Hal-hal Yang Mempermudah Hidup di Singapura

858533_10151441582214637_205627387_oAnya Windira –  A mother of two, used to work in an office with shared cubicles before decided to pack her stuffs and flew to Singapore. Likes good friends, good foods, and clean houses. Sometimes she tells people that she loves traveling around the world while in fact a trip to wet market is enough to make her happy.

Untuk saya, menjadi first-time mother di negara orang saja adalah sesuatu yang spektakuler hebohnya. Mulai dari masih canggungnya saya dan suami dalam memegang anak, tidak ada orang tua sebagai tempat bertanya, dan masih ditambah dengan perubahan status dari pekerja kantoran menjadi ibu rumah tangga. Semuanya bikin saya dan suami harus beradaptasi, baik secara emosional maupun finansial.

Anya dan keluarga

Anya dan keluarga

Tapi setelah dijalani, lama-lama ritmenya mulai ketemu dan tidak lagi seheboh yang awalnya saya bayangkan. Kalau masalah capek sih, ya namanya punya anak kecil pasti capek, tapi di sini banyak sekali fasilitas yang meringankan. Misalnya, listrik yang tidak byar-pet (hallo PLN!) sehingga banyak alat elektronik yang bisa dimanfaatkan, atau transportasi umum yang nyaman, sehingga para ibu tidak perlu mati gaya dan tetap bisa beraktivitas di luar rumah, meskipun harus membawa anak sendirian. Punya banyak teman sesama ibu juga membuat saya tidak merasa sendirian. Ada teman untuk bertanya dan bercerita, terutama masalah pengasuhan dan kesehatan anak.

Yang paling penting, bagi saya, suami saya selalu mau turun tangan dalam pengasuhan anak dan membantu pekerjaan rumah. Setelah anak saya umur 1 tahun pun saya sudah bisa meninggalkan mereka berdua, sementara saya pergi untuk refreshing, biarpun hanya ke supermarket, berolahraga, atau ketemuan dengan teman-teman.

Tips Pembagian Waktu Menjadi Ibu di Perantauan ala Anya:

1. Tetapkan Prioritas. Yang pertama tentu saja hal yang sifatnya general seperti mengeset prioritas dan ekspektasi. Ada kan ya ibu yang punya anak 4 kecil-kecil dan tetap masak makanan lengkap dengan lauk dan cemilan (dan masih terima order catering – ini kisah nyata). Ada juga student moms yang anak-anaknya selalu rapi dan nggak makan keefsi mekdi and friends (kisah nyata juga). Tapi kan nggak semua orang sama. Untuk saya misalnya, merecycle makanan dan sesekali (=sering) makan sosis nugget adalah hal yang bisa diterima. Tapi saya paling nggak tahan dengan rumah yang kotor dan anak yang lama bermain gadget. Jadi saya menghabiskan lebih banyak effort untuk menjaga rumah supaya bersih dan menemani anak saya bermain, dibanding untuk memasak. Dengan begini, saya bisa memfokuskan energi saya untuk hal yang saya anggap paling utama, dan tidak terlalu bete kalau harus mengabaikan hal yang saya anggap kurang signifikan.

Nah...!

Nah…!

2. Belanja Online. Kemudian, karena jaringan internet di Singapura cepat dan aman, hampir semua transaksi bisa dilakukan secara online. Beberapa hal penting yang bisa dilakukan dari rumah adalah:

        • Pembayaran utilities (listrik, air, gas), tv kabel, internet, telepon, dan iuran sekolah
        • Belanja groceries dari online store berikut ini, termasuk fresh product: redmart.com, fairprice.com.sg, halalmarket.sg.

Note: beberapa supermarket juga menawarkan free home delivery untuk minimum perbelanjaan tertentu. Biasanya fasilitas ini saya gunakan untuk keperluan belanja bulanan.

Belanja barang-barang secondhand: Carousell apps, gumtree.com.sg, forum seperti hardwarezone.com.sg, vr-zone.com.sg

Carousel Apps yang membantu untuk jual-beli barang seken

Carousell Apps yang membantu untuk jual-beli barang seken

Belanja home products (misalnya alat masak, keperluan bayi, bahkan benda-benda seperti plasticware atau panci), baju, kosmetik, dsb. Online shop yang cukup populer di Singapura misalnya: qoo10.com.sg (serba ada), zalora.com.sg (fashion), luxola.com.sg (kosmetik), atau iherb.com (organic products).

3. Selain itu, kalau memang merasa tidak sanggup: outsourcing. Istilahnya canggih ya, tapi maksud sebenarnya adalah, cari bantuan. Di sini sayangnya tidak murah untuk mencari pembantu rumah tangga, tapi ada beberapa alternatif, misalnya untuk masalah makanan, kalau tidak sempat memasak, membeli makan di hawker center juga tidak terlalu jauh bedanya. Seporsi nasi lemak di hawker center harganya berkisar 2.5-3 dolar. Nasi briyani atau dan nasi padang sekitar 3-5 dolar. Untuk yang non-Muslim tentunya lebih mudah karena lebih banyak pilihan, tapi untuk yang Muslim pun banyak masakan halal yang enak, bersih, dan murah. Selain itu ada juga teman-teman yang menerima order catering. Asyiknya, masakan yang ditawarkan umumnya masakan Indonesia, seperti pempek, batagor, nasi bakar, martabak, serabi, soto padang, dan banyak lagi.

Salah satu Hawker Centre yang cukup terkenal: Changi Village

4. Memanfaatkan fasilitas sekitar rumah untuk aktivitas anak supaya mereka tidak cepat merasa bosan. Di sini, setiap kompleks memiliki playground yang memadai dan aman. Selain itu, ada juga community center yang sering mengadakan kegiatan atau kursus untuk warga setempat, misalnya kegiatan art and craft untuk anak umur 4-7 tahun. Biasanya fee-nya jauh lebih murah dibandingkan dengan kegiatan serupa di tempat yang lebih komersil.

05 HDB playground

HBD Playground: Playground di kompleks apartemen tempat saya tinggal

5. Pembagian tugas dengan suami. Sebelum nikah, saya dan suami sudah sepakat dengan garis besar pembagian tugas di rumah. Dia sangat hands-on dalam pengasuhan anak-anak kami, termasuk urusan mengganti popok dan menidurkan anak. Jadi sejak anak kami masih bayi, suami saya cukup nyaman ditinggal berdua dengan anaknya. Dan anaknya pun karena memang sudah biasa dekat bapaknya sejak bayi, jarang sekali rewel kalau ditinggal berdua bapaknya. Malah sepertinya kok lebih banyak tingkah kalau ada ibunya ya? 😀

Tapi namanya juga bapak-bapak yaa… Tetap aja standarnya beda. Kadang kalau ditinggal, begitu pulang anak saya belum mandi dan dikasih sarapan doritos! Akhirnya daripada ngomel-ngomel, setiap mau pergi saya memastikan semua keperluan anak saya tersedia dan mudah dicari. Misalnya, roti, selai, sampai pisau oles dan piringnya harus disediakan supaya suami saya tidak perlu mencari-cari lagi. Agak bingung sih, yang model gini cuma suami saya atau ada yang senasib? :))

Mencari  Asisten Rumah Tangga/ Maid di Singapura.

