Merantau di Aachen

TiaSari Agustia (Tia) was born in Bandung 32 years ago, now a happy wife and mother of two (Grahito, 5 y.o and Giska, 2 y.o). Cooking, watching, and writing are her favorite me time activities. Author of “Love Fate” book.

Tia dan keluarga. Sejak menikah di tahun 2008, saya resmi merantau jauh dari keluarga. Kala itu suami berkerja di salah satu perusahaan multinasional untuk servis minyak dan gas di Kuala Lumpur (KL), Malaysia. Cukup lama kami tinggal di sana, 4 tahun, hamil kedua anak di KL, bahkan putri bungsu kami, Giska, lahir di kota itu. Bulan Januari 2013, kurang lebih 40 hari setelah Giska lahir, kami meninggalkan KL untuk pindah ke Jerman. Selama kurang lebih 4 bulan, saya dan anak-anak mengurus kelengkapan tinggal kami di Jerman sedangkan suami telah lebih dulu pergi karena pekerjaan. Empat bulan terpisah adalah keinginan kami karena ingin menghadiri pernikahan sepupu di Surabaya pada bulan Mei 2012. Namun siapa sangka ternyata waktu 4 bulan ternyata full untuk mengurusi kepentingan surat menyurat visa kami ke Jerman.

famili

Keluarga Trikukuh, 2014

Mengurus Visa Jerman. Sebetulnya sebelum kepergian kami dari Kuala Lumpur, suami mengklaim sudah membaca hal-hal yang kami perlu persiapkan. Salah satunya yang penting adalah sertifikasi bahasa Jerman A1. Bukan main kemalasan saya timbul karena harus mempelajari bahasa baru. Jujur ni ya, saya bukan seorang yang pandai dengan bahasa. Bahasa Inggris saya pun berkembang dengan baik di sini karena tak memungkinkan bahasa yang lain. Tes bahasa Jerman A1 adalah yang paling dasar. Di Indonesia bisa dengan mudah mengambil tes itu di Lembaga Bahasa Jerman GOETHE INSTITUT.

Tapi tidak hanya itu, ga seru kalau visa didapat dengan mudah. Setelah saya cek sendiri ke website kedutaan besar Jerman di Indonesia persyaratannya bermacam dan rumit. Berbagai kelengkapan “tetek bengek” yang ribet ternyata menanti. Kita list ya persyaratan untuk membuat Visa Jerman (Nasional – bagi yang menetap di Jerman lebih dari 90 hari):

  1. Mengisi formulir yang diunduh di Internet.
  2. Biometrik foto. “What the hell is that?” Biometrik foto adalah foto close up pada umunya namun memiliki persentase besaran muka kita terhadap ukuran foto tadi (misalnya 80% gambar terhadap ruang kosong di dalam foto). Di Bandung sendiri khusunya sudah ada di beberapa studio foto melayani biometric foto. Kami foto di foto studio terbesar di Dago.
  3. Surat nikah yang dilegalisir Departemen Agama.
  4. Akte kelahiran anak yang dilegalisir Departemen Luar Negeri dan Departemen Hukum dan HAM
  5. Terjemahan dalam  bahasa Jerman atas surat-surat legalisiran.
  6. Sertifikat A1 bagi pasangan.
  7. Buat appointment untuk datang ke kedutaan secara online.

Untuk poin 3 dan 4 bila dilakukan sendiri akan menguras tenaga dan uang tambahan, sebab proses legalisisasi tak bisa serentak ketika kita sampai di Jakarta melainkan harus menunggu dan bolak balik apabila syarat- syarat dokumen tak lengkap (periksa di Web masing-masing Departemen sebelumnya!). Tersedia layanan agen yang mengurusi legalisasi tadi di kedua Departemen. Harganya cukup mahal kalau tidak dibayari oleh perusahaan. Untuk kami sendiri, kebetulan ada rekan keluarga yang membantu membuat prosesnya mudah dan aman. Setelah semua dokumen dilegalisasi dan lengkap barulah menguhubungi penerjemah Indonesia-Jerman yang telah diakui oleh kedubes Jerman (list di web Kedubes Jerman).

