Merantau di Sydney

batch_5IMG_4578_Fotor Annisa Sarahayu (Nisa) – The Beatles lover, daydreamer, love to cook and write. I can sometimes get a bit too friendly, touchy-feely, and silly! My personality is kind of complex I guess. I take a lot of time to get used to new people – before I feel comfortable with them.

Nisa dan Keluarga. Saya mulai merantau di awal tahun 2014 ke Amerika Serikat untuk menyusul suami yang pindah untuk bekerja di salah satu perusahaan elektronik di kota San Francisco. Selang beberapa bulan kemudian, suami mendapatkan  kesempatan  untuk melanjutkan studi Master di salah satu Universitas di Sydney. Maka pada bulan Agustus 2014 yang lalu, kami sekeluarga hijrah ke Sydney. Kami memiliki seorang anak laki-laki bernama Bazylio Sakha Harsono (Bazyl ) yang saat ini berusia 2.5 tahun.

batch_5IMG_0828

Bersama keluarga

Visa Australia untuk Keluarga Mahasiswa. Saat ini status kami menggunakan student visa . Dengan visa tersebut, saya sebagai dependent diperbolehkan untuk bekerja full-time, pengecualian buat suami karena berstatus student hanya diperbolehkan untuk kerja part-time; yakni maksimal bekerja 20 jam per minggu, kecuali saat liburan summer dan winter baru bisa bekerja full-time (40 jam per minggu).

Sydney adalah ibukota negara bagian New South Wales (NSW). Warga Sydney dikenal sebagai “Sydneysiders” dan merupakan kota paling multikultural di Australia

Saat ini saya bekerja casual work di salah satu kampus di Sydney; maksud casual work di sini adalah untuk jadwal bekerjanya (baik hari dan jam) tidak tentu setiap minggunya, tergantung dari kebutuhan pihak kampusnya. Hal ini jadi lebih fleksibel dan menguntungkan juga buat saya, karena dengan sistem seperti ini saya bisa menyesuaikan dengan jadwal kuliah dan kerja suami serta jadwal Bazyl sekolah dan kegiatan dia lainya. Mungkin kalau Bazyl sudah agak lebih besar, baru saya mau ambil kerja full-time. Kami berencana ke depannya untuk apply sebagai permanent resident di sini, salah satu caranya adalah dengan membuat pengajuan melalui sponsor dari pihak keluarga atau perusahaan tempat bekerja, dengan syarat minimal tinggal 2 tahun terlebih dahulu di Australia. Doakan dapat ya ;p

batch_5IMG_1156

Kota Sydney diambil dari kapal ferry

Status Non-citizen. Dengan status kami yang yang masih non – citizen ini hampir tidak ada benefits apapun dari pemerintah setempat. Walau demikian, di sini tersedia program kesehatan gratis, seperti check-up kesehatan gigi anak di bawah usia 18 tahun yang diadakan oleh pemerintah negara bagian NSW, tepatnya di bawah Department of Human Services atau yang sering juga disebut Centerlink yang bekerja sama dengan komunitas di area atau suburb tempat kami tinggal. Diadakannya setiap 1 -2 bulan sekali. Cukup dengan membuat appointment melalui telepon terlebih dahulu dan jika sesuai dengan persyaratan eligibility-nya akan diminta untuk mengisi formulir yang sudah mereka siapkan.

batch_5IMG_4867

Salah satu health service dari Centerlink

Centerlink ini tidak hanya mengurusi kesehatan saja tapi mulai dari para imigran (legal) yang baru datang sampai masalah domestic family violence. Nah untuk masalah keringanan biaya pendidikan anak juga bisa diurus di sini: misalkan mau minta keringanan biaya buat daftar anak ke childcare. Hanya saja, syaratnya minimal sudah berapa tahun tinggal disini dan punya income history dll. Untuk program lain yang Centerlink tawarkan, bisa dicek di Web mereka.

Aerial view – bagian hijau adalah Royal Botanic Gardens dengan track untuk berolahraga

Tempat tinggal. Untuk tempat tinggal, kami cari sendiri dengan bantuan agent. Sebenarnya agak susah kalau mau sewa apartment apalagi kalau kita tidak ada referensi dan history pernah sewa sebelumnya di Australia, karena di sini  semua sewa/jual/beli properti harus menggunakan jasa agent. Terlebih lagi di sini biayanya mahal, kita harus punya surat jaminan, deposito, dan referensi keluarga atau kerabat. Kebetulan kami memiliki keluarga dekat yang sudah menjadi citizen dan bisa kami jadikan referensi/jaminan sebagai salah satu syarat  penyewaan apartemen disini. Alhamdulillah  kami bisa mendapatkan potongan harga sewa juga dan lokasi apartemen yang sangat strategis, dekat dari rumah keluarga, lokasi kampus, tempat kerja suami, tempat grocery dan pantai…! ;p

Suasana jalan di lingkungan kami

Suasana jalan di lingkungan kami

Lokasi tempat tinggal kami adalah di kawasan suburb, yaitu di daerah Maroubra. Lokasinya dekat sekali dengan pantai “Maroubra Beach” yang bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15 – 20 menitan, kalau naik bus yang berhenti di depan gedung apt, 5 menit juga sudah sampai..! Selain faktor yang sudah saya ceritakan di atas, kami kadung cinta dengan lokasi apartemen kami, terlebih mengetahui lokasi apartemen kami dekat banget dengan pantai dan KBRI, ahaha jadi kalau ada yang mau diurus tinggal “ngesot” nyampe deh ;p . Dan daerah kami juga tidak terlalu jauh  dari City, kalau naik bus hanya sekitar 20 menit juga sampai. Untuk range harga apartemen 1-2 bedroom di daerah sini berkisar dari $500week – $800week.

batch_5IMG_8647

Maroubra Beach

Lokasi Tempat Tinggal Idaman di Sydney. Saya dan suami suka sekali dengan daerah Surry Hills, daerah itu bagus banget..! Termasuk daerah yang “Trendy, artistic dan bohemian”, lalu banyak coffeeshop enak-enak, salah satunya Bourke Street Bakery yang terkenal dan termasuk must visit bakery before you die versi Buzzfeed. Tempatnya pun seru dan unik, kalau Anda dan keluarga termasuk coffee lover saya sarankan berkunjung ke Surry Hill. Di daerah sini juga banyak toko-toko atau pun butik-butik vintage lucu.

Beautiful Surry Hills

Beautiful Surry Hills

Vibrant colours

Selain itu, daerah North Sydney terutama Milsons Point. Di sana adalah daerah tempat orang-orang berada kulit putih di Sydney, termasuk lokasi rumahnya aktor Russel Crowe, Gubernur Sydney dan pejabat-pejabat sini. Di sana, setiap rumahnya pasti punya dermaga kapal sendiri, hehehehe. Kalau mereka mau ke City, ya tinggal naik boat atau nungguin kapal ferry yang lewat deh…! Untuk biaya sewa apartemen di kedua daerah tersebut, pastinya mahal sekali. Denger-denger, untuk 1 bedroom apt daerah North itu kisaran $4000 ke atas, karena view mereka ini menghadap area harbor dan Sydney Harbour Bridge yang terkenal sebagai icon kota ini. Pokoke kawasan ini million dollar view…!