Di sini mencari jasa maid cukup mudah, tapi tidak murah. Range gaji per bulan untuk full-time maid berkisar antara 300-600 SGD, tergantung kewarganegaraan dan pengalaman. Tapi selain gaji, non-Singaporean employer juga wajib membayar levy ke pemerintah sebesar 295 SGD per bulan. Termasuk makan dan keperluan pribadi maid, total biaya bulanan untuk mempekerjakan ART sekitar 800-1000 SGD. Majikan juga bertanggung jawab atas biaya medis maid selama bekerja. Pemerintah mewajibkan majikan untuk membiayai medical check-up 6 bulanan ART dan menanggung seluruh biaya pengobatan apabila maid menderita sakit, termasuk biaya rawat inap.

Biaya lain adalah one-time security bond deposit sebesar 5000 SGD. Intinya, majikan bertanggung jawab atas keberadaan ART selama bekerja di rumah mereka. Misalnya nih, ada kejadian ART hamil atau kabur, maka kalau majikan tidak segera memulangkan atau menemukan ART yang kabur, 5000 SGD ini akan diambil oleh pemerintah sebagai penalti. Alternatifnya, majikan bisa membeli asuransi yang preminya jauh di bawah fee security bond.

Salah satu contoh selebaran: maid di Singapura kebanyakan berasal dari Indonesia, Filipin, dan Myanmar.

Untuk mempekerjakan maid, bisa lewat 2 jalur: yang pertama adalah melalui maid agency. Menggunakan jasa maid agency tentunya jauh lebih simpel. Sebelum memilih, calon majikan boleh mewawancara calon ART yang terdaftar pada agen tersebut. Kalau sudah menemukan yang cocok, calon majikan bisa langsung meminta agen untuk mengurus semua keperluan maid, seperti dokumen dan medical check up pertama. Calon majikan hanya perlu membayar agent fee yang berkisar antara 2000-4500 SGD (tergantung proses dan agen masing-masing).

Cara kedua adalah membawa sendiri maid dari negara asal. Jadi kalau ingin membawa mbak dari Indonesia, boleh kok. Tentu saja prosesnya lebih rumit, karena kita sendiri yang harus mengurus semuanya. Dari pengalaman beberapa teman, meskipun langkahnya cukup panjang, semua proses jelas dan tidak memakan waktu lama. Lagipula biayanya bisa jauh lebih murah dibanding melalui agen. Singkatnya, bila ingin mengurus work permit maid tanpa agen langkah yang harus dilakukan adalah:

  • Memastikan calon majikan dan calon maid memenuhi syarat yang ditetapkan Ministry of Manpower (MOM = Depnakernya Singapura)
  • Mengurus keperluan dokumen di Indonesia seperti paspor (beberapa orang membuatkan paspor baru untuk maid mereka karena paspor lama yang dibuatkan oleh PJTKI memiliki ‘cap’ TKI yang sering menyulitkan maid dalam berurusan dengan imigrasi bandara)
  • Meminta In-Principle-Approval (visa sementara) dari MOM
  • Mengurus security bond deposit dan asuransi kesehatan di bank atau perusahaan asuransi di Singapura
  • Melakukan medical check-up untuk calon maid di klinik-klinik terdaftar di Singapura
  • Mengikuti orientasi untuk first-timers (Employers’ Orientation Programme untuk calon employer, Settling-In-Programme untuk calon maid).

Detail lebih lanjut dapat dilihat di sini ya.

Full-time maid di sini juga berhak mendapat cuti setiap hari Minggu. Biasanya mereka pergunakan untuk kumpul-kumpul di tempat seperti Lucky Plaza Orchard atau Paya Lebar, namun tak jarang yang memilih untuk bersekolah. Beberapa tempat menyediakan enrichment classes untuk maids, seperti bahasa Inggris, memasak, atau pelatihan perawatan lansia. KBRI Singapura bekerjasama dengan Sekolah Indonesia Singapura (SIS) juga mengadakan program pelatihan untuk para TKI dengan materi yang beragam.

Sementara itu, jasa part-time maid juga bisa didapat melalui agen resmi, dengan tarif 18-20 SGD per jam. Akan tetapi, ada juga jasa PT maid yang lebih murah yang biasa didapat dari mulut ke mulut, atau melalui noticeboard yang biasa terdapat di supermarket atau terminal bus.

——

Anya: Instagram @lengkengaddicts. Semua foto terlampir adalah milik Anya dan beberapa foto penunjang terhubung langsung dengan link foto asli.

Advertisements

Kebiasaan Orang Belanda

profile picLorraine Riva – Multilingual working mom in marketing communication field, self-taught photographer, foodie, art lover, Francophil and history nerd, living with husband and a teen daughter in a tiny place called Huissen in The Netherlands nearby German border.

Continue reading

Merantau di Onewhero

profil foto-arfi binstedArfi Binsted – A housewife, live in Onewhero, Tuakau, Districts Waikato, New Zealand. Home educators (Home Schooling) for her children, love to gardening, sketching, and painting, an artist at heart, freelance illustrator and food photographer. Founder of Klub Berani Baking (KBB) and coauthor Food Photography Made Easy by EmpatRana. Continue reading

Merantau di Helsingborg

bebeBebe –   An Indonesian stranded in Sweden. Found her home away from home in a small city called Helsingborg.  A wife and a mom of a cute baby girl who has a passion for photography and design. A gadget-freak, manga lover and k-pop listener.

Tentang keluarga. Nama saya Bebe, yang tentunya bukan nama saya yang sebenarnya. Nama ini adalah panggilan kesayangan dari suami, yang juga saya panggil ”Bubu”. Alasan kemisteriusan nama ini berawal dari suami yang keberatan nama aslinya saya tulis di blog (ga mau namanya muncul di Google, katanya saat itu). Akhirnya supaya nyaman dan ’karir’ menulis blog saya bisa lebih panjang, permintaannya saya turuti. Saya menikah dengan Bubu, yang merupakan pria berkewarganegaraan Swedia pada tahun 2010 yang lalu dan membawa saya hijrah ke negeri asal IKEA ini.