Khusus untuk Giska yang lahir di Malaysia dengan Sijil Kelahiran (akte kelahiran versi Malaysia) ternyata kami perlu melegalkannya ke Putrajaya, Malaysia. Itu berarti tambah waktu dan biaya bagi kami yang sudah mendesak untuk ikut serta.

Ketika datang memasukkan formulir pastikan semua sudah lengkap dan dicopi 3x. Karena itu akan memudahkan daripada mampir ke hotel sebelah kedutaan karena ada surat yang tertinggal di-print atau di-copy. Dengan berbagai drama menjelang kepergian kami dan diakhiri dengan kunjungan dan jalan-jalan dengan keluarga ke Surabaya, akhirnya kami bisa juga tiba selamat di Aachen, Jerman di bulan Juni 2013.

Aachen is located in North Rhine-Westphalia, the westernmost city of Germany, located along its borders with Belgium and the Netherlands.

Aachen – Kota Kecil Mempesona. Berdebar rasanya menginjakkan kaki pertama kali di benua Eropa untuk menetap. Bahkan saking deg-degannya, sudah terbayang dinginnya salju di kala winter nanti menggigit kulit buat saya yang sebenarnya untuk dinginnya Bandung pun sudah tak tahan. Namun semakin berdebar, semakin semangat saya menanti hidup baru di sini. Kami tinggal di Aachen. Sebuah kota yang cukup terkenal di telinga orang Indonesia sebagai rumah kedua Mantan Presiden Ketiga Indonesia, Bapak BJ Habibie. Sebuah universitas tempat beliau menuntut ilmu, RWTH (Rheinisch-Westfaelische Technische Hochschule) Aachen University, ada di kota ini. RWTH adalah salah satu universitas dengan jurusan teknik terbaik di Jerman, maka tak aneh banyak sekali mahasiswa/i pendatang atau international students yang menuntut ilmu di sini.  Kota ini laksana kota pelajar pada umumnya termasuk kota murah dibandingkan kota-kota lain di Jerman.

RWTH Aachen University, Main Building

Kami sudah berkeliling beberapa kota sekitar Aachen seperti Dusseldorf, Bonn, Koln (Cologne) dan Freiburg. Seperti halnya kota-kota tersebut public attraction yang mendominasi adalah Domn yakni Bangunan Gereja Kuno yang besar yang umumnya disandingkan atau searea dengan Rathaus, Balai Kota. Arsitektur khas kota tua Jerman (Eropa) mendominasi daerah sekitar kedua bangunan ini. Biasanya terletak di pusat kota yang menjadi tempat atraksi belanja dan restoran untuk minum teh atau kopi.

Aachen Rathaus (Balai Kota)

Toko roti (Backerei) mendominasi di setiap sudut kota, bahkan bisa ada 2 rival bersebrangan. Orang sini gemar sekali dengan roti, terutama yang fresh from the oven. Sekilas info, salah satu scene film Habibie-Ainun pun berlatar belakang sebuah toko roti terkenal di pusat kota Aachen ini: Nobis Printen Baeckerei Aachen.

Nobis

Kendala dan Belajar Berbahasa. Mengenal budaya baru dan orang-orang baru bukanlah mudah namun tidak sesulit yang kami duga. Sebagai pendatang sudah barang tentu kami yang harus memulai untuk berusaha mengenal mereka. Kendala yang paling nyata adalah Bahasa. Memang tak semua orang familiar atau mau berbahasa Inggris. Namun saya beruntung, karena tetangga, dokter, guru dan orang tua murid di TK Grahito cukup terbuka untuk berkomunikasi dengan saya dengan bahasa English. Namun demikian, sebagaimana peribahasa “Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang singa mengaum”, tak ada salahnya apabila sebagai pendatang kami mengecilkan gap yang ada. Salah satunya adalah dengan mempelajari bahasa mereka. Well, menurut saya, sejauh yang saya pelajari, bahasa Jerman ini tidak sesulit bahasa negara Eropa lain. Pengucapan huruf abjad (alphabet) Jerman hampir sama dengan Indonesia. Apa yang dibaca pun sebagian besar sama dengan yang dilihat, meski menyesuaikan dialek memang sulit. Namun bisa dipelajari. Dan tempat belajar bahasa yang terbaik adalah di negara yang bersangkutan.

