Merantau di Kuwait

profile picAhaddini Maretty (Dini) – Has been living in Kuwait since 2009 with two awesome sons Farrel and Rafan and a loving husband Rino. Manga-lover, K-Drama lover. Passionate about arts & crafts. Used to hate garlic and veggies, now can’t live without ones. Food Photographer and Food Stylish of Hijabella Magazine.

Continue reading

Pembagian District di Singapura dan Info Mencari Sekolah Anak

858533_10151441582214637_205627387_oAnya Windira –  A mother of two, used to work in an office with shared cubicles before decided to pack her stuffs and flew to Singapore. Likes good friends, good food, and clean houses. Sometimes she tells people that she loves traveling around the world while in fact a trip to wet market is enough to make her happy.

Pembagian District. Biarpun negaranya cuma seuprit (luas Singapura kira-kira sama dengan Jakarta), tapi orang sini tetap suka main cela-celaan distrik lho. Garis besarnya, area di SG itu terbagi 4: North, West, East, dan Central. Dan masalah cela-mencela yang paling heboh adalah East vs West.

Pembagian wilayah Singapura

1. East Region. Stereotypingnya begini, daerah East ini adalah daerah yang paling dekat dengan Changi Airport, jadi daerahnya lebih hidup karena banyak business dan industrial center. Termasuk juga daerah Tampines, Bedok, Kallang, dll. Pada awal berdirinya, konon di East inilah orang-orang Inggris di Singapura membangun beach houses, sehingga rata-rata area di East berkesan lebih ekslusif dibanding di West. Kelemahannya, East ini aslinya banyak rawa, jadi udaranya cenderung gersang dan panas. Dan biarpun bekas rawa, di East tetap banyak area hijau. Selain itu, di East tempat makan enak dan halal lebih beragam dan lebih mudah ditemui dibandingkan dengan area lain di Singapura.

Tempat-tempat di East yang menarik untuk dikunjungi: Outdoor: Pasir Ris Park, Bedok Reservoir Park, East Coast Park. Beberapa tempat menyediakan penyewaan sepeda, space untuk barbeque, camping area, dan watersports.

Bedok Reservoir Park

Cafe-cafe dan toko-toko kecil di East Coast dan Katong Geylang Serai wet market: pasar basah dengan bahan makanan Malay (dan Indonesia) terlengkap. Pada bulan Ramadhan pasar Geylang Serai buka sejak sore hingga malam hari dan ramai dengan pasar Ramadhan.

Katong District: Singapore Peranakan Neighborhood

08 EC Shophouses

Jejeran rumah bergaya kolonial di daerah East Coast yang dipertahankan dan dipakai sebagai shophouses (ruko)

Suasana Geylang Serai saat bulan Ramadhan – ramai menjajakan aneka makanan Malay dan Indonesia

2. West Region. Daerah West ini dulunya hutan dan peternakan, jadi sampai sekarang relatif lebih rimbun dan masih banyak hutan hujan yang terpelihara, seperti Bukit Timah Nature Reserve dan Bukit Batok Nature Park. Tapi, area West yang paling ujung dekat dengan jembatan menuju Johor Bahru (daerah Tuas), yang mana di sana adalah lokasi heavy industrial area sehingga daerah itu lebih berpolusi.

Little Guilin, Bukit Gombah yang masih satu area dengan Bukit Batok

Daerah West juga sering dianggap lebih kumuh karena banyak non Singaporean dan blue-collar worker yang tinggal di sini. Selain itu mungkin karena jauh dari main business center, perkembangan area ini relatif lebih lambat dibandingkan East. Baru setelah tahun 2010 di area ini mulai banyak mall dan perkantoran.

Tempat-tempat menarik di daerah West: Outdoor: West Coast Park, Bukit Timah Nature Reserve, Chinese Garden/Jurong Lake, bersepeda menyusuri Park Connectors Singapore Science Center Nanyang Technical University dan National University of Singapore (main campus).

09 Ulupandan

Ulu Pandan Connector Bridge adalah salah satu spot foto favorit untuk jogger atau fun cyclist

10 Chinese Garden

Chinese Garden dan Jurong Lake

11 Kidstop

Kidstop, salah satu atraksi di Singapore Science Center, dimana anak-anak bisa mencoba berbagai pengalaman di dunia ‘orang dewasa’, seperti belanja di supermarket, melakukan ekskavasi fosil dinosaurus, menjadi cameraman untuk acara TV, dan banyak lagi

“Perseteruan” East vs West ini biarpun banyak jadi bahan candaan, kadang dianggap serius lho oleh orang Singapura, terutama bila dihubung-hubungkan dengan politik. Kalau saya dan teman-teman sih paling becandaannya seputar perlu atau enggaknya bawa paspor dan sikat gigi kalau main-main ke daerah West 🙂

 3. Central Region: adalah area yang paling keren. Harga properti di sini jauh lebih mahal dibanding area lain sehingga daerah ini dianggap sebagai daerah orang kaya-nya Singapura. Tempat-tempat seperti Orchard Road, Bugis, dan Marina Bay Sands, semua berlokasi di Central Singapore. Jadi biasanya, orang yang tinggal di Central jadi bahan disirikin sama yang lain. Paling gaya soalnya 🙂

Suasana Orchard Road saat menyambut perayaan Natal dan Tahun Baru

Tempat menarik di Central Area: selain tempat-tempat yang umumnya ada di panduan wisata ke Singapura, ada juga Bishan park, taman kota yang dibuat bergaya ‘kampung’, atau hiking di MacRitchie Reservoir.

Bishan Park

March 25 2015: A poster of elder statesman Lee Kuan Yew is surrounded by messages of support and flowers outside the Singapore General Hospital.

4. North Region terbagi menjadi dua: Northwest (Woodlands, Kranji, dll) adalah daerah yang terjauh dari Changi Airport dengan jalur kereta yang paling tidak reliable :), tapi harga sewa rumah biasanya lebih murah, dan biasanya apartemennya pun lebih luas. Sedang daerah Northeast (Sengkang, Punggol), karena termasuk daerah termuda, kelebihannya adalah umur apartemen yang masih baru dan demografis penghuni yang umumnya pasangan muda.

Tempat menarik di Northwest: Selain Singapore Zoo, banyak area urban farming yang terbuka untuk umum, misalnya Bollywood Farm di area Kranji, atau Urban Barn and Farm di daerah Bukit Panjang. Ada juga Sembawang Park dimana masih terdapat pantai yang natural (karena hampir semua pantai Singapura adalah hasil reklamasi).

Singapore Zoo

Salah satu plang di Bollywood Farm

Sembawang Park Playground

Faktor-faktor yang harus dipikirkan oleh calon mamarantau dalam memilih district untuk apartemen di Singapura:

Biasanya yang pertama dilihat adalah jarak dari rumah ke kantor. Karena biarpun negara ini kecil, tapi kalau punya rumah di West dan kantornya di East lumayan juga lho, bisa menghabiskan 1.5 jam untuk berangkat ke kantor.

Kemudian, untuk yang punya anak usia SD, sebaiknya mengecek SD yang ada di sekitar rumah, apakah semua SD unggulan, atau ada SD papan tengah. Alasannya kenapa? Karena sistem penerimaan SD (primary school) di Singapura ini SANGAT kompetitif. Level kompetisinya mungkin sama dengan jaman saya mengikuti UMPTN.