Bersama Bubu di Göteborg (kota terbesar kedua di Swedia, setelah Stockholm)

Resident Permit Swedia. Ketika merencanakan pernikahan dulu, sudah menjadi tekad kami berdua bahwa setelah menikah, saya akan langsung pindah ke Swedia bersama Bubu. Tentunya untuk bisa tinggal di negara ini saya membutuhkan ijin tinggal atau resident permit (RP). Memang sih kalau dilihat-lihat pengajuan RP jauh lebih susah dan lama dibandingkan visa. Tapi dibandingkan dengan keharusan memperpanjang visa setiap beberapa bulan sekali sepertinya mengurus RP menjadi pilihan yang lebih tepat. Apalagi dengan memegang RP itu saya juga otomatis mendapatkan work permit di Swedia. Jadi kalau memang berencana untuk langsung mencari kerja, tidak kesulitan dalam masalah ijinnya.  Untuk info lebih lanjut tentang dokumen bisa dibaca di sini ya.

Perjalanan proses pengajuan aplikasi RP saya sendiri dimulai dari bulan Oktober 2009 dengan perkiraan proses aplikasi akan memakan waktu setidaknya 6 bulan. Tapi ternyata bulan Februari 2010 saya mendapatkan jawaban dari pihak imigrasi Swedia (melalui Bubu yang statusnya masih calon suami dan tinggal di Swedia) kalau aplikasi saya ditolak dengan alasan saya tidak ada rencana menetap di Swedia dalam waktu dekat. Nggg.. Maksutnyaaa???

Langsung keesokan harinya, Bubu mengirimkan banding (appeal) ke kantor imigrasi di Swedia untuk menolak hasil yang kami terima dan meminta keputusannya agar dipertimbangkan ulang, hanya untuk mendapatkan jawaban yang sama satu setengah minggu setelahnya. Karena masih tidak puas dengan jawaban yang didapatkan, kami menggunakan kesempatan appeal ke-2, dimana kali ini prosesnya tidak lagi dilakukan oleh kantor imigrasi, melainkan pengadilan imigrasi. Setelah berbulan-bulan tanpa kabar, barulah pada bulan Juni 2010 Bubu mendapat sebuah surat dari pengadilan yang menyatakan bahwa saya berhak mendapat resident permit Swedia yang berlaku untuk 2 tahun. Fiuuuh.. Finally!! Alhamdulillah..

Setelah proses penuh drama dan air mata, pada bulan Okt 2010 saya pergi meninggalkan Indonesia dan menginjakkan kaki di kota Malmö, Swedia yang merupakan kota tempat tinggal kami yang pertama.

malmo-1

Landmark kota Malmö, The turning torso (gedung tinggi di sebelah kiri)

malmo13A

Pusat kota Malmo ; Malmo adalah kota terbesar ketiga di Swedia dan merupakan ibukota propinsi Skåne

Jembatan Öresund (bahasa Swedia: Öresundsbron) adalah sebuah jembatan-terowongan kereta api dan jalan raya yang melintasi Selat Øresund. Jembatan ini menghubungkan Swedia (kota Malmo) dan Denmark (Copenhagen) dan merupakan jembatan jalan dan rel terpanjang di Eropa. Hanya memakan waktu tempuh sekitar 35-45 menit dengan menggunakan kereta atau mobil.

Hanya setahun kami tinggal di Malmö sampai akhirnya memutuskan untuk pindah ke Helsingborg karena memang kantor suami (yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir) berada di kota ini.

 Skåne County, sometimes referred to as

Malmo dan Helsingborg terletak di Skåne Lan atau “Scania County” dalam bahasa Inggris, adalah daerah paling selatan di Swedia.

Setelah beberapa tahun tinggal merantau dan menikmati fase honeymoon berdua (*uhuk*), kami dikaruniai  anak perempuan kami yang pertama, Jo, yang lahir pada awal tahun 2014 silam.

Keluarga kami, Maret 2015.

Tentang Helsingborg. Helsingborg adalah sebuah kota kecil di pinggir pantai di propinsi Skåne yang terletak di daerah selatan Swedia. Kota ini merupakan titik terdekat antara Swedia dan Denmark, yang saking dekatnya, di hari yang cerah kita bisa melihat ke Denmark dengan mata telanjang.
helsingborg city

Historic Helsingborg dengan banyak bangunan tua, adalah sebuah kota pantai yang indah.

helsingborg city (2)

At its heart, Helsingborg is a sparkly showcase of rejuvenated waterfront, metro-glam restaurants, lively cobbled streets and lofty castle ruins.

Kontur kota Helsingborg terbilang unik karena walaupun letaknya di pinggir pantai, tapi langsung berbukit-bukit. Di bagian pusat kota di dekat pelabuhan terletak stasiun kereta, pertokoan, city hall (rådhuset), tempat pameran Seni (Dunkers Kulturhus) dan lain sebagainya.

helsingborg6

Kota Helsingborg dari atas

Jika kita berdiri di tepi pantai dan melihat ke sebrang di hari yang cerah, akan terlihat dengan jelas kota Helsingör, Denmark yang bisa didatangi menggunakan ferry selama 15 menit perjalanan.

Pusat kotanya Helsingör, Denmark.

Tinggal nyebrang: pusat kota Helsingör, Denmark.

Pemandangan kota Helsingborg ke arah Helsingör dari atas saat winter

Tempat yang paling terkenal di Helsingborg mungkin adalah benteng Kärnan yang lokasinya persis di tengah kota. Benteng ini merupakan peninggalan jalan perang antara Denmark dan Swedia dulu.

A 600 year old medieval fortress (Kärnan) in the city centre

Pindah ke tempat baru untuk pertama kalinya, dalam hal ini ke negeri orang, bukanlah hal yang mudah dan terkadang menakutkan untuk beberapa orang. Belum lagi kalau pindahnya sendiri (baik karena menikah, kerja, sekolah, dsb). Ga cuma harus rela keluar dari zona nyaman, tapi juga harus bisa survive tanpa bantuan keluarga dan kerabat. Selain itu masih harus beradaptasi juga dengan bahasa baru (yang seringnya terdengar sangat ajaib seperti bahasa planet), tradisi dan kebiasaan yang pasti jauh berbeda dengan di tanah air. Pendeknya, ga semua orang akan bisa cepat merasa betah.

Untuk saya sendiri, pindah ke Swedia merupakan pengalaman pertama saya hidup jauh dari orang tua. Karena itulah menjelang keberangkatan saya ke Swedia, sempat juga merasa cold feet dan ragu mau berangkat atau ga. Yah gimana juga yang sebelumnya bisa ketemu orang tua kapan aja, kali ini akan terpisahkan jarak ribuan kilometer jauhnya. Kalau nanti aku kangen gimanaaa? Hiks. Namun setelah akhirnya berangkat dan tinggal di Swedia beberapa tahun terakhir ini, alhamdulillah bisa dikatakan saya betah (saking betahnya sampai sekarang belum pernah pulang kampung loh. Hih!) hahaha…

Atas dasar itulah di post ini saya ingin berbagi tips (ala saya tentunya) tentang cara supaya cepat betah tinggal di negeri orang. Tentunya tips ini sifatnya personal dan berdasarkan kondisi saya di Swedia. Tapi saya berharap berguna juga untuk teman-teman yang ingin pindah ke negara lainnya, terutama yang baru pertama kali tinggal di negeri orang seperti saya.

