Ika Inggas – Ibu dari seorang anak usia 6 tahun, tinggal di Maryland, USA. Independent consultant, yang selalu menikmati travelling, membaca dan berpetualang dengan keluarga kecilnya (walaupun berpetualang disini mungkin hanyalah naik mobil tanpa tujuan di akhir minggu).
Profesi saya sebelumnya saat di Indonesia adalah International Development Specialist bekerja untuk beberapa lembaga internasional di Indonesia seperti di USAID, European Commission, the Solidarity Center dan beberapa organisasi lainnya untuk program yang berhubungan dengan masalah HAM dan Demokrasi.
Saya pindah ke Amerika pada akhir tahun 2011 mengikuti suami yang berkewarganegaraan Amerika yang kebetulan karena pekerjaannya membawanya kembali ke Amerika. Saya bertemu dengan suami saya di Indonesia ketika ia bekerja di Indonesia. Sejak saya tiba di Amerika, saya sempat bekerja di Voice of Amerika selama 3 tahun dan sekarang saya bekerja sebagai independent consultant.
Merantau sepertinya sudah merupakan bagian dari hidup saya. Sebelum saya pindah ke Maryland, AS, kami sempat empat tahun tinggal di Bangkok, di mana putri saya Saraswati (Sara) lahir. Sebelum menikah saya juga sempat tinggal di Inggris selama setahun saat mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Inggris untuk studi Masters (2001 – 2002) dan tinggal setahun di Jepang dalam program pertukaran mahasiswa di kota Chiba (1996 – 1997).

Our family: saat Sara “wisuda” preschool
Merantau di Amerika Serikat
Kami tinggal di Kota Gaithersburg, di Negara Bagian Maryland, sekitar 45 menit dari Washington DC dengan menggunakan metro atau mobil. Namun wilayah Maryland, Virginia dan Washington DC yang terjangkau oleh metro biasa disebut sebagai Washington DC secara general. Kami tadinya tinggal di sebuah kondo, tapi kami tidak terlalu merasa “homey” akhirnya kami membeli sebuah rumah di daerah Washington DC coret ini Kami bersyukur tetangga kami juga sangat baik

Welcome Gifts dari tetangga kami

Suasana musim gugur di teras rumah kami
Tinggal di ibukota Amerika, di Washington DC memang memiliki kesan dan keunikan tersendiri. Sebagai ibukota negara, kota ini menjadi pusat pemerintahan, juga menjadi markas berbagai lembaga internasional. Kota ini penuh dengan bangunan ikonik yang bersejarah, dan museum-museum yang semuanya bisa dikunjungi sebagian besar dengan gratis.

Hanya memerlukan waktu 45 menit dengan Metro untuk mencapai Washington DC dari tempat tinggal kami di Maryland.
Salah satu kriteria saya untuk sebuah kota yang asyik adalah bisa menikmati kota tersebut secara nyaman dengan berjalan kaki, dan Washington DC termasuk dalam kategori ini. Hampir semua landmark di Washigton DC seperti Gedung Putih, Washington Monument, Thomas Jefferson Memorial, Abraham Lincoln Memorial, The Mall, the Capitol, dan museum-museum di Smithsonian semuanya bisa dicapai dengan jalan kaki, karena berada tidak terlalu jauh, dari satu dengan lainnya. Beberapa landmark ibu kota Amerika ini bisa dinikmati sambil berjalan santai tanpa harus takut tertabrak atau terekspos polusi.
Saya dan suami bekerja di Washington DC. Setiap pagi setelah mengantar putri kami ke TK nya yang tidak jauh dari rumah, kami menuju stasiun metro terdekat dan commute ke Washington DC.

Metro train

Sara mendengarkan cerita guru di atas tumpukan jerami
Pada saat-saat awal saya tiba di Amerika, saya sering berangkat kerja lebih awal ke Washington DC , sehingga bisa berjalan-jalan sambil mengambil gambar beberapa landmark kota tersebut yang sangat cantik ketika musim semi.

