Merantau di Abu Dhabi

FiniGita Trifini  – Previous geophysicist in Schlumberger (Jakarta and Doha), now enjoying life in Abu Dhabi as a full time mom for Rafi (3.5 yo) and Fathir (9 months).

Pengalaman merantau: Aku tinggal di Abu Dhabi sudah 2 tahun, sebelumnya tinggal di Doha (Qatar) selama 2 tahun. Aku ikut suami yang kerja di sini. Kalau di Abu Dhabi gak bisa jadi resident, jadi harus selalu perpanjang family visa setiap 2 tahun. Untuk mengurus visa ke sini bisa langsung ke Embassy di Jakarta.

Established in December 1971, the country UAE (United Arab Emirates) is a federation of seven emirates; Abu Dhabi (which serves as the capital), Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, and Umm al-Quwain.

Anak aku yang pertama lahir di Qatar, dan yang ke-2 baru lahir di Abu Dhabi. Anak yang lahir di sini tidak mendapat benefits apa-apa dari pemerintah. Tapi selama setahun pertama bisa mendapatkan vaksin gratis di rumah sakit tertentu. Dan di sini tidak bisa dual citizenship, terhitungnya tetap sebagai Warga Negara Indonesia, meskipun lahir di Abu Dhabi atau yang sudah puluhan tahun tinggal di sini pun tidak bisa jadi warga negara sini. Di sini mungkin sekitar 70% penduduknya adalah pendatang, penduduk lokalnya sedikit.
At Sheikh Zayed Mosque

At Sheikh Zayed Mosque

Yang paling disukai dari tinggal di Abu Dhabi itu, salah satunya gak ada macet, hihi. Terus orang Indonesia di sini lumayan banyak, jadi enggak terlalu merasa kesepian. Kotanya juga enak, di Abu Dhabi ini termasuk (Alhamdulilah) aman, jadi aku kalo bawa anak-anak jalan ke mana-mana itu nyaman.
Piknik menunggu kembang api di peringatan 43rd Anniversary UAE..!
Waktu tinggal di Doha, aku ikut perkumpulan ibu-ibu yang suka nari (kebetulan memang baru dirintis), lumayan banyak peminatnya, bahkan yang belum bisa nari pun bisa ikut nari. Ada juga grup angklung. Karena aku dulu pas kecil suka nari Bali, jadinya aku ikut nari deh, lumayan bisa merasakan manggung di Qatar Foundation. Kalau di Qatar, kita biasanya latihan di KBRI, atau di rumah teman. Sekarang di Abu Dhabi, ternyata tidak ada sanggar tari, tapi waktu itu aku diminta untuk ngajar tari pendet untuk anak-anak yang mau pentas acara indonesia festival di KBRI, lumayan mengobati rasa kangen menari..hehe.
Grup tari dan angklung di Qatar (Image: Pajar R. Achmad)
Yang tidak disukai di sini…mm apa ya, mungkin kalau bawa mobil di sini harus ekstra hati-hati karena orang-orang di sini kalau nyetir pada ngebut banget…! Dan kemana-mana harus pake mobil (di sini harga mobil relatif lebih murah dibanding di Indonesia), kendaraan umumnya gak kids friendly. Mungkin karena aku tinggal agak jauh dari kota, sekitar 20 menit dari pusat kota jadi susah. Paling pakai taksi, tapi kalau yang tinggal di pusat kota, bisa pake bus (tidak ada MRT di sini).

