Apartment Hunting dan Komunitas Indonesia di NYC

Tia

 Tia Wulansari – a first time mom, a graduate student, and an ESL teacher (plus a Patriots and Red Sox fan) who lives in Medford, MA with her beloved husband and beautiful baby girl.

Apartment Hunting. Saya dan suami sudah pernah tinggal di beberapa kota di Amerika, dan bisa dibilang apartment hunting di New York itu yang paling ribet. Belum lagi sewa apartment di New York terkenal amat sangat mahal. Kami selama dua tahun (Jan 2012- Mei 2014) tinggal di Manhattan, tepatnya di 187th st dan Fort Washington. Nama daerahnya Washington Heights. Kami tinggal di one-bedroom apartment. Luasnya sekitar 800 sqft dan harga sewa ketika itu $1900/bulan (sudah termasuk heat dan gas). Sekarang apartment itu sudah disewakan dengan harga $2300 (Mahal? Amat sangat! Sigh…).

Bersama Keluarga

Mencari apartment yang lokasi dan harganya cocok di New York tidak lah mudah. Pertama kami coba cari sendiri melalui website Craigslist. Tetapi terlalu banyak apartment listing dan tidak jelas mana yang asli, mana yang scam. Akan lebih membingungkan lagi kalau belum tahu daerahnya. Ada 5 boroughs di New York: Manhattan, Brooklyn, Queens, Bronx, dan Staten Island. Within the boroughs, there are many neighborhoods, and each neighborhood has its own unique characteristics (dari yang bagus sampe yang sebaiknya dihindari). Walau saya sudah pernah tinggal di New York waktu kuliah S1, akhirnya, kami memutuskan untuk memakai jasa agen real estate supaya tidak kena tipu. Setelah membaca reviews di Yelp.com, saya menghubungi beberapa agen yang punya listing di Brooklyn dan Manhattan. Fokus kami hanya di Manhattan dan Brooklyn karena mempertimbangkan jarak ke kantor suami dan tempat kuliah saya (plus kami suka dengan daerahnya). Setelah bolak-balik kontak lewat email dengan spesifikasi harga dan amenities yang diinginkan dengan beberapa agen, akhirnya kami buat janji untuk melihat tempatnya.

Karena kami pindah ketika musim dingin, jumlah apartment listing tidak sebanyak kalau cari ketika musim panas. Dalam 2 hari, kami lihat 5 apartment di Brooklyn (daerah Park Slope, Prospet Heights, dan Gowanus) dan 1 apartment di Manhattan. Kami pikir di Brooklyn akan lebih murah, ternyata tidak. Semua apartment yang kami lihat hamper sama harga sewanya ($1800-$2000 untuk one-bedroom apartment). Kami akhirnya memutuskan untuk sewa apartment yang di Washington Heights karena jatuh cinta dengan pemandangan dan layout apartment.

Manhattan-GWB

Pemandangan George Washington Bridge ketika senja dari kamar kami

Alhamdullillah, saya berhasil kontak agen-agen yang baik. Ketika tanda tangan lease agreement, selain membayar first month dan deposit, kita juga harus membayar agent fee. Di New York, rata-rata 10%-15% dari harga sewa setahun (Mahal? Banget! sigh…). Oleh karena itu, penting sekali untuk dapat agen yang baik dan sangat membantu. Kalau tinggal di New York, mayoritas uang kita habis untuk bayar sewa. Di setiap borough, rata-rata harga sewa apartment tergantung daerahnya. Harga sewa di daerah kami termasuk bagus untuk apartment sebesar itu. Selain apartmentnya sendiri, lokasi apartmentnya enak, jauh dari kehebohan Manhattan, banyak taman dan sarana olah raga gratis. “Kekurangannya” adalah jauh dari hingar-bingar kota Manhattan, tidak cocok buat orang yang suka yang keramaian. Ke Times Square, sekitar 30 menit naik A express train; Ke Chinatown, sekitar 45 menit. Sebagai pembanding, teman saya sewa apartment 10 menit jalan dari Times Square. Luasnya sekitar 650 sqft, harganya $3400. Ada teman lain sewa apartment 10 menit naik subway ke Union Square. Luasnya 800 sqft, harganya $2400. Di Queens dan Brooklyn pun sama. Akan lebih mahal sewa di Astoria dan Long Island City (bukan Long Island ya…), dibanding di Jackson Heights atau Elmhurst. Lokasi (jarak ke subway, how convenient the area is,dll) dan amenities apartment mempengaruhi harga sewa. Untuk referensi, bisa dilihat di website ini: untuk boroughs yang lain juga ada di websitenya. Untuk informasi soal neighborhoods di Amerika, bisa dibaca di city data.

