Merantau di Oslo

JenaJena Sapyera Qadar – I am a 31 yo Carpicornian working mom, who is loving every single day spent in Oslo with her fantastic team at work and even more more more awesome team at home! A grateful wife of a loving husband/bestfriend/boyfriend/stalker Abi (31 yo) and mother of a sassy beautiful daughter Kinasih (2 yo).

Merantau di Oslo. Pada tahun 2007, saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Norwegia untuk Master of Philosophy in Peace and Conflict di University of Oslo (UiO) dan lulus tahun 2009. Dari lulus sampai hari ini saya bekerja untuk Keystone Academic Solutions, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang higher web education marketing. Gak kerasa, saya sudah hampir 8 tahun tinggal di Oslo.

tumblr_msl7wuK7gf1qdjy2fo1_500

❤SLO

Suami saya Abi, salah satu sahabat dari jaman kuliah HI UNPAR (Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung), meninggalkan karirnya di Indonesia dan menyusul ke Oslo di tahun 2011 untuk ambil kuliah lagi.

With Abi (and KInasih inside my tummy) - Summer 2012

With Abi (and Kinasih inside my tummy) – Summer 2012

Setahun setelahnya, putri pertama kami, Kinasih, lahir di bulan December 2012. Setelah maternity leave saya selesai di akhir tahun 2013, Abi lanjut bekerja dari rumah dan sekalian jadi stay at home dad dan full-time chef of the house. Sekarang Abi juga sedang menekuni Juijitsu dan mulai sering ikut turnamen di Norwegia dan negara Eropa lainnya. Oya, kita semua sudah punya permanent residence permit di sini.

Kalau di Indonesia ada 17 Agustusan, di Norway kita merayakan "17 May"an. Alias hari ulang tahunnya Norway

Kalau di Indonesia ada 17 Agustusan, di Norway kita merayakan “17 Mei-an” untuk merayakan hari jadi Norwegia yang disebut “syttende mai” (meaning May Seventeenth) atau Nasjonaldagen (The National Day). Kinasih di foto ini sedang pakai “bunad”, baju tradisionalnya Norway.

Walau lahir di Norwegia, Kinasih tidak otomatis menjadi warga negara sini, namun mengikuti status kependudukan dan warga negara orangtuanya. Lain halnya jika  salah satu ortu adalah warga negara Norwegia, anak tersebut bisa memiliki dua kewarganegaraan dari masing-masing ortunya. Kendati demikian, anak yang lahir di sini mendapat perlakuan yang sama dengan semua anak lain (yang citizen).

Setiap bulannya, Kinasih mendapat uang saku dari pemerintah Norwegia dari lahir sampai usianya mencapai 18 tahun, jumlahnya 970 NOK per bulan (sekitar 1,6 juta IDR). Uang tersebut bisa ditabung sampai waktu dia bisa memutuskan sendiri mau dipakai untuk apa. Berdasarkan hukum, orangtua hanya bisa menyarankan dan mengarahkan, tapi anak yang memutuskan. Idealnya ditabung buat biaya kuliah.

WithKinasih

Dengan Kinasih dari waktu ke waktu

Orang tua juga boleh ambil maksimum 20 hari per tahun untuk merawat anak yang sakit di rumah tanpa dipotong gajinya, ditambah dengan pelayanan kesehatan yang diberikan gratis oleh pemerintah, dan day care juga sangat disubsidi oleh pemerintah.

Maternity Leave. Di Norwegia, paid leave bisa maksimum 59 minggu untuk ibu (ini termasuk maksimum 12 minggu buat para ayah). Dan Ini tidak termasuk 4 minggu libur (untuk ayah dan ibu) per tahun. Setelah itu kalau mau unpaid leave bisa maksimum satu tahun. Pemerintah menjamin semua ibu dan ayah untuk kembali punya jabatan yang sama di kantor.

Sesi berenang dengan Kinasih

Babysvømning

Untuk ibu yang tidak bekerja, bisa mendapat allowance 1x dari pemerintah Norwegia sekitar 35,000 NOK (NOK = Norwegian Krone. 1 NOK = 1600 IDR, jadi kira-kira dapet 56 juta). Sementara kalau Ibu bekerja, bisa mengambil pilihan, apakah mau yang 80% earning per tahun + ambil paid leave maksimum 59 minggu maternity leave atau 100% earning + ambil maksimum 49 minggu maternity leave. Dibayarnya per bulan seperti gajian biasa dan dipotong pajak.

Pajak. Sudah bukan hal yang baru bahwa pajak di negara-negara Skandinavia cukup tinggi, Pajak pendapatan di sini normalnya adalah 36% dari gaji dan progresif tergantung jumlah income per tahun. Kalau gaji melebihi 550.000 NOK per tahun, pajaknya naik 9% (jadi 45%). Kalau melewati 885.000 NOK pajak tambahan naik 12% (jadi 48%). Ohya, earning yang didapatkan ketika cuti hamil ada batasnya, maksimalnya adalah 475.000 NOK per tahun (sebelum pajak 36%). Jadi kalaupun gaji biasanya lebih dari ini, dapatnya pas cuti hanya 475.000 NOK in total (sebelum pajak).

Namun untuk pekerja internasional, ada yang namanya standard deduction for foreigners: dua tahun pertama bekerja di Norway bisa apply deduction 10% dari gross income dan max 40.000 NOK per tahun; ini enak banget semacam pendapatan tambahan di dua tahun pertama! ☺

Hal-hal yang perlu diketahui sebelum pindah ke Oslo.

Cuaca. Awalnya mungkin cuaca ya, di musim dingin suhu di Oslo bisa mencapai -20 derajat celcius. Tapi sekarang saya dan Abi sudah biasa. Kinasih yang lahir di sini kayaknya kuat-kuat aja, bahkan makin nyenyak bobonya kalau udaranya dingin.

tumblr_mgxrn7Ss761qdjy2fo1_500

Suhu minus pun tetap dijabanin jalan-jalan

Bahasa. Walau di sini hampir semua orang bisa bahasa Inggris, orang Norwegia kebanyakan terkenal agak tertutup dan terkesan agak kurang ramah di tempat umum. Mereka tidak akan menyapa sama sekali sampai mereka benar-benar kenal sama kita. Banyak yang bilang kalau seorang pendatang yang introvert harus kerja keras dua kali lipat untuk cari teman di sini. Kalau sudah kenal, orang lokal sini sebetulnya sangat baik sekali.

Syttende mai (the 17th of May) at Youngstorget

tumblr_mmy54fJBCC1qdjy2fo1_500

Cara untuk bertemu dengan orang Norwegia yang instan ramah ada dua: setelah mereka minum alkohol dan kalau berpapasan di alam terbuka jauh dari kota (sedang hiking atau skiing di pegunungan!) 🙂

Jam kantor. Selain itu jam kantor mereka sangat fleksibel, ramah keluarga dan juga ramah matahari! Banyak perusahaan besar di sini yang mengizinkan karyawannya kerja efektif dari jam 8-4. Tapi secara umum, jangan harap bisa bertemu rekan kerja dan bos setelah jam 4 sore – apalagi ketika musim panas…! Beberapa perusahaan tutup jam 3 supaya karyawannya bisa ada waktu bersama keluarga, dan menghabiskan waktu di bawah matahari. Dalam hal bisnis, orang sini juga tidak begitu suka dengan hierarki.

Out of 5 millions lucky people who live in Norway, these owner of beautiful houses by the sea are probably even luckier

Out of 5 millions lucky people who live in Norway, these owner of beautiful houses by the sea are probably even luckier

tumblr_mrl3vfifar1qdjy2fo1_500

Suasana di Radhusplassen (“The City Hall Square”) saat musim panas.

Mutu pelayanan. Satu hal yang mungkin saya anggap cukup mengganggu (sebagai orang Asia yang selalu mengedepankan konsumen) adalah kurang berkembangnya service industry. Konsumen di sini dibiasakan untuk tidak manja, which is definitely fine, tapi saya rasa mereka paling tidak bisa lebih ramah. Untuk lebih lengkapnya lagi, menurut saya artikel ini sangat menggambarkan dengan lengkap hal-hal yang bisa jadi potensi culture shock di sini.

This one by Inti, a chilean street artist, transformed the whole side of a building to a great piece of art. at Jens Bjelkes Gate

Yang tak bisa terelakan kalau ke Oslo adalah mural, street art, dan grafiti yang tersebar di sudut kota. This one by Inti, a chilean street artist, transformed the whole side of a building to a great piece of art. at Jens Bjelkes Gate

Bersepeda. Walau jalanan di Oslo tidak sedatar Amsterdam, Berlin, atau kota Eropa lainnya, hampir semua orang di sini punya sepeda.

At Youngstorget : for distances of up a few kilometers, bicycling is often faster than public transportation.

Kita sering bawa Kinasih dari semenjak bayi muter-muter pakai sykkelvogn (trailer).

Kami sering bawa Kinasih dari semenjak bayi muter-muter pakai sykkelvogn (trailer).

Tapi kalau pun tidak punya sepeda, semua warga termasuk turis bisa pinjam sepeda kota di Oslo Bysykkel.

Deretan city bikes

 Kegiatan dengan Komunitas Indonesia di Oslo. Kami sekeluarga cukup sering bertemu dengan teman-teman dari Indonesia. Dulu pas jadi mahasiswa, nongkrongnya cuma sama mahasiswa lain, dan rasanya lebih sering dapat undangan makan-makan dari KBRI daripada sekarang pas sudah bekerja. Berkesan banget pas jadi mahasiswa karena sering diundang ke dapurnya Ibu Retno Marsudi (sekarang menjabat sebagai Menlu) dan dibungkusin bekel sebelum pulang! Hahahaha. Mungkin sama seperti negara lain ya, biasanya KBRI mengadakan acara silaturahmi di Wisma Indonesia untuk merayakan hari-hari besar nasional, perpisahan atau kedatangan staff baru, atau kunjungan dari staff pemerintah Indonesia.

Lebaran di Wisma Indonesia

Lebaran di Wisma Indonesia tahun 2014 lalu: yang berada di tengah adalah Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia, Bapak Yuwono A. Putranto.

tumblr_mroro9Rabr1qdjy2fo1_500

Merayakan 17 Agustusan di Wisma Indonesia, Oslo.  Final tarik tambang; lumayan, pulang dapet giftcard sejumlah 200 NOK 😉

Kebanyakan sekarang sering ketemuannya dengan teman-teman Indonesia pekerja, atau ibu-ibu beranak satu (atau dua). Paling sedih kalau ada teman-teman Indonesia yang harus pulang atau pindah ke negara lain.

Berkeliling di Oslo

Kami tinggal di dalam Schous kulturbryggeri, sebuah kompleks budaya yang diatur oleh Departemen Kebudayaan kota Oslo. Selain Schous Beer Brewery dan rumah Kinasih, ada 4 gedung kegiatan lain di kompleks ini: Øvingshotellet (studio band besar dengan 49 kamar yang bisa disewa), Riksscenen (tempat konser/performance untuk folk music and dancing), dan Popsenteret (an interactive museum of popular music).

Schous Kulturbryggeri

Di antara gedung-gedung ini, ada satu plaza besar tempat Kinasih main sepeda/lempar-lemparan salju sama babehnya/ngumpulin batu/main di kubangan air/apapun tergantung musimnya.

Banyak teman yang pindah ke pinggiran kota Oslo karena ingin hidup yang lebih tenang setelah punya anak atau mau punya rumah besar dengan kebun sendiri. Kita sebaliknya malah makin cinta hidup di tengah kota, dengan banyaknya pilihan taman dan tempat bermain buat Kinasih!

tumblr_n4did6uvur1qdjy2fo1_500

Berjemur pagi…! Ketika musim panas suhu bisa mencapai 32 derajat C.

