Merantau di Aalborg, Denmark

2lingkungan-rumah-di-aalborg-ost.jpg
Desi Pramudiwati – Aurora’s mother, Roni’s wife, Indonesian currently living in Aalborg, Denmark.

Akhir April 2015 saya dan keluarga memulai hidup baru di Aalborg, Denmark. Sebelumnya kami tinggal di Ludvika, Swedia selama tiga tahun. Kepindahan kami ke Denmark ini karena suami saya melanjutkan studi jenjang S3 di Energy Technology Department, Aalborg University. Walaupun saya dan suami sudah terbiasa berpindah negara sejak tahun 2009, tetap saja, berpindah ke negara baru memberikan tantangan dan kerepotan tersendiri. Apalagi waktu itu kami membawa anak kami yang masih berusia 5 bulan.

afc15037508c278d7fe9df43073a52ad

Aalborg is a city in the Jutland region of Denmark. It’s known for its revitalized waterfront on the Limfjord, the body of water that cuts through Jutland

Aplikasi residence permit

Begitu suami saya mendapat informasi bahwa dia terpilih sebagai PhD fellow dengan dana riset dari Energinet, electricity provider di Denmark, kami langsung memulai proses pendaftaran residence permit. Aplikasi kami buat dengan mengisi formulir secara online dilengkapi dengan paspor yang di-scan. Pada saat mendaftar online ini, kami juga sekalian membuat appointment ke imigrasi Denmark di Stockholm untuk keperluan biometric, yakni foto dan sidik jari.

1) Aplikasi residence permit dilakukan secara online melalui website

Aplikasi residence permit Denmark dilakukan secara online melalui website

Pada tanggal yang telah ditetapkan, kami pergi ke Stockholm yang jaraknya 300 km dari Ludvika. Di kantor imigrasi Denmark, saya, suami dan anak saya dilayani secara bergantian. Saya dan suami diambil foto dan sidik jarinya. Sedangkan anak saya yang masih bayi, hanya difoto saja. Pada saat foto, suami saya yang memakai kacamata, tidak dianjurkan/diperintahkan untuk melepas kacamatanya. Ternyata ini menjadi masalah di kemudian hari karena foto dengan kacamata dianggap tidak sah untuk residence permit.

Walaupun demikian, keputusan di-granted nya residence permit kami terima kira-kira satu bulan setelah aplikasi online dilakukan, dengan catatan bahwa suami saya harus melakukan biometric lagi di kantor polisi begitu kami tiba di Denmark.

Aplikasi apartemen/rumah

Sembari mengurus residence permit, kami juga mulai melihat-lihat apartemen untuk disewa di Aalborg. Suami saya mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari internet. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya suami memutuskan untuk mencari apartemen melalui makelar yang bernama AKU. AKU ini merupakan makelar rumah/apartemen yang hanya mau mencarikan apartemen untuk mahasiswa.

Awalnya, kami masuk ke waiting list nomer ratusan. Kemudian suami berinisiatif memberi informasi tambahan yaitu bahwa kami memiliki bayi, sehingga kami merasa urgent untuk mendapatkan apartemen. Alhamdulillah, dengan informasi tambahan ini nomer antrian kami jadi naik. Tak lama kemudian, kami mendapatkan penawaran apartemen di Niels Bohrs vej di Aalborg Ost, yaitu di daerah dekat kampus suami.

Kami tinggal di apartemen di Niels Bohrs vej sejak kedatangan kami di Aalborg sampai kira-kira tiga bulan kemudian. Dengan pertimbangan luasnya rumah, kami pindah ke area perumahan untuk keluarga yang berlokasi di Pontoppidanstræde.

2)Playground di area perumahan di Aalborg Ost

Playground di area perumahan di Aalborg Ost

Administrasi saat kedatangan di Denmark

Setibanya kami di Denmark, kami segera mengurus segala keperluan administrasi sebagai penduduk baru, diantaranya melaporkan data diri ke komun (pemerintah kota) dan melaporkan data pekerjaan dan penghasilan suami ke kantor pajak. Setelah mengisi formulir lapor diri ke komun, kami mendapatkan Danish Personal Identification Number atau yang biasa disebut CPR number.