Salah satu sudut kota Aachen

Sebelum tiba di sini dua tahun yang lalu, saya sudah belajar bahasa Jerman selama 3 bulan (untuk sertifikasi A1 – syarat visa). Namun sesampainya di sini, ternyata sulit sekali menyesuaikan..! Terutama dalam hal berbicara. Sekarang, karena ada penawaran pihak pemerintah (stadt Aachen) yang membayarkan 70% biaya Integration Course – yakni kursus intensif bahasa dan politik Jerman, maka saya kembali belajar Bahasa Jerman selama 4 hari dalam seminggu;  Senin-Kamis selama durasi 3 jam. Saya memilih tempat les yang menyediakan Kinderbetreung (child care) untuk Giska, dengan biaya ditanggung sendiri.

The integration courses introduced in 2005 aim to improve and facilitate the linguistic integration of immigrants in German.

Integration Course memang disediakan pemerintah untuk para pendatang sebagai tujuan mengintegrasikan budaya dan bahasa Jerman bagi pendatang. Diharapkan kelak para pendatang itu dapat bersinergi dengan baik dengan warga asli. Karena tak jarang, misalnya orang Turki sudah puluhan tahun di Jerman bergaul hanya dengan sesama Turki dan tak paham bahasa setempat. Untuk mereka yang tak punya pekerjaan atau hidup kekurangan bahkan kursus ini digratiskan. Sedangkan saya yang suaminya membayar pajak, sebagai subsidi silang dikenakan 30% pembayaran, namun akan dikembalikan sesudah kelas selesai kurang lebih 1.5 tahun. Kalau saya lulus dari kursus ini nantinya saya akan mengantongi ijazah bahasa B1. Ijazah ini bisa dipakai untuk mencari pekerjaan sesuai sarjana yang saya miliki sekarang di perusahaan Jerman, jika mau, atau sebagai syarat mendapatkan visa tinggal untuk jangka waktu yang lebih lama. Kalau belajar bahasa sudah dilakukan, yang harus digiatkan adalah latihannya. Salah satu media berlatih adalah sering-sering ketemuan dengan orang lokal. Komunitas Jerman yang paling sering ketemu adalah orang tua murid di sekolah. Kalaupun tidak di sekolah, ternyata taman bermain (spielplatz) adalah salah satu yang juga efektif untuk latihan berbahasa Jerman.

Berteman dengan Orang Jerman. Pada dasarnya orang Jerman sangat menghargai privacy (aka. tertutup) namun mereka yang saya kenal cukup mau bergaul dengan orang selain Jerman. Sebagai contoh, anak-anak kami playdate bergantian, sesekali sepulang sekolah janjian main di taman, saya sesekali memberikan kue/makanan khas Indonesia kepada mereka bertanya soal pengumuman yang tak saya mengerti atau hal yang lain. Termasuk kedudukan saya sebagai muslim. Lingkungan yang saya kenal cukup familiar dengan muslim. Mereka paham dengan “kostum” yang saya kenakan, Ramadhan sebagai bulan sakral dalam Islam, paham kalau Grahito tak boleh makan babi dan produk turunannya. Kalaupun tak paham, misalnya saat undangan ulang tahun, saya bebas menjelaskan dan mereka maklum dan menyediakan makanan lain untuknya. Sepanjang yang saya temui, Aachen adalah kota yang penuh pendatang dan ramah terhadapnya karena dominasi pendatang dari Turki, Suriah, Libia, Hungaria, Nigeria, Congo dll. Sebagian dari mereka pun Muslim, membawa budaya Muslimnya ke sini.