Pemandangan dari jendela apartemen kami

Ditambah lagi, di belakang rumah kita juga sudah punya kebun besaaaaaaaaar sekali bernama Oslo Botanical Garden!

Oslo botanical garden (Botanisk Hage) – Si kepala Botanisk Hage ini adalah teman kami, orang Denmark yang cinta sekali sama Indonesia dan pernah tinggal di Bogor lama. Pernah kita bawain tempe mendoan dia senang banget.

Ketika musim semi di sudut Oslo Botanical Garden

Saat summer dengan berbagi warna-warni bunga bermekaran

Di sepanjang Akerselva (sungainya Oslo) ini banyak taman yang disebut dengan Akerselva miljøpark – adanya di sepanjang sungai mulai dari Maridalsvannet (danau yang airnya buat air minum kota) di Oslomarka, melewati daerah Nordre Aker, Sagene, Grünerløkka (rumah kita yay!), sentrum dan Grønland, sampai ujungnya di Bjørvika.

Akerselva saat winter

Akerselva saat  summer

Jalur nganterin Kinasih ke TK

Akerselva di daerah dekat Maridalsvannet (belakang Oslo tekniskmuseet)

Satu spot kecil setelah Åmotbrua bisa juga buat piknik dadakan sembari menyusuri sungai

Satu spot kecil sebelum Åmotbrua (depan Oslo National Academy of the Arts (Kunsthøgskolen i Oslo)

Spot Akerselva yang namanya Myraløkka.

Setiap musim gugur, atau autumn equinox, selalu ada yang namanya Elvelangs i fakkellys di sepanjang Akerselva untuk merayakan siang dan malam yang jumlah jamnya sama. Dari jam 8 sampai 11 malam, semua lampu sepanjang sungai dimatikan dan digantikan oleh 4000 obor dan lilin.

Elvelangs i fakkellys 2014

Dua blok dari rumah ada taman Olav Ryes Plass, kadang suka ada amusement park dadakan ditambah food stalls dari berbagai negara. Favorit kita tentunya adalah tenda makanan Asia!

Untuk amusement park beneran, kita bisa nyetir ke Tusenfryd, sekitar 30 menit dari rumah. Sayangnya cuma buka ketika summer (dan beberapa hari di musim gugur di mana pemandangan sekitarnya cantiiiiiiiik banget).

Tusenfryd is an amusement park at Vinterbro, Norway. The park is located 20 kilometers south of Oslo.

tumblr_nczfv0FYrw1qdjy2fo1_500

Tiap summer kita selalu naik sepeda di sepanjang sungai Akerselva dan berenang di dua tempat berikut ini:

Solsiden di Nydalen. Ini sebenarnya bagian dari sungai Akerselva yang dijadikan kolam, dan kelihatannya seperti bendungan mini. Sekitar 4 km dari rumah.

Jena1

Solsiden

Ada juga Frognerbadet Open-Air Public Bath yang hanya buka ketika musim panas (pastinya). Lalu di belakang Teknisk museum ada satu spot sungai Akerselva yang jadi favorit kita semua, tempat Kinasih ngejar ikan. Sekitar 6km dari rumah.

Tempat berenang/sunbathing lain di Oslo yang ok adalah Paradisbukta, satu pantai kecil sekitar 9 km dari rumah.

Baby cinema. Ada tiga bioskop di Oslo (Ringen Kino, Colosseum dan Symra) yang tiap minggu (Senin sampai Kamis saja) menayangkan film baru di siang hari untuk orang tua yang mau nonton bawa bayi. Lampunya diredupkan dan suaranya lebih kecil. Ibu-ibu bisa nonton sekalian menyusui, bapak-bapak bisa nonton sembari gendong bayi yang bobo atau mencoba bobo, dan anak-anak bisa ada yang nangis atau teriak-teriak. Semuanya tentu saja cuek, namanya juga baby cinema!

With Abi, summer 2012

TK Kinasih juga buka kalau weekend: Grunerhagen Barnehage. Bisa jadi pilihan kalau mau ajak jalan-jalan.

tumblr_mlrrc45h7s1qdjy2fo1_500

Penampakan gedung Grunerhagen Barnehage

Di sebelah kantor ada yang namanya Child Planet Atlantis, semacam area bermain indoor yang temanya Atlantis, jadi bisa lihat ikan di langit-langit, ada cumi-cumi raksasa dan dekorasi bawah laut lainnya. Last but not least, IKEA – di Oslo ada dua, Furuset dan Slependen, dan kita biasanya pergi ke yang pertama karena paling dekat ke rumah. Other notable places which Kinasih can wander around at:

Aker Brygge, dermaganya kota Oslo dan Tjuvholmen, di sebelahnya

Sofienbergparken – kalo sedang musim panas selalu penuh sama yang piknik atau cuma sunbathing. Karena di sini seringnya dingin, kalau ketemu matahari orang-orang suka langsung sunbathing (ga peduli lokasinya di mana asal di atas rumput dan di bawah matahari).

Summmeer

Kalo winter, bisa jadi tempat main petah umpet juga 😉

Public spaces lainnya yang menarik dikunjungi di Oslo: Norwegian Museum of Science and Technology atau Norsk Teknisk Museum.

museu

Norsk Teknisk Museum.

Deichmanske bibliotek yang di Schous plass – setiap tahun Oslo Comic Expo diadakan di perpustakaan yang ini.

Astrup Fearnley Museum of Modern Art – tidak hanya isinya yang menarik, tapi luar gedungnya juga:

The Astrup Fearnley Museum of Modern Art is a privately owned Contemporary Art gallery in Oslo in Norway. It was founded and opened to the public in 1993.

Bjørvika. Pemerintah kota Oslo bermaksud untuk membangun kembali daerah dermaga tua dan daerah industri dan proyek ini dinamakan the Barcode Project. Saya rekomendasikan jalan-jalan di sekitar kompleks gedung ini, selain arsitekturnya yang cameragenic juga banyak detail yang menarik seperti parkiran sepeda ini:

Museum of Cultural History (kulturhistorisk museum)

Nobel Peace Center (Nobels Fredssenter) – tentunya sebagain anak HI sejati semua tamu harus ikut saya mengunjungi museum ini!

Kira-kira setiap bulan, public installation di Oslo Central Station (Oslo S) berubah-rubah gitu, seru banget.

Oslo Central Station

Oslo Sentralstasjon

 Momen paling favorit di Oslo S adalah ketika satu seniman favorit saya David Shrigley bikin instalasi ini:

Markveien – jalanan ini paralel sama jalanan rumah. Hampir tiap hari kita jalan di sini. Banyak toko yang buka juga di hari Minggu.

Markveien

Markveien

Selain tempat-tempat di atas, berikut beberapa tempat lain yang tidak boleh dilewatkan kalau jadi turis di Oslo adalah: Oslo Opera House – saya suka sekali dengan gedung ini! Salah satu tempat yang harus harus harus dikunjungi. Interiornya bagus, mulai dari lobby, cafe, atap, sampai toiletnya. Gedung ini didesain oleh kantor arsitek Snøhetta, dan menang award internasional di tahun 2000. Pemerintah ingin menjadikan gedung ini sebagai landmark negara dan juga sebagai fondasi pembangunan kembali daerah Bjørvika.

Oslo Opera House: the building, designed to resemble two glaciers colliding, opened in 2008.

A warm summer evening and an outdoor concert bring a crowd to the Oslo Opera House, home to the Norwegian National Opera and Ballet.

Vigelandsparken (The Vigeland Park) – the world’s largest sculpture park (ada 200 patung!) yang dibuat sendirian oleh seniman Gustav Vigeland.

Ini video mengenai si taman beserta museumnya:

Ekebergparken – sculpture park ini juga satu national heritage park untuk penduduk kota Oslo dan baru dibuka tahun 2012. Holmenkollen – tempat ski jump, ski museum, dan banyak event olah raga internasional Tjuvholmen – ini daerah di mana ada Astrup Fearnley Museum. Kadang kalo lagi nongkrong di sini anginnya bikin sebel tapi pemandangan ke arah lautnya indah banget. Lalu ada juga Akerhus Festning:

Akerhus Festning terlihat dari dermaga Aker Brygge

The castle aka rumah Raja Harald dan Ratu Sonja:

The Royal Palace

tumblr_mvox6k7B6j1qdjy2fo1_500

Karl Johans Gate: is the longest pedestrian street in Oslo viewed from the Castle/ The Royal Palace. Oslo Sentralstasjon is at the end of the street.

Frognerseteren Restaurant interiornya keren banget! Kayak ada di Valhalla. Kalau mau nyobain sesuatu yang beda banget, ada tenda-tenda/restaurant kayak ini di sekitar tempat nyewa sledging.

Pas musim dingin sebelum natal, mesti juga ngunjungin Christmas market di Spikkersuppa:

Denger-denger tempat ini (The Mini Bottle Gallery) juga cuma ada satu-satunya di dunia perturisan:

The Mini Bottle Gallery. Tens of thousands of tiny bottles stuffed with various items

Depan rumah kami ada mini golf! Namanya Grünerløkka Minigolf Park dan kita ngga yakin kapan buka dan tutup. Tapi yang pasti kalau ada matahari (dan ngga ketutup salju) dia pasti buka. Kita belum pernah sekalipun ke sana tapi tempat ini selalu ramai (tentunya pas ada matahari).

Mini golf depan rumah

Tiap tahun banyak banget festival musik di Oslo. Favorit saya ada dua, By:Larm tiap menyambut spring, sama Øyafestivalen tiap summer. Terakhir ke sana venuenya masih di Medieval Park, tapi sekarang sudah pindah ke Tøyenparken (cuma 10 menit jalan dari rumah).

Nonton Blur di Øyafestivalen

Nonton Blur di Øyafestivalen

Kinasih juga senang diajak nonton konser

Kota lain di Norwegia yang membuat saya jatuh cinta:

Bergen – kota besar kedua di Norwegia yang dikelilingi oleh 7 fjord dan 7 gunung. Selain alamnya yang charming dan punya banyak pilihan hiking, kota ini juga terkenal untuk indie/underground music scene yang sangat aktif. Dulu pas kuliah saya sering dengar soal “Bergen Wave”, semacam trend musik lokal dari Bergen yang berkualitas tinggi! Termasuk Kings of Convenience, Erlend Øye, Sondre Lerche, Röyksopp, dll.

Bergen saat musim gugur

Salah satu Fjord di Bergen

Flåm – just o my god. Ini bukan kota sih, desa tepatnya. Cuma ada 350 orang di desa ini (hahaha jadi ketawa sendiri pas nulisnya). Desa ini terkenal sekali dan tempat asal salah satu merek minuman favorit saya dan Abi: Ægir. Jadi kalau mampir Flåm bisa juga berkunjung ke brewery Ægir. Dan waktu kita road trip ke Bergen, sengaja ambil rute yang melewati Flåm. Pemandangannya breathtaking!

Oslo-Bergen via Flåm. Not far from here is the Lærdal tunnel. 24.3km of tunnel. Longest in northern europe.

Oslo-Bergen via Flåm. Not far from here is the Lærdal tunnel. 24.3km of tunnel. Longest in northern Europe.

Lihat deh video Ian Wright berkelana ke Flåm melewati fjord dan pegunungan Norwegia di sini.

tumblr_ncbasey5Rl1qdjy2fo1_500

The scenery is amaaazing! We love Flåm!

