Pengalaman Hamil dan Melahirkan di Swedia (Dan TIPS menyiapkan MPASI)

10919239_486791268155126_1629298947_nDeni Yulia Mardvall – A Balinese who is currently living in Stockholm, Sweden with lovely husband and a daughter. A dream catcher who takes one step at the times for every challenge in life.

PENGALAMAN HAMIL DAN MELAHIRKAN DI SWEDIA

Saya beruntung bisa mendapatkan pelayanan yang serba gratis tanpa biaya selama kehamilan. Proses kehamilan saya berjalan lancar di mana pengawasan diberikan oleh bidan. Di Swedia, Stockholm pada khususnya, begitu tahu kita hamil, kita diharapkan untuk mendaftarkan diri ke klinik bersalin yang ada di daerah kita, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mendaftarkan diri ke daerah selain tempat tinggal kita. Kita bisa memilih mana yang menurut kita terbaik dan nyaman untuk melakukan pemeriksaan.

3

D-day minus 1

Seperti halnya saya, ketika saya tahu pertama kali saya hamil, saya tidak bisa mendaftarkan diri di klinik yang berada paling dekat dengan tempat tinggal karena klinik dan rumah sakit terdekat sudah penuh dan tidak menerima pendaftaran lagi. Maka dari itu, saya mendaftarkan diri di kecamatan Stockholm, dimana saya memilih klinik ibu dan anak yang dikelola secara private namun bekerjasama dengan pemerintah, jadi siapapun yang mendaftarkan diri di sana akan mendapatkan fasilitas yang sama seperti ibu-ibu lain yang mendaftarkan diri di klinik atau rumah sakit milik pemerintah. Nama klinik dimana saya melakukan pemeriksaan adalah Mama Mia (Mama Mia – Midwives – Karlavägen 58-60, Östermalm, Stockholm)

PERBEDAANNYA DENGAN INDONESIA

Banyak hal yang berbeda selama proses kehamilan dan melahirkan antara Indonesia dan Swedia. Saya akan mencoba memberikan sedikit contoh menurut pengalaman saya pribadi dan semoga saja saya bisa menyebutkan semua tanpa ada yang tertinggal.

Seluruh Biaya Selama Proses Kehamilan dan Melahirkan Ditanggung oleh Pemerintah. Baik itu proses kehamilan normal ataupun jika ada masalah dan memerlukan perlakuan atau pemeriksaa khusus. Kita hanya membayar biaya administrasi dan biaya kamar saat suami menemani kita di rumah sakit setelah melahirkan yang jumlahnya sangat kecil. Hal ini tentunya berbeda dengan di Indonesia.

Kelahiran Normal Ditangani oleh Bidan. Di Swedia, selama proses kehamilan dan melahirkan, saya ditangani oleh bidan karena kehamilan saya normal. Dokter hanya diperlukan jika ada masalah dengan kehamilan atau dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut saat proses kehamilan. Proses melahirkan pun sama, dokter hanya dibutuhkan saat dibutuhkan atau ada masalah yang memerlukan tenaga medis yang lebih ahli. Contohnya saat pemberian epidural, maka dokter anastesi yang akan memasang alat epidural tersebut. Berbeda dengan Indonesia dimana sangat jarang proses kehamilan ditangani oleh bidan dan lebih banyak dokter yang memegang peranan selama proses kehamilan dan melahirkan.

Selama Proses Kehamilan hanya Diberikan Folic Acid dan Pil Omega 3. Dalam hal ini, saya meminum omega 3 karena selama proses kehamilan saya tidak bisa makan ikan sama sekali, setiap mencium ikan dalam bentuk apapun baik itu mentah dan sudah dimasak, saya akan mual yang sering diakhiri dengan muntah yang berkepanjangan sampai bau ikan tersebut hilang. Maka dari itu saya dianjurkan untuk meminum omega 3 untuk memberikan asupan gizi cukup buat janin di dalam kandungan. Namun jika bisa memakan ikan, cukup memakan folic acid saja. Ini juga berbeda jika dibandingkan dengan di Indonesia. Saat saya hamil 4 bulan, saya pulang liburan ke Bali dan setelah terbang jarak jauh saya melakukan kontrol ke salah satu dokter di Denpasar untuk USG. Sempat bertukar informasi dengan dokter tersebut dimana dokter tersebut sangat kaget setelah tahu bahwa saya hanya mengkonsumsi Folic Acid dan Omega 3 saja karena menurut dokter tersebut, ibu hamil yang melakukan pemeriksaan di Bali, akan diberikan setidaknya minimal 5 pil yang harus diminum, antara lain folic acid, kalsium dll. Hal ini juga yang saya lihat berbeda dengan yang ada di Swedia. Karena di Swedia, bidan akan melakukan pemeriksaan yang teliti sebelum menganjurkan ibu hamil untuk meminum asupan selain folic acid. Jadi pemberian pil walaupun itu hanya sekedar vitamin atau zat besi sekalipun itu tidak bisa sembarangan dan harus sesuai dengan kebutuhan.

