Merantau di Oxford

Mega Aisyah Nirmala.

A mother. Currently living in Oxford, UK, with her son and husband who is pursuing his Doctoral degree at the University of Oxford. She is a full-time mother who also runs a small business back in Indonesia. She loves houseplant, enjoys travelling, reading, and baking.


Halo! Nama saya Mega Aisyah Nirmala. Saat ini, saya dan keluarga merantau di Oxford, salah satu kota di Inggris yang lokasinya sekitar satu jam perjalanan dengan kereta dari London. Dulu waktu pertama kali mendengar kata Oxford, yang terlintas dalam pikiran saya adalah kamus Oxford, hahaha. Tapi ternyata memang ada hubungannya. Kamus Oxford ini diterbitkan oleh Oxford University Press.

Kami sudah tinggal di Oxford selama kurang lebih 3.5 tahun. Kepindahan kami kesini dalam rangka menemani suami yang sedang menyelesaikan Doctoral Programme in Computer Science di University of Oxford. Di saat yang bersamaan, ia juga bekerja sebagai Research Associate di kampusnya.

Sebelum merantau ke Oxford, kami sama-sama menempuh pendidikan S2 di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Bidang suami saya adalah Teknologi Informasi sedangkan saya sendiri mengambil Master of Business Administration. Setelah pindah ke Oxford, saya menjadi ibu rumah tangga. Sembari mengurus suami dan anak, saya juga masih mengurus bisnis Airbnb yang ada di Yogyakarta, meskipun saat ini sedang berhenti sementara karena pandemi. Selain itu, saya juga punya hobi baru; houseplants dan baking. Di sela-sela kesibukan itu, kami senang jalan-jalan, mengeksplorasi tempat-tempat menarik di sekitar kami.

OXFORD: AND ANCIENT AND MAGICAL CITY

Semenarik apa sih kota Oxford? Bagi kami, sangat menarik. Kota Oxford dijuluki sebagai the Learning and Cultural City karena memang kota Oxford itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari University of Oxford. Kota Oxford adalah kota yang sangat tua. Kota ini memiliki arsitektur bangunan yang menurut saya ancient dan magical. Tidak sedikit bangunan-bangunan di kota ini maupun kampus-kampus di University of Oxford yang berusia lebih dari 500 tahun. Untuk penggemar Harry Potter, tentu saja kota ini tidak bisa dilewatkan. Universitas inilah (dan juga Cambridge) yang banyak menginspirasi JK Rowling dalam menulis novel masterpiece-nya. Jadi tidak heran kalau banyak tempat di University of Oxford yang dijadikan lokasi pengambilan gambar film Harry Potter.

Ancient and Magical Oxford.

Selain suasana kotanya yang magical, penduduknya pun sangat menyenangkan. Orang Inggris memang terkenal dengan keramah-tamahannya. Mereka mudah sekali menyapa atau sekedar melempar senyum ketika berpapasan dengan siapa saja di jalan. Saya masih ingat waktu awal-awal pindah ke Oxford, seorang kakek-kakek menawarkan diri untuk membawakan belanjaan saya yang waktu itu memang cukup banyak. Terharu sekali rasanya. Juga seorang teman yang baru saya kenal, tiba-tiba mengucapkan ‘Happy Ramadan’ karena memang saat itu sedang bulan Ramadan. Contoh lain lagi, saat berbelanja di toko/pasar, para penjualnya selalu menyapa dengan ramah misalnya dengan bertanya ‘Can I help you, love?’ manis sekali. Waktu anak kami masih bayi, banyak orang-orang di jalan yang menghampiri untuk sekedar menyapa atau memberi pujian. Hal-hal kecil ini ternyata sangat membekas di hati saya. Meskipun begitu, perlakuan yang tidak menyenangkan juga pernah kami alami. Apalagi kami termasuk kaum minoritas di sini. Tapi secara keseluruhan, kami tidak menemukan masalah yang cukup berarti dengan penduduk di sini.

Kami tinggal di apartemen yang dimiliki oleh University of Oxford. Tetangga-tetangga kami berasal dari berbagai belahan dunia. Ada juga tetangga yang sama-sama berasal dari Indonesia. Bisa dibilang kami tinggal di kawasan yang sangat multicultural. Kami mempunyai tetangga-tetangga yang menjadi teman baik sampai saat ini. Biasanya para tetangga yang sama-sama mempunyai anak, secara rutin bertemu untuk sekedar menemani anak-anak bermain bersama, pergi ke playground, masak-masak, merajut dan lain sebagainya.