Sistem penerimaan SD di sini terbagi dalam beberapa fase:

  • Fase 1: Pendaftaran dibuka untuk anak yang saudara kandungnya sedang bersekolah di primary school tersebut.
  • Fase 2A: Pendaftaran dibuka untuk anak yang orangtua atau saudara kandungnya adalah alumni SD tersebut, atau yang orangtuanya adalah staf di sekolah tersebut.
  • Fase 2B: Pendaftaran untuk Singaporean Citizen yang orangtuanya adalah volunteer di SD tersebut.
  • Fase 2C: Pendaftaran untuk Singaporean Citizen atau PR yang belum masuk di fase 2B. Sekolah akan mendahulukan Citizen dalam penerimaan.
  • Fase 3: Pendaftaran untuk foreigner dan pendaftar yang tidak mendapat kursi di fase 2C.

SD unggulan di Singapura umumnya sudah penuh oleh Singaporean citizen di fase 2B. Sehingga anak-anak PR dan foreigner biasanya memilih untuk mendaftar di SD non unggulan yang jaraknya dekat rumah. Yang repot kalau SD di sekeliling rumah adalah unggulan semua. Biasanya Ministry of Education (MOE) akan meng-assign anak tersebut di SD yang masih punya kursi kosong, yang tak jarang lokasinya jauh dari rumah si anak. Sehingga banyak foreigner yang terpaksa pindah rumah demi bisa tinggal dekat sekolah.

Sementara untuk masuk ke level SMP (Secondary school), sudah ditentukan berdasarkan nilai ujian akhir, disini disebut PSLE (Primary School Leaving Examination). Jadi jarak tidak terlalu berpengaruh. Urusan kedekatan dengan amenities (supermarket, fasilitas kesehatan, public transport, wet market), biasanya tidak jadi masalah, karena umumnya di setiap daerah perumahan terdapat fasilitas yang lengkap.

Komunitas Orang Indonesia di Singapura. Ibu-ibu rumah tangga di sini umumnya mengikuti kelompok keagamaan. Untuk yang beragama Nasrani, biasanya ada perkumpulan keluarga dari majelis persekutuan gereja masing-masing. Majelis ini cukup aktif mengadakan family gathering. Bisa juga mendapat teman yang anak-anaknya ikut sekolah Minggu yang sama.

Untuk yang Muslim, di sini ada pengajian Muslimah yang dibuat per distrik dan diatur oleh IMAS (Ikatan Muslim Singapura). Membuat kelompok pengajian di Singapura tidak bisa sembarangan, harus terkoordinir. Begitupun untuk menjadi guru mengaji, seseorang harus mendapat ijazah melalui ujian yang diadakan oleh Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS). IMAS juga mengadakan kajian rutin di Mesjid Istiqamah KBRI Singapura yang mengundang pembicara dari Indonesia. Acara ini dikenal sebagai Saung Istiqamah dan sering jadi ajang silaturahim keluarga Muslim di Singapura. Selain itu, setiap bulan Ramadhan ada buka puasa bersama umat Muslim Indonesia di Singapura. Serunya, hidangan berbuka disuplai oleh semua kelompok pengajian ibu-ibu Indonesia se-Singapura.

Kelompok tahsin

Kelompok tahsin tempat saya bergabung ikut berpartisipasi menyiapkan makanan untuk Iftar IMAS tahun 2014 lalu.

Ada juga perkumpulan orang-orang dari latar belakang etnis yang sama, misalnya Paguyuban Pasundan Singapura dan KUA (Keluarga Urang Awak). Dari Paguyuban Pasundan terbentuk Indonesia Angklung Ensemble, yang cukup sering tampil di acara-acara lokal Singapura seperti Soundwaves 2012 Asia Major, Singapore Heritage Festival, dan banyak event lainnya.

13 Angklung

Indonesia Angklung Ensemble tampil di Botanic Gardens dalam salah satu rangkaian acara SG50 Celebration (50 tahun kemerdekaan Singapura)

Pementasan di Esplanade Open Theater 2011 oleh Indonesia Angklung Ensemble

Selain itu ada juga komunitas informal seperti komunitas futsal, bulutangkis, lari, dan tim basket amatir. Saya sendiri bergabung dalam kelompok pengajian dan mamarunners. Karena sama-sama berada di rantau, yang awalnya hanya untuk mencari teman yang punya minat yang sama, ternyata lama-lama jadi seperti saudara. Selain punya banyak teman, banyak informasi yang saya dapat dari teman komunitas. Contohnya info katering (dari mulai pempek sampai tumpeng) dan rekomendasi pembantu jam-jaman. Lalu ada info tukang pijat, tukang urut keseleo, sampai tukang cat murah meriah dan jasa penukaran uang. Yang paling dicari tentunya info preorder barang-barang dari Indonesia. Jadi biarpun tidak tinggal di Indonesia, kami semua cukup up-to-date dengan apa-apa yang sedang hits di Indonesia, mulai dari cireng bumbu rujak sampai jilbab Hana! (yang nggak kenal jilbab Hana silakan google yaa).

—–

Anya: Instagram @lengkengaddicts. Semua foto terlampir adalah milik Anya dan beberapa foto penunjang terhubung langsung dengan link foto asli.

Hal-hal Yang Mempermudah Hidup di Singapura

858533_10151441582214637_205627387_oAnya Windira –  A mother of two, used to work in an office with shared cubicles before decided to pack her stuffs and flew to Singapore. Likes good friends, good foods, and clean houses. Sometimes she tells people that she loves traveling around the world while in fact a trip to wet market is enough to make her happy.

Untuk saya, menjadi first-time mother di negara orang saja adalah sesuatu yang spektakuler hebohnya. Mulai dari masih canggungnya saya dan suami dalam memegang anak, tidak ada orang tua sebagai tempat bertanya, dan masih ditambah dengan perubahan status dari pekerja kantoran menjadi ibu rumah tangga. Semuanya bikin saya dan suami harus beradaptasi, baik secara emosional maupun finansial.

Anya dan keluarga

Anya dan keluarga

Tapi setelah dijalani, lama-lama ritmenya mulai ketemu dan tidak lagi seheboh yang awalnya saya bayangkan. Kalau masalah capek sih, ya namanya punya anak kecil pasti capek, tapi di sini banyak sekali fasilitas yang meringankan. Misalnya, listrik yang tidak byar-pet (hallo PLN!) sehingga banyak alat elektronik yang bisa dimanfaatkan, atau transportasi umum yang nyaman, sehingga para ibu tidak perlu mati gaya dan tetap bisa beraktivitas di luar rumah, meskipun harus membawa anak sendirian. Punya banyak teman sesama ibu juga membuat saya tidak merasa sendirian. Ada teman untuk bertanya dan bercerita, terutama masalah pengasuhan dan kesehatan anak.

Yang paling penting, bagi saya, suami saya selalu mau turun tangan dalam pengasuhan anak dan membantu pekerjaan rumah. Setelah anak saya umur 1 tahun pun saya sudah bisa meninggalkan mereka berdua, sementara saya pergi untuk refreshing, biarpun hanya ke supermarket, berolahraga, atau ketemuan dengan teman-teman.

Tips Pembagian Waktu Menjadi Ibu di Perantauan ala Anya:

1. Tetapkan Prioritas. Yang pertama tentu saja hal yang sifatnya general seperti mengeset prioritas dan ekspektasi. Ada kan ya ibu yang punya anak 4 kecil-kecil dan tetap masak makanan lengkap dengan lauk dan cemilan (dan masih terima order catering – ini kisah nyata). Ada juga student moms yang anak-anaknya selalu rapi dan nggak makan keefsi mekdi and friends (kisah nyata juga). Tapi kan nggak semua orang sama. Untuk saya misalnya, merecycle makanan dan sesekali (=sering) makan sosis nugget adalah hal yang bisa diterima. Tapi saya paling nggak tahan dengan rumah yang kotor dan anak yang lama bermain gadget. Jadi saya menghabiskan lebih banyak effort untuk menjaga rumah supaya bersih dan menemani anak saya bermain, dibanding untuk memasak. Dengan begini, saya bisa memfokuskan energi saya untuk hal yang saya anggap paling utama, dan tidak terlalu bete kalau harus mengabaikan hal yang saya anggap kurang signifikan.