Jatah untuk melakukan USG hanya 3 kali untuk Kehamilan Normal. USG juga adalah salah satu yang amat sangat berbeda antara Swedia dan Indonesia. Di Swedia, jatah untuk melakukan USG hanya diberikan 3 kali untuk kehamilan normal. Pertama saat kita melakukan CUB test ketika usia kehamilan 16 minggu, di mana tes ini pun tidak diharuskan. Kita bisa memilih untuk melakukannya atau tidak. CUB test ini gunanya untuk melihat apakah ada kelainan di janin seperti menderita down syndrome, dan lain-lain. USG kedua, saat kehamilan sudah berjalan 22 minggu di mana bidan akan menanyakan apakah kita ingin tahu jenis kelamin janin atau tidak (dengan catatan bidan bisa melihat jelas dan sang janin dalam posisi yang pas untuk melihat jenis kelamin tersebut). Ketiga adalah saat bayi sudah melewati due date yang biasanya akan diberikan pada minggu ke 41. Selebihnya jika kita ingin melakukan USG, kita harus membayar sendiri untuk kehamilan normal karena dianggap tidak perlu. Sedangkan di Indonesia, kehamilan normal pun yang namanya USG tersebut dilakukan sering dan seperti yang diceritakan salah satu kakak saya yang melakukan USG setiap kali melakukan pemeriksaan. USG akut bisa dilakukan jika diperlukan, seperti saat sudah melewati perkiraan tanggal melahirkan maksimum 2 minggu, maka diperlukan USG untuk melihat apakah janin di dalam perut dalam keadaan baik, begitu juga plasenta dan air ketuban.

afp-midwife

Midwife Sofie Laaftman checks Christina Singelman’s pregnancy progress at Mama Mia, a pregnancy care clinic in Stockholm, Sweden. According to the organization Save the Children, Sweden is the second-best  country in the world to become a mother, behind Finland.  Picture via nydailynews.com.

Kursus Melahirkan secara Cuma-Cuma. Di Swedia, kami mendapatkan fasilitas cuma-cuma untuk ikut kursus melahirkan di mana dibagikan informasi bagaimana menghadapi kontraksi, apa saja yang perlu disiapkan, pertolongan apa saja yang bisa didapatkan di rumah sakit yang nantinya bisa digunakan jika diperlukan dan masih banyak informasi lain seputar proses melahirkan. Kursus ini tidak hanya ditujukan untuk ibu hamil, tetapi juga ditujukan kepada para pasangan mereka karena dalam kursus tersebut diberikan juga informasi kepada para pasangan bagaimana menghadapi atau memberikan pertolongan ketika kontraksi sudah terjadi. Jadi baik ibu hamil dan pasangannya tidak panik ketika kontraksi sudah dirasakan. Sepengetahuan saya, belum ada kursus seperti ini diberikan di Indonesia. Ada kemungkinan saya kurang informasi mengenai hal ini karena selama saya berkomunikasi dengan teman atau keluarga yang sedang hamil atau baru saja melahirkan, mereka tidak pernah mendengar tentang fasilitas ini di Indonesia.

PEMERIKSAAN RUTIN

Saat melakukan pemeriksaan rutin dengan bidan, selalu dilakukan pengecekan detak jantung. Beberapa kali dilakukan pengetesan darah untuk melihat kadar zat besi yang ada di dalam tubuh dan juga kadar gula. Puji Tuhan selama kehamilan kadar zat besi saya bisa dibilang sangat mencukupi sehingga tidak usah meminum zat besi tambahan. Begitu juga kadar gula yang normal sehingga tidak pernah menjadi masalah selama kehamilan berlangsung. Saat bertemu bidan, kami biasanya berdiskusi tentang apa saja kegiatan yang dilakukan, seperti dianjurkan tetap melakukan kegiatan olahraga ringan seperti jalan kaki. Selain itu, ada juga diskusi tentang asupan makanan yang bagus untuk pertumbuhan janin di dalam perut. Pengalaman saya dengan bidan yang saya temui bisa dikatakan sangat memuaskan karena beliau bisa menjawab semua pertanyaan saya tentang segala macam topik terkait kehamilan.

