Merantau di Guangdong

lapanganNiken Wulandari – Wanita kelahiran Balikpapan yang sudah pindah dan menetap di Jakarta sejak berumur 3 tahun, sekarang menetap jangka panjang di Foshan, propinsi Guangdong, China bersama suami dan anak perempuan saya yang berkewarganegaraan China.

Pengalaman dan Latar Belakang Merantau

Saya tidak punya keterampilan khusus yg menonjol, suka membaca buku atau sekedar nonton video via handphone. Tetapi dari saya kecil, yang saya tahu, saya punya cita-cita untuk hidup di luar negeri, karena saya tertarik sekali dengan bahasa asing, meskipun pada akhirnya bahasa asing yang saya kuasai pun hanya 1-2 macam saja. Ayah saya beberapa tahun yang lalu baru saja pensiun, sedangkan ibu saya di usianya yg ke 63 tahun masih energik dan masih bekerja menjadi karyawan di perusahaan swasta.

Tahun 2006 saya lulus kuliah dan mendapat beasiswa untuk belajar bahasa mandarin di Sun Yat Sen University, Guangzhou, propinsi Guangdong, China. Saya belajar (sebenernya sih, main sambil belajar karena waktu sekolahnya hanya 4 jam sehari Senin-Jumat) selama 5 bulan di sana. Karena sejak saya kecil orangtua sudah biasa berbahasa Mandarin di rumah, saya cukup beruntung bisa langsung masuk ke kelas intermediate yang (menurut saya) dapat ilmu jauh lebih banyak dibanding memulai dari kelas basic.

Sun Yat- sen University, Guangzhou North Campus

Selama merantau di sana saya mengalami culture shock, yang membuat saya stress hingga sampai absen dapat tamu bulanan sampai 3 bulan. Alasannya? Orang China itu…ya ampun kasar sekaliiii dan tidak mengerti sopan santun sama sekali. Plus kurang menghargai kebersihan. Sampai cape hati saya selama 5 bulan disana, dan berjanji pada diri saya, tidak akan saya kembali ke China lagi untuk hidup jangka panjang (kecuali untuk holiday ya ok-ok  saja :D).

Tapi ternyata Tuhan sedang menghukum saya sepertinya, karena pada April 2007 saya ditugaskan untuk pindah kerja ke Dongguan, masih di propinsi Guangdong juga. Saya sebenarnya sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan di Singapore, tetapi ijin kerja saya ditolak oleh pemerintah Singapore, meskipun atasan saya sudah berusaha untuk appeal ke Departemen Tenaga Kerja Singapore. Ya sudahlah saya tidak memaksa juga, tapi ternyata atasan saya sudah kadung cinta pada saya, maka dia tetap berusaha agar saya bisa bekerja dengannya, tapi di negara yg berbeda, yaitu di pabrik produksi perusahaannya. Saya bekerja di Dongguan, dan akhirnya setelah setahun memutuskan untuk resign dan kembali ke Indonesia.

Jadilah saya akhirnya pulang kembali ke Indonesia pada Mei 2008, dan saya lagi-lagi berjanji pada diri saya, tak akan lagi saya kembali ke China, I hate China, I hate Chinese guys dan tidaklah mungkin saya punya pacar apalagi suami orang China…Kenapa saya begitu benci dengan China? karena saya minta ampun sudah tobattttt sama orang China. Orang-orang China yg saya temui saat sekolah dan saat bekerja sangatlah berbeda jauh, karena di lingkungan kerja mereka jauh lebih kompetitif dan “galak”. Mungkin karena kehidupan mereka tidaklah mudah, harus bersaing dengan beberapa milyar orang China lainnya makanya jadi galak dan jutekkk. Tapi kok kayanya saya dipermainkan oleh kata-kata yg keluar dari mulut saya sendiri yah, atau memang ngga boleh deh namanya mengatur-ngatur Tuhan :D. Karena saya kembali bekerja di sebuah perusahaan China di Jakarta, dan di bulan kedua saya bekerja saya malah kecantol orang China hahaha….

By the way, pendeknya saya pacaran kilat selama setahun lebih dan kemudian menikah di tahun 2010 di China.

saya dan suami

Saya dan suami

Setelah menikah kami menetap di Jakarta sampai pada September 2013 kami back for good ke China sampai hari ini.

kamar pengantin 2

Ini foto apa? Ini foto salah satu sudut Kamar Pengantin saya. Sangat tradisional sekali ya..! foto jenis2 “persembahan” untuk sembahyang bagi pengantin baru, diantaranya ada ayam, arak, lilin, sisir rambut, payung dll. intinya seperti perlengkapan bagi pengantin baru untuk memulai hidup berumah tangga

