Pengasuhan Anak di Finlandia

RikaRika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finlandia with two bilingual sons, a Finns husband, and trying (really hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Lain padang lain belalang, begitu kata peribahasa Melayu. Artinya budaya dan tingkah laku manusia selalu bervariasi tergantung tempat tinggalnya, termasuk juga dalam hal pengasuhan anak. Nah, berikut ini praktek-praktek pengasuhan yang menurut saya “Finlandia banget” yang bisa jadi sangat berbeda dengan pola pengasuhan anak di Indonesia (khususnya di Jakarta).

Equality. Prinsip kesetaraan adalah prinsip yang dianut sepenuh hati oleh bangsa Finlandia. Prinsip inilah yang mendasari pemberian Kela maternity box, daycare bersubsidi dan pendidikan gratis bagi seluruh penduduk Finlandia, untuk memastikan bahwa semua anak bisa memulai hidupnya dengan cara yang sama.

Wait, apa itu Kela Maternity Box? Saat usia kandungan Ibu memasuki minggu ke 34-36, Ibu hamil akan mendapatkan sebuah paket dari pemerintah bagian urusan sosial atau dikenal dengan Kela; Kela adalah penyedia jaminan sosial (social security benefits) bagi seluruh penduduk Finlandia. Paket apakah itu?  Kela maternity box adalah paket yang berisi segala kebutuhan bayi yang baru lahir dan diberikan kepada semua ibu hamil di Finlandia (tidak ada pandang bulu, si kaya atau si miskin). Menerima Kela Box ini serasa mendapatkan hadiah Natal (sebuah ungkapan, karena bener-bener bikin bahagia..!). Isi di dalamnya mencakup aneka perlengkapan bayi: mulai dari baju-baju segala rupa (onesies, romper, overall, legging), snowsuit, handuk, sleeping bag/quilt, mainan, sikat gigi, buku cerita, popok kain, dll. Ukuran bajunya pun bervariasi mulai dari ukuran 60-86, jadi bisa dipakai untuk bayi baru lahir sampai kira-kira umur setahunan. Beginilah penampakannya kira-kira jika dijajarkan:

For 75 years, Finland’s expectant mothers have been given a box by the state. Some say it helped Finland achieve one of the world’s lowest infant mortality rates.

Kai yang senang sekali melihat kela box untuk adiknya

Isi Kela box sama untuk semua orang, tidak ada perbedaan untuk bayi perempuan ataupun laki-laki, makanya variasi warna yang ada di dalam kotak umumnya netral semua; putih, kuning, hijau, abu-abu atau coklat. Isi barang-barangnya juga selalu sama setiap tahun, hanya saja Kela mengubah desain dan warna untuk setiap tahunnya. Jadi jangan heran kalo ngeliat bayi sini kok snowsuit-nya sering seragaman karena snowsuit pertama anak sini umumnya memang dari Kela. Ada kejadian ketika Kai masih bayi, saya pernah pergi ke acara bayi-bayian (semacam expo) di Helsinki. Di sana kami bertemu bayi-bayi lain dengan snowsuit yang sama dengan Kai, bukan cuma satu atau dua, tapi lusinan..! Lucu banget kalo mereka dijejerkan bersama. Seragaman, seperti rombongan sekolah bayi.

Kela Box yang saya terima untuk Sami

Nah, terus, yang juga sangat penting, adalah kotak paketnya sendiri. Kotak ini bukan sekedar jadi wadah barang tapi juga dipakai sebagai tempat tidur pertama bayi-bayi Finlandia. Bikin kita jadi bingung kan? Ini bayi atau anak kucing kok tidurnya di kardus? Menurut bidan sini, bayi yang baru lahir menyukai tempat yang kecil dan sempit, seperti di kandungan ibu. Baby crib sebenarnya terlalu besar untuk bayi dan sering bikin bayi kecil gelisah. Karena itu kotak kecil dari Kela ini memang ideal sebagai tempat tidur bayi. Sebelum dipakai kotaknya dialasi dulu pakai matras tipis dan selimut yang juga didapat dari Kela box.

Bayi di dalam Kela Box (ini bukan Sami ya)

Kotak Kela ini sudah beredar selama 75 tahun di Finlandia! Bener-bener sudah jadi bagian penting dari kehidupan rakyat sini. Mulai dari kakek-nenek, ayah-ibu dan anak-anak pernah merasakan tidur di dalam kotak Kela. Setiap modifikasi yang ada di kotak Kela pasti jadi bahan pembicaraan hangat karena memang isi kotaknya nostalgic sekali bagi masyarakat sini. Mulai tahun 2010 kemarin mainan kerincingan berwarna merah tidak disertakan lagi di dalam kotak Kela, pembahasannya sampai ada di koran dan TV segala. Sekarang mainan tersebut dianggap sebagai barang koleksi.

Kerincingan Merah

Kerincingan Merah

A 1947 maternity pack

Menidurkan Bayi dan Anak di Luar. Nah, bayinya kan tidur di kardus Kela. Trus kardusnya itu taro dimana? Umumnya sih di dekat tempat tidur orang tuanya. Tapi, sering juga kotak bersama bayinya itu diletakkan di balkon! Di luar! Orang Finlandia percaya udara segar membuat bayi tidur lebih nyenyak. Jadinya, jika udara lagi bersahabat, tidak hujan dan tidak terlalu dingin, bayi-bayi dibiarkan tidur di balkon atau di teras rumah. Dulu, mertua saya juga membiarkan Mikko (suami) tidur di balkon sementara beliau  menggeret kasur ke ruang tamu dan tidur dengan pintu terbuka.  Dibantu dengan hembusan angin musim panas yang sepoi-sepoi, Mikko slept like a baby di udara terbuka begitu  (ya, emang masih bayi, sih, yaaaaa).

Sudah jadi kebiasaan juga buat orang sini untuk mengajak bayi keluar setiap hari. Kadang sambil belanja, tapi tak jarang melihat mereka menggeret stroller sekedar untuk bawa bayi jalan-jalan sambil menghirup udara segar. Biasanya bayi-bayi lantas tertidur di strollernya. Nah, kalau bayinya udah ketiduran orang tuanya bisa mampir ke cafe, ke restoran, atau balik ke rumah sementara strollernya di tinggal di halaman. Lagi-lagi orang sini percaya kalau udara segar sangat baik untuk tidurnya bayi-bayi, jadi biarkan mereka tidur di luar lebih lama.

Praktek ini dilakukan di segala musim, termasuk juga di musim dingin. Tidur di suhu subzero (di bawah O derajat Celsius) bukan masalah..! Selama stroller dan pakaian bayinya tahan dingin. Dulu, ibu bidan pernah bilang ke saya bahwasanya selama suhunya tidak di bawah minus 15 derajat Celsius, masih baik untuk membawa bayi ke luar. Malahan bayi-bayi tambah nyenyak tertidur di udara dingin begitu. Jadi, jangan heran kalau di pinggir jalan atau di halaman rumah ada stroller bertengger sendirian berikut bayinya. Pemandangan yang cukup umum di Finlandia, terutama di Kerava, di tempat kami tinggal sekarang. Di Helsinki pun sering lihat stroller dengan bayi tertidur di dalamnya diparkir di pinggir sebuah cafe sementara orang tuanya mengawasi dari jendela.

Would you put your baby or toddler outside in the freezing cold for their lunchtime nap? Most Nordic parents wouldn’t give it a second thought. For them it’s part of their daily routine. (Nordic: Denmark, Finland, Iceland, Norway and Sweden)

Gak terbayang rasanya bisa meninggalkan bayi tertidur sendirian di jalanan Jakarta. Pasti orang tuanya sudah gila! Tapi hal tersebut mungkin dilakukan di Finlandia berkat situasi negaranya yang terbilang aman. Tingkat kriminalitas di sini relatif kecil terutama untuk kasus-kasus penculikan anak. Saya pun sering membiarkan Kai dan Sami tidur di halaman sementara saya menunggu dari apartemen kami yang ada di lantai dua. Tiap beberapa menit saya melongok dari jendela untuk memastikan apakah mereka sudah bangun. Jendela juga dibiarkan terbuka supaya saya bisa mendegar kalau mereka nangis.

Tidur di luar, tapi tetap diawasi lewat jendela

Tapi pernah ada kejadian menggemparkan di tahun 2009. Seorang bayi yang sedang tidur di luar hilang dari strollernya yang di parkir di halaman rumah. Satu Finlandia geger seketika. Panik! Gimana kalau mereka gak bisa menidurkan bayi di luar lagi? Ini kan udah jadi tradisi nenek moyang! Untungnya, bayi tersebut kemudian ditemukan beberapa jam kemudian, di gundukan salju. Ternyata ‘penculik’ nya adalah seorang anak perempuan usia 9 tahun yang lagi terobsesi main bayi-bayian. Niatnya cuma mau main-main tapi si anak panik ketika bayinya mulai menangis dan akhirnya melarikan diri setelah ‘mencampakkkan’ bayinya ke gundukan salju. Untung saja ada polisi yang kemudian mendengar tangisan si bayi dari gundukan salju dan si bayi pun selamat sebelum kedinginan. Berita penemuan bayi ini bikin warga Finlandia kembali lega karena kasusnya tidak dianggap sebagai kasus kriminal, tidak tergolong kejadian penculikan anak ataupun human trafficking. Tapi gak ada salahnya juga untuk lebih berhati-hati saat membiarkan bayi tidur di luar.

Haalari (Snowsuit). Saya pernah baca buku berjudul “How to Marry a Finnish Girl” dan di buku itu penulisnya berkomentar bahwa “Finnish kids are always, ALWAYS, in their overalls”. Selain di negara-negara Nordic, memakai haalari (aka snowsuit, aka winter overall) sepertinya memang tidak umum, kecuali untuk kegiatan tertentu seperti ski atau bermain air. Anak Finlandia memakai haalari setiap hari sejak musim gugur sampai musim semi yang berarti dari bulan September hingga April. Sekitar 8 bulan. Haalari dianggap lebih praktis ketimbang jaket biasa karena haalari lebih tahan air, tahan angin dan tahan banting. Haalari juga lebih melindungi anak dari udara dingin plus menjaga anak tetap bersih di acara main-main air atau salju.

Biasanya ada dua macam haalari yang harus dimiliki seorang anak: välikausihaalari (mid season haalari) dan talvihaalari (winter haalari). Välikausihaalari bahannya lebih tipis dan lebih ringan, cocok untuk cuaca yang tidak terlalu dingin di musim gugur atau semi. Di musim dingin barulah dipakai talvihaalari yang lebih tebal karena didalamnya ada lapisan thermal. Selain itu ada juga kurahaalari (rubber overall) yang lebih tahan air dan sangat cocok dipakai di musim hujan. Beberapa merk melengkapi haalari mereka dengan lapisan fleece biar kehangatannya lebih terjamin. Merk yang terkenal di sini adaah Reima yang merupakan merk asli Finlandia, dan merk-merk lain dari Swedia dan Denmark seperti Polarn O Pyret, Didriksons, Molo dan Ticket to Heaven. Selain haalari, anak-anak sini juga dilengkapi dengan pipo (beanie, topi kupluk), sarung tangan, long john berbahan wol, kaos kaki wol dan sepatu bot untuk menghadapi musim dingin. Banyak, yaaaaa, perlengkapannya.

Kai dan Sami dalam Haalari mereka

Kai dan Sami dalam Haalari mereka

Membeli Pakaian di Lastenkirppis. Waktu saya baru sampai di Finlandia dalam keadaan hamil besar, banyak sekali orang-orang sini yang memberi tahu dimana saya bisa beli pakaian bayi bekas. BANYAK! Saya sampe sedih. Segitu kentaranya, ya, muka melarat saya sampai beli barangnya cuma bisa yang bekas-bekas? Ternyata memang begitulah adatnya di sini. Untuk bayi-bayi, banyak orang tua yang lebih suka beli barang bekas ketimbang yang masih baru. Alasannya karena harga perlengkapan bayi tuh mahal-mahal banget padahal dipakainya cuma sebentar. Makanya pasar barang bekas laku sekali di sini.

Kirpputori Valtteri, Helsinki

Dalam bahasa Suomi, pasar barang bekas disebut sebagai kirpputori atau disingkat kirppis. Ada dua macam kirpputori di sini, kirpputori swalayan yang memang seperti swalayan/toserba di mana penjual menyewa sebuah meja dan meninggalkan dagangannya di meja tersebut. Sementara pembeli tinggal masuk ke kirppis, cuci mata dari meja-ke meja dan membayar barang yang disuka di kasir. Yang kedua adalah kirpputori dengan kontak langsung antara pembeli dan penjual, biasanya outdoor (di musim panas) atau di hall besar. Kirppis seperti ini biasanya cuma ada di waktu-waktu tertentu atau cuma di akhir minggu saja. Sistemnya penjual menyewa sebuah meja untuk kemudian membawa barang-barangnya dan berjualan langsung di situ. Di kirppis seperti ini bisa terjadi tawar-menawar, malah, di penghujung hari harga barangnya makin diobral.

Hietalahti kirpputori, salah satu kirpputori outdoor di Helsinki

Lastenkirppis adalah kirpputori yang khusus menjual perlengkapan anak-anak saja. Di Rekola, tiga stasiun dari Kerava, ada lastenkirppis yang terkenal dan cukup besar. Di sana ada puluhan meja dengan bermacam-macam barang, mulai dari baju-bajuan, sepatu, kaos kaki, buku cerita, mainan bayi, sampe pispot juga ada. Di sudutnya ada juga bagian khusus menjual peralatan besar seperti stroller dan tempat tidur bayi. Kondisi barangnya juga bermacam-macam mulai dari yang keliatan ‘bekas banget’ sampe yang masih baru lengkap dengan label harganya pun ada, tentunya dengan harga yang sudah dimiringkan.

Lastenkirrpis: toko barang seken khusus untuk anak-anak

Pertama kali berkunjung ke kirpputori saya masih males-malesan melihat barang-barang bekas begitu, akhirnya keluar tanpa beli apa-apa. Tapi makin hari saya malah semakin hobi dan semakin ahli pula untuk menemukan harta karun yang biasa terpendam di tumpukan barang-barang dekil, baik untuk diri sendiri ataupun anak-anak. Puas banget rasanya kalau bisa menemukan barang bagus tapi murah dari kirpputori…! Saking meriahnya pasaran barang bekas di sini, harganya juga gak murah-murah amat akibat demand yang terlalu tinggi. Sebagai bandingan, harga barang yang sama di ebay.co.uk suka lebih murah bahkan setelah ongkos kirim. Kalo begitu buat apa beli yang bekas? Beli yang baru aja dong sekalian? Tapi orang-orang sini kemudian akan mejawab: beli bekas tetap lebih bagus karena artinya kita berpartisipasi dalam proses daur ulang, mengurangi sampah, dan menjaga kelestarian bumi kita. Dan hatiku pun meleleh….Aaaaaaaaw. Hidup kirpputori!

Kecintaan Akan Ruang Terbuka. Ada yang bisa menemukan benang merah dari poin-poin yang ada di atas? Bayi yang tidur di balkon, stroller di parkir di halaman, haalari, dan baju-baju bekas? Jawabannya adalah: OUTDOOR. Ruang terbuka…! Sudah ketebak yaa kalo orang Finlandia suka banget sama udara segar dan ruang terbuka? Bayinya aja disuruh tidur di balkon begitu, gak takut digondol kucing apa ya?

“There’s No Such Thing As Bad Weather, Just Bad Clothing” –  semacam prinsip yang dipegang oleh orang Finland.