Festival di Aachen. Sebagai kota yang terbilang kecil sebenarnya Aachen tak pernah kehabisan agenda pesta atau festival setiap tahunnya. Perayaan di bulan-bulan Winter sudah dimulai sejak 11-11 (11 November) pukul 11.11 AM, berpusat di Koln. Muda-mudi, tua-muda berkostum berpesta di siang hari. Kemeriahannya diliputi budaya minum dan tari.

In the Rhineland (Western Germany), the Carnival season is considered to be the “fifth season of the year”, starting at November 11 at exactly 11:11 a.m – at Koln (Cologne)

Weihnachtmarkt. Dalam bahasa Jerman, natal disebut Weihnachten. Sekitar 3-4 minggu sebelum Natal, setiap kota mengadakan pasar malam atau Weihnachtmarkt. Weihnachtmarkt Aachen adalah termasuk salah satu yang terbesar dan meriah. Pengunjungnya tak hanya dari kota setempat, namun mencakup Denhaag, Belanda dan Belgia. Kemeriahan lampu-lampu warna warni menghiasi pepohonan besar sekitar pusat kota. Kios-kios rapih berjejer menjajakan barang kerajinan tangan dan makanan. Jajanannya pun tak kalah mengundang selera, banyak juga yang kami bisa nikmati, seperti waffle, quarkballen (adonan donut berbentuk bola ditabur gula putih), kentang panggang, tumisan jamur, gorengan bunga kol, backfish (ikan goreng krispi). Karena cuaca yang dingin, minuman khas penghangat tubuh khas adalah Gluhwein, wein hangat. Uniknya gluhwein ini disajikan di gelas yang unik. Kalau beli wein ini, harga wein ditop-up dengan deposit untuk gelasnya. Kalaupun tak minum wein, saya bisa beli gelasnya saja seharga 3euro/buah.

Aachen Weihnachtsmarkt

Contoh produk dijual di salah satu stall

Gluhwein (and the unique Mug)

Circus. Selama dua kali mengalami bulan Desember di sini, selalu ada atraksi sirkus di sebuah lapangan terkenal di kota ini. Terakhir kemarin, kami mendapat tiket gratis nonton tayangan perdana sirkus ini bersama teman-teman dari TK-nya Grahito. Ternyata atraksi sirkusnya bukan sirkus seperti jaman saya kecil. Tak ada gajah, hewan lain atau badut. Para artisnya lebih banyak beratraksi gymnastik dipadukan dengan lagu modern dan penataan lampu yang spektakuler. Tak terlalu ramah anak, tapi anak-anak seusia Giska pun bisa menikmati dan Wow! Takjub dengan atraksinya tak berhenti tepuk tangan.

Zirkus Flic Flac di dalam tenda besar

Karnaval. “Alaf…!!” teriakan khas karnaval di setiap akhir musim dingin, lebih dikenal dengan Rosenmontag (Rose Monday). Perayaan ini yang paling ditunggu oleh anak-anak TK, karena mereka bisa memakai kostum ke sekolah pada satu hari di minggu sebelum Rosenmontag. Dan sesuai namanya, Montag = senin, adalah hari libur. Di kota diadakan pawai kereta hias, marching band dan orang-orang berkostum yang panjangnya bisa mencapai 2 kilometer lebih. Berbagai kue, coklat, hiasan dinding, souvenir, tisu, boneka dan apapun dilemparkan ke pengunjung yang sejak awal standby di pinggir jalan dengan kantong-kantong besar siap memunguti barang-barang tadi. Pengunjung pun tak kalah heboh boleh berkostum. Biasanya kalau kostumnya ok, akan dilempari hadiah menarik dari orang yang berada di kereta hias tadi.

Melempar coklat ke para pengunjung. When someone shout “Ocher”, reply them with “Alaaf”.