Masih soal kamar penganting, ranjang di kampung-kampung di China (dan sebagian kecil rumah tangga di China) masihlah menggunakan ranjang kayu yang tidak dilapisi kasur lagi. Kalau di musim dingin dilapisi selimut yg tebal dan di musim panas dilapisi tikar agar tidak panas. lumayan kaku badan, apalagi kalau mau balik badan ganti posisi tidur 😀

kehidupan di Foshan secara Umum

Kami tinggal di Foshan Gaoming. Foshan terbagi menjadi beberapa region yaitu Chancheng, Nanhai, Gaoming, Sanshui, Shunde. Gaoming merupakan region yang terkecil dengan 420ribu penduduk saja. Di sini termasuk area kecil, tidak ada kemacetan, kalau macet pasti ada kejadian besar sekali.

kebun sayur

Suasana pedesaan

foshan-map-related-keywords-u0026amp-suggestions-foshan-map-long-tail-

Foshan is a prefecture-level city in central Guangdong province, People’s Republic of China. The area under the city’s jurisdiction is about 3,848.49 km² and has an urban population of over 7.2 million.

Di Gaoming tidak ada mall besar, supermarket besar yg terkenal hanyalah Walmart, brand terbesar yang ada disini hanyalah KFC dan McD, tidak ada Starbucks dan lainnya.

Walmart

Kebanyakan daerah desa, mereka masih berkebun sendiri tanam sayuran, termasuk mertua saya, kami sering mendapat supply sayuran segar tanpa pestisida :).

sayur

Sayuran segar

Yang paling saya sukai di Foshan: suasananya tenang, santai, tidak macet. Suami pulang pergi kerja dlm waktu 15 menit saja. Kemana-mana dekat, dan jalanannya lebar, trotoar bagi pejalan kaki sangatlah lebar, dan tidak dipenuhi oleh pedagang kaki lima (kecuali pada saat-saat dekat musim tahun baru China).

People visit a lantern show to celebrate the Spring Festival on February 17, 2013 in Guangzhou, China. The Chinese Lunar New Year of Snake also known as the Spring Festival, which is based on the Lunisolar Chinese calendar, is celebrated from the first day of the first month of the lunar year and ends with Lantern Festival on the Fifteenth day. (Photo by China Foto Press

Kalau berkunjung ke Gaoming, berjalan-jalan lah ke Wen Chang Lu atau Jalan Wen Chang, inilah jalan teramai di seluruh Gaoming, hanya pedestrian street sepanjang tidak lebih dari 2 km dan umumnya hanya menjual pakaian. McD dan KFC terletak di sini.

Berkeliling di Foshan

Untuk rekomendasi tempat makan, sejujurnya agak susah, karena saya tidak cocok dengan makanan di sini. Either terlalu berminyak (yes, very very greasy!). Karena mereka makan minyak mentah. Maksudnya makan minyak mentah adalah isian sup dimakan dengan dicocolkan ke minyak mentah yang dicampur kecap asin. Cah sayur pun harus dengan minyak yang banyak. Setiap makan harus ada kuah. Tapi anehnya orang China selalu mencibir dengan berkata orang Indonesia makan terlalu banyak makanan berminyak, padahal mereka sendiri konsumsi minyak berlebih. Makanan yang saya suka di sini hampir tidak ada, makanya menderita dan rindu makanan Indonesia *masalah klasik di perantauan*.

Manggong Cake: Kue khas daerah Foshan, seperti kue kacang tanah

Sedangkan makanan halal untuk yang Muslim umumnya bisa ditemukan dengan pergi ke restauran orang Lanzhou, dijamin halal dan enak-enak! Atau bisa juga pergi ke restaurant vegetarian yang herannya ternyata cukup banyak di sini loh.

Tempat favorit jalan-jalan keluarga kami….. biasanya di rumah..! Haha.  Karena sebenarnya di sini tempat hiburan lebih diperuntukkan bagi anak-anak; seperti taman. Banyak sekali taman-taman di sini, yang biasanya penuh dengan orangtua dan anak-anak lagi bermain, apalagi musim panas pasti penuh dengan anak-anak yang bermain pasir dan air.

The Ancestral Temple Foshan

Nanhai Baofeng Temple at Xiqiao Mountain Foshan Big Buddha Guangdong

Untuk berjalan-jalan, biasanya saya naik bus, tidak ada subway di daerah Gaoming sini. Atau lebih tepatnya belum ada rencana dari pemerintah untuk membangun subway sampai ke Gaoming. Tapi Foshan area lainnya sudah ada subway kok 🙂

lapangan

di seluruh China adalah normal untuk menghabiskan waktu di lapangan sperti ini yg tersebar di seluruh daerah. biasanya dipakai untuk bawa anak2 berjalan2, berjemur matahari, menari, atau olahraga ringan