Bahagia itu sederhana :)

Nah, menurut anjuran ahli kesehatan di sini, bayi dan anak-anak harus dibiarkan di udara terbuka minimal 2 jam sehari. Makanya sudah jadi rutinitas orang tua sini untuk membawa bayi dan anaknya jalan-jalan keluar. Bisa sekedar muter-muter sambil dorong stroller atau sekalian bawa anak ke taman bermain. Di Finlandia memang banyak tersebar taman bermain untuk anak. Seinget saya nih, untuk daerah Kerava, pengaturan kotanya melingkupi: minimal ada 1 taman bermain dalam radius 400 m dari tiap tempat tinggal, 1 daycare dalam radius 500 m dan 1 sekolah dasar dalam radius 1 km. Dalam radius 1 km dari rumah kami sepertinya ada 6 taman bermain untuk anak-anak. Gak besar dan nothing fancy, tapi kalo dibandingkan dengan yang ada di Indonesia sudah mencukupi sekali.

marizkarima_14

Di päiväkoti (daycare) anak-anak juga dibiarkan main di luar, dua kali dalam sehari. Pagi-pagi setelah sarapan dan sore setelah tidur siang. Mau panas, dingin, atau hujan, tetap saja halaman päiväkoti ramai dengan anak-anak. Kalau hujannya deras, baru deh mereka ‘disimpen’ di dalam kelas. Dan kalau sudah di luar,….ampun dijeeeee…Anak-anak sini mainnya ganas! Guling-gulingan di salju, loncat-loncat di kubangan air, tidur-tiduran di bak pasir, bergumul di tanah berlumpur, pokoknya pulang ke rumah dijamin kotor, tor, tor, tor. Kalau sepatu Kai dibuka isinya pasir semua.

Kotor-kotoran itu biasa…!

Nah, ngerti kan sekarang kenapa lebih praktis pakai haalari ketimbang jaket-jaket trendy seperti Parisian kids? Jantung saya pasti copot kalo melihat jaket wol dipakai buat main lumpur. Haalari yang terbuat dari bahan poliester lebih tahan banting buat main basah-basahan dan kotor-kotoran.

Kegiatan bermain di alam terbuka yang sangat dicintai oleh orang Finlandia

Orang tua di Finlandia memang lebih permisif dalam hal kotor-kotoran begini. Bayi-bayi dibiarkan berguling di rumput di musim panas, kalau sekali-sekali rumputnya kemakan atau tanahnya dijilet sedikit ya gak masalah. Anak-anak juga diharapkan sudah makan sendiri sejak umur 1 tahun, jika bajunya kotor dan rumah juga ikutan kotor ya gak masalah, yang penting anaknya belajar untuk lebih mandiri. Makanya ada temen bule saya yang bilang “Anak-anak cukup dikasih pakaian bekas aja, orang cuma buat dikotor-kotorin kok”.

seerika_31

Di hutan kecil di dekat rumah

Di hutan kecil di dekat rumah

Kembali ke udara terbuka, ada banyak kegiatan outdoor yang bisa dilakukan di sini. Dari mulai usia päiväkoti anak-anak dibiasakan untuk retki (outing) alias jalan-jalan ke hutan, ke taman atau empang kecil buat kasih makan bebek setiap minggu. Ada juga päiväkoti yang punya program bersepeda, ski, dan ice skating. Yang jelas pergi keluar dan bermain dengan alam jadi kegiatan rutin orang Finlandia yang sudah diterapkan sejak anak-anak. Dan hutan adalah bagian yang sangat penting dari alam Finlandia. Orang sini bangga sekali akan hutan mereka.

“Retkellä rannalla” jika diterjemahkan: perjalanan ke pantai, salah satu bentuk kegiatan retki

Di hutan anak-anak diajarkan tentang jenis-jenis arbei dan jejamuran yang merupakan kekayaan hutan Finlandia. Pulang dari retki, Kai dan Sami sering bawa oleh-oleh untuk Isi (ayah) dan äiti (ibu) berupa ranting pohon atau daun-daun kering yang mereka ambil di hutan.

Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak di Finlandia. Negara Nordik sangat terkenal dengan prinsip keseteraan gendernya dan Finlandia hampir selalu berada di posisi teratas dalam daftar negara-negara dengan kesetaraan gender terbaik. Karena itu, gak heran kalau tugas-tugas membesarkan anak diemban dengan hampir sama rata antara ayah dan ibu. Saya bilang hampir, karena tetap ibu yang harus bertugas hamil, melahirkan dan menyusui. Tapi di luar tiga hal tersebut, segala hal tentang pengurusan anak  dilakukan bersama oleh  ayah dan ibu.

Mikko dan Kai berumur 2 hari

Mikko dan Kai berumur 2 hari

Kisah-kisah SAHD (stay at home dad) banyak terjadi di Finlandia. Hal ini memungkinkan karena setiap ayah di Finlandia berhak atas 18 hari kerja paid paternity leave sementara paid parental leave selama 158 hari kerja bisa diambil baik oleh ayah atau ibu atau di-share di antara keduanya. Dan banyak juga orang tua yang kemudian memperpanjang parental leave hingga anaknya berusia 3 tahun, usia yang dianggap ideal untuk masuk päiväkoti.

Di Finlandia tidak ada stigma negatif untuk ayah yang terlibat langsung dari pengasuhan anaknya. Wanita Finlandia juga tak segan-segan menunjukkan protesnya kepada ayah yang pemalas. Ditambah dengan  paternity leave dan parental leave yang memadai, ayah Finlandia punya cukup waktu untuk mendampingi anaknya sehingga mereka terlihat sangat terlatih dalam mengurus anak. Gak heran kalau Finlandia kadang disebut sebagai negara dengan ayah-ayah terbaik.

seerika_61 seerika_38

Ada berapa banyak SAHD di Finlandia? Sayangnya saya tidak menemukan statistiknya, tapi, hingga sampai saat ini parental leave lebih banyak diambil oleh wanita, apalagi untuk parental leave yang panjang hingga tiga tahun. Biarpun digadang-gadang sebagai negeri dengan kesetaraan gender terbaik, tetap saja di Finlandia masih ada ketimpangan antara pendapatan wanita dan pria. Pada umumnya gaji pria masih lebih tinggi dari wanita dan karenanya wanita lebih sering mengambil parental leave. Biar dapur tetap ngebul ya, bok.

Tapi, sebenarnya, di Finlandia sendiri istilah SAHD dan SAHM tidak banyak digunakan karena semua orang di sini, baik wanita maupun pria, umumnya bekerja atau sekolah. Orang-orang yang tinggal di rumah untuk mengurus anak di bawah usia tiga tahun disebut ‘sedang cuti’ atau ‘sedang mangambil parental leave’. Mereka yang masih di rumah ketika anaknya di atas tiga tahun biasanya disebut pengangguran. Haiish, kejam, ya?

Tapi memang begitulah kenyataan hidup di sini. Biaya hidup yang tinggi, dan wanita Finlandia yang menginginkan status independen, membuat semua orang harus bekerja, baik dari rumah atau pun di luar rumah. Tidak seperti di negara lain, dimana banyak label seperti full time mom/dad, working mom/dad, stay at home mom/dad atau work from home mom/dad, pelabelan seperti ini tidak ditemui di Finlandia. Kerja ya kerja aja, terserah mau dari mana, kek, ngurus anak ya jalan terus. Begitu mungkin menurut mereka.

Pikku Kakkonen. Pikku Kakkonen berarti Little Two dalam bahasa Inggris karena memang ditayangkan di channel 2. Ini dia serial TV anak-anak paling populer se-Finlandia. Program sepanjang satu jam di channel YLE 2 yang ditayangkan dua kali di hari kerja (jam 7 pagi dan jam 5 sore) dan sekali di akhir pekan (jam 8 pagi).

Logo Pikku Kakkonen yang pasti dikenali oleh setiap penduduk Finlandia.

Pikku kakkonen ini bagian dari masa anak-anaknya Mikko dan mertua saya, dan sekarang jadi bagian dari hari-harinya Kai dan Sami. Programnya berisi gabungan serial anak-anak yang sudah di dub dan judulnya pun sudah diganti ke bahasa Finlandia seperti Postimies Pate (Postman Pat), Arvaa Kuinka Monta Minä Rakastan Sua (Guess How Much I Love You), Kaapo (Caillou), Saara ja Sorsa (Sara and The Duck).

Arvaa Kuinka Monta Minä Rakastan Sua a.k.a “Guess How Much I Love You”

Kalo menurut saya, serial yang ditampilkan dipilih dengan hati-hati dan sangat sesuai untuk anak-anak. Gak ada konten kekerasan, humornya gak slapstik, dan ceritanya sarat tentang kekeluargaan atau tentang kehidupan anak sehari-hari. Selain itu ada juga konten lokal  yang temanya berganti-ganti, misalnya, tentang polisi lalu lintas, tentang kehidupan anak-anak di pedesaan, tentang hutan, tentang cuaca, dll.

Pembawa acara di Pikku Kakkonen bervariasi dari anak-anak, remaja, orang dewasa dan nenek-nenek. Biasanya mereka memakai baju warna-warni tapi dengan motif sederhana. Sambil membawakan acara mereka biasa bernyanyi dengan iringan gitar atau berprakarya kecil-kecilan.

Baru-baru ini ketika kami mudik ke Indonesia, Kai dan Sami rajin nonton Disney Junior di TV, salah satunya adalah acara High Five. Kalau dibandingkan Pikku Kakkonen yang nuansanya tenang dan ceria secukupnya, begitu ngeliat high five langsung puyeng. “Apa pula ini kok heboh banget?” begitu komentar Mikko. Dibanding Pikku Kakkonen acara anak-anak lain terasa terlalu gegap gempita. Warna-warninya bombastis dan cerianya berlebihan sampai terasa dipaksakan. Orang Finlandia memang menjunjung tinggi kesederhanaan dan ketenangan. Saya sendiri sepertinya  sudah terlalu lama tinggal di Finlandia karena setelah rajin nonton Pikku Kakkonen, nonton High Five langsung bikin ilfil.

Jyrki dan Neponen, dua tokoh yang sering muncul sebagai pembawa acara di Pikku Kakkonen

Vauvauinti. Alias kelas berenang untuk bayi. Bayi-bayi usia 3 bulan hingga 1 tahun di Finlandia biasanya diikutkan ke kelas vauvaunti yang walaupun artinya berenang bayi tapi pada kenyataannya bayi-bayi tidak lantas jadi jago berenang di sana. Saya sempet kecele, saya pikir setelah vauvauinti, Kai, yang waktu itu usianya 4 bulan, bakal jadi perenang handal, bisa ngebut berenang dari ujung ke ujung. Ternyata gak, tuh. Tujuan vauvauinti rupanya bukan untuk mengajarkan bayi berenang. Yang ingin dicapai di sini adalah perkenalan bayi dengan air dan kegiatan air. Jadi isinya ya cuma main-main di air saja.

4 month old Kai in vauvauinti

4 month old Kai in vauvauinti

Orang sini percaya kalau air adalah habitat kedua buat bayi. Selama 9 bulan, kan, bayi-bayi sudah berenang di air ketuban ibunya. Bayi yang baru lahir biasanya sangat mencintai air karena mengingatkan mereka akan perasaan nyaman di dalam perut ibu. Semakin kecil bayinya, semakin sedikit ketakutan mereka akan air, semakin gampang untuk diajak menyelam ke dalam air. Kalau bayi diajarkan menyelam sejak dari kecil, nantinya mereka akan lebih mudah diajarkan berenang.

Vauvauinti biasanya diadakan di kolam renang yang dalamnya kurang dari 1m dan suhunya sudah dipanaskan ke 32 derajat Celcius. Bayi-bayi berenang sambil digendong ibunya, ayahnya, atau keduanya. Di kolam kegiatan dimulai dengan bernyanyi dan bermain air di dalam lingkaran, setelahnya bayi-bayi diajarkan untuk mengepak-ngepakkan tangan dan kakinya, memutari kolam sambil bergelayut di tangan orang tuanya, dan menyelam di dalam air selama beberapa detik, bahkan kadang dilepas untuk melayang sesaat di dalam air.

Circle time vauvauinti

Circle time sebagai pembukaan dan penutupan di tiap sesi vauvauinti

Sikap yang Cenderung Santai Terhadap Pendidikan. Pendidikan sudah pasti jadi bagian yang sangat penting dalam pengasuhan anak. Satu dekade belakangan ini sistem pendidikan Finlandia menggemparkan dunia karena dianggap berhasil menghasilkan anak-anak yang berprestasi dengan kurikulum yang sangat santai dan tidak membebani anak. Anak-anak Finlandia mulai sekolah di usia 7 tahun, usia yang mungkin dianggap terlambat di negara lain,  dan di usia itulah mereka baru akan belajar membaca dan berhitung secara formal.

Mulai tahun 2015 ini ada peraturan baru yang mewajibkan setiap anak umur 6 tahun untuk ikut esikoulu atau preschool. Esikoulu biasanya berupa sebuah kelas khusus di päivökoti, di sana anak-anak diajarkan tentang angka dan huruf dan tentang kegiatan bersekolah. Bahwa di sekolah anak-anak harus duduk dan tidak boleh lari-larian di kelas, bahwa di sekolah akan ada guru yang berbicara dan harus didengarkan, dsb. Kegiatan membaca dan berhitung tetap dimulai ketika anak-anak masuk sekolah dasar. Sebelum usia sekolah (maupun esikoulu) anak-anak ditempatkan di päiväkoti atau perhepäivähoito yang kalau diterjemahkan artinya kira-kira ‘daycare’. Di päiväkoti kegiatannya ya cuma main, main dan main tanpa ada kurikulum khusus. Sungguh berbeda dengan tuntutan di Jakarta dimana anak-anak TK sudah harus bisa membaca, menulis dan bahkan berhitung.

Sudut kelas Esikoulu

Sekolah anak Finlandia terkenal santai, banyak liburnya, jam istirahatnya panjang, dan PRnya sedikit. Pendidikan di Finlandia ditujukan untuk menghasilkan generasi yang mandiri dan bisa bepikir sendiri, karena itu keterlibatan orang tua dalam proses belajar mengajar tidak banyak dituntut, bahkan bisa dibilang sangat minim. Pelajaran di sekolah  disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak di usianya sehingga anak-anak diharapakan bisa mengerjakan PR-nya  tanpa bantuan orang tua. Kegiatan yang melibatkan kehadiran orang tua di sekolah juga sangat jarang, palingan untuk ambil rapor atau menonton pertunjukkan akhir tahun. Gak banyak acara bazar-bazaran, prakarya bersama, atau seminar ini itu. Tanya deh sama orang tua Finlandia yang pernah tinggal di Amerika, katanya di Amerika mereka kewalahan menghadiri kegiatan sekolah anaknya.

Perbandingan di Finlandia dan Amerika: PR dan waktu istirahat anak

Orang Finlandia sangat mengagungkan kemandirian, karena itu sejak kecil anak-anak sudah diajarkan untuk mandiri. Mulai dari belajar makan sendiri di umur satu tahun, belajar pakai haalari sendiri di päiväkoti, dll. Anak-anak harus mengerti bahwa keberhasilan dan kegagalan yang mereka capai adalah hasil perbuatan mereka sendiri. Keberhasilan di sekolah adalah tanggung jawab si anak pribadi, bukan orang tuanya.