The Famous Sydney Harbour Bridge

Tentang Sydney. Sydney merupakan  salah satu kota yang saya rasa sangat menyenangkan karena memiliki banyak keindahan alam yang bisa dieksplor setiap saat. Restaurant dan kuliner yang unik, museum-museum yang bagus dan terawat (dan banyak di antaranya yang gratis pada hari-hari tertentu), pelabuhan mereka yang iconic, taman-taman yang asri dan rindang, dan lainnya. Selain itu, Sydney termasuk kota yang aman dan nyaman. Saya masih berani kalau pulang berdua dengan Bazyl dalam keadaan langit sudah gelap, tapi ya gak pas midnight juga yaa 😀

Nyaman dan aman untuk pejalan kaki

Nyaman dan aman untuk pejalan kaki

Kegiatan favorite di taman: main di playground..!

Kalau untuk hal yang kurang disukai: biaya hidup di sini mahal banget, ahahaa. Secara Sydney kan termasuk salah satu kota yang living cost nya mahal. bahkan biaya sewa apt kita itu masih murahan waktu di SF kemarin dan juga untuk beberapa kebutuhan pangan di sini serba mahal. Makanya orang sini banyak yang prefer online shop.

Circulay Quay Sydney

Circular Quay Sydney

Sama saya kurang suka dengan mall dan pertokoan yang tutupnya cepat, ahahaha. Ada yang dari jam 4 atau jam 5 sudah tutup. kecuali tiap hari Kamis mereka buka sampai jam 9-10 malam. apalagi kaya coffeeshop gitu mereka tutup cepat termasuk weekend; buka jam 9-10 pagi tutup biasanya jam 3 atau jam 4 sore…! Yah walau gak semua sih yaa, tapi mayoritas seperti itu. Mungkin juga hal ini yang membuat work-life di sini jadi seimbang. Ada kejadian, waktu awal datang ke Sydney dan lagi nungguin suami selesai kuliah, kami janjian untuk ketemu di City, ya udah sekalian “numpang” ngopi di salah satu coffee shop deket situ. padahal baru jam 3 sore tapi bangku-bangku sudah diangkat dan secara halus saya disuruh keluar karena mereka mau tutup..! xD

Transportasi umum di Sydney. Salah satu hal yang membuat hidup di Sydney menyenangkan dan mudah itu adalah transportasi umumnya  yang aman dan nyaman. Bus, kereta, ferry, light rail/tram, taxi, dan tentunya pemerintah di sini sudah sangat memperhitungkan buat kenyamanan anak-anak, wanita hamil, orang tua, dan yang menggunakan kursi roda. Di setiap transportasi umum (kecuali taksi) selalu ada tempat khusus untuk anak dengan stroller, wheelchair accessible service, ibu hamil dan orang tua. Sedikit tips, jika menggunakan bus dan menunggu di halte, kita wajib kasih signal tangan ke driver; kalau gak, mereka akan lewat begitu saja walau kita udah jelas-jelas menunggu di halte tersebut..! Jadi ngerasa kaya lagi berhentiin Kopaja di Jakarta jadinya, hehehe.

Salah satu stasiun kereta

Station Macquarie center

Di sini penentuan harga untuk transportasi umumnya menggunakan sistem Opal. Opal adalah sistem ‘pay-as – you-go’, sehingga Anda hanya membayar bila Anda menggunakan kereta, bus, ferry, atau light rail. Jadi setiap naik kendaraan umum, harus tap on dan jangan lupa tap off waktu turun agar dapat harga yang sesuai, kalau tidak (kelupaan tap off) nantinya bisa di-charge lebih dari biaya seharusnya.

Public transportation in Sydney actually gives you more freedom to go anywhere because of its comprehensive network of buses, trains, taxis and ferries

Suasana di kapal ferry

Suasana di kapal ferry

Sementara harga tiket Opal terbagi dalam beberapa kategori: tiket dewasa (harga bervariasi sesuai dengan jarak), tiket orang tua (gold senior)/ pensiunan (pensioner), penyandang cacat, dan anak sekolah (child/youth) dapat benefit harga tiket diskon setengah harga dan tiketnya dapat tanda khusus, sementara anak-anak di bawah usia 5 tahun masih gratis. Selain itu ada juga tiket khusus untuk warga yang belum memiliki pekerjaan, selama dia sudah memiliki surat keterangan tidak mampu dari pemerintah lokal setempat. Untuk keluarga, ada tiket khusus untuk family. Jadi misalkan setiap keluarga tiketnya dipegang oleh si kepala keluarga, tapi setiap masing-masing anggota keluarga juga punya tiketnya dan wajib tap on. Cuma yang saya perhatikan, jarang ada keluarga yang pakai tiket family ini, karena agak ribet juga sistemnya.

Sydney South East Light Rail

Dan di sini setiap hari Minggu, harga tiket untuk semua transportasi menjadi $2.5 unlimited travel baik untuk bus, train, tram ataupun ferry. Jadi mau kemana-mana naik apa saja seharian ya bayarnya tetep $2.5, seru yaa…! Istilahnya Family Funday Sunday. Biasanya hari Minggu ini suka kita pergunakan buat jalan-jalan menggunakan kereta ataupun tram dari ujung ke ujung ahahahah. Habisnya Bazyl suka banget naik kereta ataupun tram  di sini..!

Family funday Sunday

Nyaman di kereta

Nyaman berkeliling dengan kereta

Walau transportasi umumnya sudah sangat bagus, pengguna mobil pribadi di sini juga banyak, karena tidak bisa dipungkiri, untuk beberapa wilayah sangat mudah dijangkau jika menggunakan kendaraan pribadi. Catatan bagi pemilik SIM Indonesia, sejak tahun 2006 ada perubahan kebijakan, sehingga jika mau menyetir kendaraan pribadi di sini, sangat diwajibkan untuk memiliki SIM Australia dan mengikuti driving test.

View from Royal Botanical gardens " CBD Sydney Area" -

View from Royal Botanical gardens ” CBD Sydney Area”

Penduduk Lokal di Sydney. Kalau untuk di kota orang-orangnya agak cuek; tipikal orang kota kali ya, serba in a rush bawaanya dan individual. Tapi kalau untuk daerah suburb seperti di daerah saya, tipenya lebih relax, santai dan ramah. Mungkin juga karena dekat dengan alam dan gak seriweh di City. Tapi jika saya bandingkan dengan orang-orang di Amerika (waktu kami di SF), orang di Sydney tidak se-easy going orang-orang di Amerika, yang kalau tiap berpapasan khan mereka suka menyapa “Hi, how are you?” atau “Good morning..!”, kalau di sini yaa lewat saja. Walau ada juga beberapa yang ramah, tapi kebanyakan orang tua . Apalagi kalau kita udah kenal baik, mereka suka negur duluan dan diajakin ngobrol dulu. Kadang ajak ngobrolnya suka kelamaan, hehe, rata-rata yang dibahas tentang cuaca hari itu. Jadinya saya kadang harus potong pembicaraan, kalau gak yaa gak selesai-selesai deh oborolannya, ahahahah. Selain itu, kalau mereka sudah kenal baik sama kita, mereka suka mengundang untuk barbeque-an atau sekedar makan dan tea time di tempat mereka; itu tandanya mereka suka dan nyaman dengan kita. Karena jarang banget penduduk lokal “bule” yang terlalu “open” dengan orang lain, kecuali dengan keluarga atau kerabat mereka.