One Child Policy

One child policy tadinya berlaku jika kami memiliki anak kedua yg ingin masuk ke kewarganegaraan China dan harus membayar denda. Di sini bisa mempunyai anak lebih dari satu kalau pihak suami atau istri merupakan anak tunggal, suami saya kebetulan bukan anak tunggal dan saya tidak diakui untuk mengikuti peraturan ini krn saya warga negara asing. Namun “berita gembira”nya, sejak awal November 2015 sudah diresmikan oleh pemerintah China bahwa seluruh penduduk China boleh memiliki 2 orang anak tanpa syarat, jadi saya tidak takut lagi untuk memiliki anak kedua 😀

Pengalaman Hamil dan Melahirkan di China

Pertama yang bikin kaget adalah…. Dokter yg saya kunjungi untuk cek up bulanan bukanlah dokter yg membantu saya melahirkan nantinya. Dokter untuk cek up bulanan hanya dokter di poliklinik, sedang dokter yang membantu lahiran adalah dokter di bangunan lainnya yang diperuntukkan untuk rawat inap. Di sini mengecek jenis kelamin bayi sebelum lahir adalah melanggar hukum, meskipun bisa saja dilakukan kalau punya kenalan dan uang. Proses kelahiran tidak boleh didampingi suami atau orang lain, karena dalam ruang persalinan biasanya ada ibu melahirkan lainnya. Lainnya setelah melahirkan langsung dilakukan inisiasi dini sama kok seperti di Indonesia. Masa pemulihan setelah melahirkan lumayan banyak pantangan, apalagi karena ibu mertua agak ndeso jadi pantangannya agak banyak hehehe…

keluarga suami

Bersama keluarga suami

kendala berBahasa

Di China umumnya sangat sedikit orang lokal yang bisa berbahasa inggris secara fasih, untuk melakukan percakapan simple pun sangat jarang yang bisa. Bahkan saya bisa mengatakan di kota besarpun sangat jarang yang bisa berbahasa Inggris. Bahasa utama adalah Chinese Mandarin, dengan berbagai macam dialek lokal, kebetulan daerah saya tinggal adalah China selatan yang mayoritas berbahasa Cantonese. Jenis huruf yang dipakai oleh masyarakat di China daratan dan Hongkong dan Taiwan memiliki perbedaan, Hongkong dan Taiwan memakai huruf tradisional sedangkan China daratan huruf simplified.

Pemerintah China (setahu saya) tidak memberikan fasilitas kursus gratis, umumnya bagi orang asing tidak ada fasilitas apa-apa. Belajar bahasa Mandarin cukup susah, karena ada 4 nada yang berbeda, tapi tantangan lebih berat adalah belajar Cantonese karena ada 9 nada yang berbeda dan sampai sekarang saya masih tidak bisa sama sekali.

perkumpulan Orang Indonesia

Perkumpulan orang Indonesia ada, tapi biasanya di kota besar. Saya mempunyai beberapa teman orang Indonesia, tapi itu teman-teman kerja dulu dan beberapa yang kenal via Facebook. Btw, Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya diblokir di sini, saya harus menggunakan VPN untuk dapat mengakses website-website tersebut.

Penduduk Lokal Fushon Gaoming dan culture shock

Penduduk lokal termasuk baik, menikmati hidup. Basically karena kota kecil, maka waktu yang diperlukan utk pulang pergi kerja tidak begitu panjang, suka masak dan makan di rumah, jarang dijumpai keluarga besar makan di luar karena mereka menganggap makan di luar/ restaurant mahal dan tidak seenak makan di rumah. Tapi bukan berarti tidak ada sama sekali loh ya…. Mereka juga suka membawa anak jalan-jalan malam sampe jam 9-10, pergi bermain di taman yang lumayan banyak tersebar di sana-sini.

Camera 360

Gendongan bayi: gendongan bayi yang cara memakainya sangatlah rumit dan melelahkan, saya memilih untuk memakai gendongan bayi modern. saya tidak suka gendongan bayi kuno model ini krn selain memasangnya terlalu melelahkan, terlalu mengekspose daerah payudara si penggendong

Jangan bingung – karena ini adalah pemandangan yang lumrah ditemui di berbagai kota di China:  Yep, babies and toddlers in China don’t wear nappies so they’re able to do their ‘business’ wherever and whenever (!).

Nah, kalau berbicara tentang habit dan potensi culture shock…

The most disgusting Chinese habit that all foreigners seem to agree upon is spitting. They hack and spit everywhere, and not only outside. Why, you may wonder? It is claimed pollution is the problem. The air in cities, such as Beijing and Shanghai, is so bad that the simple act of breathing already irritates the throat so much that, like cats cough up hairballs, coughing and horking up mucus is the only way out.

Selain masalah “spitting” atau meludah sembarangan, adalah WC. WC di seluruh China sih memang kurang bersih, ada yang bersih juga tapi jarang. Sebenarnya mungkin karena saya sudah terbiasa hidup di China makanya asal wc-nya (maaf) tidak ada “bom” sudah termasuk bersih. Sekat di WC tidak ada kalau daerahnya agak terpencil, umumnya WC bersekat, tapi kadang-kadang ada juga yg sekatnya rendah jadi bisa sambil lihat-lihat samping kalau lagi buang air, heeeee, tapi jarang kok..! Hehehe.