Selanjutnya ketika sudah mendekati perkiraan tanggal melahirkan, kita diberikan informasi tentang surat-surat apa saja yang diperlukan. Dianjurkan untuk mengikuti kursus mengenai informasi tentang proses melahirkan dan menurut pengalaman saya, bidan saya sendiri yang mendaftarkan saya dan suami, jadi kami hanya tinggal datang saja ke kursus yang sudah dipilih waktu dan tanggalnya. Namun dalam kasus beberapa teman yang pergi ke bidan yang lain, mereka harus mendaftar sendiri ke rumah sakit pemerintah yang menyediakan kursus gratis proses melahirkan ini.

the-girl-who-always-brings-rainbow_5

Baby A – the girl who always brings rainbow

MEMPERSIAPKAN MPASI SI BUAH HATI

Sejak hamil Agnes tahun 2013, saya sudah sering mencari-cari informasi tentang cara mengurus anak terutama saat mereka bayi. Informasi ini biasanya saya dapatkan dengan cara bertanya pada teman di Stockholm yang sudah memiliki anak, lewat website-website, mengikuti event-event ibu dan anak yang diadakan oleh beberapa organisasi, browsing di Instagram atau dengan bertanya pada bidan yang saya temui selama masa kehamilan berlangsung.

Untuk makanan Agnes, jujur saya berusaha sebaik mungkin memberikan yang menurut saya sehat seperti membuat makanan sendiri saat Agnes mulai makan makanan pendamping ASI. Kebetulan anak saya juga tidak begitu suka sama makanan siap saji yang bisa dibeli di beberapa supermarket.

beberapa-buah-dari-banyak-buah-buahan-yang-diuji-satu-persatu-selama-3-hari-berturut-turut-untuk-melihat-apakah-ada-reaksi-alergi-atau-tidak_1

Beberapa buah dari banyak buah-buahan yang diuji satu persatu selama 3 hari berturut-turut untuk melihat apakah ada reaksi alergi atau tidak

beberapa-sayur-dari-banyak-sayuran-yang-diuji-satu-persatu-selama-3-hari-berturut-turut-untuk-melihat-apakah-ada-reaksi-alergi-atau-tidak_1

Beberapa sayur dari banyak sayuran yang diuji satu persatu selama 3 hari berturut-turut untuk melihat apakah ada reaksi alergi atau tidak

 Menyiapkan MPASI sebenarnya sangat mudah menurut saya, hanya bermodalkan hand mixer atau blender atau food processor atau saringan biasa, kita sudah bisa menyiapkan MPASI buat anak untuk pertama kali. Saya mengenalkan MPASI pada Agnes pada saat dia berumur 5 bulan dan di Swedia dianjurkan untuk MPASI pertama adalah sayuran dasar yang berupa puree kentang, kacang polong, parsnips, wortel dan makanan ini biasanya diberikan hanya 1 sendok the per hari selama 3 hari berturut-turut untuk melihat reaksi apakah si anak memiliki alergi atau tidak. Setelah itu baru ditingkatkan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan si anak.

cara-memanaskan-makanan-a-alat-lylypot-ini-ditaruh-di-atas-panci-berisi-air-hangat-untuk-mencairkan-jadi-tidak-memakai-microwave

Cara memanaskan makanan A, alat lylypot ini ditaruh di atas panci berisi air hangat, untuk mencairkan, jadi tidak memakai microwave

puree-buah-dan-sayur-yang-sudah-dibekukan-dengan-menggunakan-cetakan-ice-cube-dibuat-seperti-ini-untuk-memudahkan-porsi-dan-tidak-membuat-baru-setiap-harinya-stock-makanan-dibuat-seminggu-sekali

Puree buah dan sayur yang sudah dibekukan dengan menggunakan cetakan ice cube, dibuat seperti ini untuk memudahkan porsi dan tidak membuat baru setiap harinya. Stock makanan dibuat seminggu sekali

porsi-makan-a-setelah-lolos-uji-coba-alergi-untuk-semua-sayuran

Porsi makan A setelah lolos uji coba alergi untuk semua sayuran

Agnes saya berikan MPASI yang berupa sayur mayur terlebih dahulu karena untuk menghindari dia ketagihan dengan rasa manis yang terdapat pada buah-buahan walaupun bisa dibilang wortel pun memiliki rasa yang lumayan manis. Saya memperkenalkan berbagai macam sayur mayur sedini mungkin pada Agnes agar nantinya kalau dia sudah besar dia sudah mengenal rasa sayur mayur tersebut dan tidak susah untuk makan. Cara saya sangat sederhana untuk menyiapkan MPASI buat anak kami.