Nah...!

Nah…!

2. Belanja Online. Kemudian, karena jaringan internet di Singapura cepat dan aman, hampir semua transaksi bisa dilakukan secara online. Beberapa hal penting yang bisa dilakukan dari rumah adalah:

        • Pembayaran utilities (listrik, air, gas), tv kabel, internet, telepon, dan iuran sekolah
        • Belanja groceries dari online store berikut ini, termasuk fresh product: redmart.com, fairprice.com.sg, halalmarket.sg.

Note: beberapa supermarket juga menawarkan free home delivery untuk minimum perbelanjaan tertentu. Biasanya fasilitas ini saya gunakan untuk keperluan belanja bulanan.

Belanja barang-barang secondhand: Carousell apps, gumtree.com.sg, forum seperti hardwarezone.com.sg, vr-zone.com.sg

Carousel Apps yang membantu untuk jual-beli barang seken

Carousell Apps yang membantu untuk jual-beli barang seken

Belanja home products (misalnya alat masak, keperluan bayi, bahkan benda-benda seperti plasticware atau panci), baju, kosmetik, dsb. Online shop yang cukup populer di Singapura misalnya: qoo10.com.sg (serba ada), zalora.com.sg (fashion), luxola.com.sg (kosmetik), atau iherb.com (organic products).

3. Selain itu, kalau memang merasa tidak sanggup: outsourcing. Istilahnya canggih ya, tapi maksud sebenarnya adalah, cari bantuan. Di sini sayangnya tidak murah untuk mencari pembantu rumah tangga, tapi ada beberapa alternatif, misalnya untuk masalah makanan, kalau tidak sempat memasak, membeli makan di hawker center juga tidak terlalu jauh bedanya. Seporsi nasi lemak di hawker center harganya berkisar 2.5-3 dolar. Nasi briyani atau dan nasi padang sekitar 3-5 dolar. Untuk yang non-Muslim tentunya lebih mudah karena lebih banyak pilihan, tapi untuk yang Muslim pun banyak masakan halal yang enak, bersih, dan murah. Selain itu ada juga teman-teman yang menerima order catering. Asyiknya, masakan yang ditawarkan umumnya masakan Indonesia, seperti pempek, batagor, nasi bakar, martabak, serabi, soto padang, dan banyak lagi.

Salah satu Hawker Centre yang cukup terkenal: Changi Village

4. Memanfaatkan fasilitas sekitar rumah untuk aktivitas anak supaya mereka tidak cepat merasa bosan. Di sini, setiap kompleks memiliki playground yang memadai dan aman. Selain itu, ada juga community center yang sering mengadakan kegiatan atau kursus untuk warga setempat, misalnya kegiatan art and craft untuk anak umur 4-7 tahun. Biasanya fee-nya jauh lebih murah dibandingkan dengan kegiatan serupa di tempat yang lebih komersil.

05 HDB playground

HBD Playground: Playground di kompleks apartemen tempat saya tinggal

5. Pembagian tugas dengan suami. Sebelum nikah, saya dan suami sudah sepakat dengan garis besar pembagian tugas di rumah. Dia sangat hands-on dalam pengasuhan anak-anak kami, termasuk urusan mengganti popok dan menidurkan anak. Jadi sejak anak kami masih bayi, suami saya cukup nyaman ditinggal berdua dengan anaknya. Dan anaknya pun karena memang sudah biasa dekat bapaknya sejak bayi, jarang sekali rewel kalau ditinggal berdua bapaknya. Malah sepertinya kok lebih banyak tingkah kalau ada ibunya ya? 😀

Tapi namanya juga bapak-bapak yaa… Tetap aja standarnya beda. Kadang kalau ditinggal, begitu pulang anak saya belum mandi dan dikasih sarapan doritos! Akhirnya daripada ngomel-ngomel, setiap mau pergi saya memastikan semua keperluan anak saya tersedia dan mudah dicari. Misalnya, roti, selai, sampai pisau oles dan piringnya harus disediakan supaya suami saya tidak perlu mencari-cari lagi. Agak bingung sih, yang model gini cuma suami saya atau ada yang senasib? :))

Mencari  Asisten Rumah Tangga/ Maid di Singapura.

Di sini mencari jasa maid cukup mudah, tapi tidak murah. Range gaji per bulan untuk full-time maid berkisar antara 300-600 SGD, tergantung kewarganegaraan dan pengalaman. Tapi selain gaji, non-Singaporean employer juga wajib membayar levy ke pemerintah sebesar 295 SGD per bulan. Termasuk makan dan keperluan pribadi maid, total biaya bulanan untuk mempekerjakan ART sekitar 800-1000 SGD. Majikan juga bertanggung jawab atas biaya medis maid selama bekerja. Pemerintah mewajibkan majikan untuk membiayai medical check-up 6 bulanan ART dan menanggung seluruh biaya pengobatan apabila maid menderita sakit, termasuk biaya rawat inap.

Biaya lain adalah one-time security bond deposit sebesar 5000 SGD. Intinya, majikan bertanggung jawab atas keberadaan ART selama bekerja di rumah mereka. Misalnya nih, ada kejadian ART hamil atau kabur, maka kalau majikan tidak segera memulangkan atau menemukan ART yang kabur, 5000 SGD ini akan diambil oleh pemerintah sebagai penalti. Alternatifnya, majikan bisa membeli asuransi yang preminya jauh di bawah fee security bond.

Salah satu contoh selebaran: maid di Singapura kebanyakan berasal dari Indonesia, Filipin, dan Myanmar.

Untuk mempekerjakan maid, bisa lewat 2 jalur: yang pertama adalah melalui maid agency. Menggunakan jasa maid agency tentunya jauh lebih simpel. Sebelum memilih, calon majikan boleh mewawancara calon ART yang terdaftar pada agen tersebut. Kalau sudah menemukan yang cocok, calon majikan bisa langsung meminta agen untuk mengurus semua keperluan maid, seperti dokumen dan medical check up pertama. Calon majikan hanya perlu membayar agent fee yang berkisar antara 2000-4500 SGD (tergantung proses dan agen masing-masing).

Cara kedua adalah membawa sendiri maid dari negara asal. Jadi kalau ingin membawa mbak dari Indonesia, boleh kok. Tentu saja prosesnya lebih rumit, karena kita sendiri yang harus mengurus semuanya. Dari pengalaman beberapa teman, meskipun langkahnya cukup panjang, semua proses jelas dan tidak memakan waktu lama. Lagipula biayanya bisa jauh lebih murah dibanding melalui agen. Singkatnya, bila ingin mengurus work permit maid tanpa agen langkah yang harus dilakukan adalah:

  • Memastikan calon majikan dan calon maid memenuhi syarat yang ditetapkan Ministry of Manpower (MOM = Depnakernya Singapura)
  • Mengurus keperluan dokumen di Indonesia seperti paspor (beberapa orang membuatkan paspor baru untuk maid mereka karena paspor lama yang dibuatkan oleh PJTKI memiliki ‘cap’ TKI yang sering menyulitkan maid dalam berurusan dengan imigrasi bandara)
  • Meminta In-Principle-Approval (visa sementara) dari MOM
  • Mengurus security bond deposit dan asuransi kesehatan di bank atau perusahaan asuransi di Singapura
  • Melakukan medical check-up untuk calon maid di klinik-klinik terdaftar di Singapura
  • Mengikuti orientasi untuk first-timers (Employers’ Orientation Programme untuk calon employer, Settling-In-Programme untuk calon maid).

Detail lebih lanjut dapat dilihat di sini ya.