Lumayan lah ada sekatnya 😉

Untuk potensi culture shock lainnya, bisa ke link ini, cukup membantu untuk yang pertama kali ke China 😀

—–

Advertisements

Pengalaman Hamil dan Melahirkan di Singapura

858533_10151441582214637_205627387_oAnya –  32 y.o – Loves good food, good friends, good walk, and clean houses – Lives in Singapore since 2010 with a toddler girl, a baby girl, and a human male

Pengalaman hamil di Singapura

Pengalaman hamil saya garis besarnya sama dengan ibu-ibu di belahan dunia lain mungkin ya? Apa-apa dikerjakan sendiri, kemana-mana sendiri, naik public transport di saat penuh pun kadang harus cuek dan berani minta orang untuk memberi tempat duduknya untuk kita. Biasanya yang rela memberi tempat duduk adalah ibu-ibu, bahkan kadang nenek-nenek, sampai saya sendiri yang malu. Mas-masnya sih biasanya pura-pura tidur, jadi harus berani untuk nyolek dan minta tempat duduk.

Memilih Obgyn dan Rumah Sakit di Singapura

Untuk obgyn dan pilihan lokasi melahirkan, di Singapura ada dua opsi, public atau private. Melahirkan di public hospital relatif lebih murah biayanya dibandingkan dengan private hospital. Tapi biarpun namanya rumah sakit pemerintah, standar pelayanannya bagus dan kondisi rumah sakit bersih, nyaman, dan tidak seram (ini penting kan ya?). Selain itu, untuk kondisi kehamilan beresiko tinggi, melahirkan di public hospital lebih aman karena banyak dokter spesialis yang berpraktek di RS tsb, dan tentunya akan menekan biaya apabila ternyata proses bersalin memerlukan penanganan tambahan, misalnya NICU, emergency c-sect, dll. Namun ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan bila ingin memilih public hospital, seperti:

        • Untuk paket pemeriksaan dokter umumnya hanya ada 2 kali scan USG, sementara private clinic biasanya melakukan cek lewat USG di setiap kunjungan konsultasi
        • Beberapa rumah sakit melakukan pemeriksaan dokter dan USG di ruangan terpisah
        • Saat bersalin ada kemungkinan dokter didampingi residen yang kadang ikut melakukan penjahitan, atau ikut melakukan observasi
03 KKH

Kandang Kerbau Hospital (KKH) adalah rumah sakit ibu dan anak yang paling besar di Singapura, terkenal dengan dokter-dokter anak dari berbagai spesialisasi

Ada beberapa hal yang bisa jadi perhatian untuk ibu yang ingin melahirkan di sini.

  • Rumah sakit di Singapura umumnya menyediakan maternity hospital tour. Dalam tour ini, calon ibu dan ayah bisa melihat kondisi ruang bersalin, kamar pasien, kamar bayi, fasilitas yang disediakan (parentcraft room, waterbirth room, dan sebagainya). Yang asyik, setelah maternity tour ibu diberi goodiebags dari rumah sakit berisi sampel produk ibu dan bayi
  • Beberapa minggu sebelum melahirkan, calon ibu sebaiknya melakukan pre-admission di RS yang bersangkutan dan memberikan bukti pre-admission kepada dokter
  • Agak berbeda dengan di Indonesia, ibu hanya boleh ditunggu oleh 1 (satu) orang sejak memasuki ruang bersalin. Biasanya pihak RS meminta agar calon ayah yang menunggu. Bila ayah berhalangan, baru orangtua atau orang terdekat lain.
  • Untuk normal delivery, rumah sakit di sini menerapkan skin-to-skin contact langsung begitu bayi lahir dan ari-ari digunting. Biasanya ibu diminta untuk memeluk (dan menyusui bila mungkin) bayi selama kurang lebih 30 menit, sebelum bayi dibersihkan dan diberi tag
  • Beberapa rumah sakit mulai memakai barcode tagging. Bila bayi berdekatan dengan orang tua yang salah, maka alarm pada tag akan berbunyi
  • Untuk makanan, supplier makanan di rumah sakit adalah halal-certified, dan terdapat confinement menu untuk pasien Chinese
  • Rumah sakit menyediakan parentcraft class gratis selama ibu menginap di RS, topik yang diajarkan umumnya mengenai breastfeeding dan cara memandikan bayi. Bila ingin kelas yang lebih komprehensif, ada juga kelas-kelas yang berbayar
  • Saat anak lahir, rumah sakit akan memberikan health book yang isinya mirip dengan Kartu Menuju Sehat. Selain itu juga ada daftar imunisasi yang nanti akan dilengkapi dengan vaksin-vaksin yang diterima anak. Seperti sudah ditulis oleh Ajeng, pemerintah Singapura mewajibkan semua anak untuk melengkapi mandatory vaccination sebelum masuk primary school.
04 Healthbook

Children’s health book

Total biaya melahirkan normal di public hospital berkisar antara 2000-6000 SGD, sedang di private hospital sekitar 5000-15000 SGD, tergantung jenis kamar. Bila ingin menggunakan epidural atau forceps, tambahan biayanya sekitar 500-1000 SGD. Untuk persalinan caesarian total biaya sekitar 25% lebih mahal dari persalinan normal (sumber: Ministry of Health).