Semoga membantu ya tips dan pengalaman-pengalaman saya..!


Written and taken by Deni Mardval

http://www.demaodyssey.com

Content editor: Mita Rangkuti

Advertisements

Merantau di Heidelberg, Jerman

foto-keluargaTheresia Rajaguguk has been living in Germany for over than a decade. She works as a Finance expert and lives with her husband and two children.  She loves gardening, decorating and playing volleyball!

 Merantau di Heidelberg

Saya, suami saya, Steve, dan kedua anak kami Eleora (4,5 tahun) dan Eliott (2 tahun) tinggal di Heidelberg, Jerman. Heidelberg merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jerman. Kotanya cantik, dilintasi sungai Neckar, dan ada kastil yang sebagiannya sudah runtuh. Heidelberg juga terkenal sebagai kota universitas. Universitas Heidelberg merupakan universitas tertua di Jerman.

germany-heidelberg-university

Heidelberg University

Selain itu, ilmu kedokteran di Heidelberg cukup ternama, sampai-sampai pusat riset kanker di Eropa didirikan di Heidelberg. Ditambah juga dengan banyaknya perusahaan nasional maupun internasional yang ternama di sekitar Heidelberg membuat komposisi masyarakat di kota Heidelberg menjadi sangat beragam.

germany-heidelberg-hauptstrasse-altstadt

Hauptstrasse and the Altstadt (Old Town)

Walaupun disibukan oleh pekerjaan, saya berusaha menyediakan waktu yang cukup untuk suami dan anak-anak. Hari Sabtu kami usahakan selalu bersama, jadi kalau ada undangan dari teman, biasanya kami datang sekeluarga. Hari Minggu adalah hari gereja buat kami. Pagi dan sore hari kami ikut kebaktian di gereja, siangnya sering diisi makan siang bersama teman gereja. Gereja kami, Gereja Bible Baptist ini telah berdiri sejak 20 tahun yang lalu, dipimpin oleh misionar dari Amerika.
Semenjak tinggal di Jerman, hobi saya berubah. Saya jadi suka berkegiatan di luar seperti berkebun, jalan-jalan di hutan, dan barbeque. Seperti kebanyakan ibu-ibu yang tinggal di luar negeri, tanpa disadari saya juga jadi hobi masak, apalagi masakan Indonesia.
hasil-berkebun

Hasil kebun kami.

kebun

Sebagian dari tanaman di kebun.

Saya lebih suka musim dingin daripada musim panas “Es gibt kein schlechtes Wetter, es gibt nur falsche Kleidung!“ Pernyataan ini benar sekali menurut saya, terutama untuk Jerman yang lebih banyak dinginnya daripada panasnya. Kalau kedinginan, saya bisa pakai baju yang tebal dan berlapis-lapis. Kalau musim panas, mau pakai baju setipis apapun, tetap saja panas. Kalau sudah panas sekali, saya tidur di basement. Anak-anak juga berpindah main di basement. Karena orang Jerman sangat menghargai environment, mereka tidak suka pakai AC.

58389f0c39ad5d1cd94fe19ff573a0ab

During winter in Heidelberg

Awal Hidup di Jerman

Tahun 2003 saya datang ke Jerman, tinggal di kota Darmstadt, dengan tujuan melanjutkan kuliah master sebagai bekal saya untuk pulang ke Indonesia dan menjadi dosen, cita-cita saya saat itu. Saya lulusan teknik sipil dari Universitas Katolik Parahyangan dan ekonomi dari Universitas Padjadjaran Bandung. Jerman merupakan pilihan saya karena biaya kuliah di Jerman bisa dibilang hampir gratis. Kenapa hampir gratis? Karena saya hanya membayar biaya administrasi yang sudah termasuk tiket transportasi umum yang per semester-nya tidak sampai 100 EUR.

Tahun 2003 saya memulai kuliah master di bidang bisnis dan administrasi di Hochschule Anhalt, Jerman. Ketika saya lulus di tahun 2005, perekonomian Jerman dan negara Uni Eropa sedang tidak baik. Susah sekali saat itu mendapatkan pekerjaan. Karena saya masih ingin tinggal di Jerman, saya melanjutkan kuliah master di Universität Konstanz. Kira-kira setengah tahun sebelum lulus, saya kerja praktek di SAP dan sejak saat itu sampai sekarang, saya bekerja di perusahaan yang sama.

ngerasain-tinggal-di-4-kota-di-jerman

Merasakan hidup di 4 kota di Jerman.

