Merantau di Dresden

profilepict1Siti Prima Genni (Meli) – A 32 y.o Indonesian. Mother of two energetic boys: Adriaan Radhitya Irman (6 y.o) and Adam Irman (1 y.o). Married to an Indonesian Scientist. A hausfrau who loves cooking, baking and traveling. Has been living in a historic city of Dresden in  East Germany since 2010.

Meli dan keluarga

Semenjak menikah tahun 2006, saya dan suami sepakat untuk selalu tinggal bersama. Saat menikah, suami sedang menyelesaikan studi S3 nya di Enschede, Belanda. Saya menyusul ke Belanda pada tahun 2007. Anak pertama kami Adriaan, lahir di kota itu. Setelah studi S3 suami selesai, kamipun pindah ke Dresden pada tahun 2010. Pekerjaan suamilah yang membawa saya ke kota ini. Suami bekerja sebagai peneliti di salah satu Lembaga Penelitian di Jerman, mungkin seperti LIPI di Indonesia. Di kota cantik ini, kami dianugerahi putra kedua yang bernama Adam.

DSC03244

Meli bersama keluarga: Arie, Adriaan, dan Adam

Tentang Dresden

Dresden adalah ibukota Sachsen, salah satu negara bagian Jerman yang berada di sebelah timur. Jaraknya tidak jauh dari Prague, Ceko Slovakia. Kota Dresden memang tidak sebesar kota-kota besar Jerman lainnya, seperti Berlin, München atau Hamburg. Tapi kotanya juga tidak kecil dan bisa dibilang menengah.

Dresden is the capital city of the Free State of Saxony in Germany. It is situated in a valley on the River Elbe, near the Czech border. The Dresden conurbation is part of the Saxon Triangle metropolitan area with 2.4 million inhabitants.

Dresden adalah kota yang cantik dan bersejarah. Perpaduan arsitektur Baroque dengan sungai Elbe yang membuatnya cantik dan mempesona. Bukan hanya kotanya saja yang cantik, alamnya pun juga cantik.

Elbe (Konigstein)

Sungai Elbe dilihat dari Benteng Konigstein

Festung Königstein adalah benteng yang terletak di bukit dekat Dresden, di atas kota Königstein di tepi kiri Sungai Elbe

Dua bagian kota Dresden yang cukup menarik adalah Altstadt (Old city) dan Neustadt (New city). Altstadt biasanya di penuhi bangunan-bangunan yang tua tetapi sangat terawat dan cantik:

Dresden Alstadt dari atas Frauenkirche

Sedangkan Neustadt dipenuhi Restaurant, Bar, kafe-kafe, serta mural (graffiti):

Kunsthof-Passage Dresden Neustadt

The Neustadt is the cultural center of Dresden. Particularly in the summer, many visitors and residents simply sit out on the sidewalk drinking and chatting.

Kendala Bahasa

Tidak seperti kota-kota di Jerman Barat, dimana orang bisa mengandalkan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi, speaking German is a must here. Disini kita harus bisa berbahasa Jerman untuk hidup sehari-hari. Beli roti di Bäckerei saja harus menggunakan Bahasa Jerman. Komunikasi di sekolah dan kindergarten juga menggunakan Bahasa Jerman. Di Kindergarten Adriaan hanya Kepala Sekolahnya saja yang bisa Bahasa Inggris. Komunikasi dengn guru-gurunya mau tidak mau harus memakai Bahasa Jerman.

Do you speak German?

Tentu saja awalnya saya bingung. Awalnya saya sering minta bantuan teman-teman Indonesia yang sudah lama tinggal di Dresden, sering buka kamus dan malah menggunakan bahasa tubuh ;). Tapi ya nggak bisa mengandalkan bantuan orang terus. Setelah saya kursus bahasa dan mengapat ijazah B1, Alhamdulillah masa-masa sulit berkomunikasi sudah bisa saya lewati. Meskipun grammatik saya masih kacau, yang penting saya bisa berkomunikasi dengan orang-orang. Sekarang ini komunikasi dengan dokter, guru-guru di sekolah dan di tempat umum lainnya selalu menggunakan Bahasa Jerman. Untuk komunikasi tulisan seperti membaca dan membuat surat, kadang-kadang saya masih harus buka kamus, buku dan internet.

