Merantau di York

Zara Novita Sari– Salam! Saya Zara. Saya seorang dokter yang saat ini menjadi full-time mom. Tahun ini adalah tahun ketiga saya di York. Bukan New York yang di Amerika ya, tapi ini York atau Old York di Inggris. Merantau ke Inggris untuk kedua kalinya. Sebelumnya, saat masih lajang, saya menghabiskan satu tahun di Inggris untuk S2 (MSc in Reproductive and Developmental Medicine) di The University of Sheffield.

Kali ini saya merantau dengan status sebagai istri, mendampingi suami yang menempuh program doktoral (PhD in Electrical, Electronics, & Communication Engineering) di The University of York.

Tentang York

York adalah kota wisata andalan Inggris. Kota tua ini dikelilingi oleh dinding (York City Walls) sehingga jika ingin memasuki pusat kota kita akan melewati gerbang-gerbang kuno Ciri khasnya yang lain adalah ada beberapa jembatan cantik yang melintasi dua sungai yang membelah York yaitu River Ouse & River Foss.

Hampir setiap sudut kota kecil ini menyimpan sejarah dan keindahan, mulai dari peninggalan The Roman Empire, Viking, hingga kerajaan Inggris saat ini. Di sini terdapat York Minster (katedral terbesar di Eropa Utara), The Shambles (jalan tua yang menjadi inspirasi Dioagon Alley di Harry Potter), Clifford’s Tower, National Railway Museum, dan berbagai tempat bersejarah lainnya. 

Terdapat desa-desa kecil di sekitarnya. Kami tinggal di salah satu village, namanya Heslington, tempat dimana kampus The University of York berada. Suasananya damai, tenang, & jauh dari keramaian, cocok untuk belajar & juga sebagai tempat tinggal. Daerahnya juga masih hijau, banyak ditemukan pepohonan di sepanjang jalan. Hampir sepanjang hari bisa mendengar kicauan burung. Kalau berjalan-jalan di sekitar rumah sering bertemu tupai dan beraneka unggas. Warga di village ini juga suka berternak & bercocok tanam sehingga kami sering bertemu & menyapa petani saat melintasi “allotment” (ladang) serta melihat kuda & gerombolan sapi di jalan.

Tidak jauh dari rumah terdapat beberapa lapangan besar. Kami sering mengajak batita kami bermain di sana. Salah satunya bernama Outgang, sebuah lapangan Cricket & Football, yang di pinggirnya terdapat playground dengan wahana yang cukup lengkap. Di sana juga terdapat banyak pohon blackberry liar yang buahnya sering kami petik dan menjadi salah satu favorit anak batita saya.

Akomodasi di York dan Komunitas Pelajar Indonesia

Pada tahun pertama, kami tinggal di akomodasi khusus mahasiswa sehingga bertetangga dengan para mahasiswa dari berbagai negara termasuk dari negeri sendiri, Indonesia. Tahun ke tiga, kami pindah ke rumah yang hanya selemparan batu dari rumah sebelumnya. Bedanya, kawasan ini didominsi para warga Inggris, umumnya para lansia yang ramah. Jika bertemu kami sering saling menyapa dan kadang mengobrol. Mereka pun sangat senang mengajak bercanda balita saya. Sambutan yang baik ini menghangatkan hati perantau seperti saya.

Di sini juga ada komunitas pelajar Indonesia Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) York. Beberapa agendanya adalah pengajian bulanan, gerebek alias pertemuan berkala, dan halal bi halal. Agenda ini sangat ditunggu-tunggu karena merupakan ajang berkumpul dan bercengkrama serta menikmati sajian nikmat khas Indonesia.

Jika sedang berjalan-jalan di York City Centre dan ingin menikmati makanan halal, bisa mampir di Middle Feast yang memiliki menu shawarma yang lezat. Atau jika sedang berada di sekitar kampus The University of York, bisa memesan delivery food halal dari Chenab, makanan khas Pakistan.

