Merantau di Egham

Foto 1. berdua bersama Athar dinaungi cuaca gloomy-nya London (1)Veni Takarini – A mother of Athar who took dentistry and taught short courses in United Kingdom during 2014 – 2015. Love to try new things and gain a lot of experiences from local community in Egham. Now she is back to lovely hometown in Bandung.

VENI DAN KELUARGA

Dua bulan setelah menikah di tahun 2011, suami saya harus berangkat ke London untuk melanjutkan pendidikannya di Royal Holloway University of London, sedangkan saya tidak bisa ikut berangkat mendampinginya karena baru saja menjalani pekerjaan di Indonesia selama satu tahun, sehingga tidak bisa langsung mengajukan cuti dalam waktu dekat. Pada tahun 2014, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kursus di negara yang sama dengan tempat suami belajar. Tidak menunggu lama, saya segera mempersiapkan keberangkatan. Karena khawatir Athar, anak kami, akan sulit langsung dekat dengan Papanya, saya memutuskan untuk memboyong orangtua sekaligus memberikan kesempatan untuk mereka berlibur.

Foto 2. Foto keluarga

Bersama suami dan Athar

KEHIDUPAN DI EGHAM, UNITED KINGDOM

Egham termasuk dekat dari London dan punya stasiun kereta sendiri yang sebenarnya jarang dimiliki oleh kota kecil seukuran Egham. Hanya dengan ±50 menit dan ongkos berkereta £14 kita sudah dapat merasakan sibuknya London. Populasi mahasiswa disini memang banyak sekali dan kebetulan Royal Holloway adalah salah satu universitas dengan populasi mahasiswa internasional yang paling banyak seantero UK. Untuk mahasiswa muda yang belum berkeluarga sepertinya Egham adalah kota yang tepat untuk mendapatkan keseimbangan antara sepinya kota pelajar dan hingar bingarnya kehidupan di London.

Lokasi Egham yang dekat dengan tempat tinggal keluarga kerajaan dengan berbagai pilihan kampus internasional favorit menjadikan biaya akomodasi di daerah ini termahal kedua di UK setelah London. Di sini, biaya sewa rumah paling murah untuk mahasiswa single sekitar £400, sharing dengan 4 sampai 5 orang dan biasanya belum termasuk tagihan lainnya. Sedangkan untuk keluarga kecil, dapat menyewa studio, dengan perkiraan biaya sekitar £650-700 perbulan di luar tagihan lainnya. Kami terhitung cukup beruntung karena bisa sharing rumah yang lumayan besar dengan keluarga yang berasal dari Indonesia lainnya, sehingga pengeluaran tidak terasa terlalu mencekik.

Foto 3a. Suasana sepi di sekitar perumahan tempat tinggal kami, sangat ramah anak

Suasana di daerah rumah tinggal kami

Foto 3b Egham Train Station Panoramio

Egham Train Station Panoramio

Untuk sarana transportasi, selain dengan kereta, kita dapat dengan mudah menggunakan bus ataupun berjalan kaki. Berjalan kaki di sini tidak terlalu terasa melelahkan karena selain aman, udaranya juga segar, sehingga perjalanan menjadi tidak terlalu terasa berat. Untuk menikmati Egham, Windsor dan sekitarnya kita dapat membeli tiket bus harian seharga £7 untuk berjalan-jalan.

Foto 4. Contoh sarana transportasi bus

Bus di Egham

Hal yang penting untuk dilakukan pertama kali ketika tiba di Egham adalah pencatatan data sebagai penduduk Egham, karena dengan ini proses pendaftaran untuk fasilitas kesehatan, perpustakaan dan fasilitas lainnya menjadi mudah. Waktu itu yang terpikirkan pertama adalah mendaftarkan Athar ke fasilitas kesehatan terdekat, yaitu National Health Service (NHS), mengingat usianya yang baru akan 2 tahun, sehingga ada beberapa imunisasi yang masih perlu dilengkapi untuk tetap menjaga kesehatannya.

Ada sedikit pengalaman yang menarik buat saya, ketika pertama kali belanja tanpa ditemani suami, saya pergi bersama Mama. Tujuan kami hanya membeli satu produk, harganya pun ternyata cukup murah. Waktu itu saya dengan percaya diri membayar dengan selembar uang bernominal besar. Awalnya petugas toko bertanya, adakah uang nominal kecil, saya minta maaf dan menjawab tidak ada, karena uang selembar itulah satu-satunya yang saya bawa. Kebisaaan buruk saya, jika hanya akan keluar belanja di tempat yang dekat, saya tidak pernah membawa dompet. Hanya uang yang dibutuhkan saja. Kemudian dia menegaskan lagi pertanyaannya, dan kali ini saya hanya tersenyum karena saya sudah jawab dan memang tidak bawa apa-apa lagi, tapi ternyata respon yang saya dapatkan cukup mengejutkan ‘That is not funny,’ he said.

Sampai di rumah saya masih sedih dan merasa takut untuk keluar belanja sendiri lagi. Papa dan suami saya mengingatkan untuk mengambil sisi positifnya saja. Hal itu kan sama saja seperti mau naik angkot rute dekat tetapi nekat membayar dengan uang seratus ribuan, ya supir angkot pasti akan kesal tentunya hehe…jadi, di sini lebih baik bayar dengan uang receh pas-pasan dibanding bayar dengan nominal besar. Hal ini berlaku juga untuk toko-toko besar, bukan hanya toko kecil.

ROYAL HOLLOWAY UNIVERSITY OF LONDON

Royal Holloway University of London adalah salah satu kampus yang merupakan bagian dari University of London yang berada di luar London. Situasi ini mirip dengan kampus UNPAD atau ITB di Jatinangor dengan kampus utama di Kota Bandung. Biasanya, teman-teman Indonesia yang datang dari luar kampus RHUL kami bawa kesini sebagai salah satu tujuan wisata karena gedung tuanya yang bagus dan sejarahnya yang menarik. Bagi yang sudah menonton salah satu film The Avengers yang terbaru mungkin sudah mengenali kampus ini.

Foto 14a. sudut foto kastil Royal Holloway yang paling bagus menurut saya

Salah satu sudut kastil Royal Holloway

Foto 14c. Kastil kembaran Royal Holloway yang ada di Virginia Water. sekarang sudah menjadi perumahan.

Kastil kembaran Royal Holloway di Virginia Water yang sudah menjadi perumahan

Selain RHUL, Egham memiliki Strode’s College. Kampus yang ini membuka pendaftaran untuk adult education. Selain untuk belajar, ada beberapa kursusnya yang bersifat rekreasional seperti merajut, dansa, ataupun membuat kerajinan lainnya.

Foto 15. Foto di depan Strodes College, egham

Foto di depan Strodes College, Egham

Saya mencoba mengikuti salah satu kursus mengenai Teaching and Education. Interaksi saya dengan penduduk asli UK mulai terbina di sini karena peserta belajarnya kebanyakan adalah residen. Mereka sangat ramah dan menerima para pendatang dengan baik.

AKTIVITAS ANAK

Ketika datang di Egham, Athar baru akan berusia 2 tahun. Di sela-sela jadwal kursus, saya selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan bermain Athar dengan beberapa aktivitas yang menyenangkan, seperti:

Mengajaknya main di beberapa playground yang terletak di sekitaran Egham dan Staines. Di antaranya adalah Manocroft Playing Field, Hythe Park, Pooley Green Park, dan juga Runnymede Park. Athar paling senang main di Hythe Park yang memiliki trampolin dan Runnymede Park yang memiliki splish splash pool ketika musim panas. Cukup untuk mengobati kerinduan untuk belajar berenang, tetapi harus ingat untuk memakaikan suncream karena sinar matahari yang terik.

Mengajaknya ke Egham Library. Selain untuk meminjam buku bacaan dan buku audio, ada pula acara Rhymetime untuk anak setiap hari Kamis dan Sabtu pagi. Sedangkan pada hari Rabu merupakan jadwal storytime. Selebihnya, waktu untuk berkreasi dan mewarnai bisa dilakukan kapan saja. Pendaftaran untuk menjadi anggota perpustakaan ini sangat mudah, hanya dengan menunjukan bukti alamat tempat tinggal, maka sudah bisa terdaftar menjadi anggota dan menggunakan fasilitas perpustakaan yang ada. Kami bisa meminjam sampai 20 buku di sini, dan kelebihan yang didapatkan untuk anggota anak adalah bila ada keterlambatan pengembalian tidak akan dikenakan denda. Yeeayy!!! Tetapi ya harus ikut peraturan dong karena buku yang dipinjam untuk kepentingan umum juga. Jangan khawatir, jadwal pengembalian buku akan selalu diingatkan melalui email sekitar 3 hari sebelum batas waktu yang telah ditentukan.

Foto 20. Mejeng dulu di depan library

The Haven Surestart Children Centre merupakan tempat bermain yang menyenangkan yang diselenggarakan oleh pemerintah UK. Di sini, anak bisa bermain setiap hari Senin pagi pada program Messy Monday dengan kegiatan yang memicu kreativitas seperti bemain cat ataupun pasir-pasir. Ya, sesuai namanya ‘messy’, memang agak kotor-kotor sedikit, tetapi tidak perlu khawatir karena sudah disediakan peralatan dan ruangan yang memadai. Program lainnya adalah Tiny Toes pada Jumat pagi yang membebaskan anak bermain di dalam dengan berbagai mainan yang disediakan, maupun di luar ruangan dengan bermain mobil-mobilan, rumah-rumahan, ataupun scooter. Kita dianjurkan untuk memberikan donasi sebesar £1, untuk setiap kegiatan. Di sini juga disediakan snack dan buah untuk anak-anak. Saya senang sekali karena dengan disediakannya snack tersebut, Athar semakin cepat untuk berlatih makan sendiri karena termotivasi oleh teman-teman sebayanya.

Untuk anak berusia 2-2,5 tahun akan diberikan surat untuk pemeriksaan perkembangan dan pertumbuhannya. Biasanya perlu membuat janji terlebih dahulu untuk menjadwalkan waktu pemeriksaan. Pemeriksaan perkembangan dan pertumbuhan yang dilakukan adalah pemeriksaan kemampuan bicara dan bahasa utama yang digunakan, interaksi dengan orang lain, aktivitas psikomotor juga pengukuran berat dan tinggi badan. Petugas pemeriksa kemudian akan memberikan informasi dan ulasan mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Selain untuk anak, ada beberapa program lain yang ditujukan untuk orang tua. Salah satunya adalah Parenting Course yang merupakan kursus 10 minggu dan diadakan setiap hari Selasa atau Rabu. Kegiatan ini tidak memerlukan biaya sedikit pun, hanya saja perlu mendaftar jauh-jauh hari untuk mendapatkan kesempatannya. Dalam kegiatan ini peserta didampingi oleh tiga orang tutor/fasilitator dan belajar bagaimana membesarkan anak yang baik melalui metode diskusi, berbagi informasi dan pengalaman. Kita juga bisa membeli buku yang mendukung kegiatan ini.

Kegiatan ini sangat menyenangkan karena selain belajar, ini juga dapat dijadikan waktu untuk relaksasi yang tepat bagi orangtua, karena dengan program Creche, para orangtua dapat menitipkan anak kepada pengasuh-pengasuh yang terpercaya. Bagi saya, program Creche ini menjadi sarana yang tepat untuk membiasakan Athar belajar mandiri karena kami belum memasukannya ke nursery. Orangtua juga akan mendapat laporan atas kegiatan yang dilakukan oleh sang anak selama waktu tersebut setiap minggunya, sehingga bisa dilihat perkembangan dan kemajuannya.