Tips bagi para first-timer mamarantau:

1. Siapkan mental & lower your expectation – tips pertama ini memang sekilas terlihat template dan superficial ya? Kayaknya semua orang pasti ngomong gitu. Tapi berdasarkan pengalaman pribadi, menyiapkan mental sebelum berangkat ternyata cukup membantu. Cara mempersiapkannya seperti apa? Kalau saya sih dengan banyak browsing tentang Swedia. Selain itu minta Bubu juga untuk cerita tentang kota tempat saya akan tinggal nanti seperti apa (mall-nya apa aja?, penting itu, haha).

Salah satu foto kiriman Bubu dulu sebelum saya pindah, yang disertai pesan: “so you’ll feel at home”

Persiapan lain saya juga sempat belajar masak (yang mana sampai berangkat cuma bisa bikin spaghetti bolognese doang), and last but not least banyak berdoa supaya cepat ikhlas dengan berbagai kondisi yang akan saya lalui di tempat baru.

Sekarang sudah bisa masak berbagai macam masakan yang saya tuangkan juga di blog yang khusus saya dedikasikan untuk berbagi resep masakan.

Kenapa cepat ikhlas? Karena walaupun tinggal di LN itu terlihat indah, tapi saya yakin ga semua secantik hasil foto atau gambar yang ada di TV, maupun berdasarkan cerita orang. Pasti ada sesuatu yang bikin kita berkomentar ”meh gini doang? Di Jakarta lebih keren mallnya!” atau malah shock ketika tau begitu tau yang namanya nyewa/bayar ART atau suster itu mahal sehingga semua harus dikerjakan sendiri. Dengan banyak browsing, tanya-tanya, berdoa memantapkan hati dan terpenting, lower my expectation, saya berharap sih apapun kondisinya nanti saya udah ga kaget lagi dan bisa menerima dengan lapang dada.

snow-2

Tantangan cuaca yang kadang terlalu dingin – kadang berpengaruh juga untuk membuat proses betah-tidak betah ini.

2. Don’t look back (too much) with anger. Alias.. Jangan semua dikit-dikit dibandingin sama keadaan di Indonesia atau di tempat kita dulu. Yang paling susah saya lalui ketika pindah ke sini adalah ga ngebandingin harga barang dan jasa yang diketok di Swedia. Setiap mau beli apa pasti dikurs balik ke Indo. Mau ngapain, kurs lagi balik ke Indo. Kebanyakan kayak gitu ujung-ujungnya cuma sakit ati doang, trus pundung pingin balik.

Tapi setelah saya sadar kecuali saya punya kemampuan lebih untuk bisa bolak balik Jakarta – Swedia beberapa kali tiap tahunnya, ngebandingin terus gitu ga ada gunanya. Ya masaaa ga mau makan atau beli baju karena harga beras atau kaos mungkin 2-3 kali lipat dari di Jakarta. Rambut juga ga mungkin dibiarin awut-awutan ga dirapihin cuma karena harga salonnya luar biasa. Lagipula sekilas memang harga barang & jasa di Indonesia terlihat murah, tapi hitunglah juga tiket pesawat PP-nya. Misalnya potong rambut disana cuma 25rb, kalo plus pesawat jadi 17jutaan+25 rb. Seketika ongkos potong deket rumah yang tinggal jalan kaki jadi terlihat lebih murah deh.. Hihihi

3. If you miss it, make it (or buy it) – salah satu faktor yang bikin seseorang kadang ga betah tinggal di negeri orang adalah makanan. Like we all know, makanan Indonesia cenderung lebih berbumbu dan ‘nendang’ dibandingkan makanan barat. Tentu aja rasanya berbanding lurus dengan kesulitan pembuatan dan bahan-bahannya yang buanyaaak. Kalau misalnya tetiba kangen makanan Indonesia, my advice: belajarlah untuk bikin sendiri. Ga perlu harus ambisius harus bikin semua dari awal. Pakai bumbu instant juga menurut saya cukup kok untuk mengurangi rasa rindu. Seperti yang saya sudah tulis di tips nomor 1, yakni lower your expectation.

Kalau kadung males bikin terus gimana? Ada beberapa pilihan sih. Pilihan pertama gigit jari sambil nangis sesegukan di pojok kamar atau opsi kedua yaitu cari teman setanah air yang jago masak/jualan makanan Indonesia. Contohnya di Skåne sini ada orang Indonesia yang melayani menu-menu nusantara dari gudeg, siomay, pempek, dsb. Harganya tentu lumayan kalo dibandingin sama aslinya di Indo, tapi seperti tips no.2.. kalo dibanding nambah tiket belasan juta, yang deket ini jadi berasa lebih murah koook.. Serius! Sebaliknya.. kalau kita belajar masak trus akhirnya bisa jualin lagi ke teman-teman setanah air.. lah lumayan juga bukaaaan?

ketoprak-02-small

Ketoprak ala-ala – yang penting ga kangen lagi

4. Make yourself at home. Perasaan ga betah dan pingin pulang kadang diakibatkan kita masih merasa seperti orang asing di negeri asing ini. Yah technically emang bener sih.. ahaha, tapi ga berarti harus terus-terusan merasa seperti itu kan? Cara yang paling mudah menurut saya adalah dengan belajar bahasanya. Untuk beberapa negara kita sudah bisa belajar bahasannya sewaktu masih di Indonesia (contohnya bahasa Belanda, Jerman, Perancis, mandarin) jadi ketika pindah bisa lebih mudah berkomunikasi dengan orang lokal. Tapi bagi orang-orang yang pindah ke negara yang bahasanya ga familiar di Indonesia (seperti contohnya Swedia ini lah), berkenalan dengan bahasa Swedia biasanya dimulai ketika sudah pindah. Dengan belajar bahasanya, peluang untuk lebih berkembang tentunya makin besar. Makin banyak kesibukan artinya ga ada waktu lagi untuk bermuram durja berangan-angan “seadainya masih di Indonesia”. Untuk masalah budaya, menurut saya sih seiring waktu pasti kita bisa beradaptasi juga. Dipilih-pilih sendiri yang bagus diambil, yang jelek dihindari.

Belajar bahasa Swedia: “Svenska”

5. Time to start over. Untuk yang pindah ke luar negeri (terutama yang negaranya beda bahasa) atas dasar menikah dengan orang lokalnya kemungkinan besar harus memulai semuanya lagi dari nol. Harus pelan-pelan belajar bahasanya dulu, abis itu baru mulai cari-cari kerja/intership, dsb. Ijazah dan pengalaman kerja di Indonesia bisa dibilang ga ada harganya. Sedih? Pasti!