Tulip di depan Capitol Hill
Bunga sakura di Washington Monument, Tidal Basin dan Jefferson Memorial:
Hal-hal yang menyenangkan dari Merantau di Amerika Serikat
Berada di Ibukota Amerika yang tidak hanya menjadi kota pusat pemerintahan, tapi juga sering menjadi pusat seni dan budaya termasuk tuan rumah berbagai pameran dan eksebisi, siap-siap saja bagi kita untuk mendapatkan kejutan ketika kita melangkah di kota ini. Seperti yang saya alami saat sehabis menjemput anak yang saya titip di kantor suami ketika saya harus menghadiri meeting di Washington DC. Dalam perjalanan menuju Metro, kami melewati National Geographic Museum dan ternyata di sana sedang ada pameran Petualangan Indiana Jones. Jadilah saya dan si kecil melipir menuju museum tersebut dan menikmati berbagai kisah seru di balik pembuatan film yang dibintangi Harisson Ford yang juga adalah film favorit saya sepanjang masa.
Atau kejutan lain bertemu dengan pemenang Nobel Perdamaian dalam sebuah acara untuk meningkatkan kesadaran untuk pemberantasan atau pencegahan Human Trafficking.

Tidak disangka bisa bertemu dengan penerima Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi di Washington DC, Juni 2015.
Berada di Washington DC, juga cukup mendukung profesi dan minat saya pribadi. Saya bisa mengikuti berbagai acara seminar yang diadakan oleh lembaga-lembaga Think Tank yang mendatangkan orang-orang penting di bidangnya yang sebagian besar diselenggarakan secara gratis oleh berbagai lembaga Think Tank seperti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Carnegie Endowment for Intl Peace, Wilson Center dsb.

Prof. William Liddle, a renowed expert on Indonesian politics at Carnegie Endowment for International Peace, 2014.
Tinggal di pusat Ibukota Amerika yang juga merupakan kota lokasi KBRI lokasi Wisma Indonesia, ini berarti ikut merayakan acara 17 Agustusan dengan teman-teman Indonesia

17 Agustusan di Wisma Indonesia
Sebagai warga Washington DC kita juga memungkinkan untuk datang ke Gedung Putih untuk ikut menyemarakan acara Easter Egg Roll, bersama keluarga orang nomor satu di Amerika. Acara ini adalah acara tahunan yang dilakukan oleh Gedung Putih untuk merayakan Easter dengan mengundang masyarakat umum dengan anak –anak mereka. Untuk bisa ikut acara ini kita harus mendaftar dan kemudian nama kita diundi. Kami merupakan salah satu yang beruntung bisa bermain di halaman Gedung Putih pada saat Easter Egg Rolls tahun 2013.
Kami diantara 30,000 tamu eksklusif (LOL) yang diundang ke White House untuk acara 2013 White House Easter Egg Roll 2013.
Hal lain yang paling menyenangkan dari tinggal di Washington DC area selain karena kotanya yang asyik buat dijelajahi dengan berjalan kaki, adalah tersedianya layanan untuk masyarakat yang cukup baik. Seperti adanya taman kota di mana-mana lengkap dengan taman bermain untuk anak-anak, fasilitas untuk kepentingan umum termasuk bagi kaum difabel juga diutamakan. Tidak hanya tempat parkir atau kamar mandi yang khusus disediakan untuk difabel, tapi juga bisa dilihat di restauran cepat saji misalnya yang menyediakan meja-meja khusus untuk mereka dan juga di kolam renang ada alat yang khusus untuk membantu mereka bisa turun ke kolam renang, jadi kaum difabel pun bisa melakukan kegiatannya. Buat saya, kota atau negara yang bisa memperhatikan kepentingan kaum minoritas seperti kaum difabel, membuat saya tenang dan merasa nyaman.
Sistem Perpustakaan
Sebagai ibu dengan anak kecil yang suka buku, saya suka dengan sistem perpustakaan di Montgomery County Maryland, di mana saya tinggal. Tidak hanya koleksinya yang beragam, juga dalam sistem pelayanan yang sangat memanjakan konsumen. Administrasi keanggotaan yang gratis dan kita bisa meminjam buku di berbagai perpusatakaan yang tergabung dalam Montgomery County Public Libraries (MCPL) yang terdiri dari sekitar 21 perpustakaan di wilayah itu.. Dalam sekali peminjaman, maksimal buku yang bisa dipinjam atau kita pegang adalah 100 buku atau CD, dan sekali meminjam kita bisa meminjamnya selama 3 minggu untuk kemudian jika buku tersebut tidak ada yang memesan, kita bisa perpanjang lagi secara online sebanyak maksimum 2 kali. Dan pada saat mengembalikan, kita tidak harus mengembalikan buku tersebut ke perpustakaan yang kita pinjam tapi bisa dikembalikan di perpustakaan manapun yang masih berada di bawah MCPL.