Satu hal yang sangat saya sukai dari komunitas yang terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai belahan dunia adalah betapa mereka sangat suportif dan positif terhadap sesama.

Kami menyukai kota Oxford karena Oxford bukanlah kota besar, tidak terlalu sibuk, padat atau pun ramai. Kami biasa berjalan kaki atau bersepeda untuk bepergian. Setiap hari, suami saya berangkat ke kampus dengan bersepeda. Sejak anak kami sudah agak besar, kami lebih banyak bersepeda kemana-mana (tadinya lebih banyak dengan stroller). Dari rumah, pusat perbelanjaan, terminal bus, stasiun kereta, dan lain sebagainya, semua bisa dijangkau dengan jalan kaki maupun bersepeda. Momen bersepeda dengan anak menjadi momen yang sangat berharga bagi saya.

Sepeda yang kami beli dari tetangga seberang blok. Senang sekali!

TEMPAT-TEMPAT MENARIK DI OXFORD

Meskipun kota kecil, namun ada banyak hal yang bisa dijelajahi dari kota ini. Tidak sedikit teman-teman yang pernah ke sini, jatuh hati pada kota Oxford.

Setiap sudut Oxford menarik bagi kami. Ada beberapa hal yang berkesan dan tidak boleh dilewatkan saat tinggal atau mengunjungi kota Oxford. Diantaranya adalah:

  • Port Meadow. Ini adalah padang rumput yang menjadi salah satu destinasi favorit kami untuk sekedar jalan-jalan atau melihat sapi dan kuda. Banyak orang yang berolahraga atau sekedar berjalan-jalan bersama anjing peliharaan di sini. Tepat di sebelah padang rumput, terdapat sungai Thames dan dermaga kecil di mana banyak kapal-kapal bersandar. Jika musim dingin, padang rumput ini dijadikan tempat penampungan air, sehingga terlihat seperti danau yang menambah keindahan Port Meadow.
Port Meadow di musim dingin, padang rumput yang berubah menjadi danau sementara.
  • Giant Market. Pasar terbuka ini lokasinya di dekat terminal bus kota Oxford, dibuka beberapa kali dalam seminggu. Namun, khusus pasar sayur dan buah hanya ada setiap hari Rabu. Selain pedagang sayur dan buah, ada juga pedagang keju, ikan, dan kebutuhan rumah lainnya. Ada juga berbagai kios makanan dari berbagai negara. Ada setidaknya 3 kios yang menyediakan makanan halal. Biasanya setelah selesai berbelanja, meski tidak selalu, kami mampir untuk menikmati makanan di salah satu kiosnya.
  • Covered Market, Pasar ini sudah ada sejak 1 November 1774. Di dalamnya ada berbagai macam toko (baju, aksesoris, tanaman, sayuran), café dan restoran, toko barang-barang antik dan juga barbershop. Salah satu tempat favorit kami di Covered Market ini adalah kios Ben’s Cookies. Kios kecil di dalam Covered Market ini adalah cikal bakal Ben’s Cookies yang sekarang mempunyai banyak cabang baik nasional maupun internasional.
Kios Ben’s Cookies di Covered Market.
  • Kampus-kampus di University of Oxford.

Kampus-kampus di Oxford jumlahnya lebih dari 30. Salah satu kampus favorit kami adalah Christ Church College. Kampus ini bukan kampus yang tertua meskipun juga sudah berusia 500 tahun. Bangunannya megah dengan artitektur yang menawan. Kampus ini juga digunakan sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar film Harry Potter. Dining hall di beberapa kampus ini yang menginspirasi JK Rowling dalam mendeskripsikan dining hall di Hogwarts. Beruntung, sebagai mahasiswa University of Oxford, suami bisa membawa tamu-tamu untuk mengunjungi kampus-kampus ini tanpa dipungut biaya.

Dining hall di Christ Church College yang menjadi inspirasi JK Rowling dalam menggambarkan dining hall di Hogwarts.

Selain bisa membawa tamu-tamu pribadi ke kampus-kampus ini dengan gratis, student card juga berfungsi sebagai kartu diskon yang bisa digunakan di beberapa toko.