Mencari Tempat Tinggal di Dresden

Penduduk di sini kebanyakan tinggal di Wohnung (apartemen). Tapi jangan ngebayangain apartemen seperti di Indonesia dengan fasilitas kolam renang, fitness, dll. Sama sekali tidak ada fasilitas itu. Biasanya hanya ada Hof (Pekarangan bersama) dan Spielplatz (Playground). Wohnung yang sering kita jumpai di sini kebanyakan berlantai 4 atau  5. Ada juga Wohnung yang lebih tinggi, tapi hanya sampai belasan lantai. Jarang sekali saya menemukan Wohnung yang sampai puluhan tingkat.

Jika dibandingkan dengan kota besar lainnya di Jerman, harga sewa rumah di Dresden relatif lebih murah. Wohnung yang kami tempati seluas 95 m², harganya (Warm Miete, sudah termasuk biaya tambahan energi) 900 €. Sebagai perbandingan, dengan luas dan fasilitas yang sama, harga sewa wohnung di München atau Hamburg bisa mencapai 1200 € – 1500€. Untuk mencari wohnung di Dresden, biasanya saya memakai website ini.

Wohnung 4-5 lantai

Sementara untuk student, biasanya tinggal di Studentenwohnheim. Untuk student yang sudah berkeluarga, ada juga studentenwohnheim khusus. Pastinya harga sewanya lebih miring daripada harga sewa wohnung biasa. Bagi para calon student yang akan pindah ke Dresden, biasanya mereka mencari wohnung melalui situs Studentenwerk Dresden.

Transportasi di Dresden

Hidup di Dresden tanpa mempunyai kendaraan pribadi sangat memungkinkan. Mempunyai SIM sangat susah dan mahal di sini. Jadi banyak sekali orang yang hanya mengandalkan transportasi umum saja. Seperti kota-kota lain di Eropa, transportasi umum di sini sangat nyaman. Transportasi dalam kota yang disediakan cukup dengan Strassenbahn dan Bus. Tidak ada U Bahn alias kereta bawah tanah di sini. Mungkin karena jumlah penduduknya yang tidak membludak. Ini sangat menguntungkan bagi saya yang kemana-mana selalu membawa stroller.

DVB (Dresdner Verkehrsbetriebe)

Keluarga kami mempunyai satu mobil. Alhamdulillah, suami bisa dengan mudah mendapat SIM di sini. Saya dan suami membeli mobil awalnya karena kantor suami yang lokasinya berada lumayan jauh dari rumah kami. Hanya ada satu bus dari Hauptbahnhof ke kantor suami dan jadwal keberangkatannya hanya satu kali satu jam. Mengingat pekerjaan suami yang terkadang sampai malam bahkan pagi, kamipun sepakat untuk membeli mobil. Ternyata setelah dijalani, punya mobil memang berasa keuntungannya, apalagi dengan dua anak…! Jika kami ingin pergi urlaub (berlibur), sangat terasa kemudahannya. Dengan mobil, kami bisa membawa banyak makanan dan banyak barang untuk keperluan berlibur. Dan kamipun lebih flexibel, tidak tergantung dengan jadwal kereta.

Tempat Rekreasi Di dresden untuk keluarga

Banyak sekali tempat rekreasi yang bisa dikunjungi di Dresden. Biasanya turis-turis di Dresden pasti selalu mampir ke Zwinger, Brühlsche Terrasse, Frauen Kirche, Semperoper, Fürstenzug, Gemälde Galerie, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Istana Zwinger adalah landmark terbaik Dresden yang sangat terkenal akan keindahannya mulai dari arsitektur hingga benda-benda seni lain yang ada di sana.

Semper Opera House “Semperoper” yang terletak di pusat kota Dresden

Di depan Semperoper bersama Meli (my twin sister)

Di depan Semperoper bersama Mella (my twin sister)

fürstenzug2

Fürstenzug is a large mural of a mounted procession of the rulers of Saxony. It was originally painted between 1871 and 1876 to celebrate the 800th anniversary of the Wettin Dynasty, Saxony’s ruling family.

fürstenzug1

The mural displays the ancestral portraits of the 35 margraves, electors, dukes and kings of the House of Wettin between 1127 and 1904. It is one of the largest porcelain artworks in the world.