The Sydney Town Hall is a landmark sandstone building in Sydney

Sebagai orang Indonesia. Di sini kan pendatang lumayan banyak dari mana saja, terutama orang Asia banyak banget di sini. Jadi sebenarnya orang-orang di Sydney secara general sangat menerima perbedaan. Walau terkadang emang ada juga yang menganggap orang Asia termasuk orang Indonesia itu kaya gak bisa apa-apa. Dianggap “lemah” atau gak berani “speak up”, jadi terkadang suka disepelekan. Walau gak semua yaa. Apalagi baru-baru ini ada berita  heboh tentang klinik pijat yang dituntut, dikarenakan kesalahan teknik pijat dari salah satu pegawainya yang berakibat fatal. Di sini khan kebanyakan klinik pijat pegawainya orang  Asia, ternyata setelah ditelusuri si terapi pijatnya itu tidak bisa berbahasa Inggris yang baik dan benar, jadi ketika si pelanggan menjelaskan mana yang sakit, si terapis tidak paham. Jadi ada sebagian orang-orang sini yang menganggap orang Asia itu “bodoh”.

Tentang I’ll Ride With You. Pasca kejadian teror dan penyanderaan selama hampir 16 jam di Lindf cafe Sydney pada bulan Desember 2014 yang lalu, beberapa konsekuensi dan sindiran negatif yang tidak mengenakan akhirnya harus ditanggung oleh warga Muslim di sini, apalagi bagi mereka yang menggunakan atribut jilbab dan lainnya. Saya sendiri, pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakan dari salah satu teman di sini beberapa saat setelah kejadian “Sydney Siege” tersebut berlangsung. Di tempat saya mengikuti kelas Zumba, para Ibu-ibu di kelas dan beberapa teman lainnya berniat untuk mengadakan acara berdoa bersama di sebuah Gereja terdekat dan mengajak saya untuk gabung. Ketika saya bilang bahwa saya Muslim dan akan berdoa menurut ajaran dan keyakinan saya untuk para korban, beberapa dari mereka langsung diam, hening dan tidak percaya kalau saya adalah seorang Muslim. Kemudian salah satu dari mereka bilang: “I cant believe that you’re a Muslim dear, how could your people do this to us?”, terus terang saya kaget dengan pernyataan salah satu teman Zumba tersebut. Saya gak nyangka akan dikasih pertanyaan (dan pernyataan) seperti itu. Sempat hening dan ngerasa “awkward“, sembari bingung juga kemudian saya hanya berkata “As a Muslim, I really didn’t want that to happen and I feel ashamed for that. They’re not Muslim, they’re just people who didn’t understand what Islam is”. Kemudian saya langsung permisi untuk pulang. Mereka juga gak komentar lagi, daripada tambah panjang urusannya. Aksi teroris ini benar-benar merusak image umat Muslim lainnya di sini. Tapi Alhamdulillah, sekarang semua sudah baik-baik saja antara saya dan teman tersebut.

Kampanye #I’llRideWithYou

Nah, I’ll Ride With You ini merupakan kampanye yang awalnya dimulai oleh salah seorang wanita di Sydney bernama Rachael Jacosb yang menceritakan pengalamannya ketika di kereta melihat wanita muslim secara diam-diam melepas jilbabnya karena takut akan diserang atau di-bully. Lalu dia menghampiri si wanita ini untuk tetap menggunakan jilbabnya dan menemani si wanita ini selama di perjalanan. Rachael menceritakan kisahnya ini di Twitter dan di-Retweet oleh orang-orang lain, yang akhirnya menjadi trending dan mendapat banyak sekali dukungan dari warga Australia kepada kaum Muslim agar tidak takut dan berani untuk terus merasa aman dan nyaman di sini.

Pasca kejadian di Lindf Cafe, juga sempat heboh dengan video yang beredar di salah satu akun sosmed yang isinya tentang society experiment terhadap kaum Muslim, terutama yang menggunakan hijab atapun peci dan atribut Muslim lainnya. Dari situ terlihat sekali kalau masyarakat di Sydney sangat menerima dan bahkan ada yang membela secara terang-terangan ketika salah satu wanita Muslim yang menggunakan jilbab dilecehkan  dan di-bully . Jadi emang terbukti kampanye I’ll Ride With You ini sangat efektif dan bahkan saya sebagai Muslim sangat merasa nyaman dan aman. Bahkan teman-teman Indonesia di sini banyak juga yang berjilbab dan tidak ada masalah. Orang-orang di sini sangat modern dan meneirma perbedaan. Selain kampanye tersebut, ada lagi dukungan atau kampanye “Racism. It Stops With Me” yang intinya untuk semua warga Australia harus saling menghormati setiap etnis yang ada dan mendapatkan hak yang sama di area umum dan diharapkan tidak adanya hal diskriminasi .

Kampanye “Racism. It Stops With Me”

Yang Unik di Syndey. Tau kah? Kebanyakan orang-orang Australia itu sukanya nyeker…! Gak pake sendal atau pun sepatu, bebas aja gitu lenggang-kangkung masuk ke mall atau di coffeeshop, dan tempat umum lainnya. Alasan mereka: lebih nyaman dan menyatu dengan alam, ahahaha…! Mungkin karena di sini daerah alamnya khan masih banyak kali yaa 😀

“Nyeker”

Lalu awal-awal di sini (yaa sampai sekarang) masih suka bingung kalau denger logat mereka kalau ngomong. Mana ngomongnya terkadang cepat dan banyak sekali istilah slang atau singkatan yang harus saya pelajari..! Mungkin karena saya lebih terbiasa dengan American-English. Contohnya nih : Arvo = afternoon, Banger/Snag = sausage, Chook = chicken , Hungryjack = Burger King, Pram = Stroller, Uni = University, dan “Yeewww…!!” = I hear a lot of Aussies saying this when expressing their excitement ;p, dan masih banyak lagi sebenarnya tapi belum terlalu update.

Australians sometimes say several words as one ‘Waddayareckon’ (what do you reckon?), “Owyagoin” (how are you going?) etc. This can be confusing for an overseas visitor but you can soon get used to it..!

Sama di sini banyak sekali snake catcher..! Terutama pas summer (Desember – Februari) sekarang ini. Seperti beberapa waktu yang lalu ketika kami mau ke pantai, ternyata beberapa area ditutup karena ada ular muncul di area park.. ! Pokoknya kalau ada mobil snack catcher berhenti, pasti di situ lagi ada ular berkeliaran ;p. Jadi yaa, balik lagi, gak jadi lewat daerah situ deh. Suka jadi parno kadang. Cuma biasanya hanya terjadi di daerah yang deket hutan kecil atau park yang lokasinya emang masih alam banget (national park). Sydney walaupun sudah “kota” banget, tapi buat sebagian wilayahnya ya masih alam banget, jadi hal-hal seperti ini (banyak ular) masih sering  terjadi.

Snake Catcher beraksi

Festival di Sydney. Sejak pindah ke sini, kami sudah beberapa kali mengunjungi berbagai festival-festival yang diadakan di Sydney: Acara kuliner yaitu Night Noodle Market yang mayoritas standnya adalah kuliner makanan asia, sayangnya gak ada stand makanan Indonesia, hiks.

batch_5IMG_9763

Lampions at Night Noodle Festival at Hyde Park

Suasana di Night Noodle Market – Hyde Park, Sydney

Ada juga ada Chocolate Festival yang kesemuanya tentang dessert dan coklat. Trus sebelumnya lagi, ketika winter kemarin ada Beer Festival di The Rocks.