Full-time maid di sini juga berhak mendapat cuti setiap hari Minggu. Biasanya mereka pergunakan untuk kumpul-kumpul di tempat seperti Lucky Plaza Orchard atau Paya Lebar, namun tak jarang yang memilih untuk bersekolah. Beberapa tempat menyediakan enrichment classes untuk maids, seperti bahasa Inggris, memasak, atau pelatihan perawatan lansia. KBRI Singapura bekerjasama dengan Sekolah Indonesia Singapura (SIS) juga mengadakan program pelatihan untuk para TKI dengan materi yang beragam.

Sementara itu, jasa part-time maid juga bisa didapat melalui agen resmi, dengan tarif 18-20 SGD per jam. Akan tetapi, ada juga jasa PT maid yang lebih murah yang biasa didapat dari mulut ke mulut, atau melalui noticeboard yang biasa terdapat di supermarket atau terminal bus.

——

Anya: Instagram @lengkengaddicts. Semua foto terlampir adalah milik Anya dan beberapa foto penunjang terhubung langsung dengan link foto asli.

Merantau di Singapura

AjengAjeng Ika Nugraheni – Previously worked as a Personal Assistant for Ministry of Public Works under UNDP’s Agency for the Rehabilitation and Reconstruction of Aceh and Nias. Now enjoying her time being  a ‘Personal Assistant’ for her little family in Singapore and working remotely for two institutions in Indonesia.

Merantau ke Singapura: Tahun 2012 pindah ke Singapore mengikuti suami yang bekerja di sini sebagai Software Engineer di salah satu perusahaan bidang media dan secure communication. Anak saya, Maika Lemoni Amanda (Lemon) sekarang berumur 4 tahun lahir di Jakarta, sudah K1 (setara TK A). Sejak pindah ke Singapore, kami memutuskan untuk tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Saya bekerja secara remote untuk dua institusi di Bogor dan Jakarta. Jadi selain mengerjakan tugas-tugas untuk pekerjaan tersebut, saya dan suami bersama-sama mengurus rumah dan anak.

2

Singapore first to do: Tidak ada dokumen yang harus diurus ketika sampai di sini. Visa sudah diurus oleh perusahaan sponsor sebelum kami tiba. Ketika kami sampai, kami hanya diminta untuk melakukan tes kesehatan saja untuk melengkapi persyaratan. Setelah tes kesehatan dinyatakan lolos, kami bisa mengambil kartu identitas di Ministry of Manpower sekaligus melakukan fingerprint scan.

Visa: Jenis visa yang dimiliki oleh suami saya saat ini adalah Employment Pass (EP) alhamdulillah bisa memberikan sponsor tinggal (Dependent Pass, DP) untuk istri dan anak. Pengurusan DP inipun juga diurus oleh perusahaan sponsor. Saat ini status kami masih foreigner. Masih dalam proses pengajuan Permanent Resident (PR) sejak 3 bulan yang lalu, doakan dapet ya 😀

Picture by: Nazura Gulfira

View from Marina Bay Sands

Foreigner: Dengan status kami sebagai foreigner, tidak ada benefit yang menonjol yang kami dapatkan. Biaya rumah sakit, sekolah sampai daftar perpustakaan semuanya bayar. Berbeda dengan PR. Kalau sudah PR, mencari sekolah untuk anak bisa lebih mudah, bisa mencari sesuai dengan yang diinginkan. Jumlah jatah kursinya di bawah citizen soalnya. Kalau foreigner ya terima nasib aja dapet sekolah di mana. Jadi cuma bisa milih sekolah dan berdoa mudah-mudahan masih ada sisa kursi di sekolah tersebut. Kalau jatah sudah habis untuk citizen dan PR (dan foreigner lain) ya pasrah, hehehe. Kesehatan juga begitu. PR mendapat subsidi lebih banyak dari pemerintah daripada foreigner.

Permanent Resident: Kalo PR dan citizen wajib punya account Central Provident Fund (CPF). Uang yang masuk ke rekening ini didapat dari potongan gaji tiap bulan. Baik employer dan employee harus sama-sama berkontribusi untuk CPF ini. Besarannya berbeda-beda. Tergantung di perusahaan lokal atau internasional dia bekerja. Dana CPF ini dibagi 3 peruntukannya: Pertama, Medisave Account, bisa dipakai untuk keperluan rumah sakit (jadi kalo mau vaksin anak dan urusan dengan rumah sakit bisa dipotong dari simpanan ini). Kedua, Special Account, untuk investasi yang bisa dipakai di masa pensiun. Ketiga, Ordinary Account, bisa dipakai untuk membeli properti, asuransi, investasi dan lain sebagainya. Nah, nanti kalau sudah berumur 55 tahun, pemerintah akan membuat Retirement Account yang dananya di combine dari Spesial Account dan Ordinary Account, dan bisa dicairkan dengan jumlah tertentu sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Jadi selain mendapatkan beberapa kemudahan dibanding foreigner, menjadi PR juga jadi punya tabungan yang diatur oleh pemerintah. Walaupun kesannya ‘dipaksa’ tapi sebenarnya bermanfaat juga untuk kita sendiri.

by Nazura Gulfira

Marina Bay Sands

Remote Worker: Sejak pindah ke sini, otomatis saya harus resign dari pekerjaan saya. Bos saya di Kementerian PU tetap meminta saya membantunya dalam beberapa hal, jadi saya diperbolehkan bekerja jarak jauh. Thanks to technology! Jadi bekerja jarak jauh itu sangat memungkinkan. Saya tetap bisa membantu beliau untuk urusan draft surat menyurat, mengecek laporan dan beberapa dokumen agreement project baik dengan sumber dana dalam negeri atau luar negeri. Selain itu, saya juga sempat membantu tim Komunikasi Bornean Orangutan Survival Foundation (BOSF), sebuah NGO yang mendedikasikan kegiatannya untuk konservasi orangutan dan habitatnya. Saya membantu Tim Komunikasi untuk membuat produk-produk komunikasi, salah satunya mengompilasi cerita dan laporan yang didapat dari lapangan menjadi suatu artikel dan dimuat di Web mereka. Sesekali saya juga ikut membantu menyusun laporan dan cerita adopsi untuk diberikan kepada para donatur. Dulu kalau sedang ada kegiatan pelepasliaran orangutan, saya ikut ke hutan. Kalau sekarang, sambil tiduran di kasur atau sambil nungguin masakan mateng, stand by, tunggu giliran untuk bantu apapun yang bisa dilakukan dari jarak jauh hahaha.

Freelancer: Kalau ada Ibu yang ingin bekerja sebagai freelancer di Singapura, mereka harus mendaftarkan diri mereka sebagai ‘badan usaha’. Hal ini harus dilakukan karena berhubungan dengan pembayaran dan pajak. Pendaftarannya mudah dan cepat, bisa cek di https://www.acra.gov.sg. Nah, karena saya bekerja untuk institusi di Indonesia, maka saya tidak perlu melapor di sini. Pendapatan juga dalam Rupiah, jadi tidak eligible untuk membayar pajak di Singapore.

