Merantau di Dresden

profilepict1Siti Prima Genni (Meli) – A 32 y.o Indonesian. Mother of two energetic boys: Adriaan Radhitya Irman (6 y.o) and Adam Irman (1 y.o). Married to an Indonesian Scientist. A hausfrau who loves cooking, baking and traveling. Has been living in a historic city of Dresden in  East Germany since 2010.

Meli dan keluarga

Semenjak menikah tahun 2006, saya dan suami sepakat untuk selalu tinggal bersama. Saat menikah, suami sedang menyelesaikan studi S3 nya di Enschede, Belanda. Saya menyusul ke Belanda pada tahun 2007. Anak pertama kami Adriaan, lahir di kota itu. Setelah studi S3 suami selesai, kamipun pindah ke Dresden pada tahun 2010. Pekerjaan suamilah yang membawa saya ke kota ini. Suami bekerja sebagai peneliti di salah satu Lembaga Penelitian di Jerman, mungkin seperti LIPI di Indonesia. Di kota cantik ini, kami dianugerahi putra kedua yang bernama Adam.

DSC03244

Meli bersama keluarga: Arie, Adriaan, dan Adam

Tentang Dresden

Dresden adalah ibukota Sachsen, salah satu negara bagian Jerman yang berada di sebelah timur. Jaraknya tidak jauh dari Prague, Ceko Slovakia. Kota Dresden memang tidak sebesar kota-kota besar Jerman lainnya, seperti Berlin, München atau Hamburg. Tapi kotanya juga tidak kecil dan bisa dibilang menengah.

Dresden is the capital city of the Free State of Saxony in Germany. It is situated in a valley on the River Elbe, near the Czech border. The Dresden conurbation is part of the Saxon Triangle metropolitan area with 2.4 million inhabitants.

Dresden adalah kota yang cantik dan bersejarah. Perpaduan arsitektur Baroque dengan sungai Elbe yang membuatnya cantik dan mempesona. Bukan hanya kotanya saja yang cantik, alamnya pun juga cantik.

Elbe (Konigstein)

Sungai Elbe dilihat dari Benteng Konigstein

Festung Königstein adalah benteng yang terletak di bukit dekat Dresden, di atas kota Königstein di tepi kiri Sungai Elbe

Dua bagian kota Dresden yang cukup menarik adalah Altstadt (Old city) dan Neustadt (New city). Altstadt biasanya di penuhi bangunan-bangunan yang tua tetapi sangat terawat dan cantik:

Dresden Alstadt dari atas Frauenkirche

Sedangkan Neustadt dipenuhi Restaurant, Bar, kafe-kafe, serta mural (graffiti):

Kunsthof-Passage Dresden Neustadt

The Neustadt is the cultural center of Dresden. Particularly in the summer, many visitors and residents simply sit out on the sidewalk drinking and chatting.

Kendala Bahasa

Tidak seperti kota-kota di Jerman Barat, dimana orang bisa mengandalkan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi, speaking German is a must here. Disini kita harus bisa berbahasa Jerman untuk hidup sehari-hari. Beli roti di Bäckerei saja harus menggunakan Bahasa Jerman. Komunikasi di sekolah dan kindergarten juga menggunakan Bahasa Jerman. Di Kindergarten Adriaan hanya Kepala Sekolahnya saja yang bisa Bahasa Inggris. Komunikasi dengn guru-gurunya mau tidak mau harus memakai Bahasa Jerman.

Do you speak German?

Tentu saja awalnya saya bingung. Awalnya saya sering minta bantuan teman-teman Indonesia yang sudah lama tinggal di Dresden, sering buka kamus dan malah menggunakan bahasa tubuh ;). Tapi ya nggak bisa mengandalkan bantuan orang terus. Setelah saya kursus bahasa dan mengapat ijazah B1, Alhamdulillah masa-masa sulit berkomunikasi sudah bisa saya lewati. Meskipun grammatik saya masih kacau, yang penting saya bisa berkomunikasi dengan orang-orang. Sekarang ini komunikasi dengan dokter, guru-guru di sekolah dan di tempat umum lainnya selalu menggunakan Bahasa Jerman. Untuk komunikasi tulisan seperti membaca dan membuat surat, kadang-kadang saya masih harus buka kamus, buku dan internet.

Mencari Tempat Tinggal di Dresden

Penduduk di sini kebanyakan tinggal di Wohnung (apartemen). Tapi jangan ngebayangain apartemen seperti di Indonesia dengan fasilitas kolam renang, fitness, dll. Sama sekali tidak ada fasilitas itu. Biasanya hanya ada Hof (Pekarangan bersama) dan Spielplatz (Playground). Wohnung yang sering kita jumpai di sini kebanyakan berlantai 4 atau  5. Ada juga Wohnung yang lebih tinggi, tapi hanya sampai belasan lantai. Jarang sekali saya menemukan Wohnung yang sampai puluhan tingkat.

Jika dibandingkan dengan kota besar lainnya di Jerman, harga sewa rumah di Dresden relatif lebih murah. Wohnung yang kami tempati seluas 95 m², harganya (Warm Miete, sudah termasuk biaya tambahan energi) 900 €. Sebagai perbandingan, dengan luas dan fasilitas yang sama, harga sewa wohnung di München atau Hamburg bisa mencapai 1200 € – 1500€. Untuk mencari wohnung di Dresden, biasanya saya memakai website ini.

Wohnung 4-5 lantai

Sementara untuk student, biasanya tinggal di Studentenwohnheim. Untuk student yang sudah berkeluarga, ada juga studentenwohnheim khusus. Pastinya harga sewanya lebih miring daripada harga sewa wohnung biasa. Bagi para calon student yang akan pindah ke Dresden, biasanya mereka mencari wohnung melalui situs Studentenwerk Dresden.

Transportasi di Dresden

Hidup di Dresden tanpa mempunyai kendaraan pribadi sangat memungkinkan. Mempunyai SIM sangat susah dan mahal di sini. Jadi banyak sekali orang yang hanya mengandalkan transportasi umum saja. Seperti kota-kota lain di Eropa, transportasi umum di sini sangat nyaman. Transportasi dalam kota yang disediakan cukup dengan Strassenbahn dan Bus. Tidak ada U Bahn alias kereta bawah tanah di sini. Mungkin karena jumlah penduduknya yang tidak membludak. Ini sangat menguntungkan bagi saya yang kemana-mana selalu membawa stroller.

DVB (Dresdner Verkehrsbetriebe)

Keluarga kami mempunyai satu mobil. Alhamdulillah, suami bisa dengan mudah mendapat SIM di sini. Saya dan suami membeli mobil awalnya karena kantor suami yang lokasinya berada lumayan jauh dari rumah kami. Hanya ada satu bus dari Hauptbahnhof ke kantor suami dan jadwal keberangkatannya hanya satu kali satu jam. Mengingat pekerjaan suami yang terkadang sampai malam bahkan pagi, kamipun sepakat untuk membeli mobil. Ternyata setelah dijalani, punya mobil memang berasa keuntungannya, apalagi dengan dua anak…! Jika kami ingin pergi urlaub (berlibur), sangat terasa kemudahannya. Dengan mobil, kami bisa membawa banyak makanan dan banyak barang untuk keperluan berlibur. Dan kamipun lebih flexibel, tidak tergantung dengan jadwal kereta.

Tempat Rekreasi Di dresden untuk keluarga

Banyak sekali tempat rekreasi yang bisa dikunjungi di Dresden. Biasanya turis-turis di Dresden pasti selalu mampir ke Zwinger, Brühlsche Terrasse, Frauen Kirche, Semperoper, Fürstenzug, Gemälde Galerie, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Istana Zwinger adalah landmark terbaik Dresden yang sangat terkenal akan keindahannya mulai dari arsitektur hingga benda-benda seni lain yang ada di sana.

Semper Opera House “Semperoper” yang terletak di pusat kota Dresden

Di depan Semperoper bersama Meli (my twin sister)

Di depan Semperoper bersama Mella (my twin sister)

fürstenzug2

Fürstenzug is a large mural of a mounted procession of the rulers of Saxony. It was originally painted between 1871 and 1876 to celebrate the 800th anniversary of the Wettin Dynasty, Saxony’s ruling family.

fürstenzug1

The mural displays the ancestral portraits of the 35 margraves, electors, dukes and kings of the House of Wettin between 1127 and 1904. It is one of the largest porcelain artworks in the world.

Dresden paling cantik pada saat menjelang natal. Banyak sekali turis yang datang ke Dresden untuk mengunjungi Striezelmarkt (Weihnachtsmarkt di Dresden). Striezelmarkt merupakan Pasar Natal tertua di Eropa.

Pilihan tempat rekreasi untuk anak-anak dan keluarga pun cukup banyak di Dresden. Jika cuaca mendukung, kami sekeluarga sering jalan-jalan di pinggiran Elbe, di  Großer Garten (Big Park), Zoo Dresden atau bermain di Spielplatz (playground) yang tersebar di setiap sudut kota.

Di pinggiran Elbe

Di pinggiran Elbe

Brühlsche Terasse is a historic architectural ensemble in Dresden, Germany. Nicknamed “The Balcony of Europe”, the terrace stretches high above the shore of the river Elbe.

Adriaan dan flamingo di Zoodresden

Adriaan dan flamingo di Zoo Dresden

Tidak jarang juga kami sekeluarga mengunjungi tempat rekreasi anak yang berada di luar Dresden seperti Saurier Park, Playmobil Funpark di Nürnberg dan Legoland Deutschland di Günzburg.

Adriaan dan Papa di Playmobil Funpark Nürnberg

Adriaan dan Papa di Playmobil Funpark Nürnberg

Adriaan dan Papa di Saurierpark

Adriaan dan Papa di Saurierpark

Saurierpark Kleinwelka is a dinosaur park with life-size prehistoric creature models & adventure playground with nets & ropes.

Elbe di musim panas pasti selalu ramai. Ramai dengan orang2 berjemur, piknik dan bersepeda. Nggak ada pantai, sungaipun jadilah untuk berjemur. Biasanya setiap musim panas, selalu diadakan filmnächte am Elbufer, semacam pertunjukan film di ruang terbuka, di pinggiran Elbe pada malam hari.