MAGNA CARTA TRUST 800TH ANNIVERSARY

Egham juga dikenal mempunyai sejarah yang panjang di UK. Disinilah tempat dokumen yang memuat hak asasi manusia pertama kali dibuat dan disahkan pada tahun 1215. Berawal dari perselisihan antara King John dengan beberapa lapisan masyarakat Inggris pada masa itu, maka dibuatlah sebuah piagam untuk membatasi hak dari para pembesar kerajaan dan masyarakat umum. Sejak saat itu tidak ada orang atau raja sekalipun yang berada di atas hukum. Dokumen inilah yang dikenal dengan Magna Carta. Pengenalan mengenai sejarah Magna Carta ini disajikan dengan lengkap di Egham Museum yang terletak di High Street.

83416299_img_3983

Monumen Magna Carta

Perayaan Magna Carta Day diadakan setiap tahun, dan kebetulan tahun 2015 menjadi perayaan yang ke-800 tahun, sehingga dirayakan dengan sangat meriah dibanding dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, Ratu Elizabeth pun datang ke area monumen Magna Carta dekat Runnymede Park untuk memperingatinya. Berbagai festival diadakan di beberapa tempat, mulai dari Egham High Street, kampus-kampus sekitar (RHUL dan Strode’s College), serta Runnymede Park. Penduduk Egham dan para pendatang akan berkumpul dan merayakannya.

Foto 7. Suasana highstreet Egham yang ramai pada saat perayaan Magna Carta

Suasana highstreet Egham yang ramai pada saat perayaan Magna Carta

Festival yang ditampilkan sangat beragam, mulai dari balap perahu mengarungi sungai Thames yang melewati Runnymede Park yang juga menampilkan perahu kerajaan milik Ratu Elizabeth, sampai dengan pertunjukan teater The Pageant yang menampilkan kisah tentang pengesahan Magna Carta lengkap dengan Knights Battle-nya.

Foto 9. Perahu Ratu Elizabeth

Perahu Ratu Elizabeth

Yang paling berkesan untuk Athar adalah open day Fire Station, karena di sini anak-anak bisa merasakan bagaimana menjadi petugas pemadam kebakaran, mulai dari menggunakan atributnya sampai menaiki truk besarnya, perahu penyelamat sampai ambulans.

Foto 12. Open day Fire Station berarti anak-anak boleh naik truk pemadam kebakaran

Open Day Fire Station

Ketika malam tiba, tepatnya sekitar pukul 21.30 ada lagi kemeriahan dari kembang api yang dinyalakan di beberapa tempat. Uniknya beberapa festival ini dilaksanakan bergiliran di beberapa lokasi agar semua pengunjung bisa terfokus di satu tempat untuk menikmatinya. Yang terbaru dari acara Magna Carta tahun ini adalah disahkannya patung Ratu Elizabeth di area Runnymede Park, tepatnya pada tanggal 14 Juni 2015.

EMPAT MUSIM

Kami mengalami empat musim di sini. Musim semi, panas, gugur, dan dingin. Kami datang ketika musim semi. Tetapi walaupun musim dingin sudah lewat, saya masih tetap saja merasa kedinginan. Tahun ini, datangnya musim panas bertepatan dengan Ramadhan. Jadi waktu puasa di sini menjadi cukup panjang, sekitar 18-19 jam, dimulai sahur sekitar pukul 2.00 dini hari dan berbuka sekitar pukul 21.20 malam. Alhamdulillah, kami bisa melewati dan menikmatinya. Pada saat musim gugur datang semuanya terlihat sangat cantik karena pohon-pohon mengugurkan daun-daunnya. Untuk musim dingin, Egham jarang sekali mendapat salju, tetapi Alhamdulillah pada tahun kami tinggal di sini kami bisa merasakannya. Ketika itu masih jam 5 pagi, saya dan Athar dengan semangat bergegas menuju luar rumah dan bermain salju. Salju yang turun memang tidak banyak, tapi kalau untuk membuat sowman saja, bisalah.

Foto 24. Alhamdulilah sempat membuat snowman dari salju yang tipis

Walaupun tipis, tetap bisa membuat snowman!

Uniknya lagi, kampus RHUL turut menyemarakkan suasana dengan menghadirkan rusa-rusa kutub di kampus. Rasanya lengkap sudah pengalaman kami menikmati musim-musim di sini.

Foto 25a. Saat winter banyak keramaian di Royal Holloway pagelaran reindeer ini termasuk salah satunya

Saat winter banyak keramaian di Royal Holloway. Pagelaran reindeer ini termasuk salah satunya

MENIKMATI EGHAM DAN SEKITARNYA

Kota terdekat yang biasa kami kunjungi selain Staines, adalah Englefield Green dan Windsor. Jika akan berangkat ke Windsor menggunakan bus, maka kita akan melewati Englefield Green. Di sini setiap tahunnya diadakan acara Steam Fair yang menjadi tempat bermain yang menyenangkan.

Foto 26. Steam fair di Englefield green

Windsor memang sudah cukup terkenal karena di kota ini banyak memiliki istana tempat tujuan wisata, diantaranya adalah istana tempat tinggal Ratu Elizabeth. Suatu hari kami pernah melihatnya dalam kendaraan yang melaju di dalam istana tanpa pengawalan yang ketat, ketika kami berjalan melewati The Long Walk. Jalur awal The Long Walk ini ditandai dengan adanya patung King George yang menghubungkan Great Windsor Park dengan Windsor Castle. Selain di istana Buckingham, London, di istana ini juga terdapat proses Changing Guard yang menjadi daya tarik turis.

Foto 27. Patung king George yang menandai dimulainya jalur the Long Mile

Patung king George yang menandai dimulainya jalur the Long Walk

Selain istana yang menjadi daya tarik, tempat wisata yang kami kunjungi lainnya adalah Legoland Windsor. Di tempat ini Athar sangat dimanjakan dengan permainan-permainan yang menarik. Kami mengikuti program Merlin Pass dengan membayar sekitar £70 di masa promosi untuk keanggotaan satu tahun. Merlin Pass ini bisa digunakan untuk menikmati beberapa tempat wisata yang tersebar di UK. Selain Legoland Windsor, ada juga Thorpe Park, Maddame Tussauds, SeaLife Aquarium, London Eye, Alton Towers, dan masih banyak lagi. Thorpe Park sebenarnya berada relatif dekat dari Egham (https://www.thorpepark.com/) wahananya seperti DUFAN dengan beberapa wahana yang cukup ekstrim walaupun masih tetap dapat dinikmati oleh seluruh keluarga. Namun sayang, kami belum sempat mengunjunginya karena hampir semua wahana mengharuskan tinggi minimum 1 meter sedangkan tinggi Athar belum mencukupi.

Ada satu tempat favorit Athar yang cukup sering kami kunjungi, yaitu National History Museum. Tempat ini menjadi favorit Athar karena banyak terdapat fosil-fosil dinosaurus dan binatang lainnya. Lokasi lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Tower Bridge, London Bridge, dan Hampton Court Palace. Kami juga sempat mengunjungi daerah lain seperti Leicester, Welwyn Garden City, Guildford, Oxford karena bertepatan dengan lokasi kursus kedokteran gigi yang saya ambil. Tak jauh dari Oxford ada kota kecil bernama Bicester Village (http://www.bicestervillage.com/), tempat berburu barang-barang branded yang sedikit outdated dengan harga yang relatif murah dibandingkan dengan di outlet resmi mereka. Tempat ini selalu penuh dan tak jarang kita dapat bertemu dengan sesama perantau dari Indonesia. Bahkan saking banyaknya pengunjung dari luar negeri, sampai-sampai disediakan musala dan tempat beribadah lainnya di sana.

HELLO INDONESIA, PEMILU DAN PERAYAAN KEMERDEKAAN

Hello Indonesia adalah acara tahunan yang digagas oleh penggiat turisme di Indonesia sebagai ajang promosi mengenai Indonesia di UK. Acaranya diadakan di Trafalgar Square pada salah satu weekend di bulan Mei atau Juni. Untuk kami yang kangen Indonesia, acara ini menjadi kegiatan temu kangen warga Indonesia dan menjadi ajang jajan kuliner nusantara.

Selain Hello Indonesia, perayaan hari kemerdekaan Indonesia di UK juga menjadi salah satu ajang silaturahmi dengan sesama saudara sebangsa setanah air. Perayaan hari kemerdekaan di UK juga tak kalah meriah jika dibandingan dengan di Indonesia. Hanya saja, acara seperti ini lebih mempunyai nilai tambah untuk kami yang tinggal di luar negeri. Di acara ini kami bertemu banyak teman dan calon teman yang dalam keseharian agak susah bertemu karena perbedaan jadwal kesibukan, jarak, dan lain sebagainya. Bahkan di satu kesempatan, saya dan suami bertemu dengan kawan semasa SMA yang di Indonesia saja, walaupun kami tinggal di pulau yang sama, tidak pernah bertemu semenjak kami lulus SMA.

Lain halnya dengan pemilu. Mengikuti proses Pemilu 2014 di UK menjadi pengalaman unik kami selama tinggal disini. Pemungutan suaranya diadakan di kantor kedutaan besar Indonesia di London. Bagi penduduk yang tinggal di area sekitar London, dapat langsung mengikuti Pemilu pada harinya. Namun bagi masyarakat Indonesia yang tinggal jauh dari London, disediakan mekanisme memilih melaui amplop surat yang dikirimkan beberapa waktu sebelum pemilu sehingga dapat dihitung bersamaan dengan hasil pemungutan suara langsung.

Foto 39a. Suasana pemilu langsung di KBRI LOndon

Suasana pemilu

HALQAH, FAMILY IFTAR DAN LEBARAN DI EGHAM

Sebagai seorang muslim, pikiran saya ketika datang pertama kali ke UK dipenuhi dengan bagaimana pelaksanaan ibadah dan bagaimana mencari bahan makanan halal. Tetapi ternyata kekhawatiran saya agak berlebihan. Di UK, setidaknya di Egham, walaupun menganut sistem sekuler tetapi masyarakatnya menghargai perbedaan, apalagi masalah kepercayaan pribadi. Kami dapat dengan mudah mengakses tempat untuk beribadah. Bahkan di Royal Holloway,  disediakan ruang baru untuk komunitas muslim di Egham dan sekitarnya untuk melaksanakan salat jumat dan acara-acara keagamaan lainnya seperti salat Ied ataupun acara silaturahmi antara sesama muslim. Ada juga pengajian rutin (halqah) yang diadakan di Windsor setiap minggunya yang pesertanya berasal dari dari beragam latar belakang etnis dan budaya.

Bahan makanan halal juga relatif mudah ditemukan. Biasanya kami pergi ke Slough dan Hounslow. Untuk pilihan restoran atau toko yang menyediakan bahan halal bisa melihat website http://www.halalhmc.org/. Kalau sekiranya malas jalan-jalan, memesan bahan makanan halal online melalui beberapa website juga dapat dilakukan. Bahkan, toko-toko kelontong besar seperti TESCO, ASDA dan SAINSBURY’S sudah banyak menyediakan opsi daging halal di websitenya.

Foto 41a.Mushola di RHUL

Mushola di RHUL

Foto 42 Suasana family iftar di RHUL, anak-anak berlarian tak terkendali

Suasana family iftar di RHUL

Kehidupan singkat kami di Egham memberikan segudang pengalaman untuk kami. Semua pasti setuju, belajar memang tidak pernah ada matinya, tentunya akan dilakukan terus menerus sepanjang hayat. Ya, kehidupan saya berubah drastis di Egham. Saya mulai belajar berumahtangga secara mandiri, mulai belajar masak, memahami cara mendidik anak, bahkan belajar mengenai ragam kehidupan. Sungguh berbeda ketika di Indonesia, saya lebih banyak disibukan oleh pekerjaan kantor, sedangkan di sini saya mulai belajar memaknai kehidupan yang sebenarnya, dan semoga saja ketika kembali nanti saya dapat menata hidup dengan lebih baik lagi.