Tempat-tempat shooting Harry Potter seperti Christ Church College, New College, Divinity School di Bodleian Library menjadi tempat favorit kami, karena saya dan suami sama-sama penggemar Harry Potter. Selain Harry Potter, ada beberapa film lain yang mengambil gambar di kampus-kampus ini. Di antaranya adalah; Exeter College, lokasi shooting film Dr Strange dan Natural History Museum lokasi shooting beberapa film Marvel.

Exeter College di musim dingin.
  • City Center Oxford.

Pusat perbelanjaan ini selalu ramai pengunjung, terlebih saat libur musim panas. Ada banyak toko, restoran, café, dan lain-lain. Kita juga bisa menikmati street performer yang bergantian menghibur para pengunjung yang lewat. Biasanya toko-toko di sini buka dari pukul 9.00 – 20.00 pada hari Senin-Sabtu. Di hari  Minggu, mereka buka lebih siang dan tutup lebih awal, sekitar pukul 17.00.

  • Bodleian Library, Radcliffe Camera dan Bridge of Sight.

Kata orang, belum ke Oxford kalau belum ke ikon-ikon kota Oxford yang ini. Bodleian library, perpustakaan utama University of Oxford ini merupakan salah satu perpustakaan yang tertua di Eropa. Perpustakaan yang memiliki lebih dari 12 juta koleksi ini merupakan perpustakaan terbesar kedua setelah The British Library.

Radcliffe Camera atau yang juga dikenal sebagai The Camera (dalam Bahasa latin, camera berarti room, ruangan), adalah sebuah gedung yang di dalamnya terdapat Radcliffe Science Library. Perpustakaan ini juga merupakan perpustakaan tua ikonis yang dimiliki University of Oxford.

Oxford Centre of Islamic Studies (OCIS). Pusat Studi ini meneliti tentang Islam, dari perspektif multi-disiplin dan semua aspek budaya dan peradaban Islam. Di sini banyak diselenggarakan kuliah, seminar, dan workshop yang berkaitan dengan Islam. OCIS memiliki masjid yang dibuka setiap waktu salat dan juga digunakan untuk menyelenggarakan salat Idulfitri. Tahun lalu kami berkesempatan untuk salat Idulfitri di sini setelah sebelumnya mencicipi pengalaman salat di lapangan sekolah dan masjid-masjid lain di Oxford.

Setelah sholat Ied di Oxford Center for Islamic Studies (OCIS).
  • Museum.

Ada beberapa museum di Oxford. Menariknya adalah, semuanya gratis! Natural History Museum dan Pitt River Museum menyimpan koleksi di bidang arkeologi dan antropologi. Ashmoleon Museum of Art and Archaeology di Beaumont street, adalah salah satu museum yang menyimpan Egyptian Mummy. Sedangkan History of Science Museum adalah museum yang koleksinya berupa artefak-artefak bersejarah di bidang pengetahuan. Semua museum ini dikelola oleh University of Oxford.

Suasana di dalam Pitt River Museum.

YANG TIDAK BOLEH DILEWATKAN DI OXFORD

  • Punting.

Punting adalah kegiatan mengitari sungai dengan sebuah perahu yang disebut punt dan didayung dengan pole. Untuk membuat perahu bergerak, pole harus didorong ke arah dasar sungai. Ada beberapa kampus di University of Oxford yang memberikan fasilitas free punting untuk mahasiswanya, salah satunya kampus suami saya. Biasanya kami harus memesan punt 1-2 minggu sebelumnya.

Ada banyak penyewaan punt di Oxford. Harga sewanya berkisar antara £18-20/jam untuk satu punt yang bisa diisi sekitar 6 orang.

Punting di Sungai Cherwell, Oxford. Punter-nya lagi istirahat.
  • Afternoon Tea.

Orang Inggris terkenal sekali dengan budaya minum tehnya. Tidak ada salahnya mencoba minum teh di café-café di Oxford. Lebih asik lagi, bisa mencoba di café-café tua yang gedungnya sudah berusia ratusan tahun.

  • Pick Your Own Farm.

Kegiatan ini biasanya disediakan oleh berbagai farm di musim panas. Pengunjung bebas memetik buah sendiri. Buah-buahan seperti apel, pear, blackberry, strawberry, dan raspberry bisa dipetik sendiri kemudian ditimbang dan dibayar.

  • Oxford Open Door.

Ini adalah event tahunan di kota Oxford. Ada banyak tempat wisata, institusi, dan kampus yang buka dan membebaskan biaya masuk alias, gratis! Event ini biasanya diselenggarakan beberapa hari di bulan September. Oxford Open Door adalah salah satu waktu terbaik untuk mengunjungi kota Oxford.