 Hardangervidda – bukan kota juga tapi sebuah mountain plateau (dataran tinggi) yang pemandangannya is just out of this world! Kalau kata Abi rasanya seperti ada di Skyrim atau Rohan.

The Qadar Family

The Qadar Family in Hardangervidda National Park. Hardangervidda is a mountain plateau (“vidde” in Norwegian) in central southern Norway, covering parts of the counties of Buskerud, Hordaland and Telemark.

Oke, segitu dulu ceritanya untuk jalan-jalan di Oslo. Postingan berikutnya saya akan berbagi tempat makan dan belanja favorite kami sekeluarga di sini, stay tuned..! 🙂

—————

Untuk foto-foto lain di Oslo dari Jena goldfishvspiranha.com dan Abi abiqadar.tumblr.com. Instagram: @jspyr @abiqadar. Foto-foto terlampir adalah karya Jena dan Abi, beberapa foto penunjang lainnya terhubung langsung dengan link image tersebut.

Merantau di Helsingborg

bebeBebe –   An Indonesian stranded in Sweden. Found her home away from home in a small city called Helsingborg.  A wife and a mom of a cute baby girl who has a passion for photography and design. A gadget-freak, manga lover and k-pop listener.

Tentang keluarga. Nama saya Bebe, yang tentunya bukan nama saya yang sebenarnya. Nama ini adalah panggilan kesayangan dari suami, yang juga saya panggil ”Bubu”. Alasan kemisteriusan nama ini berawal dari suami yang keberatan nama aslinya saya tulis di blog (ga mau namanya muncul di Google, katanya saat itu). Akhirnya supaya nyaman dan ’karir’ menulis blog saya bisa lebih panjang, permintaannya saya turuti. Saya menikah dengan Bubu, yang merupakan pria berkewarganegaraan Swedia pada tahun 2010 yang lalu dan membawa saya hijrah ke negeri asal IKEA ini.

Bersama Bubu di Göteborg (kota terbesar kedua di Swedia, setelah Stockholm)

Resident Permit Swedia. Ketika merencanakan pernikahan dulu, sudah menjadi tekad kami berdua bahwa setelah menikah, saya akan langsung pindah ke Swedia bersama Bubu. Tentunya untuk bisa tinggal di negara ini saya membutuhkan ijin tinggal atau resident permit (RP). Memang sih kalau dilihat-lihat pengajuan RP jauh lebih susah dan lama dibandingkan visa. Tapi dibandingkan dengan keharusan memperpanjang visa setiap beberapa bulan sekali sepertinya mengurus RP menjadi pilihan yang lebih tepat. Apalagi dengan memegang RP itu saya juga otomatis mendapatkan work permit di Swedia. Jadi kalau memang berencana untuk langsung mencari kerja, tidak kesulitan dalam masalah ijinnya.  Untuk info lebih lanjut tentang dokumen bisa dibaca di sini ya.

Perjalanan proses pengajuan aplikasi RP saya sendiri dimulai dari bulan Oktober 2009 dengan perkiraan proses aplikasi akan memakan waktu setidaknya 6 bulan. Tapi ternyata bulan Februari 2010 saya mendapatkan jawaban dari pihak imigrasi Swedia (melalui Bubu yang statusnya masih calon suami dan tinggal di Swedia) kalau aplikasi saya ditolak dengan alasan saya tidak ada rencana menetap di Swedia dalam waktu dekat. Nggg.. Maksutnyaaa???

Langsung keesokan harinya, Bubu mengirimkan banding (appeal) ke kantor imigrasi di Swedia untuk menolak hasil yang kami terima dan meminta keputusannya agar dipertimbangkan ulang, hanya untuk mendapatkan jawaban yang sama satu setengah minggu setelahnya. Karena masih tidak puas dengan jawaban yang didapatkan, kami menggunakan kesempatan appeal ke-2, dimana kali ini prosesnya tidak lagi dilakukan oleh kantor imigrasi, melainkan pengadilan imigrasi. Setelah berbulan-bulan tanpa kabar, barulah pada bulan Juni 2010 Bubu mendapat sebuah surat dari pengadilan yang menyatakan bahwa saya berhak mendapat resident permit Swedia yang berlaku untuk 2 tahun. Fiuuuh.. Finally!! Alhamdulillah..

Setelah proses penuh drama dan air mata, pada bulan Okt 2010 saya pergi meninggalkan Indonesia dan menginjakkan kaki di kota Malmö, Swedia yang merupakan kota tempat tinggal kami yang pertama.

malmo-1

Landmark kota Malmö, The turning torso (gedung tinggi di sebelah kiri)

malmo13A

Pusat kota Malmo ; Malmo adalah kota terbesar ketiga di Swedia dan merupakan ibukota propinsi Skåne

Jembatan Öresund (bahasa Swedia: Öresundsbron) adalah sebuah jembatan-terowongan kereta api dan jalan raya yang melintasi Selat Øresund. Jembatan ini menghubungkan Swedia (kota Malmo) dan Denmark (Copenhagen) dan merupakan jembatan jalan dan rel terpanjang di Eropa. Hanya memakan waktu tempuh sekitar 35-45 menit dengan menggunakan kereta atau mobil.

Hanya setahun kami tinggal di Malmö sampai akhirnya memutuskan untuk pindah ke Helsingborg karena memang kantor suami (yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir) berada di kota ini.

 Skåne County, sometimes referred to as

Malmo dan Helsingborg terletak di Skåne Lan atau “Scania County” dalam bahasa Inggris, adalah daerah paling selatan di Swedia.

Setelah beberapa tahun tinggal merantau dan menikmati fase honeymoon berdua (*uhuk*), kami dikaruniai  anak perempuan kami yang pertama, Jo, yang lahir pada awal tahun 2014 silam.

Keluarga kami, Maret 2015.

Tentang Helsingborg. Helsingborg adalah sebuah kota kecil di pinggir pantai di propinsi Skåne yang terletak di daerah selatan Swedia. Kota ini merupakan titik terdekat antara Swedia dan Denmark, yang saking dekatnya, di hari yang cerah kita bisa melihat ke Denmark dengan mata telanjang.
helsingborg city

Historic Helsingborg dengan banyak bangunan tua, adalah sebuah kota pantai yang indah.

helsingborg city (2)

At its heart, Helsingborg is a sparkly showcase of rejuvenated waterfront, metro-glam restaurants, lively cobbled streets and lofty castle ruins.

Kontur kota Helsingborg terbilang unik karena walaupun letaknya di pinggir pantai, tapi langsung berbukit-bukit. Di bagian pusat kota di dekat pelabuhan terletak stasiun kereta, pertokoan, city hall (rådhuset), tempat pameran Seni (Dunkers Kulturhus) dan lain sebagainya.

helsingborg6

Kota Helsingborg dari atas

Jika kita berdiri di tepi pantai dan melihat ke sebrang di hari yang cerah, akan terlihat dengan jelas kota Helsingör, Denmark yang bisa didatangi menggunakan ferry selama 15 menit perjalanan.

Pusat kotanya Helsingör, Denmark.

Tinggal nyebrang: pusat kota Helsingör, Denmark.

Pemandangan kota Helsingborg ke arah Helsingör dari atas saat winter

Tempat yang paling terkenal di Helsingborg mungkin adalah benteng Kärnan yang lokasinya persis di tengah kota. Benteng ini merupakan peninggalan jalan perang antara Denmark dan Swedia dulu.

A 600 year old medieval fortress (Kärnan) in the city centre

Pindah ke tempat baru untuk pertama kalinya, dalam hal ini ke negeri orang, bukanlah hal yang mudah dan terkadang menakutkan untuk beberapa orang. Belum lagi kalau pindahnya sendiri (baik karena menikah, kerja, sekolah, dsb). Ga cuma harus rela keluar dari zona nyaman, tapi juga harus bisa survive tanpa bantuan keluarga dan kerabat. Selain itu masih harus beradaptasi juga dengan bahasa baru (yang seringnya terdengar sangat ajaib seperti bahasa planet), tradisi dan kebiasaan yang pasti jauh berbeda dengan di tanah air. Pendeknya, ga semua orang akan bisa cepat merasa betah.

Untuk saya sendiri, pindah ke Swedia merupakan pengalaman pertama saya hidup jauh dari orang tua. Karena itulah menjelang keberangkatan saya ke Swedia, sempat juga merasa cold feet dan ragu mau berangkat atau ga. Yah gimana juga yang sebelumnya bisa ketemu orang tua kapan aja, kali ini akan terpisahkan jarak ribuan kilometer jauhnya. Kalau nanti aku kangen gimanaaa? Hiks. Namun setelah akhirnya berangkat dan tinggal di Swedia beberapa tahun terakhir ini, alhamdulillah bisa dikatakan saya betah (saking betahnya sampai sekarang belum pernah pulang kampung loh. Hih!) hahaha…

Atas dasar itulah di post ini saya ingin berbagi tips (ala saya tentunya) tentang cara supaya cepat betah tinggal di negeri orang. Tentunya tips ini sifatnya personal dan berdasarkan kondisi saya di Swedia. Tapi saya berharap berguna juga untuk teman-teman yang ingin pindah ke negara lainnya, terutama yang baru pertama kali tinggal di negeri orang seperti saya.

Tips bagi para first-timer mamarantau:

1. Siapkan mental & lower your expectation – tips pertama ini memang sekilas terlihat template dan superficial ya? Kayaknya semua orang pasti ngomong gitu. Tapi berdasarkan pengalaman pribadi, menyiapkan mental sebelum berangkat ternyata cukup membantu. Cara mempersiapkannya seperti apa? Kalau saya sih dengan banyak browsing tentang Swedia. Selain itu minta Bubu juga untuk cerita tentang kota tempat saya akan tinggal nanti seperti apa (mall-nya apa aja?, penting itu, haha).

Salah satu foto kiriman Bubu dulu sebelum saya pindah, yang disertai pesan: “so you’ll feel at home”

Persiapan lain saya juga sempat belajar masak (yang mana sampai berangkat cuma bisa bikin spaghetti bolognese doang), and last but not least banyak berdoa supaya cepat ikhlas dengan berbagai kondisi yang akan saya lalui di tempat baru.

Sekarang sudah bisa masak berbagai macam masakan yang saya tuangkan juga di blog yang khusus saya dedikasikan untuk berbagi resep masakan.

Kenapa cepat ikhlas? Karena walaupun tinggal di LN itu terlihat indah, tapi saya yakin ga semua secantik hasil foto atau gambar yang ada di TV, maupun berdasarkan cerita orang. Pasti ada sesuatu yang bikin kita berkomentar ”meh gini doang? Di Jakarta lebih keren mallnya!” atau malah shock ketika tau begitu tau yang namanya nyewa/bayar ART atau suster itu mahal sehingga semua harus dikerjakan sendiri. Dengan banyak browsing, tanya-tanya, berdoa memantapkan hati dan terpenting, lower my expectation, saya berharap sih apapun kondisinya nanti saya udah ga kaget lagi dan bisa menerima dengan lapang dada.

snow-2

Tantangan cuaca yang kadang terlalu dingin – kadang berpengaruh juga untuk membuat proses betah-tidak betah ini.

2. Don’t look back (too much) with anger. Alias.. Jangan semua dikit-dikit dibandingin sama keadaan di Indonesia atau di tempat kita dulu. Yang paling susah saya lalui ketika pindah ke sini adalah ga ngebandingin harga barang dan jasa yang diketok di Swedia. Setiap mau beli apa pasti dikurs balik ke Indo. Mau ngapain, kurs lagi balik ke Indo. Kebanyakan kayak gitu ujung-ujungnya cuma sakit ati doang, trus pundung pingin balik.