Saya dan Athar harus kembali ke Indonesia lebih awal dikarenakan izin belajar saya sudah habis dan sudah harus kembali bekerja. Semoga suami saya bisa cepat menyusul pulang dan kemudian merencakan perantauan kami berikutnya.

—–

Sebagian foto pada laman ini terhubung dengan image asli gambar, dan selebihnya adalah karya Veni dan keluarga.

This article is edited by Mamarantau Content Editor and Contributor: Ajeng Ika Nugraheni, a mamarantau based in Singapore.

Merantau di Le Barcares

csOntel – I am a housewife and mother who love outdoor activities. I am actually a serious one but people said that I smile and laugh a lot. I love  british accent, watching football and I am a biggest fan of Manchester United FC.

 

Saya tinggal di Perancis setelah menikah dengan Monsieur yang berkebangsaan Perancis pada tahun 2011. Satu tahun setelah menikah, saya melahirkan petit monsieur, dan sekarang kami tinggal di sebuah kota di tepi pantai Mediterania bernama Le Barcares.

Merantau di Le Barcares

Saat ini saya tinggal di kota tepi pantai Mediterania bernama Le Barcares. Karena letaknya yang di selatan Perancis, kota saya ini selalu memiliki suhu yang lumayan hangat sepanjang tahun. Jadi jangan berharap ada salju tebal yang turun di kota ini di musim dingin, hujan saja jarang sekali, yang ada itu ya angin kencang.

1802178_barcares

Le Barcarès is a commune in the Pyrénées-Orientales department in southern France bordering the Mediterranean Sea

Hal-hal yang menarik untuk dikunjungi di kota Barcares

Pantai

Kalau musim panas, jangan ditanya ramainya. Pantai dan jalanan penuh sama para turis yang datang dari berbagai negara. Nah, biasanya kalau musim panas untuk para turisnya, pantai Barcares menyewakan fasilitas olah raga air seperti yacht, jet ski, dsb. Dan untuk yang suka party, hampir setiap weekend akan ada DJs yang siap untuk menemani para turis menghabiskan malam. Di daerah sekitaran pantai Grande Plage, terdapat salah satu perahu besar bernama Le Lydia yang menjadi salah satu kantor turisme di kota Barcares ini. Di sekitaran Lydia ini terdapat pedestrian yang cukup nyaman dan bersih, yang menarik kita juga dapat melihat instalasi artistik yang berada di sepanjang jalan.

beach4 (1)

Pelabuhan

Kalau untuk saya pribadi, tempat yang jadi favoritnya saya di kota Barcares ini itu adalah pelabuhannya. Enggak tahu kenapa, tapi saya suka banget bersepeda ke tempat ini, melihat para nelayan yang sedang mempersiapkan jala,  mencium aroma laut, mengagumi rumah singgah nelayan yang berwarna-warni, dan menikmati senja di antara perahu nelayan. Buat saya pribadi hal-hal seperti itu yang menjadi data tarik pelabuhan Barcares ini.

IMG_0725 (1)

fishermen house (1)

Le village magique de Noel

Walaupun Barcares ini ramainya di musim panas, bukan berarti tidak ada hal menarik yang layak dikunjungi di musim dingin. Objek turisme musim dingin yang harus dikunjungi di Barcares adalah Le Village Magique de Noel. Desa yang penut dennen ‘keajaiban’ ini judah ada sejak tahun 1999. Ini adalah desa buatan yang didekorasi sedemikian rupa sehingga menciptakan kesan bahwa kita sedang berada di sebuah negeri dongeng yang penuh dengan keajaiban. Inti dekorasi kota ‘ajaib’ yang selalu sama setiap tahunnya adalah pepohonan yang dipenuhi dengan butiran salju (buatan tentunya). Kemudian dekorasi tambahan lainnya adalah lampu-lampu hias dalam berbagai bentuk, yang selalu berganti setiap tahunnya.

IMG_0270 (1).jpg

skatingatvillagemagique

Pines Forest

Hutan pinus di Barcares ini menjadi tempat refreshing yang sangat alami dan sepi. Hutannya sendiri memang tidak terlalu luas, tetapi setiap kali kami berkunjung tidak terlihat banyak orang di sana. Selain itu, tempat ini juga memiliki peralatan olahraga ala-ala militer yang terbuat dari gelondongan kayu.

pines tree

Tahapan Awal masuk ke Perancis

Visa Long Sejour

Pada saat saya sedang menunggu proses izin dari Kedutaan Perancis di Jakarta untuk menikah dengan Monsieur,  kami pikir dapat sekaligus melakukan permohonan agar saya dapat segera mendapatkan visa ke Perancis, maksudnya sih supaya setelah proses pernikahan tidak usah repot-repot lagi mengurus visa. Tetapi ternyata untuk warga negara Indonesia yang menikah dengan warga negara Perancis di Indonesia, permohonan visa tersebut baru bisa diajukan setelah menerima livret de familie. Visa yang saya dapatkan adalah visa long sejour dengan status sebagai conjoint français, yang memperbolehkan saya untuk bekerja di Perancis. Bersamaan dengan visa tersebut dari pihak kedutaan memberikan formulir yang harus saya isi dan kirim ke l’Office français de l’immigration et de l’intégration (OFII):

  1. Setelah itu saya menghadiri pertemuan di kantor OFII, pertemuan ini sangat penting karena di sini saya diwajibkan untuk menandatangani kontrak integritas, sebelum mendapatkan stiker yang nantinya akan berguna untuk memperoleh titre de sejour.
  2. Mereka juga mewajibkan saya untuk menghadiri empat pertemuan yang diperuntukan bagi para imigran. Di mana di setiap pertemuan tersebut akan diberikan sertifikat yang berguna untuk mendapatkan titre de sejour di tahun-tahun berikutnya.
  3. Pihak dari OFII juga akan menanyakan kemampuan berbahasa Perancis kita. Kalau dianggap belum cukup maka mereka akan menawarkan kursus bahasa Perancis gratis. Karena waktu itu saya sudah mempunyai sertifikat DELF A1, maka saya tidak mengambil kursus tersebut.
  4. Lalu setelah itu mereka akan mempertanyakan latar belakang pendidikan kita, nanti mereka akan memberikan kesempatan untuk kita diwawancara di agen pencari kerja untuk diwawancara, agar kita bisa mendapatkan pekerjaan.

Visa long sejour ini hanya berlaku selama satu tahun saja. Karena bentuknya merupakan stiker yang ditempel di paspor, maka selama tahun pertama tinggal di Perancis, supaya lebih aman kalau keluar rumah agak jauh saya selalu membawa paspor.

Titre de séjour

Setelah mengantongi ijin tinggal di Perancis dengan visa de sejour, di tahun kedua saya harus memperbaharui ijin tinggal saya dengan titre de sejour. Tidak seperti visa long sejour yang hanya berupa stiker di paspor, titre de sejour ini saya anggap sebagai sebuah kartu identitas, jadilah setelah mendapatkan kartu ini saya tidak perlu membawa paspor lagi kecuali kalau mau keluar Perancis. Untuk mendapatkan kartu ini, syarat yang paling utama untuk pasangan yang menikah dengan orang Perancis adalah tidak bercerai. Setelah itu tentu saya harus melengkapi beberapa berkas yang dibutuhkan dan dikirimkan ke le prefecture. Sama seperti visa de sejour, kartu ini masa berlakunya adalah satu tahun, dan setiap kali melakukan pembaharuan, kartu yang lama harus dikembalikan.

Carte de resident

Saat ini saya telah mendapatkan kartu tanda penduduknya Perancis yang berlaku selama sepuluh tahun. Kartu ini saya dapatkan setelah tiga tahun tinggal di Perancis. Berdasarkan pengalaman saya, untuk mendapatkan kartu ini memang persyaratannya minimal tiga tahun tinggal di Perancis, tetapi teman saya yang lain baru mengajukan kartu penduduk ini setelah tahun ke-empat tinggal di Perancis. Pada saat saya mengajukan pembaharuan titre de sejour, pegawai dari pihak prefektur menawarkan saya untuk membuat kartu penduduk 10 tahun ini. Karena saya sudah tiga tahun tinggal di Perancis, dan bahasa Perancis saya dianggap sudah cukup bagus, beliau mengatakan (jika saya setuju), bisa langsung buat janji untuk diwawancara. Pada waktu itu, dengan ragu-ragu, saya langsung mengiyakan, karena saya pikir tidak ada salahnya dicoba, kalau berhasil lumayan tidak usah bolak-balik setiap tahun ke prefektur untuk memperbaharui kartu. Lagi pula masih bisa buat janji dulu, jadi masih bisa mempersiapkan diri untuk diwawancara di hari lain. Akhirnya saya iya-kan penawaran dari pegawai prefektur tersebut. Setelah saya mengiyakan, pegawai tersebut langsung menelepon pegawai prefektur lainnya untuk menanyakan jadwal wawancara. Tetapi.. ternyata lima menit kemudian saya diwawancara! Tanpa ada persiapan sama sekali, saya pun menjalankan wawancara.

Setelah itu pihak prefektur mengirimkan beberapa pertanyaan ke la maire (balai kota) di tempat saya tinggal, yang gunanya untuk mengetahui keaktifan saya di sini. Setelah itu saya melakukan wawancara dengan pihak balaik kota. Dari sini dapat diketahui apakah kita sebagai imigran dapat berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat sekitar. Terutama juga (ini yang paling penting menurut saya) untuk mengetahui tingkat kemampuan berbahasa Perancis kita. Setelah wawancara dengan pihak balai kota selesai, mereka akan memberikan pendapat mereka mengenai pantas atau tidak pantasnya saya untuk mendapatkan kartu residen. Setelah itu saya harus menunggu dua minggu, sebelum akhirnya mendapatkan surat untuk mengambil kartu residen saya di prefektur.

Ohya! Perlu diingat, untuk memperbaharui visa tersebut harus dilakukan 3 bulan sebelum masa berlakunya habis. Periksa kelengkapan berkas sebelum ke prefektur, karena ada beberapa prefektur yang menolak menerima berkas kalau tidak lengkap. Jadi daripada bolak-balik, lebih baik dilengkapinya terlebih dulu berkas-berkas yang dibutuhkan.

Berkendara di Perancis

Untuk di kota-kota besar seperti Paris, Bordeaux, Marseille, dan sebagainya, pada umumnya sudah memiliki sarana transportasi umum yang cukup memadai, seperti misalnya kereta cepat TGV, bis, ataupun tramway. Sehingga tidak menjadi masalah bagi warganya untuk berpindah tempat tanpa harus memiliki kendaraan pribadi. Hal ini berbeda dengan mereka yang tinggal di kota kecil seperti saya. Karena jadwal bus yang tidak selalu ada setiap waktu, para warga di kota kecil selalu mengandalkan kendaraan pribadi untuk berpindah tempat. Nah, untuk itu saya tertarik untuk memberikan informasi (sedikit) tentang apa-apa yang harus diketahui kalau mau berkendaraan di Perancis.

Sistem Izin Mengemudi dengan poin

Setiap pengemudi di Perancis punya jumlah maksimum dua belas poin. Berkendara di Perancis itu bantak jebakan mautnya, kalau misalnya kena tilang karena tidak pakai sabuk pengaman atau sedang menelepon, poinnya berkurang tiga poin. Misalnya kena radar, berkurang satu poin. Jadinya kalau tidak hati-hati sekali, poin SIM ini cepat sekali habisnya. Nah, kalau yang jumlah poinnya sudah menipis (untuk mengemudi diharuskan memiliki minimum poin yaitu empat poin), para pengemudi diwajibkan mengikuti stage recuperation (semacam kursus rekuperasi poin), supaya bisa mendapatkan poin mereka kembali. Kalau misalnya mereka tidak mengikuti kursus ini mereka terancam didenda dan pembekuan SIM telama tiga tahun.