Dresden paling cantik pada saat menjelang natal. Banyak sekali turis yang datang ke Dresden untuk mengunjungi Striezelmarkt (Weihnachtsmarkt di Dresden). Striezelmarkt merupakan Pasar Natal tertua di Eropa.

Pilihan tempat rekreasi untuk anak-anak dan keluarga pun cukup banyak di Dresden. Jika cuaca mendukung, kami sekeluarga sering jalan-jalan di pinggiran Elbe, di  Großer Garten (Big Park), Zoo Dresden atau bermain di Spielplatz (playground) yang tersebar di setiap sudut kota.

Di pinggiran Elbe

Di pinggiran Elbe

Brühlsche Terasse is a historic architectural ensemble in Dresden, Germany. Nicknamed “The Balcony of Europe”, the terrace stretches high above the shore of the river Elbe.

Adriaan dan flamingo di Zoodresden

Adriaan dan flamingo di Zoo Dresden

Tidak jarang juga kami sekeluarga mengunjungi tempat rekreasi anak yang berada di luar Dresden seperti Saurier Park, Playmobil Funpark di Nürnberg dan Legoland Deutschland di Günzburg.

Adriaan dan Papa di Playmobil Funpark Nürnberg

Adriaan dan Papa di Playmobil Funpark Nürnberg

Adriaan dan Papa di Saurierpark

Adriaan dan Papa di Saurierpark

Saurierpark Kleinwelka is a dinosaur park with life-size prehistoric creature models & adventure playground with nets & ropes.

Elbe di musim panas pasti selalu ramai. Ramai dengan orang2 berjemur, piknik dan bersepeda. Nggak ada pantai, sungaipun jadilah untuk berjemur. Biasanya setiap musim panas, selalu diadakan filmnächte am Elbufer, semacam pertunjukan film di ruang terbuka, di pinggiran Elbe pada malam hari.

Filmnächte am Elbufer: kalau di Indonesia mungkin seperti layar tancap 😉

Großer Garten juga nggak kalah menariknya. Saat cuaca bagus, Großer Garten pasti dipenuhi orang-orang bersepeda, main in line skate, piknik, bermain bersama anak-anak atau hanya sekedar jalan-jalan saja.

Adriaan dan Adam di Großer Garten

Großer garten saat musim gugur

Großer garten saat musim gugur

Di Großer Garten terdapat Parkeisenbahn. Semacam kereta buat anak-anak yang mengelilingi taman besar ini. Uniknya petugas penjaga di setiap stasiun Parkeisenbahn ini semuanya adalah anak-anak.

Jika cuaca tidak mendukung, biasanya kami sekeluarga mengunjugi museum. Museum yang cocok untuk anak-anak adalah Verkehrsmuseum dan Deutsches Hygiene Museum. Verkehrsmuseum adalah Museum Lalu Lintas. Museum ini berada tepat di depan Frauen Kirche. Di sini kita bisa melihat bermacam-macam kendaran mulai dari mobil, kereta api, kapal, pesawat dan sepeda beserta sejarahnya.

Di lantai paling atas museum tersedia lalu lintas mini berupa jalan mini beserta rambu-rambu lalu lintasnya. Di sini anak-anak bisa bermain Bobby Car dengan peraturan yang ada. Tujuannya agar anak-anak bisa bermain dan belajar tentang peraturan lalu lintas.

Tempat favorit keluarga lainnya di kala cuaca kurang baik adalah ke Bibliothek atau perpustakaan. Perpustakaan tersebar di setiap bagian kota. Jadi, kita nggak usah repot-repot harus pergi ke Städtische Bibliothek (Perpustakaan Kota).

Favorit kami sekeluarga memang ke Städtische Bibliothek, karena di sana koleksinya lebih lengkap dan setiap weekend biasanya diadakan story telling.