Cuma kalo mau diambil positifnya, kepindahan ini bisa dianggap sebagai kesempatan kedua loh. Misalnya dulu di Indonesia kita kerja atau kuliah ga sesuai dengan minat yang dimau, kali aja setelah pindah ini bisa benar-benar menekuni bidang yang kita sukai. Toh semuanya juga harus ulang lagi dari awal kan (harus sekolah lagi, dll). Jadi kenapa ga. Jenis pekerjaan yang kita mau coba juga ga sebatas pekerjaan kantoran di belakang meja. Karena semua pekerjaan (at least di Swedia yah) nilainya sama. Ga ada pekerjaan yang lebih elit dan yang rendahan. Mau jadi pelayan restoran, tukang potong rambut, pegawai supermarket, guru, dokter dkk bagi orang sini ya umum dan sama aja. Tentu dari gaji ya tetep ada tingkatannya masing-masing, cuma kalo dari segi gengsi mah (sejauh yang saya perhatikan selama ini) ga ngaruh yaaa.

Ga pede cari kerja seperti saya? Bisa juga membuat peluang kerja sendiri alias wiraswasta. Contohnya teman dekat saya memutuskan untuk membuka layanan travel wedding dan honeymoon ke Bali untuk market Swedia. Dan melihat contoh teman saya tersebut saya pun mencoba mendapatkan penghasilan dengan menjadi designer/fotografer freelance.

Freelance Photographer – Jo dan Bubu mendampingi saya ketika sedang menerima pekerjaan untuk foto suatu acara

6. Create your own small circle of friends. Kangen dengan keluarga biasanya yang menjadi alasan saya suka berpikiran untuk pulang ke Indonesia. Apalagi ketika pindah ke Swedia saya bergantung sepenuhnya ke suami sebagai teman dan keluarga saya satu-satunya. Oleh karena itu ketika pada akhirnya saya bertemu beberapa orang  Indonesia dan menjadi akrab, rasanya seperti mendapat durian runtuh. Karena walau jauh dari keluarga, saya mendapat keluarga baru di sini. Tapi tentu aja mencari yang cocok itu gampang-gampang susah dan ga melulu harus teman setanah air loh. Bertemu orang-orang dari negara lain tapi ternyata klik dan cocok, ya kenapa ga. Yang penting keep it small and simple. Nothing’s worse than having a drama when you are far-far away from home. Quality over quantity still the best policy for me.

7. Just enjoy it. Bagi saya kesempatan untuk ngerasain tinggal di negeri orang itu adalah kesempatan emas yang mungkin ga datang dua kali dan belum tentu semua orang bisa dapat. Kalau untuk liburan ya masih bisa lah setelah rajin menabung pergi kemana-mana, tapi kalau untuk beneran menetap permanent, yah prosesnya ga semudah kalau liburan kan (malah dalam kasus saya penuh drama penolakan dan airmata). Tinggal sementara (untuk beberapa tahun trus balik) ataupun yang permanen (tanpa ada rencana untuk balik) bagi saya sama aja. Malah yang tinggal sementara menurut saya lebih mudah karena toh tiap hari itu layaknya menunggu hari pulang. Jadi seeneq-eneqnya tinggal di negara baru, in the end you’ll be back home soon. Daripada nanti pas udah balik ke Indonesia malah nyesel kebanyakan ngeluh, mendingan dinikmati aja kan.

Daripada mengeluh: “Dingin banget..! Ga bisa kemana-mana..!”. Adanya salju dan pemandangan yang indah adalah salah satu alasan kenapa saya bisa menikmati winter.

8. If all else fails.. buy a plane ticket and go home! Hahahaha.. ya ini judulnya kayak ngusir yaa? Maksud saya kalau emang udah senep, sebel, kesel ga betah-betah juga tinggal di negara baru ya lebih baik rajin menabung trus pulang ke Indonesia deh tiap 3-4 bulan sekali (buat potong rambut atau pijet-pijet) atau mungkin balik for good? Toh dipaksain tinggal di suatu tempat tanpa kita merasa nyaman juga artinya menyiksa diri sendiri bukan?

Segitu saja tips dari saya untuk betah merantau di negeri orang. Semoga bermanfaat…!

——-

Bebe menulis tentang kehidupan di Swedia di http://www.bebenyabubu.com, tentang masakan di bebeskitchen.wordpress.com, dan foto keseharian di Instagram: @hejjossan. Foto-foto terlampir adalah karya Bebe, foto jembatan dan map didapat dari situs yang terhubung langsung. Beberapa keterangan pada gambar didapatkan dari situs Wikipedia.

Merantau di Venlo

Narulita Primaya Hapsari (Maya)  has been living in Venlo, Netherlands since 2010.  Happily settled in Venlo with husband and pretty girl. A huge fan of Indonesian food. 

Tentang Maya dan keluarga. Saya pertama kali merantau pada tahun 2010 mengikuti suami yang berkebangsaan Belanda dan bekerja di sebuah pabrik kaca di Venlo. Kami memiliki seorang anak perempuan bernama Thierra Ellena Octafarrah Deschaux yang saat ini berusia 3 tahun.

maya & fam

Keluarga kecil kami

Tentang Visa Belanda: Untuk mengurus visa tinggal di Belanda tergantung jenis visanya, apakah visa pelajar, bekerja atau tinggal dengan pasangan yang salah satunya adalah warga negara Belanda. Visa pelajar dan bekerja mengurusnya lebih mudah, asalkan ada surat rekomendasi dari universitas atau tempat bekerja biasanya visa akan disetujui.

Untuk visa tinggal dengan suami/istri berkebangsaan Belanda ada persyaratan yang harus dipenuhi seperti; pendapatan suami/istri harus mencukupi minimal 1.430 euro per bulan. Selain itu kita yang akan tinggal di sini harus melakukan Civic Integration Examination atau yang dikenal dengan sebutan MVV . Anda memerlukan MVV untuk mengajukan permohonan izin tinggal yang diperlukan untuk tinggal lebih dari tiga bulan di Belanda. Tes ini berlangsung dalam bahasa Belanda, jadi semacam tes TOEFL untuk Bahasa Belanda plus tentang hal-hal dasar kehidupan kemasyarakatan Belanda. Untuk melakukan tes ini, pemohon harus ke kedutaan Belanda atau konsulat di negara asalnya sebelum mengajukan permohonan visa MVV. Orang yang mengajukan permohonan visa MVV harus terlebih dahulu membuktikan bahwa mereka telah lulus ujian ini

venlo

Venlo adalah sebuah kota di bagian tenggara Belanda, dekat perbatasan Jerman dan terletak di provinsi Limburg.