Kursus rekuperasi poin ini berbayar, sistemnya hampir sama seperti kalau mau mendapatkan SIM baru – musti tes tentang kode jalan, dan latihan menyetir lagi. Kadang-kadang para pengendaranya malas, jadi banyak juga yang membiarkan SIM mereka hilang, dan mengganti mobil mereka dengan mobil yang bisa dikendarai tanpa SIM.

Setiap kendaraan wajib memiliki asuransi

Di Perancis ini asuransi mobil itu wajib hukumnya. Bisa saja sih berkendaraan tanpa asuransi, tapi kalau nanti ada pemeriksaan dan ternyata kendaraan kita gak punya asuransi bisa terkena denda. Selain itu, dari pengalaman saya hari ini, punya asuransi itu bisa bikin kita tenang kalau misalnya (sambil ketok meja) terjadi kecelakaan. Tidak perlu marah-marah sama yang nabrak, yang perlu cuma tinggal minta dan isi (oleh kedua pihak) kertas Constat Europeen d’Accident untuk ditujukan ke asuransi, dan selanjutnya biarkan mereka yang bekerja untuk mengganti kerusakan kendaraan kita. Asuransi ini tidak hanya berlaku untuk kendaraan yang rusak saja, tetapi juga untuk korban yang terluka akan dibayarkan pengobatannya. Kalau misalnya kalian mau menyewa mobil, pihak penyewa biasanya akan menawarkan asuransi. Kalau menurut saya lebih baik diambil saja, tidak apa-apa bayar sedikit lebih mahal yang penting jadi lebih aman.

Jika terjadi kecelakaan polisi akan datang ke tempat kejadian hanya jika ada korban

Kalau misalnya sudah terjadi kecelakaan, tidak udah buru-buru panik dan telepon polisi. Di sini polisi akan datang kalau sampai ada korban. Beda banget sama di Indonesia yang kalau ada kecelakaan Pak polisi pasti langsung nyamperin kita dong buat nanya-nanya kejadian, atau jadi mediator kalau misalnya pihak yang nabrak dan ditabrak saling ngotot. Kalau di Perancis mah boro-boro. Pernah ya waktu pas kami kecelakaan karena ada mobil yang menabrak mobil kami. Di tengah jalan ada pak polisi melihat kami dan mobil kami yang ringsek, tetapi dia gak ngapa-ngapain cuma jalan aja terus gitu, tidak tertarik sama sekali untuk mengetahui kronologis kejadian. Mertua saya juga waktu itu sempat menelepon ke kantor polisi, terus beliau ditanya apakah ada korban yang terluka atau tidak?. Pas mertua saya jawab tidak ada, mereka malah menyuruh kami untuk menyelesaikan sendiri. Katanya mereka bisa datang ke tempat kejadian kecelakaan cuma kalau ada korban saja. Makanya, kalau misalnya (sambil ngetok kayu) sampai ada kecelakaan tetapi tidak ada koran lebih baik diselesaikan sendiri saja.

Awas radar

Iya radar ini digunakan untuk mengatur batas maksimum kecepatan. Biasanya sih radar ini ditempatkan di jalan-jalan besar yang padat lalu lintasnya. Tidak jarang juga dari pihak gendarmerie turun tangan langsung untuk meneropong kecepatan kendaraan di tempat yang tidak terduga. Ada juga radar mobile. Radar ini ada di dalam mobil yang dikendarai polisi atau gendarmerie yang tidak berseragam. Tapi mobil yang dikendarai ini mobil biasa, bukan mobil polisi atau gendarmerie. Jadi mereka menyamar gitu. Sebenarnya ini kadang-kadang dianggap menjebak para pengendara. Karena saking banyaknya radar, ada sekelompok pengendara yang membuat grup antiradar, karena mereka menganggap radar sepertinya disalahfungsikan oleh pemerintah. Tidak jarang banyak juga yang menutup kamera radar dengan cat atau plastik, supaya mereka tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Setuju atau tidak setuju sama radar ya namanya juga berkendara, jadi harus taat dengan batas kecepatan maksimum yang dianjurkan.

wheels-france-camera-blog480

Kalau kita sampai melewati batas kecepatan, radar akan memfoto nomor kendaraan kita dan surat dendanya akan dikirimkan beberapa hari kemudian ke alamat rumah kita. Tapi bisa juga kalau lagi apes ya langsung dijegat sama polisi atau gendarmerie. Jadi kalau gak mau didenda ya musti hati-hati.

Tidak usah umbar klakson

Kalau berkendaraan di Jakarta (apalagi kalau sedang macet) orang senang banget mengklakson mobil. Kalau di Perancis klakson dipakai untuk mengingatkan pengemudi yang nyetirnya tidak benar dan bisa bikin bahaya pengendara lainnya. Jadi kalau misalnya kalian sedang berkendara di jalanan Perancis dan dapat klakson, itu artinya kalian nyaris membahayakan pengendara lain. Klaksonnya cuma sekali aja kok, enggak berkali-kali. Jadi tidak udah panik atau kesal yaa.

Untuk sementara saya baru bisa berbagi segitu saja tentang info berkendaraan di Perancis. Nanti kalau saya sudah tahu lebih banyak lagi akan saya tambahkan, hehe. Tapi sebenarnya sih mau di mana pun juga kalau mau berkendara ya musti hati-hati. Tidak usah pakai emosi kalau misalnya ada kendaraan yang bikin kesal ya diklakson aja.

Sampai cerita selanjutnya dari saya..!


xxxx

Ontel bisa dihubungi via http://www.halobonjour.com

halobonjour@outlook.fr

Instagram: @halobonjour

Merantau di Kerpen

Processed with VSCOcam with f2 presetBeth Agustina, wanita kelahiran Agustus 1977 yang tidak bisa berenang meskipun lahir dan tinggal di kota yang terkenal dengan pantai-pantainya, Pacitan, hingga usia 16 tahun. Menetap di Kerpen Jerman sejak tahun 2007. Bekerja sebagai fotografer yang  saat ini sedang menikmati masa-masa tiga tahun parental leave yang akan segera berakhir dua bulan mendatang.

Continue reading

Merantau di Bad Aibiling

HikingA stubborn Taurean yang lahir 40 tahun silam di Jakarta. Seorang istri dari suami yang jangkung bernama Sven dan seorang ibu dari seorang putri kecil bernama Medea Kedasih (4 tahun). Saat ini sedang bersekolah kembali untuk nantinya bisa berkerja dengan anak-anak. Co-Author buku 3 Wanita Menjejak Dunia dan Menghirup Dunia. Salah satu kontributor resep di buku 99+ Resep Rumahan Cihuy, sebuah buku komunitas Mama Koki Handal. Suka membaca, membuat DIY dan belajar masak, juga fotography secara autodidak.

Pengalaman Merantau

Saya meninggalkan kampung halaman pertama kali itu di tahun 1994, sewaktu masih kuliah Bahasa Cina di Program D3 FSUI. Ga jauh sih, hanya ke Bali dan bekerja di Club Med, Nusa Dua. Bekerja menjadi GO (Gentil Organisateur) di Kids Club. Enjoy banget masa-masa bekerja dengan anak-anak. Kembali lagi ke Jakarta dan bekerja di bidang perhotelan. Lalu kepikiran untuk sekolah kembali di bulan Maret tahun 2000 dan tinggal di Berlin untuk mendampingi suami yang waktu itu bekerja menjadi guru high school. Di ibukota Jerman itu saya memulai semuanya dari nol. Mulai dari belajar Bahasa Jerman sampai akhirnya mencari pekerjaan. Kursus Bahasa Jerman di Berlitz School yang intensif – setiap hari dari jam 8 sampai jam 15 –  membuat saya mendapat teman baru dengan beragam kebudayaan dan asal negara. Ada yang dari Mongolia, Taiwan, Spanyol, dan juga Rusia. Dalam kurun waktu dua bulan, saya mulai bisa berkomunikasi dengan bahasa Jerman cukup lancar. Bahasa Inggris dengan suami juga akhirnya tergantikan dengan bahasa Jerman. Hasil ujian bahasa Jerman juga tidak memalukan :d Setelah itu saya disibukkan dengan mencari kerja. Sebagai batu loncatan, saya bekerja sebagai Barista di sebuah coffee shop terkenal di Berlin. Di mana akhirnya saya diangkat menjadi manager salah satu cabang.

Di tahun 2002 saya memutuskan untuk kembali ke sekolah. Awalnya saya mau kuliah, namun karena ijazah SMA dari Indonesia diakui hanya sebagai lulusan Mittlere Reife (secondary level certificate), jadi saya harus mengikuti Studienkolleg, sebuah program yang fungsinya sebagai “jembatan“ untuk mendapatkan level yang sama dengan sistem pendidikan di Jerman. Akhirnya saya memutuskan untuk sekolah jurusan Correspondent of Foreign Language karena ijazah SMA saya bisa langsung dipakai.

Pada tahun 2004 – 2010 pindah ke Caracas, Venezuela karena suami ditugaskan menjadi guru di Colegio Humboldt. Sebuah sekolah untuk warga Jerman di Caracas, tapi juga untuk warga setempat. Di sana saya belajar bahasa Spanyol dan juga memutuskan untuk mengikuti ujian Bahasa Jerman untuk mendapatkan diploma bahasa Jerman. Program dari Goethe Institut di Munich itu berhasil saya ikuti, sehingga bisa mengajar bahasa Jerman di Goethe Institut, Caracas. Selain itu saya juga memberikan les tambahan bahasa Jerman untuk murid-murid Venezuela di Colegio Humboldt.

20150606173551-1200x674

Favelas of Petare neighborhood. Caracas, Venezuela

Di sini saya juga berkenalan dengan dua orang Indonesia yang akhirnya menjadi sahabat dekat. Kita seringnya berkumpul, masak dan baking bersama sambil curhat dan ketawa-ketiwi. Saling membantu di saat down dan saling menyemangati. Mereka jugalah yang menyemangati saya sewaktu program IVF (In Vitro Fertilization/ Bayi tabung) yang belum berhasil. Beruntung ada mereka, jadi saya punya shoulders to cry on. Kita bertiga layaknya udah seperti keluarga deh. Baru kenal dan langsung terasa sehati dan dekat.

2010 masa tugas suami selesai dan keadaan keamanan di Caracas yang tidak pasti, kita memutuskan untuk kembali ke Jerman. Tepatnya ke Bavaria, asalnya suami. Pucuk dicinta, ulam tiba. Suami mendapatkan tawaran kerja di sebuah sekolah. Oleh karena itu kita memutuskan untuk tinggal di Bad Aibling karena kotanya tidak terlalu besar, namun mempunyai infrastruktur yang OK. Setelah kembali ke Jerman, saya mencari kerja dan memulai kembali sebagai Barista.

Namun kamipun mendapatkan rejeki yang tak dikira. Setelah divonis tidak bisa hamil secara normal, dan sudah berkali-kali mengikuti program bayi tabung di Caracas, akhirnya saya hamil, normal mal mal.

6350186986_74d5b522ce_z

Medea Kedasih lahir dengan sehat 12 Januari 2012. Saya berhenti bekerja dan menikmati banget jadi SAHM selama 3 tahun. Kenikmatan yang luxury banget!

6942058398_71001ef004_h

Pengalaman Merantau di Dunia Benua

Jika ditanya perbedaanya, yang jelas bedanya sangat terasa. Kalau di Jerman, rasanya susah untuk mendapatkan teman baik. Tapi kalau sudah kenal, mereka jadi teman baik yang asik. Nah kalau di Venezuela, rasanya gampang banget dapet teman tapi kenyataannya mereka membangun barrier. Walaupun tak terucap, kita berasa.