Filmnächte am Elbufer: kalau di Indonesia mungkin seperti layar tancap 😉

Großer Garten juga nggak kalah menariknya. Saat cuaca bagus, Großer Garten pasti dipenuhi orang-orang bersepeda, main in line skate, piknik, bermain bersama anak-anak atau hanya sekedar jalan-jalan saja.

Adriaan dan Adam di Großer Garten

Großer garten saat musim gugur

Großer garten saat musim gugur

Di Großer Garten terdapat Parkeisenbahn. Semacam kereta buat anak-anak yang mengelilingi taman besar ini. Uniknya petugas penjaga di setiap stasiun Parkeisenbahn ini semuanya adalah anak-anak.

Jika cuaca tidak mendukung, biasanya kami sekeluarga mengunjugi museum. Museum yang cocok untuk anak-anak adalah Verkehrsmuseum dan Deutsches Hygiene Museum. Verkehrsmuseum adalah Museum Lalu Lintas. Museum ini berada tepat di depan Frauen Kirche. Di sini kita bisa melihat bermacam-macam kendaran mulai dari mobil, kereta api, kapal, pesawat dan sepeda beserta sejarahnya.

Di lantai paling atas museum tersedia lalu lintas mini berupa jalan mini beserta rambu-rambu lalu lintasnya. Di sini anak-anak bisa bermain Bobby Car dengan peraturan yang ada. Tujuannya agar anak-anak bisa bermain dan belajar tentang peraturan lalu lintas.

Tempat favorit keluarga lainnya di kala cuaca kurang baik adalah ke Bibliothek atau perpustakaan. Perpustakaan tersebar di setiap bagian kota. Jadi, kita nggak usah repot-repot harus pergi ke Städtische Bibliothek (Perpustakaan Kota).

Favorit kami sekeluarga memang ke Städtische Bibliothek, karena di sana koleksinya lebih lengkap dan setiap weekend biasanya diadakan story telling.

Wisata Alam di dresden

Dan karena letaknya yang berada di pinggiran sungai Elbe, maka tempat rekreasi alam pun cukup banyak di sekitar Dresden. Salah satunya adalah Bastei. Bastei terletak di Sächsischen Schweiz, di pinggiran Elbe. Tebing-tebing yang menjulang tinggi dan pepohonan di sekelilingnya serta pemandangan indah Elbe benar-benar akan membuat setiap orang terpesona.

Saxon Switzerland National Park – this impressing rock landscape (also called Elbsandsteingebirge) is only a few kilometers away from Dresden. Steep fissured sandstone rocks, canyon-like ravines, caves and rock needles constitute the probably most spectacular National Park of Germany.

Bastei adalah formasi batuan yang menjulang setinggi 194 meter di atas Sungai Elbe di Elbe Sandstone Mountains Jerman. Mencapai ketinggian 305 meter di atas permukaan laut, batu-batu bergerigi pada Bastei dibentuk oleh erosi air lebih dari satu juta tahun yang lalu. Formasi bebatuan ini terletak dekat Rathen, tidak jauh dari bagian tenggara kota Dresden dan merupakan atraksi utama dari Saxon Switzerland National Park. Bastei sangat indah dikunjungi – apalagi kalau perginya di saat musim gugur saat semua daun berwarna warni.

bastei 2

Tempat ini adalah surga bagi pemanjat tebing.

Bastei Bridge

Kesan tentang masyarakat Dresden

Kaku dan dingin. Orang Jerman terkenal kaku dan dingin. Hmmm…kalo menurut saya, orang Jerman itu tertutup kepada orang yang tidak atau belum dikenalnya. Jika kita sudah mengenal mereka, mereka akan terbuka sekali. Mungkin karena faktor sejarah, orang-orang Dresden (dulunya adalah Jerman Timur) relatif lebih tertutup dan kurang welcome dengan orang asing dibanding di Jerman Barat. Biasanya yang tertutup itu kebanyakan orang-orang tua yang pada zaman DDR dulu, mereka tidak bisa kemana-mana. Jadi kurang terbuka dengan orang-orang dari berbagai macam ras.  Di kala sekarang yang aksesnya sudah gampang, mereka sudah kehilangan energi untuk berjalan-jalan dan bertemu banyak orang di tempat lain. Tapi tidak semuanya juga lho. Banyak juga orang-orang tua di sini yang hangat dan ramah. Beberapa kali saya pernah disapa dan diajak ngobrol oleh orang-orang tua di sini.

Tepat waktu. Orang Jerman sangat tepat waktu. Saya harus banyak belajar tentang hal ini. Saya tipe orang yang nggak bisa ninggalin rumah jika urusan rumah dan anak2 blm beres. Walhasil sering terlambat jika janjian sama teman. Emak emak banget ya.  Jika punya janji, orang Jerman akan datang 5-10 menit sebelum waktunya. Apalagi jika kerja, mereka selalu mengusahakan tepat waktu. Karena orang bisa di PHK atau diberhentikan kerja karena alasan terlambat.

Sistematis dan birokrasi dengan banyak surat. Cara kerja orang jerman sangat sistematis. Sistem birokrasinyapun begitu. Meskipun saya tidak bekerja, tapi saya cukup kenal sifat ini dari kehidupan sehari-hari. Contohnya saja, surat pemberitahuan dari Krankenversicherung (asurasi) untuk mengingatkan para orang tua melakukan U1-U9 di dokter anak, surat pemberitahuan dari Stadt (City Hall) bahwa anak kita sudah wajib sekolah dan harus didaftarkan ke sekolah yang berada di dekat rumah dan masih banyak surat lainnya. Untuk ke dokterpun begitu. Jika kita harus ke augenartz (dokter mata), logopädie, HNO artz (dokter THT), sebelumnya harus ada surat rujukan dari dokter anak.

Terbuka, apa adanya, dan tidak basa basi. Maksud terbuka di sini, orang Jerman selalu mengatakan apa yang dia pikirkan. Misalnya jika dalam percakapan, jangan segan-segan bertanya atau jika menjawab hanya bilang “ok”, “ach so”, dll. Jangan malu-malu mengutarakan pendapat kita dan terus terang. Orang Jerman terbuka dan akan menghargai itu. Jika ditanya, jelaskanlah apa pendapat kita. Dijamin percakapan akan berjalan lancar.

Begitu juga dengan tingkah laku. Orang-orang disini akan memperlihatkan jika suka atau tidak suka pada sesuatu atau seseorang. Jika mereka tidak suka dengan orang asing, mereka akan sangat memperlihatkannya dari tatapan mata, ngomel atau bahkan marah. Begitupun jika mereka suka, mereka akan memperlihatkannya dengan senyuman dan membantu kita seperti membukakan pintu, membantu mengangkat babystroller jika naik dan turun dari tram, membantu membawa bawaan yg berat, dll.

13 Februari

13 Februari adalah hari yang sangat memorial bagi masyarakat Dresden. Pada tanggal 13 Februari 1945, sebagian kota Dresden hancur karena serangan bom dari pesawat udara Inggris pada saat perang dunia kedua. Sekitar 25.000 orang tewas dan ratusan ribu orang luka luka dan tidak mempunyai tempat tinggal.

Dresden, 1945, view from the city hall (Rathaus) over the destroyed city

Menschenkette. Menschen artinya Orang. Kette artinya rantai. Setiap tanggal 13 Februari, pemerintah Dresden mengundang masyarakat Dresden untuk berpartisipasi membentuk Menschenkette atau rantai orang bersama-sama.

Menschenkette adalah simbol untuk mengenang para korban yang meninggal dan Dresden pernah menjadi korban perang dunia kedua. Menschenkette juga menandakan tidak adanya tempat untuk Nazi, tidak adanya kekerasan, damai dan toleransi di Dresden.

Kondisi 70 tahun yang lalu: antara 13-15 Februari 1945, hanya beberapa bulan sebelum Perang Dunia II berakhir, Dresden diserang ‘firebombing’ oleh pasukan AS dan Inggris. Tampak di foto: Frauenkirche (Church of Our Lady) dan memorial Martin Luther Memorial yang luluh lantak (AFP)

Biasanya event Menschenkette ini diadakan di Neumarkt, tempat di mana Frauenkirche berada. Tahun 2015 ini ada sekitar 10.000 orang ikut berpartisipasi, cukup banyak ya..!

frauen kirche

Frauenkirche adalah gereja yang hancur pada peristiwa 13 Februari dan telah dibangun kembali.

Tetapi sayangnya, hari memorial ini malah dijadikan kesempatan bagi Neonazi untuk beraksi di Dresden. Para Neonazi yang berasal dari berbagai kota di Jerman berkumpul di Dresden dan melakukan aksi demo pada hari bersejarah ini.

Neo-Nazis marching in Dresden

Setiap tanggal 13 Februari banyak sekali Polizei yang berjaga jaga di sekitar Hauptbahnhof dan Zentrum Dresden. Hal ini disebabkan demo mereka yang terkadang brutal dan anarkis. Tidak jarang bahkan Helikopter mondar mandir berjaga dari atas.

Peristiwa Marwa el sherbini

Awal saya tinggal di sini, saya sempat heran karena seringnya mendapat tatapan aneh dari orang-orang di dalam Strassenbahn. Mungkin karena saya mengenakan hijab, jadi mereka bingung. Tidak jarang juga saya mendapat pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang di jalan tentang hijab ini. Dari anak kecil, sepantaran maupun orang tua. Rada sulit untuk menjelaskannya. Jadi seringnya saya jawab karena saya menyukainya sembari senyum dan langsung pergi.

Dan kebetulan, saat kami pindah ke Dresden, saat itu adalah sekitar satu tahun setelah peristiwa tewasnya Marwa El Sherbini yang membikin gempar para Muslim di Dresden. Buat yang belum pernah mendengar, Marwa El Sherbini adalah seorang wanita Mesir dan warga Jerman yang tewas pada 1 Juli 2009 saat sidang banding di pengadilan di Dresden. Dia ditikam oleh seorang imigran Jerman etnis dari Rusia, bernama Alex Wiens, dalam kasus pidana karena melanggar hukum verbal; Wiens mengucapkan kata “teroris!!” kepada Marwa di tempat umum karena ia menggunakan hijab. Saat sidang berlangsung, suami Marwa, El-Sherbini yang hadir di persidangan ingin membantu istrinya yang saat itu hendak diserang oleh Wiens – tapi kemudian keliru ditembak oleh polisi di ruang sidang (Alhamdulillah, suaminya selamat walau sempat dalam kondisi kritis).