Suasana di jalanan

KArnaval

Karneval “Rossenmontag”

Hasil berburu

Hasil yang didapatkan dari Rossenmontag (Lumayan yaaa…)

 Ocher bend. Atau dikenal juga dengan pasar malam. Sebenarnya mirip dufan tapi lebih kecil. Permainannya pun bukan biasa, banyak yang menantang adrenalin. Pengunjung bisa masuk dengan bebas namun dikenakan koin atau tiket untuk setiap permainan. Buat saya tiketnya tidak murah untuk sekali main, kisaran 1-2euro, namun mengingat dufan dan sejenis lainnya berada di kota lain jauh dari Aachen, buat para muda-mudi dan anak harga segitu tetep masih bisa memuaskan rasa bermain mereka. Didalamnya sudah barang tentu ada kios-kios jajanan yang bisa mengganjal perut. Ocher Bend datang ke Aachen 2 kali dalam setahun.

Ocher Bend

Oktoberfest.  Dalam dua tahun kami disini, setiap bulan Oktober selalu ada perayaan di sekolah TK-nya Grahito. Tahun pertama, Oktober Fest ini diselenggarakan di sekolah pada siang hari dengan mengundang orang tua murid. Acaranya bernyanyi lagu khas festival dan makan Kürbis Suppe (sup labu kuning). Sup ini pada pagi harinya dibuat bersama-sama oleh guru dan orang tua murid yang punya waktu luang.

Kürbis Suppe

Tahun kedua, ini yang disebut Oktoberfest. Orang tua murid kembali diundang namun acaranya lebih besar karena mengundang orang dari luar sekolah juga untuk hadir. Beberapa orang tua murid dari berbagai negara diminta memasak makanan khas negaranya atau kue-kue. Sekolah membuat kafetaria dengan menyajikan masakan tadi dan yang hadir bisa membeli tiket yang sangat murah untuk menikmati hidangan tadi. Ada beberapa atraksi untuk anak, seperti Schminken (menghias wajah), bros maker atau undian kejutan dengan membeli tiket. Bedanya dengan tahun sebelumnya, kali ini disajikan bir bagi orang dewasa meski non-alkohol bir.

Hito dengan pakaian adat Jawa di acara sekolahnya

Hito dengan pakaian adat Jawa di acara sekolahnya

St. Martin Fest. Ini juga perayaan yang sangat ditunggu oleh anak-anak SD dan TK. Diselenggarakan di bulan November, St. Martin adalah seorang legendaris Nasrani yang budiman. Beliau sebenarnya seorang bangsawan namun rendah hati. Diceritakan suatu hari St Martin yang berjubah panjang menaiki kuda berjalan-jalan di sekitar istananya. Kemudian dia melihat ada orang miskin yang kedinginan. Dia potong jubahnya kemudian dia berikan kepada orang tadi. Sifat baik budinya ini diapresiasi dengan mengadakan perjalanan dengan kaki di malam hari membawa lampion hingga saat ini. Lampionnya spesial  karena anak-anak SD dan TK tadi diberikan kesempatan membuat sendiri dengan dibantu gurunya. Bentuknya sangat unik dan lucu.

St. Marten Festival

Acaranya didampingi oleh orang tua selepas matahari terbenam. Bagi yang beragama Nasrani ada acara berdoa di Gereja, bagi yang beragama lain hanya ikut kemeriahan jalan kaki tadi berkeliling daerah sekitar sekolah diiringi band dan lagu-lagu khasnya (bertema agama). Sampai di sekolah, api unggun dinyalakan, membuat lebih hangat dan disajikan minuman coklat panas dan roti berbentuk orang dengan taburan gula putih.

Grahito dan Giska juga ikut berpartisipasi membuat dan menghias lampion

PS : Diakhir Oktober ada perayaan Halloween. Namun tak semua orang Jerman merayakannya karena bukan tradisi asli disini. Halloween adalah adaptasi dari budaya Amerika yang mulai merambah masuk ke sini.