Kenyamanan tinggal di Caracas adalah cuaca tropisnya. Letak Caracas adalah 1000m d.p.l bikin cuaca selalu sekitar 25 derajat Celsius. Asik banget! Kalau di Jerman seringnya jalan kaki dan naik kendaraan umum, di Venezuela selalu naik mobil atau taksi. Tapi naik taksi pun masih harus berhati-hati. Tidak disarankan untuk menyetop taksi di pinggir jalan, karena banyak kejadian penculikan dan perampokan. Jadi pesan taksi lewat telfon, atau naik taksi tercatat dari mall. Makanya ngerasa bebas merdeka banget waktu kembali ke Jerman karena ga ada rasa takut.

Metrocable di kota Medellin - Kolombia

Metrocable di kota Medellin – Kolombia

Soal tepat waktu di Venezuela itu ngingetin aku sama Indonesia :d Jam karet berlaku deh di sana. Kata “besok“ di Indonesia mirip banget fungsinya dengan “mañana“ di sana. Kebetulan artinya bahasa Spanyol ini adalah “besok“.

Dari pengalaman merantau di Venezuela, suka dan dukanya, malah tetap membuat kami berpikir untuk merantau lagi sambil mengajak Medea mengenal negara baru dengan tradisi, bahasa dan culture-nya. Tapi sementara itu, kita nikmatin dulu tinggal di Jerman.

Bad aibling dan State Bavaria

Bad Aibling letaknya di lembah sungai Mangfall dan luasnya sekitar 42km². Terkenal dengan swamp health spa. Enaknya semua ada, dari perpustakaan umum, beberapa TK, daycare, beberapa supermarket, drug store, thermal, beberapa toko buku, apotik, dokter, Rumah Sakit, taman, sampai bioskop, cafe/restoran, gelateria dan pub.

47932028

Ke mana-mana bisa naik sepeda dan jalan kaki. Ada kereta api juga untuk ke kota-kota berikutnya. Sejak tahun ini, malah ada kereta langsung ke Munich. Ke sekolah, saya memilih naik kereta karena hanya 3 stasiun dan dalam 10 menit sudah sampe di kota Rosenheim, lokasi sekolah saya. Dari Rosenheim ada kereta langsung ke Salzburg, Austria.

rosenheim_bild19_600px

Rosenheim

Dari Bad Aibling, kita bisa pergi ke banyak tujuan. Pokoknya kami tuh tinggal di tempat di mana orang-orang ingin berlibur. Jadi kebayang kan banyaknya tempat tujuan yang asik untuk dikunjungi? Entah itu untuk hiking, bike tour, untuk ke outdoor Alpine Zoo, untuk menikmati Chiemsee, danau terbesar kedua di Bavaria ataupun plesir ke kota Innsbruck di Austria.

Karena Bad Aibling adalah spa town, jadi banyak sekali klinik-klinik. Banyak pasien klinik yang berasal dari negara Saudi Arabia, oleh karena itu banyak juga hotel. Karena letaknya sekitar 40km dari ibukota Bavaria, jadinya harga tanah dan rumah cukup tinggi. Banyak penduduk yang bekerja di Munich, namun karena harga sewa rumah di sana amat sangat tinggi, jadi mereka memilih untuk tinggal di pinggiran. Salah satunya adalah Bad Aibling.

Nah tapi namanya juga manusia, pasti ada yang kurang nih dari kota tempat tinggal kami. Yang kurang adalah… playground! Ada empat sih, tapi sudah tidak up-to-date. Ada yang baru dan tidak directly in the town. Enaknya masih bisa cycling distance sih, jadi anggap aja sekalian olah raga.

bike tour di kota Eigen am Inn%2C perbatasan Jerman Selatan dan Austria

Sementara mengenai Bavaria: adalah salah satu state di Jerman yang paling kaya. Nyaris tidak ada tingkat pengangguran. Karena itu banyak sekali pendatang dari daerah mantan Jerman Timur untuk menetap di Bavaria karena masih ada lahan pekerjaan. Banyak penduduk state lain di Jerman yang bilang kalau penduduk Bavaria itu sombong, tapi sebetulnya tidak. Mereka terlihat kaku tapi sebetulnya sangat ramah dan easy going. Sistem sekolah di Bavaria juga paling tinggi dibanding dengan state lain di Jerman.

Koenigssee dan St. Bartholomae di Bavaria

Koenigssee dan St. Bartholomae di Bavaria

Oiya, kalau kita bicara soal a picture about Germany, pasti yang dibayangkan itu adalah  Dirndl (pakaian tradisional wanita di Bavaria), Lederhose (pakaian tradisional pria di Bavaria), Breze (Pretzel) dan Sauerkraut, ini sebetulnya bukan Jerman tapi Bavaria.

Maibaum tradisi 1 mai

Enter a caption

Bahasa Pengantar

Bahasa sehari-hari antara penduduk setempat adalah bahasa Jerman dialek. Di Bavaria sendiri ada beragam dialek, tergantung dari daerahnya di Bavaria. Bahasa Inggris kadang terdengar di Munich, mungkin karena Munich adalah ibukota Bavaria dan di sana juga banyak expatriats. Namun hal ini tidak umum di kota-kota kecil lain, seperti juga di Bad Aibling, jadi bahasa pengantar sehari-hari adalah bahasa Jerman. Awalnya saya sempat ragu apakah bisa mengerti dialek Jerman di daerah kami tinggal. Namun ternyata itupun bukan kendala untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal, dengan orang tua murid di TK saya bekerja, maupun di sekolah saya menimba ilmu. Mereka tidak meminta kita berbicara perfect, namun akan menghargai usaha kita sebagai pendatang.

Medea as a knight on Medieval Knight Festival di Bavaria

Medea as a knight in Medieval Knight Festival di Bavaria

Penduduk di Bad Aibling atau Upper Bavaria

Seperti yang saya sudah tulis di atas, penduduk Upper Bavaria dicap sebagai orang yang sombong. Namun hal ini tidak bisa saya setujui karena pengalaman pribadi saya berbicara lain. Mereka, seperti layaknya penduduk Jerman, terlihat kaku awalnya. Namun sebetulnya mereka itu friendly, easy-going, dan mempunyai humor yang tinggi. Tradisi juga sangat dijunjung tinggi dan belum punar dari modernisasi kehidupan. Karena sistim perekonomian yang sangat baik, jadi terlihat sekali kalau penduduknya mapan. Sisi kemanusiaan juga terlihat di masa ini, dengan banyaknya refugees yang datang ke Jerman. Kebanyakkan dari mereka datang melalui Bavaria. Sudah banyak camp untuk refugee dibangun oleh pemerintah Bavaria, juga di Bad Aibling.

2016-02-17-064033_1600x900_scrot

Linderhof Palace or Schloss Linderhof in German is a palace built by King Ludwig II and located in Ettal valley, Upper Bavaria.

Kegiatan Outdoor

Karena tidak terlalu jauh dari Pegunungan Alpina, jadi kita seneng hiking. Pastinya toddler-friendly-hiking. Selain itu juga bersepeda. Kita pernah beberapa kali bike tour. Yang terjauh itu dengan jarak 60km. It was a round trip dari Bad Aibling ke kota-kota tetangga dan return. Abis itu sempet ngomelin Pak Jangkung (suami) karena kaki jadi pegel kaya mau patah. Medea cukup menikmati setiap kali bike tour. Kalau hiking, dia masih suka malas jalan. Maka dari itu, kami buat se-fun mungkin dan selalu motivasi dia untuk terus jalan. Entah dengan main petak umpet, ngumpulin ranting, pokoknya segala usaha deh supaya sama-sama asik menikmati kegiatan.

playground momen

Tradisi Bavaria

Ada banyak tradisi di Bavaria dan seringnya berkaitan dengan agama Katolik sebagai agama mayoritas di Bavaria. Fasching yang dirayakan tujuh minggu sebelum masa puasa dimulai. Masa pra-Paskah ditandai dengan puasa untuk menyambut Paskah dan dimulai saat Rabu Abu. Acara Fasching yang berlangsung beberapa hari ini selain di Bavaria, juga di negara bagian Jerman yang beragama Katolik, dan disebut dengan Karnaval. Masa di mana orang-orang berpesta, ada arak-arakan atau parade dan mayoritas berkostum. Kata karnaval sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu Carne vale yang artinya meat farewell. Selama masa puasa, umat Katolik diajak untuk mengurangi konsumsi daging.

Left: Leberkase is a specialty food found in the south of Germany, in Austria and parts of Switzerland, similar to bologna sausage. It consists of corned beef, pork, bacon and onions and is made by grinding the ingredients very finely and then baking it as a loaf in a bread pan until it has a crunchy brown crust.) and right: Wurstsalat (German sausage salad)

Di Bavaria ada tradisi Maibaum, May tree, Maypole. Sebuah tiang dari satu batang pohon yang tingginya bisa mencapai 56meter. Pohon ini dicet biru dan putih, warna bendera Bavaria. Lalu dihias dengan berbagai figure sesuai tradisi tiap kota/daerah; misalnya baker, tukang kayu, petani, etc. Tradisi ini jatuh tepat pada tanggal 1 Mei setiap tahunnya. Dan seringnya dipakai juga sebagai pesta rakyat. Ada tarian tradisional, ada musik khas Bavaria dan tentu saja makanan, seperti Wurst (sausages), Semmel (bun) dan Breze (pretzel). Oiya tradisi ini setiap tahunnya mengambil tempat di kota yang berbeda. Misalnya tahun 2013 ada di Bad Aibling, dan  tahun mendatang baru akan diganti dengan Maibaum yang baru.

Maibaum

In Germany and Austria the maypole (or Maibaum) is a tradition going back to the 16th century

Sebuah tradisi yang sangat ditunggu oleh anak-anak kecil adalah perayaan Sankt Martin atau disebut juga Martinstag (Martin Day) yaitu setiap 11 November. Anak-anak di daycare, playgroup dan TK bersama dengan staf pengajar, bahkan ada yang melibatkan orang tua juga, akan membuat lantern kertas dan nantinya akan dibawa saat Martinsumzug, St. Martin’s parade. Ada yang berkumpul di kebun TK masing-masing. Namun Tknya Medea merayakan parade ini di taman. Saya dan Medea berkumpul dengan teman TK dan keluargnya, berjalan mengelilingi taman sambil bernyanyi beberapa lagu khas St. Martin. Udara yang dingin terasa hangat dengan  ada juga yang berkumpul di taman kota. hasil prakarnya dan berkumpul di taman.

2016-02-17-063522_1600x900_scrot

Biasanya disediakan cookies berbentuk goose, kita menyebutnya Martingans (Martin’s goose)

Tradisi yang paling terkenal seantero dunia, Oktoberfest. Sebuah pesta rakyat menjelang musim gugur selama dua minggu, biasanya akhir September hingga awal Oktober. Pesta rakyat tekenal ini awalnya adalah pasar tradisional, di mana para petani, para pengrajin, menjual dagangan mereka. Oiya, cerita tentang Oktoberfest ini ada di buku 3 Wanita Menjejak Dunia. Buku yang saya tulis dengan dua orang teman. *ujung-ujungnya promosi :d*

1200x630_314236_oktoberfest-bavarian-costumes-bands-an.jpg

Bavarian costumes, bands, and beers..!

Traveling with little ones

Saya sudah berkunjung ke sekitar 15 negara dan 6 di antaranya dengan Medea. Karena dibiasain sejak umur 3 bulan, jadi cukup travel-able nih anak wedokku. Di IG saya, #travelwithlittlebirdie boleh dilihat-lihat kalau ada waktu.

Melk Abbey

Medea in Melk Abbey.

Melk Abbey is a Benedictine abbey above the town of Melk, Lower Austria, Austria, on a rocky outcrop overlooking the Danube river, adjoining the Wachau valley.