Tapi setelah saya sadar kecuali saya punya kemampuan lebih untuk bisa bolak balik Jakarta – Swedia beberapa kali tiap tahunnya, ngebandingin terus gitu ga ada gunanya. Ya masaaa ga mau makan atau beli baju karena harga beras atau kaos mungkin 2-3 kali lipat dari di Jakarta. Rambut juga ga mungkin dibiarin awut-awutan ga dirapihin cuma karena harga salonnya luar biasa. Lagipula sekilas memang harga barang & jasa di Indonesia terlihat murah, tapi hitunglah juga tiket pesawat PP-nya. Misalnya potong rambut disana cuma 25rb, kalo plus pesawat jadi 17jutaan+25 rb. Seketika ongkos potong deket rumah yang tinggal jalan kaki jadi terlihat lebih murah deh.. Hihihi

3. If you miss it, make it (or buy it) – salah satu faktor yang bikin seseorang kadang ga betah tinggal di negeri orang adalah makanan. Like we all know, makanan Indonesia cenderung lebih berbumbu dan ‘nendang’ dibandingkan makanan barat. Tentu aja rasanya berbanding lurus dengan kesulitan pembuatan dan bahan-bahannya yang buanyaaak. Kalau misalnya tetiba kangen makanan Indonesia, my advice: belajarlah untuk bikin sendiri. Ga perlu harus ambisius harus bikin semua dari awal. Pakai bumbu instant juga menurut saya cukup kok untuk mengurangi rasa rindu. Seperti yang saya sudah tulis di tips nomor 1, yakni lower your expectation.

Kalau kadung males bikin terus gimana? Ada beberapa pilihan sih. Pilihan pertama gigit jari sambil nangis sesegukan di pojok kamar atau opsi kedua yaitu cari teman setanah air yang jago masak/jualan makanan Indonesia. Contohnya di Skåne sini ada orang Indonesia yang melayani menu-menu nusantara dari gudeg, siomay, pempek, dsb. Harganya tentu lumayan kalo dibandingin sama aslinya di Indo, tapi seperti tips no.2.. kalo dibanding nambah tiket belasan juta, yang deket ini jadi berasa lebih murah koook.. Serius! Sebaliknya.. kalau kita belajar masak trus akhirnya bisa jualin lagi ke teman-teman setanah air.. lah lumayan juga bukaaaan?

ketoprak-02-small

Ketoprak ala-ala – yang penting ga kangen lagi

4. Make yourself at home. Perasaan ga betah dan pingin pulang kadang diakibatkan kita masih merasa seperti orang asing di negeri asing ini. Yah technically emang bener sih.. ahaha, tapi ga berarti harus terus-terusan merasa seperti itu kan? Cara yang paling mudah menurut saya adalah dengan belajar bahasanya. Untuk beberapa negara kita sudah bisa belajar bahasannya sewaktu masih di Indonesia (contohnya bahasa Belanda, Jerman, Perancis, mandarin) jadi ketika pindah bisa lebih mudah berkomunikasi dengan orang lokal. Tapi bagi orang-orang yang pindah ke negara yang bahasanya ga familiar di Indonesia (seperti contohnya Swedia ini lah), berkenalan dengan bahasa Swedia biasanya dimulai ketika sudah pindah. Dengan belajar bahasanya, peluang untuk lebih berkembang tentunya makin besar. Makin banyak kesibukan artinya ga ada waktu lagi untuk bermuram durja berangan-angan “seadainya masih di Indonesia”. Untuk masalah budaya, menurut saya sih seiring waktu pasti kita bisa beradaptasi juga. Dipilih-pilih sendiri yang bagus diambil, yang jelek dihindari.

Belajar bahasa Swedia: “Svenska”

5. Time to start over. Untuk yang pindah ke luar negeri (terutama yang negaranya beda bahasa) atas dasar menikah dengan orang lokalnya kemungkinan besar harus memulai semuanya lagi dari nol. Harus pelan-pelan belajar bahasanya dulu, abis itu baru mulai cari-cari kerja/intership, dsb. Ijazah dan pengalaman kerja di Indonesia bisa dibilang ga ada harganya. Sedih? Pasti!

Cuma kalo mau diambil positifnya, kepindahan ini bisa dianggap sebagai kesempatan kedua loh. Misalnya dulu di Indonesia kita kerja atau kuliah ga sesuai dengan minat yang dimau, kali aja setelah pindah ini bisa benar-benar menekuni bidang yang kita sukai. Toh semuanya juga harus ulang lagi dari awal kan (harus sekolah lagi, dll). Jadi kenapa ga. Jenis pekerjaan yang kita mau coba juga ga sebatas pekerjaan kantoran di belakang meja. Karena semua pekerjaan (at least di Swedia yah) nilainya sama. Ga ada pekerjaan yang lebih elit dan yang rendahan. Mau jadi pelayan restoran, tukang potong rambut, pegawai supermarket, guru, dokter dkk bagi orang sini ya umum dan sama aja. Tentu dari gaji ya tetep ada tingkatannya masing-masing, cuma kalo dari segi gengsi mah (sejauh yang saya perhatikan selama ini) ga ngaruh yaaa.

Ga pede cari kerja seperti saya? Bisa juga membuat peluang kerja sendiri alias wiraswasta. Contohnya teman dekat saya memutuskan untuk membuka layanan travel wedding dan honeymoon ke Bali untuk market Swedia. Dan melihat contoh teman saya tersebut saya pun mencoba mendapatkan penghasilan dengan menjadi designer/fotografer freelance.

Freelance Photographer – Jo dan Bubu mendampingi saya ketika sedang menerima pekerjaan untuk foto suatu acara

6. Create your own small circle of friends. Kangen dengan keluarga biasanya yang menjadi alasan saya suka berpikiran untuk pulang ke Indonesia. Apalagi ketika pindah ke Swedia saya bergantung sepenuhnya ke suami sebagai teman dan keluarga saya satu-satunya. Oleh karena itu ketika pada akhirnya saya bertemu beberapa orang  Indonesia dan menjadi akrab, rasanya seperti mendapat durian runtuh. Karena walau jauh dari keluarga, saya mendapat keluarga baru di sini. Tapi tentu aja mencari yang cocok itu gampang-gampang susah dan ga melulu harus teman setanah air loh. Bertemu orang-orang dari negara lain tapi ternyata klik dan cocok, ya kenapa ga. Yang penting keep it small and simple. Nothing’s worse than having a drama when you are far-far away from home. Quality over quantity still the best policy for me.

7. Just enjoy it. Bagi saya kesempatan untuk ngerasain tinggal di negeri orang itu adalah kesempatan emas yang mungkin ga datang dua kali dan belum tentu semua orang bisa dapat. Kalau untuk liburan ya masih bisa lah setelah rajin menabung pergi kemana-mana, tapi kalau untuk beneran menetap permanent, yah prosesnya ga semudah kalau liburan kan (malah dalam kasus saya penuh drama penolakan dan airmata). Tinggal sementara (untuk beberapa tahun trus balik) ataupun yang permanen (tanpa ada rencana untuk balik) bagi saya sama aja. Malah yang tinggal sementara menurut saya lebih mudah karena toh tiap hari itu layaknya menunggu hari pulang. Jadi seeneq-eneqnya tinggal di negara baru, in the end you’ll be back home soon. Daripada nanti pas udah balik ke Indonesia malah nyesel kebanyakan ngeluh, mendingan dinikmati aja kan.

Daripada mengeluh: “Dingin banget..! Ga bisa kemana-mana..!”. Adanya salju dan pemandangan yang indah adalah salah satu alasan kenapa saya bisa menikmati winter.

8. If all else fails.. buy a plane ticket and go home! Hahahaha.. ya ini judulnya kayak ngusir yaa? Maksud saya kalau emang udah senep, sebel, kesel ga betah-betah juga tinggal di negara baru ya lebih baik rajin menabung trus pulang ke Indonesia deh tiap 3-4 bulan sekali (buat potong rambut atau pijet-pijet) atau mungkin balik for good? Toh dipaksain tinggal di suatu tempat tanpa kita merasa nyaman juga artinya menyiksa diri sendiri bukan?

Segitu saja tips dari saya untuk betah merantau di negeri orang. Semoga bermanfaat…!

——-

Bebe menulis tentang kehidupan di Swedia di http://www.bebenyabubu.com, tentang masakan di bebeskitchen.wordpress.com, dan foto keseharian di Instagram: @hejjossan. Foto-foto terlampir adalah karya Bebe, foto jembatan dan map didapat dari situs yang terhubung langsung. Beberapa keterangan pada gambar didapatkan dari situs Wikipedia.

Membesarkan Anak Bilingual

seerika_16Rika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finland with two bilingual sons, a Finns husband, and trying (hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Tentang Rika dan keluarga. Nama saya Rika Melissa, perempuan asli Indonesia yang saat ini sedang tinggal di Finlandia, tepatnya di kota Kerava. Hingga saat ini saya sudah merantau selama 12 tahun, dimulai dengan status pelajar program master di Jerman, kemudian kerja di Singapura, lalu setelah menikah, lanjut ikut suami yang jadi pelajar di Belanda dan saat ini menetap di Finlandia. Tapi kalau hati sih jangan ditanya, menclok di Jakarta terus.

Kami tinggal di Kerava yang dapat ditempuh dalam waktu 25 menit dengan kereta dari Helsinki

Jika ditanya soal hobi biasanya saya bilang hobi saya menari dan nonton film, tapi yang sebenarnya sering saya lakukan adalah makan dan tidur (hehe).

Suka jalan-jalan juga, ini saat di Old Town, Tallinn, Ibu kotanya Estonia yang bisa ditempuh dengan kapal ferry dari Helsinki.

Saat di Old Town, Tallinn, Ibu kota Estonia yang sangat cantik dan salah satu tempat wisata favorite orang Finlandia -bisa ditempuh dalam waktu 2 jam dengan kapal dari Helsinki.

Suami saya, Mikko, adalah warga negara Finlandia yang selalu punya mimpi untuk bisa hidup dan menetap di Indonesia. Kami bertemu di Istanbul waktu  sama-sama sedang liburan di kota cantik tersebut. Lima tahun setelah pertemuan tersebut, kami menikah dan saya diboyong ke Leiden, Belanda untuk menemani Mikko  yang saat itu sedang melanjutkan pendidikan di Leiden University. Sebenarnya tinggal dan menetap di Finlandia bukan bagian dari rencana kami waktu menikah dulu. Kami jatuh cinta pada Leiden, pada Belanda yang cantik, ramah dan penuh kehidupan. Rencananya kami ingin mencari kerja di Belanda jika Mikko telah merampungkan kuliahnya. Atau, kembali ke Indonesia, mencari kerja atau memulai bisnis kecil-kecilan di sana sambil berpetualang keliling pulau-pulau cantik di Indonesia.

Bersama Mikko

Bersama Mikko

Tanpa direncanakan saya hamil tiga bulan setelah menikah. Panik! Keuangan kami pas-pasan sekali waktu itu. Hidup dari uang beasiswa Erasmus-nya suami yang gak akan cukup untuk menanggung satu nyawa lagi. Rencana untuk tinggal di Belanda pun dibatalkan. Bagaimana bisa cari kerja kalau saya hamil begini? Pulang ke Indonesia juga tidak mungkin karena berarti butuh dana yang besar untuk biaya lahiran di RS. Akhirnya kami mengepak koper dan pindah ke Finlandia dengan pertimbangan Mikko akan lebih mudah cari kerja di negaranya sendiri, ditambah dengan berbagai benefit yang bisa kami dapat jika menjadi penduduk Finlandia.