Tantangan Merantau di York

Sebagai kota wisata terkenal, tidak heran jika berbagai komoditas hingga tempat tinggal di York mematok harga “turis” alias lebih mahal dari kota-kota umumnya di Inggris. Rumah satu kamar tanpa furniture lengkap (semifurnished) dipatok di atas GBP 500/bulan. Angka itu belum termasuk biaya energi (listrik/gas), internet, air, dll.

Warga York kebanyakan adalah warga lokal Inggris alias bule. Persentasi warga pendatangnya masih jauh lebih sedikit dibanding kota-kota lain. Begitupun warga muslim di sini juga tidak begitu banyak. Jarang ditemukan prayer room kalau berjalan-jalan di pusat kota. Untuk mesjid, di sini ada 2 mesjid, satu di sekitar pusat kota dan satunya lagi berukuran lebih besar berlokasi di dekat kampus The University of York.

Restoran halal di sini masih terbatas. Sehingga untuk makanan harus dimasak sendiri. Untungnya ada beberapa toko bahan makanan halal yang menyediakan berbagai daging halal, rempah-rempah Asia, bahkan kecap & saos cabe asal Indonesia.

Tempat Favorit di York

Yang menjadi tempat favorit saya dan balita saya adalah perpustakaan kota, York Explore Library & Archive, yang cukup aktif mengadakan kegiatan rutin terutama untuk anak-anak. Salah satunya adalah kegiatan “read aloud” yang diadakan setiap minggu. Perpustakaan ini juga memiliki area khusus untuk anak berisi beraneka ragam buku yang bisa dipinjam hingga 20 judul untuk satu orang anak.

Bisa dibilang York itu siap menerima turis sepanjang tahun sehingga selalu punya acara menarik setiap bulannya. Beberapa yang pernah kami ikuti adalah Viking Festival, York Ice Trail, & Science Night.

Sangking banyaknya acara yang digelar sepanjang tahun sampai-sampai kami tak bisa mengikuti semuanya. Yang sayangnya sekali kami lewatkan adalah festival balon udara “York Balloon Fiesta” & “York Residents Festival” (beberapa hari khusus yang memberikan kepada warga York agar bisa menikmati fasilitas & tempat wisata dengan harga diskon atau bahkan gratis).

Nah, kalau mamarantau berkunjung ke York & punya waktu lebih, bisa berkunjung ke Harrogate. Ini adalah kota transit yang tidak jauh dari York yang memiliki “viaduct” (jembatan tinggi) dan sebuah kastil di atas bukit dengan pemandangan yang indah.

Atau, jika ingin suasana pantai, bisa ke Filey, sebuah kawasan pinggir pantai yang tidak jauh di York. 

Pengalaman Persalinan

Pengalaman tak terlupakan selama di sini adalah saat menjalani persalinan di York Teaching Hospital. Saya melalui proses persalinan yang cukup lama dan sulit hingga berakhir dengan emergency Caesarean section. Uniknya, lokasi kamar operasinya bersebelahan dengan kamar bersalin. Berbeda dengan kamar operasi di Indonesia yang biasanya di gedung khusus atau minimal berbeda lantai dari ruang tindakan. Karena berada di teaching hospital (rumah sakit pendidikan), saya sempat ditangani oleh dokter muda yang didampingi dokter senior untuk flebotomi (pengambilan darah). Kejadian-kejadian di rumah sakit ini mengingatkan kembali pada masa-masa pendidikan dokter yang saya lalui beberapa tahun lalu di Indonesia.

Sebenarnya masih banyak kisah-kisah menarik selama di Inggris, semoga saya dapat segera merampungkan buku tentang ini. Mohon doanya ya 🙂


Cerita lebih lanjut tentang York dapat disimak di IG: @sarizaranovita. FB: Zara Novita Sari. Twitter: @sarizaranovita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s