Kita sekeluarga memang seringnya pergi ke tempat yang non-mainstream. Sebisa mungkin ke tempat yang jarang wisatawannya. Misalnya ke daerah Burgundy di Perancis. Waktu itu kita menyewa penginapan di Morvan. Sebuah kota kecil yang penduduknya banyak meninggalkan kota untuk pergi ke kota yang lebih besar. Jadi banyak sekali rumah-rumah, bahkan juga chateau yang kosong dan dijual murah.

Liburan musim panas yang lalu kita memilih Waldviertel, Forest Region, di Austria. Sebuah daerah cantik namun tidak terkenal di kalangan wisatawan. Penduduk lokalnyapun banyak yang memilih untuk migrasi ke kota lain. Di sana kita menginap di sebuah organic farm house.

Kalau kita seringnya kalau road trip, bawa makanan cemilan, audio books yang buanyak (Medea seneng dengerin audio books), dan selalu nyempetin istirahat untuk bergerak.

South Tyrol - Italia

South Tyrol, Italia

mamarantau - snowy Schlern di South Tyrol - Italia

Snowy Schlern, South Tyrol, Italia

Tipsnya: persiapkan diri kita lebih dahulu. Kalau kita sebagai orang tua siap lahir batin, anak jadi berasa. Karena kita adalah contoh buat mereka.

LL-mamarantau-

 *This post is written in collaboration with LivingLoving. Do check out the other side of Mindy on LivingLoving’s blog

IG dan Twitter: @mindoel – mindycjordan@yahoo.de –

Blog: mindoel.blogspot.de

Foto-foto terlampir adalah karya Mindy dan keluarga – Dan beberapa foto penunjang terhubung langsung dengan image pada gambar.

Frankfurt Book Fair 2015 (Bagian 4 – Final)

7526fe7990e6591c3fa4d9bdf506e934Permai Sari Molyana Yusuf (Melly – An Indonesian, currently living in Mannheim, Germany. A Housewife with two kids, Afiqah and Aqila. Interest in Biophysics and love to cook, bake and do Food Photography. A Culinary Contributor of Indonesian Fashion Magazine.

Frankfurter Buchmesse atau lebih dikenal Frankfurt Book Fair (FBF) disinyalir sebagai the world’s largest trade fair for books ,hal ini dilihat dari jumalah pengunjung dan perusahaan pelaku bisnis terkait penerbitan buku dan lisensi serta penulis, ilustrator, seniman, perangkat lunak dan multimedia. Sehingga tidak salah jika banyak yang menganggap FBF ini merupakan pameran buku yang paling penting di dunia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Frankfurt Haupbahnhof , Stasiun Kereta Frankfurt

Setiap tahunnya, acara ini diselenggarakan  di Frankfurt Messe, Frankfurt am Main, Jerman , di pertengahan bulan Oktober, selama 5 hari. Tiga hari pertama merupakan jadwal untuk pengunjung  eksklusif (pelaku bisnis di bidang buku untuk penerbitan, menulis, lisensi, dsb) dan 2 hari terakhir sisanya, terbuka untuk khalayak umum.

Sejak  tahun 1976, pameran ini memberikan ruang bagi negara negara lain untuk menjadi tamu kehormatan dan menjadikannya sebagai Tema  Frankfurt Book Fair di tahun tersebut. Sebagai contoh, untuk tahun ini, 2015, Indonesia menjadi tamu kehormatan dengan mengusung tema „17.000 Inseln der Imagination (17.000 Islands of Imagination)”.

Adanya kesempatan sebagai tamu kehormatan tentunya memberikan dampak yang positif bagi negara berkembang Indonesia, untuk memperkenalkan diri, potensi dan karya anak bangsa. Bisa dibayangkan, hadirnya Indonesia disini menjadilkan hasil kreatifitas anak bangsa makin diakui banyak pihak dari berbagai negara dan tentunya ini menjadi pemicu makin meningkatnya kepercayaan generasi muda dalam berkarya seni, menulis, dsb.

Informasi mengenai penyelenggaraan Frankfurter Buchmesse setiap tahunnya bisa dilihat di website Buchmesse.

***

Sejak tahun lalu sebenarnya aku sudah ingin datang ke acara FBF ini, hanya saja saat itu menjelang ujian DTZ dan ujian politik negara, jadilah mengesampingkan dulu kepentingan yang lainnya. Alhamdulillah tahun ini bisa mengunjungi Frankfurt Book Fair di saat Indonesia menjadi tamu kehormatan. Hal yang bersamaan pula momen ini menjadikan temu kopi darat beberapa teman teman Mbakyurop yang juga mengunjungi FBF ini 😉

Beberapa dari kami sudah mengunjungi FBF di hari Sabtu, jadi kami janjian sarapan bersama di tempat yang sudah disepakati sehari sebelumnya, di salah satu kafe di dekat Hauptbahnhof. Alhamdulillah seneng bangeeet. Kebayang kan biasanya info-info hanya di grup dan tidak pernah bertemu, setelah bertemu rasanya seperti sudah kenal lama ^^

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari kiri ke kanan : Mindy dan Medea, Beth, Era dan Aima, Aku dan Flipper, Mia

***

FBF tahun ini dibuka untuk umum pada tanggal 17 dan 18 Oktober 2015, 2 hari terakhir menjelang penutupan. Dan aku datang di hari Minggunya. Jujur saja, 1 hari tidak akan cukup menjelajahi seluruh pameran ini, ada 5 gedung besar dengan minimal 3 lantai yang cukup luas untuk dilihat apalagi jika waktunya terpotong untuk mengikuti sesi-sesi diskusi yang diadakan.

Biaya tiket masuk yang ditawarkan pun beragam (umum, kontributor atau bisnis). Untuk umum, tiketnya sekitar 18 eur dan ada penawaran harga khusus untuk student atau sejenisnya dan juga pemegang kartu Arbeitlos (tidak bekerja), dsb. Sedangkan untuk Flüchtlinge atau pengungsi (pengungsi yang berasal dari negara negara perang, dsb) diberikan hak untuk masuk gratis.

5 - Tiket untuk kalangan privat

Tiket untuk kalangan private

***

Pengalamanku dengan tiket, sesaat sebelum masuk Messe frankfurt, aku ditawari untuk membeli koran lokal seharga 0,80 eur atau 80 cent, yang didalamnya ada voucher untuk membeli 1 tiket gratis 1 dan hanya berlaku untuk pembelian jenis tiket sehari. Kebetulan aku saat itu berdua dengan temenku Mia, jadi adanya voucher ini membuat kami berdua tampak lebih sumringah melewati dingin pagi itu di Frankfurt, hihihihihihihi 😀

Setelah melewati loket tiket, panitia juga menyediakan sarana penitipan barang dan jaket dan dikenakan biaya sekitar 2 euro untuk satu jenis barang penitipan. Jadi mempermudah pengunjung untuk mengunjungi stand-stand tanpa ribet dengan bawaan pribadi.

***

Di sini, benar benar seperti surganya buku, semua jenis buku dari berbagai negara ada. Karena memang event Internasiona ya. Dari mulai buku anak, remaja, dewasa, orang tua, roman, pokoknya semuanyaaa… dari mulai bahasa lokal (jerman), bahasa Inggris dan bahasa dari masing masing negara peserta Book Fair. Bisa dibayangkan satu lantai hall saja besarnya ga nahan untuk dilihat satu-satu, ini ada 5 hall yang semuanya besar.

Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca
Kursi dan Meja yang disediakan untuk membaca

Hal yang menarik, di setiap stand buku, pengunjung diberi fasilitas kursi dan meja atau kursi saja yang nyaman untuk membaca dan semua buku dipajang dalam keadaan tidak di bungkus, jadi semua pengunjung dipersilahkan dengan senang hati untuk duduk santai dan membaca. Pemandangan yang seperti ini memang sangat lumrah ditemui di berbagai toko buku di Jerman. Seharian di toko buku untuk membaca adalah hal yang sah sah saja, asyik ya? 😉

Lesezelt
Lesezelt

Seperti halnya kegiatan perpustakaan-perpustakaan di Jerman pada umumnya, di FBF juga menghadirkan kegiatan „menceritakan“ untuk bacaan anak-anak, bahkan ada disediakan tempat khusus, Lesezelt (atau disebut sebagai Tenda Membaca). Di pameran buku pun ada beberapa spot tertentu dimana anak anak bisa duduk santai sambil mendengarkan cerita. Percayalah, si pencerita akan menarik pendengar untuk duduk anteng mendengarkan isi ceritanya dengan seksama. Kenapa?? Karena di setiap adegannya dia bisa mengeluarkan berbagai jenis suara berbeda diikuti dengan mimik yang kadang penuh kejutan ! 🙂

Sehingga tidak heran, kalau pendengar pun ikut merasakan alur cerita yang lucu, sedih, gembira dan petualangan seru. Saat mengunjungi spot ini agak sedikit menyesal memang, tidak membawa anak-anak untuk ikut serta. Tapiii ya karena memang hari Minggu, kakak Afiqah punya jadwal sekolah Minggu yang sepertinya tidak boleh terlalu sering membolos.

Kinderbuch Centrum, Children's Book Centre
Kinderbuch Centrum, Children’s Book Centre

 

Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru
Anak-anak anteng mendengarkan cerita seru

 

Apps Radio.de
Apps Radio.de

 

Pilihan di Apps Radio.de
Pilihan di Apps Radio.de

 

Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak
Hallo Eltern : menceritakan dongeng-dongeng Jerman dengan intonasi yang sangat menarik untuk anak-anak

Oh iya, kegiatan seperti ini juga bisa didengar melalui apps radio dari hp, nama apps nya radio.de bisa di download di apps store , langsung saja cari „Hallo Eltern Podcast – Märchen“ (menceritakan cerita dongeng Jerman untuk anak anak).


Stand Buku Indonesia
Stand Buku Indonesia

 

Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015
Gramedia Pustaka Utama di FBF 2015

 

Gramedia Printing di FBF 2015
Gramedia Printing di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan
Buku-buku Indonesia yang sudah diterjemahkan

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015
Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan dan dipamerkan di FBF 2015

 

Buku-buku di Indonesia Pavilion
Buku-buku di Indonesia Pavilion

 

Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.
Mengenalkan alat musik tradisional dari Bambu, Angklung, dimainkan melalui aplikasi dan juga alat musiknya.

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia
Pertunjukkan tarian dan gendang khas Indonesia

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

 

Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion
Rempah-rempah Indonesia di Indonesia Pavilion

 

Indonesia Pavilion
Indonesia Pavilion

* * *

Sebagai tamu kehormatan, tentunya Indonesia banyak memberikan peran dalam event-event diskusi yang diadakan. Sebagian besar panelis merupakan utusan dari Indonesia, yang memang berprofesi sebagai penulis, tokoh kuliner, dsb.