Kira-kira dua minggu setelah lapor diri, kami mendapatkan Sundhedskort atau biasa disebut Yellow card/ kartu kuning. Kartu kuning ini berisi informasi CPR number, alamat rumah, serta alamat dokter keluarga dan nomer teleponnya. Dengan memiliki kartu ini berarti kami memiliki hak akses terhadap sistem kesehatan di Denmark, kami berhak untuk mendapatkan layanan kesehatan secara gratis. Kartu kuning juga biasa digunakan sebagai kartu identitas, misalnya ketika mau mendaftar sebagai member di bibliotek/perpustakaan.

Selain lapor diri ke komun, kami juga melakukan registrasi NemID. Saya dan suami masing-masing mempunyai satu NemID. NemID ini adalah ID yang bisa digunakan untuk login ke berbagai sistem di Denmark, seperti sistem perpajakan, sistem kesehatan, perbankan, dan institusi pendidikan anak.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas bahwa foto suami saya untuk residence permit dianggap tidak sah karena memakai kacamata. Maka, pada masa awal kedatangan kami di Denmark, suami saya melakukan biometric lagi di kantor polisi. Kira-kira tiga bulan setelahnya, kami baru menerima kartu residence permit dari kantor imigrasi.

Fasilitas kesehatan untuk keluarga

Dokter Keluarga

Setelah kami melakukan lapor diri ke komun, kami mendapatkan nama dokter keluarga. Dokter keluarga ini adalah pintu pertama layanan kesehatan. Jadi, jika ada anggota keluarga yang sakit, langkah pertama adalah periksa ke dokter keluarga.

Karena pada saat pindah ke Denmark saya membawa anak saya yang baru berusia lima bulan, begitu mendapatkan nama dokter keluarga saya langsung mengajak suami saya untuk pergi kesana. Tujuannya adalah untuk memberi tahu dokter keluarga kami bahwa kami punya bayi berusia 5 bulan dengan riwayat vaksin sesuai dengan standar Swedia. Sehingga apabila diperlukan vaksin tambahan sesuai standar Denmark, dokter keluarga kami sudah aware. Selain itu, saya juga ingin tahu tentang layanan kesehatan untuk bayi di Denmark.

4)Berfoto di depan klinik dokter keluarga

Berfoto di depan klinik dokter keluarga

Dari dokter keluarga saya mendapatkan informasi bahwa pemeriksaan bayi yang meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dll hanya dilakukan pada usia 5 bulan dan 1 tahun. Setelah itu hanya dilakukan satu tahun sekali, dimana orang tua harus aktif. Maksudnya, orang tua membuat appointment ke dokter keluarga untuk pemeriksaan kondisi anaknya. Hal ini cukup membuat saya kaget karena dibandingkan di Swedia, pemeriksaan kondisi bayi di Denmark bisa dibilang cukup jarang.

4poli-anak-di-rumah-sakit-aalborg-dilengkapi-dengan-permainan.jpg

Poli anak di rumah sakit Aalborg dilengkapi dengan permainan

Perawat Bayi

Setelah tinggal di Aalborg selama kurang lebih satu bulan, saya mendapat kenalan orang Indonesia yang juga bermukim di Aalborg. Kebetulan dia juga punya bayi yang usianya terpaut dua bulan dengan anak saya. Saya tanya ke dia, apakah dia mendapat jatah bidan/perawat khusus yang bisa dikontak apabila ada pertanyaan. Saya bertanya seperti ini karena di Swedia kami mendapat perawat anak yang bisa kami hubungi apabila ada pertanyaan seputar pengasuhan bayi. Dia jawab iya, sejak anaknya lahir ada seorang perawat anak yang sering datang ke rumah untuk mengecek kondisi anaknya.

Berbekal jawaban dari teman saya ini, saya memberanikan diri bertanya ke komun. Saya mengirim email, mengatakan bahwa saya baru saja pindah ke Aalborg dan saya mempunyai seorang bayi yang waktu itu berusia enam bulan. Saya bertanya apakah saya berhak mendapatkan layanan perawat anak yang datang ke rumah, sebab saya merasa membutuhkan support. Alhamdulillah gayung bersambut, pihak komun segera mencarikan perawat anak yang memang area tugasnya di daerah rumah kami. Lalu, beberapa hari kemudian dia datang ke rumah, untuk mengecek kondisi anak saya, berdiskusi dengan saya tentang mpasi, serta menanyakan keadaan saya sendiri apakah saya mengalami baby blue atau tidak. Sungguh sebuah layanan yang sangat membantu saya yang waktu itu sempat stress karena pindahan.