Smooth Chocolate Festival

Smooth Chocolate Festival

La Maison De L’Eclair display window at Smooth Chocolate Festival

Bulan lalu, baru saja ada perayaan Australia Day (26 Januari) yang merupakan hari lahirnya Australia. Banyak banget acara seru; seperti balapan kapal-kapal/ferry, konser lagu oleh artis di tengah laut. Lalu touring museum yang masuknya gratis (yeay!!), karena sebagian museum kalau di hari biasa ada yang harus bayar. Dan juga acara anak dan keluarga untuk meet and greet tokoh kartun Nickeledeon, konser Hi5, dan bagi-bagi snack gratis dari salah satu brand biskuit terkenal di sini yaitu Arnott’s, pameran koleksi mobil antik, parade bus-bus antiknya kota Sydney yang sengaja dikeluarkan lagi buat sightseeing kota Sydney; cukup dengan membayar gold coin $1-$2 yang mana uangnya juga dipakai untuk perawatan bus-bus tersebut. Seru banget! :).

Australia Day Fireworks at Darling Harbour

Vintage Bus saat Australia Day

Yang terakhir kami datangi yaitu Sydney Festival saat musim panas, yang meliputi acara kuliner, seni, konser musik, dan pemutaran film-film asing. The best part-nya buat masuk ke acara-acara festival ini adalah free…!

Summer in the City

City of Sydney Lawn Library, which is home to a lot of activities for all ages like calligraphy, circus skills and pop-up crafts

Salah satu yang dinanti pada bulan Mei mendatang adalah Vivid Sydney:

In 2015, Vivid Light will engage lighting artists, designers and manufacturers from around Australia and the world to illuminate, interpret and transform Sydney’s urban spaces for 18 nights through their creative vision

Kegiatan dengan Anak usia Prasekolah. Di Australia, usia wajib sekolah adalah usia 5 tahun untuk level Kindegarten (TK) dan biasanya untuk daftar sekolah, si anak masuk ke sekolah di area tempat dia tinggal. Kalau sudah jadi citizen, di sini sekolah gratis, kecuali dimasukin di sekolah swasta. Jadi sebelum usia 5 tahun, anak bisa ikutan acara playgroup atau playtime ataupun dimasukan ke childcare. Bazyl sendiri saat ini aktif mengikuti playgroup yang lokasinya tidak jauh dari rumah: seminggu jadwalnya dua kali pertemuan, dengan membayar donasi sebesar $9  di awal dan setiap datang hanya membayar $5 atau gold coin sebesar $1 – $2 untuk snack supplied berupa buah dan biscuit. Tapi ada juga beberapa playgroup yang benar-benar gratis dan hanya dengan membayar gold coin saja.

Bazyl di Playgroup

Bazyl di Playgroup

Selain itu ada juga story time, outdoor activity, art class, dll. Saya sendiri suka bawa Bazyl ke perpustakaan dekat rumah, karena di sini setiap perpustakaan pasti ada baby and kids activity and it’s free. Di perpustakaan ini juga hanya dengan sign in menjadi member kita bisa pinjam aneka macam buku dan mainan anak (maksimal 2 minggu). Kegiatan lainnya, Bazyl saya daftarkan di swimming lesson khusus untuk toddler yang jadwalnya seminggu 1x pertemuan.

batch_5IMG_0205

Kegiatan playgroup di perpustakaan

Kalau untuk childcare, Bazyl harus waiting list terlebih dahulu. Apalagi kalau yang disubsidi pemerintah. pasti selalu penuh. Untuk biayanya sendiri per-hari itu kisaran $95 – $135 tergantung fasilitas si childcare tersebut. Seminggu harus daftar atau masuk minimal 2x. Bisa dapat potongan harga juga, kalau kita lapor ke Centerlink (seperti yang saya jelaskan sebelumnya).

 Menemukan Komunitas. Biasanya dengan ibu-ibu Indonesia di sini, kami sering mengadakan playdate bareng di park atau pantai. Atau gak, kalau lagi pengen santai, ya kumpul di salah satu rumah teman yang bersedia rumahnya “diacak-acak”, ahahahaha; jadi anak-anak bebas main, dan ibu-ibu biasanya masak-masak, atau bisa delivery sembari mengawasi anak-anak, trus makan-makan deh..! Tipikal kegiatan ibu-ibu banget pokoke :D. Hal-hal simple seperti itu saja sih, tapi menyenangkan. Setidaknya bisa jadi pengobat kangen keluarga dan teman di Indonesia. Selain itu untuk Keluarga Pelajar Islam Indonesia (PII) ada kegiatan mengadakan pengajian rutin sebulan sekali.

batch_5IMG_4964_1 batch_5IMG_5156

Saya juga tergabung dalam komunitas Mommy (International) English Class yang kegiatannya hampir sama, semacam playdate tetapi ada sesi sharing tentang parenting style dari berbagai negara asal si mommy. Di sini saya banyak mendapat teman-teman dari mancanegara, kebetulan yang term kemarin ada dari Columbia, Singapore, Malaysia, Iran, Canada dan Saudi Arabia, kalau udah kumpul ramean kita suka saling tukar makanan khas kita masing-masing  🙂

batch_5IMG_0209

Mommy International English Class

Menjadi Mamarantau. Bersyukur banget bisa dapat kesempatan dan memiliki pengalaman hidup  untuk tinggal di negeri orang, kenal lingkungan baru, budaya baru, dan dapat teman-teman baru, juga jadi tambah membuka wawasan dalam berpikir dan melihat perspektif hidup lebih luas lagi. Ditambah dengan lingkungan yang serba bersih, teratur, senang aja gitu tiap hari kalau bawa Bazyl jalan pagi, siang, sore, bahkan malam. Pikiran jadi fresh. Kegiatan kala me time saya pergunakan dengan zumba ataupun lari di sekitaran rumah, walaupun gak lama, tapi setidaknya bisa buat pikiran kembali segar dan badan tetap fit dan siap sedia buat ngurus urusan anak dan rumah.

Zumba Class - menjaga tubuh tetap fit dan menyegarkan pikiran..!

Zumba Class – menjaga tubuh tetap fit dan menyegarkan pikiran..!

 Kadang saya suka iseng cobain berbagai macam resep, kebetulan saya memang hobi masak, dan kadang juga janjian jalan-jalan trus ngopi-ngopi dengan teman-teman.

Homemade Makanan Indonesia

Homemade Makanan Indonesia

Yang gak disukai, yaitu tadi: biaya hidup di sini mahal  banget, plus apa-apa harus ngerjain sendiri. Kangen sama keluarga. Jujur terkadang ada kalanya saya masih suka homesick hehe, apalagi kalau udah capek banget. Iya kan… di sini kami kerjakan segala sesuatu ya sendiri (yaa bagi tugas sama suami). Trus kaya nyalon atau pun perawatan badan disini mahal banget..!! Huhu. Untuk tempat rekomendasi jalan-jalan di Syndey, tunggu di artikel selanjutnya ya 🙂

—-

If you like to follow along our journey we’re on Web: http://nisadanchicco.com/ and Instagram: @qyusha and @denchicco.

Disclaimer: foto-foto pada laman ini adalah karya Nisa dan Chicco – dan beberapa diambil dari URL yang terhubung langsung dengan image gambar. Diedit oleh: @chiceniza.