Pemilihan Home Birth, Water Birth, dll.

Home birth belum terlalu populer di Singapura dan dokter kandungan yang bersedia membantu persalinan di rumah masih sangat sedikit. Selain itu persalinan di rumah wajib dibantu oleh bidan yang teregistrasi. Tahun 2014 lalu belum ada bidan Singapura yang teregistrasi untuk melakukan persalinan. Sehingga orang tua yang ingin melakukan home-birth harus mengundang bidan dari negara lain yang teregistrasi. Bidan ini harus melaporkan diri dan mendaftar ke Singapore Nursing Board sebelum mendapat ijin mengakomodasi home birth. (sumber: home birth)

Waterbirth di Singapura bisa dilakukan di National University Hospital (NUH), Mount Alvernia Hospital, Thomson Medical Centre, dan Raffles Hospital dengan tambahan biaya sekitar 300-4000 SGD untuk fasilitas waterbirth. (sumber: biaya waterbirth)

Di sini sudah jarang ada ibu yang melahirkan normal dan drug-free. Beberapa dokter ada yang memang menyarankan agar ibu memilih persalinan dengan epidural. Alasannya, supaya pengalaman melahirkan bisa diingat sebagai hal yang mudah dan tidak traumatik. Akan tetapi, rumah sakit juga menyediakan alat-alat bantu selain obat-obatan, seperti gym ball, yoga mat, atau portable CTG sehingga selama labor ibu tidak harus terikat di tempat tidur dan bisa bebas bergerak.

Kesan Tentang Dokter

Dokter di sini umumnya membebaskan orangtua untuk memilih metode melahirkan. Tapi dari pengalaman saya dengan dua dokter berbeda di rumah sakit berbeda, umumnya mereka akan mengusahakan persalinan normal (termasuk Vaginal Birth After Caesarian-VBAC), kecuali untuk ibu hamil beresiko tinggi.

Saat kehamilan anak pertama saya ada di minggu ke 35, janin masih sungsang dan dokter menyarankan untuk menunggu sampai minggu ke 36. Bila masih sungsang, dokter memberi pilihan untuk melakukan external cephalic version (ECV), yang maksudnya adalah melakukan ‘pijatan’ pada perut dengan tujuan memutar bayi. Harapannya supaya sebisa mungkin saya bisa melahirkan dengan normal. Dokter ini juga termasuk dokter yang sangat pro-pain medication, tapi saya tetap memilih untuk melahirkan tanpa epidural. Pagi setelah melahirkan, dia datang ke rumah sakit sambil misuh-misuh. Katanya saya kok mau-maunya menahan sakit kontraksi padahal ada pilihan untuk pain-free. Dalam hati saya bilang, yakali gratis Dok.. Lumayan kan 1000 dolar bisa buat mudik dua kali :))

Dokter untuk anak kedua saya lain lagi ceritanya. Orangnya cantik, punya 4 (yes, empat!) anak dan badannya seperti model iklan WRP. Dokter ini sangat pro-natural. Saat bayi saya belum menunjukkan tanda-tanda lahir saat due date tinggal beberapa hari lagi, dia yang menyuruh saya untuk sabar dan tidak menyarankan untuk induksi.

Rumah sakit dan tenaga medis di Singapura sangat mendukung ASI ekslusif. Iklan dan promosi susu formula untuk bayi umur dibawah 6 bulan dilarang oleh pemerintah, biarpun susu formula tetap tersedia di supermarket bagi yang membutuhkan.

Seperti saya tulis di atas, begitu bayi lahir langsung diberikan ke ibu untuk skin to skin bonding dan inisiasi menyusu dini. Kamar bayi tetap tersedia, tapi rumah sakit menekankan agar bayi berada di dekat ibu selama mungkin. Default dari rumah sakit adalah full breastfeeding, kecuali memang kondisi ibu secara medis tidak memungkinkan dan ada permintaan dari orangtua.