Beberapa diantaranya, yaitu :

Penulis buku sastra dan fiksi
A. S. Laksana
Abidah El Khalieqy
Afrizal Malna
Agus R. Sarjono
Ahmad Fuadi
Ahmad Tohari
Andrea Hirata
Avianti Armand
Ayu Utami
Azhari
Budi Darma
Cok Sawitri
Dewi Lestari
Dorothea Rosa Herliany
Eka Kurniawan
Goenawan Mohamad
Gunawan Maryanto
Gus tf Sakai
Ika Natassa
Intan Paramaditha
John Waromi
Joko Pinurbo
Laksmi Pamuntjak
Leila S. Chudori
Lily Yulianti Farid
Linda Christanty
M. Iksaka Banu
Maggie Tiojakin
N. Riantiarno
Nh. Dini
Nirwan Dewanto
Nukila Amal
Okky Madasari
Oka Rusmini
Putu Oka Sukanta
Ratih Kumala
Sapardi Djoko Damono
Seno Gumira Ajidarma
Sindhunata
Taufiq Ismail
Darwis (Tere Liye)
Toeti Heraty
Triyanto Triwikromo
Yusi Avianto Pareanom
Zen Hae

Penulis komik
Aji Prasetyo
Apriyadi Kusbiantoro
Arief Yaniadi
Beng Rahadian
Benny Rachmadi
Hikmat Darmawan
Is Yuniarto
Iwan Gunawan
Kharisma Jati
Muhammad Misrad (Mice)
Sheila Rooswitha Putri
Tita Larasati
Wendy Jaka Sundana

Penulis buku anak
Arleen Amidjaja
Christiawan Lie
Djokolelono
Murti Bunanta
Nadia Shafiana Rahma
Renny Yaniar
Tety Elida

Penulis buku non-fiksi
Agustinus Wibowo
Dian Pelangi
Imelda Akmal
Julia Suryakusuma
Noor Huda Ismail
Trinity
Suwati Kartiwa
Wahyu Aditya
Yoris Sebastian

Penulis digital
Daryl Wilson
Taufik Assegaf

Juru Masak
Aries Adhi Baskoro
Astrid Enricka Dhita
Bara Pattiradjawane
Budi Lee
Ignatius Emmanuel Julio
Ivan Leonard Mangudap​
Mukhamad Solihin
Petty Elliot
Putri Mumpuni
Ragil Imam Wibowo
Sandra Djohan
Sisca Soewitomo
Sudarius Tjahja
Vindex Tengker

Tokoh Kuliner
Helianti Hilman
Lisa Virgiano
Mary Jane Edleson
Mei Batubara
Santhi Serad
Sri Owen
William Wongso

Aktivis Literasi
Anton Solihin
Asma Nadia
Evelyn Ghozalli
Heri Hendrayana (Gola Gong)
Janet DeNeefe
Muhidin M. Dahlan

Narasumber seminar
Frans Magnis Suseno (Pluralisme and Islamophobia)
Haidar Bagir (Pluralism and Islamophobia)
Ulil Abshar Abdalla (Pluralisme and Islamophobia)
Philips Vermonte (Pluralisme and Islamophobia)
Setiadi Sopandi (Tropical Architecture in Indonesia)
Gede Kresna (Tropical Architecture in Indonesia)
Oman Fathurahman (Script in Indonesian Manuscript)
Sugi Lanus(Script in Indonesian Manuscript))
Dewi Candraningrum (Translating Faust and Goethe)
Mery Kolimon (Writing of Political Violence and Trauma)
Endo Suanda (Recording of Indonesian Music)
Eko Prawoto (Climate and Architecture)
Francis Kere (Climate and Architecture)
I Made Bandem (Indonesian Superhero, Cerita Panji)

Pembaca Karya
Butet Kartaredjasa
Elizabeth Inandiak
Endah Laras
Jennifer Lindsey
Landung Simatupang

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Buku hasil karya Andrea Hirata dan Laksmi Pamuntjak sudah tersedia di Amazon.de

Dan masih ada lagi yang lain. Buku hasil karya penulis pun beberapa sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman dan sudah tersedia di toko buku online seperti Amazon.de , Thalia.de dan bookdepository.com.

Selain itu nama nama yang dituliskan di atas juga berperan sebagai panelis dan narasumber dalam berbagai event diskusi selama berlangsungnya FBF dan di beberapa Bibliothek/ perpustakaan di berbagai kota di Jerman,  seperti Dresden, Heidelberg, Berlin, dsb.

Semaraknya Indonesia mewarnai FBF tahun ini tidak mungkin terlepas dari cita rasa masakan khas tanah air. Sehingga ada beberapa spot di pameran ini yang menyediakan masakan khas Nusantara seperti Nasi Kapau, Gado-gado, Ayam rica-rica, dessert Klappertaart, dsb

Selain itu, di luar area pameran, juga digelar masakan Kaki Lima, yang menyediakan Nasi Goreng dan Sate khas Indonesia. Kaki Lima ini bisa dikunjungi langsung di Römer, salah satu sudut kota Frankfurt, Jerman. Tantangan banget kan ya, menjajakan makanan di luar ruangan di saat suhu sudah mulai turun di musim gugur.

Rasanya tidak cukup hanya satu hari untuk bisa mengunjungi seluruh area FBF. Hari Minggu, aku berkesempatan untuk mengikuti dua event setelah berkeliling melihat-lihat buku 😉 , yang pertama,  “The Art of Banana Leaves Food Wrapping” yang disampaikan oleh Ibu Sisca Soewitomo dalam Bahasa Indonesia dengan penterjemah Bahasa Jerman dan yang kedua,  “Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Dr. Jusuf Habibie dan Frans Magnis-Suseno dalam Bahasa Jerman.

Keduanya dilakukan sama sama di Indonesia Pavilion dan waktunya yang berdekatan, sehingga aku pun bisa mengikuti tanpa harus berpindah gedung lainnya.

***

Event yang pertama, Bu Sisca memperkenalkan penggunaan daun pisang yang kerap kali digunakan di berbagai macam masakan Indonesia. Baik itu sebagai pelengkap, alas/ wadah ataupun pembungkus. Sambil mendemokan membuat gado-gado, beliau menjelaskan aroma yang dikeluarkan dari daun pisang tersebut yang memberikan rasa dan aroma yang khas, apalagi jika daun pisang yang digunakan untuk membungkus makanan, selanjutnya dibakar sebentar di perapian, akan menambah cita rasa sedap dalam masakan. Dan ternyata, Ibu Sisca menggunakan daun pisang yang di dapatkan di Toko Asia di Jerman.

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015Bu Sisca Soewitomo di FBF 2015

Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta warganegara Jerman, menanyakan mengenai rasa masakan khas Indonesia, yang sebagian besar menggunakan cabai dan rasanya pedas. Hal ini tentunya berkaitan dengan selera masyarakat Jerman yang cenderung plain saja tanpa pedas.

„Banyaknya macam jenis masakan Indonesia, tentunya ada pula yang tidak harus menggunakan cabe atau jika pun menggunakan, kadar penggunaan cabe itu sendiri juga dapat disesuaikan dengan selera. Jadi tidak selalu harus pedas“ jelas bu Sisca.

Event selanjutnya, antusias peserta tidak kalah banyaknya dibanding dengan event sebelumnya. Bahkan podium peserta diskusi tidak cukup menampung dan banyak yang rela untuk melantai agar dapat mengikuti diskusi bersama Presiden Indonesia yang ketiga ini, Dr. BJ. Habibie.

“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie
“Garuda Rising: Contemplating Modern Indonesia” oleh Pak Habibie

Intinya, Bapak Habibie sangat yakin bahwa nantinya Indonesia akan menjadi negara yang mandiri dan bisa mensejahterakan rakyatnya. Kekayaan alam Indonesia yang sangat banyak dan semakin potensialnya sumber daya manusia tentunya menjadi kombinasi yang positif untuk kemajuan bangsa.

Ada beberapa event lainnya yang aku lihat namun tidak full, karena aku masih ingin melihat-lihat pameran buku, yakni

Morning Coffee with Literacy Activist bersama Muhidin Dahlan, Anton Solihin, Heri Hendrayana, Asma Nadia dan Evelyn Gozali.

dan terakhir sebelum penutupan, ada diskusi 2 penulis, satu dari Indonesia yang yang diwakili oleh Ayu Utami dan satunya dari Belanda yang diwakili oleh Adriaan van Dis. Podium penonton untuk diskusi ini sepertinya hanya untuk orang-orang tertentu karena akan sekalian dengan penutupan dan serah terima ke Belanda sebagai Guest Honour tahun depan.

Die nächste Buchmesse findet vom 19. bis 23. Oktober 2016 statt !!
Nantikan Frankfurt Book Fair berikutnya, yang akan diselenggarakan pada tanggal 19-23 Oktober 2016 !!

——–

Tulisan ini disadur dari tulisan di blog Melly . Foto  yang dilampirkan menggunakan watermark Mellyloveskitchen adalah dokumentasi pribadi dan yang mengambil dari website lain dicantumkan sumbernya pada nama foto tersebut.

IG: @mellyloveskitchen

Berkeliling di Oslo: Tempat Makan dan Belanja

2016-01-12-151317_1600x900_scrotJena Sapyera Qadar –  A Carpicornian working mom, who is loving every single day spent in Oslo with her fantastic team at work and even more awesome team at home! A grateful wife of a loving husband and mother of a sassy beautiful daughter.

Kalau sedang berada di Oslo, pastikan mampir ke salah satu (atau lebih!) dari tempat-tempat yang saya rekomendasikan ini:

Places to hangout with adult friends in Oslo

Saya ngga begitu suka winter sport/activities (I know, booooo….!) jadi kebanyakan ini rekomendasinya either untuk summer atau indoor! Shortly, yang saya tahu, dan biasanya saya coba hindari (hahaha), adalah berikut ini: Korketrekkeren, mungkin paling populer di Oslo untuk tobogganing, dan bisa sewa sled juga. Untuk alpine skiing, Oslo Winter Park Tryvann adalah pilihan paling tepat. Menurut yang suka pergi. Okay bye winter.

Public cupping tiap hari Sabtu di Tim Wendelbøe, satu coffee roastery/espresso bar/coffee resource and training centre milik barista no.1 (katanya ya) di Norwegia bernama sama.

Quick fact: dulu saya dan Abi tinggal persis di atas tempat ini jadi tiap hari keluar rumah dapat wangi kopi enak gratis!

Main ping-pong di Crowbar & Brewery, satu micro brewery cukup ok di Torggata. Dekorasi keramik sendiri di Glazed & Amused – ada lebih dari 70 obyek keramik putih yang bisa kita lukis suka-suka. Ide bagus buat bachelorette party. Untuk indoor activities lainnya: saya rekomendasikan latihan fencing dan kemudian tanding lawan teman-teman, coba Musketer Event (http://www.musketerevent.com). Waktu itu pernah sama rekan-rekan kantor dan kayaknya kita akan coba lagi. Tentunya selain itu ada Megazone/ Indoor paintball. Atau bowling di Oslo Bowling (ini adalah salah satu tujuan bachelorette party saya jadi memorinya cukup indah haha). Selain itu iseng manjat di Klatreverket juga seru. Untuk nongkrong dengan teman-teman, ada banyak pilihan juga:

Oslo mekaniskeverksted

Blå

Champagneria

The Villa, the best dancing place in Oslo. Toiletnya aja seru.

Concert places: Rockefeller, John Dee, Parkteatret, Sentrum Scene.

Bioskop: Cinemateket (untuk film klasik dan film alternatif/kontemporer); banyak film yang ditayangkan di sini diimpor khusus ke Norway untuk hanya ditayangkan di sini. Colosseum Cinema (untuk film box office baru); ada 4 studio, salah satunya yang paling besar punya 978 kursi dan auditorium THX paling besar di dunia. Dan terakhir Gimle Cinema.

Tempat Makan di Oslo untuk Anak.

We have soooooo many options but Mathallen is the best place really! Bisa muat banyak stroller dan sangat child-friendly. Pilihan makanannya juga beragam dan sehat, untuk semua umur ada. Kinasih paling sering makan dari Hello Good Pie, Obento Box, dan Vulkanfisk. Kalau mau belanja bahan masak organik juga tersedia. Pokoknya tempat ini adalah the ultimate gathering for both family and friends!

Mathallen

Dulu pas saya ngetik thesis sering banget ke Bugges dan ngga sadar banyak mama-mama muda (yang sedang maternity leave) pada nongkrong, ternyata tempatnya memang enak kalau bawa bayi.

Crêperie de Mari di jalanan yang sama dengan rumah (Thorvald Meyersgate) punya banyak menu pancake yang enak dan sehat, tersedia juga kursi-kursi tinggi dan meja ganti popok.