Merantau di Aachen

TiaSari Agustia (Tia) was born in Bandung 32 years ago, now a happy wife and mother of two (Grahito, 5 y.o and Giska, 2 y.o). Cooking, watching, and writing are her favorite me time activities. Author of “Love Fate” book.

Tia dan keluarga. Sejak menikah di tahun 2008, saya resmi merantau jauh dari keluarga. Kala itu suami berkerja di salah satu perusahaan multinasional untuk servis minyak dan gas di Kuala Lumpur (KL), Malaysia. Cukup lama kami tinggal di sana, 4 tahun, hamil kedua anak di KL, bahkan putri bungsu kami, Giska, lahir di kota itu. Bulan Januari 2013, kurang lebih 40 hari setelah Giska lahir, kami meninggalkan KL untuk pindah ke Jerman. Selama kurang lebih 4 bulan, saya dan anak-anak mengurus kelengkapan tinggal kami di Jerman sedangkan suami telah lebih dulu pergi karena pekerjaan. Empat bulan terpisah adalah keinginan kami karena ingin menghadiri pernikahan sepupu di Surabaya pada bulan Mei 2012. Namun siapa sangka ternyata waktu 4 bulan ternyata full untuk mengurusi kepentingan surat menyurat visa kami ke Jerman.

famili

Keluarga Trikukuh, 2014

Mengurus Visa Jerman. Sebetulnya sebelum kepergian kami dari Kuala Lumpur, suami mengklaim sudah membaca hal-hal yang kami perlu persiapkan. Salah satunya yang penting adalah sertifikasi bahasa Jerman A1. Bukan main kemalasan saya timbul karena harus mempelajari bahasa baru. Jujur ni ya, saya bukan seorang yang pandai dengan bahasa. Bahasa Inggris saya pun berkembang dengan baik di sini karena tak memungkinkan bahasa yang lain. Tes bahasa Jerman A1 adalah yang paling dasar. Di Indonesia bisa dengan mudah mengambil tes itu di Lembaga Bahasa Jerman GOETHE INSTITUT.

Tapi tidak hanya itu, ga seru kalau visa didapat dengan mudah. Setelah saya cek sendiri ke website kedutaan besar Jerman di Indonesia persyaratannya bermacam dan rumit. Berbagai kelengkapan “tetek bengek” yang ribet ternyata menanti. Kita list ya persyaratan untuk membuat Visa Jerman (Nasional – bagi yang menetap di Jerman lebih dari 90 hari):

  1. Mengisi formulir yang diunduh di Internet.
  2. Biometrik foto. “What the hell is that?” Biometrik foto adalah foto close up pada umunya namun memiliki persentase besaran muka kita terhadap ukuran foto tadi (misalnya 80% gambar terhadap ruang kosong di dalam foto). Di Bandung sendiri khusunya sudah ada di beberapa studio foto melayani biometric foto. Kami foto di foto studio terbesar di Dago.
  3. Surat nikah yang dilegalisir Departemen Agama.
  4. Akte kelahiran anak yang dilegalisir Departemen Luar Negeri dan Departemen Hukum dan HAM
  5. Terjemahan dalam  bahasa Jerman atas surat-surat legalisiran.
  6. Sertifikat A1 bagi pasangan.
  7. Buat appointment untuk datang ke kedutaan secara online.

Untuk poin 3 dan 4 bila dilakukan sendiri akan menguras tenaga dan uang tambahan, sebab proses legalisisasi tak bisa serentak ketika kita sampai di Jakarta melainkan harus menunggu dan bolak balik apabila syarat- syarat dokumen tak lengkap (periksa di Web masing-masing Departemen sebelumnya!). Tersedia layanan agen yang mengurusi legalisasi tadi di kedua Departemen. Harganya cukup mahal kalau tidak dibayari oleh perusahaan. Untuk kami sendiri, kebetulan ada rekan keluarga yang membantu membuat prosesnya mudah dan aman. Setelah semua dokumen dilegalisasi dan lengkap barulah menguhubungi penerjemah Indonesia-Jerman yang telah diakui oleh kedubes Jerman (list di web Kedubes Jerman).

Khusus untuk Giska yang lahir di Malaysia dengan Sijil Kelahiran (akte kelahiran versi Malaysia) ternyata kami perlu melegalkannya ke Putrajaya, Malaysia. Itu berarti tambah waktu dan biaya bagi kami yang sudah mendesak untuk ikut serta.

Ketika datang memasukkan formulir pastikan semua sudah lengkap dan dicopi 3x. Karena itu akan memudahkan daripada mampir ke hotel sebelah kedutaan karena ada surat yang tertinggal di-print atau di-copy. Dengan berbagai drama menjelang kepergian kami dan diakhiri dengan kunjungan dan jalan-jalan dengan keluarga ke Surabaya, akhirnya kami bisa juga tiba selamat di Aachen, Jerman di bulan Juni 2013.

Aachen is located in North Rhine-Westphalia, the westernmost city of Germany, located along its borders with Belgium and the Netherlands.

Aachen – Kota Kecil Mempesona. Berdebar rasanya menginjakkan kaki pertama kali di benua Eropa untuk menetap. Bahkan saking deg-degannya, sudah terbayang dinginnya salju di kala winter nanti menggigit kulit buat saya yang sebenarnya untuk dinginnya Bandung pun sudah tak tahan. Namun semakin berdebar, semakin semangat saya menanti hidup baru di sini. Kami tinggal di Aachen. Sebuah kota yang cukup terkenal di telinga orang Indonesia sebagai rumah kedua Mantan Presiden Ketiga Indonesia, Bapak BJ Habibie. Sebuah universitas tempat beliau menuntut ilmu, RWTH (Rheinisch-Westfaelische Technische Hochschule) Aachen University, ada di kota ini. RWTH adalah salah satu universitas dengan jurusan teknik terbaik di Jerman, maka tak aneh banyak sekali mahasiswa/i pendatang atau international students yang menuntut ilmu di sini.  Kota ini laksana kota pelajar pada umumnya termasuk kota murah dibandingkan kota-kota lain di Jerman.

RWTH Aachen University, Main Building

Kami sudah berkeliling beberapa kota sekitar Aachen seperti Dusseldorf, Bonn, Koln (Cologne) dan Freiburg. Seperti halnya kota-kota tersebut public attraction yang mendominasi adalah Domn yakni Bangunan Gereja Kuno yang besar yang umumnya disandingkan atau searea dengan Rathaus, Balai Kota. Arsitektur khas kota tua Jerman (Eropa) mendominasi daerah sekitar kedua bangunan ini. Biasanya terletak di pusat kota yang menjadi tempat atraksi belanja dan restoran untuk minum teh atau kopi.

Aachen Rathaus (Balai Kota)

Toko roti (Backerei) mendominasi di setiap sudut kota, bahkan bisa ada 2 rival bersebrangan. Orang sini gemar sekali dengan roti, terutama yang fresh from the oven. Sekilas info, salah satu scene film Habibie-Ainun pun berlatar belakang sebuah toko roti terkenal di pusat kota Aachen ini: Nobis Printen Baeckerei Aachen.