Tidak ada ujian – hanya sekali-dua kali sepanjang masa sekolah

Sekolah di Finlandia juga minim ujian. Ujian-ujian kecil tetap ada tapi ujian besar seperti UN cuma berlangsung sekali-dua kali sepanjang masa sekolah mereka. Penilaian dari guru juga umumnya bukan berbentuk nilai. Rapor sekolah biasanya berisi keterangan apakah si anak lulus atau tidak lulus di tiap mata pelajaran. Tapi tiap guru tau benar akan kemampuan masing-masing muridnya. Gak jarang guru membuat soal ujian yang berbeda tingkat kesulitannya untuk siswa tertentu. Murid-murid diharapkan bersaing dengan dirinya sendiri di sekolah, bukan dengan orang lain. Sistem pendidikan di Finlandia memang jauh dari kompetitif. Tiger mothers dan tiger fathers adalah mahluk langka di negara ini.

Peran guru juga sangat dihargai

Balik lagi kepada prinsip pertama: Kesetaraan. Perlu diingat bahwa tidak ada sekolah swasta di Finlandia (dan tidak ada universitas swasta) sehingga tidak ada sekolah elit atau universitas Ivy League yang lulusannya membentuk kelompok eksklusif di masyarakat. Semua sekolah di Finlandia dianggap sejajar secara kualitas.

Revolusi pendidikan di Finlandia dimulai di tahun 1970-an, dimana waktu itu cuma kalangan berada yang bisa mengakses pendidikan dengan kualitas baik di sekolah-sekolah elit. Setelah revolusi berlangsung, nama Finlandia mulai naik daun sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik. Bukan status itu sebenarnya yang ingin mereka capai melalui revolusi pendidikan. Mereka tidak ingin menjadi yang terbaik. Mereka cuma ingin menjamin bahwa semua rakyatnya bisa menikmati pendidikan tanpa pandang bulu. Bukan kompetisi yang mereka cari, melainkan kesetaraan. Equality and not competition.

Anak-anak di Finlandia memulai hidupnya dengan baju dari kotak Kela,  pergi ke sekolah negri dan menerima layanan kesehatan dari puskesmas. Ini adalah usaha pemerintah Finlandia untuk meminimalisir kesenjangan di masyarakat.  Kesenjangan tentunya tetap ada di antara individu tapi bisa dibilang sangat kecil dibanding negara lain seperti Amerika Serikat, UK dan banyak negara maju lainnya.

——

Untuk kisah lainnya tentang kehidupan di Finlandia, Rika menulis di http://seerika.wordpress.com/ atau untuk keseharian, bisa follow IG @seerika.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Rika dan keluarga – dan beberapa diambil dari URL yang terhubung langsung dengan image gambar. Diedit oleh: @chiceniza.

Merantau di Sydney

batch_5IMG_4578_Fotor Annisa Sarahayu (Nisa) – The Beatles lover, daydreamer, love to cook and write. I can sometimes get a bit too friendly, touchy-feely, and silly! My personality is kind of complex I guess. I take a lot of time to get used to new people – before I feel comfortable with them.

Nisa dan Keluarga. Saya mulai merantau di awal tahun 2014 ke Amerika Serikat untuk menyusul suami yang pindah untuk bekerja di salah satu perusahaan elektronik di kota San Francisco. Selang beberapa bulan kemudian, suami mendapatkan  kesempatan  untuk melanjutkan studi Master di salah satu Universitas di Sydney. Maka pada bulan Agustus 2014 yang lalu, kami sekeluarga hijrah ke Sydney. Kami memiliki seorang anak laki-laki bernama Bazylio Sakha Harsono (Bazyl ) yang saat ini berusia 2.5 tahun.

batch_5IMG_0828

Bersama keluarga

Visa Australia untuk Keluarga Mahasiswa. Saat ini status kami menggunakan student visa . Dengan visa tersebut, saya sebagai dependent diperbolehkan untuk bekerja full-time, pengecualian buat suami karena berstatus student hanya diperbolehkan untuk kerja part-time; yakni maksimal bekerja 20 jam per minggu, kecuali saat liburan summer dan winter baru bisa bekerja full-time (40 jam per minggu).

Sydney adalah ibukota negara bagian New South Wales (NSW). Warga Sydney dikenal sebagai “Sydneysiders” dan merupakan kota paling multikultural di Australia

Saat ini saya bekerja casual work di salah satu kampus di Sydney; maksud casual work di sini adalah untuk jadwal bekerjanya (baik hari dan jam) tidak tentu setiap minggunya, tergantung dari kebutuhan pihak kampusnya. Hal ini jadi lebih fleksibel dan menguntungkan juga buat saya, karena dengan sistem seperti ini saya bisa menyesuaikan dengan jadwal kuliah dan kerja suami serta jadwal Bazyl sekolah dan kegiatan dia lainya. Mungkin kalau Bazyl sudah agak lebih besar, baru saya mau ambil kerja full-time. Kami berencana ke depannya untuk apply sebagai permanent resident di sini, salah satu caranya adalah dengan membuat pengajuan melalui sponsor dari pihak keluarga atau perusahaan tempat bekerja, dengan syarat minimal tinggal 2 tahun terlebih dahulu di Australia. Doakan dapat ya ;p

batch_5IMG_1156

Kota Sydney diambil dari kapal ferry

Status Non-citizen. Dengan status kami yang yang masih non – citizen ini hampir tidak ada benefits apapun dari pemerintah setempat. Walau demikian, di sini tersedia program kesehatan gratis, seperti check-up kesehatan gigi anak di bawah usia 18 tahun yang diadakan oleh pemerintah negara bagian NSW, tepatnya di bawah Department of Human Services atau yang sering juga disebut Centerlink yang bekerja sama dengan komunitas di area atau suburb tempat kami tinggal. Diadakannya setiap 1 -2 bulan sekali. Cukup dengan membuat appointment melalui telepon terlebih dahulu dan jika sesuai dengan persyaratan eligibility-nya akan diminta untuk mengisi formulir yang sudah mereka siapkan.

batch_5IMG_4867

Salah satu health service dari Centerlink

Centerlink ini tidak hanya mengurusi kesehatan saja tapi mulai dari para imigran (legal) yang baru datang sampai masalah domestic family violence. Nah untuk masalah keringanan biaya pendidikan anak juga bisa diurus di sini: misalkan mau minta keringanan biaya buat daftar anak ke childcare. Hanya saja, syaratnya minimal sudah berapa tahun tinggal disini dan punya income history dll. Untuk program lain yang Centerlink tawarkan, bisa dicek di Web mereka.

Aerial view – bagian hijau adalah Royal Botanic Gardens dengan track untuk berolahraga

Tempat tinggal. Untuk tempat tinggal, kami cari sendiri dengan bantuan agent. Sebenarnya agak susah kalau mau sewa apartment apalagi kalau kita tidak ada referensi dan history pernah sewa sebelumnya di Australia, karena di sini  semua sewa/jual/beli properti harus menggunakan jasa agent. Terlebih lagi di sini biayanya mahal, kita harus punya surat jaminan, deposito, dan referensi keluarga atau kerabat. Kebetulan kami memiliki keluarga dekat yang sudah menjadi citizen dan bisa kami jadikan referensi/jaminan sebagai salah satu syarat  penyewaan apartemen disini. Alhamdulillah  kami bisa mendapatkan potongan harga sewa juga dan lokasi apartemen yang sangat strategis, dekat dari rumah keluarga, lokasi kampus, tempat kerja suami, tempat grocery dan pantai…! ;p

Suasana jalan di lingkungan kami

Suasana jalan di lingkungan kami

Lokasi tempat tinggal kami adalah di kawasan suburb, yaitu di daerah Maroubra. Lokasinya dekat sekali dengan pantai “Maroubra Beach” yang bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15 – 20 menitan, kalau naik bus yang berhenti di depan gedung apt, 5 menit juga sudah sampai..! Selain faktor yang sudah saya ceritakan di atas, kami kadung cinta dengan lokasi apartemen kami, terlebih mengetahui lokasi apartemen kami dekat banget dengan pantai dan KBRI, ahaha jadi kalau ada yang mau diurus tinggal “ngesot” nyampe deh ;p . Dan daerah kami juga tidak terlalu jauh  dari City, kalau naik bus hanya sekitar 20 menit juga sampai. Untuk range harga apartemen 1-2 bedroom di daerah sini berkisar dari $500week – $800week.

batch_5IMG_8647

Maroubra Beach

Lokasi Tempat Tinggal Idaman di Sydney. Saya dan suami suka sekali dengan daerah Surry Hills, daerah itu bagus banget..! Termasuk daerah yang “Trendy, artistic dan bohemian”, lalu banyak coffeeshop enak-enak, salah satunya Bourke Street Bakery yang terkenal dan termasuk must visit bakery before you die versi Buzzfeed. Tempatnya pun seru dan unik, kalau Anda dan keluarga termasuk coffee lover saya sarankan berkunjung ke Surry Hill. Di daerah sini juga banyak toko-toko atau pun butik-butik vintage lucu.

Beautiful Surry Hills

Beautiful Surry Hills

Vibrant colours

Selain itu, daerah North Sydney terutama Milsons Point. Di sana adalah daerah tempat orang-orang berada kulit putih di Sydney, termasuk lokasi rumahnya aktor Russel Crowe, Gubernur Sydney dan pejabat-pejabat sini. Di sana, setiap rumahnya pasti punya dermaga kapal sendiri, hehehehe. Kalau mereka mau ke City, ya tinggal naik boat atau nungguin kapal ferry yang lewat deh…! Untuk biaya sewa apartemen di kedua daerah tersebut, pastinya mahal sekali. Denger-denger, untuk 1 bedroom apt daerah North itu kisaran $4000 ke atas, karena view mereka ini menghadap area harbor dan Sydney Harbour Bridge yang terkenal sebagai icon kota ini. Pokoke kawasan ini million dollar view…!

The Famous Sydney Harbour Bridge

Tentang Sydney. Sydney merupakan  salah satu kota yang saya rasa sangat menyenangkan karena memiliki banyak keindahan alam yang bisa dieksplor setiap saat. Restaurant dan kuliner yang unik, museum-museum yang bagus dan terawat (dan banyak di antaranya yang gratis pada hari-hari tertentu), pelabuhan mereka yang iconic, taman-taman yang asri dan rindang, dan lainnya. Selain itu, Sydney termasuk kota yang aman dan nyaman. Saya masih berani kalau pulang berdua dengan Bazyl dalam keadaan langit sudah gelap, tapi ya gak pas midnight juga yaa 😀

Nyaman dan aman untuk pejalan kaki

Nyaman dan aman untuk pejalan kaki

Kegiatan favorite di taman: main di playground..!

Kalau untuk hal yang kurang disukai: biaya hidup di sini mahal banget, ahahaa. Secara Sydney kan termasuk salah satu kota yang living cost nya mahal. bahkan biaya sewa apt kita itu masih murahan waktu di SF kemarin dan juga untuk beberapa kebutuhan pangan di sini serba mahal. Makanya orang sini banyak yang prefer online shop.

Circulay Quay Sydney

Circular Quay Sydney

Sama saya kurang suka dengan mall dan pertokoan yang tutupnya cepat, ahahaha. Ada yang dari jam 4 atau jam 5 sudah tutup. kecuali tiap hari Kamis mereka buka sampai jam 9-10 malam. apalagi kaya coffeeshop gitu mereka tutup cepat termasuk weekend; buka jam 9-10 pagi tutup biasanya jam 3 atau jam 4 sore…! Yah walau gak semua sih yaa, tapi mayoritas seperti itu. Mungkin juga hal ini yang membuat work-life di sini jadi seimbang. Ada kejadian, waktu awal datang ke Sydney dan lagi nungguin suami selesai kuliah, kami janjian untuk ketemu di City, ya udah sekalian “numpang” ngopi di salah satu coffee shop deket situ. padahal baru jam 3 sore tapi bangku-bangku sudah diangkat dan secara halus saya disuruh keluar karena mereka mau tutup..! xD

Transportasi umum di Sydney. Salah satu hal yang membuat hidup di Sydney menyenangkan dan mudah itu adalah transportasi umumnya  yang aman dan nyaman. Bus, kereta, ferry, light rail/tram, taxi, dan tentunya pemerintah di sini sudah sangat memperhitungkan buat kenyamanan anak-anak, wanita hamil, orang tua, dan yang menggunakan kursi roda. Di setiap transportasi umum (kecuali taksi) selalu ada tempat khusus untuk anak dengan stroller, wheelchair accessible service, ibu hamil dan orang tua. Sedikit tips, jika menggunakan bus dan menunggu di halte, kita wajib kasih signal tangan ke driver; kalau gak, mereka akan lewat begitu saja walau kita udah jelas-jelas menunggu di halte tersebut..! Jadi ngerasa kaya lagi berhentiin Kopaja di Jakarta jadinya, hehehe.

Salah satu stasiun kereta

Station Macquarie center

Di sini penentuan harga untuk transportasi umumnya menggunakan sistem Opal. Opal adalah sistem ‘pay-as – you-go’, sehingga Anda hanya membayar bila Anda menggunakan kereta, bus, ferry, atau light rail. Jadi setiap naik kendaraan umum, harus tap on dan jangan lupa tap off waktu turun agar dapat harga yang sesuai, kalau tidak (kelupaan tap off) nantinya bisa di-charge lebih dari biaya seharusnya.

Public transportation in Sydney actually gives you more freedom to go anywhere because of its comprehensive network of buses, trains, taxis and ferries

Suasana di kapal ferry

Suasana di kapal ferry

Sementara harga tiket Opal terbagi dalam beberapa kategori: tiket dewasa (harga bervariasi sesuai dengan jarak), tiket orang tua (gold senior)/ pensiunan (pensioner), penyandang cacat, dan anak sekolah (child/youth) dapat benefit harga tiket diskon setengah harga dan tiketnya dapat tanda khusus, sementara anak-anak di bawah usia 5 tahun masih gratis. Selain itu ada juga tiket khusus untuk warga yang belum memiliki pekerjaan, selama dia sudah memiliki surat keterangan tidak mampu dari pemerintah lokal setempat. Untuk keluarga, ada tiket khusus untuk family. Jadi misalkan setiap keluarga tiketnya dipegang oleh si kepala keluarga, tapi setiap masing-masing anggota keluarga juga punya tiketnya dan wajib tap on. Cuma yang saya perhatikan, jarang ada keluarga yang pakai tiket family ini, karena agak ribet juga sistemnya.

Sydney South East Light Rail

Dan di sini setiap hari Minggu, harga tiket untuk semua transportasi menjadi $2.5 unlimited travel baik untuk bus, train, tram ataupun ferry. Jadi mau kemana-mana naik apa saja seharian ya bayarnya tetep $2.5, seru yaa…! Istilahnya Family Funday Sunday. Biasanya hari Minggu ini suka kita pergunakan buat jalan-jalan menggunakan kereta ataupun tram dari ujung ke ujung ahahahah. Habisnya Bazyl suka banget naik kereta ataupun tram  di sini..!

Family funday Sunday

Nyaman di kereta

Nyaman berkeliling dengan kereta

Walau transportasi umumnya sudah sangat bagus, pengguna mobil pribadi di sini juga banyak, karena tidak bisa dipungkiri, untuk beberapa wilayah sangat mudah dijangkau jika menggunakan kendaraan pribadi. Catatan bagi pemilik SIM Indonesia, sejak tahun 2006 ada perubahan kebijakan, sehingga jika mau menyetir kendaraan pribadi di sini, sangat diwajibkan untuk memiliki SIM Australia dan mengikuti driving test.