Floriade World Horticultural Expo di Venlo Region; Pameran yang diadakan 10 tahun sekali ini wajib dikunjungi jika Anda sedang berada di Venlo dan pecinta taman dan bunga.

Tempat tinggal: Di sini ada 2 jenis tipe tempat tinggal, ada rumah yang biasa kita sebut rijtjeshuis dan ada juga apartment. Masing-masing tipe bisa full furnished atau unfurnished.  Untuk di Venlo, yang kotanya jauh dari mana-mana, bisa dapat dengan harga sewa 300 euro all in/bulan dengan spesifikasi 3 kamar tidur, ruang tamu dan dapur kecil. Untuk di kota-kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam dan Utrecht harga sewa per-bulannya akan jauh lebih mahal.

Rijtjeshuis

Transportasi: Alat transportasi yang biasa kami gunakan yaitu bus, tram dan kereta. Semua transportasi tersebut baby friendly. Untuk orang yang sudah berumur biasa mereka menggunakan scootmobiel. Rata-rata hampir setiap penduduk di sini punya mobil dan sepeda. Ketika cuaca ekstrim seperti musim dingin biasanya kami menggunakan mobil untuk berpegian.

scootmobiel

Scootmobiel salah satu alat transportasi yang umum digunakan oleh para manula di Venlo

Asuransi : Semua orang yang tinggal atau bekerja di Belanda wajib untuk mengambil standar asuransi kesehatan untuk menutupi biaya, misalnya, konsultasi dokter umum, perawatan rumah sakit, dan untuk resep pengobatan. Di sini banyak sekali macam-macam asuransi. Kita harus pintar pintar memilih dan membayar hanya apa yang kita butuhkan.

Penduduk tetap dan karyawan lokal (dari dan luar Belanda) wajib memiliki “Basisverzekering” (Basic Health Insurance)

Di setiap Website asuransi ada contoh penghitungannya. Misalkan saya, saya akan mengisi data-data untuk mendapatkan kuota asuransi per bulannya: wanita, 28 tahun, ingin asuransi yang mencakup dokter kandungan, melahirkan, dan asuransi sakit di luar negeri. Lalu saya isi lagi data suami, laki-laki, 33 tahun, ingin asuransi yang mengcover  gigi 100% dan asuransi sakit dalam dan luar negeri. Terakhir saya masukan data anak- walau sebetulnya tidak berpengaruh kalo untuk anak, karena untuk anak berusia 0-18 tahun asuransinya free dari pemerintah Belanda dan semua dicover: baik gigi, kecelakaan, sampe operasi sekalipun. Setelah semua data dan jenis coverage yang saya inginkan telang dilengkapi, saya akan dapat total harganya. Sejauh ini yang saya bayar untuk saya sendiri (full asuransi melahirkan, dokter kandungan, kecelakaan, sakit di dalam dan luar negri) dan suami (full asuransi gigi, kecelakaan, sakit di dalam dan luar negeri), kami harus membayar 191,75 euro per bulannya. Untuk lebih lengkapnya bisa baca di sini.

Venlo Stadhuis – yang ramai pengunjung saat musim panas

Pengalaman Hamil dan Melahirkan. Di Belanda, setiap ibu yang sedang hamil wajib memiliki asuransi dimana semua biaya akan ditanggung oleh pihak asuransi. Jika kita sudah tes kehamilan dan positif, kita biasanya pergi ke dokter keluarga. Masing-masing orang di sini sudah mempunyai primary doctor, jadi kita akan selalu pergi ke dokter tersebut jika kita sakit apapun jenisnya. Jika kita dirasa harus mengunjungi dokter spesialis tertentu, maka dokter keluarga kita itulah yang akan merujuk ke dokter spesialis yang dituju. Nah, untuk kasus kehamilan, biasanya kita akan dirujuk ke verloskundige atau bidan. Seorang verloskundige yaitu orang yang mengambil pendidikan S2 yang mengambil pendidikan kebidanan, jika sudah lulus, mereka dapat membuka praktek di rumahnya. Ditempat prakteknya sudah lengkap dengan peralatan USG mulai dari 2D, 3D hingga 4D. Untuk jadwal kunjungan, biasanya dilakukan 2 minggu sekali selama hamil hingga melahirkan. Verloskundige inilah yang akan membantu kita saat melahirkan nanti baik di rumah maupun di rumah sakit. Di Belanda banyak orang yang melahikan di rumah sendiri, saya sendiri merasa lebih nyaman untuk melahirkan di rumah sakit pada saat itu.
thierra

A week old Thierra

Seminggu setelah melahirkan, veroskundige akan datang ke rumah kita untuk menimbang bayi kita dan mengecek kondisinya. Verloskundige ini akan datang seminggu sekali hingga satu bulan setelah proses kelahiran. Bagi saya pribadi, saya merasa memiliki hubungan yang dekat sekali dengan Verloskundige saya, karena semenjak hamil, melahirkan dan pasca melahirkan beliau selalu mendampingi saya. Sedih rasanya ketikan harus berpisah.

Continue reading

Membesarkan Anak Bilingual

seerika_16Rika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finland with two bilingual sons, a Finns husband, and trying (hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Tentang Rika dan keluarga. Nama saya Rika Melissa, perempuan asli Indonesia yang saat ini sedang tinggal di Finlandia, tepatnya di kota Kerava. Hingga saat ini saya sudah merantau selama 12 tahun, dimulai dengan status pelajar program master di Jerman, kemudian kerja di Singapura, lalu setelah menikah, lanjut ikut suami yang jadi pelajar di Belanda dan saat ini menetap di Finlandia. Tapi kalau hati sih jangan ditanya, menclok di Jakarta terus.

Kami tinggal di Kerava yang dapat ditempuh dalam waktu 25 menit dengan kereta dari Helsinki

Jika ditanya soal hobi biasanya saya bilang hobi saya menari dan nonton film, tapi yang sebenarnya sering saya lakukan adalah makan dan tidur (hehe).

Suka jalan-jalan juga, ini saat di Old Town, Tallinn, Ibu kotanya Estonia yang bisa ditempuh dengan kapal ferry dari Helsinki.

Saat di Old Town, Tallinn, Ibu kota Estonia yang sangat cantik dan salah satu tempat wisata favorite orang Finlandia -bisa ditempuh dalam waktu 2 jam dengan kapal dari Helsinki.

Suami saya, Mikko, adalah warga negara Finlandia yang selalu punya mimpi untuk bisa hidup dan menetap di Indonesia. Kami bertemu di Istanbul waktu  sama-sama sedang liburan di kota cantik tersebut. Lima tahun setelah pertemuan tersebut, kami menikah dan saya diboyong ke Leiden, Belanda untuk menemani Mikko  yang saat itu sedang melanjutkan pendidikan di Leiden University. Sebenarnya tinggal dan menetap di Finlandia bukan bagian dari rencana kami waktu menikah dulu. Kami jatuh cinta pada Leiden, pada Belanda yang cantik, ramah dan penuh kehidupan. Rencananya kami ingin mencari kerja di Belanda jika Mikko telah merampungkan kuliahnya. Atau, kembali ke Indonesia, mencari kerja atau memulai bisnis kecil-kecilan di sana sambil berpetualang keliling pulau-pulau cantik di Indonesia.