Nobis

Kendala dan Belajar Berbahasa. Mengenal budaya baru dan orang-orang baru bukanlah mudah namun tidak sesulit yang kami duga. Sebagai pendatang sudah barang tentu kami yang harus memulai untuk berusaha mengenal mereka. Kendala yang paling nyata adalah Bahasa. Memang tak semua orang familiar atau mau berbahasa Inggris. Namun saya beruntung, karena tetangga, dokter, guru dan orang tua murid di TK Grahito cukup terbuka untuk berkomunikasi dengan saya dengan bahasa English. Namun demikian, sebagaimana peribahasa “Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang singa mengaum”, tak ada salahnya apabila sebagai pendatang kami mengecilkan gap yang ada. Salah satunya adalah dengan mempelajari bahasa mereka. Well, menurut saya, sejauh yang saya pelajari, bahasa Jerman ini tidak sesulit bahasa negara Eropa lain. Pengucapan huruf abjad (alphabet) Jerman hampir sama dengan Indonesia. Apa yang dibaca pun sebagian besar sama dengan yang dilihat, meski menyesuaikan dialek memang sulit. Namun bisa dipelajari. Dan tempat belajar bahasa yang terbaik adalah di negara yang bersangkutan.

Salah satu sudut kota Aachen

Sebelum tiba di sini dua tahun yang lalu, saya sudah belajar bahasa Jerman selama 3 bulan (untuk sertifikasi A1 – syarat visa). Namun sesampainya di sini, ternyata sulit sekali menyesuaikan..! Terutama dalam hal berbicara. Sekarang, karena ada penawaran pihak pemerintah (stadt Aachen) yang membayarkan 70% biaya Integration Course – yakni kursus intensif bahasa dan politik Jerman, maka saya kembali belajar Bahasa Jerman selama 4 hari dalam seminggu;  Senin-Kamis selama durasi 3 jam. Saya memilih tempat les yang menyediakan Kinderbetreung (child care) untuk Giska, dengan biaya ditanggung sendiri.

The integration courses introduced in 2005 aim to improve and facilitate the linguistic integration of immigrants in German.

Integration Course memang disediakan pemerintah untuk para pendatang sebagai tujuan mengintegrasikan budaya dan bahasa Jerman bagi pendatang. Diharapkan kelak para pendatang itu dapat bersinergi dengan baik dengan warga asli. Karena tak jarang, misalnya orang Turki sudah puluhan tahun di Jerman bergaul hanya dengan sesama Turki dan tak paham bahasa setempat. Untuk mereka yang tak punya pekerjaan atau hidup kekurangan bahkan kursus ini digratiskan. Sedangkan saya yang suaminya membayar pajak, sebagai subsidi silang dikenakan 30% pembayaran, namun akan dikembalikan sesudah kelas selesai kurang lebih 1.5 tahun. Kalau saya lulus dari kursus ini nantinya saya akan mengantongi ijazah bahasa B1. Ijazah ini bisa dipakai untuk mencari pekerjaan sesuai sarjana yang saya miliki sekarang di perusahaan Jerman, jika mau, atau sebagai syarat mendapatkan visa tinggal untuk jangka waktu yang lebih lama. Kalau belajar bahasa sudah dilakukan, yang harus digiatkan adalah latihannya. Salah satu media berlatih adalah sering-sering ketemuan dengan orang lokal. Komunitas Jerman yang paling sering ketemu adalah orang tua murid di sekolah. Kalaupun tidak di sekolah, ternyata taman bermain (spielplatz) adalah salah satu yang juga efektif untuk latihan berbahasa Jerman.

Berteman dengan Orang Jerman. Pada dasarnya orang Jerman sangat menghargai privacy (aka. tertutup) namun mereka yang saya kenal cukup mau bergaul dengan orang selain Jerman. Sebagai contoh, anak-anak kami playdate bergantian, sesekali sepulang sekolah janjian main di taman, saya sesekali memberikan kue/makanan khas Indonesia kepada mereka bertanya soal pengumuman yang tak saya mengerti atau hal yang lain. Termasuk kedudukan saya sebagai muslim. Lingkungan yang saya kenal cukup familiar dengan muslim. Mereka paham dengan “kostum” yang saya kenakan, Ramadhan sebagai bulan sakral dalam Islam, paham kalau Grahito tak boleh makan babi dan produk turunannya. Kalaupun tak paham, misalnya saat undangan ulang tahun, saya bebas menjelaskan dan mereka maklum dan menyediakan makanan lain untuknya. Sepanjang yang saya temui, Aachen adalah kota yang penuh pendatang dan ramah terhadapnya karena dominasi pendatang dari Turki, Suriah, Libia, Hungaria, Nigeria, Congo dll. Sebagian dari mereka pun Muslim, membawa budaya Muslimnya ke sini.

Festival di Aachen. Sebagai kota yang terbilang kecil sebenarnya Aachen tak pernah kehabisan agenda pesta atau festival setiap tahunnya. Perayaan di bulan-bulan Winter sudah dimulai sejak 11-11 (11 November) pukul 11.11 AM, berpusat di Koln. Muda-mudi, tua-muda berkostum berpesta di siang hari. Kemeriahannya diliputi budaya minum dan tari.

In the Rhineland (Western Germany), the Carnival season is considered to be the “fifth season of the year”, starting at November 11 at exactly 11:11 a.m – at Koln (Cologne)

Weihnachtmarkt. Dalam bahasa Jerman, natal disebut Weihnachten. Sekitar 3-4 minggu sebelum Natal, setiap kota mengadakan pasar malam atau Weihnachtmarkt. Weihnachtmarkt Aachen adalah termasuk salah satu yang terbesar dan meriah. Pengunjungnya tak hanya dari kota setempat, namun mencakup Denhaag, Belanda dan Belgia. Kemeriahan lampu-lampu warna warni menghiasi pepohonan besar sekitar pusat kota. Kios-kios rapih berjejer menjajakan barang kerajinan tangan dan makanan. Jajanannya pun tak kalah mengundang selera, banyak juga yang kami bisa nikmati, seperti waffle, quarkballen (adonan donut berbentuk bola ditabur gula putih), kentang panggang, tumisan jamur, gorengan bunga kol, backfish (ikan goreng krispi). Karena cuaca yang dingin, minuman khas penghangat tubuh khas adalah Gluhwein, wein hangat. Uniknya gluhwein ini disajikan di gelas yang unik. Kalau beli wein ini, harga wein ditop-up dengan deposit untuk gelasnya. Kalaupun tak minum wein, saya bisa beli gelasnya saja seharga 3euro/buah.

Aachen Weihnachtsmarkt

Contoh produk dijual di salah satu stall

Gluhwein (and the unique Mug)

Circus. Selama dua kali mengalami bulan Desember di sini, selalu ada atraksi sirkus di sebuah lapangan terkenal di kota ini. Terakhir kemarin, kami mendapat tiket gratis nonton tayangan perdana sirkus ini bersama teman-teman dari TK-nya Grahito. Ternyata atraksi sirkusnya bukan sirkus seperti jaman saya kecil. Tak ada gajah, hewan lain atau badut. Para artisnya lebih banyak beratraksi gymnastik dipadukan dengan lagu modern dan penataan lampu yang spektakuler. Tak terlalu ramah anak, tapi anak-anak seusia Giska pun bisa menikmati dan Wow! Takjub dengan atraksinya tak berhenti tepuk tangan.