 

 Ibu Bekerja di Jerman

Suami saya dan saya bekerja di perusahaan yang sama, SAP SE. SAP merupakan perusahaan internasional yang bergerak di bidang software. Karena itu, walaupun kami bisa berbahasa Jerman, kami lebih sering berbahasa Inggris di kantor. Saya kerja fulltime di bidang finance. Pekerjaan saya tidak mengharuskan saya bekerja dari jam 8 sampai 5 sore karena role-nya global, jadi saya berkomunikasi dengan orang-orang di kantor lokal SAP mulai dari Australia sampai dengan Brazil. Saat ini saya bertanggung jawab di bidang finance untuk salah satu cloud solution yang SAP tawarkan, namanya SAP ByDesign. Mulai bulan September saya akan pindah ke departemen lain. Kali ini saya akan pegang solusi Hana Enterprice Cloud (HEC) dan S/4 HANA Cloud.

SAP-Zentrale 16zu9

SAP HQ di Walldorf, ca. 15 km dari Heidelberg

Waktu kerja saya cukup fleksibel yang bisa mulai dari jam 7 pagi dan bisa juga berakhir di tengah malam. Tetapi jadwal kerja ini saya yang buat sesuai dengan kegiatan pribadi saya juga di hari itu. Saya sangat suka dengan pekerjaan saya dan orang-orang di lingkungan kerja saya. Saya banyak bekerja dengan lelaki dan mereka tidak menganggap remeh saya. Juga saat saya cuti melahirkan (10,5 bulan untuk anak pertama dan 7,5 bulan untuk anak kedua), kantor sangat mendukungnya. Saat saya kembali bekerja, bos saya memberikan tugas yang menantang walaupun dia tau saya punya dua anak kecil. Bos saya, lelaki, bilang banyak kejadian kalau ibu rumah tangga lebih efisien dalam bekerja karena mereka harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum jemput anak, jadi tidak ada istilah santai dulu deh, bisa dikerjain nanti. Ini dibuktikan dengan saat bos saya memberikan spot award dua kali kepada saya di tahun saya kembali dari parental leave.

Oh iya, di Jerman setiap ibu atau bapak yang baru saja mempunyai anak boleh mengambil cuti sampai 3 tahun. Ibu wajb cuti 6 minggu sebelum tanggal kelahiran anak dan 8 minggu sesudahnya dengan gaji dibayar penuh. Setelah 8 minggu sampai dengan anak berumur 14 bulan, ibu dan/atau bapak boleh mengambil cuti dari kantor dan gajinya sebesar 67% dari gaji bersih, maksimal 1800 EUR akan dibayarkan oleh negara. Tetapi kalau hanya ibu atau bapaknya saja yang ambil cuti, hanya sampai usia anak 12 bulan akan dibayarkan oleh negara. Sedangkan kalau ibu dan bapak mengambil cuti di waktu yang bersamaan, uang yang diberikan oleh negara tidak sampai umur anak 14 bulan, tetapi uang itu akan dibayarkan dengan total jumlah 14 kali. Selain itu, anak juga mendapatkan uang dari negara sebesar 190 EUR sampai anak mendapatkan pekerjaan atau maksimal usia anak 25 tahun.

heidelberg_germany_10082005_main_street

Heidelberg Main Street

Waktu melahirkan anak pertama, saya ambil total cuti 10,5 bulan dan suami ambil cuti 6 bulan. Untuk anak yang kedua, saya ambil total cuti 8,5 bulan dan suami ambil cuti 8 bulan. Saat anak kami berumur 14 bulan, mereka mulai kami titipkan di daycare yang juga ditunjang oleh kantor. Lumayan, setiap bulannya kami membayar lebih murah karena subsidi dari kantor. Biaya daycare di Jerman termasuk jauh lebih murah daripada di US atau UK karena negara memberikan tunjangan yang lumayan besar ke daycare yang dikelola olah institusi milik negara atau oleh gereja. Tetapi biaya bulanan TK/daycare yang dapat tunjangan dari pemerintah biasanya bergantung dari penghasilan kotor keluarga. Semakin tinggi penghasilan, semakin besar biaya yg dibayarkan ke TK/Daycare. Kalau Private TK/Daycare menetapkan biaya yang tetap, tanpa mempertimbangkan faktor keuangan. Sedangkan biaya sekolah dari SD hingga kuliah itu gratis. Kecuali kalau sekolah swasta/private yah, biayanya ditetapkan oleh insitusi nya.