Kejadian ini menuai aksi protes dari kaum Muslim di Jerman

Saat meninggal, Marwa sedang mengandung 3 bulan anak keduanya, dan ditikam dihadapan anaknya yang berusia 3 tahun. Semoga Marwa mendapat tempat yang mulia di sisiNya. Amin YRA.

Terkait kejadian Marwa tersebut, saya menjadi takut ketika awal pindah ke Dresden. Takut mendapat tatapan sinis, takut mendapat perlakuan yang berbeda oleh orang setempat dan petugas imigrasi setempat dan juga takut tidak bisa berkomunikasi dengan baik. But life must go on.

Masa masa awal di Dresden dan rasisme

Dan benar saja, ada kejadian yang kurang mengenakan saya alami. Kira-kira 6 bulan setelah kepindahan kami sekeluarga ke Dresden, saya sempat mengalami pengalaman tidak menyenangkan. Saya dimaki-maki orang yang tidak saya kenal di satu Haltestelle yang berada di Zentrum Dresden. Saat itu saya sedang menunggu tram/strassenbahn dengan Adriaan yang duduk di babystroller. Kemudian tiba-tiba ada seorang pemuda menghampiri saya sambil marah-marah dan teriak- teriak sembari menunjuk ke wajah saya yang bingung. Semua orang yang berada di sana melihat ke arah saya. Yang saya pikirkan waktu itu, ini orang siapa? Nggak kenal kok marah-marah? Maklum rada lemot juga waktu itu. Ooo…mungkin dia memang rasis. Setelah itu saya langsung pergi meninggalkan orang itu. Melihat saya pergi teriakannya tambah keras dan bahkan mencoba menendang saya dari belakang. Untung Tuhan masih sayang sama saya dan Adriaan. Strassenbahn yang kami tunggu datang dan sayapun langsung naik ke Strassenbahn dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Cerita punya cerita, ternyata memang di Dresden masih ada orang yang rasis, tidak suka dengan orang asing apalagi Muslim. Beberapa teman Indonesia pun pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan selama tinggal di Dresden.

Setelah 5 tahun saya tinggal di sini, baru saya mengerti kenapa sebagian orang Dresden tidak suka dengan orang asing apalagi Muslim. Ternyata pemicunya adalah kecemburuan sosial. Bukan hanya di Indonesia saja yang ada kecemburuan sosial, di sinipun ada. Jerman itu negara demokrasi dan liberal. Pemerintahnya menerima banyak asylum (pencari suaka) yang datang dari berbagai negara konflik di dunia. Asylum ini dianggap membebani pemerintah Dresden karena biaya hidup mereka di subsidi oleh pemerintah. Kebanyakan negara konflik memang negara-negara Islam seperti Irak, Syria, Afghanistan, dll. Tapi banyak juga asylum di Dresden yang berasal dari Rusia dan negara pecahan Rusia dulunya seperti Ukraina, Kazakhstan, Turkmenistan, dll.

Yang memicu kecemburuan sosial itu adalah biaya hidup mereka diambil dari pajak orang-orang yang bekerja. Setiap orang yang bekerja pasti akan dikenakan pajak. Salah satunya ditujukan untuk para asylum ini. Intinya seperti subsidi silang. Yang mampu membiayai yang kurang mampu agar tidak terjadi kesenjangan sosial yang terlalu tinggi. Tetapi sayangnya hal ini malah membuat orang-orang Dresden yang bekerja menjadi kurang suka dan kurang respek dengan orang asing. Mereka pikir sudah capek capek bekerja, sebagian hasilnya malah dikasih ke para pengangguran alias asylum itu. Nah..masalahnya nggak semua orang asing itu asylum dan pengangguran. Orang asing yang bekerja, membayar pajak dan patuh hukum juga banyak. Orang-orang seperti saya dan keluarga juga bayar pajak, tapi toh tetap saja mendapat perlakuan rasis dan tidak menyenangkan di sini.

Pegida

Pegida adalah singkatan dari “Patriotische Europäer gegen die Islamisierung des Abandlandes”. Pegida ini adalah organisasi yang sejak bulan Desember 2014 rutin setiap minggunya mengadakan demonstrasi di Dresden. Organisasi ini protes terhadap Islamisasi yang ada di Jerman. Selain itu isu yang mereka angkat juga mengenai asylum. Biasanya mereka mengadakan demo setiap senin malam. Pesertanya bukan hanya dari Dresden saja, tapi juga dari kota-kota lain di Jerman.

Sejak ada gerakan Pegida, saya dan teman-teman Muslim lainnya lebih berhati-hati dan waspada jika keluar rumah. Kami saling bertukar informasi via WA Pengajian. Para Muslim Indonesia disini berusaha menghindari tempat-tempat yang menjadi treffpunkt atau titik temu para Pegida di Senin malam. Jika tidak perlu, kami berusaha untuk stay di rumah pada hari Senin malam.

Saya secara pribadi memang pernah takut keluar rumah dengan hijab yang saya kenakan semenjak ada gerakan Pegida ini. Tapi Alhamdulillah, sekarang kondisinya lebih membaik. Menurut berita yang saya baca ternyata 79% masyarakat Dresden menyayangkan adanya demo Pegida ini. Dari segala aspek, hal ini memberi dampak negatif untuk Dresden, khususnya aspek Pariwisata. Dresden mendapat kesan kurang welcome dengan berbagai macam ras. Jumlah turis yang akan datang ke Dresden ditakutkan akan menurun jika demo Pegida ini terus berlangsung.

Sikap Pemerintah Dresden

Sikap Pemerintah Dresden patut diacungi jempol. Semakin gencar demo Pegida, semakin gencar pula Pemerintah Dresden menyuarakan bahwa Dresden itu terbuka untuk siapa saja.

Pada 10 Januari 2015 lalu sekitar 35.000 orang Jerman berunjuk rasa menentang rasisme dan xenofobia di Dresden. *Xenophobia: intense or irrational dislike or fear of people from other countries.

Adanya demo Anti Pegida diadakan juga oleh Pemerintah dan masyarakat Dresden. Tanggal 26 Januari 2015 diadakan event besar yang bertema “Offen und Bunt, Dresden für Alle“, yang artinya dalam Bahasa Inggris “Open and Colourful, Dresden for all“.

Ribuan masyarakat Dresden turun ke jalan dan menyuarakan bahwa Dresden terbuka untuk siapa saja. Dresden adalah kota dengan penuh toleransi. Event ini cukup besar dengan dihadiri ratusan seniman dan dimeriahkan oleh performance dari musisi musisi Jerman.

Suasana saat konser “Dresden for all!”

Begitulah sekilas pengalaman yang bisa saya ceritakan tentang tinggal di kota yang masih kental dengan isu rasisme dan utamanya bagi keluarga kami sebagai Muslim. Saya dan teman-teman Muslim lainnya benar-benar harus menjadi duta Muslim yang baik di kota ini. Karena semua kelakuan kita akan mencerminkan kelakuan seluruh umat Muslim. Orang-orang di sini hanya mengenal Islam lewat media saja yang notabene selalu memberi berita negatif.  Doakan agar kondisinya semakin hari semakin membaik dan aman ya…!

——

Foto-foto terlampir adalah milik Meli dan keluarga. Foto-foto dari sumber lainnya terhubung dengan link pada setiap gambar dan beberapa keterangan gambar didapat dari Wikipedia dan situs lainnya.

Advertisements

Merantau di Aachen

TiaSari Agustia (Tia) was born in Bandung 32 years ago, now a happy wife and mother of two (Grahito, 5 y.o and Giska, 2 y.o). Cooking, watching, and writing are her favorite me time activities. Author of “Love Fate” book.

Tia dan keluarga. Sejak menikah di tahun 2008, saya resmi merantau jauh dari keluarga. Kala itu suami berkerja di salah satu perusahaan multinasional untuk servis minyak dan gas di Kuala Lumpur (KL), Malaysia. Cukup lama kami tinggal di sana, 4 tahun, hamil kedua anak di KL, bahkan putri bungsu kami, Giska, lahir di kota itu. Bulan Januari 2013, kurang lebih 40 hari setelah Giska lahir, kami meninggalkan KL untuk pindah ke Jerman. Selama kurang lebih 4 bulan, saya dan anak-anak mengurus kelengkapan tinggal kami di Jerman sedangkan suami telah lebih dulu pergi karena pekerjaan. Empat bulan terpisah adalah keinginan kami karena ingin menghadiri pernikahan sepupu di Surabaya pada bulan Mei 2012. Namun siapa sangka ternyata waktu 4 bulan ternyata full untuk mengurusi kepentingan surat menyurat visa kami ke Jerman.

famili

Keluarga Trikukuh, 2014

Mengurus Visa Jerman. Sebetulnya sebelum kepergian kami dari Kuala Lumpur, suami mengklaim sudah membaca hal-hal yang kami perlu persiapkan. Salah satunya yang penting adalah sertifikasi bahasa Jerman A1. Bukan main kemalasan saya timbul karena harus mempelajari bahasa baru. Jujur ni ya, saya bukan seorang yang pandai dengan bahasa. Bahasa Inggris saya pun berkembang dengan baik di sini karena tak memungkinkan bahasa yang lain. Tes bahasa Jerman A1 adalah yang paling dasar. Di Indonesia bisa dengan mudah mengambil tes itu di Lembaga Bahasa Jerman GOETHE INSTITUT.