Selama ibu menginap di rumah sakit, ada lactation consultant yang akan mendampingi dan membantu ibu agar dapat menyusui dengan benar. Mereka juga akan menelepon ibu beberapa minggu setelah melahirkan untuk mengecek apakah proses menyusui berjalan lancar. Lactation consultant saya saat hamil anak pertama galak sekali, dia sering menelepon untuk mengecek, sambil bilang, “Coba kamu pikir, 200 dolar sebulan untuk beli susu, kalau kamu kumpulin kan bisa untuk liburan sekeluarga.” (Harga susu formula untuk bayi di bawah setahun berkisar antara 45-60 sgd per kaleng)

Status Kewarganegaraan Anak yang Lahir di Singapura. Kewarganegaraan anak yang lahir di Singapura akan mengikuti kewarganegaraan orangtuanya. Anak dari orangtua yang bukan WN Singapura berstatus foreigner dan diberi waktu 42 hari sejak lahir untuk tinggal di Singapura sebelum memperpanjang izin tinggal. Jadi apa saja yang harus dilakukan orangtua yang melahirkan di Singapura?

  • Begitu anak lahir, langsung mengurus Singapore Birth Certificate di rumah sakit atau di Immigration and Checkpoints Authority of Singapore (ICA, kantor imigrasi Singapura). Lama waktu pembuatan akta sekitar 5-15 menit. Nomor akte kelahiran akan menjadi nomor identitas anak dan akan digunakan untuk banyak keperluan administrasi, termasuk keperluan imigrasi dan pendaftaran sekolah.
  • Setelah itu, orang tua membawa Singapore Birth Certificate, paspor orangtua dan buku nikah orangtua ke KBRI sebagai syarat pembuatan Akta Kelahiran (Indonesia). Lama pembuatan 1 hari kerja
  • Setelah punya akta kelahiran, langsung membuat paspor bayi di KBRI. Biasanya selesai dalam waktu 3 hari kerja
  • Kalau bayi sudah memiliki paspor, maka orangtua bisa mulai memilih apakah ingin mendaftarkan anak mereka untuk menjadi Permanent Resident, atau akan tetap dengan status foreigner dan mengajukan permohonan Long Term Visit Pass (LTVP). Karena pengajuan PR memakan waktu proses yang lama dan ada kemungkinan untuk ditolak, biasanya orangtua langsung memproses LTVP supaya bayi tidak overstay.

———

Merantau di Kuwait

profile picAhaddini Maretty (Dini) – Has been living in Kuwait since 2009 with two awesome sons Farrel and Rafan and a loving husband Rino. Manga-lover, K-Drama lover. Passionate about arts & crafts. Used to hate garlic and veggies, now can’t live without ones. Food Photographer and Food Stylish of Hijabella Magazine.

Continue reading

Pembagian District di Singapura dan Info Mencari Sekolah Anak

858533_10151441582214637_205627387_oAnya Windira –  A mother of two, used to work in an office with shared cubicles before decided to pack her stuffs and flew to Singapore. Likes good friends, good food, and clean houses. Sometimes she tells people that she loves traveling around the world while in fact a trip to wet market is enough to make her happy.

Pembagian District. Biarpun negaranya cuma seuprit (luas Singapura kira-kira sama dengan Jakarta), tapi orang sini tetap suka main cela-celaan distrik lho. Garis besarnya, area di SG itu terbagi 4: North, West, East, dan Central. Dan masalah cela-mencela yang paling heboh adalah East vs West.

Pembagian wilayah Singapura

1. East Region. Stereotypingnya begini, daerah East ini adalah daerah yang paling dekat dengan Changi Airport, jadi daerahnya lebih hidup karena banyak business dan industrial center. Termasuk juga daerah Tampines, Bedok, Kallang, dll. Pada awal berdirinya, konon di East inilah orang-orang Inggris di Singapura membangun beach houses, sehingga rata-rata area di East berkesan lebih ekslusif dibanding di West. Kelemahannya, East ini aslinya banyak rawa, jadi udaranya cenderung gersang dan panas. Dan biarpun bekas rawa, di East tetap banyak area hijau. Selain itu, di East tempat makan enak dan halal lebih beragam dan lebih mudah ditemui dibandingkan dengan area lain di Singapura.

Tempat-tempat di East yang menarik untuk dikunjungi: Outdoor: Pasir Ris Park, Bedok Reservoir Park, East Coast Park. Beberapa tempat menyediakan penyewaan sepeda, space untuk barbeque, camping area, dan watersports.

Bedok Reservoir Park

Cafe-cafe dan toko-toko kecil di East Coast dan Katong Geylang Serai wet market: pasar basah dengan bahan makanan Malay (dan Indonesia) terlengkap. Pada bulan Ramadhan pasar Geylang Serai buka sejak sore hingga malam hari dan ramai dengan pasar Ramadhan.

Katong District: Singapore Peranakan Neighborhood

08 EC Shophouses

Jejeran rumah bergaya kolonial di daerah East Coast yang dipertahankan dan dipakai sebagai shophouses (ruko)

Suasana Geylang Serai saat bulan Ramadhan – ramai menjajakan aneka makanan Malay dan Indonesia

2. West Region. Daerah West ini dulunya hutan dan peternakan, jadi sampai sekarang relatif lebih rimbun dan masih banyak hutan hujan yang terpelihara, seperti Bukit Timah Nature Reserve dan Bukit Batok Nature Park. Tapi, area West yang paling ujung dekat dengan jembatan menuju Johor Bahru (daerah Tuas), yang mana di sana adalah lokasi heavy industrial area sehingga daerah itu lebih berpolusi.