Wisata Alam di dresden

Dan karena letaknya yang berada di pinggiran sungai Elbe, maka tempat rekreasi alam pun cukup banyak di sekitar Dresden. Salah satunya adalah Bastei. Bastei terletak di Sächsischen Schweiz, di pinggiran Elbe. Tebing-tebing yang menjulang tinggi dan pepohonan di sekelilingnya serta pemandangan indah Elbe benar-benar akan membuat setiap orang terpesona.

Saxon Switzerland National Park – this impressing rock landscape (also called Elbsandsteingebirge) is only a few kilometers away from Dresden. Steep fissured sandstone rocks, canyon-like ravines, caves and rock needles constitute the probably most spectacular National Park of Germany.

Bastei adalah formasi batuan yang menjulang setinggi 194 meter di atas Sungai Elbe di Elbe Sandstone Mountains Jerman. Mencapai ketinggian 305 meter di atas permukaan laut, batu-batu bergerigi pada Bastei dibentuk oleh erosi air lebih dari satu juta tahun yang lalu. Formasi bebatuan ini terletak dekat Rathen, tidak jauh dari bagian tenggara kota Dresden dan merupakan atraksi utama dari Saxon Switzerland National Park. Bastei sangat indah dikunjungi – apalagi kalau perginya di saat musim gugur saat semua daun berwarna warni.

bastei 2

Tempat ini adalah surga bagi pemanjat tebing.

Bastei Bridge

Kesan tentang masyarakat Dresden

Kaku dan dingin. Orang Jerman terkenal kaku dan dingin. Hmmm…kalo menurut saya, orang Jerman itu tertutup kepada orang yang tidak atau belum dikenalnya. Jika kita sudah mengenal mereka, mereka akan terbuka sekali. Mungkin karena faktor sejarah, orang-orang Dresden (dulunya adalah Jerman Timur) relatif lebih tertutup dan kurang welcome dengan orang asing dibanding di Jerman Barat. Biasanya yang tertutup itu kebanyakan orang-orang tua yang pada zaman DDR dulu, mereka tidak bisa kemana-mana. Jadi kurang terbuka dengan orang-orang dari berbagai macam ras.  Di kala sekarang yang aksesnya sudah gampang, mereka sudah kehilangan energi untuk berjalan-jalan dan bertemu banyak orang di tempat lain. Tapi tidak semuanya juga lho. Banyak juga orang-orang tua di sini yang hangat dan ramah. Beberapa kali saya pernah disapa dan diajak ngobrol oleh orang-orang tua di sini.

Tepat waktu. Orang Jerman sangat tepat waktu. Saya harus banyak belajar tentang hal ini. Saya tipe orang yang nggak bisa ninggalin rumah jika urusan rumah dan anak2 blm beres. Walhasil sering terlambat jika janjian sama teman. Emak emak banget ya.  Jika punya janji, orang Jerman akan datang 5-10 menit sebelum waktunya. Apalagi jika kerja, mereka selalu mengusahakan tepat waktu. Karena orang bisa di PHK atau diberhentikan kerja karena alasan terlambat.

Sistematis dan birokrasi dengan banyak surat. Cara kerja orang jerman sangat sistematis. Sistem birokrasinyapun begitu. Meskipun saya tidak bekerja, tapi saya cukup kenal sifat ini dari kehidupan sehari-hari. Contohnya saja, surat pemberitahuan dari Krankenversicherung (asurasi) untuk mengingatkan para orang tua melakukan U1-U9 di dokter anak, surat pemberitahuan dari Stadt (City Hall) bahwa anak kita sudah wajib sekolah dan harus didaftarkan ke sekolah yang berada di dekat rumah dan masih banyak surat lainnya. Untuk ke dokterpun begitu. Jika kita harus ke augenartz (dokter mata), logopädie, HNO artz (dokter THT), sebelumnya harus ada surat rujukan dari dokter anak.

Terbuka, apa adanya, dan tidak basa basi. Maksud terbuka di sini, orang Jerman selalu mengatakan apa yang dia pikirkan. Misalnya jika dalam percakapan, jangan segan-segan bertanya atau jika menjawab hanya bilang “ok”, “ach so”, dll. Jangan malu-malu mengutarakan pendapat kita dan terus terang. Orang Jerman terbuka dan akan menghargai itu. Jika ditanya, jelaskanlah apa pendapat kita. Dijamin percakapan akan berjalan lancar.