View from Royal Botanical gardens " CBD Sydney Area" -

View from Royal Botanical gardens ” CBD Sydney Area”

Penduduk Lokal di Sydney. Kalau untuk di kota orang-orangnya agak cuek; tipikal orang kota kali ya, serba in a rush bawaanya dan individual. Tapi kalau untuk daerah suburb seperti di daerah saya, tipenya lebih relax, santai dan ramah. Mungkin juga karena dekat dengan alam dan gak seriweh di City. Tapi jika saya bandingkan dengan orang-orang di Amerika (waktu kami di SF), orang di Sydney tidak se-easy going orang-orang di Amerika, yang kalau tiap berpapasan khan mereka suka menyapa “Hi, how are you?” atau “Good morning..!”, kalau di sini yaa lewat saja. Walau ada juga beberapa yang ramah, tapi kebanyakan orang tua . Apalagi kalau kita udah kenal baik, mereka suka negur duluan dan diajakin ngobrol dulu. Kadang ajak ngobrolnya suka kelamaan, hehe, rata-rata yang dibahas tentang cuaca hari itu. Jadinya saya kadang harus potong pembicaraan, kalau gak yaa gak selesai-selesai deh oborolannya, ahahahah. Selain itu, kalau mereka sudah kenal baik sama kita, mereka suka mengundang untuk barbeque-an atau sekedar makan dan tea time di tempat mereka; itu tandanya mereka suka dan nyaman dengan kita. Karena jarang banget penduduk lokal “bule” yang terlalu “open” dengan orang lain, kecuali dengan keluarga atau kerabat mereka.

The Sydney Town Hall is a landmark sandstone building in Sydney

Sebagai orang Indonesia. Di sini kan pendatang lumayan banyak dari mana saja, terutama orang Asia banyak banget di sini. Jadi sebenarnya orang-orang di Sydney secara general sangat menerima perbedaan. Walau terkadang emang ada juga yang menganggap orang Asia termasuk orang Indonesia itu kaya gak bisa apa-apa. Dianggap “lemah” atau gak berani “speak up”, jadi terkadang suka disepelekan. Walau gak semua yaa. Apalagi baru-baru ini ada berita  heboh tentang klinik pijat yang dituntut, dikarenakan kesalahan teknik pijat dari salah satu pegawainya yang berakibat fatal. Di sini khan kebanyakan klinik pijat pegawainya orang  Asia, ternyata setelah ditelusuri si terapi pijatnya itu tidak bisa berbahasa Inggris yang baik dan benar, jadi ketika si pelanggan menjelaskan mana yang sakit, si terapis tidak paham. Jadi ada sebagian orang-orang sini yang menganggap orang Asia itu “bodoh”.

Tentang I’ll Ride With You. Pasca kejadian teror dan penyanderaan selama hampir 16 jam di Lindf cafe Sydney pada bulan Desember 2014 yang lalu, beberapa konsekuensi dan sindiran negatif yang tidak mengenakan akhirnya harus ditanggung oleh warga Muslim di sini, apalagi bagi mereka yang menggunakan atribut jilbab dan lainnya. Saya sendiri, pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakan dari salah satu teman di sini beberapa saat setelah kejadian “Sydney Siege” tersebut berlangsung. Di tempat saya mengikuti kelas Zumba, para Ibu-ibu di kelas dan beberapa teman lainnya berniat untuk mengadakan acara berdoa bersama di sebuah Gereja terdekat dan mengajak saya untuk gabung. Ketika saya bilang bahwa saya Muslim dan akan berdoa menurut ajaran dan keyakinan saya untuk para korban, beberapa dari mereka langsung diam, hening dan tidak percaya kalau saya adalah seorang Muslim. Kemudian salah satu dari mereka bilang: “I cant believe that you’re a Muslim dear, how could your people do this to us?”, terus terang saya kaget dengan pernyataan salah satu teman Zumba tersebut. Saya gak nyangka akan dikasih pertanyaan (dan pernyataan) seperti itu. Sempat hening dan ngerasa “awkward“, sembari bingung juga kemudian saya hanya berkata “As a Muslim, I really didn’t want that to happen and I feel ashamed for that. They’re not Muslim, they’re just people who didn’t understand what Islam is”. Kemudian saya langsung permisi untuk pulang. Mereka juga gak komentar lagi, daripada tambah panjang urusannya. Aksi teroris ini benar-benar merusak image umat Muslim lainnya di sini. Tapi Alhamdulillah, sekarang semua sudah baik-baik saja antara saya dan teman tersebut.

Kampanye #I’llRideWithYou

Nah, I’ll Ride With You ini merupakan kampanye yang awalnya dimulai oleh salah seorang wanita di Sydney bernama Rachael Jacosb yang menceritakan pengalamannya ketika di kereta melihat wanita muslim secara diam-diam melepas jilbabnya karena takut akan diserang atau di-bully. Lalu dia menghampiri si wanita ini untuk tetap menggunakan jilbabnya dan menemani si wanita ini selama di perjalanan. Rachael menceritakan kisahnya ini di Twitter dan di-Retweet oleh orang-orang lain, yang akhirnya menjadi trending dan mendapat banyak sekali dukungan dari warga Australia kepada kaum Muslim agar tidak takut dan berani untuk terus merasa aman dan nyaman di sini.

Pasca kejadian di Lindf Cafe, juga sempat heboh dengan video yang beredar di salah satu akun sosmed yang isinya tentang society experiment terhadap kaum Muslim, terutama yang menggunakan hijab atapun peci dan atribut Muslim lainnya. Dari situ terlihat sekali kalau masyarakat di Sydney sangat menerima dan bahkan ada yang membela secara terang-terangan ketika salah satu wanita Muslim yang menggunakan jilbab dilecehkan  dan di-bully . Jadi emang terbukti kampanye I’ll Ride With You ini sangat efektif dan bahkan saya sebagai Muslim sangat merasa nyaman dan aman. Bahkan teman-teman Indonesia di sini banyak juga yang berjilbab dan tidak ada masalah. Orang-orang di sini sangat modern dan meneirma perbedaan. Selain kampanye tersebut, ada lagi dukungan atau kampanye “Racism. It Stops With Me” yang intinya untuk semua warga Australia harus saling menghormati setiap etnis yang ada dan mendapatkan hak yang sama di area umum dan diharapkan tidak adanya hal diskriminasi .

Kampanye “Racism. It Stops With Me”

Yang Unik di Syndey. Tau kah? Kebanyakan orang-orang Australia itu sukanya nyeker…! Gak pake sendal atau pun sepatu, bebas aja gitu lenggang-kangkung masuk ke mall atau di coffeeshop, dan tempat umum lainnya. Alasan mereka: lebih nyaman dan menyatu dengan alam, ahahaha…! Mungkin karena di sini daerah alamnya khan masih banyak kali yaa 😀

“Nyeker”

Lalu awal-awal di sini (yaa sampai sekarang) masih suka bingung kalau denger logat mereka kalau ngomong. Mana ngomongnya terkadang cepat dan banyak sekali istilah slang atau singkatan yang harus saya pelajari..! Mungkin karena saya lebih terbiasa dengan American-English. Contohnya nih : Arvo = afternoon, Banger/Snag = sausage, Chook = chicken , Hungryjack = Burger King, Pram = Stroller, Uni = University, dan “Yeewww…!!” = I hear a lot of Aussies saying this when expressing their excitement ;p, dan masih banyak lagi sebenarnya tapi belum terlalu update.

Australians sometimes say several words as one ‘Waddayareckon’ (what do you reckon?), “Owyagoin” (how are you going?) etc. This can be confusing for an overseas visitor but you can soon get used to it..!

Sama di sini banyak sekali snake catcher..! Terutama pas summer (Desember – Februari) sekarang ini. Seperti beberapa waktu yang lalu ketika kami mau ke pantai, ternyata beberapa area ditutup karena ada ular muncul di area park.. ! Pokoknya kalau ada mobil snack catcher berhenti, pasti di situ lagi ada ular berkeliaran ;p. Jadi yaa, balik lagi, gak jadi lewat daerah situ deh. Suka jadi parno kadang. Cuma biasanya hanya terjadi di daerah yang deket hutan kecil atau park yang lokasinya emang masih alam banget (national park). Sydney walaupun sudah “kota” banget, tapi buat sebagian wilayahnya ya masih alam banget, jadi hal-hal seperti ini (banyak ular) masih sering  terjadi.

Snake Catcher beraksi

Festival di Sydney. Sejak pindah ke sini, kami sudah beberapa kali mengunjungi berbagai festival-festival yang diadakan di Sydney: Acara kuliner yaitu Night Noodle Market yang mayoritas standnya adalah kuliner makanan asia, sayangnya gak ada stand makanan Indonesia, hiks.

batch_5IMG_9763

Lampions at Night Noodle Festival at Hyde Park

Suasana di Night Noodle Market – Hyde Park, Sydney

Ada juga ada Chocolate Festival yang kesemuanya tentang dessert dan coklat. Trus sebelumnya lagi, ketika winter kemarin ada Beer Festival di The Rocks.

Smooth Chocolate Festival

Smooth Chocolate Festival

La Maison De L’Eclair display window at Smooth Chocolate Festival

Bulan lalu, baru saja ada perayaan Australia Day (26 Januari) yang merupakan hari lahirnya Australia. Banyak banget acara seru; seperti balapan kapal-kapal/ferry, konser lagu oleh artis di tengah laut. Lalu touring museum yang masuknya gratis (yeay!!), karena sebagian museum kalau di hari biasa ada yang harus bayar. Dan juga acara anak dan keluarga untuk meet and greet tokoh kartun Nickeledeon, konser Hi5, dan bagi-bagi snack gratis dari salah satu brand biskuit terkenal di sini yaitu Arnott’s, pameran koleksi mobil antik, parade bus-bus antiknya kota Sydney yang sengaja dikeluarkan lagi buat sightseeing kota Sydney; cukup dengan membayar gold coin $1-$2 yang mana uangnya juga dipakai untuk perawatan bus-bus tersebut. Seru banget! :).

Australia Day Fireworks at Darling Harbour

Vintage Bus saat Australia Day

Yang terakhir kami datangi yaitu Sydney Festival saat musim panas, yang meliputi acara kuliner, seni, konser musik, dan pemutaran film-film asing. The best part-nya buat masuk ke acara-acara festival ini adalah free…!

Summer in the City

City of Sydney Lawn Library, which is home to a lot of activities for all ages like calligraphy, circus skills and pop-up crafts

Salah satu yang dinanti pada bulan Mei mendatang adalah Vivid Sydney:

In 2015, Vivid Light will engage lighting artists, designers and manufacturers from around Australia and the world to illuminate, interpret and transform Sydney’s urban spaces for 18 nights through their creative vision

Kegiatan dengan Anak usia Prasekolah. Di Australia, usia wajib sekolah adalah usia 5 tahun untuk level Kindegarten (TK) dan biasanya untuk daftar sekolah, si anak masuk ke sekolah di area tempat dia tinggal. Kalau sudah jadi citizen, di sini sekolah gratis, kecuali dimasukin di sekolah swasta. Jadi sebelum usia 5 tahun, anak bisa ikutan acara playgroup atau playtime ataupun dimasukan ke childcare. Bazyl sendiri saat ini aktif mengikuti playgroup yang lokasinya tidak jauh dari rumah: seminggu jadwalnya dua kali pertemuan, dengan membayar donasi sebesar $9  di awal dan setiap datang hanya membayar $5 atau gold coin sebesar $1 – $2 untuk snack supplied berupa buah dan biscuit. Tapi ada juga beberapa playgroup yang benar-benar gratis dan hanya dengan membayar gold coin saja.

Bazyl di Playgroup

Bazyl di Playgroup

Selain itu ada juga story time, outdoor activity, art class, dll. Saya sendiri suka bawa Bazyl ke perpustakaan dekat rumah, karena di sini setiap perpustakaan pasti ada baby and kids activity and it’s free. Di perpustakaan ini juga hanya dengan sign in menjadi member kita bisa pinjam aneka macam buku dan mainan anak (maksimal 2 minggu). Kegiatan lainnya, Bazyl saya daftarkan di swimming lesson khusus untuk toddler yang jadwalnya seminggu 1x pertemuan.

batch_5IMG_0205

Kegiatan playgroup di perpustakaan

Kalau untuk childcare, Bazyl harus waiting list terlebih dahulu. Apalagi kalau yang disubsidi pemerintah. pasti selalu penuh. Untuk biayanya sendiri per-hari itu kisaran $95 – $135 tergantung fasilitas si childcare tersebut. Seminggu harus daftar atau masuk minimal 2x. Bisa dapat potongan harga juga, kalau kita lapor ke Centerlink (seperti yang saya jelaskan sebelumnya).

 Menemukan Komunitas. Biasanya dengan ibu-ibu Indonesia di sini, kami sering mengadakan playdate bareng di park atau pantai. Atau gak, kalau lagi pengen santai, ya kumpul di salah satu rumah teman yang bersedia rumahnya “diacak-acak”, ahahahaha; jadi anak-anak bebas main, dan ibu-ibu biasanya masak-masak, atau bisa delivery sembari mengawasi anak-anak, trus makan-makan deh..! Tipikal kegiatan ibu-ibu banget pokoke :D. Hal-hal simple seperti itu saja sih, tapi menyenangkan. Setidaknya bisa jadi pengobat kangen keluarga dan teman di Indonesia. Selain itu untuk Keluarga Pelajar Islam Indonesia (PII) ada kegiatan mengadakan pengajian rutin sebulan sekali.

batch_5IMG_4964_1 batch_5IMG_5156

Saya juga tergabung dalam komunitas Mommy (International) English Class yang kegiatannya hampir sama, semacam playdate tetapi ada sesi sharing tentang parenting style dari berbagai negara asal si mommy. Di sini saya banyak mendapat teman-teman dari mancanegara, kebetulan yang term kemarin ada dari Columbia, Singapore, Malaysia, Iran, Canada dan Saudi Arabia, kalau udah kumpul ramean kita suka saling tukar makanan khas kita masing-masing  🙂

batch_5IMG_0209

Mommy International English Class

Menjadi Mamarantau. Bersyukur banget bisa dapat kesempatan dan memiliki pengalaman hidup  untuk tinggal di negeri orang, kenal lingkungan baru, budaya baru, dan dapat teman-teman baru, juga jadi tambah membuka wawasan dalam berpikir dan melihat perspektif hidup lebih luas lagi. Ditambah dengan lingkungan yang serba bersih, teratur, senang aja gitu tiap hari kalau bawa Bazyl jalan pagi, siang, sore, bahkan malam. Pikiran jadi fresh. Kegiatan kala me time saya pergunakan dengan zumba ataupun lari di sekitaran rumah, walaupun gak lama, tapi setidaknya bisa buat pikiran kembali segar dan badan tetap fit dan siap sedia buat ngurus urusan anak dan rumah.

Zumba Class - menjaga tubuh tetap fit dan menyegarkan pikiran..!

Zumba Class – menjaga tubuh tetap fit dan menyegarkan pikiran..!

 Kadang saya suka iseng cobain berbagai macam resep, kebetulan saya memang hobi masak, dan kadang juga janjian jalan-jalan trus ngopi-ngopi dengan teman-teman.

Homemade Makanan Indonesia

Homemade Makanan Indonesia

Yang gak disukai, yaitu tadi: biaya hidup di sini mahal  banget, plus apa-apa harus ngerjain sendiri. Kangen sama keluarga. Jujur terkadang ada kalanya saya masih suka homesick hehe, apalagi kalau udah capek banget. Iya kan… di sini kami kerjakan segala sesuatu ya sendiri (yaa bagi tugas sama suami). Trus kaya nyalon atau pun perawatan badan disini mahal banget..!! Huhu. Untuk tempat rekomendasi jalan-jalan di Syndey, tunggu di artikel selanjutnya ya 🙂

—-

If you like to follow along our journey we’re on Web: http://nisadanchicco.com/ and Instagram: @qyusha and @denchicco.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Nisa dan Chicco – dan beberapa diambil dari URL yang terhubung langsung dengan image gambar. Diedit oleh: @chiceniza.