Sara sedang antri untuk self checkout

Salah satu perpustakaan yang tergabung dalam MCPL di Kota Rockville. Seperti hotel ya..!
Selain itu yang menyenangkan di AS ini adalah sistem yang diterapkan dipatuhi dan berjalan dengan baik. Ini juga yang menjelaskan bagaimana lalu lintas di jalan raya bisa berjalan dengan tertib dan lain-lainya. Jadi peraturan memang dibuat untuk dipatuhi bukan untuk dicari-cari kelemahannya sehingga bisa dilanggar.
Kesan tentang Orang Amerika
Orang-orang Amerika walaupun mereka mungkin terlihat individual mereka sebenarnya cukup penolong dan perhatian kepada orang lain dan lingkungan mereka.
Mereka juga cukup ramah. Walaupun mungkin cuma basa-basi namun siapa yang tidak senang ketika setiap saat kita ingin membayar di kasir di supermarket sang penjaga akan selalu menanyakan “How are you today?” dan pada saat akhir sang penjaga akan berkata “Have a good day”. Senang sekali ada yang mengharapkan bahwa hari kita happy dan indah. Saking seringnya mendapat salam seperti ini di supermarket di sini dan suatu saat pergi ke supermarket yang dikelola oleh warga Asia masih di AS juga dan saat di kasir sang penjaga kasir boro-boro mengatakan how are you, menoleh pun tidak, cuman sibuk mendata harga barang belanjaan kita, rasanya bagaimana gitu… 😉
Namun yang paling menyenangkan buat saya berada di AS ini adalah bagaimana kami bisa menikmati alam Amerika dengan mengendarai mobil sendiri tanpa harus kejebak macet dan polusi di jalan. Setelah tinggal selama 6 tahun di Jakarta dan 4 tahun di Bangkok di mana kami biasanya menghabiskan weekend di rumah atau di mall karena tidak mungkin bisa menikmati perjalanan dengan naik kendaraan dalam suasana kemacetan, baru di AS inilah kami bisa merasakan nikmatnya naik mobil, walaupun awalnya tanpa tujuan, namun akan selalu berakhir dengan melihat panorama alam yang indah. Alam Indonesia pasti tidak kalah indahnya, hanya saja kadang begitu sulit untuk menemukannya ketika kemacetan menghadang di mana-mana dan para pengendara lainnya tidak peduli akan tata tertib berlalu lintas.

Scenery from our car while roadtrippin’
Yang tidak mengenakkan dari tinggal di AS ini untuk saya adalah pada saat musim dingin yang berat. Salju memang cantik dan menyenangkan untuk beberapa saat. Namun jika sudah terlalu lama dan suhu terlalu dingin tidak akan asyik lagi. Pas musim dingin di Maryland suhu bisa drop hingga -4 F (-15 C) ditambah cahaya matahari yang sangat pendek, jam 4:30 PM sore sudah gelap. Cuaca yang dingin ditambah hari gelap begitu cepat kadang sukses bikin saya sedih, kangen balik ke Indonesia dan semakin kangen dengan keluarga.

Beberes tumpukan salju
Oh ya, hal lain yang tidak menyenangkan saat berada di luar negeri adalah jauh dari keluarga besar kita di Indonesia. Sedih ketika pada acara-acara khusus kita tidak bisa datang apalagi jika ada keluarga yang sakit. Sedih dan sering merasa bersalah, karena tidak bisa menemani, hanya bisa lewat skype dan whatsapp.

Halaman belakang rumah saat musim salju
Kebiasaan Orang Amerika
- Kecuali mungkin dia adalah Presiden atau orang super kaya, orang Amerika biasanya ngurus rumah tangganya sendiri, alias ngga ada pembantu, karena biaya untuk pembantu atau tukang-tukang ini juga cukup besar. Jadi dari masak, ngasuh anak, kerja, jemput anak, berkebun, bertukang biasanya semuanya dikerjakan sendiri. Buat yang terbiasa ada pembantu di Indonesia, melihat kenyataan ini awalnya mungkin susah tapi lama-lama malah bikin kita jadi mandiri kok.