Tips saya untuk mamarantau yang juga bekerja dari rumah:

  • Harus punya jadwal. Saya tetap mendahulukan kepentingan rumah tangga dulu baru jika semuanya sudah selesai dikerjakan, saya akan mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Ada kalanya saya harus mendahulukan pekerjaan tetapi sebisa mungkin tidak terlalu mengganggu kebutuhan anak saya, misalnya.
  • Harus ikhlas, hahaha. Kadang beberapa pekerjaan baru bisa dikerjakan ketika malam hari ketika semua pekerjaan rumah sudah selesai dan anak sudah tidur. Kadang capek sekali. Pengennya ikutan tidur. Tapi namanya juga kerja, jadi ya harus tanggung jawab dan…ikhlas 😛
  • Berbagi tugas dengan suami. Rasanya tanpa menjadi Ibu bekerja pun, sudah selayaknya kepentingan rumah tangga dikerjakan secara bersama-sama. Jadi kalo lagi dikejar deadline, tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan suami untuk urusan rumah. Saling support lah 😀

Mencari apartemen: Kami tinggal di apartemen milik pemerintah, Housing and Development Board (HDB). Beberapa tahun yang lalu, kemudahan ini tidak bisa dimiliki oleh foreigner. Foreigner hanya bisa menyewa private apartment/condo. Alhamdulillah ketika kami tiba, peraturan ini sudah dihapus.

4Beda antara HDB dan private apartment adalah di harga (tentu saja) dan fasilitas. Di private apartment biasanya ada fasilitas gym, kolam renang dan activity room (bisa di sewa). Kalau di HDB, tidak ada. Tetapi jangan khawatir karena pemerintah Singapore menyediakan playground, alat-alat olahraga di setiap sudut HDB dan activity building (community center) di setiap distrik. Pemerintah juga menempatkan bangunan-bangunan HDB dekat dengan MRT station dan halte bus. Setiap komplek HDB juga dilengkapi dengan supermarket, convenience store, klinik kesehatan dan berderet ruko-ruko. Biasanya, sekolah anak juga ada yang memakai bangunan HDB. Jadi, kalau tidak/belum punya kendaraan pribadi, tinggal di HDB rasanya lebih efisien.

Ada juga condo yang dekat dengan fasilitas publik, tetapi sepertinya tata kotanya memang sengaja memprioritaskan HDB agar lebih mudah diakses.  Tidak ada syarat khusus untuk menyewa property, kecuali membeli. Foreigner hanya boleh membeli private apartment. Sedangkan PR bisa membeli resale HDB (bukan unit baru), dengan syarat sudah menjadi PR minimal selama 3 tahun.

Biasanya calon penyewa bisa mencari property di website seperti www.propertyguru.com.sg/. Semua transaksi antara calon penyewa dan pemilik biasanya dilakukan dengan perantara agent. Untuk menyewa property di Singapore, selain menyiapkan harga sewa, harus disiapkan juga agent fee (biasanya sebesar setengah harga sewa, jika kontrak sewa 1 tahun) dan deposit untuk pemilik property (biasanya seharga 1 bulan sewa untuk kontrak 1 tahun). Selain itu, juga ada biay stamp duty, untuk pengurusan administrasi dengan pemerintah.

Range harga apartemen: Singapore memang terkenal dengan harga property yang muahal :p Untuk harga sewa HDB di tengah kota (kebetulan saya tinggal di central), 2 bedroom berkisar antara $2100 – $2800 per bulan, tergantung lokasi dan furnish/non furnish. Sedangkan condo, 2 bedroom di daerah yang sama, harga sewanya berkisar antara $2900 – $4500 per bulan.

Pembagian district di Singapura

Sekolah Anak: Fasilitas sekolah gratis hanya berlaku untuk citizen saja. PR membayar tetapi jauh lebih murah daripada foreigner. Kalau di Indonesia masih ada pro kontra belajar calistung, di sini mau gak mau memang sudah harus belajar calistung sejak dini. Tidak heran, banyak sekali anak umur 4 tahun sudah mengikuti les calistung ini, untuk persiapan masuk ke SD. Lalu untuk masalah toleransi. Anak saya sekolah di Kindergarten yang ada di Masjid. Walaupun begitu, mereka juga merayakan hari raya agama lain. Dari Natal, Deepavali sampai Chinese New Year. Dari kecil sudah dipupuk rasa toleransi yang tinggi. Maklum ya, tinggal di negara yang multi agama dan etnis. Pemerintah sangat menjaga diversity ini.

AFP Photo

Pre-school children tour the Garden by the Bay

Vaksinasi: untuk anak, vaksinasi wajib hampir sama dengan di Indonesia kecuali MMR. Vaksin MMR sudah jadi wajib kalo di sini. Waktu pemberian vaksin pun agak sedikit beda. Kalo di Indo, MMR dosis pertama di umur 15-18 bulan, dosis kedua di umur 5 tahun. Kalau di sini, dosis pertama di umur 12 bulan, dosis kedua di umur 15-18 bulan. Biasanya sebelum masuk SD, daftar imunisasi ini akan di cek oleh National Immunisation Registry , kalau ternyata ada yang kurang dan tidak sesuai, akan diminta untuk melengkapi dulu, tapi ya gak gratis juga hihihi. Kecuali citizen ya, mereka punya subsidi khusus dari pemerintah (berupa baby bonus dan atau rekening khusus Medisave milik orangtua).

Transportasi: Sejauh ini kami gak kepikiran untuk punya kendaraan pribadi. Sudah cukup dengan MRT, bus dan taxi yang mudah diakses. Plus juga, transportasi publik ini juga sangat ramah terhadap Ibu (dengan anak-anak) dan kaum disable. Semuanya bisa naik transportasi umum dengan nyaman, aman dan murah. Lagipula harga mobil di sini mahal sekali. Harus bayar ijin juga. Belum pajak dan harga BBM nya juga gak murah. Untuk perbandingannya, satu harga mobil di sini bisa buat beli 3-4 mobil di Indonesia. Untuk naik bus dan MRT, pakenya kartu yang bisa diisi ulang. Biasanya ez-link atau nets. Adult Monthly Pass dihargai $120 untuk unlimited perjalanan selama 30 hari. Ada juga discount fare yang ditujukan untuk penumpang lanjut usia, disable dan pelajar. Lalu ada kartu-kartu khusus yang berafiliasi dengan institusi tertentu, misalnya kartu kredit, yang bisa digunakan untuk kartu perjalanan. Ohya ini beberapa aplikasi yang membantu buat cek jadwal MRT dll: Gothere.sg, GrabTaxi, dan SG NextBus.

Bus

Di MRT dan Bus yang nyaman untuk anak-anak dan keluarga

Anak dengan tinggi di atas 90 cm sudah harus bayar. Tapi untuk anak-anak TK (walaupun tingginya sudah di atas 90 cm) tetap bisa gratis kok, asal mengajukan permintaan dulu ke ticketing office. Nanti dikasih kartu khusus. Sejauh ini sih belum pernah pake yang monthly pass. Soalnya biaya transportasi dalam sebulan baik saya dan suami, gak ada yang sampe $120.

https://muhammadmdrahim.files.wordpress.com

Kendaraan umum di Singapura: aman dan nyaman

Komunitas Indonesia: Kenal dengan mamarunnerSG sejak pindah kesini. Kebetulan Shinta dan Thalia, salah dua dari founder The Urban Mama mengajak untuk bergabung di grup WhatsApp yang isinya Ibu-Ibu Indonesia yang tinggal di Singapore yang lagi keranjingan lari. Kebetulan taun itu saya lagi seneng-senengnya lari, kesenengan dikasih running track bersih aman tersebar di seluruh penjuru negri :p

6

MamarunnerSG

Keluarga MamarunnerSGWalaupun kemampuan olahraga kami berbeda-beda (ada yang udah ikutan marathon, triathlon sampe jago yoga, tapi ada juga yang larinya cuma 5K aja mulu :p) tapi ya cocok-cocok aja tuh. Saling berbagi jadinya. Beberapa dari kami sering janjian lari bareng kalo rumahnya deketan, atau training bareng menjelang race. Semakin kesini hubungan ini jadi lebih dari hubungan ‘ibu-ibu yang sama-sama suka lari’ tapi udah kayak keluarga. Whatsapp group ngebahas dari mulai olahraga sampai urusan sekolah anak. Minimal satu bulan sekali ketemu untuk arisan dan makan-makan. Gak cuma Ibu-Ibu aja yang ngumpul, tapi juga para suami dan anak-anak Sebagai kaum rantau yang jauh dari keluarga support group kayak gini tentu saja ngebantu banget ☺

Tempat favorite untuk jalan-jalan di Singapore:

1. Museum: Singapore punya banyak sekali museum. Beberapa diantaranya: Peranakan Museum, National Museum of Singapore, Singapore Art Museum, Mint Museum of Toys, Science Center dan masih banyak lagi.