Merantau di Aachen

TiaSari Agustia (Tia) was born in Bandung 32 years ago, now a happy wife and mother of two (Grahito, 5 y.o and Giska, 2 y.o). Cooking, watching, and writing are her favorite me time activities. Author of “Love Fate” book.

Tia dan keluarga. Sejak menikah di tahun 2008, saya resmi merantau jauh dari keluarga. Kala itu suami berkerja di salah satu perusahaan multinasional untuk servis minyak dan gas di Kuala Lumpur (KL), Malaysia. Cukup lama kami tinggal di sana, 4 tahun, hamil kedua anak di KL, bahkan putri bungsu kami, Giska, lahir di kota itu. Bulan Januari 2013, kurang lebih 40 hari setelah Giska lahir, kami meninggalkan KL untuk pindah ke Jerman. Selama kurang lebih 4 bulan, saya dan anak-anak mengurus kelengkapan tinggal kami di Jerman sedangkan suami telah lebih dulu pergi karena pekerjaan. Empat bulan terpisah adalah keinginan kami karena ingin menghadiri pernikahan sepupu di Surabaya pada bulan Mei 2012. Namun siapa sangka ternyata waktu 4 bulan ternyata full untuk mengurusi kepentingan surat menyurat visa kami ke Jerman.

famili

Keluarga Trikukuh, 2014

Mengurus Visa Jerman. Sebetulnya sebelum kepergian kami dari Kuala Lumpur, suami mengklaim sudah membaca hal-hal yang kami perlu persiapkan. Salah satunya yang penting adalah sertifikasi bahasa Jerman A1. Bukan main kemalasan saya timbul karena harus mempelajari bahasa baru. Jujur ni ya, saya bukan seorang yang pandai dengan bahasa. Bahasa Inggris saya pun berkembang dengan baik di sini karena tak memungkinkan bahasa yang lain. Tes bahasa Jerman A1 adalah yang paling dasar. Di Indonesia bisa dengan mudah mengambil tes itu di Lembaga Bahasa Jerman GOETHE INSTITUT.

Tapi tidak hanya itu, ga seru kalau visa didapat dengan mudah. Setelah saya cek sendiri ke website kedutaan besar Jerman di Indonesia persyaratannya bermacam dan rumit. Berbagai kelengkapan “tetek bengek” yang ribet ternyata menanti. Kita list ya persyaratan untuk membuat Visa Jerman (Nasional – bagi yang menetap di Jerman lebih dari 90 hari):

  1. Mengisi formulir yang diunduh di Internet.
  2. Biometrik foto. “What the hell is that?” Biometrik foto adalah foto close up pada umunya namun memiliki persentase besaran muka kita terhadap ukuran foto tadi (misalnya 80% gambar terhadap ruang kosong di dalam foto). Di Bandung sendiri khusunya sudah ada di beberapa studio foto melayani biometric foto. Kami foto di foto studio terbesar di Dago.
  3. Surat nikah yang dilegalisir Departemen Agama.
  4. Akte kelahiran anak yang dilegalisir Departemen Luar Negeri dan Departemen Hukum dan HAM
  5. Terjemahan dalam  bahasa Jerman atas surat-surat legalisiran.
  6. Sertifikat A1 bagi pasangan.
  7. Buat appointment untuk datang ke kedutaan secara online.

Untuk poin 3 dan 4 bila dilakukan sendiri akan menguras tenaga dan uang tambahan, sebab proses legalisisasi tak bisa serentak ketika kita sampai di Jakarta melainkan harus menunggu dan bolak balik apabila syarat- syarat dokumen tak lengkap (periksa di Web masing-masing Departemen sebelumnya!). Tersedia layanan agen yang mengurusi legalisasi tadi di kedua Departemen. Harganya cukup mahal kalau tidak dibayari oleh perusahaan. Untuk kami sendiri, kebetulan ada rekan keluarga yang membantu membuat prosesnya mudah dan aman. Setelah semua dokumen dilegalisasi dan lengkap barulah menguhubungi penerjemah Indonesia-Jerman yang telah diakui oleh kedubes Jerman (list di web Kedubes Jerman).

Khusus untuk Giska yang lahir di Malaysia dengan Sijil Kelahiran (akte kelahiran versi Malaysia) ternyata kami perlu melegalkannya ke Putrajaya, Malaysia. Itu berarti tambah waktu dan biaya bagi kami yang sudah mendesak untuk ikut serta.

Ketika datang memasukkan formulir pastikan semua sudah lengkap dan dicopi 3x. Karena itu akan memudahkan daripada mampir ke hotel sebelah kedutaan karena ada surat yang tertinggal di-print atau di-copy. Dengan berbagai drama menjelang kepergian kami dan diakhiri dengan kunjungan dan jalan-jalan dengan keluarga ke Surabaya, akhirnya kami bisa juga tiba selamat di Aachen, Jerman di bulan Juni 2013.

Aachen is located in North Rhine-Westphalia, the westernmost city of Germany, located along its borders with Belgium and the Netherlands.

Aachen – Kota Kecil Mempesona. Berdebar rasanya menginjakkan kaki pertama kali di benua Eropa untuk menetap. Bahkan saking deg-degannya, sudah terbayang dinginnya salju di kala winter nanti menggigit kulit buat saya yang sebenarnya untuk dinginnya Bandung pun sudah tak tahan. Namun semakin berdebar, semakin semangat saya menanti hidup baru di sini. Kami tinggal di Aachen. Sebuah kota yang cukup terkenal di telinga orang Indonesia sebagai rumah kedua Mantan Presiden Ketiga Indonesia, Bapak BJ Habibie. Sebuah universitas tempat beliau menuntut ilmu, RWTH (Rheinisch-Westfaelische Technische Hochschule) Aachen University, ada di kota ini. RWTH adalah salah satu universitas dengan jurusan teknik terbaik di Jerman, maka tak aneh banyak sekali mahasiswa/i pendatang atau international students yang menuntut ilmu di sini.  Kota ini laksana kota pelajar pada umumnya termasuk kota murah dibandingkan kota-kota lain di Jerman.

RWTH Aachen University, Main Building

Kami sudah berkeliling beberapa kota sekitar Aachen seperti Dusseldorf, Bonn, Koln (Cologne) dan Freiburg. Seperti halnya kota-kota tersebut public attraction yang mendominasi adalah Domn yakni Bangunan Gereja Kuno yang besar yang umumnya disandingkan atau searea dengan Rathaus, Balai Kota. Arsitektur khas kota tua Jerman (Eropa) mendominasi daerah sekitar kedua bangunan ini. Biasanya terletak di pusat kota yang menjadi tempat atraksi belanja dan restoran untuk minum teh atau kopi.

Aachen Rathaus (Balai Kota)

Toko roti (Backerei) mendominasi di setiap sudut kota, bahkan bisa ada 2 rival bersebrangan. Orang sini gemar sekali dengan roti, terutama yang fresh from the oven. Sekilas info, salah satu scene film Habibie-Ainun pun berlatar belakang sebuah toko roti terkenal di pusat kota Aachen ini: Nobis Printen Baeckerei Aachen.

Nobis

Kendala dan Belajar Berbahasa. Mengenal budaya baru dan orang-orang baru bukanlah mudah namun tidak sesulit yang kami duga. Sebagai pendatang sudah barang tentu kami yang harus memulai untuk berusaha mengenal mereka. Kendala yang paling nyata adalah Bahasa. Memang tak semua orang familiar atau mau berbahasa Inggris. Namun saya beruntung, karena tetangga, dokter, guru dan orang tua murid di TK Grahito cukup terbuka untuk berkomunikasi dengan saya dengan bahasa English. Namun demikian, sebagaimana peribahasa “Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang singa mengaum”, tak ada salahnya apabila sebagai pendatang kami mengecilkan gap yang ada. Salah satunya adalah dengan mempelajari bahasa mereka. Well, menurut saya, sejauh yang saya pelajari, bahasa Jerman ini tidak sesulit bahasa negara Eropa lain. Pengucapan huruf abjad (alphabet) Jerman hampir sama dengan Indonesia. Apa yang dibaca pun sebagian besar sama dengan yang dilihat, meski menyesuaikan dialek memang sulit. Namun bisa dipelajari. Dan tempat belajar bahasa yang terbaik adalah di negara yang bersangkutan.

Salah satu sudut kota Aachen

Sebelum tiba di sini dua tahun yang lalu, saya sudah belajar bahasa Jerman selama 3 bulan (untuk sertifikasi A1 – syarat visa). Namun sesampainya di sini, ternyata sulit sekali menyesuaikan..! Terutama dalam hal berbicara. Sekarang, karena ada penawaran pihak pemerintah (stadt Aachen) yang membayarkan 70% biaya Integration Course – yakni kursus intensif bahasa dan politik Jerman, maka saya kembali belajar Bahasa Jerman selama 4 hari dalam seminggu;  Senin-Kamis selama durasi 3 jam. Saya memilih tempat les yang menyediakan Kinderbetreung (child care) untuk Giska, dengan biaya ditanggung sendiri.

The integration courses introduced in 2005 aim to improve and facilitate the linguistic integration of immigrants in German.

Integration Course memang disediakan pemerintah untuk para pendatang sebagai tujuan mengintegrasikan budaya dan bahasa Jerman bagi pendatang. Diharapkan kelak para pendatang itu dapat bersinergi dengan baik dengan warga asli. Karena tak jarang, misalnya orang Turki sudah puluhan tahun di Jerman bergaul hanya dengan sesama Turki dan tak paham bahasa setempat. Untuk mereka yang tak punya pekerjaan atau hidup kekurangan bahkan kursus ini digratiskan. Sedangkan saya yang suaminya membayar pajak, sebagai subsidi silang dikenakan 30% pembayaran, namun akan dikembalikan sesudah kelas selesai kurang lebih 1.5 tahun. Kalau saya lulus dari kursus ini nantinya saya akan mengantongi ijazah bahasa B1. Ijazah ini bisa dipakai untuk mencari pekerjaan sesuai sarjana yang saya miliki sekarang di perusahaan Jerman, jika mau, atau sebagai syarat mendapatkan visa tinggal untuk jangka waktu yang lebih lama. Kalau belajar bahasa sudah dilakukan, yang harus digiatkan adalah latihannya. Salah satu media berlatih adalah sering-sering ketemuan dengan orang lokal. Komunitas Jerman yang paling sering ketemu adalah orang tua murid di sekolah. Kalaupun tidak di sekolah, ternyata taman bermain (spielplatz) adalah salah satu yang juga efektif untuk latihan berbahasa Jerman.

Berteman dengan Orang Jerman. Pada dasarnya orang Jerman sangat menghargai privacy (aka. tertutup) namun mereka yang saya kenal cukup mau bergaul dengan orang selain Jerman. Sebagai contoh, anak-anak kami playdate bergantian, sesekali sepulang sekolah janjian main di taman, saya sesekali memberikan kue/makanan khas Indonesia kepada mereka bertanya soal pengumuman yang tak saya mengerti atau hal yang lain. Termasuk kedudukan saya sebagai muslim. Lingkungan yang saya kenal cukup familiar dengan muslim. Mereka paham dengan “kostum” yang saya kenakan, Ramadhan sebagai bulan sakral dalam Islam, paham kalau Grahito tak boleh makan babi dan produk turunannya. Kalaupun tak paham, misalnya saat undangan ulang tahun, saya bebas menjelaskan dan mereka maklum dan menyediakan makanan lain untuknya. Sepanjang yang saya temui, Aachen adalah kota yang penuh pendatang dan ramah terhadapnya karena dominasi pendatang dari Turki, Suriah, Libia, Hungaria, Nigeria, Congo dll. Sebagian dari mereka pun Muslim, membawa budaya Muslimnya ke sini.

Festival di Aachen. Sebagai kota yang terbilang kecil sebenarnya Aachen tak pernah kehabisan agenda pesta atau festival setiap tahunnya. Perayaan di bulan-bulan Winter sudah dimulai sejak 11-11 (11 November) pukul 11.11 AM, berpusat di Koln. Muda-mudi, tua-muda berkostum berpesta di siang hari. Kemeriahannya diliputi budaya minum dan tari.

In the Rhineland (Western Germany), the Carnival season is considered to be the “fifth season of the year”, starting at November 11 at exactly 11:11 a.m – at Koln (Cologne)

Weihnachtmarkt. Dalam bahasa Jerman, natal disebut Weihnachten. Sekitar 3-4 minggu sebelum Natal, setiap kota mengadakan pasar malam atau Weihnachtmarkt. Weihnachtmarkt Aachen adalah termasuk salah satu yang terbesar dan meriah. Pengunjungnya tak hanya dari kota setempat, namun mencakup Denhaag, Belanda dan Belgia. Kemeriahan lampu-lampu warna warni menghiasi pepohonan besar sekitar pusat kota. Kios-kios rapih berjejer menjajakan barang kerajinan tangan dan makanan. Jajanannya pun tak kalah mengundang selera, banyak juga yang kami bisa nikmati, seperti waffle, quarkballen (adonan donut berbentuk bola ditabur gula putih), kentang panggang, tumisan jamur, gorengan bunga kol, backfish (ikan goreng krispi). Karena cuaca yang dingin, minuman khas penghangat tubuh khas adalah Gluhwein, wein hangat. Uniknya gluhwein ini disajikan di gelas yang unik. Kalau beli wein ini, harga wein ditop-up dengan deposit untuk gelasnya. Kalaupun tak minum wein, saya bisa beli gelasnya saja seharga 3euro/buah.

Aachen Weihnachtsmarkt

Contoh produk dijual di salah satu stall

Gluhwein (and the unique Mug)

Circus. Selama dua kali mengalami bulan Desember di sini, selalu ada atraksi sirkus di sebuah lapangan terkenal di kota ini. Terakhir kemarin, kami mendapat tiket gratis nonton tayangan perdana sirkus ini bersama teman-teman dari TK-nya Grahito. Ternyata atraksi sirkusnya bukan sirkus seperti jaman saya kecil. Tak ada gajah, hewan lain atau badut. Para artisnya lebih banyak beratraksi gymnastik dipadukan dengan lagu modern dan penataan lampu yang spektakuler. Tak terlalu ramah anak, tapi anak-anak seusia Giska pun bisa menikmati dan Wow! Takjub dengan atraksinya tak berhenti tepuk tangan.

Zirkus Flic Flac di dalam tenda besar

Karnaval. “Alaf…!!” teriakan khas karnaval di setiap akhir musim dingin, lebih dikenal dengan Rosenmontag (Rose Monday). Perayaan ini yang paling ditunggu oleh anak-anak TK, karena mereka bisa memakai kostum ke sekolah pada satu hari di minggu sebelum Rosenmontag. Dan sesuai namanya, Montag = senin, adalah hari libur. Di kota diadakan pawai kereta hias, marching band dan orang-orang berkostum yang panjangnya bisa mencapai 2 kilometer lebih. Berbagai kue, coklat, hiasan dinding, souvenir, tisu, boneka dan apapun dilemparkan ke pengunjung yang sejak awal standby di pinggir jalan dengan kantong-kantong besar siap memunguti barang-barang tadi. Pengunjung pun tak kalah heboh boleh berkostum. Biasanya kalau kostumnya ok, akan dilempari hadiah menarik dari orang yang berada di kereta hias tadi.

Melempar coklat ke para pengunjung. When someone shout “Ocher”, reply them with “Alaaf”.