Begitu juga dengan tingkah laku. Orang-orang disini akan memperlihatkan jika suka atau tidak suka pada sesuatu atau seseorang. Jika mereka tidak suka dengan orang asing, mereka akan sangat memperlihatkannya dari tatapan mata, ngomel atau bahkan marah. Begitupun jika mereka suka, mereka akan memperlihatkannya dengan senyuman dan membantu kita seperti membukakan pintu, membantu mengangkat babystroller jika naik dan turun dari tram, membantu membawa bawaan yg berat, dll.

13 Februari

13 Februari adalah hari yang sangat memorial bagi masyarakat Dresden. Pada tanggal 13 Februari 1945, sebagian kota Dresden hancur karena serangan bom dari pesawat udara Inggris pada saat perang dunia kedua. Sekitar 25.000 orang tewas dan ratusan ribu orang luka luka dan tidak mempunyai tempat tinggal.

Dresden, 1945, view from the city hall (Rathaus) over the destroyed city

Menschenkette. Menschen artinya Orang. Kette artinya rantai. Setiap tanggal 13 Februari, pemerintah Dresden mengundang masyarakat Dresden untuk berpartisipasi membentuk Menschenkette atau rantai orang bersama-sama.

Menschenkette adalah simbol untuk mengenang para korban yang meninggal dan Dresden pernah menjadi korban perang dunia kedua. Menschenkette juga menandakan tidak adanya tempat untuk Nazi, tidak adanya kekerasan, damai dan toleransi di Dresden.

Kondisi 70 tahun yang lalu: antara 13-15 Februari 1945, hanya beberapa bulan sebelum Perang Dunia II berakhir, Dresden diserang ‘firebombing’ oleh pasukan AS dan Inggris. Tampak di foto: Frauenkirche (Church of Our Lady) dan memorial Martin Luther Memorial yang luluh lantak (AFP)

Biasanya event Menschenkette ini diadakan di Neumarkt, tempat di mana Frauenkirche berada. Tahun 2015 ini ada sekitar 10.000 orang ikut berpartisipasi, cukup banyak ya..!

frauen kirche

Frauenkirche adalah gereja yang hancur pada peristiwa 13 Februari dan telah dibangun kembali.

Tetapi sayangnya, hari memorial ini malah dijadikan kesempatan bagi Neonazi untuk beraksi di Dresden. Para Neonazi yang berasal dari berbagai kota di Jerman berkumpul di Dresden dan melakukan aksi demo pada hari bersejarah ini.

Neo-Nazis marching in Dresden

Setiap tanggal 13 Februari banyak sekali Polizei yang berjaga jaga di sekitar Hauptbahnhof dan Zentrum Dresden. Hal ini disebabkan demo mereka yang terkadang brutal dan anarkis. Tidak jarang bahkan Helikopter mondar mandir berjaga dari atas.

Peristiwa Marwa el sherbini

Awal saya tinggal di sini, saya sempat heran karena seringnya mendapat tatapan aneh dari orang-orang di dalam Strassenbahn. Mungkin karena saya mengenakan hijab, jadi mereka bingung. Tidak jarang juga saya mendapat pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang di jalan tentang hijab ini. Dari anak kecil, sepantaran maupun orang tua. Rada sulit untuk menjelaskannya. Jadi seringnya saya jawab karena saya menyukainya sembari senyum dan langsung pergi.

Dan kebetulan, saat kami pindah ke Dresden, saat itu adalah sekitar satu tahun setelah peristiwa tewasnya Marwa El Sherbini yang membikin gempar para Muslim di Dresden. Buat yang belum pernah mendengar, Marwa El Sherbini adalah seorang wanita Mesir dan warga Jerman yang tewas pada 1 Juli 2009 saat sidang banding di pengadilan di Dresden. Dia ditikam oleh seorang imigran Jerman etnis dari Rusia, bernama Alex Wiens, dalam kasus pidana karena melanggar hukum verbal; Wiens mengucapkan kata “teroris!!” kepada Marwa di tempat umum karena ia menggunakan hijab. Saat sidang berlangsung, suami Marwa, El-Sherbini yang hadir di persidangan ingin membantu istrinya yang saat itu hendak diserang oleh Wiens – tapi kemudian keliru ditembak oleh polisi di ruang sidang (Alhamdulillah, suaminya selamat walau sempat dalam kondisi kritis).