Dibawah ini table biaya TK di Heidelberg. Kalau Daycare, biayanya sekitar 2 kali lipat deh untuk insitusi yang sama.

Anak pertama kami sudah masuk TK yang tidak jauh dari rumah kami. Anak kedua kami masuk di Daycare yang letaknya di sebelah gedung kantor saya. Jadi kegiatan kami di pagi hari dimulai dengan sarapan bersama, mengantar anak pertama ke TK, lalu pergi ke kantor dan menurunkan anak kedua di daycare. Sorenya kami jemput anak kedua, lalu jemput anak pertama, dan pulang sama-sama ke rumah.

Tapi saat summer holiday seperti saat ini, TK dan daycare juga ikutan tutup selama 3 minggu. Repotnya, karena TK dan daycarenya bukan di institusi yang sama, jadwal tutup mereka juga sedikit berbeda. Libur mereka cuma overlapped selama 1 minggu. Jadi selama 5 minggu kami harus memikirkan bagaimana mengatur pekerjaan kantor dan mengurus anak. Kadang-kadang anak ikut ke kantor, jadi saya tidak perlu masak makan siang karena kami sekeluarga bisa makan di kantin. Ada beberapa ruangan kantor yang dijadikan ruangan kerja untuk orang tua yang membawa anaknya. Jadi orang tua bisa bekerja dan anak-anak main bersama.

Nanti kalau anak-anak saya sudah lebih besar, kami bisa mendaftarkan anak kami ke program summer holiday yang ditawarkan oleh pemerintah kota. Tergantung dari umur anak, ada program liburan yang menginap tetapi lebih banyak lagi yang dilakukan setiap hari dari pagi sampai sore, jadi anak-anak tidak perlu menginap. Programnya seperti belajar bagaimana bekerja di kebun binatang, program latihan olah raga seperti basket, renang, sepak bola, dll, program membaca di perpustakaan, program seni, dan masih banyak lagi. Biaya yang dikenakan juga tidak terlalu banyak, jadi tidak membebankan orang tua.

Sebagai pegawai di Jerman, kami dapat libur 30 hari kerja setahunnya. Di SAP, liburan yang tidak terpakai di tahun sebelumnya, bisa juga dibawa ke tahun-tahun berikutnya. Jadi saya dan suami sudah menabung libur yang bisa kami pakai kalau anak-anak sudah masuk sekolah dasar. Karena liburan summer di sekolah dasar bisa sampai dua bulan lamanya. Orang tua tanpa kakek dan nenek seperti kami ini diwajibkan kreatif deh kalau sudah punya anak di usia sekolah karena total liburan anak sekolah lebih sedikit daripada libur orang bekerja.

schloss-heidelberg-famous-castle-in-germany

Schloss Heidelberg, one of the famous castle in Germany

Ibu merantau IRT vs Ibu bekerja di Jerman

Terus terang saya tidak bisa membandingkan antarai IRT dan ibu yang bekerja di luar rumah karena saya selalu bekerja di luar rumah bahkan sebelum menikah. Tetapi kalau saya ingat-ingat waktu saya cuti melahirkan, saya jadi punya banyak waktu untuk ikutan komunitas ibu-ibu di Heidelberg. Waktu cuti melahirkan anak pertama, saya ikut menjadi group leader di komunitas ibu-ibu namanya MOPS (Mother of Preschoolers) Heidelberg. Waktu cuti anak kedua, saya ikutan lagi. Ada 2 groups MOPS di Heidelberg: satu yang pakai Bahasa Inggris, satunya lagi Bahasa Jerman. Setiap tahun tema yang dibahas berbeda-beda. Saya juga banyak belajar tentang kerajinan tangan di grup MOPS ini. Ada mentor mama, mama yang sudah senior, yang membimbing kita dan “memanjakan” kita. Contohnya: sewaktu saya pulang dari RS setelah melahirkan, selama 4 minggu, teman-teman dari MOPS membawakan makanan untuk keluarga saya seminggu 2 kali. Teman-teman gereja membawakan makanan juga seminggu dua kali. Jadi dalam sebulan pertama setelah melahirkan, saya tidak perlu memasak.

mops_kerajinan-tangan_2

mops_kerajinan-tangan

Hasil kerajinan tangan MOPS

Enaknya ikut MOPS, saya jadi kenal dengan ibu-ibu yang mempunya anak bayi. Kami banyak meluangkan waktu bersama, berdiskusi, dan belajar bagaimana menjadi ibu di Jerman. Sering kami bertemu di playground. Oh iya, playground bisa ditemukan di setiap sudut perumahan di Jerman. Pemerintah Jerman sangat mengutamakan ruang bermain untuk anak-anak.