Suomenlinna, pulau kecil nan cantik yang masih merupakan bagian dari kota Helsinki

Suomenlinna, pulau kecil nan cantik yang masih merupakan bagian dari kota Helsinki

Untuk sementara saja, pikir saya waktu itu. Tapi kenyataannya sudah 5 tahun lebih kami di Finlandia dan sudah dikaruniai dua anak laki-laki, Kai (5 tahun) dan Sami (3tahun).

Menurut Mikko, yang lahir dan besar di Finlandia, negaranya itu, sepi, dingin, gelap dan membosankan. Apa yang dibilang Mikko memang benar adanya, tapi kok, biarpun begitu, tinggal di Finlandia ini bikin betah? Dibalik negatif-negatifnya (yaa dinginnya yang seperti di kulkas), Finlandia juga merupakan negara yang aman dan nyaman, yang social security sistemnya sungguh jawara hiji seng ada lawan, pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak gratis dan terjamin kualitasnya, udaranya masih sangat segar bebas polusi, banyak ruang terbuka tempat anak bebas berlari, dan Finlandia yang tertutup salju ternyata cantik sekali. Seperti di negeri dongeng. Harapan untuk kembali ke Indonesia masih disimpan dalam hati. Tapi saat ini kami sekeluarga berbahagia di kota kecil bernama Kerava.

Kerava winter wonderland

Kerava winter wonderland

Kerava di musim gugur

Kerava saat autumn

Pusat kota Kerava

Pusat kota Kerava

Berkomunikasi dengan Anak Bilingual. Sebagai pelaku kawin campur, saya dan Mikko pastinya berdiskusi bagaimana kami akan membesarkan anak-anak, salah satu yang penting untuk dibahas tentunya: bagaimana kami berkomunikasi dengan anak? Ternyata kami berdua sama-sama langsung sepakat bahwa kami akan menggunakan bahasa kami masing-masing ketika berbicara dengan anak kami. Alasannya gampang saja: it feels more natural, kami ingin berbicara dengan anak dalam bahasa yang paling kami kuasai. Karena itulah kami menerapkan OPOL (One Parent One Language) dalam berkomunikasi dengan anak

Sami Kai

Kai dan Sami di Kampung Sampireun, Garut

Di luar itu juga ada alasan penting lainnya kenapa kami memutuskan untuk ber-OPOL, kami ingin anak kami punya hubungan yang erat dengan kakek-nenek dari kedua belah pihak. Saya ingin Kai dan Sami bisa bicara bebas lepas dengan ayah dan ibu saya di Indonesia. Mikko tentunya juga ingin anak-anak bisa lancar berkomunikasi dengan ibu mertua saya di Finlandia.

Kai dan Ompungnya, tidak pernah ada kesulitan komunikasi di antara mereka. Bersyukur sekali anak-anak bisa bahasa Indonesia

Kai dan Ompungnya, tidak pernah ada kesulitan komunikasi di antara mereka. Bersyukur sekali anak-anak bisa lancar berbahasa Indonesia.

Sejak anak-anak baru lahir kami konsisten ber-OPOL. Saya berbicara hanya dalam bahasa Indonesia ke anak-anak dan Mikko hanya berbahasa Finlandia. Antara saya dan Mikko sendiri sebenarnya lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi.

Banyak yang bertanya kenapa anak-anak tidak diajarkan bahasa Inggris saja? Kan akan lebih berguna? Kalau menurut saya sih, bahasa ibu jauh lebih berguna dari bahasa apapun juga. Bayangkan kalau anak-anak saya tidak bisa berbahasa Indonesia (atau Finlandia). Artinya sejak usia dini mereka sudah terputus komunikasinya dari keluarga dan saudara-saudaranya sendiri di tanah air karena tidak menguasai bahasanya. Tidak semua orang berbahasa Inggris, kan, di Indonesia (dan juga Finlandia!).

Bersama Oma saat dikunjungi

Bersama Oma saat dikunjungi

Lagipula, baik bahasa Indonesia dan Finlandia bukan termasuk bahasa populer di dunia ini dan sulit ditemui di luar lingkup daerahnya. Jadi, kalau bukan dari saya dan suami, dari mana lagi anak kami bisa belajar bahasa Indonesia dan Finlandia? Bahasa Inggris sudah sangat mendunia, bisa dipelajari di mana saja, anak-anak pun nantinya akan belajar di sekolah.

Apakah ber-OPOL itu sulit? Iya dan tidak. Pada hakikatnya metode OPOL cuma meminta kita untuk berbicara dengan bahasa ibu kita sendiri, bahasa yang paling kita kuasai. Apa susahnya sih? Yang agak sulit itu adalah untuk terus konsisten menggunakan satu bahasa tanpa tercampur-campur, termasuk juga membenarkan kesalahan anak ketika mereka mencampurkan dua bahasa atau lebih. Kai dan Sami biasanya suka mencampur bahasa Indonesia dan Finlandia ketika mereka baru mulai belajar bicara. Seperti misalnya “Ei bobo” yang maksudnya “Gak mau bobo” atau “Mau maito” yang berarti “Mau susu” dan lain-lain. Di saat seperti ini saya harus berkali-kali membenarkan omongan mereka. “Gak mau bobo, Kai”  atau “Mau susu, Sami”. Saya ulang-ulang terus sampai akhirnya anak-anak bisa mengucapkannya dengan benar.

One Parent, One Language

Kalau baca ini sih kesannya gampang, tapi anak-anak kan berbicara setiap menit yang berarti setiap menit pula kita harus membenarkan kesalahan mereka, berulang-ulang sampai mereka ingat. Lumayan bikin capek ya ini. Di usia 5 dan 3 tahun, saat ini Kai dan Sami termasuk lancar di kedua bahasa, Indonesia dan Finlandia. Tetap ada sekali-sekali pencampuran bahasa, terutama untuk kata-kata baru, jadi saya pun masih rajin membenarkan omongan mereka.

Dalam ber-OPOL ada beberapa prinsip yang selalu saya ingat:

  1. Tidak mencampur-campur bahasa. Misalnya: “Kai mau makan pisang?” dan bukannya “Kai mau makan banani?” Menyelipkan kata-kata asing akan menyulitkan anak untuk mendiferensiasikan bahasa. Mana yang Indonesia mana yang Finlandia.
  2. Berbicara dengan baik, benar, jelas dan lengkap. Biasakanlah berbicara dengan kalimat yang lengkap. Mengajarkan bahasa Indonesia bukan sekedar menerima anak bisa ngomong “pisang”, “kereta”, “rumah”. Tapi juga memberi contoh penggunaan kata dalam kalimat. “Saya mau pisang”, “Lihat, ada kereta lewat”. Sama prinsipnya untuk bahasa lain. Anak bisa menyebut kata “orange”, “yellow”, “car” bukan lantas berarti si anak bisa berbahasa Inggris. Dia cuma tau beberapa kata dalam bahasa Inggris. Anak yang berucap “Saya mau orange” tidak bisa dikatakan bisa berbahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris dengan benar.
  3. Mendorong penggunaan bahasa yang benar, dan tidak mendorong penggunaan yang salah. Misalnya, saat Kai bilang “Kai mau pisang”, saya beri dia pujian, saya ambilkan pisangnya. Tapi ketika Kai bilang “Kai mau banani” atau “Haluan banania”, saya tidak akan memberi pisangnya sampai Kai mengucapkannya dengan bahasa Indoensia yang benar.
  4. Rajin mengulang-ngulang. Terutama ketika anak membuat kesalahan, harus sabar untuk memberi penjelasan berulang-ulang sampe anaknya mengerti. Termasuk juga meminta anak untuk mengulangi kalimatnya supaya benar.
  5. Kembali lagi ke kon-sis-ten-si. Harus selalu-kudu-musti  konsisten. Saya terus menggunakan bahasa Indonesia, Mikko bahasa Finlandia. Jangan hari ini  ngomong  Indonesia tapi besok pakai Inggris atau Finlandia. Yang seperti ini  bisa bikin anak bingung dan memperlambat proses belajarnya.
  6. Nyaman dan PD dengan bahasa yang digunakan. Alasan utama kenapa saya berbicara bahasa Indonesia ke Kai. Karena cuma dalam bahasa inilah saya paling bebas berekspresi. Dalam proses pengajaran bahasa, komunikasi yang lancar itu penting untuk mendapatkan hasil yang optimal.
  7. Penggunaan berbagai macam media pendukung bahasa seperti buku, musik, video. Ini bisa jadi tantangan besar buat bahasa minoritas, bahasa-bahasa yang kurang populer di dunia. Misalnya saja, sulit sekali menemukan materi dalam bahasa Indonesia di sini, apalagi yang cocok untuk anak-anak. Setiap mudik ke Indonesia kami selalu memborong buku-buku dan DVD anak di Gramedia.
  8. Atur ekspektasi supaya jangan berlebihan. Terutama untuk bahasa Indonesia dan Finlandia yang memiliki perbedaan bahasa formal dan informal, poin ini penting untuk diingat. Saat ini saya berbicara dengan bahasa sehari-hari yang tidak formal dan tidak sesuai aturan EYD ke anak-anak. Kalau kami nantinya akan tinggal permanen di Finlandia, mungkin anak-anak tidak akan bisa menguasai bahasa Indonesia sampai, misalnya, tahap menulis thesis.

Perjuangan OPOL kami belum selesai. Kai dan Sami masih harus banyak belajar bahasa Indonesia dari sumber lain kalau mau mengerti bahasa yang lebih formal. Belum lagi masalah penolakan bahasa yang biasanya terjadi terhadap bahasa minoritas (dalam hal ini bahasa Indonesia karena di sini yang menjadi mayoritas tentu bahasa Finlandia). Sekarang saja Kai kadang-kadang mengeluh bahwa dia malas cerita-cerita sama äiti (ibu, dalam bahasa Finlandia) karena sama äiti harus berbahasa Indonesia. Lebih enak ngobrol sama Isi (ayah) saja pakai bahasa Finlandia.

seerika_84

Bahagia ketika berlibur di Indonesia

Keluhan Kai tidak pernah saya tanggapi, saya anggap saja angin lalu. Pokonya kalau sama äiti harus pakai bahasa Indonesia, gak ada cerita lain! Kalau tidak berbahasa Indonesia äiti akan pura-pura tuli.

Berbahasa Indonesia. Sebenarnya saat ini saya lumayan mengelus dada melihat fenomena anak-anak yang lupa akan bahasa Indonesia (atau tidak diajarkan bahasa Indonesia) begitu pindah tinggal ke luar negri. Lebih prihatin lagi melihat anak Indonesia, tinggal di Indonesia, tapi tidak bisa berbahasa Indonesia dengan alasan sekolah di international school. Kenapa orang tuanya tidak mengajarkan di rumah? Tidak ada salahnya mengajarkan bahasa lain, tapi bahasa ibu jangan dilupakan. Akan ada saatnya anak-anak akan bertanya tentang akar budayanya ketika mereka besar nanti. Penguasaan bahasa ibu akan membantu mereka dalam pencarian jati dirinya.