Suasana di jalanan

KArnaval

Karneval “Rossenmontag”

Hasil berburu

Hasil yang didapatkan dari Rossenmontag (Lumayan yaaa…)

 Ocher bend. Atau dikenal juga dengan pasar malam. Sebenarnya mirip dufan tapi lebih kecil. Permainannya pun bukan biasa, banyak yang menantang adrenalin. Pengunjung bisa masuk dengan bebas namun dikenakan koin atau tiket untuk setiap permainan. Buat saya tiketnya tidak murah untuk sekali main, kisaran 1-2euro, namun mengingat dufan dan sejenis lainnya berada di kota lain jauh dari Aachen, buat para muda-mudi dan anak harga segitu tetep masih bisa memuaskan rasa bermain mereka. Didalamnya sudah barang tentu ada kios-kios jajanan yang bisa mengganjal perut. Ocher Bend datang ke Aachen 2 kali dalam setahun.

Ocher Bend

Oktoberfest.  Dalam dua tahun kami disini, setiap bulan Oktober selalu ada perayaan di sekolah TK-nya Grahito. Tahun pertama, Oktober Fest ini diselenggarakan di sekolah pada siang hari dengan mengundang orang tua murid. Acaranya bernyanyi lagu khas festival dan makan Kürbis Suppe (sup labu kuning). Sup ini pada pagi harinya dibuat bersama-sama oleh guru dan orang tua murid yang punya waktu luang.

Kürbis Suppe

Tahun kedua, ini yang disebut Oktoberfest. Orang tua murid kembali diundang namun acaranya lebih besar karena mengundang orang dari luar sekolah juga untuk hadir. Beberapa orang tua murid dari berbagai negara diminta memasak makanan khas negaranya atau kue-kue. Sekolah membuat kafetaria dengan menyajikan masakan tadi dan yang hadir bisa membeli tiket yang sangat murah untuk menikmati hidangan tadi. Ada beberapa atraksi untuk anak, seperti Schminken (menghias wajah), bros maker atau undian kejutan dengan membeli tiket. Bedanya dengan tahun sebelumnya, kali ini disajikan bir bagi orang dewasa meski non-alkohol bir.

Hito dengan pakaian adat Jawa di acara sekolahnya

Hito dengan pakaian adat Jawa di acara sekolahnya

St. Martin Fest. Ini juga perayaan yang sangat ditunggu oleh anak-anak SD dan TK. Diselenggarakan di bulan November, St. Martin adalah seorang legendaris Nasrani yang budiman. Beliau sebenarnya seorang bangsawan namun rendah hati. Diceritakan suatu hari St Martin yang berjubah panjang menaiki kuda berjalan-jalan di sekitar istananya. Kemudian dia melihat ada orang miskin yang kedinginan. Dia potong jubahnya kemudian dia berikan kepada orang tadi. Sifat baik budinya ini diapresiasi dengan mengadakan perjalanan dengan kaki di malam hari membawa lampion hingga saat ini. Lampionnya spesial  karena anak-anak SD dan TK tadi diberikan kesempatan membuat sendiri dengan dibantu gurunya. Bentuknya sangat unik dan lucu.

St. Marten Festival

Acaranya didampingi oleh orang tua selepas matahari terbenam. Bagi yang beragama Nasrani ada acara berdoa di Gereja, bagi yang beragama lain hanya ikut kemeriahan jalan kaki tadi berkeliling daerah sekitar sekolah diiringi band dan lagu-lagu khasnya (bertema agama). Sampai di sekolah, api unggun dinyalakan, membuat lebih hangat dan disajikan minuman coklat panas dan roti berbentuk orang dengan taburan gula putih.

Grahito dan Giska juga ikut berpartisipasi membuat dan menghias lampion

PS : Diakhir Oktober ada perayaan Halloween. Namun tak semua orang Jerman merayakannya karena bukan tradisi asli disini. Halloween adalah adaptasi dari budaya Amerika yang mulai merambah masuk ke sini.

Tempat Bermain Bersama Keluarga di Aachen

Taman. Banyak sekali arena bermain terbuka di Aachen (saya yakin di kota lain pun begitu). Areal bermain ini umumnya dilengkapi dengan alat-alat bermain seperti ayunan, perosotan, permainan ketangkasan, kolam pasir, dll yang aman kalaupun sang anak terjatuh. Bahkan ada taman yang sangat besar dilengkapi danau dan perahu kayuh sewaan, track sepeda dan jogging, serta kafe. Di musim-musim matahari bersinar (meski masih sedikit dingin), taman bermain ini menjadi arena idaman para ibu/ayah di kala sore atau hari libur. Sepulang sekolah pun saya lebih memilih anak-anak berlarian di lapangan daripada obrak-abrik mainan di rumah. Adanya matahari bersinar pun menjadi barang yang mahal dan langka kalau dilewatkan.

taman

Berenang. Selain taman, keluarga kami senang berenang. Kami memilih berenang indoor di tempat renang umum. Stadt Aachen mengkoordinir tempat-tempat pemandian ini sehingga sangat bersih dan layak digunakan sebagai areal olahraga dan liburan keluarga. Saya bisa berenang di kolam umum ini dengan menggunakan baju renang muslimah. Sebenarnya di kala musim panas ada areal terbuka (outdoor) untuk berenang. Namun karena adat dan budaya bebas di sana kami rasa kurang sesuai untuk dilihat anak-anak kami.

Salah satu Indoor Swimming Pool Elisabeth-Halle (Elisenbad)

Tempat renang favorite kami dan dekat rumah: Südhalle

Perpustakaan. Tempat bermain asik dan hangat di kala musim dingin adalah perpustakaan (bibliotek). Perpustakaan di sini sangat nyaman, bersih dan tertib. Buku-buku anak tertata dengan baik. Ada beberapa yang dwi-bahasa. Ada tempat untuk makan dan menghirup udara segar kalau mau baca-baca di luar gedung. Anak-anak yang mempunyai kartu perpustakaan tidak dikenakan biaya untuk meminjam buku, peminjamannya pun hanya untuk buku anak. Kalau orang dewasa, membayar administrasi 1.5euro dan 1.5euro setiap kali peminjaman buku yang tak terbatas jumlahnya. Batas peminjamannya sama masing-masing sebulan dan boleh diperpanjang.

Di Library

Stadtbibliothek Aachen

Kalau sedang tak pergi ke tempat-tempat tadi dikala akhir Minggu, kami sempatkan untuk jalan-jalan sekitar kota, berbelanja atau makan. Maklum, karena hari Minggu semua toko di Jerman tutup, kecuali restoran, maka kalau ada kekurangan bahan makanan atau lainnya hanya bisa berbelanja di hari Sabtu.

Kalau suka coklat, pastikan mampir ke Lindt Werksverkauf (Factory Outlet). Coklat Lindt di sini dijual dengan harga yang relatif lebih murah dari di pasaran

Makanan. Jajanan yang paling banyak di Aachen adalah Doner Kebab, roti arab yang didalamnya disisipkan daging ayam/kambing yang dipanggang dan salat (salad) dengan  bawang, paprika, kol bersaus tzaziki (asam), mayonnaise, bawang putih atau pedas. Kebanyakan restoran doner ini disertai label halal. Sultan of Kebap adalah tempat makan kebab yang paling happening karena letaknya di Bushof (terminal utama); turun bis udah kecium aroma sedapnya…! Satu menu komplit bisa dilengkapi dengan pommes (kentang goreng) dan soft drink refillable. Tapi kalau yang paling enak, banyak yang setuju HKL kebab, lokasinya deket Rathaus. Bocoran sedikit, jika kamu ingin tahu kota itu termasuk berbiaya murah atau tidak bandingan satu harga menu Doner Kebab dikota tersebut; di Aachen satu menu komplit doner bervariasi antara 4-5,5euro. Selain doner, ada lagi restoran pizza, sushi, fish n’chips, masakan China, India atau Thailand. Tapi 3 yang terakhir kebanyakan masih menyediakan menu babi yang mungkin tak semua dapat dimakan oleh kaum Muslim.

Hähnchen Döner (Chicken Kebab)

Restoran Indonesia sayangnya tak ada di Aachen.  Tapi kalau ingin bahan makanan asli Indonesia, ada beberapa toko asia (Vietnam) yang tersedia di Aachen menyuplai bahan tersebut, seperti Indomie, kecap ABC, kacang tanah, tahu, tempe, dll. Berbelanja disana memang lebih mahal, namun beberapa bahan seperti santan, mie/bihun rebus instant, bumbu masak bubuk misalnya sudah tersedia di supermarket biasa. Sehingga beberapa barang harganya pun sudah bersaing. Buat saya yang hanya bisa masak makanan Indonesia tidak merasa kesulitan mencari bahan makanan sesuai rasa Indonesia. Kalau sedang punya waktu dan ingin jalan, kami pergi ke Maastrich, kota kecil di Belanda yang waktu tempuhnya 1 jam dengan bis dari Aachen. Ada satu toko Asia disana yang sangat komplit, lebih murah dan buka di hari Minggu.

Vaals. Bicara soal Belanda, Aachen berbatasan langsung dengan kota kecil Belanda bernama Vaals. Hanya berjarak tempuh 20 menit dengan bis dari pusat kota Aachen ke pusat kota Vaals. Setiap hari Selasa, ada pasar terbuka mirip pasar di Indonesia. Penjualnya saling berteriak promosi barangnya dan dijual dengan harga sangat murah. Misalnya saja, 1 kotak mangga isi 7 buah seharga 2 euro sedangkan kalau di supermarket, 1 buah mangga seharga 1 euro. Jika ingin membeli ikan segar pun disini lebih murah daripada di toko. Cabe merah, cabe hijau dan cabe rawit pun sangat murah, maklum orang Belanda sangat familiar dengan masakan Indonesia dan kepedasannya.

VAALS3

Vaals Market

Toko Halal. Kalau mencari daging-daging dan olahanya yang halal pun tak sulit, banyak toko-toko halal di Aachen terutama di kawasan orang-orang Turki, Arab dan teman-temannya tinggal. Kalau diperhatikan tak hanya orang muslim saya yang berbelanja disana, karena mereka pun umumnya menjual bahan makanan lain seperti cabe dan tauge yan tak dijual di supermarket biasa.

Flohmarkt. Salah satu pasar yang menarik buat kami bukan hanya melulu soal makanan. Semenjak datang ke Aachen, kami dikenalkan dengan Flohmarkt, pasar barang bekas. Orang Jerman punya kebiasaan apik menyimpan barangnya, namun karena terbatasnya ruang penyimpanan maka mereka harus membuang barang lama dengan bijaksana, salah satunya dengan cara menjualnya dengan murah. Misalnya saja di flohmarkt anak, dijual semua barang anak, mulai dari baju, sepatu, tas, box perhiasan, alat olahraga dan mainan yang semuanya dalam kondisi baik. Tak jarang masih ada yang menjual dengan kemasan simpannya. Semuanya dijual dengan harga miring dan masih bisa ditawar.

Favorit keluarga Trikukuh dateng ke Kinder Flohmarkt, pasar khusus anak. Spesialis baju2, sepatu, buku dan tentu mainan…!

flohmarkt3

Kinder Flohmarkt; Kualitas masih layak pakai, bahkan bisa bermerk terkenal. Mainan contohnya lengkap dus dan isinya, harganya juga miring dan bole ditawar (senangnya!)

Ada lagi flohmarkt khusus wanita, menjual semua keperluan wanita. Dan yang cukup menarik adalah flohmarkt yang diadakan di pusat kota Aachen (dekat Dom dan Rathaus), biasanya 2 kali setahun: Trodel & Antikmarkt. Barang yang dijajakan di sana beragam, mulai dari barang antik, barang dapur, asesoris rumah, kepingan hitam, alat elektronik, mainan hingga keperluan sehari-hari. Kalau dibandingkan harga di flohmarkt ini lebih mahal dari flohmarkt biasa.

Komunitas Indonesia di Aachen. Cukup dengan jalan-jalan dan belanja, sesekali kami berkumpul dengan kawan atau keluarga Indonesia. Agenda rutin yang saya ikuti adalah pengajian setiap 2 minggu sekali dengan ibu-ibu tak berkerja di Aachen dan sebulan sekali ibu-ibu dan mahasiswi Aachen. Bapak-bapak dan mahasiswa punya agenda pengajian yang berbeda. Kadang rumah kami ketempatan untuk menjamu undangan pengajian. Diluar pengajian, kami juga mengenal beberapa keluarga Indonesia dan sesekali masih menyempatkan untuk bertemu.

Kegiatan Anak di Masjid. Khusus untuk anak-anak muslim berusia diatas 5 tahun, ada aktifitas anak-anak di sebuah masjid besar di Aachen, Mesjid Bilal. Mesjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan di Aachen dan jamaahnya internasional. Jadwal kelas untuk anak ada beberapa tergantung usia. Karena saat kami datang Grahito belum 5 tahun maka dengan beberapa orang tua yang anaknya seusia, kami membuat TPA mini dan punya jadwal rutin sendiri.

Kesimpulannya, sejauh ini kami menikmati kehidupan kami di Aachen dengan berbagai senang dan susahnya. Kami memanfaatkan banyak hari libur juga untuk mengunjungi negara-negara sekitar yang berbatasan dengan Aachen, misalnya Paris, Perancis; Brussel, Belgia; dan beberapa kota di Belanda. Yang sedikit lebih jauh dari Aachen, kami pernah mengunjungi beberapa kota di Spanyol, England dan Scotland. Untuk cerita lebih lanjut petualangan jalan-jalan ke kota-kota tadi tunggu saja di edisi selanjutnya ya 😉

———

Tia: trikukuhlivingabroad.weebly.com .

Foto-foto yang yang ada di artikel ini adalah foto pribadi Tia dan keluarga, foto-foto lainnya terhubung dengan link dari foto asli tersebut. Diedit oleh: @chiceniza

Memasak Makanan Indonesia di Perantauan

Baik sudah bertahun-tahun, maupun baru beberapa bulan -yang namanya merantau pasti mendatangkan suatu perasaan yang hampir tidak bisa dihindari para perantau; yaitu homesick. Biasanya homesick mengingatkan kita akan dua hal : orang-orang yang kita sayangi dan makanan kesukaan kita (yang biasanya kita nikmati bersama mereka). Kalimat-kalimat seperti “Aduh, kangen sup brenebon nya Mama deh” atau “Jam segini makan nasi goreng tek-tek enak ya” – mungkin pernah Anda lontarkan selama masa perantauan Anda.

Di beberapa kota tujuan rantauan yang tinggi populasi orang Indonesia-nya, mencari makanan Indonesia mungkin tidak sulit, contohnya di Sydney (Australia), Philadelphia (Amerika Serikat), dan Amsterdam (Belanda). Tetapi bagaimana dengan para perantau di kota-kota dimana restoran Indonesia jarang/bahkan tidak dapat ditemui? Pilihan yang murah dan sebenarnya mudah adalah dengan memasak makanan Indonesia sendiri di rumah! Tidak bisa masak? Tenang, di era teknologi seperti sekarang ini, ada berbagai macam cara untuk belajar memasak. Salah satunya adalah dengan menonton podcast khusus masak-memasak yang di produksi dengan sangat simple, jelas, kreatif, dan modern oleh anak-anak muda Indonesia yang tergabung dalam Youtube channel  Masak. TV.

Screen shot 2015-02-11 at 3.46.59 PM

Sebelum subscribe dan mulai mempelajari resep-resep mereka, simak beberapa tips singkat berikut ini berdasarkan obrolan kami dengan Chef Alvin Maulana dari Masak.TV yang kerap disapa “Kapau”. Alvin mengaku sebagai seorang pecinta makanan indonesia yang selalu bercita-cita untuk mempunyai restaurant Indonesia di luar negri karena ingin memperkenalkan budaya Indonesia lewat makanan. Penggemar lalapan + sambal + tahu goreng setengah matang + bawang goreng dan sedikit kecap manis ini (lengkap yaa!) sudah suka memasak sejak kelas 2 SD,  karena senang melihat orang lain tersenyum akibat makanan yang enak. Menurut Alvin, masakan itu adalah suatu bentuk seni yg sangat luas sekali , selain bisa dinikmati dari segi visual, masakan bisa dinikmati dari segi rasa. Nah, sudah siap belajar? Siapkan catatan Anda!