Kejadian ini menuai aksi protes dari kaum Muslim di Jerman

Saat meninggal, Marwa sedang mengandung 3 bulan anak keduanya, dan ditikam dihadapan anaknya yang berusia 3 tahun. Semoga Marwa mendapat tempat yang mulia di sisiNya. Amin YRA.

Terkait kejadian Marwa tersebut, saya menjadi takut ketika awal pindah ke Dresden. Takut mendapat tatapan sinis, takut mendapat perlakuan yang berbeda oleh orang setempat dan petugas imigrasi setempat dan juga takut tidak bisa berkomunikasi dengan baik. But life must go on.

Masa masa awal di Dresden dan rasisme

Dan benar saja, ada kejadian yang kurang mengenakan saya alami. Kira-kira 6 bulan setelah kepindahan kami sekeluarga ke Dresden, saya sempat mengalami pengalaman tidak menyenangkan. Saya dimaki-maki orang yang tidak saya kenal di satu Haltestelle yang berada di Zentrum Dresden. Saat itu saya sedang menunggu tram/strassenbahn dengan Adriaan yang duduk di babystroller. Kemudian tiba-tiba ada seorang pemuda menghampiri saya sambil marah-marah dan teriak- teriak sembari menunjuk ke wajah saya yang bingung. Semua orang yang berada di sana melihat ke arah saya. Yang saya pikirkan waktu itu, ini orang siapa? Nggak kenal kok marah-marah? Maklum rada lemot juga waktu itu. Ooo…mungkin dia memang rasis. Setelah itu saya langsung pergi meninggalkan orang itu. Melihat saya pergi teriakannya tambah keras dan bahkan mencoba menendang saya dari belakang. Untung Tuhan masih sayang sama saya dan Adriaan. Strassenbahn yang kami tunggu datang dan sayapun langsung naik ke Strassenbahn dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Cerita punya cerita, ternyata memang di Dresden masih ada orang yang rasis, tidak suka dengan orang asing apalagi Muslim. Beberapa teman Indonesia pun pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan selama tinggal di Dresden.

Setelah 5 tahun saya tinggal di sini, baru saya mengerti kenapa sebagian orang Dresden tidak suka dengan orang asing apalagi Muslim. Ternyata pemicunya adalah kecemburuan sosial. Bukan hanya di Indonesia saja yang ada kecemburuan sosial, di sinipun ada. Jerman itu negara demokrasi dan liberal. Pemerintahnya menerima banyak asylum (pencari suaka) yang datang dari berbagai negara konflik di dunia. Asylum ini dianggap membebani pemerintah Dresden karena biaya hidup mereka di subsidi oleh pemerintah. Kebanyakan negara konflik memang negara-negara Islam seperti Irak, Syria, Afghanistan, dll. Tapi banyak juga asylum di Dresden yang berasal dari Rusia dan negara pecahan Rusia dulunya seperti Ukraina, Kazakhstan, Turkmenistan, dll.

Yang memicu kecemburuan sosial itu adalah biaya hidup mereka diambil dari pajak orang-orang yang bekerja. Setiap orang yang bekerja pasti akan dikenakan pajak. Salah satunya ditujukan untuk para asylum ini. Intinya seperti subsidi silang. Yang mampu membiayai yang kurang mampu agar tidak terjadi kesenjangan sosial yang terlalu tinggi. Tetapi sayangnya hal ini malah membuat orang-orang Dresden yang bekerja menjadi kurang suka dan kurang respek dengan orang asing. Mereka pikir sudah capek capek bekerja, sebagian hasilnya malah dikasih ke para pengangguran alias asylum itu. Nah..masalahnya nggak semua orang asing itu asylum dan pengangguran. Orang asing yang bekerja, membayar pajak dan patuh hukum juga banyak. Orang-orang seperti saya dan keluarga juga bayar pajak, tapi toh tetap saja mendapat perlakuan rasis dan tidak menyenangkan di sini.