Tempat Bermain Bersama Keluarga di Aachen

Taman. Banyak sekali arena bermain terbuka di Aachen (saya yakin di kota lain pun begitu). Areal bermain ini umumnya dilengkapi dengan alat-alat bermain seperti ayunan, perosotan, permainan ketangkasan, kolam pasir, dll yang aman kalaupun sang anak terjatuh. Bahkan ada taman yang sangat besar dilengkapi danau dan perahu kayuh sewaan, track sepeda dan jogging, serta kafe. Di musim-musim matahari bersinar (meski masih sedikit dingin), taman bermain ini menjadi arena idaman para ibu/ayah di kala sore atau hari libur. Sepulang sekolah pun saya lebih memilih anak-anak berlarian di lapangan daripada obrak-abrik mainan di rumah. Adanya matahari bersinar pun menjadi barang yang mahal dan langka kalau dilewatkan.

taman

Berenang. Selain taman, keluarga kami senang berenang. Kami memilih berenang indoor di tempat renang umum. Stadt Aachen mengkoordinir tempat-tempat pemandian ini sehingga sangat bersih dan layak digunakan sebagai areal olahraga dan liburan keluarga. Saya bisa berenang di kolam umum ini dengan menggunakan baju renang muslimah. Sebenarnya di kala musim panas ada areal terbuka (outdoor) untuk berenang. Namun karena adat dan budaya bebas di sana kami rasa kurang sesuai untuk dilihat anak-anak kami.

Salah satu Indoor Swimming Pool Elisabeth-Halle (Elisenbad)

Tempat renang favorite kami dan dekat rumah: Südhalle

Perpustakaan. Tempat bermain asik dan hangat di kala musim dingin adalah perpustakaan (bibliotek). Perpustakaan di sini sangat nyaman, bersih dan tertib. Buku-buku anak tertata dengan baik. Ada beberapa yang dwi-bahasa. Ada tempat untuk makan dan menghirup udara segar kalau mau baca-baca di luar gedung. Anak-anak yang mempunyai kartu perpustakaan tidak dikenakan biaya untuk meminjam buku, peminjamannya pun hanya untuk buku anak. Kalau orang dewasa, membayar administrasi 1.5euro dan 1.5euro setiap kali peminjaman buku yang tak terbatas jumlahnya. Batas peminjamannya sama masing-masing sebulan dan boleh diperpanjang.

Di Library

Stadtbibliothek Aachen

Kalau sedang tak pergi ke tempat-tempat tadi dikala akhir Minggu, kami sempatkan untuk jalan-jalan sekitar kota, berbelanja atau makan. Maklum, karena hari Minggu semua toko di Jerman tutup, kecuali restoran, maka kalau ada kekurangan bahan makanan atau lainnya hanya bisa berbelanja di hari Sabtu.

Kalau suka coklat, pastikan mampir ke Lindt Werksverkauf (Factory Outlet). Coklat Lindt di sini dijual dengan harga yang relatif lebih murah dari di pasaran

Makanan. Jajanan yang paling banyak di Aachen adalah Doner Kebab, roti arab yang didalamnya disisipkan daging ayam/kambing yang dipanggang dan salat (salad) dengan  bawang, paprika, kol bersaus tzaziki (asam), mayonnaise, bawang putih atau pedas. Kebanyakan restoran doner ini disertai label halal. Sultan of Kebap adalah tempat makan kebab yang paling happening karena letaknya di Bushof (terminal utama); turun bis udah kecium aroma sedapnya…! Satu menu komplit bisa dilengkapi dengan pommes (kentang goreng) dan soft drink refillable. Tapi kalau yang paling enak, banyak yang setuju HKL kebab, lokasinya deket Rathaus. Bocoran sedikit, jika kamu ingin tahu kota itu termasuk berbiaya murah atau tidak bandingan satu harga menu Doner Kebab dikota tersebut; di Aachen satu menu komplit doner bervariasi antara 4-5,5euro. Selain doner, ada lagi restoran pizza, sushi, fish n’chips, masakan China, India atau Thailand. Tapi 3 yang terakhir kebanyakan masih menyediakan menu babi yang mungkin tak semua dapat dimakan oleh kaum Muslim.