Bumbu-bumbu Wajib Dapur.
Untuk memudahkan proses memasak dan menghemat waktu dalam memasak masakan Indonesia, Alvin menyarankan kita untuk menyetok “bahan-bahan untuk membuat 3 bumbu dasar (bumbu inti) masakan Indonesia, yaitu Bumbu Putih, Bumbu Kuning, dan Bumbu Merah”. Mengapa? Karena dengan penambahan kecap, daun pengharum, dan santan, ketiga bumbu dasar ini dapat dipakai untuk membuat berbagai menu masakan Indonesia. Untuk mengolahnya, Anda bisa menggunakan cara manual dengan ulekan (atau cari mortar and pestle di banyak tempat belanja online maupun di toko-toko Asia) atau food processor.
Berikut bahan-bahannya:

1. Bumbu Putih ini biasanya dipakai untuk membuat menumasakan seperti opor, lodeh, dan empal. Bahan-bahannya : Bawang merah, bawang putih,  lengkuas,  jahe, dan kemiri.

Screen shot 2015-02-11 at 4.05.37 PM
2. Bumbu Kuning dapat digunakan untuk membuat ayam goreng, pepes, dan bahkan soto. Bahan: Bumbu putih dan kunyit.
Screen shot 2015-02-11 at 4.04.43 PM
3. Bumbu Merah tentunya dapat digunakan untuk membuat sambal balado dan masakan-masakan ‘turunan’nya seperti ayam balado, telur balado, dan lain-lain. Bahan-bahannya: Bumbu Putih, cabai (paling mudah ditemui Thai bird’s eye chilli), sereh,  daun jeruk, dan daun salam.
Screen shot 2015-02-11 at 4.06.42 PM
Cara lengkap pembuatan masing-masing bumbu versi Masak.TV bisa nonton episode yang ini:
Mengakali Keterbatasan Bahan Dasar
Tinggal di perantauan bisa berarti memiliki keterbatasan mendapatkan bumbu-bumbu wajib Indonesia. Seperti yang kita ketahui, tidak mudah mencari rempah-rempah dan bumbu-bumbu khas nusantara di negeri orang. Maka itu, Anda dapat mengakalinya dengan menggunakan bahan atau bumbu substitusi..! Contohnya, menurut Alvin “Kemiri dapat Anda ganti dengan kacang tanah atau kacang mete (cashew)”. Sementara asam jawa dapat Anda ganti dengan cuka atau bahan lain yang memiliki rasa serupa (asam-manis). Perlu diingat bahwa menggantikan bahan yang seharusnya dipakai pada suatu masakan tentunya akan menghasilkan sedikit perbedaan pada rasa. “Misalnya, si asam jawa apabila diganti cuka pasti yang tergantikan hanya rasa asamnya saja, karna akan hilang aroma tengir (susah mencari padanan kata untuk mendeskripsikan rasa ini!) dari asam jawa tersebut. Jadi, bila Anda memakai bahan pengganti, pasti tidak akan sempurna 100%,” jelas Alvin.
Menakar Bumbu
Di banyak negara kita bisa mencari bumbu-bumbu dalam bentuk bubuk (powder atau ground) atau daun kering (dried herbs) dengan mudah di rak pada supermarket. Tapi bagaimana menakarnya? Pasti berbeda jika menggunakan bahan-bahan segar.

“Menurut saya pribadi tidak ada takaran pasti untuk setiap masakan , karena semuanya tergantung dari indra pengecap kita masing-masing,” jawab Alvin saat ditanya mengenai takaran bumbu yang pas saat menggunakan bahan-bahan dalam bentuk bubuk/kering. “Dan bagi saya, masakan yang paling menyenangkan adalah ketika kita mengikuti rasa yang kita inginkan. Tips dari saya, kalau sedang membumbui masakan, tambahkanlah sedikit demi sedikit saja, sambil menyicipinya sesekali. Jika yang tersedia di kota Anda hanyalah bumbu kering (contoh : kemiri bubuk botolan), campurkan bumbu kering langsung dengan bawang-bawangan ketika sedang menghaluskannya,” jelasnya.
***
Tidak terlalu sulit kan? Memasak masakan Indonesia memang membutuhkan lebih banyak rempah-rempah, tidak seperti masakan ‘bule’, tetapi kalau niat menyempatkan waktu, pasti bisa dilakukan! Sebelum Anda melakukan grocery shopping, berikut ada beberapa terjemahan bahasa inggris dari bumbu-bumbu Indonesia yang mungkin belum Anda ketahui sebelumnya :
  • Daun Salam – Bay Leaves
  • Lengkuas – Galangal
  • Jahe – Ginger
  • Kemiri – Candlenut
  • Sereh – Lemongrass
  • Dauh Jeruk – Lime Leaf
  • Kunyit – Turmeric
  • Jinten – Cumin
  • Asam – Tamarind
  • Kapulaga – Cardamom
  • Cengkeh – Clove
  • Pala – Nutmeg
Quick links ke resep-resep di Masak.TV favorit kami yang patut anda coba :

Nasi Gila – bahan-bahannya mudah didapat, cara masaknya pun gampang!

Ayam Goreng Kremes – cocok dengan selera kita dan juga selera orang asing, pas untuk entertaining tamu yang datang makan dirumah!

Screen shot 2015-02-11 at 6.55.11 PM

Kering Tempe – pas untuk di stok di dapur, kalau tidak ada makanan di rumah, bisa dimakan pakai telur goreng dan nasi putih!

Kue Cubit – bahannya tersedia dimana-mana (karena mirip pancake), pembuatannya juga mudah!Screen shot 2015-02-11 at 6.40.53 PM

 Tunggu apa lagi? Mari memasak!

*all photos courtesy of Masak.TV

Merantau di Singapura

AjengAjeng Ika Nugraheni – Previously worked as a Personal Assistant for Ministry of Public Works under UNDP’s Agency for the Rehabilitation and Reconstruction of Aceh and Nias. Now enjoying her time being  a ‘Personal Assistant’ for her little family in Singapore and working remotely for two institutions in Indonesia.

Merantau ke Singapura: Tahun 2012 pindah ke Singapore mengikuti suami yang bekerja di sini sebagai Software Engineer di salah satu perusahaan bidang media dan secure communication. Anak saya, Maika Lemoni Amanda (Lemon) sekarang berumur 4 tahun lahir di Jakarta, sudah K1 (setara TK A). Sejak pindah ke Singapore, kami memutuskan untuk tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Saya bekerja secara remote untuk dua institusi di Bogor dan Jakarta. Jadi selain mengerjakan tugas-tugas untuk pekerjaan tersebut, saya dan suami bersama-sama mengurus rumah dan anak.

2

Singapore first to do: Tidak ada dokumen yang harus diurus ketika sampai di sini. Visa sudah diurus oleh perusahaan sponsor sebelum kami tiba. Ketika kami sampai, kami hanya diminta untuk melakukan tes kesehatan saja untuk melengkapi persyaratan. Setelah tes kesehatan dinyatakan lolos, kami bisa mengambil kartu identitas di Ministry of Manpower sekaligus melakukan fingerprint scan.

Visa: Jenis visa yang dimiliki oleh suami saya saat ini adalah Employment Pass (EP) alhamdulillah bisa memberikan sponsor tinggal (Dependent Pass, DP) untuk istri dan anak. Pengurusan DP inipun juga diurus oleh perusahaan sponsor. Saat ini status kami masih foreigner. Masih dalam proses pengajuan Permanent Resident (PR) sejak 3 bulan yang lalu, doakan dapet ya 😀

Picture by: Nazura Gulfira

View from Marina Bay Sands

Foreigner: Dengan status kami sebagai foreigner, tidak ada benefit yang menonjol yang kami dapatkan. Biaya rumah sakit, sekolah sampai daftar perpustakaan semuanya bayar. Berbeda dengan PR. Kalau sudah PR, mencari sekolah untuk anak bisa lebih mudah, bisa mencari sesuai dengan yang diinginkan. Jumlah jatah kursinya di bawah citizen soalnya. Kalau foreigner ya terima nasib aja dapet sekolah di mana. Jadi cuma bisa milih sekolah dan berdoa mudah-mudahan masih ada sisa kursi di sekolah tersebut. Kalau jatah sudah habis untuk citizen dan PR (dan foreigner lain) ya pasrah, hehehe. Kesehatan juga begitu. PR mendapat subsidi lebih banyak dari pemerintah daripada foreigner.

Permanent Resident: Kalo PR dan citizen wajib punya account Central Provident Fund (CPF). Uang yang masuk ke rekening ini didapat dari potongan gaji tiap bulan. Baik employer dan employee harus sama-sama berkontribusi untuk CPF ini. Besarannya berbeda-beda. Tergantung di perusahaan lokal atau internasional dia bekerja. Dana CPF ini dibagi 3 peruntukannya: Pertama, Medisave Account, bisa dipakai untuk keperluan rumah sakit (jadi kalo mau vaksin anak dan urusan dengan rumah sakit bisa dipotong dari simpanan ini). Kedua, Special Account, untuk investasi yang bisa dipakai di masa pensiun. Ketiga, Ordinary Account, bisa dipakai untuk membeli properti, asuransi, investasi dan lain sebagainya. Nah, nanti kalau sudah berumur 55 tahun, pemerintah akan membuat Retirement Account yang dananya di combine dari Spesial Account dan Ordinary Account, dan bisa dicairkan dengan jumlah tertentu sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Jadi selain mendapatkan beberapa kemudahan dibanding foreigner, menjadi PR juga jadi punya tabungan yang diatur oleh pemerintah. Walaupun kesannya ‘dipaksa’ tapi sebenarnya bermanfaat juga untuk kita sendiri.

by Nazura Gulfira

Marina Bay Sands

Remote Worker: Sejak pindah ke sini, otomatis saya harus resign dari pekerjaan saya. Bos saya di Kementerian PU tetap meminta saya membantunya dalam beberapa hal, jadi saya diperbolehkan bekerja jarak jauh. Thanks to technology! Jadi bekerja jarak jauh itu sangat memungkinkan. Saya tetap bisa membantu beliau untuk urusan draft surat menyurat, mengecek laporan dan beberapa dokumen agreement project baik dengan sumber dana dalam negeri atau luar negeri. Selain itu, saya juga sempat membantu tim Komunikasi Bornean Orangutan Survival Foundation (BOSF), sebuah NGO yang mendedikasikan kegiatannya untuk konservasi orangutan dan habitatnya. Saya membantu Tim Komunikasi untuk membuat produk-produk komunikasi, salah satunya mengompilasi cerita dan laporan yang didapat dari lapangan menjadi suatu artikel dan dimuat di Web mereka. Sesekali saya juga ikut membantu menyusun laporan dan cerita adopsi untuk diberikan kepada para donatur. Dulu kalau sedang ada kegiatan pelepasliaran orangutan, saya ikut ke hutan. Kalau sekarang, sambil tiduran di kasur atau sambil nungguin masakan mateng, stand by, tunggu giliran untuk bantu apapun yang bisa dilakukan dari jarak jauh hahaha.

Freelancer: Kalau ada Ibu yang ingin bekerja sebagai freelancer di Singapura, mereka harus mendaftarkan diri mereka sebagai ‘badan usaha’. Hal ini harus dilakukan karena berhubungan dengan pembayaran dan pajak. Pendaftarannya mudah dan cepat, bisa cek di https://www.acra.gov.sg. Nah, karena saya bekerja untuk institusi di Indonesia, maka saya tidak perlu melapor di sini. Pendapatan juga dalam Rupiah, jadi tidak eligible untuk membayar pajak di Singapore.

Tips saya untuk mamarantau yang juga bekerja dari rumah:

  • Harus punya jadwal. Saya tetap mendahulukan kepentingan rumah tangga dulu baru jika semuanya sudah selesai dikerjakan, saya akan mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Ada kalanya saya harus mendahulukan pekerjaan tetapi sebisa mungkin tidak terlalu mengganggu kebutuhan anak saya, misalnya.
  • Harus ikhlas, hahaha. Kadang beberapa pekerjaan baru bisa dikerjakan ketika malam hari ketika semua pekerjaan rumah sudah selesai dan anak sudah tidur. Kadang capek sekali. Pengennya ikutan tidur. Tapi namanya juga kerja, jadi ya harus tanggung jawab dan…ikhlas 😛
  • Berbagi tugas dengan suami. Rasanya tanpa menjadi Ibu bekerja pun, sudah selayaknya kepentingan rumah tangga dikerjakan secara bersama-sama. Jadi kalo lagi dikejar deadline, tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan suami untuk urusan rumah. Saling support lah 😀

Mencari apartemen: Kami tinggal di apartemen milik pemerintah, Housing and Development Board (HDB). Beberapa tahun yang lalu, kemudahan ini tidak bisa dimiliki oleh foreigner. Foreigner hanya bisa menyewa private apartment/condo. Alhamdulillah ketika kami tiba, peraturan ini sudah dihapus.

4Beda antara HDB dan private apartment adalah di harga (tentu saja) dan fasilitas. Di private apartment biasanya ada fasilitas gym, kolam renang dan activity room (bisa di sewa). Kalau di HDB, tidak ada. Tetapi jangan khawatir karena pemerintah Singapore menyediakan playground, alat-alat olahraga di setiap sudut HDB dan activity building (community center) di setiap distrik. Pemerintah juga menempatkan bangunan-bangunan HDB dekat dengan MRT station dan halte bus. Setiap komplek HDB juga dilengkapi dengan supermarket, convenience store, klinik kesehatan dan berderet ruko-ruko. Biasanya, sekolah anak juga ada yang memakai bangunan HDB. Jadi, kalau tidak/belum punya kendaraan pribadi, tinggal di HDB rasanya lebih efisien.

Ada juga condo yang dekat dengan fasilitas publik, tetapi sepertinya tata kotanya memang sengaja memprioritaskan HDB agar lebih mudah diakses.  Tidak ada syarat khusus untuk menyewa property, kecuali membeli. Foreigner hanya boleh membeli private apartment. Sedangkan PR bisa membeli resale HDB (bukan unit baru), dengan syarat sudah menjadi PR minimal selama 3 tahun.

Biasanya calon penyewa bisa mencari property di website seperti www.propertyguru.com.sg/. Semua transaksi antara calon penyewa dan pemilik biasanya dilakukan dengan perantara agent. Untuk menyewa property di Singapore, selain menyiapkan harga sewa, harus disiapkan juga agent fee (biasanya sebesar setengah harga sewa, jika kontrak sewa 1 tahun) dan deposit untuk pemilik property (biasanya seharga 1 bulan sewa untuk kontrak 1 tahun). Selain itu, juga ada biay stamp duty, untuk pengurusan administrasi dengan pemerintah.

Range harga apartemen: Singapore memang terkenal dengan harga property yang muahal :p Untuk harga sewa HDB di tengah kota (kebetulan saya tinggal di central), 2 bedroom berkisar antara $2100 – $2800 per bulan, tergantung lokasi dan furnish/non furnish. Sedangkan condo, 2 bedroom di daerah yang sama, harga sewanya berkisar antara $2900 – $4500 per bulan.