Pegida

Pegida adalah singkatan dari “Patriotische Europäer gegen die Islamisierung des Abandlandes”. Pegida ini adalah organisasi yang sejak bulan Desember 2014 rutin setiap minggunya mengadakan demonstrasi di Dresden. Organisasi ini protes terhadap Islamisasi yang ada di Jerman. Selain itu isu yang mereka angkat juga mengenai asylum. Biasanya mereka mengadakan demo setiap senin malam. Pesertanya bukan hanya dari Dresden saja, tapi juga dari kota-kota lain di Jerman.

Sejak ada gerakan Pegida, saya dan teman-teman Muslim lainnya lebih berhati-hati dan waspada jika keluar rumah. Kami saling bertukar informasi via WA Pengajian. Para Muslim Indonesia disini berusaha menghindari tempat-tempat yang menjadi treffpunkt atau titik temu para Pegida di Senin malam. Jika tidak perlu, kami berusaha untuk stay di rumah pada hari Senin malam.

Saya secara pribadi memang pernah takut keluar rumah dengan hijab yang saya kenakan semenjak ada gerakan Pegida ini. Tapi Alhamdulillah, sekarang kondisinya lebih membaik. Menurut berita yang saya baca ternyata 79% masyarakat Dresden menyayangkan adanya demo Pegida ini. Dari segala aspek, hal ini memberi dampak negatif untuk Dresden, khususnya aspek Pariwisata. Dresden mendapat kesan kurang welcome dengan berbagai macam ras. Jumlah turis yang akan datang ke Dresden ditakutkan akan menurun jika demo Pegida ini terus berlangsung.

Sikap Pemerintah Dresden

Sikap Pemerintah Dresden patut diacungi jempol. Semakin gencar demo Pegida, semakin gencar pula Pemerintah Dresden menyuarakan bahwa Dresden itu terbuka untuk siapa saja.

Pada 10 Januari 2015 lalu sekitar 35.000 orang Jerman berunjuk rasa menentang rasisme dan xenofobia di Dresden. *Xenophobia: intense or irrational dislike or fear of people from other countries.

Adanya demo Anti Pegida diadakan juga oleh Pemerintah dan masyarakat Dresden. Tanggal 26 Januari 2015 diadakan event besar yang bertema “Offen und Bunt, Dresden für Alle“, yang artinya dalam Bahasa Inggris “Open and Colourful, Dresden for all“.

Ribuan masyarakat Dresden turun ke jalan dan menyuarakan bahwa Dresden terbuka untuk siapa saja. Dresden adalah kota dengan penuh toleransi. Event ini cukup besar dengan dihadiri ratusan seniman dan dimeriahkan oleh performance dari musisi musisi Jerman.

Suasana saat konser “Dresden for all!”

Begitulah sekilas pengalaman yang bisa saya ceritakan tentang tinggal di kota yang masih kental dengan isu rasisme dan utamanya bagi keluarga kami sebagai Muslim. Saya dan teman-teman Muslim lainnya benar-benar harus menjadi duta Muslim yang baik di kota ini. Karena semua kelakuan kita akan mencerminkan kelakuan seluruh umat Muslim. Orang-orang di sini hanya mengenal Islam lewat media saja yang notabene selalu memberi berita negatif.  Doakan agar kondisinya semakin hari semakin membaik dan aman ya…!

——

Foto-foto terlampir adalah milik Meli dan keluarga. Foto-foto dari sumber lainnya terhubung dengan link pada setiap gambar dan beberapa keterangan gambar didapat dari Wikipedia dan situs lainnya.

Advertisements

9 thoughts on “Merantau di Dresden

  1. Lorraine says:

    Salam kenal Meli,

    Memang Xenophobia sedang atau makin marak di Eropa – Barat. Menurut saya orang lokal menyalahkan orang asing (pendatang baik itu imigran maupun pencari suaka politik) karena krisis ekonomi. Saya tinggal di Belanda dan pernah bekerja sebagai pembimbing orang asing untuk program integrasi wajib, yang saya dengar dari orang asli Belanda mereka ngga respek dengan orang asing yang tidak mau berbaur dengan masyarakat setempat. Hidup dilingkungan mereka, belanja di toko khusus bahkan lihat TV pun programa TV dari negara asal, ditangkap dengan antena satelit.