Little Guilin, Bukit Gombah yang masih satu area dengan Bukit Batok

Daerah West juga sering dianggap lebih kumuh karena banyak non Singaporean dan blue-collar worker yang tinggal di sini. Selain itu mungkin karena jauh dari main business center, perkembangan area ini relatif lebih lambat dibandingkan East. Baru setelah tahun 2010 di area ini mulai banyak mall dan perkantoran.

Tempat-tempat menarik di daerah West: Outdoor: West Coast Park, Bukit Timah Nature Reserve, Chinese Garden/Jurong Lake, bersepeda menyusuri Park Connectors Singapore Science Center Nanyang Technical University dan National University of Singapore (main campus).

09 Ulupandan

Ulu Pandan Connector Bridge adalah salah satu spot foto favorit untuk jogger atau fun cyclist

10 Chinese Garden

Chinese Garden dan Jurong Lake

11 Kidstop

Kidstop, salah satu atraksi di Singapore Science Center, dimana anak-anak bisa mencoba berbagai pengalaman di dunia ‘orang dewasa’, seperti belanja di supermarket, melakukan ekskavasi fosil dinosaurus, menjadi cameraman untuk acara TV, dan banyak lagi

“Perseteruan” East vs West ini biarpun banyak jadi bahan candaan, kadang dianggap serius lho oleh orang Singapura, terutama bila dihubung-hubungkan dengan politik. Kalau saya dan teman-teman sih paling becandaannya seputar perlu atau enggaknya bawa paspor dan sikat gigi kalau main-main ke daerah West 🙂

 3. Central Region: adalah area yang paling keren. Harga properti di sini jauh lebih mahal dibanding area lain sehingga daerah ini dianggap sebagai daerah orang kaya-nya Singapura. Tempat-tempat seperti Orchard Road, Bugis, dan Marina Bay Sands, semua berlokasi di Central Singapore. Jadi biasanya, orang yang tinggal di Central jadi bahan disirikin sama yang lain. Paling gaya soalnya 🙂

Suasana Orchard Road saat menyambut perayaan Natal dan Tahun Baru

Tempat menarik di Central Area: selain tempat-tempat yang umumnya ada di panduan wisata ke Singapura, ada juga Bishan park, taman kota yang dibuat bergaya ‘kampung’, atau hiking di MacRitchie Reservoir.

Bishan Park

March 25 2015: A poster of elder statesman Lee Kuan Yew is surrounded by messages of support and flowers outside the Singapore General Hospital.

4. North Region terbagi menjadi dua: Northwest (Woodlands, Kranji, dll) adalah daerah yang terjauh dari Changi Airport dengan jalur kereta yang paling tidak reliable :), tapi harga sewa rumah biasanya lebih murah, dan biasanya apartemennya pun lebih luas. Sedang daerah Northeast (Sengkang, Punggol), karena termasuk daerah termuda, kelebihannya adalah umur apartemen yang masih baru dan demografis penghuni yang umumnya pasangan muda.

Tempat menarik di Northwest: Selain Singapore Zoo, banyak area urban farming yang terbuka untuk umum, misalnya Bollywood Farm di area Kranji, atau Urban Barn and Farm di daerah Bukit Panjang. Ada juga Sembawang Park dimana masih terdapat pantai yang natural (karena hampir semua pantai Singapura adalah hasil reklamasi).

Singapore Zoo

Salah satu plang di Bollywood Farm

Sembawang Park Playground

Faktor-faktor yang harus dipikirkan oleh calon mamarantau dalam memilih district untuk apartemen di Singapura:

Biasanya yang pertama dilihat adalah jarak dari rumah ke kantor. Karena biarpun negara ini kecil, tapi kalau punya rumah di West dan kantornya di East lumayan juga lho, bisa menghabiskan 1.5 jam untuk berangkat ke kantor.

Kemudian, untuk yang punya anak usia SD, sebaiknya mengecek SD yang ada di sekitar rumah, apakah semua SD unggulan, atau ada SD papan tengah. Alasannya kenapa? Karena sistem penerimaan SD (primary school) di Singapura ini SANGAT kompetitif. Level kompetisinya mungkin sama dengan jaman saya mengikuti UMPTN.