Peranakan Museum

( Picture: www.lowsweetling.com)

Mint Museum of Toys

Kebanyakan museum memberikan free entry untuk citizen dan PR. Untuk foreigner biasanya membayar, sesuai dengan golongan usia. Untuk student dan senior, diberikan harga khusus. Museum-museum itu juga memberikan free entry kepada seluruh pengunjung di hari dan jam tertentu. Jadi kalo mau berkunjung, lebih baik cari infonya dulu di website mereka. Siapa tau bisa dapet yang gratis ☺

(Picture by: Nazura Gulfira)

National Museum of Singapore

2. Playground, park atau library. Singapore itu surganya taman. Kebetulan jarak 1 km dari rumah, sudah bisa sampai ke Bishan Park. Bisa sepedaan, lari-larian, main frisbee atau melihat anjing bermain di area dog run. Kadang kami juga jalan-jalan ke Singapore Botanic Garden. Banyak sekali pilihan playground dan tempat bermain outdoor. Tempat-tempat ini tersebar di mana-mana. Bisa dilihat daftarnya di sini https://www.nparks.gov.sg/.

9

Far East Organization Children’s Garden at Garden by the Bay

Konser Singapore Symphonic Orchestra di Singapore Botanic Garden

Singapore juga punya pantai, walaupun buatan hehehe. Tapi lumayan lah kalau cuma pengen main pasir dan basah-basah dikit :p Selain bisa bermain pasir, kita juga bisa menyewa pit untuk barbeque di beberapa pantai (selain pantai-pantai di Sentosa). Sewanya murah, hanya $20 bisa dipakai seharian penuh. Bisa juga mendirikan tenda, tapi tetap harus ijin dulu.

Siloso Beach dan Pasir Ris

3. Perpustakaan. Kami suka ke perpustakaan. Perpustakaan ada di setiap distrik dan within walking distance dari pemukiman. Semuanya swalayan dengan mesin-mesin canggih yang awalnya bikin saya beneran bengong, pas pertama kali masuk ke salah satu public library.

Di salah satu cabang perpustakaan: kita bisa pinjem buku dengan cara seperti ini

Koleksinya lengkap dari buku anak-anak berbagai bahasa sampai koleksi audio dan video. Karena masih foreigner, kami harus membayar sekitar $50 untuk biaya keanggotaan selama satu tahun. Maksimal bisa meminjam 16 buku dalam satu kali pinjam dengan durasi 21 hari. Tidak ada biaya tambahan waktu pinjam buku.

13

Bishan Public Library

Oh ya, ada jadwal untuk aktivitas anak-anak di setiap perpustakaan yang diadakan di hari-hari tertentu. Jadi silahkan cek ke website http://www.nlb.gov.sg/ untuk jadwal di setiap public library.

[Photo: National Library Board]

Children having a fun reading experience at the green library “My Tree House”

National Public Library of Singapore

4. Jalan-jalan. Dengan keluarga: paling jalan ke Orchard Rd. Makan siang, jajan es uncle (es potong yang ada di Orchard) dan jalan-jalan ke mal atau yang paling sering kami lakukan, ngopi di Tiong Bahru Bakery sambil gambar-gambar.

“Es Krim Uncle”

Kongkow

Kongkow dengan temanteman wanita: biasanya ketemu pagi hari waktu anak-anak masih sekolah. Ngopi, sarapan di Tiong Bahru Bakery atau beberapa coffeeshop di Holland Village seperti Baker and Cook atau d’Goods.

Holland Village

Makan dengan keluarga: Paling sering ke Sari Ratu dan Ayam Bakar Ojo Lali (semuanya ada di Lucky Plaza), atau yang sekarang lagi disukai, Encik Tan, menjual makanan lokal Singapore dan halal. Susah soalnya cari makanan lokal Singapore yang halal. Jadi kalo pengen ngerasain Fried Oyster yang halal, bisa dicoba di sini. Atau kalo lagi pengen makan dimsum enak, biasanya ke Tang Tea House Hongkong Café di Bedok. Agak jauh sih dari rumah, tapi demi dimsum halal dan enak, dijabanin juga deh!

Oh ya, untuk persoalan halal dan tidak halal ini, saya merasa Singapore lebih ketat dibanding di Indonesia. Beberapa foodcourt sengaja memisahkan stall halal dan non halal. Kalau pun di satu atap, piring yang digunakan berbeda warna. Biasanya warna hijau (kadang putih) untuk makanan dari stall halal, dan selain warna tersebut untuk stall non halal. Penjualnya juga pro aktif memberitahu kita kalo makanan yang dijualnya gak halal. Misal: chicken rice. Stall nya sih memang cuma jual nasi hainan dan ayam saja, tapi ternyata ayam yang dipakai bukan ayam dari rumah potong berlabel halal. Atau ternyata kaldunya mengandung bahan yang tidak halal. Mereka pasti akan memberitahu kita. Kadang galak :p Sering deh diomelin uncle-uncle dulu pas awal-awal. Kalo sekarang sih, karena males diomelin lagi jadinya yang pasti-pasti aja deh, selalu lihat ada logo halal atau tidak di stall nya. Untuk kami yang muslim, ternyata menjadi minoritas di negara tetangga, gak susah kok. Malah rasanya lebih diperhatikan sama pemerintah ☺ Banyak sumber untuk mengetahui berbagai macam restoran halal di Singapore. Kalau di instagram biasanya saya cek @thehalalfoodblog.

5. Belanja. Pakaian: paling sering di H&M, Cotton On atau Uniqlo. Biasanya saya suka belanja banyak di bulan-bulan Singapore Great Sale. Harga baju-baju jadi murah karena diskon gila-gilaan, jadi bisa sekalian belanja untuk stock.

Groceries. Paling sering belanja di Fairprice atau Giant yang paling dekat dengan rumah. Biasanya dua supermarket ini memang ditempatkan di daerah pemukiman. Jadi hampir di setiap komplek HDB pasti ada salah satu (atau bahkan dua-duanya) supermarket ini. Biasanya supermarket ini juga ada di stasiun MRT. Sayur dan buah-buahan hampir semuanya import karena Singapore gak punya lahan luas untuk pertanian. Paling banyak produk datang dari Malaysia dan Indonesia. Jadi kalo mau cari bahan masakan khas Indonesia, tidak begitu sulit. Tapi kalau mau cari bahan-bahan import non asia yang gak biasa, bisa ke Cold Storage. Barangnya lebih bervariasi. Ada juga pasar basah. Gak di semua distrik ada sih. Tapi saya lebih suka belanja di supermarket karena untuk produk daging dan ayam sudah ada label halalnya. Jadi lebih tenang hehehe. Nah, kalau mau jajanan Indonesia seperti krupuk aci, segala macam snack, minyak kayu putih, bumbu instan untuk masak soto atau indomie yang asli Indonesia, biasanya belanja di Indo Stop, di Lucky Plaza lantai 2.