Tapi tidak hanya itu, ga seru kalau visa didapat dengan mudah. Setelah saya cek sendiri ke website kedutaan besar Jerman di Indonesia persyaratannya bermacam dan rumit. Berbagai kelengkapan “tetek bengek” yang ribet ternyata menanti. Kita list ya persyaratan untuk membuat Visa Jerman (Nasional – bagi yang menetap di Jerman lebih dari 90 hari):

  1. Mengisi formulir yang diunduh di Internet.
  2. Biometrik foto. “What the hell is that?” Biometrik foto adalah foto close up pada umunya namun memiliki persentase besaran muka kita terhadap ukuran foto tadi (misalnya 80% gambar terhadap ruang kosong di dalam foto). Di Bandung sendiri khusunya sudah ada di beberapa studio foto melayani biometric foto. Kami foto di foto studio terbesar di Dago.
  3. Surat nikah yang dilegalisir Departemen Agama.
  4. Akte kelahiran anak yang dilegalisir Departemen Luar Negeri dan Departemen Hukum dan HAM
  5. Terjemahan dalam  bahasa Jerman atas surat-surat legalisiran.
  6. Sertifikat A1 bagi pasangan.
  7. Buat appointment untuk datang ke kedutaan secara online.

Untuk poin 3 dan 4 bila dilakukan sendiri akan menguras tenaga dan uang tambahan, sebab proses legalisisasi tak bisa serentak ketika kita sampai di Jakarta melainkan harus menunggu dan bolak balik apabila syarat- syarat dokumen tak lengkap (periksa di Web masing-masing Departemen sebelumnya!). Tersedia layanan agen yang mengurusi legalisasi tadi di kedua Departemen. Harganya cukup mahal kalau tidak dibayari oleh perusahaan. Untuk kami sendiri, kebetulan ada rekan keluarga yang membantu membuat prosesnya mudah dan aman. Setelah semua dokumen dilegalisasi dan lengkap barulah menguhubungi penerjemah Indonesia-Jerman yang telah diakui oleh kedubes Jerman (list di web Kedubes Jerman).

Khusus untuk Giska yang lahir di Malaysia dengan Sijil Kelahiran (akte kelahiran versi Malaysia) ternyata kami perlu melegalkannya ke Putrajaya, Malaysia. Itu berarti tambah waktu dan biaya bagi kami yang sudah mendesak untuk ikut serta.

Ketika datang memasukkan formulir pastikan semua sudah lengkap dan dicopi 3x. Karena itu akan memudahkan daripada mampir ke hotel sebelah kedutaan karena ada surat yang tertinggal di-print atau di-copy. Dengan berbagai drama menjelang kepergian kami dan diakhiri dengan kunjungan dan jalan-jalan dengan keluarga ke Surabaya, akhirnya kami bisa juga tiba selamat di Aachen, Jerman di bulan Juni 2013.

Aachen is located in North Rhine-Westphalia, the westernmost city of Germany, located along its borders with Belgium and the Netherlands.

Aachen – Kota Kecil Mempesona. Berdebar rasanya menginjakkan kaki pertama kali di benua Eropa untuk menetap. Bahkan saking deg-degannya, sudah terbayang dinginnya salju di kala winter nanti menggigit kulit buat saya yang sebenarnya untuk dinginnya Bandung pun sudah tak tahan. Namun semakin berdebar, semakin semangat saya menanti hidup baru di sini. Kami tinggal di Aachen. Sebuah kota yang cukup terkenal di telinga orang Indonesia sebagai rumah kedua Mantan Presiden Ketiga Indonesia, Bapak BJ Habibie. Sebuah universitas tempat beliau menuntut ilmu, RWTH (Rheinisch-Westfaelische Technische Hochschule) Aachen University, ada di kota ini. RWTH adalah salah satu universitas dengan jurusan teknik terbaik di Jerman, maka tak aneh banyak sekali mahasiswa/i pendatang atau international students yang menuntut ilmu di sini.  Kota ini laksana kota pelajar pada umumnya termasuk kota murah dibandingkan kota-kota lain di Jerman.

RWTH Aachen University, Main Building

Kami sudah berkeliling beberapa kota sekitar Aachen seperti Dusseldorf, Bonn, Koln (Cologne) dan Freiburg. Seperti halnya kota-kota tersebut public attraction yang mendominasi adalah Domn yakni Bangunan Gereja Kuno yang besar yang umumnya disandingkan atau searea dengan Rathaus, Balai Kota. Arsitektur khas kota tua Jerman (Eropa) mendominasi daerah sekitar kedua bangunan ini. Biasanya terletak di pusat kota yang menjadi tempat atraksi belanja dan restoran untuk minum teh atau kopi.

Aachen Rathaus (Balai Kota)

Toko roti (Backerei) mendominasi di setiap sudut kota, bahkan bisa ada 2 rival bersebrangan. Orang sini gemar sekali dengan roti, terutama yang fresh from the oven. Sekilas info, salah satu scene film Habibie-Ainun pun berlatar belakang sebuah toko roti terkenal di pusat kota Aachen ini: Nobis Printen Baeckerei Aachen.

Nobis

Kendala dan Belajar Berbahasa. Mengenal budaya baru dan orang-orang baru bukanlah mudah namun tidak sesulit yang kami duga. Sebagai pendatang sudah barang tentu kami yang harus memulai untuk berusaha mengenal mereka. Kendala yang paling nyata adalah Bahasa. Memang tak semua orang familiar atau mau berbahasa Inggris. Namun saya beruntung, karena tetangga, dokter, guru dan orang tua murid di TK Grahito cukup terbuka untuk berkomunikasi dengan saya dengan bahasa English. Namun demikian, sebagaimana peribahasa “Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang singa mengaum”, tak ada salahnya apabila sebagai pendatang kami mengecilkan gap yang ada. Salah satunya adalah dengan mempelajari bahasa mereka. Well, menurut saya, sejauh yang saya pelajari, bahasa Jerman ini tidak sesulit bahasa negara Eropa lain. Pengucapan huruf abjad (alphabet) Jerman hampir sama dengan Indonesia. Apa yang dibaca pun sebagian besar sama dengan yang dilihat, meski menyesuaikan dialek memang sulit. Namun bisa dipelajari. Dan tempat belajar bahasa yang terbaik adalah di negara yang bersangkutan.

Salah satu sudut kota Aachen

Sebelum tiba di sini dua tahun yang lalu, saya sudah belajar bahasa Jerman selama 3 bulan (untuk sertifikasi A1 – syarat visa). Namun sesampainya di sini, ternyata sulit sekali menyesuaikan..! Terutama dalam hal berbicara. Sekarang, karena ada penawaran pihak pemerintah (stadt Aachen) yang membayarkan 70% biaya Integration Course – yakni kursus intensif bahasa dan politik Jerman, maka saya kembali belajar Bahasa Jerman selama 4 hari dalam seminggu;  Senin-Kamis selama durasi 3 jam. Saya memilih tempat les yang menyediakan Kinderbetreung (child care) untuk Giska, dengan biaya ditanggung sendiri.

The integration courses introduced in 2005 aim to improve and facilitate the linguistic integration of immigrants in German.

Integration Course memang disediakan pemerintah untuk para pendatang sebagai tujuan mengintegrasikan budaya dan bahasa Jerman bagi pendatang. Diharapkan kelak para pendatang itu dapat bersinergi dengan baik dengan warga asli. Karena tak jarang, misalnya orang Turki sudah puluhan tahun di Jerman bergaul hanya dengan sesama Turki dan tak paham bahasa setempat. Untuk mereka yang tak punya pekerjaan atau hidup kekurangan bahkan kursus ini digratiskan. Sedangkan saya yang suaminya membayar pajak, sebagai subsidi silang dikenakan 30% pembayaran, namun akan dikembalikan sesudah kelas selesai kurang lebih 1.5 tahun. Kalau saya lulus dari kursus ini nantinya saya akan mengantongi ijazah bahasa B1. Ijazah ini bisa dipakai untuk mencari pekerjaan sesuai sarjana yang saya miliki sekarang di perusahaan Jerman, jika mau, atau sebagai syarat mendapatkan visa tinggal untuk jangka waktu yang lebih lama. Kalau belajar bahasa sudah dilakukan, yang harus digiatkan adalah latihannya. Salah satu media berlatih adalah sering-sering ketemuan dengan orang lokal. Komunitas Jerman yang paling sering ketemu adalah orang tua murid di sekolah. Kalaupun tidak di sekolah, ternyata taman bermain (spielplatz) adalah salah satu yang juga efektif untuk latihan berbahasa Jerman.

Berteman dengan Orang Jerman. Pada dasarnya orang Jerman sangat menghargai privacy (aka. tertutup) namun mereka yang saya kenal cukup mau bergaul dengan orang selain Jerman. Sebagai contoh, anak-anak kami playdate bergantian, sesekali sepulang sekolah janjian main di taman, saya sesekali memberikan kue/makanan khas Indonesia kepada mereka bertanya soal pengumuman yang tak saya mengerti atau hal yang lain. Termasuk kedudukan saya sebagai muslim. Lingkungan yang saya kenal cukup familiar dengan muslim. Mereka paham dengan “kostum” yang saya kenakan, Ramadhan sebagai bulan sakral dalam Islam, paham kalau Grahito tak boleh makan babi dan produk turunannya. Kalaupun tak paham, misalnya saat undangan ulang tahun, saya bebas menjelaskan dan mereka maklum dan menyediakan makanan lain untuknya. Sepanjang yang saya temui, Aachen adalah kota yang penuh pendatang dan ramah terhadapnya karena dominasi pendatang dari Turki, Suriah, Libia, Hungaria, Nigeria, Congo dll. Sebagian dari mereka pun Muslim, membawa budaya Muslimnya ke sini.

Festival di Aachen. Sebagai kota yang terbilang kecil sebenarnya Aachen tak pernah kehabisan agenda pesta atau festival setiap tahunnya. Perayaan di bulan-bulan Winter sudah dimulai sejak 11-11 (11 November) pukul 11.11 AM, berpusat di Koln. Muda-mudi, tua-muda berkostum berpesta di siang hari. Kemeriahannya diliputi budaya minum dan tari.