Perawat anak yang datang ke rumah ini, bisa ditelpon setiap jam 08.00 sampai jam 09.00 pagi jika ada hal-hal yang ingin ditanyakan. Kunjungan ke rumah saya hanya dilakukan dua kali yaitu pada saat anak saya umur enam bulan dan tujuh bulan. Dia mengatakan bahwa dalam keadaan normal dia berkunjung rutin ke rumah sejak bayi lahir hingga usia bayi enam bulan kira-kira dua minggu atau sebulan sekali. Setelah itu sudah tidak ada kunjungan rutin ke rumah.

Dokter Jaga Rumah Sakit

Pada saat anak saya berusia satu tahun, dia pernah sakit panas disertai muntah dan diare. Saya cukup panik waktu itu karena kejadiannya malam hari dan weekend. Awalnya, tidurnya tidak nyenyak. Tiba-tiba sekitar pukul tiga dini hari anak saya muntah-muntah lalu diare. Tidak tanggung-tanggung, diarenya pun berdarah. Saya dan suami pun tambah panik. Suami segera menelpon rumah sakit. Ya, di luar jam kerja dan pada hari-hari libur, langkah pertama untuk layanan kesehatan adalah menghubungi dokter jaga di rumah sakit. Setelah beberapa menit menunggu di queu sistem telepon rumah sakit, akhirnya suami saya bisa tersambung ke dokter jaga. Suami saya pun menceritakan kondisi anak kami. Alhamdulillah, dokter mempersilakan kami untuk segera datang ke rumah sakit.

Begitulah sistem layanan kesehatan di Denmark. Pada hari libur atau di luar jam kerja (malam hari), jika membutuhkan layanan kesehatan harus menghubungi dokter jaga di rumah sakit. Berdasarkan informasi yang kita sampaikan lewat telepon, dokter jaga memutuskan apakah perlu dilakukan pemeriksaan di rumah sakit atau bisa menunggu dokter keluarga di hari kerja. Mendatangi rumah sakit secara langsung tanpa persetujuan dokter jaga (menelpon terlebih dahulu) adalah hal yang sia-sia. Seorang teman pernah melakukannya dan pihak rumah sakit menolak untuk memberikan layanan.

Dokter Gigi Anak

Pada saat anak saya berumur 1,5 tahun, dia mendapat undangan ke dokter gigi. Kami pun pergi ke sana. Pada waktu itu dokter gigi belum memeriksa gigi anak saya. Dia hanya mengajak saya ngobrol, apakah saya sudah mulai menggosok gigi anak saya, apakah saya memberikan makanan yang manis-manis kepada anak saya, apakah saya masih menyusui di malam hari, dll. Intinya dokter gigi ingin memastikan bahwa orang tua sudah mulai menggosok gigi anaknya walopun baru beberapa yang tumbuh. Lalu dokter gigi juga memberi daftar makanan-makanan yang hanya boleh diberikan seminggu sekali karena kandungan gula yang tinggi. Pada usia 1,5 tahun ini anak saya masih nenen. Oleh dokter gigi disarankan untuk tidak diberi ASI pada saat tidur malam sebab ASI juga mengandung gula.

4) Pemeriksaan gigi usia tiga tahun

Pemeriksaan gigi usia tiga tahun

Tepat ketika anak saya berulang tahun ketiga, kami mendapat undangan dari dokter gigi lagi. Kali ini dokter gigi mengecek jumlah gigi anak saya lalu membersihkannya. Setelah itu, dia mengajari saya cara menggosok gigi anak dengan benar. Menurut dokter gigi disini, sebaiknya saya yang menggosok gigi anak saya sebab kalau anak saya gosok gigi sendiri pasti tidak bersih. Dan disarankan saya menggosok gigi anak saya dengan posisi anak telentang sehingga saya bisa melihat sampai dalam bahwa semua giginya sudah bersih.

Perawatan gigi anak oleh dokter gigi di Denmark diberikan secara gratis sejak anak umur 1,5 tahun sampai 17 tahun. Undangan dari dokter gigi biasa diberikan setiap enam bulan atau satu tahun sekali tergantung dari kondisi gigi anak.