Hähnchen Döner (Chicken Kebab)

Restoran Indonesia sayangnya tak ada di Aachen.  Tapi kalau ingin bahan makanan asli Indonesia, ada beberapa toko asia (Vietnam) yang tersedia di Aachen menyuplai bahan tersebut, seperti Indomie, kecap ABC, kacang tanah, tahu, tempe, dll. Berbelanja disana memang lebih mahal, namun beberapa bahan seperti santan, mie/bihun rebus instant, bumbu masak bubuk misalnya sudah tersedia di supermarket biasa. Sehingga beberapa barang harganya pun sudah bersaing. Buat saya yang hanya bisa masak makanan Indonesia tidak merasa kesulitan mencari bahan makanan sesuai rasa Indonesia. Kalau sedang punya waktu dan ingin jalan, kami pergi ke Maastrich, kota kecil di Belanda yang waktu tempuhnya 1 jam dengan bis dari Aachen. Ada satu toko Asia disana yang sangat komplit, lebih murah dan buka di hari Minggu.

Vaals. Bicara soal Belanda, Aachen berbatasan langsung dengan kota kecil Belanda bernama Vaals. Hanya berjarak tempuh 20 menit dengan bis dari pusat kota Aachen ke pusat kota Vaals. Setiap hari Selasa, ada pasar terbuka mirip pasar di Indonesia. Penjualnya saling berteriak promosi barangnya dan dijual dengan harga sangat murah. Misalnya saja, 1 kotak mangga isi 7 buah seharga 2 euro sedangkan kalau di supermarket, 1 buah mangga seharga 1 euro. Jika ingin membeli ikan segar pun disini lebih murah daripada di toko. Cabe merah, cabe hijau dan cabe rawit pun sangat murah, maklum orang Belanda sangat familiar dengan masakan Indonesia dan kepedasannya.

VAALS3

Vaals Market

Toko Halal. Kalau mencari daging-daging dan olahanya yang halal pun tak sulit, banyak toko-toko halal di Aachen terutama di kawasan orang-orang Turki, Arab dan teman-temannya tinggal. Kalau diperhatikan tak hanya orang muslim saya yang berbelanja disana, karena mereka pun umumnya menjual bahan makanan lain seperti cabe dan tauge yan tak dijual di supermarket biasa.

Flohmarkt. Salah satu pasar yang menarik buat kami bukan hanya melulu soal makanan. Semenjak datang ke Aachen, kami dikenalkan dengan Flohmarkt, pasar barang bekas. Orang Jerman punya kebiasaan apik menyimpan barangnya, namun karena terbatasnya ruang penyimpanan maka mereka harus membuang barang lama dengan bijaksana, salah satunya dengan cara menjualnya dengan murah. Misalnya saja di flohmarkt anak, dijual semua barang anak, mulai dari baju, sepatu, tas, box perhiasan, alat olahraga dan mainan yang semuanya dalam kondisi baik. Tak jarang masih ada yang menjual dengan kemasan simpannya. Semuanya dijual dengan harga miring dan masih bisa ditawar.

Favorit keluarga Trikukuh dateng ke Kinder Flohmarkt, pasar khusus anak. Spesialis baju2, sepatu, buku dan tentu mainan…!

flohmarkt3

Kinder Flohmarkt; Kualitas masih layak pakai, bahkan bisa bermerk terkenal. Mainan contohnya lengkap dus dan isinya, harganya juga miring dan bole ditawar (senangnya!)

Ada lagi flohmarkt khusus wanita, menjual semua keperluan wanita. Dan yang cukup menarik adalah flohmarkt yang diadakan di pusat kota Aachen (dekat Dom dan Rathaus), biasanya 2 kali setahun: Trodel & Antikmarkt. Barang yang dijajakan di sana beragam, mulai dari barang antik, barang dapur, asesoris rumah, kepingan hitam, alat elektronik, mainan hingga keperluan sehari-hari. Kalau dibandingkan harga di flohmarkt ini lebih mahal dari flohmarkt biasa.