Yas Marina Circuit (Image: Abduzeedo.com)

Mengurus SIM Nah, kalau mau nyetir di sini, kita harus punya SIM UAE, gak bisa pake SIM Indonesia. Karena aku dulu pas tinggal di Qatar gak nyetir dan cuma punya SIM Indonesia, jadinya harus ikut teori course,teori test dan road test, kalau udah punya SIM Qatar bisa langsung road test aja. SIM Indonesia pun dilihat sama mereka, kalo baru buat SIM Indonesia (maksudnya baru nyetir setahun di Indo misalnya), harus ikut proses yang lebih panjaaang lagi…bener-bener panjang…!
Sistem pembuatan SIM di sini: aku harus ikut teori course selama 8 jam, terus test teori…Alhamdulilah langsung lulus. Setelah itu daftar untuk road test (biasanya sebulan setelah teori test). Deg-degan banget pas road test, karena kata orang-orang di sini susah banget untuk bisa langsung lulus road test…..nasib-nasiban juga sih sebenernya. Sebelum road test, aku belajar nyetir sekitar 2 kali untuk membiasakan stir kiri (kebalik sama di Indo). Pas Hari H road test, aku udah berdoa aja pasrah dan dikasih tips and trik sama temen-temen di sini. Alhamdulilah banget langsung lulus..! Soalnya banyak juga yang udah jago nyetirnya tapi malah gak lulus, gak jelas juga kenapa gak lulus. Karena kalo gak lulus, kita harus melakukan course lagi, prosesnya panjang dan lumayan mahal. Untuk proses dasar aja seperti yang aku ambil bisa menghabisakan 1200 Dirham (sekitar 3.6 jt IDR) ,mahal yah 😦 Begitulah proses di sini, gak bisa bayar-bayar seenaknya, ada peraturannya.
Tips kalo mau road test : berdoa, tetep tenang, pas start mobil, langsung di gas aja sampe kecepatan 80 km/jam..! Karena di sini mobil tuh cepet semua, kalo terlalu lambat malah gagal di testnya (tapi tetep harus hati-hati ya), liat spion jangan lupa. Ketika road test, akan ada ada 2 polisi yg ngetest: duduk di depan dan di samping belakang, dan test nya cepet banget, kadang cuma 5 menit udah disuruh stop.

Abu Dhabi at night (Image: Pictures Depot)

 Tempat belanja groceries: biasanya kami ke supermarket seperti LULU atau Carefour ada juga Abu Dhabi COOP, di situ lengkap, semua ada, tapi kalo mau cari kemiri, terasi ato teh botol..hehe..bisa ke minimarket indonesia tapi jarang juga sih ke situ, paling biasanya borong bumbu-bumbu banyak pas pulang ke Indonesia, lumayan buat stok di Abu Dhabi, hehe. Lalu ada minimarket disini namanya South East Asia Trading, cuma 1 di sini, tapi sekarang lagi tutup sementara,huhu. Di sini kalau mau buka toko harus ada standard dari pemerintah UAE, kalo enggak…langsung ditutup tokonya. Bagus sih, menurut aku, karena berarti semua toko di sini harus memenuhi standard seperti kesehatan, kebersihan, kualitas makanan,dll.
Kalau kangen makanan Indonesia kita bisa ke resto Bandung dan Sari Rasa. Kayaknya aku sekeluarga hampir tiap minggu ke sana..hehe. Apa aja ada di situ; dari bakso, batagor, makanan padang, martabak manis, ketoprak (itu yg biasa kita pesen), dll.

Bandung Resto (image: mealadvisors.com)

Untuk tempat jalan-jalan: Di sini lebih banyak mall dibandingkan museum atau science center, di mana-mana mall, bahaya juga buat ‘kantong’,hehe. Biasanya kalo weekend kita sekeluarga ke park atau ke Corniche, berenang di pinggir pantai gitu atau barbeque di park bareng temen-temen, tapi itu bisanya kalau musim dingin aja. Kalau pas summer, terlalu panas buat main di luar. Di sini ada museum tapi sepiii banget dan gak ada yg dateng, science center juga gak ada, paling kalo winter baru banyak acara kaya science for kids,dll. Ohya, kalau mau kumpul dengan Ibu-ibu lain dan anak-anak bisa bersosialisasi, bisa lihat di Abu Dhabi Mums untuk kegiatan (bisa indoor dan outdoor) dan bisa jadi volunteer juga. Untuk mall bisa ke Yas Mall atau Marina Mall Abu Dhabi – itu paling lengkap, tapi kalau mau lebih lengkap lagi tinggal ke Dubai 2 jam saja, lengkap banget deh disana..hehehe.