  • St Giles Fair.

Ini juga merupakan event tahunan di Oxford. Event ini bisa dibilang pasar rakyatnya kota Oxford. Ada banyak wahana bermain dan makanan tradisional khas pasar rakyat dijual di fair ini. Fair ini diselenggarakan 2 hari di bulan September.

St Giles Fair, nemenin anak main komedi putar karena belum bisa sendirian.

OXFORD, KOTA KECIL YANG MAHAL

Hidup di kota Oxford termasuk mahal dibandingkan dengan kota-kota lain di Inggris. Tidak heran jika jumlah beasiswa studi di Oxford disamakan dengan beasiswa studi kota London. Kebetulan, kami tinggal di salah satu akomodasi yang dimiliki University of Oxford. Meskipun harga akomodasi kampus lebih murah dibanding di luar kampus, tapi tetap saja mahal dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Inggris. Harga sewa flat 2 kamar yang kami tempati saat ini adalah £1158/bulan atau sekitar 23 juta rupiah dan sebentar lagi akan naik menjadi sekitar £1.200 karena setiap tahun harga sewanya naik 5%.

Oxford tidak selalu turun salju tiap tahun. Bahkan sebelum kami ke Oxford, tidak ada salju selama 4 tahun. Kami beruntung, di tahun pertama di Oxford, salju turun. Ini di taman di depan apartemen kami.

Sebagai keluarga muslim, kami membutuhkan bahan makanan halal (daging, ayam, dan semacamnya) yang tidak selalu tersedia di setiap toko atau supermarket. Tapi kami beruntung masih bisa belanja bahan makanan halal online atau pergi ke kawasan muslim Cowley Road yang jaraknya pun tidak terlalu jauh. Di sepanjang jalan itu, berderet toko-toko dan restoran halal. Ini merupakan salah satu tempat favorit kami untuk berbelanja bahan makanan halal atau sekedar makan-makan di akhir pekan. Untuk makan di restoran biasanya kami berdua menghabiskan £25-30 atau sekitar lima sampai enam ratus ribu rupiah sekali makan. Kadang-kadang kalau sedang tidak bisa memasak, kami membeli kebab untuk lauk berdua. Lumayan, harganya cukup terjangkau, sekitar  pada jenis-jenis kebab £7-10.

Salah satu kegiatan di akhir pekan, ngeteh atau jajan di cafe di pusat kota.

Selain itu, ada katering yang menjual masakan Indonesia. Biasanya dijual sekitar £6-7 per porsi sudah termasuk nasi dan lauknya. Walaupun demikian, harga makanan-makanan tersebut memang jauh dibandingkan dengan harga mentahnya. Harga daging mentah sekitar £9/kg, ayam £3/kg, beras £6-8/kg, dan telur £1-2/lusin. Itulah mengapa kita memilih untuk memasak setiap hari.

Untuk biaya potong rambut juga terhitung mahal. Suami saya biasanya menghabiskan £12 (240 ribu rupiah) di barbershop termurah. Nonton di bioskop dihargai £5 untuk mahasiswa dan sekitar £12 untuk dewasa, itupun harga khusus di hari kerja. Berenang untuk 2 dewasa dan 1 balita sekitar £9-10.

Hanya ada bus dan taxi sebagai moda transportasi umum di dalam kota Oxford dengan tarif yang cukup mahal. Tiket bus misalnya, jarak terdekat dimulai dari £2 sekali jalan. Sedangkan taxi, tarif minimalnya sekitar £5.5.

KOMUNITAS WARGA INDONESIA

Biasanya, warga Indonesia yang tinggal di Oxford berkumpul saat PPI (Perkumpulan Pelajar Indonesia) mengadakan acara. Selain PPI, ada juga pengajian At-Taqwa, yang biasanya dilaksanakan satu bulan sekali. Selebihnya, lebih banyak pertemuan informal sesama ibu-ibu saja. Kadang berkumpul karena hobi yang sama, atau hanya sekedar menemani anak-anak kami bermain.

Main salju bareng teman-teman Indonesia yang tinggal satu komplek.

MELAHIRKAN DAN MEMBESARKAN ANAK

Anak pertama kami lahir di tahun pertama kami tinggal di Oxford. Bisa dibilang, tahun pertama itu adalah masa terberat sepanjang sejarah hidup kami. Kenyataan bahwa ini bukan pertama kalinya bagi saya hidup di luar negeri tidak juga membuat keadaan awal tinggal di sini menjadi lebih mudah. Mungkin, karena dulu saya masih sebagai mahasiswa single. Sekarang sebagai Ibu degan suami dan anak yang harus diurus, ternyata pengalamannya sangat jauh berbeda.