In the Rhineland (Western Germany), the Carnival season is considered to be the “fifth season of the year”, starting at November 11 at exactly 11:11 a.m – at Koln (Cologne)

Weihnachtmarkt. Dalam bahasa Jerman, natal disebut Weihnachten. Sekitar 3-4 minggu sebelum Natal, setiap kota mengadakan pasar malam atau Weihnachtmarkt. Weihnachtmarkt Aachen adalah termasuk salah satu yang terbesar dan meriah. Pengunjungnya tak hanya dari kota setempat, namun mencakup Denhaag, Belanda dan Belgia. Kemeriahan lampu-lampu warna warni menghiasi pepohonan besar sekitar pusat kota. Kios-kios rapih berjejer menjajakan barang kerajinan tangan dan makanan. Jajanannya pun tak kalah mengundang selera, banyak juga yang kami bisa nikmati, seperti waffle, quarkballen (adonan donut berbentuk bola ditabur gula putih), kentang panggang, tumisan jamur, gorengan bunga kol, backfish (ikan goreng krispi). Karena cuaca yang dingin, minuman khas penghangat tubuh khas adalah Gluhwein, wein hangat. Uniknya gluhwein ini disajikan di gelas yang unik. Kalau beli wein ini, harga wein ditop-up dengan deposit untuk gelasnya. Kalaupun tak minum wein, saya bisa beli gelasnya saja seharga 3euro/buah.

Aachen Weihnachtsmarkt

Contoh produk dijual di salah satu stall

Gluhwein (and the unique Mug)

Circus. Selama dua kali mengalami bulan Desember di sini, selalu ada atraksi sirkus di sebuah lapangan terkenal di kota ini. Terakhir kemarin, kami mendapat tiket gratis nonton tayangan perdana sirkus ini bersama teman-teman dari TK-nya Grahito. Ternyata atraksi sirkusnya bukan sirkus seperti jaman saya kecil. Tak ada gajah, hewan lain atau badut. Para artisnya lebih banyak beratraksi gymnastik dipadukan dengan lagu modern dan penataan lampu yang spektakuler. Tak terlalu ramah anak, tapi anak-anak seusia Giska pun bisa menikmati dan Wow! Takjub dengan atraksinya tak berhenti tepuk tangan.

Zirkus Flic Flac di dalam tenda besar

Karnaval. “Alaf…!!” teriakan khas karnaval di setiap akhir musim dingin, lebih dikenal dengan Rosenmontag (Rose Monday). Perayaan ini yang paling ditunggu oleh anak-anak TK, karena mereka bisa memakai kostum ke sekolah pada satu hari di minggu sebelum Rosenmontag. Dan sesuai namanya, Montag = senin, adalah hari libur. Di kota diadakan pawai kereta hias, marching band dan orang-orang berkostum yang panjangnya bisa mencapai 2 kilometer lebih. Berbagai kue, coklat, hiasan dinding, souvenir, tisu, boneka dan apapun dilemparkan ke pengunjung yang sejak awal standby di pinggir jalan dengan kantong-kantong besar siap memunguti barang-barang tadi. Pengunjung pun tak kalah heboh boleh berkostum. Biasanya kalau kostumnya ok, akan dilempari hadiah menarik dari orang yang berada di kereta hias tadi.

Melempar coklat ke para pengunjung. When someone shout “Ocher”, reply them with “Alaaf”.

Suasana di jalanan

KArnaval

Karneval “Rossenmontag”

Hasil berburu

Hasil yang didapatkan dari Rossenmontag (Lumayan yaaa…)

 Ocher bend. Atau dikenal juga dengan pasar malam. Sebenarnya mirip dufan tapi lebih kecil. Permainannya pun bukan biasa, banyak yang menantang adrenalin. Pengunjung bisa masuk dengan bebas namun dikenakan koin atau tiket untuk setiap permainan. Buat saya tiketnya tidak murah untuk sekali main, kisaran 1-2euro, namun mengingat dufan dan sejenis lainnya berada di kota lain jauh dari Aachen, buat para muda-mudi dan anak harga segitu tetep masih bisa memuaskan rasa bermain mereka. Didalamnya sudah barang tentu ada kios-kios jajanan yang bisa mengganjal perut. Ocher Bend datang ke Aachen 2 kali dalam setahun.

Ocher Bend

Oktoberfest.  Dalam dua tahun kami disini, setiap bulan Oktober selalu ada perayaan di sekolah TK-nya Grahito. Tahun pertama, Oktober Fest ini diselenggarakan di sekolah pada siang hari dengan mengundang orang tua murid. Acaranya bernyanyi lagu khas festival dan makan Kürbis Suppe (sup labu kuning). Sup ini pada pagi harinya dibuat bersama-sama oleh guru dan orang tua murid yang punya waktu luang.

Kürbis Suppe

Tahun kedua, ini yang disebut Oktoberfest. Orang tua murid kembali diundang namun acaranya lebih besar karena mengundang orang dari luar sekolah juga untuk hadir. Beberapa orang tua murid dari berbagai negara diminta memasak makanan khas negaranya atau kue-kue. Sekolah membuat kafetaria dengan menyajikan masakan tadi dan yang hadir bisa membeli tiket yang sangat murah untuk menikmati hidangan tadi. Ada beberapa atraksi untuk anak, seperti Schminken (menghias wajah), bros maker atau undian kejutan dengan membeli tiket. Bedanya dengan tahun sebelumnya, kali ini disajikan bir bagi orang dewasa meski non-alkohol bir.

Hito dengan pakaian adat Jawa di acara sekolahnya

Hito dengan pakaian adat Jawa di acara sekolahnya

St. Martin Fest. Ini juga perayaan yang sangat ditunggu oleh anak-anak SD dan TK. Diselenggarakan di bulan November, St. Martin adalah seorang legendaris Nasrani yang budiman. Beliau sebenarnya seorang bangsawan namun rendah hati. Diceritakan suatu hari St Martin yang berjubah panjang menaiki kuda berjalan-jalan di sekitar istananya. Kemudian dia melihat ada orang miskin yang kedinginan. Dia potong jubahnya kemudian dia berikan kepada orang tadi. Sifat baik budinya ini diapresiasi dengan mengadakan perjalanan dengan kaki di malam hari membawa lampion hingga saat ini. Lampionnya spesial  karena anak-anak SD dan TK tadi diberikan kesempatan membuat sendiri dengan dibantu gurunya. Bentuknya sangat unik dan lucu.

St. Marten Festival

Acaranya didampingi oleh orang tua selepas matahari terbenam. Bagi yang beragama Nasrani ada acara berdoa di Gereja, bagi yang beragama lain hanya ikut kemeriahan jalan kaki tadi berkeliling daerah sekitar sekolah diiringi band dan lagu-lagu khasnya (bertema agama). Sampai di sekolah, api unggun dinyalakan, membuat lebih hangat dan disajikan minuman coklat panas dan roti berbentuk orang dengan taburan gula putih.

Grahito dan Giska juga ikut berpartisipasi membuat dan menghias lampion

PS : Diakhir Oktober ada perayaan Halloween. Namun tak semua orang Jerman merayakannya karena bukan tradisi asli disini. Halloween adalah adaptasi dari budaya Amerika yang mulai merambah masuk ke sini.

Tempat Bermain Bersama Keluarga di Aachen

Taman. Banyak sekali arena bermain terbuka di Aachen (saya yakin di kota lain pun begitu). Areal bermain ini umumnya dilengkapi dengan alat-alat bermain seperti ayunan, perosotan, permainan ketangkasan, kolam pasir, dll yang aman kalaupun sang anak terjatuh. Bahkan ada taman yang sangat besar dilengkapi danau dan perahu kayuh sewaan, track sepeda dan jogging, serta kafe. Di musim-musim matahari bersinar (meski masih sedikit dingin), taman bermain ini menjadi arena idaman para ibu/ayah di kala sore atau hari libur. Sepulang sekolah pun saya lebih memilih anak-anak berlarian di lapangan daripada obrak-abrik mainan di rumah. Adanya matahari bersinar pun menjadi barang yang mahal dan langka kalau dilewatkan.

taman

Berenang. Selain taman, keluarga kami senang berenang. Kami memilih berenang indoor di tempat renang umum. Stadt Aachen mengkoordinir tempat-tempat pemandian ini sehingga sangat bersih dan layak digunakan sebagai areal olahraga dan liburan keluarga. Saya bisa berenang di kolam umum ini dengan menggunakan baju renang muslimah. Sebenarnya di kala musim panas ada areal terbuka (outdoor) untuk berenang. Namun karena adat dan budaya bebas di sana kami rasa kurang sesuai untuk dilihat anak-anak kami.

Salah satu Indoor Swimming Pool Elisabeth-Halle (Elisenbad)

Tempat renang favorite kami dan dekat rumah: Südhalle

Perpustakaan. Tempat bermain asik dan hangat di kala musim dingin adalah perpustakaan (bibliotek). Perpustakaan di sini sangat nyaman, bersih dan tertib. Buku-buku anak tertata dengan baik. Ada beberapa yang dwi-bahasa. Ada tempat untuk makan dan menghirup udara segar kalau mau baca-baca di luar gedung. Anak-anak yang mempunyai kartu perpustakaan tidak dikenakan biaya untuk meminjam buku, peminjamannya pun hanya untuk buku anak. Kalau orang dewasa, membayar administrasi 1.5euro dan 1.5euro setiap kali peminjaman buku yang tak terbatas jumlahnya. Batas peminjamannya sama masing-masing sebulan dan boleh diperpanjang.

Di Library

Stadtbibliothek Aachen

Kalau sedang tak pergi ke tempat-tempat tadi dikala akhir Minggu, kami sempatkan untuk jalan-jalan sekitar kota, berbelanja atau makan. Maklum, karena hari Minggu semua toko di Jerman tutup, kecuali restoran, maka kalau ada kekurangan bahan makanan atau lainnya hanya bisa berbelanja di hari Sabtu.