asd1

Saya tidak bisa melihat perbedaan antara IRT dan ibu bekerja di luar rumah. Menurut saya effort ibu sama saja. Mungkin IRT terkadang bisa dilihat lebih santai karena tidak harus bekerja diluar rumah, sedangkan ibu yg bekejar juga masih harus bekerja di rumah jadi IRT. Tetapi saya juga lihat kalau saya mendapat banyak bantuan dengan adanya daycare dan TK sampai sore, sedangkan biasanya IRT tidak menitipkan anaknya di daycare atau TK sampai sore. Jadi ada positif dan negative di mata masing-masing orang dan lebih baik melakukan apa yg menurut kita baik, bukan apa yg menurut orang lain baik.

Komunitas Indonesia

Karena saya pindah ke Heidelberg setelah saya bekerja, saya tidak sempat kenal dengan komunitas Indonesia di Heidelberg. Saya ikut komunitas lain seperti diceritakan di atas. Waktu saya tinggal di Darmstadt dan Konstanz semasa saya kuliah, saya rajin ikut komunitas Indonesia di kota itu, seperti PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) dan Perki (Persekutuan Kristen Indonesia). Sampai sekarang pun teman-teman Indonesia saya adalah teman sejak sama-sama kuliah.

Tips Sebagai Ibu Bekerja di Jerman

Sebagai ibu bekerja, saya harus pintar-pintar mengatur waktu dan tenaga supaya tidak sampai burn out dan keluarga tetap terjaga. Ini tips yang selama ini saya lakukan:

  1. Rumah berantakan; na und? (so what?)

Dengan dua anak yg sedang asik bereksperimen, saya sih sudah tutup mata aja deh kalau rumah berantakan. Saya tidak mau membatasi ruang belajar anak. Karena saya tidak kasih anak main gadget, jadi wajar saja kalau mereka main dengan segala macam mainan yang ada di dalam rumah maupun di luar rumah. Hasilnya, yah rumah seperti kapal pecah.

Saya tidak terlalu ambil pusing. Saya rapikan sebisanya saja. Saya juga belum mau hire Putzfrau (cleaning lady) untuk bantu-bantu di rumah

Tips yg bisa saya share: undang orang kerumah sesering mungkin.

Entah kenapa kalau tau akan ada tamu, kami sekeluarga jadi cepat banget bersihin rumah (termasuk anak-anak juga ikutan karena mereka excited mau kedatangan tamu). Jadi rumah lebih sering bersih dan kita jadi bisa ketemu teman-teman dengan santai di rumah daripada ketemu di café.

2. Masak secara efisien dan dalam jumlah besar

Masak dalam jumlah besar berarti juga belanja dalam jumlah besar. Saya belanja seminggu sekali, kadang dua kali kalau ada yg kelupaan. Biasanya saya belanja di supermarket yang cukup besar, hari jumat sore atau sabtu pagi dan masak yang banyak di hari Sabtu. Sebagian hasil masakan saya masukan kulkas, sebagian lagi saya bekukan di freezer. Jadi kalau pas lagi sibuk di hari kerja, tinggal keluarin makanan beku. Karena berteman dengan banyak orang Amerika, saya juga jadi terbiasa menggunakan slow cooker untuk masak (di Jerman slow cooker sama sekali tidak terdengar).

Buat saya, invest di peralatan masak sangat berguna. Saya ga ngomong tentang kitchen machine yang harganya lumayan, mulai saja dari pisau yang tajam atau panci yang bagus. Ini sudah bantu banget.

Masak efisien juga artinya masak yang terencana. Kadang saya merencanakan akan masak apa jauh-jauh hari. Salah satu contohnya, waktu anak saya ulang tahun, tradisinya adalah bawa kue ulang tahun ke Kindergarten sebelum jam makan siang. Jadi pagi-pagi saya kerja dulu dari rumah, lalu bikin adonan kue dan kue siap dipanggang. Saat kue dipanggang, saya kerja lagi. Satu hal yang saya suka adalah beli peralatan masak yang bisa bantu masak lebih efisien. Jadi untuk ultah anak, saya beli cetakan kue bentuk bunga matahari. Total waktu yang saya habiskan untuk bikin kue ini tidak lebih dari 1 jam. Ini hasilnya.

ulang-tahun-anak_kue-ultah

 