Rasa berat itu kami rasakan berdua. Suami mempunyai peran baru sebagai kepala keluarga, seorang ayah, dan masih harus beradaptasi dengan budaya di Inggris, ditambah pressure yang tinggi di awal masa pendidikannya di kampus. Sedangkan saya sebagai first-time-mom tanpa didampingi siapapun kecuali suami, cukup membuat saya stress dan kewalahan.

Kami beruntung, ada keluarga yang menemani hingga sekitar 2 minggu paska persalinan. Selain itu, semua tenaga medis, dokter, bidan, suster, health visitor, memberikan dukungan baik sebelum, saat, dan paska persalinan. Beruntungnya lagi, kami tidak lagi harus membayar biaya persalinan maupun segala tindakan operasi. Tidak ada biaya konsultasi dengan dokter, biaya rumah sakit, biaya obat, dan lain sebagainya. Bahkan sejak lahir sampai anak kami berusia satu tahun, semua keperluan obat, program keluarga berencana, juga termasuk konsultasi ke dokter gigi bisa didapatkan secara gratis. Semuanya itu sudah ditanggung oleh asuransi yang kami bayarkan saat membuat visa.

Dukungan pemerintah sangat kami rasakan. Terlebih ketika paska persalinan, petugas kesehatan dan bidan secara rutin datang ke rumah kami untuk memeriksa kesehatan (baik fisik maupun mental) Ibu dan bayi.

Seiring berjalannya waktu, keadaan mulai membaik. Suami sudah bisa beradaptasi dengan pendidikannya, juga bisa bekerja dengan jam yang mulai teratur dan pembagian pekerjaan rumah tangga yang jelas.  Kami mendiskusikan pembagian tugas ini dengan jelas, sehingga jadwal menjaga anak, memasak, cuci piring, cuci baju, buang sampah, membersihkan rumah sampai jadwal me-time bisa terpolakan dengan baik dan kehidupan baik di kampus dan di rumah bisa berjalan dengan seimbang.

Tidak lupa juga kami menyisipkan waktu bersantai di setiap akhir pekan. Kadang kami pergi ke luar kota saat liburan atau long weekend.

Berlibur ke Branksome Beach.

Sejak anak kami lahir, ada banyak kegiatan yang saya ikuti, dari kelas memijat bayi, sekolah musik untuk balita, dan lain sebagainya. Ada banyak klub bayi dan anak (biasanya disebut Stay and Play di sini) di berbagai tempat di Oxford. Ada yang di sekolah, di gedung serbaguna, di tempat peribadatan, dan lain-lain. Rata-rata Stay and Play tersebut tidak dipungut biaya. Kalaupun dipungut biaya, biayanya angat murah hanya sekitar £1-2 untuk pengganti snakcs dan minum kita selama di sana. Taman dan playground pun banyak dan mudah sekali dijumpai.

Tahun ini, anak kami sudah berusia tiga tahun. Di Inggris, anak yang sudah menginjak usia tiga tahun sudah bisa mendaftar Nursery, dengan waktu bermain dan belajar 15 jam dalam satu minggu, Senin sampai Jumat, 3 jam per hari. Biayanya gratis, ditanggung oleh pemerintah. Sayang sekali, anak kami belum bisa memulai kelasnya di masa pandemi ini karena semua sekolah masih diliburkan.

Selama kurang lebih 3.5 tahun di Oxford, ada banyak pengalaman yang kami lewati bersama. Merantau di luar negeri tentu tidak mudah, tapi kami percaya bahwa semua kesulitan akan bisa dihadapi bersama. Kami hanya butuh waktu untuk beradaptasi. Kami pun percaya, perjuangan kami selama bertahun-tahun di tanah rantau ini banyak membawa perubahan dalam hidup dan diri kami.

“Once the storm is over you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, in fact, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm you won’t be the same person who walked in. That’s what this storm’s all about.”

Haruki Murakami-

Last but not least, selamat merantau!

Mega bisa dijumpai secara virtual di Instagram (@mega_ai) dan Youtube channel (Mega Aisyah).

Foto-foto pada laman ini adalah karya Mega dan beberapa di antaranya terhubung langsung dengan link asli dari image yang digunakan.