Bersama Mikko

Bersama Mikko

Tanpa direncanakan saya hamil tiga bulan setelah menikah. Panik! Keuangan kami pas-pasan sekali waktu itu. Hidup dari uang beasiswa Erasmus-nya suami yang gak akan cukup untuk menanggung satu nyawa lagi. Rencana untuk tinggal di Belanda pun dibatalkan. Bagaimana bisa cari kerja kalau saya hamil begini? Pulang ke Indonesia juga tidak mungkin karena berarti butuh dana yang besar untuk biaya lahiran di RS. Akhirnya kami mengepak koper dan pindah ke Finlandia dengan pertimbangan Mikko akan lebih mudah cari kerja di negaranya sendiri, ditambah dengan berbagai benefit yang bisa kami dapat jika menjadi penduduk Finlandia.

Suomenlinna, pulau kecil nan cantik yang masih merupakan bagian dari kota Helsinki

Suomenlinna, pulau kecil nan cantik yang masih merupakan bagian dari kota Helsinki

Untuk sementara saja, pikir saya waktu itu. Tapi kenyataannya sudah 5 tahun lebih kami di Finlandia dan sudah dikaruniai dua anak laki-laki, Kai (5 tahun) dan Sami (3tahun).

Menurut Mikko, yang lahir dan besar di Finlandia, negaranya itu, sepi, dingin, gelap dan membosankan. Apa yang dibilang Mikko memang benar adanya, tapi kok, biarpun begitu, tinggal di Finlandia ini bikin betah? Dibalik negatif-negatifnya (yaa dinginnya yang seperti di kulkas), Finlandia juga merupakan negara yang aman dan nyaman, yang social security sistemnya sungguh jawara hiji seng ada lawan, pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak gratis dan terjamin kualitasnya, udaranya masih sangat segar bebas polusi, banyak ruang terbuka tempat anak bebas berlari, dan Finlandia yang tertutup salju ternyata cantik sekali. Seperti di negeri dongeng. Harapan untuk kembali ke Indonesia masih disimpan dalam hati. Tapi saat ini kami sekeluarga berbahagia di kota kecil bernama Kerava.

Kerava winter wonderland

Kerava winter wonderland

Kerava di musim gugur

Kerava saat autumn

Pusat kota Kerava

Pusat kota Kerava

Berkomunikasi dengan Anak Bilingual. Sebagai pelaku kawin campur, saya dan Mikko pastinya berdiskusi bagaimana kami akan membesarkan anak-anak, salah satu yang penting untuk dibahas tentunya: bagaimana kami berkomunikasi dengan anak? Ternyata kami berdua sama-sama langsung sepakat bahwa kami akan menggunakan bahasa kami masing-masing ketika berbicara dengan anak kami. Alasannya gampang saja: it feels more natural, kami ingin berbicara dengan anak dalam bahasa yang paling kami kuasai. Karena itulah kami menerapkan OPOL (One Parent One Language) dalam berkomunikasi dengan anak

Sami Kai

Kai dan Sami di Kampung Sampireun, Garut

Di luar itu juga ada alasan penting lainnya kenapa kami memutuskan untuk ber-OPOL, kami ingin anak kami punya hubungan yang erat dengan kakek-nenek dari kedua belah pihak. Saya ingin Kai dan Sami bisa bicara bebas lepas dengan ayah dan ibu saya di Indonesia. Mikko tentunya juga ingin anak-anak bisa lancar berkomunikasi dengan ibu mertua saya di Finlandia.

Kai dan Ompungnya, tidak pernah ada kesulitan komunikasi di antara mereka. Bersyukur sekali anak-anak bisa bahasa Indonesia

Kai dan Ompungnya, tidak pernah ada kesulitan komunikasi di antara mereka. Bersyukur sekali anak-anak bisa lancar berbahasa Indonesia.

Sejak anak-anak baru lahir kami konsisten ber-OPOL. Saya berbicara hanya dalam bahasa Indonesia ke anak-anak dan Mikko hanya berbahasa Finlandia. Antara saya dan Mikko sendiri sebenarnya lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi.

Banyak yang bertanya kenapa anak-anak tidak diajarkan bahasa Inggris saja? Kan akan lebih berguna? Kalau menurut saya sih, bahasa ibu jauh lebih berguna dari bahasa apapun juga. Bayangkan kalau anak-anak saya tidak bisa berbahasa Indonesia (atau Finlandia). Artinya sejak usia dini mereka sudah terputus komunikasinya dari keluarga dan saudara-saudaranya sendiri di tanah air karena tidak menguasai bahasanya. Tidak semua orang berbahasa Inggris, kan, di Indonesia (dan juga Finlandia!).

Bersama Oma saat dikunjungi

Bersama Oma saat dikunjungi

Lagipula, baik bahasa Indonesia dan Finlandia bukan termasuk bahasa populer di dunia ini dan sulit ditemui di luar lingkup daerahnya. Jadi, kalau bukan dari saya dan suami, dari mana lagi anak kami bisa belajar bahasa Indonesia dan Finlandia? Bahasa Inggris sudah sangat mendunia, bisa dipelajari di mana saja, anak-anak pun nantinya akan belajar di sekolah.

Apakah ber-OPOL itu sulit? Iya dan tidak. Pada hakikatnya metode OPOL cuma meminta kita untuk berbicara dengan bahasa ibu kita sendiri, bahasa yang paling kita kuasai. Apa susahnya sih? Yang agak sulit itu adalah untuk terus konsisten menggunakan satu bahasa tanpa tercampur-campur, termasuk juga membenarkan kesalahan anak ketika mereka mencampurkan dua bahasa atau lebih. Kai dan Sami biasanya suka mencampur bahasa Indonesia dan Finlandia ketika mereka baru mulai belajar bicara. Seperti misalnya “Ei bobo” yang maksudnya “Gak mau bobo” atau “Mau maito” yang berarti “Mau susu” dan lain-lain. Di saat seperti ini saya harus berkali-kali membenarkan omongan mereka. “Gak mau bobo, Kai”  atau “Mau susu, Sami”. Saya ulang-ulang terus sampai akhirnya anak-anak bisa mengucapkannya dengan benar.

One Parent, One Language

Kalau baca ini sih kesannya gampang, tapi anak-anak kan berbicara setiap menit yang berarti setiap menit pula kita harus membenarkan kesalahan mereka, berulang-ulang sampai mereka ingat. Lumayan bikin capek ya ini. Di usia 5 dan 3 tahun, saat ini Kai dan Sami termasuk lancar di kedua bahasa, Indonesia dan Finlandia. Tetap ada sekali-sekali pencampuran bahasa, terutama untuk kata-kata baru, jadi saya pun masih rajin membenarkan omongan mereka.