Bayar tukang mahal: jadi gotong royong sekeluarga buat ngecet pagar 🙂
2. Di sini ada kewajiban tidak tertulis untuk ngasih tips di restaurant jika kita puas dengan pelayanan yang diberikan.
3.Anak-anak remaja walaupun dia berasal dari keluarga kaya, mengambil kerja sambilan di toko-toko, restaurant, atau di tempat lain untuk mendapatkan tambahan uang saku, dan ini bukan hal yang memalukan.
4.Return policy. Jadi kalau beli barang ternyata tidak sesuai, dalam jangka waktu tertentu (biasanya 1 – 3 bulan untuk barang-barang yang bukan dikonsumsi ) barang tersebut bisa dikembalikan lagi dan uang akan dikembalikan asal melampairkan bukti pembelian. Dan pada saat mengembalikan barang pun kita sama sekali tidak dipersulit, tidak ditanya bertele-tele.
5. Free refill, di berbagai chain restaurant, minuman bisa diisi sendiri dan nambah sendiri, dengan gratis.
6. Restaurant biasanya memberikan krayon dan kertas mewarnai/ menggambar untuk anak2 supaya anak-anak tidak rewel di rumah makan
7. Keamanan dan keselamatan anak sangat diperhatikan, secara detail misalnya ada peraturan sampai usia atau berat tertentu seorang anak harus menggunakan car seat saat duduk di mobil untuk keselamatan sang anak dan mereka yang tidak mematuhi akan beurusan dengan hukum. Namun sayangnya, undang-undang untuk keselamatan anak ini pun tidak maksimum karena berbenturan dengan undang-undang lainnya seperti begitu mudahnya orang mempunyai senjata api, yang berujung pada banyaknya anak ataupun orang dewasa yang meninggal karena korban senjata api yang digunakan dengan tidak bertanggung jawab.
8. Menjadi anjing di Amerika tampaknya lebih beruntung dibanding di negara lainnya, karena anjing di sini sangat disayang dan dianggap sebagai anggota keluarga sendiri. Di Supermarket ada khusus aisle untuk keperluan anjing, dari makanan hingga mainan untuk anjing.
Anjing juga di sekolahkan sehingga dia bisa berperikeanjingan yang baik Ada semacam bed and breakfast untuk anjing, jasa penitipan anjing ketika tuan rumah harus bepergian. Tapi pada saat yang sama juga, si tuan yang punya anjing harus bertanggung jawab terhadap anjingnya termasuk mengambil kotoran anjing tersebut sehingga tidak akan terinjak orang lain.
Komunitas Indonesia di DC
Agar Sara dekat dengan akar budaya Indonesia, selain berusaha mengajak Sara berbicara bahasa Indonesia (hal yang cukup menantang karena walaupun dia kadang mengerti apa yang saya sampaikan kepadanya dalam Bahasa Indonesia, dia jarang menjawab dalam Bahasa Indonesia dan maunya hanya Bahasa Inggris) saya juga sering mengajak dia ke berbagai acara yang melibatkan masyarakat Indonesia seperti acara 17 Agustusan dan acara-acara lainnya yang biasa diadakan di KBRI. Kebetulan di Washington DC juga ada organisasi yang dibangun untuk memperkenalkan anak-anak Indonesia di AS dengan budaya Indonesia yaitu Rumah Indonesia yang kebetulan beberapa pendirinya adalah teman-teman saya juga. Organisasi ini cukup banyak mengadakan kegiatan untuk mendekatkan anak-anak Indonesia di DC terhadap budaya Indonesia.

Little Indonesia at Montgomery Festival – we’re ready for the parade!
Bersama Maya Sutoro dalam acara Membentuk Identitas Anak Indonesia yang berasal dari dua budaya yang berbeda yang diadakan oleh Rumah Indonesia, Juni 2015 di KBRI Washington DC.
Salah satu upaya supaya Sara bisa mengenal kebudayaan Indonesia adalah dengan mengajaknya ke acara budaya Indonesia, seperti saat pagelaran Wayang Sutasoma di KBRI di mana saya dengan teman-teman Banjar Bali USA diminta untuk ikut menari, Januari 2015:
Saya juga senang di Washington DC ada sejumlah keluarga yang juga berasal dari kampung halaman saya, Bali. Walaupun jumlahnya tidak banyak namun komunita BanjarBaliUSA ini (www.banjarbaliusa.org) cukup lumayan untuk obat rindu kampung halaman dengan kegiatan-kegiatan yang kita lakukan seperti kumpul-kumpul saat hari raya. Senang juga bisa mendengar canda gurau dalam Bahasa Bali yang pernah begitu akrab ketika saya besar di Bali, dan ini bagus buat putri saya untuk mengenal lebih dekat bahasa dan budaya dimana ibunya berasal (Walaupun buat sang Ibu sendiri bisa melepas kangen dengan makanan khas Bali yang jarang bisa dinikmati selama di Amerika, adalah juga sesuatu banget dalam cara kumpul-kumpul ini).