Pendidikan anak

Pada saat anak saya berusia satu tahun, dia selalu menangis ketika ada teman atau kolega suami yang datang ke rumah. Begitu juga ketika kami berkunjung ke rumah teman, anak saya selalu menangis. Saya dan suami menyimpulkan bahwa anak saya kurang sering bertemu orang sehingga dia selalu takut ketemu orang baru. Maklum, sehari-hari dia  hanya bersama saya di rumah. Dengan pertimbangan ini, maka kami memutuskan untuk memasukkan anak kami ke daycare dengan durasi 2-3 jam per hari. Tujuannya supaya dia belajar bersosialisasi, bertemu orang baru dan bayi-bayi seusianya. Selain itu, saya juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah ketika anak saya di daycare.

Di Denmark, ada dua macam daycare untuk anak usia 0-3 tahun, yakni:

Dagpleje, yakni seorang ibu rumah tangga yang dibekali kursus-kursus tentang pengasuhan anak, kemudian membuka daycare kecil di rumahnya sendiri, dengan kuota maksimal empat anak

Vuggestue, yakni institusi daycare, sekolah untuk anak usia 0-3 tahun dengan pengasuh-pengasuh bertitel sarjana pendidikan anak (pedagog).

Pertama, kami mendaftar di vuggestue namun tidak mendapat tempat karena memang jumlah vuggestue sangat terbatas. Lalu, kami mendapat penawaran di dagpleje. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil penawaran itu. Anak saya masuk ke dagpleje. Seperti halnya anak-anak lain yang selalu menangis pada masa-masa awal masuk, begitu pula anak saya. Dia selalu menangis, yang sejujurnya membuat saya semakin tidak tega untuk meninggalkannya. Namun karena emosi ibu sangat mempengaruhi kondisi anak, saya disarankan untuk tidak menampakkan kegalauan di depan anak saya dan itu saya praktekkan. Akan tetapi, tetap saja anak saya menangis. Akhirnya setelah satu bulan saya putuskan untuk berhenti.

Kemudian, saya berdiskusi dengan suami saya tentang opsi mendaftar ke vuggestue lagi. Alasannya satu, di vuggestue pengasuhnya adalah pedagog. Mereka adalah sarjana-sarjana pendidikan anak usia dini. Mereka pasti lebih mengerti bagaimana menangani anak saya. Mencapai kata sepakat dengan suami, saya pun mendaftarkan anak saya ke vuggestue. Alhamdulillah mendapat tempat, walaupun setelah menunggu 6 bulan.

Jadi, ketika anak saya berusia 1 tahun 8 bulan dia mulai masuk ke vuggestue. Masih sama seperti sebelumnya, dia menangis terus. Namun yang saya lihat, pedagog memang lebih punya trick bagaimana menangani anak saya ini. Satu cara ga berhasil, masih ada cara lain. Kira-kira begitu yang dilakukan oleh pedagognya anak saya. Terus menerus. Bahkan ketika saya hampir putus asa dan menanyakan ke dia apakah menurutnya proses ini akan berhasil, dia tetap meyakinkan saya ini akan berhasil asal kita sabar dan telaten. Diskusi-diskusi dengan pedagog kami lakukan dengan terbuka. Saran-saran kami terima dan kami praktekkan karena kami yakin, harus ada kerjasama orang tua dengan pedagong untuk make it works. Alhamdulillah, dengan berjalannya waktu, anak saya akhirnya bisa enjoy dan bermain-main dengan gembira di vuggestue, walaupun hanya 2-3 jam per hari.

5) Makan siang bersama di vuggestue

Makan siang bersama di vuggestue

5) Bermain di vuggestue

Bermain di vuggestue

Pada saat anak saya berusia tiga tahun, dia harus pindah ke taman kanak-kanak atau dalam bahasa Denmark disebut børnehave. Terus terang saya dan suami agak khawatir jika anak saya susah beradaptasi dan menangis seperti awal-awal masuk ke vuggestue dulu. Tapi ternyata pedagognya anak saya di vuggestue punya inisiatif untuk mengawal anak saya melewati perubahan ini. Dia, dengan seizin kepala sekolah vuggestue and juga kepala sekolah børnehave, datang ke bornehave  tempat anak saya sekolah selama seminggu pertama, sehingga harapannya proses adaptasi anak saya bisa lancar dan anak saya merasa secure di seminggu pertama. Subhanallah. Disini saya benar-benar merasa disupport. Pedagog tidak hanya menjalankan kewajibannya untuk mengasuh di vuggestue tetapi juga care terhadap reaksi anak saya ketika pindah sekolah.