Kalau suka coklat, pastikan mampir ke Lindt Werksverkauf (Factory Outlet). Coklat Lindt di sini dijual dengan harga yang relatif lebih murah dari di pasaran

Makanan. Jajanan yang paling banyak di Aachen adalah Doner Kebab, roti arab yang didalamnya disisipkan daging ayam/kambing yang dipanggang dan salat (salad) dengan  bawang, paprika, kol bersaus tzaziki (asam), mayonnaise, bawang putih atau pedas. Kebanyakan restoran doner ini disertai label halal. Sultan of Kebap adalah tempat makan kebab yang paling happening karena letaknya di Bushof (terminal utama); turun bis udah kecium aroma sedapnya…! Satu menu komplit bisa dilengkapi dengan pommes (kentang goreng) dan soft drink refillable. Tapi kalau yang paling enak, banyak yang setuju HKL kebab, lokasinya deket Rathaus. Bocoran sedikit, jika kamu ingin tahu kota itu termasuk berbiaya murah atau tidak bandingan satu harga menu Doner Kebab dikota tersebut; di Aachen satu menu komplit doner bervariasi antara 4-5,5euro. Selain doner, ada lagi restoran pizza, sushi, fish n’chips, masakan China, India atau Thailand. Tapi 3 yang terakhir kebanyakan masih menyediakan menu babi yang mungkin tak semua dapat dimakan oleh kaum Muslim.

Hähnchen Döner (Chicken Kebab)

Restoran Indonesia sayangnya tak ada di Aachen.  Tapi kalau ingin bahan makanan asli Indonesia, ada beberapa toko asia (Vietnam) yang tersedia di Aachen menyuplai bahan tersebut, seperti Indomie, kecap ABC, kacang tanah, tahu, tempe, dll. Berbelanja disana memang lebih mahal, namun beberapa bahan seperti santan, mie/bihun rebus instant, bumbu masak bubuk misalnya sudah tersedia di supermarket biasa. Sehingga beberapa barang harganya pun sudah bersaing. Buat saya yang hanya bisa masak makanan Indonesia tidak merasa kesulitan mencari bahan makanan sesuai rasa Indonesia. Kalau sedang punya waktu dan ingin jalan, kami pergi ke Maastrich, kota kecil di Belanda yang waktu tempuhnya 1 jam dengan bis dari Aachen. Ada satu toko Asia disana yang sangat komplit, lebih murah dan buka di hari Minggu.

Vaals. Bicara soal Belanda, Aachen berbatasan langsung dengan kota kecil Belanda bernama Vaals. Hanya berjarak tempuh 20 menit dengan bis dari pusat kota Aachen ke pusat kota Vaals. Setiap hari Selasa, ada pasar terbuka mirip pasar di Indonesia. Penjualnya saling berteriak promosi barangnya dan dijual dengan harga sangat murah. Misalnya saja, 1 kotak mangga isi 7 buah seharga 2 euro sedangkan kalau di supermarket, 1 buah mangga seharga 1 euro. Jika ingin membeli ikan segar pun disini lebih murah daripada di toko. Cabe merah, cabe hijau dan cabe rawit pun sangat murah, maklum orang Belanda sangat familiar dengan masakan Indonesia dan kepedasannya.

VAALS3

Vaals Market

Toko Halal. Kalau mencari daging-daging dan olahanya yang halal pun tak sulit, banyak toko-toko halal di Aachen terutama di kawasan orang-orang Turki, Arab dan teman-temannya tinggal. Kalau diperhatikan tak hanya orang muslim saya yang berbelanja disana, karena mereka pun umumnya menjual bahan makanan lain seperti cabe dan tauge yan tak dijual di supermarket biasa.

Flohmarkt. Salah satu pasar yang menarik buat kami bukan hanya melulu soal makanan. Semenjak datang ke Aachen, kami dikenalkan dengan Flohmarkt, pasar barang bekas. Orang Jerman punya kebiasaan apik menyimpan barangnya, namun karena terbatasnya ruang penyimpanan maka mereka harus membuang barang lama dengan bijaksana, salah satunya dengan cara menjualnya dengan murah. Misalnya saja di flohmarkt anak, dijual semua barang anak, mulai dari baju, sepatu, tas, box perhiasan, alat olahraga dan mainan yang semuanya dalam kondisi baik. Tak jarang masih ada yang menjual dengan kemasan simpannya. Semuanya dijual dengan harga miring dan masih bisa ditawar.

Favorit keluarga Trikukuh dateng ke Kinder Flohmarkt, pasar khusus anak. Spesialis baju2, sepatu, buku dan tentu mainan…!

flohmarkt3

Kinder Flohmarkt; Kualitas masih layak pakai, bahkan bisa bermerk terkenal. Mainan contohnya lengkap dus dan isinya, harganya juga miring dan bole ditawar (senangnya!)

Ada lagi flohmarkt khusus wanita, menjual semua keperluan wanita. Dan yang cukup menarik adalah flohmarkt yang diadakan di pusat kota Aachen (dekat Dom dan Rathaus), biasanya 2 kali setahun: Trodel & Antikmarkt. Barang yang dijajakan di sana beragam, mulai dari barang antik, barang dapur, asesoris rumah, kepingan hitam, alat elektronik, mainan hingga keperluan sehari-hari. Kalau dibandingkan harga di flohmarkt ini lebih mahal dari flohmarkt biasa.

Komunitas Indonesia di Aachen. Cukup dengan jalan-jalan dan belanja, sesekali kami berkumpul dengan kawan atau keluarga Indonesia. Agenda rutin yang saya ikuti adalah pengajian setiap 2 minggu sekali dengan ibu-ibu tak berkerja di Aachen dan sebulan sekali ibu-ibu dan mahasiswi Aachen. Bapak-bapak dan mahasiswa punya agenda pengajian yang berbeda. Kadang rumah kami ketempatan untuk menjamu undangan pengajian. Diluar pengajian, kami juga mengenal beberapa keluarga Indonesia dan sesekali masih menyempatkan untuk bertemu.

Kegiatan Anak di Masjid. Khusus untuk anak-anak muslim berusia diatas 5 tahun, ada aktifitas anak-anak di sebuah masjid besar di Aachen, Mesjid Bilal. Mesjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan di Aachen dan jamaahnya internasional. Jadwal kelas untuk anak ada beberapa tergantung usia. Karena saat kami datang Grahito belum 5 tahun maka dengan beberapa orang tua yang anaknya seusia, kami membuat TPA mini dan punya jadwal rutin sendiri.

Kesimpulannya, sejauh ini kami menikmati kehidupan kami di Aachen dengan berbagai senang dan susahnya. Kami memanfaatkan banyak hari libur juga untuk mengunjungi negara-negara sekitar yang berbatasan dengan Aachen, misalnya Paris, Perancis; Brussel, Belgia; dan beberapa kota di Belanda. Yang sedikit lebih jauh dari Aachen, kami pernah mengunjungi beberapa kota di Spanyol, England dan Scotland. Untuk cerita lebih lanjut petualangan jalan-jalan ke kota-kota tadi tunggu saja di edisi selanjutnya ya 😉

———

Tia: trikukuhlivingabroad.weebly.com .

Foto-foto yang yang ada di artikel ini adalah foto pribadi Tia dan keluarga, foto-foto lainnya terhubung dengan link dari foto asli tersebut. Diedit oleh: @chiceniza

Merantau di Bremen

378437_2693868278845_78511955_nRima Rachmayani (Rime) – A PhD candidate in Universität Bremen. Has been living in Bremen, Germany for the last 7 years. A wife and a mother. Love to cook Indonesian foods, snap pictures, and gowes.

About Rime and Family

Saya menginjakkan kaki di Bremen (Jerman) 7 tahun silam untuk menempuh studi sebagai mahasiswa S3 (PhD candidate) di University of Bremen (Universität Bremen) jurusan Paleoclimate Modelling di research group Geosystem-Modelling, Fakultas Geosciences. Saya melamar posisi PhD langsung ke Universität Bremen karena mereka sedang punya project baru dan project baru tersebut membutuhkan student untuk mengerjakan projectnya. PhD candidate di sini bisa juga disebut sebagai project scientist karena kerjaannya emang ngerjain project. Sebagai imbalannya PhD candidate/Project scientist diberi upah per-bulannya, bisa juga dibilang seperti beasiswa yang turun langsung dari universitas, bukan dari institusi tertentu.

Jadi saya mendapatkan 2 status, sebagai mahasiswa dan sebagai project scientist/employee yang buat saya menguntungkan sekali dalam mendapatkan hak-hak tertentu yang tidak bisa didapatkan jika hanya berstatus sebagai student. Namun karena saya tercatat juga sebagai employee, saya harus membayar pajak kepada pemerintah. Tapi saya tidak perlu ambil pusing, karena gaji yang saya terima sudah berupa gaji bersih dipotong pajak dan lain-lain (netto) yang pada akhirnya jumlahnya mirip dengan beasiswa untuk PhD yang normalnya didapat dari institusi tertentu.

Sejak saya menginjakkan kaki di Bremen, saya sedang mengandung anak saya Khansa yang sekarang sudah berumur 6.5 tahun. In sha allah tahun ini Khansa masuk SD. Jadi usia Phd saya memang seusia dengan usia Khansa. Dua tahun sebelum saya merasakan dinginnya winter pada bulan February di Bremen, suami saya Ayi Tarya telah lebih dulu menempuh studi S3 di University of Utrecht, Belanda sejak tahun 2006. Setelah menjalani long distance marriage (LDM), alhamdulilah kami dapat kembali bersama dalam satu atap sejak tahun 2010

The Tarya, La Alhambra, Granada, Spanyol, 2012.

Kemudahan dari Pemerintah Jerman untuk Ibu Bekerja

Setelah Khansa lahir, ibu-bekerja seperti saya mendapat cuti hamil dan melahirkan dengan pilihan lamanya minimum 3 bulan (Mutterschutz) dan maximal 3 tahun (Elternzeit). Setelah berdiskusi dengan Supervisor saya, sayapun mengambil cuti paling sedikit 3 bulan. Dan karena Khansa lahir premature, saya mendapat tambahan cuti 1 satu bulan lebih lama. Pilihan cuti 3 bulan untuk cuti hamil (4 minggu sebelum due date) dan cuti melahirkan (8 minggu setelah melahirkan) sebenernya jarang diambil oleh ibu-ibu bekerja di sini, rata-rata mereka ambil cuti 6 bulan atau 1 tahun maximal dengan pertimbangan pada umur segitu si anak sudah bisa dimasukan ke daycare/krippe (mulai dari umur 6 bulan sampai 3 taun). Dan jangan salah, di sini daftarin bayi masuk daycare juga harus dari sebelom lahiran biar dapet tempat, otherwise bakal waiting list. Alasan saya mengambil cuti 3 bulan karena agar gaji/beasiswa saya tidak habis di tengah jalan, karena walopun ambil cuti, gaji nya tetap berjalan 50%. Simpelnya kalo saya ambil cuti 1 taun, maka gaji saya tinggal untuk 2,5 tahun, sedangkan kontrak kerja saya untuk 3 tahun, berarti saya harus cari sumber finansial lain untuk setengah tahun terakhir. Pilihan bekerja di tempat lain selain universitas juga tidak mungkin dikarenakan di visa saya tercatat bahwa saya hanya bisa bekerja untuk Universitas Bremen.