Menghapus penggunaan bahasa ibu juga memperkecil kesempatan anak untuk berkarya di negaranya sendiri di kemudian hari. Belum tentu kan dia akan selamanya ingin sekolah di luar negri, berkarir dan menetap di sana? Bisa jadi mereka juga ingin hidup di Indonesia, ingin punya pasangan hidup Indonesia, atau sekedar jalan-jalan ke pedalaman Indonesia? Penguasaan bahasa Indonesia akan membantu anak untuk mencapai hal-hal tersebut. Lagipula, anak-anak punya kemampuan ajaib untuk menyerap beberapa bahasa sekaligus. Mereka tidak perlu belajar, cuma perlu diajak berbicara. Kalau bisa dua bahasa kan lebih baik daripada satu? Anak-anak bilingual (atau bahkan multilingual) katanya punya intelenjesi yang lebih tinggi, lebih kritis dalam berpikir dan lebih cepat dalam mempelajari bahasa baru di kemudian hari.

——–

Untuk kisah lainnya tentang kehidupan di Finlandia, Rika menulis di http://seerika.wordpress.com/ atau untuk keseharian, bisa follow IG @seerika.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Rika dan keluarga – dan beberapa diambil dari URL yang terhubung langsung dengan image gambar. Diedit oleh: @chiceniza.

Pengasuhan Anak di Finlandia

RikaRika Melissa – Indonesian woman, currently live in Kerava, Finlandia with two bilingual sons, a Finns husband, and trying (really hard) to learn Suomi language. Always left her heart in Jakarta.

Lain padang lain belalang, begitu kata peribahasa Melayu. Artinya budaya dan tingkah laku manusia selalu bervariasi tergantung tempat tinggalnya, termasuk juga dalam hal pengasuhan anak. Nah, berikut ini praktek-praktek pengasuhan yang menurut saya “Finlandia banget” yang bisa jadi sangat berbeda dengan pola pengasuhan anak di Indonesia (khususnya di Jakarta).

Equality. Prinsip kesetaraan adalah prinsip yang dianut sepenuh hati oleh bangsa Finlandia. Prinsip inilah yang mendasari pemberian Kela maternity box, daycare bersubsidi dan pendidikan gratis bagi seluruh penduduk Finlandia, untuk memastikan bahwa semua anak bisa memulai hidupnya dengan cara yang sama.

Wait, apa itu Kela Maternity Box? Saat usia kandungan Ibu memasuki minggu ke 34-36, Ibu hamil akan mendapatkan sebuah paket dari pemerintah bagian urusan sosial atau dikenal dengan Kela; Kela adalah penyedia jaminan sosial (social security benefits) bagi seluruh penduduk Finlandia. Paket apakah itu?  Kela maternity box adalah paket yang berisi segala kebutuhan bayi yang baru lahir dan diberikan kepada semua ibu hamil di Finlandia (tidak ada pandang bulu, si kaya atau si miskin). Menerima Kela Box ini serasa mendapatkan hadiah Natal (sebuah ungkapan, karena bener-bener bikin bahagia..!). Isi di dalamnya mencakup aneka perlengkapan bayi: mulai dari baju-baju segala rupa (onesies, romper, overall, legging), snowsuit, handuk, sleeping bag/quilt, mainan, sikat gigi, buku cerita, popok kain, dll. Ukuran bajunya pun bervariasi mulai dari ukuran 60-86, jadi bisa dipakai untuk bayi baru lahir sampai kira-kira umur setahunan. Beginilah penampakannya kira-kira jika dijajarkan:

For 75 years, Finland’s expectant mothers have been given a box by the state. Some say it helped Finland achieve one of the world’s lowest infant mortality rates.

Kai yang senang sekali melihat kela box untuk adiknya

Isi Kela box sama untuk semua orang, tidak ada perbedaan untuk bayi perempuan ataupun laki-laki, makanya variasi warna yang ada di dalam kotak umumnya netral semua; putih, kuning, hijau, abu-abu atau coklat. Isi barang-barangnya juga selalu sama setiap tahun, hanya saja Kela mengubah desain dan warna untuk setiap tahunnya. Jadi jangan heran kalo ngeliat bayi sini kok snowsuit-nya sering seragaman karena snowsuit pertama anak sini umumnya memang dari Kela. Ada kejadian ketika Kai masih bayi, saya pernah pergi ke acara bayi-bayian (semacam expo) di Helsinki. Di sana kami bertemu bayi-bayi lain dengan snowsuit yang sama dengan Kai, bukan cuma satu atau dua, tapi lusinan..! Lucu banget kalo mereka dijejerkan bersama. Seragaman, seperti rombongan sekolah bayi.

Kela Box yang saya terima untuk Sami

Nah, terus, yang juga sangat penting, adalah kotak paketnya sendiri. Kotak ini bukan sekedar jadi wadah barang tapi juga dipakai sebagai tempat tidur pertama bayi-bayi Finlandia. Bikin kita jadi bingung kan? Ini bayi atau anak kucing kok tidurnya di kardus? Menurut bidan sini, bayi yang baru lahir menyukai tempat yang kecil dan sempit, seperti di kandungan ibu. Baby crib sebenarnya terlalu besar untuk bayi dan sering bikin bayi kecil gelisah. Karena itu kotak kecil dari Kela ini memang ideal sebagai tempat tidur bayi. Sebelum dipakai kotaknya dialasi dulu pakai matras tipis dan selimut yang juga didapat dari Kela box.

Bayi di dalam Kela Box (ini bukan Sami ya)

Kotak Kela ini sudah beredar selama 75 tahun di Finlandia! Bener-bener sudah jadi bagian penting dari kehidupan rakyat sini. Mulai dari kakek-nenek, ayah-ibu dan anak-anak pernah merasakan tidur di dalam kotak Kela. Setiap modifikasi yang ada di kotak Kela pasti jadi bahan pembicaraan hangat karena memang isi kotaknya nostalgic sekali bagi masyarakat sini. Mulai tahun 2010 kemarin mainan kerincingan berwarna merah tidak disertakan lagi di dalam kotak Kela, pembahasannya sampai ada di koran dan TV segala. Sekarang mainan tersebut dianggap sebagai barang koleksi.

Kerincingan Merah

Kerincingan Merah

A 1947 maternity pack

Menidurkan Bayi dan Anak di Luar. Nah, bayinya kan tidur di kardus Kela. Trus kardusnya itu taro dimana? Umumnya sih di dekat tempat tidur orang tuanya. Tapi, sering juga kotak bersama bayinya itu diletakkan di balkon! Di luar! Orang Finlandia percaya udara segar membuat bayi tidur lebih nyenyak. Jadinya, jika udara lagi bersahabat, tidak hujan dan tidak terlalu dingin, bayi-bayi dibiarkan tidur di balkon atau di teras rumah. Dulu, mertua saya juga membiarkan Mikko (suami) tidur di balkon sementara beliau  menggeret kasur ke ruang tamu dan tidur dengan pintu terbuka.  Dibantu dengan hembusan angin musim panas yang sepoi-sepoi, Mikko slept like a baby di udara terbuka begitu  (ya, emang masih bayi, sih, yaaaaa).

Sudah jadi kebiasaan juga buat orang sini untuk mengajak bayi keluar setiap hari. Kadang sambil belanja, tapi tak jarang melihat mereka menggeret stroller sekedar untuk bawa bayi jalan-jalan sambil menghirup udara segar. Biasanya bayi-bayi lantas tertidur di strollernya. Nah, kalau bayinya udah ketiduran orang tuanya bisa mampir ke cafe, ke restoran, atau balik ke rumah sementara strollernya di tinggal di halaman. Lagi-lagi orang sini percaya kalau udara segar sangat baik untuk tidurnya bayi-bayi, jadi biarkan mereka tidur di luar lebih lama.

Praktek ini dilakukan di segala musim, termasuk juga di musim dingin. Tidur di suhu subzero (di bawah O derajat Celsius) bukan masalah..! Selama stroller dan pakaian bayinya tahan dingin. Dulu, ibu bidan pernah bilang ke saya bahwasanya selama suhunya tidak di bawah minus 15 derajat Celsius, masih baik untuk membawa bayi ke luar. Malahan bayi-bayi tambah nyenyak tertidur di udara dingin begitu. Jadi, jangan heran kalau di pinggir jalan atau di halaman rumah ada stroller bertengger sendirian berikut bayinya. Pemandangan yang cukup umum di Finlandia, terutama di Kerava, di tempat kami tinggal sekarang. Di Helsinki pun sering lihat stroller dengan bayi tertidur di dalamnya diparkir di pinggir sebuah cafe sementara orang tuanya mengawasi dari jendela.

Would you put your baby or toddler outside in the freezing cold for their lunchtime nap? Most Nordic parents wouldn’t give it a second thought. For them it’s part of their daily routine. (Nordic: Denmark, Finland, Iceland, Norway and Sweden)

Gak terbayang rasanya bisa meninggalkan bayi tertidur sendirian di jalanan Jakarta. Pasti orang tuanya sudah gila! Tapi hal tersebut mungkin dilakukan di Finlandia berkat situasi negaranya yang terbilang aman. Tingkat kriminalitas di sini relatif kecil terutama untuk kasus-kasus penculikan anak. Saya pun sering membiarkan Kai dan Sami tidur di halaman sementara saya menunggu dari apartemen kami yang ada di lantai dua. Tiap beberapa menit saya melongok dari jendela untuk memastikan apakah mereka sudah bangun. Jendela juga dibiarkan terbuka supaya saya bisa mendegar kalau mereka nangis.

Tidur di luar, tapi tetap diawasi lewat jendela

Tapi pernah ada kejadian menggemparkan di tahun 2009. Seorang bayi yang sedang tidur di luar hilang dari strollernya yang di parkir di halaman rumah. Satu Finlandia geger seketika. Panik! Gimana kalau mereka gak bisa menidurkan bayi di luar lagi? Ini kan udah jadi tradisi nenek moyang! Untungnya, bayi tersebut kemudian ditemukan beberapa jam kemudian, di gundukan salju. Ternyata ‘penculik’ nya adalah seorang anak perempuan usia 9 tahun yang lagi terobsesi main bayi-bayian. Niatnya cuma mau main-main tapi si anak panik ketika bayinya mulai menangis dan akhirnya melarikan diri setelah ‘mencampakkkan’ bayinya ke gundukan salju. Untung saja ada polisi yang kemudian mendengar tangisan si bayi dari gundukan salju dan si bayi pun selamat sebelum kedinginan. Berita penemuan bayi ini bikin warga Finlandia kembali lega karena kasusnya tidak dianggap sebagai kasus kriminal, tidak tergolong kejadian penculikan anak ataupun human trafficking. Tapi gak ada salahnya juga untuk lebih berhati-hati saat membiarkan bayi tidur di luar.

Haalari (Snowsuit). Saya pernah baca buku berjudul “How to Marry a Finnish Girl” dan di buku itu penulisnya berkomentar bahwa “Finnish kids are always, ALWAYS, in their overalls”. Selain di negara-negara Nordic, memakai haalari (aka snowsuit, aka winter overall) sepertinya memang tidak umum, kecuali untuk kegiatan tertentu seperti ski atau bermain air. Anak Finlandia memakai haalari setiap hari sejak musim gugur sampai musim semi yang berarti dari bulan September hingga April. Sekitar 8 bulan. Haalari dianggap lebih praktis ketimbang jaket biasa karena haalari lebih tahan air, tahan angin dan tahan banting. Haalari juga lebih melindungi anak dari udara dingin plus menjaga anak tetap bersih di acara main-main air atau salju.