Dukungan untuk pasangan dari pekerja/mahasiswa International

Kira-kira dua bulan setelah tinggal di Denmark, ada sebuah acara yang diadakan oleh Aalborg University International Office yaitu untuk pengenalan kota Aalborg kepada mahasiswa S3 baru beserta keluarganya. Kami bertiga datang karena kami pikir akan banyak informasi yang kami dapat. Benar saja, banyak sekali informasi yang kami dapat diantaranya informasi tentang tempat-tempat wisata di Aalborg dan sekitarnya, budaya masyarakat Aalborg dan Denmark secara umum, serta informasi tentang workindenmark.

6) Work in Denmark membantu warga international untuk mendapatkan kerja di Denmark

Work in Denmark membantu warga international untuk mendapatkan kerja di Denmark

Workindenmark adalah lembaga yang membatu orang-orang international tentang serba-serbi dunia kerja di Denmark. Salah satu programnya adalah spouse program, yakni program berdurasi 6 bulan yang tujuannya adalah untuk membantu suami/istri dari mahasiswa/pekerja international untuk mendapatkan pekerjaan di Denmark. Karena saya ingin bekerja di Denmark sebagaimana dulu saya juga bekerja di Swedia, saya mantap mendaftar program ini. Ternyata saya adalah pendaftar pertama. Saya diberi tahu bahwa program akan dimulai ketika jumlah pendaftar mencapai sepuluh orang. Kira-kira sekitar dua bulan saya menunggu, sampai akhirnya saya mendapatkan email bahwa program bisa dimulai.

Spouse program ini dikoordinir oleh seorang mentor. Program pertama yang dilakukan adalah CV check, yaitu mentor mengecek CV para peserta serta memberikan masukan bagaimana membuat CV yang baik menurut standar job-market di Denmark. Sang mentor juga selalu memberikan informasi lowongan kerja yang sesuai dengan background masing-masing peserta. Setelah itu, ada beberapa kursus yang diberikan oleh pihak luar, diantaranya kursus tentang budaya kerja di Denmark, tips-tips menghadapi interview kerja di Denmark, memanfaatkan LinkedIn untuk mencari pekerjaan dan memperluas jaringan di Denmark, serta elevator speech.

Selama elevator speech, masing-masing peserta diberi kesempatan untuk berbicara selama 5-10 menit untuk mengenalkan diri, menceritakan latar belakang pendidikan dan pekerjaan, serta mendeskripsikan jenis pekerjaan yang diinginkan. Kami, para peserta, melakukan elevator speech ini di depan headhunters  dan beberapa perwakilan industri. Harapannya, dari elevator speech ini para peserta bisa menjalin koneksi dengan headhunters maupun para manager sehingga kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan jadi lebih besar.

What to do on weekend in Aalborg

Setiap weekend kami selalu pergi ke luar, mengunjungi tempat-tempat yang sekiranya menarik buat anak kami. Berikut ini beberapa tempat di Aalborg and kota-kota sekitarnya yang bisa dijadikan alternatif:

Aalborg Hovedbibliotek

Berlokasi di pusat kota Aalborg, bibilotek ini menjadi alternatif sarana hiburan bagi anak-anak maupun orang dewasa di akhir pekan. Berbagai macam buku baik untuk dewasa maupun anak-anak bisa dipinjam secara gratis. Selain itu, ada area khusus untuk anak-anak dengan berbagai permainan. Tempat yang luas membuat anak-anak betah menghabiskan waktu dengan bermain-main atau sekedar berlari-lari di area ini.