Komunitas Indonesia di Aachen. Cukup dengan jalan-jalan dan belanja, sesekali kami berkumpul dengan kawan atau keluarga Indonesia. Agenda rutin yang saya ikuti adalah pengajian setiap 2 minggu sekali dengan ibu-ibu tak berkerja di Aachen dan sebulan sekali ibu-ibu dan mahasiswi Aachen. Bapak-bapak dan mahasiswa punya agenda pengajian yang berbeda. Kadang rumah kami ketempatan untuk menjamu undangan pengajian. Diluar pengajian, kami juga mengenal beberapa keluarga Indonesia dan sesekali masih menyempatkan untuk bertemu.

Kegiatan Anak di Masjid. Khusus untuk anak-anak muslim berusia diatas 5 tahun, ada aktifitas anak-anak di sebuah masjid besar di Aachen, Mesjid Bilal. Mesjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan di Aachen dan jamaahnya internasional. Jadwal kelas untuk anak ada beberapa tergantung usia. Karena saat kami datang Grahito belum 5 tahun maka dengan beberapa orang tua yang anaknya seusia, kami membuat TPA mini dan punya jadwal rutin sendiri.

Kesimpulannya, sejauh ini kami menikmati kehidupan kami di Aachen dengan berbagai senang dan susahnya. Kami memanfaatkan banyak hari libur juga untuk mengunjungi negara-negara sekitar yang berbatasan dengan Aachen, misalnya Paris, Perancis; Brussel, Belgia; dan beberapa kota di Belanda. Yang sedikit lebih jauh dari Aachen, kami pernah mengunjungi beberapa kota di Spanyol, England dan Scotland. Untuk cerita lebih lanjut petualangan jalan-jalan ke kota-kota tadi tunggu saja di edisi selanjutnya ya 😉

———

Tia: trikukuhlivingabroad.weebly.com .

Foto-foto yang yang ada di artikel ini adalah foto pribadi Tia dan keluarga, foto-foto lainnya terhubung dengan link dari foto asli tersebut. Diedit oleh: @chiceniza

Advertisements

5 thoughts on “Merantau di Aachen

  1. libertymeivert says:

    Senang ya bisa tinggal di kota yang terkenal oleh orang Indonesia sebagai tempatnya pak Habibie menuntut ilmu. Saya sendiri pernah ke Aachen namun hanya sekedar singgah mampir istirahat di salah satu kafe, ketika itu menempuh perjalanan ke Paris Prancis. sekilas pandang kota ini bernuansa tradisional dengan arsitektur bangunan tuanya. apakah benar seperti itu ? hehe, pokoknya Aachen keren deh ! Kota paling barat Jerman yang menyimpan sejarah dan pesona. sukses selalu! salam 🙂

    Liked by 2 people

    • sariagustia says:

      halo..iya Aachen memang terkenal karena pak Habibie, banyak mahasiswanya pun pengen masuk Teknik Mesin terinspirasi beliau. Yang lucu pak Habibie pun terkenal disini (tentunya) sampai suatu hari suami dapat kemudahan saat akan tes menyupir untuk SIM karena yang menilai senang dengan beliau hehehe klo arsitektur sih masih tipikal kota-kota eropa, yang memang banyak kota tua dan tidak ada gedung perkantoran yang tinggi. pusat kota didominasi kota tuanya. Namun buat saya memang Aachen kota yang lengkap untuk mengakomodir keperluan hidup kami, tak terlalu sepi tak terlalu bising 🙂 Semoga suatu hari nanti bisa singgah lebih lama di Aachen dan menikmati kotanya lebih lama y:)

      Like

    • Sari Agustia says:

      Hi Allita! Sorry untuk jawaban yang telat ini. Seingat dan setau saya memang tidak ada level A2 karena singkatnya masa study. Tapi sistem belajar dan keadaan tentunya berbeda dari kursus di indonesia. Saya belajar tiap hari masuk kelas dari pagi hingga siang untuk 1.5 tahun itu. Kurikulum yang padat. Dukungan keadaan yang berbahasa jerman pun mendukung agar cepat fasih menggunakan bahasa jerman sehari-hari

      Like

  2. ginamayang says:

    hai mba tia! untuk tempat integration course nya mba tia ambil dimana ya? kalau saya liat ada beberapa tmp d aachen untuk belajar bahasa..atau ada tmp yg recommended?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s