    Untuk pendatang seperti kita yang memang bekerja dan membayar pajak, kita kena getahnya karena sayangnya ada orang lokal yang generalisasi ke pendatang.

    Wah, itu pengalaman ngga enak sekali ya dimaki orang ngga dikenal ditempat umum. I feel sorry for you. Saya harap kamu dan teman-teman Indonesia Muslim yang tinggal di Dresden dan di kota-kota Jerman lainnya ngga kena imbasnya Pegida. Stay safe there.

    Like

    • meligenni says:

      Salam kenal mbak Lorraine,
      Iya bener mbak. Banyak jg org asing yg tertutup dan tidak mau berintegrasi dgn penduduk setempat. Ini malah menambah rasa kurang respek dr penduduk setempat. Mbak pernah kerja sbg pembimbing org asing utk program integrasi? Pasti pengalaman yg menarik sekali ya.

      Like

  2. fitria yuswar says:

    Seneng nya baca tulisan kak melly,,semangat ya bunda adam dan adrian,,ditunggu cerita lainny tentang gmn nyari makanan halal dan pendidikan adrian di sana,,miss u so much teman semasa kecil ku ini

    Like

  3. Mey Hofmann says:

    Hi mbak salam kenal. Kalau boleh tahu mbak tinggal di Dresden sebelah mana? Soalnya saya juga baru tinggal di Dresden ikut suami. Kalau boleh balas ya ke email saya. Danke 🙂

    Like

    • Rusmaida Hasibuan says:

      Hi Mey Hoffmann, saya jg tinggal di daerah Dresden. Tptnya di Nossen, skitar 30 menit dari Dresden. saya jg pendatang baru dan mencari teman orang Indonesia. Apakah kita bisa berkenalan?

      Like

  4. Luman haris says:

    Saya sudah diperingatkan oleh dosen saya perihal demo anti orang asing ini. Tapi tidak disangka separah ini. Mbak Meli, saya Luman dari Malang sedang melakukan studi S2 di BIOTEC TU Dresden. Sekiranya mbak Meli bersedia membantu saya memberikan beberapa informasi melalui email saya. Terima kasih

    Like

  5. Irena says:

    Waaah, keren tulisannya.. ikutan takut pas kejadian rasisnya.. terus ketika baca ulang malah bengong…

    awwww is that arie irman? Laaah sy tinggal di dorm yg sama dulu pas di enschede… salam buat arie ya bu… salah satu artikel jurnalnya jadi bacaan wajib di fmipa uni tempat sy kerja..

    Oh iya.. pemandangan indahnya bikin sy kepincut pengen ke dresden.. one day..

    Like

  6. Dian says:

    Halo Mbak Meli, salam kenal.. tulisan Mbak bagus banget plus foto-fotonya bikin saya pengen ke Dresden.. hehe

    Pengalaman rasis gak enak banget Mbak karena saya juga pernah ngalamin. Saya sommer lalu sempat ke Jerman untuk ikut course di Kassel selama sebulan. Waktu sedang kebetulan sendirian jalan dekat stasiun Frankfurt saya dilempar botol sama tuna wisma di sekitaran situ. Memang kalo kasus2 kayak gini banyak korbannya perempuan berhijab ya Mbak. Tapi itu cuma satu pengalaman gak enak aja. Alhamdulillah penduduk Kassel baik-baik. Stay safe Mbak!

    Like

  7. rini Septyana says:

    hi dear mba Meli salam kenal, sy kebetulan ada adik yg baru sekolah d dresden dan sy rencana pengen berkunjung ke sana untuk liburan. Dan membaca blog mba Meli membuat sy cukup mendapat info ttg kota dresden. Tp nampaknya ada bbrp hal yg mau saya tanyakan bisa kah kita berkontak via email. Thanks atas perhatiannya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s