Halo! Aku Andia Hastriani. Kali ini aku ingin berbagi sedikit cerita tentang pengalaman kami merantau ke Jepang.

Kami sekeluarga merantau ke Jepang karena penugasan dari tempat kerja suami, yang bekerja di perusahaan Toyota. Ini bukan kali pertama kami tinggal di Jepang—sebelumnya kami pernah tinggal di sini pada tahun 2014–2016.

Untuk penugasan kali ini, kami menetap di kota Anjo, yang terletak di Prefektur Aichi. Kota besar terdekat dari Anjo adalah Nagoya.

Sekolah di Jepang: Disiplin dan Komunalisme Sejak Dini
Sekolah di Jepang memang menyenangkan untuk anak-anak, tapi juga sangat berbeda dari sistem sekolah yang biasa kami kenal. Anak-anak kami bersekolah di SD negeri yang menggunakan sistem zonasi—artinya semua teman sekelas tinggal di area yang cukup dekat, maksimal sekitar 2–3 km.
Yang paling terasa berbeda adalah tiga hal: kebersihan, disiplin, dan komunalisme.
Kebersihan:
Di sekolah anak-anak, tidak ada petugas kebersihan seperti janitor. Semua murid bertanggung jawab menjaga kebersihan sekolah. Setiap hari, setelah makan siang, anak-anak menjalankan tugas piket yang sudah dibagi sebelumnya—membersihkan kelas, papan tulis, lorong, toilet, ruang musik, laboratorium, bahkan kolam renang sekolah (yang dibersihkan oleh murid kelas 5 dan 6 menjelang musim panas!).
Disiplin:
Disiplin ditanamkan sejak dini, termasuk aturan berlalu lintas. Anak TK sudah mulai dikenalkan cara menyeberang jalan, mengenal rambu, dan tata tertib bersepeda. Latihan “Traffic Safety” dilakukan rutin setiap beberapa bulan, dan semakin anak bertambah usia, aturan yang diajarkan pun makin detail. Bahkan orang tua harus mengisi “bicycle checklist” secara berkala untuk memastikan sepeda anak dalam kondisi baik.
Komunalisme:
Nilai-nilai hidup bermasyarakat ditanamkan setiap hari. Tidak heran kalau anak-anak Jepang terkenal sopan, tertib, dan mandiri—karena semua dipraktikkan sejak kecil di sekolah.
Amusement Park Favorit Keluarga
Salah satu kegiatan favorit kami di Jepang tentu saja pergi ke amusement park! Jepang benar-benar serius dalam hal ini—bahkan taman hiburan kecil pun ditata dengan sangat detail dan penuh semangat oleh para stafnya.
Beberapa favorit keluarga kami:
- Tokyo Disneyland
Selalu jadi pilihan utama karena cocok untuk segala umur dan suasananya sangat hidup. Dibandingkan Universal Studios, Disneyland terasa lebih “ramah keluarga.”
- Shinchan Adventure Park
Lucu-lucu banget! Jungle gym-nya seru untuk anak-anak belajar tangkas dan berani, sementara ibunya bisa santai nungguin 😄
- Fuji-Q Highland
Ini favoritnya Atlas, anak sulung kami yang waktu itu berusia 10 tahun. Wahananya ekstrem banget! Tapi karena didesain untuk postur orang Jepang, anak-anak Indonesia seperti Atlas bisa memenuhi hampir semua syarat tinggi badan untuk main. Sementara itu, aku dan Andes (adik Atlas) lebih senang main di Thomas Land yang ada di area Fuji-Q juga. Wah, pecinta Thomas the Tank Engine pasti bakal betah banget di sini.
Berteman dan Terlibat dalam Komunitas di Jepang
Buat yang ingin berteman dengan orang lokal di Jepang, kuncinya menurutku adalah membuka diri dan ramah. Jangan takut duluan, karena biasanya orang Jepang akan menghargai usaha kita untuk berinteraksi, meski bahasa Jepang kita belum lancar.
Untuk aktif dalam komunitas lokal, penting juga mencari tahu info dari balai kota, sekolah anak, atau pusat komunitas setempat. Banyak kegiatan sukarela atau kursus yang terbuka untuk warga asing. Bergabung dalam kegiatan seperti ini bisa jadi pintu masuk untuk mengenal orang-orang baru dengan minat yang sama.
Terima kasih banyak sudah berbagi, Andia! ❤️