Pembagian district di Singapura

Sekolah Anak: Fasilitas sekolah gratis hanya berlaku untuk citizen saja. PR membayar tetapi jauh lebih murah daripada foreigner. Kalau di Indonesia masih ada pro kontra belajar calistung, di sini mau gak mau memang sudah harus belajar calistung sejak dini. Tidak heran, banyak sekali anak umur 4 tahun sudah mengikuti les calistung ini, untuk persiapan masuk ke SD. Lalu untuk masalah toleransi. Anak saya sekolah di Kindergarten yang ada di Masjid. Walaupun begitu, mereka juga merayakan hari raya agama lain. Dari Natal, Deepavali sampai Chinese New Year. Dari kecil sudah dipupuk rasa toleransi yang tinggi. Maklum ya, tinggal di negara yang multi agama dan etnis. Pemerintah sangat menjaga diversity ini.

AFP Photo

Pre-school children tour the Garden by the Bay

Vaksinasi: untuk anak, vaksinasi wajib hampir sama dengan di Indonesia kecuali MMR. Vaksin MMR sudah jadi wajib kalo di sini. Waktu pemberian vaksin pun agak sedikit beda. Kalo di Indo, MMR dosis pertama di umur 15-18 bulan, dosis kedua di umur 5 tahun. Kalau di sini, dosis pertama di umur 12 bulan, dosis kedua di umur 15-18 bulan. Biasanya sebelum masuk SD, daftar imunisasi ini akan di cek oleh National Immunisation Registry , kalau ternyata ada yang kurang dan tidak sesuai, akan diminta untuk melengkapi dulu, tapi ya gak gratis juga hihihi. Kecuali citizen ya, mereka punya subsidi khusus dari pemerintah (berupa baby bonus dan atau rekening khusus Medisave milik orangtua).

Transportasi: Sejauh ini kami gak kepikiran untuk punya kendaraan pribadi. Sudah cukup dengan MRT, bus dan taxi yang mudah diakses. Plus juga, transportasi publik ini juga sangat ramah terhadap Ibu (dengan anak-anak) dan kaum disable. Semuanya bisa naik transportasi umum dengan nyaman, aman dan murah. Lagipula harga mobil di sini mahal sekali. Harus bayar ijin juga. Belum pajak dan harga BBM nya juga gak murah. Untuk perbandingannya, satu harga mobil di sini bisa buat beli 3-4 mobil di Indonesia. Untuk naik bus dan MRT, pakenya kartu yang bisa diisi ulang. Biasanya ez-link atau nets. Adult Monthly Pass dihargai $120 untuk unlimited perjalanan selama 30 hari. Ada juga discount fare yang ditujukan untuk penumpang lanjut usia, disable dan pelajar. Lalu ada kartu-kartu khusus yang berafiliasi dengan institusi tertentu, misalnya kartu kredit, yang bisa digunakan untuk kartu perjalanan. Ohya ini beberapa aplikasi yang membantu buat cek jadwal MRT dll: Gothere.sg, GrabTaxi, dan SG NextBus.

Bus

Di MRT dan Bus yang nyaman untuk anak-anak dan keluarga

Anak dengan tinggi di atas 90 cm sudah harus bayar. Tapi untuk anak-anak TK (walaupun tingginya sudah di atas 90 cm) tetap bisa gratis kok, asal mengajukan permintaan dulu ke ticketing office. Nanti dikasih kartu khusus. Sejauh ini sih belum pernah pake yang monthly pass. Soalnya biaya transportasi dalam sebulan baik saya dan suami, gak ada yang sampe $120.

https://muhammadmdrahim.files.wordpress.com

Kendaraan umum di Singapura: aman dan nyaman

Komunitas Indonesia: Kenal dengan mamarunnerSG sejak pindah kesini. Kebetulan Shinta dan Thalia, salah dua dari founder The Urban Mama mengajak untuk bergabung di grup WhatsApp yang isinya Ibu-Ibu Indonesia yang tinggal di Singapore yang lagi keranjingan lari. Kebetulan taun itu saya lagi seneng-senengnya lari, kesenengan dikasih running track bersih aman tersebar di seluruh penjuru negri :p

6

MamarunnerSG

Keluarga MamarunnerSGWalaupun kemampuan olahraga kami berbeda-beda (ada yang udah ikutan marathon, triathlon sampe jago yoga, tapi ada juga yang larinya cuma 5K aja mulu :p) tapi ya cocok-cocok aja tuh. Saling berbagi jadinya. Beberapa dari kami sering janjian lari bareng kalo rumahnya deketan, atau training bareng menjelang race. Semakin kesini hubungan ini jadi lebih dari hubungan ‘ibu-ibu yang sama-sama suka lari’ tapi udah kayak keluarga. Whatsapp group ngebahas dari mulai olahraga sampai urusan sekolah anak. Minimal satu bulan sekali ketemu untuk arisan dan makan-makan. Gak cuma Ibu-Ibu aja yang ngumpul, tapi juga para suami dan anak-anak Sebagai kaum rantau yang jauh dari keluarga support group kayak gini tentu saja ngebantu banget ☺

Tempat favorite untuk jalan-jalan di Singapore:

1. Museum: Singapore punya banyak sekali museum. Beberapa diantaranya: Peranakan Museum, National Museum of Singapore, Singapore Art Museum, Mint Museum of Toys, Science Center dan masih banyak lagi.

Peranakan Museum

( Picture: www.lowsweetling.com)

Mint Museum of Toys

Kebanyakan museum memberikan free entry untuk citizen dan PR. Untuk foreigner biasanya membayar, sesuai dengan golongan usia. Untuk student dan senior, diberikan harga khusus. Museum-museum itu juga memberikan free entry kepada seluruh pengunjung di hari dan jam tertentu. Jadi kalo mau berkunjung, lebih baik cari infonya dulu di website mereka. Siapa tau bisa dapet yang gratis ☺

(Picture by: Nazura Gulfira)

National Museum of Singapore

2. Playground, park atau library. Singapore itu surganya taman. Kebetulan jarak 1 km dari rumah, sudah bisa sampai ke Bishan Park. Bisa sepedaan, lari-larian, main frisbee atau melihat anjing bermain di area dog run. Kadang kami juga jalan-jalan ke Singapore Botanic Garden. Banyak sekali pilihan playground dan tempat bermain outdoor. Tempat-tempat ini tersebar di mana-mana. Bisa dilihat daftarnya di sini https://www.nparks.gov.sg/.

9

Far East Organization Children’s Garden at Garden by the Bay

Konser Singapore Symphonic Orchestra di Singapore Botanic Garden

Singapore juga punya pantai, walaupun buatan hehehe. Tapi lumayan lah kalau cuma pengen main pasir dan basah-basah dikit :p Selain bisa bermain pasir, kita juga bisa menyewa pit untuk barbeque di beberapa pantai (selain pantai-pantai di Sentosa). Sewanya murah, hanya $20 bisa dipakai seharian penuh. Bisa juga mendirikan tenda, tapi tetap harus ijin dulu.

Siloso Beach dan Pasir Ris

3. Perpustakaan. Kami suka ke perpustakaan. Perpustakaan ada di setiap distrik dan within walking distance dari pemukiman. Semuanya swalayan dengan mesin-mesin canggih yang awalnya bikin saya beneran bengong, pas pertama kali masuk ke salah satu public library.

Di salah satu cabang perpustakaan: kita bisa pinjem buku dengan cara seperti ini

Koleksinya lengkap dari buku anak-anak berbagai bahasa sampai koleksi audio dan video. Karena masih foreigner, kami harus membayar sekitar $50 untuk biaya keanggotaan selama satu tahun. Maksimal bisa meminjam 16 buku dalam satu kali pinjam dengan durasi 21 hari. Tidak ada biaya tambahan waktu pinjam buku.

13

Bishan Public Library

Oh ya, ada jadwal untuk aktivitas anak-anak di setiap perpustakaan yang diadakan di hari-hari tertentu. Jadi silahkan cek ke website http://www.nlb.gov.sg/ untuk jadwal di setiap public library.

[Photo: National Library Board]

Children having a fun reading experience at the green library “My Tree House”

National Public Library of Singapore

4. Jalan-jalan. Dengan keluarga: paling jalan ke Orchard Rd. Makan siang, jajan es uncle (es potong yang ada di Orchard) dan jalan-jalan ke mal atau yang paling sering kami lakukan, ngopi di Tiong Bahru Bakery sambil gambar-gambar.

“Es Krim Uncle”

Kongkow

Kongkow dengan temanteman wanita: biasanya ketemu pagi hari waktu anak-anak masih sekolah. Ngopi, sarapan di Tiong Bahru Bakery atau beberapa coffeeshop di Holland Village seperti Baker and Cook atau d’Goods.

Holland Village

Makan dengan keluarga: Paling sering ke Sari Ratu dan Ayam Bakar Ojo Lali (semuanya ada di Lucky Plaza), atau yang sekarang lagi disukai, Encik Tan, menjual makanan lokal Singapore dan halal. Susah soalnya cari makanan lokal Singapore yang halal. Jadi kalo pengen ngerasain Fried Oyster yang halal, bisa dicoba di sini. Atau kalo lagi pengen makan dimsum enak, biasanya ke Tang Tea House Hongkong Café di Bedok. Agak jauh sih dari rumah, tapi demi dimsum halal dan enak, dijabanin juga deh!

Oh ya, untuk persoalan halal dan tidak halal ini, saya merasa Singapore lebih ketat dibanding di Indonesia. Beberapa foodcourt sengaja memisahkan stall halal dan non halal. Kalau pun di satu atap, piring yang digunakan berbeda warna. Biasanya warna hijau (kadang putih) untuk makanan dari stall halal, dan selain warna tersebut untuk stall non halal. Penjualnya juga pro aktif memberitahu kita kalo makanan yang dijualnya gak halal. Misal: chicken rice. Stall nya sih memang cuma jual nasi hainan dan ayam saja, tapi ternyata ayam yang dipakai bukan ayam dari rumah potong berlabel halal. Atau ternyata kaldunya mengandung bahan yang tidak halal. Mereka pasti akan memberitahu kita. Kadang galak :p Sering deh diomelin uncle-uncle dulu pas awal-awal. Kalo sekarang sih, karena males diomelin lagi jadinya yang pasti-pasti aja deh, selalu lihat ada logo halal atau tidak di stall nya. Untuk kami yang muslim, ternyata menjadi minoritas di negara tetangga, gak susah kok. Malah rasanya lebih diperhatikan sama pemerintah ☺ Banyak sumber untuk mengetahui berbagai macam restoran halal di Singapore. Kalau di instagram biasanya saya cek @thehalalfoodblog.

5. Belanja. Pakaian: paling sering di H&M, Cotton On atau Uniqlo. Biasanya saya suka belanja banyak di bulan-bulan Singapore Great Sale. Harga baju-baju jadi murah karena diskon gila-gilaan, jadi bisa sekalian belanja untuk stock.

Groceries. Paling sering belanja di Fairprice atau Giant yang paling dekat dengan rumah. Biasanya dua supermarket ini memang ditempatkan di daerah pemukiman. Jadi hampir di setiap komplek HDB pasti ada salah satu (atau bahkan dua-duanya) supermarket ini. Biasanya supermarket ini juga ada di stasiun MRT. Sayur dan buah-buahan hampir semuanya import karena Singapore gak punya lahan luas untuk pertanian. Paling banyak produk datang dari Malaysia dan Indonesia. Jadi kalo mau cari bahan masakan khas Indonesia, tidak begitu sulit. Tapi kalau mau cari bahan-bahan import non asia yang gak biasa, bisa ke Cold Storage. Barangnya lebih bervariasi. Ada juga pasar basah. Gak di semua distrik ada sih. Tapi saya lebih suka belanja di supermarket karena untuk produk daging dan ayam sudah ada label halalnya. Jadi lebih tenang hehehe. Nah, kalau mau jajanan Indonesia seperti krupuk aci, segala macam snack, minyak kayu putih, bumbu instan untuk masak soto atau indomie yang asli Indonesia, biasanya belanja di Indo Stop, di Lucky Plaza lantai 2.

Buat yang ga pernah ke Singapura dan tiba-tiba harus pindah ke sana, ada tips how to deal with Singaporean? Atau hal-hal yang berpotensi menjadi culture shock?  Waktu pertama pindah kesini, bawaanya parno! Hahaha. Kalo mau apa-apa hati-hati banget. Cari petunjuknya dulu, saking takutnya salah dan melanggar aturan. Singapore kan terkenal banget dengan denda untuk hal-hal seperti buang sampah sembarangan, vandalism, makan/minum di dalam kereta/bus, bawa duren di kereta/bus, merokok sembarangan, ketauan ada jentik nyamuk di rumah dan masih banyak lagi.

Tapi untungnya semua peraturan tersebut sangat jelas. Jadi segala macam sticker peringatan ada di mana-mana. Semua serba teratur. Semua serba antri (bahkan ada yang bilang, Singaporean itu suka banget antri, semakin panjang antrian semakin suka, padahal kadang gak tau apa yang diantriin :p). Tapi walaupun awalnya parno, lama-lama jadi suka dan kadang jadi ikutan concern kalo misal ngeliat turis makan di kereta, menyerobot antrian, atau memaksa pakai lift duluan padahal ada nenek-nenek atau ibu-ibu membawa stroller bayi lagi antri, rasanya pengen negur hihihi.

Sama seperti negara lainnya, Singaporean tersebar di strata sosial yang berbeda-beda. Pandangan dari suatu kelompok tidak bisa dijadikan patokan. Mereka sangat menghormati para foreigner yang datang dari latar belakang yang berbeda-beda, termasuk Indonesia. Tetapi ada juga sentimen khusus untuk Indonesian, contohnya ketika terjadi kabut asap kiriman akibat pembakaran hutan di Sumatera: Hal ini jadi kasus yang berulang setiap tahun. Karena terus menerus terjadi tanpa perbaikan yang berarti, banyak tanggapan negatif terhadap pemerintah Indonesia. Biasanya juga jadi terbawa ke hubungan Singaporean-Indonesian sehari-hari. Gak terlalu ekstrim sih, cuma kasus itu kayaknya yang paling ‘nempel’ bagi Singaporean.

Singapore haze 2013 – kontras saat kejadian dan sebelum

Soal toleransi juga lumayan kental. Suami dan beberapa teman saya cerita, jika ada acara kantor, lalu mereka mau makan-makan, pasti yang ditanyai adalah muslim dulu. Kalo ada muslim di acara itu, catering yang dipesan pasti halal. Mereka juga pasti menyediakan menu vegetarian dan juga menghormati orang India yang tidak makan beef. Saking banyaknya agama dan suku di sini, justru kepedulian satu sama lain sangat terasa.

Singaporean juga sangat menyukai olahraga. Gak heran deh kalo jam 11 malam masih liat orang lari keliling komplek. Banyak juga yang bike to work, suami saya salah satunya. Banyak sekali acara olahraga yang diadakan baik oleh pemerintah atau swasta. Run race mulai dari yang fun run sampai triathlon. Kalau pergi ke reservoir, bisa liat orang latihan mendayung. Pokoknya, mereka sangat aktif sekali. Lingkungan seperti ini yang bikin kami selalu ikut terpacu untuk terus aktif dan menjaga kesehatan.

How to deal with Singaporean? Kalem aja, lakuin segala sesuatu sesuai perintah. Kalo kita gak ngelakuin sesuatu yang salah, mereka gak akan bereaksi berlebihan kok.

Yang paling disukai dari tinggal di Singapura: Semua hal yang serba teratur, jelas dan efisien! Dan juga lingkungan yang sehat, bersih, menyenangkan dan ramah untuk anak-anak. Yang paling gak disuka? Mahal! :p

———-

Ajeng:  https://mskpk.wordpress.com, IG: @misskepik.

Some pictures are provided by Ajeng – and some others directly linked to the images URL.