Biasanya ada dua macam haalari yang harus dimiliki seorang anak: välikausihaalari (mid season haalari) dan talvihaalari (winter haalari). Välikausihaalari bahannya lebih tipis dan lebih ringan, cocok untuk cuaca yang tidak terlalu dingin di musim gugur atau semi. Di musim dingin barulah dipakai talvihaalari yang lebih tebal karena didalamnya ada lapisan thermal. Selain itu ada juga kurahaalari (rubber overall) yang lebih tahan air dan sangat cocok dipakai di musim hujan. Beberapa merk melengkapi haalari mereka dengan lapisan fleece biar kehangatannya lebih terjamin. Merk yang terkenal di sini adaah Reima yang merupakan merk asli Finlandia, dan merk-merk lain dari Swedia dan Denmark seperti Polarn O Pyret, Didriksons, Molo dan Ticket to Heaven. Selain haalari, anak-anak sini juga dilengkapi dengan pipo (beanie, topi kupluk), sarung tangan, long john berbahan wol, kaos kaki wol dan sepatu bot untuk menghadapi musim dingin. Banyak, yaaaaa, perlengkapannya.

Kai dan Sami dalam Haalari mereka

Kai dan Sami dalam Haalari mereka

Membeli Pakaian di Lastenkirppis. Waktu saya baru sampai di Finlandia dalam keadaan hamil besar, banyak sekali orang-orang sini yang memberi tahu dimana saya bisa beli pakaian bayi bekas. BANYAK! Saya sampe sedih. Segitu kentaranya, ya, muka melarat saya sampai beli barangnya cuma bisa yang bekas-bekas? Ternyata memang begitulah adatnya di sini. Untuk bayi-bayi, banyak orang tua yang lebih suka beli barang bekas ketimbang yang masih baru. Alasannya karena harga perlengkapan bayi tuh mahal-mahal banget padahal dipakainya cuma sebentar. Makanya pasar barang bekas laku sekali di sini.

Kirpputori Valtteri, Helsinki

Dalam bahasa Suomi, pasar barang bekas disebut sebagai kirpputori atau disingkat kirppis. Ada dua macam kirpputori di sini, kirpputori swalayan yang memang seperti swalayan/toserba di mana penjual menyewa sebuah meja dan meninggalkan dagangannya di meja tersebut. Sementara pembeli tinggal masuk ke kirppis, cuci mata dari meja-ke meja dan membayar barang yang disuka di kasir. Yang kedua adalah kirpputori dengan kontak langsung antara pembeli dan penjual, biasanya outdoor (di musim panas) atau di hall besar. Kirppis seperti ini biasanya cuma ada di waktu-waktu tertentu atau cuma di akhir minggu saja. Sistemnya penjual menyewa sebuah meja untuk kemudian membawa barang-barangnya dan berjualan langsung di situ. Di kirppis seperti ini bisa terjadi tawar-menawar, malah, di penghujung hari harga barangnya makin diobral.

Hietalahti kirpputori, salah satu kirpputori outdoor di Helsinki

Lastenkirppis adalah kirpputori yang khusus menjual perlengkapan anak-anak saja. Di Rekola, tiga stasiun dari Kerava, ada lastenkirppis yang terkenal dan cukup besar. Di sana ada puluhan meja dengan bermacam-macam barang, mulai dari baju-bajuan, sepatu, kaos kaki, buku cerita, mainan bayi, sampe pispot juga ada. Di sudutnya ada juga bagian khusus menjual peralatan besar seperti stroller dan tempat tidur bayi. Kondisi barangnya juga bermacam-macam mulai dari yang keliatan ‘bekas banget’ sampe yang masih baru lengkap dengan label harganya pun ada, tentunya dengan harga yang sudah dimiringkan.

Lastenkirrpis: toko barang seken khusus untuk anak-anak

Pertama kali berkunjung ke kirpputori saya masih males-malesan melihat barang-barang bekas begitu, akhirnya keluar tanpa beli apa-apa. Tapi makin hari saya malah semakin hobi dan semakin ahli pula untuk menemukan harta karun yang biasa terpendam di tumpukan barang-barang dekil, baik untuk diri sendiri ataupun anak-anak. Puas banget rasanya kalau bisa menemukan barang bagus tapi murah dari kirpputori…! Saking meriahnya pasaran barang bekas di sini, harganya juga gak murah-murah amat akibat demand yang terlalu tinggi. Sebagai bandingan, harga barang yang sama di ebay.co.uk suka lebih murah bahkan setelah ongkos kirim. Kalo begitu buat apa beli yang bekas? Beli yang baru aja dong sekalian? Tapi orang-orang sini kemudian akan mejawab: beli bekas tetap lebih bagus karena artinya kita berpartisipasi dalam proses daur ulang, mengurangi sampah, dan menjaga kelestarian bumi kita. Dan hatiku pun meleleh….Aaaaaaaaw. Hidup kirpputori!

Kecintaan Akan Ruang Terbuka. Ada yang bisa menemukan benang merah dari poin-poin yang ada di atas? Bayi yang tidur di balkon, stroller di parkir di halaman, haalari, dan baju-baju bekas? Jawabannya adalah: OUTDOOR. Ruang terbuka…! Sudah ketebak yaa kalo orang Finlandia suka banget sama udara segar dan ruang terbuka? Bayinya aja disuruh tidur di balkon begitu, gak takut digondol kucing apa ya?

“There’s No Such Thing As Bad Weather, Just Bad Clothing” –  semacam prinsip yang dipegang oleh orang Finland.

Bahagia itu sederhana :)

Nah, menurut anjuran ahli kesehatan di sini, bayi dan anak-anak harus dibiarkan di udara terbuka minimal 2 jam sehari. Makanya sudah jadi rutinitas orang tua sini untuk membawa bayi dan anaknya jalan-jalan keluar. Bisa sekedar muter-muter sambil dorong stroller atau sekalian bawa anak ke taman bermain. Di Finlandia memang banyak tersebar taman bermain untuk anak. Seinget saya nih, untuk daerah Kerava, pengaturan kotanya melingkupi: minimal ada 1 taman bermain dalam radius 400 m dari tiap tempat tinggal, 1 daycare dalam radius 500 m dan 1 sekolah dasar dalam radius 1 km. Dalam radius 1 km dari rumah kami sepertinya ada 6 taman bermain untuk anak-anak. Gak besar dan nothing fancy, tapi kalo dibandingkan dengan yang ada di Indonesia sudah mencukupi sekali.

marizkarima_14

Di päiväkoti (daycare) anak-anak juga dibiarkan main di luar, dua kali dalam sehari. Pagi-pagi setelah sarapan dan sore setelah tidur siang. Mau panas, dingin, atau hujan, tetap saja halaman päiväkoti ramai dengan anak-anak. Kalau hujannya deras, baru deh mereka ‘disimpen’ di dalam kelas. Dan kalau sudah di luar,….ampun dijeeeee…Anak-anak sini mainnya ganas! Guling-gulingan di salju, loncat-loncat di kubangan air, tidur-tiduran di bak pasir, bergumul di tanah berlumpur, pokoknya pulang ke rumah dijamin kotor, tor, tor, tor. Kalau sepatu Kai dibuka isinya pasir semua.

Kotor-kotoran itu biasa…!

Nah, ngerti kan sekarang kenapa lebih praktis pakai haalari ketimbang jaket-jaket trendy seperti Parisian kids? Jantung saya pasti copot kalo melihat jaket wol dipakai buat main lumpur. Haalari yang terbuat dari bahan poliester lebih tahan banting buat main basah-basahan dan kotor-kotoran.

Kegiatan bermain di alam terbuka yang sangat dicintai oleh orang Finlandia

Orang tua di Finlandia memang lebih permisif dalam hal kotor-kotoran begini. Bayi-bayi dibiarkan berguling di rumput di musim panas, kalau sekali-sekali rumputnya kemakan atau tanahnya dijilet sedikit ya gak masalah. Anak-anak juga diharapkan sudah makan sendiri sejak umur 1 tahun, jika bajunya kotor dan rumah juga ikutan kotor ya gak masalah, yang penting anaknya belajar untuk lebih mandiri. Makanya ada temen bule saya yang bilang “Anak-anak cukup dikasih pakaian bekas aja, orang cuma buat dikotor-kotorin kok”.

seerika_31

Di hutan kecil di dekat rumah

Di hutan kecil di dekat rumah

Kembali ke udara terbuka, ada banyak kegiatan outdoor yang bisa dilakukan di sini. Dari mulai usia päiväkoti anak-anak dibiasakan untuk retki (outing) alias jalan-jalan ke hutan, ke taman atau empang kecil buat kasih makan bebek setiap minggu. Ada juga päiväkoti yang punya program bersepeda, ski, dan ice skating. Yang jelas pergi keluar dan bermain dengan alam jadi kegiatan rutin orang Finlandia yang sudah diterapkan sejak anak-anak. Dan hutan adalah bagian yang sangat penting dari alam Finlandia. Orang sini bangga sekali akan hutan mereka.

“Retkellä rannalla” jika diterjemahkan: perjalanan ke pantai, salah satu bentuk kegiatan retki

Di hutan anak-anak diajarkan tentang jenis-jenis arbei dan jejamuran yang merupakan kekayaan hutan Finlandia. Pulang dari retki, Kai dan Sami sering bawa oleh-oleh untuk Isi (ayah) dan äiti (ibu) berupa ranting pohon atau daun-daun kering yang mereka ambil di hutan.

Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak di Finlandia. Negara Nordik sangat terkenal dengan prinsip keseteraan gendernya dan Finlandia hampir selalu berada di posisi teratas dalam daftar negara-negara dengan kesetaraan gender terbaik. Karena itu, gak heran kalau tugas-tugas membesarkan anak diemban dengan hampir sama rata antara ayah dan ibu. Saya bilang hampir, karena tetap ibu yang harus bertugas hamil, melahirkan dan menyusui. Tapi di luar tiga hal tersebut, segala hal tentang pengurusan anak  dilakukan bersama oleh  ayah dan ibu.

Mikko dan Kai berumur 2 hari

Mikko dan Kai berumur 2 hari

Kisah-kisah SAHD (stay at home dad) banyak terjadi di Finlandia. Hal ini memungkinkan karena setiap ayah di Finlandia berhak atas 18 hari kerja paid paternity leave sementara paid parental leave selama 158 hari kerja bisa diambil baik oleh ayah atau ibu atau di-share di antara keduanya. Dan banyak juga orang tua yang kemudian memperpanjang parental leave hingga anaknya berusia 3 tahun, usia yang dianggap ideal untuk masuk päiväkoti.

Di Finlandia tidak ada stigma negatif untuk ayah yang terlibat langsung dari pengasuhan anaknya. Wanita Finlandia juga tak segan-segan menunjukkan protesnya kepada ayah yang pemalas. Ditambah dengan  paternity leave dan parental leave yang memadai, ayah Finlandia punya cukup waktu untuk mendampingi anaknya sehingga mereka terlihat sangat terlatih dalam mengurus anak. Gak heran kalau Finlandia kadang disebut sebagai negara dengan ayah-ayah terbaik.

seerika_61 seerika_38

Ada berapa banyak SAHD di Finlandia? Sayangnya saya tidak menemukan statistiknya, tapi, hingga sampai saat ini parental leave lebih banyak diambil oleh wanita, apalagi untuk parental leave yang panjang hingga tiga tahun. Biarpun digadang-gadang sebagai negeri dengan kesetaraan gender terbaik, tetap saja di Finlandia masih ada ketimpangan antara pendapatan wanita dan pria. Pada umumnya gaji pria masih lebih tinggi dari wanita dan karenanya wanita lebih sering mengambil parental leave. Biar dapur tetap ngebul ya, bok.

Tapi, sebenarnya, di Finlandia sendiri istilah SAHD dan SAHM tidak banyak digunakan karena semua orang di sini, baik wanita maupun pria, umumnya bekerja atau sekolah. Orang-orang yang tinggal di rumah untuk mengurus anak di bawah usia tiga tahun disebut ‘sedang cuti’ atau ‘sedang mangambil parental leave’. Mereka yang masih di rumah ketika anaknya di atas tiga tahun biasanya disebut pengangguran. Haiish, kejam, ya?