7) Buku-buku anak di Aalborg Hovedbibliotek

Buku-buku anak di Aalborg Hovedbibliotek

7) Bermain di tangga angka di Aalborg hovedbibliotek

Bermain di tangga angka di Aalborg hovedbibliotek

7) Area bermain anak di Aalborg hovedbibliotek

Area bermain anak di Aalborg hovedbibliotek

Aalborg Zoo

Bagi anak saya, kebun binatang selalu menjadi alternatif yang menarik, terlebih di musim panas. Berbagai binatang bisa ditemui di sana. Pada jam-jam tertentu pengunjung bisa menyaksikan bagaimana pawang memberi makan binatang-binatang tersebut. Selain itu, ada juga playground dengan banyak permainan yang menarik bagi anak-anak.

7) Menonton jerapah di Aalborg zoo

Menonton jerapah di Aalborg zoo

Leo’s legeland

Legeland dalam bahasa Denmark bisa diartikan sebagai pusat bermain. Tempat ini menyediakan berbagai permainan yang dapat melatih kemampuan motorik anak, seperti trampolin, bersepeda, dan berbagai wahana memanjat dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Selain itu, kadang-kadang disediakan fasilitas tambahan seperti peralatan menggambar atau mewarnai, face painting untuk anak-anak, berfoto dengan badut, dll.

7) Wahana motorik di Leo's legeland

Wahana motorik di Leo’s legeland

Aalborg Waterfront

Ketika cuaca cerah, jalan-jalan di sepanjang Aalborg waterfront cukup membuat kami refreshed. Anak-anak juga bisa bersepeda di area ini sambil melihat kapal yang sedang berlabuh. Terdapat juga taman kecil yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai sambil membuka bekal. Area permainan anak juga disediakan meskipun tidak terlalu besar. Sambil berjalan-jalan, kami bisa melihat arsitektur di sekitarnya seperti Utzon Center dan The Royal Customs House. Di depan The Royal Customs House terdapat air mancur dimana anak-anak biasa bermain air.

7) Bermain di Aalborg waterfront

Bermain di Aalborg waterfront

Østre Anlæg

Taman yang cukup luas dilengkapi dengan danau di tengahnya membuat tempat ini menjadi salah satu tujuan kami untuk bersantai. Biasanya pada sore hari, orang-orang datang ke taman ini untuk sekedar refreshing sambil memberi makan burung-burung. Di taman ini juga ada sarana bermain untuk anak-anak seperti prosotan dan ayunan. Pada musim panas, banyak yang datang ke tempat ini untuk sekedar piknik atau berjemur. Selain itu, bagi yang suka olahraga, di taman ini juga terdapat jogging track.

Nordsøen Oceanorium

Di Nordsøen Oceanorium terdapat berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Pada pukul 11.00 pengunjung bisa melihat pawang memberi makan anjing laut, sedangkan pada pukul 13.00 pengunjung bisa melihat pawang memberi makan ikan yang paling besar yaitu klumpfisken (ocean sunfish). Oceanorium ini lokasinya di kota Hirtshals yang jaraknya 70 km dari kota Aalborg atau kira-kira sejam perjalanan dengan mobil.

7) Menonton ikan di Nordsoen Oceanorium (2)

Observasi ikan di Nordsoen Oceanorium

Family Farm Fun Park

Di musim panas, family farm fun park sangat menarik untuk dikunjungi. Di sana, pengunjung bisa melihat langsung dan memberi makan berbagai binatang piaraan seperti kambing, sapi, angsa, kelinci, kuda, dll. Setiap jam 12.00 anak-anak juga bisa ikut pony riding. Terdapat juga danau serta disediakan kapal yang bisa dinaiki pengunjung untuk mengitari danau tersebut. Walaupun tempat ini lokasinya di kota Lokken yang jaraknya 45 km dari Aalborg, anak kami sangat senang berkunjung kesini.

7) Family fun farm park menjadi alternatif rekreasi pada musim panas

Family fun farm park menjadi alternatif rekreasi pada musim panas

Sekian cerita dari Aalborg, semoga dapat membantu teman-teman sebagai gambaran awal tinggal di Denmark 🙂


Foto: Desi Pramudiwati. Info dan kontak tentang Aalborg bisa langsung menghubungi Desi: desipramudi@gmail.com.

Advertisements

One thought on “Merantau di Aalborg, Denmark

  1. Emka says:

    Tks mbak Desi, tulisannya lengkap, sangat bermanfaat buat yang mau tinggal di Denmark. Sepertinya kehidupan di sana sangat teratur ya, sistemnya sangat bagus… Itu spouse programnya gratis?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s