Restaurant Indonesia di NY
Enaknya tinggal di New York, kalau kangen masakan Indonesia dan malas masak (atau tidak jago masak seperti saya), bisa ke beberapa restoran.
Upi Jaya 
Teman saya yang asli Padang bilang masakan Padang di tempat ini TOP! Sate Padangnya mantap katanya. Sudah beberapa kali kesini, semuanya enak! Mereka juga ada masakan non-Padangnya seperti ayam panggang, tahu isi, gado-gado. Sekedar info bagi yang muslim, restoran ini menggunakan daging halal.IMG_6559

Java Village
Mereka menyediakan menu nusantara. Harganya cukup murah untuk porsi sajiannya. Mereka ada dua macam menu: bisa kita pesen dari daftar menunya langsung seperti lontong sayur atau ayam kremes; bisa juga kita pesen menu combonya (misal 2 jenis daging, 1 sayur, dan nasi). Seperti kalau di Indonesia, tinggal tunjuk ini itu dari counternya. Mereka juga menjual makanan ringan di restorannya seperti risoles dan tahu isi. Lihat juga review di sini.

Bali Nusa Indah
Bagi yang jauh tinggalnya dari daerah Elmhurst, Queens, di Manhattan ada restoran Indonesia juga namanya Bali Nusa Indah. Mereka menyediakan menu nusantara. Kami sering mengajak teman non-Indonesia kesini untuk memperkenalkan masakan Indonesia. Dibanding Upi Jaya dan Java Village, rasa masakan Bali Nusa Indah sudah ter-Americanized alias gak pedes dan kurang nendang. Untuk obat kangen, lumayan lha… Masakan yang OK menurut saya dan suami: mie goreng, siomay, lontong sayur, sate ayam. Ada beberapa restoran lainnya seperti Asian Taste 86 dan Sky Café (yang ini cabang dari yang di Philadelphia), tapi karena saya sudah lama tidak kesana atau belum pernah kesana, jadi tidak bisa komen banyak. Yang jelas kalau jalan-jalan ke New York, mampir lah ke Elmhurst, Queens untuk obat kangen rumah!

Kemudian ada beberapa toko yang menjual bumbu dan makanan ringan dari Indonesia. Banyak produk Indonesia yang bisa dibeli di New York. Yang penting jangan dipikir harganya dalam rupiah, bisa-bisa tidak jadi beli nanti! Hehehe…

Asia Market Corp di Chinatown, Manhattan
Berbagai macam bumbu Indofood dan Bamboe ($1.00/sachet), krupuk udang, kecap manis, tempe (frozen), Kusuka kripik singkong, kacang Garuda, bumbu pecel, kopi Nescafe, sambal ABC. “Indonesian corner”nya ada di pojok kanan belakang. Tempenya ada di frozen section. Kalau krupuk dan keripik, ada di bagian snack dan di bagian kasir.

Top Line, di Elmhurst, Queens
Lebih lengkap barang-barang yang dijual. Ada krupuk ikan, udang, dan krupuk putih abang-abang, segala macam bumbu jadi (Kokita, Munik, Indofood, Bamboe, Racik, dan beberapa merk yang saya pun baru lihat disini), meses, sirup Marjan, Beng-beng dan beberapa kukis khas Indonesia, Blue Band, tempe, kopi dan the Indonesia, dan masih banyak lagi… Kadang mereka juga jual meterai bagi yang membutuhkan. Kalau disini, “Indonesian corner”nya ada di bagian belakang toko, di bagian kanan.

Jajanan-lidi

Jajanan jaman SD “lidi berMSG” ada diual disini!

OK Indo, di Elmhurst, Queens
Tokonya kecil dan belum lama bukanya. Mereka spesialisi jualan produk Indonesia, tidak seperti Top Line dan Asia Market Corp. Barang yang dijual tidak selengkap toko-toko diatas, tapi kalau hari Sabtu, mereka jual makanan siap saji (dijual di container plastik). Terakhir kesana ada pempek, nasi kuning, nasi rames, martabak manis, dan beberapa jenis gorengan.

Komunitas Indonesia di New York
Bagi yang muslim, bisa mendatangi masjid Al-Hikmah untuk beribadah dan mengikuti kegiatan pengajian (untuk orang dewasa dan anak-anak). Masjid ini juga terkenal akan bazaar makanannya ketika bulan Ramadhan. Lumayan besar dan ramai bazaarnya; makanan yang dijual pun enak-enak. Selama bulan Ramadhan, biasanya bazaarnya buka setiap weekend. Informasi mengenai pengajian dan bazaar bisa dilihat di website masjidnya. Selain itu, terkadang komunitas Indonesia juga jualan di lokasi lain di Elmhurst, seperti ketika masa Pemilu kemarin.

Buat yang tertarik dengan musik gamelan, di New York ada grup Gamelan Kusuma Laras. Salah satu pelatihnya adalah Bapak Harjito. Beliau pengajar gamelan di kampus saya dulu, Wesleyan University. Yang menjadi anggota grup ini ada orang Indonesia dan Amerika. Mereka kadang pentas di KJRI, Lincoln Center, dan beberapa tempat ternama lainnya. Terakhir, kami menghadiri outdoor concert sebagai bagian dari Make Music NY event di bulan Juni. Pengalaman yang unik, mendengarkan gamelan di luar sambil menikmati angin sepoy-sepoy.

Gamelan Kusuma Laras

Gamelan Kusuma Laras pentas di depan KJRI NY sebagai rangkaian acara Make Music NY