Abu Dhabi Corniche (image: crictours.com)

Ferrari Theme Park Abu Dhabi – The Largest Indoor Theme Park in the World – http://www.ferrariworldabudhabi.com

Tentang musim: di sini ada 2 musim: musim panaasss banget (kadang sampai 47 derajat Celsius May-Okt ), dan dingin (paling rendah sampai 13 derajat Celsius pas malem November – April). Kalau pas musim panas, kita bener-bener gak bisa ke mana-mana selain ke mall, dan biasanya kalo pergantian musim gitu, anak-anak pasti sakit; demam, batuk atau pilek, jadi kita harus sedia obat-obatan dan vitamin. Karena di sini panas kering (gak lembab kaya di Indonesia), kulit harus sering-sering pake lotion (yang biasa juga gak masalah, gak ada perawatan khusus), dan yang pasti banyaaaak minum air putih, itu harus banget. Kalau pas musim dingin, lumayan enak karena anak2 bisa main ke park atau ke pantai, tapi kalau udah sore anginnya dingin banget sampe harus pake jaket tebal. Aku lebih suka musim dingin karena banyak sekali kegiatan outdoor disini, seperti food festival, science festival, cruise festival, konser musik, mancing,dl. Tapi kalau musim panas bener-bener gak ada kegiatan, jadi semua orang ke mall.

Tentang penduduk lokal: Orang Abu Dhabi (biasa kita panggil orang ‘Emirati’) ramah-ramah, walau ada juga sih yg enggak. Tapi kebanyakan dari mereka ramah terhadap pendatang kok, mereka bisa mengenali orang Indonesia karena hampir 80 persen ART mereka orang indonesia..hihi. Di sini banyak sekali TKW dari Indonesia dan rata-rata yang menggunakan jasa tersebut orang Emirati 😀
Asisten Rumah Tangga: setahun pertama tinggal di sini, aku gak pake asisten, segala sesuatu diurus sendiri, tapi karena mau lahiran anak ke-2 (waktu itu), aku cari pembantu untuk ngurusin rumah tangga (anak full aku yg pegang). Tapi karena cari ART orang Indonesia mahal dan susah (ambil dari agen aja bisa sampai 11 ribu Dirham = IDR 33 juta), akhirnya aku pake pembantu dari Srilanka, lumayan cuma harus bayar visa kerja aja selama 1 tahun 7 ribu Dirham (mahal jga sih, huhu). Di sini cari pembantu itu bener-bener mahal dan ada peraturan tenaga kerja, jadi gak bisa kita gaji seenaknya, ada standarnya sendiri.
Untuk sekolah anak di sini ada 2: British school atau American school. Bahasa yang digunakan di sini adalah Bahasa Inggris, jadi gak usah khawatir kalau gak bisa bahasa Arab. Karena semua di sini komunikasi memakai Bahasa Inggris. Rafi anakku yg pertama sekolah di Stepping Stone Nursery, British nursery gitu karena rencananya pas umur 4 tahun mau disekolahin ke British School di Abu Dhabi (mudah2an masuk..amin 🙂 ).
Tips untuk yang mau hijrah ke UAE: Mungkin cara berpakaian, di sini diharuskan berpakaian sopan, meskipun tidak berhijab, kalau bisa jangan pakai pakaian yg seksi atau rok mini gitu, bahkan kalau kita masuk mall, ada tulisannya harus berpakaian sopan. Pertama kali pindah kesini, Alhamdulilah gak ada culture shock (mungkin karena hampir sama dengan di Doha, Qatar), cuma yaa kalo mau belanja jangan diconvert ke Rupiah, di sini semua serba mahal..lumayan shock juga sih awalnya, hehe. Biaya hidup agak mahal. Tapi segala urusan dari buat visa atau cari apartemen di sini mudah kok, semua peraturan jelas dan ada agennya, jadi lebih mudah.