Tapi memang begitulah kenyataan hidup di sini. Biaya hidup yang tinggi, dan wanita Finlandia yang menginginkan status independen, membuat semua orang harus bekerja, baik dari rumah atau pun di luar rumah. Tidak seperti di negara lain, dimana banyak label seperti full time mom/dad, working mom/dad, stay at home mom/dad atau work from home mom/dad, pelabelan seperti ini tidak ditemui di Finlandia. Kerja ya kerja aja, terserah mau dari mana, kek, ngurus anak ya jalan terus. Begitu mungkin menurut mereka.

Pikku Kakkonen. Pikku Kakkonen berarti Little Two dalam bahasa Inggris karena memang ditayangkan di channel 2. Ini dia serial TV anak-anak paling populer se-Finlandia. Program sepanjang satu jam di channel YLE 2 yang ditayangkan dua kali di hari kerja (jam 7 pagi dan jam 5 sore) dan sekali di akhir pekan (jam 8 pagi).

Logo Pikku Kakkonen yang pasti dikenali oleh setiap penduduk Finlandia.

Pikku kakkonen ini bagian dari masa anak-anaknya Mikko dan mertua saya, dan sekarang jadi bagian dari hari-harinya Kai dan Sami. Programnya berisi gabungan serial anak-anak yang sudah di dub dan judulnya pun sudah diganti ke bahasa Finlandia seperti Postimies Pate (Postman Pat), Arvaa Kuinka Monta Minä Rakastan Sua (Guess How Much I Love You), Kaapo (Caillou), Saara ja Sorsa (Sara and The Duck).

Arvaa Kuinka Monta Minä Rakastan Sua a.k.a “Guess How Much I Love You”

Kalo menurut saya, serial yang ditampilkan dipilih dengan hati-hati dan sangat sesuai untuk anak-anak. Gak ada konten kekerasan, humornya gak slapstik, dan ceritanya sarat tentang kekeluargaan atau tentang kehidupan anak sehari-hari. Selain itu ada juga konten lokal  yang temanya berganti-ganti, misalnya, tentang polisi lalu lintas, tentang kehidupan anak-anak di pedesaan, tentang hutan, tentang cuaca, dll.

Pembawa acara di Pikku Kakkonen bervariasi dari anak-anak, remaja, orang dewasa dan nenek-nenek. Biasanya mereka memakai baju warna-warni tapi dengan motif sederhana. Sambil membawakan acara mereka biasa bernyanyi dengan iringan gitar atau berprakarya kecil-kecilan.

Baru-baru ini ketika kami mudik ke Indonesia, Kai dan Sami rajin nonton Disney Junior di TV, salah satunya adalah acara High Five. Kalau dibandingkan Pikku Kakkonen yang nuansanya tenang dan ceria secukupnya, begitu ngeliat high five langsung puyeng. “Apa pula ini kok heboh banget?” begitu komentar Mikko. Dibanding Pikku Kakkonen acara anak-anak lain terasa terlalu gegap gempita. Warna-warninya bombastis dan cerianya berlebihan sampai terasa dipaksakan. Orang Finlandia memang menjunjung tinggi kesederhanaan dan ketenangan. Saya sendiri sepertinya  sudah terlalu lama tinggal di Finlandia karena setelah rajin nonton Pikku Kakkonen, nonton High Five langsung bikin ilfil.

Jyrki dan Neponen, dua tokoh yang sering muncul sebagai pembawa acara di Pikku Kakkonen

Vauvauinti. Alias kelas berenang untuk bayi. Bayi-bayi usia 3 bulan hingga 1 tahun di Finlandia biasanya diikutkan ke kelas vauvaunti yang walaupun artinya berenang bayi tapi pada kenyataannya bayi-bayi tidak lantas jadi jago berenang di sana. Saya sempet kecele, saya pikir setelah vauvauinti, Kai, yang waktu itu usianya 4 bulan, bakal jadi perenang handal, bisa ngebut berenang dari ujung ke ujung. Ternyata gak, tuh. Tujuan vauvauinti rupanya bukan untuk mengajarkan bayi berenang. Yang ingin dicapai di sini adalah perkenalan bayi dengan air dan kegiatan air. Jadi isinya ya cuma main-main di air saja.

4 month old Kai in vauvauinti

4 month old Kai in vauvauinti

Orang sini percaya kalau air adalah habitat kedua buat bayi. Selama 9 bulan, kan, bayi-bayi sudah berenang di air ketuban ibunya. Bayi yang baru lahir biasanya sangat mencintai air karena mengingatkan mereka akan perasaan nyaman di dalam perut ibu. Semakin kecil bayinya, semakin sedikit ketakutan mereka akan air, semakin gampang untuk diajak menyelam ke dalam air. Kalau bayi diajarkan menyelam sejak dari kecil, nantinya mereka akan lebih mudah diajarkan berenang.

Vauvauinti biasanya diadakan di kolam renang yang dalamnya kurang dari 1m dan suhunya sudah dipanaskan ke 32 derajat Celcius. Bayi-bayi berenang sambil digendong ibunya, ayahnya, atau keduanya. Di kolam kegiatan dimulai dengan bernyanyi dan bermain air di dalam lingkaran, setelahnya bayi-bayi diajarkan untuk mengepak-ngepakkan tangan dan kakinya, memutari kolam sambil bergelayut di tangan orang tuanya, dan menyelam di dalam air selama beberapa detik, bahkan kadang dilepas untuk melayang sesaat di dalam air.

Circle time vauvauinti

Circle time sebagai pembukaan dan penutupan di tiap sesi vauvauinti

Sikap yang Cenderung Santai Terhadap Pendidikan. Pendidikan sudah pasti jadi bagian yang sangat penting dalam pengasuhan anak. Satu dekade belakangan ini sistem pendidikan Finlandia menggemparkan dunia karena dianggap berhasil menghasilkan anak-anak yang berprestasi dengan kurikulum yang sangat santai dan tidak membebani anak. Anak-anak Finlandia mulai sekolah di usia 7 tahun, usia yang mungkin dianggap terlambat di negara lain,  dan di usia itulah mereka baru akan belajar membaca dan berhitung secara formal.

Mulai tahun 2015 ini ada peraturan baru yang mewajibkan setiap anak umur 6 tahun untuk ikut esikoulu atau preschool. Esikoulu biasanya berupa sebuah kelas khusus di päivökoti, di sana anak-anak diajarkan tentang angka dan huruf dan tentang kegiatan bersekolah. Bahwa di sekolah anak-anak harus duduk dan tidak boleh lari-larian di kelas, bahwa di sekolah akan ada guru yang berbicara dan harus didengarkan, dsb. Kegiatan membaca dan berhitung tetap dimulai ketika anak-anak masuk sekolah dasar. Sebelum usia sekolah (maupun esikoulu) anak-anak ditempatkan di päiväkoti atau perhepäivähoito yang kalau diterjemahkan artinya kira-kira ‘daycare’. Di päiväkoti kegiatannya ya cuma main, main dan main tanpa ada kurikulum khusus. Sungguh berbeda dengan tuntutan di Jakarta dimana anak-anak TK sudah harus bisa membaca, menulis dan bahkan berhitung.

Sudut kelas Esikoulu

Sekolah anak Finlandia terkenal santai, banyak liburnya, jam istirahatnya panjang, dan PRnya sedikit. Pendidikan di Finlandia ditujukan untuk menghasilkan generasi yang mandiri dan bisa bepikir sendiri, karena itu keterlibatan orang tua dalam proses belajar mengajar tidak banyak dituntut, bahkan bisa dibilang sangat minim. Pelajaran di sekolah  disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak di usianya sehingga anak-anak diharapakan bisa mengerjakan PR-nya  tanpa bantuan orang tua. Kegiatan yang melibatkan kehadiran orang tua di sekolah juga sangat jarang, palingan untuk ambil rapor atau menonton pertunjukkan akhir tahun. Gak banyak acara bazar-bazaran, prakarya bersama, atau seminar ini itu. Tanya deh sama orang tua Finlandia yang pernah tinggal di Amerika, katanya di Amerika mereka kewalahan menghadiri kegiatan sekolah anaknya.

Perbandingan di Finlandia dan Amerika: PR dan waktu istirahat anak

Orang Finlandia sangat mengagungkan kemandirian, karena itu sejak kecil anak-anak sudah diajarkan untuk mandiri. Mulai dari belajar makan sendiri di umur satu tahun, belajar pakai haalari sendiri di päiväkoti, dll. Anak-anak harus mengerti bahwa keberhasilan dan kegagalan yang mereka capai adalah hasil perbuatan mereka sendiri. Keberhasilan di sekolah adalah tanggung jawab si anak pribadi, bukan orang tuanya.

Tidak ada ujian – hanya sekali-dua kali sepanjang masa sekolah

Sekolah di Finlandia juga minim ujian. Ujian-ujian kecil tetap ada tapi ujian besar seperti UN cuma berlangsung sekali-dua kali sepanjang masa sekolah mereka. Penilaian dari guru juga umumnya bukan berbentuk nilai. Rapor sekolah biasanya berisi keterangan apakah si anak lulus atau tidak lulus di tiap mata pelajaran. Tapi tiap guru tau benar akan kemampuan masing-masing muridnya. Gak jarang guru membuat soal ujian yang berbeda tingkat kesulitannya untuk siswa tertentu. Murid-murid diharapkan bersaing dengan dirinya sendiri di sekolah, bukan dengan orang lain. Sistem pendidikan di Finlandia memang jauh dari kompetitif. Tiger mothers dan tiger fathers adalah mahluk langka di negara ini.

Peran guru juga sangat dihargai

Balik lagi kepada prinsip pertama: Kesetaraan. Perlu diingat bahwa tidak ada sekolah swasta di Finlandia (dan tidak ada universitas swasta) sehingga tidak ada sekolah elit atau universitas Ivy League yang lulusannya membentuk kelompok eksklusif di masyarakat. Semua sekolah di Finlandia dianggap sejajar secara kualitas.

Revolusi pendidikan di Finlandia dimulai di tahun 1970-an, dimana waktu itu cuma kalangan berada yang bisa mengakses pendidikan dengan kualitas baik di sekolah-sekolah elit. Setelah revolusi berlangsung, nama Finlandia mulai naik daun sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik. Bukan status itu sebenarnya yang ingin mereka capai melalui revolusi pendidikan. Mereka tidak ingin menjadi yang terbaik. Mereka cuma ingin menjamin bahwa semua rakyatnya bisa menikmati pendidikan tanpa pandang bulu. Bukan kompetisi yang mereka cari, melainkan kesetaraan. Equality and not competition.

Anak-anak di Finlandia memulai hidupnya dengan baju dari kotak Kela,  pergi ke sekolah negri dan menerima layanan kesehatan dari puskesmas. Ini adalah usaha pemerintah Finlandia untuk meminimalisir kesenjangan di masyarakat.  Kesenjangan tentunya tetap ada di antara individu tapi bisa dibilang sangat kecil dibanding negara lain seperti Amerika Serikat, UK dan banyak negara maju lainnya.

——

Untuk kisah lainnya tentang kehidupan di Finlandia, Rika menulis di http://seerika.wordpress.com/ atau untuk keseharian, bisa follow IG @seerika.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Rika dan keluarga – dan beberapa diambil dari URL yang terhubung langsung dengan image gambar. Diedit oleh: @chiceniza.