Selama cuti hamil 3-4 bulan, saya juga mendapatkan ‘rewards’ sebagai ibu-baru dari pihak asuransi yang disebut sebagai Mutterschaftsgeld, jika dijabarkan, kita mendapatkan 13€ per hari dari pihak asuransi selama kita cuti. Setelah merasakan menjadi ibu-baru, pemerintah memanjakan orang tua dengan mendapatkan Elterngeld/Parents Money selama 2 tahun setelah anak kita lahir. Dan satu lagih, bukan hanya orang tua, tapi si anak pun dapat gaji/tunjangan sebagai anak sampai umur 23 tahun yang disebut Kindergeld/Child Money.

1520750_10202298367093490_240059438_n

Jadi tepatlah sudah peribahasa “banyak anak banyak rejeki” di negara Panzer ini. Tapi kebanyakan, hanya orang-orang pendatang lah yang memanfaatkan (in a very positive way) arti dari peribahasa ini dengan memiliki banyak anak. Kalo diperhatikan, orang Jerman maximal punya anak 4, ituh juga udah pusing kayanya, kebanyakan orang jerman punya anak 1 atau 2. Untuk mendapatkan Elterngeld dan Kindergeld, kita tinggal mendaftarkan diri dengan mengisi formulir di di Elterngeldstelle, Amt für Soziale Dienste dan di Familien Kasse der Bundesagentur für Arbeit.

Sistem Daycare di Jerman

Ketika Khansa kecil, Khansa dititipkan kepada Tagesrumutter/Daily mother/ibu-pengganti dari jam 8-14. Saya pilih Taggesmutter karena menurut saya Taggesmutter hanya memegang beberapa anak tidak sebanyak yang dipegang di daycare, sehingga bisa mendapatkan perhatian yang optimal dari Tagesmutter. Untuk mendapatkan Tagesmutter, kita bisa mendaftar ke kantor/lembaga tertentu seperti PiB (Pflegekinder in Bremen) yang memiliki list Certificated Tagesmutter. Teknisnya, kita tinggal dateng dan jemput tiap hari ke rumah Tagesmutternya buat titipin anaknya. Berapa lamanya anak dititipkan disesuai berdasar kesepakatan ibu dan Tagesmutter, tapi biasanya Tagesmutter menetapkan sampai jam 13, 14, 15, 16. Selain itu sudah ada juga Tagesmutter yang meng-iklankan dirinya sendiri tanpa bantuan lembaga tertentu. Dan pilihan terakhir kita bisa menitipkan kepada orang yang terpercaya diluar garis keluarga untuk dititipkan seperti tetangga yang tentu saja dia berkompeten untuk mengurus anak kita dan membayar upahnya sesuai tarif upah Tagesmutter yang tercatat di lembaga. Kebetulan saya ambil pilihan ke 3, saya pilih orang Indonesia untuk jadi Tagesmutter Khansa dari umur 4 bulan sampai umur 2 tahun.

Roter Sand Kindergarten, Woltmershausen-Bremen, 2015

Beruntungnya saya sebagai ‘modeller’, saya bisa bekerja dari mana saja, dan pada momenitu, saya diperbolehkan bekerja setengah hari di Universitas dan sisanya saya bisa kerja-online dari rumah. Kenangan saya dulu, biasanya baju saya sudah separuh basah oleh ASI yang ‘tumpah’ di kantor, lalu saya pun harus pulang ke rumah agar bisa memberikan ASI kepada Khansa.

Untuk pembayarannya, alhamdulilah saya mendapatkan family support dari project saya, jadi pembayarannya sudah ditanggung oleh univeritas. Tagesmutter, Daycare dan kindergarten di sini memang cukup mahal, namun kalo sudah lihat fasilitas yang diberikan saya kira sesuai saja. Price doesn’t lie 😛 Berapakah jumlah yang dibayarkan? Pembayaran per bulannya disesuaikan dengan gaji per bulan orang tuanya, semakin banyak gajinya semakin mahal bayarnya, semakin sedikit gajinya semakin murah juga bayaranya. Alhamdulilah kami bisa merasakan bahwa si ‘kaya’ dan si ‘cukup’ bisa mendapatkan hak dan fasilitas yang sama.

Setelah usia 2 tahun, Khansa sudah membutuhkan ruang gerak dan sosialisasi yang lebih luas, jadi saya putuskan untuk memasukkan Khansa di Daycare/Krippe di Universitas (UniKiTa) dari jam 8-16. Alhamdulilah, saya masih diberikan family support dari project sehingga saya juga tidak perlu bayar. Setelah Khansa berumur 3 tahun, Khansa udah bisa masuk Kindergarten/TK dari jam 8-14. Pada saat di TK, kontrak kerja saya sudah mau habis, saya tidak mendapatkan family support lagi tapi alhamdulilah karena system subsidi si ‘kaya’ dan si ‘cukup’, jadi bayarnya murah dan terjangkau oleh employee seperti saya yang kontrak kerjanya udah mau abis. Oya, posisi Daycare/Kindergarten ada di mana-mana, letaknya memang ada di setiap region/kompleks. Jadi tak perlu repot untuk mencari sampai ke kompleks lain, karena fasilitas yang diberikan juga sama di setiap kompleks/region.

Hak Anak Sebagai Citizen (atau Non-citizen) di Jerman. Selain benefits yang sudah disebutkan di atas, anak yang lahir dan tidak lahir di sini, pendatang dan pribumi di sini mendapatkan keuntungan dan fasilitas yang sama. Semua anak berhak mendapatkan Kindergeld, sekolah yang baik (daycare-kindergarten bayar, SD-kuliah gratiiis), rumah yang layak, check-up kesehatan yang terjadwal untuk umur 0-5 tahun (Untersuchung U1-U9).

Tentang Bremen dan Pengurusan Dokumen

Sesampainya di Bremen/Jerman, kita harus melaporkan diri dan keluarga kita dimana kita tinggal. Tempat untuk mendaftarkannya disebut Stadtamt. Stadtamt bisa disebut juga sebagai kecamatan kali yaa. Setelah tercatat di Stadtamt, kita akan mendapatkan ID personal number, social-number (yang dapat digunakan untuk mendapatkan hak-hak kita seperti untuk daftar Kindergeld, Elterngeld, Tax Refund dll). Selanjutnya, dengan berbekal selembar kertas (Meldebestätigung) yang tertera nama kita beserta keluarga dan alamat rumah kita, kita harus mengganti visa yang berlaku 3 bulan yang tertempel di passport menjadi visa yang berlaku sesuai kontrak kerja kita dalam bentuk seperti KTP, namanya Aufenthaltserlaubnis (AUE). Dan yang wajib dimiliki oleh setiap jiwa di sini adalah asuransi kesehatan ( Krankenversicherung) .

Kiri (atas) Buku check-up anak. 0-5 tahun, bawah: Meldebestätigung (semacam Kartu Keluarga). Kanan AUE (atas), Asuransi Kesehatan (bawah)

Setelah secara legal terdaftar, pihak kecamatan akan meneruskan informasi kita kepada pihak/dinas yang berwenang. Misalnya pihak kecamatan akan mendaftarkan anak kita ke Jugendamt/dinas sosial yang mengurus anak-anak. Mereka tidak akan membiarkan anak-anak tidak mendapatkan haknya, contohnya mereka akan secara otomatis mendaftarkan anak kita ke SD ketika waktunya sudah masuk SD, mengirimkan surat agar anak kita diperiksa secara terjadwal ke dokter anak pada usia-usia tertentu. Data orang tuanya akan dikirimkan ke Finanzamt misalnya, mereka akan mengirimkan surat untuk meminta kita untuk melaporkan pajak dll. Kita tinggal siapkan dokumen-dokumen dan menindaklanjuti apa yang sudah diinisiasi oleh pemerintah.

Posisi kota Bremen

 

What Makes Bremen Special.

Dibandingkan dengan kota-kota lain di Jerman; setelah 7 tahun di sini saya merasakan bahwa Allah memang sudah memikirkan sebaik-baik untuk umatNya. Allah memilihkan Bremen untuk saya merantau, dengan semua kemudahan dan kesusahan yang saya dapat di sini, alhamdulilah. Menurut saya, Bremen itu kota yang cukup dari berbagai aspek, ya CUKUP adalah kata yang tepat untuk Bremen. Jika dibandingkan dengan kota tetangga, Bremen tidak terlalu mewah seperi Hamburg dan tidak terlalu sederhana seperti Bremerhaven. Harga sewa rumah dan living cost di Bremen cukup jika dibandingkan kedua kota tetangga di atas. Populasi penduduk di Bremen juga cukup, tidak terlalu crowded dan tidak terlalu sepi. Di Bremen, saya masih bisa melakukan aktivitas saya sebagai muslim yang mungkin agak susah dilakukan ketika saya ada di sebelah timur Jerman. Di Bremen saya bisa shopping ke Factory Outlet yang tidak dapat saya lakukan kalo saya ada di Hamburg atau Bremerhaven (emak-emak banget :D).

Figure 6

Factory Outlet, Ochtum Park, Brinkum, 2013

Transportasi di Bremen: Salah satu kenapa saya suka Bremen, karena transportasinya cukup friendly untuk keluarga terutama para ibu dengan anak-anak. Bremen punya Buses, tram/Strassebahn, Regional Bahn, Regional bus. Di setiap armada, tersedia space yang cukup untuk penyimpanan stroller/Kinderwagen tanpa harus dilipat (they do ‘lipat’ in England karena space nya terbatas) dan juga untuk sepeda. Tidak ada U-Bahn/Subway/Metro membuat saya lebih bahagia, karena saya tidak perlu turun dan naik tangga seperti di kota besar seperti Hamburg atau Berlin atau bahkan seperti di Paris 😛

Strassebahn produk lama (kiri), Bus dengan interior terbaru (tengah), Strassebahn produk terbaru (kanan)

Bremer Straßenbahn AG (translates from German as Bremen Tramways Corporation), often abbreviated BSAG, is the public transport provider for Bremen, Germany, offering tramway and bus services. As of 2012, BSAG operated 8 tram lines in Bremen.