Sistem penerimaan SD di sini terbagi dalam beberapa fase:

  • Fase 1: Pendaftaran dibuka untuk anak yang saudara kandungnya sedang bersekolah di primary school tersebut.
  • Fase 2A: Pendaftaran dibuka untuk anak yang orangtua atau saudara kandungnya adalah alumni SD tersebut, atau yang orangtuanya adalah staf di sekolah tersebut.
  • Fase 2B: Pendaftaran untuk Singaporean Citizen yang orangtuanya adalah volunteer di SD tersebut.
  • Fase 2C: Pendaftaran untuk Singaporean Citizen atau PR yang belum masuk di fase 2B. Sekolah akan mendahulukan Citizen dalam penerimaan.
  • Fase 3: Pendaftaran untuk foreigner dan pendaftar yang tidak mendapat kursi di fase 2C.

SD unggulan di Singapura umumnya sudah penuh oleh Singaporean citizen di fase 2B. Sehingga anak-anak PR dan foreigner biasanya memilih untuk mendaftar di SD non unggulan yang jaraknya dekat rumah. Yang repot kalau SD di sekeliling rumah adalah unggulan semua. Biasanya Ministry of Education (MOE) akan meng-assign anak tersebut di SD yang masih punya kursi kosong, yang tak jarang lokasinya jauh dari rumah si anak. Sehingga banyak foreigner yang terpaksa pindah rumah demi bisa tinggal dekat sekolah.

Sementara untuk masuk ke level SMP (Secondary school), sudah ditentukan berdasarkan nilai ujian akhir, disini disebut PSLE (Primary School Leaving Examination). Jadi jarak tidak terlalu berpengaruh. Urusan kedekatan dengan amenities (supermarket, fasilitas kesehatan, public transport, wet market), biasanya tidak jadi masalah, karena umumnya di setiap daerah perumahan terdapat fasilitas yang lengkap.

Komunitas Orang Indonesia di Singapura. Ibu-ibu rumah tangga di sini umumnya mengikuti kelompok keagamaan. Untuk yang beragama Nasrani, biasanya ada perkumpulan keluarga dari majelis persekutuan gereja masing-masing. Majelis ini cukup aktif mengadakan family gathering. Bisa juga mendapat teman yang anak-anaknya ikut sekolah Minggu yang sama.

Untuk yang Muslim, di sini ada pengajian Muslimah yang dibuat per distrik dan diatur oleh IMAS (Ikatan Muslim Singapura). Membuat kelompok pengajian di Singapura tidak bisa sembarangan, harus terkoordinir. Begitupun untuk menjadi guru mengaji, seseorang harus mendapat ijazah melalui ujian yang diadakan oleh Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS). IMAS juga mengadakan kajian rutin di Mesjid Istiqamah KBRI Singapura yang mengundang pembicara dari Indonesia. Acara ini dikenal sebagai Saung Istiqamah dan sering jadi ajang silaturahim keluarga Muslim di Singapura. Selain itu, setiap bulan Ramadhan ada buka puasa bersama umat Muslim Indonesia di Singapura. Serunya, hidangan berbuka disuplai oleh semua kelompok pengajian ibu-ibu Indonesia se-Singapura.

Kelompok tahsin

Kelompok tahsin tempat saya bergabung ikut berpartisipasi menyiapkan makanan untuk Iftar IMAS tahun 2014 lalu.

Ada juga perkumpulan orang-orang dari latar belakang etnis yang sama, misalnya Paguyuban Pasundan Singapura dan KUA (Keluarga Urang Awak). Dari Paguyuban Pasundan terbentuk Indonesia Angklung Ensemble, yang cukup sering tampil di acara-acara lokal Singapura seperti Soundwaves 2012 Asia Major, Singapore Heritage Festival, dan banyak event lainnya.

13 Angklung

Indonesia Angklung Ensemble tampil di Botanic Gardens dalam salah satu rangkaian acara SG50 Celebration (50 tahun kemerdekaan Singapura)

Pementasan di Esplanade Open Theater 2011 oleh Indonesia Angklung Ensemble

Selain itu ada juga komunitas informal seperti komunitas futsal, bulutangkis, lari, dan tim basket amatir. Saya sendiri bergabung dalam kelompok pengajian dan mamarunners. Karena sama-sama berada di rantau, yang awalnya hanya untuk mencari teman yang punya minat yang sama, ternyata lama-lama jadi seperti saudara. Selain punya banyak teman, banyak informasi yang saya dapat dari teman komunitas. Contohnya info katering (dari mulai pempek sampai tumpeng) dan rekomendasi pembantu jam-jaman. Lalu ada info tukang pijat, tukang urut keseleo, sampai tukang cat murah meriah dan jasa penukaran uang. Yang paling dicari tentunya info preorder barang-barang dari Indonesia. Jadi biarpun tidak tinggal di Indonesia, kami semua cukup up-to-date dengan apa-apa yang sedang hits di Indonesia, mulai dari cireng bumbu rujak sampai jilbab Hana! (yang nggak kenal jilbab Hana silakan google yaa).

—–

Anya: Instagram @lengkengaddicts. Semua foto terlampir adalah milik Anya dan beberapa foto penunjang terhubung langsung dengan link foto asli.