Zirkus Flic Flac di dalam tenda besar

Karnaval. “Alaf…!!” teriakan khas karnaval di setiap akhir musim dingin, lebih dikenal dengan Rosenmontag (Rose Monday). Perayaan ini yang paling ditunggu oleh anak-anak TK, karena mereka bisa memakai kostum ke sekolah pada satu hari di minggu sebelum Rosenmontag. Dan sesuai namanya, Montag = senin, adalah hari libur. Di kota diadakan pawai kereta hias, marching band dan orang-orang berkostum yang panjangnya bisa mencapai 2 kilometer lebih. Berbagai kue, coklat, hiasan dinding, souvenir, tisu, boneka dan apapun dilemparkan ke pengunjung yang sejak awal standby di pinggir jalan dengan kantong-kantong besar siap memunguti barang-barang tadi. Pengunjung pun tak kalah heboh boleh berkostum. Biasanya kalau kostumnya ok, akan dilempari hadiah menarik dari orang yang berada di kereta hias tadi.

Melempar coklat ke para pengunjung. When someone shout “Ocher”, reply them with “Alaaf”.

Suasana di jalanan

KArnaval

Karneval “Rossenmontag”

Hasil berburu

Hasil yang didapatkan dari Rossenmontag (Lumayan yaaa…)

 Ocher bend. Atau dikenal juga dengan pasar malam. Sebenarnya mirip dufan tapi lebih kecil. Permainannya pun bukan biasa, banyak yang menantang adrenalin. Pengunjung bisa masuk dengan bebas namun dikenakan koin atau tiket untuk setiap permainan. Buat saya tiketnya tidak murah untuk sekali main, kisaran 1-2euro, namun mengingat dufan dan sejenis lainnya berada di kota lain jauh dari Aachen, buat para muda-mudi dan anak harga segitu tetep masih bisa memuaskan rasa bermain mereka. Didalamnya sudah barang tentu ada kios-kios jajanan yang bisa mengganjal perut. Ocher Bend datang ke Aachen 2 kali dalam setahun.

Ocher Bend

Oktoberfest.  Dalam dua tahun kami disini, setiap bulan Oktober selalu ada perayaan di sekolah TK-nya Grahito. Tahun pertama, Oktober Fest ini diselenggarakan di sekolah pada siang hari dengan mengundang orang tua murid. Acaranya bernyanyi lagu khas festival dan makan Kürbis Suppe (sup labu kuning). Sup ini pada pagi harinya dibuat bersama-sama oleh guru dan orang tua murid yang punya waktu luang.

Kürbis Suppe

Tahun kedua, ini yang disebut Oktoberfest. Orang tua murid kembali diundang namun acaranya lebih besar karena mengundang orang dari luar sekolah juga untuk hadir. Beberapa orang tua murid dari berbagai negara diminta memasak makanan khas negaranya atau kue-kue. Sekolah membuat kafetaria dengan menyajikan masakan tadi dan yang hadir bisa membeli tiket yang sangat murah untuk menikmati hidangan tadi. Ada beberapa atraksi untuk anak, seperti Schminken (menghias wajah), bros maker atau undian kejutan dengan membeli tiket. Bedanya dengan tahun sebelumnya, kali ini disajikan bir bagi orang dewasa meski non-alkohol bir.

Hito dengan pakaian adat Jawa di acara sekolahnya

Hito dengan pakaian adat Jawa di acara sekolahnya

St. Martin Fest. Ini juga perayaan yang sangat ditunggu oleh anak-anak SD dan TK. Diselenggarakan di bulan November, St. Martin adalah seorang legendaris Nasrani yang budiman. Beliau sebenarnya seorang bangsawan namun rendah hati. Diceritakan suatu hari St Martin yang berjubah panjang menaiki kuda berjalan-jalan di sekitar istananya. Kemudian dia melihat ada orang miskin yang kedinginan. Dia potong jubahnya kemudian dia berikan kepada orang tadi. Sifat baik budinya ini diapresiasi dengan mengadakan perjalanan dengan kaki di malam hari membawa lampion hingga saat ini. Lampionnya spesial  karena anak-anak SD dan TK tadi diberikan kesempatan membuat sendiri dengan dibantu gurunya. Bentuknya sangat unik dan lucu.

St. Marten Festival

Acaranya didampingi oleh orang tua selepas matahari terbenam. Bagi yang beragama Nasrani ada acara berdoa di Gereja, bagi yang beragama lain hanya ikut kemeriahan jalan kaki tadi berkeliling daerah sekitar sekolah diiringi band dan lagu-lagu khasnya (bertema agama). Sampai di sekolah, api unggun dinyalakan, membuat lebih hangat dan disajikan minuman coklat panas dan roti berbentuk orang dengan taburan gula putih.

Grahito dan Giska juga ikut berpartisipasi membuat dan menghias lampion

PS : Diakhir Oktober ada perayaan Halloween. Namun tak semua orang Jerman merayakannya karena bukan tradisi asli disini. Halloween adalah adaptasi dari budaya Amerika yang mulai merambah masuk ke sini.

Tempat Bermain Bersama Keluarga di Aachen

Taman. Banyak sekali arena bermain terbuka di Aachen (saya yakin di kota lain pun begitu). Areal bermain ini umumnya dilengkapi dengan alat-alat bermain seperti ayunan, perosotan, permainan ketangkasan, kolam pasir, dll yang aman kalaupun sang anak terjatuh. Bahkan ada taman yang sangat besar dilengkapi danau dan perahu kayuh sewaan, track sepeda dan jogging, serta kafe. Di musim-musim matahari bersinar (meski masih sedikit dingin), taman bermain ini menjadi arena idaman para ibu/ayah di kala sore atau hari libur. Sepulang sekolah pun saya lebih memilih anak-anak berlarian di lapangan daripada obrak-abrik mainan di rumah. Adanya matahari bersinar pun menjadi barang yang mahal dan langka kalau dilewatkan.

taman

Berenang. Selain taman, keluarga kami senang berenang. Kami memilih berenang indoor di tempat renang umum. Stadt Aachen mengkoordinir tempat-tempat pemandian ini sehingga sangat bersih dan layak digunakan sebagai areal olahraga dan liburan keluarga. Saya bisa berenang di kolam umum ini dengan menggunakan baju renang muslimah. Sebenarnya di kala musim panas ada areal terbuka (outdoor) untuk berenang. Namun karena adat dan budaya bebas di sana kami rasa kurang sesuai untuk dilihat anak-anak kami.

Salah satu Indoor Swimming Pool Elisabeth-Halle (Elisenbad)

Tempat renang favorite kami dan dekat rumah: Südhalle

Perpustakaan. Tempat bermain asik dan hangat di kala musim dingin adalah perpustakaan (bibliotek). Perpustakaan di sini sangat nyaman, bersih dan tertib. Buku-buku anak tertata dengan baik. Ada beberapa yang dwi-bahasa. Ada tempat untuk makan dan menghirup udara segar kalau mau baca-baca di luar gedung. Anak-anak yang mempunyai kartu perpustakaan tidak dikenakan biaya untuk meminjam buku, peminjamannya pun hanya untuk buku anak. Kalau orang dewasa, membayar administrasi 1.5euro dan 1.5euro setiap kali peminjaman buku yang tak terbatas jumlahnya. Batas peminjamannya sama masing-masing sebulan dan boleh diperpanjang.

Di Library

Stadtbibliothek Aachen

Kalau sedang tak pergi ke tempat-tempat tadi dikala akhir Minggu, kami sempatkan untuk jalan-jalan sekitar kota, berbelanja atau makan. Maklum, karena hari Minggu semua toko di Jerman tutup, kecuali restoran, maka kalau ada kekurangan bahan makanan atau lainnya hanya bisa berbelanja di hari Sabtu.