  1. Time management dan kerja sama dengan suami

Karena saya juga bekerja, suami dan saya harus bekerja sama dalam menyelesaikan tugas rumah. Tiap malam kami komunikasikan jadwal kami untuk esok hari, siapa yg antar anak, jemput anak, dll. Ada meeting-meeting yang tidak bisa saya hindari terjadi di waktu yg sama dengan waktu antar/jemput anak sekolah atau ke dokter atau ikut kegiatan anak di sekolah, karena itu kerja sama dengan suami amat sangat diperlukan. Selain itu, banyak tugas-tugas rumah yang jadi tanggung jawab suami juga. Jadi keberhasilan ibu bekerja sangat banyak dipengaruhi oleh peran suaminya di rumah kalau menurut saya.

Waktu anak saya ulang tahun, saya adakan acaranya di rumah. Karena dengan begitu, saya tidak terlalu menghabiskan banyak waktu, kebetulan acara ultahnya itu di hari kerja. Jadi sebelum dan sesudah acara, saya masih bisa kerja. Saya undang beberapa anak dari Kindergarten dan ibu mereka. Saya masak sesuatu yang gampang saja. Buat orang Jerman, makanan Indonesia sesederhana apapun, jadinya mewah untuk mereka. Karena yah beda aja jenis makanannya. Saat itu saya buat nasi kuning pakai bumbu jadi di rice cooker, mie goreng, ayam panggang tinggal masukin over, kerupuk yang sudah jadi beli dari toko asia, dan sosis direbus buat anak-anak.

ulang-tahun-anak

  1. Tetap sediakan waktu untuk menyalurkan hobi

Setiap orang pasti sibuk dong, entah ibu IRT maupun ibu bekerja. Dari pengalaman saya, to keep my sanity level, saya selalu menyediakan waktu untuk menyalurkan hobi saya. Tidak perlu waktu yang lama, 1 jam sehari untuk diri sendiri sudah lebih dari cukup. Biasanya kalau sudah suntuk, saya pergi ke kebun liat tanaman dan kasih makan ikan mas di kolam belakang. Setiap Rabu, saya ikutan kegiatan di gereja. Setiap kamis, saya ikutan main voli dengan ibu-ibu di Heidelberg. Jadi belum sampai suntuk banget, sudah disegarkan kembali oleh kegiatan-kegiatan yang saya memang suka.

Satu hobi yang saya dan suami saya juga suka adalah memperbaiki rumah atau mendekorasi ruangan-ruangan di rumah sendiri. Ini hobi yang juga bikin kantong tidak kempes karena ongkos tukang di Jerman mahal sekali. Dari hobi ini, kami sudah bikin kamar tidur anak, garden, kamar mandi, pasang lantai dan lain-lain.

 

  1. Belanja online

Sebelum punya anak, saya senang sekali pergi ke mall atau kota atau factory outlet. Kadang yg dibeli juga tidak banyak, tetapi senang lihat-lihatnya. Setelah punya anak, saya banyak mengubah strategi karena waktu untuk belanja makin berkurang sedangkan harus diakui keluarga saya juga perlu baju dan barang-barang lain. Saya banyak belanja online. Mulai dari beli baju buat saya, suami, anak-anak, mainan anak2, sampai beli peralatan rumah tangga. Saya punya daftar apa saja yang harus dibeli. Kalau tidak begini, jangan-jangan jadi laper mata. Dan juga dengan adanya daftar, jadinya cepat selesai belanjanya.

  1. Maintain personal finance

Mungkin karena pekerjaan saya di bidang finance, saya sangat sadar tentang keuangan keluarga saya. Buat saya, uang bukan segalanya dan saya tidak mau diperbudak oleh uang. Karena itu saya harus bisa manage apa yang ada supaya keluarga saya tetap bisa menikmati kehidupan dengan level yg sama. Saya tau keadaan keuangan keluarga saya dan saya tau apa yang keluarga saya mau capai. Dengan itu, saya membuat rencana dan bagaimana mencapai keinginan dan cita-cita keluarga saya, seperti mengatur pengeluaran, memantau pemasukan, analisis investasi dan hanya investasi kalau saya sudah tau seluk beluk bidang itu dan investasi hanya kalau suami setuju, mengoptimalkan tax, dan melihat tunjangan atau program dari negara yg bisa ambil. Saya pikir ini adalah pekerjaan dasar semua ibu untuk mengatur keuangan keluarga.


blog: http://tinggal-di-jerman.com

Edited by Mamarantau’s Content Editor Ajeng @misskepik