Chillout Travel Centre di Markveien adalah satu tempat favorit untuk belanja barang-barang travelling sekalian nongkrong sama Kinasih. Di lantai paling bawahnya ada sofa-sofa yang nyaman banget untuk menyusui.

Kalau sedang jalan-jalan berdua Kinasih kita juga suka mampir Cocoa di Birkelunden, pilihan minuman coklatnya enak-enak sekali! Favorit saya adalah chili-chocolate dan raspberry-chocolate. The best in town.

Pilihan lain lagi buat mama-mama muda adalah Liebling, kadang suka ada flea market dadakan juga di tempat ini. Saya pernah beli satu koper tua yang Abi coba buang tapi ngga pernah berhasil, dan sekarang kita jadikan dekorasi rumah. Ngomong-ngomong ada satu teman juga yang kerja di sini,  jadi kalau lewat diusahakan dadah-dadah dulu sama dia (hehe).

Kalau semua tempat tadi ramai biasanya kita juga mampir Kaffebreneriet yang di Markveien. Cafe di Oslo Botanical Garden juga sangat child-friendly, tapi kita lebih sering makan di sana pas summer. Ngomong-ngomong semua tempat ini adanya di sekitar rumah di daerah Grünerløkka.

Tempat makan dengan teman seumuran.

Pertama kali saya datang di Oslo, rasanya pilihan tempat untuk makan di luar sangat terbatas. Mungkin karena dulu sibuk belajar, mungkin karena memang harus super ngirit, atau mungkin juga karena kurang gaul sama yang mampu makan di restoran haha! Ternyata banyaaaaaak sekali pilihan tempat makan di Oslo dan sekarang saya berani untuk ngasih rekomendasi.

Mathallen lagi-lagi bisa direkomendasikan, selain Lucky Bird yang akhir-akhir ini menjadi favorit baru keluarga Qadar. Lalu, paling enak sekalian nongkrong di Hitchhicker.

Hitchiker

Dua restoran Korea yang paling saya suka adalah Tintin di Lysaker dan satu lagi Nam Kang, di Torgatta. Nama lain dari Torgatta ini adalah “kebab street,” saking banyaknya restoran kebab di jalanan ini. Banyak orang yang habis clubbing pada ngantri beli kebab di jalanan ini sehabis jam 3 pagi (semua bar atau klub di Oslo harus sudah tutup jam 3 pagi). Restoran Asia lain yang enak ada Thai Orchid dan Diner di Stortingsgate, Nodee di Majorstuen dan di dekat rumah ada East Kitchen kalau sedang malas masak.

Nodee. Pas hamil sering banget ke Habanero di Birkelunden soalnya ngidam banget sama chili con carne-nya yang pedes banget. Restoran Meksiko lainnya yang cukup hip adalah Taco Republica dan Tijuana. Temen saya orang Meksiko merekomendasikan Heart of Mexico di Bygdøy Alle. Tapi kalau menurut Abi, makanan Meksiko yang paling enak ada di People’s. Akhir-akhir ini juga sedang banyak food truck di Oslo, dan salah satunya 4 Gringos, yang seringnya nongkrong di Youngstorget.

Taco Republica

3fd3d2326p3d1415926t3d4

Kalau suka burger, kita juga punya beberapa pilihan: Nighthawk Diner di Thorvald Meyersgate, Illegal Burger di Møllerveien, Munchies di Bernt Ankersgate, dan Dattera til Hagen di Grønland.

Dattera til Hagen

Untuk fine dining, saya rekomendasi two-star Michellin Fauna di Solligata. Saking enaknya salah satu anak tim saya malah bikin satu review di tripadvisor.com sehabis pertama kali kita makan di sana. Sampai ada foto kita segala! Selain itu ada juga Maaemo di belakang kompleks baru Bjørvika, Arakataka di Mariboesgate dan Ylajali di dekat Tulinløkka. Trattoria Populare juga saya rekomendasikan untuk yang suka makanan Italia. Pilihan lainnya di sekitar situ adalah Moods of Norway dan Filippa K.

Untuk tapas, saya rekomendasikan Delicatessen di Grünerløkka. Kalau beruntung bisa ketemu sama Jo Nesbø, soalnya ini salah satu restoran favorit dia di Oslo. Kalau yang di sini penuh/fully booked, bisa coba Delicatessen yang di Aker Brygge dan Majorstuen. Selain itu ada Schiller’s Tapas di Bygdøy Allé atau Folketeaterpassasjen.

Suatu hari pas ulang tahun saya juga pernah dibawa bos makan di Strand Restaurant di Stabekk. Agak jauh dari sentrum tapi tempat ini enak sekali.

Beberapa tempat makan lain yang dekat kantor (IT Fornebu) yang sering saya kunjungi adalah Maschmanns, Sjøflyhavna, Tintin Sushi, Scandic Fornebu, dan Odonata.

Maschmanns

Kalau mau coba yang beda, ada Pjøltergeist yang menyediakan makanan porsi kecil dari Islandia, Jepang, Papua Nugini dll. Mereka juga punya banyak pilihan bir!

Pjøltergeist

Tempat Belanja Baju Anak di Oslo.

Saya, seperti ibu-ibu kebanyakan, hobinya belanja baju bayi. Saya paling suka belanja baju Kinasih di Barnehuset, karena selain lokasinya ada di sebelah gedung apartemen, mereka juga punya banyak baju anak (desainer maupun retail) dari Denmark, Swedia dan juga Norwegia. Beberapa brand baju favorit yang ada di toko ini adalah Ej Sikke Lej, Fred’s World by Green Cotton, Little Mountains, Wheat, Memini, dan Alba Baby.

Barnehuset

Toko baju lainnya yang kita sering datangi adalah Kool Kidz di Markveien. Tempat ini seru banget karena bisa sekalian cari ide kado yang unik.

Selain itu ada Name It di Byporten, atau Babyshop di Storo Storsenter (salah satu mall di Oslo). Sering saya ngga ada waktu untuk belanja baju di toko jadi beli Zara Kids atau Next online. Kecuali piyama, pilihan baju lainnya cukup banyak dan saya ngga perlu muter-muter di toko seharian. Tempat lain yang punya baju-baju basic adalah Polarn O. Pyret.

Last but not least, toko lain yang sangat penting bagi kehidupan Kinasih adalah Sprell di Markveien. Banyak barang di kamarnya (sprei, selimut, pembatas tempat tidur, mainan, lunch box, buku, dll) datang dari toko ini.

Tempat Belanja Favorite Saya.

Banyak retail brand yang saya suka (misalnya Pull & Bear sama Topshop) ngga buka toko di sini jadi mesti lebih kreatif dengan belanja di Oslo. Di Grünerløkka, toko baju yang saya rekomendasikan adalah Acne dan toko sepatu Shoe Lounge.

Di daerah Sentrum, saya paling suka belanja di Weekday di Stortorvet, dan sekalian mampir juga di Monki sebelahnya. Baju kantor bisa ngasal sih tiap hari jadi ngga perlu sering beli baju formal. Kalau mesti cari baju serius paling mampir Zara di Karl Johans gate. Pilihan lainnya di sekitar situ adalah Moods of Norway dan Filippa

Untuk belanja keperluan lain, design-related, atau cari-kado-buru-buru-related, saya selalu pergi ke Norway Designs, DesignTorget, Chillout Travel Center, atau Skaperverket, semacam toko design kolektif gitu.

Kalau suka interior/product design, mesti mesti mesti mampir House of Oslo! Semua tokonya menarik, mulai dari Åhlens (produknya Muji numpang juga di toko ini), Habitat, Illums Bolighus, Tilbords, etc.

Untuk toko buku di Oslo, ada dua tempat yang selalu saya kunjungi: pertama, Tronsmo di Kristian Augusts gate. Tiap musim panas saya selalu ritual pergi ke sana borong buku di Tronsmo’s AMAZZZZZING annual backyard sale. Mulai dari tahun pertama waktu masih mahasiswi, sampai sekarang kerja dan punya anak selalu nyempetin ke sana. Ngga pernah nyesel.

Tronsmo

Toko kedua adalah Outland di Kirkegata. Bedanya dengan toko pertama yang lebih banyak punya buku kontemporer, design dan seni, Outland ini lebih condong ke komik, superheroes, lego, games, dan merchandise dari series yang super geeky seperti Doctor Who (which is favorit kita banget!). Pengalaman seru di Outland bagi saya adalah ketemu Neil Gaiman face-to-face untuk pertama kalinya. Dia tanda tangan dua buku buat saya (American Gods versi Inggris dan Fortunately, The Milk versi norsk) dan juga nanya, HOW ARE YOU? Saya rasanya mau pingsan!!! Hahahaha. Saya punya hampir semua bukunya Neil Gaiman dan rasanya momen ini membuat hidup saya makin sempurna.

Neil Gaiman lagi nanya apa kabar!

Dulu waktu masih jadi mahasiswi kalau butuh buku selalu ke Akademika yang di UiO atau Tanum di Universitetetsgate.

Tanum

Hampir semua orang di Oslo punya sepeda jadi toko dan bengkel sebenarnya banyak di mana-mana. Tapi kita sudah langganan di Oslo Sykkelverksted di Sannergata.

Kita sama-sama punya DBS, Den Beste Sykkel, yang asalnya dari Norwegia

Pilihan lainnya untuk yang vintage-looking bicycles adalah Dapper di Markveien. Sepedanya cantik-cantik banget! Toko ini dibagi dua, satu untuk sepeda dan bengkel, satu lagi untuk barbershop, baju, tas, pomade, dan barang-barang buat cowok lainnya.

Satu pilihan bengkel sepeda lain yang sudah lama ada di Oslo adalah Den Rustne Eike di Sofies gate.

Untuk interior rumah, selain House of Oslo, dekat rumah juga banyak toko yang bisa dikunjungi. Salah satunya adalah Fransk Bazar:

Granit di Thorvald Meyers gate juga punya semua barang yang dibutuhin di rumah: pot bunga, wadah recycling, gelas, kotak-kotak buat berkas penting, sampai magnetic notepad yang buat di kulkas.

Flea market dan Thrift Shop di Oslo

Biasanya setiap spring-summer-fall ada yang namanya loppemarked/flea market di sekolah-sekolah di seluruh kota untuk ngumpulin dana. Untuk tahu jadwalnya kapan dan di mana, bisa mengunjungi http://www.loppemarked.info. Dekat rumah ada satu loppemarked yang selalu ada setiap hari Minggu, di Birkelunden. Semua orang yang mengunjungi rumah kita pasti pernah juga mengunjungi flea market ini.

Ugler i Mosen. Pernah suatu hari saya lewat dan kebetulan pemilik tokonya baru ganti, jadi dia buang semua barang jualan pemilik sebelumnya. Kita boleh ambil sesukanya dong! Abi dan Kinasih sampai pulang saking saya kelamaan milih-milih.

Frøken Dianas Salonger. Thrift store ini paling baru di Grünerløkka, belum setahun mungkin. Tapi ukurannya paling besar dibanding yang lain, dan kayaknya juga paling mahal.

Fretex Unika Grünerløkka. Second-hand shop ini punyanya Salvation Army Norway dan paling banyak cabangnya di sini, dan juga paling murah.

Marita Butikken. Toko ini adalah toko yang paling dihindari Abi karena menurut dia, toko ini sarangnya hoarders seperti saya! Haha. Tapi serius deh, ibu-ibu (dan atau vintage lovers) mana yang akan menolak mampir sini setiap lewat?

Other notable shops:

Manillusion

Robot

Ada satu tempat di Markveien yang gapunya nama gitu, jadi saya panggil dia Tegalega. Haha. Belinya mesti cash dan kadang bisa nawar.

Spøk og Spenning – tempat beli buku komik dan vinnyl bekas

Futura – tempat beli lampu vintage

Selamat makan dan berbelanja di Oslo!

—–

http://goldfishvspiranha.com/ | Instagram: jspyr