Dalam ber-OPOL ada beberapa prinsip yang selalu saya ingat:

  1. Tidak mencampur-campur bahasa. Misalnya: “Kai mau makan pisang?” dan bukannya “Kai mau makan banani?” Menyelipkan kata-kata asing akan menyulitkan anak untuk mendiferensiasikan bahasa. Mana yang Indonesia mana yang Finlandia.
  2. Berbicara dengan baik, benar, jelas dan lengkap. Biasakanlah berbicara dengan kalimat yang lengkap. Mengajarkan bahasa Indonesia bukan sekedar menerima anak bisa ngomong “pisang”, “kereta”, “rumah”. Tapi juga memberi contoh penggunaan kata dalam kalimat. “Saya mau pisang”, “Lihat, ada kereta lewat”. Sama prinsipnya untuk bahasa lain. Anak bisa menyebut kata “orange”, “yellow”, “car” bukan lantas berarti si anak bisa berbahasa Inggris. Dia cuma tau beberapa kata dalam bahasa Inggris. Anak yang berucap “Saya mau orange” tidak bisa dikatakan bisa berbahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris dengan benar.
  3. Mendorong penggunaan bahasa yang benar, dan tidak mendorong penggunaan yang salah. Misalnya, saat Kai bilang “Kai mau pisang”, saya beri dia pujian, saya ambilkan pisangnya. Tapi ketika Kai bilang “Kai mau banani” atau “Haluan banania”, saya tidak akan memberi pisangnya sampai Kai mengucapkannya dengan bahasa Indoensia yang benar.
  4. Rajin mengulang-ngulang. Terutama ketika anak membuat kesalahan, harus sabar untuk memberi penjelasan berulang-ulang sampe anaknya mengerti. Termasuk juga meminta anak untuk mengulangi kalimatnya supaya benar.
  5. Kembali lagi ke kon-sis-ten-si. Harus selalu-kudu-musti  konsisten. Saya terus menggunakan bahasa Indonesia, Mikko bahasa Finlandia. Jangan hari ini  ngomong  Indonesia tapi besok pakai Inggris atau Finlandia. Yang seperti ini  bisa bikin anak bingung dan memperlambat proses belajarnya.
  6. Nyaman dan PD dengan bahasa yang digunakan. Alasan utama kenapa saya berbicara bahasa Indonesia ke Kai. Karena cuma dalam bahasa inilah saya paling bebas berekspresi. Dalam proses pengajaran bahasa, komunikasi yang lancar itu penting untuk mendapatkan hasil yang optimal.
  7. Penggunaan berbagai macam media pendukung bahasa seperti buku, musik, video. Ini bisa jadi tantangan besar buat bahasa minoritas, bahasa-bahasa yang kurang populer di dunia. Misalnya saja, sulit sekali menemukan materi dalam bahasa Indonesia di sini, apalagi yang cocok untuk anak-anak. Setiap mudik ke Indonesia kami selalu memborong buku-buku dan DVD anak di Gramedia.
  8. Atur ekspektasi supaya jangan berlebihan. Terutama untuk bahasa Indonesia dan Finlandia yang memiliki perbedaan bahasa formal dan informal, poin ini penting untuk diingat. Saat ini saya berbicara dengan bahasa sehari-hari yang tidak formal dan tidak sesuai aturan EYD ke anak-anak. Kalau kami nantinya akan tinggal permanen di Finlandia, mungkin anak-anak tidak akan bisa menguasai bahasa Indonesia sampai, misalnya, tahap menulis thesis.

Perjuangan OPOL kami belum selesai. Kai dan Sami masih harus banyak belajar bahasa Indonesia dari sumber lain kalau mau mengerti bahasa yang lebih formal. Belum lagi masalah penolakan bahasa yang biasanya terjadi terhadap bahasa minoritas (dalam hal ini bahasa Indonesia karena di sini yang menjadi mayoritas tentu bahasa Finlandia). Sekarang saja Kai kadang-kadang mengeluh bahwa dia malas cerita-cerita sama äiti (ibu, dalam bahasa Finlandia) karena sama äiti harus berbahasa Indonesia. Lebih enak ngobrol sama Isi (ayah) saja pakai bahasa Finlandia.

seerika_84

Bahagia ketika berlibur di Indonesia

Keluhan Kai tidak pernah saya tanggapi, saya anggap saja angin lalu. Pokonya kalau sama äiti harus pakai bahasa Indonesia, gak ada cerita lain! Kalau tidak berbahasa Indonesia äiti akan pura-pura tuli.

Berbahasa Indonesia. Sebenarnya saat ini saya lumayan mengelus dada melihat fenomena anak-anak yang lupa akan bahasa Indonesia (atau tidak diajarkan bahasa Indonesia) begitu pindah tinggal ke luar negri. Lebih prihatin lagi melihat anak Indonesia, tinggal di Indonesia, tapi tidak bisa berbahasa Indonesia dengan alasan sekolah di international school. Kenapa orang tuanya tidak mengajarkan di rumah? Tidak ada salahnya mengajarkan bahasa lain, tapi bahasa ibu jangan dilupakan. Akan ada saatnya anak-anak akan bertanya tentang akar budayanya ketika mereka besar nanti. Penguasaan bahasa ibu akan membantu mereka dalam pencarian jati dirinya.

Menghapus penggunaan bahasa ibu juga memperkecil kesempatan anak untuk berkarya di negaranya sendiri di kemudian hari. Belum tentu kan dia akan selamanya ingin sekolah di luar negri, berkarir dan menetap di sana? Bisa jadi mereka juga ingin hidup di Indonesia, ingin punya pasangan hidup Indonesia, atau sekedar jalan-jalan ke pedalaman Indonesia? Penguasaan bahasa Indonesia akan membantu anak untuk mencapai hal-hal tersebut. Lagipula, anak-anak punya kemampuan ajaib untuk menyerap beberapa bahasa sekaligus. Mereka tidak perlu belajar, cuma perlu diajak berbicara. Kalau bisa dua bahasa kan lebih baik daripada satu? Anak-anak bilingual (atau bahkan multilingual) katanya punya intelenjesi yang lebih tinggi, lebih kritis dalam berpikir dan lebih cepat dalam mempelajari bahasa baru di kemudian hari.

——–

Untuk kisah lainnya tentang kehidupan di Finlandia, Rika menulis di http://seerika.wordpress.com/ atau untuk keseharian, bisa follow IG @seerika.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Rika dan keluarga – dan beberapa diambil dari URL yang terhubung langsung dengan image gambar. Diedit oleh: @chiceniza.