Om Swastyastu dari Washington DC

Upacara Galungan

Sara dan Banjar Bali
Selain menjadi ajang kumpul-kumpul warga Bali, Banjar Bali juga aktif membantu KBRI dalam acara pengenalan seni budaya Indonesia di AS, seperti misalnya melalui penampilan tarian Bali dalam berbagai acara di Amerika.
Banjar Bali ikut berpartisipasi dalam peresmian Patung Saraswati di Washington DC oleh Mantan Presiden SBY (26 September 2014)
Walaupun jauh dari kampung halaman, tidak berarti kami melupakan tradisi kami, dan kami berusaha untuk selalu dekat dengan akar budaya kami untuk memastikan anak-anak kami yang tidak besar di Bali/ Indonesia untuk selalu ingat akan akar yang juga membentuk identitas mereka. Itulah juga yang menjadi latar belakang kami melakukan acara Dharma Shanti warga Banjar Bali dalam memperingati Nyepi (liputannya bisa dilihat di sini).
Selain Banjar Bali, banyak komunitas dari berbagai suku/ adat Indonesia di Washington DC, seperti Rumah Gadang USA, Parsadaon Bangso Batak, Kawanua USA, House of Angklung, dan berbagai komunitas lainnya yang ikut melestarikan budaya tanah air di Amerika.

Sebelum tampil berfoto dengan teman-teman dari Rumah Gadang USA

House of Angklung Washington DC concert (Courtesy: House of Angklung).
—-
All pictures are courtesy of Ika Inggas and family, otherwise stated.
Hai kak,
Nama saya Avelline saya mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara.
Sebelumnya saya ingin bertanya apakah pasangan kakak adalah orang Amerika atau bukan ya?
Saat ini saya sedang membuat skripsi mengenai mindfulness pasangan suami isteri berbeda budaya (Amerika-Indonesia).
Saya butuh sekali narasumber yang bisa saya teliti untuk skripsi ini.
Apabila kakak berkenan apakah boleh bila sewaktu-waktu nanti saya mengajukan sedikit pertanyaan untuk kakak dan pasangan? Apabila kakak berkenan mungkin bisa contact saya via whatsapp: 087771222442 or email: avelline95@gmail.com
Thanks before 🙂
LikeLike
Tulisan yang menarik .. mb ikaaaa dalam mendokumentasikan dan menggambarkan suasana membawa yang baca jd ikut menikmati .. dan mba ika seruuu cerita rantauannya .. mb ikaa berapa lama buatnyaa .. mb ikaaa tulisan selanjutnya apaaa .. aku sukaa banget dokumentasi mb ika tentang keluarga kecil dan doc sara kecil yg sll diceritakan tentang apa sajaa hehe .. maapin ya tante ipi blm pnh ketemu sara lgs hehehe
LikeLike
Tulisanx keren…dan menarik. Mba ika ada beberapa hal yg ingin sya tanyakan kebtulan pacar sya tgl di maryland (LDR) dan kami berencana menikah. Klo mba ika gg keberatan sya mhn mba mw memberikan alamat email mba. Email sya keish.gisela@gmail.com. tks
LikeLike
Hello Mbok Ika Inggas ….
Salam kenal , saya Ami dari Bali juga . Saya menikah ke Albania . Kami menikah di Bali . Sekarang Kami berdua tinggal di Albania dengan usaha kecil games Xbox One bersama suami . Jika mbo Ika tak keberatan hub say di email : tommy2799@hotmail.com
Saya juga penari Bali tradisional juga suka bikin tarian seta praktisi yoga.
Sukses dan Rahayu …
Ami & Tommy
LikeLike
Sis Ika Inggas.. menarik sekali ceritanya.👍❤ Menyenangkan.. One day saya mau jalan2 ke Washington DC. Boleh mampirkah? Yang menyenangkan main ksana pada bulan apa?
LikeLike
Mantap artikelnya.
LikeLike
Dear Ika,
Nice to read your life story here. I am the newcomer here in Maryland. I am from Padang Indonesia . I do need to communicate with u. Pls do reply my email Salam to your husband and sweet girl Sara.
Regard
Ruby
LikeLike