Bremer Straßenbahn AG (BSAG) punya motto tepat waktu, bersih, tempat yg luas untuk stoller/sepeda dan koneksi yang baik antara satu bus/tram ke bus/tram yang lain. Belom perfect banget sih tapi so far, saya sudah merasakan kenyamanan tersebut. Fasilitas transportasi yang baik dan nyaman ini tentu saja untuk mengurangi kemacetan dan membantu bumi ini untuk bernafas dengan mengurangi CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan pribadi walau sekarang udah ada bahan bakar go green.  Kadang terbersit juga pengen punya mobil sendiri kalo udah ketemu kondisi terlambat, hujan, dingin, dan mau pergi ke tempat yang kurang baik dilalui oleh transportasi umum. Namun keinginan itu hilang ketika inget harga bikin SIM nya yang mahal itu  Peraturan ini dibuat oleh pemerintah untuk mengurangi pengunaan kendaraan pribadi, toh pemerintah sudah memanjakan kita dengan fasilitas transportasinya yang nyaman dan friendly staff  Biasanya yang banyak pake transportasi publik ituh ibu/keluarga dengan anak 1, dan yang pada punya mobil biasanya keluarga dengan anak 2 dan lebih karena mobilitas yang padat.

Tempat Favorite untuk Jalan-jalan dengan Keluarga. Seperti di negara lain, Jerman juga punya ruang publik yang cukup baik, taman-taman bermain dimana-mana, taman bunga, tempat olah raga dan lapangan terbuka untuk duduk-duduk dan leyeh-leyeh menikmati matahari (kalo summer). Jadi kalo lagih ga liburan ya maen di taman bermain, maen air di pantai buatan, indoor playground juga ada kalo cuaca lagi ga okeh. Perpustakaan kota (Stadt Bibliothek) lantai atas (children’s section) juga bagus untuk dikunjungi.

Bremen City Library

Setiap liburan spring, autumn, dan winter selalu ada yang namanya pasar hiburan yang menyajikan banyak permainan untuk anak-anak, banyak makanan khas tradisonal orang Jerman, Icha Freimarkt di bulan Oktober, Osterwiese di bulan April, Weichnachtmarkt di bulan Desember.

Osterwiese

Bremer Weihnachtsmarkt

Selebihnya kalo udah bosen di Bremen, bisa maen ke kota tetangga dan sekitarnya yang menyuguhkan temapt-tempat bermain, museum, zoo, dan akuarium. Untuk student seperti saya, saya bisa pake semerster ticket for free ke Niedersachsen area, dan untuk non-student bisa pake groupticket yang harganya lebih terjangkau untuk maximal 5 orang. Kita suka sepedaan juga bersama GoWest (baca: gowes) Group when spring and summer is coming setiap 2 minggu sekali ke kota-kota tetangga.

392080_2509245183383_1540735461_n

GoWest Group in Autumn

Beberapa Tempat Wajib Kunjung di Bremen:

Letaknya berdekatan: Town Hall – Town hall (Built between 1405 and 1410 with a Weser Renaissance facade added in the 17th century). St. Peter’s Cathedral Protestant/Lutheran church with a history spanning more than 1,200 years. Early-Gothic style from the first half of the 13th century. Bremen Town Musicians – To the west of the town hall stands the most famous representation of the Bremen Town Musicians, the bronze sculpture created in 1951 by the artist Gerhard Marcks.  Roland statue: Bremen’s “statue of liberty” – a symbol of trading rights and freedom since 1404. Germany’s largest Roland statue.

Bremen Town Hall dan St. Peter Cathedral

Bremen Town Musicians – Bronze Statue

Roland Statue

Schnoor quarter Bremen’s oldest district – the Schnoor quarter, is a maze of lanes lined with little 15th and 16th century houses. Böttcherstrasse – Built in the 1920s, this fascinating 110 metre-long lane houses shops and restaurants, museums, workshops and a carillon.  The Viertel (‘quarter’) – The Viertel is just a short walk from the city centre and is the most colourful and bohemian area of Bremen.

Schnoor Quarter

The Viertel Bremen

Hole of Bremen – Underground collection box. When a coin is added, you hear one of the Bremen Town Musicians thanking you. Bremen Ratskeller – 600 years of tradition, 650 German wines, grand hall with ornate wine barrels & columns, vaulted cellar, speciality Bremen fare. Drop Tower Experiments with weightlessness are conducted here; the top of the tower serves as a function room. Mühle am Wall – Mill dating back over a century in Wallanlagen Park.  Market square – The market square is the focal point of Bremen. Seven Lazy Brothers fountain – The fountain by Bernhard Hoettger at the Handwerkerhof craft centre in Böttcherstrasse.

Bremen Ratskeller dan Mühle am Wall

Seven Lazy Brothers

Schlachte Embankment – Enjoy the wide range of restaurants and cafés beside the river or discover Bremen from the water on a boat. Überseestadt – Bremen’s former docklands are being transformed into a vibrant quarter for the 21st century with a great selection of cafés, bars and restaurants. Maritime Mile – Set between the Schulschiff Deutschland and exhibition shipyard are the historical Spicarium warehouse, museum harbour and much more besides. City centre – Shopping in the historical city centre of Bremen is an experience in its own right. Weser Stadium – ‘Green and white forever’ – the home of Werder Bremen! The floodlit Weser Stadium can be seen for miles around. Tabak Börse – tempat pelelangan tembakau dunia..ada di buku pintar looh 😛

Schlachte Embankment

 Weser Stadium

Weser Stadium

Figure 20 Bremen mini-bus buat turis

Biar ga cape keliling-keliling sendiri, Bremen punya Mini-bus untuk para turis

Perkumpulan Orang Indonesia di Bremen.

Dari sejak 2008 sampai sekarang alhamdulilah orang Indonesia nya nambah terus, family maupun studentnya, muslim dan non-muslim nya juga. Untuk keagamaan, yang non-muslim dan yang muslim sama-sama punya pertemuan rutin. Kalo yang muslim, kita punya pengajian keluarga di minggu ke tiga setiap bulannya, terus ada pengajian remaja setiap minggu ke 2 dan ke 4 setiap bulannya, ada pengajian ibu-ibu di minggu pertama setiap bulannya, sama pengajian anak-anak (TPA) setiap sabtu. Alhamdulilah kami punya mushola, namanya musola Al- Azhar, jadi kegiatan dan pertemuan rutinnya kebanyakan dilakukan di mushola, tapi untuk pengajian ibu-ibu biasanya ngider dari rumah ke rumah biar rumahnya dapet berkah juga. Oya nama komunitas muslimnya Keluarga Muslim Bremen Indonesia (KMIB), untuk yang umat Kristiani ada PERKI (Persekutuan Kristen Indonesia). Selain untuk kegiatan keagamaan, mushola juga kadang jadi ruang serba guna bisa dipake buat latihan music, angklung, dan nari buat anak-anak, remaja dan ibu-ibu muslim.

Masjid dan Acara Pengajian

Masjid yang sering dikunjungi buat bapak-bapak solat jumat namanya Fadhilah Moschee/Mesjid Fadhilah, Daawa Mocshee/Masjid Daawa, dan Fatih Moschee/Masjid Fatih (paling besar di Bremen), tapi ada juga masjid yang lain seperti Abu Bakar Mosque/Abu Bakar Moschee dan ada juga Masjid kecil (sejak ada Turkish Airlines) di Bremen Airport untuk para bapak muslim yang bekerja di Airbus. Kalo lagi libur kejepit di hari Jumat ato tanggal merah di hari jumat, biasanya bapak-bapak muslim Indonesia pada solat jumat di musola Al-Azhar. Untuk solat Ied, untuk orang Indonesia biasanya di musola Al-Azhar, di lantai bawah buat bapak-bapak, remaja dan anak-anak putra dan lantai dasar buat ibu-ibu, remaja dan anak-anak putri. Sebelumnya (beberapa tahun yang lalu) kita suka solat Ied di Tabak Börse (tempat pelelangan tembakau dunia) punya Indonesia karena tempatnya yang luas dan bisa menampung Jemaah lebih banyak. Sayangnya Tabak Börse harus ditutup dan tidak dapat digunakan lagi untuk kegiatan untuk orang Indonesia, salah satunya sholat Ied. Tahun lalu, kami juga memanfaatkan kebun luas milik orang Indonesia untuk sholat Idul Adha dengan catatan kita harus minta izin dulu ke tetangga di sekitar agar tidak kaget dan tidak terganggu dengan aktivitas yang ada.

224055_4469926638585_1807835033_n

Belanja Bumbu dan Restoran Indonesia di Bremen dan Sekitarnya.

Belanja daging halal biasanya di toko turki atau toko arab, kalo bumbu-bumbu Indonesia ada di toko Asia sama ada 2 toko kecil/kiosk Indonesia. Restoran Indonesia ada 2 di Bremen, namanya Restoran Bali sama Restoran Surabaya. Tapi ya ga bisa tiap hari ke situ ya..hehe..harganya harga restoran :P. Pilihan lainnya ada juga restoran China sama Vietnam, ada beberapa menu yang mirip sama cita rasa Indonesia. Paling deket sih ada di Hamburg juga, Cita Rasa Restoran sama Jawa Restaurant. Di Bremen juga ada café dengan menyajikan kopi dengan kopi Indonesia dan kue/cemilan khas Indonesia, namanya Café Lager. Kita malah lebih suka makan di Kebab-Haus..hehe…harganya murah dan mengenyangkan dan halal, salah satu favorit kami ada namanya Özlem.

Java Restaurant, Bremen

—————————————-

Instagram: @rrachmayani. All images provided taken by Rime and her friends and some are from www.bremen-tourism.de or directly linked to the images URL.