Buat yang ga pernah ke Singapura dan tiba-tiba harus pindah ke sana, ada tips how to deal with Singaporean? Atau hal-hal yang berpotensi menjadi culture shock?  Waktu pertama pindah kesini, bawaanya parno! Hahaha. Kalo mau apa-apa hati-hati banget. Cari petunjuknya dulu, saking takutnya salah dan melanggar aturan. Singapore kan terkenal banget dengan denda untuk hal-hal seperti buang sampah sembarangan, vandalism, makan/minum di dalam kereta/bus, bawa duren di kereta/bus, merokok sembarangan, ketauan ada jentik nyamuk di rumah dan masih banyak lagi.

Tapi untungnya semua peraturan tersebut sangat jelas. Jadi segala macam sticker peringatan ada di mana-mana. Semua serba teratur. Semua serba antri (bahkan ada yang bilang, Singaporean itu suka banget antri, semakin panjang antrian semakin suka, padahal kadang gak tau apa yang diantriin :p). Tapi walaupun awalnya parno, lama-lama jadi suka dan kadang jadi ikutan concern kalo misal ngeliat turis makan di kereta, menyerobot antrian, atau memaksa pakai lift duluan padahal ada nenek-nenek atau ibu-ibu membawa stroller bayi lagi antri, rasanya pengen negur hihihi.

Sama seperti negara lainnya, Singaporean tersebar di strata sosial yang berbeda-beda. Pandangan dari suatu kelompok tidak bisa dijadikan patokan. Mereka sangat menghormati para foreigner yang datang dari latar belakang yang berbeda-beda, termasuk Indonesia. Tetapi ada juga sentimen khusus untuk Indonesian, contohnya ketika terjadi kabut asap kiriman akibat pembakaran hutan di Sumatera: Hal ini jadi kasus yang berulang setiap tahun. Karena terus menerus terjadi tanpa perbaikan yang berarti, banyak tanggapan negatif terhadap pemerintah Indonesia. Biasanya juga jadi terbawa ke hubungan Singaporean-Indonesian sehari-hari. Gak terlalu ekstrim sih, cuma kasus itu kayaknya yang paling ‘nempel’ bagi Singaporean.

Singapore haze 2013 – kontras saat kejadian dan sebelum

Soal toleransi juga lumayan kental. Suami dan beberapa teman saya cerita, jika ada acara kantor, lalu mereka mau makan-makan, pasti yang ditanyai adalah muslim dulu. Kalo ada muslim di acara itu, catering yang dipesan pasti halal. Mereka juga pasti menyediakan menu vegetarian dan juga menghormati orang India yang tidak makan beef. Saking banyaknya agama dan suku di sini, justru kepedulian satu sama lain sangat terasa.

Singaporean juga sangat menyukai olahraga. Gak heran deh kalo jam 11 malam masih liat orang lari keliling komplek. Banyak juga yang bike to work, suami saya salah satunya. Banyak sekali acara olahraga yang diadakan baik oleh pemerintah atau swasta. Run race mulai dari yang fun run sampai triathlon. Kalau pergi ke reservoir, bisa liat orang latihan mendayung. Pokoknya, mereka sangat aktif sekali. Lingkungan seperti ini yang bikin kami selalu ikut terpacu untuk terus aktif dan menjaga kesehatan.

How to deal with Singaporean? Kalem aja, lakuin segala sesuatu sesuai perintah. Kalo kita gak ngelakuin sesuatu yang salah, mereka gak akan bereaksi berlebihan kok.

Yang paling disukai dari tinggal di Singapura: Semua hal yang serba teratur, jelas dan efisien! Dan juga lingkungan yang sehat, bersih, menyenangkan dan ramah untuk anak-anak. Yang paling gak disuka? Mahal! :p

———-

Ajeng:  https://mskpk.wordpress.com, IG: @misskepik.

Some pictures are provided by Ajeng – and some others directly linked to the images URL.

Merantau di Abu Dhabi

FiniGita Trifini  – Previous geophysicist in Schlumberger (Jakarta and Doha), now enjoying life in Abu Dhabi as a full time mom for Rafi (3.5 yo) and Fathir (9 months).

Pengalaman merantau: Aku tinggal di Abu Dhabi sudah 2 tahun, sebelumnya tinggal di Doha (Qatar) selama 2 tahun. Aku ikut suami yang kerja di sini. Kalau di Abu Dhabi gak bisa jadi resident, jadi harus selalu perpanjang family visa setiap 2 tahun. Untuk mengurus visa ke sini bisa langsung ke Embassy di Jakarta.

Established in December 1971, the country UAE (United Arab Emirates) is a federation of seven emirates; Abu Dhabi (which serves as the capital), Ajman, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, and Umm al-Quwain.

Anak aku yang pertama lahir di Qatar, dan yang ke-2 baru lahir di Abu Dhabi. Anak yang lahir di sini tidak mendapat benefits apa-apa dari pemerintah. Tapi selama setahun pertama bisa mendapatkan vaksin gratis di rumah sakit tertentu. Dan di sini tidak bisa dual citizenship, terhitungnya tetap sebagai Warga Negara Indonesia, meskipun lahir di Abu Dhabi atau yang sudah puluhan tahun tinggal di sini pun tidak bisa jadi warga negara sini. Di sini mungkin sekitar 70% penduduknya adalah pendatang, penduduk lokalnya sedikit.
At Sheikh Zayed Mosque

At Sheikh Zayed Mosque

Yang paling disukai dari tinggal di Abu Dhabi itu, salah satunya gak ada macet, hihi. Terus orang Indonesia di sini lumayan banyak, jadi enggak terlalu merasa kesepian. Kotanya juga enak, di Abu Dhabi ini termasuk (Alhamdulilah) aman, jadi aku kalo bawa anak-anak jalan ke mana-mana itu nyaman.
Piknik menunggu kembang api di peringatan 43rd Anniversary UAE..!
Waktu tinggal di Doha, aku ikut perkumpulan ibu-ibu yang suka nari (kebetulan memang baru dirintis), lumayan banyak peminatnya, bahkan yang belum bisa nari pun bisa ikut nari. Ada juga grup angklung. Karena aku dulu pas kecil suka nari Bali, jadinya aku ikut nari deh, lumayan bisa merasakan manggung di Qatar Foundation. Kalau di Qatar, kita biasanya latihan di KBRI, atau di rumah teman. Sekarang di Abu Dhabi, ternyata tidak ada sanggar tari, tapi waktu itu aku diminta untuk ngajar tari pendet untuk anak-anak yang mau pentas acara indonesia festival di KBRI, lumayan mengobati rasa kangen menari..hehe.
Grup tari dan angklung di Qatar (Image: Pajar R. Achmad)
Yang tidak disukai di sini…mm apa ya, mungkin kalau bawa mobil di sini harus ekstra hati-hati karena orang-orang di sini kalau nyetir pada ngebut banget…! Dan kemana-mana harus pake mobil (di sini harga mobil relatif lebih murah dibanding di Indonesia), kendaraan umumnya gak kids friendly. Mungkin karena aku tinggal agak jauh dari kota, sekitar 20 menit dari pusat kota jadi susah. Paling pakai taksi, tapi kalau yang tinggal di pusat kota, bisa pake bus (tidak ada MRT di sini).

