mary Heads Carter Park, Carrollton mulai dari pukul 11.30 siang hingga 3.30 sore. Meski cuaca sangat panas, kami berbondong-bondong mengantri untuk membeli sate, lontong sayur, pastel, risol dan bakso sambil menikmati hiburan karaoke lagu-lagu Indonesia.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Dengan $8 kami bisa mengobati rasa kangen  makanan Indonesia dengan menyantap  5 tusuk sate, lontong, acar, dan kerupuk. Pengunjung yang membawa anak juga bisa mendaftar untuk lomba makan kerupuk dan lompat karung ala 17-an.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Saya dan keluarga sangat excited bisa mengajak sepasang orang tua murid dari sekolah renang anak kami yang ternyata berketurunan Jawa-Jerman. Dibesarkan oleh keluarga ‘setengah bule‘, teman kami ini sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia dan sudah lama sekali tidak pulang ke Indonesia. Setelah melahap 4 porsi makanan kesukaan kami, panasnya Texas pun akhirnya mendorong kami untuk pulang lebih awal. “Jangan lupa untuk mengajar anak anda berbahasa Indonesia. Jangan sampai mereka melupakannya,” tutur salah satu anggota KMI  sebelum kami pulang. Sebuah pesan yang tentunya akan kami ingat selama perantauan kami 🙂