Kalau suka coklat, pastikan mampir ke Lindt Werksverkauf (Factory Outlet). Coklat Lindt di sini dijual dengan harga yang relatif lebih murah dari di pasaran

Makanan. Jajanan yang paling banyak di Aachen adalah Doner Kebab, roti arab yang didalamnya disisipkan daging ayam/kambing yang dipanggang dan salat (salad) dengan  bawang, paprika, kol bersaus tzaziki (asam), mayonnaise, bawang putih atau pedas. Kebanyakan restoran doner ini disertai label halal. Sultan of Kebap adalah tempat makan kebab yang paling happening karena letaknya di Bushof (terminal utama); turun bis udah kecium aroma sedapnya…! Satu menu komplit bisa dilengkapi dengan pommes (kentang goreng) dan soft drink refillable. Tapi kalau yang paling enak, banyak yang setuju HKL kebab, lokasinya deket Rathaus. Bocoran sedikit, jika kamu ingin tahu kota itu termasuk berbiaya murah atau tidak bandingan satu harga menu Doner Kebab dikota tersebut; di Aachen satu menu komplit doner bervariasi antara 4-5,5euro. Selain doner, ada lagi restoran pizza, sushi, fish n’chips, masakan China, India atau Thailand. Tapi 3 yang terakhir kebanyakan masih menyediakan menu babi yang mungkin tak semua dapat dimakan oleh kaum Muslim.

Hähnchen Döner (Chicken Kebab)

Restoran Indonesia sayangnya tak ada di Aachen.  Tapi kalau ingin bahan makanan asli Indonesia, ada beberapa toko asia (Vietnam) yang tersedia di Aachen menyuplai bahan tersebut, seperti Indomie, kecap ABC, kacang tanah, tahu, tempe, dll. Berbelanja disana memang lebih mahal, namun beberapa bahan seperti santan, mie/bihun rebus instant, bumbu masak bubuk misalnya sudah tersedia di supermarket biasa. Sehingga beberapa barang harganya pun sudah bersaing. Buat saya yang hanya bisa masak makanan Indonesia tidak merasa kesulitan mencari bahan makanan sesuai rasa Indonesia. Kalau sedang punya waktu dan ingin jalan, kami pergi ke Maastrich, kota kecil di Belanda yang waktu tempuhnya 1 jam dengan bis dari Aachen. Ada satu toko Asia disana yang sangat komplit, lebih murah dan buka di hari Minggu.

Vaals. Bicara soal Belanda, Aachen berbatasan langsung dengan kota kecil Belanda bernama Vaals. Hanya berjarak tempuh 20 menit dengan bis dari pusat kota Aachen ke pusat kota Vaals. Setiap hari Selasa, ada pasar terbuka mirip pasar di Indonesia. Penjualnya saling berteriak promosi barangnya dan dijual dengan harga sangat murah. Misalnya saja, 1 kotak mangga isi 7 buah seharga 2 euro sedangkan kalau di supermarket, 1 buah mangga seharga 1 euro. Jika ingin membeli ikan segar pun disini lebih murah daripada di toko. Cabe merah, cabe hijau dan cabe rawit pun sangat murah, maklum orang Belanda sangat familiar dengan masakan Indonesia dan kepedasannya.

VAALS3

Vaals Market

Toko Halal. Kalau mencari daging-daging dan olahanya yang halal pun tak sulit, banyak toko-toko halal di Aachen terutama di kawasan orang-orang Turki, Arab dan teman-temannya tinggal. Kalau diperhatikan tak hanya orang muslim saya yang berbelanja disana, karena mereka pun umumnya menjual bahan makanan lain seperti cabe dan tauge yan tak dijual di supermarket biasa.

Flohmarkt. Salah satu pasar yang menarik buat kami bukan hanya melulu soal makanan. Semenjak datang ke Aachen, kami dikenalkan dengan Flohmarkt, pasar barang bekas. Orang Jerman punya kebiasaan apik menyimpan barangnya, namun karena terbatasnya ruang penyimpanan maka mereka harus membuang barang lama dengan bijaksana, salah satunya dengan cara menjualnya dengan murah. Misalnya saja di flohmarkt anak, dijual semua barang anak, mulai dari baju, sepatu, tas, box perhiasan, alat olahraga dan mainan yang semuanya dalam kondisi baik. Tak jarang masih ada yang menjual dengan kemasan simpannya. Semuanya dijual dengan harga miring dan masih bisa ditawar.

Favorit keluarga Trikukuh dateng ke Kinder Flohmarkt, pasar khusus anak. Spesialis baju2, sepatu, buku dan tentu mainan…!

flohmarkt3

Kinder Flohmarkt; Kualitas masih layak pakai, bahkan bisa bermerk terkenal. Mainan contohnya lengkap dus dan isinya, harganya juga miring dan bole ditawar (senangnya!)

Ada lagi flohmarkt khusus wanita, menjual semua keperluan wanita. Dan yang cukup menarik adalah flohmarkt yang diadakan di pusat kota Aachen (dekat Dom dan Rathaus), biasanya 2 kali setahun: Trodel & Antikmarkt. Barang yang dijajakan di sana beragam, mulai dari barang antik, barang dapur, asesoris rumah, kepingan hitam, alat elektronik, mainan hingga keperluan sehari-hari. Kalau dibandingkan harga di flohmarkt ini lebih mahal dari flohmarkt biasa.

Komunitas Indonesia di Aachen. Cukup dengan jalan-jalan dan belanja, sesekali kami berkumpul dengan kawan atau keluarga Indonesia. Agenda rutin yang saya ikuti adalah pengajian setiap 2 minggu sekali dengan ibu-ibu tak berkerja di Aachen dan sebulan sekali ibu-ibu dan mahasiswi Aachen. Bapak-bapak dan mahasiswa punya agenda pengajian yang berbeda. Kadang rumah kami ketempatan untuk menjamu undangan pengajian. Diluar pengajian, kami juga mengenal beberapa keluarga Indonesia dan sesekali masih menyempatkan untuk bertemu.

Kegiatan Anak di Masjid. Khusus untuk anak-anak muslim berusia diatas 5 tahun, ada aktifitas anak-anak di sebuah masjid besar di Aachen, Mesjid Bilal. Mesjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan di Aachen dan jamaahnya internasional. Jadwal kelas untuk anak ada beberapa tergantung usia. Karena saat kami datang Grahito belum 5 tahun maka dengan beberapa orang tua yang anaknya seusia, kami membuat TPA mini dan punya jadwal rutin sendiri.

Kesimpulannya, sejauh ini kami menikmati kehidupan kami di Aachen dengan berbagai senang dan susahnya. Kami memanfaatkan banyak hari libur juga untuk mengunjungi negara-negara sekitar yang berbatasan dengan Aachen, misalnya Paris, Perancis; Brussel, Belgia; dan beberapa kota di Belanda. Yang sedikit lebih jauh dari Aachen, kami pernah mengunjungi beberapa kota di Spanyol, England dan Scotland. Untuk cerita lebih lanjut petualangan jalan-jalan ke kota-kota tadi tunggu saja di edisi selanjutnya ya 😉

———

Tia: trikukuhlivingabroad.weebly.com .

Foto-foto yang yang ada di artikel ini adalah foto pribadi Tia dan keluarga, foto-foto lainnya terhubung dengan link dari foto asli tersebut. Diedit oleh: @chiceniza