Yas Marina Circuit (Image: Abduzeedo.com)

Mengurus SIM Nah, kalau mau nyetir di sini, kita harus punya SIM UAE, gak bisa pake SIM Indonesia. Karena aku dulu pas tinggal di Qatar gak nyetir dan cuma punya SIM Indonesia, jadinya harus ikut teori course,teori test dan road test, kalau udah punya SIM Qatar bisa langsung road test aja. SIM Indonesia pun dilihat sama mereka, kalo baru buat SIM Indonesia (maksudnya baru nyetir setahun di Indo misalnya), harus ikut proses yang lebih panjaaang lagi…bener-bener panjang…!
Sistem pembuatan SIM di sini: aku harus ikut teori course selama 8 jam, terus test teori…Alhamdulilah langsung lulus. Setelah itu daftar untuk road test (biasanya sebulan setelah teori test). Deg-degan banget pas road test, karena kata orang-orang di sini susah banget untuk bisa langsung lulus road test…..nasib-nasiban juga sih sebenernya. Sebelum road test, aku belajar nyetir sekitar 2 kali untuk membiasakan stir kiri (kebalik sama di Indo). Pas Hari H road test, aku udah berdoa aja pasrah dan dikasih tips and trik sama temen-temen di sini. Alhamdulilah banget langsung lulus..! Soalnya banyak juga yang udah jago nyetirnya tapi malah gak lulus, gak jelas juga kenapa gak lulus. Karena kalo gak lulus, kita harus melakukan course lagi, prosesnya panjang dan lumayan mahal. Untuk proses dasar aja seperti yang aku ambil bisa menghabisakan 1200 Dirham (sekitar 3.6 jt IDR) ,mahal yah 😦 Begitulah proses di sini, gak bisa bayar-bayar seenaknya, ada peraturannya.
Tips kalo mau road test : berdoa, tetep tenang, pas start mobil, langsung di gas aja sampe kecepatan 80 km/jam..! Karena di sini mobil tuh cepet semua, kalo terlalu lambat malah gagal di testnya (tapi tetep harus hati-hati ya), liat spion jangan lupa. Ketika road test, akan ada ada 2 polisi yg ngetest: duduk di depan dan di samping belakang, dan test nya cepet banget, kadang cuma 5 menit udah disuruh stop.

Abu Dhabi at night (Image: Pictures Depot)

 Tempat belanja groceries: biasanya kami ke supermarket seperti LULU atau Carefour ada juga Abu Dhabi COOP, di situ lengkap, semua ada, tapi kalo mau cari kemiri, terasi ato teh botol..hehe..bisa ke minimarket indonesia tapi jarang juga sih ke situ, paling biasanya borong bumbu-bumbu banyak pas pulang ke Indonesia, lumayan buat stok di Abu Dhabi, hehe. Lalu ada minimarket disini namanya South East Asia Trading, cuma 1 di sini, tapi sekarang lagi tutup sementara,huhu. Di sini kalau mau buka toko harus ada standard dari pemerintah UAE, kalo enggak…langsung ditutup tokonya. Bagus sih, menurut aku, karena berarti semua toko di sini harus memenuhi standard seperti kesehatan, kebersihan, kualitas makanan,dll.
Kalau kangen makanan Indonesia kita bisa ke resto Bandung dan Sari Rasa. Kayaknya aku sekeluarga hampir tiap minggu ke sana..hehe. Apa aja ada di situ; dari bakso, batagor, makanan padang, martabak manis, ketoprak (itu yg biasa kita pesen), dll.

Bandung Resto (image: mealadvisors.com)

Untuk tempat jalan-jalan: Di sini lebih banyak mall dibandingkan museum atau science center, di mana-mana mall, bahaya juga buat ‘kantong’,hehe. Biasanya kalo weekend kita sekeluarga ke park atau ke Corniche, berenang di pinggir pantai gitu atau barbeque di park bareng temen-temen, tapi itu bisanya kalau musim dingin aja. Kalau pas summer, terlalu panas buat main di luar. Di sini ada museum tapi sepiii banget dan gak ada yg dateng, science center juga gak ada, paling kalo winter baru banyak acara kaya science for kids,dll. Ohya, kalau mau kumpul dengan Ibu-ibu lain dan anak-anak bisa bersosialisasi, bisa lihat di Abu Dhabi Mums untuk kegiatan (bisa indoor dan outdoor) dan bisa jadi volunteer juga. Untuk mall bisa ke Yas Mall atau Marina Mall Abu Dhabi – itu paling lengkap, tapi kalau mau lebih lengkap lagi tinggal ke Dubai 2 jam saja, lengkap banget deh disana..hehehe.

Abu Dhabi Corniche (image: crictours.com)

Ferrari Theme Park Abu Dhabi – The Largest Indoor Theme Park in the World – http://www.ferrariworldabudhabi.com

Tentang musim: di sini ada 2 musim: musim panaasss banget (kadang sampai 47 derajat Celsius May-Okt ), dan dingin (paling rendah sampai 13 derajat Celsius pas malem November – April). Kalau pas musim panas, kita bener-bener gak bisa ke mana-mana selain ke mall, dan biasanya kalo pergantian musim gitu, anak-anak pasti sakit; demam, batuk atau pilek, jadi kita harus sedia obat-obatan dan vitamin. Karena di sini panas kering (gak lembab kaya di Indonesia), kulit harus sering-sering pake lotion (yang biasa juga gak masalah, gak ada perawatan khusus), dan yang pasti banyaaaak minum air putih, itu harus banget. Kalau pas musim dingin, lumayan enak karena anak2 bisa main ke park atau ke pantai, tapi kalau udah sore anginnya dingin banget sampe harus pake jaket tebal. Aku lebih suka musim dingin karena banyak sekali kegiatan outdoor disini, seperti food festival, science festival, cruise festival, konser musik, mancing,dl. Tapi kalau musim panas bener-bener gak ada kegiatan, jadi semua orang ke mall.

Tentang penduduk lokal: Orang Abu Dhabi (biasa kita panggil orang ‘Emirati’) ramah-ramah, walau ada juga sih yg enggak. Tapi kebanyakan dari mereka ramah terhadap pendatang kok, mereka bisa mengenali orang Indonesia karena hampir 80 persen ART mereka orang indonesia..hihi. Di sini banyak sekali TKW dari Indonesia dan rata-rata yang menggunakan jasa tersebut orang Emirati 😀
Asisten Rumah Tangga: setahun pertama tinggal di sini, aku gak pake asisten, segala sesuatu diurus sendiri, tapi karena mau lahiran anak ke-2 (waktu itu), aku cari pembantu untuk ngurusin rumah tangga (anak full aku yg pegang). Tapi karena cari ART orang Indonesia mahal dan susah (ambil dari agen aja bisa sampai 11 ribu Dirham = IDR 33 juta), akhirnya aku pake pembantu dari Srilanka, lumayan cuma harus bayar visa kerja aja selama 1 tahun 7 ribu Dirham (mahal jga sih, huhu). Di sini cari pembantu itu bener-bener mahal dan ada peraturan tenaga kerja, jadi gak bisa kita gaji seenaknya, ada standarnya sendiri.
Untuk sekolah anak di sini ada 2: British school atau American school. Bahasa yang digunakan di sini adalah Bahasa Inggris, jadi gak usah khawatir kalau gak bisa bahasa Arab. Karena semua di sini komunikasi memakai Bahasa Inggris. Rafi anakku yg pertama sekolah di Stepping Stone Nursery, British nursery gitu karena rencananya pas umur 4 tahun mau disekolahin ke British School di Abu Dhabi (mudah2an masuk..amin 🙂 ).
Tips untuk yang mau hijrah ke UAE: Mungkin cara berpakaian, di sini diharuskan berpakaian sopan, meskipun tidak berhijab, kalau bisa jangan pakai pakaian yg seksi atau rok mini gitu, bahkan kalau kita masuk mall, ada tulisannya harus berpakaian sopan. Pertama kali pindah kesini, Alhamdulilah gak ada culture shock (mungkin karena hampir sama dengan di Doha, Qatar), cuma yaa kalo mau belanja jangan diconvert ke Rupiah, di sini semua serba mahal..lumayan shock juga sih awalnya, hehe. Biaya hidup agak mahal. Tapi segala urusan dari buat visa atau cari apartemen di sini mudah kok, semua peraturan jelas dan ada agennya, jadi lebih mudah.